Anda di halaman 1dari 20

BST GANGGUAN CEMAS MENYELURUH

Oleh :

Sutan Malik Maulana Syah, S. Ked. (0818011097)

Pembimbing :

dr. High Boy K. Hutasoit

UNIVERSITAS LAMPUNG KEPANITERAAN KLINIK SMF ILMU KESEHATAN JIWA RUMAH SAKIT JIWA PROVINSI LAMPUNG BANDAR LAMPUNG MEI 2013

LAPORAN KASUS RAWAT JALAN


I. IDENTIFIKASI PENDERITA Nama Umur Jenis kelamin Agama Warganegara Alamat Pendidikan akhir Pekerjaan Status perkawinan Nomor CM Diperiksa oleh Tanggal pemeriksaan Tanggal penyajian II. PEMERIKSAAN FISIK A. STATUS INTERNUS Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Nadi Suhu Pernafasan Sistem Respiratorik Sistem Kardiovaskuler Sistem Gastrointestinal Sistem Urogenital : Baik : Compos Mentis : 110/70 mmHg : 104 x/menit : 36,8 C : 22 x/menit : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : Ny. T : 37 tahun : Perempuan : Islam : Indonesia, suku Lampung : Natar, Lampung Selatan : SMA : IRT : Sudah menikah : 020015 : Sutan Malik Maulana Syah : 2 Mei 2013 : Mei 2013

Kelainan Khusus

: tidak ada

B. STATUS NEUROLOGIKUS Rangsang meningeal Urat saraf kepala Sistem motorik Saraf vegetatif Fungsi luhur C. LABORATORIUM Hb Ht LED 1 jam Leukosit GDS Protein total SGPT/SGOT Ureum Kolesterol total Uric acid Trigliserida : 11,3 gram% ::: 8600/mm3 ::: 45 U/I / 30 U/I ::::: tidak ada : normal : normal : normal : normal

III. PEMERIKSAAN PSIKIATRI A. ANAMNESA Diperoleh dari : Autoanamnesa A1. SEBAB KE RSJ LAMPUNG : Pasien merasakan cemas karena penyakit Magh Kronis yang sudah lama dideritanya. Kepala terasa pusing, nyeri, dan bendenyut, sulit tidur, sering terbangun saat tidur dan sulit untuk tidur kembali sejak 2 minggu lalu.

A2. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG: 1 bulan terakhir ini, magh sering kambuh walau hanya berobat jalan, tetapi hilang timbul dan hanya keluhan ringan. Pasien merasakan cemas takut magh kronis nya kambuh lagi, takut merasakan sakit di perutnya, takut muntah-muntah hebat lagi, dan takut jika harus dirawat di RS kembali. Sejak 2 minggu lalu, setiap hari pasien sulit tidur, sering terbangun saat tidur dan sulit untuk tidur kembali, kepala terasa pusing, nyeri, dan bendenyut.

A3. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU 6 bulan yang lalu pasien dinyatakan menderita Magh Kronis. 3 bulan lalu pasien pernah dirawat di RSAM.

A4. RIWAYAT PENYAKIT FISIK & PEMAKAIAN OBAT TERLARANG Pasien tidak memiliki riwayat penyakit fisik. Pasien tidak memiliki riwayat kejang dan kejang demam. Pasien tidak memiliki riwayat pemakaian obat terlarang.

A5. TARAF FUNGSI PENYESUAIAN DALAM 1 TAHUN TERAKHIR Setelah pernah dirawat di RS Urip 3 bulan lalu karena magh kronisnya, pasien merasakan ketakutan dan cemas. Setelah pulang dari rumah sakit, magh nya jarang kambuh lagi sehingga fungsi penyesuaiannya dalam keadaan baik. Namun, dalam 1 bulan terakhir ini magh kronis nya sering kambuh dan mulai merasakan cemas sejak 2 minggu lalu, kegiatan sehari-hari menjadi terganggu

