Anda di halaman 1dari 26

REFERAT

PEMBIMBING

DR.dr.Aris Susanto MS.SpOK

PENYUSUN

Vincentius.A Leo (11-2008-126)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT PERIODE 08 NOVEMBER 15 JANUARI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA JAKARTA 2010

Kata pengantar
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmatNya yang begitu besar sehingga Saya mampu menyelesaikan refrat ini. Terimakasih kepada pembimbing DR.dr.Aris Susanto MS.SpOK atas kesempatan dan bimbingaan yang telah diberikan, serta orang tua dan teman-teman yang turut membantu sehigga referat ini dapat kami selesaikan. Kami berharap referat Patofisiologi DM tipe 2 ini dapat membantu dalam memahami dasar-dasar dari permasalahan yang ada sehingga kita dapat memberikan penatalaksanaan yang sesuai dan tepat kepada pasien guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia dikemudian hari. Apabila dalam penulisan ini tedapat hal-hal yang kurang, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Atas perhatiannya banyak terima kasih. Dengan hormat, Penulis

DAFTAR ISI

Halaman 1. Kata Pengantar............................................................................2 2. Daftar Isi.......................................................................................3 3. BAB I. Pendahuluan.....................................................................4 4. BAB II. Diabetes Militus................................................................6 5. BAB III. Mekanisme Regulasi Kadar Glukosa dalam Darah...............................................................................10 6. BAB IV. Patofisiologi Diabetes militus Tipe 2.............................14 7. BAB V. Penutup.........................................................................24 8. Daftar Pustaka...........................................................................25

BAB I

PENDAHULUAN

Diabetes melitus tipe 2 (DM-tipe 2) telah menjadi epidemi di seluruh belahan dunia pada paruh kedua abad ke 20 dan awal abad ke 21. 1 Diabetes melitus tipe 2 merupakan gangguan kompleks, progresif dan kronis yang berhubungan erat dengan angka morbiditas dan mortalitas yang cukup bermakna. Di Amerika Serikat (AS), The Centers for Diasease Control (CDC) melaporkan 6,2% populasi di AS atau sekitar 17 juta jiwa menderita DM-tipe 2. Peningkatan prevalensi DM tipe 2 ini berhubungan erat dengan sejumlah faktor seperti penurunan aktivitas fisik, obesitas dan pola makan yang jelek.
2

Penelitian (United Kingdom Prospective Diabetes Study ) atau UKPDS pada tahun 1998 membuktikan bahwa kendali kadar glukosa darah, khususnya dengan mempertahankan kadar hemoglobin A 1C (HbA1C) dibawah 7% dapat menekan risiko komplikasi mikrovaskular jangka panjang pada pasien DM tipe 2. Penelitian UKDPS ini juga melaporkan bahwa pasien DM tipe 2 yang mendapat terapi farmakologi dengan sulfonilurea, biguanid dan insulin ternyata tidak dapat mencapai kontrol glikemia jangka panjang. Oleh sebab itu diperlukan sejumlah strategi tatalaksana untuk dapat mencapai kendali glikemia yang berkesinambungan.3 Pada penanganan DM tipe 2, upaya untuk mencapai tujuan glikemia spesifik secara substansial dapat menekan morbiditas sehingga menempatkan tatalaksana efektif hiperglikemia sebagai prioritas utama mengingat upaya mempertahankan kadar glukosa pada rentang non diabetik semaksimal mungkin telah terbukti dapat memberikan efek bermanfaat dalam mencegah komplikasi spesifik diabetes seperti retinopati, nefropati dan neuropati pada pasien diabetes tipe2. 1

Permasalahan demi permasalahan dihadapi dalam penatalaksanaan DM tipe 2 dan komplikasinya yang tidak tepat sasaran akibat kurangnya pemahaman patofisiologi DM tipe 2 yang demikian kompleks. Untuk dapat merencanakan strategi tatalaksana DM yang baik dan akurat diperlukan pemahaman mengenai patofisiologi DM tipe 2. Dalam referat ini akan dibahas lebih lanjut mengenai patofisiologi DM tipe 2.

