Anda di halaman 1dari 11

MODUL KULIAH

STRUKTUR BETON BERTULANG I

Minggu ke : 9

Tulangan Rangkap

Oleh Resmi Bestari Muin

PRODI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL dan PERENCANAAN UNIVERSITAS MERCU BUANA 2010

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI IX Tulangan Rangkap IX.1 Fungsi Tulangan Rangkap . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . IX.2 Analisis Balok dengan Tulangan Rangkap . . . . . . . . . . . . . . . .

i 1 1 1 3 4 5 6 7

IX.2.1 Kasus 1 : Tulangan Tekan Leleh . . . . . . . . . . . . . . . . . . IX.2.2 Kasus 2: Tulangan Tekan Belum Leleh . . . . . . . . . . . . . . IX.3 Rasio Tulangan Tarik Maksimum pada Balok dengan Tulangan Rangkap IX.4 Disain Tulangan Rangkap pada Balok . . . . . . . . . . . . . . . . . . . IX.4.1 Contoh Disain Tulangan Rangkap pada Balok . . . . . . . . . .

BAB IX

Tulangan Rangkap

IX.1

Fungsi Tulangan Rangkap

Ada beberapa alasan digunakannya tulangan rangkap 1. Mengurangi deeksi. 2. Meningkatkan daktilitas penampang. 3. Mengubah jenis keruntuhan tekan (overreinforced ) menjadi keruntuhan tarik (underreinforced ). 4. Mempermudah pelaksanaan.

IX.2

Analisis Balok dengan Tulangan Rangkap

Gambar IX.1. Balok Tulangan Rangkap Balok dengan tulangan rangkap dapat dianalisis mirip seperti balok T, dimana balok dianggap terdiri dari 2 bagian seperti Gambar IX.2 Bagian I terdiri dari tulangan tekan dan sebagain tulangan tarik yang mengimbangi tulangan tekan tersebut. T1 = Cs As1 fs = As fs

Bagian I

Bagian II

Gambar IX.2. Bagian-bagian Balok Tulangan Rangkap Bagian II terdiri dari beton yang tertekan dan sisa tulangan tarik (As As ). T2 = Cc (As As ) fs = 0, 85fc ba

Berdasarkan IX.1 dapat dibuktikan bahwa = cd c


a 1

0, 003 pada persamaan di atas, diperoleh

Jika

s,

maka fs = fy . Substitusi c = = 1

1 d a

0, 003
d a batas

Untuk

dan

fy Es

fy , 200.000

maka diperoleh nilai 1 1 fy 600

dimana tulangan

tekan pas akan leleh, d a Jika nilai d /a > Jika nilai d /a <
d , a lim d , a lim

=
lim

maka tulangan tekan tidak leleh. maka tulangan tekan sudah leleh.

Jika tulangan tekan sudah leleh, perhitungan akan lebih mudah dibandingkan dengan jika tulangan tekan tidak leleh.

IX.2.1

Kasus 1 : Tulangan Tekan Leleh

Untuk bagian I , Cs = T1 , sehingga As fy = As1 fy Kapasitas momen bagian I adalah Mn1 = As fy (d d ) atau As = A s 1

Untuk bagian II : Luas tulangan sisa = As2 = As As1

T2 = (As As1 ) fy = (As As ) fy Gaya tekan pada beton Cc = 0, 85f c ab Karena Cc = T2 , diperoleh a= (As As ) fy 0, 85fc b

Sehingga diperoleh kapasitas momen nominal untuk bagian II balok Mn2 = T2 d a a = (As As ) fy d 2 2

Dan kapasitas momen nominal total balok adalah Mn = Mn1 + Mn2 = As fy (d d ) + (As As ) fy d a 2

Untuk membuktikan apakah tulangan tekan sudah leleh, perlu diperiksa apakah d a < d a

lim

sedangkan untuk membuktikan apakah tulangan tarik sudah leleh, diperiksa apakah a ab d d 3

IX.2.2

Kasus 2: Tulangan Tekan Belum Leleh

Jika diasumsikan tulangan tarik sudah leleh, maka T = As fy Komponen gaya tekan dari beton dan gaya tekan dari tulangan tekan, masing-masing adalah Cc = 0, 85fc ab dimana
s

dan

Cs = (Es s ) As

1 d a

0, 003

Dari gaya pada penampang : Cc + Cs = T , diperoleh 0, 85fc ba + Es As 1 atau (0, 85fc b) a2 + (0, 003Es As As fy ) a (0, 003Es As 1 d ) = 0 (IX.2) 1 d a 0, 003 = As fy (IX.1)

diperoleh suatu persamaan kuadrat dengan a sebagai variabel, yang dapat diselesaikan dengan persamaan abc. Jika nilai a telah diperoleh, maka dapat dihitung kapasitas momen penampang balok : Mn = Cc d a + Cs (d d ) 2

Untuk membuktikan bahwa asumsi tulangan tarik sudah leleh, perlu diperiksa apakah a ab d d ab = 1 d 600 600 + fy

