Anda di halaman 1dari 30

PPAK FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS RIAU PEKANBARU

MANAJEMEN KEUANGAN INTERNASIONAL

MANAGEMENT RESIKO NILAI TUKAR

Management Resiko Nilai Tukar


Perusahaan-perusahaan dengan operasi-operasi internasional akan memiliki assets dan liabilities, revenues dan expenses yang didenominasi dalam valas. Namun karena para investor dan keseluruhan komunitas finansial yang berada di negara asal (parent company) tertarik pada nilai-nilai negara asal, pos-pos neraca dan laporan rugi/laba dalam valas harus dinilai dalam mata uang domestik (negara asal). Tugas manajer keuangan adalah untuk memaksimumkan kekayaan pemegang saham. Jika perusahaan-perusahaan tersebut berada pada posisi dimana fluktuasi nilai tukar mata uang akan mempengaruhi kekayaan pemegang saham, maka perusahaan tersebut dikatakan exposed to exchange rate risk. Perusahaan multinasional yang exposed to exchange rate risk menggunakan forward contracts, meminjam secara lokal (di dalam negeri), dan menyesuaikan kebijakan-kebijakan kredit dan pricingnya. Pada efficient market, ekspektasi perubahanperubahan nilai tukar tidak dapat di-hedge. Riset membuktikan bahwa kurs forward merupakan prediktor bias dari kurs spot masa datang. Dan menurut Efek Fisher Internasional, perbedaan suku bunga seharusnya diseimbangkan oleh perubahan nilai tukar. Dengan demikian concern sebagian besar perusahaan adalah memproteksi posisinya terhadap perubahan nilai tukar yang tidak dapat diprediksi. A. Eksposur atas resiko nilai tukar Eksposur adalah tingkat dimana sebuah perusahaan dipengaruhi oleh perubahan kurs. Berbeda dengan cash flow perusahaan domestik, cash flows perusahaan multinasional didenominasi dalam berbagai valas dan nilai dari masing-masing mata uangnya relatif berbeda dengan mata uang lokal dalam waktu yang berbeda pula. Variasi-variasi ini memperumit masalah pengukuran kinerja subsidiary dan para manajer-manajernya. Secara khusus perusahaan multinasional menghadapi eksposur transaksi, translasi dan ekonomi, yang berubah akibat kurs valas dan mempengaruhi perusahaan dalam cara yang berbeda dan memerlukan teknik manajemen yang berbeda. Tiga tipe atau pengukuran exposure yang berbeda tersebut adalah :

1. Translation (Accounting) exposure merupakan eksposur laporan Rugi/laba

dan Neraca MNC terhadap perubahan-perubahan nilai tukar nominal. Dihasilkan dari fakta bahwa MNC harus mengkonsolidasi rekeningnya kedalam mata uang lokal melalui cash flow-nya yang didenominasi dalam berbagai valas.(mentranslasi laporan keuangan yang didenominasi mata uang asing kedalam mata uang lokal, dimana assets dan liabilities tersebut merefleksikan keputusan-keputusan masa lalu yang dibuat oleh perusahaan). Contoh : Jika perusahaan mempunyai rekening/bank account dalam mata uang asing pada bank luar negeri ukuran/jumlah deposit dalam mata uang asing tidak terpengaruh, tetapi jumlah deposit yang dilaporkan dalam laporan keuangan (dalam mata uang domestik) akan berpengaruh pada statements konsolidasi dari subsidiari asing kepada parent company/perusahaan induknya, nilai dari beberapa pos-posnya akan bervariasi dari waktu ke waktu terhadap kurs valas. 2 3 2. Transaction exposure adalah eksposur valas perusahaan dalam transaksitransaksinya dengan negara lain dimana transaksi tersebut terjadi pada saat ini namun pembayarannya dilakukan pada masa datang, pada saat jatuh tempo/penyelesaian transaksi-transaksi tersebut menaikkan keuntungan-keuntungan atau kerugian-kerugian mata uang. Dengan kata lain selama periode komitmen-komitmen pembayaran atau penerimaan tersebut belum jatuh tempo, kurs nominal dapat berubah dan membuat nilai transaksi ada dalam resiko. Contoh transaksi-transaksi tersebut adalah piutang dan hutang, debt or interest payments outstanding dalam valas. 4 1 3. Economic exposure (operating/competitive exposure) adalah eksposur valas cash flows perusahaan terhadap perubahan-perubahan nilai tukar riil (mengukur perubahan-perubahan nilai tukar yang mempengaruhi nilai perusahaan yang diukur dalam ekspektasi PV cash flows masa dating atau berfokus pada dampak perubahanperubahan nilai tukar terhadap nilai perusahaan yang diukur dalam present value dari seluruh ekspektasi cash flows masa datang). Exposure yang didasarkan pada nilai-nilai pasar mengasumsikan bahwa tujuan finansial perusahaan adalah untuk memaksimumkan kekayaan pemegang saham Contoh : Jika kita mempunyai subsidiary di negara Z dan mata uang negara Z didevaluasi, cash flows subsidiary akan berubah karena kenaikan ekspor potensial, biaya-biaya tinggi dari impor peralatan dan bahan baku.

B. Translation exposure 1. . Translation (Accounting) exposure Translation exposure secara sederhananya merupakan perbedaan antara exposed assets dan exposed liabilities. Exposed berarti bahwa nilai dari asset yang dihitung dalam reporting currency (mata uang negara asal) turun akibat devaluasi functional currency (mata uang perusahaan subsidiari) dan naik akibat apresiasi functional currency. Pertanyaan yang masih tetap ada adalah pos-pos mana yang harus ditranslasikan pada kurs saat ini dan mana yang kurs historis ? 1. Jika assets dan liabilities ditranslasikan pada kurs saat ini, assets dan liabilities tersebut dikatakan sebagai exposed. 2. Assets dan liabilities yang ditranslasikan atas dasar kurs historis, kurs yang dipakai pada asset yang telah dimiliki atau liabilities yang telah terjadi, dikatakan sebagai not exposed. 2. Pengukuran Translation Exposure Accounting/translation exposure timbul dari kebutuhan untuk maksud-maksud pelaporan dan konsolidasi, untuk mengkonversi laporan keuangan operasi asing/luar negeri dari mata uang lokal (perusahaan subsidiari) ke mata uang parent company/perusahaan induk. Jika kurs telah berubah sejak periode pelaporan sebelumnya, translasi/restatement dari assets dan liabilities, revenues, gains dan losses yang didenominasi dalam valas akan menghasilkan gains/losses dalam valas (foreign exchange gains/losses). Translation exposure dengan demikian adalah exposure dari nilai akuntansi perusahaan (laporan keuangan perusahaan) terhadap resiko pergerakanpergerakan nilai tukar dan dihitung dengan cara mencari selisih positif dari seluruh accounts/pos-pos yang akan ditranslasikan pada nilai tukar saat ini. Jika misalnya kita teliti perusahaan Indonesia dengan subsidiarynya yang beroperasi di Italia. Pada akhir tahun laporan keuangan perusahaan Indonesia akan merefleksikan kepemilikan subsidiary tersebut. Jadi jika subsidiary mempunyai receivables LIT 2.000.000, fixed assets LIT 5.000.000, Inventory LIT 3.000.000, Long term debt LIT 2.500.000 dan seterusnya, Neraca parent company/perusahaan induk harus memasukkan jumlah-jumlah diatas dalam pos-pos/accounts yang sesuai. Apa yang terjadi jika Lira menurun nilainya relatif terhadap IDR (Rupiah) ?

