Anda di halaman 1dari 26

JURNAL BIOLOGI SUMATERA

(Sumatran Journal of Biology)

Volume 2, Nomor 1 Januari 2007


ISSN 19075537

PENANGGUNG JAWAB

Dwi Suryanto

KETUA EDITOR (CHIEF EDITOR)

Erman Munir

DEWAN EDITOR (EDITORIAL BOARD)

Erman Munir, Ternala A. Barus, Dwi Suryanto, Retno Widhiastuti

EDITOR TEKNIK (MANAGING EDITOR)

Riyanto Sinaga

BENDAHARA

Nunuk Priyani

Departemen Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Sumatera Utara, Medan, Indonesia

PENERBIT (PUBLISHER)

ALAMAT EDITOR (EDITORIAL ADDRESS)


Departemen Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Sumatera Utara, Medan, Indonesia Jln. Bioteknologi No. 1, Kampus USU, Padang Bulan, Medan 20155

DAFTAR ISI JURNAL BIOLOGI SUMATERA (Sumatran Journal of Biology)

ISSN 1907-5537

Halaman Keragaman Genetik Beberapa Isolat Bacillus thuringiensis Asal Sumatera Utara Dwi Suryanto........ Pengaruh Variasi pH dan Konsentrasi Inokulum pada Produksi Minyak Kelapa Secara Fermentasi Yurnaliza ......................................................................................................................... Identifikasi Karyotipe Terung Belanda (Solanum betaceum Cav.) Kultivar Berastagi Sumatera Utara Deny Supriharti, Elimasni, dan Emita Sabri ........................................................... Kekayaan Jenis Makroepifit di Hutan Telaga Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) Kabupaten Langkat T. Alief Aththorick, Etti Sartina Siregar, dan Sri Hartati ................................. Analisis Model Ketahanan Rumput Gajah dan Rumput Raja Akibat Cekaman Kekeringan Berdasarkan Respons Anatomi Akar dan Daun Riyanto Sinaga .................................................... Potensi Tanaman Nerium oleander untuk Tindakan Augmentasi Stephanidae (Hymenoptera) sebagai Musuh Alami Lepidoptera Gunawan................................................................................... 13 46 7 11 12 16 17 20 21 22

Jurnal Biologi Sumatera, Januari 2007, hlm. 1 3 ISSN 1907-5537

Vol. 2, No. 1

KERAGAMAN GENETIK BEBERAPA ISOLAT Bacillus thuringiensis ASAL SUMATERA UTARA


Dwi Suryanto
Departemen Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Sumatera Utara, Jln. Bioteknologi No. 1, Kampus USU, Padang Bulan, Medan 20155

Abstract A study on genetic variability of several Bacillus thuringiensis isolates of North Sumatra has been conducted using pulsed-field gel electrophoresis. Bioassay of the isolates to insect larvae showed that the isolates have different host specificity. Total genome analysis showed that all isolates were genetically different. Keywords: Bacillus thuringiensis, genetic diversity, pulsed-field gel electrophoresis

PENDAHULUAN Bacillus thuringiensis, satu bakteri aerob, pembentuk spora, gram positif, merupakan bakteri indigenous pada tanah, air, permukaan tumbuhan, serangga mati, dan biji-bijian (Kawalek et al., 1995; Bravo et al., 1998). Strain-strain dari bakteri ini telah diisolasi dari banyak negara (Bravo et al., 1998). Strain-strain ini menunjukkan kisaran spesifisitas yang luas pada berbagai ordo serangga (Lepidoptera, Diptera, Coleoptera, Hymenoptera, Homoptera, dan Mallophaga) dan Acari (Bravo et al., 1998). Bakteri ini memproduksi protein kristal (protein cry) selama sporulasi (Kuo & Chak, 1996). Untuk mendapatkan strain B. thuringiensis baru untuk memproduksi protein cry, isolasi sejumlah besar strain B. thuringiensis baru saat ini menjadi aktivitas rutin pada banyak industri (Kuo & Chak, 1996). Beragam isolat dan subspesies B. thuringiensis diketahui sebagai sumber penting biopestisida komersial (Lopez-Meza & Ibarra, 1996). Bakteri ini memenuhi syarat sebagai agen pengendali mikrobiologi terhadap hama dan vektor penyakit pertanian (BenDov et al., 1999). Identifikasi strain B. thuringiensis baru dengan bioasai merupakan proses panjang B. thuringiensis baru dan melelahkan, yang seringkali mengulang isolasi dari strain B. thuringiensis yang sama (Ben-Dov et al., 1999). Bagaimana pun, karakterisasi dari koleksi strain B. thuringiensis akan membantu mengetahui peranan bakteri ini di lingkungan dan distribusi gen cry (Bravo et al., 1998). Karena memiliki perbedaan dalam derajat toksisitas dan spesifisitas aktivitas diperlukan suatu marka molekuler yang dapat digunakan untuk membedakan antar strain B. thuringiensis. Saat ini metode molekuler seperti pulsed-field gel

electrophoresis (PFGE) DNA kromosom, dan amplifikasi PCR sekuensing gen rRNA, telah digunakan untuk menentukan kekerabatan genetik dari mikroorganisme. PFGE telah digunakan untuk memisahkan fragmen DNA besar dari kromosom bakteri setelah dipotong dengan enzim yang mengenali sekuen potong yang jarang terdapat dalam genom (Harrell et al., 1995). Oleh karena itu, dalam studi ini digunakan PFGE untuk menganalisis genom B. thuringiensis lokal Sumatera Utara, karena teknik ini telah berhasil digunakan dalam metode typing yang memungkinkan secara meyakinkan membandingkan kromosom bakteri (Rivera & Priest, 2003). BAHAN DAN METODE Isolat Bakteri dan Uji Isolat B. thuringiensis terhadap Larva Beberapa Jenis Serangga. Isolat B. thuringiensis diperoleh dari studi sebelumnya. Isolat ini berasal dari beberapa daerah di Sumatera Utara. Uji dilakukan terhadap larva Aedes aegypti, Culex sp., Plutella xylostella, dan Heliothis armigera. Kemampuan isolat untuk membunuh larva dicatat sebagai: mampu (+) dan tidak mampu (-). Sebagai kontrol digunakan isolat dari bioinsekticida Dipel (PT Abbott Indonesia) yang berisi isolat B. thuringiensis var kurstaki strain HD-7 yang biasa digunakan untuk mengendalikan larva Plutella xylostella, Crocidolomia binotalis, dan Heliothis sp. Penyiapan DNA Genom Total. Sel untuk isolasi genom total berasal dari kultur umur 4 jam dalam medium Luria Bertani (dalam 100 ml media terdapat 1 g tripton, 0.5 g ekstrak yeast, dan 1 g NaCl) cair. Penyiapan DNA genom total dan restriksi enzim menggunakan metode Smith & Cantor (1987). Dalam metode ini, sel diperangkap dalam agarose untuk kemudian dilisis sehingga genom tetap berada dalam agarose.

SURYANTO

J. Biologi Sumatera

Keragaman Genetik B. thuringiensis dengan Macro-restricted Fragment Length Polymorphism (MFLP). Untuk melihat keragaman genetik isolat dilakukan pekerjaan sesuai dengan prosedur kerja yang dilakukan oleh Suryanto (2001). Pulsed-field gel electrophoresis untuk memperoleh profile Macro-restricted Fragment Length Polymorphism menggunakan CHEF-DRII (Bio-Rad, Richmond, CA). Program komputer Treecon (Yves Van de Peer of Department of Biochemistry, University of Antwerp) digunakan untuk mendeterminasi hubungan kekerabatan antar isolat dalam pohon filogeni berdasarkan profil MFLP. HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Isolat B. thuringiensis terhadap Larva Beberapa Jenis Serangga. Hasil pengujian menunjukkan bahwa tidak semua isolat B. thuringiensis mempunyai daya bunuh terhadap larva serangga yang diuji. Isolat U1, U2, dan RP2 terlihat dapat membunuh larva H. armigera. Di samping dapat membunuh larva H. armigera, isolat RP2 memiliki daya bunuh terhadap larva P. xylostella. Dua isolat lainnya, M5 dan K5 tidak mampu membunuh larva serangga yang diujikan. Boleh jadi dua isolat ini memiliki protein cry yang berbeda dengan dengan 3 isolat lainnya. Perbedaan protein cry menyebabkan spesifisitas inang berbeda (Bravo et al., 1998). Tabel 1. Bioasai isolat B. thuringiensis lokal terhadap larva beberapa jenis serangga
Isolat U1 U2 RP2 M5 K5 A. aegypti Culex sp. P. xylostella + - : tidak mati H. armigera + + + -

Gambar 7. Profil genom isolat B. thuringiensis asal Sumatera Utara total yang dipotong dengan SmaI Analisis profil seperti ini diperlukan sebagai basis data tentang isolat-isolat asli B. thuringiensis asal Sumatera Utara, atau bahkan kalau mungkin dari seluruh Indonesia sehingga dengan demikian penyebaran galur dari isolat B. thuringiensis dapat diketahui. Keragaman genetik bakteri ini dengan membawa keragaman gen cry dapat menurunkan kemungkinan resistensi hama karena banyak pilihan dalam penggunaan bakteri sebagai agen pengendali hayati. Ucapan Terima Kasih. Terima kasih kepada Laboratorium RCMD Fakultas MIPA, IPB Bogor atas fasilitas penelitian yang diberikan. Penelitian ini merupakan sebagian dari penelitian yang dibiayai melalui Hibah Pekerti 1, DP3M, Dikti. DAFTAR PUSTAKA Ben-dov E., Wang Q., Zaritzky A., Manasherob R., Barak Z., Schneider B., Khamraev A., Baizhanov M., Glupov V., Margalith Y. 1999. Multiplex PCR screening to detect cry9 genes in Bacillus thuringiensis strains. Appl Environ Microbiol 65: 3714-3716. Bravo A., Sarabia S., Lopez L., Ontiveros H., Abarca C., Ortiz A., Ortiz M., Lina L., Villalobos F.J., Pena G., Nunez-Valdez M-E, Soberon M., Quintero R. 1998. Characterization of cry genes in a Mexican Bacillus thuringiensis strain collection. Appl Environ Microbiol 64: 4965-4972.

Keterangan: + : mati

Keragaman Genetik B. thuringiensis dengan Macro-restricted Fragment Length Polymorphism (MFLP). Hasil PFGE memperlihatkan adanya profil yang berbeda antar-isolat B. thuringiensis yang dianalisis (Gambar 1). Hasil ini menunjukkan adanya keragaman isolat yang diperoleh dari beberapa tempat di Sumatera Utara. Pengambilan contoh lebih banyak dari daerah dan sumber diyakini menambah keragaman genetik isolat B. thuringiensis.

Vol. 2, 2007

J. Biologi Sumatera

Harrell LJ, Andersen GL, Wilson KH. 1995. Genetic Variability of Bacillus anthracis and Related Species. J Clin Microbiol 33: 18471850. Kawalek MD, Benjamin S., Lee HL, Gill SS. 1995. Isolation and Identification of Novel Toxins from a New Mosquitocidal Isolate from Malaysia, Bacillus thuringiensis subsp. jegathesan. Appl Environ Microbiol 61: 2965-2969. Kuo W-H, Chak K-F. 1996. Identification of novel cry-type genes from Bacillus thuringiensis strains on the basis of restriction fragment length polymorphism of the PCR-Amplified DNA. Appl Environ Microbiol 62: 13691377.

Lopez-Meza JE, Ibarra JE. 1996. Characterization of a Novel Strain of Bacillus thuringiensis. Appl Environ Micorbiol 62: 1306-1310. Rivera AMG, Priest FG. 2003. Pulsed field gel electrophoresis of chromosomal DNA reveals a clonal population structure to Bacillus thuringiensis that relates in general to crystal protein gene content. FEMS Microbiol Lett 223: 61-66. Smith RJ, Cantor CR. 1987. Purification specific fragmentation and separation of large DNA molecules. Methods Enzymol 155: 449-467. Suryanto D. 2001. Selection and characterization of bacterial isolates for monocyclic aromatic degradation. Desertasi. IPB. Bogor.

