Anda di halaman 1dari 62

Perancangan Sprinkler

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Swiss-Belinn hotel merupakan bangunan gedung bertingkat, yang mempunyai resiko bahaya kebakaran. Untuk memproteksi bahaya kebakaran tersebut diperlukan sistem penanggulangan pemadaman kebakaran yang tepat. Menggunakan Sprinkler merupakan pilihan yang tepat untuk bangunan gedung bertingkat, karena sistem sprinkler telah terbukti paling efektif dalam memadamkan kebakaran gedung bertingkat. Namun sangat disayangkan jika masih banyak stakeholders (pemilik, bahkan konsultan dan instansi berwenang) menganggap bahwa sprinkler tidak efektif dan memakan biaya besar, sehingga menggantinya dengan sistem lain. Sistem sprinkler adalah adalah kombinasi dari deteksi panas dan pemadaman, ia bekerja secara sistem. Sehingga system ini merupakan sistem penanggulangan atau pemadaman kebakaran yang paling efektif dibandingkan dengan sistem hidrant dan lainnya. Sebuah studi di Australia & New Zealand memberikan angka keberhasilan mencapai 99% (Marryat, 1988). Studi lain di USA (NFPA, 2001) menyimpulkan bahwa sprinkler mampu membatasi kebakaran pada area of origin pada tingkat 90% dibanding tanpa sprinkler yang hanya 70%. Semua building code di dunia mempersyaratkan proteksi sprinkler di bangunan tinggi, bahkan sekarang di USA sudah mulai digalakkan sprinkler untuk residensial tunggal dengan ketinggian satu sampai dua tingkat. Fenomena kebakaran adalah sedemikian sehingga bila dalam waktu 5 menit kebakaran tidak dapat dikendalikan atau dipadamkan pada area of origin, maka kemungkinan besar kebakaran akan menyebar ke seluruh lantai dan bangunan. Sementara itu waktu tanggap sprinkler adalah waktu yang diperlukan untuk mengendalikan atau memadamkan kebakaran. Banyak kejadian dilaporkan bahwa ketika petugas pemadam tiba di tempat, api telah padam oleh sprinkler (NFPA Journal). Sistem deteksi dan alarm tidak berfungsi sebagai alat pengendali/ pemadam, namun lebih berfungsi sebagai pemberi peringatan pada penghuni bangunan agar segera menyelamatkan diri. Sedangkan regu pemadam yang menggunakan APAR (fire extinguisher) dan hidrant belum dapat menggantikan sprinkler karena masih dipengaruhi oleh faktor manusia (terutama waktu tanggap dan human error). 1

Perancangan Sprinkler Komponen biaya paling besar dari sistem sprinkler adalah pompa kebakaran dan panelnya, pemipaan berikut katupnya, serta sering digunakannya katup kontrol tekanan (PRV) dalam rancangan secara indiskriminatif. Penggunaan PRV ini dapat dihindari dengan sistem zona, di mana tekanan kerja setiap zona adalah maksimum 175 psi (12 bar), yaitu sama dengan tekanan kerja maksimum kepala sprinkler. Justru PRV dipersyaratkan digunakan di sistem hidran bila tekanan pada kotak hidran bangunan melebihi 6,9 bar (SNI 03-1745-2000). Selain itu, sistem sprinkler otomatik boleh dikombinasikan dengan sistem pipa tegak atau slang (hidran) dengan menggunakan hanya satu set pompa kebakaran untuk keduanya sprinkler dan hidran (SNI 03-1745-2000). Bila bangunan telah diproteksi oleh sprinkler, maka persyaratan lain seperti ketahanan api, kompartemen, dan sistem deteksi serta alarm menjadi lebih ringan (NFPA 101). Misalnya untuk kelas hunian apartemen, ketahanan api dinding apartemen boleh 1 jam atau bahkan 4 jam. Serta deteksi boleh hanya memakai detektor asap (kecuali untuk ruang tertentu yang karena fungsinya harus menggunakan detektor panas). Dengan demikian sesungguhnya sistem sprinkler tidak memakan biaya besar dari total nilai proyek keseluruhan. Konsep fire safety di bangunan menurut pendekatan sistemik (NFPA 550) terbagi menjadi 2 bagian utama yaitu (a) Pencegahan penyalaan, dan (b) Pengelolaan pengaruh kuat (impact) kebakaran. Pencegahan termasuk pengendalian sumber panas-energi, pengendalian interaksi sumber-bahan bakar, dan pengendalian bahan bakar. Atau dengan kata lain berarti fire safety housekeeping, dan sistem proteksi pasif. Kota-kota besar di USA seperti Los Angeles dan New York, yang sebelumnya hanya mengandalkan sistem proteksi pasif atau kompartemenisasi dan sistem deteksi dan alarm serta sistem hidran, sekarang mempersyaratkan proteksi dengan menggunakan sprinkler. Di Singapore memang sprinkler merupakan opsi untuk bangunan hunian apartemen, akan tetapi komponen utama sistemnya tetap dipasang (pompa kombinasi dengan pompa hidran, dan pipa tegak serta pipa cabang utama), kecuali pipa cabang akhir dan kepala sprinkler yang merupakan opsi dan masih ada persyaratan lainnya yang harus dipenuhi. Prinsip kerja sprinkler memanfaatkan teori kebakaran kompartemen (SFPE Handbook of Fire Protection Engineering, 3rd Edition, 2002). Kebakaran di lantai akan membuat asap dan udara ruangan mengapung ke atas yang dinamakan plume. Bila plume 2

Perancangan Sprinkler membentur langit-langit, maka terjadi aliran udara panas secara radial pada atau dekat dengan langit-langit. Aliran udara panas ini dinamakan ceiling jet dan terjadi pada ketebalan maksimum 30 cm dari langit-langit. Bila ceiling jet mengenai kepala sprinkler maka terjadi perpindahan kalor secara konvektif dari ceiling jet ke elemen sensor panas sprinkler (fusible link atau glass bulb) yang menyebabkan temperaturnya akan naik dari sebelumnya sama dengan temperatur ruangan. Elemen sensor panas ini mempunyai temperatur kerja nominal yang bermacammacam dari 57C s/d 343C, dapat diplih tergantung dari rancangan bahaya kebakaran huniannya. Kepala sprinkler akan beroperasi bila temperatur elemen sensor panasnya telah naik mencapai temperatur kerja nominalnya. Untuk hunian apartemen, umumnya digunakan temperatur nominal 57C atau 68C. Prinsip operasi sprinkler ini sama persis dengan prinsip operasi detektor panas lain seperti yang digunakan dalam sistem deteksi dan alarm. Oleh karena itu, bila bangunan telah diproteksi oleh sprinkler maka tidak perlu lagi dilengkapi dengan detektor panas dan hanya perlu dilengkapi dengan detektor asap. Bila kebakaran terus terjadi, maka di dalam ruangan/ kompartemen akan terbentuk 2 lapisan yaitu, (a) lapisan asap di atas, dan (b) lapisan relatif bebas asap di bawahnya. Temperatur dan ketebalan lapisan asap akan naik dan terus bertambah selama terjadi kebakaran. Sedangkan temperatur lapisan bebas asap di bawahnya relatif sama dengan temperatur ruangan. Pada saat sprinkler beroperasi, temperatur ruangan (bukan temperatur nyala api) relatif tidak berubah atau kenaikannya tidak besar, kecuali terjadi kegagalan sistem sprinkler sehingga kebakaran tidak padam dan lapisan asap akan terus turun ke lantai. Hal ini dapat diprediksikan dengan program simulasi kebakaran di kompartemen (Program CFAST dan ASET). Meskipun persentase kegagalan sprinkler adalah sangat kecil dibanding keberhasilannya, sprinkler dapat gagal terutama karena sebab-sebab berikut, pertama, kesalahan rancangan, sistem sprinkler haras dirancang sesuai dengan tingkat resiko bahaya kebakaran bangunan. Kedua, kesalahan instalasi, pengawasan pelaksanaan di lapangan kuang, misalnya posisi kepala sprinkler terhadap langit-langit dan rintangan (kolom dan balok struktur)

Perancangan Sprinkler tidak memenuhi persyaratan instalasi sehingga sangat mengurangi kinerja sprinkler. Ketiga, tidak adanya program inspeksi, tes dan pemeliharaan berkala yang sesuai standar (NFPA 25), mengakibatkan sistem tidak beroperasi saat diperlukan bila terjadi kebakaran. Dan keempat, ciri-ciri bangunan seperti arsitektur terbuka sehingga lantai terbuka ke udara luar, dan kompartemen yang tidak mempunyai ketahanan api (dari bahan mudah terbakar kayu dan lain-lain). Ciri-ciri tersebut mempengaruhi kinerja sistem sprinkler.

1.2. Rumusan Masalah Rumusan permasalahan yang terdapat pada penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana menentuan klasifikasi hunian? 2. Bagaimana menentukan jenis sprinkler yang digunakan? 3. Bagaimana menentukan jumlah sprinkler yang sesuai dengan karakteristik bangunan hotel Swiss-Belinn Malang.? 4. Bagaimana cara penempatan sprinkler di bangunan hotel Swiss-Belinn Malang? 5. Bagaimana menentukan jumlah volume air yang dibutuhkan untuk perancangan sistem sprinkler di bangunan hotel Swiss-Belinn Malang? 6. Bagaimana menentukan sistem perpipaan pada perancangan sistem sprinkler di bangunan hotel Swiss-Belinn Malang? 7. Bagaimana menentukan pemilihan pompa yang sesuai dengan daya yang dibutuhkan?

1.3. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian pada perancangan sprinkler adalah sebagai berikut : 1. Menentukan klasifikasi hunian kebakaran 2. Menentukan jenis sprinkler yang digunakan 3. Menentukan jumlah sprinkler yang sesuai dengan karakteristik bangunan hotel Swiss-Belinn Malang. 4. Menentukan peletakan sprinkler pada hotel Swiss-Belinn Malang 5. Menentukan volume air yang dibutuhkan untuk perancangan sistem sprinkler pada bangunan hotel Swiss-Belinn Malang. 6. Untuk menentukan sistem perpipaan pada perancangan sistem sprinkler pada bangunan hotel Swiss-Belinn Malang. 4

Perancangan Sprinkler 7. Menentukan pemilihan pompa yang sesuai dengan daya yang dibutuhkan

1.4. Batasan Penelitian Pada perancangan sistem sprinkler pada bangunan hotel Swiss-Belinn Malang ini dibatasi oleh : 1. 2. Penelitian ini hanya merancang sistem sprinkler. Identifikasi dan penggolongan setiap ruangan pada bangunan hotel Swiss-Belinn Malangmenggunakan standart yang ada ( SNI 03-3985-2000, SNI 03-3989-2000, NFPA 14 ) 3. 4. Penelitian ini tidak membahas tentang prosedur pemeliharaan sprinkler Peneliti tidak membahas mengenai spesifikasi sistem instalasi listrik yang berhubungan dengan instalasi sprinkler. 5. Penelitian ini tidak membahas mengenai sistem perpipaan secara mendalam seperti pengelasan dan penyambungan pipa

1.5. Manfaat Penelitian Penulisan ini berharap dapat mendatangkan manfaat bagi pihak perusahaan yang terlibat, Institusi pendidikan dan penulis. Adapun manfaat yang diperoleh yaitu : 1.5.1 Pihak Perusahaan Penelitian ini diharapkan menjadi masukan dan data berharga guna mewujudkan sistem manajemen penanggulangan kebakaran dan penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi pada pekerja sehingga sistem manajemen penanggulangan kebakaran dapat berjalan tepat guna. 1.5.2 Penulis Untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman dalam melakukan penelitian di bidang manajemen keselamatan dan kesehatan kerja.

Perancangan Sprinkler

BAB 2 DASAR TEORI


2.1. Proses Terjadinya Api dan Bahaya Kebakaran Pada dasarnya kebakaran adalah api yang tidak diinginkan, yang tidak dapat dikendalikan dan pada akhirnya dapat menyebabkan kecelakaan. Kebakaran merupakan suatu bencana dimana api yang semula bersahabat (api kecil) menjadi tidak terkendali dan mulai membakar segala sesuatu yang ada didekatnya (api besar). Kebakaran dapat terjadi karena hubungan arus pendek listrik, kompor yang meledak, dan lain-lain. Untuk dapat mencegah serta menanggulangi bahaya kebakaran tersebut, maka kita perlu mengetahui beberapa informasi dan teori tentang kebakaran itu sendiri, diantaranya adalah Teori Segi Tiga Api, sebagai berikut

Gambar 2.1. Segitiga Api (Sumber: http://geology.html) Gambar di atas menjelaskan hubungan antara tiga unsur yang dapat menyebabkan timbulnya api. Jika salah satu unsur tersebut tidak ada, maka api tidak akan terjadi. Namun study selanjutnya mengenai fisika dan kimia, menyatakan bahwa peristiwa pembakaran mempunyai tambahan lagi mengenai pengertian dimensi pada segi tiga api, menjadi teori model baru yang disebut bidang empat api atau Tetrahedron Of Fire.

