Anda di halaman 1dari 38

Endometrisis

Endometrisis merupakan radang pada endometrium yang disebabkan oleh bakteri patogen atau yang merupakan flora normal meliputi Clamydia trachomatis, Neisseria gonorrheae, Streptococcus agalactiae, dll. Penyakit ini dapat menyerang wanita pasca partus pervaginam yang memiliki komplikasi, c-caesaria yang lama atau pasca menggunakan alat kontrasepsi yang langsung dipasangkan pada uterus.

ANATOMI
Anatomi Genitalia Interna Wanita Genitalia wanita yang berhubungan langsung dengan endometrisis adalah uterus, karena pada umumnya, bakteri patogen masuk menaiki serviks ke dinding endometrium pada uterus.

Uterus

Bentuk: Seperti buah pir, berdinding tebal Panjang 3 inci, lebar 2 inci, tebal 1 inci Uterus diliputi peritoneum, kecuali di bagian anterior dan di bawah ostium uteri internum. Di tempat perkecualian ini peritoneum berjalan ke depan atas VU.

Bagian:

Fundus, merupakan atap dari uterus dan merupakan bagian paling berkembang saat terjadi kehamilan. Corpus, Bagian ini terletak pada bagian inferior cornu dan superior cervis. Bagian ini merupakan bagian berongga cavum uteri. Cavum uteri merupakan tempat perkembangan janin selama 40 minggu. Berbentuk segitiga sama sisi, sudut lateral akan berlanjut menjadi tuba uterina, dan pada bagian distal akan menjadi canalis cervisis uteri. Cervix, memiliki rongga yaitu canalis cervicis uteri, berhubungan dengan corpus uteri lewat ostium uteri internum dan berhubungan dengan vagina lewat ostium uteri externum. Cervix menembus dinding anterior vagina menjadi : Portio Vaginalis Cervicis Bagian ini merupakan bagian cervix yang menonjol dalam lumen vagina dan dikelulungi oleh forniks anterior, forniks posterior, dan forniks lateral. Terdapat pintu cervix yang membuka ke dalam vagina yang disebut ostium uteri externum. Portio Supravaginalis Merupakan bagian cervix yang terletak proksimal dari lumen vagina. Terdapat titik pertemuan cavum uteri dan canalis cervicis yang disebut ostium uteri internum.

Cavitas uteri berbentuk segitiga.

Pada wanita nulipara, ostium uteri berbentuk sirkular. Pada multipara, portio vaginalis lebih besar, ostium uteri berbentuk celah transversal sehingga mempunyai labium anterius dan posterius. Batas-batas uterus: Ke anterior: o Corpus uteri excavatio vesicouterina dan facies superior vesica urinaria. o Portio supravaginalis facies superior vesica urinaria. o Portio vaginalis fornix vaginae pars anterior. Ke posterior:

o Corpus uteri excavatio rectouterina (cavum Douglassi) dan lengkung ileum atau colon sigmoid Ke lateral: o Corpus uteri lig. latum dan A-V uterina, selain itu tuba uterina masuk uterus pada sudut superolateral, ada pula lig. ovarii proprium dan lig. teres uteri. o Portio supravaginalis ureter (ketika ureter berjalan ke depan menuju VU) o Portio vaginalis fornix vaginae pars lateralis. Posisi: Anteversio uterus (sumbu panjang uterus melengkung ke depan terhadap sumbu panjang vagina). Antefleksio uterus (sumbu panjang corpus uteri melengkung ke depan setinggi ostium uteri internum pada sumbu panjang cervix). Pada posisi berdiri dengan VU kosong, uterus terletak hampir horisontal. Retroversio uterus (fundus dan corpus melengkung ke belakang terhadap vagina sehingga uterus terletak di cavum Douglassi). Retrofleksio uterus (corpus melengkung ke belakang terhadap cervix).

Struktur: Tunica muscularis/myometrium, sangat tebal, dibentuk oleh otot polos yang disokong jaringan ikat. Tunica mucosa/endometrium, melanjutkan diri ke atas untuk melapisi tuba dan ke bawah melapisi cervix. Endometrium melekat langsung pada otot sehingga tidak ada tunica submucosa. Parametrium ialah bagian portio supravaginalis yang dikelilingi fascia pelvis visceralis.

Perdarahan: Uterus diperdarahi oleh arteri uterina cabang dari a. Iliaca interna. Arteri uterina lalu akan bercabang menjadi 2: o Ramus ascenden a. Uterina ke arah lateral, di bawah tuba uterina, dan beranastomosis dengan a. Ovarica

o Ramus descenden a. Uterina memperdarahi bagian proksimal vagina. Limfe: Dari fundus uteri berjalan bersama A. ovarica, ke nodi para aortici setinggi L1. Dari corpus dan cervix bermuara ke nodi iliaci interni dan externi. Beberapa pembuluh lain mengikuti lig. teres uteri di dalam canalis inguinalis dan mengalirkan cairan limfe ke nodi inguinales superficiales. V. uterina mengikuti A. uterina, bermuara ke V. iliaca interna.

Persarafan: Uterus dipersarafi oleh serabut saraf simpatis post ganglion (T12-L3) dan serabut parasimpatis (S2,3,4), juga dipersarafi oleh N. Uterina yang mempersarafi pembuluh darah dan otot. Namun, kontraksi uterus bukan disebabkan oleh otot, melainkan oleh pengaruh hormon. Penyokong uterus: Pada dasarnya, corpus uteri dapat bergerak bebas, namun supravaginan cervicis terfiksasi pada pelvis oleh 2 ligamen utama, yaitu Lig. Cervicalis Lateralis yang disebut juga sebagai lig. Cardinale (Mackenrodt) dan di dalamnya terdapat a/v uterina dan lig. Uterosacralis (lig. Recto-uterina). Selain itu, terdapat pula ligamen-ligamen lain yang berperan menyokong uterus walau sangat kecil, seperti pubocervicalis, lig. Latum, lig. Ovarii propium, lig. Teres uteriyang memegang peran saat kehamilan.

Dinding uterus terdiri dari 3 lapisan, yaitu lapisan perimetrium yang merupakan lapisan paling luar, miometrium yang merupakan lapisan tengah, dan endometrium dan berkaitan dengan siklus menstruasi pada wanita. (Lebih lanjut pada histologi) Terdapat beberapa ruangan di sekitar uterus yaitu excavatio utero-vesicalis (vesicouterina) yang memisahkan uterus dengan vesica urinaria dan excavatio recto uterina (cavum Douglasi) yang memisahkan uterus dengan rectum, kearah caudal membentus rectouterina yang menjadi ruangan antara vagina dan rectum. Excavatio ini juga dapat menentukan adanya kehamilan ektopik pada seseorang.

HISTOLOGI UTERUS
Terdiri dari lapisan (dari luar ke dalam):

1 - tunica mucosa (endometrium)

2 - tunica muscularis (myometrium) 3 - tunica serosa (perimetrium) 4 - functional layer of the endometrium 5 - basal layer of the endometrium 6 - blood vessels 7 - endometrial glands (in tunica propria of uterine mucosa) 8 - endometrial stroma (connective tuissue in tunica propria of uterine mucosa) 9 - epithelium of the endometrium

Uterus terdiri dari 3 dinding yang relatif tebal. Dari luar ke dalam, maka di dapat seagai berikut:

a. Peripetrium (tunika serosa / adventisia)

Merupakan jaringan ikat yang tipis dari peritoneum dan diliputi oleh selapis sel-sel mesotel. Pada bagian bawah permukaan depan uterus, selubung peritoneum itu tidak lagi terdapat. Di kiri dan kanan uterus perimetrium melanjutkan diri menjadi ligamentum latum. Dalam lapisan ini terdapat pembuluh darah, limfa, dan ujung serat saraf. b. Miometrium (tunika muskularis)

Lapisan ini merupakan lapisan yang paling tebal dari dinding uterus dan terdiri atas 4 lapisan yang batas-batasnya tidak jelas. lapisan-lapisan tersebut adalah: Stratum submukosum Stratum vaskulare Stratum supravaskulare Stratum subserosum