Jurnal Biologi Sumatera, Januari 2007, hlm. 4 6 ISSN 1907-5537

Vol. 2, No. 1

PENGARUH VARIASI pH DAN KONSENTRASI INOKULUM PADA PRODUKSI MINYAK KELAPA SECARA FERMENTASI
Yurnaliza
Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sumatera Utara Jl. Bioteknologi No. 1 Kampus USU, Medan, Telp 061-8223564, E-mail: Yurnaliza@yahoo.com

Abstract The purpose of the research was to obtain the optimum pH and inoculums concentration on coconut milk fermentation by Citrobacter sp. isolate of mud-crab. The variation of pH was 5, 6, 7, and 8 with inoculum concentration of 5, 10, 15, 20, and 25% (v/v). This experiment was designed as factorial completely randomized design (CRD). The results of variance analysis show the combinations pH and inoculums concentration was nosignificant variation. However, the highest volume average of coconut oil production of 31,05 ml from 100 ml coconut milk or oil content 31.05% got from P3S3 combination (pH 7 and inoculums concentration 15%). Keywords: Citrobacter sp., coconut milk

PENDAHULUAN Minyak kelapa merupakan salah satu dari minyak goreng yang banyak dipakai masyarakat sebagai kebutuhan sehari-hari. Minyak ini berasal dari tumbuhan (nabati) sebagaimana halnya dengan minyak sawit, minyak jagung, minyak kedelai, minyak zaitun, minyak biji kapas, dan minyak kacang tanah. Selain berfungsi sebagai penghantar panas, minyak ini juga dimanfaatkan dalam industri sebagai bahan dalam pembuatan sabun, mentega, dan kosmetik. Minyak nabati memiliki banyak keunggulan jika dibandingkan dengan minyak yang berasal dari hewan. Minyak nabati tidak mengandung kolesterol karena mengandung lebih banyak asam lemak tidak jenuh, sehingga relatif stabil jika dipanaskan (Ketaren, 1986). Pembuatan minyak kelapa dilakukan dengan cara kering dan basah. Cara kering dilakukan dengan pengepresan kopra. Cara ini dilakukan di pabrik pengolahan minyak kelapa karena butuh biaya dan peralatan yang rumit. Cara basah dilakukan dengan cara membuat santan dari daging kelapa dan dipanaskan untuk memisahkan minyak dari bagian yang mengemulsinya. Cara lain untuk mendapatkan minyak kelapa secara basah adalah secara fermentasi (Hasbullah, 2001). Fermentasi dilakukan dengan menggunakan mikroorganisme sebagai inokulum seperti bakteri dan khamir. Pembuatan minyak kelapa secara fermentasi ini dapat dilakukan dalam skala besar maupun rumah tangga. Cara fermentasi memiliki beberapa

keuntungan pokok yaitu efektivitas dalam tenaga, waktu relatif singkat dan biaya tidak terlalu tinggi serta tidak butuh peralatan yang rumit. Minyak kelapa yang dihasilkan lebih banyak dan warnanya lebih jernih (Sukmadi & Nugroho, 2002). Menurut Sukmadi (1987) dalam Sukmadi dan Nugroho (2002) beberapa faktor mempengaruhi produksi minyak kelapa secara fermentasi di antaranya pH, konsentrasi inokulum, suhu, bahan baku kelapa, dan lamanya fermentasi. Sehingga perlu dilakukan pengkajian untuk mendapatkan kondisi optimal proses sehingga dihasilkan jumlah dan kualitas minyak kelapa yang lebih optimal. Penelitian sebelumnya yang dilakukan di laboratorium mikrobiologi FMIPA USU, didapatkan satu isolat yang berasal dari kepiting batu yang produktif dalam menghasilkan minyak kelapa secara fermentasi (Suryanto et al., 2005). Isolat tersebut dikarakterisasi dalam genus Citrobacter. Isolat ini terseleksi sebagai isolat dengan kemampuan menghasilkan minyak tertinggi dari isolat lainnya. Untuk mendapatkan kondisi optimal pertumbuhannya maka pada pH dan konsentrasi inokulum dijadikan faktor yang pertama kali diuji pengaruhnya. BAHAN DAN METODE Pembuatan Santan. Sebanyak 12 butir kelapa tua diparut daging buahnya. Parutan kelapa ditimbang jumlahnya dan ditambah air matang hangat dengan perbandingan 1 : 1,5 (b/v). Parutan tersebut diperas sehingga dihasilkan santan. Santan kelapa dibiarkan selama 30 menit untuk memisahkan bagian

Vol. 2, 2007

J. Biologi Sumatera

air (skim) dan kepala santan (krim santan). Skim berada di bagian bawah dan berwarna lebih terang sedangkan krim berada di bagian atas. Skim dipisahkan dari krim dengan tabung pemisah. Skim dijadikan sebagai medium untuk pembuatan starter. Pembuatan Starter. Skim disterilkan dengan autoklaf pada 1210C selama 15 menit. Sebanyak 108 sel bakteri diinokulasikan ke dalam medium skim dan dibiarkan selama 24 jam. Starter ditambahkan ke dalam krim santan sesuai dengan perlakuan dan dihomogenkan dengan mengocoknya. Pembuatan Minyak Kelapa. Penelitian dilakukan dengan rancangan RAL faktorial dengan dua faktor yaitu pH dan konsentrasi inokulum. Faktor pH yang diujikan adalah 5, 6, 7, 8, dilambangkan dengan huruf (P) berturut-turut P1, P2, P3, dan P4. pH medium diatur dengan menambahkan NaOH dan HCl. Konsentrasi inokulum (starter) yang digunakan adalah 5, 10, 15, 20, dan 25 % (V/V), dilambangkan dengan huruf (S) yang berturut-turut S1, S2, S3, S4, dan S5. Masing-masing kombinasi perlakuan diulangi sebanyak 2 kali. Sebagai penyangga pH medium fermentasi, ke dalam setiap botol perlakuan ditambahkan 0,7 g/l K2HPO4 dan 0,3 g/l KH2PO4. Fermentasi dilakukan selama 24 jam pada suhu ruang. Pengamatan dilakukan terhadap volume minyak yang dihasilkan di akhir fermentasi. Hasil yang diperoleh dianalisis dengan analisis sidik ragam. Teknologi Pemisahan Minyak. Pemisahan minyak dilakukan menurut Sukmadi & Nugroho (2002) yaitu dengan memisahkan tiga lapisan berupa air, minyak dan protein dengan labu pemisah di mana air terdapat pada bagian bawah. Bagian minyak dan protein dipisahkan dengan memanaskan campuran pada suhu 80100 0C, selama 5-10 menit. Protein akan menggumpal dan selanjutnya disentrifus pada 5000 rpm selama 15 menit untuk memisahkan bagian minyak dan gumpalan protein. Minyak yang diperoleh diukur volumenya. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada pembuatan santan, kelapa yang digunakan sebanyak 12 butir, dengan berat parutan daging buah 5,76 kg. Penambahan air hangat dengan perbandingan air dan santan sebanyak 1 : 1,5 (b/v) menghasilkan krim santan sebanyak 4,1 liter. Krim santan yang diperoleh berwarna putih susu dengan pH sekitar netral yaitu 6,5. Menurut Food and Drug Administration US (FDA, 2003) pH santan berkisar antara 6,1 7,0. Santan kelapa merupakan sistem emulsi dalam air yang berwarna putih susu. Emulsi tersebut distabilkan oleh stabilizer yang berupa campuran

protein dan karbohidrat dalam bentuk lapisan kuat. Menurut Winarno (1984) sistem emulsi dapat mengalami pemecahan sehingga membentuk dua lapisan yang tidak bercampur. Hasil fermentasi santan kelapa dengan penambahan inokulum Citrobacter sp. sebagai starter pada variasi pH dan konsentrasi inokulum menghasilkan volume minyak yang bervariasi. Volume minyak yang dihasilkan dari semua kombinasi perlakuan berkisar antara 2631 ml dari 100 ml krim santan. Jumlah ini agak lebih sedikit dibandingkan dengan volume minyak yang diperoleh oleh Sukmadi & Nugroho (2002) yang menggunakan Saccharomyces cereviceae yang hanya menvariasikan inokulum yaitu 1 : 3, 1 : 5, dan 1 : 7. Mereka mendapatkan volume minyak berkisar antara 720796 ml per 2100 ml santan atau 34,3-37,9% minyak per 100 ml santan. Hal ini mungkin disebabkan oleh perbedaan jenis inokulum dan kelapa yang digunakan. Pada penelitian ini dari 12 butir kelapa hanya diperoleh parutan sebanyak 5,76 kg, sementara Sukmadi & Nugroho (2002) mendapatkan 4 kg parutan dari 8 butir kelapa. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan pH dan konsentrasi inokulum menunjukkan tidak ada perbedaan yang berarti, tapi dari rata-rata volume minyak yang dihasilkan kombinasi P3S3 (pH 7, inokulum 15%) menghasilkan volume minyak tertinggi, yaitu 31,05 ml (Gambar 1). Volume minyak paling sedikit diperoleh dari kombinasi perlakuan P4S5 (pH 8, inokulum 25%) yaitu 26,35 ml. Rendemen tertinggi yang dihasilkan mendekati nilai rendemen kandungan rata-rata minyak pada kelapa tua yaitu 34,7% (Hasbullah, 2001). Variasi pH yang digunakan juga tidak menunjukkan perbedaan nyata secara statistik. Nilai pH ini akan berubah selama fermentasi karena terjadi proses pemecahan emulsi santan. Sel-sel bakteri selanjutnya akan memecah gula menjadi asam-asam organik yang akhirnya menyebabkan turunnya nilai pH berkisar antara 4 4,5 (Sukmadi & Nugroho, 2002). Variasi konsentrasi inokulum yang digunakan menunjukkan perbedaan nyata pada taraf 5% dan volume minyak yang dihasilkan digambarkan pada Gambar 2. Pada penggunaan inokulum 5-20% menghasilkan volume minyak yang tidak berbeda nyata, sementara pada inokulum 25% terlihat adanya perbedaan pada taraf 5%. Jika dibandingkan kombinasi perlakuan P3S3 dan P3S1, dengan volume minyak terbanyak satu dan kedua, dapat dipilih kombinasi perlakuan yang efektif adalah pada kombinasi perlakuan P3S1. Hal ini disebabkan oleh sedikitnya inokulum yang digunakan yaitu 5%. Volume minyak yang dihasilkan masing-masing sebanyak 31,05 ml dan 30,40 ml.

YURNALIZA

J. Biologi Sumatera

32.00 31.00 30.00 Volume Minyak (ml) 29.00 28.00 27.00 26.00 25.00 24.00 P1S1 P1S2 P1S3 P1S4 P1S5 P2S1 P2S2 P2S3 P2S4 P2S5 P3S1 P3S2 P3S3 P3S4 P3S5 P4S1 P4S2 P4S3 P4S4 P4S5 Perlakuan

Gambar 1. Volume minyak hasil fermentasi santan kelapa pada beberapa kombinasi pH dan konsentrasi inokulum
30.0 29.5 Volume Minyak (ml) 29.0 28.5 28.0 27.5 27.0 26.5 5 10 15 20 25 Konsentrasi Inokulum /100 m l santan (v/v)

Gambar 2. Variasi konsentrasi inokulum dalam produksi minyak kelapa secara fermentasi DAFTAR PUSTAKA FDA. 2003. Approximate pH of Foods and Food Products. U.S. Food and Drug Administration. Center for Food Safety and Applied Nutrition. (http://vm.cfsan.fda.gov/~comm/lacf-phs.html). 22 Okt 2004. Hasbullah. 2001. Teknologi Tepat Guna Agroindustri Kecil Sumatera Barat, E. Sawedi, (Ed) Dewan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Industri Sumatera Barat. Http://Www.Iptek.Net.Id/Ind/Warintek/Pengolahan_P angan_Idx.Php?Doc=6a8. 22 Okt. 2004 Ketaren S. 1986. Minyak dan Lemak Pangan. Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), Jakarta. Sukmadi B. dan Nugroho NB. 2002. Kajian Penggunaan Inokulum pada Produksi Minyak Kelapa Secara Fermentasi. Jurnal Biosains dan Bioteknologi Indonesia, Vol.2. No.1. 12-17 Suryanto D., Nasution S.K. dan Yurnaliza, 2005. Potensi Isolat Bakteri dari Kepiting Batu untuk Menghasilkan Minyak Kelapa secara Fermentasi. Jurnal Mikrobiologi Indonesia. Vol. 10 No.1: 14 16. Winarno F.G. 1984. Kimia Pangan dan Gizi. PT. Gramedia Jakarta.

