Anda di halaman 1dari 21

KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat

dan rahmatNya, sehingga saya dapat menyelesaikan penulisan referat dengan judul Ginggiva dan Kelainannya. Referat ini kami buat sebagai salah satu tugas kepaniteraan klinik di SMF Gigi dan Mulut RSUD Sidoarjo. Dengan rasa hormat saya juga menyampaikan banyak terima kasih dari semua pihak atas bantuan, terutama kepada : 1. Drg. Tatiek, selaku Kepala Bagian Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut RSUD Sidoarjo. 2. Drg. Yuliati S., selaku pembimbing di SMF Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut RSUD Sidoarjo. 3. Drg. Wahyu Sintia Sp.KG, selaku pembimbing di SMF Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut RSUD Sidoarjo. Kami menyadari referat ini masih ada kekurangan dan masih jauh dari sempurna, sehingga saya mohon kritik dan sarannya. Harapan kami semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita bersama. Amin.

Sidoarjo, Desember 2012

Penyusun

I.

PENDAHULUAN

Jaringan periodontal terdiri dari gingiva, epitel penghubung, ligamen periodonsium, sementum dan tulang alveolar. Gingiva merupakan bagian mukosa rongga mulut yang mengelilingi gigi dan menutupi linggir (ridge) alveolar.Gingiva sendiri tersusun oleh epitel berkeratin dan jaringan ikat yang berfungsi melindungi jaringan di bawah perlekatan gigi terhadap pengaruh lingkungan rongga mulut . Gingiva yang sehat secara klinis tampak berwarna pink salmon, pada orang kulit hitam (termasuk orang kaukasia) kadang menunjukkan adanya derajat variasi pigmentasi warna coklat pada gingiva. Ciri gingiva sehat yaitu berwarna merah muda hingga bervariasi tergantung pada jumlah pigmen melanin pada epitelium, derajat keratinisasi epithelium dan vaskularisasi serta sifat fibrosa dari jaringan ikat dibawahnya,tepinya seperti pisau dan scallop agar sesuai dengan kontur gigi-geligi. Secara histologis kedalaman sulkus pada gingiva sehat maksimal 0,5 mm dan lebar 0,15mm. Pada saat dilakukan probing, probe dapat berpenetrasi ke dalam epithel junctional sampai 2 mm. 1

Penyakit periodontal merupakan salah satu penyakit yang sangat meluas dalam kehidupan masyarakat, sehingga masyarakat menganggap penyakit ini merupakan sesuatu yang tidak terhindari. Penyakit periodontal merupakan penyakit yang terdapat pada gingiva dan struktur pendukung gigi, yaitu ligamen periodontal dan tulang alveolar, sedangkan istilah penyakit gingiva digunakan untuk mendefinisikan adanya gejala dan tanda dari berbagai penyakit yang terletak pada gingiva. Penyakit gingiva dapat terjadi karena adanya plak maupun tanpa adanya plak, penyakit gingiva karena plak disebabkan adanya bakteri pada plak subgingiva. Walaupun faktor-faktor lain dapat mempengaruhi jaringan periodontal, penyebab utama penyakit periodontal adalah mikroorganisme yang berkolonisasi di permukaan gigi berupa bakteri plak dan produk-produk yang dihasilkannya. Beberapa kelainan sistemik dapat berpengaruh buruk terhadap jaringan periodontal, tetapi faktor sistemik semata tanpa adanya bakteri plak tidak dapat menjadi pencetus terjadinya penyakit periodontal. Prevalensi
2

bakteri anaerob gram negatif terbanyak pada daerah subgingiva adalah Actinobacillus actinomycetemcomitans (Aa), Porphyromonas gingivalis (Pg), Prevotella intermedia (Pi), dan Tannerella forsythensis(Tf). 1 Karakteristik klinis yang terlihat yaitu gingiva lunak, eritema, edema, perdarahan dan mengalami inflamasi. Penyakit gingiva yang tidak dipengaruhi oleh plak disebabkan oleh infeksi dari produk bakteri eksogen yang bukan komponen bakteri pembentuk plak gigi seperti Neisseria gonnorrhoeae, Treponema pallidum, Streptococcus danmikroorganisme lain misalnya virus dan fungi. Manifestasi klinisnya berupa adanya ulkus yang terasa sakit dan edema, makula pada mukosa, inflamasi.1 Kondisi rongga mulut yang bebas dari plak dengan pencegahan pembentukan biofilm pada permukaan gigi adalah hal yang sulit dicapai. Meskipun demikian kesehatan gingiva dan jaringan periodontal dapat ditingkatkan apabila akumulasi plak pada permukaan gigi kecil, biofilm hanya mengandung virulensi organisme yang lemah (gram positif, fakultatif anaerob) dan respon imun host yang kuat. Jika terdapat karakteristik bakteri patogen pada plak gigi misalnya bakterigram negatif kemudian berinvasi ke jaringan maka akan menimbulkan inflamasi dan respon imunologis yang spesifik. Produk-produk metabolisme bakteri yang menyebabkan inflamasi meliputi enzim, antigen, toksin, dan substansi signal yang mengaktivasi makrofag serta sel T. Enzim, toksin dan produk metabolism lain yang dihasilkan oleh bakteri dapat secara langsung menimbulkan inflamasi pada jaringan periodontal meskipun tanpa pengaruh langsung respon host. Pada saat terjadi inflamasi, produk-produk bakteria lain termasuk hyaluronidase,chondroitin sulfatase, enzim proteolitik, sitotoksin dalam pembentukan asamorganik, amonia, hidrogen sulfida dan endotoksin (lipopolisakarida, LPS) jugaditemukan pada jaringan periodontal. Gingivitis dapat berkembang menjadi periodontitis jika proses inflamasi meluas hingga terbentuk true pocket dan hilangnya perlekatan jaringan ikat diperparah rendahnya sistem imun host. Terbentuknya poket menjadi tempat bakteri patogen untuk berkembang biak.1 Selain gingivitis ada juga penyakit pada ginggiva yang biasa di sebut epulis. Epulis adalah istilah non spesifik tumor untuk tumor dan massa seperti tumor tumor pada ginggiva ( gusi ). Faktor predisposisi dari epulis adalah iritasi kronis lokal misalnya k a l k u l u s , kariesservikal, sisa akar gigi. Epulis dapat dibedakan berdasarkan etiologi terjadinya antara lain epilis granulomatosa, epilis congenital, epulis f i b r o m a t o s a , d a n e p u l i s g r a v i d a r u m . Perubahan hormon yang terjadi saat hamil berpengaruh besar terhadap kesehatan gigi dan mulut, termasuk gusi. Perubahan hormon ini menyebabkan terjadinya perlunakan pembuluh darah gusi sehingga bisa menimbulkan peradangan pada gusi . Masalah lain adalah pembengkakan pada gusi (epulis gravidarum) yang terjadi di gusi di antara dua gigi. Dan juga ada beberapa jenis tumor di cavum oris yang sering terjadi di ginggiva seperti Fibroma, papiloma, hemangioma, lympangioma, dan lipoma.2

