Anda di halaman 1dari 46

REFERAT GANGGUAN KEPRIBADIAN

Disusun oleh: Dian Yosie Monica (07120070046)

Pembimbing: dr. Soehendro, Sp.KJ

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan Rumah Sakit Bhayangkara Tk. I R.S. Sukanto Periode 11 Juli 12 Agustus 2011

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.......................................................................................................................................... ii 1. 2. 3. PENDAHULUAN ......................................................................................................................... 1 ETIOLOGI .................................................................................................................................... 3 JENIS-JENIS GANGGUAN KEPRIBADIAN........................................................................... 7 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 3.6 3.7 3.8 3.9 3.10 3.11 GANGGUAN KEPRIBADIAN PARANOID ........................................................................ 7 GANGGUAN KEPRIBADIAN SKIZOID .......................................................................... 10 GANGGUAN KEPRIBADIAN SKIZOTIPAL ................................................................... 14 GANGGUAN KEPRIBADIAN ANTISOSIAL ................................................................... 17 GANGGUAN KEPRIBADIAN EMOSIONAL TIDAK STABIL ....................................... 21 GANGGUAN KEPRIBADIAN HISTRIONIK .................................................................... 26 GANGGUAN KEPRIBADIAN NARSISTIK ...................................................................... 28 GANGGUAN KEPRIBADIAN MENGHINDAR ............................................................... 31 GANGGUAN KEPRIBADIAN DEPENDEN ..................................................................... 34 GANGGUAN KEPRIBADIAN OBSESIF-KOMPULSIF................................................... 37 GANGGUAN KEPRIBADIAN YANG TIDAK DITENTUKAN ....................................... 40 GANGGUAN KEPRIBADIAN PASIF-AGRESIF ...................................................... 41 GANGGUAN KEPRIBADIAN DEPRESIF ................................................................ 41 GANGGUAN KEPRIBADIAN SADOMASOKIS ...................................................... 42 GANGGUAN KEPRIBADIAN SADISTIK ................................................................ 42

3.11.1 3.11.2 3.11.3 3.11.4 4. 5.

KESIMPULAN ........................................................................................................................... 43 KEPUSTAKAAN ........................................................................................................................ 44

ii

GANGGUAN KEPRIBADIAN
1. PENDAHULUAN
Seorang manusia dalam menjalani kehidupannya sejak kecil, remaja, dewasa hingga lanjut usia memiliki kecenderungan yang relatif serupa dalam menghadapi suatu masalah. Apabila diperhatikan, cara atau metode penyelesaian yang dilakukan seseorang memiliki pola tertentu dan dapat digunakan sebagai ciri atau tanda untuk mengenal orang tersebut. Hal ini dikenal sebagai karakter atau kepribadian. Kepribadian adalah totalitas dari ciri perilaku dan emosi yang merupakan karakter atau ciri seseorang dalam kehidupan sehari-hari, dalam kondisi yang biasa. Sifatnya stabil dan dapat diramalkan[1]. Karakter adalah ciri kepribadian yang dibentuk oleh proses perkembangan dan pengalaman hidup. Temperamen dipengaruhi oleh faktor genetik atau konstitusional yang terbawa sejak lahir, bersifat sederhana, tanpa motivasi, baru stabil sesudah anak berusia beberapa tahun. Perkembangan kepribadian merupakan hasil interaksi dari faktor-faktor: konstitusi (genetik, temperamen), perkembangan, dan pengalaman hidup (lingkungan keluarga, budaya). Gangguan kepribadian adalah kelainan yang umum dan kronis. Prevalensinya diperkirakan antara 10 sampai 20% dari seluruh populasi, dan durasinya dapat berlangsung selama beberapa dekade. Orang dengan gangguan kepribadian umumnya dicap menjengkelkan, menganggu, dan bersifat parasit dan secara umum dianggap memiliki prognosis yang buruk. Diperkirakan setengah dari seluruh pasien psikiatrik memiliki gangguan kepribadian, yang seringkali komorbid dengan kondisi Aksis I. Gangguan kepribadian merupakan faktor predisposisi untuk gangguan psikiatrik lain ( contoh penyalahgunaan zat, bunuh diri, gangguan afektif, dan gangguan cemas) di mana hal ini mengganggu hasil pengobatan sindrom Axis I dan meningkatkan menderita ketidakmampuan (cacat) personal, morbiditas, dan mortalitas pasien.
1

Lukas Mangindaan.. (2010). Buku Ajar Psikiatri: Gangguan Kepribadian. Jakarta: Badan Penerbit FKUI. Hal 329.

DEFINISI GANGGUAN KEPRIBADIAN Gangguan kepribadian adalah ciri kepribadian yang bersifat tidak fleksibel dan maladaptif yang menyebabkan disfungsi yang bermakna dan penderitaan subjektif[1]. Orang dengan gangguan kepribadian memiliki respons yang benar-benar kaku terhadap situasi pribadi, hubungan dengan orang lain ataupun lingkungan sekitarnya. Kekakuan tersebut menghalangi mereka untuk menyesuaikan diri terhadap tuntutan eksternal, sehingga akhirnya pola tersebut bersifat self-defeating. Sikap kepribadian yang terganggu itu akan semakin nyata pada saat remaja awal masa dewasa dan terus berlanjut di sepanjang kehidupan dewasa, semakin lama semakin mendalam dan mengakar sehingga semakin sulit diubah. Dapat disimpulkan bahwa seseorang dengan gangguan kepribadian akan menunjukkan pola relasi dan persepsi terhadap lingkungan dan dirinya sendiri yang bersifat tidak fleksibel, maladaptif, serta berakar mendalam. Gangguan kepribadian berbeda dari perubahan kepribadian dalam waktu dan cara terjadinya: gangguan kepribadian adalah suatu proses perkembangan, yang muncul ketika masa kanak-kanak atau remaja dan berlanjut sampai dewasa. Gangguan kepribadian bukan keadaan sekunder dari gangguan jiwa lain atau penyakit otak, meskipun dapat didahului dan timbul bersamaan dengan gangguan lain. Sebaliknya, perubahan kepribadian adalah suatu proses yang didapat, biasanya pada usia dewasa, setelah stress berat atau berkepanjangan, deprivasi lingkungan yang ekstrem, gangguan jiwa yang parah atau penyakit/cedera otak.[2] Terlepas dari konsekuensi perilaku yang bersifat self-defeating, orang dengan gangguan kepribadian pada umumnya tidak merasa perlu untuk berubah. DSM IV menyebutkan bahwa orang dengan gangguan kepribadian cenderung menganggap traittrait tersebut sebagai ego-syntonic sebagai bagian alami dari diri mereka. Akibatnya, orang dengan gangguan kepribadian lebih cenderung dibawa ke dokter spesialis kejiwaan oleh orang lain daripada oleh diri mereka sendiri. Gangguan kepribadian dicantumkan pada Aksis II dalam sistem diagnostik multiaksial DSM-IV-TR.
2

Departemen Kesehatan R.I. (1993). Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III. Hal 260.

DSM-IV menetapkan kriteria umum diagnostik untuk gangguan kepribadian yang meliputi: a) Pola pengalaman batin dan perilaku yang menyimpang dari budaya yang diharapkan. Pola ini dapat bermanifestasi dalam dua atau lebih area berikut: kesadaran, afek, pengendalian impuls, dan hubungan dengan orang lain. b) Pola yang tidak fleksibel dan berakar mendalam (menyerap). c) Pola yang mengarah pada penderitaan yang signifikan.

d) Pola yang stabil dan dapat ditelusuri kembali ke masa remaja dan awal masa dewasa. e) f) Pola ini bukan merupakan manifestasi dari gangguan mental lain. Pola ini tidak memiliki efek fisiologis langsung dari penggunaan zat (contoh penyalahgunaan zat, medikasi) atau kondisi medis umum (contoh cidera kepala). DSM membagi gangguan kepribadian menjadi 3 kelompok: Kelompok A : orang yang dianggap aneh atau eksentrik. Kelompok ini mencakup gangguan kepribadian paranoid, skizoid, dan skizotipal. Kelompok B : orang dengan perilaku yang terlalu dramatis, emosional, dan eratik (tidak menentu). Kelompok ini terdiri dari gangguan kepribadian antisosial, ambang (borderline), histrionik, dan narsistik. Kelompok C : orang yang sering kali tampak cemas atau ketakutan. Kelompok ini mencakup gangguan kepribadian menghindar, dependen, dan obsesifkompulsif.

