Anda di halaman 1dari 14

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK)

Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) atau yang biasa disebut congek adalah

infeksi kronis di telinga tengah dengan adanya lubang (perforasi) pada gendang

telinga (membran timpani) dan keluarnya cairan (sekret) dari telinga baik terus

menerus atau hilang timbul selama lebih dari 2 bulan. 5 Menurut WHO (2004)

penyakit ini dapat menyebabkan ketulian atau kekurang pendengaran pada ± 50%

penderita OMSK serta dapat menimbulkan kematian pada 18,6% kasus OMSK

dengan komplikasi intracranial. 6

2.2. Anatomi Telinga

Telinga

merupakan organ penginderaan dengan

fungsi pendengaran dan

keseimbangan. Telinga dibagi menjadi tiga bagian yaitu telinga luar, telinga tengah

dan telinga dalam. 15

bagian yaitu telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam. 1 5 Gambar 2.1 Anatomi Telinga Universitas

Gambar 2.1 Anatomi Telinga

Universitas Sumatera Utara

2.2.1.

Telinga luar 15

Telinga luar terdiri dari daun telinga (pinna) dan liang telinga (meatus

auditorius eksternus). Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Liang

telinga berbentuk huruf S dengan rangka tulang rawan pada 1/3 (satu pertiga) bagian

luar,

sedangkan 2/3

(dua pertiga)

panjangnya kira-kira 2,5-3 cm.

bagian dalam rangkanya terdiri dari tulang,

Satu pertiga bagian liang telinga terdapat banyak kelenjar serumen dan rambut,

namun pada 2/3 (dua pertiga) bagian dalam hanya dijumpai sedikit kelenjar serumen.

2.2.2. Telinga Tengah 15

Telinga tengah terdiri dari gendang telinga (membrane tympanic), tulang

pendengaran (malleus, incus, stapes ), dan tuba eustachius.

Membran timpani berbentuk bundar dan cekung bila di lihat dari arah liang

telinga, mempunyai ukuran panjang vertikal rata-rata 9-10 mm, diameter 8-9 mm dan

tebalnya kira-kira 0,1 mm. Bagian atas disebut pars flaksida, sedangkan bagian

bawah disebut pars tensa. Pars flaksida hanya berlapis dua, yaitu bagian luar

merupakan lanjutan epitel kulit liang telinga dan bagian dalam dilapisi oleh sel kubus

bersilia. Pars tensa mempunyai satu lapis lagi di tengah, yaitu lapisan yang terdiri

dari serat kolagen dan sedikit serat elastin yang berjalan secara radier di bagian luar

dan sirkuler di bagian dalam.

Tulang pendengaran di dalam telinga tengah saling berhubungan. Prosesus

longus malleus melekat pada membran timpani, malleus melekat pada incus, dan

incus melekat pada stapes. Stapes terletak pada tingkap oval yang berhubungan

dengan cochlea.

Universitas Sumatera Utara

Tuba eustachius merupakan saluran yang menghubungkan rongga telinga

tengah dengan nasofaring. Tuba eustachius terdiri dari tulang pada 1/3 (satu pertiga)

bagian dan tulang rawan pada 2/3 (dua pertiga) ke arah nasofaring. Pada anak, tuba

lebih pendek, lebih lebar, dan kedudukannya lebih horizontal dari tuba orang dewasa.

Panjang tuba orang dewasa 37,5 mm dan pada anak di bawah 9 bulan adalah 17,5 mm.

2.2.3. Telinga dalam 15

Telinga dalam terdiri dari semicircular canalis dan rumah siput (cochlea).

Semicircular canalis saling

lingkaran yang tidak lengkap.

berhubungan secara tidak

lengkap

dan

membentuk

Cochlea melengkung seperti cangkang siput, pada irisan melintang cochlea

tampak vestibuli di sebelah atas, skala timpani sebelah bawah dan skala media

diantaranya. Skala vestibuli dan skala timpani berisi perilimfa, sedangkan skala

media berisi endolimfa. Dasar skala vestibuli disebut membran vestibuli, sedangkan

dasar skala media adalah membran basalis, pada membran ini terletak organ corti.

