Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN DIABETES MELLITUS

Disusun Oleh: Hangger Putro Pangarso P.17420611050

PRODI DIII KEPERAWATAN SEMARANG JURUSAN KEPERAWATAN POLTEKKES KEMENKES SEMARANG

2013 LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN DIABETES MELLITUS
Nama mahasiswa NIM Nama pembimbing dan Tanda tangan A. DEFINISI Diabetes mellitus (DM) adalah penyakit kronik yang kompleks yang melibatkan kelainan metabolisme karbohidrat, protein dan lemak serta berkembangnya komplikasi mikrovaskuler, makrovaskuler dan neurologist. ( Long, 1996 : 4 ) Diabetes Mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. ( Smeltzer,2002 : 1220 ) Diabetes militus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemi. Glukosa secara normal bersirkulasi dalam jumlah tertentu dalam darah. Glukosa dibentuk dihati dari makanan yang dikonsumsi. (Brunner dan Suddarth, 2002) Jenis-jenis Diabetes Mellitus Ada beberapa tipe diabetes melius antara lain: 1. Tipe I : Diabetes melitus tergantung insulin ( Insulin Dependent Diabetes Melitus) 2. Tipe II : Diabetes melitus tidak tergantung insulin (Non- Insulin Dependent Diabetes Melitus) 3. Diabetes Melitus yang berhubungan dengan keadaan sindrom lainya 4. Diabetes Melitus Gestasional B. PATOFISIOLOGI Dalam keadaan normal jika terdapat insulin, asupan glukosa/produksi glukosa yang melebihi kebutuhan kalori akan disimpan sebagai glikogen dalam sel-sel hati dan sel-sel
pg. 2

: Hangger Putro Pangarso : P.17420611050 : _____________________ ( )

otot. Proses glikogenesis ini mencegah hiperglikemia (kadar glukosa darah > 110 mg/dl). Pada pasien DM, kadar glukosa dalam darah meningkat/tidak terkontrol, akibat rendahnya produk insulin/tubuh tidak dapat menggunakannya, sebagai sel-sel akan starvasi. Bila kadar meningkat akan dibuang melalui ginjal yang akan menimbulkan diuresi sehingga pasien banyak minum (polidipsi). Glukosa terbuang melalui urin maka tubuh kehilangan banyak kalori sehingga nafsu makan meningkat (poliphagi). Akibat selsel starvasi karena glukosa tidak dapat melewati membran sel, maka pasien akan cepat lewat. C. ETIOLOGI Faktor penyebab terjadinya Diabetes Mellitus ( Sjaifoellah, 1996 : 692 ) yaitu : 1. Faktor keturunan Karena adanya kelainan fungsi atau jumlah sel sel betha pancreas yang bersifat genetic dan diturunkan secara autosom dominant sehingga mempengaruhi sel betha serta mengubah kemampuannya dalam mengenali dan menyebarkan rangsang yang merupakan bagian dari sintesis insulin. 2. Fungsi sel pancreas dan sekresi insulin berkurang Jumlah glukosa yang diambul dan dilepaskan oleh hati dan yang digunakan oleh jarinagan perifer tergantung keseimbangan fisiologis beberapa hormon. Hormon yang menurunkan glukosa darah yaitu insulin yang dibentuk sel betha pulau pancreas. 3. Kegemukan atau obesitas Terjadi karena hipertrofi sel betha pancreas dan hiperinsulinemia dan intoleransi glukosa kemudian berakhir dengan kegemukan dengan diabetes mellitus dan insulin insufisiensi relative. 4. Perubahan pada usia lanjut berkaitan dengan resistensi insulin Pada usia lanjut terjadi penurunan maupun kemampuan insulin terutama pada post reseptor. D. PATHWAY Terlampir E. PENATALAKSANAAN Tujuan utama terapi diabetes adalah mencoba menormalkan aktifitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya mengurangi terjadi komplikasi vaskuler serta neuropatik. Tujuan terapetik pada setiap tipe DM adalah mencapai kadar glukosa darah normal tanpa
pg. 3