BAB II

DIABETES MILITUS

2.1 Definisi Diabetes Militus Diabetes militus bukanlah suatu penyakit tunggal tetapi merupakan kelompok dari bermacam-macam gangguan metabolik yang pada umumnya disertai dengan intoleransi glukosa. DM disebabkan oleh berbagai penyakit yang tidak terkait, dengan dan termasuk berbagai etiologi yang menyebabkan gangguan kronik dan adanya gangguan dari metabolisme toleransi glukosa. Terminologi DM menggambarkan suatu sindrom yang ditandai hiperglikemia karbohidrat, lemak serta protein.5,6,10

2.2 Diagnosis Diabetes Militus Kadar glukosa darah normal dipertahankan pada angka 70 sampai 120 mg/dl. Diagnosis DM ditegakkan dalam 3 cara, yaitu 1.
10,11

Terdapat gejala klasik DM disertai Kadar Glukosa Darah Sewaktu lebih atau sama dengan 200 mg/dl.

2.

Kadar glukosa darah 2 jam setelah TTGO (Tes Toleransi Glukosa Oral) lebih atau sama dengan 200 mg/dl.

3.

Terdapat gejala klasik DM disertai kadar Glukosa Darah Puasa lebih atau sama dengan 126 mg/dl.

Mekanisme lain yang digunakan untuk menilai kadar glukosa dalam darah adalah dengan mengukur kadar hemoglobin-glikosilat (HbA1C). Tetapi karena banyaknya standarisasi yang digunakan, maka pengukuran HbA1C tidak digunakan sebagai dasar diagnosa DM. Dalam keadaan normal, dalam 120 hari 6

daur hidup sel darah merah molekul glukosa berikatan dengan hemoglobin. Pada individu dengan hiperglikemia menetap, terjadi peningkatan hemoglobinglikosilat. Peningkatan kadar hemoglobin-glikosilat dalam sel darah merah menggambarkan kadar glukosa rata-rata yang mengekspose sel darah merah selama daur hiduonya (kira-kira 120 hari). Pengukuran HbA1C digunakan untuk menilai efektifitas pengobatan dengan memonitor kadar regulasi glukosa serum dalam waktu lama. 10

IFG

(Impaired

Fasting

Glucose)

atau

glukosa

puasa

terganggu

didefinisikan sebagai

nilai glukosa darah puasa lebih dari 110 mg/dl tetapi

kurang dari 126 mg/dl. IGT (Impaired Glucose Tolerence) atau toleransi glukosa terganggu bila kadar glukosa 2 jam post prandial lebih atau sama dengan 140 mg/dl tetapi kurang dari 200 mg/dl. Toleransi glukosa normal bila kadar glukosa 2 jam post prandial kurang dari 140 mg/dl.
10

Gangguan toleransi glukosa berpotensi menyebabkan gangguan yang serius seperti meningkatkan faktor resiko penyakit jantung dan kematian premature. Dari 3-7 % individu yang toleransi glukosanya terganggu pada IGT sebagai beberapa tahun kemudian didiagnosa sebagai DM. Hal ini menyebabkan beberapa organisasi diabetes mengelompokkan IFG dan prediabetes.
10

2.3 Klasifikasi Diabetes Militus Tabel 1 menjelaskan klasifikasi yang diperkenalkan oleh American Diabetes Assocition ( ADA) berdasarkan pengetahuan mutakhir mengenai patogenesis sindrom diabetes dan ganguan toleransi glukosa. Klasifikasi ini telah disahkan oleh WHO dan telah dipakai di seluruh dunia termasuk Indonesia.
10,11