2.3. Fungsi Telinga

Telinga berfungsi sebagai indra pendengaran dan keseimbangan. Gelombang

suara dikumpulkan oleh telinga luar dan disalurkan ke lubang telinga, dan menuju

gendang

telinga.

Gendang

getaran ini mengakibatkan

telinga

bergetar

untuk

merespons

gelombang

suara,

tiga tulang pendengaran (ossicle) di telinga tengah

bergerak. Secara mekanis getaran dari gendang telinga ini akan disalurkan, menuju

cairan yang berada di rumah siput ( cochlea ). Getaran yang sampai di cochlea ini

akan menghasilkan gelombang, sehingga rambut sel yang

ada di cochlea akan

Universitas Sumatera Utara

bergerak. Gerakan ini mengubah energi mekanik tersebut menjadi energi elektrik ke

saraf pendengaran ( auditory nerve) dan menuju ke pusat pendengaran di otak. Pusat

ini akan menerjemahkan energi tersebut menjadi suara yang dapat dikenal oleh

otak. 15

Dalam fungsi keseimbangan, rangsangan ditransmisikan sepanjang serat saraf

nervus cranialis kedelapan (auditorius) pars vestibularis ke otak tengah, medulla

oblongata, cerebelum dan medulla spinalis. Rangsangan ini memulai perubahan

refleks pada otot-otot leher, mata, badan, dan ekstremitas untuk mempertahankan

keseimbangan dan postur, serta mata dapat difiksasi pada objek yang bergerak. 16

2.4. Tipe OMSK 5

Letak perforasi membran timpani penting untuk menentukan tipe atau jenis

otitis media supuratif kronik (OMSK), yaitu :

2.4.1. Tipe tubotimpani

Peradangan pada OMSK tipe tubotimpani atau disebut juga tipe benigna

(jinak) terbatas pada mukosa saja, dan biasanya tidak mengenai tulang, perforasinya

terletak di sentral atau di pars tensa, dan umumnya jarang menimbulkan komplikasi

yang berbahaya.

2.4.2. Tipe atikoantral

Perforasi pada tipe atikoantral atau disebut juga tipe maligna (ganas) letaknya

marginal

atau

atik,

lebih

sering

mengenai

pars

flaksida,

ditemukan

adanya

kolesteatoma dan sebagian besar komplikasi yang berbahaya atau fatal timbul pada

OMSK tipe ini.

Universitas Sumatera Utara

2.5.

Patogenesis 17,18

Kejadian

OMSK

sampai

saat

ini

masih

belum

diketahui

secara

jelas.

Peradangan telinga tengah sering diawali dengan infeksi pada saluran napas biasanya

berasal dari nasofaring yang menyebar ke telinga tengah melalui tuba eustachius.

Infeksi organisme menyebabkan tersumbatnya tuba eustachius. Sel darah putih akan

memfagosit

organisme

sehingga

terbentuklah

nanah

dalam

telinga

tengah.

Tersumbatnya tuba eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga

tengah terkumpul di belakang gendang telinga. Adanya tekanan dari cairan yang

terkumpul di dalam telinga tengah akan merobek gendang telinga dan cairan tersebut

keluar. OMSK terjadi jika gendang telinga yang robek tidak menutup dan keluar

sekret yang terus menerus atau hilang timbul selama lebih dari dua bulan. Infeksi dari

telinga luar dapat masuk ke telinga tengah melalui perforasi membran timpani

bersama air sewaktu berenang.

2.6. Gejala Klinis

2.6.1. Telinga berair (otore)

Sekret dari telinga dapat cair, purulen, mukopurulen, berbau busuk, atau ada

bercak

darah.