II. PEMBAHASAN

a. GINGGIVITIS Berdasarkan World Workshop in Clinical Periodontics yang diadakan pada tahun 1989, gingivitis diklasifikasikan menjadi 6 yaitu: 1.Penyakit gingiva yang dipengaruhi oleh plak gigi 2.Acute Necrotizing Ulcerative Gingivitis(ANUG) 3.Gingivitis yang dipengaruhi oleh hormon steroid 4. Pembesaran gingiva karena pengaruh obat-obatan 5.Gingivitis karena pengaruh kelainan darah, kekurangan nutrisi, tumor, faktor genetik, dan infeksi virus 6. Gingivitis Deskuamatif Gingivitis karena Plak Gigi Radang gusi atau gingivitis adalah akibat infeksi bakteri. Pada awalnya organisme streptokokus gram positif mendominasi, tetapi setelah periode 3 minggu, spesies batang gram positif khususnya Actinomyces, organism gram negatif seperti Fusobacterium, Veillonella dan organisme-organisme Spirochaetal termasuk Treponema berkoloni menempati sulkus gingiva. Menetapnya plak mikrobial supragingival yang dapat mengarah ke periodontitis. Gingivitis dapat terjadi pada usia berapapun, tetapi paling sering timbul pada usia remaja. Tidak mempunyai predileksi jenis kelamin atau ras.1 Gambaran klinis gingivitis paling sering kronis dan tanpa rasa sakit, tetapi episode akut dan sakit dapat menutupi keadaan kronis tersebut. Keparahannya seringkali dinilai berdasarkan perubahan-perubahan dalam warna, kontur, konsistensi dan adanya perdarahan. Gingivitis kronis menunjukkan tepi gusi membengkak merah dengan papila interdental mengalami inflamasi danmempunyai warna merah keungu-unguan. Stippling hilang ketika jaringan-jaringan tepi membesar. Keadaan tersebut mempersulit pasien untuk mengontrolnya, karena perdarahan dan rasa sakit akan timbul oleh tindakan paling ringan sekalipun, misalnya menggosok gigi. Perawatan untuk gingivitis akut dan kronis terdiri atas menghilangkan plak gigi diikuti oleh kebersihan mulut sehari-hari.1

Ginggivitis Marginalis

Ginggivitis Kronis
4

Gingivitis Hormonal Gingivitis hormonal adalah suatu peradangan hiperplastik terhadap plak mikrobial yang umumnya mengenai wanita selama pubertas, kehamilan atau menopause. Meskipun perubahan dalam kadar estrogen / progesteronsebagai akibat dari ketidakstabilan hormonal dan penggunaan pil-pil KB,mekanisme penyebab yang pasti belum diketahui. 1 Gingivitis pada umumnya terjadi pada wanita hamil karena kondisi kebersihan mulut yang jelek. Wanita hamil seringkali merasa mual apabila gosok gigi, sehingga terjadi penumpukan plak yang mengakibatkan timbulnya gingivitis. Gingivitis hormonal biasanya bersifat sementara, dan akan sembuh bila dilakukan perbaikan oral hygiene. Gambaran klinis tepi gingiva tampak merah, membengkak dan nyeri tekan sedangkan papila interdental menjadi lunak dan mengalami inflamasi. Pada pemeriksaan mikroskopis menujukkan adanya hiperemi dan jaringan yang meradang. Derajat keparahan dipengaruhi oleh mikrobial, kebersihan mulut yang buruk dapat memperparah keadaan tersebut. Perawatan selama kehamilan, pemberian instruksi dan motivasi untuk menjaga kebersihan mulut harus dilakukan secara berulang-ulang, penghilangan plak dan kalkulus dengan skaling serta gingivoplasty (electrosurgery,laser) mengelilingi gigi 34 dan 35 jika diperlukan. Saat menyusui perlu dilakukan reevaluasi dan perencanaan treatment selanjutnya. 1

Gingivitis hormonal pada wanita saat pubertas Gingivitis Diabetik Diabetes merupakan kelainan metabolik progresif yang ditandai hiperglikemia, glukosuria, poliuria, polidipsi, pruritis dan menurunnya berat badan. Pengontrolan yang tidak baik dari kadar glukosa darah berkaitan dengan berkurangnya produksi dan pemakaian insulin. Komplikasi diabetes meliputi berbagai masalah yang berhubungan denganvaskuler seperti arterosklerosis, retinopati, bentuk-bentuk perifer dari neuropati dan gagal ginjal, kemotaksis neutrofil yang berubah jugameningkatkan resiko infeksi diabetes. Mulut kering, lidah terbakar, gingivitis yang menetap atau infeksi candida dapat merupakan tanda-tandaintraoral pertama dari penyakit tersebut.1 Gambaran klinis parahnya gingivitis diabetik tergantung pada derajat penyakit dan kebersihan mulut pasien. Pada diabetik yang tak terkontrol, proliferasi- proliferasi khas dari jaringan tumbuh dari gingiva tepi dan gingiva cekat.Terdapat pembengkakan yang berbatas jelas dan mempunyai konsistensilunak, berwarna merah, irregular dan mudah berdarah. Permukaan dan jaringan hiperplastik tersebut biasanya membengkak dan dalam beberapa kasus menjadi
5

papulonoduler. Tipe gingivitis ini sulit dirawat jika kadar glukosa darah meningkat. Secara klinis gingivitis karena diabetik memiliki penampakan klinis berupa gingiva yang mengalami inflamasi akut dan terlokalisir dengan inflamasi edematous. Terdapat banyak akumulasi plak dan kalkulus. Pada poket biasanya ditemukanadanya pus. Perawatan yang umum dilakukan yaitu dengan mengendalikan kadar glukosa dalam darah dengan diet, obat-obat hipoglikemik atau insulin.1