Jurnal Biologi Sumatera, Januari 2007, hlm. 7 11 ISSN 1907-5537

Vol. 2, No. 1

IDENTIFIKASI KARYOTIPE TERUNG BELANDA (Solanum betaceum Cav.) KULTIVAR BERASTAGI SUMATERA UTARA
Deny Supriharti, Elimasni, dan Emita Sabri
Departemen Biologi, FMIPA Universitas Sumatera Utara Jln. Bioteknologi No. 1, Kampus USU, Padang Bulan, Medan 20155

Abstract Tree tomato (Solanum betaceum Cav.) Berastagi, North Sumatera Cultivar karyotype had been achieved by using squash method. The result showed the number of chromosomes is 2n = 24. Chromosome number 1, 2, 3, and 9 are submetacentric and the rest are metasentric. Chromosome 1 is the longest (5.30 m) with the percentage of relative length is 1.29 m. However chromosome 12 is the shorthest (2.10 m) with the percentage of relative length is 0.51 m. The longest centromer index found in chromosome 6 (45.75 um) and the shortest found in chromosome 3 (23.51 um). Keywords: karyotype, tree tomato, Solanum betaceum

PENDAHULUAN Terung belanda (Solanum betaceum Cav.) merupakan tanaman jenis terung-terungan dari famili Solanaceae. Terung belanda tumbuh di Indonesia hanya pada beberapa daerah terutama di Berastagi Kabupaten Karo Sumatera Utara. Terung belanda merupakan tanaman yang bernilai komersial sehingga perlu dikembangkan baik kualitas maupun kuantitasnya (Departemen Pertanian, 2003). Terung belanda adalah tanaman semak atau pohon, tinggi batang 2-3 m dengan diameter batang 4 cm, bentuk batang bulat, daun alternate dengan bentuk daun kordatus, vena menonjol, panjang petiolus 7-10. Bunga kecil, mempunyai tandan, warnanya merah jambu sampai biru terung dengan diameter 1 cm dan buah berbentuk oval (Verheij & Coronel, 1992). Terung belanda pada awalnya dikenal dengan nama Cyphomandra betaceae (Cav.) Sendt., akan tetapi kemudian direvisi oleh Sendtner menjadi Solanum betaceum, Cav. yang termasuk dalam famili Solanacae (Faucon, 1998). Dalam 100 g terung belanda mengandung 82,7-87,8 g air; protein 1,5 g; lemak 0,061,28 g; karbohidrat 10,3 g; serat 1,44,29 g; abu 0,660,94 mg; karoten 0,3710,653 mg; vitamin A 540 I.U. dan vitamin C 23,3 44,9 mg. Jika buah ini dimasak, maka sebagian besar vitamin C hilang (Black et al., 1987; Morton, 1987). Menurut Stanfield (2002), pengaturan kromosom secara standar yang dilakukan berdasarkan panjang, jumlah serta bentuk kromosom dari sel somatis dan sel kelamin suatu individu disebut dengan karyotipe. Kromosom dapat terlihat jelas selama tahap-tahap tertentu dari pembelahan inti, yang

biasanya digambarkan pada tahap metafase (Cowder, 1997). Menurut Lloyd (1992), kromosom digambarkan seperti sosis dengan garis yang mengitari tepinya, meskipun mirip sosis namun mempunyai membran yang menutupinya. Kromosom memiliki area yang luas yang tersusun dari serat-serat yang menggulung yang terlihat seperti jari-jari lingkaran, yang dapat dideteksi saat kromosom dalam keadaan padat ketika pembelahan meosis atau mitosis. Setiap kromosom dalam genom biasanya dapat dibedakan satu dengan yang lainnya oleh beberapa kriteria, termasuk panjang relatif kromosom, posisi suatu struktur yang disebut sentromer yang memberi kromosom dalam dua tangan yang panjangnya berbeda-beda, kehadiran dan posisi bidang (area) yang membesar yang disebut knot (tombol) atau kromomer. Selain itu, adanya perpanjangan arus pada terminal dan material kromatin yang disebut satelit, dan sebagainya (Sarma dan Tanden, 1994). Di bawah mikroskop dapat dilihat bahwa kromosom berbeda dalam hal ukuran dan morfologi antarspesies. Setiap kromosom mempunyai wilayah khusus dengan beberapa tangan yang panjang dan terlihat seperti terdesak. Bagian ini disebut sentromer atau kinetokor, yang berperan penting dalam aktivitas kromosom pada saat sel membelah dan menempatkannya satu dari empat posisi dari kromosom (Sumner et al., 1994; Lewin, 1995). Pengaturan kromosom secara standar berdasarkan panjang, jumlah serta bentuk kromosom dari sel somatis dan sel kelamin suatu individu disebut dengan karyotipe (Stansfield, 2002). Pengaturan ukuran set pada fotograf dari pita-pita kromosom dapat digunakan untuk melihat penyusunan

SUPRIHARTI ET AL.

J. Biologi Sumatera

kromosom. Dengan melakukan analisis secara fisik dapat juga dilihat gambaran mikroskopis kromosom kelamin dan kromosom tubuh pada metafase dari proses mitosis (Starr, 2001). Menurut Prasad (1998), ada dua gambaran kromosom set dari suatu spesies yaitu: (a) Karyogram, merupakan fotomikrograf kromosom dari gambaran tunggal sel somatis metafase yang dipotong dan disusun pada bagian homolog berdasarkan ukurannya. (b) Idiogram, merupakan grafik gambaran dari karyotipe. Secara umum, idiogram merupakan sediaan yang memperlihatkan komplemen kromosom haploid dari suatu spesies, yang mana idiogram ini merupakan ukuran dari kromosom somatis metafase. BAHAN DAN METODE Bahan tanaman yang digunakan adalah kecambah terung belanda (Solanum betaceum Cav.) yang diambil dari Berastagi yang selanjutnya dipelihara di Laboratorium Genetika FMIPA USU. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode squash (pencet) yang merupakan salah satu metode yang digunakan untuk pembuatan preparat. Sampel yang dianalisis dalam penelitian ini adalah bagian ujung akar dari kecambah terung belanda (Solanum betaceum Cav.) yang berasal dari Berastagi. Pembuatan Preparat dengan Metode Pencet (Squash). Ujung akar difiksasi dengan fiksatif sederhana yaitu asam asetat 45% (akuades 55 ml dan asam asetat glasial 45 ml) dan dimasukkan pada lemari pendingin selama 15 menit. Selanjutnya ujung akar yang telah difiksasi dibilas sebanyak 3 kali dan dihidrolisa dengan menggunakan HCl 1 N (campuran 5 ml HCl pekat dengan 55 ml Akuades). Kemudian dipanaskan pada temperatur 50OC selama 30 detik. Setelah itu ujung akar dimasukkan pada larutan pewarnaan yang telah disediakan yaitu, pewarnaan asetokarmin dan dibiarkan selama 30 menit. Kemudian diambil ujung akar, diletakkan di atas objek gelas, ditetesi dengan gliserin dan ditutup dengan gelas penutup. Kemudian dipencet dengan jarum preparat hingga ujung akar hancur dan dilakukan mounting dengan pemberian kanada balsem (Suntoro, 1983; Mertens & Hammersmith, 1995). Preparat dilihat di bawah mikroskop cahaya, dari mulai perbesaran yang kecil sampai yang besar untuk melihat sel yang mempunyai kromosom yang jelas. Setelah didapatkan sel yang mempunyai kromosom yang jelas difoto dengan perbesaran 1000X, kemudian dicetak. Penghitungan jumlah, pengukuran dan penyusunan kromosom dilakukan secara komputerisasi (Zhu et al., 1996). Selanjutnya

dihitung persentase panjang relatif (%PR) dan persentase indeks sentromer (%IS) dengan menggunakan rumus dari Zhang (1996), yaitu:

P+Q x 100 Panjang set kromosom haploid P % IS = x 100 P+Q % PR =


Keterangan: P= kromosom lengan pendek; Q= kromosom lengan panjang

Kromosom disusun berdasarkan panjang dan posisi sentromernya, sehingga diperoleh karyotipenya. Karyotipe dari terung belanda (Solanum betaceum Cav.) dianalisis dengan metode deskripsi (Zhang, 1996). HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Preparat Terung Belanda dengan Metode Pencet. Ujung akar terung belanda (Solanum betaceum Cav.) yang diperlakukan dengan menggunakan metode pencet diperoleh preparat seperti pada Gambar 1. Pada gambar terlihat beberapa sel beserta nukleusnya. Di dalam nukleus terdapat kromosom yang merupakan alat pengangkutan gen-gen yang dipindahkan dari sel ke sel dan dari generasi ke generasi. Kromosom berada dalam pembelahan mitosis pada fase metafase, yang digambarkan dengan menghilangnya membran nukleus dan kromosom terlihat tersebar pada sitoplasma. Menurut Stansfield (2002), bila dilakukan pengamatan di bawah mikroskop cahaya, kromosomkromosom tampak hanya sebagai butiran-butiran kromosom yang halus. Kromosom menjadi terlihat berangkai karena bergulung, memendek dan menebal dan karena penambahan matriks protein pada massanya selama proses berlangsung, dan kromosom kelihatan seperti badan gelap. Hasil Foto Kromosom Terung Belanda. Hasil analisis dengan komputer didapatkan kromoson seperti pada Gambar 2b. Skema penampakan kromosom hingga menjadi jelas dapat dilihat seperti Gambar 2. Jumlah kromosom terung belanda (Solanum betaceum, Cav.) adalah n=12 (2n=24). Hasil ini diperkuat oleh Verheij & Coronel (1992), yang menyatakan bahwa jumlah kromosom untuk famili Solanaceae adalah 2n=24. Sedang diketahui bahwa Solanum betaceum Cav. merupakan salah satu spesies dari famili Solanaceae. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 3.

Vol. 2, 2007

J. Biologi Sumatera

Pada suatu spesies banyak kromosom tertentu, ada spesies yang memiliki kromosom banyak sekali, ada yang sedikit sekali. Pada umumnya jumlah kromosom suatu organisme yang terbesar adalah 12 sampai 50 atau 6 sampai 25 pasang kromosom homolog pada keadaan diploid (Sarma dan Tanden, 1994). Sedang menurut Solomon et al. (1996), sebagian besar tumbuhan dan hewan memiliki jumlah kromosom antara 10 sampai 50. Hasil Pengukuran Kromosom Terung Belanda. Ukuran masing-masing kromosom homolog dari terung belanda (Solanum betaceum Cav.) dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Tipe kromosom kromosom
Kromosom Panjang Tipe Kromosom Haploid Kromosom (m) (n) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Sub-Metasentris Sub-Metasentris Sub-Metasentris Metasentris Metasentris Metasentris Metasentris Metasentris Metasentris Metasentris Metasentris Metasentris 5,30 4,30 3,70 3,53 3,48 3,33 3,25 3,20 3,12 3,00 2,60 2,10

dan
Lengan panjang (m) 2,98 2,68 2,51 1,61 1,69 1,52 1,55 1,49 1,43 1,38 1,19 0,99

panjang
Lengan pendek (m) 1,92 1,28 0,87 1,55 1,49 1,51 1,42 1,44 1,37 1,35 1,17 0,91

lengan
Sentromer (m) 0,40 0,34 0,32 0,34 0,32 0,30 0,28 0,27 0,30 0,30 0,24 0,20

Tabel 1 juga menunjukkan bahwa kromosom yang terpanjang dari terung belanda (Solanum betaceum Cav.) adalah kromosom sub-metasentris 1 dengan panjang kromosom 5,30 m dengan lengan panjang (q) 2,98 m, lengan pendek (p) 1,92 m dan sentromer 0,40 m sedang kromosom yang terpendek adalah kromosom metasentris 12 dengan panjang kromosom 2,10 m dengan lengan panjang 0,99 m, lengan pendek 0,91 m dan sentromer 0,20 m. Pengukuran panjang masing-masing lengan kromosom adalah untuk memperoleh data yang akurat dan dapat ditampilkan dalam bentuk idiogram (Zhang, 1996). Menurut Nath (1997), batasan panjang kromosom metafase pada pembelahan mitosis pada hewan dan tumbuhan secara umum antara 0,5 m dan 32 m dengan diameter 0,2 m dan 3,0 m. Kromosom metafase terpanjang ditemukan pada Trillium sp.; dengan panjang kromosom 32 m. Sedang kromosom raksasa ditemukan pada Diptera, dengan panjang kromosom 300 m dengan diameter 10 m. Namun menurut Prasad (1998), pada tanaman umumnya terdapat variasi ukuran kromosom yang berbeda pada genus dari famili yang sama. Hasil Penghitungan Panjang Relatif (%PR) dan Indeks Sentromer (%IS). Pada Tabel 2 ditunjukkan bahwa panjang relatif (%PR) yang terbesar dari terung belanda (Solanum betaceum Cav.) adalah adalah kromosom 1 yaitu 1,29 dan yang terkecil adalah kromosom 12 yaitu 0,51. Indeks sentromer yang terbesar adalah kromosom 6 yaitu 45,75 dan yang terkecil adalah kromosom 3 yaitu 23,51. Tabel 2. Persentasi panjang relatif dan indeks sentromer kromosom terung belanda (Solanum betaceum Cav.)
Kromosom Panjang Relatif (%PR) Indeks Sentromer Haploid (n) (%IS) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1,29 1,05 0,91 0,85 0,84 0,81 0,79 0,78 0,75 0,73 0,63 0,51 36,22 29,76 23,51 44,28 42,81 45,75 43,69 45,00 44,19 45,00 45,00 43,33

Dari Tabel 1 terlihat bahwa 12 pasang kromosom terung belanda (Solanum betaceum Cav.) hanya mempunyai dua tipe sentromer yaitu 3 kromosom sub-metasentris dan 9 kromosom metasentris. Kromosom 1, 2, dan 3 memiliki tipe sentromer sub-metasentris dan kromosom 4 sampai 12 memiliki tipe sentromer metasentris. Kromosom submetasentris memiliki sentromer tidak berada pada bagian tengah, sehingga kedua lengan kromosom tidak sama panjang dan kromosom metasentris memiliki sentromer di tengah, sehingga kromosom dibagi atas dua lengan yang sama panjang. Menurut Suryo (1995), tipe kromosom yang terdapat pada suatu spesies tidak selalu sama. Contohnya pada tanaman Callisia fragrans (2n=12) memiliki 6 kromosom metasentris dan 6 kromosom akrosentris. Sedang pada tanaman Oxalis dispar (2n=12) memiliki 2 kromosom metasentris, 2 kromosom akrosentris dan 8 kromosom telosentris.

