Anda di halaman 1dari 8

PROCEEDING SIMPOSIUM NASIONAL IATMI 2001 Yogyakarta, 3-5 Oktober 2001 ANALISA DAN EVALUASI TERJEPITNYA RANGKAIAN PIPA

PEMBORAN PADA INTERVAL 12 DAN 8 DI LAPANGAN MUDI, DEVON, TUBAN, JAWA-TIMUR Denis Rukmindar T. Perminyakan, USAKTI, Jakarta Kata Kunci : Terjepitnya rangkaian pipa pemboran , Hole Pack-Off, penentuan jenis jepitan. ABSTRAK Operasi pemboran yang dilakuka n tidak selalu berjalan dengan lancar, adakalanya timbul masalah yang dapat meng hambat jalannya operasi pemboran tersebut. Salah satu hambatan itu adalah terjep itnya rangkaian pemboran. Hambatan operasi pemboran pada sumur-sumur Mudi 1 samp ai Mudi 18, Tuban, Jawa Timur, Menyebabkan waktu operasi menjadi lebih lama dari yang direncanakan, serta meningkatnya biaya pemboran sampai dua kali lipat dari biaya yang dianggarkan. Hambatan pemboran berupa rangkaian terjepit oleh gugura n formasi ( Hole Pack-Off), merupakan hambatan utama yang terjadi pada interval 12 dan interval 8 , yaitu saat membor formasi Wonocolo dan Ngrayong dimana formasi ini didominasi oleh lapisan shale yang mempunyai sifat High pressure dan reactiv e shale dengan ekivalen berat lumpur MW 13.5-14.9 ppg, dan High Temperature yang mencapai 200 F. Kemudian pada interval 8 terjadi hambatan pemboran berupa hilang sirkulasi yaitu pada saat membor formasi Tuban Carbonate, dimana formasi ini ber sifat High Cavernous Porosity dengan ekivalen berat lumpur MW 8.9-10 ppg. Dari h asil analisa dan evaluasi hambatan pemboran tersebut, maka perlu dilakukan perub ahan program lumpur yaitu dari jenis lumpur Water base mud yang dipakai mulai Mu di-1, Mudi 5 dirubah menjadi Oil Base Mud yang diterapkan pada Mudi 7-Mudi 15 pa da interval 12 , serta dilakukan perubahan pada disain selubung, khususnya kedalam an sepatu selubung 9 5/8 pada interval 8 . Selain itu dari hasil analisa dan evalua si, dapat ditentukan jenis jepitan , metode-metode untuk mengatasi jepitan terse but serta pencegahan terjadinya jepitan. Sumur Mudi-16, menjadi sumur pertama ya ng menerapkan hasil dari analisa dan evaluasi tersebut, dan berhasil mengatasi p ermasalahan yang terjadi pada sumur-sumur sebelumnya, serta menghemat biaya pemb oran dari yang telah dianggarkan. Terdiri dari batu lempung dengan beberapa lapi san tipis batu gamping, dibagian atasnya terdapat sisipan batu pasir. 1875-5360 TV D Kawengan Formasi Formasi kawengan terdiri atas 2 anggota : 1. 1875-4650 TVD Angg ota Mundu Terdiri dari batu lempung gampingan dengan sisipan batu gamping , batu pasir dan batu lanau. 2. 4650-5360 TVD Anggota Ledok Terdiri dari batu gamping de ngan sisipan batu lempung, dimana keduanya banyak mengandung Globigerinid forami nifera 5360-7375 TVD Wonocolo Formasi Terdiri dari batu lempung gampingan selang s eling dengan batu gamping, batu lanau dan batu pasir. 7375-8527 TVD Ngrayong Forma si Terdiri dari batu lempung gampingan dengan sisipan batu pasir gampingan dan l apisan tipis batu gamping. 