Anda di halaman 1dari 37

ASKEP DBD

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN DEMAM BERDARAH / DENGUE HEMORAGIC FEVER (DHF)
A. Pengertian Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (DHF) Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh Arbovirus (Arthropodborn Virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk AEDES (AEDES ALBOPICTUS dan AEDES AEGEPTY) B. Penyebab Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (DHF) Penyebab Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (DHF) adalah Arbovirus (Arthropodborn Virus) melalui gigitan nyamuk Aedes (Aedes Albopictus dan Aedes Aegepty)

C. Tanda dan gejala Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (DHF) Tanda dan gejala penyakit DHF adalah : 1. Meningkatnya suhu tubuh 2. Nyeri pada otot seluruh tubuh 3. Suara serak 4. Batuk 5. Epistaksis 6. Disuria 7. Nafsu makan menurun 8. Muntah 9. Ptekie 10. Ekimosis 11. Perdarahan gusi 12. Muntah darah 13. Hematuria masif

14. Melena D. Klasifikasi Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (DHF) Klasifiksi DHF menurut WHO 1. Derajat I Demam disertai gejala tidak khas, terdapat manifestasi perdarahan (uji tourniquet positif) 2. Derajat II Derajat I ditambah gejala perdarahan spontan dikulit dan perdarahan lain. 3. Derajat III Kegagalan sirkulasi darah, nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun (20 mmhg, kulit dingin, lembab, gelisah, hipotensi) 4. Derajat IV Nadi tak teraba, tekanan darah tak dapat diukur Pemeriksaan Diagnostik Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (DHF) 1. Darah Lengkap = Hemokonsentrasi (Hemaokrit meningkat 20 % atau lebih), Thrombocitopeni (angka thrombosit 100. 000/ mm3 atau kurang) 2. Serologi = Uji HI (hemaaglutinaion Inhibition Test) 3. Rontgen Thorax = Effusi Pleura E. Pathways Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (DHF) 1. Download Pathway Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (DHF) F. Penatalaksanaan Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (DHF) Medik 1. DHF tanpa Renjatan 1. Beri minum banyak ( 1 - 2 Liter / hari ) 2. Obat antipiretik, untuk menurunkan panas, dapat juga dilakukan kompres 3. Jika kejang maka dapat diberi luminal ( anticonvulsan ) untuk anak <1 th dosis 50 mg IM dan untuk anak >1th 75 mg IM. Jika 15 menit kejang belum teratasi , beri lagi luminal dengan dosis 3 mg / Kg BB anak <1 th dan pada anak >1th diberikan 5 mg/ Kg BB. 4. Berikan infus jika terus muntah dan hematokrit meningkat 2. DHF dengan Renjatan 1. Pasang infus RL 2. Jika dengan infus tidak ada respon maka berikan plasma expander ( 20 30 ml/ kg BB ) 3. Tranfusi jika Hb dan Ht turun Keperawatan 1. Pengawasan tanda tanda Vital secara kontinue tiap jam 1. Pemeriksaan Hb, Ht, Trombocyt tiap 4 Jam

2. Observasi intike - output 3. Pada pasien DHF derajat I : Pasien diistirahatkan, observasi tanda vital tiap 3 jam , periksa Hb, Ht, Thrombosit tiap 4 jam beri minum 1 liter 2 liter per hari, beri kompres 4. Pada pasien DHF derajat II : Pengawasan tanda vital, pemeriksaan Hb, Ht, Thrombocyt, perhatikan gejala seperti nadi lemah, kecil dan cepat, tekanan darah menurun, anuria dan sakit perut, beri infus. 5. Pada pasien DHF derajat III : Infus guyur, posisi semi fowler, beri O2 pengawasan tanda tanda vital tiap 15 menit, pasang cateter, observasi produksi urine tiap jam, periksa Hb, Ht dan thrombocyt. 2. Resiko Perdarahan 1. Obsevasi perdarahan : Pteckie, Epistaksis, Hematomesis dan melena 2. Catat banyak, warna dari perdarahan 3. Pasang NGT pada pasien dengan perdarahan Tractus Gastro Intestinal 3. Peningkatan suhu tubuh 1. Observasi / Ukur suhu tubuh secara periodik 2. Beri minum banyak 3. Berikan kompres F. Asuhan Keperawatan pada pasien Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (DHF) 1. Pengkajian 1. Kaji riwayat Keperawatan 2. Kaji adanya peningkatan suhu tubuh, tanda perdarahan, mual muntah, tidak nafsu makan, nyeri ulu hai, nyeri otot dan tanda tanda renjatan (denyut nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit dingin dan lembab, terutama pada ekstremitas, sianosis, gelisah, penurunan kesadaran) 2. Diagnosa Keperawatan 1. Kekurangan Volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler , perdarahan, muntah, dan demam 2. Perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan perdarahan 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, tidak ada nafsu makan 4. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus 5. Perubahan proses proses keluarga berhubungan dengan kondisi anak 3. Perencanaan 1. Anak menunjukkan tanda tanda terpenuhinya kebutuhan cairan 2. Anak menunjukkan tanda tanda perfusi jaringan perifer yang adekuat 3. Anak menunjukkan tanda tanda vital dalam batas normal 4. Keluarga menunjukkan koping yang adaptif 4. Implementasi 1. Mencegah terjadinya kekurangan volume cairan 1. Mengobservasi tanda tanda vital paling sedikit setiap 4 jam 2. Monitor tanda tanda meningkatnya kekurangan cairan : turgor tidak elastis, ubun ubun cekung, produksi urine menurun 3. Mengobservasi dan mencatat intake dan output 4. Memberikan hidrasi yang adekuat sesuai dengan kebutuhan tubuh 5. Memonitor nilai laboratorium : elektrolit / darah, BJ urin , serum tubuh 6. Mempertahankan intake dan output yang adekuat

2.

3.

4.

5.

7. Memonitor dan mencatat berat badan 8. Memonitor pemberian cairan melalui intra vena setiap jam 9. Mengurangi kehilangan cairan yang tidak telihat (insesible water loss / IWL) Perfusi jaringan Adekuat 1. Mengkaji dan mencatat tanda tanda Vital (kualitas dan Frekwensi denyut nadi, tekanan darah , Capillary Refill ) 2. Mengkaji dan mencatat sirkulasi pada ekstremitas (suhu , kelembaban dan warna) 3. Menilai kemungkinan terjadinya kematian jaringan pada ekstremitas seperti dingin , nyeri , pembengkakan kaki ) Kebutuhan nutrisi adekuat 1. Ijinkan anak memakan makanan yang dapat ditoleransi anak. Rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan anak meningkat. 2. Berikan makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi 3. Menganjurkan kepada orang tua untuk memberikan makanan dengan teknik porsi kecil tetapi sering 4. Menimbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama dan dengan skala yang sama 5. Mempertahankan kebersihan mulut pasien 6. Menjelaskan pentingnya intake nutirisi yang adekuat untuk penyembuhan penyakit Mempertahankan suhu tubuh normal 1. Ukur tanda tanda vital suhu tubuh 2. Ajarkan keluarga dalam pengukuran suhu 3. Lakukan tapid sponge (seka) dengan air biasa 4. Tingkatkan intake cairan 5. Berikan terapi untuk menurunkan suhu Mensupport koping keluarga Adaptif 1. Mengkaji perasaan dan persepsi orang tua atau anggota keluarga terhadap situasi yang penuh stress 2. Ijinkan orang tua dan keluarga untuk memberikan respon secara panjang lebar dan identifikasi faktor yang paling mencemaskan keluarga 3. Identifikasikan koping yang biasa digunakan dan seberapa besar keberhasilannya dalam mengatasi keadaan