Gambar 2.2. Tetrahedron Of Fire (Sumber: http://bisafer.blogspot.com) 6

Perancangan Sprinkler Studi ini menjelaskan bahwa pembakaran tidak hanya terjadi atas tiga unsur, namun reaksi kimia yang terjadi menghasilkan beberapa zat hasil pembakaran yaitu: CO, CO2, SO2, asap dan gas. Hasil yang lain dari reaksi ini adalah adanya radikal-radikal bebas dari atom oksigen dan hidrogen dalam bentuk hidroksil (OH). Bila ada dua gugus OH, maka akan pecah menjadi H2O dan radikal bebas O. Dimana reaksinya 2OH H2O + O radikal. O radikal ini selanjutnya akan berfungsi lagi sebagai umpan pada proses pembakaran sehingga disebut reaksi pembakaran

berantai (Cain Reaction Of Combustion). Dari reaksi kimia, selama proses pembakaran berlangsung ini memberikan kepercayaan pada hypotesa baru, dari prinsip segi tiga api kemudian terbentuk bidang empat api. Dimana sisi yang ke empat sebagai sisi dasar yaitu rantai reaksi pembakaran. Lebih jelasnya, perbedaan antara Teori Segi Tiga Api dan Tetrahedron Of Fire adalah sebagai berikut : 1. Pada Teori Segi Tiga Api, bahan bakar sendiri tidak terbakar. Tapi mengalami pemanasan hingga menghasilkan gas dan uap. Gas dan uap yang terbakar tersebut oleh karena letaknya yang berdekatan dengan bahan bakar (fuel), sehingga bahan bakar akan terlihat seolah-olah terbakar. 2. Pada Tetrahedron Of Fire bahan bakar mengalami pemanasan sehingga mengeluarkan gas dan uap yang menyala akibat timbulnya reaksi kimia. Pada akhirnya bahan bakar (fuel) akan terbakar dan habis. Prosentasi oksigen di atmosfer adalah 21%, namun terkadang pada ruang atau kondisi tertentu prosentasi oksigen dapat berubah. Prosentase oksigen yang dapat membuat api tetap menyala adalah kisaran antara 12% hingga 21%. Api akan padam jika prosentase oksigen kurang dari 12%, sedangkan api akan sulit sekali dipadamkan jika prosentase oksigen diatas 21% karena oksigen dengan prosentase tersebut menjadi bersifat flammable. Selain ketersediaan oksigen, ketersediaan bahan bakar juga mempengaruhi muncul atau tidaknya api. Bahan bakar dibagi menjadi tiga macam, yaitu bahan bakar padat (ex: kayu, kertas, batu bara, arang, dll), cair (bensin, solar, minyak tanah, alkohol, dll) dan gas (Elpiji, nitrogen oksida, propana, dll). Oksigen dan bahan bakar tidak akan pernah menjadi api jika tidak ada panas. Jika suhunya tidak mencukupi, oksigen dan bahan bakar tidak akan pernah terbakar. Sumber panas yang paling berperan dalam munculnya api adalah matahari. Jadi reaksi antara

Perancangan Sprinkler ketiga unsur tersebutlah yang menjadi asal mula terjadinya api yang selama ini kita kenal sebagai teori segitiga api.

Gambar 2.3.Skema Fenomena Kebakaran (Sumber: http://safetytrainingindonesia.blogspot.com)

Gambar diatas menjelaskan bagaimana proses terjadinya kebakaran dari awal terbentuknya api hingga api padam kembali. Proses awal terbentuknya api (ignition) telah dijelaskan sebelumnya pada teori segitiga api dimana api baru akan timbul bila mana ketiga sisi segitiga (oksigen, bahan bakar dan panas) telah terpenuhi. Setelah itu api akan terus membesar (growth) sesuai dengan pasokan/ketersediaan bahan bakar. Semakin banyak bahan bakar yang ada, maka api akan terus tumbuh hingga membakar seluruh bahan bakar yang ada. Dalam keadaan ini temperatur api bisa mencapai 300oC. Proses ini berlangsung hanya dalam waktu 3 hingga 10 menit. Ketika telah mencapai puncak pertumbuhannya (steady), api akan terus membakar bahan bakar yang ada hingga habis. Pada keadaan ini, temperatur api akan meningkat hingga kisaran 500oC 1000oC dalam kurun waktu + 7 jam. Keadaan ini dipengaruhi oleh ketersediaan bahan bakar yang ada, jika bahan bakar yang tersedia sedikit maka bisa saja habis hanya dalam waktu singkat dan api belum bisa mencapai suhu puncaknya. Pada saat ketersediaan bahan bakar semakin berkurang, maka lambat laun apipun akan mulai padam.

Perancangan Sprinkler 2.1.1 Penyebab Terjadinya Kebakaran Penyebab terjadinya kebakaran bersumber pada tiga faktor, yaitufaktor manusia, faktor teknis dan faktor alam: 1. Faktor manusia sebagai faktor penyebab kebakaran, antara lain: a) Faktor pekerja 1) Tidak mau atau kurang mengetahui prinsip dasar pencegahankebakaran 2) Menempatkan barang atau menyusun barang yang mudah terbakartanpa menghiraukan norma-norma pencegahan kebakaran 3) Pemakaian tenaga listrik yang berlebihan 4) Kurang memiliki rasa tanggung jawab atau adanya unsurkesengajaan b) Faktor pengelola 1) Sikap pengelola yang tidak memperhatikan keselamatan kerja 2) Kurangnya pengawasan terhadap kegiatan pekerja 3) Sistem dan prosedur kerja yang tidak diterapkan dengan baikterutama dalam kegiatan penentuan bahaya dan peneranganbahaya 4) Tidak adanya standar atau kode yang dapat diandalkan 2. Faktor teknis a) Melalui proses fisik atau mekanis seperti timbulnya panas akibatkenaikan suhu atau timbulnya bunga api terbuka b) Melalui proses kimia yaitu terjadinya suatu pengangkutan,penyimpanan, penanganan barang atau bahan kimia berbahaya tanpamemperhatikan petunjuk yang telah ada (MSDS) c) Melalui tenaga listrik karena hubungan arus pendek sehinggamenimbulkan panas atau bunga api dan dapat menyalakan ataumembakar komponen lain. 3. Faktor Alam a) Petir adalah salah satu penyebab adanya kebakaran b) Letusan gunung berapi dapat menyebabkan kebakaran hutan dan

jugaperumahan yang dilalui oleh lahar panas

Selain faktor diatas beberapa peristiwa yang mengakibatkanterjadinya kebakaran adalah sebagai berikut : a) Nyala api dan bahan-bahan yang pijar Jika suatu benda padat ditempatkan dalam nyala api, suhunya akan naik, mulaiterbakar dan menyala terus sampai habis. Kemungkinan terbakar atau 9

Perancangan Sprinkler tidaktergantung dari sifat benda padat tersebut yang mungkin sangat mudah, agak mudahdan sukar terbakar, besarnya zat padat tersebut, jika sedikit, takcukup timbul panasuntuk terjadinya kebakaran, keadaan zat padat seperti mudah terbakar kertas ataukayu lempengan tipis oleh karena relatif luasnya permukaan yang besinggungandengan oksigen dan cara menyalakan zat padat, misalnya di atas atau sejajar. b) Penyinaran Terbakarnya suatu bahan yang mudah terbakar oleh benda pijar atau nyala api tidakperlu atas dasar persentuhan. Semua sumber panas memancarkan

gelombanggelombangelektromagnetis yaitu sinar infra merah.Jika gelombang ini mengenaibenda, maka pada benda tersebut dilepaskan energi yang berubah menjadi panas.Benda tersebut menjadi panas dan jika suhunya tarus naik maka pada akhirnyabenda tersebut akan menyala. c) Peledakan uap atau gas Setiap campuran gas atau uap yang mudah terbakar dengan udara akan menyala,jika terkena benda pijar atau nyala api dan pembakaran yang terjadi akan meluasdengan cepat, manakala kadar gas atau uap berada dalam batas untuk menyala ataumeledak. d) Peledakan debu atau noktah-noktah zat cair Debu-debu dari zat yang mudah terbakar atau noktah-noktah cair yang berupasuspensi di udara bertingkah seperti campuran gas dan udara atau uap dalam udaradan dapat meledak. e) Percikan api Percikan api yang bertemperatur cukup tinggi menjadi sebab terbakaranya campuran gas, uap atau debu dan udara yang dapat menyala. Biasanya percikan apaitak dapat menyebabkan terbakarnya benda padat. Oleh karena itu, tidak cukupnyaenergi dan panas yang ditimbulkan akan menghilang di alam benda padat. Percikan api mungkin terbentuk sebagai akibat arus listrik dan juga karena kelistrikan statissebagai gesekan 2 benda yang bergerak. f) Reaksi kimia Reaksi kimia tertentu menghasilkan cukup panas dengan akibat terjadinya kebakaran. Zat-zat yang bersifat oksidasi seperti hydrogen peroksida, klorat, boratdan lain-lain yang membebaskan oksigen pada pemanasasn dengan aktifmeningkatkan proses oksidasi dan menyebabkan terbakaranya bahan-bahan 10

Perancangan Sprinkler yangdapat dioksidasi. Sekalipun tidak ada panas yang dating dari luar, bahanyangmengoksidasi dapat mengakibatkan terbakarnya zat-zat organic, terutama jika bahanorganic, terutama jika bahan organic terdapat dalam bentuk partikel atau jika kontak.

2.1.2 Cara Pencegahan Bahaya Kebakaran Setelah mengetahui teori segitiga api dan fenomena kebakaran, maka kita dapat mengetahui bagaimana tata cara pencegahan bahaya kebakaran, diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Cara Penguraian Yaitu dengan cara memisahkan/menempatkan pada tempat khusus bahan bakar atau yang mudah terbakar. 2. Cara Pendinginan Yaitu dengan cara menurunkan temperatur bahan bakar hingga berada dibawah titik nyalanya. 3. Cara Isolasi Yaitu dengan cara menurunkan konsentrasi/kadar oksigen hingga dibawah 12%. Selain cara pencegahan diatas, sebenarnya masih ada aspek-aspek penting untuk mencegah terjadinya kebakaran yaitu sebagai berikut : 1. Aspek Normatif Merupakan aspek-aspek yang dibutuhkan untuk mencegah bahaya kebakaran yang biasanya berupa hal-hal normal yang harus dipenuhi untuk mencegah kebakaran, seperti: adanya sistem proteksi kebakaran, tersedianya pintu darurat, dsb. 2. Aspek Administratif Aspek - aspek yang ada disini berhubungan erat dengan komitmen pihak managemen perusahaan untuk peduli terhadap pencegahan bahaya kebakaran dalam perusahaan. Seperti penyediaan tenaga ahli khusus proteksi kebakaran dan perlengkapannya, dsb. 3. Aspek Teknis Aspek teknis merupakan aspek yang sangat penting, karena aspek ini berkaitan erat dengan cara penggunaan sarana proteksi yang ada dalam perusahaan. Sehingga untuk menggunakannya dengan cara yang benar dan

11

Perancangan Sprinkler sesuai dengan prosedur, diperlukan pelatihan-pelatihan khusus bagi petugas proteksi kebakaran dalam suatu perusahaan.

2.1.3 Penanggulangan Bahaya Kebakaran Jika ternyata kebakaran tetap saja terjadi, maka dibutuhkan teknik penanggulangan kebakaran yaitu: 1. SER (Self Emergency Response) Adalah suatu teknik pemadaman kebakaran dengan cara memanfaatkan sarana dan prasarana yang tersedia seperti hydrant, APAR, sprinkler dan lain-lain. Jika sarana dan prasarana ini tidak tersedia atau kurang memadai maka terkadang kebakaran akan sulit ditanggulangi. 2. CER (Community Emergency Response) Adalah suatu teknik pemadaman kebakaran dengan cara meminta bantuan kepada masyarakat sekitar dan juga kepada departemen pemadaman kebakaran. Hal ini sering dilakukan karena pada bangunan yang terbakar tidak memiliki sarana dan prasarana penanggulangan kebakaran yang memadai. Namun, Community Emergency Response ini terkadang mendapat hambatan seperti keterlambatan, akses masuk yang sempit sehingga truk pemadam kebakaran tidak dapat masuk, dan kurangnya ketersediaan air pada lokasi kebakaran sehingga truk pemadam kebakaran harus bolak-balik ke lokasi kebakaran untuk mengambil air. a. Perencanaan Konsep Untuk merencanakan instalasi sistem pencegahan kebakaran harus diperhatikan faktor yang menentukan antara lain, 1. Klasifikasi Hunian Klasifikasi sifat hunian adalah klasifikasi tingkat risiko bahaya kebakaran yang diklasifikasikan berdasarkan struktur bahan bangunan, banyaknya bahan yang disimpan di dalamnya, serta sifat kemudahan terbakarnya, juga ditentukan oleh jumlah dan sifat penghuninya. Klasifikasi sifat hunian dibagi atas: a. Hunian Bahaya Kebakaran Ringan. Jenis hunian yang mempunyai jumlah dan kemudahan terbakar rendah dan apabila terjadi kebakaran melepaskan panas rendah, sehingga menjalarnya api lambat.