10 SUPRIHARTI ET AL.

J. Biologi Sumatera

Karyotipe Terung Belanda. Dengan diperolehnya jumlah dan ukuran kromosom dari terung belanda (Solanum betaceum Cav.) dapat disusun karyotipenya. Menurut Stansfield (2002), karyotipe adalah merupakan pengaturan dan penyusunan kromosom secara standar berdasarkan panjang, jumlah serta bentuk kromosom dari suatu organisme. Penyusunan kromosom berdasarkan ukuran yang terpanjang sampai yang terpendek dapat dilihat pada Gambar 4. Gambar 4. Karyotipe kromosom (Solanum betaceum perbesaran 10.000X terung Cav.) belanda dengan

a b c

Gambar 1. Sel radix terung belanda (Solanum betaceum Cav.) dengan perbesaran 1000X. (Keterangan: a. dinding sel; b. membran nukleus menghilang; c. Kromosom)

Menurut Mertens & Hammersmith (1995), penyusunan karyotipe dengan bantuan sistem komputer telah banyak diterima oleh laboratorium sitogenetika. Sistem ini sangat akurat, efisien dan tidak diragukan. Sistem ini banyak membantu untuk mengetahui sebagian besar karyotipe dari suatu individu. DAFTAR PUSTAKA Blank RH, Dance HM, Hampton MH. Olson and Holland PT. 1987. Tamarillo (Cyphomandra betacea): Effect of field-applied fungisides and postharvest dips on storage rots aof fruit. New Zealand. J. Exp. Agric. 15:191-198. Cowder, L. V. 1997. Genetika Tumbuhan. Cetakan Kelima. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. hlm. 2-6. Departemen Pertanian 2003. Data Agribisnis Wilayah Sumatera.1 http/www.agribisnis. deptan. go. id. [14 Oktober 2004]. Faucon P. 1998. Tree Tomato, Tamarillo. http////WWW. desert. tropical. C [27 Januari 2005]. Graham J. and Piper J. 1994. Automatic Karyotipe Analysis. In Chromosome Analysis Protocols by J.R. gosden. Methods in Molecular Biology.Humana Press. Totowa, New Jersey, hlm 141. Hossain MA. 1985. An improved Giemsa C-Banding Technique. Bangladesh. J. Bot 14: 37-40. Lewin B. 1995. Karyotiping Activity. Oxford University Press, England. hlm. 782. Lloyd JR. 1992. Giemsa and Chromosomes. Dimensiom of Science Mac Millan Education. Ltd., London. hlm. 66, 77-71. Mertens RT and Hammersmith RL. 1995. Genetic Laboratory Investigation. Tenth Edition, Prentice Hall. Englewood Cliffs, New Jersey 07632.

Gambar 2. Sel terung belanda (Solanum betaceum Cav.) dengan scanning Canon Pixma MP 780. (Keterangan: a. kromosom perbesaran 1000x; b. kromosom perbesaran 10.000x; c. kromosom dengan Photoshop 7.0)

Gambar 3. Kromosom terung belanda (Solanum betaceum Cav.) pada fase metaphase dengan perbesaran 10000x

Vol. 2, 2007

J. Biologi Sumatera 11

Moro MR, Silva AS, and Geraldo JS. 2000. International Symposium on Ornamental Palms & other Monocots from the Tropics. ISHS Acta Horticultura 486:II http://www. Acthort. Org/books/486/486-33.htm. [14 April 2004]. Morton, J. 1987. Tree Tomato. In: Fruits of warm climate. Ed. Julia F. Morton, Miami, FL. P. 437-440. Nath R. 1997. Principles of Cytogenetic, Evolution Molecular Biology Plant Breeding, Genetic Engineering Biotechnology & Bostatistic. Kalyani Publishers, India. hlm. 60-68. Prasad G. 1998. Introduction to Cytogenetics. Kumudabhiram Das. hlm. 166-167. Solomon EP, Berg LR, Martin DW and Villee C. 1996. Biology. Fourth Edition. Saunders College Publishing, American. P.220. Sarma NP and Tanden SL. 1994. Banding Techniques and Plant Chromosome. Current Sci. 43. 635637. Starr C. 2001. Cell Biology and Genetics. Ninth Edition. Lisa Biological Illustrator, United Stated of America.

Sumner AT, Ross AR and Graham E. 1994. Preparation of Chromosomes for Scanning Electron Microscopy. In Chromosome Analysis Protocols by J.R. Gosden. Ed. Methods in Molecular Biology. Humana Press. Totowa, New Jersey, hlm. 14. Suntoro S. 1983. Metode Pewarnaan. Bhratara Karya Aksara, Jakarta. hlm 15. Verheij EWM. and Coronel R. 1992. Plant Resources of south East Asia 2. Edible fruits and nuts no. 2. Editor Prosea Foundation Bogor, Indonesia. Pp.144-146. Zhang Q. 1996. Cytogenetic and Moleculer Analisys of Channel Fish (Icthalurua puncatus) Genome (phd Dissertatio). Baton Rouge, Lousiana: Lousiana State University. Zhu T., Shi L., Dayle JJ and Keim P. 1996. Soybean Chromosome Painting: A Strategy for Somatic Cytogenetics, Department of Bological Science, Norhtern Arizona University, Flagstaff, AZ 86011-5640. Journal of Heridity; 87:308-313.

Jurnal Biologi Sumatera, Januari 2007, hlm. 12 16 ISSN 1907-5537

Vol. 2, No. 1

KEKAYAAN JENIS MAKROEPIFIT DI HUTAN TELAGA TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER (TNGL) KABUPATEN LANGKAT
T. Alief Aththorick1,2, Etti Sartina Siregar1, dan Sri Hartati
1)

Staf Pengajar Departemen Biologi FMIPA USU

Abstract The research has been conducted in Telaga Village Gunung Leuser National Park, Langkat Regency. Data were collected using Quadrat Method. The result showed that there were 26 species of macroepiphytes belong to 18 genera and 9 families. Orchidaceae had the highest number of species followed by Polypodiaceae and Aspleniaceae with the number of 9, 6 and 4 species respectively. In family level, Polypodiaceae dominated in all strata followed by Aspleniaceae and Davalliaceae. Keywords: species richness, macroepiphytes, Gunung Leuser National Park

PENDAHULUAN Epifit adalah tumbuhan yang tumbuhnya melekat pada batang dan cabang pohon, semak, dan liana (Polunin, 1990). Smith (1992) membedakan epifit berdasarkan ukuran tubuhnya menjadi mikroepifit dan makroepifit. Mikroepifit adalah epifit yang mempunyai ukuran daun yang kecil di mana bagian-bagiannya (akar, batang, dan daun) sukar dibedakan karena daunnya berbentuk seperti sisik, contohnya lumut, lichenes, dan alga sedangkan makroepifit adalah epifit yang mempunyai ukuran daun yang lebih besar dari pada mikroepifit dimana bagian-bagiannya (akar, batang, dan daun) dengan nyata dapat dibedakan dengan jelas, contohnya dari famili Orchidaceae, Ericaceae, Melastomataceae, dan tumbuhan paku (Richard, 1981). Sebagian besar epifit dipencarkan oleh angin. Pada tumbuhan paku, spora kecil dan ringan sehingga mudah diterbangkan angin demikian juga dengan bijibiji anggrek yang kecil diterbangkan angin sampai jarak yang sangat jauh (MacKinnon, 1986). Epifit paling banyak ditemukan pada kondisi lingkungan dengan kelembaban yang tinggi. Epifit ada yang menyenangi tempat-tempat terlindung tetapi ada juga yang menyenangi tempat terbuka, contohnya Asplenium (Soeriaatmadja, 1989). Epifit memiliki fungsi ekologi yaitu menyediakan habitat utama bagi hewan tertentu dalam ekosistem dan sebagai pembentuk iklim mikro (Anwar, et al., 1984). Selanjutnya menurut Tjitrosomo et al. (1983), bahwa secara ekologi epifit yang berasal dari paku-pakuan berperan dalam proses pelapukan. Epifit juga memiliki fungsi ekonomi yang tinggi, umumnya dijadikan sebagai tanaman hias karena memiliki bentuk yang beraneka ragam dan warna
2)

yang indah, sehingga dapat dimanfaatkan untuk menambah penghasilan, contohnya jenis-jenis anggrek. Selain itu epifit yang berasal dari pakupakuan dapat dimanfaatkan sebagai tanaman obat, contohnya Drynaria quersifolia di Malaya, dipakai untuk obat bengkak, air enthalnya juga dapat dipakai untuk menyembuhkan demam (Sastrapradja et al., 1980). Aminah (2002) melaporkan di hutan Sibayak I Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang terdapat 14 jenis paku epifit. Yulinda (2004) melaporkan di kawasan hutan Tangkahan Taman Nasional Gunung Leuser Kabupaten Langkat terdapat 47 jenis makroepifit yang termasuk dalam 4 kelas, 10 ordo, 20 famili, dan 32 genera. Orchidaceae merupakan famili yang memiliki jumlah jenis tertinggi sebanyak 9 jenis, sedangkan Sari (2005) melaporkan di kawasan hutan Gunung Sinabung terdapat 25 jenis paku epifit. Selanjutnya Mahfuz (1995) melaporkan di Hutan Gunung Tujuh Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat terdapat 6 famili, 14 genera, dan 120 jenis paku epifit. Famili Davalliaceae merupakan famili yang paling banyak jumlah jenisnya. Hernawati (1995), melaporkan bahwa terdapat 61 jenis paku epifit dari 5 famili di Taman Nasional Kerinci Seblat. Rini (1998), melaporkan bahwa di Areal Stasiun Riset Soraya Ekosistem Leuser Kabupaten Aceh Selatan terdapat 15 jenis paku epifit dari 5 famili di mana jenis Asplenium nidus L. merupakan jenis yang paling banyak ditemukan. Ruhana (2003), melaporkan bahwa terdapat anggrek epifit sebanyak 25 genus (70 jenis) di Stasiun Penelitian Ketambe Ekosistem Leuser. Selanjutnya Amalia (2004), melaporkan bahwa di Gunung Tangkubanparahu terdapat 4053 individu makroepifit yang berasal dari 89 jenis dan 37 famili. Famili terbanyak adalah Orchidaceae.

