Anda di halaman 1dari 21

Etika Kedokteran dan Rahasia Kedokteran

Kurniawati Hesli Pratiwi


10.2009.238 Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jalan Terusan Arjuna No.6, Jakarta 11510 Nia.suddin@rocketmail.com

PENDAHULUAN
Di dalam praktek kedokteran terdapat aspek etik dan aspek hukum yang sangat luas, yang sering tumpang tindih pada suatu isu tertentu, seperti pada informed concent, wajib simpan rahasia kedokteran, profesionalisme, dan lain sebagainya. Bahkan di dalam praktek kedokteran, aspek etik seringkali tidak dapat dipisahkan dari aspek hukumnya, oleh karena banyaknya norma etik yang telah diangkat menjadi norma hukum, atau sebaliknya norma hukum yang mengandung nilai-nilai etika.1 Dengan menyandang profesi kedokteran, segala tindakan yang dilakukan dokter didasari oleh etika dan moral profesi kedokteran. Sebagai dokter, kita harus tahu apa saja hak-hak pasien yang tidak bisa kita langgar. Tindakan kita pun untuk menangani segala pasien tidak boleh merugikan pasien atau mengambil keuntungan dari pasien. Apabila dokter melanggar etika dan moral tersebut ada aspek hukum yang berlaku sesuai dengan tindakan yang dilakukannya. Untuk itu sebagai dokter penting mengetahui prinsip-prinsip etika kedokteran, hubungan dokter-pasien. Sebagai seorang dokter harus bisa tulus menjalani tugasnya. Dalam hatinya selalu menanamkan prinsip untuk memberi tanpa mengaharapkan pamrih. Untuk itu rangkuman ini dibuat agar kita pembaca dapat mengerti etika dan moral profesi di dunia kedokteran. Sama halnya dengan kasus yang diperoleh, dimana ada seorang pasien laki-laki datang ke praktek dokter. Pasien ini dan keluarganya adalah pasien lama dokter tersebut. Kali ini pasien laki-laki ini datang sendirian dan mengaku telah melakukan hubungan dengan teman wanita lain seminggu yang lalu. Sesudah itu ia masih tetap berhubungan dengan istrinya. Dua hari terakhir ia mengeluh bahwa alat kemaluannya mengeluarkan nanah dan terasa nyeri. Setelah di periksa ternyata ia menderita GO. Pasien tidak ingin diketahui oleh istrinya, karena bisa terjadi pertengkaran diantara keduanya. Dokter tahu bahwa mengobati
1

penyakit tersebut pada pasien ini tidaklah sulit, tetapi oleh karena ia telah berhubungan juga dengan istrinya maka mungkin istri juga sudah tertular. Untuk itu istrinya juga harus di obati. Didalam makalah ini juga akan membahas tentang etika kedokteran, informed concent, rahasia kedokteran, hukum yang terkait, penyakit GO dan AIDS yang terkait kasus diatas.

PEMBAHASAN
1. Prinsip etika kedokteran Keputusan yang hendak diambil oleh dokter sebaiknya mempertimbangkan mengenai hak-hak asasi pasien. Pelanggaran atas hak pasien akan mengakibatkan pelanggaran atas kebutuhan dasar diatas terutama kebutuhan kreatif dan spiritual pasien.1,2 Etika adalah disiplin ilmu yang mempelajari baik buruk atau benar salahnya suatu sikap dan atau perbuatan seseorang individu atau institusi dilihat dari moralitas. Penilaian baik buruk dan benar salah dari sisi moral tersebut menggunakan pendekatan teori etika yang cukup banyak jumlahnya. Terdapat dua teori etika yang paling banyak dianut oleh orang yaitu teori deontologi dan teologi. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa deontologi mengajarkan bahwa baik-buruknya suatu perbuatan harus dilihat dari perbuatan itu sendiri, sedangkan teologi mengajarkan untuk melihat baik-buruknya sesuatu dengan melihat hasil atau akibatnya. Deontologi lebih mendasar kepada ajaran agama, tradisi dan budaya, sedangkan teologi lebih berdasar pada arah penalaran dan pembenaran kepada azas manfaat.1,3 Beuchamp dan Childress (1994) menguraikan bahwa untuk mencapai ke suatu keputusan etik diperlukan 4 kaidah dasar moral dan beberapa aturan dibawahnya. Keempat kaidah dasar moral tersebut adalah: A. Prinsip Otonomi Prinsip otonomi adalah prinsip moral yang menghormati hak-hak pasien, terutama hak otonomi pasien. Prinsip moral inilah yang kemudian melahirkan doktrin informed concent. B. Prinsip Beneficence Prinsip beneficence adalah prinsip moral yng mengutamakan tindakan yang ditujukan demi kebaikan pasien. Dalam beneficence tidak hanya dikenal perbuatan untuk kebaikan saja, melainkan juga perbuatan yang sisi baiknya (manfaat) lebih besar dari sisi buruknya.