2. ETIOLOGI
A. Faktor genetik Bukti terbaik bahwa faktor genetik berkontribusi terhadap gangguan kepribadian berasal dari investigasi dari 15.000 pasangan kembar di Amerika Serikat. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kembar monozigot memiliki kesesuaian untuk gangguan kepribadian beberapa kali lipat dibandingkan dengan kembar dizigotik. Selain itu, menurut sebuah studi, kembar monozigot yang dibesarkan secara terpisah memiliki kesamaan dengan kembar monozigot yang dibesarkan bersama-sama.

Kemiripan meliputi beberapa penilaian kepribadian dan temperamen, minat pekerjaan dan waktu luang, dan sikap sosial. Kelompok A lebih umum memiliki kaitan biologis anggota keluarga dengan skizofrenia daripada di kelompok kontrol. Lebih banyak gangguan kepribadian schizotypal terjadi dalam sejarah keluarga penderita schizophrenia daripada di kelompok kontrol. Korelasi kurang ditemukan antara gangguan kepribadian paranoid atau skizoid dan skizofrenia. Kelompok B tampaknya memiliki dasar genetik. Gangguan kepribadian antisosial dikaitkan dengan gangguan penggunaan alkohol. Depresi adalah latar belakang yang umum pada keluarga pasien dengan gangguan kepribadian ambang (borderline). Pasien-pasien ini lebih memiliki kerabat dengan gangguan mood daripada kelompok kontrol, dan orang-orang dengan gangguan kepribadian borderline sering memiliki gangguan mood juga. Sebuah asosiasi yang kuat ditemukan antara gangguan kepribadian histrionik dan gangguan somatisasi (sindrom Briquet); pasien dengan gangguan-gangguan tersebut menunjukkan gejala yang tumpang tindih. Kelompok C mungkin juga memiliki dasar genetik. Pasien dengan gangguan kepribadian menghindar seringkali memiliki tingkat kecemasan yang tinggi. Ciriciri obsesif-kompulsif yang lebih sering terjadi pada kembar monozigot dibandingkan kembar dizigotik, dan pasien dengan kepribadian obsesif-kompulsif menunjukkan beberapa tanda-tanda yang terkait dengan depresi (misalnya memendeknya periode latensi rapid eye movement (REM) dan hasil abnormal dexamethasone-suppression test (DST).

B. Faktor biologi Hormon Orang yang menunjukkan sifat impulsif juga sering menunjukkan tingkat testosteron, 17-estradiol, dan estron yang tinggi. Pada primata, androgen meningkatkan kemungkinan agresi dan perilaku seksual, tetapi peran testosteron dalam agresi manusia tidak jelas. Hasil DST ditemukan abnormal pada beberapa pasien dengan gangguan kepribadian borderline yang juga memiliki gejala depresi.
4

Monoamine Oksidase trombosit Pada binatang monyet, rendahnya tingkat monoamine oksidase trombosit berkaitan dengan aktifitas dan keakraban. Mahasiswa dengan kadar monoamine oksidase trombosit rendah dilaporkan menghabiskan lebih banyak waktu dalam kegiatan sosial dari siswa dengan kadar monoamine oksidase trombosit tinggi. Tingkat monoamine oksidase trombosit yang rendah juga telah dicatat pada beberapa pasien dengan gangguan skizotipal.

Gerakan mata pursuit halus Gerakan mata pursuit halus adalah saccadic (yaitu, gelisah) pada orang yang introvert, yang memiliki rasa rendah diri dan cenderung untuk menarik diri, dan yang memiliki gangguan kepribadian skizotipal. Temuan ini tidak memiliki aplikasi klinis, tetapi mereka menunjukkan peran inheritance.

Neurotransmiter Endorfin memiliki efek yang sama dengan morfin eksogen, seperti analgesia dan penekan gairah (arousal). Tingkat endorfin endogen yang tinggi mungkin berhubungan dengan orang-orang yang phlegmatis. Studi sifat kepribadian dan sistem dopaminergik dan serotonergik mengindikasikan fungsi gairahmengaktifkan untuk neurotransmitter. Tingkat 5-hydroxyindoleacetic asam (5HIAA), suatu metabolit serotonin, adalah rendah pada orang yang mencoba bunuh diri dan pada pasien yang impulsif dan agresif.

Meningkatkan kadar serotonin dengan agen serotonergik seperti fluoxetine (Prozac) dapat menghasilkan perubahan dramatis dalam beberapa karakter kepribadian. Pada banyak orang, serotonin mengurangi depresi, impulsif, dan dapat menghasilkan rasa kesejahteraan. Peningkatan konsentrasi dopamin dalam sistem saraf pusat, yang diproduksi oleh psikostimulan tertentu (misalnya, amfetamin) dapat menyebabkan euforia. Efek neurotransmitter pada sifat kepribadian telah dihasilkan banyak perhatian dan kontroversi tentang apakah sifat-sifat kepribadian bawaan atau diperoleh. Elektrofisiologi Perubahan konduktansi listrik pada elektroensefalogram (EEG) terjadi pada beberapa pasien dengan gangguan kepribadian, paling sering jenis antisosial dan borderline; perubahan ini muncul sebagai gelombang lambat aktivitas di EEG.

C. Faktor psikoanalitik Sigmund Freud menunjukkan bahwa sifat-sifat kepribadian berhubungan dengan fiksasi pada satu tahap perkembangan psikoseksual. Misalnya, mereka dengan karakter oral pasif dan dependen karena mereka terpaku pada tahap oral, ketika ketergantungan pada orang lain untuk makanan adalah menonjol. Mereka dengan karakter anal keras kepala, pelit, dan sangat teliti karena perebutan pelatihan toilet selama periode anal. Wilhelm Reich kemudian menciptakan istilah character armor untuk menggambarkan karakteristik gaya orang 'defensif untuk melindungi diri dari impuls internal dan dari kecemasan interpersonal dalam hubungan yang signifikan. Teori Reich memiliki pengaruh yang luas pada konsep-konsep kontemporer gangguan kepribadian dan kepribadian. Misalnya, prangko yang unik setiap manusia dari kepribadian dianggap sangat ditentukan oleh karakteristiknya atau mekanisme pertahanan dirinya. Setiap gangguan kepribadian dalam Axis II memiliki sekelompok pertahanan yang membantu dokter psikodinamik mengenali jenis karakter patologi yang ada. Orang dengan gangguan kepribadian paranoid, misalnya, menggunakan proyeksi, sedangkan gangguan kepribadian skizofrenia dikaitkan dengan penarikan. Ketika pertahanan bekerja secara efektif, orang dengan gangguan kepribadian menguasai perasaan cemas, depresi, marah, malu, bersalah, dan lainnya mempengaruhi. Mereka sering melihat perilaku mereka sebagai ego-syntonic. Mereka juga mungkin enggan untuk terlibat dalam proses pengobatan, karena pertahanan mereka adalah penting dalam mengendalikan mempengaruhi

menyenangkan, mereka tidak tertarik untuk menyerahkan mereka. Selain karakteristik pertahanan dalam gangguan kepribadian, fitur lain yang penting adalah hubungan-hubungan objek internal. Selama pengembangan, polapola tertentu dari diri dalam kaitannya dengan orang lain diinternalisasikan. Melalui introyeksi, anak-anak menginternalisasi orang tua atau orang lain yang signifikan sebagai kehadiran internal yang terus merasa seperti obyek bukan suatu diri. Melalui identifikasi, anak-anak menginternalisasi orang tua dan orang lain sedemikian rupa sehingga sifat-sifat dari objek eksternal dimasukkan ke dalam diri dan anak memiliki ciri-ciri. Representasi diri secara internal dan representasi objek sangat penting dalam mengembangkan kepribadian dan, melalui eksternalisasi dan identifikasi proyektif, yang dimainkan di skenario antarpribadi di mana orang lain
6

yang dipaksa memainkan peran dalam kehidupan internal seseorang. Oleh karena itu, orang dengan gangguan kepribadian juga diidentifikasi oleh pola tertentu keterkaitan interpersonal yang berasal dari pola-pola hubungan internal objek.