terjadi hipoglikemia dan gangguan serius pada pola aktifitas pasien. Ada 5 komponen dalam penatalaksanaan DM yaitu diet, latihan, pemantauan, terapi dan pendidikan kesehatan. 1. Penatalaksanaan diet Prinsip umum : diet dan pengndalian berat badan merupakan dasar dari penatalaksanaan DM. Tujuan penatalaksanaan nutrisi : a. Memberikan semua unsur makanan esensial missal vitamin, mineral b. Mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai c. Memenuhi kebutuhan energi d. Mencegah fluktuasi kadar glukosa darah setiap haridengan mengupayakan kadar glukosa darah mendekati normal melalui cara-cara yang aman dan praktis. e. Menurunkan kadar lemak darah jika kadar ini meningkat 2. Latihan fisik Latihan penting dalam penatalaksanaan DM karena dapat menurunkan kadar glikosa darah dan mengurangi factor resiko kardiovaskuler. Latihan akan menurunkan kadar glukosa darah dengan meningkatkan pengambilan glukosa oleh otot dan memperbaiki pemakaian insulin. Sirkulasi darah dan tonus otot juga diperbaiki dengan olahraga. 3. Pemantauan Pemantauan glukosa dan keton secara mandiri untuk deteksi dan pencegahan hipoglikemi serta hiperglikemia. 4. Terapi a. Insulin Dosis yang diperlukan ditentukan oleh kadar glukosa darah b. Obat oral anti diabetik Sulfonaria Asetoheksamid ( 250 mg, 500 mg ) Clorpopamid(100 mg, 250 mg )
pg. 4

Glipizid ( 5 mg, 10 mg ) Glyburid ( 1,25 mg ; 2,5 mg ; 5 mg ) Totazamid ( 100 mg ; 250 mg; 500 mg ) Tolbutamid (250 mg, 500 mg )

Biguanid Metformin 500 mg

Pendidikan kesehatan Informasi yang harus diajarkan pada pasien antara lain : a. b. c. Patofisiologi DM sederhana, cara terapi termasuk efek samping obat, pengenalan dan pencegahan hipoglikemi / hiperglikemi Tindakan preventif(perawatan kaki, perawatan mata , hygiene umum ) Meningkatkan kepatuhan progranm diet dan obat (Smeltzer and Bare,1996 Price and Wilson, 1992 )

F. KOMPLIKASI Komplikasi diabetes mellitus terbagi menjadi 2 yaitu komplikasi akut dan komplikasi kronik. ( Carpenito, 2001 ) Komplikasi Akut, ada 3 komplikasi akut pada diabetes mellitus yang penting dan berhubungan dengan keseimbangan kadar glukosa darah dalam jangka pendek, ketiga komplikasi tersebut adalah ( Smeltzer, 2002 : 1258 ) 1. Diabetik Ketoasedosis ( DKA ) Ketoasedosis diabatik merupakan defisiensi insulin berat dan akut dari suatu perjalananpenyakit diabetes mellitus. Diabetik ketoasedosis disebabkan oleh tidak adanya insulin atau tidak cukupnya jumlah insulin yang nyata (Smeltzer, 2002 : 1258) 2. Koma Hiperosmolar Nonketotik (KHHN) Koma Hiperosmolar Nonketotik merupakan keadaan yang didominasi oleh hiperosmolaritas dan hiperglikemia dan disertai perubahan tingkat kesadaran. Salah satu perbedaan utama KHHN dengan DKA adalah tidak terdapatnya ketosis dan asidosis pada KHHN (Smetzer, 2002 : 1262) 3. Hypoglikemia Hypoglikemia ( Kadar gula darah yang abnormal yang rendah) terjadi aklau kadar glukoda dalam darah turun dibawah 50 hingga 60 mg/dl. Keadaan ini dapat terjadi
pg. 5