Semua ini tergantung pada pilihan dari nilai tukar yang dipakai untuk mentranslasikan pos-pos neraca tersebut dari Lira ke IDR. Jika semua pos-pos ditranslasikan pada nilai tukar baru/saat ini, maka nilai seluruh pos-pos (termasuk equity) akan berkurang. Jika seluruhnya ditranslasikan pada nilai tukar historis (misalnya: kurs pada saat asset atau liability diperoleh) maka nilai baru Lira tidak akan ikut dalam perhitungan sama sekali dan oleh karenanya tidak akan mempunyai efek pada laporan keuangan (atau pada nilai akuntansi dari perusahaan. Keuntungan/kerugian translasi mata uang bisa direalisasikan jika nilai tukar pada akhir tahun operasi berbeda dengan awal tahunnya. 2.1. Accounting bodies (badan-badan akuntansi) Accounting bodies (badan-badan akuntansi) pada berbagai negara telah mencoba untuk membuat standard-standard untuk menangani translasi dengan cara yang adil merefleksikan situasi keuangan yang sebenarnya. Didalam beberapa buku teks didiskusikan standard-standard Amerika Serikat yakni FASB 8 dan FASB 52 beserta beberapa alasan-alasannya. 2.1.1. FASB-8 FASB 8 membentuk aturan yang seragam yang mengatur translasi laporan keuangan yang didenominasi mata uang asing dan transaksi-transaksi dari perusahaan induk Amerika Serikat. FASB 8 yang efektif pada 1 Januari 1976, menggunakan metode temporal untuk mentranslasikan neraca dan laporan rugi/laba ke dalam dollar Amerika Serikat. Keuntungan-keuntungan dan kerugian-kerugian yang tak ter-realisir dicatat dalam laporan rugi/laba. Sehingga net incomenya sangat terpengaruh oleh fluktuasi nilai tukar ketimbang sebagai akibat dari penjualan dan profit margins dari product lines perusahaan. 2.1.2. FASB-52 Meningkatnya ketidak puasan terhadap FASB 8 menghasilkan aturan translasi FASB 52. Menurut FASB 52 assets dan liabilities yang didenominasi mata uang asing ditranslasikan ke dalam dollar pada kurs saat ini. Item-item laporan rugi/laba harus

ditranslasikan baik dalam kurs sebagai akibat waktu terjadinya revenues dan expenses nya atau dalam weighted average (rata-rata) kurs periode tersebut. Keuntungankeuntungan dan kerugian-kerugian yang tidak ter-realisir dicatat dalam pos equity terpisah pada neraca parent company sehingga tidak tercatat dalam laporan rugi/laba. Pos ini disebut pos cummulative translation adjustment (penyesuaian translasi kumulatif). FASB 52 yang pertama kali membedakan antara mata uang fungsional (functional currency) dan mata uang parent company/perusahaan induk (reporting currency). 1 2 1. Mata uang fungsional subsidiari luar negeri adalah mata uang pada 2. Reporting currency dari perusahaan subsidiari merupakan mata uang didalam lingkungan ekonomi tempat beroperasinya perusahaan tersebut. neraca dan laporan rugi/laba yang harus dinyatakan kembali untuk dikonsolidasikan dengan laporan keuangan perusahaan induk (parent company). Negara yang berpengalaman dengan inflasi kumulatif 100 % atau lebih selama tiga tahun berturuturut dikatakan sebagai negara yang hyperinflation. Pada kasus ini, mata uang fungsionalnya harus dollar Amerika Serikat. Jika mata uang fungsional adalah dollar, maka laporan keuangan perusahaan subsidiary dalam mata uang lokal harus diukur kembali dalam dollar dengan menggunakan metode temporal, seperti yang disarankan oleh FASB 8.

Contoh 1 : (Shapiro, 1992 : 194 196) Sterling Ltd perusahaan subsidiari A.S di Inggris memulai bisnis dan memperoleh fixed asset pada awal tahun ketika kurs GBP 1 = USD 1,5. Kurs rata-rata untuk periode tersebut adalah USD 1,4, kurs pada akhir tahun periode adalah USD 1,3. Sedangkan kurs historis untuk inventory adalah USD 1,45. Selama tahun tersebut Sterling Ltd memiliki laba setelah pajak sebesar GBP 20.000.000 yang akan merupakan /menjadi retained earning/laba ditahan - yakni tidak ada dividen yang dibayarkan/dibagikan. Bagaimana laporan R/L (pada tabel.8.1) akan ditranslasikan ke dalam USD dibawah dua alternatif (menurut FASB-52) 1). Functional currency/mata uang fungsional adalah GBP 2). Functional currency/mata uang fungsional adalah USD

Jawab: Jika functional currency adalah GBP, Sterling Ltd akan mentranslasi loss/rugi sebesar USD 22.000.000, yang tidak tercatat (by passes) pada laporan R/L (karena functional currency adalah identik dengan local currency/mata uang lokal) dan muncul pada neraca sebagai komponen terpisah yang disebut cummulative translation adjustment (penyesuaian translasi kumulatif) pada pos equity pemegang saham. Kerugian translasi/translation loss dihitung sebagai jumlah yang menyesuaikan (reconciles) equity account dengan pos-pos translasi yang tersisa untuk membuat seimbang (balance) aset-aset dan hutang-hutang dan ekuitas (tabel 15.1 menunjukan translasi-translasi neraca Sterling Ltd dibawal 2 alternatif functional currency). Sama halnya jika USD merupakan functional currency, keuntungan translasi valas sebesar USD 108.000.000 yang muncul pada laporan R/L Sterling Ltd (karena functional currency berbeda dengan local currency) dihitung sebagai selisih antara sebelum perolehan mata uang (sebesar USD 23.000.000) dan laba ditahan (sebesar USD131.000.000). Jumlah ini hanya membuat seimbang (balance) buku Sterling Ltd. Tabel 15.1. Translasi Laporan R/L Sterling Ltd dibawah FASB-52 (dalam Juta) Valuta Fungsional Pound Sterling US Dollar Poundsterling Kurs dipakai US Dollars Kurs dipakai US Dollars Revenues 120 1,40 $ 168 1,40 $ 168 Cost of goods sold (50) 1,40 (70) 1,45 (73) Depreciation (20) 1,40 (28) 1,50 (30) Other expenses, net (10) 1,40 (14) 1,40 (14) Foreign Exchange gain 108 Income before taxes 40 56 159 Income taxes (20) 1,40 (28) (28) Net Income 20 $ 28 $ 131 Ratios Net Income to revenue 0,17 0,17 0,78 Gross profit to revenue 0,58 0,58 0,57 Debt to equity 7,33 7,33 4,07

Tabel. 15.2. Translasi Laporan R/L Sterling Ltd dibawah FASB-52 (dalam Juta) Valuta Fungsional Pound Sterling US Dollar Poundsterling Kurs dipakai US Dollars Kurs dipakai US Dollars Assets Kas 100 1,30 $ 130 1,30 $ 130 Piutang 200 1,30 260 1,30 260 Inventory 300 1,30 390 1,45 435 Aktiva Tetap, net 400 1,30 520 1,50 600 Total Aktiva 1.000 $ 1.300 $ 1.425 Liabilities Hutang lancer 180 1,30 234 1,30 234 Hutang jk.panjang 700 1,30 910 1,30 910 Saham biasa 100 1,50 150 1,50 150 Laba ditahan 20 28 131 Penyesuaian translasi Kumulatif ______ (22) ______ Total hutang plus Modal 1.000 $ 1.300 $ 1.425 Sumber : Manajemen Keuangan Internasional, M. Faisal, 2001. Hal. 111 Pada FASB 52, keuntungan-keuntungan atau kerugian-kerugian transaksi yang terjadi (sebagai akibat) keperluan untuk menyesuaikan assets dan liabilities yang didenominasi mata uang asing selain mata uang fungsional umumnya dicatat dalam laporan rugi/laba dimana keuntungan-keuntungan dan kerugian-kerugian translasi tidak dicatat. Exposure transaksi dihasilkan dari kemungkinan-kemungkinan keuntungankeuntungan dan kerugian-kerugian transaksi yang telah terjadi dan didenominasi dalam mata uang asing. Hal ini mengukur mata uang dengan mata uang dan sama dengan perbedaan antara cash inflows dan outflows dalam masing-masing mata uang asing masa yang akan datang yang secara kontraktual telah ditetapkan. 2.1.3. Standard Australia (AAS 20)