Pada OMSK tipe benigna,

cairan

yang

keluar

biasanya bersifat

mukopurulen, warnanya kuning pucat, lengket, dan tidak berbau. Sedangkan pada

OMSK tipe maligna, sekret yang keluar bersifat purulen dan berbau busuk. Keluarnya

sekret dapat terus menerus ataupun hilang timbul. 18

Universitas Sumatera Utara

2.6.2.

Gangguan pendengaran

Infeksi

pendengaran.

pada

telinga

tengah

Gangguan

pendengaran

hampir

yang

selalu

biasa

menyebabkan

gangguan

dikeluhkan

berupa

bunyi

mendenging, menderu, mendesis atau berbagai bunyi yang lain, rasa penuh dalam

telinga serta tuli. Jika rangkaian tulang pendengaran di telinga tengah terputus akan

menyebabkan tuli konduktif yang berat. Gangguan pendengaran mungkin ringan

sekalipun

proses

patologi

sangat

hebat,

karena

daerah

yang

sakit

ataupun

kolesteatoma dapat menghantarkan bunyi ke fenestra ovale. 19

2.6.3. Nyeri (otalgia)

Nyeri pada OMSK jarang terjadi tetapi dapat terjadi akibat masuknya air ke

telinga tengah, adanya ancaman komplikasi, terpaparnya duramater atau dinding

sinus lateralis atau pembentukan abses otak. 19

2.6.4. Vertigo

Vertigo adalah suatu sensasi abnormal mengenai adanya gerakan keadaan

sekitar terhadap penderita atau penderita terhadap keadaan sekitarnya. 18 Vertigo pada

penderita OMSK merupakan gejala serius lainnya. Gejala ini memberikan kesan

adanya suatu fistula, berarti ada erosi pada labirin tulang dan sering terjadi pada

semicircular canalis horizontal. Fistula merupakan temuan yang serius karena infeksi

dapat berlanjut dari telinga tengah dan mastoid ke telinga dalam. 19

Universitas Sumatera Utara

2.7. Epidemiologi

2.7.1. Distribusi dan Frekuensi

a. Orang

Prevalensi

Aborigin

(2005)

OMSK

15%

,

tinggi

ditemukan

pada

ras

Inuit

Alaska

(1998)

30-46%,

tertentu

Inuit

yaitu

Australian

Canadian

7-31%,

Greenland Inuit 7-12%, dan Native American (Navajo, Apache 4-8%). 20,21

Berdasarkan survei pada 7 propinsi di Indonesia pada tahun 1996

ditemukan

insiden OMSK sebesar 3% dari penduduk Indonesia atau dengan kata lain dari 220

juta penduduk Indonesia lebih kurang terdapat 6,6 juta penderita OMSK. 11

Penelitian yang dilakukan Periasamy (2010) di RSUP H. Adam Malik Medan

diperoleh penderita OMSK sebanyak 65 orang dimana kelompok usia yang terbanyak

menderita (OMSK) adalah kelompok umur 11-20 tahun (35,4%). 22

Abnormalitas anatomi dapat meningkatkan resiko terjadinya penyakit telinga

tengah. Kelainan kraniofasial akan mempengaruhi fungsi tuba eustachius sehingga

dapat meningkatkan resiko terjadinya otitis media. Anak-anak dengan celah palatum

atau kelainan bentuk wajah, dasar tengkorak dan sinus paranasal mempunyai insidens

