Anda di halaman 1dari 13

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Stroke Iskemik

II.1.1 Definisi

Stroke adalah tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak

fokal (atau global), dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih

atau menyebabkan kematian, tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler

(Sjahrir, 2003).

Stroke iskemik merupakan tanda klinis disfungsi atau kerusakan jaringan otak

yang disebabkan berkurangnya aliran darah ke otak sehingga mengganggu kebutuhan

darah dan oksigen di jaringan otak (Sjahrir,2003).

II.1.2 Epidemiologi

Stroke merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di Amerika Serikat

dan meskipun rata-rata kejadian stroke menurun, tetapi jumlah penderita stroke tetap

meningkat yang diakibatkan oleh meningkatnya jumlah populasi tua/meningkatnya

harapan hidup. Terdapat beberapa variasi terhadap insidensi dan outcome stroke di

berbagai negara (Ali dkk, 2009; Morris dkk, 2000)

Sampai dengan tahun 2005 dijumpai prevalensi stroke pada laki-laki

2,7% dan

2,5% pada perempuan dengan usia 18 tahun. Diantara orang kulit hitam, prevalensi

stroke adalah 3,7% dan 2,2% pada orang kulit putih serta 2,6 % pada orang Asia. (Ali

dkk, 2009; carnethon dkk, 2009)

Diantara Warga Amerika Indian yang berusia 65-74 tahun, insiden rata-rata/1000

populasi dengan kejadian stroke yang baru dan berulang pertahunnya adalah 6,1%

pada laki-laki dan 6,6% pada perempuan. Rata-rata mortalitas stroke mengalami

perubahan dari tahun 1980 hingga 2005. Penurunan mortalitas stroke pada laki-laki

lebih

besar

daripada

perempuan

dengan

rasio

laki-laki

dibandingkan

dengan

perempuan menurun dari 1,11 menjadi 1,03. Juga dijumpai penurunan mortalitas stroke

pada usia 65 tahun pada laki-laki dibandingkan perempuan (National Center for

Health Statistics, 2008)

Universitas Sumatera Utara

Dari Survey ASNA di 28 RS seluruh Indoneisia, diperoleh gambaran bahwa

penderita laki-laki lebih banyak dari pada perempuan dan profil usia 45 tahun yaitu

11,8%, usia 45-64 tahun berjumlah 54,2% dan diatas usia 65 tahun 33,5%. Data-data

lain dari ASNA Stroke Collaborative Study diperoleh angka kematian sebesar 24,5%

(Misbach dkk, 2007).

II.1.3 Klasifikasi Stroke

Dikenal bermacam-macam klasifikasi stroke berdasarkan atas patologi anatomi

(lesi), stadium dan lokasi (sistem pumbuluh darah) (Misbach, 1999).

I. Berdasarkan patologi anatomi dan penyebabnya:

1. Stroke iskemik

a. Transient Ischemic Attack (TIA)

b. Trombosis Serebri

c. Emboli Serebri

2. Stroke hemoragik

a. Perdarahan Intraserebral

b. Perdarahan Subarakhnoid

II. Berdasarkan stadium

1.

TIA

2.

Stroke in evolution

3.

Completed Stroke

III. Berdasarkan lokasi (sistem pembuluh darah)

1. Tipe Karotis

2. Tipe Vetebrobasiler

II.1.4 Faktor Resiko

Faktor

resiko

untuk

terjadinya

stroke

yang

pertama

dapat

diklasifikasikan

berdasarkan pada kemungkinannya untuk dimodifikasi (nonmodifiable, modifiable, or

potentially modifiable) dan bukti yang kuat (well documented or less well documented)

(Goldstein, 2006)

1. Non modifiable risk factors:

Universitas Sumatera Utara

1.

Usia

2. Jenis kelamin

3. Berat badan lahir rendah

4. Ras/etnik

5. Genetik

2. Modifiable risk factors:

a. Well-documented and modifiable risk factor

1.

Hipertensi

2.

Terpapar asap rokok

3.

Diabetes

4.

Atrial fibrillation and certain other cardiac condition

5.

Dislipidemia

6.

Stenosis arteri karotis

7.

Terapi hormon postmenopouse

8.

Poor diet

9.

Physical inactivity

10.