G. Pencegahan Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (DHF) Menghindari atau mencegah berkembangnya nyamuk Aedes Aegepty dengan cara: 1. Rumah selalu terang 2. Tidak menggantung pakaian 3. Bak / tempat penampungan air sering dibersihkan dan diganti airnya minimal 4 hari sekali 4. Kubur barang barang bekas yang memungkinkan sebagai tempat terkumpulnya air hujan 5. Tutup tempat penampungan air

Perencanaan pemulangan dan Pendidikan Kesehatan 1. Berikan informasi tentang kebutuhan melakukan aktifitas sesuai dengan tingkat perkembangan dan kondisi fisik anak 2. Jelaskan terapi yang diberikan, dosis, efek samping 3. Menjelaskan gejala gejala kekambuhan penyakit dan hal yang harus dilakukan untuk mengatasi gejala 4. Tekankan untuk melakukan kontrol sesuai waktu yang ditentukan DAFTAR PUSTAKA 1. Buku ajar IKA infeksi dan penyakit tropis IDAI Edisi I. Editor : Sumarmo, S Purwo Sudomo, Harry Gama, Sri rejeki Bag IKA FKUI jkt 2002. 2. Christantie, Effendy. SKp, Perawatan Pasien DHF. Jakarta, EGC, 1995 3. Prinsip Prinsip Keperawatan Nancy Roper hal 269 267

Description: Askep Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (DHF) Reviewer: Kang Kapuk - ItemReviewed: Askep Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (DHF) Kang Kapuk Askep Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (DHF) Updated at: 19:54 Label: ASKEP ANAK, ASKEP DALAM, MAKALAH KEPERAWATAN, MAKALAH KESEHATAN Read more: http://www.kapukonline.com/2011/09/askepdemamberdarahdenguehemoragicfeverd.html#ix zz1vflvIjc8

Home KEPERAWATAN ASKEP DEMAM BERDARAH DENGEU (DHF)

ASKEP DEMAM BERDARAH DENGEU (DHF)


Minggu, 04 April 2010 00:10
0digg

A. PENGERTIAN

Dengue adalah penyakit virus didaerah tropis yang ditularkan oleh nyamuk dan ditandai dengan demam, nyeri kepala, nyeri pada tungkai, dan ruam (Brooker, 2001). Demam dengue/dengue fever adalah penyakit yang terutama pada anak, remaja, atau orang dewasa, dengan tanda-tanda klinis demam, nyeri otot, atau sendi yang disertai leukopenia, dengan/tanpa ruam (rash) dan limfadenophati, demam bifasik, sakit kepala yang hebat, nyeri pada pergerakkan bola mata, rasa menyecap yang terganggu, trombositopenia ringan, dan bintik-bintik perdarahan (ptekie) spontan (Noer, dkk, 1999). Demam berdarah dengue adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue (arbovirus) yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti (Suriadi & Yuliani, 2001). B. ETIOLOGI Virus dengue tergolong dalam famili/suku/grup flaviviridae dan dikenal ada 4 serotipe. Dengue 1 dan 2 ditemukan di Irian ketika berlangsungnya perang dunia ke-II, sedangkan dengue 3 dan 4 ditemukan pada saat wabah di Filipina tahun 1953 1954. Virus dengue berbentuk batang, bersifat termolabil, sensitif terhadap inaktivasi oleh dietileter dan natrium dioksikolat, stabil pada suhu 70 0C. Dengue merupakan serotipe yang paling banyak beredar.

C. PATOFISIOLOGI Virus dengue masuk kedalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypti dan kemudian bereaksi dengan antibodi dan terbentuklah kompleks virus-antibody, dalam asirkulasi akan mengaktivasi sistem komplemen (Suriadi & Yuliani, 2001). Virus dengue masuk kedalam tubuh melalui gigitan nyamuk dan infeksi pertama kali menyebabkan demam dengue. Reaksi tubuh merupakan reaksi yang biasa terlihat pada infeksi oleh virus. Reaksi yang amat berbeda akan tampak, bila seseorang mendapat infeksi berulang dengan tipe virus dengue yang berlainan. Dan DHF dapat terjadi bila seseorang setelah terinfeksi pertama kali, mendapat infeksi berulang virus dengue lainnya. Re-infeksi ini akan menyebabkan suatu reaksi anamnestik antibodi, sehingga menimbulkan konsentrasi kompleks antigen-antibodi (kompleks virus-antibodi) yang tinggi (Noer, dkk, 1999).

D. MANIFESTASI KLINIS Gambaran klinis yang timbul bervariasi berdasarkan derajat DHF dengan masa inkubasi anatara 13 15 hari, tetapi rata-rata 5 8 hari. Gejala klinik timbul secara mendadak berupa suhu tinggi, nyeri pada otot dan tulang, mual, kadang-kadang muntah dan batuk ringan. Sakit kepala dapat menyeluruh atau berpusat pada daerah supra orbital dan retroorbital. Nyeri di bagian otot terutama dirasakan bila otot perut ditekan. Sekitar mata mungkin ditemukan pembengkakan, lakrimasi, fotofobia, otot-otot sekitar mata terasa pegal. Eksantem yang klasik ditemukan dalam 2 fase, mulamula pada awal demam (6 12 jam sebelum suhu naik pertama kali), terlihat jelas di muka dan dada yang berlangsung selama beberapa jam dan biasanya tidak diperhatikan oleh pasien. Ruam berikutnya mulai antara hari 3 6, mula mula berbentuk makula besar yang kemudian bersatu mencuat kembali, serta kemudian timbul bercak-bercak petekia. Pada dasarnya hal ini terlihat pada lengan dan kaki, kemudian menjalar ke seluruh tubuh. Pada saat suhu turun ke normal, ruam ini berkurang dan cepat menghilang, bekas-bekasnya kadang terasa gatal. Nadi pasien mulamula cepat dan menjadi normal atau lebih lambat pada hari ke-4 dan ke-5. Bradikardi dapat menetap untuk beberapa hari dalam masa penyembuhan. Gejala perdarahan mulai pada hari ke-3 atau ke-5 berupa petekia, purpura, ekimosis, hematemesis, epistaksis. Juga kadang terjadi syok yang biasanya dijumpai pada saat demam telah menurun antara hari ke-3 dan ke-7 dengan tanda : anak menjadi makin lemah, ujung jari, telinga, hidung teraba dingin dan lembab, denyut nadi terasa cepat, kecil dan tekanan darah menurun dengan tekanan sistolik 80 mmHg atau kurang.

E. KLASIFIKASI WHO, 1986 mengklasifikasikan DHF menurut derajat penyakitnya menjadi 4 golongan, yaitu : a. Derajat I : Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan. Panas 2-7 hari, Uji tourniquet positif, trombositipenia, dan hemokonsentrasi. b. Derajat II : Sama dengan derajat I, ditambah dengan gejala-gejala perdarahan spontan seperti petekie, ekimosis, hematemesis, melena, perdarahan gusi. c. Derajat III : Ditandai oleh gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah dan cepat (>120x/mnt ) tekanan nadi sempit (120 mmHg), tekanan darah menurun, (120/80 , 120/100 , 120/110, 90/70, 80/70, 80/0, 0/0) d. Derajat IV : Nadi tidak teraba, tekanan darah tidak teratur (denyut 140x/mnt) anggota gerak teraba dingin, berkeringat dan kulit tampak biru.

