Anda di halaman 1dari 55

KEPEMIMPINAN KLINIK - PERAN DAN TANTANGAN MANAJER RUMAH SAKIT DALAM PENINGKATAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN CLINICAL LEADERSHIP-THE

ROLE AND CHALLENGE OF HOSPITAL MANAGER IN IMPROVING THE QUALITY OF HEALTH SERVICES PENGANTAR Dalam 10 tahun terakhir ini telah terjadi berbagai perubahan mendasar dalam pelayanan klinik di rumah sakit dan unit pelayanan kesehatan lamnya Jika semula rumah sakit lebih mengandalkan pada mutu dan kesetaraan akses [equity), saat ini pelayanan lebih terfokus pada pasien (patient centered) yang secara lebih nnci diterjemahkan menjadi patient safety. Mengapa dernikian? Dan berbagai penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa mengandalkan peiayanan hanya pada kernampuan klinik dan manajerial semata ternyata justru sering berakhir pada situasi yang kadang rnerugikan pasien Data rnengenai medical error yang ada. yang secara jelas rnerugikan pasien, telah menghempaskan aksioma yang mengalakan bahwa klinisi selalu benar daiam setiap pengambilan keputusan klmik dan tindakan medik. Menurut laporan The Institute of Medicine', di Amerika Serika setiap tahunnya paling tidak terjadi 100.000 kematian di rumah sakit akibat medical error. Dua studi yang dilakukan di New York menggunakan data tahun ig84 dan di Colorado serta Utah menggunakan data tahun 1992 menemukan bahwa nsidensi adverse evenf akibat kesalahan manajemen medik mencapai 2,9% hingga 3.7%. Dari seluruh kejadian adverse event tersebut 58% sebenarnya dapat dicegah.:

Biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah AS akibat medical errordiperkirakan mencapai 37,6 hingga 50 milyar dolar per tahun. Nilai ini sama dengan sekitar 2% hingga 4% dari seluruh anggaran belanja nasional AS pada tahun 1996 Atas dasar permasalahan tersebut, melalui suatu memorandum pemerintah AS mengeluarkan suatu kebijakan rnengenai upaya medik yang lebih ditekankan pada keamanan bagi pasien [patient safety). Hal yang sama juga dilakukan oleh pemerintah Inggris, Australia, dan New Zealand antara lain dalam bentuk clinical governance yang di dalamnya terdapat komponen kepemimpinan klinik (clinical leadership). Dalam makalah ini dibahas peran kepemimpinan klinik dalam peciingkatan mutu pelayanan kesehatan serta keterkaitannya dengan pengembangan pelayanan kesehatan yang berfokus pada konsep patient safety. 105 Page 2 Kepemimpinan Klinik - Peran dan Tantangan Manajer Rumah SaM Perkembangan Kepemimpinan Klinik dan Mutu a. Kepemimpinan Klinik Versus Otonomi Klinik Kepemimpinan klinik umumnya berkailan dengan klinisi yang secara langsung terlibat dalam proses pelayanan kepada posien Istilah clinical leader biasanya juga digunakan unluk seorang klinisi yang selain masih aktif terlibat dalam pelayanan pasien juga berperan serta dalam proses manajenal termasuk di antaranya manajemen SDM. Hal mi berbeda dengan klinisi yang diangkat sebagai manajerdan terpaksa tidak lagi terlibat langsung dalam penatalaksanaan

pasien Dalam praktik kedokteran tempo dulu dikenal istilah otonomi klinik yaitu bahwa seorang klinisi memiliki otontas penuh dalam pengambilan keputusan medik dan penatalaksanaan klinik bagi pasiennya. Istilah ini selanjutnya berkembang menjadi clinical freedom atau kebebasan klinis dari seorang dokter dalam mengobati pasien Melalui paradigma baru kedokteran yaitu evidence-based medicine, maka konsep kebebasan klinik ataupun olonomi klinik dianggap sudah usang dan harus segera ditinggaikan. Mengapa? Karena pada dasarnya setiap upaya medik haruslah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah berdasarkan hasil-hasil penelitian yang terbaru dan valid Atas dasar paradigma baru ini maka penatalaksanaan medik yang hanya berbasis pada pengalaman (experience) dan pendapat individu {individuai opinion) sudah ditinggaikan orang, Bahkan Hampton-, seorang ahli jantung terkemuka pernah menyatakan melalui British Medical Journalbahwa clinical freedom is death yailu dokter tidak lagi dapat melakukan tindakan medik sesuai dengan pendapatnya pribadi karena setiap dokler selalu memiliki keterbatasan baik dalam hai ilmu. pengetahuan. maupun keterampilan b. Kepemimpinan Klinik dan Evidence-based Medicine llmu kedokteran berkembang sangat pesat Teori-teori lama segera digantikan dengan teon baru yang lebih mapan dan didasarkan pada hasil penelitian yang lebih valid Pengambilan keputusan klinik yang hanya didasarkan oleh pengalaman akan segera terkubur oleh current besl evidence

yang menunjukkan bahwa beberapa prasarat medik sudah harus ditinggaikan karena terbukti membahayakan pasien alau menimbulkan medical error. Beberapa contoh prasat medik yang semula dianggap benar tetapi saat midisebut medical error antara lain: (1) melakukan tindakan episiotomi rutin pada primigrvida*. (2) pemasangan kateter di bangsal perawatan; (3) digitalisas) per infus bukannya melalui injection pump, dan (4) menegakkan diagnosis tifus abdominalis menggunakan pemeriksaan Widal.5 Evidence-based medicine telah mengubah kultur medik yang semula lebih "mendewakan" kemampuan klinis seseorang menjadi suatu upaya medik yang harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Tuntutan terhadap adanya tanggung jawab profesional secara kolektif (collective professional accountability) saat mi sudah menjadi bagian integral dan sistem pelayanan kesehatan yang baik. Skandal Bristol yang menimbulkan kematian pada anak-anak yang menjalani operasi jantung di Bristol Hospital Inggns menjadi salah satu contoh nyata peHunya professional accountability dan seorang (atau tim) dokter dalam setiap upaya medik yang dilakukan. Bukannya otonomi klinik yang kadang justru mencelakakan pasien. Dalam kenyataannya, kepemimpinan khnik tidak hanya menuntut kemampuan untuk mengkombmasikan antara kemampuan khms dengan kemampuan manajenal, tetapi juga harus mampu menetapkan ukuran-ukuran dan mdikatorindikator yang secara visual dapat digunakan untuk menilai kinerja pelayanan kesehatan secara

komprehensf. Agar kepemimpinan klinik dapat berjalan secara efektif maka harus diwujudkan dalam bentuk komitmen yang tinggi dari para klinisi unluk melaksanakan setiap upaya medik secara accountable di bawah koordmasi seorang clinical leaderyang ditunjuk di antara mereka sendiri. c. Konsep-Konsep Kepemimpinan Klinik Definisi mengenai kepemimpinan klinik sangat beragam tetapi umumnya menggambarkan keterkaitan antara nilai-nilai kepemimpinan yang efektif dengan proses atau metode-metode yang digunakan oleh seorang pemimpin ir Seseorang dikatakan sebagai pemimpin apabila memiliki cincin benkut: a Memiliki visi dan tujuan ke depan yang jelas dan terukur b, Mampu secara dinamis mengkomunikasikan visi dan nilai-nilai yang terdapat di dalamnya kepada kolega yang lain c Menciptakan iklim saling percaya, menghargai dan memiliki keyakinan yang tinggi untuk dapat mencapai tujuan organisasi secara optimal d. Mendorong dan membantu kolega yang lain untuk senantiasa meningkatkan kapasitas masing-masing dan selalu mendasarkan pada segenap potensi yang ada e. Memiliki kemampuan sebagai dinamisator di lingkungan kerjanya dan mampu menunjukkan semangat yang tinggi dalam melaksanakan tugas organisasi secara benar dan 106 Page 3 Kepemimpinan Klinik - Pera" dar, Taniangan Manajer Ramati Sakii bertanggung jawab serta berorientasi pada

iindakan nyala yang dapat diteladani. Detmer dan Ford' menekankan bahwa kepemimpinan tidak dapat dpisahkan dan clinical practice. Kepemimpinan klinik merupakan aktivitas dan tjndakan nyala para klinisi yang dimanifestasikan dalam kegiatan sehari-hari dan mencerminkan peran klinik yang konsisien, profesional, dan accountable. Dalam kenyalaannya tidak sedikit para klinisi yang merasa bahwa kepemimpinan klinik bukan menjadi tanggung jawabnya dan menganggap bahwa kepemimpinan adalah berkaitan dengan manajemen sehmgga harus dipisahkan (ari urusan klinik. Pemimpin klinik yang efektif harus mampu meningkatkan perannya dalam melayani pasien, meningkalkan mulu outcome klinik. dan mencegah alau mem in ini al kan nstko atas tindakan medik yang dilakukan melalui hubungan interpersonal dan komunikasi yang baik. Sikap kepemmpinan klinik haruslah diwujudkan dalam bentuk tanggung jawab medik yang tinggi, berani mengakui setiap kekeliruan prosedur yang dilakukan. dan segera melakukan indakan korektif yang diperlukan. Kepemmpinan klinik dengan demikian tidak saja mencerminkan lingkal kepandaian dan keilmuan, tetapi juga logika serta kebijaksanaan yang jauh lebih besar dari sekedar pengalaman sebagai klinisi. Detmer and Ford7 juga menyalakan bahwa dalam rangka kepemimpinan klinik yang memadai. seorang klinisi harus senantiasa mampu mengantisipasi dan mengadaptasi setiap perkembangan teknologi medik yang ada. sehingga selalu mampu menyesuaikan din dengan setiap perubahan yang terjadi yang didasarkan pada

lemuan keilmuan yang mutakhir Seorang pemimpin klinik harus bersedia berkorban untuk meninggalkan metode-melode penatalaksanaan medik yang selama ini dianutnya. apabila metodemctodc torcebul Icrnyato tcrbukl lebih do more harm than good berdasarkan hasil-hasil penelitan yang valid. Sikap kepemimpinan klinik dengan demikian haruslah melekal pada setiap individu dokter, klinisi, perawat, dan semua petugas pelayanan kesehatan yang terlibat langsung dalam pelayanan penderita. Perkembangan sistem pelayanan kesehatan saat ini menuntul sikap kepemimpinan klinik dan manajemen yang lebih besar dari seluruh klinisi dari semua bidang keilmuan. Konsep ini di Inggris selanjutnya menjadi salah satu isu senlral dalam pelaksanaan clinical governance. Kepemimpinan klinik haruslah menjadi bagian integrai dari nilai-nilai pelayanan kesehatan yang baik dan harus dipahami oleh semua komponen yang ada di rumah sakit termasuk manajemen puncak. Weiner et a/,a dalam studi yang melibatkan 2.193 acute care hospitals, menemukan bahwa manajemen kepemimpinan merupakan salah satu faklor penentu dalam mempromosikan kepemimpinan klinik. khususnya upaya peningkatan mulu pelayanan klinik di rumah sakil. Keterlibatan staf medik secara aktif dalam governance berperan sangat bermakna dalam peningkatan mutu outcome klinik. Dan penelitian tersebut disimpulkan bahwa sikap kepemimpinan yang ditunjukkan mulai dari lingkal puncak menjadi taktor penentu dari keikutsertaan klinik untuk secara aktif berperan dalam peningkatan mutu.

