Anda di halaman 1dari 16

REFERAT

VITILIGO
Diajukan guna memenuhi salah satu syarat untuk mengikuti ujian selama stase Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin Di RSU TIDAR Magelang

Disusun Oleh : Herry Octa Winarto 98310189

Pembimbing : Dr. Hj. Endang T.S., Sp.KK

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA BAGIAN ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN RSU TIDAR MAGELANG 2004

LEMBAR PENGESAHAN

Telah disetujui dan disahkan di RSU TIDAR Magelang Pada tanggal . Oktober 2004

Mengetahui Pembimbing dan Penguji

(dr. Hj. Endang T.S., Sp.KK)

KATA PENGHANTAR

Assalammu alaikum Wr. Wb


Bismillahirrohmaanirrohim, Segala puja dan puji kami panjatkan kehadirat Allah Subhanaahu Wataala, atas segala limpahan nikmatNya kepada kita semua hingga jaman ini. Sholawat dan salaam semoga tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Alhamdulillah, akhirnya dapat terselesaikan juga refrat yang berjudul Vitiligo. Refrat ini disusun untuk memenuhi sebagian syarat untuk mengkikuti ujian di bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin di Rumah Sakit Umum Tidar Magelang, dalam lain : dr. Hj. Endang, T. S., Sp.KK, selaku pembimbing selama stase Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin dan peguji referat ini. Teman-teman koasisten UMY. Perawat poli Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Umum Tidar Magelang Dan semua pihak yang turut berjasa yang tidak bisa disebutkan satupersatu disini. Akhirnya, kami menunggu saran dan kritik yang membangun untuk kemajuan kami selanjutnya dan seterusnya. Semoga Allah SWT selalu melindungi kita, amien. Alhamdulillahirobbil Alamin rangkaian kepaniteraan klinik Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Jogjakarta. Berbagai pihak yang banyak berjasa selama ini antara

Wassalamu alaikum Wr. Wb.

Magelang, Pebruari 2004 Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman Judul.... Halaman Pengesahan.

ii

Kata Pengantar iii Daftar Isi.. iv BAB I PENDAHULUAN.. 1 I. II. Latar 1 Tujuan Penulisan. 1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA.. 2 I. Definisi. 2 II. Umur 2 III. Penyebab..... 3 IV. Patofisiologi.. 3 V. Gambaran Klinis. 4 VI. Klasifikasi. 5 VII. Pemeriksaan penunjang.... 6 VIII. Diagnosis Banding.... 6 IX. Penatalaksanaan..... 7 BAB III KESIMPULAN..... 10 DAFTAR PUSTAKA.. 11 Belakang...