F. PATHWAY DEMAM BERDARAH DHF

G. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan penderita dengan DHF adalah sebagai berikut : a. Tirah baring atau istirahat baring. b. Diet makan lunak. c. Minum banyak (2 2,5 liter/24 jam) dapat berupa : susu, teh manis, sirup dan beri penderita sedikit oralit, pemberian cairan merupakan hal yang paling penting bagi penderita DHF. d. Pemberian cairan intravena (biasanya ringer laktat, NaCl Faali) merupakan cairan yang paling sering digunakan. e. Monitor tanda-tanda vital tiap 3 jam (suhu, nadi, tensi, pernafasan) jika kondisi pasien memburuk, observasi ketat tiap jam. f. Periksa Hb, Ht dan trombosit setiap hari. g. Pemberian obat antipiretik sebaiknya dari golongan asetaminopen. h. Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut.

i. Pemberian antibiotik bila terdapat kekuatiran infeksi sekunder. j. Monitor tanda-tanda dan renjatan meliputi keadaan umum, perubahan tanda-tanda vital, hasil pemeriksaan laboratorium yang memburuk. k. Bila timbul kejang dapat diberikan Diazepam. Pada kasus dengan renjatan pasien dirawat di perawatan intensif dan segera dipasang infus sebagai pengganti cairan yang hilang dan bila tidak tampak perbaikan diberikan plasma atau plasma ekspander atau dekstran sebanyak 20 30 ml/kg BB. l. Pemberian cairan intravena baik plasma maupun elektrolit dipertahankan 12 48 jam setelah renjatan teratasi. Apabila renjatan telah teratasi nadi sudah teraba jelas, amplitudo nadi cukup besar, tekanan sistolik 20 mmHg, kecepatan plasma biasanya dikurangi menjadi 10 ml/kg BB/jam. Transfusi darah diberikan pada pasien dengan perdarahan gastrointestinal yang hebat. Indikasi pemberian transfusi pada penderita DHF yaitu jika ada perdarahan yang jelas secara klinis dan abdomen yang makin tegang dengan penurunan Hb yang mencolok. Pada DBD tanpa renjatan hanya diberi banyak minum yaitu 1-2 liter dalam 24 jam. Cara pemberian sedikit demi sedikit dengan melibatkan orang tua. Infus diberikan pada pasien DBD tanpa renjatan apabila : a. Pasien terus menerus muntah, tidak dapat diberikan minum sehingga mengancam terjadinya dehidrasi. b. Hematokrit yang cenderung mengikat.

H. PENCEGAHAN Prinsip yang tepat dalam pencegahan DHF ialah sebagai berikut : a. Memanfaatkan perubahan keadaan nyamuk akibat pengaruh alamiah dengan melaksanakan pemberantasan vektor pada saat sedikit terdapatnya kasus DHF. b. Memutuskan lingkaran penularan dengan menahan kepadatan vektor pada tingkat sangat rendah untuk memberikan kesempatan penderita viremia sembuh secara spontan. c. Mengusahakan pemberantasan vektor di pusat daerah penyebaran yaitu di sekolah, rumah sakit termasuk pula daerah penyangga sekitarnya. d. Mengusahakan pemberantasan vektor di semua daerah berpotensi penularan tinggi. Ada 2 macam pemberantasan vektor antara lain : a. Menggunakan insektisida. Yang lazim digunakan dalam program pemberantasan demam berdarah dengue adalah malathion untuk membunuh nyamuk dewasa dan temephos (abate) untuk membunuh jentik (larvasida). Cara penggunaan malathion ialah dengan pengasapan atau pengabutan. Cara penggunaan temephos (abate) ialah dengan pasir abate ke dalam sarang-sarang

nyamuk aedes yaitu bejana tempat penampungan air bersih, dosis yang digunakan ialah 1 ppm atau 1 gram abate SG 1 % per 10 liter air. b. Tanpa insektisida Caranya adalah : 1. Menguras bak mandi, tempayan dan tempat penampungan air minimal 1 x seminggu (perkembangan telur nyamuk lamanya 710 hari). 2. Menutup tempat penampungan air rapat-rapat. 3. Membersihkan halaman rumah dari kaleng bekas, botol pecah dan benda lain yang memungkinkan nyamuk bersarang.

I. MANAJEMEN KEPERAWATAN A. Pengkajian 1. Identitas DHF merupakan penyakit daerah tropis yang sering menyebabkan kematian anak, remaja dan dewasa (Effendy, 1995). 2. Keluhan Utama Pasien mengeluh panas, sakit kepala, lemah, nyeri ulu hati, mual dan nafsu makan menurun. 3. Riwayat penyakit sekarang Riwayat kesehatan menunjukkan adanya sakit kepala, nyeri otot, pegal seluruh tubuh, sakit pada waktu menelan, lemah, panas, mual, dan nafsu makan menurun. 4. Riwayat penyakit terdahulu Tidak ada penyakit yang diderita secara specific. 5. Riwayat penyakit keluarga Riwayat adanya penyakit DHF pada anggota keluarga yang lain sangat menentukan, karena penyakit DHF adalah penyakit yang bisa ditularkan melalui gigitan nyamuk aides aigepty. 6. Riwayat Kesehatan Lingkungan Biasanya lingkungan kurang bersih, banyak genangan air bersih seperti kaleng bekas, ban bekas, tempat air minum burung yang jarang diganti airnya, bak mandi jarang dibersihkan. 7. Riwayat Tumbuh Kembang 8. Pengkajian Per Sistem 1. Sistem Pernapasan yaitu Sesak, perdarahan melalui hidung, pernapasan dangkal, epistaksis, pergerakan dada simetris, perkusi sonor, pada auskultasi terdengar ronchi, krakles.

2. Sistem Persyarafan yaitu Pada grade III pasien gelisah dan terjadi penurunan kesadaran serta pada grade IV dapat trjadi DSS 3. Sistem Cardiovaskuler yaitu Pada grde I dapat terjadi hemokonsentrasi, uji tourniquet positif, trombositipeni, pada grade III dapat terjadi kegagalan sirkulasi, nadi cepat, lemah, hipotensi, cyanosis sekitar mulut, hidung dan jari-jari, pada grade IV nadi tidak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur. 4. Sistem Pencernaan yaitu Selaput mukosa kering, kesulitan menelan, nyeri tekan pada epigastrik, pembesarn limpa, pembesaran hati, abdomen teregang, penurunan nafsu makan, mual, muntah, nyeri saat menelan, dapat hematemesis, melena. 5. Sistem perkemihan yaitu Produksi urine menurun, kadang kurang dari 30 cc/jam, akan mengungkapkan nyeri sat kencing, kencing berwarna merah. 6. Sistem Integumen. Yaitu Terjadi peningkatan suhu tubuh, kulit kering, pada grade I terdapat positif pada uji tourniquet, terjadi pethike, pada grade III dapat terjadi perdarahan spontan pada kulit. B. Diagnosa Keperawatan 1. Hipertermie berhubungan dengan proses infeksi virus dengue. 2. Resiko defisit cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler. 3. Resiko syok hypovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan, pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler. 4. Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang menurun. 5. Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan factor-faktor pembekuan darah (trombositopeni). 6. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kondisi anak. 7. Kurang pengetahuan keluarga tentang penyakit, prognosis, efek prosedur, dan perawatan anggota keluarga yang sakit berhubungan dengan kurang terpajan/mengingat informasi C. Rencana Asuhan Keperawatan. DP 1 : Hipertermie berhubungan dengan proses infeksi virus dengue Tujuan : Suhu tubuh normal Kriteria : Suhu tubuh antara 36 37, Nyeri otot hilang Intervensi : 1. Kaji suhu tubuh pasien Rasional : mengetahui peningkatan suhu tubuh, memudahkan intervensi

