Anda di halaman 1dari 7

Berk. Penel.

Hayati Edisi Khusus: 7F (2728), 2011

ANALISIS STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN GUNUNG MURIA DAN SEKITARNYA MENGGUNAKAN METODE GRAVITASI
Nasrun Balulu Program Studi Pendidikan Fisika Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Khairun Ternate

ABSTRACT A geophysical survey using gravity method was carried out in Muria volcano. This research aimed to interpret the subsurface geology condition of the research area based on gravity data analysis. Research area is (47,6 45) km2 with 222 observation points. Gravitymeter LaCoste & Romberg type G-1118 MVR was used to measure the gravity eld, and differential method of Global Positioning System (GPS) was used to measure the position and elevation. Data processing was performed to gain complete Bouguer anomaly of both residual and regional. Bouguer density using graphical method resulted to the value of 2.67 gr/cm3. Transformation to a horizontal plane was performed obtain by using equivalent mass method with horizontal level's height of 1602 meters beyond the spheroid reference and equivalent The separation of regional anomaly and residual anomaly was generated through upward continuation method and resulted to regional anomaly in the height of 15000 meters up the spheroid reference. The residual anomaly acquired by subtract the regional anomaly toward the complete Bouguer anomaly in a horizontal plane. The subsurface modelling of Muria volcano and its surrounding was acquired from Grav2DC for Windows. The result shows that Muria volcano and its surrounding was regionally controlled by rock resulted from volcanic processes as lava (density 2,91 gr/cm3). This volcanic rock due to the gravity collapse performed a caldera lled by andesit (density 2,58 gr/cm3). Another rock which is deposited in Muria volcano are tuff from Muria Tuff (density 2,4 gr/cm3), tuff sandstone from Patiayam formation (density 2,5 gr/cm3), limestone from Bulu formation (density 2,7 gr/cm3), and limestone from Ngrayong formation (density 2,8 gr/cm3). Key words: Bouguer anomaly, Modeling, Regional anomaly, Residual anomaly, Subsurface stracture.

PENGANTAR Gunungapi Muria dan sekitarnya terletak di semenanjung Muria, sebelah timurlaut Semarang, ibukota propinsi Jawa Tengah. Morfologi daerah penelitian berupa gunung dengan ketinggian maksimal 1602 meter di atas permukaan laut (McBirney, et al., 2003). Gunung api Muria berada di empat kabupaten yaitu kabupaten Kudus, Jepara, Pati dan Rembang. Gunung muria merupakan salah satu gunung api di pulau Jawa yang berhubungan dengan subduksi yang berumur Miosen, bukun merupakan subduksi aktif hal ini berbeda dengan gunung api di pulau jawa lainnya yang secara umum berhubungan dengan subduksi sekarang (subduksi aktif). Penelitian yang selama ini dilakukan di semenanjung Muria hanya sebatas pada permukaan saja seperti penelitian kimiawi air kawah, sejarah geologi, sedangkan metode sismik yang digunakan adalah metode sismik dengan data gempa mikro, hasilnya menyatakan bahwa indikasi gempa yang direkam selama periode pengukuran Desember 1994-Februari 1995 disebabkan oleh aktifitas tektonik (bukan merupakan aktivitas volkanik Gunung Muria).

Hasil identifikasi struktur geologi bawah permukaan Gunung Muria dan sekitarnya dengan mengunakan metode gravitasi dan magnetik, menyatakan bahwa struktur bawah permukaan Gunung Muria tidak terlalu kompleks. Serta melakukan pengukuran gradien suhu, hasilnya bahwa masih aktifnya aktitas magmatik di bawah Gunung Muria berdasarkan pemetaan gradien suhu di semenanjung muria (National Technical Team, 2000). Penelitian ini dilakukan untuk mempertajam analisa dari penelitian-penelitian terdahulu, disamping adanya peningkatan aktivitas tektonik di Semenanjung Muria. BAHAN DAN CARA KERJA Lokasi Penelitian Lokasi penelitian mencakup semenanjung gunung api Muria yang meliputi daerah seluas (47,6 45) km2. Daerah penelitian ini secara administratif terletak di tiga kabupaten yaitu kabupaten Jepara, Pati dan Kudus). Batas-batas daerah penelitian adalah 624'14,63" LS648'06,37" LS dan 11038'47,27" BT11104'15,29" BT.