Alamat untuk korespondensi: talief@lycos.com

Vol. 2, 2007

J. Biologi Sumatera 13

Hutan di Desa Telagah kawasan Taman Nasional Gunung Leuser Kabupaten Langkat termasuk salah satu tipe hutan hujan dataran rendah di Sumatera Utara yang berdasarkan pengamatan di lapangan memiliki keanekaragaman makroepifit yang tinggi. Hutan ini memiliki pohon-pohon yang tinggi dan udara yang lembab sehingga merupakan habitat yang sesuai bagi pertumbuhan epifit. Untuk mendukung upaya konservasi kawasan hutan ini perlu diketahui terlebih dahulu data dasar tentang kekayaan jenis floranya termasuk salah satunya adalah tumbuhan epifit. Namun demikian sejauh ini belum pernah dilaporkan kekayaan jenis makroepifit di hutan Telaga Taman Nasional Gunung Leuser Kabupaten Langkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi dan keanekaragaman makroepifit di kawasan hutan Taman Nasional Gunung Leuser Desa Telagah Kabupaten Langkat. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai informasi dasar bagi instansi terkait dan masukan bagi peneliti-peneliti selanjutnya dalam rangka upaya konservasi. BAHAN DAN METODE Penentuan lokasi penelitian dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling berdasarkan keberadaan tumbuhan makroepifit yang dianggap mewakili tempat tersebut. Pengamatan dan pengambilan koleksi tumbuhan menggunakan metode kuadrat. Pada lokasi penelitian dibuat plot petak tunggal berukuran 500 x 20 m yang dibagi menjadi 25 subplot dengan ukuran 20 x 20 m. Pada setiap subplot dicatat setiap jenis makroepifit yang dijumpai, jumlah individu setiap jenis dan strata ditemukannya makroepifit. Strata bawah yaitu dari permukaan tanah sampai tinggi batang pohon 1,3 m, strata tengah yaitu dari 1,3 m sampai bebas cabang, strata atas yaitu dari bebas cabang sampai tajuk pohon. Makroepifit yang tidak diketahui jenisnya dikoleksi, diberi label, dan dicatat ciri-ciri morfologi yang akan hilang setelah spesimen kering seperti warna bunga, buah dan spora dari spesimen yang diambil. Koleksi diatur sedemikian rupa di antara lipatan koran, kemudian koran dilipat, diikat dengan tali plastik, dimasukkan ke dalam kantung plastik yang berukuran 60 x 40 cm dan diawetkan dengan alkohol 70% sampai lembab agar spesimen tidak kering, rontok atau busuk, diusahakan sebelum kantung plastik ditutup rapat dikosongkan terlebih dahulu udara yang terdapat di dalam kantung plastik seminimal mungkin baru kemudian kantung plastik ditutup rapat dengan lakban. Selanjutnya spesimen dibawa ke laboratorium untuk dikeringkan, dideskripsi dan diidentifikasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN Kekayaan Jenis Makroepifit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di kawasan hutan Telaga Taman Nasional Gunung Leuser Kabupaten Langkat terdapat 26 jenis makroepifit yang termasuk ke dalam 2 divisi yaitu Pteridophyta dan Spermatophyta, 3 kelas, 4 ordo, 9 famili, dan 18 genera, seperti yang tercantum pada Tabel 1. Jumlah jenis ini lebih rendah dari penelitian Yulinda (2004) di hutan Tangkahan yang melaporkan bahwa di kawasan hutan Tangkahan Taman Nasional Gunung Leuser Kabupaten Langkat terdapat 47 jenis makroepifit yang termasuk dalam 4 kelas, 10 ordo, 20 famili, dan 32 genera. Sebagian besar makroepifit yang ditemukan di lokasi penelitian tergolong tumbuhan paku-pakuan. Spora yang dimiliki oleh tumbuhan paku-pakuan sangat mudah diterbangkan oleh angin maupun serangga sehingga menyebabkan paku-pakuan ini mempunyai penyebaran yang luas. Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa kelas Filicinae merupakan kelas yang paling banyak jumlah jenisnya yaitu sebanyak 15 jenis yang termasuk ke dalam 6 famili. Jumlah jenis yang paling banyak terdapat pada famili Polypodiaceae yaitu sebanyak 6 jenis, selanjutnya famili Aspleniaceae dan Davalliaceae dengan jumlah jenis berturut-turut sebanyak 4 jenis dan 2 jenis, serta famili Lomariopsidaceae dan Nephrolepidaceae masingmasing hanya 1 jenis. Haupt (1956) dan Polunin (1997) menyatakan bahwa Filicinae merupakan pakupakuan yang jumlah jenisnya banyak, tersebar luas pada daerah tropis dan kebanyakan tumbuh pada daerah yang lembab dan ternaungi. Dari Tabel 1 juga dapat dilihat adanya stratifikasi makroepifit. Makroepifit yang ditemukan pada strata bawah sebanyak 19 jenis yang termasuk ke dalam 8 famili. Strata tengah 24 jenis yang termasuk ke dalam 9 famili, selanjutnya makroepifit yang ditemukan pada strata atas terdapat 13 jenis yang termasuk ke dalam 5 famili. Dari 26 jenis makroepifit yang ditemukan pada lokasi penelitian, ada 8 jenis makroepifit yang ditemukan pada semua strata yaitu D. corniculata, D. trichomanoides, E. callifolium, Crypsinus stenophyllus, L. avenia, M. sarawakense, P. nigrescens, dan Polypodium persicifolium. Famili Orchidaceae merupakan famili paling banyak jumlah jenisnya dari semua famili yang ditemukan yaitu sebanyak 9 jenis, diikuti oleh famili Polypodiaceae 6 jenis, famili Aspleniaceae 4 jenis, famili Davalliaceae 2 jenis, famili Lomariopsidaceae, Nephrolepidaceae, Zingiberaceae, Melastomataceae, dan Lindsaeaceae masing-masing 1 jenis (Tabel 2). Tingginya jumlah jenis dari famili Orchidaceae ini kemungkinan disebabkan oleh faktor abiotik yang

14 ATHTHORICK ET AL.

J. Biologi Sumatera

sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangannya, dengan suhu udara 21,3o C masih cukup baik untuk jenis-jenis anggrek dapat tumbuh. Pewarta (1981) menyatakan bahwa kondisi ini masih berada pada kisaran suhu udara yang sesuai untuk pertumbuhan anggrek yaitu antara 21-35o C. Anwar et al. (1984) menyatakan bahwa bijibiji anggrek biasanya mudah dipencarkan oleh tupai

atau burung, cukup tahan terhadap cahaya matahari langsung, dan pertumbuhan semai cepat. Hal ini menyebabkan jenis-jenis anggrek mempunyai penyebaran yang luas. Selanjutnya Comber (2001) menambahkan bahwa famili Orchidaceae di Sumatera termasuk paling banyak jenisnya yaitu terdapat 1118 jenis.

Tabel 1. Jenis-jenis makroepifit di Hutan Telaga Taman Nasional Gunung Leuser Kabupaten Langkat
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. Kelas Filicinae Ordo Filicales Famili Aspleniaceae Jenis Asplenium longissimum A. nidus A. salignum A. tenerum Davallia corniculata D. trichomanoides Lindsaea sp. Elaphoglossum callifolium Nephrolepis falcata Colysis macrophylla Crypsinus stenophyllus Loxogramme avenia Microsorum sarawakense Phymatodes nigrescens Polypodium persicifolium Appendicula ramosa Bulbophyllum lepidum Bulbophyllum sp.1 Bulbophyllum sp.2 Bulbophyllum sp.3 Bulbophyllum sp.4 Dendrobium concinnum Flickingeria luxurians Phreatia sp. Hedychium sp. Medinilla hasseltii B 13 4 1 6 35 1 12 53 6 2 5 12 12 21 2 1 3 13 9 211 Strata T A 7 47 93 8 52 7 48 17 1 35 8 41 36 44 3 26 34 40 2 14 4 6 5 3 8 4 13 8 4 5 16 1 14 3 10 18 2 483 204

Davalliaceae Lindsaeaceae Lomariopsidaceae Nephrolepidaceae Polypodiaceae

Monocotyledoneae

Orchidales

Orchidaceae

Dicotyledoneae

Zingiberales Myrtales

Zingiberaceae Melastomataceae Total

Keterangan: B : Bawah T : Tengah A : Atas : tidak ditemukan

Vol. 2, 2007

J. Biologi Sumatera 15

Tabel 2. Famili makroepifit pada semua strata


No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Famili Orchidaceae Polypodiaceae Aspleniaceae Davalliaceae Lomariopsidaceae Nephrolepidaceae Zingiberaceae Melastomataceae Lindsaeaceae Total Jumlah Jenis 9 6 4 2 1 1 1 1 1 26 Jumlah Individu 108 272 173 165 55 94 18 11 2 898

Tingginya jumlah jenis pada famili Orchidaceae yang terdapat pada seluruh strata menandakan bahwa famili Orchidaceae adalah famili terbesar yang terdapat di lokasi penelitian. Menurut Rifai (1993), bahwa jumlah jenis anggrek yang hidup sebagai epifit pada pepohonan belantara pegunungan sangatlah besar, terutama dari jenis-jenis Bulbophyllum. Monk et al. (2000), menyatakan bahwa di hutan pegunungan bawah banyak ditemukan anggrek epifit, khususnya anggrek Corybas, Corymborkis, dan Malaxis. Deskripsi Jenis Makroepifit dari Kelas Filicinae. Asplenium longissimum BI. Enthal tunggal, tersusun menyirip, warna hijau; tepi bergerigi. Sori terdapat pada percabangan urat enthal yang pertama dekat anak tulang enthal; indusia tipis seperti selaput. Asplenium nidus L. Enthal tunggal, tersusun melingkar pada batang yang sangat pendek, warna hijau muda atau tua terang; ujung meruncing atau membulat; tepi rata dengan permukaan yang berombak dan mengkilap. Sori di sepanjang urat enthal yang menyirip, tersusun rapat; indusia panjang, tipis seperti selaput. Asplenium salignum BI. Enthal tunggal, tersusun menyirip, warna hijau gelap mengkilap; ujung runcing. Sori tersusun memanjang menjadi 2 baris dan terpusatkan pada area tengah enthal-nya. Asplenium tenerum Forst. Enthal menyirip ganda dua, berbentuk jorong, warna hijau terang, letaknya berdekatan tetapi tidak saling menutupi; ujung membulat; tepi bergerigi; bagian dasarnya mempunyai bentuk tidak sama. Sori tersusun sejajar dengan anak tulang enthal, terdapat di permukaan bawah enthal. Colysis macrophylla (BI.) Presl. Enthal tunggal, berbentuk jorong, warna hijau mengkilap; ujung runcing. Sori berbentuk garis, sejajar pada urat enthal yang menyirip. Crypsinus stenophyllus (BI.) Holtt. Enthal tunggal, berbentuk lanset, warna hijau terang; ujung runcing. Sori berbentuk bulat, terdapat hampir di sepanjang permukaan bawah enthal.

Davallia corniculata Moore. Enthal menyirip ganda dua, tipis, warna hijau muda terang. Sori terdapat pada ujung anak enthal. Rhizome berambut halus, tersusun jarang dan panjang. Davallia trichomanoides BI. Enthal menyirip ganda dua, tebal dan sedikit kaku, warna hijau tua; anak enthal berbagi. Sori terdapat pada ujung anak enthal. Rhizome berambut halus, tersusun rapat dan panjang. Elaphoglossum callifolium (BI.) Moore. Enthal tunggal, berbentuk lanset yang memanjang, warna hijau mengkilap; ujung meruncing, enthal fertil dan steril terpisah. Sori menutupi seluruh permukaan bawah enthal. Lindsaea sp. Enthal tunggal, tersusun menyirip, warna hijau. Sori di tepi lekukan anak enthal pada ujung percabangan urat enthal. Loxogramme avenia (BI.) Presl. Enthal tunggal, tersusun membulat atau melingkar, sederhana. Sori berbentuk lonjong, panjang dan berbaris di ujung enthal; indusia panjang, tipis seperti selaput, terdapat di permukaan bawah enthal. Microsorum sarawakense (Baker) Holtt. Enthal tunggal, berbentuk delta (tombak), warna hijau gelap. Sori menutupi seluruh permukaan bawah enthal, berbentuk bulat, tersusun menyirip dalam 3 baris, sejajar di sisi kanan dan kiri enthal. Nephrolepis falcata (Cav.) C.Chr. Enthal tunggal, tersusun menyirip, warna hijau; ujung runcing; tepi bergerigi. Sori berbentuk bulat, berupa bintik-bintik kecil di tepi enthal, terdapat di permukaan bawah enthal. Phymatodes nigrescens (BI.) J.Sm. Enthal bercangap tiga, warna hijau tua; tangkai enthal cukup panjang. Sori terdapat pada kedua sisi ibu tulang enthal. Polypodium persicifolium Desv. Enthal tersusun menyirip ganda dua, kaku, warna hijau terang; ujung runcing. Sori berupa bintik-bintik menonjol pada permukaan enthal bagian bawah, terdapat di dekat ibu tulang enthal, berbaris sejajar. Deskripsi Jenis Makroepifit dari Kelas Monocotyledoneae. Appendicula ramosa BI. Tidak mempunyai umbi semu. Batang tegak, panjang 7,515,1 cm. Daun tersusun menyirip, panjang 0,2-1,1 cm dan lebar 0,1-0,3 cm. Bulbophyllum lepidum (Blume) J.J.Sm. Umbi semu berbentuk segi empat, tumpul, tinggi sekitar 1,52,1 cm; jarak antar umbi semu sekitar 1,3 cm. Daun berbentuk lanset memanjang, panjang 10,3-15,1 cm dan lebar 2,2-2,9 cm. Bulbophyllum sp.1. Tidak mempunyai umbi semu. Daun berbentuk lanset memanjang, panjang 33 cm dan lebar 1,9-3,2 cm.