2. Beri kompres air hangat Rasional : mengurangi panas dengan pemindahan panas secara konduksi. Air hangat mengontrol pemindahan panas secara perlahan tanpa menyebabkan hipotermi atau menggigil. 3. Berikan/anjurkan pasien untuk banyak minum 1500-2000 cc/hari (sesuai toleransi) Rasional : Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat evaporasi. 4. Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan mudah menyerap keringat Rasional : Memberikan rasa nyaman dan pakaian yang tipis mudah menyerap keringat dan tidak merangsang peningkatan suhu tubuh. 5. Observasi intake dan output, tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah) tiap 3 jam sekali atau sesuai indikasi Rasional : Mendeteksi dini kekurangan cairan serta mengetahui keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien. 6. Kolaborasi : pemberian cairan intravena dan pemberian obat sesuai program. Rasional : Pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tubuh yang tinggi. Obat khususnya untuk menurunkan panas tubuh pasien. DP 2 : Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler. Tujuan : Tidak terjadi defisit voume cairan Kriteria : Input dan output seimbang, Vital sign dalam batas normal, Tidak ada tanda presyok, Akral hangat, Capilarry refill <> Intervensi : 1. Awasi vital sign tiap 3 jam/sesuai indikasi Rasional : Vital sign membantu mengidentifikasi fluktuasi cairan intravaskuler 2. Observasi capillary Refill Rasional : Indikasi keadekuatan sirkulasi perifer 3. Observasi intake dan output. Catat warna urine / konsentrasi, BJ Rasional : Penurunan haluaran urine pekat dengan peningkatan BJ diduga dehidrasi. 4. Anjurkan untuk minum 1500-2000 ml /hari ( sesuai toleransi ) Rasional : Untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh peroral 5. Kolaborasi : Pemberian cairan intravena

Rasional : Dapat meningkatkan jumlah cairan tubuh, untuk mencegah terjadinya hipovolemic syok. DP 3 : Resiko Syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan, pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler. Tujuan : Tidak terjadi syok hipovolemik Kriteria : Tanda Vital dalam batas normal Intervensi : 1) Monitor keadaan umum pasien Rasional : Untuk memonitor kondisi pasien selama perawatan terutama saat terdi perdarahan. Perawat segera mengetahui tanda-tanda presyok /syok. 2) Observasi vital sign setiap 3 jam atau lebih Rasional : Perawat perlu terus mengobaservasi vital sign untuk memastikan tidak terjadi presyok / syok. 3) Jelaskan pada pasien dan keluarga tanda perdarahan, dan segera laporkan jika terjadi perdarahan Rasional : Dengan melibatkan psien dan keluarga maka tanda-tanda perdarahan dapat segera diketahui dan tindakan yang cepat dan tepat dapat segera diberikan. 4) Kolaborasi : Pemberian cairan intravena Rasional : Cairan intravena diperlukan untuk mengatasi kehilangan cairan tubuh secara hebat. 5) Kolaborasi : pemeriksaan : HB, PCV, trombosit Rasional : Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami pasien dan untuk acuan melakukan tindakan lebih lanjut. DP 4 : Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang menurun. Tujuan : Tidak terjadi gangguan kebutuhan nutrisi Kriteria : Tidak ada tanda-tanda malnutrisi, Menunjukkan berat badan yang seimbang. Intervensi : 1. Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai Rasional : Mengidentifikasi defisiensi, menduga kemungkinan intervensi 2. Observasi dan catat masukan makanan pasien Rasional : Mengawasi masukan kalori/kualitas kekurangan konsumsi makanan 3. Timbang BB tiap hari (bila memungkinkan)

Rasional : Mengawasi penurunan BB / mengawasi efektifitas intervensi. 4. Berikan makanan sedikit namun sering dan atau makan diantara waktu makan Rasional : Makanan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan masukan juga mencegah distensi gaster. 5. Berikan dan Bantu oral hygiene. Rasional : Meningkatkan nafsu makan dan masukan peroral 6. Hindari makanan yang merangsang dan mengandung gas. Rasional : Menurunkan distensi dan iritasi gaster. DP 5 : Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan factor faktor pembekuan darah (trombositopeni) Tujuan : Tidak terjadi perdarahan Kriteria : TD 100/60 mmHg, N: 80-100x/menit reguler, pulsasi kuat, Tidak ada tanda perdarahan lebih lanjut, trombosit meningkat. Intervensi : 1. Monitor tanda-tanda penurunan trombosit yang disertai tanda klinis. Rasional : Penurunan trombosit merupakan tanda adanya kebocoran pembuluh darah yang pada tahap tertentu dapat menimbulkan tanda-tanda klinis seperti epistaksis, ptike. 2. Anjurkan pasien untuk banyak istirahat ( bedrest ) Rasional : Aktifitas pasien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya perdarahan. 3. Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga untuk melaporkan jika ada tanda perdarahan seperti : hematemesis, melena, epistaksis. Rasional : Keterlibatan pasien dan keluarga dapat membantu untuk penaganan dini bila terjadi perdarahan. 4. Antisipasi adanya perdarahan : gunakan sikat gigi yang lunak, pelihara kebersihan mulut, berikan tekanan 5-10 menit setiap selesai ambil darah. Rasional : Mencegah terjadinya perdarahan lebih lanjut. 5. Kolaborasi, monitor trombosit setiap hari Rasional : Dengan trombosit yang dipantau setiap hari, dapat diketahui tingkat kebocoran pembuluh darah dan kemungkinan perdarahan yang dialami pasien. DP 6 : Kecemasan orangtua berhubungan dengan kondisi anak. Tujuan : ansietas berkurang/terkontrol.

Kriteria : klien melaporkan tidak ada manifestasi kecemasan secara fisik, tidak ada manifestasi perilaku akibat kecemasan. Intervensi : 1. Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien. Rasional : memudahkan intervensi. 2. Kaji mekanisme koping yang digunakan pasien untuk mengatasi ansietas di masa lalu. Rasional : mempertahankan mekanisme koping adaftif, meningkatkan kemampuan mengontrol ansietas. 3. Lakukan pendekatan dan berikan motivasi kepada pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan. Rasional : pendekatan dan motivasi membantu pasien untuk mengeksternalisasikan kecemasan yang dirasakan. 4. Motivasi pasien untuk memfokuskan diri pada realita yang ada saat ini, harapan-harapan yang positif terhadap terapy yang di jalani. Rasional : alat untuk mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk mengurangi kecemasan. 5. Berikan penguatan yang positif untuk meneruskan aktivitas sehari-hari meskipun dalam keadaan cemas. Rasional : menciptakan rasa percaya dalam diri pasien bahwa dirinya mampu mengatasi masalahnya dan memberi keyakinan pada diri sendri yang dibuktikan dengan pengakuan orang lain atas kemampuannya. 6. Anjurkan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi. Rasional : menciptakan perasaan yang tenang dan nyaman. 7. Sediakan informasi factual (nyata dan benar) kepada pasien dan keluarga menyangkut diagnosis, perawatan dan prognosis. Rasional : meningkatkan pengetahuan, mengurangi kecemasan. 8. Kolaborasi pemberian obat anti ansietas. Rasional : mengurangi ansietas sesuai kebutuhan. D. Evaluasi 1. Suhu tubuh normal 2. Tidak terjadi devisit voume cairan

3. Tidak terjadi syok hipovolemik 4. Tidak terjadi gangguan kebutuhan nutrisi 5. Tidak terjadi perdarahan 6. Ansietas berkurang/terkontrol 7. orang tua memahami tentang kondisi, efek prosedur dan proses pengobatan.

KESIMPULAN Dengue adalah penyakit virus didaerah tropis yang ditularkan oleh nyamuk dan ditandai dengan demam, nyeri kepala, nyeri pada tungkai, dan ruam (Brooker, 2001). Demam berdarah dengue adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue (arbovirus) yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti (Suriadi & Yuliani, 2001). Pesan Dan Saran 1. Memanfaatkan perubahan keadaan nyamuk akibat pengaruh alamiah dengan melaksanakan pemberantasan vektor pada saat sedikit terdapatnya kasus DHF. 2. Memutuskan lingkaran penularan dengan menahan kepadatan vektor pada tingkat sangat rendah untuk memberikan kesempatan penderita viremia sembuh secara spontan. 3. Mengusahakan pemberantasan vektor di pusat daerah penyebaran yaitu di sekolah, rumah sakit termasuk pula daerah penyangga sekitarnya. 4. Mengusahakan pemberantasan vektor di semua daerah berpotensi penularan 5. Prinsip 3 M Menguras bak mandi, tempayan dan tempat penampungan air minimal 1 x seminggu (perkembangan telur nyamuk lamanya 7 10 hari). Menutup tempat penampungan air rapat-rapat. Membersihkan halaman rumah dari kaleng bekas, botol pecah dan benda lain yang memungkinkan nyamuk bersarang. . Diperlukan tindakan yang bersifat preventif melalui pemakaian kasa dan menghindari kebiasaan mengantung pakaian yang biasanya dijadikan sebagai tempat peristirahatan nyamuk.

