Anda di halaman 1dari 9

BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

REFERAT FEBRUARI 2012

MOLUSKUM KONTAGIOSUM

DISUSUN OLEH:

NONI EKA SETYA SUAEBO

C11107067

PEMBIMBING: dr. Triani Hastuti Hatta

BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2012
1

MOLUSKUM KONTAGIOSUM

Pendahuluan Moluskum kontagiosum (MK) merupakan penyakit yang ringan namun dapat berkembang menjadi penyakit infeksi virus yang menjadi masalah pada anak-anak. Karakteristik penyakit ini yaitu permukaan halus, papul berbentuk kubah yang biasanya disertai eritem (dermatitis moluskum). Pasien dan keluargannya merasa terganggu oleh lamanya perjalanan penyakit ini sebab penyakit ini bisa bertahan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Moluskum Kontagiosum merupakan perlu diperhatikan pada individu dengan imunokompromais dan dermatitis atopik, dimana masa infeksi menjadi lebih ekstrim. Penyakit ini menular melalui hubungan seksual bagi orang dewasa namun tidak bagi anak-anak.[1] Infeksi melalui seksual bagi anak-anak bisa saja terjadi pada kasus-kasus pelecehan seksual. Meskipun penyebarannya luas, Moluskum kontagiosum biasanya terlihat di daerah genital, perineal dan seluruh tubuh pada anak-anak, dan pada kasuskasus pelecehan biasanya tidak nampak kecuali ditemukan lesi yang mencurigakan.[2]

Epidemiologi Tiga kelompok utama yang terkena adalah: anak-anak, dewasa yang aktif secara seksual, dan orang-orang dengan imunosupresi, terutama mereka yan terinfeksi HIV.[1] Prevalensi infeksi MK telah meningkat secara signifikan dalam beberapa dekade ini, tercatat peningkatan 11 kali lipat pasien datang dengan infeksi ini dalam 2 dekade. Peningkatan ini terjadi pada seluruh jumlah penyakit melalui hubungan seksual. Rata-rata variasi berdasarkan lokasi dan diperkirakan infeksi sub-klinis lebih umum tergadi daripada klinis. Pasien

yang terinfeksi human immunodeficiency virus memiliki resiko tinggi terkena infeksi yang lama, dan pasien yang memiliki riwayat atopi dapat memiliki lesi yang lebih banyak dan masa infeksi yang lama.[1] Transmisi dapat terjadi melalui kontak kulit atau kontak membrana mukosa, atau via hubungan seksual. Handuk mandi, kolam renang dan bak mandi turki telah dilaporkan sebagai sumber infeksi, dan individu-individu yang terlibat olahraga yang mengharuskan kontak jarak dekat. (contoh: gulat) juga bisa menjadi resiko tinggi. Autoinkulasi dan koebnerisasi juga memainkan peranan penting pada penyebaran lesi.[1]

Etiologi dan Patogenesis Moluskum kontagiosum disebabkan oleh lebih dari empat tipe poxvirus yang berhubungan, MCV-1 sampai -4, dan varian-variannya. Meskipun proporsi dari infeksi disebabkan oleh beragamnya letak geografis, di seluruh dunia infeksi MCV-1 merupakan yang paling sering. Pada anak-anak sebetulnya semua infeksi disebabkan oleh MCV-1.[3] MCV merupakan poxvirus yag besar, dan berbentuk seperti bata yang bereplikasi dalam sitoplasma dalam sel. Terdapat beberapa kesamaan genomik dengan poxvirus yang lainnya. Dan biasanya 2-3 gen sama dengan vaccinia dan variola virus. Terdapat empat sub-tipe dari MCV tapi semuanya identik secara klinis. 98% dari penyakit di Amerika Serikat disebabkan oleh MCV tipe 1.[1] Telah diteliti masa inkubasi terjadi antara 2-7 minggu.[1,4] Rata-rata masa inkubasi antara 2 dan 7 minggu dengan jarak melampaui lebih dari 6 bulan. Infeksi dengan virus dapat menyebabkan hyperplasia dan hipertropi pada epidermis. Inti virus yang telah ditemukan di semua lapisan epidermis. Pabrik virus ditemukan pada lapisan sel granuler dan malpigi. Badan Molluscum berisi virion dewasa dalam jumlah yang besar. Virion ini berisi struktur seperti kantung yang kaya akan lipid dan kolagen di ketahui bahwa untuk menghalangi pertemuan imunologis oleh induk. Robekan terjadi pada pertengahan luka dan keluarnya sel yang telah terinfeksi virus. MCV merangsang tumor jinak disamping lesi cacar yang biasanya nekrosis disertai virus cacar yang lain.[4] Virus bereplikasi dalam sitoplasma di sel epitel, dan sel yang telah terinfeksi bereplikasi sebanyak dua kali dari rata-rata. Ada banyak gen MCV yang dapat merusak sistem imun, termasuk (1) homolog dari kebanyakan histokompatibilitas tingkat 1 rantai berat, dimana dapat berinterfensi dengan presentasi antigen (2) homolog kemokin yang menghambat inflamasi dan (3) homolog glutathione peroxide yang dapat melindungi virus dari bahaya oksidatif dari peroxida.[1]

