Anda di halaman 1dari 4

TERAPI CAIRAN PADA SYOK PERDARAHAN

PENDAHULUAN Kita telah belajar bahwa perdarahan dapat terjadi tanpa menimbulkan gejala klinis, tetapi dapat pula menyebabkan syok sampai kematian. Kematian ini dapat dihindari bila diberi penggantian volume yang tepat. Volume darah yang hilang dapat diganti hanya dengan cairan kristaloid atau koloid atau kombinasi keduanya. Namun pada perdarahan massif perlu pula diberi darah. Untuk itu perlu dikaji lebih lanjut kapan mulai memberi transfuse dan apa yang ditransfusikan. Selain itu untk resusitasi awal cairan apa yang diberikan perlu pula diketahui. Makalah ini akan menitik beratkan pada terapi cairan dan transfuse pada keadaan gawat darurat (syuok) akibat perdarahan. Kristaloid vs koloid : area persetujuan 1,2 1. Tidak diragukan bahwa larutan koloid merupakan bentuk penggantian volume darah yang efisien daripada larutan kristaloid. Untuk mencapai titik akhir tertentu diperlukan lebih sedikit larutan koloid daripada larutan kristaloid. 2. Juga tidak dipertanyakan lagi bahwa larutan koloid lebih mahal dari kristaloid. 3. Larutan kristaloid tidak menyebabkan reaksi anafilaktoid yang dapat terjai dengan koloid, meskipun reaksi seperti ini jarang terjadi pada syok. 3 4. Hemodilusi sebelum transfuse darah dengan kristaloid atau koloid bermanfaat secara teoritis pad arestorasi volume darah. Hal ini ditunjang oleh data eksperimental. 4 Resusitasi dengan cairan selain dari darah secara praktis sangat bermanfaat. Kendati transfuse darah tetap merupakan kemajuan paling bermakna dalam penganganan syok hemoragik, memulai rsusitasi dengan larutan selain dari darah memungkinkan dilakuannya resusitasi di tempat dan memberi kesempatan untuk uji silang yang lengkap. Anemia ternyata ditoleransikan lebih baik daripada hipovolemia. Kelebihan cairan dengan kedua macam larutan merupakan peristiwa yang tak diinginkan. Mempertahankan tekanan osmotic koloid plasma dipostulasikan sebagai tujuan terapi cairan yang diinginkan; larutan koloid lebih efektif dalam mempertahankan tekanan osmotic koloid pada kebanyakan manusia dan juga binatang.5,6

tetapi kristaloid vs koloid : area debat Yang menjadi dasar perdebatan adalah apakah penggunaan kristaloid atau koloid menunjukkan perbedaan bermaknda dalam hal efek mereka pada koagulasi, fungsi ginjal, air intersisal paru, lama perawatan di ICU atau rumah sakit, angka kelangsungan hidup, atau sindrom gawat napas pada orang dewasa (ADRS). Segi kedua yang diperdebatkan ialah bahwa jika tidak ada perbedaan dapatkah dibenarkan pemakaian koloid yang mahal dan berisiko menimbulkan efek yang tidak diinginkan. Pendukung kristaloid dan koloid mempunyai sejumlah besar data (manusia dan binatang) untuk menyokong superioritas kristaloid atau koloid. Ringkasan pro dan kontra dalam kontroversi kristaloid/koloid Sayangnya tidak jelas ada kesimpulan ilmiah yang dapat ditarik dari kepustakaan mengenai kontroversi kristaloid/koloid table di bawah meringkas pro dan kontra dalam kontroversi kristaloid/koloid. Tabel Kristaloid vs Koloid
Efek volume intravascular Efek volume interstisial Sembab paru Sembab perifer Reaksi-reaksi harga Kristaloid + +++ = Sering Tidak ada Murah Koloid +++ + = Jarang Jarang Albumin mahal Non albumin sedang

Banyak ahli yang menyimpulkan secara sederhana, bahwaa karena tidak jelas berbeda dalam hasil pada pasien yang telah mendapat resusitasi kristaloid atau koloid, maka hendaknya dipakai cairan yang paling murah, yaitu tentu saja kristaloid. Argumentasi harga ini perlu dikaji lebih dalam karena biaya resusitasi cairan pada pasien yang memerlukan prosedur resusitasi kompleks hanya merupkan suatu fraksi saja dari biaya keseluruhan. Posisi ekstrim dalam kontroversi tidak dapat dibenarkan. Jenis cairan untuk resusitasi hendaknya diganti menurut lama dan berat hemoragi atau syok hemoragik dan apakah terjadi kebocoran kapiler. Pada operasi tanpa banyak trauma bedah, kecuali kehilangan darah, dapat diberikan mula-mula koloid, dan kemudian darah jika terjadi hemodilusi yang bermakna (Hb 8-10 g %). Pada operasi dengan trauma bedah yang bermaknda dan pada pasien yang menderita trauma non bedah yang terlambat dapat diberi cairan resusitasi, dapat dipakai kombinasi kristaloid dan koloid. Akhirnya pada pasien dengan kebocoran kapiler,

