Anda di halaman 1dari 36

INDEKS

o Definisi 1. Indeks adalah instrument yang dapat mengukur kuantitas sebuah penyakit atau status. 2. Indeks adalah suatu pengukuran yang menyangkut sekumpulan kriteria dan kondisi yang telah disetujui bersama. Keuntungan 1. Dapat mengidentifikasi tren berguna dalam membantu menentukan investigasi apa yang perlu dilakukan. 2. Dapat membandingkan antara studi yang berbeda dan diantara set data yang berbeda. Keterbatasan 1. intra-examiner variability perbedaan standar yang dilakukan oleh satu pemeriksa pada waktu berbeda 2. inter-examiner variability perbedaan standar yang dilakukan oleh pemeriksa yang berbeda pada wajktu yang sama Tujuan 1. Berperan sebagai system pengukuran yang mengurangi jumlah variasi yang tidak valid. 2. Untuk mengukur perbedaan dalam suatu kelompok dan perbedaan di antara kelompok. 3. Dalam kedokteran gigi, untuk mengukur panyakit, misalnya karies, erosi gigi atau penyakit periodontal. Kriteria indeks yang ideal 1. Sederhana mudah untuk dimengerti dan dipelajari 2. Objektif tidak boleh rentan terhadap opini/pendapat pemeriksa 3. Valid memiliki sensitivitas dan spesifitas yang baik 4. Reliable tidka boleh ada variasi yang disebabkan oleh hal internal, bukan oleh variasi pemeriksa 5. Reproducible menghasilkan hasil yang sama jika dilakukan oleh pemeriksa yang sama pada waktu berbeda atau pemeriksa berbeda pada waktu yang sama/berbeda 6. Quantifiable dapat dilakukan analisis statistik 7. Sensitif dapat mendeteksi perubahan kecil 8. Dapat diterima Contoh indeks dental Indeks DMFT (densisi permanent) / dmft (densisi primer) CPITN (BPE) Community Periodontal Index of Treatment Need (Basic Periodontal Examination) DDE Modified (Developmental Defects of Enamel) TF Index Deans Index Horowitz Index IOTN & PAR (Index of Orthodontic Treatment Need & Peer Assessment Rating) Trauma index Erosion index RCI (Root Caries Index) Kegunaan Pengukuran karies Kebutuhan perawatan periodontal Plak Gingivitis Defek email Fluorosis Fluorosis Fluorosis Kebutuhan perawatan orthodonti dan penilaian kebutuhan perawatan Trauma Erosi Karies akar Referensi Kleine et.al. 1938 Ainamo et.al. 1982 Loe & Sillnes. 1963 Sillness & Loe. 1964 Clarkson & OMullane. 1989 Thylstrup & Fejerskov. 1978 Dean. 1934 Horrowitz. 1986 Shaw et.al. 1991

o No 1 2

3 4 5 6 7

8 9 10

OBrien. 1994 Walker et.al. 2000 Katz.1980

Pengukuran lain yang menggunakan data yang diperoleh dari indeks DMF : 1. Treatment Index = ( (M+F) / DMF ) x 100 2. Care Index = ( F / DMF ) x 100 3. Restorative Index = ( F / (D+F) ) x 100 Masalah yang berhubungan dengan indeks DMF : 1. Relevansi 2. Keputusan perawatan

3. Kualitas gigi 4. Keuntungan perawatan 5. Irreversible Indeks baru Menurut Bowling (1991), pengukuran tingkat penyakit sekarang tidak cukup lagi, lebih penting untuk mendeksripsikan efek social dan psikologis dari suatu masalah terhadap kualitas hidup Konsep model kesehatan (WHO, 1980)

kematian
Penyakit Kerusakan Keterbatasan fungsi

ketidakma mpuan

cacat

ketidaknyamanan

Kuesioner -

Definisi merupakan cara umum dalam pengumpulan data Keterbatasan hanya pada pengetahuan sesaat suatu topik & cenderung merefleksikan pandangan peneliti mengenai suatu topik - Keuntungan dapat mengumpulkan data dari jumlah orang ebsar Penelitian kualitatif - Hanya sedikit orang yang dapat dijadikan sampel - Sampel tidak diambil secara random tetapi dapat berdasarkan tujuan atau alasan kenyamanan - Masalah yang didiskusikan ditentukan oleh subyek penelitian, tidak oleh peneliti - Dapat mengumpulkan jumlah data yang lebih detail

EPIDEMIOLOGI
Blanaid Daly, et.al. 2002. Essential Dental Public Health.
Epidemiologi adalah studi tentang penyakit dan kondisi dimana kelompoklah yang menjadi objeknya, bukan individual. (mausner dan kramer 1985) Epidemiologi mempelajari frekwensi suatu penyakit pada kelompok orang dan faktor-faktor yang mempengaruhi distribusinya. Dengan menyelidiki perbedaan antar subgroup dalam suatu populasi dan pajanan mereka terhadap faktor-faktor tertentu, maka akan memungkinkan identifikasi terhadap faktor penyebab dan untuk mengembangkan program guna memecahkan masalah yang terjadi. Epidemiologi pada kedokteran gigi dilakukan untuk 2 tujuan: - mengukur penyakit dental yang terjadi pada suatu kelompok dalam populasi guna mengetahui faktor yang mempengaruhi distribusinya - evaluasi efektifitas material dan perawatan baru pada uji klinis serta penilaian kebutuhan untuk pelayanan dental pada suatu komunitas Membedakan Epidemiologi dengan uji klinis dan screening Epidemiologi Diterapkan pada populasi atau sample di kelompok terpilih Kriteria berhubungan dengan tujuan studi Screening Ditawarkan pada terpilih atau individu kelompok Uji Klinis Ditawarkan pada individu yang ada saat pengaplikasian metode klinis Tujuan diagnosis untuk membentuk dasar perawatan

Kriteria identifikasi berhubungan dengan kebutuhan follow-up

Temuan menginformasikan aksi berikutnya

Follow-up ditawarkan pada mereka yang diidentifikasi membutuhkan

Perawatan disediakan

Studi Epidemiologi: protokol Penelitian epidemiologi memerlukan protokol yang mengikuti metode ilmiah. Protokol ini berfungsi untuk menjelaskan secara detil mengenai pemikiran yang ada di balik studi yang dilakukan. Latar belakang Dengan menjawab pertanyaan berikut bisa didapatkan formulasi pertanyaan yang dapat menjadi tujuan dan sasaran studi. Pertanyaan-pertanyaan tersebut meliputi kegiatan/program apa yang telah dilakukan sebelumnya pada area tersebut? Apa saja kesalahan yang terjadi? Apa yang telah berlangsung dengan baik? Apa yang dilakukan dengan kurang baik? Tujuan dan Sasaran Tujuan studi adalah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul sedangkan sasaran merupakan langkahlangkah yang perlu dilakukan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tujuan studi sangat penting. Tujuan harus jelas dan terlebih lagi ia harus mengandung jawaban yang tidak terlalu luas. Pada studi deskriptif, tujuan dan sasaran saja sudah cukup. Akan tetapi, pada studi analisis harus menyertakan hipotesis. Rancangan studi dan sampling Hal yang paling penting adalah memilih tipe studi, kemudian memutuskan populasi yang sesuai untuk studi tersebut dan memutuskan bagaimana pengambilan samplenya. Kadang akan sesuai bila seluruh anggota populasi diikutkan dalam studi tapi lebih sering mengambil sebagiannya saja. Prinsip utama yang harus dipegang adalah sample harus dapat mewakili populasi yang akan digambarkan. Hal ini dapat dicapai dengan penggunaan random sampling. Banyaknya sample yang akan diambil merupakan faktor yang kritis. Pengguna statistik harus mengkonsultasikan hal tersebut agar besarnya sample sesuai dengan berbagai tujuan saat pembandingan akan diterapkan pada studi tersebut. Pengumpulan data Tujuan, pilihan rancangan studi dan populasi yang dipilih atau sample akan menyediakan informasi pada kedua tipe data dan frekwensi yang dibutuhkan. Tujuan utama dari pengumpulan data adalah untuk menentukan apakah data itu valid, reliable dan tidak bias. Valid: pengukuran data benar-benar akurat Reliable: saat pengukuran dilakukan pada saat yang berbeda, didapatkan jawaban yang sama. Tidak bias: baik subjek maupun peneliti tidak mempengaruhi temuan yang ada Studi yang dilakukan kemungkinan dapat membentuk studi yang blind atau double blind. Blind: subjek tidak mengetahui apakah mereka berada dalam kelompok kontrol atau kelompok test. Double blind: baik subjek yang diteliti maupun peneliti tidak mengetahui mana kelompok kontrol dan kelompok test. Analisis data Penting untuk merencanakan analisis data sebelum studi dimulai, seperti halnya memperkirakan banyaknya sample. Hal ini mempunyai 2 tujuan: investigator perlu menjelaskan tipe data yan dikumpulkan beserta alasan mengapa dilakukannya hal tersebut; ststician dapat menyarankan bagaimana metode yang tepat untuk menganalisanya. Membuat kesimpulan

Poin ini merupakan satu-satunya poin yang tidak dapat dijelaskan pada detil protokol karena belum diketahui. Kesimpulan harus dikaitkan kembali dengan tujuan dan sasaran studi, bukan dengan hal lain.

Diseminasi Merupakan tahap akhir studi. Walau hanya ditemukan hasil negatif hal ini perlu dikomunikasikan dengan komunitas sains lainnya. Etik Sebelum mengambil data dari makhluk hidup perlu mendapatkan ijim dari komisi etik terlebih dahulu. Types of Study 1. DESCRIPTIVE EPIDEMIOLOGY Study ini menjelaskan tentang pola penyebaran suatu penyakit, faktor risiko dan determinan kesehatan pada sebuah populasi atau sub grup Data yang dihasilkan dari study ini akan menjelaskan tentang : - Siapa yang menjadi korban ?? kelompok umur berapa, etnik apa dan pekerjaan apa yang dimiliki? - Dimana kondisi ini terjadi?? di kota mana dan kapan terjadinya penyakit ini? 2. ROUTINELY COLLECTED DATA Sebagian besar data diambil dengan cara ini Keuntungan dari data ini adalah : - Mampu membandingkan adanya perubahan dengan data yang diambil sebelumnya karena sifatnya berkala - Memudahkan dalam menganalisa siapa dan dimana sebuah penyakit terjadi - Memudahkan mengidentifikasi sebuah kasus dan variasinya sehingga akan lebih memudahkan untuk menentukan apa yang menjadi timbulnya penyakit tersebut CROSS-SECTIONAL STUDIES Merupakan sebuah survey yang didesign untuk mengidentifikasi kondisi dan factor lain yang juga berperan pada saat yang sama Kelemahan study ini : - Tidak mampu menjabarkan sebab - Tidak mampu menjabarkan akibat Keuntungan study ini : - Mudah diambil dan diolah - Cepat dan praktis Karena kelemahannya, study ini sudah jarang digunakan dalam dunia kedokteran gigi. Untuk itu, dibuatlah teknik baru yang bernama analytical studies ANALYTICAL STUDIES Observational o Dalam study epidemiologi, data mungkin diambil mengenai apa yang orang lakukan dan tidak lakukan pada waktu yang lampau o Misal : study tentang efek merokok. Data harus membandingkan keadaan orang yang belum merokok dan sudah merokok SEHINGGA data ini akan membandingkan hasil dari keduanya o Study observasi mencakup : RETROSPECTIVE (study masa lampau) Dikenal juga sebagai case-control studies (Study Kontrol Kasus) sasarannya adalah orang dengan paparan yang normal atau yang sedang menderita penyakit PROSPECTIVE (study masa depan) Dikenal juga sebagai study kohort atau longitudinal sasarannya adalah orang dengan paparan yang lebih tinggi dari normal

3.