3. JENIS-JENIS GANGGUAN KEPRIBADIAN


3.1 GANGGUAN KEPRIBADIAN PARANOID
Definisi: kecurigaan dan ketidakpercayaan pada orang lain bahwa orang lain berniat buruk kepadanya, bersifat pervasif, awitan dewasa muda, nyata dalam perlabagai konteks. Epidemiologi Prevalensi gangguan kepribadian paranoid adalah 0,5 2,5% dari seluruh populasi. Orang dengan gangguan ini jarang sekali mencari pengobatan atas kesadarannya sendiri; ketika diantar oleh pasangan atau kerabatnya, mereka cenderung menarik diri dan tampak tidak menderita. Memiliki saudara kandung yang skizofrenia menunjukkan insiden lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Gangguan ini lebih sering pada pria dibanding wanita dan tampak tidak berkaitan dengan model dalam keluarga. Diyakini bahwa lebih sering dialami oleh kelompok minoritas, imigran, dan orang yang tuna rungu (tuli), atau orang dengan budaya yang berperilaku sangat hati-hati atau defensif dibandingkan dengan populasi umum. Fitur klinis Tanda khas dari gangguan kepribadian paranoid adalah kecurigaan yang berlebihan dan ketidakpercayaan orang lain yang dinyatakan sebagai kecenderungan pervasif untuk menafsirkan tindakan orang lain sebagai sengaja merendahkan, jahat, mengancam, mengeksploitasi, atau menipu. Kecenderungan ini dimulai dengan awal masa dewasa dan muncul dalam berbagai konteks. Hampir selalu, orang-orang dengan gangguan ini mengharapkan untuk dieksploitasi atau dirugikan oleh orang lain dalam beberapa cara. Mereka sering terlibat dalam sengketa, tanpa pembenaran, teman atau rekan setia atau kepercayaan. Orang seperti ini sering cemburu dan, tanpa alasan mempertanyakan kesetiaan pasangan mereka atau mitra seksual. Orang dengan gangguan ini mengeksternalisasi emosi mereka sendiri dan menggunakan mekanisme pertahanan

proyeksi, mereka atribut lain impuls dan pikiran bahwa mereka tidak dapat menerima dalam diri mereka. Ide referensi dan ilusi logis membela yang umum.

Diagnosis Pada pemeriksaan psikiatrik, pasien dengan gangguan kepribadian paranoid seringkali kaku dan mengagalkan untuk mencari pertolongan dari ahli psikiatrik. Ketegangan muskular, ketidakmampuan untuk rileks, dan keharusan untuk mengamati lingkungan dapat memberi petunjuk sebagai bukti, dan siap pasien cenderung kurang humoris dan sangat serius. Walaupun pernyataan dari argumen mereka dapat salah, namun kemampuan berbicara itu memiliki tujuan terarah dan logis. Isi pikiran menunjukkan adanya proyeksi, prejudice, dan kadang-kadang ideas of reference. Kriteria diagnostik gangguan kepribadian paranoid berdasarkan DSM IV: A. Sebuah ketidakpercayaan meluas dan kecurigaan orang lain sehingga motif mereka ditafsirkan sebagai jahat, dimulai dengan awal masa dewasa dan hadir dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh empat (atau lebih) sebagai berikut: 1. kecurigaan, tanpa dasar yang cukup, bahwa orang lain memanfaatkan, membahayakan, atau menipu dia 2. sibuk dengan keraguan yang tidak tepat tentang loyalitas atau kepercayaan dari teman-teman atau rekan 3. enggan untuk menceritakan pada orang lain karena takut yang tidak beralasan bahwa informasi tersebut akan digunakan jahat terhadap dia atau dia 4. membaca arti merendahkan yang tersembunyi atau mengancam dalam komentar atau peristiwa 5. terus-menerus dendam, menolak memaafkan penghinaan atau masalah kecil yang menyebabkan hatinya terluka 6. merasakan serangan pada karakter atau reputasinya yang tidak jelas dan cepat untuk bereaksi dengan marah atau membalas 7. memiliki kecurigaan yang berulang, tanpa pembenaran, tentang kesetiaan pasangan atau pasangan seksual

B. Tidak terjadi secara eksklusif selama skizofrenia, gangguan mood dengan ciri psikotik, atau gangguan psikotik lain dan bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu kondisi medis umum. Catatan : apabila kriteria ditemukan sebelum awitan Skizofrenia, ditambahkan premorbid.

Diagnosis banding Gangguan kepribadian paranoid dapat dibedakan dari gangguan waham dengan tidak ditemukannya waham yang tidak terbantahkan (fixed). Tidak seperti orang dengan skizofrenia paranoid, orang dengan gangguan kepribadian tidak memiliki halusinasi atau gangguan pikiran. Dibandingkan dengan gangguan kepribadian ambang, pasien dengan paranoid jarang mampu terlalu terlibat, relasi yang kacau balau dengan orang lain. Pasien dengan paranoid tidak memiliki riwayat panjang perilaku antisosial seperti orang dengan karakter antisosial. Orang dengan gangguan kepribadian skizoid

umumnya menarik diri dan menyendiri dan tidak memiliki pemikiran yang paranoid.

Tatalaksana A. Psikoterapi Psikoterapi adalah pengobatan pilihan untuk gangguan kepribadian paranoid. Terapis harus jujur dalam menangani pasien ini. Apabila terapis melakukan ketidaktetapan atau kesalahan, seperti terlambat, kejujuran dan permintaan maaf lebih disukai untuk penjelasan defensif. Terapis harus ingat bahwa kepercayaan dan toleransi keakraban adalah hal yang menjadi perhatian bagi pasien dengan gangguan ini. Psikoterapi individual membutuhkan gaya yang profesional dan hangat dari terapis. Pasien dengan gangguan ini kurang baik dalam psikoterapi kelompok, walaupun hal ini dapat memperbaiki kemampuan sosial dan mengurangi kecurigaan melalui role playing. Pasien memiliki perilaku merasa terancam sehingga terapis harus mengatur atau membatasi tindakan mereka. Tuduhan delusi harus ditangani dengan realistis tapi lembut dan tanpa mempermalukan pasien. Pasien yang paranoid sangat takut ketika merasa bahwa terapis yang berusaha untuk membantu mereka (pasien) yang lemah dan tak

berdaya, karena itu, terapis tidak harus menawarkan untuk mengambil kontrol kecuali pasien bersedia dan mampu melakukannya. B. Farmakoterapi Pada banyak kasus, agen anti-ansietas seperti diazepam (Valium) cukup. Apabila diperlukan, dapat diberikan anti-psikotik seperti haloperidol (Haldol) dalam dosis kecill dan untuk periode singkat untuk menangani kegelisahan pasien yang buruk atau pemikiran seakan-akan delusi. Obat anti-psikotik pimozide (Orap) berhasil mengurangi pemikiran paranoid pada beberapa pasien.

Perjalanan gangguan dan prognosis Pada beberapa, gangguan kepribadian paranoid berlangsung seumur hidup; pada yang lainnya dapat mendahului terjadinya skizofrenia. Sikap paranoid dapat memberikan cara untuk pembentukan reaksi, perhatian yang sesuai dengan moralitas, dan sifat mengutamakan orang lain atau penghilang stress. Secara umum, orang dengan gangguan kepribadian paranoid memiliki masalah berkaitan dengan pekerjaan dan berhubungan dengan orang lain seumur hidup. Masalah pekerjaan dan dalam kehidupan pernikahan juga umum terjadi.

3.2 GANGGUAN KEPRIBADIAN SKIZOID


Definisi: Pola perilaku berupa pelepasan diri dari hubungan sosial disertai kemampuan ekspresi emosi yang terbatas dalam hubungan interpersonal. Bersifat pervasif, berawal sejak dewasa muda dan nyata dalam pelbagai konteks. Pasien umumnya dilihat oleh orang lain sebagai orang yang aneh, terisolasi, dan kesepian. Epidemiologi Prevalensi gangguan kepribadian skizoid belum dibuktikan secara jelas, tetapi gangguan ini mempengaruhi 7,5% dari seluruh populasi. Ratio berdasarkan gender juga belum diketahui; beberapa penelitian melaporkan ratio pria:wanita adalah 2:1. Orang dengan gangguan ini tertarik pada pekerjaan yang sendirian yang hanya mencakup sedikit bahkan tidak ada kontak dengan orang lain. Banyak yang lebih memilih