C. Prinsip Non-malificence Prinsip non-malificence adalah prinsip moral yang melarang tindakan yang memperburuk keadaan pasien. Prinsip ini juga dikenal dengan primum non nocere atau above all, do no harm. D. Prinsip Justice Prinsip justice adalah prinsip moral yang mementingkan fairness dan keadilan dalam bersikap maupun dalam mendistribusikan sumber daya. Sedangkan aturan turunannya adalah veracity (berbicara jujur, benar dan terbuka), privacy (menghormat hak pribadi pasien), confidentiality (menjaga kerahasian pasien) dan fidelity (loyalitas dan promise keeping). Selain prinsip atau kaidah dasar moral diatas, yang harus dijadikan pedoman dalam mengambil keputusan klinis, profesionalitas kedokteran juga mengenal etika profesi sebagai panduan dalam bersikap dan berperilaku. Nilai-nilai dalam etika profesi tercermin dalam sumpah dokter dan kode etik kedokteran. Sumpah berisi kontrak moral antara dokter dengan Tuhan sang penciptanya, sedangkan kode etik kedokteran berisikan kontrak kewajiban moral antara dokter dengan komunitasnya yaitu masyarakat profesinya.Baik sumpah dokter maupun kode etik kedokteran berisikan sejumlah kewajiban moral yang melekat pada para dokter. Meskipun kewajiban tersebut bukanlah kewajiban hukum sehingga tidak dapat dipaksakan secara hukum, namun kewajiban moral tersebut haruslah menjadi pemimpin dari kewajiban dalam hokum kedokteran. Hukum kedokteran yang baik haruslah hukum yang etis.1 Pembuatan keputusan etik, terutama dalam situasi klinik, dapat juga dilakukan dengan pendekatan yang berbeda dengan pendekatan kaidah dasar moral diatas. Jonsen, Siegler dan Winslade (2002) mengembangkan teori etik yang menggunakan 4 topik yang essential dalam pelayanan klinik, yaitu : A. Medical indication Kedalam topic medical indication dimasukkan semua prosedur diagnostik dan terapi yang sesuai untuk mengevaluasi keadaan pasien dan mengobatinya. Penilaian aspek indikasi medis ini ditinjau dari sisi etiknya, terutama menggunakan kaidah beneficence dan non-malificence. Pertanyaan etika pada topik ini adalah serupa dengan seluruh informasi yang selayaknya disampaikan kepada pasien pada doktrin informed concent.

B. Patient preferences Pada topik ini, kita memperhatikan nilai dan penilaian pasien tentang manfaat dan beban yang akan diterimanya, yang berarti cerminan kaidah autonomy. Pertanyaan etika meliputi pertanyaan tentang kompetensi pasien, sifat volunter sikap dan keputusannya, pemahaman atas informasi, siapa pembuat keputusan bila pasien dalam keadaan tidak sadar dan kompeten serta nilai dan keyakinan yang dianut oleh pasien. C. Quality of life Topik quality of life merupakan aktualisasi salah satu tujuan kedokteran yaitu memperbaiki, menjaga atau meningkatkan kualitas hidup insan. Apa, siapa dan bagaimana melakukan penilaian kualitas hidup merupakan pertanyaan etik sekitar prognosis yang berkaitan dengan beneficence, non-malificence dan autonomy. D. Contextual features Dalam topic ini dibahas pertanyaan etik seputar aspek non medis yang mendahului keputusan seperti faktor keluarga, ekonomi, agama, budaya, kerahasiaan, alokasi sumber daya dan faktor hukum.

2. Informed concent Di Indonesia informed concent telah memperoleh justifikasi yuridis melalui Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 585/Menkes/1989. Persetujuan tindakan medik (informed consent) dalam praktik banyak mengalami kendala, karena faktor bahasa, faktor campur tangan keluarga atau pihak ketiga dalam hal memberikan persetujuan, faktor perbedaan kepentingan antara dokter dan pasien, dan faktor lainnya.1 Informed concent adalah suatu proses yang menunjukkan komunikasi yang efektif antara dokter dengan pasien, dan bertemunya pemikiran tentang apa yang akan dan apa yang tidak akan dilakukan terhadap pasien. Informed concent dilihat dari aspek hukum bukanlah sebagai perjanjian antara dua pihak, melainkan lebih ke arah persetujuan sepihak atas layanan yang ditawarkan pihak lain. Menurut PerMenKes no 290/MenKes/Per/III/2008 dan UU no 29 th 2004 Pasal 45 ayat 1 serta Manual Persetujuan Tindakan Kedokteran KKI tahun 2008, Informed Concent adalah persetujuan tindakan kedokteran yang diberikan oleh pasien atau keluarga terdekatnya setelah mendapatkan penjelasan secara lengkap mengenai tindakan kedokteran yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut. Tujuan Informed Concent adalah memberikan perlindungan kepada pasien serta memberi perlindungan hukum

kepada dokter terhadap suatu kegagalan dan bersifat negatif. Informed Concent dapat diberikan : Dinyatakan (expressed) Dinyatakan secara lisan. Dinyatakan secara tertulis. Pernyataan tertulis diperlukan apabila dibutuhkan bukti di kemudian hari, umumnya pada tindakan yang invasif atau yang berisiko mempengaruhi kesehatan pasien secara bermakna. Permenkes tentang Persetujuan Tindakan Medis menyatakan bahwa semua jenis tindakan operatif harus memperoleh persetujuan tertulis. 1 Tidak dinyatakan (implied) Pasien tidak menyatakannya, baik secara lisan maupun tertulis, namun melakukan tingkah laku (gerakan) yang menunjukkan jawabannya. Meskipun consent jenis ini tidak memiliki bukti, namun consent jenis inilah yang paling banyak dilakukan dalam praktek sehari-hari. Misalnya adalah seseorang yang menggulung lengan bajunya dan mengulurkan lengannya ketika akan diambil darahnya.1 Informed concent memiliki lingkup terbatas pada hal-hal yang telah dinyatakan sebelumnya, tidak dapat dianggap sebagai persetujuan atas semua tindakan yang akan dilakukan. Dokter dapat bertindak melebihi yang telah disepakati hanya apabila gawat darurat dan keadaan tersebut membutuhkan waktu yang singkat untuk mengatasinya. Proxy-concent adalah consent yang diberikan oleh orang yang bukan si pasien itu sendiri, dengan syarat bahwa pasien tidak mampu memberikan consent secara pribadi, dan consent tersebut harus mendekati apa yang sekiranya akan diberikan oleh pasien apabila ia mampu memberikannya (baik buat pasien, bukan baik buat orang banyak). Umumnya urutan orang yang dapat memberikan proxy-concent adalah suami/isteri, anak, orang tua, saudara kandung dan lain-lain. Proxy-concent hanya boleh dilakukan dengan pertimbangan yang matang dan ketat. Suatu kasus telah membuka mata orang Indonesia betapa riskannya proxy-concent ini, yaitu ketika seorang kakek-kakek menurut dokter yang telah mengoperasinya hanya berdasarkan persetujuan anaknya, padahal ia tidak pernah dalam keadaan tidak sadar atau tidak kompeten.1

