Anda di halaman 1dari 6

BAB I PENDAHULUAN 1.

Latar Belakang Gagal ginjal kronik biasanya akibat akhir dari kehilangan fungsi ginjal lanjut secara bertahap (Doenges, 1999; 626). Kegagalan ginjal kronis terjadi bila ginjal sudah tidak mampu mempertahankan lingkungan internal yang konsisten dengan kehidupan dan pemulihan fungsi tidak dimulai. Pada kebanyakan individu transisi dari sehat ke status kronis atau penyakit yang menetap sangat lamban dan menunggu beberapa tahun. Dewasa ini, semakin banyak masyarakat yang mengalami gagal ginjal kronis. Penyakit tersebut menuntut untuk dilakukan tindakan dialisis untuk mempertahankan fungsi ginjal. Namun, bagi pasien GGK dialisis ini memiliki kekurangan karena harus dilakukan terus menerus. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, banyak penderita GGK mencari alternatif lain untuk mempertahankan fungsi ginjal tanpa harus menjalani tindakan dialisis. Transplantasi ginjal adalah pilihan alternative lain selain dialisis bagi penderita GGK. Melalui transplantasi ginjal, diharapkan mampu memberikan harapan hidup secara normal dan memperbaiki perasaan sejahtera.

1. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas penulis mengajukan rumusan masalah sebagai berikut: a. Bagaimanakah konsep dasar transplantasi ginjal? b. Bagaimanakah intervensi keperawatan pada pasien dengan transplantasi ginjal?

1. Tujuan Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penulisan adalah: a. Untuk mengetahui konsep dasar transplantasi ginjal. b. Untuk mengetahui intervensi keperawatan pada pasien dengan transplantasi ginjal.

BAB II PEMBAHASAN A. Konsep Dasar Transplantasi Ginjal

2.1 Pengertian Transplantasi ginjal adalah suatu metode terapi dengan cara "memanfaatkan" sebuah ginjal sehat (yang diperoleh melalui proses pendonoran) melalui prosedur pembedahan. Ginjal sehat dapat berasal dari individu yang masih hidup (donor hidup) atau yang baru saja meninggal (donor kadaver). Ginjal cangkokan ini selanjutnya akan mengambil alih fungsi kedua ginjal yang sudah rusak. Transplantasi ginjal tidak dapat dilakukan untuk semua kasus penyakit ginjal kronik. Individu dengan kondisi, seperti kanker, infeksi serius, atau penyakit kardiovaskular (pembuluh darah jantung) tidak dianjurkan untuk menerima transplantasi ginjal karena kemungkinan terjadinya kegagalan yang cukup tinggi. 2.2 Dampak Transplantasi Ginjal Keuntungan Transplantasi Ginjal Ginjal baru akan bekerja seperti halnya ginjal normal. Penderita akan merasa lebih sehat dan "lebih nomal". Penderita tidak perlu melakukan dialisis Penderita yang mempunyai usia harapan hidup yang lebih besar. Kerugian Transplantasi Ginjal Butuh proses pembedahan besar. Proses untuk mendapatkan ginjal lebih sulit atau lebih lama. Tubuh menolak ginjal yang dicangkokkan. Penderita harus rutin minum obat imunosupresan, yang mempunyai banyak efek samping.

2.3 Persyaratan Transplantasi Ginjal Golongan darah. Golongan darah penerima (A,B, AB, atau O) harus sesuai dengan golongan darah donor. Faktor golongan darah merupakan faktor penentu kesesuaian yang paling penting.

