Anda di halaman 1dari 4

Bronkiolitis merupakan penyakit saluran napas yang terjadi pada bayi. Pada bronkiolitis terjadi inflamasi pada bronkiolus.

Menurut AAP guideline, bronkiolitis adalah gejala dan tanda klinis dari infeksi saluran infeksi saluran nafas atas yang diikuti dengan meningkatnya usaha nafas dan wheezing pada anak berusia di bawah 2 tahun. Bronkiolitis terjadi pada anak berusia 2 samapi 24 bulan paling sering terjadi pada bayi berusia diantara 2 sampai 6 bulan. Bronkiolitis adalah penyebab utama bayi berusia dibawah 1 tahun dirawat di rumah sakit. Bronkiolitis lebih sering terjadi pada anak laki-laki dari pada anak perempuan. Insidensi bronkiolitis terbanyak pada musim dingin atau musim hujan pada negara tropis. Bronkiolitis disebabkan oleh virus musiman terutama musim dingin yaitu RSV. Dapat juga disebabkan oleh Adenovirus, virus Influenza, virus parainfluenza, Rhinovirus, dan mikoplasma. Faktor risiko penyebab bronkiolitis adalah bayi prrematur, antibodi yang kurang, jenis kelamin laki-laki, tidak atau sedikit mendapat ASI, hidup di lingkungan yang padat penduduk, dan berasal dari keluarga sosio-ekonomi rendah. Penyakit bronkiolitis akan lebih berat pada bayi yang berusia lebih muda berusia kurang dari 3 bulan, bayi dengan masa gestasi kurang dari 34 minggu, bayi yang terpapar asap rokok, ditemukan sianosis, saturasi oksigen kuang dari 90%, laju respiratori lebih dari 70 kali per menit, adanya ronki, dan riwayat dysplasia bronkopulmoner. Anak yang terpapar asap rokok meningkatkan risko terjadinya bronkiolitis sebanyak 2,87 kali daripada anak yang tidak terpapar asap rokok. Anak yang mendapat ASI mempunyai imunitas terhadap infeksi RSV ddan ASI juga dapat menetralisasi RSV. Kasus ini Diagnosis dapat ditegakkan melalui anamnesis riwayat penyakit, pemeriksaan fisis, umur pasien anak, dan adanya epidemic dari RSV dari lingkungan sekitarnya. Pasien biasanya adalah anak berusia di bawah 2 tahun dengan gejala klinis bronkiolitis yaitu pilek, batuk, demam, sesak napas,dan wheezing yang muncul pertama kali. Pada pemeriksaan fisik pasien akan ditemukan wheezing dan ekspirasi yang memanjang karena adanya obstruksi saaluran napas. Usaha pernapasan akan menyebabkan adanya pernapasan cuping hidung dan retraksi otot-otot dinding dada. Ronki dan sianosis juga dapat ditemukan. Gejala klinis bronkiolitis dapat memburuk pada 3 samapi 5 haripertama. Median durasi timbulnya gejala pada pasien yang terinfeksi RSV adalh 12 hari. Anak denagn kelainan jantung bawaan, dysplasia bronkopulmoner, dan defisiensi imun, memperburuk keadaan penyakit. Pada salah satu penelitian di New Yorkditemukan bahwa pengukuran saturasi pada monitor merupakan predictor penting untuk perawatan penderita bronkiolitis dan lamanya rawatan. Hipoksia biasanya penyebab anak dirawat di rumah sakit. Saturasi oksigen yang tinggi di atas 90% memperpendek masa rawatan Pada kasus ini, pasien adalah anak Untuk diagnosis, menemukan adanya RSV dapat dilakukan kultur virus dan pemeriksaan PCR. Pemeriksaan darah rutin tidak spesifik untuk menegakkan diagnosisbronkiolitis. Pemeriksaan