Tabel 1. Klasifikasi Etiologis Diabetes Melitus ( ADA 2005 ) I. Diabetes Melitus Tipe I (destruksi sel beta, umumnya menyebabkan defisiensi insulin absolut) A. Autoimun (90%) B. Idiopatik (10%) II. Dibetes Melitus Tipe 2 ( bervariasi mulai dari yang dominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relative sampai yang dominan gangguan sekresi insulin bersama resistensi insulin ) III. Diabetes Melitus Tipe Lain A. Defek genetik fungsi sel beta : Kromosom 12, HNF-1 alfa ( dahulu MODY 3 ) Kromosom 7, glukokinase ( dahulu MODY 2 ) Kromosom 20, HNF-4alfa ( dahulu MODY 1 ) Kromosom 13, insulin promoter factor-1 ( IPF-1, dahulu MODY 4) Kromosom 17, HNF-1 ( dahulu MODY 5 ) Kromosom 2, Neuro D1 ( dahulu MODY 6 ) DNA Mithochondria lainnya Rabson : Mendenhall, pankreatitis, diabetes trauma /

B. Defek genetik kerja insulin : resistensi insulin tipe A, leprechaunisme, sindrom lipoatrofik, lainnya. C. Penyakit Eksokrin Pankreas pankreotomi, neoplasma, fibrosis kistik, hemokromatosis, pankreopatifibro kalkulus, lainnya. D. Endokrinopati feokromositoma, : akromegali, hipertiroidisme sindroma Cushing, somatostatinoma,

aldosteronoma, lainnya. E. Karena obat/zat kimia : vacor, pentamidin, asam nikotinat, 8

glukokortikoid, hormon tiroid, diazoxid, agonis adrenergic, tiazid, dilantin, interferon alfa, lainnya F. Infeksi : rubella congenital, CMV, lainnya G. Immunologi (jarang) : synd.Stiff-man, antibody anti reseptor insuliln, lainnya. H. Sindroma genetic lain : sind. Down, sind. Klineferter, sind. Turner, sind.Wolframs, ataksia Friedreichs, chorea Huntington, sind. Laurence-Moon-Biedl, distrofi miotonik, porfiria, sind,Prader Willi, lainnya IV. Diabetes Kehamilan

Prediabetes Glukosa puasa terganggu atau Impaired fasting glucose Kadar glukosa puasa lebih atau sama dengan 100 mg/dl dan kurang dari 126 mg/dl. Toleransi glukosa terganggu atau Impaired glucose tolerance Respon abnormal pada TTGO. Kadar TTGO lebih atau sama dengan 140 mg/dl dan kurang dari 200 mg/dl. Kurang lebih 1025% individu pada 10 tahun kemudian didiagnosa sebagai DM tipe 2. Kebanyakan penderita TGT kegemukan.

BAB III

MEKANISME REGULASI KADAR GLUKOSA DALAM DARAH


Dalam menentukan kadar glukosa di dalam darah, insulin memegang peranan yang sangat penting. Oleh karena itu sebelum membahas mekanisme regulasi kadar glukosa di dalam darah, akan dibahas terlebih dahulu mengenai insulin.

KELENJAR ENDOKRIN PANKREAS

Kelenjar endokrin pankreas terdiri dari sel-sel endokrin, sering disebut sebagai pulau-pulau Langerhans (islets of langerhans). Islets of langerhans memproduksi insulin, sel delta yang memproduksi terdiri dari 3 kelompok sel penghasil hormon yaitu : sel alpha mensekresi glukagon, sel beta somatostatin dan gastrin. Glukagon dan insulin banyak berperan dalam metabolisme karbohidrat. Terdapat jenis sel lain yaitu, sel F yang memproduksi pankreatik polipeptidase. Oleh karena itu pankreas sangat berperan penting dalam berbagai metabolisme di dalam tubuh. Gangguan utama pada kelenjar endokrin pankreas akan menyebabkan Diabetes Militus.
10