Human leukocyte antigens (HLAs). Sel tubuh membawa 6 jenis HLAs utama, 3 dari ibu dan 3 dari ayah. Sesama anggota keluarga biasanya mempunyai HLAs yang sesuai. Resipien masih dapat menerima ginjal dari donor walaupun HLAs mereka tidak sepenuhnya sesuai, asal golongan darah mereka cocok, dan tes lain tidak menunjukkan adanya gangguan kesesuaian. Uji silang antigen. Tes terakhir sebelum dilakukan pencangkokan adalah uji silang organ. Sejumlah kecil darah resipien dicampur dengan sejumlah kecil darah donor. Jika tidak terjadi reaksi, maka hasil uji disebut uji silang negatif, dan transplantasi dapat dilakukan. Selain persyaratan di atas, sebelum menjalani proses transplantasi, ada beberapa persyaratan yang perlu dipenuhi oleh calon pasien. Syarat-syarat itu adalah : Pasien tidak mengidap penyakit jantung koroner, stroke, atau kelainan pembuluh darah Pasien tidak mengidap penyakit ganas, seperti kanker Pasien tidak menderita penyakit lever aktif, serta penyakit infeksi hepatitis B,C, HIV/AIDS, dan tuberkulosis paru. Seandainya, pasien menderita penyakit-penyakit seperti di atas, maka ia perlu mendapat perawatan terlebih dahulu. Tidak hanya terhadap calon pasien, persyaratan juga diberlakukan terhadap calon donor. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh donor adalah : Umur 21-65 tahun Tidak mengidap hipertensi, penyakit diabetes, kanker, penyakit jantung, atau penyakit autoimun. Tidak menderita hepatitis B,C, ataupun HIV. Fungsi ginjal donor normal. 2.4 Proses Transplantasi Ginjal Ginjal baru ditempatkan pada rongga perut bagian bawah (dekat daerah panggul) agar terlindung oleh tulang panggul. Pembuluh nadi (arteri) dan pembuluh darah balik (vena) dari ginjal baru ini dihubungkan ke arteri dan vena tubuh. Dengan demikian, darah dapat dialirkan ke ginjal sehat ini untuk disaring. Ureter (saluran kemih) dari ginjal baru dihubungkan ke kandung kemih agar urin dapat dialirkan keluar. Transplantasi Ginjal berhasil dinyatakan jika ginjal tersebut dapat bekerja sebagai penyaring darah sebagaimana layaknya ginjal sehat sehingga tidak lagi memerlukan tindakan dialisis. Persiapan Transplantasi Bicarakan dengan dokter mengenai transplantasi yang akan dijalani, karena tidak semua orang cocok untuk transplantasi. Beberapa kondisi dapat membuat proses transplantasi berbahaya atau tidak mungkin berhasil. Ginjal baru dapat diperoleh dari donor yang baru saja meninggal dunia, atau dari donor hidup. Donor hidup bisa keluarga, bisa juga bukan - biasanya pasangan atau teman. Jika tidak memiliki donor hidup akan dimasukkan ke dalam daftar tunggu untuk memperoleh ginjal dari donor meninggal. Masa tunggu tersebut dapat berlangsung bertahun-tahun. Petugas transplantasi akan mempertimbangkan tiga faktor untuk menentukan kesesuaian ginjal dengan penerima (resipien). Faktor tersebut akan menjadi tolak ukur untuk memperkirakan apakah sistim imun tubuh penerima akan menerima atau menolak ginjal baru tersebut. Pembedahan Pembedahan untuk cangkok ginjal biasanya memakan waktu 3 sampai 4 jam.

Lama rawat di rumah sakit biasanya adalah satu minggu. Setelah keluar dari rumah sakit, resipien masih harus melakukan kunjungan secara teratur untuk memfollowup hasil pencangkokan. Sedangkan bagi pendonor hidup, waktu yang dibutuhkan hampir sama dengan resipien. Walaupun demikian, karena teknik operasi untuk mengangkat ginjal donor semakin maju, maka waktu rawat menjadi lebih pendek, mungkin 2 sampai 3 hari. Pasca Pembedahan Setelah transplantasi, dokter akan memberikan penderita obat imunosupresan, yang berguna untuk mencegah reaksi penolakan, yaitu reaksi dimana ar ut tubuh menyerang ginjal baru yang dicangkokkan. Obat imunosupresan harus diminum setiap hari selama ginjal dan uterus berfungsi. Kadang-kadang, reaksi penolakan tetap terjadi walaupun penderita sudah minum obat imunosupresan. Jika hal ini terjadi, penderita harus kembali menjalani dialisis, atau melakukan transplantasi dengan ginjal lain. Obat imunosupresan akan melemahkan daya tahan tubuh, sehingga dapat mempermudah timbulnya infeksi. Beberapa jenis obat imunosupresan juga dapat merubah penampilan. Wajah akan tampak lebih gemuk, berat badan bertambah, timbul jerawat, atau bulu di wajah. Tetapi tidak semua resipien mengalami gejala tersebut.