4.

o Dari semua tipe study yang digunakan, grup yang diidentifikasi dicocokkan dengan control. Setiap grup dimonitor dengan menggunakan prospective study atau diberikan pertanyaan-pertanyaan menggunakan retrospective study untuk kemudian didapatkan factor-faktor risiko masa lalu yang mungkin muncul sekarang o Dengan membandingkan insidensi kondisi dan rata-rata pemajanan, maka akan memungkinkan untuk menguji hipotesis sebagai salah satu penyebab dari terjadinya kondisi di masa sekarang o Hasil temuan dari observational study akan bisa dikaji lebih lanjut dalam eksperimental study Eksperimental or Interventional a. Randomized Clinical Trials (RCT) Sifatnya eksperimental dan prospective - Merupakan metode yang paling simple, dimana subjek dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok 1 adalah kelompok yang mendapatkan perlakuan, sedangkan kelompok yang kedua tidak mendapatkan perlakuan (true placebo) - Biasanya digunakan untuk menguji efektifitas dari pelayanan kesehatan, misalnya obat-obatan atau perawatan, atau bahkan teknologi kesehatan, misalnya bedah. Selain untuk medis, RCT juga bisa digunakan dalam bidang keadilan, pendidikan dan ilmu social lain - Trial yang bisa digunakan antara lain open, blind atau double-blind b. Community Trial - Sifatnya eksperimental dan prospective - CT tidak memungkinkan pembagian kelompok subjek untuk menjadi kelompok control dan yang mendapatkan perlakuan - Misalnya : kelompok anak sekolah tidak mungkin dilarang untuk mendiskusikan kesulitan pelajaran atau guru yang mengajar mereka. Namun demikian, design ini masih mungkin diterima walaupun membutuhkan statistic control dengan cara yang berbeda menggunakan analisis cluster untuk mengetahui factor yang mungkin mempengaruhi hasilnya c. Natural Eksperimental - Menyediakan kemudahan untuk mengevaluasi kejadian yang terjadi - Misalnya : jatuhnya atom di Hiroshima dan Nagasaki. Dari kejadian ini akan mudah dilakukan hubungan dari dosis dan radiasi bom yang diterima, tergantung dari seberapa jauh seseorang dari tempat kejadian. Hasil dari data ini akan membawa keselamatan, karena akan memberikan jarak aman agar terhindar dari dosis dan radiasi bom d. Systematic Review - Berguna untuk mendapatkan rata-rata dari hasil pertanyaan yang diajukan jika hasilnya tidak konsisten. Type ini menyajikan pertanyaan berulang demi mendapatkan hasil yang paling konsisten Causation and Association Setiap study yang digunakan memiliki relevansi untuk mengidentifikasi penyebab terjadinya suatu kasus. Dalam setiap kasus yang terjadi, ada beberapa factor yang juga mempengaruhi. Namun kedua factor ini memiliki peran yang sama dan bahkan berhubungan Misalnya sebuah penelitian tentang bahwa orang yang bepergian dengan menggunakan pesawat akan lebih memiliki kesempatan menderita kanker kulit

Measuring Health Untuk membuat perbandingan kesehatan pada grup yang sama atau yang berbeda,sebelumnya diperlukan pengukuran kondisi Rate Rate adalah ukuran/tingkat penyebaran suatu penyakit pada suatu masa. Rates yang sering digunakan adalah tingkat kematian (mortality) atau kesakitan (morbility) dalam suatu populasi MORTALITY RATES Diukur dengan mengumpulkan informasi dari jumlah kematian. Informasi yang dikumpulkan juga menyangkut nama, tanggal meninggal dan penyebab primer dan sekunder dari kematian

Pengukuran ini juga harus menyertakan factor-faktor penting lainnya. Misalnya, factor usia akan sangat berpengaruh pada penelitian tentang tingkat kematian karena kanker pada suatu wilayah dengan penduduk yang berusia lanjut MORBIDITY RATES Rates ini lebih sulit dikalkulasikan keakuratan tentang penyakit mayor dan kondisinya. Rates ini mengikutsertakan segala sesuatu tentang penyakit yang sedang diderita dan hal utama yang menyebabkan terinfeksinya seseorang atas penyakit tersebut. Dicantumkan juga tentang demam, meningitis, dan TBC Dengan rates ini, akan didapatkan semua data tentang jumlah kesakitan yang telah dilaporkan ke dokter maupun yang belum dilaporkan Rates ini akan bias hasilnya jika diambil dengan cara routinely collected data Prevalence and Incidence PREVALENCE Prevalence adalah persentase dari populasi yang memiliki penyakit, dibagi dalam 2 kelompok risiko Misalnya : prevalensi dari jumlah murid yang menderita influenza adalah jumlah murid yang menderita influenza yang dibagi dengan seluruh jumlah murid yang ada INCIDENCE Incidence adalah jumlah kasus baru dari suatu penyakit dibagi dengan jumlah populasi yang memiliki risiko pada sepanjang waktu Misalnya : Incidence influenza pada populasi murid adalah jumlah murid yang baru terkena influenza dibagi dengan populasi dengan risiko selama beberapa waktu (biasanya disajikan per tahun)

EPIDEMIOLOGI
Epidemiologi berasal dari bahasa Yunani, yang berarti prevalensi. Secara lengkap berarti ilmu tentang pemerataan di antara manusia. Definisi 1. Kamus kedokteran Dorlan : ilmu tentang hubungan berbagai faktor yang mempengaruhi frekuensi dan distribusi penyakit pada masyarakat 2. Kamus Chamber : ilmu tentang epidemi 3. Anthony W Jong : ilmu tentang distribusi dan determinan penyakit 4. Clark : ilmu yang berhubungan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi kehadiran dan distribusi kesehatan, penyakit, atau kematian dalam sebuah komunitas 5. Gordan : prosedur diagnostik dalam menangani penyakit pada masyarakat. Cakupan Frekuensi penyakit Distribusi penyakit Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit Tujuan epidemiologi 1. menggambarkan distribusi dan seberapa besar masalah penyakit tersebut pada masyarakat 2. mengidentifikasi faktor-faktor etiologi dalam patogenesis penyakit 3. menyediakan data-data yang penting untuk merencanakan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi pelayanan untuk pencegahan, kontrol, dan perawatan penyakit, serta menetapkan prioritas diantara berbagai pelayanan tersebut. Jenis 1. 2. 3.

Deskriptif Analitis eksperimental

Hal-hal utama yang perlu diperhitungkan dalam epidemiologi (kedokteran gigi) 1. gigi missing 2. karies terekspos (moderate) 3. karies parah 4. gigi non-vital 5. karakteristik penyakit-penyakit lain, termasuk karies dan kelainan periodontal 6. kebutuhan akan fasilitas kesehatan medis dan gigi 7. faktor lingkungan yang mempengaruhi penyakit orodental, misalnya memperhatikan kadar fluoride dalam air minum yang dikonsumsi masyarakat Metode penghitungan Rata-rata Diperoleh dengan menghitung jumlah hal-hal penting sehubungan dengan medis dan dental pada suatu populasi dalam rentang waktu tertentu Misalnya : Jumlah kematian rata-rata : Jumlah kematian dalam setahun x 1000 Jumlah populasi pada tengah tahun Macam-macam rata-rata : a. rata-rata mentah : rata-rata yang diperoleh setelah mengobservasi langsung, misalnya rata-rata kematian, kelahiran, dll b. rata-rata spesifik : mengarah kepada hal-hal yang lebih spesifik (sebab, grup, atau waktu) c. rata-rata testandardisasi : rata-rata yang diperoleh dengan metode standardisasi baik secara langsung maupun tidak langsung Rasio Menunjukkan hubungan antara 2 kuantitas yang random. Misalnya rasio manusia dengan gigi adalah 1:32 Proporsi Adalah rata-rata dari sebagian terhadap kesleuruhan Misalnya : Jumlah gigi karies pada waktu tertentu Jumlah gigi yang utuh pada rongga mulut pada waktu tersebut Morbiditas Adalah penyakit, keadaan tidak sehat, tidak normal. manfaat mengukur morbiditas 1. menyediakan frekuensi, durasi, dan tingkat keparahan penyakit 2. menetapkan prioritas 3. menyediakan petunjuk tentang faktor-faktor etiologi 4. membantu dalam merencanakan usaha preventif dan mengevaluasi keefektifitasannya. 5. membantu penelitian dasar dengan menyediakan status klinis penyakit yang benar 6. menyediakan status klinis yang akurat morbiditas rata-rata merupakan jumlah kasus dari penyakit tertentu dalam hubungannya dengan populasi insiden rata-rata adalah kehadiran suatu penyakit baru pada suatu populasi pada rentang waktu tertentu. Biasanya digunakan pada kondisi akut. Jumlah kasus penyakit baru pada tahun X pada sebuah populasi yang berisiko x 1000 Jumlah total populasi yang berisiko pada tahun X

x 100

Insiden rata-rata berguna untuk 1. mencegah dan mengontrol penyakit 2. memastikan etiologi dan patogenesis 3. memprediksi keberhasilan usaha preventif dan teurapetik Prevalensi Adalah jumlah total kasus penyakit spesifik pada satu waktu pada populasi tertentu Ada 2 macam : 1. point prevalence jumlah total kasus penyakit spesifik yang terjadi pada satu saat tertentu x100 perkiraan jumlah populasi pada saat tersebut 2. period prevalence jumlah total kasus penyakit spesifik selama rentang waktu tertentu x 100 perkiraan jumlah populasi pada tengah tahun

Hubungan antara insiden dan prevalensi Prevalensi = insiden x durasi Insiden = prevalensi durasi Durasi = prevalensi Insiden Prevalensi rata-rata digunakan untuk a. memastikan banyaknya masalah kesehatan pada masyarakat b. untuk merencanakan dan tujuan administratif Manfaat epidemiologi 1. mempelajari peningkatan dan penurunan prevalensi dan insiden penyakit 2. sebagai bahan diagnostik 3. mempermudah perencanaan dan evaluasi pelayanan kesehatan 4. evaluasi risiko dan kesehatan individu 5. identifikasi sindrom 6. melengkapi riwayat penyakit 7. membantu menemukan penyebab dan faktor predisposisi suatu penyakit Komponen epidemiologi 1. masalah kesehatan yang diteliti 2. populasi atau masyarakat yang diteliti 3. menggambarkan penyakit : a. tempat b. waktu c. orang 4. memperkirakan/ memperhitungkan kondisi penyakit 5. faktor-faktor lain yang menentukan a. agent b. host c. environment

6. 7. 8. 9.

diagnosis penyakit membandingkan hasil dengan hasil dari pendekatan lain selain epidemiologi formulasi hipotesis berdasarkan etiologi pengambilan keputusan untuk menyelesaikan masalah

Klasifikasi epidemiologi 1. deskriptif 2. formulasi hipotesis 3. analitis 4. eksperimental epidemiologi deskriptif biasanya merupakan tahapan awal dalam investigasi epidemiologis terdiri dari : - distribusi tempat - distribusi manusia - distribusi waktu pertanyaan dimana, siapa, dan kapan harus terjawab prosedur : 1. menetapkan populasi 2. menetapkan penyakit yang akan dipelajari 3. menjelaskan kondisi penyakit a. Distribusi tempat letak geografis penyakit berperan penting dalam epidemiologi deskriptif. Akan terlihat berbagai variasi pada berbagai wilayah : o variasi internasional o variasi nasional o variasi antara desa dan kota o variasi lokal b. distribusi manusia (UTIK) 1. Usia Sangat berhubungan dengan suatu penyakit dibandingkan faktor host lainnya. Misalnya, karies gigi lebih banyak terjadi pada usia anak dibandingkan usia remaja dan dewasa tua. Penyakit periodontal lebih banyak terjadi pada usia dewasa tua dibandingkan usia anak dan remaja. Jenis kelamin Menurut penelitian, karies gigi lebih banyak terjadi pada wanita dibandingkan laki-laki. Jenis Pekerjaan Beberapa jenis penyakit memiliki hubungan dengan jenis pekerjaan, misalnya : plumbism, chimney-sweepers cancer, woolsorters disease. Kebiasaan Beberapa penyakit dapat berhubungan dengan kebiasaan seseorang, missal : fibrosis mukosa lebih sering terjadi pada pengunyah pan masala, dan leukoplakia lebih sering terjadi pada pengunyah tobacco. Kelas sosial Masyarakat pada kelas sosial tinggi memiliki tingkat harapan hidup yang lebih lama karena memperoleh nutrisi dan perawatan kesehatan yang lebih baik. Karies gigi lebih sering terjadi pada anak-anak di kelas sosial tinggi, sedangkan penyakit diabetes dan tekanan darah tinggi lebih sering terjadi pada seseorang dari kelas ekonomi tinggi. 1.

2. 3.

4.

5.