Stratum submukosum dan stratum subserosum adalah tipis, terutama terdiri atas seratserat yang berjalan secara longintudinal sejajar dengan panjang organ. Stratum vaskular dan supravaskular lebih tebal, serat-seratnya tersusun secara sirkular dan oblik serta banyak mengandung pembuluh darah cabang arteri uterina. Serat muskular lapisan miometrium normal mempunyai ukuran panjang sekitar 0,50 m. Pada kehamilan, serat-serat ini menjadi 10 kali lebih panjang dan 24 kali lebih tebal, jadi, mengalami hiperplasia dan hipertrofi. c. Endometrium (Tunika mukosa)

Endometrium mendapat nutrisi dari a. Spiralis. Epitel endometrium adalah epitel selapis toraks terdiri atas sel bersilia dan sel sekretorik, dan anyaman penyambung lamina propria yang disebut stroma endometrium. Dalam stroma tersebut terdapat kelenjar tubulosa simpleks (glandula uterina) yang bermuara ke lumen uterus melalui permukaan epitel, banyak sel-sel dan bahan amorf antarsel, dan serat-serat jaringan penyambung (mirip mesenkim). Fungsi utama endometrium adalah mempersiapkan tempat untuk impalntasi ovum yang telah dibuahi dan pembentukan bagian maternal. Tebal endometrium 5 mm. Epitel kelenjar uterus (gl. Uterina) sama dengan epitel endometrium, tetapi sel-

sel bersilia hanya sedikit. Endometrium mengalami perubajan berkala sejak mulai pubertas sen berakhir dengan menopause. Endometrium dibagi atas 2 lapisan yaitu lapisan superfisial yang tebal disebut starum fungsional dan lapisan sebelah dalam yang tipis disebut stratum basale. Disebut stratum fungsional karena sifatnya banyak berubah sewaktu menstruasi. Stratum fungsional dibedakan atras stratum kompaktum dan stratum spongiosum. Stratum kompaktum terdiri atas stroma dan glandula uterina. Stratum spongiosum mengandung banyak kelenjar uterina dan pembuluh darah a. Spiralis, keadaannya seperu busa. Stratum basale sifatnya tidak banyak berubah selama siklus menstruasi dan tetap menghasilkan stratum fungsionale baru setelah menstruasi.

Perubahan endometrium selama siklus menstruasi Dikenal beberapa stadium: 1. Stadium menstruasi/ haid: Fase menstruasi berlangsung selama rata-rata 3-4 hari, berlangsung pada hari 14 siklus menstruasi. Pada fase ini stratum fungsional mengalami nekrosis dan dilepaskan. Hasil dari menstruasi tersebut mengandung darah arteri, darah vena, sel epitel, stroma yang nekrosis dan getah kelenjar. Gamb mikroskopik: Setelah kontriksi beberapa saat maka arteri akan berdilatasi sebentar dan dinding pembuluh darah yang dekat dengan permukaan akan pecah sehingga darah akan masuk ke dalam stroma dan membentuk suatu kolam darah. Selanjutnya kolam darah ini akan pecah dan hancur kemudian masuk ke lumen uterus.

Arteri spiralis yang tadinya berdilatasi kemudian mengalami kontriksi kembali sehingga bagian terminalnya mati. Kemudian selanjutnya potongan-potongan endometriumpun terlepas dan lapisan fungsional dikeluarkan. 2. Stadium proliferasi/ folikular/ aufbau Stadium ini mulai pada hari ke 5 dari siklus menstruasi sampai 1-2 hari setelah ovulasi. Hari terakhir dari fase ini tidak dapat ditentukan dengan pasti karena saat ovulasi sangat variabel. Selama fase ini, endometrium menjadi bertambah tebal 2 sampai 3 kali karena rangsangan estrogen ovarium. Gamb mikroskopik: Dibawah pengaruh estrogen epitel kelenjar tumbuh dnegan cepat menggantikan epitel endometrium yang telah hilang. Sel-sel kelenjar banyakk yang mitosis dan banyak terbentuk substansia antarsel dalam stroma. Tebal endometrium menjadi 5 mm kembali. Pembuluh darah belum mencapai 1/3 bagian atas dari tebal endometrium. Pada akhir stadium ini, kelenjar-kelenjar menjdai lebar pada bagian basal sel. Stadium proliperatif berlanjut sampai 1 hari setelah ovulasi. 3. Stadium interval Merupakan bagian akhir stadium proliferasi. Pada stadium ini terjadi ovulasil Pada stadium ini endometrium telah sempurna diperbaiki namun masih belum dipengaruhi oleh progesteron. Gamb mikroskopik: Tebal endometrium berkisar antara 2-3 mm. Pada fase ini sel epitel permukaan dan kelenjar yang berbentuk torak tampak saling bertumpuk karena proliferasi yang aktif. Kelenjar-kelenjar dalam stratum fungsional berbentuk lurus dan sempit. Mukus yang disekresikan pada fase ini sedikit dan encer. Stroma sendiri mengandung sel-sel mesenkim yang berbentuk bintang dengan juluran sitoplasma yang saling berhubungan satu sama lain. 4. Stadium progestasi/ luteal/ sekresi Pada stadium ini perubahan endometrium yang terjadi terutama disebabkan oleh karena pengaruh progesteron. Endometrium akan menebal, kelenjar-kelenjar aktif bersekresi dan stroma sembab karena cairan bertambah. Pada fase ini korpus luteum berkembang dan berfungsi. Lama stadium sekresi kira-kira sekitar 14 hari.

Gamb mikroskopik: Tebal endometrium berkisar antara 3-6 mm. Pada fase ini sel stroma bertambah besar, sekresi kelenjar uterina bertambah dan terjadi edema stroma. Stadium ini terdapat setelah ovulasi dan tergantung pada pembentukan korpus luteum yang menghasilkan progesteron. A. Spiralis memanjang dan dapat mencapat permukaan atas endometrium. Kelenjar-kelenjar dalam stratum fungsional berubah, lumen menjadi lebar serta berkelok-kelok dan membentuk sakulus/ kantong-kantong. Sekresi kelenjar menjadi lebih kental dan banyak. Kemudian sel-sel stroma mengalami perubahan yang disebut reaksi desidua (suatu pelepasan). Pada reaksi desidua sel-sel stroma menjadi besarbesar tapa, berbentuk poligonal dan tampak pucat. Perubahan pada stadium ini berfungsi agar endometrium dapat menutri ovum yang telah dibuahi. Apabila tidak dibuahi maka endometrium akan mengalami regresi. 5. Stadium iskemik/ pramenstruasi/ prahaid Fase ini terjadi 1-2 hariterakhir dari fase sekretoris. Pada fase ini kadar progesteron menurun. Pembuluh darah yang menuju bagian superfisial lapisan fungsional mengalami konstriksi untuk beberapa saat sehingga bagian endometrium akan kekurangan darah. Selanjutnya bagian yang iskemik tersebut akan diliputi oleh sebukan leukosit. Gamb mikroskopik stadium iskemik: Hormon-hormon menurun kadarnya dan terjadi perubahan vaskular dengan menurunnya sirkulasi di dalam arteri. Setelah terjadi iskemia intermittern , arteri spiralis menutup dan permukaan endometrium menjadi pucat. Kelenjar akan berhenti mengeluarkan sekretnya kemudian endometrium menipis. Pada fase inni ditemukan banyak leukosit, stroma padat.