otitis media yang tinggi. Bentuk tuba bayi dan anak belum berkembang sempurna

sehingga sangat rentan untuk menderita otitis media. 18,19

b. Tempat dan Waktu

OMSK jarang terjadi di negara maju, tetapi masih menjadi masalah kesehatan

masyarakat yang utama pada anak - anak dan orang dewasa di negara berkembang. 6

Universitas Sumatera Utara

WHO (1999) prevalensi OMSK di Afrika 0,4 - 4,2%, Mediterania Timur 0,2-

1,5%, Asia Tenggara 1,4-7,8%, Pasifik Barat 2,3-10%, Amerika 0,2-1,2%, dan Eropa

0,2-0,6%. 6

Survei di Nigeria (2003) pada anak-anak sekolah di daerah rural dan urban

diperoleh hasil bahwa OMSK lebih banyak ditemukan pada anak di daerah rural

dibandingkan dengan anak di daerah urban dengan ratio 4 : 1. 23

Di Indonesia menurut Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran,

Depkes tahun 1993-1996 prevalensi OMSK adalah 3,1%-5,2%. 9 Proporsi penderita

OMSK 25% dari pasien-pasien yang berobat di poliklinik THT RS Dr Sardjito

Yogyakarta (2004). Data poliklinik THT RS St.Elisabeth Medan (1998) terdapat 135

penderita OMSK dan di RSUP H. Adam Malik Medan (2009) terdapat 30 penderita

OMSK. 10

2.7.2. Determinan

a. Host

a.1.Umur

OMSK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang pada anak-anak,

jarang dimulai setelah dewasa. Anak- anak lebih mudah mendapatkan infeksi telinga

tengah karena pada anak ukuran tuba eustachius lebih pendek, lebih lebar dan lebih

datar. 24

Kejadian

OMSK

semakin

berkurang

dengan

bertambahnya

umur

yang

berhubungan dengan perubahan posisi tuba eustachius, dimana pada orang dewasa

posisinya

lebih

vertikal.

Perubahan

posisi

tuba

eustachius

ini

terjadi

akibat

Universitas Sumatera Utara

pertumbuhan dan perkembangan kraniofasial yang

tahun. 25

berlangsung

hingga usia 20

Penelitian yang dilakukan Kemaloglu et al (2000) di Jepang menunjukkan

bahwa

pertumbuhan

dan

perkembangan

kraniofasial

berpengaruh

pada

ukuran

panjang tuba eustachius dan otot – ototnya yang merupakan faktor penting terjadinya

otitis media. 25

a.2. Riwayat otitis media sebelumnya

OMSK merupakan hasil atau akibat dari beberapa episode otitis media akut

yang ditandai dengan keluarnya sekret terus menerus atau hilang timbul dari telinga

tengah dan adanya perforasi pada membran timpani. Otitis media akut yang berulang

merupakan predisposisi terjadinya OMSK. 18

Otitis media akut berubah menjadi OMSK dapat disebabkan karena terapi

yang terlambat diberikan, terapi yang tidak adekuat, virulensi organisme, daya tahan

tubuh yang rendah, serta hygiene yang buruk, tetapi tidak diketahui faktor apa yang

menyebabkan suatu telinga berkembang menjadi kronis. 19

a.3. Infeksi saluran napas

Sebagian

besar

pasien

mengeluh

keluarnya

cairan

dari

telinga

setelah

mengalami infeksi saluran napas atas seperti radang tenggorokan atau pilek. Infeksi

organisme mempengaruhi mukosa telinga tengah yang menyebabkan menurunnya

daya tahan tubuh terhadap organisme yang secara normal berada dalam telinga

tengah. 19

Infeksi saluran napas atas akan menyebabkan edema dan menebalnya mukosa

tuba eustachius dan telinga tengah sehingga lumen tuba eustachius menyempit.