Distribusi Waktu Terdapat 3 tipe waktu dalam epidemiologi, yaitu : 1. Fluktuasi Jangka Pendek

Perbedaan terjadinya penyakit hanya dalam waktu dekat, misal epidemic (terjadinya penyakit atau sehat yang terjadi di luar batas harapan normal dalam suatu komunitas) misal, hanya terjadi dalam hitungan hari atau minggu. 2. Fluktuasi Periodik a) Musiman : seperti malaria dan penyakit campak, sunstroke yang terjadi pada musim panas. b) Cyclic trend : seperti penyakit campak 3. Fluktuasi Jangka Panjang Ada beberapa penyakit yang menunjukkan terjadinya peningkatan atau penurunan yang progresif dalam jangka waktu panjang, biasanya selama beberapa tahun. Karies gigi mengalami penurunan di beberapa negara maju, dan terjadi peningkatan di negara berkembang. Pengukuran penyakit Menunjukkan banyaknya penyakit atau muatan penyakit yang terjadi di suatu komunitas Dapat dilakukan dengan : 1. Cross-sectional study / Prevalence study Study ini berdasarkan pada pemeriksaan atau survey cross-section suatu populasi pada satu titik waktu. Jika sampling dilakukan dengan benar, hasilnya dapat mencerminkan keseluruhan populasi tersebut. Tipe study ini tidak memberi banyak keterangan mengenai etiologi suatu penyakit Lebih bermanfaat untuk menyelidiki penyakit dalam bentuk akut jangka pendek. 2. Longitudinal studies Dilakukan observasi ulangan yang dibuat pada jumlah populasi yang sama dengan periode waktu yang lebih panjang dilakukan dalam bentuk pemeriksaan follow-up Longitudinal study bermanfaat untuk : a) Memberi keterangan mengenai etiologi suatu penyakit b) Dapat mengenali faktor predisposisi dan faktor risiko c) Menggambarkan riwayat awal dan masa depan suatu penyakit d) Dapat mempelajari tingkat kejadian suatu penyakit di masa depan Merancang Hipotesis Hipotesis merupakan suatu dugaan yang didasarkan pada suatu penelitian Berdasarkan distribusi penyakit dan hubungan asosiasi yang terjadi, hipotesis atau teori tentative dapat dirancang Hipotesis yang dibuat lebih sering mengenai etiologi dan faktor predisposisi atau risiko Analisis Epidemiologi Melalui analisis epidemiologi, sebuah hipotesis dapat diterima atau ditolak, begitu juga dengan alasannya. Fokus pada determinasi suatu penyakit dan jawaban mangapa Tujuan analisis epidemiologi antara lain : a) Untuk menguji hipotesis b) Untuk menentukan apakah terdapat hubungan yang terjadi diantara 2 faktor atau kategori dari kejadian yang berhubungan dengan etiologi suatu penyakit c) Apakah hubungan tersebut casual/ temporer/ permanen d) Untuk menganalisis identifikasi masalah melalui epidemiologi desktriptif e) Untuk membuat rasionalitas dan logika yang tepat untuk factor etiologi dan predisposisi f) Untuk membuat rasionalitas untuk pengaplikasian tindakan prevenmtif dan kontrol suatu penyakit. 3 design study yang biasa digunakan dalam analisis epidemiologi, antara lain : 1. Prospective / Cohort Study Biasa disebut juga longitudinal study, incidence study atau forward looking study Keuntungan : a) Merupakan study analisis yang digunakan untuk menolak atau mendukung keberadaan suatu asosiasi antara faktor dugaan etiologi dengan penyakit b) Termasuk di dalamnya investigasi untuk menguji sebagian besar hipotesis pada suatu waktu c) Tahapan temporal suatu penyebab atau efek dapat digambarkan dengan jelas pada study ini. Kekurangan :

10

2.

3.

a) Membutuhkan waktu yang panjang b) Biasa terdapat subjek di luar study c) Sangat mahal karena membutuhkan waktu yang lama d) Sample yang digunakan butuh dalam jumlah banyak Study Dean et al (1938, 1942) merupakan contoh prospektif atau cohort study, dimana pada study Dean tersebut mencari hubungan fluoride dengan karies gigi Case Control Study Disebut juga retrospective study Menggunakan kelompok control atau pembanding untuk mendukung atau menolak suatu kesimpulan Prosesnya terbalik, karena mempelajari efek untuk mendapatkan penyebab dari suatu penyakit Keuntungan : a) Lebih murah b) Lebih membutuhkan waktu yang relatif lebih pendek Kekurangan : a) Harus mencocokkan kasus dengan kontrol seperti usia, jenis kelamin, untuk mendapatkan validitas dari suatu hasil b) Harus mencocokkan tambahan dengan biaya dan kompleksitas study Retrospective Follow-up Study Digunakan untuk mengevaluasi efek yang spesifik terekpos pada suatu populasi, terutama digunakan untuk kasus bahaya kesehatan dari suatu pekerjaan Keuntungan : a) Relative lebih mudah b) Lebih murah

Experimental atau Interventional Epidemiology Dilakukan untuk menentukan efektifitas suatu program pencegahan atau terapi Mirip dengan Randomised control trials Keuntungan : 1. Memberikan bukti ilmiah dari suatu faktor etiologi dan predisposisi sehingga dapat dibuat suatu tindakan pecegahan, kontrol atau perawatan yang tepat dan efektif 2. Memberikan metode pengukuran yang tepat dan berhasil terhadap pelayanan kesehatan untuk tindakan pencegahan, kontrol dan perawatan dari suatu penyakit sehingga pelayanan kesehatan pada suatu komunitas dapat ditingkatkan. Dalam hal ini, populasi eksperimen dibagi menjadi 2, yaitu : 1. Kelompok study : kelompok yang mendapat tindakan perawatan pencegahan atau terapi. 2. Kelompok kontrol : kelompok yang tidak mendapat perlakuan apa-apa Komposisi masing-masing kelompok harus dibuat dengan tepat untuk mendapatkan validitas hasil percobaan. Synergism atau Antagonism Jika terdapat 2 atau lebih penyakit yang terjadi secara bersamaan pada sutu individu, terdapat 3 kemungkinan yang dapat terjadi, yaitu : 1. Masing-masing penyakit tidak memiliki hubungan sehingga tidak saling mempengaruhi 2. Hubungan sinergis : jika efek total pada tubuh lebih besar daripada jumlah efek independent dari 2 atau lebih penyakit. Misal : tuberculosis dengan diabetes, cleft palate dan sinusitis, enamel hipoplasia dengan karies gigi. 3. Hubungan antagonis : jika efek total pada tubuh lebih kecil daripada jumlah efek independent dari 2 atau lebih penyakit. Misal : rheumatic fever dengan diabetes, mild dental fluorosis dengan dental caries EPIDEMIOLOGICAL TETRAD 1. Agen Penyebab Merupakan substansi baik hidup ataupun tidak hidup, bisa berupa faktor biologis, kimia, fisik, mekanis, atau nutrisi yang dapat menyebabkan suatu penyakit. a) Biologis

11

2. 3.

Bakteri patologis, jamur, atau virus dan parasit. Pada saat penyebab tersebut masuk ke dalam tubuh, mereka akan diisolasi dan dipelajari. Hal ini dilakukan sebelum diketahui secara pasti agen mikroba spesifik apa yang menjadi penyebab suatu penyakit. b) Kimia Exogenous (allergen) dan endogenous (acidosis) c) Fisik Panas, dingin, radiasi (atomic/radioaktif/X-rays), magnet d) Mekanis Tekanan atau gesekan e) Nutrisi Protein, karbohidrat, dan lemak. Mikronutrisi sangat penting untuk mencegah penyakit seperti vitamin dan mineral. Host Karakteristik bawaan seperti, usia, jenis kelamin, imunitas, nutrisi, kesehatan, genetik, pekerjaan, kebiasaan, faktor fisik, dapat mempengaruhi kesehatan host. Lingkungan Merupakan jumlah total seluruh pengaruh eksternal dan kondisi yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan suatu organisme, kebiasaan seseorang dan masyarakat. Faktor lingkungan merupakan faktor predisposisi yang sangat penting untuk kebanyakan penyakit Faktor lingkungan yang penting, antara lain : lingkungan fisik, biologis, dan sosial ekonomi a) Lingkungan Fisik Cahaya matahari mempengaruhi sintesis vitamin D oleh kulit Faktor iklim yang mempengaruhi penyakit antara lain, cahaya matahari, variasi suhu, curah hujan, kelembaban. Polusi udara dan air juga merupakan faktor fisik penting yang mempengaruhi penyakit Polusi udara menyebabkan iritasi mekanis dan kimia pada saluran pernapasan b) Lingkungan Biologi Misal kesehatan, makanan dan nutrisi, kebersihan c) Lingkungan Sosial dan Ekonomi : 1. Pengangguran 2. Pendapatan rendah 3. Tingkat pendidikan rendah

4.

4. Kepadatan penduduk 5. Sanitasi buruk 6. Tingkat kebersihan yang rendah Waktu Tanpa waktu yang cukup, penyakit tidak akan terjadi.

ASSESSMENT IN THE COMMUNITY (Penilaian dalam Masyarakat)


PRAKTEK KESEHATAN MASYARAKAT Kesehatan Masyarakat dpengaruhi perubahan social, demografi, politik, ekonomi, dan juga teknologi. Misi dari kesehatan masyarakat => yakni untuk memenuhi minat masyarakat dalam menjamin/meyakinkan kondisi bahwa semua orang dapat sehat. Misi ini dicapai dengan proosi kesehatan, pencegahan penyakit, serta mengontrol usaha yang dirancang untuk meningkatkan kesehatan serta kualitas hidup. Ahli kesehatan masyarakat berasal dari banyak disiplin ilmu, termasuk didalamnya : bidang kesehatan gigi, keperawatan, nutrisi/gizi, kesehatan lingkungan, ilmu laboratris, administrasi, serta epidemiologi.

12

INTI DARI FUNGSI KESEHATAN MASYARAKAT Terdapat 3 inti dar funsi kesehatan masyarakat yang membentuk praktik dasar dari kesehatan masayarakat pada tingkat local maupun Negara Fungsi ini harus dilakukan untuk melindungi dan meningkatkan kesehatan, kesejahteraan, dan kualitas hidup, serta mencegah penyakit, kecelakaan, ketidakmampuan, dan kematian. Fungsi ini: (1) Assessment, (2) Policy Development, dan (3) Assurance

PERAN AHLI KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENILAIAN Penting untuk seorang praktisi kesehatan masyarakat untuk memiliki kemampuan dalam mengumpulan, menganalisis, serta menggunakan secara efektif data dan informasi. Oleh karena itu, mereka harus memiliki pengetahuan, kemampuan dan penilaian terhadap: - Kerja dalam masyarakat untuk membentuk partnership - Kumpulan data yang berkaitan dengan kesehatan - Identifikasi isu kesehatan dan sumbernya(etiologi) - Penentuan prioritas kesehatan yang perlu diperhatikan - Penerapan solusi pada masalah kesehatan masyarakat - Penggunaan data dan evaluasi hasil dari kebijakan & intervensi kesehatan masyarakat

Pelayanan dasar kesehatan gigi masyarakat direlasikan dengan penilaian: Penilaian status OH dan kebutuhannya, sehingga masalah dapat diidentifikasi Analisa dalam penentuan/ identifikasi kebutuhan OH, termasuk sumbernya (etiologi) Penilaian status fluoridasi sitem air dan sumber lain fluoride Penerapan sistem pengawasan OH untuk mengidentifikasi, menginvestigasi, serta memonitor masalah OH dan resikonya terhadap kesehatan Evaluasi keefektifan, aksesibilitas, dan kualitas dari pelayanan OH baik personal maupun pada populasi
Yang bertanggung jawab terhadap penilaian kesehatan OH masyarakat yaitu: ahli kesehatan gigi masyarakat (baik swasta maupun negri) Contoh peran praktisi kesehatan gigi masyarakat dalam melakukan penilaian: Pengajar OH menilai pengetahuan, perilaku, dan opini masyarakat terhadap fluoridasi air masyarakat dalam meyukseskan kampanye peningkatan H Dokter gigi Publik yang berasal dari depkes menilai dental selant pada anak-anak kelas 3 seluruh sekolah dalam suatu Negara Program manager OH mengevaluasi kualitas dan hasil dari pelayanan klinis pencegahan dalam suatu program OH sekolah Dokter gigi yang membuka praktik sendiri, mungki akan ditunjuk sebagai komite yan melaporkan OH, dengan mengevaluasi inkator OH dalam suatu Negara bagian TINJAUAN EPIDEMIOLOGI (STUDI KESEHATAN BERBASIS POPULASI) Epidemiologi studi tentang distribusi, faktor penentu kesehatan, dan keadaan dalam suatu populasi spesifik, serta aplikasi studi ini untuk mencegah dan mengontrol masalah kesehatan. o Seorang epidemiologs akan memikirkan interaksi dan hubungan multifactor yang mempengaruhi status kesehatan dan masalah kesehatan. o Metode yang digunakan akan dikombinasikan untuk memfokuskan pada` perbandingan antara beberapa kelomok atau populasi o Faktor-faktor dasar dalam menganalisi epidemiologi: - Distribusi - Dinamika populasi - Kejadian - Populasi yang terkena