FISIOLOGI Proses Plasentasi Pada hari ke 8-9 perkembangan trofoblast sangat cepat dari selapis sel tumbuh menjadi berlapis2. Saat sinsitiotrofoblas menembus desidua, sinsitiotrofoblas

menghasilkan human chorionic gonadotropin-hCG yang berfungsi agar corpus luteum tetap memproduksi estrogen dan progesteron untuk mempertahankan kehamilan. Trofoblast mempunyai sifat menghancurkan desidua termasuk arteri dan vena di dalamnya. Akibatnya terbentuk ruangan2 yang terisi perdarahan dari pembuluh2 darah yang ikut dihancurkan. Pertumbuhan ini berjalan terus shg timbul ruangan2 intervillair dimana villi koriales terapung2 diantara ruangan2 tsb sampai terbentuknya plasenta.sebagian dari vili koriales tetap melekat pada desidua dan desidua yg tdk dihancurkan trofoblast membentuk septa placentamaternal placenta. Septa plasenta ini membagi plasenta menjadi bbrp maternal cotyledon umumnya 1520 bh. Foetal cotyledon ad suatu kelompok besar villi koriales yg bercabang seperti pohon. Pada plasenta aterm200 foetal cotyledon. Pada tiap cabang vilikoriales terdapat sistem vena dan arteri yg menuju ke vena umbilikalis dan arteri umbikalisdarah ibu mengandung makanan dan zat asam bagi janin. Pertumbuhan plasenta makin lama makin besar umumnya mencapai pembentukan lengkap pada umur kehamilan 16 mgg. Plasenta dewasa lengkap dan normal : 1. bentuk bundar / oval 2. diameter 15-25 cm tebal 3-5 cm 3. berat rata2 500-600 gr 4. insersi tali pusat dpt ditengah(sentralis),samping (lateralis),ujung tepi (marginalis) 5. disisi ibukotiledondiliputi desidua basalis 6. disisi janinarteri dan venatali pusat. Korion diliputi amnion. 7. Sirkulasi darah ibu diplasenta sekitar 300cc/menit (20mgg) sd 600-700cc (aterm) Palsenta terdiri dari: a. Pars foetalis

Merupakan bagian janin yang terdiri dari korion frondosum yang merupakan vili kkorialis yang berhubungan dengan desidua basalis pada pars foetalis dan tumbuh bercabang-cabang dengan baik. b. Pars maternal Merupakan bagian ibu yang terdiri dari : Korion : korion frondosum dan korion leave Desidua : - Desidua basalis : desidua yang letaknya anatara hasil konsepsi dan dinding uterus - Desidua kapsularis : meliputi hasil konsepsi ke arah kavum uteri - Desidua parietalis : meliputi bagian lain dari tempat implantasi

Proses Plasentasi

Fungsi plasentamenjamin kehidupan dan pertumbuhan janin yang baik. 1. Nutrisi : Memberi bahan makanan pada janin 2. Ekskresi : mengalirkan keluar sisa metabolisme janin 3. Respirasi : memberi O2 dan mengeluarkan CO2 janin 4. Endokrin : menghasilkan hormone HCG, esterogen dan progesteron 5. Imunologi : menyalurkan antibodi utk janin 6. Farmakologi : menyalurkan obat2an bg janinibu 7. Proteksi : thd bakteri.virus,zat2 toksik.

MASA NIFAS/PUERPERIUM Adalah masa pulih kembali dari persalinan selesai sampai alat2 kandungan kembali ke pra hamil dan kira2 berlangsung 6 minggu.

Fisiologi Involusi Uterus Uterus berangsur-angsur menjadi kecil (involusi) sehingga akhirnya kembali seperti sebelum

hamil. Segera setelah plasenta lahir tinggi fundus uteri kira kira sepusat. Korpusi uteri sekarang sebagian besar merupakan miometrium yang dibungkus serosa dan dilapisi desidua. Selama 2 hari berikut uterus masih tetap pada ukuran yang sama dan 2 minggu kemudian telah turun kerongga panggul dan tidak dapat diraba diatas syimpisis dan mencapai ukuran normal dalam waktu 4 minggu . Setelah persalinan uterus seberat kurang lebih 1 kg. karena involusi 1 minggu kemudian beratnya sekitar 500 gram, pada akhirnya minggu kedua menjadi 300 gram dan segera sesudahnya menjadi 100 gram. Jumlah sel sel otot tidak berkurang banyak hanya ukuran selnya yang berubah 5 .

Setelah 2 hari persalinan desidua yang terringgal di uterus berdiferensiasi menjadi 2 lapisan. Lapisan superficial menjadi nekrotik, terkelupas keluar bersama lochea dan lapisan basalis tetap utuh menjadi sumber pembentukan endrometrium baru. Proses regenerasi endometrium berlangsung cepat kecuali tempat plasenta. Seluruh endometrium pulih kembali dalam minggu ke-3 5. Placenta bed setelah persalinan, tempat plasenta terdiri dari banyak pembuluh darah yang mengalami trombus. Setelah kelahiran, ukuran pembuluh darah ekstra uteri mengecil menjadi sama atau sekurangnya mendekati sebelum hamil. 5 Placental bed mengecil karena kontraksi dan menonjol ke kavum uteri dengan diameter 7,5 cm. Sesudah 2 minggu menjadi 3,5 cm, pada minggu keenam 2,4 cm, dan akhirnya pulih2. Luka-luka pada jalan lahir bila tidak disertai infeksi akan sembuh dalam 6-7 hari2. after pain, (merian atau mules-mules) disebabkan kontraksi rahim, biasanya berlangsung 2-4 hari pasca persalinan.

Lokhia Lokhia adalah cairan dan sekret dari cavum uteri dan vagina dalam masa nifas. Lokhia rubra/kruenta 2 hari postpartum berisi darah segar dengan bekuan, sisasisa selaput ketuban, sel-sel desidua, verniks kaseosa, lanugo, dan mekoneum. Meningkat saat bergerak, menyusui, atau peregangan. Bau amis. Lokhia sanguinolenta 3-7 hari postpartum berwarna merah kuning, berisi darah dan lendir. Bau amis. Lokhia serosa 7-14 hari postpartum berwarna kuning, tidak ada darah lagi. Bau amis. Lokhia alba setelah 2 minggu cairan putih. Bau amis.

Lokhia patologis: Lokhia purulenta jika ada infeksi, ada cairan seperti nanah berbau busuk.

Lokhiastasis tidak lancar.

Periode Nifas Puerperium dini sampai ibu dapat berdiri dan berjalan, 40 hari (6 minggu). Puerperium intermedial kepulihan menyeluruh genitalia eksterna dan interna, 6-8 minggu. Remote puerperium sampai pulih sempurna dari segala komplikasi kehamilan dan persalinan.

Endometrisis
Definisi Endometritis merupakan suatu infeksi yang menyerang dinding endometrium dari uterus. Inflamasi ini juga masih mungkin menyerang miometrium, namun jarang ditemukan pada dinding perimetrium. Etiologi Endometritis merupakan suatu infeksi yang bersifat polimikrobial karena pada umumnya disebabkan oleh berbagai bakteri yang merupakan flora normal dari genitalia interna wanita atau bakteri yang berasal dari luar. Berbagai bakteri dapat merupakan penyebab dari timbulnya endometritis, antara lain: Clamydia trachomatis Clamydia trachomatis merupakan bakteri yang masih termasuk golongan Clamydia. Bakteri ini merupakan bakteri gram negatif yang juga merupakan bakteri interselular obligat yang patogen. Bakteri ini juga merupakan bakteri yang paling banyak menyebabkan penyakit akibat hubungan sexual. Bakteri ini biasanya menyebabkan berbagai penyakit pada bagian mata, organ kelamin, dan rektum. Bakteri ini dapat diatasi dengan penggunaan antibiotik jenis makrolit atau tetrasiklin. http://www.cdc.gov/std/chlamydia/stdfact-chlamydia.htm Neisseria gonorrheae Merupakan bakteri diplokokus gram negatif yang biasa menyebabkan penyakit menular seksual. Bakteri ini memiliki permukaan protein yang disebut Protein Opa yang dapat

