Anda di halaman 1dari 5

POTENSI PASAR PENGEMBANGAN KOMODITI UNGGULAN UBI KAYU

Ubi kayu atau Manihot Esculenta Crantz, atau yang lebih popular dengan sebutan Singkong, merupakan tanaman bahan pangan yang potensial untuk dikembangkan karena merupakan tanaman yang sudah sangat dikenal oleh petani dan dapat ditanam dengan mudah. Singkong juga merupakan tanaman yang sangat fleksibel dalam usaha tani dan umur panen. Lahan untuk tanaman singkong tidak harus khusus, dan tidak memerlukan penggarapan intensif seperti halnya untuk tanaman hortikultura lainnya, misal sayuran. Kalimantan Timur merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi yang baik untuk budidaya tanaman ubi kayu ini. Bahkan di daerah Tenggarong (Kab. Kutai Kartanegara) telah dikembangkan oleh para ahli tanaman lokal sejenis singkong yang memiliki bentuk fisik yang relatif besar dan memiliki kandungan alami yang baik. Adalah Singkong Gajah yang merupakan varietas unggul hasil pengembangan tersebut, dimana sesuai dengan namanya (gajah) hasil budidayanya dapat memberikan hasil produksi yang lebih besar dari varietas biasa yang ditanam di Indonesia. Ubi kayu khas Kalimantan Timur ini menjadi salah satu Komoditi Unggulan yang direncanakan untuk dikembangkan hingga dapat menghasilkan produk hilir yang memiliki nilai tambah tinggi, sehingga dapat bersaing secara nasional dan internasional, serta diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan para petani. Seiring dengan pengembangan KAPET SASAMBA yang memiliki fungsi utama sebagai Prime Mover pengembangan sosial-ekonomi daerah (Kalimantan Timur), diharapkan menjadi salah satu pemicu industrialisasi komoditi pertanian di Kawasan Sasamba khususnya, serta Kalimantan Timur secara lebih luas, agar mampu menciptakan nilai tambah yang bermanfaat bagi masyarakat dan pengusaha atau investor.

A. Fleksibilitas Hasil Produk dan Kemudahan Teknologi Produksi


Kebutuhan berbagai jenis industri yang memanfaatkan singkong sebagai bahan baku sangat besar karena singkong dapat menghasilkan hingga 14 macam produk turunan yang digunakan oleh industri makanan, industri farmasi, industri kimia, industri bahan bangungan, industri kertas dan Industri biofuel, sedangkan dari segi teknologi pemanfaatan singkong sebagai bahan pangan ataupun sebagai bahan bakar bukanlah sebuah teknologi baru apalagi teknologi yang tidak terjangkau bagi bangsa kita. Teknik pengolahan singkong yang sangat sederhana bahkan sudah dikenal sejak zaman nenek moyang kita, bahkan untuk pengolahan ethanol telah terbukti dengan adanya berbagai makanan dan minuman khas seperti Brem, Tuak, Arak dan berbagai macam olahan yang mengandung alkohol pada minuman tersebut sebagai hasil dari proses fermentasi dan atau destilasi Sebagai Raw Material, singkong dibutuhkan oleh berbagai industri, baik di dalam negeri maupun ke luar negeri dengan tujuan eksport Uni Eropa, Jepang, Korea, China dan Amerika Serikat. Misalnya untuk Industri pengolahan tepung tapioka dan produk turunannya yang disebut Polyol, termasuk Sorbitol, Maltitol, Dextrose Monohydrate, Maltose Syrup, Sorbitol Bubuk dan Maltodextrine. Produk ini banyak digunakan dalam industri produk konsumen dan farmasi di seluruh dunia sebagai bahan baku utama pembuatan pasta gigi, produk kosmetik, vitamin C dan produk makanan. Bentuk-bentuk hasil olahan ubi kayu antara lain adalah Gaplek, Pellet, Tepung Pati Singkong (Starch), Pati Murni (Native Starch), serta Pati yang dimodifikasi (Modified Starch). Yang terakhir ini merupakan produk olahan ubi kayu yang diunggulkan untuk dikembangkan di Kalimantan Timur, yang difokuskan industrinya di Wilayah Kapet Sasamba. Dalam rangka pengembangan sektor industri di wilayah Kapet ini, diharapkan komoditi unggulan ubi kayu menjadi bahan baku potensial bagi industri yang memanfaatkan teknologi tinggi yaitu Modified Cassava Flour atau MOCAF. Mocaf atau Modified Cassava Flour, adalah produk tepung dari singkong yang diproses menggunakan prinsip memodifikasi sel singkong secara fermentasi, dimana mikrobia BAL (Bakteri Asam Laktat) mendominasi selama fermentasi tepung singkong ini. Nilai strategis Mocaf yang diunggulkan dalam pengembangan komoditi unggulan di Wilayah Kapet Sasamba adalah kemampuannya sebagai bahan baku dari berbagai jenis makanan, mulai dari mie, bakery, cookies hingga makanan semi basah. Untuk kue basah, Mocaf dapat diaplikasikan pada produk yang umumnya berbahan baku tepung beras, atau tepung terigu dengan ditambah tapioka.