8527-8927 TVD Tuban Formasi Terdiri dari batu gamping d an mengandung banyak material algal, foraminifera dan fragmen bioclastic 2. TINJ AUAN HAMBATAN PEMBORAN Sumur-sumur pengembangan lapangan Mudi telah mencapai 18 sumur , dengan sumur Mudi Mudi-18 sebagai sumur terakhir. Sumur-sumur tersebut a dalah sumur berarah (Kecuali sumur Mudi-1,2,3,4,5), dengan target Top Tuban Carbo nate Reservoir pada kedalaman 9429 MD/8527 TVD. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Lapangan Mudi terletak di Tuban Block, Jawa T imur, 30 kilometer sebelah selatan dari kota Tuban. JOB Pertamina Santa FE Tuban ( sekarang Devon Tuban ), melakukan pengembangan lapangan Mudi untuk meningkatk an recovery mencapai 63 MMBO dengan produksi rata-rata 17000 BOPD sampai tahun 2 003. Tanpa melakukan pemboran sumur-sumur pengembangan, recovery lapangan Mudi h anya 24 MMBO. Sumur sumur pengembangan yang berjumlah 18 sumur pada lapangan Mudi merupakan sumur berarah ( kecuali sumur Mudi-1,2,3,4,5) dengan target top Tuban Carbonate Reservoir di kedalaman 9429 MD/8527 TVD. Selama melakukan pemboran berar ah, selalu terjadi hambatan pemboran, khususnya pada interval 12 yang menembus fo rmasi Ngrayong dengan lapisan shale yang bersifat Reactive dan High Pressure Shal e yang diikuti oleh High Temperature , kemudian Low Pressure Formation pada form asi tuban Carbonate di interval 8 1.2. Geologi Permukaan 1425 TVD Alluvium ( Hole ocene ) Terdiri dari batu pasir berbutir sangat halus , dengan sisipan batu lana u dan batu lempung. 1425-1875 TVD Lidah Formasi

IATMI 2001-31

Analisa dan Evaluasi Terjepitnya Rangkaian Pipa Pemboran pada Interval 12 dan 8 di Lapangan Mudi, Devon, Tuban, Jawa-Timur Denis Rukmindar Selama pemboran sumur-sumur pada lapangan Mudi, hambatan pemboran selalu terjadi , dimana hambatan pemboran tersebut menjadikan biaya operasi pemboran meningkat . Hambatan pemboran yang terjadi pada sumur-sumur Mudi, dapat dikelompokan menja di 2 bagian, yaitu : 1. Hambatan pemboran berupa rangkaian terjepit oleh guguran formasi (Hole pack-Off ), merupakan hambatan utama yang terjadi pada interval 1 2-1/4 dan interval 8-1/2, yaitu saat membor formasi Wonocolo dan Ngrayong, dimana formasi ini didominasi oleh lapisan shale yang mempunyai sifat high pressure & r eactive shale dengan ekivalen berat lumpur 13.5-14.9 ppg dan High Temperature ya ng mencapai 200 F ( flow line ) 2. Hambatan pemboran berupa hilang sirkulasi yang terjadi pada interval 8-1/2 , yaitu saat membor formasi Tuban Carbonate sebagai Tuban reservoar , dimana formasi ini didominasi oleh lapisan limestone yang memi liki High Cavernous Porosity dengan ekivalen berat lumpur 8.9-10 PPG, (hilang si rkulasi tidak dibahas dalam paper ini) 2.1. Rangkaian Terjepit Interval 12 1/4 Dal am usaha mengatasi High pressure & Reactive shale dan High temperature pada inter val 12-1/4, pada Mudi-1 sampai Mudi-5, pemboran interval tersebut menggunakan wate r base mud ( KCL Polymer ), dimana terjadi rangkaian terjepit pada sumur Mudi-1, Mudi-3, Mudi-4, dan Mdui-5 ( side-track pada Mudi-1.3.4 ). Kemudian pada sumur Mudi-6 sampai Mudi-14, digunakan lumpur pemboran yang berbahan dasar minyak ( Oi l Base Mud ), dengan jenis HDF 2000 sintetis oil base mud. Penggunaan Oil Base M ud pada interval 12-1/4 walaupun dapat mencegah terjadinya guguran formasi shale, tapi tidak menghilangkan terjadinya rangkaian terjepit, Hal tersebut terlihat da ri sumur Mudi-6 sampai Mudi-14, terjadi rangkaian terjepit pada sumur Mudi-7, Mu di-12, dan Mudi-13 ( Sidetrack pada sumur Mudi-13), sedangkan pengecilan lubang ( tight spot), terjadi pada sumur Mudi-9, Mudi-10 dan Mudi-14. 