Mutu, Kepemimpinan Klinik, dan Pembelajaran Organisas! Secara umum keberhastlan pelaksanaan clinical governance lebih ditekankan pada perubahan budaya daiam organisas! pelayanan kesehaian. Degehng^, dalam studi yang dilakukan di rumah sakit di Inggris, Australian, dan New Zealand melaporkan bahwa para klinisi umumnya cenderung memilih benluk pendekatan yang sifainya lebih individuai termasuk dalam hai accountability dan relatif enggan unluk mengikuli sistem yang ada yang dianggap menjadi mekanisme pengendali kebebasan individu, misalnya evidence-based guidelines. Ada tiga disfungsi ulama dalam organisasi yang umumnya menjadi penyebab primer dan 'learning disability. yaitu10: 1. fragmentasi (fragmentation), 2. kompetisi {competition), dan 3. sikap reaktif yang berlebihan (reactive behaviours), Argyris" mengemukakan bahwa pembelajaran dalam organisas! (learning organisation) dapal dikategonkan sebagai single-loop learning ataupun double-loop learning . Single-loop learning mengisyaratkan bahwa pembelajaran dalam organisasi hanya lerjadi pada saat suatu organisasi melakukan perbaikan internal, sedangkan doubleloop learning menggambarkan bahwa pembelajaran dalam organisasi lerjadi ketika suatu organisasi melakukan penyesuaian atas teori-teon dan asumsi-asumsi mengenai bagaimana lingkungan sekitar berubah dan berkembang. Dengan demikian, double-loop learning

mengajarkan bagaimana setiap individu harus mengantisipasi dan mengadapiasi setiap perubahan yang lerjadi yang menjadi tuntutan konsumen yang sebenarnya. Pembelajaran dalam organisasi dibangun oleh komunitas yang ingin maju dengan mengutamakan aspek pelayanan. 107 Page 4 Kepemimainan Klinik - Peran dan Tontangan Ktgnojer Rumati Sahir Kebutuhan untuk pembelajaran dalam organisasi menjadi salah satu fokus ulama dan Kementerian Kesehatan Inggn's dalam dokumen disebul An Organisation with a Memory '2 yang disiapkan oleh kelompok ahli yang tergabung dalam Expert group on learning from adverse events in the NHS. Dafarn dokumen tersebut dikemukakan bahwa budaya organisasi (organizational cultore) merupakan sentral dari setiap tahapan pada pembelajaran dalam organisasi. rnufai dari upaya untuk menjamin bahwa setiap adverse event sekecil apapun harus ddentifikasi dan dilaporkan untuk setanjutnya dapat dibuat langkah-langkah koreksinya Dalam dokumen tersebut juga dikemukakan bahwa safety culture harus menjadi bagian utama dari suatu lingkungan pembelajaran. bukannya budaya saling menyalahkan {blame culture). PENUTUP Perkembangan paradigma dalam bidang kedokteran telah mendorong dilakukannya perubahan mendasar dalam sistem pelayanan kesehaian. Konsep evidence-based medicine yang secara eksplisit mengedepankan bukti-bukti ilmiah mutakhir dan valid telah menggeser pendekatan

klinik yang berbasis pengaiaman semata. Pelayanan kesehatan yang semula lebih memfokuskan pada ketersediaan SDM. kapasitas klinisi, dan senantiasa menempatkan hasil pelayanan pada wewenang klimsi ternyata tidak jarang berakhir dengan kejadian-kejadtan medical erroryang semakm marak dalam 10 tahun terakhir Ini. Kepemimpinan klinik dengan demikian perdi menjadi salah salu komponen terdepan dalam upaya pemngkatan mutu pelayanan kesehatan, amara lain melalui profesionalisme. accountability, dan senantiasa berorientasi pada outcome klinik yang berpihak pada patient safety Pelayanan terintegrasi juga menjadi salah satu entry yang menjelaskan bagaimana kepemtmpinan klinik haruslah menjadi komitmen setiap individu sebagai bagian dari sistem yang lebih besar. Tanpa kepemimpinan klinik yang baik maka upaya pemngkatan mutu pelayanan kesehatan yang memadai akan sulit diharapkan KEPUSTAKAAN 2. 3. 5. Institute of Medicine (IOM ). To Err is Human: Building a Safer Health System. Washington National Academy Press.2000. Agency for Health Care Research and Quality The Challenge and Potential for Assuring Quality Health Care for the 2V Century, http://www.ahrq.gov, diakses 22 Jum 2004.1998. Hampton S R. The end of Clinical Freedom.

British Medical Journal.1983:287- 1237-38 Carroli G. Belizan J. Episiotomy for Vaginal Birth (Cochrane Review). In: The Cochrane Library. Issue 2, Oxford* Update Software.2002. OlopoeniaLA.,King.A.L. Widal Agglutination Test-100 Years Later: Still Plagued by Controversy Postgrad Med J.2000: 76:8084 Walshe. K Systems for Clinical Governance: Evidence of Effectiveness Journal of Clinical Governance 2000c; 8:174-180. Detmer, D.. Ford, J. Educating Leaders for Healthcare. Clinicians in Management. 2001:10-3-5. Weiner.B J . Shorten.S M . Alexander. J Promoting Clinical Improvement in Hospital Quality Improvement Efforts: The Effects of Top Management. Board, and Physician Leadership. Health Services Research 1997:32(4): 491-510. Degeling, P., Kennedy, J., Hill. M.( Carnegie. M.. Holt, J. Professional Subcultures and Hospital Reform. Sydney, University of New South Wales. 1998 Senge. P The Fifth Discipline: the Art and Practice of the Learning Organisalion Clinicians in Management 1990;12:45-49. Argyris. C. Knowledge for Action: A Guide to Overcoming Barriers to Organizational Change. Jossey-Bass Publishers. San Francisco.1993. 12. Department of Health. An Organization with a Memory: Report of an Expert Group on Learning from Adverse Events in the NHS.

Chaired by the Chief Medical Officer. London The Stationery Office.2000. 8 9. 10 11 108 Page 5 JMPK Vol. 7/No.Q3/SopiQmboi/2Q04 Integrasi Keglalon Pcnanggulongon Ponyfol Monufr Sksual INTEGRASI KEGIATAN PENANGGULANGAN PENYAKIT MENULAR SEKSUAL DALAM PELAYANAN KELUARGA BERENCANA DI PUSKESMAS THE INTEGRATION OF (STD) CONTROL ACTIVITIES INTO FAMILY PLANNING SERVICES IN COMMUNITY HEALTH CENTER (CHC) Kristiani Puskesmas Salam Kabupaten Magelang Jawa Tengah ABSTRACT The integration o Sexual-Transmitted Diseases (STD) control activities into tamily planning (FP) services in CHC has been long discussed since International Conference on Population and Development (ICPD) in Catro. 1994 Yet. until now the implementation of the integration in government s health services facilities, including CHC is noi yet optimal. Knowing that STD/ HIV-AIDS cases are increasing, serious response from all health services facilities is urgently needed, so that the implementation of the programs activities can be successfully. There are several opportunities that can make the integration possible, as followed a. there is international commitment which is written in Cairo Document as an political policy : b. FP program as an established program, c. FP clinics have access to housewife s, who are in fact, un-reached by STD/H1V-AIDS control program; d. the targets (the women

as FP acceptors), have visited the FP clinics by themselves to gel FP services; e. there is established standard operational of procedure (SOP) in FP program which in it includes STD/HIV-AIDS control program; f. in FP services, health services Institution and human resources {medical and non medical staff), are already available. Besides the opportunities, there are also constraits in the implementation of the integration such as: a. Lack of commitment and concern from the decision makers in district level; b. Increase in activities is still identical with increase in working so the medical staff lend to reject the activities; c. Lack of quality culture awareness; d. limited resources, including budget; e. Lack of competency in giving information, education and counseling; f. Incomplete health infrastructures or equipments; g The high cost of laboratory examination. Understanding both opportunities and constraints mentioned above, there are some recommendations offered for this subject: a. there should be more commitment and concern from the decision makers in district level, b. District Health Office (DHO) has to socialize the program activities to all CHC in its area; c Routine supervision from DHO to CHC; d completing the supporting infrastructures/equipments and increasing operational budget, e. training the medical and laboratory staff, especially in giving information, education, counseling and specimen examination Keywords: integration, STD control activities, family planning services sexual-transmitted diseases PENGANTAR meningkat dan akibat dari penyakit lersebut juga Integrasi kegiatan penanggulangan Penyakit sangat fatal (terutama HIWA/DS). maka perlu Menular Seksual {PMS) ke dalam pelayanan adanya perhatian dan langgapan yang serius dari Keluarga Berencana (KB) sudah menjadi seluruh sarana pelayanan kesehatan terutama pembicaraan sejak Konferensi Kependudukan Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan sedunia di Kairo Mesir pada tahun 1994 (Indonesia kesehatan pemerintah yang tersebar di seluruh juga lurut ambii bagian di dalamnya). Namun tanah air Program KB merupakan salah satu program