Sedangkan standar-standar Australia yang relevan adalah AAS 20. Standar ini membedakan antara dua jenis operasi-operasi luar negeri yaitu self sustaining dan integrated. A self sustaining operation adalah perusahaan yang secara finansial dan operasional independen terhadap perusahaan induk dan dalam operasi-operasi regulernya dalam hal transaction exposure tidak mempengaruhi perusahaan induk AAS 20 mensyaratkan bahwa seluruh pos-pos necara dari self sustaining foreign operations ditranslasi menggunakan current exchange rates saat ini. Net gain/loss dari translasi ditunjukkan dalam pos cadangan terpisah pada neraca perusahaan induk, yang disebut foreign currency translation reserve. An integrated operation adalah interdependen dengan perusahaan induk, untuk transaction exposurenya secara regular exposing parent company. Integrated operations menggunakan metode temporal untuk maksud-maksud translasi. Alasannya kelihatannya berbeda, untuk maksud-maksud praktikal metode temporal adalah sangat sama dengan metode monetary/non monetary. Perbedaanya hanya berkenaan dengan inventory item non monetary ini akan dtranslasi pada kurs historis jika operasi luar negeri dinilai pada historical cost dan current rate jika inventory dicatat pada nilai pasar (net realisable value) atau atas dasar saat ini. Keuntungan-keuntungan atau kerugiankerugian translasi ditunjukkan secara langsung pada laporan rugi/laba (berbeda dengan self sustaining operation, yang tidak dicantumkan (by pass) pada laporan rugi/laba dan langsung ditempatkan pada account cadangan). 3. Metode-metode translasi Ada empat metode-metode translasi yang telah ada dan dipakai oleh perusahaanperusahaan multinasional di seluruh dunia, yakni metode current/noncurrent, metode monetary/nonmonetary, metode temporal dan metode current rate. 1 1. Pada metode current/noncurrent, aktiva lancar (current assets) dan hutang lancar (current liabilities) ditranslasikan pada kurs/rate saat ini (dengan kata lain hanya memperlakukan current assets dan current liabilities yang exposed (yang disesuaikan dengan nilai tukar yang berubah/postchange). Noncurrent assets dan noncurrent liabilities ditranslasian pada kur/rate historis. Komponen-komponen laporan rugi/laba

ditranslasikan pada kurs/nilai tukar rata-rata periode tersebut. Pengecualian ada pada revenues dan expenses yang berkaitan dengan noncurrent assets dan liabilities. 2 2. Pada metode monetary/nonmonetary pos-pos neraca monetary (cash, account receivables dan payables, long term debt) ditranslasikan pada kurs mata uang saat ini. Non monetary account/pos-pos non moneter (inventory, fixed assets, long term investments) ditranslasikan pada kurs historis (dengan kata lain hanya menghitung assets dan liabilities moneter yang exposed). Laporan rugi/laba ditranslasikan dengan nilai tukar rata-rata selama periode tersebut. Pos-pos revenues dan expenses yang berkaitan dengan pos neraca non monetary ditranslasikan pada kurs yang sama dengan yang digunakan untuk mentranslasi pos-pos pada neraca. 1 3. Metode temporal sama seperti metode monetary/nonmonetary dengan hanya sedikit perbedaan bahwa inventory bisa ditranslasikan pada kurs saat ini jika memiliki harga pasar (mentranslasi assets dan liabilities yang exposed dinilai pada current cost/biaya saat ini dan pada historical cost/biaya historis untuk assets dan liabilities yang unexposed). 2 4. Pada metode current rate, seluruh pos neraca dan laporan rugi/laba ditranslasikan pada kurs saat ini (memperlakukan seluruh assets dan liabilities sebagai exposed).

Contoh 2 : Andaikan neraca perusahaan subsidiary A.S di Jerman pada 1 Desember 1998 adalah sebagai berikut : Assets (DM juta) Liabilities(DM juta) Cash, Marketable Securities DM 250.000 Current liabilities DM 750.000 Account Receivables DM 1.000.000 Long term debt DM 3.400.000 Inventory (at market) DM 2.700.000 Equity DM 4.900.000 Fixed assets DM 5.100.000 Total liabilities- ____________ Total assets DM 9.050.000 plus equity DM 9.050.000 Jika selama tahun tersebut DM terapresiasi dari USD 0,70/DM menjadi USD 0,76/DM, bagaimana translasi keuntungan (kerugian) menurut metode current rate ? Jawab :

Keuntungan translasinya adalah sebesar USD 294.000 (USD 490.000 x (0,76 0,70)) 4. Dalam hal pengukuran exposure terhadap perubahan-perubahan nilai tukar, terdapat perbedaan utama antara praktek akuntansi dengan realita ekonomi. Accounting exposure merupakan hasil dari menyatakan kembali laporan keuangan yang dinyatakan dalam mata uang asing kedalam mata uang lokal. Aset-aset dan hutang-hutang tersebut merefleksikan keputusan-keputusan masa lalu yang dibuat oleh perusahaan. Economic exposure berfokus pada dampak perubahan-perubahan nilai tukar terhadap nilai perusahaan yang diukur dalam present value dari seluruh cash flow masa datang yang diharapkan. Exposure yang didasarkan pada nilai-nilai pasar mengasumsikan bahwa tujuan keuangan perusahaan adalah untuk memaksimalkan kekayaan pemegang saham. Karena tidak adanya hubungan antara informasi dari teknik-teknik akuntansi yang terkait pada event-event masa lalu dengan hasil-hasil operasi perusahaan aktual, perusahaan harus berfokus pada efek ekonomi dari perubahan-perubahan nilai tukar. Bukti empiris menunjukan bahwa para investor yang berpengetahuan sanggup untuk membedakan antara window dressing data akuntansi dan realita ekonomi. Selanjutnya, pada efisiensi pasar keuntungan-keuntungan dan kerugian-kerugian translasi ditempatkan dalam perspektif yang sesuai sehingga harga saham perusahaan multinasional tidak akan terpengaruh. Perusahaan-perusahaan multinasional dengan afiliasi di luar negeri perlu untuk mentranslasikan assets dan liabilities, revenues dan expenses yang dinyatakan dalam valuta asing ke valuta lokalnya untuk tujuan-tujuan akuntansi. Terdapat berbagai metode translasi yang ada, yaitu metode current/noncurrent, metode monetary/nonmonetary, metode temporal, dan metode current rate. FASB memberi mandate perusahaanperusahaan multinasional AS untuk menggunakan metode temporal atau metode current rate. Tugas manajer keuangan adalah untuk memaksimumkan kekayaan pemegang saham. Jika sebuah perusahaan berada pada posisi dimana fluktuasi valuta akan mempengaruhi kekayaan pemegang saham, maka perusahaan tersebut dikatakan sebagai exposed to exchange rate risk.

