Anda di halaman 1dari 2

Xiao, F., Tseng M.Y., Teng L.J., Tseng H.M., Tsai J.C.

, Brain abscess: clinical experiance and analysis of prognostic factors. Surgical neurology. 2005;63:442-50 ABSES CEREBRI: PROGNOSIS PENGALAMAN KLINIS DAN ANALISIS FAKTOR-FAKTOR

Latar belakang. Lebih dari 2 dekade, diagnosis dan terapi abses cerebri difasilitasi oleh perkembangan teknologi sehingga menghasilkan peningkatan luaran secara signifikan. Tujuan studi ini adalah untuk melihat kembali berdasarkan pengalaman untuk menentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan luaran dan meningkatkan strategi terapi untuk penyakit tersebut. Desain penelitian. Sejak tahun 1986-2002, didapatkan 178 pasien dengan abses cerebri oleh karena bakterial yang dirawat di The National Taiwan University, di Taipeh, Taiwan. Dilakukan review secara retrospektif mengenai presentasi klinis, bakteriologi, terapi, dan luaran. Perbandingan antara 2 kelompok dianalisis menggunakan x2, fischer exact test, atau t test. Sedangkan multivariat dianalisis menggunakan regresi logistik dengan backward selection untuk melihat kovariat yang berhubungan secara independen dengan luaran. Hasil. Sejumlah 111(62%) pasien dengan luaran yang baik, 14(8%) disabilitas berat, 9(5%) menjadi vegetatif, dan 44(25%) meninggal selama perawatan. Pasien dengan nilai Glasglow Coma Scale (GCS) baik pada saat masuk, tanpa penyakit yang mendasari, kultur positif, terapi bedah mempunyai luaran yang lebih baik. Pasien dengan carsinoma nasopharyngeal, sindrom imunodefisiensi didapat, penyakit hematologi, abses dalam, atau hanya mendapatkan terapi medikamentosa mempunyai luaran yang lebih buruk. Analisis multivariat menunjukkan bahwa hanya GCS, imunodefisiensi, dan adanya penyakit yang mendasari yang berhubungan dengan luaran. Simpulan: Faktor prognosis buruk pada pasien dengan abses cerebri adalah GCS yang rendah, imunodefisiensi, dan adanya penyakit yang mendasari. Terapi bedah agresif yang terindikasi dan pengelolaan spesimen untuk kultur dapat meningkatkan luaran. A. Apakah penelitian ini valid? 1. Apakah sampel penelitian mempunyai variasi klinis sesuai perjalanan alamiah penyakitnya dan ditetapkan dengan kriteria diagnosis yang jelas? Ya, diagnosis abses cerebri ditetapkan berdasar hasil CT Scan atau Magnetic Resonance Imaging ( MRI ). Subyek didiagnosis abses serebri bila pada hasil CT scan kepala atau MRI menunjukkan adanya lesi di parenkim otak yang terlokalisir dengan edema perifokal dan adanya ring enhancement setelah pemberian kontras , serta berhubungan dengan salah satu kondisi berikut ini : didapatkan kultur positif, adanya pus saat aspirasi intraserebral, gambaran histologi sugestif abses cerebri dan adanya perbaikan setelah pemberian antibiotik. Gejala klinis yang muncul sesuai dengan gambaran klinis abses serebri seperti demam, penurunan kesadaran, kejang, dan defisit neurologis fokal. 2. Apakah pemantuan pasien dilakukan cukup lama dan lengkap Ya. Untuk melihat luaran waktu observasi adalah sesuai dengan lama rawat inap pasien di RS. Dari 178 pasien , sebanyak 25% meninggal di rumah sakit 3. Apakah kriteria penilaian luaran penelitian dilakukan secara obyektif? Ya. Luaran penelitian berupa disabilitas dalam aktivitas sehari-hari maupun kematian selama periode perawatan dan tercatat dalam rekam medis. 4. Apakah ada penyesuaian / adjustment untuk faktor faktor prognostik penting dan validasi pada pasien subgrup yang diidentifikasi secara terpisah? Ya. Dilakukan

B. Apakah hasil valid dari penelitian tentang aspek prognostik ini penting? 1. Seberapa besar perkiraan kejadian dalam periode waktu tertentu? Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam rerata periode follow up selama 32 hari, 17% pasien sindrom down yang dirawat dengan sepsis meninggal. Risiko kematian pasien sindrom down yang dirawat dengan sepsis 1,3 kali lebih tinggi dibanding pasien sepsis yang bukan sindrom down. 2. Seberapa tepat perkiraan prognosisnya? Ketepatan perkiraan jurnal prognosis ditentukan dengan interval kepercayaan. Pada penelitian interval kepercayaan 95% (1,29-1,89). Dengan penyesuaian terhadap faktor perancu. C. Apakah hasil yang valid dan penting dapat diterapkan pada pasien kita? 1. Apakah pasien kita sangat berbeda sehingga kita tidak dapat menerapkan pada pasien kita? Tidak, pasien kita adalah pasien sindrom Down yang menjalani perawatan dengan pneumonia yang berisiko tinggi untuk berkembang menjadi sepsis. 2. Apakah jurnal ini memiliki pengaruh klinis yang penting dalam pengambilan keputusan mengenai apa yang perlu dijelaskan pada pasien kita? Ya, berdasar temuan ini kita dapat memberikan penjelasan kepada orang tua bahwa risiko kematian pasien sepsis dengan sindrom Down lebih tinggi dibanding pasien sepsis yang bukan sindrom Down. Selain itu, dengan tingginya risiko kematian tindakan antisipatif diperlukan agar pasien tidak jatuh dalam kondisi infeksi sistemik.

Simpulan: Jurnal ini valid, penting dan dapat diterapkan