kenyataan di lapangan sampai saat ini belum ada pokok Puskesmas yang harus dilaksanakan. tanggapan yang serius dengan kegiatan nyala di Oemikian pula halnya dengan program Puskesmas dan jajaran kesehatan di bawahnya pemberantasan penyakit menular, sehingga Mengingat bahwa saat ini kejadian PMS semakin dengan adanya keterpaduan antara beberapa 109 Page 6 Integrasi Kogialan Penanggulangan Ponyatot Menuiar Seksuai kegiatan program akan meningkatkan efisiensi. baik dalam ha! tenaga. waktu. fasililas atau sarana maupun biaya. Fasilitas pelayanan KB merupakan salah satu mata rantai fasilitas pelayanan medis KB yang pada umumnya terpadu dengan fasilitas pelayanan kesehatan.1 Dalam lokakarya nasional kesehatan reproduksi di Jakarta bulan Mei 1996 telan disepakati bahwa paket pelayanan kesehatan reproduksi terdiri dari paket pelayanan kesehatan reproduksi esensial dan paket pelayanan kesehatan reproduksi komprehensif. Paket pelayanan kesehatan reproduksi esensial terdiri dari safe motherhood, keluarga berencana, pencegahan dan penanggulangan PMS. serta kesehatan reproduksi remaja dan akan dilaksanakan secara terintegrasi.' Namun kenyataan di lapangan ternyata sampat saat mi integrasi tersebut belum dilaksanakan secara optimal, khususnya untuk pelayanan di Puskesmas. Dalam dokumen Kairo Bab VII Nomor B.7 23 Point b, dijelaskan bahwa program KB harus melakukan upaya-upaya untuk peningkatan kualitas pelayanan dan dalam pelaksanaan program hendaknya menyediakan informasi yang rnudah dijangkau. lengkap dan akurat mengenai berbagai

metode keluarga berencana. termasuk risiko dan manfaat kesehatannya, kemungkinan efek samping, dan keefektifannya dalam mencegah penyebaran HW//AIDS, serta penyakit lain yang ditularkan secara seksual (PMS). Hal tersebut juga diperjelas lagi dalam Nomor C 7.30 yang menyatakan bahwa program-program kesehatan reproduksi hendaknya meningkatkan usaha-usaha untuk mencegah, menemukan, dan mengobati penyakit yang ditularkan secara seksual serta infeksi saluran reproduksi lainnya, khususnya pada tingkat pemeliharaan kesehatan primerJ Dari pasalpasal tersebut secara jelas dan eksplisit dinyatakan bahwa dalam pelayanan keluarga berencana termasuk didalamnya pelayanan untuk penanggulangan PMS. Demikian pula dalam hasil keputusan atau kesepakatan Nomor C.7.31 lebih dipertegas menganai integrasi kegiatan pencegahan dan penemuan penderita PMS dalam pelayanan KB yang berbunyi: semua penyedia pelayanan kesehatan. termasuk penyedia pelayanan keluarga berencana. hendaknya diberi latinan khusus dalam pencegahan. penemuan. dan konsultasi terhadap penyakil-penyakit yang ditularkan secara seksual. khususnya infeksi pada wanita dan remaja, termasuk HNfAIDS? Sepertl telah diketahui bahwa selama ini prioritas penanggulangan PMS selalu ditekankan pada kelompok sasaran potensial berisiko amara lain; pekerja seks komersial (PSK). kaum homoseksual, pecandu narkoba, pengunjung atau pekerja panti pijat khusus . pengemudi atau sopir trukjarakjauh, dan lam sebagainya. yangdicurigai dan besar kemungkinannya tertular penyakit

menuiar seksual. Namun. berdasarkan kenyataan di lapangan saat ini kita harus mulai memperhatikan sasaran yang tadinya tidak dianggap potensial untuk tertular PMS yaitu ibu rumah langga yang kemungkinan besar tertular dari suaminya yang juga dianggap bukan termasuk kelompok potensial sasaran. misalnya para buruh atau pekerja informal. Kenyataan ini didukung fakta yang terjadi di lapangan yang berupa kisah nyata sebagai berikut: pada sualu han datang seorang perempuan muda (umur sekitar 18 tahun) seorang desa yang terlihat sangat lugu dan ampak innocent", diantar dukun bayi yang menggedong seorang bay berumur sekitar 4 hari ke Puskesmas untuk memeriksakan bayinya yang katanya sakit mata. Setelah diperiksa ternyata bayi tersebut menderita penyakit Gonococcal Ophthalmia (GO) yaitu penyakit Gonorrhea yang menyerang mata yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae. Bayi tersebut tertular GO sewaktu dilahirkan karena ibunya menderita GO. Dari wawancara dengan ibu muda tersebut ternyata tidak merasakan sakit atau kelainan pada alat kelaminnya. dan dari wawancara tersebut diketahui bahwa suaminya seorang buruh penambang pasir di sungat. Setelah dilakukan penyelidikan epidemiologi (PEJ ternyata suami tersebut tadi tertular penyakit GO dari PSK yang setiap malam dibawa sopir truk yang mengangkut pasir di sungai tersebut. Para PSK tersebut selain dikonsumsi oleh sopir truk juga dikonsumsi para buruh penambang pasir karena memang tarifnya relatif murah dan lerjangkau. Hal ini dapat terjadi tidak hanya pada satu atau dua orang saja, bahkan ratusan orang buruh penambang pasir yang bekerja

di tempat tersebut. Dari fakta tersebut jelas bahwa PMS telah merambah keseluruh lapisan masyarakat kelas ekonomi kuat sampai pada kelas ekonomi lemah. masyarakat pedesaan. buruh. ibu rumah tangga yang lugu. dan sebagainya. Jadi pertanyaannya sekarang adalah siapakah kelompok potensial berisiko untuk tertular PMS? Berdasarkan pada hal-hal tersebut di atas maka sudan sepantasnya bila sasaran yang perlu mendapat perhatian bukan hanya sasaran yang selama ini dianggap sebagai sasaran potensial , tetapi sudah harus memperhatikan sasaran yang lam yaitu para pekerja nonformal, buruh dan juga istri-istri mereka (ibu-ibu). Mengingat hai tersebut maka dalam upaya meningkatkan kegiatan penanggulangan atau pemberantasan PMS/HIVAIDS dapat dilakukan dengan berbagai cara termasuk di dalamnya adalah peningkatan kegiatan 110 Page 7 Integras) Kegiatan Penanggulangan Penyakit Menular Seksui yang dilakukan di sarana pelayanan kesehatan terdepan yaitu Puskesmas dan jajaran pelayanan kesehatan di bawahnya (Pustu. Polindes. dan Puskesting). Dalam era globalisas) ini semua sarana pelayanan kesehatan dituntut unluk meningkatkan mutu pelayanannya termasuk Puskesmas, sehingga Puskesmas harus berupaya puta untuk meningkatkan mutu pelayanannya, termasuk pelayanan KB maupun pemberantasan penyaktt menular Terdapat tiga indikator pelayanan KB atau

kesehatan reproduksi yang bermutu yaitu penurunan kecenderungan atau jumlah unsafe abortion dikalangan remaja perempuan yang berusia 1519tahun; penurunan jumlah kehamilan dan kelahiran pada remaja umur 1519 tahun; dan penurunan jumlah penyakit menular seksual dikalangan remaja laki-laki maupun perempuan, termasuk pencegahan dan pengendalian penularan infeksi HIV.-1 Beberapa hai yang memungkinkan untuk mengintegrasikan pelayanan penanggulangan PMS ke dalam pelayanan KB karena adanya beberapa peluang yaitu: 1. Adanya komitmen nternasional yang merupakan "political policy", yang tertuang dalam Dokumen Kairo (Indonesia ikut berpartisipasi di dalamnya) terutama yang tertuang dalam Bab Vil, yang menguraikan lima pokok bahasan yaitu tentang: hak-hak reproduksi dan kesehatan reproduksi: keluarga berencana: penyakit yang ditularkan secara seksual dan pencegahannya; seksualitas manusia dan hubungan gender, sena tentang remaja. Kelima pokok tersebut saling berkaitan dan terpadu dalam pefaksanaannya. Dengan adanya komitmen tersebut akan mendorong terlaksananya integrasi penanggulangan PMS ke dalam pelayanan KB. 2. Program KB telati melembaga dan berhasil mengembangkan berbagai pelayanan kepada masyarakat. khususnya dengan sasaran ibu rumah tangga atau keluarga, dan merupakan bukli keberhasilan penanganan secara terpadu dan beberapa kegiatan yang hasilnya sudah

dirasakan oleh masyarakat. Pengalaman dalam menangani dan memadukan berbagai kegiatan tersebut memberi peluang pula dalam integrasi pelayanan penanggulangan PMS/ AIDS ke dalam pelayanan KB. Program pelayanan yang berkaitan dengan masalah kesuburan mempunyai banyak kemiripan dengan program penanggulangan PMSAIDS, sehingga integrasi kedua pelayanan tersebut akan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang ada. 3. Klinik Keluarga Berencana (KKB) mempunyai akses terhadap ibu rumah tangga atau PUS peserta KB yang pada kenyataannya belum terjamah oieh program penanggulangan PMS/ AIDS. Adanya sarana. tenaga dan fasilitas yang tersedia di KKB dapat dimanfaatkan seoptimal bahkan semaksimal mungkin dalam program penanggulangan PMSAIDS. terutama dalam pemberian informasi atau penyuluhan, konseling dan penemuan atau penjaringan penderita PMS, 4. Sasaran, yaitu ibu-ibu peserta KB telah datang sendiri ke KKB dalam rangka untuk mendapatkan pelayanan KB. Dengan demikian sekaligus sasaran ini sebagai sasaran program penanggulangan PMSAIDS. dengan memberikan penyuluhan atau informasi tentang PMSAIDS, konseling dan penjaringan atau penemuan PMS. Bagi peserta KB yang menggunakan IUD pada saat pemasangan maupun pada saal kontrol, saat dilakukan penksa dalam {in speculo) dapat dideteksi apakah ada tanda-tanda terkena PMS.