Karena nilai tukar bisa berubah selama tahun operasi, translasi dari neraca dan laporan rugi/laba dapat mengakibatkan keuntungan-keuntungan dan/atau kerugiankerugian nilai tukar. Untuk mengukur eksposur akuntansi, assets dan liabilities diidentifikasi senagai exposed atau not exposed. Perbedaan antara exposed assets dan liabilities merupakan gambaran eksposur translasi. 5. Pengelolaan Eksposure Akuntansi Eksposur transaksi terjadi ketika perusahaan terlibat dalam transaksi yang didenominasi mata uang asing yang akan terjadi di masa datang. Untuk melindungi inflows dan outflows masa datang dari pergerakan mata uang yang sangat cepat, perusahaan multinasional dapat mengkompensasi seluruh atau sebagian cash flows exposure transaksi melalui transaksi berikut (tindakan ini merupakan konsep hedging) : 1. Contractual hedges, seperti forward market hedge, money market hedge dan option market hedge 2. Operating strategies (strategi-strategi operasi) yang meliputi price adjustment caluses, risk shifting, exposure netting dan currency risk sharing. 5.1. Forward market hedge Adalah pengkompensasian piutang-piutang atau hutang-hutang yang didenominasi mata uang asing dengan forward contract untuk menjual/membeli mata uang tersebut pada waktu penyerahan yang ditetapkan sama dengan antisipasi penerimaan/pembayaran mata uang asing. Contoh 1: Perusahaan A.S telah mengimpor barang-barang dari Jerman senilai DM 5.000.000 dan dibayar (payable) dalam 180 hari. Perusahaan dapat ikut forward contract untuk membeli DM 5.000.000 sekarang. Jika kurs forward 180 hari adalah DM 2,5802/USD, maka dalam 180 hari perusahaan A.S akan menukar DM 5.000.000 menjadi USD 1.937.834 (DM 5.000.000/2,5802) untuk membayar pengiriman barangbarang impor tersebut.

Contoh 2 : Perusahaan perancis telah melakukan kontrak untuk membeli sejumlah komponen dari Jepang bernilai JPY 15.000.000.000 akan dibayar (payable) dalam waktu 3 bulan. Perusahaan mempunyai piutang barang-barang yang dijual pada perusahaan Jepang dengan nilai JPY 5.000.000.000 yang jatuh temponya sama dalam waktu 3 bulan. Jika kurs spot Franc Perancis terhadap JPY adalah JPY 27/FF dan kurs forward 3 bulan adalah JPY 26,65/FF, tingkat bunga tahunan FF dan JPY masing-masing sebesar 3,3 % dan 2 %. Berapa cost of forward cover jika perusahaan melakukan hedging pada pasar forward ? Jawab : Karena perusahaan memiliki hutang/payable JPY 15.000.000.000 dan piutang sebesar JPY 5.000.000.000, perusahaan hanya perlu untuk mengcover net exposure sebesar JPY 10.000.000.000. Pada forward market, perusahaan akan memasuki/mengikuti forward contract 3 bulan untuk membeli Yen Jepang dengan nilai FF 375.234.521 (JPY 10 milyar/JPY 26,65). Dalam 90 hari perusahaan akan menukar FF 375.234.521 untuk membayar komponen yang bernilai JPY 10.000.000.000. Contoh 3 : Berapakah forex gain or loss dari posisi unhedged (dibanding dengan posisi hedged pada pasar forward) jika kurs spot dalam 3 bulan sebesar JPY 26,5/FF ? Jawab : Tanpa hedging perusahaan akan menunggu hingga 90 hari dan nilai tukar sejumlah FF untuk membayar komponen sebesar JPY 10.000.000.000 tidak diketahui (tergantung pada kurs spot dalam 90 hari). Jika kurs spot masa datang yang diperkirakan (the expected future spot rate) dalam 90 hari adalah JPY 26,5/FF maka diperlukan sejumlah FF 377.358.490 (JPY 10 milyar/26,5) untuk membayar komponen

tersebut. Dibandingkan dengan forward cover, posisi tidak hedging akan menekan biaya sebesar FF 2.123.969 (FF 377.358.490 FF 375.234.521) 5.1.1. The true cost of hedging (biaya sebenarnya dari hedging/forward cover). 1. The true cost of hedging merupakan opportunity cost yang tergantung pada kurs spot masa datang, pada saat forward contract ditentukan ditunjukan sebagai berikut : e1 f1 e0 dimana : e1 = kurs spot masa datang f1 = kurs forward e0 = kurs spot saat ini 2. Pada efisiensi pasar, biaya riil hedging (the real cost of hedging) dengan forward contract adalah nol. Contoh : Penerbangan A.S telah melakukan hedging piutang sebesar GBP 2.500.000 dengan menjual GBP secara forward. Jika kurs spot USD 1,73/GBP dan kurs forward 90 hari USD 1,7158/GBP. Berapa cost of hedging (opportunity cost)nya ? Jawab : The real cost of hedging dihitung dengan rumus diatas (e1 f1)/e0, karena kita tidak mengetahui berapa future spot rate dalam 90 hari, cost of hedging tidak dapat ditentukan. 5.2. Money market hedge (hedging pasar uang) Terdiri dari kegiatan me-reverse piutang atau hutang dengan menciptakan matching hutang-hutang dan piutang-piutang pada mata uang tertentu dengan cara pinjam dan meminjamkannya di pasar uang.

Contoh 1: Jika perusahaan A.S memiliki kewajiban membayar FF 1.000.000 dalam 3 bulan, perusahaan tersebut dapat melakukan hedging resiko nilai tukar dengan meminjam dolar sekarang, mengkonversi dolah ke Franc Perancis pada kurs spot dan menginvestasikan proceednya pada pasar uang Perancis dalam 3 bulan. Jumlah yang diterima dari investasi tersebut pada akhir masa akan dipakai untuk memenuhi komitmen perusahaan sebesar FF 1.000.000. Jumlah pinjaman dolar A.S akan tergantung pada kurs spot antara dolar dan Franc Perancis saat itu dan tingkat bunga investasi pada instrumen pasar uang Perancis. Keuntungan/kerugian pada hedging pasar uang hanyalah perbedaan antara biaya untuk membayar kembali pinjaman dolar dan nilai investasi Franc Perancis. Contoh 2 : Andaikan General Motors menggunakan money market hedge (hedging pasar uang) untuk memproteksi Lit 200.000.000 (Lira Italia) payable/yang dibayar dalam 1 tahun. Tingkat bunga di A.S pada saat itu adalah 9 % dan tingkat bunga Lira adalah 14 %. Jika kurs spot bergeser dari Lit 1.293/USD pada awal tahun ke Lit 1.349/USD diakhir tahun, berapa biaya hedging pasar uang GM ? Jawab : (alternatif 1 : pinjaman + bunga dibayar pada akhir tahun) Pinjam Lit 200.000.000, konversi ke USD = Lit 200.000.000/1.293 = USD 154.679,04 kemudian investasikan USD 154.679,04 pada tingkat bunga 9 % menghasilkan USD 168.600,1547. Setelah satu tahun bayar kembali hutang + bunga Lit 200.000.000 x 1,14 = Lit 228.000.000, konversi hutang + bunga ke USD Lit 228.000.000/1.349 = USD 169.014,0845. Cost of money market hedge adalah sebesar USD 168.600,1547 USD 169.014,0845 = USD 414 (loss/rugi) Jawab : (alternatif 2 : pinjaman dikuotasi atas dasar discount; bunga dikenakan