12

Perancangan Sprinkler b. Hunian Bahaya Kebakaran Sedang Kelompok I. Jenis hunian yang mempunyai jumlah dan kemudahan terbakar sedang, penimbunan bahan yang mudah terbakar dengan tinggi tidak lebih dari 2,5 m dan apabila terjadi kebakaran melepaskan panas sedang, sehingga menjalarnya api sedang. c. Hunian Bahaya Kebakaran Sedang Kelompok II. Jenis hunian yang mempunyai jumlah dan kemudahan terbakar sedang, penimbunan bahan yang mudah terbakar dengan tinggi tidak lebih dari 4 m dan apabila terjadi kebakaran melepaskan panas sedang, sehingga menjalarnya api sedang. d. Hunian Bahaya Kebakaran Sedang Kelompok III. Jenis hunian yang mempunyai jumlah dan kemudahan terbakar tinggi dan apabila terjadi kebakaran melepaskan panas tinggi, sehingga menjalarnya api cepat. e. Hunian Bahaya Kebakaran Berat. Jenis hunian yang mempunyai jumlah dan kemudahan terbakar tinggi dan apabila terjadi kebakaran melepaskan panas tinggi, penyimpanan cairan yang mudah terbakar, sampah, serat, atau bahan lain yang apabila terbakar apinya cepat menjadi besar dengan melepaskan panas tinggi sehingga menjalarnya api cepat. f. Hunian Khusus. Untuk hunian khusus seperti penyimpanan atau tempat dimana penggunaan cairan yang mempunyai kemudahan terbakar tinggi dapat digunakan sistem pancaran serentak. Karena keadaan yang menguntungkan, beberapa macam hunian dapat memperoleh keringanan satu kelas lebih rendah dengan persetujuan instansi yang berwenang.

13

Perancangan Sprinkler 2. Klasifikasi gedung menurut tinggi dan jumlah lantai. Didalam perencanaan konsep instalasi sprinkler, klasifikasi gedung menurut tinggi dan jumlah lantai yaitu: Tabel 2.1 Klasifikasi gedung menurut tinggi dan jumlah lantai Klasifikasi Bangunan A. Tidak Bertingkat Ketinggian dan Jumlah Lantai Ketinggian sampai dengan 8 meter atau (satu) lantai (lapis) B. Tidak Bertingkat C. Bertingkat Rendah Ketinggian lebih dari 8 meter atau 2 (dua) lantai (lapis) Ketinggian sampai dengan 14 meter atau 4 (empat) lantai (lapis) D. Bertingkat Tinggi Ketinggian sampai dengan 40 meter atau 8 (delapan) lantai (lapis) E. Bertingkat Tinggi Ketinggian lebih dari 40 meter atau diats 8 (delapan) lantai (lapis) (Sumber: PermenakerNo. Per 04/MEN/1980)

3. Sistem Sprinkler Sprinkler adalah sebuah alat pemadam api otomatis, dimana system yang terpasang secara modul air di atas plafon dan jumlah modul terpasang disesuaikan dengan kebutuhan volume ruangan yang akan dilindungi. Sistim pemadam otomatis ini akan bekerja bila ada asap/awal nyala api yang terdeteksi oleh pengindera elektronik (sensor). Oleh karenanya bila dipasang beberapa unit dalam satu ruangan akan bekerja secara serentak karena ujung nozzle/sprinkler alat ini dilengkapi dengan actuator yang bekerja secara elektronik. Alat ini juga berfungsi sebagai Thermatic artinya bila terjadi kegagalan fungsi elektonik tetap bekerja akibat panas pada temperatur 68C. Hingga saat ini Sprinkler masih diperlukan pada bangunan gedung, karena sistem sprinkler otomatik telah terbukti paling efektif dalam memadamkan kebakaran. Namun sangat disayangkan jika masih banyak stakeholders (pemilik, bahkan konsultan dan instansi berwenang) menganggap bahwa sprinkler tidak efektif dan memakan biaya besar, sehingga menggantinya dengan sistem lain. Sistem sprinkler otomatik adalah kombinasi dari deteksi 14

Perancangan Sprinkler panas dan pemadaman, ia bekerja secara otomatik penuh tanpa bantuan orang atau sistem lain. Sehingga system ini merupakan sistem penanggulangan/ pemadaman kebakaran yang paling efektif dibandingkan dengan sistem hidran dan lainnya. Sebuah studi di Australia & New Zealand memberikan angka keberhasilan mencapai 99%. Prinsip kerja sprinkler memanfaatkan teori kebakaran kompartemen (SFPE Handbook of Fire Protection Engineering, 3rd Edition, 2002). Kebakaran di lantai akan membuat asap dan udara ruangan ikut mengapung ke atas yang dinamakan plume. Bila plume membentur langit-langit, maka terjadi aliran udara panas secara radial pada atau dekat dengan langit-langit. Aliran udara panas ini dinamakan ceiling jet dan terjadi pada ketebalan maksimum 30 cm dari langit-langit. Bila ceiling jet mengenai kepala sprinkler maka terjadi perpindahan kalor secara konvektif dari ceiling jet ke elemen sensor panas sprinkler (fusible link atau glass bulb) yang menyebabkan temperaturnya akan naik dari sebelumnya sama dengan temperatur ruangan. Elemen sensor panas ini mempunyai temperatur kerja nominal yang bermacam-macam dari 57C s/d 343C, dapat diplih tergantung dari rancangan bahaya kebakaran huniannya. Kepala sprinkler akan beroperasi bila temperatur elemen sensor panasnya telah naik mencapai temperatur kerja nominalnya. Untuk hunian apartemen, umumnya digunakan temperatur nominal 57C atau 68C. Prinsip operasi sprinkler ini sama persis dengan prinsip operasi detektor panas lain seperti yang digunakan dalam sistem deteksi dan alarm. Oleh karena itu, bila bangunan telah diproteksi oleh sprinkler maka tidak perlu lagi dilengkapi dengan detektor panas dan hanya perlu dilengkapi dengan detektor asap. Bila kebakaran terus terjadi, maka di dalam ruangan/ kompartemen akan terbentuk 2 lapisan yaitu, (a) lapisan asap di atas, dan (b) lapisan relatif bebas asap di bawahnya. Temperatur dan ketebalan lapisan asap akan naik dan terus bertambah selama terjadi kebakaran. Sedangkan temperatur lapisan bebas asap di bawahnya relatif sama dengan temperatur ruangan. Pada saat sprinkler beroperasi, temperatur ruangan (bukan temperatur nyala api) relatif tidak berubah atau kenaikannya tidak besar, kecuali terjadi kegagalan sistem sprinkler sehingga kebakaran tidak padam dan lapisan asap akan terus turun ke lantai. Hal ini dapat diprediksikan dengan program 15

Perancangan Sprinkler simulasi kebakaran di kompartemen (Program CFAST dan ASET). Meskipun persentase kegagalan sprinkler adalah sangat kecil dibanding keberhasilannya, sprinkler dapat gagal terutama karena sebab-sebab berikut, pertama, kesalahan rancangan, sistem sprinkler haras dirancang sesuai dengan tingkat resiko bahaya kebakaran bangunan. Misalnya bangunan dengan hunian apartemen, mempunyai risiko bahaya yang berbeda, dengan demikian rancangan densitasnya pun berbeda. Kedua, kesalahan instalasi, pengawasan pelaksanaan di lapangan kurang, misalnya posisi kepala sprinkler terhadap langit-langit dan rintangan (kolom dan balok struktur) tidak memenuhi persyaratan instalasi sehingga sangat mengurangi kinerja sprinkler. Ketiga, tidak adanya program inspeksi, tes dan pemeliharaan berkala yang sesuai standar (NFPA 25), mengakibatkan sistem tidak beroperasi saat diperlukan bila terjadi kebakaran. Dan keempat, ciri-ciri bangunan seperti arsitektur terbuka sehingga lantai terbuka ke udara luar, dan kompartemen yang tidak mempunyai ketahanan api (dari bahan mudah terbakar kayu dan lain-lain). Ciri-ciri tersebut mempengaruhi kinerja sistem sprinkler. Sistem sprinkler bekerja secara otomatis dengan memancarakan air bertekanan ke segala arah untuk memadamkan kebakaran atau setidaktidaknya mencegah meluasnya kebakaran. Instalasi sprinkler ini dipasang secara tetap/permanen di dalam bangunan yang dapat memadamkan kebakaran secara otomatis dengan menyemprotkan air ditempat mula terjadi kebakaran. Ada beberapa jenis sistem sprinkler, diantaranya yaitu: a. Sistem basah (wet pipe system) Sistem sprinkler basah bekerja secara otomatis terhubung dengan sistem pipa yang berisi air. Peralatan yang digunakan pada sistem sprinkler jenis terdiri dari sumber air, bak penampungan, kepala sprinkler, tangki tekanan dan pipa air dimana dalam keadaan keadaan normal, seluruh jalur pipa penuh dengan air. Sistem ini paling terkenal dan paling sedikit menimbulkan masalah. b. Sistem kering (dry pipe system) Sistem sprinkler kering merupakan suatu instalasi sistem sprinkler otomatis yang disambungkan dengan sistem perpipaannya yang mengandung udara atau nitrogen bertekanan. Pelepasan udara tersebut

16

Perancangan Sprinkler akibat adanya panas mengakibatkan api bertekanan membuka dry pipe valve c. Sistem curah (deluge system) Sistem curah biasanya untuk proteksi kebakaran pada trafo-trafo pembangkit tenaga listrik atau gudang-gudang bahan kimia tertentu. Sistem ini menyediakan air secara cepat untuk seluruh area dengan memakai kepala sprinkler terbuka yang dihubungkan ke suplai air melalui suatu valve. Valve ini dibuka dengan cara mengoperasikan sistem deteksi yang dipasang diarea yang sama dengan sprinkler. Ketika valve dibuka, air akan mengalir ke dalam sistem perpipaan dan dikeluarkan dari seluruh sprinkler yang ada. d. Sistem pra aksi (preaction system) Komponen sistem pra aksi memiliki alat deteksi dan kutub kendali tertutup, instalasi perpipaan kosong berisi udara biasa (tidak bertekanan) dan seluruh kepala sprinkler tertutup. Valve untuk persediaan air dibuka oleh suatu sistem operasi detector otomatis yang dengan segera mengalirkan air dalam pipa. Penggerak sistem deteksi membuka katup yang membuat air dapat mengalir ke sistem pipa sprinkler dan air akan dikeluarkan melalui beberapa sprinkler yang terbuka. Kepekaan alat deteksi pada sistem pra aksi ini diatur berbeda dan akan lebih peka, maka dari itu disebut sistem pra aksi karena ada aksi pendahuluan sebelum kepala sprinkler pecah. e. Sistem kombinasi (combined system) Sistem sprinkler kombinasi bekerja secara otomatis dan terhubung dengan sistem yang mengandung air di bawah tekanan yang dilengkapi dengan sistem deteksi yang terhubung pada satu area dengan sprinkler. Sistem operasi deteksi menemukan sesuatu yang janggal yang dapat membuka pipa kering tanpa adanya kekurangan tekanan air di dalam sistem tersebut. Menurut SNI 03-3989-2000, dikenal dua macam sistem sprinkler yaitu sprinkler berdasarkan arah pancaran dan berdasarkan kepekaan terhadap suhu. Berikut klasifikasi kepala sprinkler: a. Sistem sprinkler terdiri dari : 1. Penyedia air yang cukup 17

Perancangan Sprinkler 2. Jaringan pipa yang cukup 3. Perlengkapan sprinkler b. Klasifikasi kepala sprinkler : 1. Berdasarkan arah pancaran: a) Pancaran keatas b) Pancaran kebawah c) Pancaran arah dinding 2. Berdasarkan kepekaan terhadap suhu: a) Warna segel: 1) Warna putih pada temperatur 93 C 2) Warna biru pada temperatur 141 C 3) Warna kuning pada temperatur 182 C 4) Warna merah pada temperatur 227 C 5) Tidak berwarna pada temperatur 68 C / 74 C b) Warna cairan dalam tabung: 1) Warna jingga pada temperatur 53 C 2) Warna merah pada temperatur 68 C 3) Warna kuning pada temperatur 79 C 4) Warna hijau pada temperatur 93 C 5) Warna biru pada temperatur 141 C 6) Warna ungu pada temperatur 182 C 7) Warna hitam pada temperatur 201 C 260 C Sistem sprinkler harus mengacu pada standar yang telah ditentukan untuk menjamin kualitas dan keandalannya. Bila menggunakan standar Inggris sebagai acuannya adalah: 1. British Standart Code of Practice CP 402.201 (1952) 2. The Rules of The Fire Offices Committee for Automatic Sprinkler Installations Code of practices berfungsi sebagai acuan untuk memberikan rekomendasi mengenai perencanaan bagian-bagian dari komponen, material yang harus dipakai, pemeriksaan dan pemeliharaannya. Apabila melibatkan pihak asuransi, maka untuk pemasangan dan pemeliharaanya harus mengikuti fire offices committee rules.

18

Perancangan Sprinkler Code of practices dan fire offices committee yang menjamin bahwa sistem sprinkler yang dipasang telah memenuhi standart, sehingga kesalahan atau ketidak handalan dari sistem jarang terjadi. Bila automatic sprinkler tidak berfungsi letak kesalahannya adalah kesalahan dari penggunaan bangunan itu sendiri seperti perubahan struktur bangunan, dilakukan perombakan dekorasi dan perubahan pemakaian dari gedung tersebut, sistem pemeliharaan yang tidak baik serta terjadinya kerusakan-kerusakan mekanis dari sistem tersebut.