INSULIN

Sel beta pankreas mensintesis insulin dari prekursor, proinsulin. Proinsulin dibentuk dari preproinsulin. Proinsulin tersusun dari peptida A dan peptida B yang dihubungkan oleh peptida C dan dua ikatan disulfida. Enzim proteolitik melepaskan peptida C, sehingga terbentuklah insulin yang terdiri dari peptida A dan peptida B yang dihubungkan oleh ikatan disulfida. Insulin tidak berikatan dengan apapun di dalam plasma.
10

10

MEKANISME REGULASI KADAR GLUKOSA DALAM DARAH

Toleransi glukosa normal dipertahankan oleh rangsangan sekresi insulin dari pankreas, penekanan produksi glukosa hepatik endogen dan perangsangan uptake glukosa oleh jaringan perifer yang responsif terhadap insulin (misal otot dan lemak). Kedua proses yang terakhir ini dipengaruhi oleh insulin dan sangat tergantung pada proses yang pertama yaitu pelepasan insulin. 2,3

11

Gambar 1. Proses terjadinya pembentukan dan pelepasan insulin dalam sel beta pankreas

Secara fisiologi, sekresi insulin oleh sel pankreas diregulasi oleh kanal K ATP di membran plasma sel. Dalam keadaan basal, kanal tersebut terbuka dan memompa ion K+ keluar dari sel. Ketika kadar glukosa darah plasma meningkat terjadi peningkatan transpor glukosa melalui GLUT-2 ke dalam sel pankreas sehingga terjadi peningkatan ATP hasil metabolisme glukosa di mitokondria. Peningkatan ATP tersebut menyebabkan kanal K ATP membran menutup, lalu membran plasma mengalami depolarisasi dan kanal Ca 2+ pada membran plasma terbuka sehingga Ca2+ ekstraseluler masuk ke dalam sel serta meningkatkan Ca2+ sitosol. Peningkatan Ca2+ sitosol ini mengakibatkan sekresi dari granula insulin.4

12

Gambar 2. Peranan insulin dalam metabolisme tubuh terutama metabolisme karbohidrat, tampak adanya resistensi insulin yang memicu akumulasi lemak

Insulin menekan kadar glukosa darah dengan meningkatkan uptake glukosa khususnya dalam otot dan hati serta memacu oksidasi glukosa dan sintesis glikogen,. Insulin juga menghambat liposisi dan produksi glukosa hepatik serta memfasilitasi penyimpanan energi melalui lipogenesis.
5

13

Gambar 3. Peranan insulin dalam counter-regulatory hormones pada homeostasis glukosa

14

BAB IV

PATOFISIOLOGI DIABETES MILITUS TIPE 2


Diabetes melitus tipe 2 merupakan kondisi yang sangat heterogen yang ditandai peningkatan kadar glukosa plasma insulin).5,6,10 1. Peranan Genetik dalam Patofisiologi DM tipe 2 Gen berperan penting dalam perkembangan DM tipe 2. berbeda dengan DM tipe 1 autoimun, tidak ada hubungan jelas antara gen human leukocyte antigen dan DM tipe 2. Sebuah studi pada kembar monozigot, kemungkinan keduanya akan menderita DM dilaporkan mencapai 90% atau lebih, walaupun keduanya memiliki perbedaan berat badan sekalipun. Disamping itu, ras juga berpengaruh dalam prevalensi DM tipe 2. Prevalensi lebih tinggi dijumpai pada ras Asia dan Indian Amerika. 5 Kasus minoritas DM tipe 2 seperti maturity onset diabetes of youth (MODY) terjadi akibat mutasi pada gen tunggal. Beberapa subkelompok spesifik diabetes disebabkan oleh defek genetik pada fungsi sel beta atau kerja insulin. Sebagian besar kasus DM tipe 2 memiliki pencetus yang multifaktorial
5