Universitas Sumatera Utara

Keadaan ini meningkatkan tekanan negatif telinga tengah sehingga menyebabkan

masuknya organisme dari nasofaring pada saat tuba eustachius terbuka dan otitis

media merupakan komplikasi yang sering terjadi bila infeksi saluran pernapasan atas

tidak diobati secara adekuat. 19,5

a.4. Alergi

Salah satu mekanisme alergi dapat menimbulkan otitis media adalah melalui

reaksi inflamasi alergi pada mukosa hidung yang meluas ke tuba eustachius. Reaksi

inflamasi

ini

akan

menyebabkan

edema

mukosa

yang

lebih

lanjut

akan

mempengaruhi fungsi tuba, yaitu ventilasi, proteksi, dan drainase telinga tengah. 26

a.5.Gangguan fungsi tuba eustachius

Pada otitis

media kronis

yang

aktif,

tuba eustachius sering

mengalami

sumbatan akibat edema. Pada telinga yang inaktif, berbagai metode telah digunakan

untuk mengevaluasi fungsi tuba eustachius dan sebagian besar menduga bahwa tuba

telah gagal untuk mengembalikan tekanan dalam telinga tengah menjadi normal. 26

b. Agent

OMSK

merupakan

lanjutan

dari

infeksi

akut,

namun

organisme

yang

ditemukan pada sekret yang kronis berbeda dengan yang ditemukan pada akut.

Organisme penyebab OMSK dapat berupa bakteri aerob (Pseudomonas aeruginosa,

Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Streptococcus pyogenes, Proteus mirabilis,

Klebsiella

sp.)

dan

bakteri

Proprionibacterium). 6

anaerob

(Bacterioides,

Preptostreptococcus,

Bakteri masuk ke telinga tegah melalui tuba eustachius yang berasal dari

hidung, sinus parasanal, adenoid atau faring dan melalui trauma, peradangan, serta

Universitas Sumatera Utara

perforasi

kronis

pada

membran

timpani.

Di

antara

bakteri-bakteri

tersebut

Pseudomonas aeruginosa merupakan pernyebab utama kerusakan progresif telinga

dan struktur mastoid akibat toksin dan enzim yang dimilikinya. 6

c. Environment

Dijumpai hubungan yang erat antara pasien OMSK dan sosial ekonomi,

dimana insiden yang tinggi dijumpai pada sosial ekonomi yang rendah dibanding

penduduk dengan sosial ekonomi baik. 26

Dalam penelitian

Wakode et

al (2000) di India terhadap

anak

sekolah

ditemukan bahwa insiden OMSK dijumpai lebih tinggi pada anak sekolah yang

berasal dari

sosial ekonomi rendah (78,05%) dibandingkan dengan anak sekolah

yang berasal dari sosial ekonomi baik (21,95%). 27

2.8. Komplikasi Otitis Media Supuratif Kronis

OMSK mempunyai potensi untuk menjadi serius karena komplikasinya yang

dapat mengancam kesehatan dan dapat menyebabkan kematian. Biasanya komplikasi

didapatkan

pada

pasien

OMSK

tipe

maligna,

tetapi

tipe

beningna

pun

dapat

menyebabkan suatu komplikasi, bila terinfeksi bakteri yang virulen. 5

Komplikasi OMSK dibagi atas komplikasi di telinga tengah (tuli konduktif

mastoiditis, dan paralysis nervus fasialis), telinga dalam (tuli saraf, fistula labirin dan

labirin

supuratif),

ekstradural

(abses

ekstradural,

trombosis

sinus

lateralis

dan

petrositis) serta sistem saraf pusat (meningitis, abses otak, dan hidrosefalus otitis). 5, 28

Universitas Sumatera Utara

2.9. Pencegahan

2.9.1. Pencegahan Primer

Pencegahan tingkat pertama merupakan upaya untuk mempertahankan orang

yang sehat agar tetap sehat atau mencegah orang yang sehat agar tidak sakit. 29

Pencegahan

primer

OMSK

dapat

dilakukan

dengan

cara

mencegah

terjadinya

pencetus OMSK yaitu infeksi saluran pernapasan atas dengan meningkatkan daya

tahan tubuh dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi, meningkatkan hygiene

perorangan dan sanitasi lingkungan, rajin berolahraga, tidak membersihkan telinga