16 ATHTHORICK ET AL.

J. Biologi Sumatera

Bulbophyllum sp.2. Umbi semu mempunyai tinggi sekitar 0,6-1,9 cm; jarak antar umbi semu sekitar 0,1-0,2 cm. Daun berbentuk lanset, panjang 1,8-5,2 cm dan lebar 0,5-0,8 cm. Bulbophyllum sp.3. Umbi semu mempunyai tinggi sekitar 0,7 cm; jarak antar umbi semu sekitar 1,3-2 cm. Batang panjangnya 18,4 cm, lentur, ditutupi pelepah daun yang halus. Daun berbentuk lanset, ujung tumpul, tersusun menyirip, panjang sekitar 4,1-6,6 cm, dan lebar sekitar 1,3-1,9 cm. Bulbophyllum sp.4. Umbi semu mempunyai tinggi sekitar 2,6 cm; jarak antar umbi semu sekitar 2,7 cm. Daun berbentuk lanset, panjang 3,4-8,3 cm dan lebar 0,9-1,8 cm. Dendrobium concinnum Miq. Tidak ada umbi semu. Batang tumbuh rapat pada akar, menggantung, tertutup pangkal daun dan panjang sekitar 26,5 cm. Daun berbentuk segitiga memanjang, sedikit melengkung, panjangnya 0,4 x 0,7 cm, daun yang dekat pangkal lebih pendek daripada daun yang dekat ujung terdiri dari 20-36 helai daun; ujung runcing. Flickingeria luxurians (J.J.Sm.) Hawkes. Umbi semu berbentuk bulat telur sungsang yang memanjang, tinggi sekitar 2,4 cm; jarak antar umbi semu sekitar 1,6-2,5 cm. Daun berbentuk lanset, panjang 3,3-5,3 cm dan lebar 0,5-0,8 cm. Phreatia sp. Tidak mempunyai umbi semu dan batang. Akar terdapat pada pangkal daun. Daun berbentuk seperti pita memanjang, panjang 9,6-19,8 cm, lebar 0,3-0,8 cm; ujung meruncing; dasar daun membulat; jarak antar satu daun sekitar 0,5-1 cm. Hedychium sp. Akar beraroma. Batang tumbuh dengan tegak. Daun berbentuk bulat telur memanjang, tersusun menyirip dalam 2 baris dengan pelepah memeluk batang; ujung meruncing. Deskripsi Jenis Makroepifit dari Kelas Dycotyledoneae. Medinilla hasseltii BL. Akar tidak beraroma. Batang bulat. Daun berbentuk bulat telur, warna hijau terang, letaknya berhadapan; ujung meruncing; dasar daun runcing; daging daun cukup tebal; urat daun 3 terlihat sangat jelas. Buah aksilar, majemuk, berwarna kuning muda kemerahan. DAFTAR PUSTAKA Amalia. 2004. Macroepiphyte diversity and distribution based on surface type of phorophyte (host) on mount Tangkubanparahu. [19 Sep. 2005]. Aminah. 2002. Inventarisasi Paku-pakuan di Sibayak I Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang. Thesis. Medan: Universitas Sumatera Utara.

Anwar, J., S. J. Damanik., A. J. Whitten & N. Hisyam. 1984. Ekologi Ekosistem Sumatera. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Comber, J. B. 2001. Orchids of Sumatra. Singapore: Singapore Botanic Gardens. Corner, E. J. H & Watanabe. 1969. Collection of Illustrated Tropical Plants. IV Book. Kyoto. Holttum, R. E. 1968. A Rivised Flora of Malaya. Vol II. Fern of Malaya. Singapura: Government Printing Office. Lawrence, G. H. M. 1951. Taxonomy of Vascular Plants. New York: The Macmillan Company. Mahfuz, M. 1995. Jenis-jenis Paku Epifit Yang Terdapat Di Hutan Gunung Tujuh Kawasan Taman Kerinci Seblat. Thesis. Padang: Universitas Andalas. Mahyar, U. W & A. Sadili. 2003. Jenis-jenis anggrek Taman Nasional Gunung Halimun. PT. Binamitra Megawarna. Pewarta. 1981. Anggrek Indonesia. Bandung: PT. Rukun Gaya Baru Offset. Piggott, A. G. 1988. Ferns of Malaysia in Colour. Malaysia: Tropical Press SDN. BHD. Richards, P. W. 1981. The Tropical Rain forest. 7th Edition. New York: Cambridge University Press London. Rini, C. 1998. Kondisi Vegetasi Dan Keragaman Jenis Paku (Pteridophyta) Di Areal Stasiun Riset Soraya Ekosistem Leuser Kabupaten Aceh Selatan. Thesis. Darussalam Banda Aceh: Universitas Syiah Kuala. Ruhana. 2003. Kajian Jenis Anggrek Di Stasiun Penelitian Ketambe Ekosistem Leuser. Thesis. Darussalam Banda Aceh: Universitas Syiah Kuala. Sari, W. D. P. 2005. Struktur dan Komposisi Pakupakuan Di Kawasan Hutan Gunung Sinabung Kabupaten Karo. Thesis. Medan: Universitas Sumatera Utara. Sastrapradja, S., J. J. Afriastini., D. Darnaedi & Elizabeth. 1980. Jenis Paku Indonesia. Bogor: Lembaga Biologi Nasional LIPI, Balai Pustaka. . 1985. Kerabat Paku. Bogor: Lembaga Biologi Nasional LIPI. Sulistiarini, D & U. W. Mahyar. 2003. Jenis-jenis Anggrek Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Pusat Penelitian Biologi. Bogor: CV. Mitrayuda. Yulinda. 2004. Keanekaragaman Makroepifit Di Kawasan Hutan Tangkahan Taman Nasional Gunung Leuser Kabupaten Langkat. Thesis. Medan: Universitas Sumatera Utara.

Jurnal Biologi Sumatera, Januari 2007, hlm. 17 20 ISSN 1907-5537

Vol. 2, No. 1

ANALISIS MODEL KETAHANAN RUMPUT GAJAH DAN RUMPUT RAJA AKIBAT CEKAMAN KEKERINGAN BERDASARKAN RESPONS ANATOMI AKAR DAN DAUN
Riyanto Sinaga
Departemen Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Sumatera Utara, Jln. Bioteknologi No. 1, Kampus USU, Padang Bulan, Medan 20155

Abstract The analysis model of the resistance of Elephant and King Grass on drought based on root and leaf anatomy response had been established by using multiple regression analysis method. Stepwise regression procedure has obtained three regression equation.The best regression equation is: Y = -164 + 0.116 Stele diameter + 0.973 thick of leaf. Keywords: king grass and elephant grass, multiple regression analysis, stepwise regression

PENDAHULUAN Masalah yang dihadapi peternak pada musim kemarau adalah kekurangan hijauan. Sebagai negara beriklim tropik, produksi hijauan makanan ternak di Indonesia sangat bervariasi akibat ketersediaan air dari hujan yang tidak menentu, yang berakibat pada fluktuasi status air tanah dan ketersediaan hara untuk tanaman. Peranan air sangat besar dalam menunjang pertumbuhan tanaman, yaitu untuk kelangsungan proses metabolisme. Tanaman yang mengalami kekeringan pada waktu yang lama akan mengalami perubahan-perubahan morfologi, anatomi, fisiologi dan biokimia yang tidak dapat kembali pulih sehingga dapat menyebabkan kematian. Cekaman kekeringan adalah keadaan lingkungan yang menyebabkan kekurangan air bagi tanaman. Cekaman air pada tanaman dapat disebabkan oleh dua hal yaitu: (1) kekurangan air di daerah perakaran, (2) laju evapotranspirasi lebih tinggi dibandingkan dengan laju absorbsi oleh akar tanaman sehingga kebutuhan air pada daun lebih tinggi. Penyerapan air oleh tanaman dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan faktor tanaman. Faktor lingkungaan yang berpengaruh adalah kandungan air tanah, kelembaban udara dan suhu tanah. Faktor tanaman adalah efesiensi perakaran, perbedaan tekanan difusi air tanah ke akar, dan keadaan protoplasma tanaman (Kramer 1969). Perubahan-perubahan morfologi pada tanaman yang mengalami kekeringan antara lain terhambatnya pertumbuhan akar, tinggi tanaman, diameter batang, luas daun dan jumlah daun. Sedangkan pengaruh fisiologi dan biokimia adalah, penurunann hasil atau bahan kering, perubahan

alokasi asimilat, penurunan laju fotosintesis, penurunan diameter hidraulik xilem akar dan laju pertumbuhan tanaman. Pada penelitian ini diamati juga perubahan-perubahan anatomi pada tanaman yang diakibatkan oleh cekaman air antara lain, tebal epidermis daun, tebal mesofil, tebal daun, diameter akar, kerapatan stomata dan jumlah stomata. Tanggap fisiologi tanaman yang berkaitan dengan ketahanan terhadap kekeringan sudah lama dipelajari. Gangguan fisiologis akibat cekaman air dapat berupa terhambatnya translokasi hara mineral dan asimilat, transpirasi dan fotosintesis. Secara visual tampak adanya kelayuan atau menggulungnya daun sehingga menghambat fotosintesis. Selanjutnya akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan organ source and sink, seperti berkurangnya luas daun, mempengaruhi kandungan dan organisasi klorofil, perkembangan bunga dan buah atau organ reproduktif. Tanaman yang lebih toleran terhadap cekaman kekeringan mempunyai pertumbuhan yang relatif kurang terhambat dalam kondisi kekeringan dibandingkan pertumbuhan tanaman yang lebih peka (Kirkham 1990). Tanaman beradaptasi terhadap cekaman lingkungan dengan menghasilkan senyawa-senyawa osmoregulasi yang dapat menurunkan potensial osmotik sehingga menurunkan potensial air dalam sel tanpa membatasi fungsi enzim serta menjaga turgor sel. Beberapa senyawa yang berperan dalam penyesuaian tekanan osmotik sel yang juga termasuk dalam kelompok molekul organik antara lain peningkatan akumulasi prolin dalam daun (Maestri et al. 1995, Hamim et al. 1996), asparagin dan betain (Munns et al. 1979, Maestri et al. 1995), protein dehidrin (Close 1997), gula osmotik (Wang et al.

18 SINAGA

J. Biologi Sumatera

1995, Yakushiji et al. 1998), dan asam absisik (ABA) (Dingkuhn et al. 1991). Rumput Gajah (P. purpureum Schum.) adalah salah satu jenis hijauan unggul untuk makanan ternak karena berproduksi tinggi, kualitasnya baik, dan daya adaptasinya tinggi. Rumput Gajah ini banyak ditanam dan dimanfaatkan pada peternakan penggemukan sapi, persusuan dan pembibitan. Di Indonesia produksi segar rumput Gajah jenis Hawaii berbulu mencapai 277 ton/ha/tahun (36 ton/ha/tahun bahan kering). Umumnya rumput Gajah digunakan sebagai rumput potong. Rumput Raja adalah hasil persilangan antara purpureum dan thypoides. Rumput Raja adalah jenis tanaman perenial yang membentuk rumpun, daya adaptasi yang baik di daerah tropis, tumbuh baik pada tanah yang tidak terlalu lembab dan didukung dengan irigasi yang baik. Pertumbuhan awal rumput Raja lebih lambat dan memerlukan perawatan yang lebih intensif dibandingkan dengan rumput Gajah namun memiliki pertumbuhan yang cepat mengalahkan rumput Gajah (BPTHMT Baturaden 1989). Walaupun potensi rumput Gajah dan rumput Raja sangat besar dalam meningkatkan produktifitas ternak, akan tetapi sangat sedikit pengetahuan tentang mekanisme adaptasinya terhadap cekaman kekeringan. Oleh karena itu pada penelitian ini dilakukan analisis model ketahanan rumput Gajah dan rumput Raja akibat cekaman kekeringan berdasarkan respon anatomi akar dan daun sehingga diketahui peubah-peubah yang berpengaruh terhadap indikator ketahanan kedua jenis rumput terhadap cekaman kekeringan yaitu bobot kering tajuk. BAHAN DAN METODA Penyiapan media tanam dan pemeliharaan. Penelitian ini dilakukan dalam pot plastik berukuran 8 kg menggunakan tanah podsolik yang dikeringkan selama 2 hari dan dicampur dengan pupuk dasar TSP dan KCl dengan dosis 4,05 g/pot. Setiap pot ditanam tiga stek yang panjangnya 30 cm dan setelah tiga minggu dilakukan penjarangan dengan meninggalkan satu stek yang masih hidup. Pemeliharaan dilakukan dengan pemberian pupuk urea pada 0 dan 3 minggu setelah tanam dengan dosis 8,1 g/pot dan pemberian air sampai 100% air tanah tersedia. Menentukan perlakuan ketersediaan air. Kapasitas lapang (KL) dihitung dengan cara penimbangan dan oven setelah polibag diberi air yang jenuh dan dibiarkan tertutup selama 24 jam dan diketahui KL adalah 51,16%. Untuk mengukur titik layu permanen (TLP) dilakukan dengan menggunakan alat Pressure Plate Apparatus dengan pF 4.20 pada tekanan 15 bar dan dengan cara gravimetric diketahui nilainya adalah 26,88%. Ketersediaan air dalam tanah (Kat) ditentukan dengan mencari selisih antara kadar air kapasitas lapang dan titik layu permanen (KA =