28

Analisis Struktur Bawah Permukaan Gunung Muria dan Sekitarnya

Peralatan yang Digunakan Alat-alat yang digunakan dalam penelitian adalah: 1. Gravitymeter LaCoste & Romberg tipe G-1118 MVR yang dilengkapi dengan sistem umpan balik elektronik (Internal Feedback System). 2. Global Positioning System (GPS) Trimble Navigation 4600 LS dengan ketelitian 10 cm. PENGOLAHAN DATA Pengolahan data gravitasi meliputi konversi ke miligal, koreksi tinggi alat, koreksi drift, koreksi pasan surut, koreksi gravitasi normal, koreksi udara bebas, koreksi Bouguer, koreksi medan, proyeksi ke bidang datar tertentu, pemisahan anomali residual-regianal, pemodelan dan interpretasi (Suyanto dan Kirbani, 1999). Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode gravitasi yang merupakan salah satu metode pasif geosika untuk mencari anomali bawah permukaan. Interpretasi Data Interpretasi data dalam metode gravitasi digunakan dua kuantitatif dilakukan dengan pemodelan, yaitu pembuatan model benda geologi atau struktur bawah permukaan dari respons yang berasal dari medan gravitasi daerah penelitian. Lintasan model yang diambil tepat berada di puncak atau sekitar puncak Muria. Sedangkan untuk interpretasi kualitatif dilakukan dengan cara menafsirkan peta kontur anomali Bouguer lengkap baik lokal maupun regional dengan hasil program yang diperoleh. HASIL Dari data sayatan geologi diperoleh 5 jenis batuan yang terdapat di daerah penelitian. Dari hasil permodelan didapat enam buah poligon dengan tingkat kesalahan antara 0,58% hingga 0,98%. Poligon batuan berwarna putih kecoklatan dengan massa jenis 2,4 gr/cm3 diinterpretasikan sebagai densitas tuf, berwarna merah dengan massa jenis 2,58 gr/cm 3 yang diinterpretasikan sebagai densitas batuan andesit, berwarna merah tua memiliki massa jenis 2,91 gr/cm3, yang diinterpretasikan sebagai lava. berwarna kuning memiliki massa jenis 2,5 gr/cm3, diinterpretasikan sebagai batu pasir tufaan, berwarna hijau muda memiliki massa jenis 2,7 gr/cm3, yang diinterpretasikan sebagai batu gamping. Dan poligon berwarna hijau tua memiliki massa jenis 2,8 gr/cm3, diinterpretasikan sebagai batu lempung.

PEMBAHASAN Lava dari satuan batuan Lava Muria yang mempunyai densitas 2,91 gr/cm3 di daerah penelitian merupakan batuan hasil dari proses vulkanik yang terjadi di Gunung Muria. Lava dari satuan batuan Lava Muria ini mempunyai densitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai densitas Bouguernya (mempunyai kontras densitas positif). Lava ini mengintrusi batugamping dari formasi Bulu, batu pasir tufaan dari formasi Patiayam. Jenis batuan paling tua yang diinterpretasikan adalah batu lempung dari formasi Ngrayong yang memiliki densitas 2,8 gr/cm3. Batu gamping dari formasi Bulu dengan densitas 2,7 gr/cm3 dan batu pasir tufaan dari formasi Patiayam dengan densitas 2,5 gr/cm3 diendapkan di atas batu lempung formasi Ngrayong. Urut-urutan umur batuan ini didasarkan pada data geologi berupa tatanan stratigrafi di daerah penelitian. Ketiga jenis batuan tersebut mempunyai nilai kontras densitas yang negatif. Tuf dari satuan batuan Tufa Muria terendapkan paling atas di daerah penelitian. Penyebaran tuf ini mengelilingi daerah di sekitar Gunung Muria tetapi ketebalannya tidak terlalu besar. Densitas tuf dari satuan batuan Tuf Muria adalah 2,4 gr/cm3. Kesimpulan yang diperoleh dari hasil pengolahan data dan interpretasi data pada penelitian metode gravitasi di Gunung Muria dan sekitarnya ini adalah: Kondisi geologi bawah permukaan Gunung Muria dan sekitarnya secara lokal, dikontrol oleh batuan hasil proses vulkanik yang mengalami robohan gravitasi sehingga membentuk kaldera yang terisi oleh batuan andesit yang mempunyai densitas 2,58 gr/cm3. Batuan penyusun Gunung api Muria dan sekitarnya terdiri dari batuan andesit yang mempunyai densitas 2,58 gr/cm3 dan lava yang mempunyai densitas 2,91 gr/cm3 dari satuan batuan Lava Muria. KEPUSTAKAAN
Suyanto I dan Kirbani SB, 1999. Pembuatan Titik Ikat Baru dan Uji Kalibrasi Jalur Bandung-Tangkuban Perahu, Pertemuan Ilmiah HAGI 1999, Surabaya. McBirney AR, Serva L, Guerra M, and Connor CB, 2003. Volcanic and Seismic Hazard at a Proposed Nuclear Power Site in Central Java, Journal of Volcanology and Geothermal Research, 126: 1130. National Technical Team, 2000, Feasibility Study on Nuclear Power Plant at Muria Peninsula, Central Java, Indonesia: Final Report on Volcanology, National Technical Team collaboration with National Nuclear Energy Agency, Jakarta.