4. Susunan pipa Susunan pipa instalasi sprinkler: a. Susunan cabang ganda. Susunan sambungan di mana pipa cabang disambungkan ke dua sisi pipa pembagi. b. Susunan cabang tunggal. Susunan sambungan di mana pipa cabang disambungkan ke satu sisi dari pipa pembagi. c. Susunan pemasukan di tengah. Susunan penyambungan di mana pipa pembagi mendapat aliran air dari tengah d. Susunan pemasukan di ujung. Susunan penyambungan di mana pipa pembagi mendapat aliran dari ujung.

5. Pipa Penyalur Pipa penyalur untuk sistem sprinkler tidak boleh dihubungkan pada sistem lain kecuali seperti dibawah ini: a. Jaringan kota. Sambungan pada sistem jaringan kota dapat diterima apabila kapasitas dan tekanannya mencukupi. Kapasitas dan tekanan sistem jaringan kota dapat diketahui dengan mengadakan pengukuran langsung pada jaringan distribusi di tempat penyambungan yang direncanakan atas ijin Perusahaan Daerah Air Minum. Meter air tidak dianjurkan untuk dipasang pada sambungan sistem sprinkler. Apabila ditentukan lain harus digunakan meter

19

Perancangan Sprinkler air khusus. Ukuran pipa sekurang-kurangnya harus sama dengan pipa tegak yang disambungkan, dengan ukuran minimum 100 mm. b. Tangki gravitasi. Tangki yang diletakkan pada ketinggian tertentu dan direncanakan dengan baik dapat diterima sebagai sistem penyediaan air. Kapasitas dan letak ketinggian tangki harus memberikan aliran dan tekanan yang cukup. Tangki gravitasi yang melayani keperluan rumah tangga, kran kebakaran dan system sprinkler otomatis harus : a) Direncanakan dan dipasang sedemikian rupa, sehingga dapat

menyalurkan air dalam kuantitas dan tekanan yang cukup untuk sistem tersebut. b) Mempunyai lubang aliran keluar untuk keperluan rumah tangga pada ketinggian tertentu dari dasar tangki, sehingga persediaan minimum yang diperlukan untuk pemadam kebakaran dapat dipertahankan. c) Mempunyai lubang aliran keluar untuk kran kebakaran pada ketinggian tertentu dari dasar tangki, sehingga persediaan minimum yang diperlukan untuk sistem sprinkler otomatis dapat dipertahankan. c. Tangki bertekanan Tangki bertekanan yang direncanakan dengan baik dapat diterima sebagai system penyediaan air. Tangki bertekanan harus dilengkapi dengan suatu cara yang dibenarkan agar tekanan udara dapat diatur secara otomatis. Apabila tangki bertekanan merupakan satu-satunya sistem penyediaan air, sistem tersebut harus juga dilengkapi dengan alat tanda bahaya yang memberikan peringatan apabila tekanan dan atau tinggi muka air dalam tangki turun melampaui batas yang ditentukan. Tanda bahaya harus dihubungkan dengan jaringan listrik yang terpisah dengan jaringan listrik yang melayani kompresor udara. Tangki bertekanan hanya boleh digunakan untuk melayani sistem sprinkler dan system slang kebakaran yang dihubungkan pada pemipaan sprinkler. Tangki bertekanan harus selalu terisi air sampai penuh, dan diberi tekanan udara ditambah dengan 3 x tekanan yang disebabkan oleh berat air pada perpipaan sistem sprinkler di atas tangki kecuali ditetapkan lain oleh pejabat yang berwenang.

20

Perancangan Sprinkler d. Sambungan pemadam kebakaran Apabila disyaratkan harus disediakan sebuah sambungan yang memungkinkan petugas pemadam kebakaran memompakan air kedalam sistem sprinkler, ukuran pipa minimum adalah 100 m. Pipa berukuran 80 mm dapat digunakan, apabila dihubungkan dengan pipa tegak berukuran 80 mm juga. Sambungan pemadam kebakaran harus ditempatkan pada bagian system sprinkler di dekat katup balik. Automatic sprinkler system harus dilengkapi dengan persediaan air yang cukup dan memenuhi persyaratan. Persediaan air dapat dieroleh dari: 1. 2. 3. 4. 5. Jaringan hydrant kota (town mains) Persediaan air pribadi (elevated private reservoir) Tanki gravitasi (gravity tank) Persediaan air dilengkapi pompa otomatis Tanki bertekanan (pressure tank) Pemilihan sistem instalasi kebakaran berdasar atas persediaan air yang dibagi dalam 3 kategori sesuai jumlah dan macam persedian air yang tersedia. a. Kategori 1 Sistem pesediaan air dari dua sumber atau satu sumber, tetapi mampu melayani seluruh sprinkler yang dipasang dalam suatu bangunan dan tidak melebihi 2000 sprinkler dengan 200 sprinkler untuk setiap resiko kebakaran yang terpisah. b. Kategori 2 Sistem persediaan air dengan satu sumber tetapi tidak membatasi jumlah atau banyaknya sprinkler yang dipasang. c. Kategori 3 Sistem persediaan air diambil dari jaringan hidran kota atau pompa otomatis. Pada kategori ini tidak dapat digunakan untuk klasifikasi bahaya kebakaran berat.

21

Perancangan Sprinkler 2.2. Dasar Perencanaan 2.2.1 Klasifikasi Sistem. Sistem sprinkler terdiri dari 3 klasifikasi sesuai dengan klasifikasi hunian bahaya kebakaran, yaitu : 1. Sistem bahaya kebakaran ringan, 2. Sistem bahaya kebakaran sedang, 3. Sistem bahaya kebakaran berat. Jaringan pipa untuk dua sistem bahaya kebakaran atau lebih yang berbeda boleh dihubungkan pada satu katup kendali dengan ketentuan jumlah kepala sprinkler yang dilayani tidak melampaui jumlah maksimum. 2.2.2 Perhitungan Hidrolik. Perhitungan hidrolik tiap sistem harus direncanakan berdasarkan kepadatan pancaran pada daerah kerja maksimum yang diperkirakan (banyaknya kepala sprinkler yang dianggap bekerja) dibagian hidrolik tertinggi dan terjauh dari gedung yang dilindungi. 2.2.3 Kepadatan Pancaran Kepadatan pancaran yang direncanakaan dan daerah kerja maksimum yang diperkirakan untuk ketiga klasifikasi tersebut diatas tercantum dibawah ini (sumber: SNI 03-3989-2000): a) Sistem bahaya kebakaran ringan. Kepadatan pancaran yang direncanakan 2,25 mm/menit. Daerah kerja maksimum yang diperkirakan : 84 m2. Catatan : Tambahan kepadatan sebesar 5 mm/men diberikan untuk daerah tertentu pada hunian bahaya kebakaran ringan, seperti : ruang atap, ruang besmen, ruang ketel uap, dapur, ruang binatu, ruang penyimpanan, ruang kerja bengkel dan lain-lain dengan penentuan jarak kepala sprinkler yang lebih dekat . b) Sistem bahaya kebakaran sedang. Kepadatan pancaran yang direncanakan 5 mm/menit. Daerah kerja maksimum yang diperkirakan 72 ~ 360 m2. Catatan : Sistem bahaya kebakaran sedang terdiri dari 3 (tiga) kelompok berdasarkan daerah kerja maksimum yang diperkirakan, yaitu : kelompok I (bahaya kebakaran sedang ringan) 72 m2, 22

Perancangan Sprinkler kelompok II (bahaya kebakaran sedang-sedang) 144 m2, kelompok III (bahaya kebakaran sedang berat) 216 m2. Apabila kemungkinan terjadi penyalaan serentak, misalnya yang mungkin terjadi pada proses persiapan di pabrik tekstil, maka luas maksimumnya 360 m2 . c) Sistem bahaya kebakaran berat Kepadatan pancaran yang direncanakan 7,5 ~ 12,5 mm/men.Daerah kerja maksimum yang diperkirakan 260 m2. Catatan: Diperlukan perlengkapan perlindungan dengan pancaran berkecepatan tinggi atau sedang dalam daerah bahaya ini dimana larutan atau cairan lain yang mudah terbakar disimpan atau diolah.

2.3 Pemasangan Sistem Sprinkler Otomatik Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung. 2.3.1 Permohonan Persetujuan Sebelum mulai dengan pemasangan, gambar perencanaan harus mendapat persetujuan pihak yang berwenang, perubahan yang terjadi pada gambar perencanaan yang telah disetujui harus dimintakan persetujuan ulang. 2.3.2 Gambar Perencanaan Gambar perencanaan harus dibuat dengan skala tertentu, pada kertas gambar yang berukuran sama dan harus memuat denah tiap lantai. Gambar perencanaan harus dapat diperbanyak dengan mudah. Hal-hal seperti dibawah ini harus tercantum dalam gambar perencanaan : a) Nama pemilik dan jenis hunian b) Alamat. c) Klasifikasi bahaya kebakaran. d) Arah mata angin e) Kontruksi atap dan langit-langit. f) Potongan gedung. g) Letak dinding tahan api. h) Letak dinding pemisah. i) Jenis hunian tiap ruang atau kamar j) Letak tempat-tempat yang tertutup dan penyimpanan barang 23

Perancangan Sprinkler k) Ukuraan pipa dan tekanan air bersih kota dan apakah merupakan ujung buntu atau jaringan melingkar l) Penyedian air cara lain dengan tekanan atau gravitasi m) Merk, ukuran lubang, dan jenis sprinkler n) Suhu kerja dan letak sprinkler o) Jumlah sprinkler pada tiap pipa tegak, jumlah sprinkler pada tiap sistem dan luas daerah yang dilindungi tiap lantai p) Jumlah sprinkler pada setiap pipa tegak dan jumlah keseluruhan tiap lantai q) Merk, model dan tipe tanda bahaya yang dipakai r) Macam dan letak lonceng tanda bahaya hidrolis s) Percabangan, nipel pipa tegak dan ukuran-ukurannya t) Jenis penggantung u) Semua katup kendali, pipa pengering, pipa uji v) Slang kebakaran w) Nama dan alamat instalatur.

2.3.3 Penyediaan Air Dan Pompa Untuk Sistem Sprinkler Penyediaan air dari sistem sprinkler dapat diperoleh dari: 1. Sistem air PAM, jika tekanan dan kapasitas memenuhi sistem yang direncanakan 2. Pompa kebakaran otomatis yang dilengkapi dengan sumber air yang memenuhi keperluan disain hidrolis 3. Bejana tekan 4. Tangki gravitasi Jumlah air minimum untuk keperluan kebakaran bagi hunian bahaya kebakaran ringan adalah 500-750 gpm (SNI 03-3989-2000), untuk waktu pengoperasian selama 30-60 menit. Pompa yang digunakan harus yang bekerja otomatis jika terjadi kebakaran. Selain itu digunakan juga jockey pump untuk mengatasi kekurangan tekanan dan flow jika kurang dari jumlah yang seharusnya agar tetap konstan. Apabila cadangan air untuk pencegahan kebakaran dalam reservoir habis atau pompa yang disediakan tidak bekerja maka air disuplai dari ruas pemadam kebakaran dengan menghubungkan selang pemadam kebakaran pada fire department connection.

24

Perancangan Sprinkler 5. Syarat Penyambungan Pipa penyalur untuk system sprinkler tidak boleh dihubungkan pada system lain kecuali seperti yang diatur dalam bagian ini. a. Jaringan kota Sambungan pada sistem jaringan kota dapat diterima apabila kapasitas dan tekanannya mencukupi. Kapasitas dan tekanan sistem

jaringan kota dapat diketahui dengan mengadakan pengukuran langsung pada jaringan distribusi ditempat penyambungan yang direncanakan atas izin perusahaan daerah air minum. Ukuran pipa sekurang-kurangnya harus sama dengan pipa tegak yang disambungkan, dengan ukuran minimum 4 inchi.

Gambar 2.4 Jaringan kota (Sumber : SNI 03-3989-2000)

b. Tangki Gravitasi Tangki yang diletakkan pada ketinggian tertentu dan direncanakan dengan baik dapat diterima sebagai sistem penyediaan air. Kapasitas dan letak ketinggian tangki harus memberikan aliran dan tekanan yang cukup. 25

Perancangan Sprinkler

Gambar 2.5 TangkiGravitasi (Sumber : SNI 03-3989-2000)

Tangki gravitasi yang melayani keperluan rumah tangga, kran kebakaran dan sistem sprinkler otomatis harus: 1. Direncanakan dan dipasang sedemikian rupa, sehingga dapat menyalurkan air dalam kuantitas dan tekanan yang cukup untuk sistem tersebut. 2. Mempunyai lubang aliran keluar untuk keperluan rumah tangga pada ketinggian tertentu dari dasar tangki, sehingga persediaan minimum yang diperlukan untuk pemadam kebakaran dapat dipertahankan. 3. Mempunyai lubang aliran keluar untuk kran kebakaran pada ketinggian tertentu dari dasar tangki, sehingga persediaan minimum yang

diperlukan untuk sistem sprinkler otomatis dapat dipertahankan.