Gingivitis Karena Obat-Obatan Berbagai obat dan ramuan dapat berefek langsung terhadap jaringan periodontal. Banyak substansi yang dapat menyebabkan reaksi kimiawi pada jaringan lunak mulut, termasuk gingival. Reaksi berkisar dari hyperkeratosisringan hingga luka bakar hebat. Aspirin yang diaplikasikan secara topical,senyawa fenol, minyak menguap, anestetikum, preparat yang mengandung fluoride dan astringent, adalah zat yang yang dapat menimbulkan reaksi tersebut.Penting untuk diperhatikan bahwa luka bakar kimia telah dilaporkan pada pemakaian obat kumur hydrogen peroksida. Selama bertahun-tahun, merokok dianggap sebagai faktor penyerta sekunder pada gingivitis ulseratif nekrosis. Bahkan, kini telah ditemukan bukti bahwa merokok merupakan faktor risiko yang sangat berpotensi dalammenyebabkan penyakit periodontal, dan memperburuk respons terhadap terapi periodontal. Merokok berefek buruk terhadap jaringan periodontal dengan caramenyebabkan vasokonstriksi sementara dari pembuluh darah gingiva danmeningkatkan kadar zat sitotoksik di dalam sulkus gingival serta saliva. Selain itu,merokok menyebabkan pembentukan kalkulus dan debris yang lebih banyak pada permukaan gigi, tetapi efek yang paling nyata adalah penekanan terhadap systemimun hospes, khususnya fungsi leukosit dan makrofag. Produk-produk tembakau berhubungan erat dengan terjadinya lesileukoplakia oral, dengan atau tanpa dysplasia epitel atau peubahan kearahmalignansi. Penggunaan tembakau kunyah ( bukan dalam bentuk rokok ) dapatmenyebabkan gingivitis terlokalisir, resesi gingival, dan kehilangan perlekatan periodontal. Penyalahgunaan obat seperti Cannabis (marijuana) dan kokain dapatmenginduksi leukoplakia dan eritema gingiva. Penggunaan kokain intra oral yang berat dapat menyebabkan gingivitis ulseratif dan kerusakan tulang alveolar. Agranulositosis akibat pemakaian obat-obatan dapat menyebabkannekrosis gingiva parah yang menyerupai gingivitis ulseratif nekrosis akut (ANUG) menyeluruh. Obat-obatan yang menyebabkan agranulositosis misalnya fenotiazin,derivate sulfur, indometasin, dan beberapa antibiotic. 2 Reaksi hipersensitivitas terhadap berbagai obat, bahan kedokteran gigi, zat penambah rasa, dan produk produk makanan dapat menyebabkan lesi kontak inflamatif pada gingiva dan jaringan mulut lainnya. Eritema multiformis, erupsi karena obat obatan tertentu, dan reaksi obat lichenoid sebagai respons terhadap pemakaian obat, juga dapat mempengaruhi gingiva dan mukosa alveolar. Pembesaran gingiva yang disebabkan obat-obatan telah dilaporkan sejak tahun 30-an. Fenitoin (Dilantin) adalah zat yang pertama kali dikaitkan dengan fenomena ini. Pembesaran gingiva terjadi pada sekitar 50% pasien yang memakai fenitoin dan daerah yang
6

paling sering terkena adalah gingiva daerah anterofasial. Pembesaran terlihat setelah terapi fenitoin selama 3-12 bulan dan terdapat hubungan yang kuat antara kontrol plak yang buruk dengan perubahan jaringan .Akhir akhir ini, banyak digunakan obat obatan antiepilepsi lain selain fenitoin,sehingga insidensi pembesaran gingiva akibat fenitoin mungkin menurun. Meskipun demikian, beberapa obat antiepilepsi seperti hidantoin, barbiturate, dan asam valproic, kadang kadang dikaitkan dengan pembesaran gingival. Pemberian hormon seks sebagai terapi seperti estrogen, progesteron, dan androgen kadangkadang dilaporkan dapat menimbulkan pembesaran gingival sementara temuan terbaru adalah pembesaran gingiva dikaitkan dengan pemberian siklosporin dan sekelompok obat , calcium channel blocker. Nifedipine adalah agen calcium channel blocker yang paling sering menginduksi pembesaran gingiva. Perubahan gingiva yang terjadi serupa dengan yang diakibatkan oleh fenitoin, dan insidensi yang dilaporkan berkisar antara 10-20% dari pemakaian obat ini. Insidensi lebih kecil pada pemakaian agen calcium channel blocker yang lain, isradipin dan amlodipin dilaporkan jarang menyebabkan pembesaran gingival. Salah satu hal yang diperhatikan adalah pembesaran gingiva yang terjadi pada penggunaan cannabis ( daun ganja ). Secara keseluruhan, sekitar 20 macam obat obatan telah diidentifikasi mampu menginduksi reaksi ini, jika disertaiadanya akumulasi plak.1

Hiperplasi karena dilantin Herpetik Gingivostomatitis Akut Herpetik gingivostomatitis akut adalah suatu infeksi mulut primer yang disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe I dan sering terjadi pada anak - anak dengan gambaran klinis lesi vesikel ulseratif pada ronggamulut dan gingivitis marginal akut. Gingivostomatitis herpetika primer adalah bentuk tersering dari infeksi HSV tipe 1 pada rongga mulut yang ditandai dengan lesi ulserasi pada lidah, bibir, mukosa gingiva, palatum durum dan molle. 1 Gingivostomatitis disebabkan oleh virus herpes simpleks.Penularan terjadi karena kontak langsung melalui droplet penderita dari lesi infeksi primer ataupun infeksi sekunder dengan masa inkubasi berkisar 1 minggu. Faktor predisposisi ialah sistem imunyang buruk, seringkali menyertai kondisi infeksi akut seperti pneumonia,meningitis, tifus, influenza, mononukleusis dan kondisi stress. 1 Herpetik gingivostomatitis akut merupakan penyebab ulser yangumum disertai demam pada anak anak, tetapi dapat juga pada orang dewasa yang tinggal di lingkungan yang padat.Onset gingivostomatitis herpetika primer dilaporkan memiliki 2 puncak.Terutama terjadi pada masa anak, biasanya pada usia 6 bulan sampai 5 tahun, puncak kedua terjadi pada usia awal 20 tahun. Dokter gigi seringkali merupakan dokter pertama yang menerima keluhan karena gejala klinisnya,
7

