Anda di halaman 1dari 4

Rencana Zonasi Rinci Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

Sesuai dengan amanat Undang-Undang Republik Indonesia No.27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, pemerintah daerah selain menyusun Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K), juga diamanatkan untuk menyusun Rencana Zonasi Rinci di setiap Zona Kawasan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil tertentu dalam wilayahnya.

Rencana Zonasi Rinci digunakan untuk menyusun rencana detail kawasan/zona dalam Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kabupaten/Kota dengan tingkat informasi yang lebih dalam/detail sesuai dengan kebutuhan pembangunan saat ini.Selain itu, Rencana Zonasi Rinci WP3K dibutuhkan untuk penyusunan RZWP3K Kawasan Strategis Nasional Tertentu yang berada di wilayah Kabupaten/Kota.

Dalam rangka mengoperasionalkan amanat Undang- undang dimaksud, maka diperlukan adanya pedoman operasional penyusunan rencana zonasi rinci yang berfungsi menuntun dan mengarahkan pemerintah daerah dalam melakukan penyusunan Rencana Zonasi Rinci WP3K di wilayahnya.Tujuan dari pedoman ini adalah memberikan acuan dalam penyusunan Rencana Zonasi Rinci Wilayah Pesisir dan Pulau- Pulau Kecil (Rencana Zonasi Rinci WP3K) bagi pemerintah pusat dan daerah khususnya pemerintah kabupaten/kota.

Sedangkan sasarannya adalah untuk mewujudkan Rencana Zonasi Rinci Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang sesuai dengan amanat Undang-Undang Republik Indonesia No.27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau- Pulau Kecil dan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor PER.16/MEN/2008 tentang Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil.

Ruang lingkup Pedoman terdiri dari tiga bagian besar yakni (1) Dasar kebijakan pedoman, (2) Metodologi pelaksanaan penyusunan Rencana Zonasi Rinci WP3K dan (3) Proses penyusunan Rencana Zonasi Rinci WP3K. Landasan kebijakan dalam rangka penyusunan pedoman adalah (1) Undang-Undang Republik Indonesia No.27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, dan (2) Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor PER.16/MEN/2008 tentang Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulaupulau Kecil. Sedangkan kedudukan rencana zonasi rinci yang dibahas dalam pedoman ini antara lain : (1) Kedudukan Rencana Zonasi Rinci dalam Kebijakan Nasional dan (2)

Kedudukan Rencana Zonasi Rinci dalam UU No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

Program ini menjabarkan mengenai : (1) muatan rencana zonasi rinci, (2) format penyajian, (3) skala peta, dan (3) masa berlaku.

a. Muatan Rencana Zonasi terdiri dari : Hirarki perencanaan zonasi rinci, tahapan pelaksanaan kegiatan, penyusunan rencana zonasi rinci, dan potensi pemanfaatan sumberdaya di wilayah perencanaan. Pada Hirarki Perencanaan zonasi rinci dibahas lebih jelas mengenai hirarki perencanaan rencana zonasi, dan kedudukan rencana zonasi dalam struktur perencanaan zonasi. Selain itu pada bab ini juga menjelaskan struktur peruntukan kawasan, zona dan peruntukan zona pada rencana zonasi dan rencana zonasi rinci. Pada sub bab ini mengarahkan bahwa Rencana Zonasi Rinci WP3KKabupaten/Kota bertujuan untuk memberikan arahan peruntukkan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil bagi sub zona dan kegiatan.

Hierarki Rencana Zonasi Rinci Untuk pembahasan dalam sub bab tahapan pelaksanaan kegiatan adalah penjelasan lebih rinci lagi mengenai tahapan-tahapan dan prosedur pelaksanaan yang harus dilakukan dalam melakukan penyusunan rencana zonasi yang diamanatkan dalam PER 16/MEN/2008 mulai dari tahapan-tahapan dalam proses persiapan, tahapan-tahapan dalam survey lapangan, tahapan dalam tahap analisis, dan tahapan dalam perumusan konsep RZR WP3K, tahapan dalam konsultasi publik, tahapan perbaikan konsep RZR WP3K, tahapan Perumusan dokumen final RZR WP3K dan naskah rancangan peraturan Bupati/Walikota, dan Tahapan penetapan Rencana zonasi rinci.