Jika tulangan tarik belum leleh, berarti fs = fy , sehingga suku pada ruas kanan persamaan IX.1, adalah As fs , dimana fs = Es s , sedangkan = dc c = 1 d a a .0, 003

cu

Sehingga suku ruas kanan pada pers. IX.1 tersebut menjadi, As Es 1 d a a .0, 003 (IX.3)

Dengan demikian persamaan IX.1 menjadi 0, 85fc ba + Es As 1 1 d a 0, 003 = As Es


a Es .o,oo3

1 d a a

.0, 003

(IX.4)

Jika pers. IX.4 di atas dikalikan dengan

diperoleh persamaan penentuan tinggi

tekan a untuk kondisi tulangan tekan maupun tulangan tarik belum leleh, sbb 283, 3fc b 2 a + (As + As ) a 1 (As d + As d) = 0 Es

(IX.5)

IX.3

Rasio Tulangan Tarik Maksimum pada Balok dengan Tulangan Rangkap

SNI Beton membatasi tulangan tarik maksimum pada Balok dengan Tulangan Rangkap sbb, Untuk kondisi tulangan tekan sudah leleh,

maks = 0, 75 ( )b dimana ( )b = 0, 851 fc fy 600 600 + fy

Untuk kondisi tulangan tekan belum leleh maks = 0, 75 5 fs fy

dimana fs fy =
b

0, 851 fc fy

600 600 + fy

IX.4

Disain Tulangan Rangkap pada Balok

Bila momen cukup besar untuk dipikul suatu penampang dengan ukuran tertentu, sehingga jika dipaksakan dengan tulangan tunggal > maks keruntuhan yang akan terjadi pada balok berupa keruntuhan tekan (overreinforced ) keruntuhan tekan keruntuhan yang tidak diinginkan, maka ada 2 alternatif yang dapat dilakukan : 1. Perbesar ukuran penampang, atau 2. Pasang tulangan rangkap. Bila tulangan rangkap yang menjadi pilihan, maka agar maks tidak dilampaui, tinggi garis netral c harus ditetapkan pada suatu nilai yang berkaitan dengan maks . Jika garis netral batas yang ditetapkan tersebut adalah cu , maka cu cb = 0.75 = 0, 75 d d Untuk fy = 400M pa Dari diagram regangan
s cu d

600 600 + fy = 0, 45.

= 0, 75

600 600+400

0, 003

cu d cu
s

Jika tulangan tekan sudah leleh untuk fy = 400M pa didapat 0, 45d d 0, 002 2 = = 0, 45d 0, 003 3 Akhirnya diperoleh d = 0, 15d. Artiya d < 0, 15d (untukfy = 400 M pa) 6

= 0, 002, sehingga

merupakan kondisi tulangan tekan sudah leleh, jika 2 diambil = maks tulangan tunggal.

IX.4.1
Diket :

Contoh Disain Tulangan Rangkap pada Balok

Balok ukuran 400x450 mm, mendapat momen terfaktor Mu = 382, 5 kN m. Mutu beton fc = 25 M pa dan mutu baja fy = 400 M pa

Ditanya : Disain tulangan balok dimana tidak terjadi keruntuhan tekan (overreinforced )

Jawab : Dengan selimut beton = 40 mm, perkiraan ukuran tulangan sengkang = 10 mm, dan perkiraan ukuran tulangan utama = 32 mm, maka d = 40 + 10 + 32 = 66 mm sehingga d = h d = 450 66 = 384 mm 2 Mu 382, 5x106 N = = 6, 485 2 2 bd 400x384 mm2 jika digunakan tulangan tunggal, diperoleh > maks = 0, 0203 Untuk itu digunakan tulangan rangkap, dengan = 1 + 2 dan diambil 2 = makstultunggal = 0, 0203

As2 = 2 bd = 0, 0203x400x384 = 3118 mm2 Dari tabel, untuk = 0, 0203 maka Mu N = 5, 260 2 bd mm2

Sehingga Mu2 = 5, 260xbd2 = 5, 260x400x3842 = 310, 2x106 N mm Dengan demikian Mu1 = Mu Mu2 = 382, 5x106 310, 2x106 = 72, 3x106 N mm Mu1 = Mn1 = As fy (d d ) Jika tulangan tekan sudah leleh, maka Mn1 = As fy (d d ) Dari kedua persamaan terakhir diperoleh As 1 = A s = M u1 72, 3x106 = = 710 mm2 fy (d d ) 0, 8x400x(384 66) dan As1 = As

Seperti telah dibahas sebelumnya, jika diambil 2 = makstultunggal = 0, 0203, maka cu = 0, 45 sehingga cu = 0, 45x384 = 172, 8 mm d Dari diagram regangan
s

0, 003 Diperoleh =

cu d cu

172, 8 66 x0, 003 = 0.001854 < 0, 002 tulangan tekan belum leleh 172, 8

Koreksi tegangan tulangan tekan fs =


s Es

= 0.001854x200000 = 371 M pa

Mu1 = Mn1 = As fs (d d ) Sehingga As = M u1 72, 3x106 = = 766 mm2 fs (d d ) 0, 8x371x(384 66)

Akhirnya diperoleh

As = As1 + As2 = 710 + 3118 = 3828 mm2

dan As = 766 mm2