2.2. Rangkaian Te rjepit Interval 8-1/2 Penempatan casing 9-5/8 100-300 ft diatas Tuban Carbonate, m enyebabkan masih terdapatnya lapisan shale yang bersifat High Pressure & Reactiv e Shale yang tidak terlapisi oleh casing 9-5/9. Untuk mengatasi masalah tersebut diatas, digunakan Water Base Mud ( KCL Polymer ). Penggunaan Water Base Mud tidak menghilangkan terjadinya rangkaian terjepit , yaitu pada sumur Mudi-9, Mudi-10 dan Mudi-14 ( side-track pada sumur Mudi-9 dan Mudi-14 ), sedangkan pengecilan l ubang terjadi pada sumur Mudi-13. 3. ANALISAN DAN EVALUASI Analisa dan evaluasi yang detail sangat dibutuhkan untuk dapat mengetahui dengan pasti penyebab dari hambatan pemboran serta langkah-langkah antisipasi guna mencegah hambatan. Analisa dan evaluasi yang dilakukan meliputi : 1. Analisa dan evaluasi hambatan pemboran 2. Analisa dan evaluasi program lumpur 3. Analisa dan evaluasi program casing 4. Analisa dan evaluasi cutting 5. Analisa dan evaluasi program hidrolika 6. Analisa dan evaluasi program directional drilling 3.1. Analisa Hambatan Pemb oran Analisa ini dilakukan untuk mengetahui jenis hambatan yang terjadi dengan m enganalisa indikasi sebelum hambatan jepitan terjadi Interval 12-1/4 Hambatan ran gkaian terjepit yang terjadi pada interval ini, diidentifiskasikan sebagai Hole Pack-Off atau lobang bor tertimbun kembali oleh runtuhan . Hal ini terbukti deng an terdapatnya tanda awal, waktu atau saat jepitan terjadi yang menunujukkan jen is jepitan adalah Hole Pack-Off , yaitu : 1. Pada saat bor, terjadi kenaikan dra g, torsi dan tekanan sirkulasi secara bertahap. 2. Pada saat cabut masuk rangkai an, terjadi kenaikan drag pada saat cabut maupun masuk rangkaian . 3. Pada saat rangkaian terjepit , terjadi hambatan untuk sirkulasi yang pada akhirnya tidak d apat dilakukan sirkulasi. 4. Terjadinya rangkaian terjepit pada saat koneksi dan cabutmasuk , dimana saat sirkulasi tidak dilakukan. Interval 8-1/2 Seperti pada interval 12-1/4, hambatan rangkaian terjepit yang terjadi pada interval 8-1/2, dii dentifikasikan sebagai hole pack-off atau lobang bor tertutup kembali oleh runtu han dengan indikasi yang sama seperti pada interval 12-1 4 . Runtuhan formasi sha le berasal dari lapisan Ngrayong sepanjang 100-300 ft yang tidak tertutup oleh c asing 9-5/8 dimana sepatu selubung 9-5/8 ditempatkan 100-3 ft diatas formasi Tuban Carbonate, sehingga shale pada lapisan tersebut bereaksi dengan lumpur KCL poly

mer ( water base mud ) yang digunakan. 3.2. Analisa Program Lumpur Analisa ini d ilakukan untuk mengetahui pengaruh lumpur pemboran terhadap jepitan yang terjadi . Interval 12-1/4 - Mudi 1 sampai Mudi 5 Jenis lumpur yang digunakan pada sumur M udi-1 sampai Mudi-5 adalah Water Base Mud dan formasi yang ditembus berupa lapis an lempung, sehingga lumpur yang dipergunakan bereaksi dengan lapisan lempung da n menyebabkan formasi lobang 12-1/4 runtuh. - Mudi 6 sampai Mudi-7 Jenis lumpur y ang digunakan pada sumur Mudi-6 sampai Mudi-14 berubah dari water base mud menja di oil base mud. Penggunaan oil base mud pada interval 12-1/4, walaupun dapat men cegah terjadinya guguran formasi shale, tetapi tidak menghilangkan terjadinya ra ngkaian terjepit. IATMI 2001-31