Gambaran Klinis Lesi kutaneus. Moluskum Kontagiosum sering memperlihatkan papul kecil merah muda yang dapat membesar, biasanya membesar hingga 3 cm (giant molluscum). Seiring pembesarannya, permukaan bentuk kubah dan morfologi seperti mata kucing dapat semakin jelas. Lesi dapat memiliki umblikasi, terdapat substansi seperti putih dadih dapat dilihat dengan tekanan. Pada kebanyakan pasien berkembang beberapa papul, sering pada tempat yang intertriginosa, seperti aksilla, fossa poplitea, dan panggul. Lesi pada genital dan perianal
3

dapat berkembang pada anak-anak dan jarang yang memiliki kaitan dengan hubungan seksual. Lesi ini digolongkan dalam cluster atau dalam bentuk linear. Biasanya merupakan hasil dari koebnerisasi atau perkembangan lesi pada trauma. Eritema dan eksema dapat muncul di sekitar lesi; hal ini disebut Moluskum dermatitis. Papul dapat menjadi eritematosa, hal ini dipercaya merupakan respon imun dari infeksi. Pasien dengan sindrom immunodefisiensi dapat memperlihatkan lesi yang besar dan ekstensif baik di daerah genital maupun ekstra genital.[1]

Gambar. 1a

Gambar. 1b
4

Pemeriksaan Penunjang Penegakkan diagnosis moluskum kontagiosum dapat dilakukan secara langsung.

Penilaian kandungan inti menggunakan pewarnaan Giemsa dapat dilakukan dan evaluasi histopatologi dapat dilakukan pula. (Gambar.2,3)[1] Histopatologi: pemeriksaan histopatologi memperlihatkan epidermis yang hipertropi dan hiperplastik. moluskum kontagiosum memiliki karakteristik gambaran histopatologi. Pada bagian atas lapisan basal dapat ditemukan pembesaran sel yang mengandung inklusi intrasitoplasmi (Henderson-Paterson body). (Gambar.3)[1]

Gambar.2a

Gambar.2b

Gambar.3

Diagnosis Banding Diagnosis banding untuk moluskum kontagiosum termasuk verruca vulgaris, granuloma pyiogenic, amelanotic melanoma, basal cell carcinoma, dan apendageal tumor. Infeksi jamur seperti cryptococcosis, histoplasmosis, dan penicillosis harus dipertimbangkan pada pasien-pasien dengan immunocompromised.[1]

Diagnosis Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisis dan pemeriksaan penunjang seperti histopatologi yangmemnunjukkan gambaran seperti Henderson-Paterson body maka dapatlah ditegakkan diagnosis moluskum kontagoisum.

