Anda di halaman 1dari 10

REFERAT COGNITIVE BEHAVIORAL THERAPY

STASE ILMU KESEHATAN JIWA

Mahasiswa Suryo Nugroho Suhardi 030.08.235

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA 2013

Cognitive Behavioral Theraphy

Sejarah Terapi Kognitif-Behavioral (CBT) dapat dilacak dari awal para perintis psikologi, kecuali untuk konseling kognitif. Apa yang dipraktikkan sekarang ini

sesungguhnya telah dikembangkan sejak tahun 50-an dan 60-an. Memasuki tahun 70-an, para pemikir dan praktisi aliran kognitif dan perilaku (behavioral) berusaha menggabungkan kedua pendekatan tersebut sehingga menghasilkan Konseling Kognitif-Behavioral. Sejak tahun 80-an hingga sekarang ini, Konseling Kognitif-Behavioral telah berkembang dan memiliki daya tarik tersendiri karena telah terbukti efektivitasnya dan mampu memberikan pelayanan dalam waktu yang lebih singkat, dibandingkan dengan psikoanalisis atau psikoterapi tradisional lainnya Terapi kognisi-perilaku (CBT) merupakan suatu proses mengajar, melatih dan menguatkan perilaku positif. Terapi ini memebantu seorang individu untuk mengidentifikasi pola kognitif atau pikiran dan emosi yang berhubungan dengan perilaku. Terapi ini merupakan gabungan antara terapi kognitif dengan terapi perilaku. Terapi ini menganggap kesulitan-kesulitan emosional berasal dari pikiran atau keyakinan yang salah (kognisi) yang menyebabkan perilaku yang tidak produktif. Kondisi-kondisi psikiatrik tampaknya membaik apabila cara berpikir pasien menjadi lebih akurat dan jika perilaku individu lebih tepat. Oleh karena itu, terapis bekerjasama dengan pasien mengidentifikasi dan mengoreksi salah persepsi dan perilaku yang salah. Terapi ini sangat berdasar pada realitas dan menekankan hal yang terjadi di sini dan saat ini (apa yang dipikirkan pasien saat ini; bagaimana perilaku pasien saat ini). Pasien diberi semangat . Terapi kognitif-perilaku telah digunakan dan paling sukses dalam menatalaksana depresi ringan hingga sedang, gangguan panik, gangguan obsesif-kompulsif dan gangguan makan, tetapi nampaknya dapat digunakan secara luas lagi. Terapi perilaku-kogitif merupakan suatu gabungan antara terapi perilaku dengan terapi kognitif. Terapi ini menganggap kesulitan-kesulitan emosional berasal dari pikiran atau keyakinan yang salah (kognisi yang menyebabkan) perilaku yang tidak produktif. Kondisi-kondisi psikiatrik tampaknya membaik apabila cara berpikir pasien menjadi lebih akurat dan jika perilaku individulebih tepat. Oleh kaena itu, terapis bekerja sama dengan pasien mengidentifikasi dan mengoreksi salah persepsi (satu persatu)dan perilaku yang salah. Terapis ini sangat berdasar pada realitas dan menekankan hal yang terjadi di sini dan saat ini (apa yang dipikirkan saat ini;bagaimana perilaku pasien saat ini). Pasien disemangati untuk memikirkan hal yang dia pikirkan. Terapi kognitif-perilaku telah digunakan dan paling
2

sukses dalm menatalaksana depresi ringan hingga sedang, gangguan panik, gangguan obsesifkonfulsif dan gangguan makan,tetapi tampaknya dapat digunakan secara lebih luas lagi Adapun asumsi yang mendasari modifikasi perilaku kognitif adalah: 1. Kognisi yang tidak adaptif mengarah pada pembentukan tingkah laku yang tidak adaptif pula 2. Peningkatan diri yang adaptif dapat ditempuh melalui peningkatan pemikiran yang positif 2. Klien dapat mempelajari peningkatan pemikiran mengenai sikap, pikiran, dan tingkah laku. Jadi, dari penjelasan di atas, secara singkat modifikasi perilaku-kognitif dapat diartikan sebagai suatu teknik yang secara simultan berusaha memperkuat timbulnya perilaku adaptif dan memperlemah timbulnya perilaku yang tidak adaptif melalui pemahaman proses internal yaitu aspek kognisi tentang pikiran yang kurang rasional dan upaya pelatihan ketrampilan koping yang sesuai.

I.