akibat pemberian preparat insulin atau preparat oral yang berlebihan, konsumsi makanan yang terlalu sedikit (Smeltzer, 2002 : 1256) Komplikasi kronik Diabetes Melitus pada adsarnya terjadi pada semua pembuluh darah diseluruh bagian tubuh (Angiopati Diabetik). Angiopati Diabetik dibagi menjadi 2 yaitu : (Long 1996) : 1. Mikrovaskuler a. Penyakit Ginjal Salah satu akibat utama dari perubahan perubahan mikrovaskuler adalah perubahan pada struktural dan fungsi ginjal. Bila kadar glukosa darah meningkat, maka mekanisme filtrasi ginjal akan mengalami stress yang menyebabkan kebocoran protein darah dalam urin (Smeltzer, 2002 : 1272) b. Penyakit Mata (Katarak) Penderita Diabetes melitus akan mengalami gejala penglihatan sampai kebutaan. Keluhan penglihan kabur tidak selalui disebabkan retinopati (Sjaifoellah, 1996 : 588). Katarak disebabkan karena hiperglikemia yang berkepanjanganyang menyebabkan pembengkakan lensa dan kerusakan lensa (Long, 1996 : !6) c. Neuropati Diabetes dapat mempengaruhi saraf - saraf perifer, sistem saraf otonom, Medsulla spinalis, atau sistem saraf pusat. Akumulasi sorbital dan perubahan perubahan metabolik lain dalam sintesa atau funsi myelin yang dikaitkan dengan hiperglikemia dapat menimbulkan perubahan kondisi saraf ( Long, 1996 : 17) 2. Makrovaskuler a. Penyakit Jantung Koroner Akibat kelainan fungsi pada jantung akibat diabetes melitus maka terjadi penurunan kerja jantung untuk memompakan darahnya keseluruh tubuh sehingga tekanan darah akan naik atau hipertensi. Lemak yang menumpuk dalam pembuluh darah menyebabkan mengerasnya arteri (arteriosclerosis), dengan resiko penderita penyakit jantung koroner atau stroke b. Pembuluh darah kaki Timbul karena adanya anesthesia fungsi saraf saraf sensorik, keadaan ini berperan dalam terjadinya trauma minor dan tidak terdeteksinya infeksi yang menyebabkan gangren. Infeksi dimulai dari celah celah kulit yang mengalami hipertropi, pada sel sel kuku yang tertanam pada bagian kaki, bagia kulit kaki
pg. 6

yang menebal, dan kalus, demikian juga pada daerah daerah yang tekena trauma (Long, 1996 : 17) c. Pembuluh darah otak Pada pembuluh darah otak dapat terjadi penyumbatan sehingga suplai darah keotak menurun (Long, 1996 : 17) G. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan yang dilakukan sebagai penunjang diagnostik medis antara lain: 1. Pemeriksaan gula darah Orang dengan metabolisme yang normal mampu mempertahankan kadar gula darah antara 70-110 mg/dl (engliglikemi) dalam kondisi asupan makanan yang berbeda-beda. Test dilakukan sebelum dan sesudah makan serta pada waktu tidur. 2. Pemeriksaan dengan Hb Dilakukan untuk pengontrolan DM jangka lama yang merupakan Hb minor sebagai hasil dari glikolisis normal. 3. Pemeriksaan Urine Pemeriksaan urine dikombinasikan dengan pemeriksaan glukosa darah untuk memantau kadar glukosa darah pada periode waktu diantara pemeriksaan darah. H. PROSES KEPERAWATAN 1. Pengkajian a. Aktivitas / istirahat ; Lemah, letih, sulit bergerak / berjalan , kram otot, tonus otot menurun, Gangguan tidur dan istirahat, takikardi dan takipnea, letargi, disorientasi, koma, penurunan kekuatan otot b. Sirkulasi ; Adanya riwayat hipertensi, MCI Klaudikasi, kebas, kesemutan pada ekstremitas Ulkus, penyembuhan luka lama Takikardi, perubahan tekanan darah postural, hipertensi, nadi yang menurun/tak ada, disritmia, krekles Kulit panas, kering, dan kemerahan, bola mata cekung
pg. 7