13

Karakteristik tempat Waktu Faktor penentu

Faktor Host Hst dapat berupa manusia, hewan, atau tumbuhan. Faktor host berhubungan dengan kerentanan dan resistensi terhdap penyakit melalui imunitas biologis, pengetahuan, kesadaran, modifikasi perilaku, umur, gender,keturunan, etnis, dll.. Faktor Agen Merupakan organism biologis atau iritan mekanis yang menyebabkan penyakit, kecelakaan, ketidakmampuan (miroba, parasit, virus, bakteri pathogen, iritan fisik, kimia, trauma, dan radiasi) Faktor Lingkungan Termasuk didalmnya sosiokultural, sosiopolitikal, fisik, dan ekonomi (media, kepercayaan, pekerjaan, sumber makanan, geografi, iklim, peran social, teknologi, dll..) Berikut ini merupakan contoh epidemiologic triangle yang menggambarkan interaksi antara factor diatas terhadap terjadinya Karies dental

Faktor Host
o o o o Enamel gigi (struktur dan Kristal enamel) Saliva (Komposisi dan laju alir) Imunitas (respon terhadap patogen) Host (kepercayaan individu, perilaku, kebiasaan)

Karies Dental

Faktor Lingkungan
o o o o o Plak (Kuantitas dan Kulaitas) Enzim Mineral Substrat bakteri (fermentasi karbohidrat) Faktor pelindung (pasta gigi ber-fluoride, air, dll) o Faktor sosioekonomi o Norma masyarakat dan factor budaya o Dukungan keluarga dan jaringan sosial

Faktor Agen
o Biofilm Bakteri o Bakteri spesifik (S. mutans) o Bakteri lain

14

PENGGUNAAN EPIDEMIOLOGI: 1. Mendeskripsikan pola dalam kelompok 2. Mendeskripsikan proses biologis normal 3. Menerangkan mekanisme transmisi penyakit 4. Mendeskripsikan sejarah alam penyakit akut & kronis 5. Hipotesis untuk pencegahan dan control penyakit, kecelakaan, ketidakmampuan, dan kematian dengan studi khusus terhadap populasi 6. Evaluasi pelayanan 7. Studi kesehatan yang bukan penyakit dan masalah social, misalnya: kecelakaan yang tidak diinginkan 8. Mengukur distribusi status kesehatan, penyakit, kecelakaan, ketidakmampuan, kelahiran dan kematian dalam populasi 9. Identifikasi factor penentu terhadap penyakit, kecelakaan, ketidakmampuan, dan kematian 10. Evaluasi intervensi dan strategi untuk mencegah dan mengontrol penyakit, kecelakaan, ketidakmampuan, dan kematian 11. Memperkirakan tren penyakit, kecelakaan, ketidakmampuan, dan kematian 12. Identifikasi asset kesehatan, celah, kebutuhan, maslaah, sumber, solusi, dan kerja sama dalam suatu masyarakat

Studi Deskriptif Meliputi : - deskripsi, - dokumentasi, - analisa, dan - interpretasi data untuk mengevaluasi keadaan/situasi yang sedang terjadi

KLASIFIKASI STUDI EPIDEMIOLOGI Studi Analitik - Identifikasi penyebab penyakit, kecelakaan, ketidakmampuan, dan kematian - Menentukan hubungan kausal yangada antara factor dan penyakit/kondisi

Studi Eksperimental - Digunakan ketika mekanisme penyebab penyakit sudah ada, dan investigator menentukan efektifitas perubahan factor - Aplikasi atau menahan penyebab yang diduga pada suatu kondisi, kemudian mengobservasi hasilnya

MENGUBAH PERSPEKTIF KESEHATAN Terdapat perluasan dari konsep promosi kesehatan dan pencegahan penyakit, dari focus individual, bergeser menjadi lebih kompleks, holistic, pendekatan interkatif dengan orientasi system yang memfokuskan pada manusia yang sehat tinggal dalam suatu masyarakat yang sehat Tren yang membentuk persepsi kesehatan pada abad 20: Perubahan kondisi social, etos kerja, serta institusi social Pergeseran pandangan terhadap sipil dan hak manusia Pertumbuhan populasi dan perubahan demografi Kesadaran akan kesehatan lingkungan dan ekologi Perubahan teknologi yang mempengaruhi kerja, rumah, dan hidup dalam masyarakat (ex: trasportasi, telekomunikasi, komputer) Kemajuan dalam ilm biologi, fisika, kuatitatif, social, dan perilaku Pengetahuan akan akibat globalisasi terhadap kesehatan populasi Pendekatan promosi kesehatan telah mulai meningkatkan prinsip populasi kesehatan, ekologi social, serta partisipasi masyarakat CONCEPTUAL MODELS OF THE DETERMINANT OF HEALTH

15

Konsep web of causation mulai muncul pada akhir abad ke 20 menggantikan model segitiga epidemiologic sebagai akibat dari berkurangnya jumlah penyakit infeksi. Perhatian yang difokuskan dalam konsep web of causation yaitu faktor-faktor yang bervariasi pada penyakit kronik, ketidakmampuan(cacat), dan luka. Hancock mengajukan kerangka komprehensif untuk memudahkan kita dalam mengerti tentang faktor-faktor kesehatan yaitu berupa mandala of health ,sebuah model ekosistem manusia. Setiap lingkaran menggambarkan kesimetrian dan keutuhan. Pertemuan pada lingkaran menggambarkan faktor multiple dari kesehatan. Pada pusat tengah lingkaran menggambarkan individu dengan kesehatan total dan kehidupan yang direpresentasikan oleh integrasi pikiran, tubuh, dan jiwa tetapi tidak terisolasi dari kondisi lainnya. Di dalam komunitas global biosfer, individu hadir hanya sebagai elemen yang bergantung dengan sistem yang lebih besar yaitu termasuk di dalamnya keluarga dan komunitas pada masyarakat. Semua daerah yang digambarkan pada model dikelilingi dan dipengaruhi oleh budaya sekitar. 4 grup factor yang mempengaruhi kesehatan individu, keluarga, dan komunitas: 1. Lingkungan psychososioeconomic 2. Lingkungan physical 3. Human biology 4. Tingkah laku personal Culture komunitas Gaya hidup Keluarga
Personal behavior

jiwa tubuh Mind

Psychososio economic

Sick Care system


Human biology

work

Human-made environment

Lingk. physical

biosfer Di amerika,sudut pandang multidimensional pada kesehatan telah membentuk pembangunan tujuan kesehatan nasional dan sasaran untuk healthy people 2010. Strategi yang dilakukan berdasarkan kerangka konseptual untuk pendekatan sistematik bagi peningkatan kesehatan. Faktor kesehatan berdasarkan model ini, yaitu: 1. individual biology 2. individual behavior 3. physical environment 4. social environment 5. policies dan intervention 6. Access to quality health care

16

Goals obejctives Faktor kesehatan Policies dan interventionso Behavior

Physical environment

individu

Social environment

biology

Policies dan interventionso

Health status

DETERMINANTS OF HEALTH IN INDIVIDUALS AND POPULATION Faktor kesehatan memiliki efek pada status kesehatan individu, keluarga, komunitas, Negara, dan dunia. Faktor kesehatan adalah factor yang berinteraksi membuat suatu keadaan dan menghasilkan kondisi kesehatan spesifik. Faktor-faktor ini saling bersinergi dalam mempengaruhi kesehatan individu dan tidak ada factor yang paling dominant tetapi saling mempengaruhi. Yang termasuk factor kesehatan: 1. Physical (environmental) 2. Biologic 3. Behavioral 4. Social 5. Culture 6. Spiritual Faktor-faktor di atas juga dapat diklasifikasikan menjadi: 1. inherited determinants faktor yang diturunkan (genetik) 2. Acquired determinants Yang mempengaruhi kesehatan dan didapat setelah lahir dan pada saat hidup (faktor multipel infeksi, trauma, karakteristik kultural, dan nilai spiritual). Beberapa faktor dikategorikan sebagai faktor umum/luas, yaitu pekerjaan, pendidikan, lingkungan, pendapatan, makanan, norma sosial dan keadilan, keluarga, teman, kedamaian dan keamanan, budaya dan hubungan ras. Faktor lainnya (bahasa, pembelajaran, pekerjaan, rekreasi, harga diri, kontrol personal) berkontribusi pada cara hidup individu. WHO telah mendukung konsep healthy cities/healthy communities yang menerima sudut pandang luas multidimensional pada kesehatan. WHO memajukan konsep ini yang berfokus pada factor akar kesehatan. Guiding principles - komunitas sehatperspektif kesehatan Definisi umum kesehatan Definisi umum komunitas Bertukar pandangan dari nilai komunitas

17

Kualitas hidup untuk semua orang Partisipasi penduduk dan penyebaran komunitas Perubahan penekanan sistem Kapasitas dibangun dengan menggunakan aset dan sumber daya lokal Peningkatan dan hasil di tandai dan diukur

THE PLANNING CYCLE Planning cycle adalah model yang biasa digunakan pada praktek kesehatan masyarakat berupa bagan dasar langkah-langkah proses untuk menilai, merencanakan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi. Planning cycle adalah berkelanjutan, tiap langkah bisa dibagi menjadi step yang lebih detail lagi untuk proses peningkatan kesehatan jangka panjang di dalam komunitas. Proses peningkatan kesehatan jangka panjang di dalam komunitas itu sendiri merupakan pendekatan komprehensif bagi komunitas untuk meraih peningkatan yang menunjang dalam komunitas kesehatan.

Evaluasi

Menilai

Implementasi

Rencana

Basic planning cyle kerangka dasar untuk proses peningkatan komunitas kesehatan mulut. Harus diperhatikan kedinamisan di komunitas kesehatan sehingga terkadang diperlukan fleksibilitas dalam rencana kesehatan masyarakat.

A. Plan community oral health assessment Mobilisasi komunitas :membentuk kunci partnerships dan mencari partisipan Menggambarkan komunitas Implementasikan penilaian diri dan determinasi tujuan inisial.

Evaluate oral health improvement strategy Mengumpulkan dan menganalisa data untuk indicator Memonitor proses dari strategi peningkatan kesehatan mulut Memonitor hasil kesehatan mulut Mengevaluasi proses dari strategi peningkatan kesehatan mulut Evaluasi hasil kesehatan mulut

B. Implement community oral health assessment Mengumpulkan data dari sumber yang ada Mendeterminasi kebutuhan pengumpulan data awal Merencanakan dan mengumpulkan data awal Menganalisa dan menginterpretasikan data Identifikasi masalah penting kesehatan mulut dan memilih prioritas kesehatan mulut Mengkomunikasikan dan mempublikasikan penemuan

Implement oral health improvement strategy Implementasi strategi, intervensi atau kebijakan peningkatan kesehatan mulut

18

C. Evaluate community oral health assessment

Plan oral health improvement strategy Menganalisa masalah kesehatan mulut Mengumpulkan sumber kesehatan mulut

ASSESMENT OF ORAL HEALTH IN COMMUNITIES Penilaian kesehatan mulut pada komunitas merupakan proses beraneka segi yang community-oriented dan community-directed. Fokusnya yaitu pada populasi kesehatan dan dapat terkonsentrasi pada populasi sekitar atau segmen spesifik dari populasi dalam komunitas. Penilaian kesehatan mulut mempertimbangkan modal,gaps, kebutuhan, masalah, sumber daya, solusi, dan partnership dalam konteks komunitas. Tujuan penilaian kesehatan mulut untuk mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi kesehatan mulut pada sebuah populasi dan untuk mendeterminasi sumber daya yang tersedia dan intervensi yang mempengaruhi faktorfaktor tersebut. Metode penilaian yang berorientasi modal lebih menghasilkan peningkatan dan pelayanan dibandingkan pendekatan yang berdasarkan kekurangan(deficiency-based approach) yang focus pada kebutuhan dan masalah. Salah satu cara untuk melakukan penilaian adalah dengan memberikan pertanyaan seputar kesehatan mulut yang telah dikumpulkan dari broad-based assessment process pada komunitas sehingga dapat memberikan gambaran masalah dan prioritas kesehatan mulut. Contoh pertanyaan: 1. apa kekuatan, modal, dan sumber daya komunitas yang mempengaruhi kesehatan mulut dalam komunitas? 2. Apa kapasitas, sumber daya, dan intervensi yang ada dalam komunitas untuk mempromosikan kesehatan mulut? Penilaian adalah langkah pertama dan esensial dalam pembuatan rencana peningkatan kesehatan mulut komunitas. Penemuan dari penilaian bisa digunakan untuk membuat tujuan kesehatan mulut, sasaran, rencana, kebijakan, intervensi, dan program untuk mengatasi masalah kesehatan mulut. Terdapat beberapa model yang dapat menjadi penuntun rencana kesehatan kolaboratif dalam komunitas, yaitu: 1. MAPP Mobilizing for Action through Planning and Partnerships dibuat oleh the National Association of Country and City Health Officials bersama dengan Center for Disease Control and Prevemtion (CDC). 2. PATCH Planned Approach to Community Health dibuat oleh CDC. 3. CHIP Community Health Improvement Process. 4. ASTDD(Assosiation of State and territorial Dental Directors) Seven-step model terdapat langkah-langkah penuntun untuk merencanakan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi penilaian kesehatan mulut. Komponen essensial harus selalu disertakan dalam penilaian kesehatan mulut komunitas,yaitu:

19

A. Plan community oral health assessment Mobilisasi komunitas :membentuk kunci partnerships dan mencari partisipan Menggambarkan komunitas Implementasikan penilaian diri dan determinasi tujuan inisial.