Misalnya adanya kelainan di alat kelaminnya atau adanya discharge atau cairan di vagina yang berlebihan atau tidak normal, untuk kemudian diambii dan diperiksa di laboratonum, sehingga dapat diketahui menderita PMS atau tidak. 5. Dalam pelayanan KB sudah ada Standard Operational of Procedure (SOP) yang telah ditetapkan. termasuk didaiamnya adanya kegiatan penanggulangan PMS/HIV-A/DS. Kalau semua pelayanan di KKB dilaksanakan sesuai SOP. sebenarnya telah mencakup pelayanan pencegahan dan penanggulangan PMSAIDS. Dalam pelayanan KB yang berkualitas dituntut adanya pelayanan oleh tenaga yang kompeten dan profesional melalui proses konseling yang berpedoman pada standar pelayanan yang sudah ditentukan serta ditunjang oleh jaringan rujukan yang handal.5 Untuk optimalnya integrasi pelayanan PMSIAIDS ke dalam pelayanan KB hanya perlu menambah dan menyempurnakan beberapa kegiatan antara lain dalam pemberian penyuluhan dilengkapi informasi tentang PMS/AIDS. Demikian pula untuk konseling pra dan pascapelayanan kontrasepsi perlu ditambahkan tentang pencegahan dan penanggulangan PMSAIDS. Dalam pelayanan meds dapat dilakukan penjaringan atau penemuan penderita PMS, disesuaikan dengan sarana atau fasilitas penunjang yang ada 111 Page 8

Integrasi Kogiatan Penanggulangan Penyakt Mnular Soksual 6. Dalam pelayanan KB telah tersedia institusi pelayanan. tenaga meds atau paramedis dan nonmedis. sarana atau alai dan obai, yang semua itu sekaligus dapal dimanfaatkan dalam kegiatan pencegahan dan penanggulangan PMS/AIDS, tinggal menambah beberapa sarana penyutuhan (leaflet, booklet, dan pedoman penyuluhan PMS/AIDS), panduan konseling. dan sarana pemeriksaan laboratorium. Selain itu perlu adanya pelatihan petugas pelayanan dalam hai komunikasi. informasi, edukasi (KlE). dan pelatihan petugas laboratorium untuk pemeriksaan spesimen. Selain adanya peluang-peluang seperti tersebul di atas, ada beberapa kendala yang dialami Puskesmas: 1. 2. 4. . Kurangnya komitmen dan kepedulian dari para pengambil kebijakan di tngkat kabupaten/kota. Penambahan kegiatan identik dengan penambahan beban kerja. sehmgga ada kesan menolak atau malas mengerjakan Belum adanya kesadaran tentang budaya rnutu dalam pelaksanaan kerja. sehingga pelayanan masih belum sesuai SOP. Terbatasnya sumber daya yang ada di Puskesmas, terutama dalam hai tenaga. sarana dan biaya. Kemampuan petugas dalam pemberian KIE

dan konseling masih sangat terbatas. sehingga perlu adanya pelatihan. Seperti yang dikemukakan oleh Ramonasan6 bahwa kemampuan dan keterampilan pemberi pelayanan dalam membenkan informasi kadang-kadang tidak memadat sehingga perlu adanya pelatihan khusus. Kurang lengkapnya sarana pelayanan, terutama sarana penyuluhan dan konseling. serta sarana pemeriksaan laboratorium (Puskesmas yang mempunyai tenaga Analis baru sedikit, ketersediaan reagensia dan alai laboratorium masih sangat terbatas). 7. Sangat terbatasnya biaya operasional Puskesmas. sehingga kurang mencukupi unluk pelaksanaan kegiatan. 8. Mahalnya biaya pemeriksaan laboratorium. bita harus merujuk pemeriksaan spesimen untuk mendukung penegakan diagnosis PMS/A/DS ke laboratorium rujukan. Adapun gambaran model integrasi, mana|emen pelayanan dan langkah-langkah pelayanan terdapat pada Bagan 1, Bagan 2, dan Bagan 3. PENUTUP Sebagai penulup dan tulisan ini ada beberapa hai yang direkomendasikan untuk terlaksananya integrasi kegiatan penanggulangan PMSIAIDS kedalam pelayanan KB yaitu 1 Harus ada komitmen dan kepedulian dan para pengambil kebijakan di tngkat kabupaten/kota, 2. Harus ada sosiahsasi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota ke seluruh Puskesmas tentang kegiatan tersebul.

3. Adanya pembinaan dan supervsi secara rutin dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota ke Puskesmas, 4. Pemenuhan sarana penunjang kegiatan {pelayanan langsung yaitu pelayanan medis maupun konseling atau penyuluhan dan sarana pemeriksaan laboratorium) serta pemenuhan dana operasional untuk kegiatan tersebut di Puskesmas, 5. Pelatihan petugas pelayanan langsung (medis atau paramedis), terutama dalam hai pemberian informasi (konseling atau penyuluhan). G. Pelatihan petugas laboratorium, terutama dalam pemeriksaan spesimen atau discharge vagina, untuk penunjang diagnosis PMS PELAYANAN KB KIE Konseling Pelayanan Alk on Pengayoman C'Tii::-'!.!-' Rujukan kn RS PENANGGULANGAN PMSIAIDS KIE Konseling Penemuan'Penjahngan Pendenta Pengobaian

Rujukan ke RS Bagan 1. Gambaran Integrasi 112 Page 9 Page 10 Survoy Kepuasan Pangguna Jasa Pelayanan Kesehatan SURVEY KEPUASAN PENGGUNA JASA PELAYANAN KESEHATAN PERJAN RUMAH SAKIT SANGLAH DENPASAR SANGLAH HOSPITAL CUSTOMER SATISFACTION SURVEY A. A. Gde Muninjaya Unit Penelitian dan Latihan Epidemiologi Komunitas {UPLEK) Fakultas Kedokteran. Universttas Udayana. Bali ABSTRACT Background: Sanglah Hospital wants lo be a market leader in health care services In Bali Reaching this objective, they should improve the performance of their medical units by doing a satisfaction survey using a servqual approach model by Pasuraman. Method: 395 hospital patients selected among those who vistted the hospital Adjusted number of randomly selected samples has been applied according to Ihe proportion of reported client visited each medical unit. Average 640 patients were vistted this hospital everyday The sample consist of 150 hospitalized patients (38%), 188 outpatient clinic patients (47, 6%), and 57 emergency unit patients (14, 4%). Respondent were patient or his/her care givers who was waiting for him or her. They completed a pair of questionnaires consist of 20 variables developed Result: In general, Sanglah hospital clients were noi satisfied with the staff performance Level of adjustment was 84.96%. The hospital management should highly recommended to improve nursing staff skilled, quality assurance, client s belief, and service equity disregard of socio-economic status, completeness of medical instruments, staff readiness and room cleanness. Linear regression analysts showed that empathy and reliability were ranked highly

as two contnbuting factor related to client satisfaction variation (r' = 0.158 and ^ = 0,009). Conclusion: Patient satisfaction was still under clients expectation. Nursing staff skill and quality of care assurance should be improved by hospital management for better staff performance. Keywods: hospital patient s satisfaction, servquat vanables LATAR BELAKANG Rumah Sakit (RS) Sanglah mulai beroperasi tahun 1959 Rumah sakit ini adaiah RS pendidikan kelas B dengan 738 tempat tidur dan 2.231 orang karyawan Sejak 12 Desember 2000, manajemen RS ini sudah ditetapkan oleh pemerintah menjadi perusahaan jawatan dengan visi RS unggul di bidang pelayanan, pendidikan, dan penelitian untuk tingkat regional Indonesia Timur (2005), nasional (2010), dan internasional (2020). Dari hasil anlisis situasi internal dan eksternal RS Sanglah menetapkan berbagai sasaran, strategi, kebijakan. dan program untuk terus memacu terjadinya peningkatan produkvitas dan mutu kinerjanya. Rata-rata pengguna jasa pelayanan RS Sanglah per hari berjumlah 640 orang. Salah satu sasaran peningkatan kinerja RS ialah pemngkatan cash flow. Untuk tahun 2003, Perjan RS Sanglah menetapkan sasaran peningkatan kegiatan pelayanan meds sebesar 9%, termasuk kegiatan penunjang medJs dan instalasi. Sasaran ini sangal kontradiktif dengan pemakaian tempat tidur RS Sanglah (Bed Occupancy Rale -BOR) yang cenderung menurun sejak tahun 2000. Beberapa unit pelayanan sudah dikembangkan menjadi revenue centre. Selain itu, manajemen RS juga terus mempersiapkan karyawannya terutama staf keperawatan agar mereka mampu bekerja lebih bermutu dan produktif sesuai dengan harapan

pengguna jasa pelayanannya.' 2 3 Dari rumusan visinya RS Sanglah mgm tetap tampil sebagai pemimpin pasar {market leader) di bidang pelayanan kesehatan di Bat dan wilayah sekitarnya. Jika institusi pelayanan kesehatan yang bercirikan padat teknologt, padat karya, dan padat modal seperti RS Sanglah yang ingin berkembang menjadi sebuah public enterprise yang lebih berorientast pasar, maka kepuasan pengguna jasa pelayanannya harus selalu menjadi fokus peningkatan kinerjanya.45-8 Selama ini, monitoring terhadap kepuasan pengguna jasa pelayanan RS Sanglah dilakukan dengan menempatkan kotak sarn di berbagai tempat strategis di lingkungan RS. Akan tetapi, 115 Page 11 Survey KcpuosQti Pengguna Jasa Pelayonan Kesoliaian langkah ini dianggap kurang efeklif oleh pihak manajemen karena tanggapan pengguna jasa sangat rendah. Oleh karena itu, survey kepuasan pengguna jasa ini dilakukan dengan menggunakan model servqual yang dikembangkan oleh Pasuraman/ e Survey kepuasan pengguna jasa pelayanan kesehatan ini dilaksanakan untuk memberikan gambaran umum tenlang profil pengguna jasa pelayanan, tingkat kepuasan, dan faktor-faktoryang mempengaruhinya. lermasuk harapan pengguna jasa yang perlu mendapat perhatian dan pihak Direksi RS Sanglah unluk memacu lerus peningkatan kmerja di masa mendatang. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Survey dilakukan terhadap pengguna jasa