Analisa dan Evaluasi Terjepitnya Rangkaian Pipa Pemboran pada Interval 12 dan 8 di Lapangan Mudi, Devon, Tuban, Jawa-Timur Denis Rukmindar Interval 8-1/2 Pada interval 8-1/2 dari sumur Mudi-1 sampai Mudi-14 menggunakan je nis lumpur water base mud. Water base mud yang dipergunakan ini bereaksi dengan lapisan shale yang tidak tertutup oleh casing 9-5/8 sehingga menyebabkan jepitan pada rangkaian pemboran.Pada beberapa sumur, penggunaan KCL poymer menunjukkan k eberhasilan , dalam arti tidak terjadi shale problem selama pemboran, tetapi pad a sumur Mudi-9,10 dan 14 terjadi shale problem, bahkan pada Mudi-9 dan 14 diguna kan oil base mud untuk menembus lapisan shale. 3.3. Analisa Program Casing Anali sa ini dilakukan, untuk melihat peran casing dalam mengurangi hambatan pemboran. Penempatan casing shoe 9-5/8 menjadi masalah utama pada saat melakukan pengebora n lobang 8-1/2" dimana casing 95/8 ini diset 100-300 ft diatas Tuban Carbonate, se hingga masih terdapat lapisan shale yang terbuka dan bereaksi dengan lumpur KCL polymer (water base mud) yang dipergunakan. 3.4. Analisa Cutting Analisa cutting ini dilakukan untuk melihat seberapa jauh pengaruh cutting terhadap hambatan pe mboran Berdasarkan hasil analisa cutting pada interval 12-1/4, dapat diketahui ba hwa selama dilakukan operasi pemboran, tidak ada gejala yang menunjukkan bahwa f ormasi lobang bor akan runtuh, tetapi pada saat melakukan reaming atau pooh, dik etahui bahwa lobang bor akan runtuh.Pada Mudi-1 sampai Mudi-5, runtuhnya lobang bor disebabkan karena bereaksinya water base mud dengan formasi shale yang ditem bus, sedangkan pada Mudi-6 sampai Mudi-14 runtuhnya lobang bor disebabkan karena berat dari lumpur tidak disesuaikan dengan bertambahnya sudut lobang bor, sehin gga tekanan hidrostatis lumpur tidak dapat menahan over burden stress. 3.5. Anal isa Program Hidrolika - Semakin besar MW lumpur, semakin kecil kemungkinan terjadinya rangkaian terjep it - Semakin besar sudut lobang bor (sudut>25o), semakin besar kemungkinan terja dinya rangkaian terjepit. 4. EVALUASI HAMBATAN PEMBORAN Berdasarkan keenam anali sa hambatan pemboran diatas maka dapat dievaluasi : 1. Pada Mudi-1 sampai Mudi-5 , water base mud yang dipergunakan bereaksi dengan lapisan shale sehingga menyeb abkan gugurnya lobang bor, sehingga pada Mudi6 sampai Mudi-14 digunakan Oil base mud yang mampu untuk mengatasi sifat reactive dan high pressure dari formasi sh ale. 2. Pada saat melakukan pemboran, tidak nampak gejala lobang bor akan runtuh , hal ini disebabkan karena ECD mampu menahan dinding formasi lobang bor, tetapi pada saat mencabut rangkaian lobang bor, tampak gejala bahwa lobang bor akan ru ntuh, hal ini disebabkan karena berkurangnya tinggi kolom lumpur dan berat lumpu r untuk menahan dinding lobang bor , selain itu juga ada efek swabbing. 