B. Implement community oral health assessment Mengumpulkan data dari sumber yang ada Mendeterminasi kebutuhan pengumpulan data awal Merencanakan dan mengumpulkan data awal Menganalisa dan menginterpretasikan data Identifikasi masalah penting kesehatan mulut dan memilih prioritas kesehatan mulut Mengkomunikasikan dan mempublikasikan penemuan

C. Evaluate community oral health assessment

A. Plan community oral health assessment Mobilisasi komunitas membentuk kunci partnerships dan mencari partisipan Keterlibatan komunitas merupakan hal yang penting dalam mengidentifikasi masalah kesehatan mulut dan kegiatan untuk mengatasi masalah kesehatan mulut. Collaborative partnership dan koalisi komunitas merupakan strategi pentng/utama untuk peningkatan kesehatan komunitas. Mobilisasi hubungan komunitas kunci penting pelayanan kesehatan masyarakat untuk meningkatkan kesehatan mulut komunitas. Aksi komunitas dan semangat bangun komunitas yang menyatukan dan meningkatkan kekuatan komunitas bisa memberikan hasil positif ketika dilakukan dalam jangka waktu lama. Pada awal dan selama proses penilaian komunitas, penting untuk melibatkan berbagai macam partner berupa agensi, organisasi, asosiasi, dan individual untuk berkolaborasi di dalam kerjasama. Melibatkan sektor pemerintah, swasta, dan non profit bisa memberikan keuntungan bagi penilaian dan prosesnya. Partner dapat memperluas cakupan, pendekatan, dan sudut pandang dalam proses, dan menyediakan input komunitas, sumber data, sumber daya, keahlian, dan sponsorship. Menggambarkan komunitas Komunitas adalah kumpulan orang, tempat, dan system yang memperlihatkan bagaimana orang dan tempat tinggal berinteraksi. Guiding principles Faktor yang digunakan dalam menggambarkan dan memahami komunitas 1. manusia (sosioekonomik dan demografi, status kesehatan, risk profiles, karakteristik budaya dan etnis) 2. Location ( batas geografis) 3. Connectors (membagi nilai,minat, dan faktor motivasi) 4. Hubungan kekuatan/power relationships (pola komunikasi, hubungan sosial dan politik, otoritas dan pengaruh garis formal dan informal, hubunganstakeholder relationships, alur sumber daya) Implementasikan penilaian diri dan determinasi tujuan inisial. Pada saat inisiasi proses penilaian kesehatan mulut, penting untuk mengadakan penilaian diri. Pada langkah refleksi diri ini, akan sangat berguna untuk melakukan penilaian internal untuk mengevaluasi organisasi kita dan mempertimbangkan perannya. Penting untung membuat penilaian eksternal dengan mengeksplor misi dan peran dari organisasi lain dalam komunitas. Kapasitas organisasi, struktur kepemimpinan, rencana strategis, komitmen, dan sumber daya harus dipertimbangkan pada fase ini.

20

Langkah selanjutnya adalah mendeterminasi tujuan penilaian. Tujuan harus datang dari penilaian diri dan lewat proses konsesus grup, partner harus mengerti kenapa komunitas melakukan penilaian dan apa yang diharapkan dari penilaian ini. Peniting untuk menegaskan cakupan dan ukuran penilaian.

Melaksanakan Pemeriksaan Kesehatan Mulut Komunitas


Mengumpulkan Data dari Sumber Pengumpulan data adalah mengumpulkan informasi yang dapat digunakan untuk membuat keputusan dan menentukan prioritas. Informasi dengan tipe, sumber, dan tingkat yang berbeda diperlukan untuk pemeriksaan yang komprehensif. Untuk pemeriksaan kesehatan komunitas, penting untuk mengumpulkan informasi dan mengevaluasi data yang berhubungan dengan status asset, kekurangan, masalah, sumber, solusi, dan hubungan dalam komunitas. Elemen standar dari pemeriksaan adalah kompilasi dan sintesis data yang sudah ada & informasi dari sumber sekunder. Setelah informasi yang sudah ada diperiksa, keputusan harus dibuat mengenai pengumpulan informasi yang baru dari sumber primer. Sumber data yang tersedia Sumber informasi banyak tersedia di masyarakat umum. Sumber data yang digunakan dalam pemeriksaan kesehatan mulut harus bervariasi, untuk mendapatkan gambaran yang luas dari faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan mulut dalam komunitas. Tabel Sumber Informasi Sumber Negara dan pemerintah daerah Program pelayanan sosial, kesehatan masyarakat Contoh Dept. kesehatan, pelayanan masyarakat, dan dept. Pelayanan sosial, polisi (dokumen, laporan, survei, statistik) Survei populasi Survey kesehatan daerah dan negara Laporan kesehatan dari badan dan peserta dalam suatu program Laporan badan perlindungan anak Laporan badan lingkungan Rumah sakit, rencana kesehatan (data claim asuransi kesehatan), sistem kesehatan (rekam medik dental dan diagram kesehatan) Survei masyarakat dari asosiasi profesional, grup dagang, komite konsultasi masyarakat Kelompok, organisasi, asosiasi dari pelayanan kesehatan dan sosial (dokumen, laporan survei statistik) Kelompok dan organisasii religius, badan sukarelawan; organisasi masyarakat; organisasi advokasi (dokumen, laporan, survei, statistik, informasi lokal) Statistik murid, rekam medik kesehatan sekolah, data school entry Data marketing dan survei, data finansial dan statistik ekonomi Televisi, radio, internet, koran, majalah

Philantrophic, nonprofit, dan organisasi sosial Sekolah dan universitas Organisasi bisnis, pekerja, dan pebisnis Media

Tipe informasi yang harus didapat Pemeriksaan kesehatan komunitas dapat mencapai hal-hal berikut :

21

1. Evaluasi factor-faktor yang mempengaruhi kesehatan 2. Mengetahui kebutuhan dan asset 3. Kuantifikasi perbedaan antar-populasi 4. Mengukur penyakit, kecelakaan, kecacatan, dan kematian yang dapat dicegah. 2 tipe data digunakan untuk menggambarkan komunitas dan mengkarakteristikan dimensi kesehatan dalam komunitas : 1. Data kuantitatif adalah informasi yang objektif dan dapat diukur. Data dapat diekspresikan dalam kuantitas atau jumlah. 2. Data kualitatif adalah informasi yang menggambarkan kualitas atau asal muasal sesuatu yang tidak dapat diukur atau dianalisa secara numerical. Data kualitatif menambahkan arti pada angka-angka dan membantu menjawab pertanyaan mengapa suatu masalah dapat muncul dalam komunitas. Tipe data yang dikumpulkan dan pemilihan metode pengumpulan data & instrument yang digunakan bergantung pada tujuan pemeriksaan dan sumber yang tersedia untuk pemeriksaan.

METODE PENGUMPULAN DATA Metode Document study Me-review dan mengevaluasi dokumen atau data yang menggambarkan kejadian lalu atau sekarang Instrumen Biaya dan waktu Cukup murah; sebentar Keuntungan

Data kualitatif atau kuantitatif dari badan legislatif, badan pemerintahan, organisasi masyarakat.

Data sudah tersedia

Studi observasi lapangan Pemeriksaan dari suatu kejadian, objek, orang dalam natural setting

Pemeriksa menggunakan checklist, formulir evaluasi, kamera, kaset rekaman, rating scale. Pendekatan kualitatif dengan analisis situasi dan isi.

Cukup murah, sebentar

Informasi langsung

In-depth personal interview Dilakukan dengan bertatap muka untuk mengetahui tentang sejarah hidup, kejadian, dan pengalaman. Person to person interview Wawancara survei, dilakukan dengan pertemuan antara penanya dan responden

Pertanyaan open-ended, fleksibel, tidak terstruktur; transkripsi dari kaset rekaman digunakan untuk analisis tematik dari isi.

Agak mahal, agak lama.

Sampel lebih sedikit dengan perspektif yang luas

Jadwal wawancara (terstandardisasi, kuesioner) dengan pertanyaan open-ended dan closed-ended. pendekatan kuantitatif dengan analisis statistik.

Agak mahal, agak lama

Komunikasi secara langsung

22

Screening surveys Pemeriksaan cepat dengan prosedur screening

Kriteria dan ukuran, alat ukur, dan protokol yang terstandardisasi; pendekatan kuantitif dengan analisis statistik untuk hasilnya

Murah, sebentar

Praktis, informasi yang sama dalam jangka waktu yang sebentar

Survei epidemiologi Pemeriksaan ekstensif menggunakan prosedur pemeriksaan, sampel klinis, dan uji klinis

Kriteria dan ukuran, alat ukur, dan protokol yang terstandardisasi; perencanaan lengkap untuk pemeriksaan dalam hal kondisi, kriteria, index, pendekatan sampel, pengumpulan data dan pengaturannya, juga analisisnya; pendekatan kuantitatid dengan analisis statistik dari hasil Masukkan dan memperlihatkan data dari sumber yang ada atau data baru ke dalam peta geografik menggunakan materi mudah (peta dan pushpins) atau perencanaan masyarakat secar lengkap dan analisis dengan computer software. Moderator memimpin diskusi antara 5-12 orang selama - 1 jam dengan pertanyaan open-ended berdasarkan pedoman diskusi yang sudah dibuat; analisis tematik untuk hasil diskusi

Agak mahal, cukup lama

Informasi lebih detil

Assets maps Studi geografik dan mapping untuk mengidentifikasi pola karakteristik masyarakat, aset fisik, atau aktivitas dan interaksi masyarakat Focus group Diskusi kelompok sehingga mendapatkan informasi untuk topik tertentu dari populasi kelompok tertentu

Agak murah, sebentar

Visualisasi dari informasi

Agak lama, cukup mahal

Informasi banyak dan bervariasi

Public forum or Community Dialog Event Individu atau kelompok memberikan saran dan masukkan untuk topik tertentu

Moderator bertanya, mengumpulkan, dan merangkum komentar tertulis atau pernyataan verbal (dengan kaset rekaman atau penulis sidang untuk dianalisis secara resmi)

Cukup mahal, cukup sebentar

Informasi banyak dan langsung

Community Visioning Process Kelompok dari masyarakat memgembangkan visi yang sama untuk komunitasnya ke depannya

Melalui pendekatan interaktif, fasilitator handal mengumpulkan individu bersama-sama dan memandunya dengan pertanyaan dan membantu partisipan untuk mengembangkan komunitasnya; kelompok kecil mendiskusikan visi dan gambaran; pertemuan followup untuk meningkatkan visi dan mengembangkan rencana visi

Agak mahal, cukup lama

Masukkan yang banyak dan bervariasi

23

menjadi proses perencanaan komunitas

Creative assesment anggota masyarakat mendokumentasikan persepsi dari suatu komunitas dengan sesuatu yang kreatif

Forum dan teknik yang kreatif untuk ekspresi yang digunakan untuk mengkomunikasikan persepsi yang luas pada suatu komunitas (fotografi, film, teater, musik, tarian, cerita)

Agak mahal, cukup lama

Menarik dan inovatif

Spectrum indicator kesehatan dapat digunakan untuk mengenali kesehatan komunitas. Data yang dikumpulkan untuk snapshot dalam pemeriksaan kesehatan komunitas dapat menggambarkan : o Karakteristik populasi o Rangkuman pengukuran status kesehatan dalam komunitas o Penyebab utama kematian o Mengukur kelahiran dan kematian o Mengukur penyakit, kecelakaan, dan kecacatan o Populasi yang lemah o Kesehatan lingkungan o Penggunaan layanan pencegahan komunitas dan layanan kesehatan personal o Factor protektif dan factor resiko untuk penyakit, kecelakaan, kecacatan, dan kematian o Akses ke layanan kesehatan umum, layanan kesehatan personal, dan system layanan social dalam komunitas.