pelayanan kesehatan RS Sanglah. Besarnya sampel yang diambil dalam penelilian im dihitung dengan menggunakan rumus Slovin. Sebanyak 395 pengguna jasa pelayanan Penan RS Sanglah terpilih secara random (e=5%).ul" VV,N Distribusi sampel disesuaikan dengan proporsi kunjungan pasien ke masing-masing unit petayanan RS Sanglah tahun 2002. Kompostsi sampel terdiri dari 150 orang (38%) adalah pasien Instalasi Rawat Inap (IRNA), 188 orang {47.6%} pasien Instalasi Rawat Jalan (IRJ). dan 57 orang (14.4%) pasien instatasi rawat darurat (IRD) Yang menjadi responden dalam penedtian ini adalah pasien atau keluarga penunggu pasien yang memahami tentang kondisi pasien. Mereka mengisi dua lembar kuesioner yang berisi 20 variabel yang dijabarkan dan kelima dimensi mutu pelayanan Pasuraman (servqual model: responsiveness, reliability, empathy, assurance, tangibles).''Lembar pertama berhubungan dengan kepentingan (harapan) pengguna jasa RS. Lembar kedua berhubungan dengan tanggapan pengguna jasa pelayanan terhadap kmerja RS. Responden mengisi tanggapannya menggunakan skala Likerl (1-5}. Untuk kuesioner pertama, skala-5 cerarti sangat penting. skala-4 berarti penting, skala-3 berarti biasa saja, skala-2 berarti tidak penting, skala-1 berarti sangat tidak penting. Untuk jawaban kuesioner lembar yang kedua, skala-5 berarti sangat puas, skala-4 berarti puas, skala-3 berarti cukup, skala-2 berarti tidak puas, dan skala-1 berarti sangat tidak puas. Kuesioner kedua juga menyediakan kolom khusus di bagian akhir untuk diisi oleh responden

dengan komentar tambahan selain tanggapan mereka pada 20 pernyataan atau variabel penentu kuahtas jasa. Hasil ujicoba kedua lembar kuesioner menunjukkan bahwa kuesioner yang digunakan untuk survey ini cukup efektif unluk mengetahui harapan dan tanggapan pengguna jasa pelayanan kesehatan terhadap kinerja RS (koefisien Alpha Cronbach > 0.5). Pengumpulan data dilakukan oleh 8 orang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana semester VI dan VIII selama dua minggu pada pertengahan tahun 2003. Mereka dilatiti menggunakan kuesioner selama tiga han baik di kelas maupun di bangsal RS. Untuk menjaga mutu dan konsistensi data setiap petugas lapangan dilengkapi dengan prosedur pengumpulan data Setiap pasang kuesioner yang dikembalikan oleh petugas lapangan. diteliti kembali kelengkapandan konsistensinya oleh 2 orang supervisor Data hasil penelilian direkam dengan komputer dan anlisis dengan menggunakan program SPSS (Windows) versi 11 Untuk mengetahui ttngkat kepuasan pengguna jasa pelayanan kesehatan Perjan RS Sanglah. skor jawaban responden pada skala Likert dikalikan dengan jumlah responden yang mengisi skor tersebut. Total skor jawaban untuk tingkat kinerja (sebagai pembilang = X) dibandtngkan dengan total skor jawaban tingkat kepentingan (sebagai penyebut = Y) menghasilkan tingkat kesesuaian yang menggambarkan tingkat kepuasan pengguna jasa. Anlisis yang sama juga dilakukan untuk membandingkan tingkat kepuasan responden di IRNA. IRQ. dan IRJ Sesuai dengan konsep servqual, angka 100% berarti terpenuhinya

harapan atau tingkat kepentingan pengguna jasa dibandingkan dengan kinerja atau prestasi atau perormance pelayanan yang diterima. Jika skor di alas 100% berarti pengguna jasa puas. Rumus tingkat kepuasan sebagai benkut: Tingkat Kepuasan = Skor kineria (X) Skor tak kepentingan (Y) X 100% Rata-rata skor X dan Y digunakan untuk menyusun matriks kepentingan kinerja. Dengan matriks mi akan diketahui variabel-variabel penentu dimensi kuahtas jasa mana yang perlu segera mendapat perhatian pihak Direksi RS Sanglah untuk ditmgkatkan kualitasnya dan yang harus dipertahankan prestasinya, serta variabel mana yang sudah baik karena mendapat penilaian lebih dari tingkat kepentingan pengguna jasa Analisis regresi linier dilakukan untuk mengetahui variabel setiap dimensi servqual yang paling berpengaruh terhadap tingkat kepuasan pengguna jasa. Variabel dependennya adalah tingkat kepuasan dan variabel mdependennya adalah tmgkai kesesuaian kelima dimensi servqual. Analisis regresi linier juga dilakukan terhadap variabel yang memberikan kontribusi {r?) terbesar terhadap tingkat kepuasan dan hasil perhitungan sebelumnya. Hasilnya yang didapat adalah variabel-variabel yang memberikan sumbangan terbesar terhadap tingkat kepuasan pengguna jasa pelayanan RS Sanglah. 116 Page 12 Page 13

Page 14 Page 15 Page 16 Page 17 Survay Kepuasan Pengguna Jasa Playanan Kesehatan Sejumlah responden memberikan komentar tambahan (total 257 komentar) yang rnayoritas tergolong dimensi tangibles (75 komentar) dan reliability (65 komentar). Responden terbanyak mengomentari perawat yang kurang ramah dan judes (10,1%), ruangan perawatan IRNA yang kurang bersih (7%), jadwal kunjungan dokter di IRNA dan pelayanan IRJ tidak tepat waktu (6%), serta pembenahan sarana parkir baik pengaturannya maupun penambahan area parkir (5%). (Bagan 4). KESIMPULAN DAN SARAN Untuk menghadapi persaingan pasar lokal yangsemakin ketat dan agar tetapmampu merebut segrnen pasar yang baru terutama masyarakat kelas menengah ke atas di Bali dan Nusa Tenggara Barat maupun Timur. Perjan RS Sanglah terus mengembangkan mutu pelayanannya yang beronentasi pasar Kepuasan pengguna jasa pelayanan harus seialu menjadi orientasi kerja staf dan pfhak Direksi RS Sanglah. Survey tingkat kepuasan pengguna jasa sebaiknya dilakukan secara rutin untuk mengetahut perkembangan tingkat kepuasan pengguna jasa. Supervisi ke unit-unit pelayanan RS periu dilakukan secara rutin oleh kepata unit pelayanan agar penerapan standar prosedur yang baku dan etika pelayanan baik meds maupun keperawatan dapat dipertahankan untuk meningkatkan mutu RS

Sanglah. Komunikasi antardireksi dengan staf medis perlu dilakukan secara rutin untuk menjembatani kesenjangan persepsi dan kepentingan karena RS Sanglah mempekerjakan stai pendidikan yang induknya berbeda yaitu Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Denpasar dan Depkes RI Pihak manajemen RS Sanglah juga perlu segera menyelenggarakan pelatihan bagi stai di unit-unit peiayanan tentang program menjaga mutu pelayanan karena terkait dengan kepuasan pengguna jasa, Pihak Direksi RS Sanglah sebaiknya menggunakan alat ukur im (quesioner survqual) untuk mengevaiuasi tingkat kepuasan pengguna jasa pelayanan RS Sanglah secara rutin. Staf yang bekerja di unit-unit perawatan yang langsung berhubungan dengan pasien dan keluarganya harus terus diberikan briefing dan supervisi khusus agarmengutamakan kepentingan pengguna jasa pelayanan RS Sanglah, terutama yang berpendidikan lebih tinggi dan yang sebeiumnya sudah pernah menggunakan jasa pelayanan kesehatan RS. Pihak Direksi RS Sanglah perlu mempertjmbangkan untuk mengembangkan bagian hubungan masyarakat (humas) RS ini menjadi customer service. Staf di sini harus dilatih agar mampu bekerja lebih profesional di bidangnya, empati terhadap pasien dan keluarganya. dan mampu mengusai bahasa Inggris dengan baik karena Bali menjadi pusat kunjungan wisata dunia. Staf tersebut juga perlu diberi tugas untuk mengembangkan berbagai teknik monitoring dan mampu menangani keluhan pengguna jasa

pelayanan RS Sanglah dengan penuh empati. Pekerja sosial juga perlu dipertimbangkan oleh Direksi RS Sanglah untuk diperkerjakan di RS int. Mereka diberikan tugas untuk menjembatani kesenjangan pemahaman tentang pelayanan kesehatan antara pengguna jasa yang beragam latar belakang sosialnya dengan petugas kesehatan dan pihak Direksi RS Sanglah. Kesenjangan pemahaman tentang pelayanan kesehatan seialu ada antara pengguna jasa pelayanan yang awam tentang prosedur pelayanan kesehatan dengan petugas kesehatan yang memberi pelayanan. Mereka dilatih secara intensif untuk memahami manajemen kesehatan dan mampu berkomumkasi dengan pasien dan keluarganya. Survey kepuasan terhadap karyawan RS im [internal customer) perlu dilakukan secara berkala oleh Direksi RS Sanglah mengingat RS mi memiliki berbagai jems sumber daya manusia kesehatan. Kinerja RS Sanglah di mata pengguna jasa pelayanan akan sangat ditentukan oleh karyawannya yang bekerja di gans depan Setiap saat mereka akan menjadi public relation RS ini karena mereka seialu berhadapan dengan pasien dan keluarganya. KEPUSTAKAAN 1. Perjan RS Sanglah: Laporan Kinerja Tahun 2001 2. Perjan RS Sanglah; Laporan Kinerja Tahun 2002 3. Perjan RS Sanglah: Laporan Kinerja Bulan Januari 2003. 4. Tjiptono, F. Manajemen Jasa. Penerbit Andi.