dengan benda yang berujung keras, serta tidak terlalu lama berada dalam air ketika

berenang jika tidak menggunakan pelindung telinga. 18

2.9.2. Pencegahan Sekunder

Pencegahan sekunder merupakan upaya untuk membantu orang yang telah

sakit agar sembuh, menghambat progresifitas penyakit, menghindarkan komplikasi,

dan mengurangi ketidakmampuan. 29 Pencegahan ini dapat dilakukan dengan :

a. Diagnosis

a.1. Anamnesis

Anamnesis yang lengkap sangat membantu menegakkan diagnosis OMSK.

Biasanya penderita datang dengan riwayat otore menetap atau berulang lebih dari dua

bulan.

Penurunan

pendengaran

juga

merupakan

keluhan

yang

paling

sering.

Terkadang

penderita

juga

mengeluh

adanya

vertigo

dan

nyeri

bila

terjadi

komplikasi. 30

Universitas Sumatera Utara

a.2. Pemeriksaan otoskopi

Pemeriksaan otoskopi dapat melihat lebih jelas lokasi perforasi, kondisi sisa

membran timpani dan kavum timpani. OMSK ditegakkan jika ditemukan perforasi

membran timpani. 30

a.3. Pemeriksaan audiometri

Pemeriksaan audiometri penting untuk menilai hantaran tulang dan udara serta

untuk mengevaluasi tingkat penurunan pendengaran. Melalui audiogram dapat dilihat

jenis

ketulian

dan

derajat

ketulian.

Berdasarkan

ISO

(International

Standard

Organization ) derajat ketulian dibagi atas : 0-25 dB (normal) , 26-40 dB (tuli ringan),

41-60 dB (tuli sedang), 61-90 dB (tuli berat), > 91 dB (sangat berat). 31

a.4. Pemeriksaan radiologi

Pemeriksaan radiologi untuk melihat tingkat perkembangan pneumatisasi

mastoid, menggambarkan perluasan penyakit dan tulang-tulang pendengaran. Foto

polos untuk menunjukkan adanya gambaran kolesteatoma sedangkan CT - Scan lebih

efektif untuk menunjukkan anatomi tulang temporal dan kolesteatoma. 31

a.5. Pemeriksaan mikrobiologi

Pemeriksaan

mikrobiologi

sekret

telinga

penting

untuk

menentukan

organisme penyebab OMSK dan pemberian antibiotika yang tepat. 32

b. Pengobatan

Prinsip

pengobatan

OMSK

tipe

benigna

adalah

konservatif

atau

medikamentosa. Bila sekret telah kering tetapi perforasi masih ada setelah diobservasi

selama

2

bulan,

(miringoplasti)

atau

maka

idealnya

rekonstruksi

dilakukan

rekonstruksi

membran

timpani

dan

membran

timpani

tulang

pendengaran

Universitas Sumatera Utara

(timpanoplasti). Prinsip pengobatan pada OMSK tipe maligna adalah operasi, yaitu

mastoidektomi

dengan

atau

tanpa

timpanoplasti.

Hal

ini

dilakukan

untuk

menghentikan

infeksi

secara

permanen,

memperbaiki

membran

timpani

yang

perforasi, mencegah terjadinya komplikasi atau kerusakan pendengaran yang lebih

berat, serta memperbaiki pendengaran. 5

2.9.3 Pencegahan Tersier

Pencegahan

ini

dimaksudkan

untuk

mengurangi

ketidakmampuan

dan

mengadakan

rehabilitasi

pada

penderita

OMSK

yaitu

dapat

dilakukan

dengan

menggunakan Alat Bantu Dengar (ABD) yang merupakan suatu perangkat elektronik

yang berguna untuk memperkeras suara yang masuk ke dalam telinga, sehingga

penderita OMSK dapat mendengar lebih jelas suara yang ada disekitarnya. 5,18

Universitas Sumatera Utara