mencegah respon imun pada hospesnya. Hal ini menyebabkan seseorang dapat berkali-kali terserang penyakit akibat bakteri ini. Bakteri ini juga dapat melakukan konjugasi DNA sehingga dapat merubah bentuknnya dan hal ini dapat menyebabkan timbulnya resistensi pada penggunaan antibiotik. Bakteri inn biasa dibiakkan pada agar Theyer-Martin dan apabila telah mengalami resistensi pada penggunaan antibiotik Penicillin, maka, dapat digunakan antibiotik golongan seftriakson. Streptococcus grup B Merupakan bakteri yang berbentuk kokus (seperti rantai) gram positif yang biasanya menyebabkan infeksi postpartum pada wanita dan penyebab terbesar sepsis pada neonatus. Bakteri ini secara normal berada pada saluran pencernaan dan genitalia pada wanita sehat dengan kadar kira-kira 15-45%. Pada umumnya, 50% bayi yang lahir pervaginam, pasti mendapatkan infeksi bakteri ini dari ibunya, namun hanya 1-2 % yang mengalami perburukan keadaan. Bakteri ini masih sensitif dengan penggunaan antibiotik penisilin, juga dapat digunakan golongan cefazolin, eritromicin dan klindamisin. http://emedicine.medscape.com/article/229091-overview Escerechia coli Bakteri ini merupakan bakteri gram negatif berbentuk batang yang biasanya terdapat di dalam gastrointestinal bagian bawah pada makhluk berdarah panas. Pada umumnya, bakteri ini merupakan flora normal yang tinggal dalam saluran cerna makhluk hidup yang juga dapat menghasilkan vitamin K2 untuk mencegah perkembangan bakteri patogen dalam usus, namun, beberapa jenis dari bakteri ini dapat menimbulkan beberapa penyakit. Bakteri lainnya Bakteri lain yang dapat menyebabkan infeksi endometriris adalah G. vaginalis, Enterococcus, Aerobic streptococcus, Bacteroides spp, dll. Epidemiologi Endometritis merupakan suatu infeksi yang umumnya menyerang pada wanita usia reproduktif yang mengalami masalah pada saat partus. Pada umumnya, infeksi ini terjadi pada wanita setelah melahirkan pervaginam (1-3%) atau setelah menjalani operasi caesar (1390%) terutama setelah menjalankan operasi caesar untuk tujuan abortus atau durasi operasi

yang terlalu lama. Endometritis yang tidak berhubungan dengan postpartum , umumnya lebih mengacu pada Pelvic Inflamatory Disease (PID). Faktor resiko 1. Pada kelahiran pervaginam Ruptur membran yang memanjang Adanya multiple cervical examination Internal fetal monitoring Bayi yang lahir mati Bayi dengan Low birthweight Preterm delivery Kelahiran yang lama dan didapatkan ruptur membran Multiple cerviical examination Internal fetal monitoring Bayi dengan cephalopelvic disproportion Tidak menerima perioperative profilaksis

2. Pada kelahiran caesar

Faktor risiko utama untuk endometritis obstetrik meliputi: persalinan sesar (sc) (terutama jika sebelum usia kehamilan 28 minggu) pecah ketuban

seringnya pemeriksaan dalam (hysteroscopy ,pemasangan IUD), laserasi pada vagina dan serviks, usia terlalu tua
Rendah status sosial ekonomi Faktor risiko minor meliputi: Tidak adanya plug lendir serviks yang normal Penggunaan ks utk bayi premature supaya matang Berkepanjangan pemantauan janin internal Operasi yang lama Anestesi umum Postpartum anemia Faktor-faktor berikut meningkatkan risiko endometritis pada umumnya: alat kontrasepsi dalam rahim: bagian vagina perangkat dapat berfungsi sebagai jalur untuk organisme untuk naik ke dalam rahim

Adanya cairan menstruasi dalam rahim Associated sekunder untuk cervicitis gonore atau infeksi Chlamydia Associated bakteri vaginosis [4, 5] Sering douching Unprotected aktivitas seksual Beberapa mitra seksual Serviks ektopi

Gambaran Klinik a. Riwayat Diagnosis biasanya didasarkan pada temuan klinis, sebagai berikut: - Demam - Sakit perut bagian bawah - Lochia berbau busuk - Pendarahan abnormal vagina - Dyspareunia (mungkin ada pada pasien dengan penyakit inflammatory panggul [PID]) - Dysuria (mungkin ada pada pasien dengan PID) - Malaise b. Dalam kasus setelah bersalin, pasien merasa demam, menggigil, sakit perut bagian bawah, dan lochia berbau busuk. Pasien dengan PID hadir dengan Sakit perut bagian bawah, dyspareunia, dysuria, demam, dan tanda-tanda sistemik lain. Namun, PID disebabkan oleh Chlamydia cenderung menjadi lamban, dengan gejala konstitusional tidak signifikan. c. Temuan-temuan pemeriksaan fisik meliputi: - Demam, biasanya terjadi dalam waktu 36 jam, - Sakit perut bagian bawah - Uterine tenderness - Adnexal tenderness jika terkait salpingitis - Lochia berbau busuk - Takikardi d. Uterine tenderness adalah ciri khas dari penyakit. e. Suhu oral 38 c atau lebih tinggi dalam 10 hari pertama setelah bersalin atau 38,7 C dalam 24 jam pertama setelah bersalin diperlukan untuk memastikan diagnosis endometritis setelah bersalin. Untuk PID, kriteria diagnostik minimum tenderness

bagian bawah perut, tenderness leher rahim, atau tenderness adnexal. Dalam kasuskasus yang parah, pasien mungkin muncul septik.

Klasifikasi Endometritis dapat dibagi menjadi: 1. Endometritis terkait kehamilan 2. Endometritis yang tidak terkait dengan kehamilan Kondisi endometritis yang tidak terkait dengan kehamilan disebut sebagai pelvic inflammatory disease (PID). Endometritis ini sering dikaitkan dengan peradangan saluran indung telur (salpingitis), indung telur (oophoritis) dan peritonitis pelvis. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) 2010 pedoman pengobatan penyakit menular seksual mendefinisikan PID sebagai kombinasi dari endometritis, salpingitis, abses tuba ovarium, dan karena peritonitis pelvis (panggul). Jenis-jenis Endometritis 1. Endometritis Akut Terutama terjadi pada postpartum atau postabortum. Pada endometritis postpartum, regenerasi endometrium selesai pada hari ke-9, sehingga endometritis postpartum pada umumnya terjadi sebelum hari ke-9. Endometritis postabortum terutama terjadi pada abortus provocatus. Pada endometritis akut endometrium mengalami edema dan hiperemi, dan pada pemeriksaan mikroskopik terdapat hiperemi, edema, dan infiltrasi leukosit berinti polimoni yang banyak (PMN), serta perdarahan-perdarahan interstisial. Sebab yang paling penting ialah infeksi gonorrhea dan infeksi pada abortus dan partus. Infeksi gonorrhea mulai sebagai servisitis akuta, dan radang menjalar ke atas dan menyebabkan endometritis akuta. Infeksi post abortum dan post partum sering terdapat oleh karena luka-luka pada serviks uteri, luka pada dinding uterus bekas tempat plasenta, yang merupakan porte dentree bagi kuman-kuman patogen. Selain itu mikroorganisme dapat masuk ke uterus melalui alat-alat pada saat persalinan yang tidak suci hama. Pada abortus septic dan sepsis puerperalis infeksi lebih cepat meluas ke miometrium dan melalui pembuluh-pembuluh darah serta limfe, infeksi dapat menjalar ke parametrium, tuba, ovarium serta ke peritoneum di sekitarnya. Gejala-gejala

endometritis akuta umumnya penderita panas tinggi, kelihatan sakit keras, keluar leukorea yang bernanah, dan uterus serta daerah di sekitarnya nyeri pada perabaan. Sebab lain endometritis akuta ialah tindakan yang dilakukan dalam uterus di luar partus atau abortus, seperti kerokan, memasukkan radium ke dalam uterus, memasukkan IUD (intra-uterine device) ke dalam uterus, dan sebagainya. Endometritis akuta yang disebabkan oleh kuman-kuman yang tidak terlalu pathogen umumnya dapat diatasi atas kekuatan jaringan sendiri, dibantu dengan pelepasan lapisan fungsional dari endometrium pada waktu haid. Dalam pengobatan endometritis akuta yang paling penting ialah berusaha mencegah agar infeksi tidak menjalar. Gejala-gejala: a. Demam purulent. c. e. 2. Lochia lama berdarah, malahan terjadi metrorrhagi. Nyeri pada palpasi abdomen (uterus) dan sekitarnya. d. Jika radang tidak menjalar ke parametrium atau perimetrium tidak ada nyeri. b. Lochia berbau, pada endometritis postabortum kadang-kadang keluar fluor yang