Yogyakarta. 2000. 5. Rangkuti. F. Measuring Customer Satisfaction Penerbit Gramedia. Jakarta. 2002. 6. Supranto, J. Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan Untuk Menaikkan Pangsa Pasar Rineka Cipta. Jakarta. 2001. 122 Page 18 Survey Kepuasan Pengguna Jasa Petayanan Kesehaian 9. 10. Irawan, H. 10 Prinsip Kepuasan Pelanggan. Penerbit PT. Elex Media Komputindo. Jakarta. 2002. Yoeti, 0. A. Customer Service Cara Efektif Memuaskan Pelanggan. Penerbit Pradnya Paramita, Jakarta. 2000. Rimbawan. D. Analisis Kepuasan Pasien Rawat Inap RS Puri Raharja Denpasar. Thesis Paskasarjana. Program Paskasarjana Universitas Udayana. Denpasar, 2000. Chou and Boldy. Patient Perceived Quality-ofCare in Hospital in the Context of Clinical Parthways: Development of anApproach. Journal of Quality Clinic Practice. 1999; 9:89 93. 11. Hickey. et al. The Patients Perception of Quality in Surgery. Journal of Quality Clinic Practice.1998;18:89-95. 12. liyas Yaslis. Kinerja Teori. Penilaian dan Penelitian. Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan FKM UI.Depok. 2001. 13. Kish and Lelie. Survey Sampling. John Willey and Sons. NY. 1965. 14. Lawthers, Ann G, et al. Using Patient Surveys

to Measure the Quality of Outpatient care in Krakow. Poland. International Journal for Quality in Health Care.1999;11(6): 497 -506. 123 Page 19 JMPK Vol 07/No 03/SefjtBmber/2OO4 Upaya Petbalkan Perencanaan don Distnbust Obat Puskesmas UPAYA PERBAIKAN PERENCANAAN DAN DISTRIBUSI OBAT PUSKESMAS MELALUI MONITORING-TRAINING-PLANNING DI KABUPATEN KOLAKA IMPROVING THE EFFORT OF DRUG PLANNING AND DISTRIBUTION IN COMMUNITY HEALTH CENTER USING MONITORING -TRAINING-PLANNING IN KOLAKA REGENCY Harun Masirri1, Sri Suryawati'. Siti Munawaroh* 'Magister Manajemen dan Kebijakan Obat, Program Pascasarjana UGM. Yogyakarta JPusat Studi Farmakologi Klinik dan Kebijakan Obal, UGM, Yogyakarta 'Dinas Kesehatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ABSTRACT Background: Planning and distribution of medicine in public health center in Kolaka Regency was noi carried oui well due lo lack ot knowledge and skill of drug organizers Some efforts to improve drug managemenl process have been done, for example annual supervision and drug training managemenl program, but have not brought better result. Therefore it is necessary to have an effective educative approach to this problem Monitoring-Training-Planning (MTP) represents is an innovative approach that compnses monitoring, education and problemsolving and planning m a continual process through self-study. Research is conducted by comparing 1 lime supervision. 3 times supervision, and 3 times MTP The purpose of the research is to improve knowledge and skill of drug organizer so that they can improve drug planning and

distribution in public health center using MTP intervention. Method: Research is conducted using pre-post with control design. Of 20 existing public health centers, we have randomly selected 18 health centers that consist of 6 treatment health centers and 12 non-treatment health centers, which are divided into 3 groups with well-balanced characteristics Group I acts as control with 1 time supervision and feedback intervention, group II with 3 times supervision and feedback intervention, and group III with 3 times MTP intervention. Knowledge is measured using questioners that consist ot multiple-choice and true-false questions. Skill Is measured using the indicator of drug planning and distribution that covers the percentage of planning accuracy, drugs availability at adequate level, distribution accuracy, the average weight of supply variation, statute-barred drugs, and damaged drugs, and also perception using the drug management observation list. Data is analyzed with test of t and compared visually. Result: Research result shows a significant knowledge improvement in all groups before and after intervention (p=0,000) The increase of knowledge of group III is better than those of group of I and II. not only at multiple-choice questions (2.91 vs 1.91 and 2,81) but also at truefalse questions (2.27 vs 1.91 and 2,21 ). This result shows that analysis skill, material recalling ability and decision making skills of 3 times MTP are better than those of 1 times supervision and 3 times supervision. Drug organizer skill of group land II increases dunng intervention, but degrades to the previous level afterward. With 3 times MTP intervention, the improvement occurs at Ihe moment and during intervention and remains relatively the same afterward. This indicates that behavioral change persists even though Ihe intervention has been finished. Cost analysis indicates that if MTP is used to replace the supervision, there will be obtainable

retrenchment that equals to : Rp80 millions a year Conclusion: Intervention of 3 limes MTP improves the knowledge and skill of drug organizers so that (hey can improve drug planning and distribution process in public health centers. This method is more effective and efficient has longer effect compared to 3 limes supervision and also 1 times supervision. With the aid of drug organizer in public health center, drug expense becomes more efficient Hence. MTP intervention is feasible to be implemented in public health centers to overcome the health problems. Keywords: Planning, distribution. MTP 125 Page 20 Upaya Pertaikan Perencanaan dan Dmtnbusi Obal Puskesmas PENGANTAR Terjadinya perubahan sistem pemerintahan dan ketatanegaraan menuntut para pengambil kebijakan di kabupaten alau kota untuk memberdayakan sumber daya dan menggunakan daa secara efeklif serta efisien untuk merumuskan dan mengembangkan sistem kesehalan di daerah yang bersangkutan. Pengelolaan obat secara umum terdiri dan proses seleksi. pengadaan. distribusi, dan penggunaan obat ' Pengelolaan obal yang dilakukan di Puskesmas dimulai dan perencanaan, penyimpanan, distribusi. pencatatan, dan pelaporan serta pelayanan obat. Dan siklus pengelolaan obat di Puskesmas yang berkaitan langsung dengan ketersediaan obat adalah perencanaan dan distribusi. Secara umum perencanaan dan distribusi obat di Puskesmas

Kabupaten Kolaka belum lerlaksana dengan baik. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan dan keterampilan pengelola. Upaya perbaikan yang telah dilakukan adalah melakukan pelatihan dan supervisi serta umpan balik tisan dan tertuhs 1 kali setahun sejak6 tahun.namun belum memberikan hasil yang lebih baik Penelihan kemanfaatan supervis telah dilakukan oleh Marbamatr yang membuklikan bahwa supervisi terhadap bidan di desa secara berulang dalam waktu 12 bulan berhasil memngkatkan cakupan imunisasi. Sementara itu, penelitian efektivitas pelatihan manajemen persediaan obat dilaksanakan dengan cara off the job raining ternyata efektif untuk memngkatkan pengetahuan dan keterampilan pengelola obat di Puskesmas Kabupaten Aceh Solatane Penelitian dengan menggunakan intervensi Diskusi Kelompok Kecil (DKK) yang dnkuti umpan balik dapat menurunkan penggunaan antibiotika pada kasus ISPAdi Kabupaten Bantul.4 Demikian juga penelitian yang dilakukan oleh Sanioso, eld/,,5 menggunakan metode intervensi Monoring-TrainingPlanning (MTP) untuk memperbaiki penggunaan antibiotika dan menunjukkan hasil bahwa MTP dapat memperbaiki penggunaan antibiotika secara bermakna. Penelitian untuk melina! pengaruh umpan balik terhadap dampak MTP dalam pengobalan ISPA di Puskesmas Kabupaten Sleman terbukti bahwa dampak MTP diikuti umpan balik tetap benahan^Monitonng-Training-Pianning (MTP) merupakan pendekatan inovatif meliputi komponen: pemantauan (monitoring), pendidikan dan pemecahan masalah {training), dan

perencanaan (planning) yang merupakan proses berkestnambungan dengan mengadopsi konsep pembelajaran mandiri (adult-learning).' Monitohng-Training-Planning (MTP) mempunyai karaktertstik meliputi: dilakukan secara interaktJf dalam kelompok kecil. ada refleksi pengalaman. pencapaian target atas kesepakatan, ada pemantauan dan kesinambungan proses, waktunya hanya 2-3 jam setiap pertemuan, dan berlangsung secara periodile sebulan sekali. D'ari peremuan tersebul diperoleh keputusan melalui kesepakatan bersama: Melihal karaktenstik tersebut. MTP bisa diterapkan dalam berbagai manajemen pelayanan kesehatan dan penggunaan obat secara rasional seperti yang telah dilakukan beberapa peneliti lerdahulu. Dari uraian tersebul di atas, intervensi MTP diharapkan dapat memngkatkan pengetahuan dan keterampilan pengelola obat, mampu menggali permasalahan. mengetahui penyebab masalah. dan mencari allernatit pemecahan masalah. mampu menganalisis serta menentukan l.angkahIsngkah strategis untuk melakukan kegiatan selanjutnya dalam melakukan perencanaan dan distribusi obat di puskesmas dan puskesmas pembantu (pustu) Dengan melihat latar belakang permasalahan maka untuk memperbaiki pengelolaan obat di Puskesmas perlu dilakukan intervensi edukasi MTP yang dihadiri oleh pengelola obat Puskesmas dan pustu. Karena sifatnya yang fleksibel dan dinamis. intervensi dapat dilaksanakan sendin oleh masing-masing Puskesmas dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempal.

Tujuan penelitian secara umum unluk memperbaiki perencanaan dan distribusi obal di Puskesmas dengan intervensi MTP. Secara khusus bertujuan: a) mengevaluasi apakah intervensi MTP 3 kali lebih baik dalam meningkatkan pengetahuan pengelola obat dibandmgkan dengan supervisi dan umpan balik Usan dan tertulis 3 kali maupun supervisi dan umpan balik lisan dan tertulis 1 kali, b) mengetahui apakah dengan menmgkatnya pengetahuan dapat meningkatkan iteterampilan pengelola obat dalam melakukan perencanaan dan distribusi obat. c} mengevaluasi apakah intervensi MTP lebih menghemat biaya pengelolaan obat dibandingkan dengan supervisi. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Jems penelitian mi adalah ekspenmen kuasi dengan rancangan pre-post dengan kontroi6 Lokasi penelitian adalah Puskesmas Subyek penelitian adalah petugas pengelola obal Puskesmas dan pengelola obat pustu. Pemilihan Puskesmas dengan kriteria inklusi sebagai berikut: petugas pengelola obat berpendidikan minimal SMU atau setara dan lelah bertugas sebagai pengelola obat minimal G bulan. 126 Page 21 Page 22 Upaya Perbaikan Perencanaon dan Dislnbusi Obal Puskesmas antara supervisi 1 kali dan supervisi 3 kali terdapat perbedaan bermakna pada soal bagian I, telapi jika dilihat pada nilai posi test kelompok supervisi 1 kali nilainya tidak jauh berbeda dengan supervisi 3 kali pada soal bagian I (14.38 versus 14.47). bahkan pada soal bagian II supervisi 1 kali lebih baik dibanding supervisi 3 kali (14.19 versus 14). Hasil