karena pasien merasakan kepala sakit berdenyut dan tidak konsentrasi, serta sulit tidur. A6. RIWAYAT PRAMORBID Riwayat kehamilan dan persalinan Ibu dalam keadaan sehat, cukup bulan dan lahir spontan. Riwayat bayi dan balita Pertumbuhan dan perkembangan seperti bayi pada umumnya. Makan, minum cukup, bergerak, mulai berbicara, merangkak dan berjalan dapat dilakukan sesuai waktunya. Riwayat anak dan remaja Pertumbuhan dan perkembangan sesuai usia, pergaulan cukup. Riwayat pendidikan Pendidikan terakhir pasien sampai dengan lulus SMA. Semua jenjang pendidikan diselesaikan pasien sesuai dengan waktunya. Pasien tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. A7. RIWAYAT PEKERJAAN Sejak menikah, pasien hanya sebagai Ibu Rumah Tangga. A8. RIWAYAT PERKAWINAN Sudah menikah ketika berusia 21 tahun.

A9. RIWAYAT KELUARGA Skema pohon keluarga :

Magh

Ket:

: Meninggal dunia (almarhum) : Laki-laki : Perempuan : Pasien : Tinggal dalam satu rumah

Tidak ada anggota keluarga pasien yang lain yang mengalami gangguan jiwa atau pernah sakit seperti pasien. Pasien merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.

\ A10. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI Suami pasien adalah seorang PNS dengan penghasilan cukup. Pasien tinggal bersama suami dan kedua orang anak nya yang masih sekolah. Kesan : Sosial ekonomi cukup. B. AUTOANAMNESIS T: Selamat siang ibu, Saya dokter muda Malik, Siapa nama ibu? J : Ibu T T: Umurnya berapa? J : 37 tahun T: Maaf ibu, pekerjaan saat ini apa? J: Ibu rumah tangga ajah dok, ngurus anak di rumah T: Oh begitu, Ibu tinggal dimana ? J : Saya tinggal di Natar dok T: Tadi kesininya sama siapa? (orientasi personal) J : Sendirian T : Keluhan yang membawa ibu datang berobat apa? J : Kepala saya terasa sakit berdenyut dok dan sulit tidur, sering terbangun pada malam hari dan lalu ga bisa tidur lagi. Rasanya ga tenang dok. T: Ibu kenapa ga tenang ? Sejak kapan ibu kayak seperti ini ? J : Gak tau cemas aja dok, takut magh kronis saya ini kambuh.. Akhir-akhir ini sering kambuh tapi ringan hanya perih saja di perut, saya takut dirawat lagi di rumah sakit, takut muntah-muntah hebat lagi, takut ini perut terasa amat perih.. Ini udh terjadi sekitar 2 minggu dok. T: memangnya ibu seja kapan menderita magh nya ? kok tahu magh kronis ?

J : Saya sudah pernah berobat ke dokter, katanya dokter tersebut saya menderita magh kronis sejak 6 bulan yang lalu. Bahkan saya trauma sekali sempat dirawat di RSAM sekitar 3 bulan yang lalu,, setelah pulang dari rumah sakit, alhamdulilah magh saya tidak pernah kambuh, tetapi 1 bulan terakhir ini perut saya sering perih lagi. T: Lalu kenapa ibu cemas ? J: iya dok, saya takut magh saya parah lagi sehingga harus dirawat di RS, dalam 2 minggu terakhir ini saya suka mulai pusing, kepala terasa sakit, tidur pun tidak nyenyak sama sekali.. Saya tidak tenang dok apa mungkin magh nya menjadi bertambah parah ? T: Ibu pernah mendengar suara bisikan-bisikan yang aneh ? atau melihat sesuatu yang aneh ? J : Tidak pernah dok T: Ibu selain penyakit magh, ada penyakit lain yang pernah diderita ? atau pernah mengalami riwayat trauma kepala atau penyakit otak ? J : Tidak ada dok T: Ibu pernah merasakan seperti dikejar-kejar orang seperti ada orang mau berniat jahat atau merasa dihina/dicurigai sama seseorang atau merasa rendah diri sehingga menjauh dari lingkungan sekitar ? J : Tidak pernah dok.. Keluhan saya cuma itu tadi.. Mohon diberi obat supaya penyakit saya ini sembuh.. kira-kira saya ini kenapa ya dok ? T : Ibu mungkin mengalami gangguan cemas akibat penyakit magh kronis yang ibu derita. nanti diberi obat untuk mengatasi gejala maghnya dan untuk mengatasi kecemasannya.. J : Terima kasih ya dok.. T : Sama-sama ibu.. Keterangan : T (Dokter muda). J (Pasien) C. STATUS PSIKIATRIKUS 1. Kesan Pertama : Seorang perempuan, rapi, dan bersih, muka kusut