Menentukan Kebutuhan Pengumpulan Data Primer Tahap kunci dari proses pemeriksaan yaitu menentukan kebutuhan untuk data & informasi tambahan. Keputusan ini harus dibuat berdasarkan : o Reevaluasi dan perbaikan yang mungkin dari tujuan pemeriksaan o Analisis temuan dari sumber data yang sudah ada o Sumber yang tersedia untuk mendukung aktivitas pemeriksaan selanjutnya Selama fase ini, penting untuk mempelajari banyak jalan alternative untuk mengumpulkan data untuk pemeriksaan kesehatan komunitas. Penting untuk mempertimbangkan keuntungan dan kerugian pilihan pengumpulan data yang tersedia. Setelah analisis ini, kelompok akan menentukan tujuan akhir sesuai dengan prioritas dan sumber yang telah diidentifikasi. Merencanakan dan Mengumpulkan Data Primer Saat dibutuhkan untuk mengumpulkan data original, kelompok mengembangkan rencana kerja yang mencakup objektif, aktivitas, peran, tanggung jawab, budget, dan waktu. Saat cakupan pemeriksaan telah ditentukan, metode dapat dipilih dan criteria ditentukan dalam persiapan fase pengumpulan data primer. Table Analisis dan Interpretasi Data Analisis dan interpretasi data membutuhkan pengetahuan dan pengalaman. Untuk menganalisa dan interpretasi data primer dan sekunder, diperlukan beberapa tahap. Tahap awal adalah sistesis informasi dan merangkum temuan.

24

Data yang dikumpulkan harus dianalisa untuk menentukan arti dan signifikansi. Kritik pada tiap data diperlukan untuk mengetahui tingkat kepercayaannya. Kelompok harus mempertimbangkan batasan data dan sumber data dengan memeriksa potensial kesalahan. Penting untuk mempertimbangkan teknik sampling seperti tipe sampel, ukuran sampel, partisipasi dari segmen populasi, dan generalisasi temuan terhadap grup populasi berdasarkan sampel. Karena potensial kesalahan dapat terjadi dalam mengumpulkan, mencatat, dan menganalisa data, penting untuk melihat ulang proses pengumpulan data untuk memeriksa apakah protokol telah diikuti untuk meyakinkan standarisasi dan mengurangi kemungkinan bias atau variasi. Informasi harus dilihat ulang dengan hati-hati untuk mempertimbangkan kemungkinan kesalahan interpretasi, kesalahan dalam coding & grouping, instruksi yang salah, atau kesalahan tipografik. Setelah data telah dipastikan bebas dari kesalahan, data tersebut harus dibandingkan dengan data lainnya. Kelompok harus memastikan bahwa data yang dibandingkan semirip mungkin. Data dari komunitas dapat dibandingkan dengan data dari komunitas sekitarnya, kota lain, Negara lain, atau bagian lain. Analisis trend dapat ditambahkan dalam perbandingan data baru dalam 1 periode waktu dengan data dari tahun yang lalu. Perbandingan ini dapat memperlihatkan perubahan dalam komunitas selama periode waktu yang spesifik, juga berguna untuk perencanaan. Kelompok menentukan apakah ada kesempatan untuk menganalisa data yang sudah ada lebih lanjut. Kelompok dapat menambahkan atau menggabungkan tipe data yang baru. Kelompok memeriksa signifikasnsi dari data yang dikumpulkan. Istilah signifikan berarti informasi benarbenar ,merefleksikan masalah yang muncul dalam komunitas. Mempelajari data untuk signifikansi berarti temuan yang mungkin salah diidentifikasi sebelum kesimpulan ditarik dari temuan. Kalkulasi numeric dilakukan selama analisis statistic untuk mengobservasi hubungan antar data yang telah dikumpulkan dengan metode kuantifikasi. Hubungan antar data yang dikumpulkan dengan metode kualitatif dieksplorasi dengan analisis kontekstual. Tahap dalam analisis data kualitatif meliputi familiarisasi, identifikasi kerangka tematik, indexing, charting, mapping, dan interpretasi. Dengan menggunakan metode yang spesifik, data dalam bentuk kontekstual dikelompokkan untuk mengetahui tema umum atau unik dan membuat kategori analitik dan penjelasan teoretik. Pertanyaan-pertanyaan ini terjawab : o Apakah informasi tersebut merefleksikan hubungan? o Apakah informasi tersebut menggambarkan pola dari tema dan menjelaskan fenomena social? Penemuan dari data kualitatif dan kuantitatif, dapat memberi arahan untuk tindakan selanjutnya untuk membangun asset komunitas. Tahap ini dapat memindahkan fase pemeriksaan ke fase perencanaan dalam proses peningkatan kesehatan mulut masyarakat. Dalam waktu yang sama, pertanyaan tambahan dapat muncul yang dapat mengarahkan proses tersebut ke kebutuhan akan informasi dan aktivitas pemeriksaan tambahan.

Identifikasi Masalah Kesehatan Mulut secara Kritis dan Pemilihan Prioritas Pada tahap identifikasi masalah kesehatan mulut secara kritis, sangatlah penting untuk mempertimbangkan pengenalan terhadap asset, celah atau kekosongan, masalah2, sumber daya, solusi, dan hubungan dalam suatu komunitas. Pada saat proses pemeriksaan dilakukan evaluasi asset dan sumber daya komunitas untuk menciptakan pandangan bersama untuk suatu perubahan. Seluruh anggota komunitas harus berperan aktif dalam segala aspek untuk mendeterminasi dan mengutamakan masalah yang kritis. Pada setiap fakta, sangat penting dalam menganalisis situasi dan mendeterminasi prioritas dalam masalah kesehatan mulut untuk tujuan masa depan. Melalui suatu proses pemikiran, anggota komunitas harus dapat mencapai suatu konsesus mengenai solusi jangan pendek dan jangka panjang untuk mengidentifikasi masalah kesehatan mulut. Kunci dalam mendeterminasi dan mengutamakan masalah kesehatan mulut dalam sebuah komunitas: 1. Kembangkan proses mendahulukan masalah kesehatan mulut. Masukan anggota komunitas sangat diperlukan. 2. Yakinkan kembali determinasi keutamaan kesehatan mulut dalam hubungannya dengan komunitas.

25

3.

4. 5.

6.

Determinasi kapasitas komunitas untuk mengutamakan kesehatan mulut. Pertimbangkan asset dan sumber daya pada lokasi terebut saat proses pemeriksaan. Bagaimana asset dan sumber daya komunitas dapat dimanfaatkan sebesar mungkin untuk masalah kesehatan mulut? Pertimbangkan seberapa kemungkinan prioritas masalah kesehatan mulut dapat diubah. Seberapa besar derajat perubhaan yang dapat dicapai komunitas dalam periode waktu tertentu? Taksir atau perkirakan masalah ekonomi, social, dan politik yang mempengaruhi kemampuan komunitas untuk mengutamakan masalah kesehatan mulut. Masalah2 tersebut dapat mempengaruhi strategi dan rencana yang nantinya akan dibuat. Identifikasi program2 komunitas untuk tujuan keutamaan kesehatan mulut yang dilakukan melalui usaha2 pemeriksaan.

Komunikasi dan Publikasi Hasil Penemuan Sangat penting untuk menyusun suatu rencana dalam mengkomunikasikan dan menyebarkan hasil penemuan. Hasil penemuan disajikan dari pengumpulan data dan analisis serta informasi mengenai keseluruhan pemeriksaan. Penemuan seharusnya dipublikasikan dan didistribusikan secara meluas pada berbagai anggota komunitas melalui saluran penyebaran komunikasi yang memungkinkan, seperti forum publik, konferensi, dna publikasi. Komponen laporan dapat mencakup pernyataan tujuan, materi, dan metode penggunaan. Hasil, diskusi, kesimpulan, ringkasan, dan abstrak. Evaluasi Proses Pemeriksaan Seluruh proses pemeriksaan kesehatan mulut harus dievaluasi sehingga dapat memberi kesempatan dalam penerapan perubahan dan pengembangan proses tersebut. Melalui pemeriksaan kritis pada akhir proses dapat menghasilkan hubungan dua arah dimana pengalaman dapat dipelajari untuk pemeriksaan kesehatan pada waktu mendatang dalam suatu komunitas. PENGEMBANGAN DAN IMPLEMENTASI SEBUAH RENCANA PENGEMBANGAN Pada tahap ini, strategi pengembangan kesehatan mulut dapat dikembangkan untuk mengutamakan rancangan masalah kesehatan mulut dalam pemeriksaan kesehatan mulut. Tujuan yang konkrit, objektif, bijaksana, dan terprogram dapat direncanakan dan diterapkan berdasar penemuan, fakta, dan prioritas dai pemeriksaan kesehatan mulut. Pemeriksaan kesehatan mulut suatu komunitas menjadi tidak berguna kecuali jika informasi nya digunakan untuk mengembangkan dan diterapkan dalam pengefektifan strategi kesehatan mulut komunitas tersebut. Masyarakan Sehat 2010 dapat menyediakan panduan pengembangan rencana peningkatan kesehatan mulut.

PRINSIP-PRINSIP DASAR DAN METODE ORAL EPIDEMIOLOGY


Introduction Epidemiologi adalah central medical science yang mempelajari distribusi dan determinasi status kesehatan atau event pada populasi yang spesifik dan aplikasi dari studi ini digunakan untuk mengontrol permasalahan kesehatan. Studi ini berfungsi untuk perencanaan dan evaluasi pelayanan kesehatan Esensi dari studi ini adalah outcomes yang berhubungan dengan exposure status dan hubungan antara exposure status tersebut dengan penyakit yang dipengaruhi oleh genetik, lingkungan, biologis, sosiologis ataupun psikologis Konsep Penyebab Penyebab dari suatu penyakit dapat diakibatkan oleh suatu kejadian, karakteristik, suatu keadaan atau kombinasi hal-hal tersebut yang dapat menyebabkan suatu penyakit Suffcient cause menginisiasi suatu penyakit dimana penyebab tersebut dikategorikan penting jika penyakit tersebut tidak dapat berkembang Sufficient cause ini biasanya terdiri dari multi faktor dan terdiri dari beberapa komponen. Misalnya : gula (makanan manis) dapat menyebabkan dental caries, namun harus diperhatikan juga tipe gulanya, cara penggunaannya, dan frekuensi mengkonsumsi gula tersebut. Selain itu, kita juga perlu

26

mendeterminasikan jumlah plak, karakteristik enamel, tipe dan jumlah microbiological flora, karakteristik genetik dan konsumsi flouride. Konsep penyebab dari suatu penyakit ini disebut dengan deterministic Lihat gambar 5.1.: setiap penyebab memiliki potensi untuk menyebabkan penyakit, tetapi tiap komponen dari penyebab tersebut memiliki peran untuk mengakibatkan satu, dua, atau tiga mekanisme penyebab. Misalnya faktor A, B, dan C terdapat di setiap individu dan faktor D yang jarang di setiap individu. Faktor D tersebut dapat meningkatkan resiko di beberapa indvidu yang memiliki daripada individu yang tidak memiliki faktor D tersebut, contoh faktor D ini adalah genetik misalnya, seseorang yang memiliki tendensi kolesterol tinggi akan lebih mudah terserang myocardial infarction daripada yang tidak memiliki tendensi tersebut. Model konsep deterministic ini digunakan dalam mengidentifikasi beberapa komponen multifaktor yang berhubungan dengan penelitian epidemiological, biological, psychological dan sosiological

C B C A B C B D

Gambar 5.1. : Model konsep skema deterministic causal pada studi epidemiologi Diagnostic Testing Secara ideal, positive diagnostic test mengindikasikan adanya suatu kondisi / penyakit, sedangkan negative test mengindikasikan tidak adanya kondisi / penyakit tersebut Ada atau tidak adanya penyakit dapat dideterminasikan dengan menggunakan suatu metode diagnostic, yaitu gold standar. Lihat gambar

Disease Present

Disease Absent

Test Postive

a True Positive

b False Postive

a+b

Test Negative

c False Negative

d True Negative

c+d

a+c

b+d

Pada cell a terdapat penyakit dan hasil testnya juga positive true postive Pada cell d tidak terdapat penyakit dan hasil testnya juga negative true negative Pada cell b menggambarkan individu yang tidak memiliki penyakit tetapi memiliki hasil test yang postif false positive Pada cell c menggambarkan individu yang memiliki penyakit tetapi dari sisi hasil test memperlihatkan penyakit tersebut tidak ada Sensitifitas didefinisikan sebagai prosentase individu yang memiliki penyakit dengan hasil tes yang positif atau kemungkinan hasil tes yang positif memperlihatkan adanya penyakit. Rumus sensitifitas adalah :

27

Sensitifitas =

True Positive = True Positif + False Negative

a a+c

Contoh :

Disease Present

Disease Absent

Test Positive

49 (a)

19 (b)

68 (a+b)

12 (c)

234 (d)

2246 (c+d)

a+c

b+d

314

Sensitifitas :