Endometritis Kronik Pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan banyak sel-sel plasma dan limfosit. Penemuan limfosit saja tidak besar artinya karena sel itu juga ditemukan dalam keadaan normal dalam endometrium. Gejala klinis pada endometritis kronis adalah leukorea dan menoragia. Pengobatannya tergantung dari penyebabnya. ditemukan pada: a. c. e. f. Tuberkulosis; Jika terdapat korpus alienum di kavum uteri; Pada tumor ganas uterus; Pada salpingo-ooforitis dan sellulitis pelvik. b. Jika tertinggal sisa-sisa abortus atau partus; d. Pada polip uterus dengan infeksi; Endometritis knonik biasanya

g. Fluor albus yang keluar dari ostium h. Kelainan haid seperti metrorrhagi dan menorrhagi

Endometritis

tuberkulosa

terdapat

pada

hampir

setengah

kasus-kasus

tuberkulosis genital. Pada pemeriksaan mikrskopik ditemukan tuberkel di tengahtengah endometrium yang beradang menahun. Endometritis tuberkulosa umumnya timbul sekunder pada penderita dengan salpingitis tuberkulosa. Pada penderita dengan tuberculosis pelvic yang asimptomatik, endometritis tuberkulosa ditemukan bila pada seorang wanita datang dengan keluhan infertilitasdan pada saat dilakukan biopsy endometrial kemudian ditemukan tuberkel dalam sediaan. Terapi yang kausal terhadap tuberculosis biasanya dapat menyebabkan timbulnya haid lagi. Pada abortus inkompletus dengan sisa-sisa tertinggal dalam uterus terdapat desidua dan villi korialis di tengah-tengah radang menahun endometrium. Pada partus dengan sisa plasenta masih tertinggal dalam uterus, terdapat peradangan dan organisasi dari jaringan plasenta tersebut disertai gumpalan darah, dan terbentuklah apa yang dinamakan polip plasenta. PATOFISIOLOGI GEJALA KLINIS Gejala klinik yang ditunjukkan apabila seorang wanita menderita infeksi ini adalah: Demam dan Gejala seperti Flu Demam merupakan keadaan dimana suhu tubuh pasien lebih tinggi dari suhu tubuh normal. Suhu tubuh normal pada umumnya adalah 36,70C, (http://www.health.harvard.edu/press_releases/normal_body_temperature) sehingga, seseorang dianggap demam apabila suhu tubuhnya mencapai 37,2 0C atau lebih. Demam merupakan suatu respon tubuh terhadap adanya faktor pirogen dan eksogen yang dapat memicu terjadinya proses inflamasi. Demam yang terjadi pada penderita endometritis merupakan demam yang biasa terjadi akibat adanya proses inflamasi. Masuknya bakteri tertentu pada dinding endometrium uterus merupakan salah satu faktor pirogen eksogen sehingga dapat menstimulus makrofag untuk mengeluarkan pyrogen cytokine (IL-1, IL-6, TNF, IFN), yang kemudian akan merangsang hipotalamus untuk menghasilkan prostalglandin (PGE2) yang akan merangsang sel glia untuk menghasilkan siklik AMP. Siklik AMP ini akan meningkatkan termoregulator set poin sehingga akan meningkatkan suhu tubuh. (Harrison edisi 17)

Pada endometritis, suhu tubuh ditemukan demam sampai sekitar 38-390C.

Nyeri Perut Bawah Nyeri pada perut bawah disebabkan karena adanya faktor inflamasi pada dinding uterus. Secara anatomis, posisi uterus terletak pada daerah pelvis dan hipogastrium, sehingga, apabila terjadi proses inflamasi yang menyebabkan nyeri pada dinding uterus, maka, nyeri yang dirasakan oleh pasien adalah pada bagian perut bawah. Rasa nyeri yang dirasakan dihasilkan dari adanya stimulus pada saraf nosiseptor aferen primer. saraf ini akan bekerja apabila terjadi trauma atau inflamasi, iritasi kimiawi dengan melepas zat peptida bradikinin dan eikosanoid sebagai prostaglandin. Apabila terdapat infalamasi pada suatu jaringan tertentu, dalam hal ini, pada dinding endometrium, maka akan menyebabkan dikeluarkannya mediator inflamasi yang menyebabkan ambang aktivasi nyeri pada saraf nosiseptor aferen primer menurun, hal ini disebut dengan sensitisasi. Sensitisasi ini penting untuk merasakan adanya nyeri pada jaringan yang dalam. Adanya sensitisasi ini menyebabkan terbawanya axon nyeri dari saraf nosiseptor aferen primer menuju ke spinal cord melalui serabut dorsalis dan berakhir pada substansia grisea di spinal cord. Perjalanan axon ini melalui traktus spinotalamikus yang berjalan secara kontralateral menuju talamus. Traktus spinotalamikus ini terdapat pada anterolateral substansia alba spinal cord, ujung lateral medulla, bagian lateral pons dan otak tengah. Dari talamus, axon akan

bergerak menuju korteks somatosensoris dan akan mengekspresikan rasa nyeri. Talamus juga menyalurkan axon menuju regio kortikal sehingga dapat memunculkan nyeri yang berhubungan dengan emosi seseorang.

Perdarahan pada Vagina Pada umumnya, perdarahan pada vagina terjadi pada endometritis kronik. Pada saat itu, eritrosit dari dinding uterus dapat memasuki sekresi normal pada vagina wanita. Hal ini akhirnya menyebabkan terjadi perdarahan pada vagina sekalipun pasien tidak sedang dalam siklus mestruasi.

Pergerakan Usus yang tidak Nyaman Lokia yang berbau tidak enak Lokia merupakan suatu pelepasan yang dilakukan vagina pasca wanita melahirkan. Pelepasan ini terdiri dari darah, peleasan jaringan dari dinding uterus, dan beberapa bakteri. Pada umumnya, timbulnya lokia merupakan hal yang normal bagi wanita dalam masa nifas, karena hal ini bertujuan untuk membersihkan diri dari sisa-sisa janin dan plasenta. Pada umumnya, lokia akan keluar dengan cara menyerupai proses menstruasi.

Apabila terjadi endometritis pasca melahirkan, maka akan ditemui lokia yang berbau tidak enak.

PEMERIKSAAN PENUNJANG Endometritis merupakan penyakit yang disebabkan oleh adanya infeksi bakteri pada dinding endometrium pada uterus, maka, pemeriksaan yang dilakukan pada umumnya merupakan pemeriksaan untuk menentukan bakteri yang menjadi penyebab infeksi pada pasien: Pemeriksaan Darah Lengkap

Pemeriksaan darah lengkap digunakan untuk memeriksa adanya faktor infeksi pada pasien. Pemeriksaan ini meliputi: Eritrosit normal : 3,8 5,1 juta Hemoglobin normal : 11,5-16,5 g/dl Leukosit normal : 5.000-10.000/mm3 Trombosit normal : 150.000-450.000/l LED normal : < 15 mm/jam Hitung jenis leukosit normal: basofil / eosinofil / batang / segmen/ limfosit / hamil: 11-15 g/dl

monosit = 0-1 / 1-3 / 1-6 / 40-60 / 20-40 / 1-8% g/dl Pada pemeriksaan darah biasanya ditemukan adanya peningkatan leukosit yang biasanya ditemukan 15.000 30.000 sel/l. Pada umumnya, pemeriksaan ini juga bukan merupakan pemeriksaan yang spesifik untuk infeksi endometritis. Kultur Karakter eritrosit : MCV = 82-92 fl MCH = 27-31 pg MCHC = 32-36

Pemeriksaan ini digunakan untuk memeriksa bakteri yang menginfeksi dinding endometrius. Pada umumnya, kultur yang diambil dari spesimen transvaginal uterin akan sulit untuk diinterpretasi karena sudah terdapat kontaminan pada bahan pemeriksaan. Pemeriksaan kultur pada umumnya diambil dari kultur darah, namun hanya sekitar 10-20% yang dapat diinterpretasi. Pewarnaan Gram

Pemeriksaan ini digunakan untuk memeriksa spesies bakteri yang ada, sehingga pemeriksa dapat memberikan antibiotik yang cocok bagi pasien. Pemeriksaan Imaging

Pemeriksaan ini hanya dilakukan apabila pada pemberian antibiotik, tidak ada perbaikan setelah 48-72 jam. Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan USG untuk melihat adanya kelainan abdominal lain, atau adanya intrauterin hematoma. Penggunaan CT-scan dapat dipikirkan untuk memikirkan adanya massa pada ligamen, trombosis vena ovarika, phelgmon. Pemeriksaan Histologi

Pemeriksaan ini dilakukan untuk memeriksa berbagai sel-sel infeksi yang muncul pada dinding endometrium akibat adanya suatu proses inflamasi.

DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan dengan melihat dari berbagai aspek dari pasien, seperti: Anamnesis

Pada umumnya pasien merupakan seorang wanita yang memiliki keluhan nyeri perut bagian bawah, disertai demam. Gejala ini memiliki banyak kemungkinan diagnosis penyakit, namun, apabila setelah dilakukan anamnesis lebih lanjut bahwa pasien memiliki riwayat penyakit dahulu pernah menjalani operasi caesar yang prosesnya memakan waktu lama, partus pervaginam dengan komplikasi, atau setelah pemasangan alat kontrasepsei invasif, maka kemungkinan besar pasien tersebut sedang menderita infeksi pada bagian uterus.

Apabila demam yang terjadi datang setelah < 12 jam pasien mengalami partus, maka, kemungkinan besar pasien mengalami endometritis akut, pada umumnya, gejala klinis yang terjadi tampak jelas. Apabila pasien mengaku pernah melahirkan secara caesar atau dengan faktor resiko tersebut diatas, namun telah lewat beberapa hari, kemungkinan adanya endometritis masih harus dipikirkan, sebab, bisa saja, endometritis yang terjadi merupakan suatu endometritis kronis. Pasien juga akan mengeluh adanya perdarahan vagina yang dapat berupa suatu lokia atau perdarahan akibat gejala endometritis. Pemeriksaan fisik

Pada pemeriksaan fisik umumnya akan ditemukan tanda-tanda infeksi pada umumnya. Pada status generalis, akan ditemukan adanya peningkatan suhu tubuh 38-390C. Pada pemeriksaan lokalis, maka akan ditemukan nyeri tekan pada abdominal bagian bawah baik dengan pemeriksaan abdomen, maupun pemeriksaan bimanual akan dijumpai nyeri parametrium. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjuang pada umumnya tidak memberikan hasil yang berarti. Pada pemeriksaan darah lengkap akan didapatkan gejala-gejala infeksi bakteri pada umumnya. Pemeriksaan histologi mungkin dapat membantu penegakan diagnosis dengan ditemukannya neutrodil pada kelenjar endometrial pada endometritis akut, atau ditemukan sel plasma dan limfosit pada stroma endometrial pada endometritis kronik. Pemerikasaan kultur bakteri dan pewarnaan gram hanya sedikit membantu untuk memastikan etiologi dari penyakit dan menentukan jenis antibiotik yang cocok untuk pasien.

DIAGNOSIS BANDING Diagnosis banding yang dapat dipikirkan pada pasien yang memiliki keluhan penyakit ini adalah: Apendisitis

Apendisitis merupakan suatu peradangan pada apendiks yang juga terjadi akibat invasi bakteri. Diagnosis apendisitis dipikirkan karena pada pasien memiliki gejala utama nyeri

perut bawah dan adanya demam febris. Apendiks yang secara anatomis terletak pada regio iliaca dextra menyebabkan apabila terjadi infeksi akan didapatkan nyeri pada perut bawah juga, dan pada appendisitis juga terdapat demam febris apabila belum terjadi perforasi. Diagnosis ini dapat disingkirkan apabila pasien tersebut memiliki riwayat postpartum barubaru ini secara caesar atau pervaginam dengan komplikasi dan dengan pemeriksaan fisik apnedisitis. Pelvic Inflammatory Disease (PID)

PID merupakan infeksi yang menyerang organ genitalia dalam wanita bagian atas termasuk uterus, tuba falopii, dan struktur pelvis. Diagnosis ini diambil juga karena pada umumnya gejala yang ditampilkan hampir sama, yaitu adanya nyeri pada perut bawah dan demam. Diagnosis ini dapat disingkirkan dengan melihat pada pemeriksaan imaging bahwa kondisi
Dalam keadaan Factor resiko: manipulasi struktur pelvis yang lain baik dan hanya endometrium pasien saja yang mengalami infeksi. normal:Vagina & uterus (SC, pem.dalam serviks: berulang yang tidak steril, (+) Infeksi Saluran Kencing flora;uterus (steril) pengangkatan plasenta secara manual, luka Infeksi ini merupakan suatu infeksi yang menyerang sistem saluran kencing seseorang. Factor resiko: persalinan riwayat ketuban Cairan ketuban Semua bagian pada saluran kencing dapat terkena infeksi ini, namun, yang paling banyak pecah yang lama mengalir ke terjadi adalah pada vesika urinaria dan uretra.Diagnosis ini perlu dipikirkan karena penyakit vagina

ini lebih sering terjadi pada wanita. Hal ini karena wanita memiliki uretra yang pendek, Bakteri Jembatan flora di vagina masuk sehingga dapat memudahkan masuknya bakteri dalam saluran kencing wanita. Penyakit ini masuk ke uterus pada wanita juga ditandai adanya nyeri perut bawah terutama pada pelvis.
Kolonisasi bakteri di apabila pasien tidak makrofa Diagnosis ini dapat disingkirkan mengeluhkanPenjelasan gejala kencing yang lain, endometrium g dibawah!!

seperti keinginan kencing yang berlebih, terdapat burning sensation saat berkemih, volume air seni sedikit, dll.
Luka persalinan toksin Kerusakan jaringan

PATOFISIOLOGI

Reaksi tubuh

Perdarahan >> anemia

Jaringan desidua dan bekuan darah nekrosis Jaringan nekrotik Lochia berbau

Jika diberi tekanan, terjadi trauma Nyeri tekan

Merusak kapiler Endotel rusak Permeabilitas edema

Distensi abdomen

Uterus teraba kasar Tekan vesica urinaria &

uj makrofa g

Phagocyte oxidase dan nitric oxidase Bunu h bakte ri Kerusaka n jaringan Rangsang ujung saraf bebas (nosiseptor) Ditransmisik an sepanjang saraf nosiseptor di medulla spinalis dorsal Impuls dihantar NT (glutamate, bradikinin)

PG,bradikinin,hista min Rangsan g nosisept or mera h Vasodilatasi local&pembul uh darah permeabilitas nya Pelepasan panas

Sitokin (IL,TNF) Pirogen endogen ke sirkulasi Ke pusat termoregulasi di hipotalamus anterior

Sitokin (6CSF,IL,TNF Sebagai kemoatraktan Daerah inflamasi penuh neutrofil

Perpindah an protein ke interstitial Cairan vaskuler ke interstitial ede ma

Sintesis PGE2 Ke perifer (efek mialgia Rangsang NT (AMP siklik) malais e

Kontraksi

Ambang temperature

Batang otak talamus Korteks serebri System limbik Reaksi emosional thd nyeri System somatosensorik Persepsi&inter pretasi nyeri Metabolisme Produksi panas dema m

Konservasi panas dgn vasokonstriksi perifer Pucat, akral dingin Kompensasi tubuh menggi gil

(PA pada endometritis kronis: terdapat infiltrat neutrofil, eosinofil, dan gambaran mikroabses)

Bakteri masuk ke dinding endometrium saat proses persalinan pervaginam yang memiliki komplikasi atau pada persalinan caesaria. Sewaktu persalinan bakteri yang mengkolonisasi serviks dan vagina memperoleh akses ke cairan amnion dan postpartum bakteri-bakteri ini akan menginvasi di tempat histerektomi (daerah di sekitar rahim). Invasi bakteri tersebut menyebabkan selulitis (infeksi (akut) bakteri pada kulit dan jaringan subkutan) dengan infeksi jaringan ikat fibroalveolar retroperitoneum panggul. Hal ini dapat juga disebabkan

oleh penyebaran limfogen organisme dari tempat laserasi serviks atau insisi/laserasi uterus yang terinfeksi.