3. Rahasia kedokteran Rahasia kedokteran adalah suatu norma yang secara tradisional dianggap sebagai norma dasar yang melindungi hubungan dokter dengan pasien. Sumpah dokter indonesia salah satunya berbunyi : saya akan merahasikan segala sesuatu yang saya ketahui karena ke profesian saya, sedangkan kode etik kedokteran indonesia merumuskannya sebagai setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui tentang seorang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia2 Peraturan pemerintah No.10 tahun 1966 yang mengatur tentang seluruh tenaga kesehatan untuk menyimpan segala sesuatu yang diketahuinya selama melakukan pekerjaan di bidang kedokteran sebagai rahasia. Namun PP tersebut membrikan pengecualian sebagaimana terdapat dalam pasal 2, yaitu apabila terdapat peraturan perundang-undanganyang sederajat (PP) atau yang lebih tinggi (UU) yang mengaturnya lain.2 Baik UU kesehatan maupun UU praktik kedokteran juga mewajibkan tenaga kesehatan untuk menyimapn rahasia kedokteran. Selanjutnya UU praktik kedokteran memberikan peluang pengungkapan informasi kesehatan secara terbats, yaitu dalam pasal 48 ayat (2) :2 a. Untuk kepentingan kesehatan pasien b. Untuk memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan hukum c. permintaan pasien sendiri d. bedasarkan ketentuan undang-undang Ketentuan pasal 50 KUHP yang menyatakan bahwa seseorang tidak akan dipidanakan oleh karena melakukan suatu perbuatan untuk menjalankan undang-undang memperkuat peluang bagi tenaga kesehatan dalam keadaan dan situasi tertentu dapat terbuka rahasia kedokteran tanpa diancam pidana. Hal ini mengakibatkan bebasnya para dokter dan tenaga administrasi kesehtan dalam membuat Visum et Repertum (kewajian dalam KUHAP) dan dalam menyampaikan pelaporan tentang statistik kesehatan, penyakit wabah, dan karantina (diatur dalam UU terkait) Alasan lain yang memperbolehkan membuka rahasia kedokteran adalah adanya ijin atau persetujuan atau kuasa dari pasien itu sendiri, perintah jabatan (pasal 51 KUHP), daya paksa (pasal 48 KUHP) dan dala rangka membela diri (pasal 49 KUHP) selain itu etika kedokteran umumnya membenarkan pembukaan rahasia kedokteran secara terbats untuk kepentingan konsultasi profesional, pendidikan danpenelitian. Permenkes No. 749a
6

juga memberikan peluang bagi penggunaan rekam medis untuk pendidikan dan penelitian. Dalam kaitannya dengan keadaan yang memaksa dikenal dua keadaan yaitu pengaruh daya paksa yang memadai (overmatch) dan keadaan yang memaksa (noodtoestand). Noodtoestand dapat diakibatkan oleh tiga keadaan yaitu adanya pertentangan antara dua kepentingan hukum, pertentangan antara kepentingan hukum dengan kewajiban hukum, dan pertentangan antara dua kewajiban hukum. Dalam menggunakan alasan-alasan yang bersifat hukum diatas haruslah dilakukan dengan pertimbangan yang matang dan sebaiknya hanya dilakukan oleh dokter yang bersangkutan dan atau pimpinan sarana kesehatan tersebut. Salah satu contoh dari noodtoestand di ats adalah apabila seorang dokter menemui kasus korban child abuse yang berat atau patut diduga akan terjadi pengulangan yang lebih berat di kemudian hari. Dalam hal ini, menjaga rahasia kedokteran adalah kewajiban hukum bagi dokter, namun memberitahukan peristiwa ini kepada pihak yang berwenang adalah demi membela kepentingan hukum pasien (si anak). Lebih jauh dapat dikatakan bahwa apabila ia tidak memberitahukan kepada pihak yang berwenang maka keadilan akan tidak tercapai (obstruction of justice) dan si anak (pasien) mungkin akan diperburuk keadaannya (bertentangan dengan prinsip etika kedokteran beneficence dan nonmaleficence.2 Rahasia medis antara suami istri4 Rahasia medis itu bersifat pribadi, hubungannya hanya antara dokter-pasien. Ini berarti seorang dokter tidak boleh mengungkapkan tentang rahasia penyakit pasien yang dipercayakannya kepada orang lain, tanpa seizin si pasien.

Hal ini di negara-negara barat merupakan sesuatu yang harus dijaga benar, karena berdasarkan paham individualisme yang dianut. Hal ini berlainan dengan keadaan sosial budaya di Indonesia, di negara kita yang bersifat timur, jika ada seorang anggota keluarga menderita sakit, tidak saja harus diketahui oleh keluarga kecilnya, tetapi juga merupakan sesuatu yang harus diketahui pula oleh keluarga besarnya. Merupakan hal yang lazim bahwa antara suami istri umumnya tidak ada rahasia. Namun jika menyangkut suatu masalah seperti rahasia medis tertentu (termasuk di Indonesia) para dokter haruslah bertindak lebih hati-hati. Jika yang diderita penyakit penyakit umum seperti usus buntu, wasir, influenza tidaklah menjadi persoalan diketahuinya. Lain halnya jika menyangkut penyakit penyakit tertentu yang bisa
7

menularkan seperti penyakit kelamin, atau hal-hal yang bersangkut paut dengan kehidupan seksual seperti keguguran, kehamilan, kadangkala juga menyangkut penyakit jiwa, jika diminta suatu keterangan tertulis oleh suami atau istrinya, apalagi jika yang meminta adalah seorang pengacara dari suami atau istri. Jika hendak memberitahukan hal hal demikian, maka haruslah diminta persetujuan dari pasien yang bersangkutan. Misalnya dalam pemeriksaan seorang suami ternyata ia terkena penyakit kelamin yang menular. Hal ini bisa menularkan kepada istrinya. Atau penyakit menular lain seperti HIV / AIDS yang bisa membahayakan terutama istrinya sendiri dan anggota keluarganya. Secara umum sebaiknya dokter itu merundingkannya dengan pasien itu sendiri, cara bagaimana ia harus memberitahukan kepada istri / suaminya, karena pasangannya harus diperiksa juga. Timbul persoalan jika yang diperiksa adalah istri yang diantar oleh suaminya. Dalam hal ini sebenarnya dapat dianggap sudah ada persetujuan dari kedua belah pihak untuk mengungkapkan. Apakah dokter dengan bebas boleh mengutarakan bahwa istrinya sedang mengandung atau mengalami keguguran. Sebaiknya juga dibicarakan dahulu dengan pasien itu, sebab bisa saja ada kemungkinan bahwa sang suami baru saja kembali dari luar negeri sesudah sekian bulan. Juga jika menyangkut penyakit kelamin, tidak dapat dianggap sudah ada persetujuan dari kedua belah pihak.