51,16% 26,88% = 24,28%). Ditentukan juga kadar air kering pot (KP) dan Bobot kering tanahnya dan diketahui besarnya masing-masing adalah 27,94% dan 6252,93 g. Untuk menentukan tingkat kadar air dari masing-masing perlakuan (KAp) sebagai berikut. Kadar air perlakuan (KAp) untuk tiap perlakuan adalah: (Perl. x Kat) + TLP
Perlakuan 25% 50% 75% 100% KAp (%) 32,96 39,02 45,09 51,16 BB (g) 8313,27 8692,82 9070,50 9451,93 Jlh Air (ml) 313,27 692,82 1070,50 1451,93

Penyesuaian kadar air untuk tiap-tiap perlakuan dilakukan dengan menimbang bobot tanah dan tanaman pada saat penyiraman. Peubah yang diukur. Peubah yang diukur meliputi peubah tak bebas dan peubah bebas. Peubah tak bebas yaitu bobot kering tajuk (g) yang diperoleh dari pemanenan tajuk dan penimbangan setelah dimasukkan dalam oven 70 OC selama 48 jam. Peubah bebas meliputi tebal epidermis daun(m), tebal mesofil daun (m), tebal daun (m) (Widjaya 1996); diameter akar (m), diameter stele (m), tebal korteks (m), kerapatan stomata adaksial dan abaksial (n/mm2), jumlah stomata adaksial dan abaksial (n/luas daun), jumlah xilem akar. Khusus untuk peubah diameter hidraulik xilem akar (m4) dihitung berdasarkan persamaan Lewis dan Boose (1995). Model pendugaan bobot kering tajuk. Analisis model ketahanan rumput Gajah dan rumput Raja dinilai berdasarkan model pendugaan bobot kering tajuknya, karena bobot kering tajuk adalah cermin langsung dari respon kedua jenis rumput terhadap perubahan keadaan lingkungan. Peubah yang dipakai sebagai penyusunan model (fungsi) adalah peubah tidak bebas yaitu Y (bobot kering tajuk; gram) dan peubah bebas yang terdiri dari X1 X10 (karakter anatomi akar dan daun). Pemilihan model yang merupakan fungsi linier dilaksanakan dengan melakukan pendugaan parameter, dalam hal ini konstanta pada fungsi regresi, pengujian keandalan dan pengujian keabsahan. Pendugaan parameter dilakukan dengan metode jumlah kuadrat terkecil, kriteria koefesien determinasi (R2), pengujian koefesien regresi, bentuk sebaran sisaan dan koefesien Cp-mallow (Afifi dan Clark 1984). HASIL DAN PEMBAHASAN Dengan Best Subset Regression pada program MINITAB dapat dilakukan penyisihan sehingga diperoleh beberapa model untuk sementara yang dapat diandalkan sebagaimana tertera pada tabel 1 di bawah ini.

Vol. 2, 2007

J. Biologi Sumatera 19

Tabel 1. Model pendugaan sementara hasil analisis best subset regression dan analisis stepwise
Model 1 2 3 4 5 6 Fungsi Y = -68.2 + 0.165X4 Y = -164 + 0.116X4 + 0.973X5 Y = -184 + 0.244X4 + 1.91X2 0.153X3 Y = -163 - 0.000000X1 0.165X2 + 0.091X3 + 0.252X4 + 1.36X5 + 0.887X6 0.46X7 0.21X9 Y = -167 - 0.000000X1 0.157X2 + 0.076X3 + 0.243X4 + 1.35X5 + 0.867X6 0.17X9 0.049X10 Y = -160 - 0.000000X1 0.170X2 + 0.093X3 + 0.258X4 + 1.39X5 + 0.888X6 0.56X7 0.23X8 0.208X9 Y = -163 - 0.000000X1 0.165X2 + 0.091X3 + 0.252X4 + 1.36X5 + 0.887X6 0.46X7 0.22X9 + 0.003X10 Y = -160 - 0.000000X1 0.170X2 + 0.096X3 + 0.258X4 + 1.39X5 + 0.889X6 0.54X7 0.26X8 0.18X9 0.023X10 R2 (%) 37.4 42.1 50.76 54.3 54.2 54.3 Sebaran Acak Acak Acak Acak Acak Acak Cpmallow 0.8 0.6 -1.4 7.0 7.0 9.0 Sisaan 55.1 53.9 50.6 53.8 53.8 54.9

54.3

Acak

9.0

55.0

54.3

Acak

10

56.3

Berdasarkan analisis best subset regression berat kering tajuk dengan kesepuluh peubah anatomi, maka diperoleh 19 model persamaan yang dapat dibangun. Walaupun sebaran residual ke-19 model tersebut normal, akan tetapi nilai koefesien korelasinya (R2) rendah yaitu berkisar 31,3% - 54,3%. Namun demikian berdasarkan kedekatan jumlah peubah dengan koefesien Cp-mallow diperoleh 8 buah model persaman sementara yang dianggap layak, sebagaimana tertera pada Table 1 di atas. Selanjutnya berdasarkan hasil analisis stepwise (stepwise regression), hanya diperoleh tiga peubah yang penting dalam pembentukan model yaitu X4 (diameter stele), X5 (tebal daun) dan X3 (diameter akar). Dengan berasaskan pada kemudahan penggunaan model, kedekatan koefesien Cp-mallow dan jumlah peubah, sisaan yang kecil, koefesien korelasi yang besar serta kemudahan dalam penggunaan model, maka model terpilih adalah model ke-2 yaitu: Bobot kering tajuk = -164 + 0.116 diameter stele + 0.973 tebal daun Sedangkan model yang lain dianggap sulit dan kurang efisien dalam menduga bobot kering tajuk karena menggunakan lebih banyak peubah sehingga menyulitkan dalam menginterpretasikan dan menyulitkan dalam pengerjaan di lapangan. Kemudahan suatu model adalah kemampuan suatu model untuk menjelaskan peubah tak bebas dengan memakai peubah bebas paling sedikit (Afifi dan Clark 1984).

Berdasarkan model terpilih di atas bobot kering tajuk dapat diduga meningkat 0.116 gram pada setiap penambahan satu mikrometer diameter stele dan pada tebal daun yang sama. Hal ini sangat dimungkinkan karena peningkatan diameter stele berarti meningkatkan kemampuan tanaman untuk mengabsorbsi air dan zat-zat hara yang dibawa ke bagian atas daun dan diperlukan tanaman untuk metabolismenya. Peningkatan diameter stele berarti pula terjadinya penambahan jumlah xilem akar, diameter xilem dan konduktifitas akar. Sementara itu bobot kering tajuk meningkat 0.973 gram pada setiap penambahan satu mikrometer tebal daun pada keadaan diameter akar yang sama. Kondisi inipun sangat logis dan dimungkinkan karena daun adalah organ tempat berlangsungnya proses fotosintesis penghasil karbohidrat, bahan makanan penyusun dinding sel. Peningkatan tebal daun berarti pula menambah ketebalan mesofil dan semakin besarnya jumlah klorofil yang dapat dikandung oleh daun (Salisbury dan Ros 1995). DAFTAR PUSTAKA Afifi A A, Clark V. 1984. Computer Aided Multivariate Analysis. Van Nostrand Reinhold Co. New York Balai Penelitian Ternak dan Hijauan Makanan Ternak Baturaden. 1989. King Grass. Direktorat Bina Produksi Peternakan. Direktorat Jenderal Peternakan Baturaden. Baturaden.

20 SINAGA

J. Biologi Sumatera

Dingkuhn M, Cruz RT, OToole, Turner NC, Doerffling. 1991. Responses of seven diverse rice cultivars to water deficits. III. accumulation of abscisic acid and proline in relation to leaf water-potensial and osmotic adjustment. Field Crops Res. 27: 103-117. Hamim, Soepandie D, Yusus M. 1996. Beberapa karakteristik morfologi dan fisiologi kedelai toleran dan peka terhadap cekaman kekeringan. Hayati 3: 30-40. Kirkham MB. 1990. Plant response to water deficits. Di dalam Stewart BA, Nielsen DR, editors. Irrigation of Agricultural Crops. Wisconsin: Madison hlm 323-342. Kramer PJ. 1969. Plant and Soil Water Relationship. Mc. New York: Graw HJill Book Company. Inc. hlm 347. Lewis AM, Boose ER. 1995. Estimating volume flow rates through xilem conduits. Di dalam. Eshel A, Ilona Shick, Waisel Y, Stokes A, editors. 2000. The efficiency of the water conducting system of tomato roots. Hydraulic conductivity of tomato roots. Netherlands: Kluwer Academic Publishers hlm 371-375.

Maestri M, Da Matta FM, Regazzi AJ, Barros RS. 1995. Accumulation of praline and quaternary ammonium compounds in mature leaves of water stressed coffe plants (Coffea arabica and C. canephora). J. Hort. Sci. 70: 229-233. Munns RC, Brady J, Barlow EWR. 1979. Solute accumulation in apex and leaves of wheat during water stress. Aust. J. Physiol. 6: 379389.Salisbur dan Ros 1995). Salisbury FB, Ross CW. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Terjemahan Lukman DR dan Sumaryono. Jilid 3. Penerbit ITB Bandung. Wang Z, Quebedeaux, Stutte GW. 1995. Osmotic adjustment: effect of water stress on carbohydrates in leaves, steams and roots of apple. Aust. J. Plant physiol. 22: 747-754. Yakushiji H, Morinaga K, Nonami H. 1998. Sugar accumulation and partitioning in Satsuma Mandarin tree tissue and fruit in response to drought stress. J. Amer. Soc. Hort. Sci. 123 (4): 7.

Jurnal Biologi Sumatera, Januari 2007, hlm. 21 22 ISSN 1907-5537

Vol. 2, No. 1

21

POTENSI TANAMAN Nerium oleander UNTUK TINDAKAN AUGMENTASI STEPHANIDAE (HYMENOPTERA) SEBAGAI MUSUH ALAMI LEPIDOPTERA (Komunikasi Singkat)
Gunawan
Program Studi Biologi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat Jl. A. Yani Km 35 Banjarbaru, Kalimantan Selatan

Abstract The number of pest natural enemies can be optimized by providing some alternative plants as their microhabitat. The objective of this research was to know potential of Nerium oleander as an alternative plant for Stephanidae, a natural enemy of Lepidoptera. N. oleander at Veteran Street, Ijen Street, Sawojajar Street, and Griyasanta Street was counted directly as well as Lepidopteran pupae in the plant. The pupae were then put into glass boxes. The plant potential was known from number of adult Stephanidae emerged from Lepidopteran larvae. The result showed that N. oleander of Veteran Street, of Ijen Street, of Sawojajar Street, and of Griyasanta could produce 715, 624, 91, 39 adult Stephanidae, respectively. Keywords: stephanidae, lepidoptera, Nerium oleander

Penemuan insektisida menimbulkan masalah baru dalam dunia pertanian. Ketidaktepatan penggunaan tidak hanya membunuh serangga hama tetapi juga serangga musuh alami. Insektisida menimbulkan resurgensi dan resistensi hama, kemungkinan ledakan hama sekunder dapat terjadi apabila kelimpahan serangga musuh alami menurun. Penyebaran insektisida melalui aliran air dan udara menimbulkan pencemaran lingkungan. Akumulasi bahan kimia insektisida meningkat sesuai dengan meningkatnya tingkatan trofik. Konsentrasi bahan kimia yang tinggi pada organisme akan bersifat racun yang mematikan (Winarno, 1987). Keberadaan musuh alami dapat menjadi alternatif untuk mengontrol populasi serangga hama tanpa risiko yang berarti dibanding dengan insektisida. Serangga musuh alami dapat berupa serangga entomofagus yaitu predator dan parasitoid. Keunggulan dari parasitoid adalah dapat memotong daur hidup serangga hama dengan memarasiti telur, larva atau pupa dari serangga hama tersebut (Mudjiono, 1994). Kinerja dan efektivitas musuh alami dapat ditingkatkan dengan cara memanipulasi habitat. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa beberapa tanaman liar seperti Stachytarpheta indica L., Bidens pilosa, Mimosa pudica, Vernonia cinera sangat menarik beberapa serangga musuh alami dari famili Syrpidae yang berperan sebagai polinator dan predator pada tanaman padi, antara lain: Pocota personata L. dan Eristalis tenak (Yanuwiadi et al., 2000). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui

potensi tanaman Nerium oleander untuk mendukung keberadaan dan kinerja musuh alami serangga famili Stephanidae. Penelitian potensi tanaman Nerium oleander untuk mendukung keberadaan dan kinerja musuh alami dilakukan di Kota Madya Malang Propinsi Jawa Timur. Studi potensi dilakukan dengan mencacah rumpun tanaman Nerium oleander yang ada di sepanjang Jalan Veteran, Jalan Ijen, jalan di perumahan Sawojajar dan jalan di perumahan Griyashanta, sekaligus mencacah kepompong Lepidoptera yang melekat pada tanaman Nerium oleander. Kepompong di ambil dari tanaman Nerium oleander kemudian dimasukkan ke dalam stoples dan diamati keluarnya Stephanidae dari kepompong Lepidoptera. Potensi Nerium oleander untuk mendukung Stephanidae dapat diketahui dari jumlah kepompong Lepidoptera yang menghasilkan Stephanidae dewasa pada masing masing rumpun Nerium oleander karena Stephanidae meletakkan telur telurnya di dalam kepompong Lepidoptera. Data hasil pengamatan dianalisis dengan statistik deskriptif. Hasil pencacahan rumpun Nerium oleander pada Jalan Veteran terdapat 13 rumpun Nerium oleander dan ditemukan 74 kepompong. Hasil pengamatan yang dilakukan pada 74 kepompong menunjukkan bahwa 55 kepompong menghasilkan Stephanidae dewasa. Di Jalan Ijen terdapat 16 rumpun Nerium oleander dan ditemukan 60 kepompong. Hasil pengamatan pada 60 kepompong menunjukkan 48 kepompong menghasilkan Stephanidae dewasa. Di