DAFTAR PUSTAKA Hidayat, Aziz Alimul A. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak jilid.2. Salemba Medika : Jakarta Nasrul, Effendi. 1995. Pengantar Proses Keperawatan. EGC : Jakarta Noer, Sjaifoellah dkk. 1998. Standar Perawatan Pasien. Monica Ester : Jakarta.

Suriadi & Yuliani, Rita. 2001. Buku Pegangan Praktek Klinik : Asuhan Keperawatan pada Anak. Sagung Seto : Jakarta

BAB I TINJAUAN PUSTAKA

I. Definisi Dengue haemoragic fever(DHF) merupakan penyakit yang disebabkan oleh karena virus dengue yang termasuk golongan arbovirus melalui gigitan nyamuk aedes aegypti betina, lebih dikenal dengan sebutan demam berdarah dengue (DBD) (Aziz, 2006). Dengue haemoragic fever adalah penyakit demam akut yang disertai dengan adanya manifestasi perdarahan yang bertedensi mengakibatkan renjatan yang bisa menyebabkan kematian(Arief & Suprohaita,2000:419).

2. Etiologi Dengue haemoragic fever disebabkan oleh virus dengue yang merupakan virus RNA rantai tunggal genus flavivirus terdiri dari 4 serotipe yaitu Den-1,2,3, dan 4 ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti (gambar 1).

Gambar.1 Virus dengue tersusun dari protein structural dan non-struktural. Protein structural terdiri dari protein envelope(E). protein pre-membran (prM) dan protein core (c) merupakan 25% dari total protein, 75% dari protein non-struktural terdiri dari Ns-1 sampai Ns-5. Dalam merangsang pembentukan antibody diantara protein structural, urutan immunogenitas tertinggi adalah protein E, kemudian diikuti protein prM dan c. sedang protein non-struktural yang paling berperan adalah protein Ns-1.

3. ANATOMI FISIOLOGI

Hematologi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang darah dan aspeknya pada keadaan sehat atau sakit dalam keadaan normal volume darah manusia 7-8 % dari berat badan. (Lauralee Sherwood : 2001) Bila darah lengkap dibiarkan membeku dan bekuan dibuang cairan yang tertinggal dinamakan serum. Darah adalah cairan yang membawa berbagai zat ke jaringan dan dari jaringan, yang terdiri dari beberapa komposisi antara lain: a. Plasma Terdiri dari beberapa komponen yaitu : 1. Air membentuk 90 % volume plasma 2. Protein plasma, berfungsi untuk menjaga volume dan tekanan darah serta melawan bibit penyakit (immunoglobulin). 3. Garam (mineral) plasma dan gas terdiri atas O2 dan CO2

berfungsi untuk menjaga tekanan osmotik dan pH darah sehingga fungsi normal jaringan tubuh. 4. Zat-zat makanan sebagai makanan sel. 5. Zat-zat lain seperti hormon, vitamin, dan enzim yang berfungsi untuk

membantu metabolisme. 6. Antibodi dan antitoksin melindungi badan dari infeksi bakteri 7. Sesuai produk jaringan : urea, asam urat dan kreatinin

b. Sel darah 1. Sel darah merah : Kekurangan eritrosit, Hb, dan Fe akan mengakibatkan anemia.

Gambar 2: Eritrosit

el darah putih : Berfungsi mempertahankan tubuh dari serangan penyakit dengan cara memakan (fagositosis) penyakit tersebut. Itulah sebabnya leukosit disebut juga fagosit.

Trombosit : Berperan dalam pembekuan darah

Gambar: 3

4. Patofisiologi

Nyamuk aedes aegypti

(mengandung virus dengue di dalam darah/viraemia) Bereplikasi di dalam lambung Migrasi ke kelenjar ludah Gigitan nyamuk menembus kulit manusia Memasuki sirkulasi darah

Panas reaksi tubuh

Demam dengue

Demam berdarah dengue

Transmisi virus: Virus yang ada dalam saliva nyamuk ditransmisikan ke manusia melalui gigitan Virus bereplikasi di dalam organ target Virus menginfeksi sel darah putih dna jaringan limpaticus Virus dibebaskan dan beredar dalam darah Nyamuk yang mengigit berikutnya mencerna virus yang ada dalam darah Virus bereplikasi dalam usus dan organ lain Menginfeksi kelenjar saliva Memperbanyak diri dalam kelenjar saliva Target (indvidu) mendapat reaksi

5. Manifestasi klinis Manifestasi klinis yang disitasi dari http://www.sribd.com/virus-dengue.com 1. Demam dengue Demam yang timbul secara mendadak, suhu dapat mencapai 39-40o dapat disertai dengan menggigil hanya berlangsung untuk 5-7 hari. Pada saat demamnya berakhir, seringkali turun

secara mendadak disertai dengan berkeringat banyak, dimana anak tampak agak loyo. Dikenal dengan istilah demam biphasic, yaitu demam yang berlangsung selama beberapa hari sempat turun ditengahnya menjadi normal kemudian naik lagi dan baru turun lagi saat penderita sembuh. 2. Demam berdarah dengue Demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas berlangsung terus menerus selama 1-7 hari disertai sakit kepala berat, sakit pada sendi otot (myalgia dan athalgia) dan ruam merah terang, ptekie, biasanya muncul lebih dulu pada bagian bawwah badan menyebar hingga seluruh tubuh. Radang perut dapat muncul dengan kombinasi sakit di perut, rasa mual, muntah-muntah atau diare, pilek ringan disertai batuk-batuk(Ngastiyah,1997).

3. Hepatomegali Pada permulaan demam biasanya hati sudah teraba, bila terjadi peningkatan dari hepatomegali dan hati teraba kenyal harus diperhatikan kemungkinan akan ter jadi renjatan.

4. Renjatan (syok) Permulaan syok biasanya terjadi pada hari ke-3 sejak sakitnya dengan tanda kegagalan sirkulasi yaitu, kulit lembab, dingin pada ujung hidung, jari tangan, jari kaki serta sianosis disekitar mulut.

6. Penatalaksanaan medis dan non medis b. Penatalaksanaan medis Pemberian cairan melalui infuse Pemberian cairan melalui intra vena (biasanya ringer laktat/RL, NaCl) RL merupakan cairan intravena yang paling sering digunakan, mengandung Na+ 130 mEq/liter, K+4 mEq/liter, korekter basa 28 mEq/liter, cl 109 mEq/liter dan Ca 3 mEq/liter Pemberian obat-obatan dan antibiotic, antipiretik Antikonvulsi jika terjadi kejang Periksa Hb, Ht, dan trombosit Suhu 400C diatasi dengan antipiretika dan sufface cooling, antipiretik yang dapat diberikan ialah golongan asam minofen, acetosal tidak boleh diberikan.

b. Penatalaksanaan non medis ( Arief, 2009)

Beri anak minum sebanyak mungkin Batasi aktifitas anak tirah baring Observasi ketat tanda-tanda vital ( nadi, pernapasan, suhu) Kompres dingin (air biasa) bila suhu meningkat Anjurkan pasien untuk mengkonsumsi jambu biji merah ternyata memiliki komponen yang berkhasiat, yakni kelompok senyawa tanin -menyebab rasa sepat- dan flavonoid Pemberian makanan lunak Indikasi rawat inap pada dugaan infeksi virus dengue yaitu: - Panas 1-2 hari disertai dehidrasi (karena panas, muntah, masukan kurang) atau kejang kejang. - Panas 3-5 hari disertai nyeri perut, pembesaran hati uji torniquet positif/negatif, kesan sakit keras (tidak mau bermain) - Panas disertai perdarahan- perdarahan. - Panas disertai renjatan. 7. Komplikasi a. Perdarahan luas b. Syok atau renjatan c. Effusi pleura d. Penurunan kesadaran