ini menunjukkan kemampuan untuk menganalisis. mengingat kembali materi dan pengambilan keputusan tidak berbeda bermakna antara supervisi 3 kali dengan supervisi 1 kali. Perbandingan antara kelompok I dan III menunjukkan bahwa baik kemampuan menganalisis, kemampuan mengingat kembali materi pengelolaan obat maupun kemampuan pengambilan keputusan untuk perbaikan pengelolaan obat lebih baik pada kelompok MTP 3 kali. Perbandingan antara kelompok II dan III menunjukkan peningkatan nilai kuesioner pada kelompok III lebih baik dibanding kelompok II. Dengan melihat perbandingan kelompok tersebut menunjukkan bahwa MTP 3 kali lebih baik dalam meningkatkan pengetahuan pengelola obat dibandingkan dengan supervisi 3 kali maupun supervisi 1 kali. Kemampuan mengingat kembali, mengambil keputusan. dan menganalisis masalah pada kelompok MTP 3 kali lebih baik. Hal ini disebabkan proses beiajar dilakukan secara bertahap mulai dari mengidentifikasi atau mengenali masalah. mendiskusikan masalah. memecahkan masalah. merencanakan penyelesaian masalah yang dilakukan secara berkesinambungan/ Untuk mengukur keterampilan pengelola obat digunakan: 1) indikator perencanaan (persentase ketepatan permintaan. persentase obat dengan tingkat aman); 2) distribusi oDat (persentase ketepatan distribusi, persentase rata-rata bobot variasi persediaan, persentase obat kadaluwarsa. dan persentase obat rusak); 3) menggunakan daftar tilik pengelolaan obat dengan melihat cara

penyimpanan dan pendistribusian, pencatatan, pemesanan. persediaan, serta penerimaan obat. Persentase ketepatan permintaan ditentukan dengan cara jumlah jems obat yang diminta sesuai perhitungan untuk satu priode dibagi dengan jumlah jenis keseluruhan obat yang diminta. Dengan supervisi 1 kali, ketepatan permintaan obat di Puskesmas meningkat rata-rata 10,03% dibandingkan dala awal (56,37%), kemudian menurun setelah intervensi rata-rata 5.88% dengan membandingkan data awal dan data sesudah intervensi. Setelah dibiarkan 3 bulan terjadi peningkatan rata-rata 4.15%. Perlakuan supervisi 3 kali berturut-turut terjadi peningkatan ketepatan permintaan obat di Puskesmas rata-rata 11,20% dibanding data awal (62,25%), kemudian menurun rata-rata 8,19%. Dengan membandingkan data awal dan data sesudah intervensi setelah dibiarkan 3 bulan terjadi peningkatan rata-rata 3,01%. Perlakuan MTP 3 kali berturut-turut terjadi peningkatan ketepatan permintaan obat di Puskesmas rata-rata 17.92% dibanding data awal (57.82%) dan terus meningkat rata-rata 1,60%. Dengan membandingkan data awal dan data sesudah intervensi setelah dibiarkan 3 bulan terjadi peningkatan ketepatan permintaan obat rata-rata 19.52%. Perbandingan ketiga kelompok dapat dilihat pada Gambar 2. Hasil uji t menunjukkan bahwa perbandingan antara kelompok I dan II tidak terdapat perbedaan bermakna (t=0.555, p=0,608). Antara kelompok I dan III terdapat perbedaan bermakna (t=-12,235, p=0,000). Antara kelompok II dan III terdapat perbedaan bermakna (t=-7,784. p=0,00l )

100 T tj 20 SUPERVIS11 KAl SUPERVISE KL MTP 3 KALI BL-3 iE.04 61 il 57 00 IL'2 16.58 SI.SI 58 27 56. 8 IHTV 1 10.W 73." 71 57 IHTV 2 MTV3 66 27 73 65 77 9 52.65 73.27 78 1 61.75 63.21 7B.38 60 3Q 63 85 77 23 63 63 76 37

Masa Intervensi *p<0,05 dtbaniSngkjn dengjn suprvii 3 . dan supervli 1 * Gambar 2. Persenlaso Pormintaan Obat Sebelum Intervensi. Selama Intervensi dan Sesudah Intervensi 128 Page 23 Page 24 Page 25 Ufjaya Perbatkdn Percncanaan dan Distribuai Obat Pusftesmas 0.84% dan1.27%). Pada supervisi 3 kali terdapat obat kadaluwarsa pada bulan Juni, Juli. September, dan Desember (0.99%; 1.75%;1.15%; 3.53%). Pada Kelompok MTP 3 kali terdapat obat kadaluwarsa pada bulan Agustus. September. November dan Desember (0,85%; 2,89%; 0,79%; 2.48%). Persentase obat rusak dihilung dengan cara total jenis obat rusak dibagt total jenis obat yang tersedia. Data yang diperoleh dari tiap kelompok perlakuan sebagai berikut. Pada supervisi 1 kali, sesudah intervensi terdapat obat rusak pada bulan Oktober, Desember. Februari {1.56%; 3,10%; 0,93%). Pada supervisi 3 kali, terdapat obat ruasak pada bulan Juli, September, dan Januan (0,89%; 1.15%; 1,56%). Kelompok MTP 3 kali, terdapat obat rusak pada bulan Desember 0,87%. Dengan melihat pada persentase obat kadaluwarsa dan obat rusak, pada semua kelompok intervensi baik pada tahap awai, tahap intervensi dan setelah intervensi terdapat obat kadaluwarsa dan obat rusak. Hal ini dapat disebabkan obat tersebut sebelumnya telan ada di Puskesmas atau didistribusikan dari gudang farmasi kabupaten yang mendekati batas waktu kadaluwarsa.

Dengan membandmgkan ketiga kelompok, jumlah jenis obat kadaluwarsa, dan obat rusak pada kelompok MTP 3 kali lebih rendah dibanding supervisi 3 kali. Kelompok sepervisi 3 kali lebih rendah dibanding supervisi 1 kali. Untuk menilai pengelolaan obat dengan menggunakan indikator persentase obat kadaluwarsa dan obat rusak perlu dilakukan pengamatan dalam waktu yang lama, sehingga dalam penelitian ini perbedaan antara ketiga kelompok perlakuan untuk menilai perbedaan tersebut beium tampak secara jelas. Selain sulit membandmgkan antara kelompok juga membenkan gambaran bahwa pengelolaan obat yang dilakukan setama mi belum baik sekalipun telah dilakukan supervisi 1 kali setahun secara rutin. Penilaian keterampilan pengelola obat di Puskesmas dilakukan dengan menggunakan daftar tilik pengelolaan obat. Hasil penilaian secara keseluruhan dapat dilihat dalam Tabel 1. Penilaian terhadap cara penyimpanan dan pendistribusian obat dilakukan dengan menggunakan 13 pertanyaan. Pelaksanaan intervensi 1 kali terjadi pemngkatan 3,62% dan setelah dibiarkan 3 bulan terjadi penurunan 1,69%. Dari data awal sampai pada pengambilan data akhir terjadi peningkatan 1.93%. Pelaksanaan supervisi 3 kali berturut-turut terjadi peningkatan 4,81% dan setelah dibiarkan 3 bulan terjadi penurunan 1,42%. Dari data awal sampai pengambilan data akhir terjadi peningkatan 3,39%. Pelaksanaan MTP 3 kali berturut-turut terjadi peningkatan 6,23% dan setelah dibiarkan 3 bulan tenadi penurunan 0.17%. Dari data awal sampai pada pengambilan data akhir terjadi peningkatan 6,06%.

Penilaian terhadap pelaksanaan pencatatan dilakukan dengan menggunakan 5 pertanyaan, Pelaksanaan supervisi 1 kali terjadi peningkatan 0,42% dan setelah intervensi terjadi penurunan 0.39%. Dan data awal sampai pengambilan data akhir terjadi peningkatan 0.13%. Pelaksanaan supervisi 3 kali berturut-turut terjadi peningkatan 1,25% dan setelah dibiarkan 3 bulan terjadi penurunan 0,25% Dari data awal sampai pengambilan data akhir terjadi peningkatan 1.00%. Pelaksanaan MTP 3 kali berturut-turut terjadi peningkatan 1.54% dan setelah dibiarkan 3 bulan terjadi penurunan 0,06%. Dari data awal sampai pengambilan data akhir terjadi peningkatan 1,48%. Penilaian pelaksanaan pemesanan persediaan dilakukan dengan menggunakan 7 pertanyaan. Pada supervisi 1 kali terjadi peningkatan 1,07% dan setelah setelah intervensi terjadi penurunan 0,42%. Dan data awal sampai pengambilan data akhir terjadi peningkatan 0.65%. Pelaksanaan supervisi 3 kali berturut-turut terjadi peningkatan 2,00% dan setelah dibiarkan 3 bulan terjadi penurunan 0.21 %Dari data awal sampai pengambilan data akhir terjadi peningkatan 1.79%. Pelaksanaan MTP 3 kali berturut-turut terjadi peningkatan 2.74% dan setelah dibiarkan 3 intervensi terjadi penurunan 0,19%. Dari data awal sampai pengambilan data akhir terjadi peningkatan 2.55%. Tabei 1. Ponilaian Keterampilan Pengolola Obat dengan Menggunakan Daftar Tilik Pongelolaan Obat Sebclum dan Sosudah Intervensi Kelompok Penyimpanar l Pencatatan

Pemesanan Penerimaa dan Dislribusl Persediaan Obat Pre Intv post Pre Intv post pre Intv post Pft Intv post Kelompok 1 S'-pervisi 1 kali} 4,13 7,75 6.05 2.00 2 42 2.13 1.32 2.39 1.97 6.02 6.66 6.34 Kelompok II {Sperbst 3 kali)