prognosis sangat jelek, tidak pandang macam cairan apa yang diberikan. Akan tetapi untuk pasien ini lebih baik diberi koloid dengan molekul lebih besar (dekstran). Perlu dicatat bahwa asalkan diketahui dengan jelas farmakokinetik kristaloid dan koloid dan tujuan utama resusitasi adalah untuk mengganti volume darah dan mencapai perfusi jaringan yang optimal, maka pilihan antara kristaloid dan koloid tidak dapat dengan jelas dibuat berdasarkan kepustakaan yang ada. PENUTUP Masih terdapat perdebatan dalam hal macam cara yang dberikan untuk mengatasi kegagalan perfusi, kristaloid atau koloid. Argumentasi yang mengatakan bahwa karena tidak jelas perbedaan hasil antara resusitasi dengan koloid, maka hendaknya dipakai cairan yang paling murah (yaitu kristaloid), perlu dikaji lebih dalam. Posisi ekstrim dalam kontroversi tidak dapat dibenarkan. Semua produk darah harus diberikan secara hati-hati. Jangan memberikan transfusi kalau tidak ada indikasi kuat. Sekarang ini transfusi memang lebih aman dari sebelumnya, tetapi bukannya tanpa bahaya. Darah merupakan penyelamat nyawa namun juga dapat menbancam nyawa bila diberikan dengan tidak benar. Terapi tranfusi dengan koponen darah selain tepat guna dan ekonomis, juga mengurangi kemungkinan timbulnya penyulit. Pemberian transfusi darah lengkap dengan tujuan untuk menaikkan kadar Hb hanya dipakai bila perdarahan melebihi 1000-1500 ml pada pasien dengan berat 70 kg. Walaupun dalam beberapa tahun terakhir ini di Jakarta terdapat peningkatan pemakaian komponen darah, eritrosit konsentrat masih relative sedikit diberikan. Hendaknya sikap tradisional dokter ini diubah dengan sikap kecenderungan masa kini, yaitu hanya memberikan komponen yang diperlukan. Praktek-praktek kuno seperti menuntut semua pasien mempunyai kadar Hb tertentu sebelum pembedahan dan pemberian PBS dan trombosit untuk profilkasis tanpa dukungan bukti klinis atau laboratory harus ditinggalkan. Tidak ada kdar Hb optimal yang universal. Pertimbangan pemberian transfusi harus ditentukan kasus perkasus berdasar respon terhadap variabilitas komorbiditas yang mnyertai pasien. Pasien muda yang sebelumnya sehat dapat menoleransikan hematocrit stabil 20% sesudah perdarahan akut. Pasien dengan gagal ginjal kronik menoleransikan hematocrit 18-22 dengan baik dan tidak memerlukan transfusi pra bedah. Pasien dengan penyakit arteri coroner berat mungkin membutuhkan hematocrit 35% untuk mengatasi angina. Pasien dengan penyakit paru kronik berat seringkali mempunyai hematocrit melebihi

50% dan seringkali harus mempertahankan hematocrit lebih dari 40% untuk dapat disapih dari bantuan ventilator. Untuk mencegah penularan penyakit yang dapat ditularkan lewat darah atau produk darah, dianjurkan untuk memakai darah autolog atau homolog yang bukan berasal dari donor kelompok berisiko tinggi dan pemberian darah homolog harus berdasakan indikasi yang jelas dan rasional. Darah autolog hendaknya digunakan dengan indikasi sama seperti transfusi homolo. Darah autolog jangan diberikan hanya karena sudah tersedia. Pada pasien-pasien yang mampu memproduksi sel darah merah, hematocrit dapat dibiarkan lebih rendah selama masa perioperative dan diberi terapi besi, bukannya darah. Tabel Risiko Transfusi di Amerika Serikat
Hepatitis non-A dan non-B Reaksi febris Hepatitis B Hemolysis lambat HIV Reaksi hemolitik fatal 1 dalam 100 1 dalam 100 1 dalam 1000 1 dalam 1000 1 dalam 50.000-100.000 1 dalam 100.000