10

pekerjaan pada malam hari dibandingkan siang, sehingga mereka tidak harus berhubungan dengan orang lain. Fitur klinis Orang dengan gangguan kepribadian skizoid tampaknya menjadi dingin dan menyendiri, mereka tampak terpencil dan menunjukkan tidak ada keterlibatan dengan peristiwa sehari-hari dan keprihatinan terhadap orang lain. Mereka tampil tenang, jauh, exclusive, dan tidak ramah. Mereka mungkin mengejar kehidupan mereka sendiri dengan kebutuhan sangat sedikit atau kerinduan untuk ikatan emosional, dan mereka yang terakhir menyadari perubahan dalam mode populer. Sejarah kehidupan dari orang-orang tersebut mencerminkan kepentingan soliter dan sukses di nonkompetitif, pekerjaan kesepian dimana orang lain sulit untuk mentolerir. Kehidupan seksual mereka mungkin ada secara eksklusif dalam fantasi, dan mereka dapat menunda tanpa batas seksualitas dewasa. Pria mungkin tidak menikah karena mereka tidak mampu mencapai keintiman; wanita pasif mungkin setuju untuk menikah dengan pria yang agresif yang ingin pernikahan. Orang dengan gangguan kepribadian skizoid biasanya mengungkapkan ketidakmampuan seumur hidup untuk mengekspresikan kemarahan secara langsung. Mereka dapat menginvestasikan energi afektif yang sangat besar dalam kepentingan yang tidak berkaitan dengan manusia, seperti matematika dan astronomi, dan mereka mungkin sangat melekat pada hewan. Mode diet dan kesehatan, gerakan filosofis, dan skema perbaikan sosial, terutama yang tidak memerlukan keterlibatan pribadi, sering memikat mereka. Meskipun orang-orang dengan gangguan kepribadian skizoid muncul egois dan hilang dalam lamunan, mereka memiliki kapasitas normal untuk mengenali realitas. Karena tindakan agresif jarang dimasukkan dalam repertoar respon biasa, ancaman yang paling nyata atau khayalan, yang ditangani oleh kemahakuasaan-angan atau pengunduran diri. Mereka sering dilihat sebagai menyendiri, namun orang-orang seperti kadang-kadang dapat memahami, mengembangkan, dan memberikan kepada dunia ideide benar-benar asli dan kreatif. Diagnosis Pada pemeriksaan psikiatrik, pasien dengan gangguan kepribadian skizoid dapat tampak sakit dalam keadaan istirahat di tempat. Mereka jarang mengadakan kontak mata, dan
11

pewawancara dapat menduga bahwa pasien ingin sekali menyudahi wawancara. Afek terbatas, menyendiri, atau tidak tepat serius, tetapi di balik sikap acuh tak acuh, dokter yang sensitif dapat mengenali ketakutan. Pasien-pasien ini sulit untuk menjadi ceria. Upaya pada humor mungkin tampak remaja dan melenceng. Kemampuan bicara mereka terarah, tetapi mereka cenderung memberikan jawaban singkat untuk pertanyaan dan untuk menghindari percakapan spontan. Mereka kadang-kadang dapat menggunakan kiasan yang tidak biasa, seperti metafora aneh, dan mungkin terpesona dengan benda mati atau konstruksi metafisik. Konten mental mereka dapat mengungkapkan rasa yang tidak beralasan dari keintiman dengan orang-orang yang mereka tidak tahu siapa mereka baik atau tidak dilihat untuk waktu yang lama. Kemampuan sensoris utuh, fungsi memori baik, dan interpretasi pepatah mereka abstrak. Kriteria diagnostik gangguan kepribadian skizoid berdasarkan DSM IV: A. Sebuah pola pervasif pelepasan dari hubungan sosial dan ekspresi emosi yang terbatas dalam hubungan interpersonal, dimulai dengan awal masa dewasa dan hadir dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh empat (atau lebih) sebagai berikut: 1. Tidak ada keinginan atau tidak menikmati hubungan dekat, termasuk menjadi bagian dari sebuah keluarga 2. hampir selalu memilih kegiatan soliter 3. memiliki sedikit, jika ada, minat memiliki pengalaman seksual dengan orang lain 4. hanya sedikit aktivitas yang memberikannya kebahagiaan 5. tidak memiliki teman dekat atau kepercayaan selain keluarga tingkat pertama 6. tidak peduli pada pujian atau kecaman/ kritik dari orang lain 7. menunjukkan emosi yang dingin, afek datar B. Tidak terjadi secara eksklusif selama skizofrenia, gangguan mood dengan fitur psikotik, gangguan psikotik, atau gangguan perkembangan pervasif dan bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu kondisi medis umum.

12

Diagnosa banding Gangguan kepribadian skizoid dibedakan dari skizofrenia, gangguan delusi, dan gangguan afektif dengan fitur psikotik berdasarkan periode dengan gejala psikotik yang positif, seperti delusi dan halusinasi di bagian kedua. Walaupun pasien gangguan kepribadian paranoid memiliki banyak kemiripan dengan pasien gangguan kepribadian skizoid, pasien gangguan paranoid menunjukkan keterlibatan lebih ikatan sosial, sejarah perilaku verbal agresif, dan kecenderungan lebih besar untuk proyeksi perasaan mereka ke orang lain. Jika hanya secara emosional terbatas, pasien dengan obsesif-kompulsif dan gangguan kepribadian menghindar mengalami kesepian sebagai dysphoric, memiliki sejarah yang lebih kaya dari hubungan-hubungan objek masa lalu, dan tidak terlibat sebanyak dalam lamunannya autis. Secara teoritis, perbedaan utama antara pasien dengan gangguan kepribadian skizotipal dan satu dengan gangguan kepribadian skizoid adalah bahwa pasien yang skizotipal lebih mirip dengan pasien dengan skizofrenia dalam keanehan persepsi, pikiran, perilaku, dan komunikasi. Pasien dengan gangguan kepribadian menghindar terisolasi tapi sangat ingin berpartisipasi dalam kegiatan, karakteristik tersebut tidak ditemukan pada mereka dengan gangguan kepribadian skizoid. Gangguan kepribadian skizoid dibedakan dari gangguan autistik dan sindrom Asperger dengan lebih interaksi sosial sangat terganggu dan perilaku stereotip.

Tatalaksana A. Psikoterapi Tatalaksana pasien dengan gangguan kepribadian skizoid mirip dengan penanganan pada orang dengan gangguan kepribadian paranoid. Pasien dengan skizoid cenderung mengarah introspeksi, bagaimanapun juga, kecenderungan ini bersifat konsisten dengan harapan psikoterapis, dan pasien menjadi sangat setia. Seiring berkembangnya kepercayaan, pasien dengan skizoid dapat dengan kegaduhan yang hebat, menunjukkan fantasi yang sangat banyak, teman imaginer, dan ketakutan atas ketergantungan yang tidak tertahankan meskipun bersatu dengan terapis. Dalam keadaan terapi kelompok, pasien dengan gangguan kepribadian skizoid dapat diam untuk waktu yang lama; meskipun demikian, mereka nantinya akan berpartisipasi.
13

Pasien harus dilindungi terhadap serangan agresif dari anggota kelompok karena kecenderungannya untuk diam. Seiring waktu, anggota kelompok akan menjadi penting bagi pasien dengan skizoid dan menumbuhkan satu-satunya interaksi sosial dalam kehidupannya yang terisolasi. B. Farmakoterapi Farmakoterapi dengan dosis kecil anti-psikotik, anti-depresan, dan psikostimulan memberikan keuntungan bagi beberapa pasien. Agen serotonergik membuat pasien kurang sensitif terhadap penolakan. Benzodiazepine dapat mengurangi kecemasan interpersonal.

Perjalanan Gangguan dan prognosis Timbulnya gangguan kepribadian skizoid biasanya terjadi pada anak usia dini. Seperti dengan semua gangguan kepribadian, gangguan kepribadian skizoid adalah tahan lama, tetapi belum tentu seumur hidup. Proporsi pasien yang dikenakan skizofrenia tidak diketahui.

3.3 GANGGUAN KEPRIBADIAN SKIZOTIPAL


Catatan: perlu dicatat bahwa dalam PPDGJ-3, gangguan skizotipal dikategorikan ke dalam F3 yaitu kelompok skizofrenia karena ada hubungan genetik dengan skizofrenia, sedangkan dalam DSM IV, dikategorikan dalam gangguan kepribadian. Definisi: pola defisit dalam hubungan sosial dan interpersonal; merasa tidak nyaman dan kurang mampu untuk membina hubungan akrab, disertai distorsi kognitif atau persepsi dan perilaku yang eksentrik, bersifat pervasif, awitannya dewasa muda, dan nyata dalam pelbagai konteks atau situasi kehidupan. Epidemiologi Gangguan kepribadian skizotipal terjadi sekitar 3% dari populasi. Ratio berdasarkan gender tidak diketahui. Hubungan yang lebih kuat pada kasus dengan hubungan biologis anggoa keluarga pasien menderita skizofrenia dibandingkan dengan kontrol,