Berk. Penel. Hayati Edisi Khusus: 7F (2933), 2011

PEMANFAATAN LIMBAH AMPAS KELAPA UNTUK MEMBUAT ETANOL MENGGUNAKAN Rhizopus oligosporus DAN Saccharomyces cerevisiae
M.M. Sintorini*, dan Bambang Iswanto Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Trisakti Jl. Kyai Tapa No.1, Grogol, Jakarta Barat *Corresponding author: sintorini2004@yahoo.com

ABSTRACT Coconut pulp is a by product or waste from the process of making coconut milk and it contains of quite high cellulose. Cellulose content in coconut pulp can be processed into ethanol through fermentation process. This study aims to know the value of C/N and the percentage of ethanol which is formed from coconut pulp fermentation process. The fermentation process is done by mixed culture of 10% and 20% Rhizopus oligosporus and Saccharomyces cerevisae on 50, 100, 150 and 200 grams of coconut pulp mass variation. The highest percentage of ethanol occurs by using 10% microbial concentration on 50 grams of coconut pulp at 120th hours, its percentage is 1.41 with the number of microbial colonies reached 6.91016 colonies/ml. At 20% concentration of microbes, the highest percentage of ethanol also occurs on 50 grams of coconut pulp at 120th hours, its percentage is 1.68 with the number of microbial colonies reached 1.21017 colonies/ml. Kinetic parameters of microbial growth in 10% mixed culture of microbes on 50 grams of coconut pulp are m = 0.01818/hour, Ks = 32.735 g/L and Y = 3.315 whereas the kinetic parameters of microbial growth in 20% mixed culture microbes 20% on 50 grams of coconut pulp are m = 0.0104/jam, Ks = 32.657 g/L and Y = 4.068. Key words: Coconut Pulp, Ethanol, Fermentation, Saccharomyces cerevisiae, Rhizopus oligosporus

PENGANTAR Tanaman kelapa (Cocos nucifera L.) memiliki banyak fungsi karena hampir semua bagian tanaman tersebut dapat dimanfaatkan. Industri pengolahan buah kelapa umumnya masih terfokus kepada pengolahan hasil daging buah sebagai hasil utama. Selain buah, kelapa juga menghasilkan bahan-bahan sisa berupa ampas kelapa. Salah satu metode yang dapat diaplikasikan untuk mengolah limbah ampas kelapa adalah memanfaatkan teknologi bioproses. Dengan metode ini, pengelolaan limbah tidak hanya bersifat penanganan namun juga memiliki manfaat karena limbah ampas kelapa merupakan biomassa yang potensial untuk diubah menjadi etanol melalui bioproses. Kandungan selulosa pada limbah ampas kelapa sangat menunjang untuk diproses lebih lanjut menjadi bioetanol. Selulosa dapat dikonversi menjadi gula terlarut dengan bantuan enzim selulase (Godana, 2007), selanjutnya, melalui proses fermentasi glukosa dapat diubah menjadi etanol. Etanol (C2H5OH) disebut juga etil-alkohol atau alkohol adalah cairan yang tidak berwarna, tidak berasa, serta mudah menguap dan terbakar. Etanol sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bahan dasar minuman beralkohol, pelarut untuk parfum, cat dan larutan obat,