sehingga penting bagi dokter gigi dapat mengenalikondisi ini. Herpetik gingivostomatitis akut sering keliru didiagnosis sebagai gingivitis nekrotik akut. Kerusakan gingiva pada herpetik gingivostomatitis akut tidak serupa dengan kerusakan gingiva padagingivitis nekrotik akut. Diagnosis gingivostomatitis akut didapatkan daririwayat perjalanan penyakit, gambaran klinis dan kelompok usia yangsering terserang yaitu anak-anak. Namun jika ragu-ragu perlu dilakukantes laboratorium seperti sitologi dan titer antibodi untuk menegakkandiagnosis pasti. Hapusan untuk melihat kerusakan selakibat virus dan kultur virus kadang kadang dibuat. Kenaikan titer antibodi memperkuat diagnosa tersebut. Diagnosa dapat ditetapkan dengan riwayat pasien dan penemuan klinisserta pemeriksaan laboratorium, kultur virus, tes imunologi. 1 Infeksi primer virus herpes simplek tipe I didahului dengan gejalasistemik: demam, sakit kepala, rasa tidak enak badan, mual, sulit menelandan limfadenopati yang mengawali lesi lokalnya selama 1 sampai 2 hari.Kira-kira 1 sampai 2 hari setelah gejala prodormal, muncul vesikel-vesikelkecil pada mukosa mulut yaitu pada gingiva, lidah, bibir, mukosa bukaldan mukosa palatal. Vesikel ini cepat pecah dan menghasilkan suatu ulkus berbentuk bulat, dangkal, berwarna putih keabu - abuan dengan daerah tepi yang mengalami peradangan. Suatu kriteria diagnostik yang penting pada penyakit ini adalah gingivitis marginal akut di seluruh mulut yang terasa sakit. Seluruh margin gingiva mengalami edema, meradang danmudah berdarah. Gambaran klinis lain yang nampak adalah lidah berselaput putih. Menurut Scully dan Cawson, periode inkubasi 3 7 hari.50% infeksi bersifat sub klinis. Tanda tanda sub klinis dari infeksi primer meliputi : 1. Ulser mulut Beberapa vesikel dan ulser bulat yang tersebar dengan lapisankekuningan dan haloeritematosis. Ulser bergabung membentuk lesitidak teratur. 2. GingivitisEritema dan edema yang luas, kadang kadang disertai dengan perdarahan 3. Limfadenitis servikal. 4. Demam 5. Lemas 6. Gelisah 7. Tidak nafsu makan 8. Kadang kadang terlihat lesi kulit atau mata.Dokter gigi dapat terkena withlow herpetik bila tidak menggunakan sarung tangan operasi. Keadaan ini sering timbul kembalisebagai herpes labialis, dan ulser dendritik intraoral di gangguankekebalan. Infeksi kadang merangsang timbulnya eritema multiformis.1 Gambaran klinis herpetik gingivostomatitis akut menurut Mahrit, yaitu : 1. Difus, eritematous mengkilat mudah berdarah 2. Ulser kecil merah mudah berdarah dapat diangkat 3. Warna kekuning kuningan, keabu abuan putih di tengahnya 4. Perjalanan penyakit 7 10 hari 5. Rasa sakit menyeluruh pada rongga mulut, susah makan dan minum 6. Pada bayi biasanya terjadi gangguan dan penolakan makan Gejala sistemik : 1. Demam 38C 2. Diikuti setelah penyakit : pneumonia, meningitis, influenza.Infeksi herpes simpleks akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu1 sampai 2 minggu tanpa meninggalkan jaringan parut (Welbury,1997). Virus sendiri akan tetap hidup dalam sel pada periode laten atautidak aktif, dan akan bermigrasi melalui syaraf ke ganglion trigeminaldan tetap
8

tinggal di ganglion tersebut. Jika ada faktor pemicu seperti paparan sinar matahari, selesma, trauma, stress, dapat mengaktifkanvirus herpes simpleks sehingga terjadi infeksi sekunder/kambuhan. Manifestasi dalam rongga mulut dariinfeksi herpes sekunder adalah vesikel atau ulkus pada bibir atau yangsering disebut herpes labialis. Infeksi herpes sekunder ini dapatsembuh dan virus akan kembali ke periode kehidupan laten. Kebanyakan infeksi HSV tipe 1 pada anak bersifat bersifatasimtomatik atau ringan sehingga anak dan orang tua tidak menyadarinya. Penelitian menyatakan hanya 10 - 20% anak yangterinfeksi memiliki gejala dan tanda klinis yang cukup berat. 1 Terapi bersifat suportif dan pemberian obat kumur Chlorhexidinegluconate 0,2 %. Perawatan herpetik gingivostomatilis akut pada anak-anak pada dasarnya tetap bersifat suportif. Tindakan suportif yang rutinmeliputi pemberian obat penurun panas dan cairan guna mempertahankanhidrasi dan keseimbangan elektrolit. Suplemen nutrisi juga dianjurkan dalam terapi suportif seperti diet tinggi protein, vitamin. Diet lunak dan cairan yang cukup besar. Untuk mengatasi rasa sakit bisa diberikan larutandiphenhydramine HCL (Benadyl) 12,5 mg/5 ml. dikumur-kumurkansebelum makan. Untuk mencegah infeksi sekunder dari ulkus digunakan obat kumur Chlorhexidine gluconate 0,2 %, digunakan 2 - 3 kali sehari,namun pada anak - anak yang usianya kurang dari 6 tahun, larutan Chlorhexidine dapat diusapkan pada ulkus dengan menggunakan kapas. Pada kasus herpes simpleks yang parah dapat diberikan acyclovir secarasistemik 200 mg, bisa dalam bentuk larutan atau dalam bentuk tablet, 5 kali sehari selama 5 hari. Untuk anak dibawah 2 tahun dosis separuhnya. Acyclovir efektif diberikan pada saat infeksi awal. Pengobatan profilaksis acyclovir diberikan untuk pencegahan kekambuhan infeksi pada pasien imunokompeten. 1,2

Gingivitis Ulseratif Akut yang Nekrosis (ANUG) Gingivitis Ulseratif Akut yang Nekrosis (ANUG) yaitu suatu tipe gingivitis akut yang berhubungan dengan spesies spesies bakteri tertentudan stress, juga disebut sebagai infeksi Vincent atau Trench Mouth. ANUG adalah penyakit keradangan destruktif gingival dengan symptom dan tanda yang spesifik. Nama lain ANUG yaitu Acute Membranous Gingivitis,
9