26

Perancangan Sprinkler

Gambar 2.6 Sambungan pipa yang melayani keperluan rumah tangga kran kebakaran, sprinkler otomatis pada tangki gravitasi. ( Sumber : SNI 03-3989-2000)

c. Tangki Bertekanan Tangki bertekanan yang direncanakan dengan baik dapat diterima sebagai sistem penyediaan air. Tangki bertekanan harus dilengkapi dengan suatu cara yang dibenarkan agar tekanan udara dapat diatur secara otomatis. Apabila tangki bertekanan merupakan satu-satunya system penyediaan air, system tersebut harus juga dilengkapi dengan alat tanda bahaya yang

memberikan peringatan apabila tekanan dan atau tinggi permukaan air dalam tangki turun melampaui batas yang ditentukan. Tanda bahaya harus dihubungkan dengan jaringan listrik yang terpisah dengan jaringan listrik yang melayani kompresor udara. Tangki bertekanan hanya boleh digunakan untuk melayani system sprinkler dan sistem slang kebakaran yang dihubungkan pada pemipaan sprinkler. Tangki bertekanan harus selalu terisi air 2/3 penuh, dan diberi tekanan udara ditambah dengan 3X tekanan yang disebabkan oleh berat air pada perpipaan system sprinkler diatas tangki kecuali ditetapkan lain oleh pejabat yang berwenang (SNI 03-3989-2000).

27

Perancangan Sprinkler

Gambar 2.7 Tangki bertekanan (Sumber : SNI 03-3989-2000)

d. Sambungan Pemadam Kebakaran Apabila disyaratkan harus disediakan sebuah sambungan yang memungkinkan petugas pemadam kebakaran memompakan air kedalam

system sprinkler, ukuran pipa minimum adalah 4 inch. Pipa berukuran 3 inch dapat digunakan, apabila dihubungkan dengan pipa tegak berukuran 3 inch juga. Sambungan pemadam kebakaran harus ditempatkan pada bagian sistem sprinkler didekat katup balik.

2.4 Persyaratan Khusus Untuk Berbagai Sistem Penyediaan Air. 2.4.1 Sistem Penyediaan Air Bersih Kota Sistem sprinkler dapat disambungkan pada jaringan air bersih kota yang dapat menyediakan air selama 24 jam dengan tekanan dan kapasitas yang cukup sesuai dengan persyaratan kapasitas aliran dan tekanan. Pipa kota yang dapat disambungkan pada sistem sprinkler adalah pipa kota yang mendapat aliran dari dua arah. Sistem sprinkler yang melayani sistem bahaya kebakaran sedang kelompok III dan sistem bahaya kebakaran berat dapat disambung pada pipa kota yang merupakan ujung buntu dan mempunyai ukuran minimum 6 inch. 28

Perancangan Sprinkler Sistem penyediaan air bersih kota yang mempunyai reservoir dengan daya tampung minimum 1000 m3, boleh disambungkan pada sistem sprinkler untuk sistem bahaya kebakaran berat. Untuk sistem bahaya kebakaran ringan, reservoir dengan daya tampung lebih kecil dari 1000 m3 masih diperbolehkan. Setiap katup penutup (selain katup penutup yang menjadi tanggung jawab PDAM) harus selalu diamankan dalam keadaan terbuka dan menjadi tanggung jawab pemilik gedung.

2.4.2 Sistem Tangki Gravitasi Tangki gravitasi yang dimaksud adalah tangki yang khusus dipasang di dalam gedung guna pemadam kebakaran. Tangki dipasang pada ketinggian sedemikian rupa sehingga dapat mengalirkan air dalam kapasitas dan tekanan cukup pada instalasi pemadam kebakaran. Apabila kapasitas tangki dibuat lebih besar dari yang disyaratkan, penggunaan air untuk keperluan lain tidak boleh mengurangi kapasitas yang disyaratkan untuk sprinkler. Pipa keluar untuk penggunaan lain, harus dipasang sedemikian rupa, sehingga air dalam tangki selalu tersisa sesuai dengan kapasitas yang disyaratkan untuk sprinkler. Tangki gravitasi harus dilengkapi dengan tanda tinggi muka air. Air dalam tangki harus selalu diusahakan bersih dan bebas dari bahan-bahan yang mengendap, tangki harus dibersihkan tiap 3 tahun sekali. Untuk memudahkan pembersihan harus disediakan tangga permanen. Sebuah tangki gravitasi tidak boleh dipakai sebagai penyediaan air untuk dua gedung dengan pemilik yang berlainan.

2.4.3 Sistem Pompa Otomatis Pompa kebakaran harus ditempatkan sedemikian rupa, sehingga mudah dicapai di dalam gedung atau ditempatkan di dalam bangunan tahan api di luar gedung. Pompa kebakaran tidak boleh digunakan untuk keperluan lain di luar keperluan kebakaran. (Dianjurkan pemasangan pompa kebakaran terpisah untuk keperluan instalasi slang kebakaran).

2.4.4 Pompa Listrik Tenaga listrik untuk menjalankan pompa harus dari aliran listrik yang dapat diandalkan, sebaiknya aliran listrik dari pembangkit listrik tenaga diesel yang

29

Perancangan Sprinkler disediakan khusus. Apabila listrik kota dapat diandalkan, kebutuhan listrik untuk pompa kebakaran dapat dipenuhi oleh aliran listrik kota. Daya listrik yang tersedia harus menjamin tenaga listrik yang dibutuhkan untuk menjalankan pompa setiap saat. Tiap tombol listrik yang melayani pompa kebakaran harus diberi tanda dengan jelas yang bertuliskan Pompa Kebakaran Jangan Dimatikan Waktu Kebakaran. Lampu tanda harus dipasang untuk menyatakan bahwa ada aliran listrik. Lampu tanda harus dipasang di dekat pompa sedemikian rupa, sehingga mudah dilihat oleh operator. Tanda yang dapat dilihat dan didengar untuk memberi peringatan apabila aliran listrik terputus harus dipasang pada panel start motor listrik pompa. Aliran listrik untuk tanda dimaksud harus dari aliran listrik lain yang melayani motor listrik. Apabila aliran listrik dari aki, maka aki harus dilengkapi dengan alat pengisi aki yang selalu mengisi setiap saat. Sekring berkapasitas tinggi harus dipasang untuk : 1. Melindungi kabel-kabel listrik yang disambung ke motor listrik 2. Melindungi motor listrik sesuai dengan standar yang berlaku.

2.4.5 Pompa Diesel Pompa dengan motor diesel disambung dengan kopling yang

memungkinkan masing- masing bagian dapat dilepas secara tersendiri. Ventilasi yang cukup harus diusahakan dalam ruang diesel untuk mengurangi panas dan memberikan aliran udara. Mesin yang digunakan harus dari jenis motor diesel dengan injeksi langsung yang dapat dijalankan tanpa menggunakan sumbu, busi pemanas, eter atau letupan. Kapasitas penuh harus dapat dicapai dalam waktu 15 detik sejak start. Penggunaan super charger atau turbo charger dengan pendingin udara atau air diperbolehkan. Pompa diesel harus dapat bekerja terus-menerus pada beban penuh untuk waktu 6 jam dan harus dilengkapi dengan alat pengatur kecepatan, dalam jangkauan 4,5% dari nilai kecepatan yang ditentukan pada keadaan nilai beban permulaan sampai beban penuh. Alat untuk mematikan mesin harus dilengkapi dengan alat manual dan kembali pada keadaan siap start secara otomatis. Tangki bahan bakar motor diesel harus dibuat dari baja yang di las. Tangki harus dipasang lebih tinggi dari pompa bahan bakar (pompa injeksi diesel) untuk 30

Perancangan Sprinkler dapat mengalirkan secara gravitasi. Pada tangki harus dipasang alat yang dapat menunjukkan isi bahan bakar. Persediaan bahan bakar tambahan harus disediakan untuk waktu bekerja 6 jam disamping bahan bakar yang telah ada dalam tangki bahan bakar. Bila terdapat lebih dari satu motor, maka tiap motor harus mempunyai tangki bahan bakar dan pipa penyalur yang terpisah. Pipa penyalur bahan bakar tidak boleh dari bahan plastik. Katup pipa penyalur harus dipasang dekat tangki bahan bakar dan harus selalu dalam keadaan terbuka. Harus disediakan dua cara menjalankan motor: 1. Start otomatis dengan cara memasang motor starter yang dilayani oleh aki. Motor starter akan bekerja, apabila tekanan air dalam sistem sprinkler turun. Kapasitas aki harus sedemikian rupa, sehingga mampu untuk menghidupkan motor starter 10 kali berturut-turut tanpa pengisian kembali. 2. Start manual dengan cara engkol apabila motor tidak besar atau motor starter yang dihidupkan secara manual. Catatan : Motor starter untuk start otomatis dapat juga dipakai untuk start manual apabila disediakan dua aki untuk masing-masing penggunaan. Pengisian aki harus dilakukan secara perlahan-lahan. Alat pengisi aki harus dilengkapi dengan sakelar untuk memilih pengisian cepat.Alat pengisi aki harus dapat mengisi dua aki bersama-sama.Harus selalu disediakan suku cadang yang terdiri dari : a) Dua set saringan bahan bakar b) Dua set saringan minyak pelumas lengkap dengan karet perapat (seal) c) Dua set tali kipas (bila digunakan tali kipas) d) Satu set kopling lengkap, gasket-gasket, slang-slang e) Dua set pengabut bahan bakar. f) Motor harus dijalankan tiap minggu sekali selama sekurang-kurangnya 10 menit.

31

Perancangan Sprinkler 2.5 Penempatan dan Letak Kepala Sprinkler 2.5.1 Penempatan Kepala Sprinkler Penempatan kepala sprinkler didasarkan luas lingkup maksimum tiap kepala sprinkler di dalam satu deret dan jarak maksimum deretan yang berdekatan.

2.5.2 Bahaya Kebakaran Ringan a) Luas lingkup maksimum tiap kepala sprinkler : 1. Sprinkler dinding 17 m2 2. Sprinkler lain 20 m2

Gambar 2.8. Penempatan dan Letak Kepala Sprinkler

(Sumber : SNI 03-3989- 2000)

32

Perancangan Sprinkler

Gambar 2.9. Penempatan Dan Letak Kepala Sprinkler Selang-seling (Sumber : SNI 03-3989- 2000)

b) Jarak maksimum antara kepala sprinkler dalam satu deretan dan jarak maksimum antara deretan yang berdekatan : 1. Sprinkler dinding 2. Sprinkler lain 4,6 m Di bagian tertentu dari bangunan bahaya kebakaran ringan seperti : ruang langit-langit, ruang besmen, ruang ketel uap, dapur, ruang binatu, gudang, ruang kerja bengkel dan sebagainya, luas maksimum dibatasi menjadi sebesar 9 m2 tiap kepala sprinkler dan jarak maksimum antara kepala sprinkler 3,7 m. 2.5.3 Bahaya Kebakaran Sedang a) Luas lingkup maksimum tiap kepala sprinkler : 1. Sprinkler dinding 9 m2 2. Sprinkler lain 12 m2 b) Jarak maksimum kepala sprinkler dalam satu deretan dan jarak maksimum deretan yang berdekatan : 33

Perancangan Sprinkler 1. Sprinkler dinding 2. Sprinkler lain : a. Jika penempatan standar 4 m b. Jika kepala sprinkler dipasang selang seling : jarak maksimum antara kepala sprinkler 4,6 m Jarak maksimum pipa cabang 4,0 m Untuk gudang pendingin yang memakai metode pendingin dengan sirkulasi udara, penggilingan padi, studio film, panggung pada gedung pertunjukan, luas lingkup maksimum tiap kepala sprinkler 9 m2 dan jarak maksimum antara kepala sprinkler 3 m. Pengaturan penempatan kepala sprinkler selang-seling pada sistem bahaya kebakaran sedang, dimaksudkan untuk menempatkan kepala sprinkler terpisah sejauh lebih dari 4 meter pada pipa cabang. S = Perencanaan penempatan kepala sprinkler pada pipa cabang maksimum 4,6 m D = Jarak antara kepala sprinkler maksimum 4,0 m (sumber: SNI 03-3989-2000)

2.5.4 Bahaya Kebakaran Berat a) Luas lingkup maksimum tiap kepala sprinkler : 1. Umum 9 m2 2. Dalam rak penyimpanan : a. Dengan satu jajar sprinkler 10 m2 b. Dengan dua jajar sprinkler 7,5 m2 c. Jarak maksimum antara kepala sprinkler dalam satu deretan dan jarak maksimum deretan yang berdekatan : 1). umum 3,7 m2 2). dalam rak penyimpanan 2,5 m2 Catatan : Jika dipasang lebih dari satu lapisan sprinkler dalam rak penyimpanan, penempatan kepala sprinkler dilapis berikutnya harus diselangseling.