49 = 0.80 (95 % CI = 0.68 0.89) 49 + 12 Semakin tinggi nilai sensitifitas maka semakin kuat test tersebut untuk menggambarkan bahwa orang tersebut memiliki penyakit / kondisi tertentu. Angka 0.80 / 80 % menggambarkan pasien-pasien yang memiliki penyakit juga memiliki hasil tes yang positif. Spesifikasi didefinisikan sebagai persentase individu yang tidak memiliki penyakit / kondisi tertentu dan memiliki hasil test yang negatif pula atau dengan hasil test yang negative maka tidak ada penyakit. Rumusnya adalah : Spesifikasi : : d True Negative True Negative + False Positive

d+b Dengan menggunakan data diatas maka dapat diambil contoh : Spesifikasi : 234 = 0.92 (95 % CI = 0.88 0.95) 234 + 19 Semakin tinggi spesifikasi, maka semakin tinggi individu tersebut tanpa penyakit atau dengan kondisi tertentu

Nilai Prediksi Positive dan Negative Sensitifitas dan spesifikasi menggambarkan tingkat akurasi test, jika positive maka disebut sebagai positive predictive value(PV +) dan negative predictive value (PV -) mengestimasi kemungkinan suatu penyakit atau kondisi tertentu. PV + mengestimasi seberapa besar suatu penyakit / kondisi tertentu yang muncul jika hasil tesnya adalah positive. Rumus : PV + = True Positive =a True Postive + False Positive a+b

28

PV + adalah presentase individu yang memiliki suatu penyakit tertentu dan dengan hasil tes yang postive diantara semua / jumlah individu yang memiliki hasil tes yang positif. Contoh : PV + = 49 = 0.72 (95 % = 0.6 0.82) 49 + 19 Sebelum dilakukan tes individu yang terkena penyakit rata-rata adalah 61 dari 314 (0.19) individu dan setelah dilakukan uji tes rata-ratanya naik menjadi 0.72 Negative predictive values (PV -) adalah kemungkinan tidak terdapatnya penyakit jika hasil tesnya negative. Rumusnya : PV - = True Negative =d True negative + False Negative d+c Contoh : PV - = 234 = 0.95 (95 % CI = 0.91 0.97) 12+234 Sebelum dilakukan uji tes individu yang tidak terkena penyakit 253 dari 314 (80.6 %) dan setelah dilakukan uji tes individu yang tidak terkena penyakit bertambah menjadi 95 %. PV + dipengaruhi oleh prevalensi, sensitifitas dan spesifikasi. Dirumuskan dengan : PV + = Sensitifitas x prevalensi (Sensitivity x prevalensi) + {(1-prevalence) x (1-spesificity)} Jika spesifikasi, sensitifitas, dan test positive dari individu diketahui maka didapatkan rumus : Prevalensi = Fraction of test positive + (specificity 1) Sensitifity + (specificity -1) Contoh : 0.2166 + (0.9249 1) = 0.19 0.8033 + (0.9249 1) Screening

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Tujuan dari screening dalam populasi adalah untuk mendeteksi adanya penyakit atau predictor penyakit pada stadium awal Tujuan pertama adalah untuk mendeteksi penyakit pada individu sebelum gejala-gejala muncul. Tujuan kedua adalah jika setelah dilakukan screening kemudian langsung dilakukan perawatan maka chance untuk hidup akan lebih besar. Tetapi alluring logic ini memiliki 2 bias, yaitu lead-time bias dan length-time bias. Waktu dari sejak diagnosis awal setelah screening menjadi diagnosis yang rutin lead time Length-bias muncul apabila suatu penyakit terdeksi melalui program screening menjadi lebih jinak dibandingkan dengan tanpa screening Beberapa requirement yang esensial untuk program screening adalah

morbiditas dan mortalitas intervensi awal harus diketahui sebelum menentukan prognosis screening test / prosedur harus lebih sensitive dan lebih spesifik prosedur tes harus dapat diterima dalam populasi meminimalisir efek yang kurang baik dari hasil tes tersebut baik dari segi psychological dan ethical kondisi sejarah populasi tersebut harus dipahami agar dapat menentukan waktu yang tepat untuk melaksanakan screening test harus terdapat kebijakan yang disetujui oleh beberapa pihak-pihak yang merawat pasien perawatan yang tepat harus diberikan semaksimal mungkin cost-benefit dan cost-effectiveness harus terjangkau

PENGUKURAN FREKUENSI SUATU PENYAKIT Prevalensi dan insiden (prevalence and incidence)

29

Prevalence adalah suatu jumlah kasus baru di dalam sebuah populasi. Estimasi prevalensi dihitung dengan membagi jumlah individu/kasus yang terlibat dengan jumlah total orang dalam populasi. Estimasi prevalensi ini digunakan untuk studi cross-sectional, untuk tujuan deskriptif, diagnosis komunitas, tujuan administrative, perencanaan program kesehatan, dan merupakan dasar dari pembentukan hipotesis. Point prevalence = jumlah kasus waktu tertentu / total populasi waktu itu Period prevalence = jumlah kasus selama periode tertentu / total populasi selama periode itu Kedua rumus di atas digunakan untuk membedakan antara 2 subtipe prevalensi. Incidence adalah jumlah kasus/kejadian baru selama periode waktu tertentu. Prevalensi bergantung pada durasi insiden dan insiden terdahulu/sebelumnya karena kasus sebelumnya/kasus lama termasuk di dalam perhitungan prevalensi. Saat insiden dan durasi suatu penyakit dinyatakan konstan, maka hubungannya akan menjadi: Prevalence = incidence x duration Prevalensi dapat berubah sepanjang waktu bila ada perubahan pada insiden, durasi, atau jumlah orang yang suseptibel. Range prevalensi dari 0 hingga 1. Contoh kasus: jika ada 221 orang dengan usia 12-an tahun di suatu area geografis tertentu pada bulan Januari 2009 dan 41 anak didiagnosis memiliki karies dental, maka estimasi point prevalensi karies dental pada Januari 2009 jadi >> prevalensi = 41 / 221 = 0,186 atau 18,6%. Incidence rate (IR)/incidence density adalah kejadian kasus baru suatu penyakit selama periode waktu yang diberikan. Untuk mengestimasi IR, populasi diobservasi dalam periode waktu dan jumlah kasus baru yang dihitung bersama dengan total person-time. IR = new cases / person-time Contoh kasus: jumlah person-time (7+5+7+6+1+5+2+5 = 38), kasus baru 3, maka IR = 3 / 38 = 0,079 kasus per person-time. Cumulative incidence proportion (CIP) adalah ukuran suatu kasus baru yang terkumpul selama periode waktu tertentu dalam resiko populasi. Dapat dipertimbangkan sebagai probabilitas/rata-rata resiko berkembangnya sebuah penyakit dalam suatu individu tertentu dalam interval waktu tertentu. CIP = new cases of disease during time interval / persons at risk at beginning of time interval Dengan definisi semua anggota populasi di bawah observasi bebas dari penyakit, resiko, pada awal periode observasi. Range CIP 0 (tak ada kasus yang terjadi) hingga 1 (saat semua anggota populasi terlibat). Contoh kasus: ada 123 subjek beresiko terhadap perkembangan OC (oral candidiasis) setelah didiagnosis antibody HIV-1 seropositif dan tiap individu telah diperiksa OCnya dan ditemukan bebas dari penyakit. Studi dimulai dari awal Januari 2009 dan semua subjek diikutkan untuk masa 3 tahun, dimana selama 21 pasien didiagnosis OC setidaknya sekali, maka CIPnya akan menjadi: 21 / 123 = 0,17 atau 17%. Dengan syarat untuk menghitung CPI, semua anggota yang diikutsertakan menjadi subjek penelitian tidak boleh loss/missed selama follow-up. Rates, proportions, odds, risks, ratios, dan differences Pada rate, ada perbedaan yang jelas antara numerator dan denominator: biasanya waktu adalah bagian dari denominator. Contoh Rate misalnya: 79 kasus per 1000 tahun terjadi, tentunya kita tidak perlu melakukan observasi selama 1000 tahun. Estimasi dapat dilakukan, misalnya diperoleh dengan mengobservasi 7 9 kasus diantara 500 orang selama periode dua tahun. Unit waktu yang tepat dipilih untuk denominator. Diasumsikan bahwa jumlah kasus baru adalah sama pada time band yang berbeda. Proportion mempunyai rentang dari 0 sampai 1 (atau sebagai persentase dari 0 sampai 100). Proportion (P) dapat juga dinyatakan sebagai odds.Pada umumnya hubungan antara probability dan corresponding odds adalah: Odds=P/(1-P) P=odds/(1+odds)

30

Odds, yang bervariasi dari nol sampai tidak terhingga, merupakan ekspresi penting dalam epidemiologi, khususnya pada case-control studies. Odds menunjukkan rasio dari probabilitas dari peristiwa yang terjadi dengan peristiwa yang tidak terjadi. Dalam epidemiologi, risk menunjukkan probabilitas peristiwa yang pasti pada periode waktu spesifik. Ukuran-ukuran ini memiliki aplikasi yang berbeda-beda. Risk merupakan yang paling berguna jika fokus perhatian ditujukan pada probabilitas/kemungkinan seorang individu akan sakit dalam periode waktu yang spesifik. IRs digunakan jika fokus perhatian pada kecepatan dengan kasus baru. Rates dan Risks tidak identik, namun keduanya berhubungan: semakin besar IR, semakin tinggi risk (CIP) pada periode waktu yang spesifik. Ratio didapatkan dengan membagi satu kuantitas (misalnya IRs) pada dua populasi. Kita mendapatkan estimasi dari frekuensi penyakit pada suatu populasi, dibandingkan dengan frekuensi penyakit di populasi lainnya. Secara khas, satu dari populasi di ekspos untuk faktor resiko, sementara yang lainnya tidak. Dengan cara ini kita mendapatkan estimasi dari pentingnya pengeksposan faktor resiko untuk penyakit yang muncul. Jika IR dari karies permukaan baru adalah 1, 5 per tahun pada grup A dan 0,4 per tahun pada grup B, incidence rate ratio nya adalah 3,8. Sehingga IR-nya 4 kali lebih besar pada grup A dibanding grup B. Jika CIPs-nya dibandingkan, ratio-nya dinamakan relative risk (RR). IRs dapat juga dibandingkan dengan absolute difference dari penyakit yang muncul diantara dua grup disebut incidence rates difference (IRD). Pada contoh tadi, maka IRD-nya adalah 1,5 - 0,4=1,1 per tahun, atau individu di grup A memiliki rata-rata karies permukaan baru per tahun 1,1 lebih besar dibanding pada grup B. Perhitungan Risk Time Pada fig.5.5, mudah untuk menghitung total person time, karena kita dapat mengikuti ke-8 individu. Namun, pada follow-up studies, atau disebut juga studi kohort, umum ditemukan beberapa individu meninggalkan penelitian karena berbagai alasan, seperti kematian, berpindah tempat tinggal, atau memutuskan untuk tidak berpartisipasi lagi dalam penelitian. Observasi ini disebut censored. Pada penelitian hypothetical kecil pada fig.5.6, dimana 5 orang become diseased dan 3-nya censored, kita ingin mendeskripsikan prognosis sampai 8 tahun setelah perawatan. Namun, kita tidak memiliki informasi lengkap seluruh individu. Maka kita tidak dapat menghitung CIP dengan 3/12, tapi kita dapat menghitung IR menggunakan semua informasi yang kita peroleh. Individu yang censored berkontribusi dengan risk time sampai censoring, dan menjadi diseased sampai penyakit diobservasi. Total risk time adalah 65 tahun, dan incidence rate 3/65=0.0462 per tahun atau 5 per 100 tahun. Pada perhitungan studi hypothetical ini, interval waktunya adalah tahun, dan kita memiliki populasi yang tetap. Menggunakan komputer dimungkinkan untuk menghitung risk time dengan akurat walaupun di populasi dinamis, ketika orang-orang bermigrasi masuk atau keluar populasi. Survival in epidemiology Survival rate adalah proporsi dari survivor atau probabilitas dari orang yang hidup (atau sehat) pada rentang waktu spesifik. Contoh: pada kanker oral, 1 tahun survival dan 5 tahun survival sering digunakan untuk indikator dari keganasan penyakit, dan prognosisnya, dan untuk membandingkan perawatan dan hasilnya di populasi yang berbeda. Analisis survival dapat dilakukan dengan menggunakan metode Kaplan-Meier atau metode actuarial. Metode pertama bertujuan untuk memberikan deskripsi eksak dari urutan survival pada kohort. Metode kedua merupakan deskripsi perkiraan survival, karena periode observasi dibagi dalam interval waktu, misalnya 1 tahun. Jika observasinya di censored, jumlah orang yang beresiko (person in risk) pada interval tersebut menurun dengan pengurangan setengah dari observasi yang di-censored. Hal ini mengasumsikan bahwa observasi yang di-censored berkontribusi setengah dari resiko pada interval waktu. Variabilitas dan Bias Tentu kita menginginkan pengukuran setepat mungkin dalam penelitian epidemiologi. Jika kita mengikuti deterministic view pada kausalitas, sebagaimana telah dijelaskan di awal bab, pengetahuan lengkap tentang seluruh komponen yang relevan dari faktor kausal sangat diperlukan untuk memprediksi hasilnya secara tepat, begitu pula sebaliknya.