Fusospirillary Gingivitis,Fusospirillosis, Fusospirochetal Gingivitis, Necrotizing Gingivitis Phagedenic Gingivitis, Ulcerative Gingivitis, Vincents Gingivitis,Vincents Infection dan Vincents Stomatitis. 1 Penyakit multifaktorial ini mempunyai populasi bakteri yang kaya dengan bacillus fusiformis dan spirochete yang dapat didemonstrasikandalam sediaan apus dengan memakai mikroskop lapangan gelap. ANUG disebabkan oleh infeksi anaerob borelliavincentii dan bakteri fusiformis yang berlebih tetapi tidak menular. Faktor predisposisi meliputi merokok, infeksi virus pada saluran pernapasan, dan cacat kekebalan seperti AIDS . ANUG yang dibawa oleh faktor merokok atau stress menyebabkan nyeri yang sangatdisertai pembengkakan ulser dan kematian jaringan. Faktor penyebablainnya yaitu kebersihan mulut yang buruk dan nutrisi yang buruk . 2 ANUG umumnya terjadi pada usia 15 25 tahun, terutama mahasiswa dan wajib militer yang mengalami saat saat stress yangmeningkat dan berkurangnya daya tahan tubuh, juga pada penderita HIV. Pemeriksaan terhadap hapusan bakteri fusospirochaetal dan leukosit, serta pemeriksaan darah diperlukan untuk menegakkan diagnosis.1 ANUG ditandai oleh demam, limfadenopati, malaise, gusi merah,rasa sakit di mulut, hipersalivasi, dan bau mulut yang khas. Papilla papilla interdental terdorong keluar, berulserasi dan tertutup pseudomembran yang keabu abuan. Kadang kadang keadaan tersebutmeluas ke permukaan mulut yang lain atau kambuh, jika salah perawatan. khas adalah nyeri yang hebat perdarahan gingiva yang hebat, halitosis dan rasa tidak enak. Papilla interdental mungkin terulserasi dengan lapisan nekrosis. Kadang disertai demam, lemas, anoreksia, pembesaran limfenode servikal. Menurut Mahrita, tanda oral ANUG yaitu : 1. Lesi khas, tekanan pada papilla puncak interdental seperti kawahyang meluas ke margin gingival 2. Warna abu abu terdapat pseudomembran 3. Warna merah mengkilap dan perdarahan spontan 4. Meliputi satu gigi atau kelompok sampai menyeluruh Gejala : 1. Lesi sangat sensitif bila disentuh. 2. Penderita seperti merasa terbakar. 3. Merasa makan metal. Perawatan ANUG memerlukan irigasi, pembersihan jaringan dengan cermat, antibotik (jika ada gejala gejala umum) dan mengurangi stress. Antibiotik yang digunakan yaitu metronidazole 200 mg 3x sehari dan penisilin 250 mg 4 x sehari selama 5hari, (penicillin, bila pasien hamil). Instruksi kebersihan mulut, larutan kumur peroksida atau perborat juga diberikan. Pencegahan ANUG dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan mulut,caranya yaitu menyikat gigi teratur, obat kumur, dan menggunakan dentalfloss. Selain itu, makan makanan yang bergizi dan menghindari makanan panas dan pedas, serta tidak merokok.1

10

Gingivitis Deskuamatif (Pemphigoid) Pemphigoid merupakan suatu penyakit mukokutan yang kronis dan biasanya terjadi di sekitar rongga mulut. Apabila terbatas pada gingival maka disebut gingivitis deskuamatif . Biasanya ditandai dengan bercak-bercak eritema pada gingiva, dalam beberapa kasus terbentuk epithelial deskuamasi. Penyakit ini terjadi 2 kali lebih sering pada wanita daripada pria. Biasanya terjadi setelah umur 50 tahun, hanya sedikit kasus yang ditemukan padaorang muda. Tidak ada predileksi menurut ras.1 Gambaran Klinis terdapat bercak-bercak eritema pada gingiva cekat, epithelium dapatdengan mudah dipisahkan dari jaringan ikat subepithelial. Gingiva biasanya terlihat berwarna merah terang, mengkilat dan muncul rasa seperti terbakar. PerawatanMeskipun pemphigoid jarang fatal, namun pemantauan yang cermatdianjurkan untuk kasus-kasus progesif. Terapi yang dilakukan biasanya dengan obat-obatan yang menekan rasa sakit yang ditimbulkan, pemberian kortikosteroid topikal ataupun sistemik serta dengan obat-obatan imunosupresi seperti azathioprine. 1

11

Papillon-Lefvre Syndrome Papillon-Lefvre Syndrome merupakan kelainan autosomal resesif yang ditandai dengan hiperkeratosis telapak tangan dan telapak kaki disertaigingivitis dan periodontitis yang berkembang dengan cepat dan parah Penyebab utama penyakit ini adalah adanya mutasi dari gen cathepsin-C (kromosom 11q14-q21) yang meregulasi sel epithelial dan sel imun ditambah adanya flora anaerob gram negatif pada poket yang berkembang biak secara agresif. 1 Secara klinis pada penderita Papillon-Lefvre Syndrome terlihat adanya gingivitis dan periodontitis yang parah, plak gigi, perdarahan spontan,eksudat dan supurasi pada poket. Ditemukan juga adanya abses pada fasialgigi 11 dan 21, oklusi rahang yang buruk dan overbite yang parah. Terapi yang dilakukan biasanya meliputi ekstraksi gigi yang tidak mungkin dipertahankan, debridement jaringan periodontal secara mekanisdan topikal (khlorheksidin) serta sistemik (pemberian metronidazol/tetracycline), pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan. 1

Perikoronitis Perikoronitis merupakan perdangan pada jaringan lunak disekeliling gigiyang akan erupsi, paling sering terjadi pada molar 3 bawah. Perikoronitis merupakan suatu kondisi yang umum terjadi pada molar impaksi dan cenderung muncul berulang, bila molar belumerupsi sempurna, akibatnya dapat terjadi destruksi tulang di antara gigi molar dan geraham depannya. Perikoronitis dapat terjadi pada usia berpapun, tetapi paling terjadi padaanak anak dan dewasa muda yang gigi giginya sedang bererupsi.Umumnya hal ini berkaitan dengan molar ketiga bawah yang sedang bererupsi dalam alignmen yang baik, tetapi dibatasi erupsinya oleh ruangyang tidak cukup. Radiograf dari daerah tersebut menggambarkan radiolusensi yang berebentuk obor di sekeliling giginya, dengan bataskortikal pada sisi distal dari lusensi menghilang atau sangat menebalkarena deposisi dari tulang yang reaktif. Faktor Penyebab Perikonitis terjadi karena kontaminasi bakteri di bawah operkulum,mengakibatkan pembengkakan gusi, kemerah-merahan dan halitosis. Faktor penyebab lain dari perikoronitis adalahkarena gigi molar 3 tidak dapat erupsi dengan baik dikarenakan tidak cukup ruang untuk pertumbuhannya, sehingga sulit untuk erupsidinamakan impaksi. Impaksi bertendensi menimbulkan infeksi(perikoronitis), dikarenakan adanya karies pada gigi geraham depannya.Cukup banyak kasus karies pada gigi molar 2 dikarenakan gigi molar 3 mengalami impaksi.Ada 3 sumber utama infeksi gigi, yaitu:

12

Dari periapikal (ujung akar gigi) sebagai akibat kerusakan pulpadan masuknya kuman ke jaringan periapikal - Dari jaringan periodontal (jaringan pengikat akar gigi) sebagaiakibat saku gusi semakin dalam karena penumpukan karang gigisehingga penetrasi kuman semakin mudah - Dari perikoroner akibat akumulasi kuman di sekeliling mahkotagigi saat erupsi/tumbuh Penderita Perikoronitis ini biasanya mengeluh kesakitan yang kadang tidak tertahankan dan seringkali menyebabkan perasaan yang kurang nyaman pada saat membuka mulutnya, dengan membuka mulut pasien akanmerasa semakin terasa sakit. Timbulnya sakit merupakan salah satu ciriditambah adanya rasa ketidaknyamanan seperti pada saat timbulnyagingivitis, abses periodontal atau tonsillitis. Pasien mengeluh nafsu makannya menjadi berkurang dikarenakan lebih terasa sakit bila tersentuh oleh makanan, dan mengunyah. Rasa sakit yang idiopatik merupakan rasasakit molar yang sedang erupsi atau rasa sakit yang menyebar ke bagianleher dan kepala. Daerah infeksi terlihat gusi yang hiperemis, bengkak, dan terlihat lebihmengkilat daripada daerah gusi yang lain. Kadang timbul pernanahan yangdisebut perikoronal abses, nanahnya dapat keluar dari marginal.1,2 Terapi antibiotik dianjurkan jika ada gejala - gejala konstitusionaldan kemungkinan adanya penyebaran infeksi. Perikoronitis paling baik dirawat dengan membuka ruang folikuler, membilas purulen dari sulkusgusi dengan larutan saline dan menghilangkan trauma oklusi apapun.Perawatan yang pasti biasanya adalah pencabutan gigi yang bersangkutan,tetapi bila ruangan cukup untuk erupsi gigi dilakukan operkulektomi yaitu pengambilan jaringan lunak disekitar gigi yang mengalami impaksi untuk memberi kesempatan gigi molar 3. Bila ruangan tidak cukup untuk erupsigigi dilakukan ekstraksi gigi penyebab.1 Seperti diketahui, sendi-sendi di ujung rahang merupakan titik tumbuhatau berkembangnya rahang. Kalau proses mengunyah kurang, sendi-sendi itupun kurang aktif, sehingga rahang tidak berkembang semestinya. Rahang yang seharusnya cukup untuk menampung 32 gigi menjadi sempit.Akibatnya, gigi molar 3 yang selalu tumbuh terakhir itu tidak kebagian tempat untuk tumbuh normal. Ada yang tumbuh dengan posisi miring,atau bahkan tidur di dalam karena tidak ada tempat untuk erupsi. Maka,untuk mendukung perkembangan rahang, sebaiknya sering sering mengkonsumsi makanan berserat supaya gigi jadi lebih aktif menggigit,memotong, dan mengunyah. Rahang pun menjadi makin aktif dandiharapkan akan tumbuh normal. Dampaknya, pertumbuhan gigi pun bisa lebih baik.2 Komplikasi bila molar 3 dibiarkan bererupsi sedangkan ruang untuk erupsinya kurang,maka ia akan mendesak kuat dua gigi sebelahnya ( molar satu dan molar dua ). Karena dua gigi molar itu kuat, sementara gigi molar tiga terusmendorong, akibatnya timbul rasa sakit. Jika gigi depannya tidak ada ataukurang kuat, daya dorong molar tiga dapat menyebabkan gigi depannyaakan cenderung condong ke depan. Gigi molar 3 yang impaksi meradangadakalanya tidak menimbulkan keluhan maupun gejala klinis. Meskipun demikian, jika molar 3 dibiarkan tertanam ditempatnya, ada kemungkinan dapat memperburuk keadaan, misalnya pada penderita kelainan jantungakut, kelainan pembekuan darah, dan menjadikan tidak tahan terhadapobat anestesi. Apalagi bila gigi impaksi terbenam dalam dalam tulangrahang secara keseluruhan, justru memungkinkan terbentuknya kista.Untuk mencegah timbulnya komplikasi macammacam, maka tindakan pencabutan atau atau bedah sangat dianjurkan.1,2 Prognosis penyakit perikoronitis biasanya baik. Kebanyakan faktor lokal dapat diobati jika disebabkan oleh infeksi dapat diobati dengan obat - obatan dari golongan antibiotik. Perikoronitis berulang sebaiknya dilakukan pencabutan, untuk menghindari berbagai komplikasi yang kemungkinan akan timbul jika tidak dilakukan pencabutan sedini mungkin
13

Perikoronitis b. Epulis Epulis adalah suatu tumor yang bersifat jinak non neoplastik dan pertumbuhannya berada di atas ginggiva ( interdental papilla) yang berasal dari periodontal dan jaringan periostieum. Epilis ini dapat bersifat fibrous, hiperplastik maupungranulatif. Dalam pertumbuhannya epulis ini bias tidak bertangkai atau biasa di sebut sinsile dan bisa pula bertangkai ( peduncullated ). Penyebab utama terjadinya epulis ada dua yaitu trauma dan iritasi mekanis, juga dapat berhubungan dengan ketidakseimbangan hormonal dalam tubuh. Ada beberapa jenis dari epulis, masing-masing memiliki karakteristik yang unik dan khas.3 Epulis Fissuratum Pertumbuhan jaringan ikat fibrosa yang berlebihan di daerah mukosa yang berkontak dengan tepi gigi tiruan yang biasanya terlalu cekat dan menekan mukosa. Epulis fissuratum juga sering disebut inflammatory fibrous hyperplasia, atau denture epulis. Pertumbuhan jaringan ikat tersebut disebabkan oleh iritasi kronik karena pemakaian gigi tiruan, di mana tepi gigi tiruan menekan daerah gusi yang berbatasan dengan pipi bagian dalam (alveolar vestibular mucosa). Penekanan tersebut menyebabkan tulang daerah tersebut terus menerus berubah karena kehilangan tulang, akibatnya dukungan tulanguntuk basis gigi tiruan menjadi tidak stabil. Hal ini lama kelamaan mengarah kepadaterjadinya penonjolan yaitu epulis fissuratum.3,4