34

Perancangan Sprinkler 2.6 Jarak Maksimum Untuk Penempatan Kepala Sprinkler Dinding Samping 2.6.1 Sepanjang Dinding Sistem bahaya kebakaran ringan 4,6 m. Sistem bahaya kebakaran sedang : 1. 3,4 m (langit-langit tidak tahan api) 2. 3,7 m (langit-langit tahan api) 2.6.2 Dari Ujung Dinding Sistem bahaya kebakaran ringan 2,3 m Sistem bahaya kebakaran sedang 1,8 m 2.6.3 Jumlah Deretan Kepala Sprinkler a) Untuk ruangan yang lebarnya lebih kecil atau sama dengan 3,7 m, cukup dilengkapi dengan sederet sprinkler sepanjang ruangan. Untuk ruangan yang lebarnya antara 3,7 m sampai 7,4 m harus dilengkapi dengan deretan sprinkler sepanjang ruangan pada tiap sisinya. b) Untuk ruangan yang panjangnya lebih dari 9,2 m (bahaya kebakaran ringan) atau lebih dari 7,4 m (bahaya kebakaran sedang) deretan sprinkler harus dipasang selang-seling, sehingga setiap kepala sprinkler terletak pada garis tengah antara dua kepala sprinkler yang berhadapan. c) Untuk ruangan yang lebarnya lebih dari 7,4 m deretan kepala sprinkler jenis konvensional (dipasang pada langit-langit) harus dipasang pada langit-langit di tengah-tengah antara dua deret kepala sprinkler sebagai tambahan.

2.7 Kepala Sprinkler 2.7.1 Kapasitas Pancaran a) Perhitungan kapasitas pancaran air di kepala sprinkler. Untuk menghitung kapasitas pancaran air di kepala sprinkler, berlaku rumus: Q = kP

dimana : Q K = kapasitas pancaran tiap kepala sprinkler, dalam liter/menit. = konstanta yang ditentukan oleh ukuran nominal lubang kepala

sprinkler. P = tekanan air di kepala sprinkler dalam kg/cm2.

35

Perancangan Sprinkler b) Ukuran lubang kepala sprinkler. Ukuran nominal lubang kepala sprinkler yang dibenarkan untuk masingmasing sistem bahaya kebakaran adalah sebagai berikut : Tabel 2.2 Ukuran lubang kepala sprinkler No. Klasifikasi bahaya kebakaran Ukuran nominal lubang kepala sprinkler (mm) 10 15 20

1 Sistem bahaya kebakaran ringan 2 Sistem bahaya kebakaran sedang 3 Sistem bahaya kebakaran berat Sumber : SNI 03-3989- 2000 c) Konstanta k.

Konstanta k untuk ketiga ukuran lubang kepala sprinkler tersebut di atas adalah sebagai berikut: Tabel 2.3 Konstanta Ukuran nominal lubang kepala sprinkler (mm) 1 10 2 15 3 20 Sumber : SNI 03-3989- 2000 No. 2.7.2 Jumlah Maksimum Kepala Sprinkler Jumlah maksimum kepala sprinkler yang dapat dipasang pada satu katup kendali adalah : Tabel 2.4 Jumlah maksimum kepala sprinkler Klasifikasi bahaya kebakaran Sistem bahaya kebakaran ringan Sistem bahaya kebakaran sedang Sistem bahaya kebakaran berat
Sumber : SNI 03-3989- 2000

Konstanta k 575% 805% 1155%

Jumlah kepala sprinkler (buah) 500 1000 1000

Catatan : Jumlah kepala sprinkler di tempat tertutup dapat diabaikan.

2.7.3

Persediaan Kepala Sprinkler Cadangan Persediaan kepala sprinkler cadangan dan kunci kepala sprinkler harus disimpan dalam satu kotak khusus yang ditempatkan dalam ruangan yang setiap suhunya tidak lebih dari 380C. Persediaan kepala sprinkler cadangan tersebut paling sedikit adalah sebagai berikut : 36

Perancangan Sprinkler Tabel 2.5 Persediaan Kepala Sprinkler Cadangan No. Klasifikasi bahaya kebakaran Persediaan kepala sprinkler cadangan 6 24 36

1 Sistem bahaya kebakaran ringan 2 Sistem bahaya kebakaran sedang 3 Sistem bahaya kebakaran berat Sumber : SNI 03-3989- 2000 Catatan :

a. Persediaan kepala sprinkler cadangan harus meliputi semua jenis dan tingkat suhu dari kepala sprinkler yang terpasang. b. Apabila terdapat lebih dari 2 sistem, maka jumlah persediaan sprinkler cadangan harus ditambah 50% dari ketentuan tersebut di atas.

2.8 Syarat dan Ketentuan Perencanaan 1. Jarak antar sprinkler a. Kebakaran ringan b. Kebakaran sedang I c. Kebakaran sedang II d. Kebakaan sedang III e. Kebakaran berat 2. Daerah kerja maksimum a. Kebakaran ringan b. Kebakaran sedang I c. Kebakaran sedang II d. Kebakaran sedang III e. Kebakaran berat 3. Kepadatan pancaran a. Kebakaran ringan b. Kebakaran sedang I c. Kebakaran sedang II d. Kebakaran sedang III e. Kebakaran berat : 2,5 m/ detik : 5 m/ detik : 5 m/ detik : 5 m/ detik : 7,5-12,5 m/ detik : 84 m2 : 72 m2 : 144 m2 : 216 m2 : 260 m2 : 4,6 m :4m : 3,5 m :3m :3m

4. Jumlah sprinkler maksimum per katup kendali a. Kebakaran ringan b. Kebakaran sedang I : 500 buah : 1000 buah 37

Perancangan Sprinkler c. Kebakaran sedang II d. Kebakaran sedang III e. Kebakaran berat 5. Cadangan sprinkler a. Kebakaran ringan b. Kebakaran sedang I c. Kebakaran sedang II d. Kebakaran sedang III e. Kebakaran berat 6. Ukuran nominal nozel a. Kebakaran ringan b. Kebakaran sedang I c. Kebakaran sedang II d. Kebakaran sedang III e. Kebakaran berat : 10 mm : 15 mm : 15 mm : 15 mm : 20 mm : 6 buah : 24 buah : 24 buah : 24 buah : 36 buah : 1000 buah : 1000 buah : Sesuai perhitungan hidrostatik

2.9 Perhitungan Jumlah Sprinkler Dalam melakukan perhitungan jumlah sprinkler, maka perlu mencari jarak antar sprinkler dan jarak kepala sprinkler ke dinding. 1. Jarak antar sprinkler

R x R x

x = jarak antar kepala sprinkler overlap R = jari-jari pancaran sprinkler

38

Perancangan Sprinkler 2. Jarak kepala sprinkler ke dinding

x = jarak kepala sprinkler ke dinding R = jari-jari pancaran sprinkler

x R

Jarak kepala sprinkler ke dinding tidak boleh melebihi 1,7 m. Kemudian dilakukan penghitungan jarak kepala sprinkler ke dinding untuk perbandingan

2.10 Pompa 2.10.1 Fungsi dan Cara Kerja Pompa a. Pompa sprinkler terdiri dari 1 buah pompa hidran listrik sebagai pompa utama, digunakan bila tekanan/pressure tank turun setelah jocky pump tidak sanggup lagi mengatasi (jocky pumpakan mati sesuai dengan setting pressure tank) maka main pump akan bekerja. b. 1 buah pompa diesel sebagai cadangan digunakan bila terjadi kebakaran dan pompa mengalami kerusakan atau gagal operasional (listrik padam) dan pompa utama serta jocky pump berhenti bekerja mensuplai air maka diesel fire pumpakan melakukan start secara otomatis berdasarkan pressure switch. Bekerjanya diesel fire pump secara otomatis menggunakan panel diesel starter. Panel ini juga melakukan pengisian accu/men-charger accu dan dapat bekerja secara manual dengan kunci starter pada diesel tersebut. Untuk perawatan pada diesel fire pump ini dengan pemanasan setiap minggu (2x pemanasan). Selain dilakukan pemanasan, diesel dilakukan 39

Perancangan Sprinkler pemeriksaan pada accu, pendingin air (air radiator), dan pengecekan pada pelumas mesin (oli mesin). c. 1 buah pompa pacu (jocky pump) digunakan untuk menstabilkan tekanan air pada pipa dan pressure tank.

2.10.2 Kapasitas Pompa Kapasitas pompa adalah kemampuan pompa untuk mengalirkan fluida (cair atau gas) dalam waktu tertentu. Kapasitas pompa dipengaruhi oleh jumlah fluida yang dialirkan, nilai laju aliran fluida dan hambatan lain dalam aliran fluida. Kapasitas pompa dapat dispesifikasikan menjadi: 2.10.2.1 Head Head adalah energi mekanik yang terkandung dalam satu satuan berat jenis zat cair yang mengalir atau energi tiap satuan berat. Head dari instalasi pompa dapat dibedakan menjadi head statis dan head dinamis. Head terdiri dari dua bagian, antara lain: a. Head Total Pompa Head total pompa yang harus disediakan untuk mengalirkan jumlah air dapat ditentukan berdasarkan kondisi instalasi yang akan dilayani oleh pompa. Head total pompa dapat ditulis sebagai berikut: H = Ha + hp + H1 + H H1 : Head total (m) : Kerugian head di pipa, katup, belokan dan sambungan (m)

hp : Perbedaan tekanan yang bekerja pada kedua permukaan air (m) Ha : Head statis total (m) Head ini adalah perbedaan tinggi antara muka air disisi keluar dan sisi isap, tanda positif dipakai apabila muka air disisi keluar lebih tinggi dari pada sisi isap. b. Head Kerugian 1. Kerugian Gesekan dalam Pipa (Major Losses) Kerugian gesekan didalam pipa bergantung pada panjang pipa. Untuk menghitung besarnya kerugian akibat gesekan didalam pipa digunakan persamaan: 40

Perancangan Sprinkler

hf f

L V2 D 2. g

Hf : Head karena kerugian gesekan friction (m) L : Panjang saluran (m) D : Diameter dalam saluran (m) V : Kecepatan rerata aliran (m/s) g : kecepatan grafitasi (m/s2) f :Koefisien kerugian gesekan (Bilangan Reynold/Re) *Ket: Nilai f dapat dilihat pada (Sumber: Sularso, Tahara. 2004. Pompa dan Kompresor: Pemilihan, Pemakainan dan Pemeliharaan. Pradnya Paramita) 2. Kerugian Karena Perubahan Bentuk Geometri (Minor Losses) a. Kerugian head pada katup (valve) Kerugian head pada katup dapat ditulis sebagai berikut: hf = k hf : Head karena kerugian gesekan friction (m) V : Kecepatan rata-rata aliran (m/s) g : kecepatan grafitasi (m/s2) k :Koefisien kerugian gesekan (Bilangan Reynold/Re) (Sumber: Sularso,Tahara. 2004. Pompa dan Kompresor. Jakarta. PT Pradnya Paramita) Jakarta. PT

b. Kerugian head pada fitting Dalam aliran melalui jalur pipa, kerugian akibat gesekan juga akan terjadi apabila ukuran pipa, bentuk penampang, belokan, dan arah aliran berubah. Kerugian head transisi tersebut dinyatakan dalam rumus: hf = f x Untuk mendapatkan nilai f, maka dapat digunakan persamaan dibawah ini:

41

Perancangan Sprinkler f = 0.131 + 1.847 [ ]3.5[ ]0.5 d R V g f : Diameter dalam saluran (m) : jari-jari lengkungan sumbu belokan (m) : Kecepatan rerata aliran (m/s) : kecepatan grafitasi (m/s2) :Koefisien kerugian gesekan (Bilangan Reynold/Re) : Sudut belokan (derajat) 3. Kerugian Head Pada Nozel Kerugian head untuk pengecilan mendadak dapat

dinyatakan dengan rumus: hf = Hf d V g : Head karena kerugian gesekan friction (m) : Diameter dalam saluran (m) : Kecepatan rerata aliran (m/s) : Kecepatan Gravitasi (m/s2) dan Kompresor:

(Sumber: Sularso, Tahara. 2004. Pompa

Pemilihan, Pemakainan dan Pemeliharaan. Jakarta. PT Pradnya Paramita) 4. Kerugian head Pada Selang Berdasarkan pada SNI 03-1745-2000 Tentang Tata Cara Perencanaan dan Pemasangan Sistem Pipa Tegak dan Selang Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung, dijelaskan bahwa dalam menentukan tekanan pada outlet sambungan selang yang jauh. Faktor hilangnya tekanan pada katup selang perlu dipertimbangkan. Pada operasi pipa tegak, hilangnya tekanan akibat gesekan pada selang, dapat mengakibatkan tidak tercapainya tekan 6,9 bar (100 psi pada nozel) Pada system pipa tegak yang tinggi yang dilengkapi dengan katup penurunan tekan, petugas pemadam kebakaran hanya dapat sedikit mengatur atau sama sekali tidak dapat mengatur tekanan keluaran katup selang. Kerugian gesekan pada aliran dalam selang dapat dilihat pada 42

Perancangan Sprinkler

hf= hf P g : Head karena kerugian gesekan friction (m) : Kerugian gesekan dalam selang (kg/ms2) : Massa jenis zat cair (kg/m3) : Kecepatan Gravitasi (m/s2) Sularso,Tahara. 2004. Pompa dan Kompresor:

(Sumber:

Pemilihan, Pemakainan dan Pemeliharaan. Jakarta. PT Pradnya Paramita)

2.10.2.2 Daya Poros dan Efisiensi Pompa a. Daya air Energi yang secara efektif diterima oleh air dari pompa persatuan waktu daya air yang dapat ditulis sebagai berikut: Pw = x g x Qx Hp b. Daya poros Daya poros yang diperlukan untuk menggerakkan sebuah pompa adalah sama dengan daya air ditambah kerugian daya didalam pompa. Daya ini dapat dinyatakan sebagai berikut: P p = Pw/p

Pw : Daya poros sebuah pompa (kW) : Efisiensi pompa

43

Perancangan Sprinkler

BAB 3 METODOLOGI
3.1 Flow Chat Perencanaan dan Perancangan Sprinkler Mulai

Pengumpulan data

Studi Lapangan 1. Luas Area Bangunan 2. Lay Out Bangunan 3. Fungsi Bangunan

1. 2. 3. 4.