darah rutin, jumlah leukosit biasanya normal. Pada pasien ini, tidak dilakukan kultur virus dan pemeriksaan PCR karena pemeriksaan tidak tersedia. Pada pemeriksaan laboratorium pasien ini, jumlah leukosit meningkat. Gambaran radiologis dada penderita bronkiolitis tidak spesifik, berupa hiperinflasi paru, diafragma datar, dan infiltrat pada lapangan paru. Dimana gambaran ini juga ditemukan pada asma maupun pneumonia. Sekitar 25% dari penderita bronkiolitis yang dirawat, mempunyai gambaran radiologis dada adanya infiltrate atau salah diagnosis menjadi sangkaan pneumonia oleh bakteri. Gambaran atelektasis bias ditemukan akibat secret pekat bercampur sel-sel mati menyumbat saluran napas. Pada gambaran radiologis pasien ini ditemukan infiltrate Dalam penegakan diagnosis bronkiolitis, perlu memperhatikan manifesstasi klinis yang menyerupai penyakit lain. Diagnosis banding sebaiknya dipikirkan misalnya asma, bronchitis, edema paru, dan pneumonia. Untuk menegakkan diagnosis bronkiolitis anak, penting untuk memperhatikan epidemiologi, rentang usia terjadinya kasus, dan musim tertentu dalam satu tahun. Pada kasus ini diagnosis banding bronkiolitis pada pasien ini adalahbronkopneumonia, namun sesuai dengan gejala awal batuk dan pilek, anak berusia di bawah 24 bulan, maka diagnosis pasien ini adalah bronkiolitis. Tatalaksana bronkiolitis pada bayi bersifat suportif, yaitu pemberian oksigen minimal handling pada bayi, cairan intravena dan kecukupan cairan, penyesuaiansuhu lingkungan agar konsumsi oksigen minimal, tunjangan respirasi bila perlu dan nutrisi. Penderita bronkiolitis akan mengalami takipnu, menyebabkan kehilangan cairan akan meningkat, dan sulit untuk minum, sehingga akan mudah dehidrasi, jadi diperlukan cairan yang adekuat juga pemasangan NGT untuk asupan nutrisi. Pemberian oksigen diperlukan untuk mengurangi usaha nafas dan mengurangi hipoksemia. Pemberian oksigen dapat diberikan dengan kanula nasal, head box, masker. Pada kasus yang berat, sekita2-5% penderita bronkiolitis mengalami gagal napas dan membutuhkan Continious positive airway pressure atau ventilator. Tatalaksana farmakologis bronkiolitis yang masih kontroversi yaitu penggunaan bronkodilator, anti-inflamasi, antiviral dan antibiotic. Pada bronkiolitis terjadi inflamasi dan penyempitan saluran napas akibat edema mukosa, serta kolapsnya saluran pernapasan pada bayi sehingga pendekatan logis terapi bronkodilator dibenarkan. Bronkodilator yang biasa digunakan adalh agonist dan -agonist.

Pemberian kotikosteroid juga masih kontroversi. Pada review beberapa penelitian, menunujukkan bahwa pemberian kortikosteroid tidak perlu diberikan pada pasien bronkiolitis, karena tidak mengurangi lama rawatan. Namun pada penelitian lainnya, penggunaan kortikosteroid seperti dexamethasone membuktikan dapat mengurangi lama rawatan penderita