dimuka) Dengan money market hedge, GM akan meminjam Lit 200.000.000/1,14 = Lit 175.438.597 untuk satu tahun, konversikan kedalam USD 135.683 (Lit 175.438.597/1.293) pada pasar spot dan investasikan selama 1 tahun. Pada akhir tahun GM akan menerima dari investasi tersebut sebesar USD 147.895 (135.683 x 1,09). GM akan menggunakan dolar tersebut untuk membayar kembali pinjaman di Italia sebesar Lit 200.000.000 (175.438.597 x 1,14). Karena kurs spot pada akhir tahun adalah sebesar Lit 1.349, pinjaman sebesar Lit 200.000.000 akan bernilai USD 148.258 (Lit 200.000.000/1.349). Karena return atas investasi USD hanya sebesar USD 147.895, maka kerugian dari hedging pasar uang adalah sebesar USD 363 (USD 147.895 USD 148.258) Contoh 3 : Jika (pada contoh 2. Forward market hedge) hedging dilakukan pada pasar uang, berapa cost of the cover dari money market hedge ? Jawab : Melalui moneymarket hedge, perusahaan akan membutuhkan JPY 9.803.921.569 (JPY 10 milyar/1,02) untuk diinvestasikan di Jepang. Untuk melakukannya, perusahaan akan perlu untuk meminjam FF 363.108.206 (JPY 9.803.921.569/27) hari ini di Perancis. Dalam 90 hari, perusahaan akan membayar kembali pinjaman kepada bankir Perancis dalam jumlah FF 375.090.777 (FF 363.108.206 x 1,033) 5.3. Foreign currency options Perusahaan-perusahaan melakukan transaksi-transaksi bisnis yang mungkin tetapi tidak pasti terjadi. Dalam hal ini forward contract tidak cocok untuk menghedge terhadap perubahan-perubahan nilai tukar. Tetapi, perusahaan harus menggunakan options contract yang memberi pemilik hak tetapi bukan kewajiban untuk membeli ( call) atau menjual (put) sejumlah mata uang tertentu pada harga tertentu selama perjanjian tersebut.

Call option (opsi membeli) dikatakan berharga/valuable pada saat perusahaan menantikan hasil tender yang misalnya melibatkan pembelian aset-aset asing. Put option (opsi menjual) dikatakan berharga pada saat perusahaan menantikan hasil persidangan diperadilan luar negeri. Pada kedua kasus diatas, perusahaan tidak pasti ( uncertain) akan sejumlah dan waktu dari inflow dan outflow mata uang asing. Penggunaan lain dari options mata uang adalah untuk menghedge exposure untuk menggeser valas kompetitor . Tujuan dari hedging, melibatkan matching profil risk return dari instrumen-instrumen hedging dengan posisi mata uang untuk dihedge. Dengan demikian forward contract lebih baik dipakai pada saat cash flows mata uang asing diketahui, sementara options contract lebih tepat pada saat cash flows mata uang asing tidak pasti. 5.4. Risk shifting (Penggeseran resiko) Perusahaan-perusahaan multinasional yang terlibat dalam perdagangan

internasional dapat memilih mata uang dengan meng-invoice ekspor dalam mata uang yang kuat (strong currency) dan impor dalam mata uang yang lemah (weak currency). Strategi ini akan menghasilkan pergeseran resiko/ risk shifting nilai tukar ke sisi lain dari transaksi internasional. Keberhasilan dari strategi ini tergantung pada bargaining power relatif kedua belah pihak yang terlibat. Contoh : Andai pada 1 Januari GE mendapat kontrak untuk men- supply baling-baling kepada Lufthansa (perusahaan penerbangan Jerman). Pada 31 Desember GE akan menerima pembayaran DM 25.000.000 untuk baling-baling tersebut. Jika Lufthansa berkeinginan untuk di invoice (membayar) dalam dolar karena Lufthansa memperhitungkan bahwa biaya DM ekivalen tidak akan lebih tinggi dari harga DM 25.000.000. Membayar dalam dolar tidak mengeliminir resiko valas, ia hanya menggeser resiko dari GE ke Lufthansa (yang sekarang memiliki exposure dolar). (Shapiro, 1992 : 202 ; 205) 5.5. Pricing decisions (Keputusan-keputusan harga)

Ketika perusahaan melakukan penjualan ke luar negeri secara kredit, harga mata uang asing dikonversikan dalam harga dolar dengan menggunakan kurs forward, bukan kurs spot. Karena diketahui bahwa dolar esok hari tidak sama dengan dolar hari ini. Contoh 1: Andai GE telah memberikan harga pesanan baling-baling kepada Lufthansa seharga $ 10.000.000 dan kemudian karena permintaan Lufthansa untuk mengkuotasi pesanan tersebut dalam DM, mengkonversi harga dolar kedalam DM menggunakan kurs spot DM 1 = $ 0,40 menghasilkan DM 25.000.000. Ternyata kuotasi tadi hanya bernilai $ 9.570.000. Jika manajemen GE berkeinginan untuk menjual baling-baling dengan harga $ 10.000.000, GE harus menetapkan harga DM sama dengan $ 10.000.000/0,3828 = DM 26,12 juta. Dengan demikian GE merugi sebesar $ 430.000. Pada saat GE menanda tangani kontrak, kerugian ini bukan merupakan kerugian kurs, ini terjadi karena manajemen mengabaikan hal tersebut (Shapiro, 1992 : 206). Jika sejumlah pembayaran diterima pada interval waktu yang berbeda, harga mata uang asing harus kurs forward rata-rata (weighted average of forward rates) dengan masa berlaku yang sama dengan waktu/tanggal pembayaran. Contoh 2 : Suatu perusahaan Weyerhaeuser diminta untuk mengkuotasi harga dalam FF (Franc Perancis) untuk penjualan kayunya kepada perusahaan Perancis. Kayu akan dikirim dan dibayar dalam empat (4) kali pembayaran yang sama. Perusahaan menentukan harga minimum $ 1.000.000 untuk menerima kontrak tersebut. Jika Pf merupakan harga kontrak dalam FF maka perusahaan akan menerima 0,25 Pf setiap 3 bulan, dimulai 90 hari dari sekarang. Andai kurs spot dan forward FF adalah seperti dibawah ini

Spot 90 hari 180 hari 270 hari 360 hari $0,1772 0,1767 0,1761 0,1758 0,1751

Berdasarkan atas kurs forward tersebut, nilai dolar ekivalen yang pasti dari revenue Franc tersebut adalah 0,25 Pf (0,1767 + 0,1761 + 0,1758 + 0,1751) atau 0,25 Pf = ($ 0,7037) = $ 0,1759 Pf. Agar Weyerhaeuser dapat merealisasikan $ 1.000.000 dari penjualan tersebut, harga FF minimum harus merupakan solusi terhadap $ 0,1759 Pf = $ 1.000.000 atau PF = FF 5.685.048. Pada setiap harga Franc yang lebih rendah, perusahaan (Weyerhaeuser) tidak dapat dijamin untuk menerima $ 1.000.000 dari pernjualan tersebut (Shapiro, 1992 : 206 207). 5.6. Exposure netting Melindungi dari perubahan nilai tukar dapat ditempuh dengan secara hati-hati memilih mata uang sehingga meminimumkan net exposure. Contoh : Piutang DM 1.000.000 dan hutang DM 1.000.000 dapat dihilangkan satu sama lain, tanpa net (sebelum pajak) exposure. Dalam praktek exposure netting melibatkan satu dari tiga (3) kemungkinan-kemungkinan berikut : (Sapiro, 1992 : 207) 1 2 1. Perusahaan dapat menyeimbangkan (offset) posisi long valas dengan posisi short 2. Jika pergerakan-pergerakan kurs dari dua (2) valas berkorelasi secara positif (sebagai dalam valas yang sama. contoh SF (Swiss Franc) dan DM (Deutsche mark), maka perusahaan dapat offset posisi long dalam satu valas dengan posisi short dalam valas yang lain. 3 3. Dengan exposure netting, perusahaan multinasional memilih mata uang-mata uang yang berkorelasi negatif. Dengan demikian, exposure terhadap satu mata uang dapat dikompensasi dengan exposure mata uang yang lain. 5.7. Currency risk sharing Perusahaan-perusahaan dapat bersepakat untuk men-share resiko nilai tukar pada kontrak-kontrak mereka dengan cara mengikuti kontrak hedging standar (customized hedge contract) dalam mendasari transaksi-transaksi perdagangan. Ini meliputi klausul penyesuaian harga (Price adjustment clause) dimana harga dasarnya disesuaikan untuk merefleksikan perubahan-perubahan kurs valas. Contoh :(Shapiro, 1992 : 208 209)