4. Hubungan dokter-pasien Hubungan dokter dengan pasien pada prinsipnya merupakan hubungan yang berdasarkan atas kepercayaan antara keduanya. Keberhasilan suatu pengobatan tergantung di antaranya pada seberapa besar kepercayaan pasien kepada dokternya. Hal inilah yang menyebabkan hubungan seorang pasien dengan dokternya kadang sulit tergantikan oleh dokter lain. Akan tetapi, hubungan ini dalam beberapa tahun terakhir ini telah berubah akibat makin menipisnya keharmonisan antara keduanya. Berubahnya pola hubungan dokter-pasien yang bersifat paternalistik menjadi hubungan kolegial atau kemitraan, membuat pasien makin kritis terhadap dokternya. Ketika terjadi suatu hasil pengobatan yang tidak diinginkan seperti penyakit makin parah, kecacatan atau kematian, maka pasien serta merta menganggap dokter dan rumah sakitnya lalai.1,5 Di Indonesia, sebagian dokter merasa tidak mempunyai waktu yang cukup untuk berbincang-bincang dengan pasiennya, sehingga hanya bertanya seperlunya. Akibatnya, dokter bisa saja tidak mendapatkan keterangan yang cukup untuk menegakkan diagnosis dan menentukan perencanaan dan tindakan lebih lanjut. Dari sisi pasien, umumnya pasien
8

merasa dalam posisi lebih rendah di hadapan dokter (superior-inferior), sehingga takut bertanya dan bercerita atau hanya menjawab sesuai pertanyaan dokter saja.Tidak mudah bagi dokter untuk menggali keterangan dari pasien karena memang tidak bisa diperoleh begitu saja. Perlu dibangun hubungan saling percaya yang dilandasi keterbukaan, kejujuran dan pengertian akan kebutuhan, harapan, maupun kepentingan masing-masing. Dengan terbangunnya hubungan saling percaya, pasien akan memberikan keterangan yang benar dan lengkap sehingga dapat membantu dokter dalam mendiagnosis penyakit pasien secara baik dan memberi obat yang tepat bagi pasien. Komunikasi yang baik dan berlangsung dalam kedudukan setara (tidak superior-inferior) sangat diperlukan agar pasien mau atau dapat menceritakan sakit/keluhan yang dialaminya secara jujur dan jelas. Komunikasi efektif mampu mempengaruhi emosi pasien dalam pengambilan keputusan tentang rencana tindakan selanjutnya, sedangkan komunikasi tidak efektif akan mengundang masalah.

Teori hubungan dokter dengan pasien Teori hubungan dokter dengan pasien dapat dilukiskan dari aspek sifat antara lain: A. Bersifat religius Pada awal profesi kedokteran, dipercaya bahwa timbulnya penyakit berasal dari kemarahan dewa. Seorang yang sedang sakit melapor kepada sang pemimpin agama lalu dibuat upaya keagamaan utuk penyembuhan. 6 B. Bersifat paternalistis Pada perkembangan selanjutnya, muncul pembagian pekerjaan dimana orang-orang pandai pada masanya memiliki pemikiran tersendiri.Salah satunya adalah ada orangorang yang mau menolong orang sakit. Orang tersebut boleh dikatakan dokter generasi pertama dan tidak lagi berhubungan dengan upacara keagamaan. Dokter zaman dahulu mempunyai murid dan menurunkan keahliannya kepada muridnya itu.Profesi kedokteran seperti ini dimulai pada abad ke -5 SM oleh Hipokrates di Yunani. Karena pengajaran (pendidikan ) yang bersifat turun-temurun tersebut, para dokter kuno merupakan golongan yang tertutup bagi komunitas terbatas yang menguasai ilmu pengobatan ilmu kedokteran kuno tersebut. Masyarakat atau orang awam sangat tidak memahami proses pengobatan. Akhirnya timbul suatu hubungan yang berat sebelah dan pasien sangat tergantung pada dokter. Para dokter kuno selain berpendidikan juga mengaku sebagai keturunan dewa. Hubungan ini disebut hubungan paternalistis.Dokter mengobati dengan memberi perintah yang harus
9

dituruti oleh pasien hubungan model ini berlangsung sejak abad ke-5 SM sampai zaman modern sebelum teknologi informasi berkembang. Ilmu kedokteran sejak zaman Hipokrates hingga sekarang disebut juga seni kedokteran (medicine is a science and art). Dokter zaman kuno menerima imbalan sebagai tanda kehormatan, karena itu imbalan tersebut disebut honorarium.Seiring dengan perkembangan teknologi kedokteran dan teknologi informasi, terjadilah perubahan dalam hubungan kedokteran. Teknologi kedokteran dan informasi memberikan dampak positif seperti diagnosa dan terapi yang tepat, selain juga damak negatif seperti tingginya biaya pengobatan. Selain itu, akibat lain dari modernisasi adalah perubahan hubungan dokter dan pasien dari paternalistis enjadi hubungan baru yang lebih menonjolkan aspek bisnis sehingga hubungan dokter dan pasien berubah menjadi hubungan antara penyedia jasa dan konsumen. 6 C. Bersifat penyedia jasa dan konsumen Hubungan jenis ini disebut juga provider dan consumer relationship. Perubahan dari paternalistis ke hubungan ini bertepatan dengan perkembangan teknologi informasi dimana masyarakat makin sadar akan hak-haknya serta mampu menilai pekerjaan dokter. Berikut ini merupakan faktor-faktor yang dapat mengidentifikasi berakhirnya era paternalistis : Pelayanan kesehatan mulai bergeser dari pelayanana prorangan (praktik pribadi) menuju praktik pelayanan di rumah sakit. Perkembangan ilmu teknologi kesehatan memberikan kesempatan tindakan yang makin canggih. Namun, tidak semua tindakan berhasil dengan baik sesuai harapan. Kekecewaan sering menimbulkan tuntutan hukum. Pengacara juga ikut terlibat