Obesitas dan distribusi lemak tubuh

b. Less well-documented and modifiable risk factor

1. Sindroma metaboliK

2. Alcohol abuse

3. Penggunaan kontrasepsi oral

4. Sleep disordered-breathing

5. Nyeri kepala migren

6. Hiperhomosisteinemia

7. Peningkatan lipoprotein (a)

8. Elevated lipoprotein-associated phospholipase

9. Hypercoagulability

10. Inflamasi

11. Infeksi

Universitas Sumatera Utara

II.1.5 Patofisiologi Stroke Iskemik

Iskemik otak mengakibatkan perubahan dari sel neuron secara bertahap (Sjahrir,

2003):

Tahap 1: a. Penurunan aliran darah

b. Pengurangan 0 2

c. Kegagalan energi

d. Termina; depolarisasi dan kegagalan homeostasis ion

Tahap 2 : a. Eksitoksisitas dan kegagalan homeostasis ion

b. Spreading depression

Tahap 3 : Inflamasi

Tahap 4 : Apoptosis

II.2 Transcranial Doppler (TCD)

Selama 4 dekade terakhir, berbagai test non-invasive dan aplikasi klinis telah

dikembangkan untuk mendeteksi dan memonitoring penyakit serebrovaskular. Tujuan

test ini pada penyakit serebrovaskular adalah untuk membedakan keadaan normal

dengan pembuluh darah arteri yang mengalami kelainan, mengidentifikasi stenosis,

lokasi dari proses penyakit termasuk oklusi, progresivitas penyakit, emboli serebri,

melihat gambaran karakteristik morfologi plak atherosklerosis, dan mengukur potensial

sirkulasi kolateral untuk mempertahankan CBF (Neumyer dkk, 2004; Noort dkk,1990;

Sloan dkk, 2004).

Single gate spectral TCD diperkenalkan pertama kali oleh Rune Aaslid pada

tahun 1982 untuk mengukur hemodinamik serebri secara non-invasive. Terdapat 4

window untuk insonasi dari TCD, yaitu : (Kassab dkk,2007;Neumyer dkk;2004)

- Temporal : mengukur velocity pada arteri cerebri media (MCA),anterior (ACA),

posterior (PCA) dan arteri komunikans.

- Orbital : insonasi sifon arteri oftalmikus (OA) dan arteri karotis interna (ICA)

- Suboccipital : insonasi arteri veterbralis (VA) dan basilaris (BA) melalui foramen

magnum

- Submandibular : mengukur velocity ICA

Universitas Sumatera Utara

Keuntungan dari TCD adalah: dapat dilakukan pada bedside dan dapat diulangi

sesuai yang dibutuhkan atau dilakukan untuk continuous monitoring, lebih murah

dibandingkan dengan teknik yang lain, dan tidak memerlukan penggunaan bahan

kontras. Keterbatasannya yang utama adalah hanya dapat menggambarkan kecepatan

aliran darah cerebral pada segemen-segmen tertentu dari vaskular besar intrakranial,

dimana penyakit arteri sering timbul pada lokasi ini (sloan dkk, 2004)

II.2.2 Hemodinamik serebrovaskular

Aliran darah dalam suatu sistem sirkulasi dipengaruhi oleh darah, tekanan,

tahanan

dan

alirannya.

Manipulasi

pada

tekanan

dan

tahanan

dalam

sistem

kardiovaskular dapat mempengaruhi parameter aliran darah secara langsung dan

penambahan hemodinamik (Eggers dkk, 2006; Neumyer dkk, 2004).

1. Viskositas darah terutama ditentukan oleh hematokrit. Peningkatan hematokrit akan

menyebabkan

peningkatan

pergesekan

antara

lapisan

sel

darah,

penurunan

kecepatan aliran dan penambahan tekanan yang diperlukan untuk aliran darah pada

sirkulasi sistemik. Jika disertai dengan penurunan interval diameter pembuluh darah

(PD), peningkatan pada viskositas darah secara signifikan dapat mengganggu aliran

darah. Viskositas darah dapat berubah dipengaruhi oleh : derajat kecepatan aliran,

heart rate, bentuk PD, hematokrit, temperatur dan shear stress (Neumyer dkk, 2004).

2. Aliran darah didalam vaskular terutama ditentukan oleh 2 faktor: perbedaan tekanan

(P L -P 2 ) antara 2 ujung vaskular dan tahanan vaskular terhadap aliran darah. Hukum

Ohm sering digunakan untuk menggambarkan aliran darah dalam PD. Dikatakan

bahwa aliran darah berbanding lurus terhadap perbedaan tekanan tetapi berbanding

terbalik dengan tahanan.