Harga dasar/base price dapat ditetapkan pada DM 25.000.000, tetapi kedua belah pihak akan sharing resiko valas dalam sebuah neutral zone (kisaran valas dimana resiko tidak di share). Andai neutral zone dispesifikasi dengan batas kurs/band rate : $ 0,39 - $ 0,41 : DM 1, sedangkan kurs dasar/base rate DM 1 = $ 0,40. Ini berarti bahwa kurs dapat turun sejauh $ 0,39/DM 1 atau naik setinggi $ 0,41/DM 1 tanpa harus membuka kembali kontrak. Dalam neutral zone, Lufthansa harus membayar GE ekivalen dolar DM 25.000.000 pada base rate $ 0,40 atau $ 10.000.000. Dengan demikian biaya Lufthansa dapat bervariasi dari DM 24,39 juta hingga $ 25,64 juta ($ 1.000.000/0,41 - $ 1juta/0,39). Namun jika DM depresiasi dari $ 0,40 katakanlah menjadi $ 0,35, kurs aktual akan bergeser $ 0,04 dibawah batas yang lebih rendah dari neutral zone ($ 0,39/DM 1). Jumlah ini di share secara bersama-sama. Dengan demikian kurs yang secara aktual dipakai dalam menetapkan transaksi adalah $ 0,38/DM 1 ($ 0,40 0,40/2). Harga baru baling-baling menjadi DM 25.000.000 x $ 0,38 = $ 9.500.000. Biaya Lufthansa naik menjadi DM 27,14 juta ($ 9,5 juta/0,35). Tanpa persetujuan risk sharing, nilai kontrak bagi GE akan menjadi $ 8,75 juta. Tentu saja jika DM apresiasi dibawah batas atas ( upper bound) katakanlah $ 0,45, GE tidak memperoleh manfaat penuh/full benefit dari kenaikan nilai DM. Akan tetapi kurs kontrak baru menjadi $ 0,42 ($ 0,40 + 0,04/2), GE memperoleh DM 25.000.000 x $ 0,4 atau $ 10,5 juta, dan Lufthansa membayar harga DM 23,33 juta (10,5 juta/0,45). Pada netural zone, nilai dolar dari kontrak GE dibawah persetujuan risk sharing tetap berada pada $ 10.000.000. Situasi ini ekivalen dengan Lufthansa menjual forward contract GE pada kurs spot saat ini $ 0,40. Di bawah neutral zone, nilai kontrak dolar naik/turun hanya di bawah persetujuan risk sharing seperti dibawah alternatif tidak hedging. Nilai dari kontrak yang di hedge tetap sama berapapun kursnya. 2. Mengelola exposure translasi Eksposur translasi dihasilkan dari keperluan untuk mentranslasikan laporan keuangan yang didenominasi mata uang asing ke dalam mata uang parent company. Strategi dasar hedging, untuk mengurangi exposure translasi meliputi penurunan soft currency assets (hard currency liabilities) dan menaikan soft currency liabilities (hard currency assets). Dengan fund adjustment (penyesuaian dana), apakah perusahaan multinasional merubah jumlah atau mata uang-mata uang dari cash flows parent dan /atau afiliasi-afiliasinya yang telah direncanakan untuk mengurangi exposure mata uang lokal perusahaan.

1. Direct funds adjustment (penyesuaian dana langsung) berkenaan dengan working capital adjustments (penyesuaian modal kerja). 2. Indirect funds adjustment technique meliputi penggunaan transfer pricing, leading serta lagging. Forward contracts adalah instrumen-instrumen hedging yang paling populer untuk mengurangi exposure translasi perusahaan. Currency selection, transfer pricing dan exposure netting merupakan tambahan perangkat-perangkat namun jarang digunakan karena kendalakendala yang dikenai teknik-teknik tersebut oleh pemerintah-pemerintah asing. Pada saat memilih mekanisme hedging yang paling tepat, perusahaan-perusahaan harus menyesuaikan aliran-aliran dana mereka pada saat menguntungkan untuk dilakukan atas dasar covered (covered basis) biarpun efeknya yang akan ada pada exposure translasi. 3. Mendisain strategi hedging Strategi-strategi hedging yang dipilih oleh perusahaan sebagian besar merupakan fungsi dari tujuan-tujuan manajemen. Tujuan dasar dari hedging adalah untuk mengurangi atau menghilangkan variabilitas pendapatan-pendapatan konsolidasi dari perusahaan multinasional yang dihasilkan dari fluktuasi mata uang yang tidak diharapkan ( unexpected currency fluctuations). Pernyataan tujuan-tujuan akan termasuk kepercayaan-kepercayaan manajemen tentang bagaimana pasar-pasar finansial bekerja dan ini menggambarkan biaya yang dapat diterima dari manajemen exposure . Hedging costs dapat ditekan dengan cara mengambil keuntungan dari tax asymmetries dan market imperfections. Aspek penting dari manajemen resiko adalah tingkat sentralisasi dari transaksi-transaksi mata uang asing dan tanggung jawab untuk mengembangkan dan mengimplementasikan strategi-strategi hedging. Keuntungan-keuntungan maksimum dicapai dengan sentralisasi ketiga fungsi pada level parent company.

Eksposure transaksi muncul pada saat transaksi-transaksi kas dimasa depan dari sebuah perussahaan dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar. Sebagai contoh perusahaan Indonesia yang membeli barang dari Jepang membutuhkan yen untuk melakukan pembayaran. Walaupun perusahaan mungkin tahu secara pasti berapa banyak yen yang akan dibutuhkan, namun

perusahaan tidak tahu berapa banyak rupiah (IDR) yang akan dibutuhkan untuk ditukarkan dengn Yen. Ketidak pastian ini terjadi karena nilai tukar antara rupiah dan Yen berfluktuasi setiap saat. Jika diketahui ada eksposure transaksi mka peusahaan memiliki 3 tugas penting ; 1. Perusahaan harus identifikasi besarnya eksposure transaksi tersebut. 2. Perusahaan harus memutuskan perlu tidaknya meng-hedge eksposure ini 3. Jika memutuskan untuk menghedge sebagian atau seluruh exposure transaksi maka perusahaan harus memilih berbagai tehnik hedging yang tersedia. Keterangan, 1. Identifikasi Eksposure Transaksi neto, yang dimaksud dengan eksposure transaksi neto adalah arus kas-arus kas masuk masa depan dalam suatu valuta setelah dikurangi dengan arus kas-arus kas keluar masa depan dalam valuta yang sama. 2. Perusahaan harus memutuskan perlu tidaknya menghedge suatu eksposure Sebelum memutuskan apakah suatu hedging bermanfaat atau tidak . Secara umum keputusan untuk menghedging, seberapa besar nilai yang harus di hedging, dan teknik apa yang dipakai akan bervariasi menurut tingkat risk aversion yang dimiliki suatu perusahaan multinasional, dan nilai tukar hasil peramalan. 3. Jika perusahaan memutuskan untuk menghedging sebagian atau keseluruhan eksposure transaksi maka mereka dapat menggunakan beberapa perangkat hedging yang masingmasing dari perangkat tersebut akan dibahas dibawah ini. A. Tehnik menghilangkan exposure transaksi Jika perusahaan multinasional memutuskan untuk meng-hedge sebagian atau seluruh exposure transaksinya, mereka dapat menggunakan perangkat-perangkat hedging berikut; 1. Kontrak Futures 2. Kontrak Forward 3. Instrumen pasar uang 4. Opsi valuta Keterangan,