Penatalaksanaan Rawat inap disarankan untuk hampir semua penderita, termasuk yang sehabis menjalani SC, karena risiko bakteriemia. Jika kasus ringan, bisa rawat jalan. stabilkan dulu kondisi ibu dengan pemberian cairan jika kondisi tidak terlalu parah beri minum lewat mulut, kemudian lakukan pemasangan infus sebelum di rujuk ke rumah sakit. - Cairan melalui vena (dengan IV) / infuse RL - istirahat - berikan antibiotika kombinasi sampai ibu bebas demam selama 48 jam Setelah menentukan diagnosis endometritis, ]dapat diberikan antibiotik spektrum luas dalam 48-72 jam. Pada endometritis kronis, dapat diberikan doksisiklin 100 mg per oral 2x sehari selama 10 hari. Pada umumnya, 80-90% pasien sembuh dengan penatalaksanaan ini. Pemberian spektrum luas karena endometritis merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri polimikrobial. Penggunaan klindamisin dengan gentamisin merupakan terapi standard pada umumnya. Dengan Klindamisin 900 mg + gentamisin 1,5 mg/kg setiap 8 jam secara intravena. ATAU :: ampisilin 2g IV setiap 6 jam kerja di dinding sel bakteri, cara kerja bakterisida Ditambah gentamisin 5mg/kgBB IV tiap 24 jam efektif utk gram - aerob, aminoglikosid, dosis tergantung creatinin clearance. Ditambah metronidazol 500mg IV tiap 8 jam anaerob dan protozoa, meng-inhibit protein sintesis.

Jika demam masih ada 72 jam setelah terapi, cek ulang diagnosa. Kalo udah dikasih IV ga usah dikasih oral.

Komplikasi Komplikasi pada kasus ini adalah adanya pelvic Inflammation Disease (PID). PID merupakan infeksi yang menyerang beberapa bagian dari genitalia interna wanita. Infeksi pada dinding endometrium dapat dengan mudah menyerang bagian-bagian yang dekat dengan uterus, seperti tuba falopii, dll, lewat aliran darah atau limfe, maka penyebaran infeksi bakterial dapat dengan mudah terjadi. Infeksi pada luka operasi Infeksi pada adneksa Sepsis tromboflebitis pelvis Infertility Pelvic peritonitis (generalized pelvic infection) pelvic or uterine abses formation pelvic hematoma parametrial phlegmon PID Septicemia Septic shock

Prognosis Ad vitam : (tergantung soal) rata-rata ad bonam, soalnya, 80-90% dikasih antibiotik sembuh. Ad functionam: (tergantung soal) rata-rata ad bonam, soalnya infeksi ini tidak merusak

Selama tidak ada komplikasi ke organ lain, prognosis dengan pengobatan antibiotic bonam. Sebagian besar kasus endometritis hilang dengan antibiotik. Endometritis tidak diobati dapat menyebabkan infeksi yang lebih serius dan komplikasi dengan organ panggul, reproduksi, dan kesehatan umum. Hampir 90% wanita diobati dengan perbaikan catatan rejimen disetujui dalam 48-72 jam. Keterlambatan memulai terapi antibiotik dapat mengakibatkan toksisitas sistemik. Endometritis berhubungan dengan kematian ibu meningkat karena syok septik.
GIZI IBU HAMIL

Bersama dengan usia kehamilan yang terus bertambah, makan bertambah pula kebutuhan gizi dan nutrisi ibu hamil, khususnya ketika usia kehamilan memasuki trimester kedua. Pada saat trimester kedua, janin tumbuh dengan sangat pesat, khususnya mengenai pertumbuhan otak berikut susunan syarafnya. Kenaikan berat badan yang ideal berkisar antar 12-15 kilogram. Memasuki trimester 2 janin tumbuh pesat dengan pertumbuhan kurang lebih 10 gr per hari ( minggu ke 16 sekitar 90 gr, minggu ke 20 sekitar 256 gr, minggu ke 24 sekitar 680 gr, minggu ke 27 sekitar 900 gr). Pada umunya, seorang wanita yang hamil, membutuhkan kalori tambahan sekitar 100-300 Kalori. Secara normal, peningkatan berat badan pada wanita hamil adalah: BMI 18,5-24,9 peningkatan sekitar 12,5 17,5 kg BMI < 18,5 peningkatan sekitar 14-20 kg BMI > 24,9 peningkatan sekitar 7,5-12,5 kg Hamil kembar peningkatan sekitar 17,5-22,5 kg Peningkatan ini terjadi pada trimester I = 0,5-2,25 kg Trimester II = 0,5-1 kg Trimester III = 0,5-1 kg Kalori Selama kehamilan konsumsi kalori haruslah bertambah dikisaran 300-400 kkal perharinya. Baiknya, 55% kalori di peroleh dari umbi-umbian serta nasi sebagi sumber karbohidrat, lemak baik nabati maupun hewani sebanyak 35%, 10% dari protein dan sayuran serta buahan bisa melengkapi. Asam Folat

Janin sangat membutuhkan asam folat dalam jumlah banyak guna pembentukan sel dan sistem syaraf. Selama trimester pertama janin akan membutuhkan tambahan asam folat sebanyak 400 mikrogram per harinya. Jika janin mengalami kekurangan akan asam folat, maka hal ini akan membuat perkembangan janin menjadi tidak sempurna dan dapat membuat janin terlahir dengan kelainan seperti mengalami anenchephaly (tanpa batok kepala), mengalami bibir sumbing dan menderita spina bifda (kondisi dimana tulang belakang tidak tersambung). Asam folat yang bisa di dapat pada buah-buahan, beras merah dan sayuran hijau. Protein Selain menjadi sumber bagi kalori dan zat pembangun, pembentukan darah dan sel merupakan salah satu fungsi protein. Protein dibutuhkan oleh ibu hamil dengan jumlah sekitar 60 gram setiap harinya atau 10 gram lebih banyak dari biasanya. Protein bisa didapatkan dari kacang-kacangan, tempe, putih telur, daging dan tahu. Kalsium Berfungsi dalam pertumbuhan dan pembentukan gigi dan tulang janin. Dengan ada kalsium yang cukup selama kehamilan, ibu hamil dapat terhindar dari penyakit osteoporosis. Kenapa hal ini bisa terjadi? karena jika ibu hamil tidak memiliki kalsium yang cukup, maka kebutuhan janin akan kalsium akan diambil dari tulang ibunya. Susu dan produk olahan lainnya merupakan sumber kalsium yang baik, selain kalsium, susu memiliki kandungan vitamin lain yang dibutuhkan ibu hamil, seerti vitamin A, Vitamin D, Vitamin B2 vitamin B3 dan vitamin C. Selain dari susu, kacang-kacangan dan sayuran hijau merupakan sumber kalsium yang baik juga. Vitamin A Sangat bermanfaat bagi pemeliharaan fungsi mata, pertumbuhan tulang dan kulit. Selain itu vitamin A juga berfungsi sebagai imunitas dan pertumbuhan janin. Namun meskiun vitamin A sangat dibutuhkan oleh ibu hamil, namun jangan sampai berlebih dalam mengkonsumsinya, karena jika ibu hamil mengalami kelebihan vitamin A hal ini dapat membuat janin terganggu pertumbuhannya Zat Besi Berfungsi di dalam pembentukan darah terutama membentuk sel darah merah hemoglobin dan mengurangi resiko ibu hamil terkena anemia. Zat besi akan diperlukan pada saat kehamilan memasuki usia 20 minggu. Kebutuhan akan zat besi sebanyak 30 mg per harinya. Zat besi dapat diperoleh pada hati, daging atau ikan. Vitamin C Tubuh ibu hamil memerlukan vitamin C guna menyerap zat besi. Selain itu vitamin C sangat baik guna kesehatan gusi dan gigi. Fungsi lain dari vitamin C adalah melindungi jaringan dari organ tubuh dari bberbagai macam kerusakan serta memberikan otak berupa sinyal kimia, hal terjadi karena vitamin C banyak mengandung antioksidan. Vitamin D