Prinsip-prinsip Terapi Perilaku- Kognitif Sebelum proses terapi dimulai, terapis perlu terlebih dahulu menjelaskan susunan

terapi kepada subjek, yang meliputi penjelasan tentang sudut pandang teori modifikasi perilaku dan teori terapi kognitif terhadap perilaku yang tidak adaptif, prinsip yang melandasi prosedur modifikasi perilaku kognitif, dan tentang langkah-langkah di dalam terapi. Penjelasan ini penting perannya untuk meningkatkan motivasi individu dan menjalin kerjasama yang baik. Perlu pula dijelaskan bahwa fungsi terapis hanyalah sebagai fasilitator timbulnya perilaku yang dikehendaki, dan individu yang berperan aktif dalam proses terapi (Ivey, 1993). Oleh karena itu individu harus benar-benar terampil menggunakan prinsipprinsip terapi kognitif dan modifikasi perilaku dengan masalah yang dialaminya, dan peran terapis penting dalam mengajak individu memahami perasaannya dan teknik terapi yang efektif untuk terjadinya perubahan perilaku yang dikehendaki. Terkait dengan perlunya pemahaman tentang prinsip-prinsip modifikasi perilakukognitif, Meichenbaum (dalam Ivey, 1993) mengemukakan 10 hal yang harus diperhatikan seorang terapis dalam penggunaan modifikasi perilaku-kognitif, yaitu: 1. Terapis perlu memahami bahwa perilaku klien ditentukan oleh pikiran, perasaan, proses fisiologis,dan akibat yang dialaminya. Terapis dapat memasuki sistem interaksi dengan memfokuskan pada pikiran, perasaan, proses fisiologis, dan perilaku yang dihasilkan klien.

2. Proses kognitif sebenarnya tidak menyebabkan kesulitan emosional, namun yang menyebabkan kesulitan emosional adalah karena proses kognitif itu sendiri merupakan proses interaksi yang kompleks. Bagian penting dari proses kognisi adalah meta-kognisi yaitu klien berusaha untuk memberi komentar secara internal pada pola pemikiran dan perilakunya saat itu. Struktur kognisi yang dibuat individu untuk mengorganisasi pengalaman adalah personal schema. Terapis perlu memahami personal schema yang digunakan oleh klien untuk lebih mamahami masalah yang dialami klien. Perubahan personal schema yang tidak efektif adalah bagian yang penting dari terapi. 3. Tugas penting dari seorang terapis adalah menolong klien untuk memahami cara klien membentuk dan menafsirkan realitas. 4. Modifikasi perilaku-kognitif memahami persoalan dengan pendekatan psikoterapi yang diambil dari sisi rasional atau objektif. 5. Modifikasi perilaku-kognitif ditekankan pada penjabaran serta penemuan proses pemahaman pengalaman klien. 6. Dimensi yang cukup penting adalah untuk mencegah kekambuhan kembali. 7. Modifikasi perilaku-kognitif melihat bahwa hubungan baik yang dibangun antara klien dan terapis merupakan sesuatu yang penting dalam proses perubahan klien. 8. Emosi memainkan peran yang penting dalam terapi, untuk itu klien perlu dibawa ke dalam suasana terapi yang mengungkap pengalaman emosi. 9. Terapis perlu menjalin kerjasama dengan pihak keluarga ataupun pasangan klien. 10. Modifikasi perilaku-kognitif dapat diperluas sebagai proses pencegahan timbulnya perilaku maladaptif. III. Terapi Perilaku Berdasakan pada teori belajar, yang mendalilkan bahwa problem-problem perilaku (yaitu hampir semua manifestasi kondisi psikiatrik ) merupakan sesuatu yang di dapat secara involunter,akibat pembelajaran yang tidak tepat. Terapi berkonsentrasi pada perubahan perilaku (modifikasi perilaku) lebih daripaa mengubah pola pikir nirsadar/sadar,da untuk mencapainya terapi bersifat directive (yaitu pasien menerima banyak instruksi dan pengarahan). Beberapa tenik yang digunakan adalah sebagai berikut: a. Operant conditioning Teknik terapi ini berdasarkan evaluasi dan modifikasi hal-hal terlebih dahulu dan konsekuensi terhadap perilaku pasien dengan teliti.perilau yang diharapkan didukung

dengan penguatan positif dan dilarang dengan penguatan negative. Cara baru untuk merespon pasien ini dapat diajarkan pada orang-orang yang tingal bersamanaya. b. Terapi aversi Pasien diberikan stimulus yang tidak menyenangkan (missal syok elektrik,suara keras) pada saat perilakunay yang tidak dikehandaki muncul. Beberapa cara ini secara hukum dilarang. Suatu teknik pengganti, yaitu sensitisasi tertutup lebig bisa diterima, karena menggunakan pikiran-pikiran yang tidak menyenangkan sebagai stimulus yang aversif. c. Terapi implosife Pasien dengan ansietas atau yang disebabkan situasi, secara langsung dipajankan terhadap situasi tersebut untuk jangka waktu tertentu (flooding) atau dipajankan di dalam imajinasi (implosion). ,