1. Hedging memakai Kontrak Future, Kontrak currency future dapat digunakan oleh perusahaan yang ingin meng-hedge exposure transaksi. Kontrak future dalam banyak hal serupa dengan kontrak forward. Kontrak Forward lebih umum bagi transaksi bernilai besar sementara kontrak future mungkin lebih tepat bagi perusahaan yng ingin menghedge exposure transaksi yang bernilai kecil. Sebuah perusahaan yang membeli kontrak currency future berhak menerima suatu valuta asing dengan jumlah tertentu, dengan harga tertentu, dan pada tanggal tertentu. Untuk meng-hedge kewajiban valuta asing dimasa depan, perusahaan mungkin ingin membeli kontrak currency future yang mewakili valuta yang sama dengan valuta yang men denominasi kewajiban tersebut. kewajiban masa depan. 2. Hedging memakai Kontrak Forward, Kontrak forward sering digunakan oleh perusahaanperusahaan besar yang ingin melakukan hedging. Untuk melakukan hedging memakai kontrak forward, perusahaan multinasional harus membeli kontrak forward untuk valuta yang sama dengan valuta yang mendenominasi kewajiban dimasa depan. Sebagai contoh, jika sebuah perusahaan multinasional yang berbasis di AS akan harus membayar SF1.000.000 kepada sebuah pemasok dari Swiss 30 hari dari sekarang, perusahaan tersebut dapat membeli kontrak forward franc Swiss dari sebuah bank untuk mengakomodasi pembayaran ini. Bank dengan demikian setuju untuk menyediakan frnc Swiss kepada MNC AS tersebut 30 hari dari sekarang dan menerima dolar. Kontrak Forward ditujukan untuk memastikan nilai tukar konversi Franc Swiss dengan dolar AS. Nilai tukar ini mencerminkan apa yang dinamakan dengan Kurs Forward 30 hari. MNC AS dengan demikian telah meng-hedge posisinya dengan mengunci kurs yang harus dibayarkan untuk Franc Swiss 30 hari dari sekarang. Jadi, perusaahan sekarang tau jumlah dolar yang dibutuhkan untuk dikonversikan dalam Franc. 3. Hedging memakai Instrumen Pasar Uang, Hedging memakai instrument pasar uang melibatkan pengambilan suatu posisi dalam Pasar Uang untuk melindungi posisi hutang Dengan memegang kontrak ini, perusahaan dengan demikian telah mengunci jumlah valuta negara asal yang dibutuhkan untuk membayar

atau piutang dimasa depan. Hedging Hutang dan Piutang memakai instrument Pasar uang akan dibahas lebih lanjut. 3.a. Hedging Hutang, Sebuah perusahaan membutuhkan SF1.000.000, 30 hari dari sekarang dan perusahan tersebut dapat menghasilkan bunga 6 % setahun (0,5% selama 30 hari) dari deposito Franc Swiss sepanjang periode ini jumlah franc Swiss yang dibutuhkan untuk membuka deposito franc Swis berjangka waktu satu bulan adalah ; Deposito Awal SF = SF1.000.000 1 + 0,005 = SF 995. 025

Terlepas dari bagaimana kurs franc Swiss berubah sepanjang periode ini, investasi dalam deposito franc Swiss akan mampu melindungi posisi hutang perusahaan AS tersebut. 3b. Hedging Piutang. Sebuah perusahaan AS akan menerima DM 400.000, 90 hari dari sekarang. Hedging pasar uang sederhana dapat diimplementasikan jika perusahan tersebut juga berencana meminjam dolar AS untuk jangka waktu 90 hari. Daripada meminjam dalam dolar, perusahaan dapat meminjam mark dan konversi ke dolar dengan asumsi suku bunga tahunan 8% atau 2% selama 90 hari, jumlah mark yang harus dipinjam untuk menghedge piutang dimasa depan adalah ; Jumlah Pinjaman DM = DM400.000 1 + 0,02 = DM 392.157

Jika perusahaan meminjam DM392.157 dan konversi kedalam dolar, maka piutang dapat Digunakan melunasi pinjaman Mark pada saat jatuh tempo. Sementara itu, dana pinjaman dapat digunakan oleh perusahaan untuk tujuan lain. 4. Hedging memakai Opsi Valuta, Perusahaan-perusahaan menyadari bahwa perangkatperangkat hedging seperti kontrak forward dan instrumen pasar uang kadang dapat merugikan jika valuta dari hutang mengalami depresiasi atau valuta dari piutang mengalami apresiasi sepanjang periode hedging. Dalam hal ini, Strategi tanpa hedging mungkin akan mengungguli hedging memakai kontrak forward atau instrument pasar uang. Tipe hedging yang idel harus mampu mengisolasi perusahaan dari pergerakan nilai

tukar yang merugikan dan juga memungkinkan perusahaan untuk mengambil manfaat dari pergerakan nilai tukar yang menguntungkan. B.Tehnik-tehnik hedging Tehnik-Tehnik Hedging Exposure Transaksi Perangkat hedging 1.Kontrak Future Untuk Menghedging Hutang Membeli kontrak Currency Future yang mewakili valuta yang sama dengan valuta yang mendenominasi hutang. Untuk Menghedge Piutang Menjual kontrak currency future dengan valuta yang mendenominasi hutang

2.Kontrak Forward

Membeli kontrak Currency Future Menjual kontrak currency yang mewakili valuta yang sama future dengan valuta yang dengan valuta yang mendenominasi mendenominasi hutang hutang. Meminjam valuta local dan konversi kedalam valuta yang mendenominasi hutang. Kemudian investasi dana sampai hutang jatuh tempo dan melunasinya. Meminjam valuta asing yang mendenominasi hutang dan konversi kedalam valuta local, serta investasi valuta local tersebut. Kemudian melunasi pinjaman memakai arus kas masuk dari piutang.

3.Instrumen pasar Uang

4.Opsi Valuta

Membeli Currency Call option Membeli currency Put option untuk valuta yang mendenominasi untuk valuta yang mendeno hutang. minasi piutang

C. Mengelola exposure transaksi Eksposure transaksi juga dapat dikelola dengan menempuh strategi operasi tertentu yang bisa menutup eksposure valuta asing. Dibandingkan dengn strategi sebelumnya (dengan kontrak), biaya strategi operasi relative lebih tidak pasti. Pada suatu saat, operaasi dapat menjadi kurang efisien atau menyimpang dari rencana, pada saat lain, penelahaan yang lebih cermat terhadap prosedur operasi dapat memberikan hasil yang diharapkan.