2. Keadaan Umum Kesadaran Sikap Roman Muka Tingkah Laku Pembicaraan : jernih : kooperatif : Anxiety (cemas), Tension : normal : kuantitas cukup, kualitas baik

3. Keadaan Spesifik a. Gangguan Persepsi Halusinasi : tidak ada Ilusi : tidak ada

b. Gangguan Proses Pikir Bentuk Pikiran Kecepatan Proses pikir Mutu proses pikir Jelas dan tajam Sirkumstansial retardasi terhambat meloncat-loncat perseverasi verbigerasi asosiasi longgar jawaban irrelevan inkoheren blocking : jelas, cukup tajam : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : Realistic : Baik

isi pikiran pola sentral fobia : tidak ada : tidak ada

obsesi waham konfabulasi rasa permusuhan rasa bersalah rasa rendah diri rasa takut hipokondri kemiskinan isi pikiran

: tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : ada : tidak ada : tidak ada

c. Afek dan Reaksi Emosional afek hidup emosi pengendalian stabilitas echt un echt dalam dan dangkal arus emosi empati skala diferensiasi : appropriate : stabil : cukup : stabil : echt : dalam : cukup : dapat dirabarasakan : luas

d. Gangguan Orientasi waktu tempat orang : tidak ada : tidak ada : tidak ada : cukup : baik

e. Kontak Psikis f. Perhatian g. Gangguan Kecerdasan dan intelektual daya ingat

: jangka panjang baik,

10

jangka pendek baik, segera baik daya konsentrasi daya nilai daya pengertian diri : cukup : baik : cukup : tidak ada : cukup : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : ada

h. Kemunduran intelek i. Inisiatif hipobulia Raptus impulsilvus Deviasi seksual Stupor Vagabondage

j. Gangguan insting dan dorongan instingtual

k. Anxietas IV. PEMERIKSAAN TAMBAHAN EKG dalam batas normal. V. FORMULASI DIAGNOSTIK

Pasien bernama Ny. T berusia 37 tahun datang dengan kondisi fisik: keadaan umum baik, kesadaran compos mentis, TD: 110/70 mmHg, nadi: 104 x/menit, suhu: 36,8 C, pernafasan: 22 x/menit. Pasien datang ke RSJ propinsi Lampung dengan keluhan merasakan cemas karena penyakit Magh Kronis yang dideritanya. Kepala terasa pusing, nyeri, dan bendenyut, sulit tidur, sering terbangun saat tidur dan sulit untuk tidur kembali sejak kurang lebih 2 minggu lalu. Riwayat perkembangan pramorbid Status internus dan Neurologis Hasil laboratorium Stressor : ekstrovert. : dalam batas normal : SGPT dan SGOT normal : Penyakit magh kronis yang diderita

11

Pada pemeriksaan psikiatri didapatkan: 1. Keadaan Umum Kesadaran Sikap : jernih : kooperatif

Roman Muka : Anxiety (cemas), Tension Tingkah Laku Pembicaraan : normal : kuantitas cukup, kualitas baik