d. Dasensitisasi sistematik Pasien dengan ansietas dan fobia dipajankan pada suatu hierarki yang bertahap terhadap situasi atau obyek yang menakutkan, dimulai dari yang paling tidak menakutkannya. Pasien akhirnya belajar untuk mengatasi objek atau siituasi yang lebih menakutkannya. Bila hal ini dibarengi dengan relaksasi (suatu pola respon antagnistik :relaksasi tidak cocok dengan ansietas),tekniknya disebut inhibisi resiprokal. Terapi perilaku menandalkan pengukuran perilaku sacara teliti. Suatu teknik akan dianggap berguna apabila berhasil, dan keberhasilannya ditentukan oleh kemampuannya menghilangkan perilaku yang tidak dikehandaki dan bisa diukur dan meningkatnya perilaku yang dikehendaki.

IV.

Terapi Kognitif Terapi kognitif berfokus pada masalah, orientasi pada tujuan, kondisi dan waktu saat

itu. Terapi ini memandang individu sebagai pembuat keputusan. Terapi kognitif telah menunjukkan kefektifan penanganan dalam masalah klinik misalnya cemas, schizophrenic, substance abuse, gangguan kepribadian, gangguan mood. Dalam prakteknya, terapi ini dapat diaplikasikan dalam pendidikan,tempat kerja dan seting lainnya (Wulandari LH,2004).

Secara umum, tujuan dari terapi kognitif adalah :


5

1. Meningkatkan aktivitas 2. Menurunkan perilaku yang tidak diinginkan 3. Meningkatkan kepuasan 4. Meningkatkan kemampuan social Ahli terapi kognitif percaya bahwa respon maladaptive berasal dari distorsi kognitif, yang berasal dari kesalahan logika, kesalahan mencari alasan atau pandangan individu yang tidak menggambarkan realitas. Macam macam distorsi kognitif antara lain : 1. Pikiran segalanya atau tidak sama sekali : anda melihat segala sesuatu dengan kategori hitam putih. Jika prestasi anda kurang dari sempurna maka anda memandang diri anda sebagai orang yang gagal total 2. Over generalisasi : anda memandang suatu peristiwa yang negative sebagai sebuah pola kekalahan tanpa akhir 3. Filter mental : anda menemukan sebuah hal kecil yang negative dan terus memikirkannya sehingga pandangan anda tentang realita menjadi gelap, seperti tetesan tinta yang mengeruhkan seluruh air dalam gelas. 4. Mendiskualifikasi yang positif : anda menolak pengalaman pengalaman positif dengan bersikeras bahwa semua itu bukan apa apa dengan cara ini anda dapat mempertahankan suatu keyakinan negative yang bertentangan dengan pengalaman pengalaman anda sehari hari 5. Loncatan kesimpulan kesimpulan, anda membuat sebuah penafsiran negative walaupun tidak ada fakta yang jelas mendukung kesimpulan anda : 6. Membaca pikiran : dengan sewenang wenang anda menyimpulkan bahwa seseorang sedang berreaksi negative terhadap anda dan anda tidak mau bersusah payah mengeceknya. 7. Kesalahan peramal : anda mengharapkan segala sesuatu akan berubah menjadi sangat buruk dan anda merasa yakin bahwa ramalan anda tersebut sudah merupakan suatu fakta yang pasti 8. Pembesaran (pembencanaan) atau pengecilan : anda melebih lebihkan pentingnya suatu hal (misalnya kesalahan anda atau kesuksesan orang lain atau dengan tidak tepat mengerutkan segala sesuatu sehingga menjadi sangat kecil (sifat anda yang baik atau cacad orang lain) ini disebut permainan teropong.