Dalam era penyedia jasa dan konsumen, terbentang jarak psikologis antara dokter dan pasien. Seolah ada dua pihak yang menandatangani kontrak perjanjian dimana pasien harus membayar dan dokter harus bekerja. Dengan demikian, unsur bisnis terasa kental. Akibat dari pola hubungan ini, masyarakat mudah menuntut bila merasa tidak puas dan dokter bersikap defensif (defensive medical service), ini membuat hubungan dokter dan pasien sedikit merenggang. Berdasarkan pola hubungan ini, tidak heran bahwa dalam undang-undang perlindungan konsumen, praktik dokter dimasukkan ke dalam industri jasa, dan dengan sendirinya praktik kedokteran masuk dalam UU

10

perlindungan konsumen. Kondisi ini menggelisahkan para dokter sehingga sebagian dokter senior berusaha untuk merumuskan pola hubungan baru, yaitu pola kemitraan dokter-pasien. 6 UU No. 8 / 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK) mempunyai 2 sasaran pokok, yaitu : Memberdayakan konsumen dalam hubungannya dengan pelaku usaha (publik atau privat) barang dan atau jasa; Mengembangkan sikap pelaku usaha yang jujur dan bertanggung jawab Jenis-jenis masalah perlindungan konsumen sejak berlakunya UU No. 8 / 1999 tentang Perlindungan Konsumen sangat beragam, namun gugatan konsumen terhadap pelayanan jasa kesehatan dan yang berhubungan dengan masalah kesehatan masih tergolong langka. Hal ini antara lain disebabkan selama ini hubungan antara si penderita dengan si pengobat, yang dalam terminologi dunia kedokteran dikenal dengan istilah transaksi terapeutik, lebih banyak bersifat paternalistik. Seiring dengan perubahan masyarakat, hubungan dokter-pasien juga semakin kompleks, yang ditandai dengan pergeseran pola dari paternalistik menuju partnership, yaitu kedudukan dokter sejajar dengan pasien (dokter merupakan partner dan mitra bagi pasien). 6 D. Bersifat upaya bersama dan kemitraan Dalam kondisi sakit, baik berat maupun ringan, baik sakit fisik maupun mental, seorang pasien membutuhkan dokter. Di lain pihak, budaya paternalistis di Indonesia jangan sampai disalahgunakan oleh dokter yang tujuan utamanya adalah mencari uang tanpa memerhatikan kondisi pasien. Budaya saling menghargailah yang justru harus dikembangkan agar ada rasa saling percaya antara pasien dan dokter. Di Indonesia banyak pasien mengajukan tuntutan hukum kepada dokter, sementara sang dokter bersikap defensif. Semakin banyak jug pasien yang pergi ke luar negeri untuk berobat karena tidak lagi mempercayai kompetensi dokter di Indonesia. Tidak sedikit pula dokter senior yang sangat diminati pasien hingga harus berpraktik hingga dini hari, padahal banyak pasiennya yang bisa dirujuk atau didelegasikan kepada dokter lain. Kondisi ini menyebabkan dokter tidak bisa bekerja maksimal dan mengecewakan pasien. Peristiwa berlebihan semacam inilah yang akan diatur oleh IDI dengan pembatasan tempat praktik dan pelayanan dokter di maksimum tiga tempat. Hal

11

tersebut tertuang dalam UU no. 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran dan kedokteran gigi. 6 Hubungan dokter-pasien semestinya atas saling percaya, bukan kontrak bisnis. Dokter maupun pasien sama-sama profesional dan proporsional dalam memecahkan

permasalahan kesehatan. Dokter harus selalu berlaku profesional dalam menjalankan profesinya, serta mengkomunikasikan secara proporsional segala aspek yang terkait dengan tindakan medis yang dilakukannya. Sementara pasien mesti memahami aspek yang terkait dengan pengambilan keputusan medis sehingga mengerti manfaat dan risiko dari tindakan medis tersebut.

5. Aspek hukum Norma kesusilaan dan norma hukum yang merupakan pedoman seorang dokter dalam melaksanakan profesinya di Indonesia di antaranya terdapat pada Sumpah Kedokteran Indonesia dan Pasal 13 Kodeki, Pasal 15 UU Nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan, Pasal 322 dan 224 KUHP, Pasal 1909 dan 1365 KUHPerdata, Pasal 170 dan 179 KUHAP, Pasal 146 ayat (3) HIR dan PP Nomor 10 tahun 1966 tentang Wajib Simpan Rahasia Kedokteran. Adapun dasar yuridis untuk menuntut yang menyangkut rahasia kedokteran terdapat pada : Hukum perdata - Perjanjian terapeutik antara dokter dengan pasien - Pasal 1909, 3e KUH Perdata Segala siapa yang karena kedudukannya, pekerjaannya, atau jabatannya menurut undang undang diwajibkan merahasiakan sesuatu, namun hanyalah semata mata mengenai hal hal yang pengetahuannya dipercayakan kepadanya sebagai demikian.1 - Pasal 1365 KUH Perdata Tiap tiap perbuatan melanggar hukum yang membawa kerugian terhadap orang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya, menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut.1

