Anda di halaman 1dari 2

Dislokasi Sendi Siku Rasionalisasi Rehabilitasi Kebanyakan dislokasi sendi siku terjadi akibat hiperekstensi di mana prosessus olekranon

terdorong masuk ke dalam fossa olekranon yang menyebabkan troklear berada di atas prosessus koronoid. Kebanyakan dislokasi sendi siku terjadi ke arah posterior atau posterolateral. Dislokasi anterior terjadi hanya pada 1-2% pasien. Klasifikasi Klasifikasi umum dislokasi sendi siku membagi jejas menjadi dislokasi anterior dan dislokasi posterior. Berdasarkan posisi akhir olekranon saat istirahat terhadap distal humerus, dislokasi posterior dibagi menjadi posterior, posterolateral (paling banyak), posteromedial (paling jarang) atau lateral murni. Morrey membagi dislokasi menjadi dislokasi komplit dan dislokasi perched. Karena menyebabkan robekan ligament yang lebih ringan, dislokasi perched memiliki fase penyembuhan dan rehabilitasi yang cepat. Untuk dislokasi komplit, kapsul anterior terganggu. Arteri brakialis juga mungkin robek atau teregang. Banyak dislokasi sendi siku disertai dengan beberapa tipe keterlibatan ligamentum ulnar kolateral. Lebih spesifik, pita oblik anterior ligamentum ulnar kolateral juga ikut terlibat. Tullos, dkk menemukan robekan pita oblik anterior ligamentum ulnar kolateral dijumpai pada 34 dari 37 pasien yang sebelumnya mengalami dislokasi sendi siku posterior. Perbaikan ligamentum ini kadang-kadang diindikasikan pada atlet jika luka terjadi pada lengan dominan. Hal ini mengoptimalisasi kesempatan untuk kembali mengikuti level kompetisi atlet sebelumnya. Fraktur ikutan terjadi pada sekitar 25-50% pasien dengan dislokasi sendi siku, kebanyakan fraktur terjadi pada kepala radius. Pertimbangan Rehabilitasi Umum Sekuele dislokasi sendi siku yang paling umum terjadi adalah berkurangnya gerakan, terutama ekstensi. Pada minggu ke-10, kontraktur fleksi pada sudut rata-rata 30 0 umum terjadi dan pada tahun kedua, kontraktur fleksi pada sudut 100 sering kali muncul. Kondisi ini tidak akan membaik seiring dengan perjalanan waktu.

Rehabilitasi terfokus pada upaya mengembalikan luas gerak awal dalam batas stabilitas sendi siku. Stress valgus pada sendi siku harus dihindari selama rehabilitasi. Stabilisasi setelah reduksi dislokasi sendi siku harus ditentukan untuk menjamin rehabilitasi yang layak. Sendi siku digerakkan melalui gerak lembut pasif sendi, menghindari stress valgus. Redislokasi sendi siku dengan luas gerak pasif sederhana mengindikasikan adanya instabilitas valgus berat dengan rupture ligamentum kolateral medial dan fleksor lengan bawah. Untuk dislokasi yang stabil setelah reduksi, hasil terbaik dicapai dengan gerakan terproteksi lebih awal sebelum 2 minggu. Imobilisasi jangka panjang (lebih dari 2 minggu) berkaian dengan kontraktur fleksi yang lebih berat dan nyeri saat follow-up dan tidak mengurangi gejala-gejala instabilitas. Dislokasi sendi siku stabil efektif dengan latihan luas gerak lebih awal dan penguatan umum sebagaimana protokol rehabilitas sendi siku lain. Stabilitas osseous inheren memungkinkan ekstensi dan fleksi lebih awal jika stress valgus dicegah setelah reduksi. Dislokasi yang tidak stabil membutuhkan perbaikan ligamentum kolateral medial. Rehabilitasi dislokasi yang tidak stabil membutuhkan fase proteksi yang lebih panjang. Mulai pada minggu pertama, brace ROM dengan sudut antara 30-900 digunakan. Setiap minggu, pergerakan brace ini ditambahkankan sebanyak 50 ekstensi dan 100 fleksi. Pertambahan ini dikontrol secara langsung oleh sintesis kolagen dan proses remodeling yang terjadi dalam jaringan yang terlibat. Rekurensi dislokasi sendi siku jarang dijumpai, terjadi hanya 1-2% setelah dislokasi sendi siku sederhana. Instabilitas rekuren lebih sering dijumpai jika dislokasi awal disertai dengan fraktur posterior atau jika insidens pertama terjadi pada masa kanak-kanak atau remaja. Program rehabilitasi yang terlalu agresif dapat menyebabkan subluksasi rekueren, sedangkan program rehabilitasi yang terlalu konservatif dapat menimbulkan kontraktur fleksi; kejadian kontraktur fleksi lebih cenderung terjadi. Ekstensi sendi siku penuh kurang penting pada pasien non-atlet dan kemudian dapat sedikit dikorbankan untuk menjamin struktur sendi dan ligamentum diberikan waktu lebih lama untuk sembuh dan menurunkan risiko sublukasi atau dislokasi berulang.