antiseptik dan lainnya. Etanol juga dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif biofuel atau bahan bakar nabati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai C/N selama proses fermentasi berlangsung dan kadar etanol yang berhasil terbentuk dari proses fermentasi ampas kelapa. BAHAN DAN CARA KERJA Menggunakan empat variasi massa substrat yaitu 50, 100, 150 dan 200 gram, dengan konsentrasi kultur tercampur Rhizopus oligosporus dan Saccharomyces cerevisiae sebanyak 10 dan 20%. Uji fermentasi dilakukan selama 120 jam dengan interval waktu sampling 12 jam (Sener et al, 2007). Rhizopus oligosporus digunakan sebagai sumber selulase yang berfungsi untuk mendegradasi selulosa menjadi gula reduksi, sedangkan Sacharomyces cerevisiae untuk memfermentasi gula reduksi menjadi etanol. Limbah ampas kelapa dikeringkan pada suhu 50 C selama dua hari untuk menghilangkan kadar air (Umiasih, 2009). Uji fermentasi limbah ampas kelapa dilakukan dalam fermentor kaca bervolume 2 Liter dan diameter 15 cm. Uji fermentasi dilakukan dalam 75% total volume fermentor yaitu 1,5 Liter dengan tahapan berikut (Krishna & Chowdary, 2000): 1. Larutan limbah ampas kelapa dan akuades yang telah disterilisasi pada suhu 121 C selama 15 menit

30

Pemanfaatan Limbah Ampas Kelapa untuk Membuat Etanol

dimasukkan ke dalam fermentor pada suhu kamar (27 C). 2. Campuran limbah ampas kelapa dan akuades diaduk menggunakan mixer dengan kecepatan 150 rpm. Sampling dilakukan dengan interval 12 jam selama lima hari. Uji biodegradasi yang dilakukan adalah uji penentuan kadar Corganik, Ntotal dan kadar etanol secara Specic Gravity. Analisis pertumbuhan mikroba dilakukan dengan menghitung jumlah mikroba yang hidup saat fermentasi menggunakan TPC (Total Plate Count) dengan teknik pengenceran. Analisis C organik dilakukan menggunakan metode gravimetri, membakar substrat dalam tanur pada suhu 500 600 C sampai seluruh zat organik terbakar dan terbentuk abu berwarna putih. Bobot substrat sebelum dan sesudah dibakar ditimbang dengan neraca analitik. Metode Kjeldahl digunakan untuk analisis Ntotal sesuai dengan standard AOAC Ofcial Method 973.48 mengenai Nitrogen (Total) dalam air, dengan prinsip senyawa nitrogen organik dengan H2SO4 dan katalis diubah menjadi garam amonium, dengan penambahan basa kuat diubah menjadi amonia yang dibebaskan dan bereaksi dengan asam borat atau asam sulfat membentuk senyawa amonium yang ditetapkan secara titrimetri (SNI 06-6989.52-2005). Pengukuran kadar etanol menggunakan metode Specic Gravimetry, sesuai dengan SNI Etanol Nabati No. 3565 Tahun 2009. Kadar etanol ditentukan dari berat jenisnya yang diuji pada tabel hubungan berat jenis terhadap kadar etanol dari AOAC Official method of Analysis (2005), References Tables Appendix C halaman 16 butir 913.02. HASIL Pada Gambar 1 dan 2 berikut diketahui nilai C/N selama proses fermentasi berbanding terbalik terhadap fungsi waktu. Pada konsentrasi mikroba 10% dalam susbtrat