Aliran darah = tekanan / tahanan

Hukum

Laplace

menjelaskan

bahwa

regangan

otot

(T)

pada

vaskular

yang

diperlukan untuk mempertahankan tekanan aliran spesifik (P) akan menurun jika

diameter vaskular (R) lebih kecil (P = T/R). Ini berarti semakin kecil diameter

vaskular maka regangan yang diperlukan untuk mempertahankan tekanan dalam

vaskular semakin menurun (Neumyer dkk, 2004).

3. Tahanan atau hambatan pada aliran dapat diperoleh melalui pengukuran aliran

darah dan perbedaan tekanan dalam vaskular. Tahanan merupakan hasil dari

Universitas Sumatera Utara

perubahan diameter vaskular yang disertai dengan peningkatan viskositas darah

dan

area potong lintang vaskular. Tahanan berhubungan dengan perubahan

diameter vaskular yang mempengaruhi aliran darah melalui fenomena yang dikenal

sebagai streamlining atau aliran laminar. Aliran Laminar digambarkan sebagai

pergerakan sel darah yang parabolik dalam tiap lapisannya dalam vaskular, dimana

lapisan yang darah yang paling dekat dengan dinding vaskular akan memiliki

kecepatan aliran yang lambat dan yang akan semakin meningkat kecepatannya

pada aliran sel darah dilapisan tengah. Aliran turbulensi timbul jika terdapat

hambatan aliran, dinding vaskular yang tidak rata atau akibat adanya perubahan

yang tajam dari arah aliran. Hal ini dapat mengakibatkan pusaran arus aliran

dengan peningkatan pergesekan pada lapisan sel darah dan resistensi. Hukum

Poiseuille

menggambarkan

pengaruh

dari

tahanan

aliran

darah.

Hukum

ini

menyatakan bahwa aliran dari suatu cairan pada suatu pipa berbanding lurus

terhadap perbedaan tekanan diantara kedua ujung pipa dan berbanding terbalik

dengan panjang pipa dan viskositas cairan. Hubungan konsep ini terhadap variasi

rerata aliran darah dapat diilustrasikan oleh perubahan pada tekanan arterial.

Peningkatan tekanan arterial akan meningkatkan daya dorong sel darah dan

pelebaran dinding vaskular, sehingga dapat menurunkan tahanan vaskular dan

terjadi peningkatan aliran darah (Neumyer dkk, 2004).

Jika ketiga hal diatas dihubungkan dengan hemodinamik serebrovaskular, maka

akan diterjemahkan sebagai CBF = cerebral perfussion pressure (CPP)/cerebrovascular

resistance (CVR). Cerebral perfussion pressure dapat diukur dari mean arterial blood

pressure (MABP) dan intracranial pressure (ICP) (CPP=MABP-ICP). Cerebrovascular

resistance mempengaruhi keadaan fisiologis dengan mengkonstriksikan dan dilatasi

vaskular kecil di otak. Pada keadaan patologis, perubahan fokal pada tahanan dapat

dilihat

segera

didaerah

yang

terdapat

stenosis.

Tujuan

utama

hemodinamik

serebrovaskular adalah untuk menjaga CBF tetap stabil meskipun terjadi perubahan

pada CPP dan CVR (Kassab dkk,2007).

Universitas Sumatera Utara

II.2.3 Interpretasi Temuan TCD

Pada pemeriksaan TCD, gambaran bentuk gelombang aliran darah merupakan

gambaran time dependence dari kecepatan aliran darah terhadap aktivitas jantung.

Bentuk gelombang dapat dilihat selama permeriksaan TCD dimulai dengan mendengar

sinyal aliran yang diikuti dengan analisa visual pada tampilan sinyal tersebut pada layar

(Neumyer dkk, 2004).