Studi Literatur Standar NFPA 14 SNI 03-1745-2000 SNI 03-3989-2000 SNI 03-6570-2001 -

Perancangan Sringkler 1. Klasifikasi hunian 2. Perhitungan bangunan (area) yang dilindungi 3. Perhitungan kebutuhan sprinkler 4. Perancangan Reservoir 5. Perhitungan Kebutuhan air 6. Daya pompa yang digunakan

Kesimpulan dan Saran

Selesai Gambar 3.1 Flow Chat Perencanaan dan Perancangan Springkler

44

Perancangan Sprinkler 3.2 Perancangan Sprinkler Langkah-langkah perancangan sprinkle adalah sebagai berikut : 3.2.1. Pengumpulan Data Pengumpulan data merupakan langkah awal dalam perencanaan dan dan perancangan sprinkler. Data awal yang dibutuhkan adalah studi lapangan yang terdiri dari luas area bangunan, layout ruangan dan fungsi ruangan. Selain itu dalam pengumpulan data ini juga melakukan studi literatur yang terdiri dari standar NFPA 14, SNI 03-1745-2000, SNI 03-3989-2000 dan SNI 03-6570-2001 yang digunakan sebagai acuan / standart dalam perencanaan dan perancangan sprinkler. 3.2.2. Klasifikasi hunian Dalam klasifikasi hunian ini untuk bangunan hotel Swiss-Belinn Malang termasuk dalam hunian bahaya kebakaran ringan. Namun di area banguan hotel ini juga terdapat parkiran mobil dan motor. Sedangkan klasifikasi hunian untuk parkir mobil dan motor termasuk dalam bahaya kebakaran sedang I. Serta terdapat syarat yang harus dipenuhi dalam setiap klasifikasi hunian bahaya kebakaran. 3.2.3. Perhitungan bangunan yang dilindungi Perhitungan bangunan atau area yang dilindungi adalah dihitung berdasarkan klasifikasi hunian. Dimana untuk area hotel hotel Swiss-Belinn Malang terdapat dua klasifikasi bahaya kebakaran yaitu, bahaya kebakaran ringan dan bahaya kebakaran sedang I. 3.2.4. Perhitungan kebutuhan sprinkler Perhitungan kebutuhan sprinkel berdasarkan syarat perancangan klasifikasi hunian bahaya kebakaran sesuai SNI 03-3989-2000. 3.2.5. Perancangan Reservoir Perancangan reservor meliputi dimensi reservoir yang digunakan panjang, lebar dan tinngi reservoir seta penentuan volume reservoir yang sesuai standart dalam hal pemadaman kebakaran. 3.2.6. Perhitungan Kebutuhan Air Kebutuhan air untuk sprinkler dalam waktu 30 menit Q adalah 300 L/menit sesuai dengan SNI 03-3989-2000 untuk bahaya kebakaran ringan. Sedangkan bahaya kebakaran sedang I kebutuhan air Q adalah 375 L/menit.

45

Perancangan Sprinkler 3.2.7. Daya Pompa yang Digunakan Daya pompa didapat dari perhitungan sebagai berikut: Daya Pompa= g Q Htotal Dimana : = Massa jenis air g = Percepatan grafitasi Q = Debit air H = Head Loss Total 3.2.8. Kesimpulan dan Saran Kesimpulan dan saran dalam perancangan sprinkler dapat digunakan untuk memberikan masukan dalam perancangan selanjutnya agar bisa lebih baik. Selain itu perancangan yang sudah sesuai standart dapat membuat suatu gedung atau area dapat menanggulangi kebakaran dengan cepat.

46

Perancangan Sprinkler

BAB 4 PERANCANGAN SPRINKLER


4.1. Klasifikasi Hunian Berdasarkan SNI 03-3989-2000 (halaman 7-8) untuk bangunan hotel total ini termasuk dalam klasifikasi hunian bahaya kebakaran ringan dan sedang I. a. Bangunan Hotel Hunian bahaya kebakaran ringan adalah macam hunian yang mempunyai jumlah dan kemudahan terbakar rendah dan apabila terjadi kebakaran melepaskan panas rendah, sehingga menjalarnya api lambat. b. Parkir Motor dan Mobil Hunian bahaya kebakaran sedang kelompok I adalah macam hunian yang mempunyai jumlah dan kemudahan terbakar sedang, penimbunan bahan yang mudah terbakar dengan tinggi tidak lebih dari 2,5 m dan apabila terjadi kebakaran melepaskan panas sedang, sehingga menjalarnya api sedang.

4.2. Ruangan Yang Tidak Perlu Dilindungi Semua ruang dalam gedung harus dilindungi dengan sistem sprinkler, kecuali ruang tertentu yang telah mendapat izin dari pihak yang berwenang berdasarkan SNI 033989-2000 (halaman 9) seperti : a. ruang tahan api, b. kamar kakus, c. ruang panel listrik, d. ruangan tangga dan ruangan lain yang dibuat khusus tahan api.

4.3. Perancangan Sprinkler Berdasarkan Klasifikasi Hunian Berdasarkan SNI 03-3989-2000 syarat yang harus dipenuhi untuk setiap hunian bahaya kebakaran berbeda, seperti yang terteta dibawah ini a. Sistem Bahaya Kebakaran Ringan Kepadatan pancaran yang direncanakan 2,25 mm/menit*
2 Daerah kerja maksimum yang diperkirakan : 84 m *

47

Perancangan Sprinkler Penyediaan air harus mampu mengalirkan air dengan kapasitas 225 liter/menit
2

dan bertekanan 2,2 kg/cm ditambah tekanan air yang ekivalen dengan perbedaan tinggi antara katup kendali dengan sprinkler tertinggi **
2

Luas lingkup maksimum tiap kepala sprinkler, untuk sprinkler dinding 17 m


2 dan sprinkler lain 20 m ***

Jarak kepala sprinkler dengan pipa (S) 4,5 m *** Jarak kepala sprinkler dengan kepala sprinkler lainnya (D) 3,8 m ***

b. Sistem Bahaya Kebakaran Sedang I Kepadatan pancaran yang direncanakan 5 mm/menit *


2 Daerah kerja maksimum yang diperkirakan 72 ~ 360 m *

Penyediaan air harus mampu mengalirkan air dengan kapasitas 375 liter/menit
2

dan bertekanan 1,0 kg/cm atau kapasitas 540 liter/menit dan bertekanan 0,7
2

kg/cm ditambah tekanan air yang ekivalen dengan perbedaan tinggi antara katup kendali dengan sprinkler tertinggi. **
2

Luas lingkup maksimum tiap kepala sprinkler untuk sprinkler dinding 9 m dan
2 sprinkler lain 12 m ***

Jarak kepala sprinkler dengan pipa (S) 3,5 m *** Jarak kepala sprinkler dengan kepala sprinkler lainnya (D) 3,6 m ***

Keterangan : (*) (**) (***) : SNI 03-3989-2000 halaman 5 : SNI 03-3989-2000 halaman 14-15 : SNI 03-3989-2000 halaman 28

48

Perancangan Sprinkler 4.4. Perhitungan Kebutuhan Sprinkler Perhitungan kebutuhan sprinkel berdasarkan syarat perancangan klasifikasi hunian bahaya kebakaran sesuai SNI 03-3989-2000. Untuk perancangan awal sistem sprinkler sebagai berikut: a. Arah pancaran kebawah, kepala sprinkler diletakkan pada atap ruangan b. Kepekaan terhadap suhu 68OC 74OC dengan warna cairan dalam tabung gelas berwarna merah. c. Menentukan jarak 2 sprinkler maksimum dengan overlap A A r2 r r = 20m2 (hunian kebakaran ringan) = r2 =20/ = = 2.5 m

20m2 = r2

d. Perencanaan jarak sprinkler Jarak antar sprinkler maksimum (S) = 4,5 m (untuk diameter pipa cabang 2) Jarak antar pipa cabang (D) e. Perhitungan jumlah sprinkler Loby S D Luas Loby = 4,5 m = 3,8 m = 166,3 m2 = 3,8 m

49

Perancangan Sprinkler Tabel 4.1 Kebutuhan Sprinkler Untuk Lantai Ground Nama Bangunan Kantor Security Kantor Receiv Kantor Cashier Kantor FB Kantor SM Kantor Sales FB Staff Kantor IT Kantor Fom Kantor Operator Kantor Reserv Kantor GM Pantry Bar Kantor EHK Kantor HK Kantor Acct Loby Bagasi Loker male Loker female Canteen General Store Kantor Ruang Pompa Ruang Genset Parkir Luas Bangunan (m2) 10,6 7,3 5,5 7,1 7 24,8 11,4 8,2 6,6 6 11,4 13,9 50 5,7 30,5 19,9 166,3 11,9 31,8 44,18 32,2 50,6 32,8 69,7 58,3 4100 S (meter) 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 3,5 D (meter) 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,6 Jumlah Sprinkler 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 3 1 2 1 10 1 2 3 2 3 2 5 4 326 50

Perancangan Sprinkler Lanjutan Tabel 4.1 Kebutuhan Sprinkler Untuk Lantai Ground Nama Bangunan Coridoor 1 Coridoor 2 Coridoor 3 Coridoor 4 Luas Bangunan (m2) 21,7 19 10,8 11,9 S (meter) 4,5 4,5 4,5 4,5 D (meter) 3,8 3,8 3,8 3,8 Jumlah Sprinkler 2 2 1 1

Tabel 4.2 Kebutuhan Sprinkler Untuk Lantai 1 Tempat dalam Bangunan Ruang Meeting 1 Ruang Meeting 2 Ruang Meeting 3 Ruang Meeting 4 Ruang Meeting 5 Dapur Utama Restoran, VIP Restoran Indoor Restoran,Outdoor Fitnes Kamar Hotel Kantor HK Bqt Store Coridoor Meeting Room Coridoor Restoran Coridoor Lift Coridoor Kamar Luas Bangunan (m2) 75 75 75 75 75 83,7 66 171 102 28,4 13,9 x 25 kmr 18 36 48 26,8 13,6 57,3 S (meter) 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 D (meter) 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 Jumalah Sprinkler 5 5 5 5 5 5 4 10 6 2 1 x 25 2 3 3 2 1 4

51

Perancangan Sprinkler Tabel 4.3 Kebutuhan Sprinkler Untuk Lantai 2 Tempat dalam Bangunan Kamar Hotel Kantor HK Gudang 1 Gudang 2 Coridoor Kamar Coridoor Lift Luas Bangunan (m2) 13,9 x 26 kmr 12 12,1 10,6 57,3 9,3 S (meter) 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 D (meter) 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 Jumalah Sprinkler 1 x 26 1 1 1 4 1

Tabel 4.4 Kebutuhan Sprinkler Untuk Lantai 3 Tempat dalam Luas Bangunan S Bangunan (m2) (meter) Kamar Hotel Kantor HK Gudang 1 Gudang 2 Coridoor Kamar Coridoor Lift 13,9 x 26 kmr 12 12,1 10,6 57,3 9,3 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5

D (meter) 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8

Jumalah Sprinkler 1 x 26 1 1 1 4 1

Tabel 4.5 Kebutuhan Sprinkler Untuk Lantai 4 Tempat dalam Luas Bangunan S Bangunan (m2) (meter) Kamar Hotel Kantor HK Gudang 1 Gudang 2 Coridoor Kamar Coridoor Lift 13,9 x 26 kmr 12 12,1 10,6 57,3 9,3 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5

D (meter) 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8

Jumalah Sprinkler 1 x 26 1 1 1 4 1

52

Perancangan Sprinkler Tabel 4.6 Kebutuhan Sprinkler Untuk Lantai 5 Tempat dalam Luas Bangunan S Bangunan (m2) (meter) Kamar Hotel Kantor HK Gudang 1 Gudang 2 Coridoor Kamar Coridoor Lift 13,9 x 26 kmr 12 12,1 10,6 57,3 9,3 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5

D (meter) 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8

Jumalah Sprinkler 1 x 26 1 1 1 4 1

Tabel 4.7 Kebutuhan Sprinkler Untuk Lantai 7 Tempat dalam Luas Bangunan S Bangunan (m2) (meter) Kamar Hotel Kantor HK Gudang 1 Gudang 2 Coridoor Kamar Coridoor Lift 13,9 x 26 kmr 12 12,1 10,6 57,3 9,3 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5