BAB I PENDAHULUAN I. LATAR BELAKANG Vitiligo adalah suatu jenis leukoderma spesifik yang ditandai oleh depigmentation epidermis yaitu hilangnya sebagian melanin (hypopigmentasi). Vitiligo juga merupakan suatu gangguan progresif di mana terdapat melanocytes di dalam interfollicular epidermis dan di dalam folikel rambut secara selektif dihancurkan. (www.Medicine.Net) Secara internasional: terdapat persentase Vitiligo secara relatif yaitu 1-2%. Sekitar 30% pasien, memiliki riwayat dengan faktor keluarga. Beberapa penelitian menunjukan adanya hubungan dengan autosomal dominan secara variabel Penyakit ini sendiri tidak diturunkan, tetapi mempunyai faktor predisposisi untuk vitiligo dapat diturunkan. HLA (human leukosit antigens) tidak menunjukkan asosiasi yang konsisten, misalnya, meningkatnya human leukocyte antigen DR4 ( HLA-DR4) pada ras kulit hitam, human leukocyte antigen B13 ( HLA-B13) pada ras yahudi Morocco , dan human leukocyte antigen B35 ( HLA-B35) pada ras yahudi Yemenit. Hubungan dengan HLA-B13 telah diuraikan didalam antithyroid antibodi. (www.eMedicine.com) Pada vitiligo awal, area yang berwarna putih tidak begitu jelas dan mungkin terasa gatal dan biasanya tanpa gejala.. Pada vitiligo yang terlambat diketahui, kecenderungan penyebarannya tidak dapat dihentikan. II. TUJUAN PENULISAN Tujuan penulisan ini adalah agar dapat mengetahui definisi, patofisiologi, manifestasi klinik sehingga dapat memberikan pengobatan yang sesuai.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA I. DEFINISI Vitiligo adalah suatu keadaan dimana terjadi hilangnya sejumlah melanosit yang menyebabkan timbulnya bercak- bercak halus berwarna putih dikulit. Vitiligo adalah suatu jenis penyakit yang tidak dikenal yang disebabkan oleh hancurnya melanosit didalam kulit, membrane mukosa, mata, telinga dalam, dan terutama di dalam folikel rambut. Hilangnya melanosit akan mengubah fungsi dan struktur diantara organ/ bagian badan dan menyebabkan hilangnya pigmen. (www.Medicastrore.com) Vitiligo juga merupakan penyakit yang mempengaruhi sekitar 1% dari populasi didunia, termasuk 1 juta sampai 2 juta orang di Amerika Serikat, ini terjadi pada orang dari semua etnik dan ras, dan tanpa membedakan jenis kelamin. Walaupun vitiligo dapat bermula dari bagian manapun dari integumentum, menifestasi yang pertama adalah hilangnya pigmen ( noda putih) pada kaki, lengan, wajah, dan bibir. Empatpuluh persen dari pasien mempunyai kelainan pigmentasi pada mata dan 5% hilangnya ketajaman visual, penglihatan pada malam hari yang lemah, atau photophobia. Penyakit pada umumnya bersifat progresif dan Depigmentasi secara spontan dapat sangat kecil. (www.eMedicine.com) Keterlibatan area yang terlihat , seperti kulit pada muka atau tangan, dan pada genitalia eksternal sering menyebabkan stress emosional yang serius. Pada penelitian didapatkan dua dari tiga pasien dengan vitiligo secara signifikan akan mendapat gangguan psychosocial oleh karena perubahan yang terjadi pada dirinya. (American Academy of Dermatology) II. UMUR Vitiligo bisa terjadi dari masa kanak-kanak sampai dewasa, walaupun serangan yang paling umum, terjadi pada usia 10-30 tahun. (www.eMedicine.com) Jarang terlihat pada bayi atau pada usia tua. kembali terjadi walaupun kemungkinannya

Rata-Rata umur terjadinya adalah sekitar umur 20 tahun, walaupun Umur terjadinya kadang bervariasi antara jenis kelamin.

III. PENYEBAB Ada Empat teori patogenesis yang telah didiskusikan, antara lain adalah: 1. Immune Hipotesis: keadaan immune yang menyimpang menghasilkan disfungsi melanosit atau perusakan melanosit. 2. Neural hipotesis: Suatu mediator neurochemical yang menghancurkan melanocytes atau menghalangi produksi melanin. 3. Self-Destruction hipotesis: Suatu intermediate atau produk dari metabolic dari sintese melanin yang menyebabkan perusakan melanocyte. 4. Genetic Hipotesis: Melanocytes mempunyai kelainan dan diferensiasi bawaan yang akan menghambat melanocytes normal. 5. Karena tidak satupun teori yang memuaskan, maka digunakan suatu hipotesis gabungan. IV. PATOFISIOLOGI Penyebabnya tidak diketahui, tetapi diduga melibatkan sistem kekebalan (reaksi autoimun). Vitiligo bisa terjadi setelah trauma fisik yang tidak biasa, terutama cedera kepala dan cenderung timbul bersamaan dengan penyakit tertentu, seperti: (www.Medicastrore.com) Penyakit Addison Diabetes Anemia pernisiosa Penyakit tiroid. Secara psikis, vitiligo bisa mengganggu penderitanya karena perubahan pigmentasi pada kulitnya tidak enak dipandang mata. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa Vitiligo mungkin bisa diturunkan dari keluarga, sehingga Anak-Anak yang orang tuanya menderita vitiligo, mempunyai kemungkinan lebih besar untuk mendapat vitiligo. Akan tetapi pada kasus lain ada anak-anak yang tidak mendapatkan virtiligo sekalipun orangtuanya vitiligo serta penderita dengan vitiligo bisa tidak mempunyai suatu riwayat keluarga yang menderita vitiligo.