c. Integritas ego; Stres, tergantung pada orang lain, masalah finansial yang berhubungan dengan kondisi Ansietas, peka rangsang d. Eliminasi ; Poliuri, nokturia, disuria, sulit brkemih, ISK baru atau berulang Diare, nyeri tekan abdomen Urin encer, pucat, kuning, atau berkabut dan berbau bila ada infeksi Bising usus melemah atau turun, terjadi hiperaktif ( diare ), abdomen keras, adanya asites e. Makanan / cairan ; Anoreksia, mual, muntah, tidak mengikuti diet, peningkatan masukan glukosa / karbohidrat Penurunan berat badan Haus dan lapar terus, penggunaan diuretic ( Tiazid ), kekakuan / distensi abdomen Kulit kering bersisik, turgor kulit jelek, bau halitosis / manis, bau buah (nafas aseton ). f. Neurosensori : Pusing, pening, sakit kepala Kesemutan, kebas, kelemahan pada otot, parastesia, gangguan penglihatan, disorientasi, mengantuk, stupor / koma , gangguan memori ( baru, masa lalu ), kacau mental, reflek tendon dalam menurun/koma, aktifitas kejang g. Nyeri / kenyamanan; Abdomen tegang/nyeri, wajah meringis, palpitasi h. Pernafasan ; Batuk, dan ada purulen, jika terjadi infeksi Frekuensi pernafasan meningkat, merasa kekurangan oksigen i. Keamanan ;
pg. 8

Kulit kering, gatal, ulkus kulit, kulit rusak, lesi, ulserasi, menurunnya kekuatan umum / rentang gerak, parestesia/ paralysis otot, termasuk otot-otot pernafasan, ( jika kadar kalium menurun dengan cukup tajam) ,demam, diaforesis j. Seksualitas ; Cenderung infeksi pada vagina. Masalah impotensi pada pria, kesulitan orgasme pada wanita 2. Diagnosa Keperawatan a. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan defisiensi insulin, penurunan intake oral, status hipermetabolisme b. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuretic osmotic, kehilangan cairan gastric berlebihan , pembatasan cairan c. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan hiperglikemi, penurunan fungsi lekosit, perubahan sirkulasi d. Resiko tinggi perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan zat kimia endogen, ketidakseimbangan elektrolit, glukosa, insulin 3. Perencanaan (NCP) NO 1 DIAGNOSA KEPERAWATAN Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan defisiensi insulin, penurunan intake oral, status hipermetabolisme TUJUAN DAN KRITERIA HASIL Klien mendapatkan nutrisi yang adekuat Kriteria hasil: BB stabil BB mengalami penambahan ke arah normal Mandiri : 1. Timbang BB setiap hari sesuai indikasi 2. Tentukan program diet dan pola makan klien 3. Auskultasi bising usus, catat adanay nyeri , mual muntah 4. Berikan makanan oral yang mengandung nutrient dan elektrolit sesuai indikasi 5. Observasi tanda tanda hipoglikemi Kolaborasi : 1. Pantau kadar gula darah secara berkala 2. Kolaborasi ahli diet untuk menentukan diet pasien 3. Pemberian insulin / obat anti diabetik
pg. 9

INTERVENSI

Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuretic osmotic, kehilangan cairan gastric berlebihan , pembatasan cairan

Tujuan : klien memperlihatkan status hidrasi adekuat Kriteria Hasil : TTV stabil dan dalam batas normal Nadi perifer teraba Turgor kulit dan pengisian akpiler baik Output urin tepat Kadar elektrolit dalam batas normal

Mandiri 1. Kaji riwayat muntah dan diuresis berlebihan 2. Monitor TTV, catat adanya perubahan TD ortostatik 3. Kaji frekunsi, kwalitas dan dan pola pernafasan, catat adnya penggunaan otot Bantu, periode apnea, sianosis, 4. Kaji suhu, kelembapan, warna kulit 5. Monitor nadi perifer, turgor kulit dan membran mukosa 6. Monitor intake dan output cairan, catat BJ urin Kolaborasi 1. Pemeriksaan Hb, Ht, BUN, Na, K, Gula Darah 2. Pemberian terapi cairan yang sesuai (Nacl, RL, Albumin)

Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan hiperglikemi, penurunan fungsi lekosit, perubahan sirkulasi

Tujuan : klien terhindar dari infeksi silang Kriteria hasil: Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah / menurunkan resiko infeksi Klien mendemonstrasiakn tehnik gaya hidup untuk mencegah infeksi