8. Data focus pengkajian 1. Wawancara a. Mengkaji data dasar, kebutuhan bio-psiko-sosio-spritual pasien dari berbagai sumber (pasien, keluarga) b. Mengidentifikasi sumber-sumber yang potensial dan tersedia untuk memenuhi kebutuhan pasien c. Kaji riwayat keperawatan d. kaji adanya peningkatan suhu tubuh, tanda-tanda perdarahan, mual, muntah, tidak nafsu makan, nyeri ulu hati, nyeri otot dan sendi, tanda-tanda syok e. Riwayat penyakit dahulu, pernah menderita DHF, penyakit itu bisa terulang f. Riwayat kesehatan keluarga, riwayat adanya penyakit DHF pada anggota keluarga yang lain (tinggal di dalam satu rumah/ berbeda, jarak yang berdekatan) dapat menentukan karena ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti betina g. riwayat kesehatan lingkungan

h. Riwayat pertumbuhan dan perkembangan : faktor-faktor apa yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.

2. Pemeriksaan Fisik a. Sistem pernafasan/respirasi Sesak, perdarahan melalui hidung (epistaksis), pernapasan dangkal, takipneu, pergerakan dada simetris, perkusi sonor, pada auskultasi terdengar ronchi, effuse pleura (creckels). b. Sistem kardiovaskular Pada grade I dapat terjadi hemokonsentrasi, uji tourniquet positif, trombositopenia, hipotensi, cyanosis sekitar mulut, hidung dan jari-jari. Pada grade IV nadi tidak teraba dan tekanan darah tidak dapat diukur. c. Sistem persarafan/ neurologi Nyeri pada bagian kepala, bola mata dan persendian pada grade III pasien dan gelisah terjadi penurunan kesadaran. d. Sisem pencernaan Selaput mukosa kering, kesulitan menelan, nyeri tekan pada epigastrik, pembesaran limpa, pembesaran hati, abdomen teregang, penurunan nafsu makan, mual, muntah, nyeri saat menelan, hematemesis, dan melena e. Sistem perkemihan Produksi urine menurun, kadang kurang 30 cc/jam, nyeri saat kencing, urine bewarna merah f. Sistem integument Peningkatan suhu tubuh, kulit kering, pada grade I terdapat positif pada uji tourniquet, terjadi ptekhie pada grade III, dapat terjadi perdarahan spontan pada kulit

3. Pemeriksaan diagnostik a. Darah 1. Trombosit menurun ( 100.000/mm3) 2. Hb dan PCV meningkat (20%) 3. Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3 4. Protein rendah 5. Ureum pH bisa meningkat 6. Na dan Cl rendah b. Serologi rendah ( Hemaglutination inhibition test) 1. Rontgen thoraks : Effusi pleura

2. UJi test tourniquet (+)

9. Diagnosa Keperawatan 1. Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi virus dengue (viremia) 2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan permebialitas kapiler, perdarahan, mual dan muntah 3. Risiko syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan, pinddahnya cairan intravascular ke ekstravaskular 4. Risiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang menurun

10. Intervensi Keperawatan : Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi virus dengue (viremia) Tujuan : Menurunkan suhu tubuh Mempertahankan suhu tubuh normal Kriteria Hasil : Suhu tubuh antara 36.50C- 370C Intervensi Pantau tanda-tanda vital Rasional Mengetahui keadaan umum pasien

Dx

berikan kompres dingin pada daerah Pemindahan panas melalui konduksi aksila dan lipatan paha Memberikan rasa nyaman dan tidak Gunakan pakaian yang tipis untuk merangsang peningkatan suhu tubuh membantu penguapan Deteksi dini kebutuhan cairan Observasi intake dan output cairan

Menurunkan suhu tubuh Kolaborasi dalam pemberian cairan intravena dan antipiretik serta antibiotika

Dx

: Kekurangan volume cairan b/d peningkatan permebialitas kapiler, perdarahan, mual dan muntah Tujuan : Mengatasi kurangnya cairan Mempertahankan intake dan output Kriteria Hasil : Volume cairan tubuh kembali normal Intervensi Kaji TTV, tanda-tanda syok, asupan dan haluaran Oservasi CRT Berikan intake cairan sesuai indikasi Kolaborasi dalam pemberian cairan intravena dan pertahankan tetesan sesuai Meningkatan jumlah cairan tubuh, untuk dengan ketentuan mencegah terjadinya hipovolemik Penurunan Rasional haluaran urine diduga

terjadinya dehidrasi Indikasi keadekuatan perifer Memenuhi kebutuhan cairan

Dx

: Risiko syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan, pindahnya cairan intravaskular ke ekstravaskular Tujuan : Mencegah terjadinya perdarahan Peningkatan trombosit Kriteria Hasil : Tidak ada tanda malnutrisi dengan berat badan seimbang Intervensi Monitor penurunan jumlah trombosit, Mengetahui Hb, Ht perawatan, Rasional keadaan pasien selama segera mengetahui

perawat

tanda-tanda presyok/ syok Observasi vital sign Memastikan tidak terjadi presyok/ syok

Mencegah adanya perdarahan Gunakan sikat gigi lunak, pelihara kebersihan mulut Tanda-tanda perdarahan dapat segera Jelaskan pada pasien dan keluarga tanda diketahui dan tindakan yang cepat dan tepat perdarahan dan segera laporkan jika terjadi dapat diberikan perdarahan Mengatasi kehilangan cairan tubuh yang Kolaborasi pemberian cairan intravena hebat

: Risiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang menurun Tujuan Kriteria Hasil Intervensi : Terpenuhinya kebutuhan nutrisi : Tidak ada tanda malnutrisi Rasional

Kaji tingkat nutrisi, termasuk makanan Mengidentifikasi defisiensi, merancang yang disukai intervensi

Observasi dan catat masukan makanan Mengawasi masukan kalori pasien (bila Mengawasi efektifitas intervensi

Timbang

berat

badan

memungkinkan) Berikan makanan sedikit tapi sering, yang Mengurangi kelemahan dan meningkatkan mudah ditelan dan hidangkan dalam keadaan masukan juga mencegah distensi gaster hangat Meningkatkan nafsu makan dan masukan Berikan dan bantu oral hygiene peroral

Konsep Askep DHF/DBD


Contoh LP Demam Berdarah ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGUE HAEMORAGIC FEVER (DHF) 1. KONSEP DASAR DHF A. DEFINISI Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah penyakit demam akut yang disertai dengan adanya manifestasi perdarahan, yang bertendensi mengakibatkan renjatan yang dapat menyebabkan kematian (Arief Mansjoer &Suprohaita; 2000; 419). Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah infeksi akut yang disebabkan oleh Arbovirus (arthropodborn virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus. (Ngastiyah, 1995 ; 341). Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah penyakit demam yang berlangsung akut menyerang baik orang dewasa maupun anak anak tetapi lebih banyak menimbulkan korban pada anak anak berusia di bawah 15 tahun disertai dengan perdarahan dan dapat menimbulkan syok yang disebabkan virus dengue dan penularan melalui gigitan nyamuk Aedes. (Soedarto, 1990 ; 36). Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah penyakit yang terutama terdapat pada anak dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi, dan biasanya memburuk pada dua hari pertama (Soeparman; 1987; 16). B. ANATOMI