14

dan memiliki insiden kembar monozigotik dibandingkan kembar dizigotik (33:4 dalam suatu studi). Fitur Klinis Pasien dengan gangguan kepribadian schizotypal menunjukkan terganggunya proses berpikir dan berkomunikasi. Meskipun gangguan pikiran jelas tidak ada, kemampuan berbicara mereka mungkin khas atau aneh, mungkin memiliki arti hanya untuk mereka, dan sering perlu interpretasi. Seperti dengan pasien dengan skizofrenia, orang-orang dengan gangguan kepribadian schizotypal mungkin tidak tahu perasaan mereka sendiri dan namun peka atau sensitif, dan sadar, mengenai perasaan orang lain, terutama dampak negatif seperti kemarahan. Pasien-pasien ini mungkin mempercayai kekuatan takhayul dan mungkin percaya bahwa mereka memiliki kekuatan khusus lainnya pemikiran dan tilikan. Dunia batin mereka dapat diisi dengan hubungan imajiner dan ketakutan seperti anak dan fantasi. Mereka mungkin mengakui ilusi perseptual atau macropsia dan mengakui bahwa orang lain tampak kaku dan semua sama. Karena orang-orang dengan gangguan kepribadian schizotypal memiliki hubungan interpersonal yang buruk dan dapat bertindak tidak tepat, mereka terisolasi atau memiliki sedikit teman-teman. Pasien mungkin menampilkan fitur gangguan kepribadian borderline, dan memang, kedua diagnosis dapat dibuat. Di bawah stres, pasien dengan gangguan kepribadian schizotypal mungkin dekompensasi dan memiliki gejala psikotik, tetapi ini biasanya singkat. Pasien dengan kasus yang parah dari gangguan mungkin menunjukkan anhedonia dan depresi berat. Diagnosis Gangguan kepribadian skizotipal didiagnosa berdasarkan keganjilan/keanehan pada cara berpikir, perilaku, dan penampilan pasien. Dalam mengali informasi mungkin ditemukan kesulitan karena cara komunikasi pasien yang tidak biasa. Pedoman diagnostik gangguan kepribadian skizotipal berdasarkan DSM IV: a) Pola pervasif mengenai defisit sosial dan interpersonal yang ditandai dengan ketidaknyamanan akut dengan, dan berkurangnya kapasitas untuk hubungan dekat seperti pada distorsi kognitif dan persepsi dan keganjilan pada perilaku, yang muncul pada awal masa dewasa dan terdapat dalam pelbagai konteks, yang ditandai dengan lima (atau lebih) ciri berikut:
15

1. Ideas of reference (kecuali delusion of reference) 2. Keyakinan yang aneh atau pikiran magis yang mempengaruhi perilaku dan tidak sesuai dengan norma budaya (contoh percaya pada tahyul, kepercayaan kemampuan supranatural, telepati, atau indera keenam; pada anak-anak dan remaja, fantasi yang berlebihan) 3. Pengalaman persepsi yang tidak biasa, mencakup ilusi secara fisik 4. Cara berpikir dan berbicara yang aneh 5. Curiga atau pemikiran paranoid 6. Afek yang tidak sesuai atau terbatas 7. Perilaku atau penampilan yang ganjil, eksentrik, atau khas 8. Tidak memiliki teman dekat atau orang kepercayaan selain dari kerabat derajat satu (first degree relatives) 9. Kecemasan sosial berlebihan yang tidak dapat dikurangi dengan keakraban dan cenderung berhubungan dengan ketakutan paranoid dibadingkan penilaian negatif tentang diri sendiri b) Tidak berlangusng selama perjalanan gangguan skizofrenia, gangguan mood dengan ciri psikotik, gangguan psikotik lainnya, atau gangguan perkembangan pervasif.

Diagnosis banding Secara teoritis, orang dengan gangguan kepribadian skizotipal dapat dibedakan dengan yang mengalami gangguan kepribadian skizoid dan menghindar (cemas) dengan adanya keganjilan/keanehan dari perilaku, cara berpikir, persepsi, dan komunikasi dan mungkin dengan riwayat keluarga yang jelas adanya skizofrenia. Pasien dengan skizotipal dibedakan dengan skizofrenia dengan tidak adanya psikosis. Apabila gejala psikosis itu muncul, terjadinya singkat dan terfragmentasi. Beberapa pasien memenuhi kriteria untuk gangguan kepribadian skizotipal dan ambang. Pasien dengan gangguan kepribadian paranoid memiliki karakteristik kecurigaan, tetapi tidak ada perilaku yang aneh pada pasien dengan skizotipal.

16

Tatalaksana A. Psikoterapi Prinsip tatalaksana gangguan kepribadian skizotipal tidak berbeda dengan penanganan skizoid, tetapi dokter harus bertindak secara sensitif dibanding sebelumnya. Pasien ini memiliki keganjilan pada cara berpikir, dan beberapa berkaitan dengan pemujaan, praktik keagamaan yang aneh, dan ilmu gaib. Terapis tidak boleh mencemooh aktivitas terssebut dan menghakimi kepercayaan atau akhtivitas tersebut. B. Farmakoterapi Medikasi anti-psikotik dapat berguna dalam menangani ideas od reference, ilusi, dan gejala lain dan dapat digabungkan dengan pskoterapi. Anti-depresan juga berguna ketika komponen depresif dari kepribadian ditemukan.

Perjalanan gangguan dan prognosis Penelitian jangka panjang oleh Thomas McGlashan dilaporkan bahwa 10 persen dari orang dengan gangguan kepribadian skizotipal pada akhirnya bunuh diri. Penelitian retospektif menunjukkan bahwa banyak pasien berpikir memiliki skizofrenia yang sebenarnya mengalami gangguan kepribadian skizotipal dan, menurut pemikiran klinis sekarang ini, skizotype merupakan kepribadian permorbid untuk skizofrenia. Beberapa, bagaimanapun, memelihara kepribadian skizotipal selama mereka hidup dan menikah dan bekerja, walaupun aneh.

3.4 GANGGUAN KEPRIBADIAN ANTISOSIAL


Definisi : pola perilaku pengabaian dan perlanggaran pelbagai hak orang lain, bersifat pervasif, berawal sejak usia dewasa muda dan nyata dalam pelbagai konteks. Epidemiologi Prevalensi gangguan kepribadian antisosial adalah 3% pada pria dan 1% pada wanita. Hal ini paling umum ditemukan di daerah perkotaan miskin dan antara penduduk yang sering berpindah-pindah. Timbulnya gangguan adalah sebelum usia 15. Gadis biasanya memiliki gejala sebelum pubertas, dan anak laki-laki bahkan lebih awal. Dalam

17

populasi penjara, prevalensi gangguan kepribadian antisosial dapat setinggi 75%. Apabila terdapat riwayat anggota keluarga yang menderita gangguan yang sama, gangguan ini lima kali lebih umum di antara tingkat pertama kerabat laki-laki dengan gangguan dari kelompok kontrol. Fitur klinis Pasien dengan gangguan kepribadian antisosial seringkali dapat tampak normal dan bahkan menawan dan manis. Riwayat mereka mengungkapkan banyak bidang kehidupan berfungsi teratur. Berbohong, pembolosan, lari dari rumah, pencurian, perkelahian, penyalahgunaan zat, dan kegiatan ilegal adalah pengalaman khas yang pasien laporkan sebagai awal di masa kecil. Pasien-pasien ini seringkali terhadap dokter dengan jenis kelamin berlawanan memberikan kesan kepribadian yang berwarna-warni dan bergairah, tetapi terhadap dokter yang berjenis kelamin sama mungkin mereka tampak manipulatif dan menuntut. Pasien dengan gangguan kepribadian antisosial tidak menunjukkan kecemasan atau depresi, tampak secara kasar tidak sesuai dengan situasi mereka, meskipun ancaman bunuh diri dan keluhan somatik mungkin umum. Penjelasan mereka sendiri mengenai perilaku antisosial mereka membuatnya tampak ceroboh, tapi konten mental mereka mengungkapkan tidak adanya delusi dan tandatanda lain dari berpikir irasional. Bahkan, mereka sering memiliki rasa tinggi pengujian realitas dan seringkali terkesan memiliki kecerdasan lisan yang baik. Orang dengan gangguan kepribadian antisosial sangat mewakili apa yang disebut para penipu. Mereka sangat manipulatif dan sering dapat berbicara orang lain untuk berpartisipasi dalam skema cara mudah untuk membuat uang atau untuk mencapai ketenaran. Skema ini akhirnya dapat memimpin sikap tidak berhati-hati sampai menimbulkan kekacauan finansial atau rasa malu sosial atau keduanya. Mereka dengan gangguan ini tidak mengatakan kebenaran dan tidak dapat dipercaya untuk melaksanakan tugas apapun atau mematuhi semua standar konvensional moralitas. Pergaulan bebas, penyalahgunaan pasangan, penganiayaan anak, dan mengemudi dalam keadaan mabuk adalah kejadian umum dalam hidup mereka. Temuan penting adalah kurangnya penyesalan atas tindakan ini, yaitu, mereka tampak kurang memiliki hati nurani. Diagnosa Pasien dengan gangguan kepribadian antisosial bisa menipu bahkan dokter paling
18