12

Hukum Pidana Pasal 322 KUHP 1) Barangsiapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib disimpannya karena jabatannya atau mata pencahariannya, baik yang sekarang maupun yang dahulu, akan diancam hukuman pidana penjara paling lama 9 bulan atau denda paling banyak enam ratus rupiah. 2) Jika kejahatan itu dilakukan seseorang tertentu, maka perbuatan itu hanya dapat dituntut atas pengaduan orang itu. Berdasarkan ayat (2) tersebut seorang dokter yang membuka rahasia pasien tidak dengan sendirinya akan dituntut di pengadilan. Dokter akan dituntut setelah ada pengaduan yang diajukan oleh pasien. Pasal 224 KUHP Barangsiapa yang secara sah dipanggil sebagai saksi, saksi ahli atau sebagai penterjemah tidak memnuhi kewajiban yang harus dipenuhi, dihukum : 1) Dalam perkara pidana dengan hukuman penjara paling lama 9 bulan. 2) Dalam perkara lainnya dengan hukuman penjara paling lama 6 bulan. 1

Hukum Acara Pidana Pasal 170 KUHAP 1) Mereka yang karena pekerjaan, harkat martabat atau jabatannya diwajibkan menyimpan rahasia dapat diminta dibebaskan dari kewajiban untuk memberi keterangan sebagai saksi, yaitu tentang hal yang dipercayakan kepada mereka. 2) Hakim menentukan sah atau tidaknya segala alasan untuk permintaan tersebut. Pasal 179 KUHAP 1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan. 1

6. Dampak hukum Kewajiban untuk menyimpan rahasia kedokteran pada pokoknya ialah kewajiban moril yang telah ada bahkan sebelum zaman Hipokrates jadi lama sebelum adanya undang-undang atau peraturan yang mengatur soal tersebut. Umumnya hampir tidak ada perbedaan antara kedua istilah tersebut.1

13

Untuk memahami soal rahasia jabatan ditilik dari sudut hukum, tingkah laku seorang dokter kita bagi dalam 2 jenis : 1. Tingkah laku yang bersangkutan dengan pekerjaan sehari-hari Dalam hal ini harus diperhatikan ialah :1 Pasal 322 KUHP yang berbunyi : 1) Barang siapa dengan sengaja membuka sesuatu rahasia yang ia wajib menyimpannya oleh karena jabatan atau pekerjaannya, baik yang sekarang maupun yang dulu, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya sembilan bulan atau denda sebanyak-banyaknya enam ratus rupiah. 2) Jika kejahatan ini dilakukan terhadap seorang yang tertentu, ia hanya dituntut atas pengaduan orang itu. Ayat (2) undang-undang ini terutama berkenaan dengan rahasia jabatan dokter saat dokter membuka rahasia tentang keadaan pasiennya, namun tidak dengan sendirinya akan dituntut di muka pengadilan, melainkan hanya sesudah terhadapnya diadakan pengaduan oleh pasien itu. Dalam undang-undang dikenal sebagai delik aduan. Pasal 1365 KUH perdata Barang siapa yang berbuat salah sehingga seorang lain menderita kerugian, berwajib menggantikan kerugian itu. Seorang dokter berbuat salah kalau ia mungkin sekali tanpa disadari membuka rahasia tentang seorang pasiennya yang kebetulan terdengar oleh majikan orang yang sakit itu, lalu memberhentikan pegawainya karena takut penyakitnya akan menulari pegawai-pegawainya lain. Dokter diadukan oleh pasien itu. Selain hukum pidana menurut pasal 322 KUHP, dokter itu dapat dihukum perdata dengan kewajiban mengganti kerugian. Pada hakekatnya adanya ancaman hukuman perdata ini menimbulkan berbagai soal yang sulit dalam pekerjaan kedokteran sehari-hari.1 2. Tingkah laku dalam keadaan khusus Menurut hukum, setiap warga negara dapat dipanggil oleh pengadilan untuk didengar sebagai saksi, selain itu seorang yang mempunyai keahlian dapat juga dipanggil sebagai ahli. Dengan demikian dapatlah terjadi, bahwa seorang yang mempunyai keahlian, umpamanya seorang dokter dipanggil sebagai saksi, sebagai ahli sekaligus sebagai saksi ahli. Sebagai saksi atau saksi ahli mungkin sekali ia diharuskan memberi keterangan tentang seorang yang sebelum ia telah menjadi pasien yang diobati nya.
14

Ini berarti ia seolah-olah diharuskan melanggar rahasia pekerjaannya. Kejadian yang bertentangan ini dapat dihindarkan karena adanya hak undur diri seperti yang dahulu tercantum dalam pasal 277 Reglemen Indonesia yang diperbaharui (RIB) dan berbunyi :1 1) Barang siapa yang karena martabatnya, pekerjaannya atau jabatan yang sah, diwajibkan menyimapn rahasia, boleh minta mengundurkan diri dari memberi penyaksian. Akan hanya dan terutama mengenai hal yang diketahuinya dan dipercayakan karena martabatnya, pekerjaannya atau jabatatanya itu. 2) Pertimbangan apakah permintaan untuk mengundurkan diri itu beralasan atau tidak, diserahkan ke pengadilan negara atau jika orang yang dipanggil untuk memberi penyaksian itu orang asing, pertimbangan itu diserahkan kepada ketua pengadilan negara. Kini ketentuan ini sudah tidak berlaku lagi yaitu setelah diundangkannya kitab undang-undang hukum acara pidana (KUHAP) yang berlaku sejak tanggal 31 desember 1981. tentang hak undur diri terdapat pasal-pasal 120 dan 168, dan secara khusus tercantum pada pasal 170 KUHAP sebagai berikut :1 1) Mereka yang karena pekerjaan, harkat martabat atau jabatanya diwajibkan menyimpan rahasia, dapat dibebaskan dari kewajiban untuk mebri keterangan sebagai saksi yaitu tentang hal yang dipercayakan kepada mereka. 2) Hakim menentukan sah atau tidaknya segala alasan untuk permintaan tersebut, pengadilan negeri memutuskan apakah alasan yang dikemukakan oleh saksi atau saksi ahli untuk tidak berbicara itu, layak dan dapat diterima tau tidak. Penegakan hak undur diri dapat dianggap sebagai pengakuan para ahli hukum bahwa kedudukan rahasia jabatan itu harus dijamin sebaik-baiknya. Malahan membebaskan seorang dokter yang menjadi saksi maupun saksi ahli. Pembebasan itu tidak selalu datang dengan sendirinya. Menurut ayat (2) pengadilan negeri/ketua pengadilan negeri atau hakim yang memutuskan apakah alasan yang dikemukakan oleh saksi atau saksi ahli untuk tidak berbicara itu layak dan dapat diterima atau tidak, dalam hal ini mungkin sekali timbul pertentangan yang amat keras antara pendapat dokter dan pendapat hakim, yaitu bila hakim tidak dapat menerima alasan yang dikemukakan oleh dokter untuk menggunakan hak undur dirinya karena ia berkeyakinan bahwa keterangan yang harus diberikan itu melanggar rahasia jabatannya.1