9. Penalaran emosional : anda menganggap bahwa emosi emosi anda yang negative mencerminkan bagaimana sebenarnya realita : saya merasa begitu, maka pastilah saya begitu. 10. Pernyataan harus : anda mencoba menggerakkan diri anda sendiri dengan harus serta seharusnya tidak seolah olah anda harus dicambuk dan dihukum sebelum dapat diharapkan melakukan apapun. Perkataan mestinya juga merupakan penyerang diri anda, konsekuensi emosionalnya adalah rasa bersalah. Bila anda mengarahkan pernyataan harus tersebut kepada orang lain, maka anda akan merasakan amarah, frustasi dan kejengkelan. 11. Memberi cap dan salah memberi cap : suatu bentuk ekstrim dari overgeneralisasi yang anda lakukan bukannya menguraikan kesalahan anda tetapi malah memberikan sebuah cap negative pada diri anda sendiri saya memang seorang yang sial jika perilaku orang lain menyinggung perasaan anda, maka anda menempelkan seluruh cap negative kepadanya saya memang seorang yang bodoh. Salah memberi cap berarti menggambarkan suatu peristiwa dengan bahasa yang sangat dipengaruhi emosi. 12. Personalisasi. Anda memandang diri anda sendiri sebagai penyebab dari suatu peristiwa eksternal yang negative, yang dalam kenyataannya sebenarnya bukanlah anda yang pertama tama harus bertanggungjawab terhadap hal tersebut. Strategi penanganan perilaku kognitif 1. Menurunkan cemas 2. Tehnik relaksasi 3. Biofeedback, menggunakan alat untuk menurunkan cemas dan memodifikasi respon perilaku. 4. Systematic desenzatization. Dirancang untuk menurunkanperilaku yang berhubungan dengan stimulus spesifik misalnya karena ketinggian atau perjalanan melalui pesawat. Tehnik ini meliputi relaksasi otot dengan membayangkan situasi yang menyebabkan cemas. 5. Flooding. Klien segera diekspose pada stimuli yang paling memicu cemas (tidak dilakukan secara berangsur angsur) dengan menggunakan bayangan/imajinasi 6. Pencegahan respon . Klien, klien didukung untuk menghadapi situasi tanpa melakukan respon yang biasanya dilakukan (Wulandari LH,2004)..
7

Restrukturisasi kognitif 1. Memonitor pikiran dan perasaan (menggunakan format tertentu /daily record of dysfunction thoughts form) : pertanyaannya adalah fakta dan interpretasi fakta tersebut. 2. Memeriksa alternative, alternative dieksplorasi berdasarkan kekuatan dan sumber koping pasien. 3. Decatastrophizing. Disebut juga teknik bagaimana jika akan menolong pasien untuk mengevaluasi situasi yang ada. Pertanyaan perawat biasanya apa hal yang akan terburuk yang akan terjadi? bagaimana orang lain mengatasi situasi seperti itu? 4. Reframing . adalah strategi yang memodifikasi atau merubah persepsi pasien dari situasi atau perilaku yang ada dengan melihat dari perspektif yang berbeda. 5. Berhenti berfikir. Teknik ini sangat baik digunakan pada saat disfungsi pemikiran mulai muncul. Pertama kali saat pasien mengidentifikasi pikiran tentang masalah dan membicarakan masalah (melalui imajinasi) perawatan akan berkata STOP setelah itu klien perlu melatih hal ini sendiri. Mempelajari perilaku baru 1. Modelling. Klien memeriksa model perilaku yang dapat ditiru 2. Shaping. Membentuk perilaku dengan cara melihat, menunggu dan memberikan reinforcement pada klien apabila melakukan perilaku yang diinginkan. 3. Token economy merupakan suatu bentuk reinforcement positif dengan memberikan hadiah misalnya waktu bebas, boleh keluar unit perawatan, permainan atau permen terhadap klien yang melakukan perilaku yang diharapkan. 4. Latihan kemampuan social. Teknik ini berdasarkan pada kepercayaan bahwa kemampuan dapat dipelajari dan dapat diajarkan, prinsip latihan ini adalah :

Petunjuk (gambaran tingkah laku baru yang akan dipelajari) Demonstrasi (memberikan contoh) Praktek Umpan Balik, Setelah klien mampu melakukan perilaku baru kemudian perilaku tersebut ditransfer pada lingkungan sebenarnya.

1. Latihan kemampuan social meliputi : menanyakan pertanyaan, memberikan salam, berbicara dengan suara jelas, menghindari kiritik diri atau orang lain 2. Aversion therapy : therapy ini menolong menurunkan perilaku yang tidak diinginkan tapi terus dilakukan. Terapi ini memberikan stimulasi yang membuat cemas atau penolakan pada saat tingkah laku maladaptive dilakukan klien. 3. Contingency therapy. Meliputi kontrak formal antara klien dan terapis tentang apa definisi perilaku yang akan dirubah atau konsekuensi terhadap perilaku itu jika dilakukan. Meliputi konsekuensi positif untuk perilaku yang diinginkan dan konsekuensi negative untuk perilaku yang tidak diinginkan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Tomb DA. Buku Saku Psikiatri Edisi 6. EGC:Jakarta.2004

2. Wulandari LH. Efektivitas Modifikasi Perilaku-Kognitif Untuk Mengurangi Kecemasan Komunikasi Antar Pribadi.e-USU Repository: Universitas Sumatera Utara.2004

10