Melanin adalah pigmen yang menentukan warna kulit, rambut, dan mata. Yang diproduksi di dalam sel melanocytes. Jika melanocytes tidak bisa membentuk melanin atau pengurangan jumlah melanin, warna kulit akan menjadi semakin terang. (www.Medicine.Net) Ada tiga teori yang menyebabkan vitiligo: (www.Skinsite.com) Pigmen Sel yang rusak karena tidak normalnya fungsi sel syaraf. Mungkin ada reaksi autoimmune terhadap sel pigmen ( tubuh dapat menghancurkan jaringannya sendiri, yang mana asing). Teori Autotoxic- sel pigmen adalah self-destructive. dipersepsikan sebagai benda

V. GAMBARAN KLINIS Vitiligo nampak sebagai macula yang berwarna putih, berbatas tegas, mencolok ketika kulit dipapar oleh karena sinar dan secara kosmetik sangat mengganggu. Pada mulanya, lesi sedikit, kecil, berbatas tegas, dibatasi foci, pada sekelilingnya tampak hyperpigmented. jumlah Lesi meningkat, dapat menjadi cofluent, dan kemudian dapat menyerupai bentuk bizarre. Lesi Vitiligo dapat bersifat lokal atau general, yang kemudian dapat bertambnah luas. Vitiligo yang terlokalisir terbatas pada satu area umum, yang termasuk didalamnya beberapa bagian atau distribusi quasi-dermatomal. Vitiligo general memperlihatkan lebih dari satu area yang terkena; macula pada umumnya ditemukan secara simetris maupun asimetris. Lokasi yang paling sering terjadi yaitu pada muka, leher, dan kulit kepala. lokasi kejadian yang paling umum adalah pada area yang sering terjadi trauma, meliputi sebagai berikut: Tulang Extensor lengan bawah Pergelangan tangan Tangan bagian dorsal Ruas jari tangan 8

Pada general vitiligo, Membrane mucus sering ditemui. Vitiligo juga sering terjadi pada orifisial body seperti bibir, alat kelamin, gingiva, areolae, dan puting susu. Pada macula vitiligo, Depigmentation rambut dapat terjadi. (www.aad.org) Vitiligo pada kulit kepala biasanya muncul sebagai patch yang terlokalisasi dengan rambut yang berwarna putih atau abu-abu, total depigmentation pada seluruh kulit kepala dapat terjadi. Perubahan warna yang sering terjadi pada kulit kepala diikuti alis mata, pubis, dan rambut axillary. Leukotrichia dapat menjadi pertanda dari prognosis yang jelek didalam repigmentasi. Berdasarkan aspek dari kemajuan penyakit, prognosis, dan perawatan, vitiligo juga dapat digolongkan ke dalam 2 jenis klinis, nonsegmental. Tipe Vitiligo segmental biasanya mempunyai onset dini pada awal kehidupan dan menyebar secara cepat didalam area yang terkena. Tipe Nonsegmental meliputi semua jenis vitiligo kecuali vitiligo yang segmental. yaitu segmental dan

VI. KLASIFIKASI Ada 2 bentuk vitiligo : 1. Lokalisata yang dapat dibagi lagi : a. fokal : satu atau lebih macula pada satu area, tetapi tidak segmental b. segmental : satu atau lebih macula pada satu area, dengan distribusi menurut dermatom, misalnya satu tungkai c. mucosal : hanya terdapat pada membrane mukosa jarang penderita vitiligo lokalisata yang berubah menjadi generalisata. 2. Generalisata hampir 90 % penderita secara generalisata dan biasanya simetris. Vitiligo generalisata dapat dibagi lagi menjadi : a. akrofasial : depigmentasi hanya terjadi dibagian distal ekstremitas dan muka, merupakan stadium mula vitiligo yang generalisata b. vulgaris : macula tanpa pola tertentu dibanyak tempat

c. campuran : depigmentasi terjadi menyeluruh atau hamper menyeluruh merupakan vitiligo total.

VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG Walaupun diagnosa dari vitiligo biasanya dibuat secara klinis, pemeriksaan dengan biopsi adakalanya mungkin dapat menolong untuk membedakan vitiligo dari hypopigmentasi lainnya . Vitiligo mungkin dapat dihubungkan dengan penyakit autoimmune yang lain, terutama diabetes melitus dan penyakit tiroid. Penyakit autoimmune lain yang dapat dihubungkan dengan termasuk anemia pernisiosa, penyakit Addison, dan alopecia areata. Pasien seharusnya lebih waspada apabila ada gejala dan tanda yang menandakan terjadinya hypothyroidisme, diabetes, atau penyakit autoimmune yang lain. Jika gejala atau tanda terjadi, test yang sesuai harus dilakukan. (www.eMedicine.com) Thyroid-Stimulating hormon ( TSH) test adalah menjadi pemeriksaan yang paling hemat biaya untuk pemeriksaan penyakit tiroid. Pemeriksaan untuk diabetes dapat terpenuhi dengan pemeriksaan gula darah puasa atau hemoglobin glycosylated. Tes lain yang dapat digunakan untuk mendiagnosis vitiligo adalah dengan pemeriksaan dengan wood lamp. (www.aad.org) Pemeriksaan histopatologi : dengan pewarnaan hematoksilin eosin (HE) tampaknya normal kecuali tidak ditemukan melanosit, kadang-kadang ditemukan limfosit pada tepi macula. Reaksi dopa untuk melanosit negative pada daerah apigmentasi, tetapi meningkat pada tepi yang hiperpigmentasi. Pemeriksaan biokimia : pemeriksaan histokimia pada kulit yang diinkubasi dengan dopa menunjukan tidak adanya tirosinase. Kadar tirosin plasma dan kulit normal. VIII. DIAGNOSIS BANDING Sebagai diagnosis banding ialah piebaldisme, sindroma wardenburg, dan sindroma woolf. Vitiligo segmental harus dibedakan dengan nevus pigmentosus, tuberosklerosis, dan hipomelanositosis. Lesi tunggal atau sedikit harus dibedakan

10

dengan tinea vesikolor, pitiriasis alba, hipomelanosis gutata, dan hipopigmentasi pasca inflamasi.

IX. PENATALAKSANAAN Terapi medis : Tidak ada therapy tunggal untuk vitiligo yang diramalkan dapat menghasilkan hasil yang memuaskan pada semua pasien; respon terhadap terapi sangat bervariasi pada masing-masing individu. (www.aad.org) Photochemotherapy Systemic dapat membuat repigmentasi, yang memuaskan dalam hal kosmetik dengan prosentase sekitar 70%, pada kasus vitiligo dini dan yang terlokalisasi. Terapi PUVA ( 8-methoxypsoralen, 5-methoxypsoralen, trimethylpsoralen + UVA ) adalah merupakan pilihan yang paling praktis untuk terapi, terutama pada vitiligo yang tersebar luas, pada pasien dengan tipe kulit IV-VI. (www.Skinsite.com) hasil Yang terbaik dapat diperoleh pada bagian muka dan bagian proximal dari ekstremitas. Vitiligo yang terdapat pada bagian belakang dari kaki dan tangan bersifat sangat resisten terhadap therapy. Steroids Systemic (prednisone) dapat digunakan, walaupun penggunaannya diperpanjang dan efek toxicas yang tidak diinginkan dapat terjadi. Steroids dapat diberikan dengan dosis yang rendah untuk memperkecil efek yang kurang baik. Manfaat dan toxicas dari therapy ini harus dipertimbangkan secara hati-hati. beberapa penelitian diperlukan untuk menetapkan efektivitas dan keamanan pada therapy vitiligo. preparat steroid topical merupakan pilihan terapi untuk local vitiligo. Terapi jangka panjang pada depigmentation, social dan emosional pasien harus dipertimbangkan.

11

Depigmentation seharusnya tidak dicoba kecuali jika pasien yang secara penuh memahami bahwa prosedur yang biasanya dilakukan dapat mengakibatkan depigmentation permanen.

Kream monobenzylether hydroquinone 20% digunakan dua kali sehari selama 3-12 bulan. Rasa terbakar atau menimbulkan rasa gatal dapat terjadi. Dermatitis kontak alergi dapat terjadi.