berpengalaman. Dalam sebuah wawancara, pasien dapat tampak tenang dan dapat dipercaya, tetapi di balik itu (atau menggunakan istilah Hervey Cleckley itu, topeng kewarasan) mengintai ketegangan, permusuhan, mudah marah, dan kemarahan. Sebuah pemeriksaan diagnostik harus mencakup pemeriksaan neurologis menyeluruh. Karena pasien sering menunjukkan hasil EEG abnormal dan tanda-tanda neurologis ringan yang menunjukkan kerusakan otak minimal dalam masa kanak-kanak, temuan ini dapat digunakan untuk mengkonfirmasi kesan klinis. Kriteria diagnostik gangguan kepribadian antisosial berdasarkan DSM-IV: A. Ada pola pervasif mengabaikan dan melanggar hak orang lain yang terjadi sejak usia 15 tahun, seperti yang ditunjukkan oleh tiga (atau lebih) sebagai berikut: 1. kegagalan untuk mematuhi norma-norma, peraturan, dan kewajiban sosial 2. tipu daya, seperti ditunjukkan oleh berulang kali berbohong atau menipu orang lain untuk keuntungan pribadi atau kesenangan 3. impulsif atau kegagalan untuk merencanakan 4. iritabilitas dan agresivitas, seperti ditunjukkan oleh perkelahian fisik berulang 5. sembrono mengabaikan keselamatan diri sendiri atau orang lain 6. secara menetap tidak bertanggung jawab, seperti yang ditunjukkan oleh kegagalan yang berulang untuk mempertahankan perilaku kerja yang konsisten atau menghormati kewajiban keuangan 7. kurangnya penyesalan, seperti ditunjukkan dengan menjadi acuh tak acuh terhadap atau rasionalisasi memiliki terluka, dianiaya, atau dicuri dari yang lain B. Individu setidaknya usia 18 tahun. C. Ada bukti dari gangguan perilaku dengan onset sebelum usia 15 tahun. D. Terjadinya perilaku antisosial tidak secara eksklusif selama skizofrenia atau episode manik.

19

Diagnosis Banding Gangguan kepribadian antisosial dapat dibedakan dari perilaku ilegal yang melibatkan banyak bidang kehidupan seseorang. Dorothy Lewis menemukan bahwa banyak orangorang ini memiliki gangguan neurologis atau mental yang diabaikan atau tidak terdiagnosis. Lebih sulit membandingkan gangguan kepribadian antisosial dari penyalahgunaan zat. Ketika kedua penyalahgunaan zat dan perilaku antisosial dimulai di masa kecil dan berlanjut ke kehidupan dewasa, kedua gangguan harus didiagnosa. Ketika perilaku antisosial jelas manifestasi sekunder dari penyalahgunaan alkohol atau penyalahgunaan zat lain sebelumnya, diagnosis gangguan kepribadian antisosial tidak dibenarkan. Dalam mendiagnosis gangguan kepribadian antisosial, dokter harus menyesuaikan untuk efek distorsi dari status sosial ekonomi, latar belakang budaya, dan seks. Selanjutnya, diagnosis gangguan kepribadian antisosial tidak dibenarkan ketika keterbelakangan mental, skizofrenia, atau mania dapat menjelaskan gejala.

Pengobatan A. Psikoterapi Jika pasien dengan gangguan kepribadian antisosial yang tidak dapat bergerak (misalnya, ditempatkan di rumah sakit), mereka sering menjadi setuju untuk psikoterapi. Ketika pasien merasa bahwa mereka dikelilingi rekan-rekan, motivasi untuk berubah menghilang. Mungkin karena alasan ini, kelompok untuk membantu diri sendiri lebih berguna daripada penjara dalam mengurangi gangguan tersebut. Sebelum pengobatan dapat dimulai, batas tegas sangat penting. Terapis harus menemukan cara untuk berurusan dengan perilaku pasien yang merusak diri sendiri. Dan untuk mengatasi ketakutan pasien akan keintiman, terapis harus menggagalkan keinginan pasien untuk lari dari pertemuan yang nyata dengan orang lain. Dengan demikian, terapis menghadapi tantangan memisahkan kendali dari hukuman dan memisahkan bantuan dan konforntasi dari isolasi sosial dan retribusi. B. Farmakoterapi Farmakoterapi digunakan untuk menangani gejala-gejala seperti kecemasan, kemarahan, dan depresi, namun karena pasien sering menyalahgunakan zat, obat20

obatan harus digunakan secara bijaksana. Jika pasien menunjukkan bukti gangguan atensi atau gangguan hiperaktif, psikostimulan seperti methylphenidate (Ritalin) mungkin berguna. Upaya telah dilakukan untuk mengubah metabolisme katekolamin dengan obat-obatan dan untuk mengontrol perilaku impulsif dengan obat antiepilepsi, misalnya, carbamazepine (Tegretol) atau valproate (Depakote), terutama jika bentuk gelombang abnormal dicatat pada EEG. -adrenergic reseptor antagonis telah digunakan untuk mengurangi agresi. Perjalanan gangguan dan Prognosis Setelah gangguan kepribadian antisosial berkembang, berjalan tak henti-hentinya, dengan tingginya perilaku antisosial biasanya terjadi pada akhir masa remaja. Prognosis bervariasi. Beberapa laporan menunjukkan bahwa gejala penurunan seiring

bertambahnya usia. Banyak pasien mengalami gangguan somatisasi dan keluhan fisik. Gangguan depresif, gangguan penggunaan alkohol, dan penyalahgunaan zat lainnya adalah umum terjadi.

3.5 GANGGUAN KEPRIBADIAN EMOSIONAL TIDAK STABIL


Definisi : bertindak impulsif tanpa mempetimbangkan dampaknya, afek atau emosi tidak stabil atau kurang pengendalian diri, dapat menjurus kepada ledakan kemarahan atau perilaku kekerasan. Dua varian dari gangguan kepribadian ini telah ditentukan odan keduanya mempunyai persamaan motif umum berupa impulsivitas dan kekurangan pengendalian diri. F60.30 Tipe Impulsif Ciri khas yang predominan adalah ketidakstabilan emosional dan kekurangan pengendalian impuls (dorongan hati). Ledakan kekerasan atau perilaku mengancam lazim terjadi, khususnya sebagai tanggapan terhadap kritik orang lain. F60.31 Tipe ambang (borderline) Kriteria diagnostik gangguan kepribadian emosional tidak stabil tipe ambang:

21

Fitur klinis Orang dengan gangguan kepribadian emosional tidak stabil hampir selalu tampak berada dalam keadaan krisis. Suasana hati yang mudah berubah umum terjadi. Pasien dapat menjadi argumentatif pada satu saat, depresi berikutnya, dan kemudian mengeluh tidak memiliki perasaan. Perilaku pasien dengan gangguan kepribadian emosional tidak stabil sangat tidak terduga, dan prestasi mereka jarang pada tingkat kemampuan mereka. Sifat yang menyakitkan dari kehidupan mereka tercermin dalam tindakan berulang merusak diri sendiri. Pasien tersebut dapat memangkas pergelangan tangan mereka dan melakukan mutilasi diri lainnya untuk memperoleh bantuan dari orang lain, untuk mengekspresikan kemarahan, atau untuk menumpulkan dirinya untuk menenggelamkan afek. Karena mereka merasa baik bergantung dan bermusuhan, orang dengan gangguan ini memiliki hubungan interpersonal yang penuh gejolak. Mereka dapat bergantung pada orang-orang dengan siapa mereka dekat dan, jika merasa frustasi, bisa mengungkapkan kemarahan besar terhadap teman intim mereka. Pasien dengan gangguan kepribadian emosional tidak stabil tidak bisa mentolerir sendirian, dan mereka lebih suka mencari persahabatan secara terburu-buru, tidak peduli seberapa memuaskan, untuk menemani mereka. Untuk meredakan kesepian, jika hanya untuk periode singkat, mereka menerima orang asing sebagai teman. Mereka sering mengeluh tentang perasaan kekosongan kronis dan kebosanan dan kurangnya rasa konsisten identitas (difusi identitas), ketika ditekan, mereka sering mengeluh tentang bagaimana mereka biasanya merasa depresi, meskipun kesibukan lainnya mempengaruhi. Otto Kernberg menggambarkan mekanisme pertahanan identifikasi proyektif yang terjadi pada pasien dengan gangguan kepribadian emosional tidak stabil. Dalam mekanisme pertahanan primitif, aspek pada diri sendiri yang tidak bisa ditolerir diproyeksikan ke orang lain; orang lain diinduksi untuk memainkan peran yang diproyeksikan, dan dua orang bertindak serempak. Terapis harus menyadari proses ini sehingga mereka dapat bertindak netral terhadap pasien tersebut.