Gambar 2. Nilai C/N pada konsentrasi mikroba 20%

50 gram nilai C/N berkisar antara 112,04 hingga 62,63, pada massa substrat 100 gram berkisar antara 109,69 hingga 70,58, pada massa substrat 150 gram antara 108,75 hingga 75,85, dan pada massa substrat 200 gram berkisar antara 106,41 hingga 83,62. Kadar etanol yang terbentuk pada fermentasi limbah ampas kelapa dapat dilihat pada Gambar 3 dan 4, diketahui kadar etanol tertinggi diperoleh pada fermentasi jam ke120 dalam massa substrat 50 gram baik pada penggunaan konsentrasi mikroba 10% dan 20% sebesar 1,41% dan 1,68%, sedangkan kadar etanol terendah diperoleh pada massa susbstrat 200 gram.

Gambar 3. Kadar etanol pada konsentrasi mikroba 10%

Gambar 1. Nilai C/N pada konsentrasi mikroba 10%

Gambar 4. Kadar Etanol pada konsentrasi mikroba 20%

M.M. Sintorini, dan Bambang Iswanto

31

Pertumbuhan mikroba ditentukan dari hasil perhitungan jumlah koloni berdasarkan metode TPC (Total Plate Count). Kurva pertumbuhan konsentrasi mikroba 10% dan 20% dapat dilihat pada Gambar 5 dan 6.

Gambar 8. Hubungan antara jumlah mikroba terhadap penggunanaan Substrat 50gr pada konsentrasi mikroba 20%

PEMBAHASAN
Gambar 5. 10% Pertumbuhan Mikroba pada konsentrasi substrat

Gambar 6. 20%

Pertumbuhan Mikroba pada konsentrasi substrat

Dari penentuan nilai Y berdasarkan kurva pada Gambar 7 dan 8. diketahui nilai Y tertinggi diperoleh pada variasi massa substrat 50 gram baik pada konsentrasi mikroba 10% maupun 20%. Menurut Stanbury et al. (2003), koesien hasil (Y ) didefinisikan sebagai tingkat pembentukkan biomassa atas penggunaan substrat selama fase pertumbuhan eksponensial, sehingga untuk nilai Y = 3,315 pada massa substrat 50 gram dan konsentrasi mikroba 10% diartikan bahwa pada variasi terebut tingkat pembentukkan mikroba atas penggunaan substrat mencapai 3,315 koloni per mg substrat.

Gambar 7. Hubungan antara jumlah mikroba terhadap penggunanaan Substrat 50 g pada konsentrasi mikroba 10%

Menurut Umiasih (2009) terjadinya penurunan nilai C/N ini disebabkan karena terjadi proses dekomposisi bahan organik oleh jasad mikro, karena bahan organik merupakan sumber energi dan unsur hara bagi jasad hidup dalam proses metabolisme. Senyawa karbon kompleks dirombak menjadi karbon sederhana sampai akhirnya senyawa tersebut tidak dapat didekomposisikan lagi. Hasil akhir dekomposisi menyebabkan kandungan Corganik dan rasio C/N menurun sedangkan kandungan N dan unsur hara lainnya meningkat. Menurut Sener et al. (2007), nilai C/N yang rendah atau kadar N tinggi akan meningkatkan emisi dari nitrogen sebagai amonium yang dapat menghalangi perkembangbiakan bakteri. Sedangkan nilai C/N yang tinggi menyebabkan proses degradasi berlangsung lebih lambat karena nitrogen akan menjadi faktor penghambat atau growth-rate limiting factor. Nilai C/N tergantung dari kontaminan yang ingin didegradasi, bakteri serta jenis nitrogen yang digunakan. Reed & Rehm (1983) menyebutkan penggunaan substrat yang berlebihan akan menjadi penghambat pada pertumbuhan dan pembentukan produk oleh khamir sedangkan Khrishna & Chowdary (2000) menyatakan bahwa konsentrasi medium yang tinggi akan membatasi hasil akhir fermentasi karena pengadukan yang sulit dilakukan dalam medium menyebabkan sulitnya terjadi homogenitas dalam sistem. Menurut Hepworth, (2005) tingginya konsentrasi substrat akan menjadi inhibitor dalam proses fermentasi dan sel khamir akan mengalami plasmolisis karena larutan bersifat hipotonik sehingga aktivitas fermentasi terhambat bahkan dapat mematikan sel khamir. Konsentrasi substrat yang terlalu tinggi juga akan mengurangi jumlah oksigen terlarut. Pemilihan media cair sebagai substrat pada penelitian ini karena media cair lebih mudah mencapai homogenitas