(hiperglikemia kronis) akibat

kombinasi defek sekresi (defisiensi insulin) maupun defek kerja insulin (resistensi

(multifactorial in origin) dan kombinasi dari beberapa gen yang berinteraksi dengan faktor non genetik akan memicu terjadinya hiperglikemia. Sejumlah penelitian melaporkan bahwa komponen genetik berperan penting dalam patofisiologi DM tipe 2 dengan mendasar pada pernyataan :

Prevalensi DM tipe 2 bervariasi diantara populasi. Variabilitas ras

ini juga dapat berhubungan dengan faktor lingkungan non genetik; tetapi observasi melaporkan adanya perbedaan prevalensi diantara kelompok ras yang berbeda dalam lingkungan yang sama (faktor pemajan lingkungan sama) ini mendukung bahwa faktor genetik merupakan faktor predisposisi yang penting

Agregasi familial dari penyakit ini juga merupakan bukti yang

mendukung peranan genetik pada DM tipe 2 walaupun diakui bahwa dalam keluarga juga berbagi pengaruh lingkungan yang berbeda. 15

Adanya kemungkinan tinggi kembar monozigot (>80%) dan kembar

dizigot (>50%) menderita DM tipe 2 bersamaan menunjukkan bukti bahwa adanya komponen genetik dalam etiologi DM tipe 2

Data dari sejumlah studi melaporkan adanya dasar genetik baik


6

pada sensitivitas insulin maupun sekresi insulin.

Keanekaragaman genetik yang nyata tampaknya cukup mengejutkan dalam sudut pandang kesamaan patogenesis DM tipe 2 pada populasi yang berbeda. Dengan kata lain, gen pemicu DM tipe 2 dapat saja berbeda satu dengan yang lain. Dari sudut pandang genetik, DM tipe 2 cenderung terjadi akibat maladaptasi dan seleksi dari genotipe yang berbeda dalam memberikan respon terhadap tekanan evolusi yang berbeda pula dan bukan dipicu oleh perubahan atau kerusakan sebuah genotipe yang sama pada sebagian besar populasi akibat perubahan gaya hidup. Identifikasi komponen genetik DM tipe 2 ini tidak hanya membuka jalan bagi pemahaman mekanisme DM tipe 2 sendiri tetapi juga memungkinkan identifikasi individu yang memiliki kerentanan, disamping upaya deteksi atau diagnosis dini DM tipe 2 sehingga tatalaksananya dapat segera diberikan. 5 Genetik yang mengalami mutasi pada DM tipe 2 dapat dikatakan poligenik atau multifaktorial akibat interaksi lingkungan dengan gen yang multipel. Kerentanan ini berhubungan dengan seringnya terjadi polimorfisme yang membentuk varian asam amino pada exon dan mempengaruhi ekspresi gen pada bagian regulator. Alel dari polimorfisme ini dapat dijumpai baik pada tubuh manusia yang sehat maupun pasien DM tipe 2 walaupun dengan frekuensi yang berbeda. Rangkaian varian ini berhubungan dengan peningkatan terbatas akan risiko menderita DM tipe 2. Gen ini termasuk dalam gen yang rentan tetapi bukan faktor kausatif yang memicu penyakit.5

16

Tabel 1. Sejumlah gen yang mengalami defek dan berhubungan erat dengan patofisiologi terjadinya DM tipe 2

Dua buah pendekatan telah dilakukan untuk menetukan batasan predisposisi genetik pada DM tipe 2 yaitu :

Pertama, proses molekular dalam patofisiologi DM tipe 2 telah diuji

secara langsung dengan memeriksa peranan serangkaian varian dari gen kandidat yang spesifik. Pendekatan ini disebut candidate gen approach, yang 17

difokuskan untuk mencari hubungan antara DM tipe 2 dan serangkaian varian dalam gen kandidat yang telah diketahui fungsi fisiologinya.
6