Penatalaksanaan Pada umumnya penyakit ini dapat sembuh sendiri tanpa komplikasi pada pasien imunokompeten. Sebelum melakukan penatalaksanaan sebaiknya mendiskusikan terlebih dahulu dengan keluarga pasien mengenai resiko dan keuntungan pengobatan. Banyak ahli menggunakan cabtharidin 0,7% atau 0,9% liquid untuk pengobatan MK. Cabtharidin merupakan ekstrak dari serangga, Cantaharis vesicatoria, yang merangsang vesikulasi pada dermoepidermal ketika dioleskan secara topikal pada kulit. Obat ini harus dioleskan dengan hati-hati dan dicuci sekitar dua sampai enam jam kemudian. Tidak dianjurkan untuk

penggunaan pada wajah atau daerah genital, dan keluarga harus dikonseling berhubungan dengan resiko ringan dari reaksi ekstrim atau bekas luka. Pengobatan tradisional, yaitu kuretase dan kriptoterapi, meskipun kedua pengobatan ini memberi rasa sakit, penggunaan
6

anastesi topikal dapat menghilangkan rasa sakit. Kebanyakan pasien memilih pengobatan cantharidin topikal sebab dirasakan paling efektif dan tidak sakit. Pengobatan terapi topikal lainnya yaitu retinoid cream, Imiquimod cream, asam salisilat, cidofovir, pasta silvernitrat dan tape stripping. Cimetidine oral telah menunjukkan kesuksesan. Analisis dari Cochrane

database menunjukkan hanya lima terapi yang berkualitas tinggi, ditemukan hasil tidak ada satupun intervensi yang meyakinkan efektifitas dari pengobatan moluskum kontagiosum. [1] Marsal JS dkk melakukan penelitian yang menunjukkan KOH dapat berpotensi menjadi pengobatan yang efektifdan aman bagi MC pada penanganan utama dan mengurangi rujukan ahki kulit dan rumah sakit. Sebagai tambahan KOH menjadi pengobatan alternatif yang murah dan sah untuk pengobatan invasif saai ini. [6]

Komplikasi Meskipun banyak pasien yang asimptomatik, pruritus kadang-kadang menjadi masalah yang serius khususnya bagi pasien dengan riwayat dermatitis atopik. Konjungtivitis
7

kronik dan keratitis pungtata dapat terjadi pada pasien dengan lesi di bagian kelopak mata. Infeksi bakteri dapat terjadi terutama bagi pasien yang menggaruk lesinya. [1]

Prognosis Penyembuhan spontan dapat terjadi tetapi sering dalam jangka waktu yang berbulanbulan bahkan bertahun-tahun. Kebanyakan keluarga memilih pengobatan pada lesi daripada menunggu sebulan maupun dua bulan.[1]

Pencegahan Pencegahan dari penyebaran bisa dilakukan dengan menghindari trauma pada penderita seperti menghindari garukan. Dengan menggunakan antipruritik seperlunya. Auto inokulasi dapat dikurangi dengan mengobati semua lesi yang ada.[1]

Daftar Pustaka

1. Tom W., Friedlander SF., In: Wolff K., Goldsmith LA., Katz SI.,Gilchrest BA., Paller AS., Leffell DJ. Fitzpatricks Dermatology in General Medicine. Poxvirus infections. 7th edition.2. New York; McGraw-Hill Medicine 2008; 1899-1913 2. Sterling JC., In: Burns T., Breathnach S., Cox N., Griffiths C. Rooks Textbook of Dermatology. Virus infections. 8th edition.2. Cambridge; Wiley-Balckwell 2010; 33.1-33.81 3. James DW., Berger TG., Elston DM., Andrews Disease of The Skin: Clinical Dermatology. Viral diseases. 10th edition. British; Saunders Elsevier 2006; 367420 4. Hanson D., Diven DG., Molluscum Contagiosum. Dermatology Online Jornal 2003; 9 : 2. Boise, Idaho USA. Primary Health 5. Marsal JR., Cruz I., Teixido C., Diez O., Martinez M., Galindo G., et al. Efficacy an Tolerance of the Topical Application of the Potassium Hydroxide (10% and 15%) in the Treatment of Molluscum Contagiosum: Randomized Clinical Trial: Research Protocol 2011; BMC Infectious Diseases; 11:278