Dapat meneyerap kalsium sehingga sangat bermanfaat dalam pembentukan dan pertumbuhan tulang bayi. Vitamin D dapat di dapat dari sumber makanan, susu, kuning telur atau hati ikan. Jika ibu hamil tidak mengalami berbagai macam gejala seperti anemia, gusi berdarah dan gejala lainnya, maka ibu hamil tersebut dapat dikatakan telah mencukupi kebutuhan akan gizi dan nutrisinya. Hal yang lebih penting untuk mengecek kecukupan nutrisi selama kehamilan adalah tentunya melalui perkembangan berat badan selama kehamilan. Tentunya kenaikan berat badan berbeda-beda tiap bulannya. Seusai persalinan, ragam komplikasi masih menanti. Infeksi seusai bersalin akibat banyaknya pembuluh darah si ibu hamil yang tersumbat seringkali terjadi. Selain itu, lemak yang berlipat-lipat pada lapisan kulit merupakan media yang kondusif untuk tumbuhnya kuman sehingga infeksi pun sangat mungkin terjadi. Masalah gizi Anemi gizi menyebabkan ibu hamil menjadi lemah, sehingga : kekebalan tubuh menurun, sehingga kemungkinan terkena infeksi tinggi pendarahan post partum sehingga meningkatkan kematian ibu kesulitan persalinan.
LAMPIRAN ANTIBIOTIK Antibiotik Terapi kombinasi dengan klindamisin dan aminoglikosida dianggap standar kriteria yang uji klinis yang paling antibiotik dihakimi. Sebuah rejimen kombinasi ampisilin, gentamisin, metronidazol dan menyediakan cakupan terhadap sebagian besar organisme yang ditemui pada infeksi panggul berat. Doksisiklin harus digunakan jika Chlamydia adalah penyebab endometritis itu. Ampisilin sulbaktam dapat digunakan sebagai monoterapi. Single-agen terapi telah ditemukan efektif dalam 80-90% pasien. Lihat informasi obat penuh Klindamisin (Cleocin)

Klindamisin, yang digunakan dalam kombinasi dengan gentamisin, adalah lincosamide yang berguna sebagai pengobatan terhadap kulit yang serius dan infeksi jaringan lunak yang disebabkan oleh strain stafilokokus yang paling. Hal ini juga efektif terhadap streptokokus aerobik dan anaerobik, kecuali enterococci. Clindamycin menghambat sintesis protein bakteri dengan rantai peptida menghambat inisiasi pada ribosom bakteri. Hal istimewa mengikat subunit ribosom 50S, menyebabkan penghambatan pertumbuhan bakteri. Lihat informasi obat penuh

Gentamisin (Gentacidin, Garamycin)

Antibiotik aminoglikosida digunakan untuk gram negatif cakupan bakteri, gentamisin digunakan dalam kombinasi dengan klindamisin salah satu atau dalam kombinasi dengan metronidazole dan ampisilin. Rejimen dosis banyak dan disesuaikan berdasarkan bersihan kreatinin dan perubahan volume distribusi. Dosis dapat diberikan IV atau IM. Lihat informasi obat penuh Ampisilin (Omnipen, Marcillin)

Ampisilin digunakan dalam kombinasi dengan gentamisin dan metronidazole. Mengganggu bakteri sel-dinding sintesis selama multiplikasi aktif, menyebabkan aktivitas bakterisidal terhadap organisme rentan. Lihat informasi obat penuh Metronidazol (Flagyl ER)

Digunakan dalam kombinasi dengan gentamisin dan ampisilin, metronidazol adalah imidazol cincin berbasis antibiotik yang aktif melawan bakteri anaerob berbagai dan protozoa. Metronidazol tampaknya diserap ke dalam sel dan senyawa antara-dimetabolisme yang terbentuk DNA mengikat dan menghambat sintesis protein, menyebabkan kematian sel. Lihat informasi obat penuh Ampisilin dan sulbaktam (Unasyn)

Kombinasi ampisilin dengan natrium sulbaktam beta-laktamase inhibitor telah ditemukan efektif sebagai monoterapi pada 80-90% pasien. Agen ini mencakup kulit, flora usus, dan anaerob. Hal ini tidak ideal untuk patogen nosokomial. Lihat informasi obat penuh Doksisiklin (Bio-Tab, Doryx, Vibramycin)

Doxycycline digunakan jika Chlamydia adalah penyebab endometritis itu. Hal ini menghambat sintesis protein dan pertumbuhan sehingga bakteri dengan mengikat dengan 30S dan kemungkinan 50S subunit ribosom bakteri yang rentan. Lihat informasi obat penuh Ertapenem (Invanz)

Aktivitas bakterisidal hasil ertapenem dari penghambatan sintesis dinding sel dan dimediasi melalui ertapenem mengikat protein penisilin mengikat. Agen ini adalah stabil terhadap hidrolisis oleh berbagai beta-laktamase, termasuk penicillinases, cephalosporinases, dan diperpanjang-spektrum beta-laktamase. Hal ini dihidrolisis oleh Metallo-beta-laktamase. Lihat informasi obat penuh Cefoxitin (Mefoxin)

Cefoxitin adalah generasi kedua cephalosporin diindikasikan untuk coccus gram positif dan gramnegatif infeksi batang. Infeksi yang disebabkan oleh sefalosporin atau penisilin resisten bakteri gram negatif dapat menanggapi Cefoxitin. Lihat informasi obat penuh Piperasilin dan sodium tazobactam (Zosyn)

Kombinasi ampisilin dengan natrium sulbaktam beta-laktamase inhibitor telah ditemukan efektif sebagai monoterapi pada 80-90% pasien. Agen ini mencakup kulit, flora usus, dan anaerob. Hal ini tidak ideal untuk patogen nosokomial. Lihat informasi obat penuh Cefotetan

Cefotetan adalah generasi kedua dan digunakan sebagai terapi tunggal obat untuk menyediakan luas gram negatif cakupan, jangkauan luas anaerobik, dan beberapa perlindungan terhadap bakteri gram positif. Menghambat sintesis dinding sel bakteri dengan mengikat satu atau lebih dari penisilinmengikat protein, dan menghambat langkah transpeptidation akhir sintesis peptidoglikan, mengakibatkan kematian sel dinding. Lihat informasi obat penuh Sefotaksim (Claforan)

Sefotaksim adalah sefalosporin generasi ketiga dengan spektrum gram negatif yang luas, efektivitas rendah terhadap organisme gram positif, dan efikasi lebih tinggi terhadap organisme resisten. Ini penangkapan sintesis dinding sel bakteri dengan mengikat satu atau lebih dari penisilin-mengikat protein, yang, pada gilirannya, menghambat pertumbuhan bakteri. Hal ini digunakan untuk septicemia dan pengobatan infeksi ginekologi disebabkan oleh organisme yang rentan. Lihat informasi obat penuh Ceftazidime (Fortaz, Tazicef) Ceftazidime adalah sefalosporin generasi ketiga dengan spektrum luas, gram negatif aktivitas, termasuk organisme pseudomonas. Ini memiliki khasiat lebih rendah terhadap organisme gram positif

dan kemanjuran lebih tinggi terhadap organisme resisten. Ini penangkapan pertumbuhan bakteri dengan mengikat satu atau lebih penisilin-mengikat protein, yang, pada gilirannya, menghambat langkah transpeptidation akhir sintesis peptidoglikan dalam sintesis dinding sel bakteri, sehingga menghambat biosintesis dinding sel. Lihat informasi obat penuh Cefazolin Cefazolin adalah generasi pertama cephalosporin, yang dengan mengikat 1 atau lebih penisilinmengikat protein, penangkapan sintesa dinding sel bakteri dan menghambat replikasi bakteri. Antibiotik profilaksis mengurangi insiden morbiditas demam postpartum pada pasien yang menjalani persalinan sesar. Penelitian saat ini mendukung penggunaan administrasi pra operasi antibiotik profilaksis. Single-agen terapi dengan pilihan generasi pertama seperti Cefazolin atau sefalosporin generasi kedua telah dianggap yang terbaik. Lihat informasi obat penuh Levofloksasin (Levaquin) Levofloxacin adalah antibiotik fluorokuinolon. Hal ini digunakan untuk infeksi pseudomonas dan infeksi karena multidrug resisten gram negatif organisme. Tren terhadap penggunaan spektrum luas monoterapi telah muncul, dan agen ini umumnya efektif dalam 80-90% pasien. Cephalosporin, diperpanjang-spektrum penisilin, dan fluoroquinolones digunakan sebagai monoterapi. Jika infeksi gonokokal dicurigai, Levaquin merupakan kontraindikasi karena banyak strain organisme sekarang resisten terhadap kuinolon.