31

Validitas berfokus pada derajat yang akan kita ukur. Ada dua jenis validitas, yakni: Validitas internal Validitas eksternal / generalizability

Validitas internal menunjukkan validitas yang berfokus pada indivudu sesungguhnya dalam penelitian. Validitas eksternal menyinggung individu diluar populasi penelitian. Penelitian secara internal dikatakan valid jika menyediakan estimasi/perkiraan yang tepat di populasi yang diteliti. Jika hasilnya tidak valid di populasi yang diteliti, maka dapat dilakukan di populasi yang lain. Validitas internal sering ditingkatkan dengan membatasi individu dan keadaan yang akan diteliti, dengan cara ini, efek dari faktor luar dapat dikurangi. Ada banyak tipe bias yang dapat merusak validitas internal, namun secara umum dapat dibagi tiga kategori: selection bias, information bias, dan confounding.

BIAS SELECTION INFORMATION

NON-DIFFERENTIAL

DIFFERENTIAL

RECALL

INTERVIEWER

Dalam penelitian deskriptif tentang laporan kejadian suatu penyakit, misalnya karies, dapat mengalami bias karena beberapa alasan. Sampel yang kita teliti bisa jadi tidak representatif dengan populasi yang kita tentukan. Jika ada kasus, perkiraan kita terhadap jumlah karies pada populasi tidak akan benar, dan disebut selection bias. Information bias (or misclassification) dapat terjadi ketika terjadi kesalahan pada saat pengambilan informasi yang dibutuhkan. Misklasifikasi dapat berupa non-diferensial maupun diferensial. Ketika kesalahan klasifikasi tidak bergantung pada level variabel lain, misklasifikasi itu disebut non-diferensial. Misklasifikasi non-diferensial dapat terjadi pada case-control study jika data partisipan tidak berhungan dengan apakah partisipan memiliki penyakit/kondisi atau tidak. Partisipan menjawab pertanyaan dengan baik namun dengan jawaban yang tidak akurat. The Study Periodontal disease No Periodontal disease The Study Poor Hygiene habits Good hygiene habits Periodontal disease 80 70 No Periodontal disease 40 110 Odds ratio = (80 x 110)/(40 x 70) = 3.1 Fig.5.7 Ilustrasi dari misklasifikasi non-diferensial pada hypothetical case-control study tentang hubungan antara kebiasaan kebersihan oral dengan penyakit peridontal Misklasifikasi diferensial terjadi ketika satu variabel tergantung dengan status variabel lainnya. Contoh: kasus karies rampan lebih sering di overestimate pada subjek dengan diet harmful dibanding pada subjek lain, maka bias pun dapat terjadi. Poor Hygiene habits Good hygiene habits 100 50 50 100 Odds ratio = (100 x 100)/(50 x 50) = 4.0

32

Dua tipe differential information bias yakni: recall bias dan interviewer bias.

The Truth Rampant Caries Non Rampant Caries The Truth Harmful diet Unharmful diet 115 35 50 100 Odds ratio = (115 x 100)/(50 x 35) = 6.6 Fig.5.8 Ilustrasi dari misklasifikasi diferensial pada hypothetical case-control study tentang hubungan antara diet dan karies rampan Rampant Caries Non Rampant Caries Harmful diet Unharmful diet 100 50 50 100 Odds ratio = (100 x 100)/(50 x 50) = 4.0

Case-control studies Cohort studies

Exposure/risk factor Information bias Selection bias

Disease/outcome Selection bias Information bias

Fig.5.9 Ilustrasi skematik dari bias dan hubungannya dengan tipe studi Validitas Eksternal Validitas eksternal adalah kelanjutan dari studi yang bersifat generalizable. Kesimpulan yang didapat dalam lingkungan sempit mungkin dapat atau tidak dapat diaplikasikan pada situasi umum yang lain. Generalisasi hasil studi didapat dari pembatasan sekitar. Pemilihan ketat kelompok studi akan tidak benar ketika mencapai efisiensi dari intervensi.

Confounding Pada bentuk yang sederhana, analisis epidemiologi membandingkan penyakit pada sejumlah grup individu dengan exposure yang berbeda. Ini merupakan kasus ketika semua faktor risiko yang penting pada outcome/disease terdistribusi secara equal antara 2 grup. Distribusi faktor risiko yang tidak seimbang disebut confounder. Confounding menunjukkan campuran efek variable dari luar dengan efek exposure dan penyakit atau kondisi yang menarik. Confounder merupakan risiko penyakit yang independen dan dihubungkan dengan exposure dan penyakit pada penelitian, tetapi bukan berarti hubungan pada rantai kausal/sebab akibat antara exposure dan penyakit. Contoh: plak merupakan risiko faktor pada perkembangan penyakit periodontal. Selain itu, merokok juga terlihat sebagai faktor risiko, dan seperti yang kita ketahui, merokok dihubungkan dengan OH yang rendah.

33

Estimasi yang tidak diatur antara keberadaan plak dan penyakit periodontal akan menunjukkan populasi kebiasaan merokok, karena masih banyak individu yang memiliki OH rendah pada perokok daripada bukan perokok. Merokok akan menjadi confounder. Variabel seperti usia, gender, dan status sosial juga dapat sebagai confounder pada penelitian epidemiologi. Tujuan penelitian epidemiologi adalah untuk menyediakan kesimpulan yang valid. Untuk mencapainya, perlu dilakukan permulaan melalui design dan koleksi data sampai analisis dan hasil laporan akhir. Bias dapat terjadi pada tahap-tahap tersebut dan menyebabkan hasil yang eror. Ini berguna untuk melihat sumber potensi bias dan menyadari akibat yang mungkin terjadi.

Tipe Penelitian Epidemiologi Penelitian epidemiologi dapatdikategorikan berdasarkan apakah fokus primernya pada distribusi penyakit atau analisis determinan.

Overview of epidemiological design strategies 1. Descriptive studies a. Observational studies: - Case Report - Case series - Population (correlational studies) - Cross-sectional survey

2.

Analytical studies a. Observational studies - Case Control studies (unmatched and matched) - Cohort studies (prospective and historical) Experimental Studies - Intervention studies - Clinical trials

b.

Cross-sectional studies Dapat melihat distribusi variabel di dalam sampel. Design cross-sectional cocok untuk menjelaskan variabel dan pola distribusinya. Untuk menentukan variabel yang menjadi faktor risiko dan penyakit tergantung pada hipotesis investigator daripada design penelitian. Kelebihannya adalah relatif cepat dan tidak mahal serta dapat menjadi tahap awal pada cohort study atau intervention study. Kelemahannya adalah sulit mendirikan hubungan kausal dari data yang dikumpulkan. Observasi populasi tunggal disebut serial survey, digunakan untuk menggambarkan inferensi/kesimpulan tentang perubahan pola penyakit sepanjang waktu.

Cohort Studies Disebut juga follow up studies atau longitudinal studies. Merupakan penelitian observasional yang pengukurannya dibuat lebih dari satu pada anggota-anggota cohort. Pada cohort study, kita memilih atau menentukan sampel subjek studi yang tidak memiliki outcome interest pada awal follow-up; atau mereka memiliki potensi untuk mengembangkan penyakit baru.

34

Objektif cohort study adalah untuk membandingkan insiden penyakit pada mereka yang terekspos terhadap faktor dengan mereka yang tidak terekspos terhadap faktor ini, untuk menilai apakah exposure ini mempengaruhi outcome. Design cohort study dapat berupa prospektif atau historikal. Penelitian historikal disebut juga retrospektif, tetapi terminologinya untuk menghindari kebingungan. Informasi status exposure di rekam beberapa waktu sebelumnya dan outcome yang biasanya pengalaman penyakit diteliti saat itu. Pada penelitian prospektif, status exposure individu ditentukan pada waktu itu dan outcome diteliti dari sekarang sampai beberapa waktu ke depan. Pada cohort study, sebagai analytical studies, diformulasikan hipotesis untuk diinvestigasi. Misalnya, status sosial yang rendah merupakan indikator risiko pada OH yang buruk. Exposure, outcome,dan potential confounders perlu ditentukan bersama dengan pengukurannya. Pada akhirnya, hasilnya harus dianalisis dan diinterpretasikan. Cohort study sering dilakukan setelah hipotesis yang sama telah dieksplorasi pada cross-sectional atau case control study, karena cohort study cenderung lebih mahal dan memakan waktu karena harus mem-follow up sejumlah besar individu untuk periode yang panjang. Individu diklasifikasikan berdasarkan apakah mereka terekspos atau tidak terhadap faktor, yang memiliki hubungan dengan outcome. Eksposure disebut juga faktor risiko. Pada kedokteran gigi, eksposure dapat berupa: gula, plak, virus hepatitis B, fluoride, tembakau, mikroorganisme, bekerja di industri tertentu, anggota dari grup sosioekonomi yang rendah, dll. Sering juga eksposure tersebut diklasifikaan berdasarkan derajat terekspos. Misalnya, jumlah atau frekuensi gula tiap hari, jumlah plak, prevalensi infeksi hepatitis B pada populasi pasien. Pada cohort study, tingkat insiden penyakit pada grup yang terekspos dan tidak terekspos dibandingkan. Jika tingkat insiden ini berbeda, dapat diindikasikan bahwa eksposure menjadi penyebab atau pencegah penyakit.

Case-control studies Didesign untuk menilai hubungan antara outcome, biasanya penyakit, dan eksposure. Disebut juga case-referent studies, untuk menekan supaya control tidak serve sebagai control pada sense yang sama pada grup yang tidak terekspos pada cohort study. Perbedaan antara case control study dengan cohort study adalah seleksi partisipan penelitian yang didasarkan pada status penyakitnya dan status yang tidak terekspos. Kasus diseleksi dari sejumlah orang yang memiliki penyakit dan bukan kasus dari yang tidak memiliki penyakit. Kasus diseleksi dari populasi yang jelas, disebut juga study base atau source population dan nonkasus dari populasi yang sama. Kriteria populasi sumber yang memiliki penyakit (kasus) dan yang tidak memiliki penyakit (bukan kasus) perlu dispesifikasi. Misalnya, sampel kasus yang secara random berasal dari semua pasien di suatu region geografi, yang didiagnosis memiliki penyakit kanker mulut. Pada case-control study, dapat diseleksi incident cases (diagnosis baru) atau prevalent case (kasus yang sudah ada sebelumnya). Odds ratio Probabilitas kasus yang terekspos sebelumnya diukur dengan:

Case exposure probability = Expose cases All cases = a a+b


Odds exposure pada kasus representasi probabilitas bahwa kasus yang terekspos oleh probabilitas kasus yang tidak terekspos, dihitung dengan: odds of case exposure:

Exposure cases All cases

Unexpected cases = a All cases a+b 35

Secara similar, odd exposure pada non-cases dihitung dengan: Odds of non-cases exposure

= c d

odds exposure cases yang dibagi dengan odds exposure non-cases menunjukkan odds ratio, dihitung dengan:

odds of case exposure odds of non-case exposure

=a c=axd b d bxc

case control studies menyediakan estimasi kekuatan hubungan/asosiasi antara exposure dan penyakit.

Intervention Studies Model intervention study dengan cara random untuk menghindari seleksi bias. Karakteristik utama dari intervention study adalah memiliki satu grup pembanding berlawanan, yang efek intervensinya dibandingkan. Tujuan dari intervention study adalah untuk mendapatkan dua grup yang sama pada semua hal daripada ukuran preventif atau terapeutik penelitian. Jika ini tidak terjadi, perbedaan antara kedua grup bertanggung jawab terhadap perbedaan pada outcome. Informasi dari intervention study menyediakan penilaian terbaik efek intervensi karena confounding dapat dihindari. Kumpulan data dari partisipan penelitian berguna dan mencakupi semua variabel yang diketahui untuk mengafeksi outcome interest. Sering juga digunakan metode randomisasi yang dimodifikasi, disebut stratified random allocation, dimana partisipan dibagi menjadi subgroup yang berbeda atau strata yang didasarkan faktor risiko atau indikator, yang selanjutnya dirandom untuk tiap grup dari dalam masing-masing strata.

36