Tepung Mocaf ini bisa mensubstitusi 15% - 25% terigu impor, atau kira-kira 750.000 1.250.000 ton per tahun. Saat ini produksi riil masih di bawah 10.000 ton per tahun. Tepung Mocaf sebagai bahan alternatif pengganti terigu mempunyai peluang yang cukup besar untuk dikembangkan.

B. Peluang Pengembangan Industri MOCAF


1. Dari sisi permintaan a. Kebutuhan akan pasar terigu kian meningkat seiring dengan perubahan pola konsumsi makanan masyarakat yang kian modern. b. Semakin menjamurnya berbagai jenis industri dan usaha pengolahan makanan, dari skala besar sampai penjual eceran, terutama sejak krisis ekonomi 1998. c. Perubahan pola konsumsi makanan (food habit) ini menyebabkan kebutuhan akan bahan pangan berbasis tepung-tepungan meningkat pesat. 2. Dari sisi pasokan a. Luasnya lahan yang potensial untuk ditanami ubi kayu (karena kesesuaian geografis) b. Kemudahan teknik budidaya c. Jumlah tenaga kerja yang bisa digerakkan 3. Jenis dan karakteristik yang hampir sama dengan terigu, namun dengan harga yang jauh lebih murah membuat tepung Mocaf menjadi pilihan yang sangat prospektif. 4. Industri makanan menggunakan Mocaf untuk substitusi beras ketan, tepung terigu, dan tapioca (mengembangkan mocaf sama artinya dengan mengembangkan pangan altematif). 5. Permintaan akan kebutuhan terigu yang semakin meningkat ternyata tidak diimbangi oleh ketersediaan bahan baku yang memadai. 6. Ketergantungan industri tepung nasional terhadap bahan baku impor sangat besar (impor terigu 4,5 juta ton pada tahun 2010) 7. Kebutuhan singkong saat ini sebagian dipenuhi dari impor produk singkong, seperti gaplek, dari Thailand dan Vietnam. Sebagai gambaran besarnya peluang dari produk mocaf ini dalam mensubtitusi tepung terigu adalah sebagai berikut: a. Kebutuhan konsumsi terigu nasional: Tahun 2004 2007 Konsumsi (ton) 3.334.108 3.700.000 Pertumbuhan 6%

b. Jumlah impor tepung terigu: Tahun 2003 2007 Impor (ton) 343.283 581.535

c. Produksi cassava (data base Kementerian Pertanian) Tahun 2000 Produksi (ton) 15.351.529

2009

22.028.502

Selain itu forward linkage dari industri mocaf ini cukup luas, yaitu: Industri penggilingan tepung terigu Industri pangan pengguna terigu UKM makanan berbasis terigu

Sementara itu gandum, sebagai bahan baku terigu yang hampir 100% Import memiliki kontribusi yang sangat signifikan terhadap total nilai import bahan baku industri makanan Indonesia yaitu sebesar 27%.

Tabel - Nilai Import Bahan Makanan & Minuman Industri


Makanan dan minuman, baku untuk industri Juta IDR Gandum (27%) 2005 12,233,608 2005 2006 12,488,402 2006 2007 18,472,257 2007 2008 30,242,341 2008 2009 24,563,292 2009 2010 28,923,530 2010 2011 37,950,304 2011

Juta IDR

3,315,651

3,384,707

5,006,500

8,196,522

6,657,341

7,839,088

10,285,596

C. Target dan Pangsa Pasar (Market Share) Produk MOCAF


Tinjauan terhadap target dan pangsa pasar produk Mocaf ini merupakan upaya untuk menggambarkan prospek pengembangan industri yang direncanakan di Kapet Sasamba, dalam rangka menjawab tantangan dan kebutuhan bahan baku bagi industri makanan. Selain industri makanan sebenarnya masih terdapat industri lain yang prospektif, akan tetapi untuk kepentingan perhitungan potensi pasar di dalam kajian ini produk Mocaf ditargetkan untuk memenuhi prospek pasar bahan baku pengganti tepung terigu.

1. Target Pasar Seperti telah dijelaskan di atas, Target Pasar dari Produk Mocaf Kapet Sasamba ini adalah Industri yang menggunakan Terigu sebagai salah satu bahan bakunya. Diharapkan produk Mocaf ini dapat mensubstitusi terigu yang berbahan baku gandum (import). Potensi pasar terigu di Indonesia sangatlah menjanjikan karena pemanfaatan terigu yang sangat luas baik untuk industri makanan maupun non-makanan. Sebagai gambaran mengenai besarnya potensi pasar terigu di Indonesia, di bagian berikut ini disajikan data penyerapan pasar terigu Indonesia dari tahun 2004 2011 dan proyeksi penyerapan pasar terigu di Indonesia 2012 2033.