Strategi yang banyak ditempuh untuk mengelola eksposure transaksi adalah menggunakan leads dan lags, reinvoicing centers dan menetapkan klausula pembagian risiko dengan pelanggan. Keterangan, Leads dan Lags ; Menentukan Ulang Saat Transfer Dana Istilah leads berarti mempercepat pembayaran dan lags memperlambat pembayaran. Jika sebuah perusahaan memiliki hutang dalam mata uang kuat dunia, dimana kemungkinan mata uang tersebut untuk berapresiasi terhadap mata uang domestic cukup besar , maka akan lebih aman kalau perusahaan membayar lebih awal hutangnya. Kalau perusahaan berhutang dalam mata uang lemah dunia, yang cendrung terdepresiasi terhadap mata uang domestic maka akan lebih menguntungkan kalau perusahaan memperlambat pembayaran hutangnya. Prinsip strategi diatas juga dapat diterapaan dalam pengumpulan piutang, yaitu mengumpulkan piutang dalam mata uang kuat dunia secepatnya dan mengulur pengumpulan piutang dalam mata uang lemah dunia. Leads and Lags antar Perusahaan Independent Leading atau lagging antar perusahaan-perusahaan independen dapat dilakukan jika perusahanperusahaan yang terlibat dalam transaksi bersedia mengikuti usulan mitranya. kesediaannya itu, niasanya ad semacam kontraprestasi yang diperoleh. Sebagai contoh, sebuah perusahaan Jerman mempunyai piutang diperusahaan Italia yang dinyatakan dalam Lira Italia. Manajer perushaan Jerman melihat bahwa lira Italia cendrung selalu terdepresiasi terhadap DM. Oleh karena itu perusahaan jerman meminta perusahaan Italia segera melunasi hutangnya. Perusahaan Italia akan mau mempercepat pembayaran utangnya, jika perusahaan Jerman memberikan kontraprestasi. memberikan diskon. Biasanya cara yang ditempuh adalah Untuk

Leads and Lags antar Perusahaan-Perusahaan dalam satu Induk

Strategi leads and lag lebih mudah diterapkan antar perusahaan dalam satu induk, karena memiliki tujuan yang sama. Transaksi antar perusahaan dalam satu induk dapat berupa transaksi operasi atau transaksi keuangan. Gambar 9.1 menggambarkan kemungkinan transaksi tersebut. Gambar 9.1 Aliran Dana dalam Perusahaan Multinasional Pembayaran Operasi Untuk bahan baku, barang dan komplementer (piutang dan utang) Untuk penggunaan fasilitas (sewa dan Pembayaran sewa) Untuk teknologi (royalty dan fee lisensi) Untuk jasa (fee manajemen)

Afiliasi pembayar Penerima Atau Induk perusahaan perusahaan

Afiliasi atau Induk

Pembayaran Finansial Untuk penggunaan pinjaman (bunga) Untuk penggunaan modal pemilik (deviden) Untuk tambahan modal pemilik (modal sendiri) Untuk pinjaman dalam perusahaan (pokok utang atau pelunasan)

Strategi leads and lags terkadang juga sulit diterapkan dalam perusahaan multinasional. Beberapa penyebabnya antara lain karena setiap anak perusahaan dianggap sebagai perusahaan independen dan karena porsi kepemilikan induk perusahaan terhadap perusahaan afiliasi tidak besar. Untuk penyebab pertama, perusahaan multinasional umumnya telah mengantisipasi dengan menciptakan tehnik untuk menilai kinerja setiap anak perusahaan dengan mempertimbangkan akibat dari penerapan strategi leads and lags.

Dari pembahasan diatas diketahui bahwa penggunaan leads and lags dapat meminimisasi eksposure valuta asing dan membebankannya ke pihak lain. Beberapa negara merasa perlu membatasi jangka waktu leads and lags, meskipun terkadang pembatasan tersebut bisa dinegosiasikan. Reinvoicing Center Sebuah reinvoicing center adalah anak perusahaan dari suatu perusahaan multinasional yang berada di suatu negara tertentu yang berfungsi mengelola eksposure trnsaksi perusahaanperusahaan afiliasi. Gambar 9.2 menjelaskan struktur reinvoicing center. Gambar 9.2 Struktur Reinvoicing Center Perusahaan manufaktur penjual Afiliasi di Korea Jepang Faktur dalam Won Faktur dalam Yen Perusahaan Afiliasi di

Reinvoicing center di Singapura Pada gambar 9.2 terlihat perusahaan afiliasi di korea mengirimkan barang ke perusahaan afiliasi yang lain di Jepang. Fisik barang langsung di kirim ke Jepang, tetapi faktur di kirim ke reinvoicing center di Singapura (seakan-akan reinvoicing center membeli dari perusahaan afiliasi di Korea) selanjutnya Reinvoicing center akan menerbitkan faktur dalam Yen (seolah-olah reinvoicing center menjual ke perusahaan afiliasi di korea dan Jepang) dengan scenario ini, perusahaan afiliasi di Korea dan Jepang tidak menanggung risiko valuta asing karena penjualan dan pembelian dilakukan dalam mata uang domestic (Won dan Yen). Risiko valuta asing akan ditanggung oleh reinvoicing center yang memang berfungsi mengelola eksposure transaksi antar perusahaan afiliasi dalam perusahaan multinasional yang sama. Untuk jasa ini, reinvoicing center mendapatkan uang jasa. Keuntungan utama dari Reinvoicing center adalah manajemen eksposure transaksi antar perusahaan afiliasi di pusatkan pada ssatu lokasi. Karena semua transaksi di pusatkan di satu tempat, volume transaksi akan sangat besar sekali. Disini reinvoicing center memiliki posisi tawar menawar yang kuat dengan bank untuk mendapatkan hasil yang optimal. Sementara itu kerugian utamanya adalah perusahaan harus mendirikan satu anak perusahaan khusus untuk

mengelola reinvoicing center, dimana biaya yang dikeluarkan mungkin lebih besar dari manfaat yang diperoleh. Menetapkan Klausula Pembagian Risiko dengan Pelanggan Kesepakatan pembagian risiko (risk sharing) umumnya diberlakukan antara pemasok dan pelanggan yang memiliki hubungan bisnis jangka panjang. Kesepakatan ini akan di tambahkan dalam kontrak kerja sama. Tujuan utama dari risk sharing adalah untuk memelihara eksistensi masing-masing pihak, agar kerja sama tetap berlangsung. Sebagai contoh, perusahaan otomotif FORD yang memiliki subkontraktor suku cadang di Jepang,dapat menetapkan klausula risk sharing untuk melindungi kepentingan kedua belah pihak. Cara yang sering ditempuh untuk mengatur pembagian risiko adalah dengan menentukan rentang kurs sebagai patokan kapan risk sharing akan diberlakukan. Misalkan dapat ditetapkan klausula bahwa selama kurs Y/USS tidak kurang atau melebihi rentang Y115/USS Y125/USS , pembayaran harus dilakukan sebesar kurs spot Y/USS saat pembayaran jatuh tempo. Apabila ternyata kurs spot Y/USS berada diluar rentang tersebut, selisihnya akan ditanggung bersama secara merata. Apabila kewajiban FORD yang harus dibayar pada 31 Mei adalah Y 30,000,000 dan kurs spot Y/USS saat itu adalah Y110/US$ maka besarnya pembayaran FORD adalah USS266,667. Melalui kesepakatan risk shring , FORD dapat menghemat USS6,060.27. Di sini terlihat bahwa risk sharing sangat membantu meringankan beban setiap pihak yang saling bekerja sama, untuk mencapai suatu kondisi yang saling menguntungkan.

DAFTAR KEPUSTAKAAN 1

1. Faisal, M. 2001, Manajemen Keuangan Internasional; dengan penekanan praktek pada pasar devisa, Edisi Pertama. 2. Madura, Jeff. 2003, International Financial Management, Edisi Ketujuh, Thomson SouthWester 3. Salemba Empat. n. . Shapiro, Alan C. 2003, Multinational Financial Management, Edisi Ketujuh. John Wiley & Sons.