22 GUNAWAN

J. Biologi Sumatera

perumahan Sawojajar terdapat 29 rumpun Nerium oleander dan ditemukan 9 kepompong. Hasil pengamatan menunjukkan 7 kepompong menghasilkan Stephanidae dewasa. Di perumahan Griyasanta terdapat 4 rumpun Nerium oleander dan ditemukan 6 kepompong. Hasil pengamatan menunjukkan 3 kepompong menghasilkan Stephanidae dewasa. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya bahwa setiap individu kepompong tersebut rata-rata mengasilkan 13 individu Stephanidae dewasa. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa di Jalan Veteran rumpun Nerium oleander dapat menghasilkan 715 Stephanidae dewasa, pada Jalan Ijen masing masing rumpun Nerium oleander menghasilkan 624 Stephanidae dewasa, pada jalan di perumahan Sawojajar masing masing rumpun Nerium oleander menghasilkan 91 Stephanidae dewasa dan pada jalan di perumahan Griyashanta masing masing rumpun dapat menghasilkan 39 Stephanidae dewasa. Nerium oleander sangat penting sebagai tanaman untuk mendukung keberadaan dan peran Stephanidae di alam. Pada Jalan Veteran rumpun Nerium oleander dapat menghasilkan 715 Stephanidae dewasa, pada Jalan Ijen rumpun Nerium

oleander dapat menghasilkan 624 Stephanidae dewasa, pada jalan di perumahan Sawojajar rumpun Nerium oleander menghasilkan 91 Stephanidae dewasa dan pada jalan di perumahan Griyashanta masing masing rumpun Nerium oleander menghasilkan 39 Stephanidae dewasa. Tanaman Nerium oleander dapat berfungsi ganda yaitu sebagai tanaman hias dan sebagai tanaman yang dapat digunakan untuk membuat suatu mikrohabitat dalam rangka konservasi musuh alami. DAFTAR PUSTAKA Mudjiono, G. 1994. Pengendalian Hayati terhadap Hama: Peranan Serangga Entomofagus. Lembaga Penelitian Universitas Brawijaya. Malang. Winarno, 1990. Ekologi Gulma. Penerbit Gramedia. Jakarta. Yanuwiadi. B., Nandini. S., Penatagama, Z., 2000. Tanaman Liar untuk Manipulasi Habitat dalam Konservasi Syrphidae Predator dan Polinator. Proceeding Simposium PEI. Cisarua.

23

JURNAL BIOLOGI SUMATERA (J Biol Sum) Sumatran Journal of Biology PEDOMAN PENULISAN Naskah: Jurnal Biologi Sumatera menerima naskah dari berbagai bidang ilmu biologi baik murni maupun terapan. Naskah yang dipublikasi di Jurnal Biologi Sumatera (J. Biol. Sum.) merupakan naskah yang belum pernah diterbitkan dalam jurnal lainnya. Naskah dapat berupa artikel hasil penelitian (Original Article), ulas balik (Review/Minireview) dan komunikasi singkat (Rapid Communication). Panjang maksimum naskah adalah 6, 8, dan 3 halaman cetak masing-masing untuk artikel hasil penelitian, ulas balik dan komunikasi singkat. Naskah dapat ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Naskah yang isinya tidak sesuai dengan pedoman penulisan dan penulisannya tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia dan bahasa Inggris tidak akan dipublikasi dan Editor tidak berkewajiban mengembalikan naskah bersangkutan. Format: Seluruh isi naskah termasuk abstrak, isi, daftar pustaka, tabel, gambar dan keterangan gambar diketik pada kertas ukuran HVS A-4 dengan jarak dua spasi dengan menggunakan huruf Times New Roman ukuran 12 point. Setiap lembarnya diberi nomor halaman. Abstrak, isi, ucapan terima kasih, daftar isi, tabel, gambar, dan keterangan gambar harus dimulai dari halaman baru. Tabel, gambar, dan keterangan gambar diletakkan pada akhir naskah. Standar abreviasi dan unit harus menggunakan standar internasional. Abreviasi harus ditulis penuh untuk pertama kali muncul dan penggunaan kependekan dalam judul dan abstrak harus dihindari. Nama generik zat kimia yang digunakan harus ditulis. Penggunaan nama genus dan spesies ditulis cetak miring. Judul: Judul harus singkat, spesifik, dan informatif. Pada bagian judul harus terdapat jenis naskah, nama lengkap, dan alamat penulis, dan catatan kaki terhadap koresponden harus ditujukan lengkap dengan nomor telepon, faksimili, dan/atau e-mail. Abstrak: Abstrak ditulis dalam bahasa Inggris (Abstract) dan tidak lebih dari 250 kata. Dalam abstrak harus terkandung tujuan, metode, hasil, dan kesimpulan. Data yang terdapat dalam abstrak merupakan data yang sangat penting. Aspek-aspek yang baru dan penting harus tercermin dalam abstrak. Maksimum lima kata kunci dalam bahasa Inggris ditulis di bawah abstrak. Tulisan: Tulisan untuk naskah artikel hasil penelitian terdiri dari Pendahuluan, Bahan dan Metode, Hasil, dan Pembahasan. Hasil dan Pembahasan juga dapat digabung. Untuk Ulas Balik dan Komunikasi Singkat ditulis sebagai naskah sinambung tanpa sub judul bahan dan metode, hasil dan pembahasan. Pendahuluan memberikan latar belakang yang cukup agar pembaca memahami dan memperkirakan hasil yang akan dicapai tanpa harus merujuk pada penerbitan-penerbitan sebelumnya. Cara penulisan rujukan dalam teks dengan menyebutkan penulis diikuti tahun penerbitan (contoh: bila di akhir teks ditulis [Munir & Suryanto 2004) dan bila di awal teks ditulis Munir & Suryanto (2004)]. Bila penulis lebih dari dua, ditulis nama penulis pertama saja dan diikuti dengan kata et al. yang dicetak miring (contoh Suryanto et al. 2001). Pendahuluan juga harus berisikan latar belakang beserta tujuan dari penelitian. Pada bagian Bahan dan Metode harus berisikan informasi teknis sehingga peneliti lain dapat mengulangi berdasarkan teknik percobaan yang dikemukakan. Untuk kondisi tertentu nama dan merek alat beserta kondisi percobaan harus dicantumkan. Hasil dapat disajikan dalam bentuk tabel, gambar atau langsung dalam tubuh tulisan. Hasil yang disajikan dalam naskah merupakan hasil yang signifikan dan berarti penting bagi naskah. Hindari penggunaan grafik atau gambar yang berlebihan bila dapat disajikan dalam tubuh tulisan dengan singkat. Pembahasan berisikan interpretasi terhadap hasil penelitian dan dikaitkan dengan hasil-hasil yang pernah dilaporkan. Hindari pengulangan metode dan hasil penelitian serta hal-hal yang telah dicantumkan dalam bagian Pendahuluan. Daftar Pustaka: Daftar Pustaka ditulis memakai sistem tahun nama (Harvard) dan diurut menurut abjad. Ketepatan penggunaan Daftar Pustaka merupakan tanggung jawab penuh penulis. Data yang tidak dipublikasi tidak dapat digunakan sebagai sumber kepustakaan, akan tetapi naskah yang sudah diterima untuk publikasi tetapi belum terbit dapat dimasukkan dalam Daftar Pustaka dengan menyebutkan nama jurnal dan diikuti oleh kata diterima untuk publikasi atau in press. Seluruh nama penulis dicantumkan dalam daftar pustaka (tidak ada penggunaan et al dalam Daftar Pustaka). Nama jurnal dipendekkan menurut abreviasi yang lazim dari The List of Serial Title Word Abreviation yang dikeluarkan oleh Pusat Internasional ISSN dan dicetak miring. Cara penulisan dapat mengikuti salah satu dari berikut:

Jurnal: Millar SL, Buyck B. 2002. Molecular phylogeny of the genus Russula in Europe with a comparison of modern infrageneric classification. Mycol Res 106:259-276. Buku: Boaden PJS, Seed R. 1985. An Introduction to Coastal Ecology. New York: Blackie. Bab dalam Buku: Admassu W, Korus RA. 1998. Engineering of bioremediation process: Need and limitations. Di dalam Crawford RL, Crawford DL (ed). Bioremediation: Principles and applications. Cambridge: Cambridge University Press. Abstrak Priyani N, Simorangkir J, Flaherti V. 2003. The effect of phosphor and nitrogen addition on crude oil degradation by Candida sp. Abstrak Seminar Nasional Kimia. Medan, 11 Oktober 2003. hlm 27. Prosiding: Nasution Z. 2004. The forest ecology in the Lake Toba catchment area. Di dalam: Proceedings of The 5th International Wood Science Symposium JSPS-LIPI Core University Program in the Field of Wood Science. Kyoto, September 17-19. hlm 287-293. Skripsi/Tesis/Disertasi: Rahmawati S. 2003. Pengaruh pemberian ekstrak biji pepaya (Carica papaya L.) terhadap gambaran sel-sel Leydig mencit (Mus musculus L.) jantan dewasa strain DDW. [Skripsi]. Medan: Fakultas MIPA, Universitas Sumatera Utara. Internet: Phetteplace H, Jarosz M, Uctuk R, Johnson D, Sporleder R. 2000. Evaluation of single cell protein as a protein supplement for finishing cattle. http://www.ansci.colostate.edu/documents/ren ut/2000/pdf/hp001.pdf. [20 Maret 2003].

Tabel: Tabel diberi nomor secara berurutan sebagaimana muncul dalam teks. Setiap tabel diberi judul yang informatif. Bila dalam tabel terdapat kependekan harus dijelaskan dengan catatan kaki. Lebar maksimum tabel harus sesuai dengan lebar maksimum area cetak yaitu 8,5 cm atau 18 cm. Gambar: Seluruh gambar atau foto harus dirujuk di dalam teks dan diberi nomor secara berurutan. Gambar atau foto hanya yang berwarna hitam putih dan harus jelas untuk dapat diperbanyak. Masingmasing gambar harus diserahkan dalam lembaran yang terpisah dan siap jadi tanpa perlu perubahan ukuran dan bentuk dan masing-masingnya dilengkapi dengan keterangan yang cukup. Lebar maksimum gambar harus sesuai dengan lebar maksimum area cetak yaitu 8,5 cm atau 18 cm. Kontribusi Penerbitan: Setiap penulis dibebani biaya cetak sebesar Rp. 100.000.- (seratus ribu rupiah) untuk setiap artikel yang diterbitkan. Kelebihan halaman dikenakan biaya tambahan sebesar Rp. 50.000.- (lima puluh ribu rupiah) per halaman cetak. Penulis mendapatkan satu eksemplar terbitan dan 5 (lima) salinan artikel. Pengiriman Naskah: Penulis diminta untuk mengirimkan dua eksemplar asli beserta dokumen (file) dalam disket atau compact disc (CD) dengan program Microsoft Word. Pada disket atau CD dituliskan nama penulis pertama dan nama dokumennya. Naskah dikirimkan kepada: Editor Jurnal Biologi Sumatera Departemen Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Sumatera Utara, Jln. Bioteknologi No. 1, Kampus USU, Medan 20155. File elektronik dapat dikirim ke: biologi.usu@lycos.com