Kedua, pendekatan yang dikenal sebagai genome-wide linkage

scan strategy dimana regularly spaced marker ini ditelusuri dalam keluarga dan pasangan kembar untuk pemisahan (segregation) dengan DM tipe 2. 6 Sejumlah studi ekstensif juga dilakukan pada gen yang diidentifikasi melalui jalur fisiologinya. Salah satu gen kandidat yang berperan dalam adipogenesis, resistensi insulin dan DM tipe 2 ialah peroxisome proliferator activated receptor (PPAR-). Genini merupakan faktor transkripsi yang terlibat dalam adipogenesis dan pengaturan ekspresi gen adiposit dan metabolisme glukosa. Dalam domain unik gen PPAR- yang meningkatkan aktivasi tidak tergantung ligan, sebuah polimorfisme Pro12Ala telah diidentifikasi. Polimorfisme ini berhubungan dengan obesitas. Dengan menggunakan stratifikasi populasi berbasis keluarga, dilaporkan bahwa Alel Ala ini behrubungan dengan penurunan risiko DM tipe 2. 6 Sebuah studi analisis genetik terbaru dari Meigs dkk melaporkan bahwa peningkatan kadar plasminogen activator inhibitor-1 (PAI-1) akibat polimorfisme pada PAI-1 4G/5G sebagai determinan genetiknya, dapat meningkatkan risiko DM tipe 2. Peningkatan kadar PAI-1 ini menandakan adanya disfungsi endotel yang mendasari sedangkan disfungsi endotel sendiri juga merupakan faktor risiko DM tipe 2 yang bersifat tidak tergantung obesitas atau faktor risiko DM tipe 2 lainnya. Peningkatan kadar E- selectin juga mencerminkan adanya disfungsi endotel dan memberikan peningkatan risiko DM tipe2 yang tidak tergantung obesitas atau faktor risiko DM tipe 2 lainnya hingga 5 kali lipat.
7

2. Interaksi Genetik dan Lingkungan dalam Patofisiologi DM tipe 2 Faktor lingkungan dapat mempengaruhi ekspresi klinis dari gangguan monogenik dan seringkali dijumpai pada ekspresi klinis gangguan poligenik. Contoh interaksi ini dapat dijumpai pada Indian Pima di Arizona. Faktor lingkungan berupa diet kalori tinggi dan aktivitas fisik yang kurang sehingga sebagian besar menderita obesitas ternyata juga memiliki prevalensi DM tipe 2 yang cukup tinggi. 8

18

Pandangan yang berkebalikan dari teori poligenik dalam patogenesis DM tipe 2 dilaporkan oleh sejumlah studi yang menunjukkan bahwa individu dengan berat badan lahir rendah ternyata memiliki prevalensi obesitas, resistensi insulin dan DM tipe 2 yang lebih tinggi pada masa dewasanya daripada mereka yang lahir dengan berat badan normal. Data ini menjadi hipotesis alternatif bahwa DM tipe 2 dan resistensi insulin terjadi sebagai konsekuensi malnutrisi janin. 8

Gambar 3. Peran faktor genetik dan lingkungan yang memunculkan resistensi insulin dan berakhir dengan DM tipe 2

Saat ini, sudah jelas bahwa baik faktor genetik maupun lingkungan berperan penting dalam fenotipe DM tipe 2. Fenotipe DM tipe 2 ini terdiri dari banyak genotipe. Fenotipe DM tipe 2 poligenik ini sangat beranekaragam atau heterogen dan diluar harapan, analisis genetik akan memberikan hasil yang ebrbeda dan tidak ada pola kelainan yang konsisten. Pada fenotipe DM tipe 2 monogenik, perjalan klinis juga sangat tergantung pada interaksi dengan lingkungan.8 3. Mekanisme yang terganggu dalam patofisiologi DM Akhir akhir ini, sejumlah kemajuan dalam pemahaman patofisiologi DM tipe 2 telah tercapai. Tidak banyak hal yang diketahui berkaitan dengan disregulasi fungsi sel islet. Setidaknya ada 3 mekanisme patogenesis yang telah teridentifikasi yaitu glucose sensing, sekresi insulin dan insulin signaling. 9