4 37 9.18 7 76 2.00 3 25 3 00 132 3.32 3 11 587 710 6.45 Kelompok III (MTP 3 kali) 3.67 9.90 9 73 2.00 3.54 3.48 1.15 3.69 370 5.82 7.45 7.15 131 Page 26 Upaya Porbaikart Perencanoan dan Dtsmous' Obal Puskesmas Penilaian pelaksanaan penerimaan obal dilakukan dengan menggunakan 8 pertanyaan. Supervisi 1 kali diperoleh data awal dengan ratarata 6,02%. Pada pelaksanaan intervensi 1 kali terjadi peningkatan 0.86% dan setelah setelah

intervensi terjadi penurunan 0,54%. Dan data awal sampai pada pengambitan data akhir terjadi peningkatan 0,32%. Pelaksanaan supervisi 3 kali berturut-turut terjadi peningkatan 1,23% dan setelah dibiarkan 3 bulan setelah intervensi terjadi penurunan 0.65%. Dari data awal sampai pengambilan data akhir terjadi peningkatan sebesar 0.58%. Pelaksanaan MTP 3 kali berturut-turut terjadi peningkatan 1,63% dan setelah dibiarkan 3 bulan setelah intervensi terjadi penurunan 0,30%. Dan data awal sampai pengambilan data akhir terjadi peningkatan 1,33%. Dari data di atas menunjukkan bahwa supervisi 3 kali dan supervisi 1 kali, setelah intervensi keduanya terjadi penurunan. Perbedaan peningkatan nilai pada supervisi 3 kali kelihatan lebih tinggi. Hal ini disebabkan periakuan supervisi dilakukan selama 3 kali berturut-turut. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa peningkatan keierampilan pada supervisi 3 kali tidak lebih baik jika dibandingkan dengan supervisi 1 kali. Perbandingan supervisi 3 kali dan supervisi 1 kali dengan MTP 3 kali adalah peningkatan keierampilan pada MTP 3 kali lebih baik dibanding dengan kedua kelompok supervisi dan peningkatan tersebut relatif tetap dipertahankan. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku lebih baik pada kelompok MTP dibanding dengan kedua kelompok supervisi. Penerimaan perilaku baru melalui proses mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu. tertarik pada stimulus, mengevaluasi. mencoba perilaku baru dan mengadopsi didasari oleh pengetahuan dan sikap yang positif, maka perubahan perilaku tersebut akan bersifat langgeng, Sebaliknya,

apabila perilaku tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlanqsunq lama;.14 Perbandingan antara supervisi 1 kali dan supervisi 3 kali tidak terlihat perbedaan, baik dilihat pada peningkatan pengetahuan maupun peningkatan keierampilan pengelola obat. Dengan membandingkan kelompok supervisi 3 kali dan supervisi 1 kali dengan kelompok MTP 3 kali menunjukkan bahwa kelompok MTP 3 kali lebih baik meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pengelola obal dalam melakukan perencanaan dan distribusi obat di Puskesmas, bahkan peningkatan tersebut dipertahankan setelah dibiarkan 3 bulan. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku dapat dipertahankan walaupun intervensi telah seiesai. Efektivitas pelatihan manajemen persediaan obat unuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pengelola obat Puskesmas dengan cara off the job training, efektif meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sebelum dan sesudah intervensi; tetapi tidak dapat menurunkan variasi perbedaan pencatatan dan fisik obat.15 Hal ini karena pelatihan merupakan suatu intervensi yang dilakukan sesaat dan tidak berkesinambungan, penyelesaian masalah dalam waktu singkat dan tidak terfokus pada satu masalah. pelatihan terkesan satu arah dan dari awal kegiatan tidak melibatkan semua anggota kelompok dalam proses. Dengan intervensi MTP pemecahan masalah dilakukan secara bertahap dengan melihat masalah pokok. Intervensi dilakukan secara berkesinambungan dan pelatihan itu sendiri merupakan bagian dari proses

pemecahan masalah dalam kelompok kecil yang dilakukan dengan memanfaatkan dmamika kelompok secara interaktif dalam mencapai kesepakatan bersama untuk memecahkan masalah.7 Penyelesaian masalah dengan MTP dilakukan secara interaktif dalam kelompok kecil, sehmgga peserta lebih mudah bertukar pendapat dan bertukar pengalaman dalam memahami pengelolaan obat. Hal ini berbeda jika dibanding dengan memberikan pelatihan dengan jumlah peserta yang lebih besar. Diskusi dalam kelompok kecil lebih efektif menurunkan penggunaan antimikrobial (antibiotika, kemoterapi. dan antiamuba) pada kasus diare akut bila dibandingkan dengan seminar dan biayanya lebih murah daripada seminar.15 Intervensi MTP selain dapal meningkatkan pengetahuan dan keterampilan juga mempertahankan peningkatan tersebut setelah dibiarkan 3 bulan. Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian Yudatiningsih dan Suryawati" bahwa dampak MTP tanpa diikuti umpan balik dalam penggunaan antibiotika pada pengobatan ISPA tetap bertahan. Monitoring-Traintng-Planning (MTP) lebih dapat bertahan karena dlam mengalasi masalah dilakukan secara bertahap dengan menerapkan pembetajaran mandiri {adult learning). Pembelajaran ini menyesuaikan dengan situasi dan kondisi setiap kelompok/ Pembelajaran orang dewasa dapat efektif menghasilkan perubahan perilaku apabila isi dan cara belajar mengajarnya sesuai dengan perubahan yang dirasakan oleh subyek.'1 Penelilian dengan inlervensi yang sama

untuk meningkatkan kualitas pelayanan informasi obal dan pengobatan yang dilakukan oleh Purwanti16 menunjukkan bahwa MTP yang diikuti umpan balik dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan Petugas Pengelola Obat (PPO) tetapi tidak dapat meningkatkan kualitas informasi obat berdasarkan pengelahuan pasien. 132 Page 27 Upaya Perbaikan Perencanaan dan Distribusi Obal Puskesmas Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan penulis. Dengan membandingkan penelitian yang menggunakan metode intervensi yang sama-sama dilakukan dalam Diskusi Kelompok Kecil (DKK), seperti yang lelah dilakukan oleh Munawaroh dkk..-yang diikuti dengan umpan balik disimpulkan bahwa intervensi DKK dapat menurunkan penggunaan antibiotika. Akan tetapi, dengan diikuti umpan balik hasilnya lebih efektif dan bertahan lama. Melihat proses dalam penelitian DKK ini untuk memperbaiki suatu masalah didabului dengan diskusi kelompok terarah (DKT) dengan menggunakan fasilitator dari luar. Inten/ensihanya dilakukan 1 kali kemudian diamati hasilnya dari dampak intervensi yang lelah dilakukan. Berbeda dengan MTP. intervensi dilakukan dalam satu siklus, bertahap dengan melihat masalah pokok yang dilakukan secara berkesinarnbungan. Intervensi MTP itu sendiri merupakan modifikasi dari intervensi DKK. Penyeiesaian masalah pada MTP menurut Suryawati' dilakukan secara bertahap mulai dari proses pemantauan (monitoring) dilanjutkan dengan pendidikan dan pemecahan masalah {training) dan

perencanaan (planning) untuk pemecahan masalah yang merupakan proses berkesinarnbungan. Dengan membandingkan hasil penelitian di atas, terlihat bahwa dengan intervensi MTP untuk memperbaiki pengelolaan obat di Puskesmas dalam 1 tahun dibutuhkan 6 kali pertemuan. sedangkan supervisi dan umpan balik lisan dan tertulis dibutuhkan 12 kali supervisi. Dilihat dari perhitungan biaya yang digunakan untuk memperbaiki pengelolaan obat dalam 1 tahun. dengan MTP (Rp33.30U.00u.QO) dibandingkan pelaksanaan supervisi (Rp113.189.000.00), biaya yang dapat dihemat sebesar Rp79.899.000,00 atau 70,59% Biaya supervisi 1 tahun sudah dapat membiayai kegiatan MTP selama' 3,5 tahun dengan memberikan hasil yang efektif. Pelaksanan intervensi MTP dapat diterima baik dan dikelola sendiri oleh pengeiola obat Puskesmas. sehingga dilihai dari segi manajerial dapat dilakukan pendelegasian wewenang dan transfer teknologi intervensi untuk menyelesaiakan masalah. Dengan demikian, secara tdak langsung dapat mengurangi beban pelugas kabupaten dalam menyelesaikan masalah kesehatan di Puskesmas Oleh karena pelaksanaannya yang dilakukan secara bertahap dan sistematis, MTP lebih memudahkan peserta dalam diskusi. Dari proses diskusi, secara kualitatif dapat diketahui adanya motivasi dari pengeiola obat untuk memperbaiki perencanaan obal dan distribusi obat di Puskesmas. Di sampmg itu. juga menentukan target pencapaian dengan menyesuaikan kemampuan dan kondisi kelompok. Selama proses intervensi MTP terjadi interaksi antara peserta

dalam kelompok. peserta saling betukar pengalaman dalam melakukan pengelolaan obat. mencapai pemahaman dan kesepakatan bersama melalui ide-ide yang muncul dari tiap peserta dalam kelompok. Proses Ini sesuai dengan yang dikemukaan oleh Suryawati7 dalam karaktenstik MTP. Dari uraan di atas dapat dirangkum bahwa intervensi MTP meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pengeiola obat. Hal ini lebih efektif dan efisien dibanding intervensi supervisi 3 kali maupun intervensi supervisi 1 kali dan mendukung hiptesis. Dari rangkuman lersebut, MTP dapat dijadikan sebagai alternatif metode intervensi edukasi terbaik untuk memperbaiki pengelolaan obat dan masalah kesehatan lainnya di Puskesmas. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Intervensi MTP 3 kali lebih efektif meningkatkan pengetahuan pengeiola obat dibandingkan dengan supervisi 3 kali maupun supervisi 1 kali. 2 Penmgkatan pengetahuan dengan mlervensi MTP 3 kali juga meningkatkan keterampilan pengeiola obat dafam melakukan perencanaan dan distribusi obat. 3 Peningkatan pengetahuan dan keterampilan pengeiola obat pada intervensi MTP lebih efektif dibandingkan dengan supervisi 3 kali maupun supervisi 1 kali. 4. Implementasi MTP untuk perbaikan pengelolaan obat menghemat biaya sebesar 70.59% jika dibandingkan dengan intervensi supervisi.

Saran Untuk perbaikan pengeiola obat dan masalah kesehatan lainnya disarankan: 1. Baqi Direktorat Jenderal Pelayanan Farmasi. intervensi MTP lebih efektif dan efisien dibanding supervisi dalam memperbaiki pengelolaan obat di Puskesmas. sehingga perlu dipertimbangkan untuk digunakan dalam mengatasi masalah pengelolaan obat di daerah; 2. Bagi Dinas Kesehatan; a) dengan menggunakan fasilitator tenaga pengeiola obat di Puskesmas cukup efisien dan dapal menghemat biaya Rp79 899.000,00 atau 70,59% untuk memperbaiki pengelolaan obat dibandingkan dengan supervisi 1 tahun Oleh karena itu, strategi MTP ini dapat dikembangkan di Puskesmas untuk mengatasi masalah kesehatan melalui pertemuan rutin yang dilaksanakan setiap bulan, b) untuk 133 Page 28 Page 29 Page 30 Page 31 Page 32 Page 33 Page 34 Page 35 Page 36 Page 37 Page 38 Page 39 Page 40

Page 41 Page 42 Page 43 Page 44 Page 45 Page 46 Page 47 Page 48 Page 49 Page 50