Mandiri 1. Observasi tanda tanda infeksi seperti panas, kemerahan, keluar nanah, sputum purulen 2. Tingkatkan upaya pencegahan dengan cucui tanganyang baik pada semua orang yang berhubungan dengan klien, termasuk klien sendiri 3. Pertahankan tehnik aseptic pada setiap prosedur invasif 4. Lakukan perawatan perineal dengan baikdan anjurkan klien wanita untuk membersihkan daerah perineal dengan dari depan ke belakang 5. Berikan perawatan kulit secara teratur, masase daerah yang tertekan , jaga kulit tetap kering 6. Auskultasi bunyi nafas dan atur posisi tidur semi fowler
pg. 10

7. Lakukan perubahan posisi dan anjurkan klien untuk batuk efektif / nafas dalam bila klien sadar / kooperatif 8. Bantu klien melakukan oral hygiene 9. Anjurkan makan dan minum adekuat Kolaborasi 1. Pemeriksaan kultur dan sensitivity test 2. Pemberian antibiotik yang sesuai 4 Resiko tinggi perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan zat kimia endogen, ketidakseimbangan elektrolit, glukosa, insulin Tujuan : persepsi sensori klien adekuat Kriteria hasil :klien dapat mengobservasi adanya kerusakan persepsi sensori

Mandiri : 1. Orientasikan klien terhadap orang, tempat dan waktu 2. Pantau TTV dan status mental 3. Pelihara aktifitas rutin klien sekonsisten mungkin, dorong untuk melakukan kegiatan sehari-hari 4. Jadwalkan intervensi keperawatan yang tidak mengganggu istirahat klien 5. Lindungi dari cedera, pasang pagar tempat tidur, dan bantal pada pagar 6. Evaluasi lapang pandang penglihatan 7. Kaji keluhan parestesia, nyeri / kehilangan sensori pada kaki, kaji danya ulkus, kehilangan denyut nadi perifer 8. Bantu klien dalam ambulasi / perubahan posisi Kolaborasi 1. Pemeriksaan laboratorium : gula darah, osmolalitas darah, Hb,Ht, ureum kreatinin 2. Pemberian obat-obatan yang sesuai

Kurangnya pengetahuan tentang proses

Tujuan : klien mengungkapkan pemahaman tentang Mandiri 1. Diskusikan topik utama seperti tanda dan gejala, penyebab, proses penyakit serta komplikasiyang
pg. 11

penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang informasi, misinterpretasi pengobatan

penyakitnya Kriteria hasil : Mengidentifikasi tanda dan gejala serta proses penyakit Melakukan perubahan gaya hidup dan berpartisipasi dalam program pengobatan

sesuai dengan tipe DM klien 2. Diskusikan rencana diet, penggunaan makanan tinggi serat, dan manajemen diet 3. Buat jadwal aktifitas yang teratur, kaitkan dengan penggunaan insulin 4. Identifikasi gejal hipoglikemi, jelaskan penyebab dan penanganannya 5. Anjurkan untuk tidak mengkonsumsi obatobatan bebas 6. Diskusiakn tentang pentingnya kontro untuk pemeriksaan gula darah, program pengobatan dan diet secara teratur 7. Diskusikan tentang perlunya program latihan 8. Berikan informasi tentang perawatan sehari-hari missal perawatan kaki

4. Evaluasi Keperawatan a. I. REFERENSI Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah dari Brunner & Suddarth, Edisi 8. EGC : Jakarta. Mansjoer, Arif, et al, Kapita Selekta Kedokteran, Jilid II, Medika Aesculapius FKUI, Jakarta, 2000. Reeves CJ, Roux G and Lockhart R, 2001, Keperawatan Medikal Bedah, Buku I, (Penerjemah Joko Setyono), Jakarta : Salemba Medika Donges Marilynn, E. (1993). Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakarta. EGC Smeltzer Suzanne, C (1997). Buku Ajar Medikal Bedah, Brunner & Suddart. Edisi 8. Vol 3. Jakarta. EGC

pg. 12