Pada pemeriksaan TCD perlu diperhatikan velocity, bentuk aliran darah, adanya

perubahan aliran atau sinyal mikroemboli. Informasi tersebut

Memberikan gambaran

blood flow velocity, arah aliran dan juga dapat memberikan ukuran paramerter

yang

dapat ditambahkan pada evaluasi TCD. Pulsasity Index (PI) merupakan salah satu

ukuran parameter yang bermanfaat, dan dipertimbangkan sebagai marker dari pada

tahanan distal dari sisi insonasi. Pulsasity Index dihitung dengan menggunakan rumus

Gosling , dimana PI = Peak systolic Velocity (PSV) - end diastolic velocity (EDV)) /

mean velocity (Kassab dkk,2007; Neumyer dkk, 2004)

Normal rasio kecepatan aliran darah (MFV) pada MCA > ACA > Siphon > PCA >

BA > VA. Individu normotensi memliliki positif EDV kira-kira 25-50% dari nilai PSV dan

nilai PI antara 0,6-1,1 pada seluruh arteri intrakranial. Pola tahanan aliran yang tinggi

(PI > 1,2) hanya dijumpai pada OA dan dapat juga dijumpai pada kronik hipertensi,

hiperventilasi dan peningkatan kardiak output.

Yang harus diingat adalah : (Neumyer dkk, 2004).

1. TCD velocity bukan untuk mengukur volume CBF. Tetapi perubahan velocity pada

pengukuran TCD berkorelasi dengan perubahan pada CBF.

2. CBF dan mean flow velocity (MFV) dapat menurun dengan pertambahan usia

3. Hipertensi (termasuk yang kronik) meningkatkan pulsasi aliran dan MFV

4. Hiperventilasi dapat menurunkan MFV dan meningkatkan pulsasi aliran

5. Hiperkapnea dapat meningkatkan MFV dan menurunkan pulsasi aliran

6. Bentuk gelombang ditentukan oleh berbagai faktor seperti: kardiak output, tekanan

darah, autoregulasi otak, respon vasomotor dan lesi fokal arteri

Pengaruh usia pada parameter CBF telah dilaporkan pada beberapa studi.

Penurunan CBF dengan peningkatan usia diduga berhubungan dengan

perubahan

pada

hemodinamik

serebrovaskular

seperti

penurunan

kebutuhan

metabolisme,

Universitas Sumatera Utara

peningkatan

hematokrit

dan

penurunan

level

tekanan

parsial

karbon

dioksida,

perubahan

ukuran

vaskular

dan

penurunan

kardiak

output.

Beberapa

penelitian

menemukan penurunan 20% pada doppler shift pada MCA pada usia 17-67 tahun dan

beberapa studi yang menemukan penurunan rerata velocity sebesar 0,51% pada MCA,

0,5% pada ACA dan 0,37% pada PCA pertahunnya pada pasien dengan riwayat

kejadian neurologis tetapi pada pemeriksaan neurologis dijumpai normal. Juga telah

diketahui bahwa kecepatan aliran yang tertinggi dijumpai pada subjek pediatrik dan

mulai menurun secara signifikan pada usia > 40 tahun (Demirkaya dkk,2008).

signifikan pada us ia > 40 tahun (Demirkaya dkk,2008). Gambar 1. Cara membaca bentuk gelombang pada

Gambar 1. Cara membaca bentuk gelombang pada pengukuran TCD Dikutip dari: Neumyer et al. 2004. Cerebrovascular Ultrasound in Stroke Prevention and Treatment. Blackwell Publishing. New York

Prevention and Treatment. Blackwell P ublishing. New York Gambar 2. Nilai Pulsasity Index Universitas Sumatera Utara

Gambar 2. Nilai Pulsasity Index

Universitas Sumatera Utara

Dikutip dari: Neumyer et al. 2004. Cerebrovascular Ultrasound in Stroke Prevention and Treatment. Blackwell Publishing. New York

Diagnosis

oklusi

arteri

cerebralis

intrakranial

dengan

menggunakan

TCD

diperoleh dengan hilangnya sinyal doppler pada arteri cerebral pada pasien dengan

bukti acoustic window yang terdeteksi pada satu arteri cerebralis ipsilateral. Morfologi

waveform dibandingkan velocity aliran darah pada TCD dapat memberikan informasi

mengenai lokasi clot, obstruksi hemodinamik yang signifikan, dan tahanan pada PD

distal (Eggers dkk, 2006).