15

7. Kemungkinan GO Pemeriksaan fisik Masa tunas gonore sangat singkat yaitu sekitar 2 hingga 5 hari pada pria. Sedangkan pada wanita, masa tunas sulit ditentukan akibat adanya kecenderungan untuk bersifat asimptomatis pada wanita. Pada pemeriksaan fisik pasien dengan gonore, maka dapat ditemukan seperti berikut: Inspeksi Pada inspeksi pasien dengan gonore (GO), dapat ditemukan adanya pus pada ujung uretra yang terkadang disertai darah. orifisium uretra eksterna juga tampak kemerahan, terlihat juga adanya pembengkakkan. Pada beberapa kasus, dapat juga terlihat adanya pembesaran kelenjar getah bening pada daerah inguinal unilateral maupun bilateral. Palpasi Pada palpasi, ketika dilakukan perabaan, pasien merasa nyeri pada daerah penis. Daerah penis juga terasa lebih hangat. Pada perabaan kelenjar getah bening, dapat dirasakan adanya pembesaran pada daerah inguinal. Gambaran klinis dan perjalanan penyakit pada wanita berbeda dari pria. Pada wanita, gejala subjektif jarang ditemukan dan hampir tidak pernah didapati kelainan objektif. Adapun gejala yang mungkin dikeluhkan oleh penderita wanita adalah rasa nyeri pada panggul bawah, dan dapat ditemukan serviks yang memerah dengan erosi dan sekret mukopurulen.7 Pemeriksaan penunjang Diagnosis ditegakkan atas dasar anamnesis, pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan yang terdiri dari 5 tahap: Sediaan langsung Pada sediaan langsung dengan pewarnaan gram akan ditemukan gonokok negative gram, intraseluler dan ekstraseluler. Bahan duh pada tubuh pria di ambil dari daerah fosa navikularis, sedangkan pada wanita diambil dari uretra, muara kelenjar bartholin, serviks, dan rektum. Kultur Untuk identifikasi perlu dilakukan pembiakan (kultur). Dua macam media yang dapat digunakan:

16

a) Media transport Media stuart Hanya untuk transport saja, sehingga perlu ditanam kembali pada media pertumbuhan. Media transgrow Media ini selektif dan nutritive untuk N.gonorrhoeae dan N.meningitidis, dalam perjalanan dapat bertahan hingga 96 jam dan merupakan gabungan media transport dengan media pertumbuhan, sehingga tidak perlu ditanam pada media pertumbuhan. Media ini merupakan modifikasi media Thayermartin dengan menambahkan trimetoprim untuk mematikan Proteus spp. Media pertumbuhan o Mc Leods chocolate agar Berisi agar coklat, agar serum, dan agar hidrokel. Selain kuman gonokok, kuman-kuman lain juga dapat tumbuh. o Media Thayer-martin Media ini selektif untuk mengisilasi gonokok. Mengandung

vankomisin untuk menekan pertumbuhan kuman positive gram, kolestimetat untuk menekan pertumbuhan bakteri negative gram, dan nistatin untuk menekan pertumbuhan jamur. o Modified Thayer-martin agar Isinya ditambah dengan trimetoprim untuk mencegah pertumbuhan kuman Proteus spp. Tes definitive a) Tes oksidasi Reagen oksidasi yang mengandung larutan tetrametil-p-fenilendiamin

hidroklorida 1 % ditambah pada koloni gonokok tersangka. Semua Neisseria member reaksi positive dengan perubahan warna koloni yang semula bening berubah menjadi warna merah muda sampai merah lembayung. b) Tes fermentasi Tes oksidatif positive dilanjutkan dengan tes fermentasi memakai glukosa, maltose, dan sukrosa. Kuman gonokok hanya meragikan glukosa. Tes beta-laktamase Pemeriksaan beta-laktamase dengan menggunakan cefinase TM disc. BBL 961192 yang mengandung chromogenic cephalosporin, akan menyebabkan
17

perubahan warna dari kuning menjadi merah apabila kuman mengandung enzim beta laktamase. Tes Thomson Tes Thomson ini berguna untuk mengetahui sampai mana infeksi sudah berlangsung. Dahulu pemeriksaan ini dilakukan karena pengobatan pada waktu itu adalah pengobatan setempat. Pada tes ini ada syarat yang perlu diperhatikan: a. Sebaiknya dilakukan setelah bangun pagi b. Urin dibagi dalam 2 gelas c. Tidak boleh menahan kencing dari gelas I ke gelas II. Syarat mutlak adalah kandung kencing harus mengandung air seni paling sedikit 80-100 ml, jika air seni kurang dari 80 ml, maka gelas II sukar dinilai karena baru menguras uretra anterior. 7 Edukasi Edukasi yang diberikan pada pasien GO adalah : Memberitahu pasien agar menggunakan kondom bila berhubungan. Jika kondom digunakan dengan benar, hal ini akan menghasilkan proteksi yang sangat efektif dalam menghalang terjadinya transmisi gonorrhea serta infeksi lain dari dan ke perukaan mukosa. Apabila sudah terdiagnosa dengan infeksi gonorrhea, semua pasangan seksual harus turut dievaluasi dan diberikan terapi secara bersamaan karena jika tidak agar terjadi fenomena pingpong yang membuat penyakit itu akan menjangkit pasien itu lagi dan lagi walaupun sudah sembuh. Pasien juga harus diberitahukan supaya tidak melakukan aktivitas seksual selama terapi masih berlangsung dan gejala masih positif.