3. Pada interval 8-1/2 hambatan pemboran terjadi karena adanya lapisan shale yang tidak t ertutup oleh casing, sehingga pada Mud-16 casing 9-5/8 diset 20 ft masuk Tuban Ca rbonat sehingga hambatan pemboran ini dapat diatasi. 4. Mengusahakan agar target dari sumur-sumur berarah mempunyai vertical section tidak lebih dari 1500 fett serta menaikkan berat lumpur mengikuti kenaikkan sudut lobang bor serta mengusah akan agar sudut lobang bor <25 untuk menghindari penjepitan rangkaian pipa. 5. KE SIMPULAN 1. Pada Mudi-1 sampai Mudi-5, hole pack off pada 12-1/4 terjadi karena b ereaksinya lumpur dengan formasi shale, yang menyebabkan dinding lobang bor ters ebut runtuh, sedangkan pada Mudi-6 sampai Mudi-14, hole pack off berasal dari fo rmasi shale akibat overburden stress. Pada interval 12-1/4 terlihat adanya hubung an antara runtuhan yang berasal dari over burden stress dengan MW lumpur, Vertic al section dan sudut lobang bor Pada interval 8-1/2 terlihat adanya hubungan anta ra shale problem yang timbul dengan panjang interval shale yang terbukandan panj ang vertikal section, dimana sumur yang memiliki shale open dan vertical section yang panjang, akan mengalami shale problem Drilling program yang diterapkan pad a sumur Mudi-16 sampai Mudi-18, dapat mengatasi hambatan pemboran pada interval 12-1/4 dan 8-1/2 2. Analisa ini dilakukan untuk dapat melihat pengaruh GPM, Cutting Velocity, dan Annular velocity terhadap hambatan pemboran . Pada program hidrolika, GPM yang

digunakan sudah melebihi dari GPM minimum, sehingga pompa mampu untuk mengangkat cutting kepermukaan, dari cutting velocity, dapat dilihat bahwa kecepatan cutti ng untuk naik kepermukaan juga bagus, kecepatan pada annulus terlihat normal, Ca rry Capacity index rata-rata diatas 1, sehingga lobang kita bersih, tidak ada cu tting yang tertimbun. Jumlah cutting yang berada di annulus terlihat normal. 3.6 . Analisa Directional Drilling Pada 12-1/4 Analisa yang dilakukan pada directiona l drilling untuk melihat hubungan antara MW, vertical section dan sudut lobang, yaitu : - Semakin panjang vertical section, semakin besar kemungkinan terjadinya rangkaian terjepit ,. Sedangkan sumur yang mempunyai vertical section yang pend ek, relatif tidak terjadi hambatan seperti pada Mudi-8 dan Mudi-11 3. 4. Saya ucapkan banyak terima kasih kepada: Tuhan YME, sehingga terselesaikan paper ini Kedua orang tua yang telah membantu saya Bpk Hernadi, Selaku Operational Ma nager Devon Tuban Bpk Praneffo Maaruf, selaku Drilling Supt, yang telah banyak m embantu dan membimbing dalam paper ini Dosen dosen jurusan Teknik Perminyakan, Un iversistas Trisakti Teman-teman teknik perminyakan angkatan 1997, Universitas Tr isakti. IATMI 2001-31

Analisa dan Evaluasi Terjepitnya Rangkaian Pipa Pemboran pada Interval 12 dan 8 di Lapangan Mudi, Devon, Tuban, Jawa-Timur Denis Rukmindar DAFTAR PUSTAKA 1. 2. Pranefo Maaruf, Hole Problem Summary,1999 Drilling Report Mud i1-18 , Lapangan Mudi, Santa Fe, Jakarta, 2000 Bahan Kuliah Teknik Pemboran I dan II, Universitas Trisakti, Jakarta, 2000. Pranefo Maaruf, Analisa dan Evaluasi H ambatan Operasi Pemboran, 2000. 3. 4. IATMI 2001-31