19

Gambar 4. Mekanisme patogenik yang melibatkan genesis DM tipe 2. Downregulasi dari ARNT/HIF-1 memicu reduksi gen yang digarisbawahi
9

Gambar 5. Patofisiologi DM tipe 2 dan sejumlah faktor yang berperan

A. Defisiensi insulin 20

Hiperglikemia

pada DM tipe 2 dapat terjadi sebagai konsekuensi

defisiensi insulin. Defisiensi insulin menyebabkan penurunan uptake glukosa dari otot, memicu produksi glukosa dari hati dan peningkatan mobilisasi asam lemak bebas dari jaringan adiposa. Hal ini memicu terjadinya postprandial hyperglycemia yang kemudian diikuti oleh fasting hyperglycemia.

Gambar 6. Patofisiologi DM tipe 2 meliputi adanya gangguan sektresi insulin dan resistensi insulin pada uptake glukosa di hati dan otot
2

B. Resistensi insulin Pasien DM tipe 2 mengalami hiperglikemia akibat adanya resistensi insulin yang dirangsang oleh uptake glukosa dan dapat disertai oleh kerusakan sel beta pankreas. Resistensi insulin didefinisikan sebagai pemakaian insulin yang tidak efisien dan merupakan kelainan fundamental yang mendasari onset DM tipe 2.3 Resistensi insulin baik terjadi secara genetik atau didapat dapat berperan pada perkembangan perjalanan penyakit DM tipe 2 dengan meningkatkan 21

kebutuhan akan insulin sehingga terjadi insufisiensi insulin pada individu dengan kemampuan sekretori sel beta yang terbatas.
8

Resistensi insulin telah terjadi bertahun-tahun sebelum diagnosis klinis DM ditegakkan dan sebagian besar pasien dengan resistensi insulin akan berkembang menjadi DM tipe 2. Resistensi insulin juga berhubungan dengan meningkatnya insiden penyakit kardiovaskular.
3

4. Patofisiologi DM tipe 2 sebagai dasar penatalaksanaan Saat diagnosis ditegakkan, hampir semua pasien DM tipe 2 mengalami defek kerja insulin (resistensi insulin) maupun sekresi insulin. Kecepatan produksi glukosa hepatik yang tetap tinggi walaupun kadar insulin plasma meningkat, menunjukkan adanya resistensi insulin hepatik dan gangguan kemampuan insulin dalam menekan produksi glukosa hati. Peningkatan produksi glukosa hepatik berhubungan erat dengan peningkatan kadar FPG ( Fasting Plasma Glucose). Sejumlah obat anti hiperglikemik dapat menekan kecepatan basal produksi glukosa hepatik (biguanid) dan meningkatkan uptake glukosa pada otot skeletal (thiazolidinediones/TDZ).2

Gambar 7. Mekanisme kerja obat anti diabetik berdasarkan patofisiologi DM tipe 2 Kemampuan insulin endogen dalam meningkatkan uptake glukosa pada otot mengalami penurunan bermakna sehingga memicu terjadinya hiperglikemia 22

khususnya pada kadar glukosa prandial (setelah makan). Agen antihiperglikemik (seperti biguanid, TDZ) yang memicu uptake glukosa pada otot dapat membantu mempertahankan homeostasis glukosa yang normal. Gangguan produksi insulin memiliki peran penting dalam patofisiologi bahkan saat pertama kali didiagnosis adanya DM tipe 2. 2 Sebagian besar pasien telah mengalami gangguan produksi insulin seiring dengan meningkatnya resistensi insulin saat diagnosis ditegakkan. Oleh sebab itu, tatalaksana yang mengacu pada kedua defek dalam metabolisme glukosa ini diharapkan dapat memberikan hasil yang efektif dalam mempertahankan kontrol glikemia, khususnya bila terjadi peningkatan FPG.
2