Pada penjelasan mengenai proses penyusunan rencana zonasi rinci, dibahas secara umum mengenai proses-proses yang dilakukan dalam merencanakan zonasi rinci terutama alur proses yang dilakukan dari mulai input, proses dan output. Dalam penyusunan rencana zonasi rinci salah satu syarat yang harus disajikan dalam dokumen rencana adalah menyajijan profil sumber daya yang dimiliki dalam wilayah perencanaan. Dalam sub bab ini digambarkan lebih jelas mengenai jenis-jenis informasi dan data yang harus dilampirkan baik dalam bentuk peta, statistik maupun Format Penyajian Dokumen Rencana Zonasi Rinci WP3K antara lain terdiri dari : (1) Buku Rencana yang disajikan dalam format A4; dan

(2) Album Peta yang disajikan dengan tingkat ketelitian skala 1:10.000 atau lebih besar. Sedangkan skala peta yang digunakan oleh Rencana Zonasi Rinci WP3K adalah 1:10.000.Masa Berlaku Rencana Zonasi Rinci WP3K adalah 5 (lima) tahun.

Pada proses penyusunan rencana zonasi ini membahas mengenaikeseluruhan proses penyusunan rencana zonasi rinci WP3K yang terdiri dari (1) Proses Penentuan Wilayah Perencanaan, (2) Proses Pengumpulan dan Pengolahan Data, (3) Proses Analisis Data, dan (4) Rencana Zonasi Rinci. a. Proses Penentuan Wilayah Perencaaan Wilayah perencanaan dalam rencana zonasi rinci dapat ditentukan dengan dua cara, yaitu berdasarkan: (1) Satuan Wilayah Pengembangan/Perencanaan (SWP); dan (2) Fungsi suatu zona tertentu. b. Proses pengumpulan dan pengolahan data Dalam sub bab ini dijelaskan proses dan metode pengumpulan data yang dilakukan baik berupa data sekunder ataupun primer, melalui metode ground check, wawancara, ataupun questioner atau jenis2 metode lainnya. Selain itu juga dijelaskan jenis-jenis data yang minimal harus ada dan sumber perolehannya untuk kebutuhan perencanaan zonasi rinci. c. Proses Analisis Data Sedangkan dalam sub bab proses analisis data dijelaskan jenis- jenis analisis yang dibutuhkan dalam rencana zonasi rinci beserta metode analisis yang digunakan. d.Rencana Zonasi Rinci Output dari peyusunan rencana zonasi rinci adalah Rencana Zonasi rinci yang muatannya antara lain terdiri dari : 1) Tujuan Strategi Kebijakan pengembangan unit perencanaan 2) Rencana pola pemanfaatan ruang berupa arahan zona, arahan sub zona kegiatan, arahan zonasi SWP, arahan sub zona dan arahan kegiatan pada kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil (Perikanan tangkap, Perikanan budidaya, tambat labuh/pelabuhan, pariwisata, alur, konservasi, permukiman nelayan, infrastruktur, industri, dll); 3) Rencana struktur jaringan pelayanan pada kawasan pesisir (daratan: tata jenjang jaringan perhubungan, tata jenjang fasilitas permukiman pesisir/pulau kecil, dan tata jenjang prasarana pengelolaan lingkungan pesisir/pulau kecil) disertai dengan peta-peta rencana struktur ruang; 4) Arahan pelaksanaan pembangunan sub zona/kegiatan, meliputi:

- Arahan kapasitas pengembangan masing-masing kegiatan pada sub zona; dan - Arahan penanganan sempadan pantai (reklamasi, pemecah ombak, dll).

Output dari kegiatan ini ; tersusun Juknis Rencana Zonasi Rinci Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil yang dapat menjadi panduan penyusunan rencana zonasi pada tingkat Kabupaten dan Provinsi.

Tindak lanjut Juknis Rencana Zonasi Rinci WP3K yang perlu dilakukan adalah: 1. Adanya simulasi aplikasi Rencana Zonasi Rinci WP3K 2. Adanya bimtek Juknis Rencana Zonasi Rinci WP3K di lingkup pusat dan daerah 3. Adanya diseminasi Juknis Rencana Zonasi Rinci WP3K ke seluruh stakeholder terkait.