2. Keadaan Spesifik a. Gangguan Persepsi Halusinasi Ilusi : tidak ada : tidak ada

b. Gangguan Proses Pikir Bentuk Pikiran Kecepatan Proses pikir Mutu proses pikir Jelas dan tajam Sirkumstansial retardasi terhambat meloncat-loncat perseverasi verbigerasi asosiasi longgar jawaban irrelevan inkoheren blocking : jelas, cukup tajam : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : Realistic : Baik

12

isi pikiran pola sentral fobia obsesi waham konfabulasi rasa permusuhan rasa bersalah rasa rendah diri rasa takut hipokondri kemiskinan isi pikiran : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : ada : tidak ada : tidak ada

c. Afek dan Reaksi Emosional afek hidup emosi pengendalian stabilitas echt un echt dalam dan dangkal arus emosi empati skala diferensiasi : appropriate : stabil : cukup : stabil : echt : dalam : cukup : dapat dirabarasakan : luas : tidak ada : cukup : baik : tidak ada : cukup

d. Gangguan Orientasi e. Kontak Psikis f. Perhatian h. Kemunduran intelek i. Inisiatif

g. Gangguan Kecerdasan dan intelektual : tidak ada

j. Gangguan insting dan dorongan instingtual : tidak ada

13

k. Anxietas

: ada

Pemeriksaan tambahan : EKG dalam batas normal.

VI. PSIKODINAMIKA Ibu Rasbaiti yang berusia 37 tahun ini adalah seorang IRT dengan 3 orang anak, dimana nafkah keluarga hanya dari suami yang bekerja sebagai PNS. Riwayat pendidikan hanya tamat SMA. Ibu menikah pada usia 21 tahun.Setelah pernah dirawat di RSAM 3 bulan yang lalu karena magh kronisnya, pasien merasakan ketakutan dan cemas. Setelah pulang dari rumah sakit, magh nya jarang kambuh lagi sehingga fungsi penyesuaiannya dalam keadaan baik. Namun, dalam 1 bulan terakhir ini magh kronis nya sering kambuh dan mulai merasakan cemas sejak 2 minggu lalu, kegiatan sehari-hari menjadi terganggu karena pasien merasakan kepala sakit berdenyut dan tidak konsentrasi, serta sulit tidur. Teori psikologi Freud didasarkan atas keyakinannya bahwa dalam diri manusia terdapat suatu energi psikis yang amat dinamik, kekal, tidak bisa dihilangkan dan bila dihambat akan mencari saluran lain. Energi psikis inilah yang mendorong individu untuk bertingkah laku. Menurut psikoanalisis energi psikis itu bersumber pada fungsi psikis yang berbeda, yaitu: Id, Ego dan Superego. Id merupakan bagian yang paling primitif dalam kepribadian. Dorongandorongan biologis dasar seperti untuk makan, minum dan seksual adalah bagian dari Id. Dorongan-dorongan dalam Id selalu ingin segera dipuaskan. Id pada pasien ini adalah ingin rasa nyaman dan sehat. Ego adalah bagian eksekutif dari kepribadian. Fungsi Ego ini berguna untuk menyaring dorongan-dorongan yang ingin dipuaskan oleh Id berdasarkan kenyataan. Ego dari pasien ini adalah berobat ke dokter terhadap penyakit magh kronis yang ia derita agar sembuh total.

14

Superego, pada bagian ini terdapat nilai-nilai moral, yang memberikan batasan baik dan buruk. Nilai-nilai yang ada dalam Superego mewakili nilai-nilai ideal. Oleh karena itu, Superego selalu berorientasi pada kesempurnaan. Superego pada pasien ini adalah ternyata penyakit magh kronis yang ia alami saat ini sering kambuh-kambuh dan belum sembuh total. Faktor penyebab timbul kecemasan pada ibu ini adalah faktor biologis akibat penyakit magh nya dan faktor psikologis nya yang rentan. Menurut Sadock dan Kaplan (1997), faktor penyebab kecemasan adalah:

a. Faktor Biologis Kecemasan terjadi akibat dari reaksi saraf otonom yang berlebihan dengan naiknya sistem simpatis, terjadi peningkatan pelepasan kotekalamin dan naiknya norepineprin. b. Faktor Psikologis Ditinjau dari aspek psikoanalisa kecemasan dapat muncul akibat impuls-impuls bawah sadar (misalnya: sex, agresi, dan ancaman) yang masuk kealam sadar. Mekanisme pembekalan ego yang tidak sepenuhnya berhasil juga dapat menimbulkan kecemasan yang mengambang. Reaksi pergeseran dapat mengakibatkan reaksi fobia. c. Faktor Sosial Menurut teori belajar emosi dapat terjadi oleh karena frustasi, tekanan, konflik atau keadaan yang menurutnya tidak disukai oleh orang lain yang berusaha memberikan penilaian atas opininya. Kecemasan dapat diekspresikan secara langsung melalui timbulnya gejala atau mekanisme koping yang dikembangkan untuk menjelaskan asal kecemasan menurut Stuart dan Sunden (1998), yaitu : a. Faktor Psikoanalitik, kecemasan adalah konflik emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian id dan superego. Id mewakili dorongan

15

insting dan impuls primitif seseorang, sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh normanorma budaya seseorang. Ego atau Aku, berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen yang bertentangan, dan fungsi ansietas adalah mengingatkan ego bahwa ada bahaya. b. Faktor Interpersonal, bahwa kecemasan timbul dari perasaan takut terhadap tidak adanya penerimaan dan penolakan interpersonal. Kecemasan juga berhubungan dengan perkembangan trauma, seperti perpisahan dan kehilangan, yang menimbulkan kelemahan spesifik. Orang dengan harga diri rendah terutama mudah mengalami perkembangan kecemasan yang berat. c. Faktor Perilaku, kecemasan merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. d. Faktor Keluarga, kecemasan merupakan hal yang biasa ditemui dalam suatu keluarga. Ada tumpang tindih dalam gangguan kecemasan dan gangguan kecemasan dengan depresi. e. Faktor Biologik, menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor khusus untuk benzodiazepines. Reseptor ini mungkin membantu mengatur kecemasan. Penghambat asam aminobutirik-gamma neuroregulator (GABA) juga mungkin memainkan peran utama dalm mekaisme biologis berhubungan dengan kecemasan. Menurut para ahli psikofarmaka, Gangguan Kecemasan Menyeluruh bersumber pada neurosis, bukan dipengaruhi oleh ancaman eksternal tetapi lebih dipengaruhi oleh keadaan internal individu. Stresor pencetus kecemasan pada ibu ini adalah dari sumber internal karena ia mengalami cemas akan ketidakmampuan fisiologis yang akan datang serta berkurang nya kemampuan ia dalam melaksanakan aktivitas sehari-harinya akibat penyakit yang ia derita. Menurut Stuart, Gail W (2006), stresor pencetus kecemasan

16

mungkin berasal dari sumber internal maupun eksternal. Stresor dapat dikelompokkan dalam dua kategori yaitu: a. Integritas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis yang akan datang dan menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas ancaman terhadap hidup sehari-hari. Ancaman ini sangat mungkin atau dapat terjadi pada lansia. b. Ancaman terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan identitas, harga diri, dan fungsi sosial yang terinterogasi dalam diri seseorang. Individu yang mengalami Gangguan Kecemasan Menyeluruh, menurut pendekatan psikodinamika berakar dari ketidakmampuan egonya untuk mengatasi dorongan-dorongan yang muncul dari dalam dirinya secara terus menerus sehingga ia akan mengembangkan mekanisme pertahanan diri. Mekanisme pertahanan diri ini sebenarnya upaya ego untuk menyalurkan dorongan dalam dirinya dan bisa tetap berhadapan dengan lingkungan. Tetapi jika mekanisme pertahanan diri ini dipergunakan secara kaku, terus-menerus dan berkepanjangan maka hal ini dapat menimbulkan perilaku yang tidak adaptif dan tidak realistis. Ada beberapa mekanisme pertahanan diri yang bisa dipergunakan oleh individu, antara lain: 1. Represi, yaitu upaya ego untuk menekan pengalaman yang tidak menyenangkan dan dirasakan mengancam ego masuk ke ketidaksadaran dan disimpan di sana agar tidak menganggu ego lagi. Tetspi sebenarnya pengalaman yang sudah disimpan itu masih punya pengaruh tidak langsung terhadap tingkahlaku si individu. 2. Rasionalisasi, yaitu upaya ego untuk melakukan penalaran sedemikian rupa terhadap dorongan-dorongan dalam diri yang dilarang tampil oleh superego, sehingga seolah-olah perilakunya dapat dibenarkan.