8. Kemungkinan AIDS AIDS merupakan kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh retrovirus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga manusia mudah diserang penyakitpenyakit lainnya. Penularan Aids dapat terjadi melalui hubungan seksual , sehingga AIDS juga merupakan salah satu penyakit dari transmisi seksual (Sexual Transmitted Diseases).8

18

Pembahasan Kasus: Adapun pada kasus ini apabila pasien datang dengan keluhan keluar nanah pada kemaluannya dan nyeri dan dari pemeriksaan medis diatas tidak ditemukan bakteri N. Gonnorhoeae, dokter harus dapat mencurigai penyakit STD lainnya, yakni AIDS pada pasien. Petunjuk yang mengarahkan pasien menderita AIDS adalah pasien datang dengan keadaan imunodefisiensi dan sebelumnya ada riwayat melakukan hubungan seksual sembarang . Tindakan dokter apabila pasien tersebut mengarah ke penyakit AIDS adalah dengan melakukan pemeriksaan medis terlebih dahulu untuk menegakkan diagnosis AIDS.8 Diagnosis adanya infeksi dengan HIV ditegakkan dengan menemukan antibodi khusus pada virus tersebut di laboratorium. Tes antibodi HIV ini terbagi dua tahap : a) Tes Penyaring : ELISA b) Tes Konfirmasi : Western Blot Pemeriksaan untuk menemukan adanya antibodi tersebut menggunakan metode Elisa (Enzyme Linked Imunosorbent Assay). Bila hasil test Elisa positif maka dilakukan pengulangan dan bila tetap positif setelah pengulangan maka harus dikonfirmasikan dengan test yang lebih spesifik yaitu metode Western Blot.8 Setelah dipastikan diagnosis AIDS pada pasien, pasien segera diberi suatu pengobatan: Kombinasi beberapa obat anti_HIV untuk menekan replikasi virus HIV : zidovudin dengan nevirapin ,yang bermanfaat menurunkan morbiditas dan mortalitas dini akibat infeksi HIV. Pengobatan pada penyakit infeksi lainnya yang ikut menyerang (infeksi oportunistik). Pengobatan suportif, yaitu makanan dengan nilai gizi baik, dukungan psikososial dan dukungan agama.8 Apabila pasien menderita HIV AIDS informed concent biasa diberikan dalam bentuk tertulis yang harus di setujui dan di lampirkan tanda tangan dari pasien yang bersangkutan karena pada penyakit HIV AIDS merupakan penyakit yang sangat pribadi dan berisiko.8

19

PENUTUP
Berkaitan dengan kasus diatas, dimana dokter mendapatkan pasien laki-laki dengan GO dan pasien telah berhubungan dengan istrinya, maka sebagai dokter kita harus mengobati keduanya. Dokter juga harus mempertimbangkan hak otonomi pasien dimana dia mengatakan bahwa dia takut ketahuan oleh istrinya. Namun kembali kita harus mempertimbangkan apa yang terbaik untuk pasien, karena jika kita tidak mengobati keduanya, maka penyakit GO pasien akan menjadi lingkaran setan yang bukan tidak mungkin akan menular lagi pada orang lain jika pasien atau istrinya berhubungan dengan orang lain. Dalam hal ini, sebagai dokter yang harus dikatakan pada pasien adalah tetap menyuruh dia untuk mengajak istrinya berobat, karena dokter harus member yang terbaik untuk pasien agar pasien dan istrinya sehat kembali. Hal yang sama juga dilakukan jika ternyata pasien tersebut adalah orang dengan AIDS. Yang bisa kita lakukan lebih ke arah mencegah supaya pasien tidak menularkan AIDS pada istrinya, yaitu dengan cara memkakai kondom bila melakukan hubungan suami istri. Pada akhirnya, dalam melakukan komunikasi dokter pasien perlu mempertimbangkan hak pasien, tapi dokter juga mempunyai kewajiban untuk membuat pasien sehat. Pasien juga harus dibuat mengerti semua tindakan yang dilakukan dokter juga untuk kebaikan pasien sendiri.

DAFTAR PUSTAKA
1. Budi Sampurna, Zulhasmar Syamsu, Tjetjep Dwijdja Siswaja. Bioetik dan Hukum Kedokteran, Pengantar bagi Mahasiswa Kedokteran dan Hukum. Penerbit Pustaka Dwipar. Jakarta. Oktober 2005 2. Hanafiah,Jusuf M, Amir. Etika kedokteran dan Hukum Kesehatan. Penerbit Buku Kedokteran:EGC.Jakarta. 2007 3. Samil, Ratna Suprapti. Etika Kedokteran Indonesia. Penerbit Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta. 2001. 4. Daliyono. Bagaimana dokter berpikir dan bekerja. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 2006. 5. Hubungan dokter dan pasien. Diunduh dari : http://prematuredoctor.blogspot.com/2010/06/hubungan-dokter-pasien.html.Pada 14 Januari 2013

20

6. Kode Etik Kedokteran. 2009. Diunduh dari :http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/652/1/Kode%20Etik%20Kedokteran.pdf Pada14 Januari 2013 7. Sjaiful Fahmi Daili. Gonore dalam Buku Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin; editor: Adhi Juanda, Mochtar Hamzah, Siti Aisah. Edisi kelima. Cetakan keempat. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2009. h.372-3 8. Zubairi, Samsuridjal. Buku ajar ilmupenyakitdalam: hiv/aids di indonesia. CetakanPertama. Jakarta:InternaPublishing ; 2009.h. 2861-8.

21