C. ETIOLOGI
1. Virus dengue

Virus dengue yang menjadi penyebab penyakit ini termasuk ke dalam Arbovirus (Arthropodborn virus) group B, tetapi dari empat tipe yaitu virus dengue tipe 1,2,3 dan 4 keempat tipe virus dengue tersebut terdapat di Indonesia dan dapat dibedakan satu dari yang lainnya secara serologis virus dengue yang termasuk dalam genus flavivirus ini berdiameter 40 nonometer dapat berkembang biak dengan baik pada berbagai macam kultur jaringan baik yang berasal dari sel sel mamalia misalnya sel BHK (Babby Homster Kidney) maupun sel sel Arthropoda misalnya sel aedes Albopictus. (Soedarto, 1990; 36).
2. Vektor

Virus dengue serotipe 1, 2, 3, dan 4 yang ditularkan melalui vektor yaitu nyamuk aedes aegypti, nyamuk aedes albopictus, aedes polynesiensis dan beberapa spesies lain merupakan vektor yang kurang berperan.infeksi dengan salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi seumur hidup terhadap serotipe bersangkutan tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotipe jenis yang lainnya (Arief Mansjoer &Suprohaita; 2000; 420).
3. Host

Jika seseorang mendapat infeksi dengue untuk pertama kalinya maka ia akan mendapatkan imunisasi yang spesifik tetapi tidak sempurna, sehingga ia masih mungkin untuk terinfeksi virus dengue yang sama tipenya maupun virus dengue tipe lainnya. Dengue Haemoragic Fever (DHF) akan terjadi jika seseorang yang pernah mendapatkan infeksi virus dengue tipe tertentu mendapatkan infeksi ulangan untuk kedua kalinya atau lebih dengan pula terjadi pada bayi yang mendapat infeksi virus dengue untuk pertama kalinya jika ia telah mendapat imunitas terhadap dengue dari ibunya melalui plasenta. (Soedarto, 1990 ; 38).

D. PATOFISIOLOGI

E. Manifestasi klinis
1. Demam

Demam terjadi secara mendadak berlangsung selama 2 7 hari kemudian turun menuju suhu normal atau lebih rendah. Bersamaan dengan berlangsung demam, gejala gejala klinik yang tidak spesifik misalnya anoreksia. Nyeri punggung , nyeri tulang dan persediaan, nyeri kepala dan rasa lemah dapat menyetainya. (Soedarto, 1990 ; 39).
2. Perdarahan

Perdarahan biasanya terjadi pada hari ke 2 jdari demam dan umumnya terjadi pada kulit dan dapat berupa uji tocniguet yang positif mudah terjadi perdarahan pada tempat fungsi vena, petekia dan purpura. ( Soedarto, 1990 ; 39). Perdarahan ringan hingga sedang dapat terlihat pada saluran cerna bagian atas hingga menyebabkan haematemesis. (Nelson, 1993 ; 296). Perdarahan gastrointestinat biasanya di dahului dengan nyeri perut yang hebat. (Ngastiyah, 1995 ; 349).

3. Hepatomegali

Pada permulaan dari demam biasanya hati sudah teraba, meskipun pada anak yang kurang gizi hati juga sudah. Bila terjadi peningkatan dari hepatomegali dan hati teraba kenyal harus di perhatikan kemungkinan akan tejadi renjatan pada penderita . (Soederita, 1995 ; 39).

4. Renjatan (Syok)

Permulaan syok biasanya terjadi pada hari ke 3 sejak sakitnya penderita, dimulai dengan tanda tanda kegagalan sirkulasi yaitu kulit lembab, dingin pada ujung hidung, jari tangan, jari kaki serta sianosis disekitar mulut. Bila syok terjadi pada masa demam maka biasanya menunjukan prognosis yang buruk. (soedarto ; 39). F. KLASIFIKASI DHF Menurut derajat ringannya penyakit, Dengue Haemoragic Fever (DHF) dibagi menjadi 4 tingkat (UPF IKA, 1994 ; 201) yaitu : Derajat I Panas 2 7 hari , gejala umumtidak khas, uji tourniquet hasilnya positif Derajat II Sama dengan derajat I di tambah dengan gejala gejala pendarahan spontan seperti petekia, ekimosa, epimosa, epistaksis, haematemesis, melena, perdarahan gusi telinga dan sebagainya. Derajat III Penderita syok ditandai oleh gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah dan cepat (> 120 / menit) tekanan nadi sempit (< 20 mmHg) tekanan darah menurun (120 / 80 mmHg) sampai tekanan sistolik dibawah 80 mmHg. Derajat IV Nadi tidak teraba,tekanan darah tidak terukur (denyut jantung > - 140 mmHg) anggota gerak teraba dingin, berkeringat dan kulit tampak biru.

G. KOMPLIKASI 1. Hati membesar, nyeri spontan yang diperkuat dengan reaksi perabaan. 2. Asites (penumpukan cairan pada rongga abdoment)

3. Cairan dalam rongga pleura ( kanan ) 4. Ensephalopati : kejang, gelisah, sopor koma. 5. nyeri epigasstrium, 6. muntah muntah, 7. diare maupun obstipasi 8. kejang kejang. (Soedarto, 1995 ; 39).

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG Trombositepenia ( 100.000/mm3) HB dan PCV Isolasivirus Serelogi I. PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN Pemberantasan penyakit DHF adalah membasmi jentik-jentik dengan metode 3M: 1. Menguras tempat penampungan air minimal 1 X/minggu atau menabur bubuk abbate 2. Menutup rapat tempat penampungan air 3. Mengubur barqang ekas yang dapat menampung air hujan. J. PENATALAKSANANAN 1. tanpa syok Oral ad libitum Infus Ranger Laktat Antibiotik Anti piretik Darah 15cc/kg BB/hari perdarahan

2. Dengan syok Infus Ranger Laktat 20 ml/Kg BB/1 jam Apabila satu jam setelah pemakaian cairan RL 20 mL/Kg BB/1 jam keadaan tensi masih terukur kurang dari 80 mmHg dan nadi cepat lemah, akral dingin maka penderita tersebut memperoleh plasma atau plasma ekspander (dextran L atau yang lainnya) sebanyak 10 mL/ Kg BB/ 1 jam dan dapat diulang maksimal 30 mL/Kg BB

dalam kurun waktu 24 jam. Jika keadaan umum membai dilanjutkan cairan RL sebanyk kebutuhan cairan selama 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi sisa waktu setelah dapat mengatasi renjatan. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian a. Identitas Umur, jenis kelamin, tempat tinggal bias menjadi indicator terjadinya DHF b. Riwayat kesehatan Keluhan utama Badan panas, sakit kepala, lemah, nyeri pada efigastrik, mual, nafsu makan kurang Riwayat kesehatan sekarang Panas tinggi, nyeri otot, dan pegal, ruam, malaise, muntah, mual, sakit kepala, sakit pada saat menelan, lemah, nyeri pada efigastrik, penurunan nafsu

makan,perdarahan spontan. Riwayat kesehatan dahulu Pernah menderita yang sama atau tidak Riwayat kesehatan keluarga Adanya anggota keluarga yang pernah menderita penyakit yang sama dan adanya penyakit herediter (keturunan). c. Pemeriksaan fisik System pernapasan Sesak, epistaksia, napas dangkal, pergerakan dinding dada, perkusi, auskultasi System cardivaskular Pada grade I dapat terjadi hemokonsentrasi, uji tourniquet positif, trombositipeni. Pada grade III dapat terjadi kegagalan sirkulasi, nadi cepat (tachycardia), penurunan tekanan darah (hipotensi), cyanosis sekitar mulut, hidung dan jari-jari. Pada grade IV nadi tidak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur. System neurologi Nyeri pada bagian kepala, bola mata dan persendian. Pada grade III pasien gelisah dan terjadi penurunan kesadaran serta pada grade IV dapat terjadi DSS System perkemihan Produksi urine menurun, kadang kurang dari 30 cc/jam, akan mengungkapkan nyeri saat kencing, kencing berwarna merah

System pencernaan Perdarahan pada gusi, Selaput mukosa kering, kesulitan menelan, nyeri tekan pada epigastrik, pembesarn limpa, pembesaran pada hati (hepatomegali) disertai dengan nyeri tekan tanpa diserta dengan ikterus, abdomen teregang, penurunan nafsu makan, mual, muntah, nyeri saat menelan, dapat muntah darah (hematemesis), berak darah (melena). System integument Terjadi peningkatan suhu tubuh (Demam), kulit kering, ruam makulopapular, pada grade I terdapat positif pada uji tourniquet, terjadi bintik merah seluruh tubuh/ perdarahan dibawah kulit (petikie), pada grade III dapat terjadi perdarahan spontan pada kulit.