PUVA topical bermanfaat pada beberapa pasien dengan lesi lokal. solusio dan kream 8-methoxypsoralen (dengan konsentrasi 0.1-0.3% ) sudah tersedia untuk terapi ini. Digunakan 30 menit sebelum radiasi UV-A ( pada umumnya 0.1-0.3 J/Cm2 UV-A). digunakan satu sampai dua kali seminggu. Penggunaan UV-A Tambahan harus dihindarkan karena akan membuat kulit menjadi sensitif. Rasa terbakar yang mengganggu dapat terjadi jika pasien menerima UV-A ekspose tambahan. Sunscreens harus diberikan kepada semua pasien dengan vitiligo untuk memperkecil resiko terbakarnya kulit sinar matahari atau kerusakan kulit akibat sinar matahari yang mengakibatkan depigmented kulit. Pasien harus memahami bahwa sunblocks memiliki kemampuan terbatas untuk menyaring sinar UV-A. Terapi operatif : Pasien yang mempunyai area vitiligo yang kecil dengan aktivitas yang stabil

dapat dilakukan tindakan bedah, transplantasi (pencangkokan). Punch grafts specimen punch biopsi dari suatu lokasi pigmentasi dari pendonor dicangkok ke dalam lokasi yang mengalami depigmentasi. repigmentasi dan penyebaran warna dimulai sekitar 4-6 minggu post graft. Minigrafts Dari graft pendonor yang kecil dimasukkan/disisipi ke dalam goresan/ukiran lokasi penerima dan ditekan pada pemakaiannya. graft milai bekerja dan mulai repigmentasi di dalam 4-6 minggu. Beberapa pebbling mungkin tetap ada tetapi dalam jumlah yang kecil, dan hasil kosmetik yang dihasilkan cukup memuaskan. 12

Suction blister Epidermal graft diperoleh dari vacuum suction yang umumnya pada tekanan 150 mm Hg. Lokasi penerima dapat disiapkan dengan pengisapan, pembekuan, atau dermabrasion pada lokasi, 24 jam sebelum grafting. Depigmentasi yang melepuh dibuang dan epidermal graft dari pendonor ditempatkan pada area vitiligo. Micropigmentation Tattoo dapat digunakan untuk repigmentasi pada depigmentasi kulit, terutama pada individu yang berkulit gelap. Memadukan warna sangat sulit dan warna cenderung mudah untuk memudar. Kulit dapat dicelupkan kedalam preparat dihydroxyacetone, walaupun dalam prosesnya warna sering menjadi lemah/kabur.

13

BAB III KESIMPULAN

Vitiligo adalah suatu kondisi umum yang mempengaruhi 1-2% orang-orang di seluruh dunia. Vitiligo pada umumnya terliihat sebagai patch dari depigmented kulit yang putih. Sel yang secara normal menghasilkan pigmen kulit ( melanocytes) dihancurkan oleh vitiligo. Rambut yang berada di dalam area yang dipengaruhi oleh vitiligo dapat juga berubah menjadi putih. Kecenderungan kearah vitiligo dihubungkan dengan penyakit autoimmune. Sejumlah penyakit genetic juga dihubungkan dengan vitiligo. Patch putih pada kulit dapat menyebar secara progresif dibeberapa area tubuh. Terapi medis dan terapi operatif telah ditetapkan untuk vitiligo.

14

DAFTAR PUSTAKA American Academy of Dermatology, Guidelines of Care for Vitiligo, 2004 Rajesh, Shah, Dr., TREATMENT OF VITILIGO, 2004 Rajesh, Shah, Dr., Vitiligo (Leucoderma), 26 oktober 1997 MedlinePlus Medical Encyclopedia, Vitiligo, 28 September 2004 Vitiligo Support International, Frequently Asked Questions About Vitiligo (FAQ), 2004 www.aad.org, Questions and Answers about Vitiligo, May 2001 www.eMedicine.com, Vitiligo, October 9, 2001 www.Dermadoctor.com, Vitiligo, July 17, 2002 www.DermNet NZ, Vitiligo, 05 Sep 2004 www.Medicastrore.com, Vitiligo, 18 oktober 2004 www.Medicine.Net, Vitiligo, 2004 www.Patient.co.uk, Vitiligo, 2004 www.Skinsite.com, Vitiligo, 2003 www.yahoo.com, Vitiligo, A.D.A.M., Inc, 2004

15

16