Kebanyakan terapis setuju bahwa pasien ini menunjukkan kemampuan penalaran biasa pada tes terstruktur, seperti Skala Kecerdasan Dewasa Wechsler, dan menunjukkan proses menyimpang hanya pada tes proyektif tidak terstruktur, seperti tes Rorschach. Fungsional, pasien dengan gangguan kepribadian emosional tidak stabil merusak
22

hubungan mereka dengan mempertimbangkan setiap orang untuk menjadi semua baik atau semua buruk. Mereka melihat orang sebagai figur yang memelihara atau sebagai figur yang sadis dan dibenci yang menjauhkan mereka dari kebutuhan keamanan dan mengancam mereka dengan ditinggalkan kapan pun mereka merasa tergantung. Pergeseran kesetiaan dari satu orang atau kelompok ke kelompok lain sering terjadi. Beberapa dokter menggunakan konsep panphobia, pananxiety, panambivalence, dan seksualitas kacau untuk menggambarkan karakteristik pasien. Diagnosis Menurut DSM-IV-TR, diagnosis gangguan kepribadian emosional tidak stabil dapat dibuat awal masa dewasa ketika pasien menunjukkan setidaknya lima kriteria yang tercantum pada kriteria diagnostik. Studi biologi dapat membantu dalam diagnosis, beberapa pasien dengan gangguan kepribadian emosional tidak stabil menunjukkan memendeknya latensi REM dan gangguan tidur kontinuitas, hasil DST yang abnormal, dan hasil hormon yang abnormal thyrotropin-releasing test. Perubahan tersebut juga terlihat pada beberapa pasien dengan gangguan depresi. Pola pervasif ketidakstabilan hubungan interpersonal, citra diri, dan afek, dan impulsif dengan awitan awal masa dewasa dan hadir dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh lima (atau lebih) sebagai berikut: 1. Upaya yang penuh kegelisahan untuk menghindari keadaan ditinggalkan yang nyata maupun yang hanya dibayangkan. Catatan: Tidak meliputi perilaku bunuh diri atau mutilasi diri tercakup dalam Kriteria 5. 2. pola hubungan interpersonal erat namun tidak stabil 3. gangguan identitas: citra diri atau kesadaran diri yang secara nyata dan terus menerus tidak stabil 4. impulsif dalam setidaknya dua wilayah yang berpotensi merusak diri (misalnya, pengeluaran, seks, penyalahgunaan zat, mengemudi sembrono, makan pesta). Catatan: Tidak meliputi perilaku bunuh diri atau mutilasi diri tercakup dalam Kriteria 5 5. perilaku bunuh diri berulang, gestur, atau ancaman, atau perilaku mutilasi diri 6. Ketidakstabilan perasaan atau afek yang disebabkan oleh suasana hati (misalnya, dysphoria episodik intens, lekas marah, atau kecemasan biasanya berlangsung beberapa jam dan jarang lebih dari beberapa hari)
23

7. Perasaan kosong yang kronis 8. Kemarahan yang tidak pantas, intens atau kesulitan mengendalikan marah (misalnya, menampilkan sering marah, kemarahan yang konstan, perkelahian fisik berulang) 9. Pemikiran paranoid yang berkaitan dengan stres berlangsung singkat gejala disosiatif yang parah Diagnosis Banding Gangguan ini dibedakan dari skizofrenia berdasarkan bahwa pasien dengan kepribadian emosional tidak stabil tidak memiliki episode psikotik yang berkepanjangan, gangguan berpikir, dan tanda-tanda skizofrenia klasik. Pasien dengan gangguan kepribadian schizotypal menunjukkan keanehan ditandai berpikir, pikiran aneh, dan ideas of references. Mereka dengan gangguan kepribadian paranoid ditandai oleh kecurigaan yang ekstrem. Pasien dengan gangguan kepribadian emosional tidak stabil pada umumnya memiliki perasaan kekosongan kronis dan episode psikotik singkat; mereka bertindak impulsif dan menuntut hubungan yang luar biasa, mereka mungkin memutilasi diri mereka sendiri dan membuat usaha bunuh diri manipulatif. Tatalaksana A. Psikoterapi Psikoterapi untuk pasien dengan gangguan kepribadian emosional tidak stabil adalah penyelidikan intensif dan telah menjadi terapi pilihan. Untuk hasil terbaik, farmakoterapi telah ditambahkan ke rejimen pengobatan.

Psikoterapi sulit bagi pasien dan terapis. Pasien regresi dengan mudah, bertindak impuls, dan menunjukkan transferences negatif atau positif labil atau tetap, yang sulit untuk dianalisis. Identifikasi proyektif juga dapat menyebabkan masalah kontra-transferensi ketika terapis tidak menyadari bahwa pasien secara tidak sadar mencoba untuk memaksa mereka untuk bertindak perilaku tertentu. Mekanisme pertahanan splitting menyebabkan pasien untuk bergantian menyukai dan membenci terapis dan lain-lain di lingkungan. Pendekatan yang berorientasi pada realitas cukup efektif. Terapis telah menggunakan terapi perilaku untuk mengendalikan impuls pasien dan ledakan marah dan untuk mengurangi kepekaan mereka terhadap kritik dan penolakan. Pelatihan keterampilan sosial, terutama dengan pemutaran rekaman
24

video, membantu memungkinkan pasien untuk melihat bagaimana tindakan mereka mempengaruhi orang lain dan dengan demikian meningkatkan perilaku

interpersonal mereka. Pasien dengan gangguan kepribadian emosional tidak stabil sering melakukannya dengan baik di rumah sakit di mana mereka menerima psikoterapi intensif pada psikoterapi individual dan secara kelompok. Di rumah sakit, mereka juga dapat berinteraksi dengan anggota staf terlatih dari berbagai disiplin ilmu dan dapat diberikan dengan terapi okupasi, rekreasi, dan profesi. Program-program tersebut sangat membantu ketika lingkungan rumah merugikan rehabilitasi pasien karena konflik dalam keluarga atau tekanan lain. Dalam lingkungan yang terlindung di rumah sakit, pasien yang terlalu impulsif, merusak diri sendiri, atau mutilasi diri dapat dibatasi, dan tindakan mereka dapat diamati. Dalam situasi yang ideal, pasien tetap di rumah sakit sampai mereka menunjukkan tanda perbaikan, sampai dengan 1 tahun di beberapa kasus. Pasien kemudian dapat dikeluarkan ke sistem suportif khusus, seperti rumah sakit, rumah sakit malam, dan rumah transisi. Bentuk khusus dari psikoterapi yang disebut terapi perilaku dialektis (dialectical behavior therapy - DBT) telah digunakan untuk pasien dengan gangguan ini, terutama mereka dengan perilaku parasuicidal, seperti sering memotong. B. Farmakoterapi Farmakoterapi berguna untuk menangani dengan fitur kepribadian tertentu yang mengganggu fungsi keseluruhan pasien. Antipsikotik telah digunakan untuk mengendalikan kemarahan, permusuhan, dan episode psikotik singkat. Antidepresan meningkatkan mood depresi umum pada pasien dengan gangguan kepribadian ini. MAO inhibitor (MAOI) dapat digunakan pada beberapa pasien dengan perilaku impulsif. Benzodiazepin, khususnya alprazolam (Xanax), membantu kecemasan dan depresi, tetapi beberapa pasien menunjukkan disinhibisi dengan kelas obat ini. Antikonvulsan, seperti carbamazepine, dapat meningkatkan fungsi global untuk beberapa pasien. Agen serotonergik seperti serotonin reuptake inhibitor (SSRI) telah membantu dalam beberapa kasus. Perjalanan gangguan dan prognosis Gangguan kepribadian borderline cukup stabil, pasien sedikit perubahan dari waktu ke waktu. Studi longitudinal tidak menunjukkan perkembangan ke arah skizofrenia, tetapi pasien memiliki insidensi tinggi dari episode depresi utama. Diagnosis biasanya dibuat
25

sebelum usia 40, ketika pasien sedang berusaha untuk membuat pilihan pekerjaan, perkawinan, dan lainnya dan tidak dapat berurusan dengan tahap normal dari siklus hidup.