2. Diagnosa keperawatan a. Peningkatan suhu tubuh (Hipertermi) berhubungan dengan proses infeksi virus dengue (viremia). b. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler c. Resiko syok hypovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan, pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler d. Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekwat akibat mual dan nafsu makan yang menurun. e. Resiko terjadinya cidera (perdarahan) berhubungan dengan penurunan factor-fakto pembekuan darah ( trombositopeni )

3. Intervensi keperawatan 1. Peningkatan suhu tubuh (Hipertermi) berhubungan dengan proses infeksi virus dengue (viremia). Tujuan : Suhu tubuh normal kembali setelah mendapatkan tindakan perawatan. Kriteria hasil : Suhu tubuh antara 36 37, membran mukosa basah, nadi dalam batas normal (80-100 x/mnt), Nyeri otot hilang. Intervensi : a. Berikan kompres (air biasa / kran).

Rasional : Kompres dingin akan terjadi pemindahan panas secara konduksi b. Berikan / anjurkan pasien untuk banyak minum 1500-2000 cc/hari ( sesuai toleransi ) Rasional : Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat evaporasi. c. Anjurkan keluarga agar mengenakan pakaian yang tipis dan mudah menyerap keringat pada klien. Rasional : Memberikan rasa nyaman dan pakaian yang tipis mudah menyerap keringat dan tidak merangsang peningkatan suhu tubuh. d. Observasi intake dan output, tanda vital ( suhu, nadi, tekanan darah ) tiap 3 jam sekali atau lebih sering. Rasional : Mendeteksi dini kekurangan cairan serta mengetahui keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien. e. Kolaborasi : pemberian cairan intravena dan pemberian obat antipiretik sesuai program. Rasional : Pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tubuh yang tinggi. Obat khususnyauntuk menurunkan suhu tubuh pasien.

2. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler. Tujuan : Tidak terjadi devisit voume cairan / Tidak terjadi syok hipovolemik. Kriteria : Input dan output seimbang, Vital sign dalam batas normal (TD 100/70 mmHg, N: 80-120x/mnt), Tidak ada tanda presyok, Akral hangat, Capilarry refill < 3 detik, Pulsasi kuat. Intervensi : a. Observas vital sign tiap 3 jam/lebih sering Rasional : Vital sign membantu mengidentifikasi fluktuasi cairan intravaskuler b. Observasi capillary Refill Rasional : Indikasi keadekuatan sirkulasi perifer c. Observasi intake dan output. Catat jumlah, warna, konsentrasi, BJ urine. Rasional : Penurunan haluaran urine pekat dengan peningkatan BJ diduga dehidrasi. d. Anjurkan untuk minum 1500-2000 ml /hari (sesuai toleransi)

Rasional : Untuk memenuhi kabutuhan cairan tubuh peroral e. Kolaborasi : Pemberian cairan intravena, plasma atau darah. Rasional : Dapat meningkatkan jumlah cairan tubuh, untuk mencegah terjadinya hipovolemic syok. 3. Resiko Syok hypovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan, pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler. Tujuan : Tidak terjadi syok hipovolemik Kriteria : Tanda Vital dalam batas normal Intervensi : a. Monitor keadaan umum pasien Raional ; Untuk memonitor kondisi pasien selama perawatan terutama saat terdi perdarahan. Perawat segera mengetahui tanda-tanda presyok / syok b. Observasi vital sign setiap 3 jam atau lebih Rasional : Perawat perlu terus mengobaservasi vital sign untuk memastikan tidak terjadi presyok / syok c. Jelaskan pada pasien dan keluarga tanda perdarahan, dan segera laporkan jika terjadi perdarahan Rasional : Dengan melibatkan psien dan keluarga maka tanda-tanda perdarahan dapat segera diketahui dan tindakan yang cepat dan tepat dapat segera diberikan. d. Kolaborasi : Pemberian cairan intravena Rasional : Cairan intravena diperlukan untuk mengatasi kehilangan cairan tubuh secara hebat. e. Kolaborasi : pemeriksaan : HB, PCV, trombo Rasional : Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami pasien dan untuk acuan melakukan tindakan lebih lanjut.

4.

Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang menurun. Tujuan : Tidak terjadi gangguan kebutuhan nutrisi Kriteria : Tidak ada tanda-tanda malnutrisi, tidak terjadi penurunan berat badan, Nafsu makan meningkat, porsi makanan yang disajikan mampu dihabiskan klien, mual dan muntah berkurang. Intervensi :

a. Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai Rasional : Mengidentifikasi defisiensi, menduga kemungkinan intervensi b. Observasi dan catat masukan makanan pasien Rasional : Mengawasi masukan kalori/kualitas kekurangan konsumsi makanan c. Timbang BB tiap hari (bila memungkinkan ) Rasional : Mengawasi penurunan BB / mengawasi efektifitas intervensi.

d. Berikan / Anjurkan pada klien untuk makanan sedikit namun sering dan atau makan diantara waktu makan Rasional : Makanan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan masukan juga mencegah distensi gaster. e. Berikan dan Bantu oral hygiene. Rasional : Meningkatkan nafsu makan dan masukan peroral f. Hindari makanan yang merangsang (pedas / asam) dan mengandung gas. Rasional : Mencegah terjadinya distensi pada lambung yang dapat menstimulasi muntah. 5. Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan factor-faktor pembekuan darah ( trombositopeni ). Tujuan : Tidak terjadi perdarahan selama dalam masa perawatan. Kriteria : TD 100/60 mmHg, N: 80-100x/menit reguler, pulsasi kuat, tidak ada perdarahan spontan (gusi, hidung, hematemesis dan melena), trombosit dalam batas normal (150.000/uL). Intervensi : a. Anjurkan pada klien untuk banyak istirahat tirah baring ( bedrest ) Rasional : Aktifitas pasien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya perdarahan. b. Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang bahaya yang dapat timbul akibat dari adanya perdarahan, dan anjurkan untuk segera melaporkan jika ada tanda perdarahan seperti di gusi, hidung(epistaksis), berak darah (melena), atau muntah darah (hematemesis). Rasional : Keterlibatan pasien dan keluarga dapat membantu untuk penaganan dini bila terjadi perdarahan. c. Antisipasi adanya perdarahan : gunakan sikat gigi yang lunak, pelihara kebersihan mulut, berikan tekanan 5-10 menit setiap selesai ambil darah dan Observasi tanda-

tanda perdarahan serta tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu dan pernafasan). Rasional : Mencegah terjadinya perdarahan lebih lanjut. d. Kolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium secara berkala (darah lengkap). e. Monitor tanda-tanda penurunan trombosit yang disertai tanda klinis. Rasional : Penurunan trombosit merupakan tanda adanya kebocoran pembuluh darah yang pada tahap tertentu dapat menimbulkan tanda-tanda klinis seperti epistaksis, ptike. f. Monitor trombosit setiap hari Rasional : Dengan trombosit yang dipantau setiap hari, dapat diketahui tingkat kebocoran pembuluh darah dan kemungkinan perdarahan yang dialami pasien. g. Kolaborasi dalam pemberian transfusi (trombosit concentrate).