14

Gbr. Epulis fissuratum yang tampak sebagai penonjolan vestibulum yang berkontak dengan tepi gigi tiruan Kondisi ini paling sering terjadi pada orang usia lanjut karena pasien dalam kelompok umur tersebut banyak yang menggunakan gigi tiruan. Namun masalah ini cenderung berkurang dengan makin berkembangnya teknologi kedokteran gigi dan meningkatnya kesadaran pasien untuk menjaga keutuhan dan kesehatan gigi dan mulut sehingga kebutuhan akan gigi tiruan bisa jadi berkurang. Tampaknya kondisi ini lebih sering dijumpai pada wanita daripada pria. 3 Gejala lesi yang tersusun dari jaringan yang berlebihan ini umumnya berupa lipatan hiperplastik berwarna merah muda, keras dan fibrous. Bagian dalam dan luar dari lesi terpisah oleh cekungan (groove) dalam yang menandakan tempat di mana tepi gigi tiruan menekan mukosa. Epulis fissuratum jarang terjadi di daerah lingual (bagian yang menghadap lidah), dan lebih sering dijumpai di bagian depan rahang (anterior).Ukuran lesi ini bervariasi. Ada lesi yang berukuran kecil namun ada juga yang luas dan melibatkan seluruh daerah mukosa (mukosa vestibulum) yang berkontak dengan tepi gigi tiruan.Terkadang iritasi dapat cukup parah sehingga menyebabkan mukosa tampak kemerahandan ulserasi, terutama di dasar cekungan di mana tepi gigi tiruan berkontak dengan mukosa.4 Lesi ini dapat dihilangkan dengan eksisi. Selain itu, gigi tiruan yang menjadi timbulnya lesi ini harus diperbaiki hingga dapat memiliki kecekatan yang baik namun tidak memberi tekanan berat terhadap mukosa supaya mencegah iritasi yang lebih berat lagi.Meski lesi ini sangat jarang dihubungkan dengan karsinoma sel skuamosa, namun sebagai tindakan preventif sebaiknya dilakukan pemeriksaan mikroskopis pada lesi yang telah dibuang tersebut.4 Giant Cell Epulis Epulis jenis ini juga sering disebut sebagai peripheral giant cell granuloma, giant cell reparative granuloma, osteoclastoma and myeloid epulis. Penyebab pastinya tidak diketahui, namun diperkirakan giant cell epulis terjadi sebagai respon terhadap suatu cedera. Selain itu, banyak kasus yang pasiennya mengekspresikan reseptor permukaan untuk hormon estrogen, sehingga timbul spekulasi bahwa pengaruh hormonal dapat memainkan peranan terhadap perkembangan lesi ini.Giant cell epulis dapat terjadi pada semua umur namun kasus ini paling banyak didiagnosa pada pasien dalam golongan umur 40-60 tahun, dan terutama terjadi pada wanita. 4

15

gambar giant cell epulis pada daerah palatal insisifus atas Gejala, lesi tampak sebagai pembesaran gusi yang muncul di antara dua gigi, kaya vaskularisasi sehingga mudah berdarah dengan sentuhan dan umumnya berwarna merah keunguan.Ukurannya bervariasi, sebagian besar kasus biasanya berukuran kurang dari 2 cm namunada kasus yang ukurannya diameter melebihi 4 cm. Lesi ini dapat tumbuh menjadi massayang bentuknya tidak beraturan yang dapat menjadi ulserasi dan mudah berdarah. Padabeberapa kasus giant cell epulis dapat menginvasi tulang di bawahnya sehingga padagambaran radiografis akan terlihat erosi tulang.3 Perawatan giant cell epulis melibatkan bedah eksisi dan kuretase tulang yang terlibat.Gigi yang berdekatan dengan epulis juga perlu dicabut bila sudah tidak dapatdipertahankan, atau dilakukan pembersihan karang gigi (scaling) dan penghalusan akar (root planing). Dilaporkan angka rekurensi sebesar 10 % sehingga diperlukan tindakan eksisi kembali.4 Epulis Kongenital Penyebab dari terjadinya epulis kongenital belum pasti namun para ilmuwan meyakini bahwa epulis ini berasal dari sel-sel mesenkim primitif yang asalnya dari neural crest. Epulis tipe ini adalah kondisi kongenital yang sangat jarang ditemui, dan terjadi pada bayi saat kelahiran. Dari penelitian didapati bahwa epulis kongenital lebih banyak dijumpai pada bayi perempuan daripada laki-laki dengan rasio 8:1, dan paling banyak terjadi pada maksila (rahang atas) dibandingkan mandibula (rahang bawah)3

Gejala pada bayi yang baru lahir dijumpai massa tonjolan pada mulutnya, biasanya pada tulang rahang atas bagian anterior (depan). Dari 10% kasus yang dilaporkan, lesi yang terjadi adalah lesi multipel namun dapat juga berupa lesi tunggal. Ukuran lesi bervariasi, dari 0.5cm hingga 2 cm namun ada kasus di mana ukuran epulis mencapai 9 cm. lesi ini lunak,bertangkai dan terkadang berupa lobus-lobus dari mukosa alveolar. Bila epulis terlalu besar, dapat mengganggu saluran pernafasan dan menyulitkan bayi saat menyusu. Secara histologis, epulis kongenital mirip dengan granular cell tumor yang terjadi padaorang dewasa. Perbedaannya adalah pada epulis kongenital tidak rekuren dan tampaknya tidak berpotensi ke arah keganasan.Kelainan ini dapat ditemui secara dini saat sang ibu memeriksakan kandungan melaluialat sonography namun diagnosa yang pasti belum dapat ditegakkan.4 Perawatan pada sebagian besar kasus, epulis cenderung mengecil dengan sendirinya dan menghilang saat bayi mencapai usia sekitar 8 bulan. Dengan demikian lesi yang berukuran kecil tidak membutuhkan perawatan .Lesi yang lebih besar dapat mengganggu pernafasan dan/atau menyusui sehingga perlu dilakukan pembedahan dengan anestesi total. Dilaporkan keberhasilan
16

penggunaan laser karbondioksida untuk mengoperasi lesi epulis yang besar. Dari kasus-kasus yang ada,kejadian ini tampaknya tidak mengganggu proses pertumbuhan gigi.4 Epulis Gravidarum (Tumor Kehamilan) Epulis gravidarum adalah granuloma pyogenik yang berkembang pada gusi selamakehamilan. Tumor ini adalah lesi proliferatif jinak pada jaringan lunak mulut denganangka kejadian berkisar dari 0.2 hingga 5 % dari ibu hamil. Epulis tipe ini berkembangdengan cepat, dan ada kemungkinan berulang pada kehamilan berikutnya.Tumor kehamilan ini biasanya muncul pada trimester pertama kehamilan namun adapasien yang melaporkan kejadian ini pada trimester kedua kehamilannya.Perkembangannya cepat seiring dengan peningkatan hormon estrogen dan progestin pada saat kehamilan. Penyebab dari tumor kehamilan hingga saat ini masih belum dipastikan,namun diduga kuat berhubungan erat dengan perubahan hormonal yang terjadi pada saatwanita hamil. Faktor lain yang memberatkan keadaan ini adalah kebersihan mulut ibu hamil yang buruk.3

Gejala, tampak sebagai tonjolan pada gusi dengan warna yang bervariasimulai dari merah muda, merah tua hingga papula yang berwarna keunguan, paling seringdijumpai pada rahang atas. Umumnya pasien tidak mengeluhkan rasa sakit, namun lesi ini sangat mudah berdarah saat pengunyahan atau penyikatan gigi. Pada umumnya lesi ini berukuran diameter tidak lebih dari 2 cm, namun pada beberapa kasus dilaporkan ukuran lesi yang jauh lebih besar sehingga membuat bibir pasien sulit dikatupkan.4 Perawatan, umumnya lesi ini akan mengecil dan menghilang dengan sendirinya segera setelah ibu melahirkan bayinya, sehingga perawatan yang berkaitan dengan lesi ini sebaiknyaditunda hingga setelah kelahiran kecuali bila ada rasa sakit dan perdarahan terus terjadisehingga mengganggu penyikatan gigi yang optimal dan rutinitas sehari-hari. Namun pada kasus-kasus dimana epulis tetap bertahan setelah bayi lahir, diperlukanbiopsi untuk pemeriksaan lesi secara histologis. Rekurensi yang terjadi secara spontandilaporkan pada 75 % kasus, setelah 1 hingga 4 bulan setelah melahirkan.Bila massa tonjolan berukuran besar dan mengganggu pengunyahan dan bicara, tonjolantersebut dapat diangkat dengan bedah eksisi yang konservatif. Namun terkadang tumor kehamilan ini dapat diangkat dengan laser karena memberi keuntungan yaitu sedikit perdarahan.3