B. Intervensi Keperawatan pada Pasien Transplantasi Ginjal Penatalaksaan Preoperatif Adalah untuk mengembalikan status metabolisme pasien ke kadar normal sedekat mungkin. Penatalaksaan tersebut meliputi pemeriksaan fisik yang dilakukan untuk mendeteksi dan menangani setiap kondisi yang kemungkinan dapat menyebabkan komplikasi, evaluasi psikososial untuk mengkaji kemampuan pasien dalam menyesuaikan diri dengan trasplan, pola koping, riwayat sosial, ketersediaan dukungan sosial, dan sumber finansial, pasien harus bebas dari infeksi pada saat menjalani transplantasi ginjal, hemodialisis dilakuakn sehari sebelum jadwal prosedur transplantasi untuk menyakinkan stasus gizi pasien. Intervensi Keperawatan Preoperatif Adalah serupa dengan penatalaksaan pada pasien yang menjalani bedah abdominal. Intervensi tersebut meliputi: v. Berikan penyuluhan yang meliputi hygiene pulmoner pasca operatif, penatalaksaan nyeri pilihan, pembatasan diet, jalur intranena dan arterial selang (kateter indwelling ) dan selang nasogastrik dan ambulasi dini. Rasional : memberikan penyuluhan dapat membuat pasien kooperatif dengan penanganan medis yang dilakuakn serta mampu mengantisipasi komplikasi yang

kemungkinan bisa terjadi. v. Berikan informasi yang akurat tentang prosedur pembedahan. Rasional : Membantu menghadapi masalah kecemasannya tentang pembedahan, kemungkinan menolak dan memilih untuk melakukan dialisis.

Penatalaksaan Pascaoperatif Tujuannya adalah untuk mempertahankan homeostatis sampai ginjal trasplan berfungsi dengan baik. Ginjal yang dapat berfungsi segera merupakan tanda prognosis yang menggembirakan. Intervensi Keperawatan Pascaoperatif v. Pantau adanya rejeksi dan tanda tanda infeksi. Rasional : adanya infeksi akan menghambat terjadinya penyembuhan selain itu pasien transplantasi ginjal sangat rentan terkena infeksi karena diberikannya terapi imunosupresif. v. Pantau fungsi urinarius. Rasional : untuk menjamin patensi dari ginjal transplan dan untuk mengevaluasi tanda tanda infeksi. v. Observasi adanya tanda tanda komplikasi lain. Rasional : pasien transplan sangat rentan terjadi komplikasi seperti ulserasi gastroinstestinal, pendarahan akibat steroid, penyakit kardiovaskuler, dan tumor. v. Observasi perkembangan psikologis pasien. Rasional : pasien biasanya akan mengalami kecemasan akan ketidakpastian tentang masa depan serta kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan periode pasca transplan. v. Observasi pendidikan pasien dan perawatan di rumah. Rasional : untuk memberikan penjelasan yang tepat bahwa terapi imunosupresif dilakuakn seumur hidup dan penatalaksaan diet.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan

Transplantasi ginjal adalah suatu metode terapi dengan cara "memanfaatkan" sebuah ginjal sehat (yang diperoleh melalui proses pendonoran) melalui prosedur pembedahan. Ginjal sehat dapat berasal dari individu yang masih hidup (donor hidup) atau yang baru saja meninggal (donor kadaver). Ginjal cangkokan ini selanjutnya akan mengambil alih fungsi kedua ginjal yang sudah rusak. Bahaya cangkok ginjal berupa komplikasi seperti; penolakan akut (acute rejection), terjadi arus darah tidak lancar (klot), kebocoran urin, infeksi luka operasi. Komplikasi yang timbul kemudian adalah penolakan kronis (chronic rejection), infeksi, penyempitan arteri, penyakit ginjal asli kambuh. 3.2 Saran Adapun saran yang penulis ajukan adalah sebagai berikut: Bagi pemerintah, diharapkan memberikan ruang bagi perkembangan ilmu perkembangan terutama di dalam bidang kesehatan serta meningkatkan prasarana dan sarana kesehatan. Bagi seluruh masyarakat agar menjaga kesehatan terutama untuk mencegah terjadinya penyakit-penyakit saluran perkemihan.

Daftar Pustaka

Smeltzer, Suzanne dan Bare, Brenda. 2002.Keperawatan Medikal Bedah, Ed. 8, Vol. 2.Jakarta:EGC .2009.Transplantasi Ginjal, (http:/www.majalah-farmacia.com), diakses 5 Okober 2009. 2009.Ginjal, (http:/id.wikipedia.org), diakses 5 Oktober 2009.