Tabel 1. Nilai normal Mean flow velocity pada TCD

2006). Tabel 1. Nilai normal Mean flow velocity pada TCD Dikutip dari: Kassab et al. 2007.Transcranial

Dikutip dari: Kassab et al.2007.Transcranial Doppler: An Introduction for Primary Care Physicians. J Am Board Fam Med. 20:65–71

Untuk menjelaskan morfologi waveform pada TCD dikembangkan TIBI residual

flow grading system dengan tingkatan range dari 0 sampai 5 yang memiliki arti absen,

minimal, blunted, dampened, stenosis dan aliran yang normal (secara berurutan)

(Eggers dkk, 2006).

Sejumlah penelitian telah menduga pengukuran velocity untuk grading stenosis.

yang paling sering digunakan adalah kriteria berdasarkan rasio PSV arteri karotis

internal dan arteri karotis kommunis serta velocity distolik untuk menentukan batasaan

pengukuran (Sidhu, 2000).

Universitas Sumatera Utara

Kriteria diagnostik TCD telah divalidasi pada beberapa penelitian dan dapat

mengidentifikasi lokasi thrombus dengan akurasi 90% pada MCA dan ICA. Oklusi arteri

intrakranial yang terdeteksi oleh TCD berhubungan dengan perburukan neurologis,

disabilitas

atau

kematian

setelah

90-hari,

dimana

gambaran

normal

pada

TCD

memprediksikan perbaikan yang cepat. Pasien dengan stroke pada daerah ICA,

Temuan TCD, Stroke severity pada 24 jam, dan ukuran lesi pada CT merupakan

prediktor yang independen dengan outcome setelah 30-hari (Sloan dkk, 2004; Neumyer

dkk, 2004)

setelah 30-hari (Slo an dkk, 2004; Neumyer dkk, 2004) Gambar 3. Modifikasi TIBI flow grading system

Gambar 3. Modifikasi TIBI flow grading system Dikutip dari: Eggers et.al. 2006. Handbook on Neurovascular Ultrasound. Karger. New York

Handbook on Neurovascular Ultrasound. Karger. New York Ga mbar 4. Nilai PSV dan EDV pada stenosis

Ga

mbar 4. Nilai PSV dan EDV pada stenosis arteri karotis Dikutip dari: Neumyer et al. 2004. Cerebrovascular Ultrasound in Stroke Prevention and Treatment. Blackwell Publishing. New York

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2. Kriteria grading penurunan diameter arteri karotis interna

Kriteria grading penurunan diameter arteri karotis interna Dikutip dari: Sidhu, P.S. 2000. Ultrasound of the carotid

Dikutip dari: Sidhu, P.S. 2000. Ultrasound of the carotid and vertebral arteries. British Medical Bulletin. 56 (No 2):346-366

II.3 Outcome Stroke

Kehilangan

fungsi

yang

terjadi

setelah

stroke

sering

digambarkan

sebagai

impairements, disabilitas dan handicaps. Oleh WHO membuat batasan sebagai berikut

(Caplan, 2000):

1.

Impairments: menggambarkan hilangnya fungsi fisiologis, psikologis dan anatomis

yang

disebabkan

stroke.

Tindakan

psikoterapi,

fisioterapi,

terapi

okupasional

ditujukan untuk menetapkan kelainan ini.

 

2.

Disabilitas: merupakan setiap hambatan, kehilangan kemampuan untuk berbuat

sesuatu yang seharusnya mampu dilakukan orang yang sehat

 

3.

Handicapas : merupakan halangan atau gangguan pada seseorang penderita

stroke untuk berperan sebagai manusia normal akibat impairment dan disabilitas.

Pada berbagai penelitian klinis, skala Barthel index dan Modified Rankin Scale

umumnya digunakan untuk menilai outcome karena mudah digunakan. (Shulter dkk,

1999).

Dalam uji klinik Barthel index (BI) dan Modified Rankin Scale merupakan skala

yang sering digunakan untuk menilai outcome dan merupakan pengukuran yang dapat

dipercaya

yang

memeberikan

penilaian

yang

fungsional setelah stroke (Shulter dkk, 1999).

lebih

objektif

terhadap

pemulihan

Universitas Sumatera Utara

Barthel index telah dikembangkan sejak tahun 1965, dan kemudian dimodifikasi

oleh Grager dkk sebagai suatu teknik yang menilai pengukuran performasi pasien

dalam 10 aktifitas hidup sehari-hari yang dikelompokkan ke dalam 2 kategori yaitu

(sulter dkk, 1999):

- kategori yang berhubungan dengan self care

diri,

mandi,

berpakaian,

penggunaan toilet.

perawatan

buang

antara lain:makan, membersihakan

air

besar

dan

buang

air

kecil,

- Kategori yang berhubungan dengan morbiditas antara lain : berjalan, berpindah dan

menaiki tangga.