D (meter) 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8

Jumalah Sprinkler 1 x 26 1 1 1 4 1

Tabel 4.8 Kebutuhan Sprinkler Untuk Lantai 8 Tempat dalam Luas Bangunan S Bangunan (m2) (meter) Luas Bangunan Ruang Tamu House keeping Gudang 1 Gudang 2 Coridoor Kamar Coridoor Lift 13,9 x 22 kmr 17,5 x 4 ruang 12 12,1 10,6 57,3 9,3 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5

D (meter) 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8 3,8

Jumalah Sprinkler 1 x 22 1x4 1 1 1 4 1

53

Perancangan Sprinkler Total Kebutuhan sprinkler untuk bangungan hotel ini secara keseluruhan ada 684 buah sprinkler. Dengan jarak rata-rata antar sepringkel 4,6 m sesuai dengan ketentuan SNI 03-3989-2000 halaman 28. 4.5. Penentuan Volume Reservoir Untuk Sprinkler Kebutuhan air untuk sprinkler dalam waktu 30 menit Q adalah 300 L/menit sesuai dengan SNI 03-3989-2000 untuk bahaya kebakaran ringan. Sedangkan bahaya kebakaran sedang I kebutuhan air Q adalah 375 L/menit. Karena bangunan hotel ini sebagian besar adalah termasuk dalam klasifikasi hunian bahaya kebakaran ringan, maka untuk perancangan reservoir sprinkler butuh ketersediaan air sebanyak dengan Q 300 L/menit. a Volume kebutuhan air sprinkler untuk kebakaran ringan Volume = Q x T (waktu) = 300 L/menit x 30 menit = 9000 L 9 m3 b Panjang pipa inlet direncanankan 2 m dengan perincian pipa yang tercelup air sepanjang 1,5 m dan free board 0,5 m c d Jarak antara dasar bak air sampai dengan pipa inlet adalah 1 m Dimensi bak reservoir untuk sprinkler Direncanakan dimensi reservoir panjang dan lebar sama

Total volume reservoir untuk sprinkler Sesuai yang dirancang adalah panjang dan lebarnya 2,5 meter sedangkan tinggi bak reservoir adalah 2 m. Volume bak reservoir untuk sprinkler Volume bak reservoir = panjang x lebar x (tinggi - freeboard) Volume bak reservoir = 2,5 m x 2,5 m x (2 m 0,5 m) Volume bak reservoir = 9,375 m3

54

Perancangan Sprinkler 4.6. Sistem Perpipaan Sprinkler Sistem perpipaan sesuai dengan standart SNI 03-3989-2000 adalah sebagai berikut; Pada pipa reservoir menuju ke pompa diberi valve ulir dimana valve ulir ini selalu dalam keadaan terbuka ketika sistem beroperasi. Ini bertujuan agar air tetap mengalir ke pompa. Valve ini hanya ditutp saat bak reservoir dilakukan pengurasan, ini bertujuan air air dalam sistem tetap bersih. Perpipaan setelah pompa dipasang valve ulir dan pressure gauge. Valve ulir ini dipasang dengan tujuan ketika pompa rusak valve bisa di tutup dan diperbaiki. Valve pressure gauge dipasang dengan tujuan untuk mengetahui besarnya tekanan dari aliran air waktu pemompaan. Dari ruang pompa, pipa utama kemudian dipasang menuju lantai ground dengan ditanam didalam tanah sedalam 75 cm (SNI 03-3989-2000) dari permukaan tanah dan diberi penyangga setiap jarak 3 meter. Sebelum masuk ke sistem sprinkler dipasang pressure regulator valve. Ini bertujuan untuk mengatur tekanan yang masuk ke sistem sprinkler agar sesuai dengan tekanan maksimum kepala sprinkler. Pressure diatur pada 1 bar untuk bahaya kebakaran ringan. Pipa sistem sprinkler dilewatkan ke atas menyusuri dinding. Pipa ini dinamakan pipa tegak, yang mana pipa tegak di clamp dengan kuat agar tidak terjadi goncangan saat air bertekanan mengalir. Jarak antar clamp untuk pipa tegak adalah 1 meter. Pipa cabang dipasang di atas plafon. Antara pipa tegak dan pipa percabangan terdapat selongsong dari pipa bajadilapisi plat baja yang tertanam di tembok. Ini bertujuan untuk penahan pipa antara pipa tegak dan pipa percabangan agar pipa tidak kontak langsung dengan dinding yang dapat mengakibatkan dinding rusak karena menahan berat pipa. Pipa cabang ini dibagi lagi menjadi beberapa pipa untuk memasang sistem sprinkler. Rancangan perpipaan diatas plafon diberi gantungan untuk menahan pipa dengan jarak antar gantungan pipa 3,5 m

4.7. Perhitungan Sistem Perpipaan Diketahui : = 999 kg/m3 Massa jenis air ()

Percepatan grafitasi (g) = 9,81 m/s2 55

Perancangan Sprinkler Debit air (Q) pipa inlet pipa outlet pipa percabangan = 300L/menit 0,3m3/menit = 6 0,1524 m = 4 0,1016 m = 2 0,0508 m

4.7.1 Pipa Inlet Luas pipa inlet = D2 /4 = (0,1524)2 /4 0,018 m2 Kecepatan aliran = Q / Luasan = 0,3 m3/menit : 0,018 m2 0,278 m/second Panjang pipa inlet total (L) adalah 6 m (pipa hisap ke pompa) Bahan Pipa Case Iron nilai (e) = 0,26 mm , maka e/D = 0,0017 sedangkan

Nilai friction factor (f) pada pipa inlet diameter 6 adalah 0,027 sumber gambar friction factor (Lampiran 1)

4.7.2 Pipa Outlet - Luas pipa inlet = D2 /4 = (0,1016)2 /4 0,008 m2 - Kecepatan aliran = Q / Luasan = 0,3 m3/menit : 0,008 m2 0,625 m/second - Panjang pipa outlet total (L) adalah 142,4 m (pipa hisap ke pompa) - Bahan Pipa Case Iron nilai (e) = 0,26 mm , maka e/D = 0,0026 sedangkan

- Nilai friction factor (f) pada pipa inlet diameter 4 adalah 0,024 sumber gambar friction factor (Lampiran 1)

56

Perancangan Sprinkler 4.7.3 Pipa Percabangan - Luas pipa inlet = D2 /4 = (0,0508)2 /4 0,00202 m2 - Kecepatan aliran = Q / Luasan = 0,3 m3/menit : 0,00202 m2 2,47 m/second - Panjang pipa percabangan total (L) adalah 24 m (titik terjauh untuk pipa percabangan berada pada lantai 1) - Bahan Pipa Case Iron nilai (e) = 0,26 mm , maka e/D = 0,0051 sedangkan

- Nilai friction factor (f) pada pipa inlet diameter 2 adalah 0,03 sumber gambar friction factor (Lampiran 1)

4.7.4 Perhitungan Head Head Statis Head perbedaan tinggi antara muka air sisi luar atau keluaran air pada kepala sprinkler tertinggi (Z2) dengan sisi inlet (Z1) sesuai dengan ukuran panjang pipa inlet pada bak reservoir Ha Ha Ha = Z2 Z1 = 38,4 1,5 = 36,9 meter

Head Tekanan P1 = tekanan pada pipa inlet =xgxh = 999 x 9,81 x (-1,5) m h (-) karena dilihat dari ketinggian hisap

= - 14700,285 P2 = tekanan maksimum sprinkler sebesar 1 bar (tekanan absolut) = tekanan absolut tekanan atm = 1 bar 1,013 bar = -0,013 bar x 105 -1300 57

Perancangan Sprinkler Htekanan = ( =( = 1,37 m (sumber: fluid mechanics hal 356) Head Loss Mayor - HL inlet =f = 0,027 = 0,00425meter - HL outlet =f = 0,024 = 0,66877meter - HL percabangan= f = 0,03 = 4,40721meter (sumber: fluid mechanics hal 357) Head Loss Minor Untuk head loss minor hanya terdapat pipa inlet dan pipa outlet dan untuk nilai Le/D didapat tabel representative dimension less equivalent lengths (Le/D) for valves and fittings - HL inlet = = = 0,0096 meter - HL outlet = = = 0,10034 meter (sumber: fluid mechanics hal 361) ) ) ( ( ) )

58

Perancangan Sprinkler Head Total Htotal = Hstatis + Htekanan + HLmayor +HLminor = 36,9 + 1,37 + 5,08 + 0,11 = 43,46 meter

4.8. Penentuan Sistem Pompa 4.8.1 Perhitungan Daya Pompa Diketahui : g Q = 999 = 9,81 = 300 L/menit selama 30 menit (hunian kebakaran ringan)

Htotal = 11,06 m Daya Pompa = g Q Htotal = 999 x 9,81 x 0,01 x 43,46 m

= 4259,1625 = 5,71 HP

= 4,2592 KWatt

4.8.2 Macam Pompa Yang Digunakan a. Pompa listrik dipakai sebagai pompa utama untuk melayani kebutuhan sistem sprinkler. b. Pompa diesel digunakan sebagai pompa cadangan ketika sumber daya listrik mati, sehingga secara otomatis pompa diesel siap beroperasi menggantikan peran pompa listrik. Ini dapat terjadi karena sistem pompa diinterlock dalam panel pompa kebakaran. c. Pompa listrik dan pompa diesel mempunyai kapasitas yang sama sehingga dapat bekerja secara bergantian dan tidak mempengaruhi sistem. Sedangkan pompa pacu mempunyai kapasitas antara 5 10 persen dari pompa listrik. d. Pompa pacu digunakan untuk menjaga agar tekanan dalam sistem tetap konstan. e. Untuk mengendalikan tekanan pada sistem ini, dipakai pressure switch untuk mengendalikan masing-masing pompa tersebut. Jadi digunakan 3 pressure switch untuk sistem pompa : - 1 buah pressure switch untuk pompa listrik - 1 buah pressure switch untuk pompa diesel 59

Perancangan Sprinkler - 1 buah pressure switch untuk pompa pacu f. Untuk pompa listrik dan pompa diesel diset pada P start = 4 bar, dimana pompa akan mulai jalan atau start bila tekanan pada sistem turun sampai dengan 4 bar. Dan bila pada saat itu sumber listrik mati, maka pompa diesel akan start. g. Sedangkan pompa pacu diset pada P start = 5 bar dan P stop = 7 bar, dimana pompa pacu akan start saat tekanan dalam sistem turun sampai dengan 5 bar. Dan pompa pacu akan berhenti saat tekanan dalam system telah mencapai 7 bar. h. Disamping pompa-pompa tersebut dapat start secara otomatis melalui pressure switch, dalam panel pompa juga terdapat sarana untuk menstart pompa secara manual. Jadi dalam panel pompa ada switch untuk mengoperasikan sistem secara manual maupun otomatis.

60

Perancangan Sprinkler

BAB 5 KESIMPULAN
1.1. Kesimpulan a. Klasifikasi hunian yang digunakan pada hotel Swiss-Belinn Malang adalah Hunian bahaya kebakaran sedang kelompok I untuk area parkir dan hunian bahaya kebakaran ringan untuk bangunan gedung Swiss-Belinn Malang. b. Perhitungan kebutuhan sprinkel berdasarkan syarat perancangan klasifikasi hunian bahaya kebakaran sesuai SNI 03-3989-2000. Untuk perancangan awal sistem sprinkler sebagai berikut: Arah pancaran kebawah, kepala sprinkler diletakkan pada atap ruangan Kepekaan terhadap suhu 68OC 74OC dengan warna cairan dalam tabung gelas berwarna merah. - Menentukan jarak 2 sprinkler maksimum dengan overlap A A 20m2 r2 r r = 20m2 (hunian kebakaran ringan) = r2 = r2 =20/ = = 2.5 m = 4,5 m (untuk diameter pipa cabang 2) = 3,8 m

- Perencanaan jarak sprinkler Jarak antar sprinkler maksimum (S) Jarak antar pipa cabang (D) Perhitungan jumlah sprinkler Loby S D Luas Loby = 4,5 m = 3,8 m = 166,3 m2

c. Sprinkler yang digunakanadalah jenis suhu 68OC 74OC dengan warna cairan dalam tabung gelas berwarna merah. Jumlah sprinkler keseluruhan dari bangunan hotel Swiss-Belinn Malang adalah 684 buah sprinkler. 61

Perancangan Sprinkler d. Seluruh sprinkler akan di suplay air dari PDAM dan di tampung pada bak bervolume 9m3. Dialirkan melalui pipa berdiameter 4 inchi serta pipa cabang berdiameter 2 inchi dengan menggunakan pompa listrik berdaya 5,71 HP

1.2. Saran Dalam Tugas Perancangan Sistem Penanggulangan dan Penanggulangan Kebakaran pada bangunan hotel Swiss-Belinn Malang ini masih terdapat kekurangan yang mana nantinya dapat ditambahkan lagi. Untuk Saran yang perlu diperhatikan adalah : 1. Data - data layout sebaiknya di dokumentasikan sehingga apabila diperlukantidak kesulitan untuk mencari lagi. 2. Dalam pengaplikasikaan perencanaan APAR ini juga perlu diperhatikanmengenai prosedur pemeliharaan.

62