32

Pemanfaatan Limbah Ampas Kelapa untuk Membuat Etanol

dibandingkan media padat sehingga kontak mikroorganisme dengan substrat lebih mudah dilakukan. Pada penelitian ini kadar etanol yang terbentuk adalah 1,41% dan 1,68% untuk penggunaan massa substrat 50 gram dan konsentrasi mikroba 10% dan 20% (Gambar 3 dan 4). Diketahui pula kadar etanol tertinggi diperoleh

pada fermentasi jam ke-120, sedangkan kadar etanol terendah diperoleh pada massa susbstrat 200 gram.
Pada penelitian ini, proses sakarikasi dan fermentasi untuk menghasilkan etanol dilakukan secara simultan atau biasa disebut dengan SSF (Simultaneous Saccharication and Fermentation ). Menurut Shen (2008), produksi etanol secara simultan lebih baik dibandingkan dengan cara bertahap atau biasa disebut dengan SHF (Separate Hydrolysis and Fermentation) apabila yang menjadi prioritas utama adalah hasil akhir. Shen (2008) juga menyebutkan beberapa keuntungan dari proses SSF yaitu, proses SSF akan mengurangi efek penghambat bagi aktivitas enzim yang disebabkan oleh terakumulasinya glukosa dan selobiosa karena gula monomer yang telah terbentuk akan langsung dikonversi menjadi etanol, produktivitas dari proses SSF pun lebih besar bila dibandingkan dengan proses bertahap. Ohgren et al. (2006) melaporkan bahwa pada proses pembentukkan etanol dari jerami gandum, proses SSF memberikan hasil yang lebih optimum dibandingkan pada proses SHF, pada proses SSF pembentukkan etanol mencapai 0,837gr/L/jam sedangkan pada proses SHF dengan kondisi yang sama etanol yang terbentuk hanya 0,313g/L/jam. Laporan ini juga menyebutkan bahwa proses SSF pada media jerami jagung mempunyai esiensi pembentukkan etanol 13% lebih tinggi dibandingkan proses SHF. Pada proses SSF efisiensi pembentukkan etanol mencapai 72,4%, sedangkan pada proses SHF hanya 59,1%. Fermentasi limbah ampas kelapa untuk menghasilkan etanol juga telah dilakukan oleh Umiasih (2009) menggunakan Aspergillus niger, Trichoderme reesei dan Sacharomyces cerevisiae dengan proses SHF, kadar etanol maksimum yang berhasil didapat adalah 0,08%. Namun, selain kelebihan-kelebihan yang telah disebutkan, proses SSF juga memiliki kekurangan, yaitu adanya perbedaan kondisi optimum pada masing-masing jenis mikroba menyebabkan sulitnya dua atau lebih jenis mikroba yang digunakan pada proses SSF mencapai kondisi optimum. Pada penelitian ini digunakan dua jenis jamur yang berbeda, yaitu Rhizopus oligosporus dan Saccharomyces cerevisae. Kedua jenis jamur ini memiliki kondisi optimum yang tidak terlampau berbeda, Rhizopus oligosporus