Adanya hiperglikemia dapat ditandai oleh sejumlah gejala seperti poluria, polidipsia, penurunan berat badan, kadang disertai polifagi dan pandangan kabur. Gangguan pertumbuhan dan meningkatnya kerentanan terhadap infeksi tertentu juga menyertai hiperglikemia kronik. Akibat akut yang mengancam hidup pada DM tipe 2 ialah hiperglikemia dengan ketoasidosis atau sindrom hiperosmolar non ketotik. Oleh sebab itu keadaan hiperglikemia pada DM tipe 2 harus segera dikendalikan
7

Tatalaksana kombinasi dengan pendekatan patofisiologinya diharapkan dapat lebih tepat sasaran pada defek metabolik multipel dan progresif dari DM tipe 2. Pemeliharaan kadar glukosa yang berkesinambungan dan progresif dapat memberikan hasil yang lebih maksimal dan menekan potensi timbulnya komplikasi makro dan mikrovaskular 2

23

Bab V

Penutup
Diabetes melitus tipe 2 merupakan gangguan kompleks yang makin sering dijumpai dengan risiko komplikasi yang mengancam jiwa. DM tipe 2 terjadi akibat adanya defek kerja insulin (resistensi insulin) maupun sekresi insulin. Strategi tatalaksana yang akurat berdasarkan pemahaman patofisiologi DM tipe 2 dan tindakan yang dilakukan sedini mungkin dalam upaya mempertahankan kadar glukosa dalam batas normal, dapat menekan risiko terjadinya komplikasi baik makro maupun mikrovaskular sehingga kualitas hidup pasien dapat lebih ditingkatkan.

24

DAFTAR PUSTAKA
1. Nathan DM, Buse JB, davidson MB, Heine RJ, Holman RR, Sherwin R, Zinman B. Managemen of Hyperglycemia in Type 2 Diabetes : A Consensus Algorithm for The Initiation and Adjustment of Therapy. Diabetes Care 2006;29(8):1963-70 Dailey GE. Improving Oral Pharmacologic Treatment management of Type 2 Diabetes. Managed Care 2004;2:41-8 and

2. 3.

Wyne KL, Drexler AJ, Miller JL, Bell DSH, Braunstein S, Nuckolis JG. Constructing an Algorithm for Managing Type 2 Diabetes : Focus on Role of The Thiazolidinediones. A Postgraduate Medicine Special Report The Expert Committee on the Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus. Report of the Expert Commite on Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus. Diabetes Care. 2003;26:S5-16 So WY, Ng MCY, Lee SC, Sanke T, Lee HK, Chan JCN. Genetics of Type 2 Diabetes Mellitus. HKMJ 2000;6:69-76 Radha V, Mohan V. Genetic Predisposition to Type 2 Diabetes Among Asian Indians. Indian J Med Res 2007;125:259-74 Meigs JB, Dupuis J, Liu C, ODonnel CJ, Fox CS, Kathiresan S dkk. PAI1 Gen 4G/5G Polymorphism and Risk of Type 2 Diabetes in a Population-based Sample. Obesity 2006;14(5):753-8 Lebovitz HE. Type 2 Diabetes : An Overview. Clinical Chemistry 1999;45(8):1339-45 Dotsh J, Knerr I, Rascher W, Meibner U. Does defective Hypoxia Signalling cause Type 2 Diabetes ? European Journal of Endocrinology 2006;154:781-2

4.

5. 6. 7.

8. 9.

10. Kathryn Mc Cance, Sue E Huether. Pathophysiology. Elsevier Mosby 2006 11. PB PERKENI. Konsensus Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia. Jakarta.2006

25

26