bronkiolitis. Pada meta-nalisis dari 48 penelitian, pemberian gabungan dexamethasone dan epineprin menunjukkan efektifitas yang baik pada pengobatan bronkiolitiss. Pada suatu penelitian di Kanada, anak denagn brinkilitis yang mendapatkan terapi gabunga nebulisasi epineprin dan dexamethasone oral akan mengurangi lama rawatannya di rumah sakit. Pemberian kombinasi epinefrin dan dexamethasone ini menunjukkan efek perbaikan klinis pada hari ketiga rawatan dan dapat mengurangi lama rawatan. Pemberian antibiotika pada bronkiolitis diberikan apabila disangkakakn adanya infeksi sekunder bakteri. Namun bakteremia pada penderita bronkiolitis jarang ditemukan. Pasien bayi bronkiolitis biasanya mendapat antibiotik karena adanya demam, umur yang masih muda, dan disangkakan adanya infeksi sekunder bakteri. Penderita bronkiolitis yang dirawat dengan ventilator, resiko terinfeksi bakterinya tinggi, dapat diberikan antibiotic. Pada suatu penelitian di Bangladesh, penderita bronkiolitis tidak perlu mendapat antibiotic, karena perbaikan klinis penderita dengan atau tanapa pemberian antibiotik adalah sama. Indikasi pemeberian antiviral pada bronkiolitis masih kontroversi. Antiviral yang diberikan adalah ribavirin, suatu purin nucleoside derivate guanosine sintetik bekerja mempengaruhi pengeluaran mRNA virus yang mencegah sintesi s protein. Ribaviirn digunakan dalam bentuk aerosol. Beberapa penelitian menunjukkan efek yang menguntungkan sedangkan ada penelitian yang menyatakan tidak menguntungkan sedangkan ada penelitian menyatakan tidak menguntungkan. Ribavirin sebaiknya digunakan pada penderita yang mempunyai kondisi penyakit yang berat Pada kasus ini, pasien diberikan terapi suportif, yitu pemberian oksigen mealui nasal kanul. Pasien diberikan cairan intravena D5% NaCl 0,225%. Pemberian diet susu formula sesuai dengan kebutuhan ccairan berdasarkan usia dan berat badan melalui NGT. Pada pasien ini tidak diberikan bronkodilator baik secara oral maupun nebulisasi, namun pasien diberikan injeksi dexamethasone. Pada pasien ini juga diberikan antibiotic yaitu injeksi ampicilin dan gentamycin. Antiviral tidak diberikan. Pasien ini juga dinebulisasi denagn larutan saline yaitu NaCl 0,9% dan rutin melakukan fisioterapi dada setiap hari. Kesimpulan Telah dilaporkan kasus bronkiolitis pada anak perempuan yang berusia 5 tahun. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisisk. Setelah dirawat selama 7 hari dan mendapat pengobatan, kondisi pasien mengalami perbaikan dan pasien selanjutnya disarankan untuk control kembali ke poliklinik respirologi anak.

Tatalaksana bronkiolitis pada bayi bersifat suportif, yaitu pemberian oksigen minimal handling pada bayi, cairan intravena dan kecukupan cairan, penyesuaiansuhu lingkungan agar konsumsi oksigen minimal, tunjangan respirasi bila perlu dan nutrisi. Penderita bronkiolitis akan mengalami takipnu, menyebabkan kehilangan cairan akan meningkat, dan sulit untuk minum, sehingga akan mudah dehidrasi, jadi diperlukan cairan yang adekuat juga pemasangan NGT untuk asupan nutrisi. Pemberian oksigen diperlukan untuk mengurangi usaha nafas dan mengurangi hipoksemia. Tatalaksana farmakologis bronkiolitis yang masih kontroversi yaitu penggunaan bronkodilator, anti-inflamasi, antiviral dan antibiotic. Pada bronkiolitis terjadi inflamasi dan penyempitan saluran napas akibat edema mukosa, serta kolapsnya saluran pernapasan pada bayi sehingga pendekatan logis terapi bronkodilator dibenarkan. Bronkodilator yang biasa digunakan adalh agonist dan -agonist. Pemberian antibiotika pada bronkiolitis diberikan apabila disangkakakn adanya infeksi sekunder bakteri. Namun bakteremia pada penderita bronkiolitis jarang ditemukan. Pasien bayi bronkiolitis biasanya mendapat antibiotik karena adanya demam, umur yang masih muda, dan disangkakan adanya infeksi sekunder bakteri. Pada kasus ini, pasien diberikan terapi suportif, yitu pemberian oksigen mealui nasal kanul. Pasien diberikan cairan intravena D5% NaCl 0,225%. Pemberian diet susu formula sesuai dengan kebutuhan ccairan berdasarkan usia dan berat badan melalui NGT. Pada pasien ini tidak diberikan bronkodilator baik secara oral maupun nebulisasi, namun pasien diberikan injeksi dexamethasone. Pada pasien ini juga diberikan antibiotic yaitu injeksi ampicilin dan gentamycin. Antiviral tidak diberikan. Pasien ini juga dinebulisasi denagn larutan saline yaitu NaCl 0,9% dan rutin melakukan fisioterapi dada setiap hari.