tumbuh optimum pada rentang pH 3,4-6 (Sorenson dan Hesseltine,1986) dan pada rentang suhu 3035 C, dengan suhu minimum 12 C, dan suhu maksimum 42 C dan, sedangkan Saccharomyces cerevisae tumbuh optimum pada rentang pH 3,56 dan pada rentang suhu 2535 C dengan suhu minimum 911 C dan suhu maksimum 3537 C (Prescot & Dunn,1981). Berdasarkan hasil analisis diketahui massa limbah ampas kelapa berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan kultur Rhizopus oligosporus dan Saccharomyces cerevisiae. Hal ini menunjukkan tingginya konsentrasi substrat akan menjadi inhibitor dalam proses fermentasi dan pertumbuhan mikroba akan menurun seiring meningkatnya konsentrasi padatan terlarut dalam substrat. Dari kurva pada Gambar 7. dihasilkan garis linear dengan nilai slope = 3,315 yang merupakan nilai dari Y. Nilai R2 = 0,799 menunjukkan bahwa 79,9% penggunaan substrat dipengaruhi oleh perubahan jumlah, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Dari kurva pada Gambar 8. dihasilkan garis linear dengan nilai slope = 4,068 yang merupakan nilai dari Y. Nilai R2 = 0,978 menunjukkan bahwa 97,8% penggunaan substrat dipengaruhi oleh konsentrasi biomassa sedangkan sisanya dipengaruhi olehf aktor lain Dari penentuan nilai Y berdasarkan kurva di atas dapat diketahui nilai Y tertinggi diperoleh pada variasi massa substrat 50 gram baik pada konsentrasi mikroba 10% maupun 20%. Menurut Reeves (2001) dalam Umiasih (2009), koesien hasil (Y) didenisikan sebagai tingkat pembentukkan biomassa mikroba atas penggunaan substrat selama fase pertumbuhan eksponensial, sehingga untuk nilai Y = 3,315 pada variasi massa substrat 50 gram dengan konsentrasi mikroba 10% dapat diartikan bahwa pada variasi tersebut tingkat pembentukkan mikroba atas penggunaan substrat mencapai 3,315 koloni per mg substrat. Oleh karena itu dapat dikemukakan bahwa pembentukkan mikroba atas penggunaan substrat pada variasi massa substrat 50 gram lebih tinggi dibandingkan pada variasi massa 100, 150 dan 200 gram. Hasil pengamatan ini menunjukkan kadar etanol tertinggi sebanyak 1,41% dengan jumlah koloni 6,91016 per ml dan 1,68% dengan jumlah koloni 1,21017 per ml yang terbentuk dari penggunaan campuran substrat Saccharomyces cerevisiae dan Rhizopus oligosporus dalam massa substrat 50 gram pada konsentrasi mikroba 10% dan 20%. Kadar etanol terendah diperoleh dari massa substrat 200 gram.

M.M. Sintorini, dan Bambang Iswanto

33

KEPUSTAKAAN
Godana B, 2007. Production of Enzymes for Application on Anima Feeds. Durban: University of Technology Durban. Hepworth M, 2005. Technical, Environmental and Economic Aspects of Unit Operations for the Production of Bioethanol from Sugar Beet in the United Kingdom. CET IIA Exercise 5, Corpus Christi College. Khrisna SH, & Chowdary G, 2000. Optimization of Simultaneous Sacharication and Fermentation for the Production of Ethanol from Lignocellulosic Biomass. Journal Agricultural Food Chemical. 28. Ohgren K, Bengtsson O, Gorwa-Grauslund Marie F, Galbe M, hahn-Hagerdal, Zacchi G, 2006. Simultaneous saccharification and co-fermentation of glucose and xylose in steam-pretreated corn stover at high ber content with Saccharomyces cerevisiae TMB3400. Journal of Biotechnology, 126: 488498.

Prescott SC dan Dunn CG, 1981. Industial Microbiology. New York: McGraw-Hill Book Company Inc. Reed G dan Rehm H, 1983. Biotechnology Industrial Microbiology 3. Connecticut: AVI Publishing Company Inc. Sener A, Canbas A, Onal OM, 2007. The Effect of Fermentation Temperature on the Growth Kinetics of Wine Yeast Species. Turkey Journal Agricultural. 349354. Shen J, 2008. Modeling and Production of Bioethanol from Mixtures of Cotton Gin Waste and Recycled Paper Sludge. Stanbury PF, Whitaker A, & Hall SJ, 2003. Principles of Fermentation Technology. Oxford: ButterworthHeinemann. Umiasih S, 2009. Hidrolisis Ampas Kelapa oleh Aspergilus niger, Trichoderma reesei dan Fermentasi Hidrolisat oleh Saccharomyces cerevisiae untuk menghasilkan Etanol. Thesis . Bioteknologi, Institut Teknologi Bandung, Bandung.