17

3. Kompensasi, upaya ego untuk menutupi kelemahan yang ada di salah satu sisi kehidupan dengan membuat prestasi atau memberikan kesan sebaliknya pada sisi lain. Dengan demikian, ego terhindar dari ejekan dan rasa rendah diri. 4. Penempatan yang keliru, yaitu upaya ego untuk melampiaskan suatu perasaan tertentu ke pihak lain atau sumber lain karena tidak dapat melampiaskan perasaannya ke sumber masalah. 5. Regresi, yaitu upaya ego untuk menghindari kegagalan-kegagalan atau ancaman terhadap ego dengan menampilkan pikiran atau perilaku yang mundur kembali ke taraf perkembangan yang lebih rendah. Ibu ini memiliki mekanisme pertahanan diri yang kurang efektif karena ia melakukan mekanisme berupa regresi karena kecemasannya membuat ia selalu berpikir mengacu akan masa lalunya yang dulu pernah dirawat di RS sehingga membuat ia makin cemas.

VII. EVALUASI Pasien baru pertama kali ini berobat ke dokter psikiater. VIII. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL Aksis I Sindroma Klinik : F.41.1 Gangguan Cemas Menyeluruh Diagnosis Banding : Gangguan stres pasca-trauma Aksis II Aksis III Aksis IV Aksis V Tidak ada K00-K93 Penyakit sistem pencernaan (Magh Kronis) Tidak ada Taraf tertinggi penyesuaian dalam satu tahun terakhir : GAF 80 71; gejala sementara & dapat diatasi, disabilitas ringan dalam social, pekerjaan dan sekolah IX. TERAPI

18

1. Psikofarmaka

Clozapine (Clozaril) 25 mg tab 0-0-1

Courage 15mg Alprazolam 0,5 mg Trihexipenidil 1 mg Risperidon 0,5 mg Vit B6 10 mg mf in Capsul 2x1

2. Psikoterapi : Systematic desentisitization : yaitu mengurangi kecemasan dengan menggunakan konsep hirarki ketakutan, menghilangkan ketakutan secara perlahan-lahan mulai dari ketakutan yang sederhana sampai ke hal yang lebih kompleks. Pemberian reinforcement (penguat) juga dapat digunakan dengan secara tepat memberikan variasi yang tepat antara pemberian reward- jika ia memperlihatkan perilaku yang mengarah keperubahan ataupun punishment jika tidak ada perubahan perilaku atau justru menampilkan perilaku yang bertolak belakang dengan rencana perubahan perilaku. Pendekatan kognitif : mengajak individu berpikir dan mendesain suatu pola kognitif baru. David Clark dkk (dalam Acocella dkk, 1996) mengembangkan desain kognitif yang melibatkan 3 bagian yaitu : 1. Identifikasi interpretasi negatif yang dikembangkan individu tentang sensasi tubuhnya 2. Tentukan dugaan atau asumsi dan arahkan alternatif intrepretasi, yang noncatastropic.

19

3. Bantu individu menguji validitas penjelasan dan alternatif-alternatif tersebut.

X. USUL_USUL Tes Kepribadian

XI. PROGNOSA Quo ad vitam Quo ad fungtionam Quo ad sanationam : dubia ad bonam : dubia ad bonam : dubia ad bonam

20