Skor maksimum dari BI ini adalah 100, yang menunjukkan bahwa fungsi fisik

pasien benar-benar tanpa bantuan, dan nilai terendah adalah 0 yang menunujukkan

ketergantungan total (Masur dkk, 2003).

Skala mRS lebih mengukur performasi aktiifitas spesifik, dalam hal ini mental

demikian juga adaptasi fisik digabungkan dengan defisit neurologi. Skala ini terdiri dari

6 derajat, yaitu 0 yang berarti tidak ada gejala, 5 yang berarti cacat/ketidakmampuan

yang berat dan 6 yang berarti kematian. Skala ini lebih sensitif untuk penilaian pada

penderita dengan disabilitas ringan dan sedang (Masur dkk, 2003; Weimar dkk, 2002)

National

Institute

of

Health

Stroke

Scale

(NIHSS)

merupakan

pengukuran

kuantitatif defisit neurologis berkaitan dengan stroke yang dapat memprediksi outcome

stroke jangka panjang, terdiri dari 12 item pertanyaan (tingkat kesadaran, respon

terhadap pertanyaan, respon terhadap perintah, gaze palsy, pemeriksaan lapangan

pandang,

facial

palsy,

motorik,

ataksia,

sensori,

bahasa,

disartria,

dan

ektensi/inattentian). Ada 3 rentang skor NIHSS yang secara signifikan berhubungan

dengan perawatan pasien stroke yaitu; skor 5 pasien berarti pasien dapat keluar dari

rumah sakit, skor 6-13; pasien memerlukan rehabilitasi dan > 13 memerlukan fasilitas

perawatan yang lama (meyer dkk, 2002; Schelegel dkk, 2003).

Universitas Sumatera Utara

II.4 KERANGKA KONSEPSIONAL

Stroke Akut

Perubahan Parameter hematologi rutin

Bathia dkk,2004: perubahan pada parameter hematologirutin pada stroke akut yang dapat mempengaruhi viskositas darah, CBF dan mempengaruhi ukuran lesi serta outcome

Demirkaya dkk, 2008; CBF dengan usia diduga berhubungan dengan perubahan pada hemodinamik serebrovaskular seperti peningkatan hematokrit dan penurunan level tekanan parsial karbon dioksida

dan penurunan level tekanan parsial karbon dioksida usia Viskositas darah cko dkk (2003):. usia dan kandungan
usia Viskositas darah cko dkk (2003):. usia dan kandungan igen merupakan faktor yang paling mpengaruhi
usia
Viskositas darah
cko dkk (2003):. usia dan kandungan
igen merupakan faktor yang paling
mpengaruhi variasi kecepatan aliran
Neumyer dkk, 2004:
ah
arteri cerebri media.
TCD
CBF
perubahan pada velocity
TCD mengindikasikan
perubahan CBF
ay dkk (2005 ): aliran darah yang
kur dengan TCD secara signifikan
engaruhi oleh level hematokrit dan
Infark serebri
a
s
dkk (2008): kecepatan maksimum rata-rata
adap waktu pada sirkulasi arteri cerebri media
hubungan signifikan terhadap usia, hemoglobin,
ate dehydrogenase, level aspartate
saminase, WBC dan level kreatinin.
Baracchini dkk (2000) : total anterior circulation
infarct dan abnormal TCD memiliki hubungan yang
signifikan dengan rata-rata mortalitas yang tinggi
dan outcome yang buruk (BI ≤ 60)
Outcome

Chamorro dkk (1995): Skor Mathew, volume infark status klinis, dan Laju endap darah sebagai model prediktif dari outcome stroke dengan sensitivitas 89,91% dan spesifisitas 85,71%

Diamond dkk (2003) : Probabilitas untuk outcome yang kurang baik akan meningkat pada level hematokrit yang tinggi maupun yang rendah

Huang dkk (2008) : usia tua, TACS, stroke in evolution dan pneumonia merupakan prediktor outcome fungsional yang buruk serta TIA sebelumnya dan anemia merupakan merupakan prediktor untuk kematian dan rekuren stroke dalam 2 tahun

Universitas Sumatera Utara