17

c. TUMOR CAVUM ORIS Papiloma Tumor jinak yang berasal dari mucus membrane rongga mulut. Penyabab karena iritasi gigi tiruan. Klinis benjolan bertangkai, dapat membesar sebesar buah anggur, warna merah, konsistensi lunak. Terapi exicisi.5 Fibroma Tumor jinak dari submukus dan jaringan subkutan rongga mulut oleh karena trauma. Biasanya terdapat benjolan bertangkai dengan permukaan halus, berbentuk bulat dan keras (hard fibroma),ada juga yang lunak ( soft fibroma), tampak banyak vaskuler daripada papiloma, dapat mencapai beberapa centimeter dan bisa terjadi ulcer. Terapi exici dan tidak recurrent.5 Fibrous Tumbuh pada ginggiva, penyebabnya karena iritasi kronis atau periodontium, dapat mudah membesar dan mudah tergigit. Terapinya exici pada sekeliling ginggiva, bila berasa dari periodontium perlu pencabutan gigi, agar tidak recurent. Apabila pengambilan tidak bersih sering terjadi recurent. Bila tulang tebuka, diberi perlindungan dengan surgical pack kurang lebih seminggu. Terbentuk jaringan granulasi.5 Hemangioma Suatu tonjolan atau dungkul yang berisi pembuluh darah, sering terjadi pada usia muda cenderung kongenital. Klinisnya timbul pada permukaan mukosa atau di bawah permukaan, benjolan berbatas jelas / difus, warna kemeraham atau biru, permukaan halus, besar bervariasi, palpasi lunak, pucat pada penekanan, lesi cenderung melebar mengganggu pengunyahan dan berbicara. Termasuk tumor jinak, jarang maligna. Ada 3 jenis, yaitu : a. Capillary : penuh pembuluh darah kapiler, infiltrasi pada mukosa b. Cavernous : penuh pembuluh darah dengan dinding tipis. Terapi , superficial : exici, cryotherapi, electro coutery c. Juvenille hemangioma : tumor pada bayi atau balita. Lokasi biasanya di bibir, parotis gland sub masillary. Klinisnya pembesaran yang difus, massa keras warna normal, tumbuh lambat. Terapi exici dan dapat spontan hilang.5 Lympangioma Sering terjadi saat lahir. Tumbuh pada palatum, ginggiva, bibir dan lidah. Superficial : - warna normal kemerahan - permukaan halus Profunda: - Warna kuning ungu - Permukaan nodular Leher : - Di sebut cystic fibroma - Pembengkakan yang divuse pada jalan darah - Palpasi : krepitasi5

18

Lipoma Tumor jinak terdiri dari jaringan adipose ( lemak ) yang biasa tumbuh di lidah, pipi, dasar mulut, ginggiva, palatum dan bibir. Benjolan dungkul dan konsistensinya lunak. Terapi, exici.5

III. KESIMPULAN Penyakit gingiva dapat terjadi karena adanya plak maupun tanpa adanya plak, penyakit gingiva karena plak disebabkan adanya bakteri pada plak subgingiva. Walaupun faktor-faktor
19

lain dapat mempengaruhi jaringan periodontal, penyebab utama penyakit periodontal adalah mikroorganisme yang berkolonisasi di permukaan gigi berupa bakteri plak dan produk-produk yang dihasilkannya. Beberapa kelainan sistemik dapat berpengaruh buruk terhadap jaringan periodontal, tetapi faktor sistemik semata tanpa adanya bakteri plak tidak dapat menjadi pencetus terjadinya penyakit periodontal. Prevalensi bakteri anaerob gram negatif terbanyak pada daerah subgingiva adalah Actinobacillus actinomycetemcomitans (Aa), Porphyromonas gingivalis (Pg), Prevotella intermedia (Pi), dan Tannerella forsythensis(Tf). Karakteristik klinis yang terlihat yaitu gingiva lunak, eritema, edema, perdarahan dan mengalami inflamasi. Penyakit gingiva yang tidak dipengaruhi oleh plak disebabkan oleh infeksi dari produk bakteri eksogen yang bukan komponen bakteri pembentuk plak gigi seperti Neisseria gonnorrhoeae, Treponema pallidum, Streptococcus danmikroorganisme lain misalnya virus dan fungi. Manifestasi klinisnya berupa adanya ulkus yang terasa sakit dan edema, makula pada mukosa, inflamasi. Selain gingivitis ada juga penyakit pada ginggiva yang biasa di sebut epulis. Epulis adalah istilah non spesifik tumor untuk tumor dan massa seperti tumor tumor pada ginggiva ( gusi ). Dan juga ada beberapa jenis tumor di cavum oris yang sering terjadi di ginggiva seperti Fibroma, papiloma, hemangioma, lympangioma, dan lipoma. Penyakit yang melibatkan ginggiva antara lain : a. Ginggivitis Berdasarkan World Workshop in Clinical Periodontics yang diadakan pada tahun 1989, gingivitis diklasifikasikan menjadi 6 yaitu: 1. Penyakit gingiva yang dipengaruhi oleh plak gigi 2. Acute Necrotizing Ulcerative Gingivitis(ANUG) 3. Gingivitis yang dipengaruhi oleh hormon steroid 4. Pembesaran gingiva karena pengaruh obat-obatan 5.Gingivitis karena pengaruh kelainan darah, kekurangan nutrisi, tumor, faktor genetik, dan infeksi virus 6. Gingivitis Deskuamatif b. Epulis 1. Epulis fisuratum 2. Giant cell epulis 3. Epulis congenital 4. Epulis gravidarum c. Tumor cavum oris 1. Papiloma 2. Fibroma 3. Fibrous 4. Hemangioma 5. Lympangioma 6. Lipoma IV. DAFTAR PUSTAKA
1. http://id.scribd.com/doc/45072065/PENYAKIT-GINGIVA 2. http://id.scribd.com/doc/78620741/-CR-Affa-priska 20

3. http://doktergenkgonk.blogspot.com/2012/01/epulis.html 4. http://id.scribd.com/doc/49941675/Epulis 5. http://potooloodental.blog.com/?p=516

21

Anda mungkin juga menyukai