Tabel - Data dan Proyeksi Potensi Pasar Terigu Indonesia Tahun 2004 2005 2006 2007 2008 Volume (ton) 3,334,108 3,534,154 3,746,204 3,970,976 4,209,235 Nilai (Juta IDR) 20,831,507 22,081,397 23,406,281 24,810,658 26,299,297

Tahun 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033

Volume (ton) 4,461,789 5,062,515 5,366,266 5,688,242 6,029,536 6,391,309 6,774,787 7,181,274 7,612,151 8,068,880 8,553,013 9,066,193 9,610,165 10,186,775 10,797,981 11,445,860 12,132,612 12,860,569 13,632,203 14,450,135 15,317,143 16,236,171 17,210,342 18,242,962 19,337,540

Nilai (Juta IDR) 27,877,255 31,630,594 33,528,429 35,540,135 37,672,543 39,932,896 42,328,870 44,868,602 47,560,718 50,414,361 53,439,223 56,645,576 60,044,310 63,646,969 67,465,787 71,513,734 75,804,559 80,352,832 85,174,002 90,284,442 95,701,509 101,443,599 107,530,215 113,982,028 120,820,950

Sumber: BPS Pusat RI, Kementerian Pertanian RI, Analisis 2012 2. Pangsa Pasar Perhitungan pangsa pasar atau market share dari produk Mocaf Kapet Sasamba ini dilakukan berdasarkan kapasitas produksi lahan tanaman ubi kayu yang potensial di Wilayah Kapet dan kabupaten atau kota di sekitarnya. Luas lahan potensial untuk dikembangkannya tanaman ubi kayu dengan varietas unggul Singkong Gajah ini adalah seluas 22.251 ha, yang tersebar di Wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara, Kota Balikpapan, dan Kota Samarinda. Sedangkan potensi lahan di wilayah sekitar Kapet yang dapat dimanfaatkan untuk mengisi kebutuhan bahan baku industri di Wilayah Kapet Sasamba diperkirakan dapat mencapai 2.000 ha. Dengan demikian maka luas lahan total adalah sekitar 24.000 ha. Untuk menghitung besarnya produksi bahan baku berupa ubi kayu (Singkong Gajah) serta produk olahannya yang berupa Mocaf, digunakan asumsi sebagai berikut (Kementerian Pertanian RI, Best Practices): 1) Harga mocaf = harga terigu: 2) Rendemen Mocaf Singkong: 3) Produksi Mocaf/kg singkong: 4) Produksi singkong/ha: 5) Produksi mocaf/ha: 6.248 0,25 0,25 40.000 10.000 IDR/kg

kg/ha kg/ha

Dengan luas Singkong Gajah sekitar 24.000 hektar maka didapatkan hasil produksi sebesar 964 ribu ton per tahun pada tahun 2013. Bahan baku singkong sebesar itu dapat menghasilkan Mocaf sekitar 241 ribu ton per hektar dengan nilai produksi sekitar Rp. 1,5 trilyun per tahun. Dengan demikian maka Market Share dari Mocaf ini adalah sekitar 4% dari kebutuhan terigu nasional. Lebih jelas mengenai proyeksi penyerapan pasar Mocaf Kapet Sasamba 2012 2033 dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel Proyeksi Penyerapan Pasar MOCAF Kapet Sasamba (Kalimantan Timur) Tahun 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 Luas Ubi Kayu(ha) 22.753 24.118 25.565 27.099 28.725 30.449 32.276 34.212 36.265 38.441 40.747 43.192 45.783 48.530 51.442 54.529 57.801 61.269 64.945 68.841 72.972 77.350 Produksi Ubi Kayu (ton) 910.119 964.726 1.022.609 1.083.966 1.149.004 1.217.944 1.291.021 1.368.482 1.450.591 1.537.626 1.629.884 1.727.677 1.831.338 1.941.218 2.057.691 2.181.152 2.312.022 2.450.743 2.597.787 2.753.655 2.918.874 3.094.006 Prod. Mocaf (ton) 227.530 241.181 255.652 270.991 287.251 304.486 322.755 256.590 271.986 288.305 305.603 323.939 343.376 363.978 385.817 408.966 433.504 459.514 487.085 516.310 547.289 580.126 Nilai Prod. Mocaf (Juta IDR) 1.421.605 1.506.902 1.597.316 1.693.155 1.794.744 1.902.429 2.016.574 1.603.177 1.699.367 1.801.329 1.909.409 2.023.974 2.145.412 2.274.137 2.410.585 2.555.220 2.708.533 2.871.045 3.043.308 3.225.906 3.419.461 3.624.628

Sumber: Analisis 2012