3.6 GANGGUAN KEPRIBADIAN HISTRIONIK


Definisi: pola perilaku berupa emosionalitas berlebih dan menarik perhatian, bersifat pervasif, berawal sejak usia dewasa muda, dan nyata dalam pelbagai konteks. Epidemiologi Menurut DSM-IV-TR, data terbatas dari studi populasi umum menunjukkan prevalensi gangguan kepribadian histerik sekitar 2-3%. Sekitar 10-15 % telah dilaporkan di rawat inap dan rawat jalan pusat kesehatan mental saat penilaian terstruktur digunakan. Kelainan ini didiagnosis lebih sering pada wanita dibandingkan pada pria. Beberapa studi telah menemukan hubungan dengan gangguan somatisasi dan gangguan penggunaan alkohol. Fitur klinis Orang dengan gangguan kepribadian histerik menunjukkan tingkat tinggi perilaku mencari perhatian. Mereka cenderung melebih-lebihkan pikiran dan perasaan mereka dan membuat segalanya terdengar lebih penting daripada yang sebenarnya. Mereka menampilkan amarah, air mata, dan tuduhan ketika mereka tidak menjadi pusat perhatian atau tidak menerima pujian atau persetujuan. Perilaku menggoda adalah umum pada kedua jenis kelamin. Fantasi seksual tentang orang dengan siapa pasien yang terlibat adalah umum, tetapi pasien tidak konsisten tentang verbalisasi fantasi ini dan mungkin malu atau genit daripada agresif secara seksual. Bahkan, pasien histerik mungkin memiliki disfungsi psikoseksual; wanita mungkin anorgasmic, dan laki-laki mungkin impoten. Mereka perlu untuk jaminan tak ada habisnya. Mereka dapat bertindak atas dorongan seksual mereka untuk meyakinkan diri bahwa mereka menarik bagi jenis kelamin lain. Hubungan mereka cenderung dangkal, bagaimanapun, dan mereka dapat sia-sia, egosentris, dan berubahubah. Kebutuhan mereka yang kuat membuat mereka terlalu ketergantungan percaya dan mudah tertipu.

26

Pertahanan utama dari pasien dengan gangguan kepribadian histerik adalah represi dan disosiasi. Dengan demikian, pasien tersebut tidak menyadari perasaan mereka yang sebenarnya dan tidak dapat menjelaskan motivasi mereka. Di bawah stres, uji realitas dengan mudah menjadi terganggu. Diagnosa Dalam wawancara, pasien dengan gangguan kepribadian histrionik umumnya kooperatif dan ingin memberikan sejarah rinci. Isyarat dan tanda baca yang dramatis dalam pembicaraan mereka adalah umum. Tampilan afektif adalah umum, namun, saat ditekan untuk mengakui perasaan-perasaan tertentu (misalnya, kemarahan, kesedihan, dan keinginan seksual), mereka mungkin merespon dengan kejutan, kemarahan, atau penolakan. Hasil pemeriksaan kognitif biasanya normal, meskipun kurangnya ketekunan dapat ditampilkan pada aritmatika atau tugas konsentrasi. Kriteria diagnostik gangguan kepribadian histrionik berdasarkan DSM-IV: Pola pervasif dari emosionalitas yang berlebihan dan mencari perhatian, dimulai dengan awal masa dewasa dan hadir dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh lima (atau lebih) sebagai berikut: 1. tidak nyaman dalam situasi di mana dia bukan pusat perhatian 2. interaksi dengan orang lain yang sering ditandai oleh perilaku seksual menggoda atau provokatif yang tidak sepantasnya 3. menampilkan pergeseran cepat dan ekspresi emosi yang dangkal 4. konsisten menggunakan penampilan fisik untuk menarik perhatian kepada dirinya 5. memiliki gaya bicara yang terlalu impresionis dan kurang rinci 6. menunjukkan dramatisasi diri, sandiwara, dan ekspresi berlebihan dari emosi 7. mudah dipengaruhi oleh orang lain atau keadaan 8. menganggap hubungan menjadi lebih intim daripada yang sebenarnya

Diagnosis Banding Membedakan antara gangguan kepribadian histrionik dan gangguan kepribadian emosional tidak stabil sulit, tetapi dalam gangguan kepribadian emosional tidak stabil, mencoba bunuh diri, difusi identitas, dan episode psikotik singkat lebih mungkin.
27

Meskipun kedua kondisi dapat didiagnosis pada pasien yang sama, dokter harus memisahkan keduanya. Gangguan somatisasi (sindrom Briquet) dapat terjadi bersamaan dengan gangguan kepribadian histrionik. Pasien dengan gangguan psikotik singkat dan gangguan disosiatif mungkin memerlukan diagnosis bersamaan gangguan kepribadian histrionik. Tatalaksana A. Psikoterapi Pasien dengan gangguan kepribadian histrionik seringkali tidak menyadari perasaan mereka sendiri yang nyata; klarifikasi dari perasaan batin mereka adalah proses terapeutik penting. Psikoterapi dengan orientasi psikoanalitik, baik kelompok atau individu, mungkin adalah pilihan perawatan untuk gangguan kepribadian histerik. B. Farmakoterapi Farmakoterapi dapat adjunctive bila gejala ditargetkan (misalnya, penggunaan antidepresan untuk depresi dan keluhan somatik, agen anti ansietas untuk kegelisahan, dan antipsikotik untuk derealisasi dan ilusi). Perjalanan gangguan dan prognosis Seiring bertambahnya usia, orang dengan gangguan kepribadian histrionik

menunjukkan gejala yang lebih sedikit. Orang dengan gangguan ini adalah pencari sensasi, dan mereka mungkin mendapatkan masalah dengan hukum, penyalahgunaan zat, dan bertindak sembarangan.

3.7 GANGGUAN KEPRIBADIAN NARSISTIK


Definisi : terdapatnya pola rasa kebesaran diri (dalam fantasi atau perilaku), kebutuhan untuk dikagumi atau disanjung, kurang mampu berempati. Bersifat pervasif, berawal sejak dewasa muda dan nyata dalam pelbagai konteks. Epidemiologi Menurut DSM-IV-TR, perkiraan prevalensi gangguan kepribadian narsistik berkisar 216 % dalam populasi klinis dan kurang dari 1 % di populasi umum. Orang dengan gangguan dapat memberikan rasa yang tidak realistis tentang kemahakuasaan, kemegahan, keindahan, dan bakat untuk anak-anak mereka, dengan demikian,
28

keturunan dari orang tua tersebut mungkin memiliki resiko lebih tinggi daripada biasanya untuk mengembangkan gangguan itu sendiri. Jumlah kasus gangguan kepribadian narsistik yang dilaporkan terus meningkat. Diagnosa Kriteria diagnostik gangguan kepribadian narsistik berdasarkan DSM-IV: Sebuah pola bersifat pervasif tentang kebesaran (dalam khayalan atau perilaku), membutuhkan kekaguman, dan kurangnya empati, dimulai dengan awal masa dewasa dan hadir dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh lima (atau lebih) sebagai berikut: 1. secara berlebih merasa dirinya sangat penting (misalnya, melebih-lebihkan prestasi dan bakat, mengharapkan untuk diakui sebagai yang unggul tanpa prestasi sepadan) 2. sibuk dengan fantasi kesuksesan tak terbatas, kekuasaan, kecerdasan, kecantikan, atau kekasih ideal 3. percaya bahwa ia adalah istimewa dan unik dan hanya dapat dipahami oleh, atau harus bergaul dengan orang-orang khusus atau tinggi status lainnya (atau lembaga) 4. membutuhkan pemujaan berlebihan 5. merasa dirinya mempunyai hak istimewa (contoh menuntut agar mendapat perlakuan khusus, atau orang lain harus menurut kehendaknya) 6. tidak memiliki empati: tidak bersedia untuk mengenali atau mengidentifikasi dengan perasaan dan kebutuhan orang lain 7. sering iri kepada orang lain atau percaya bahwa orang lain iri kepadanya 8. bersikap sombong Fitur klinis Orang dengan gangguan kepribadian narsistik memiliki rasa megah diri penting, mereka menganggap diri mereka spesial dan mengharapkan perlakuan khusus. Rasa memiliki hak istimewa mencolok. Mereka tidak dapat menerima kritikan dan mungkin menjadi marah ketika seseorang berani mengkritik mereka, atau mereka mungkin tampak sama sekali tidak peduli terhadap kritik. Orang dengan gangguan ini ingin cara mereka sendiri dan sering ambisius untuk mencapai ketenaran dan keberuntungan.
29

Hubungan mereka yang rapuh, dan mereka dapat membuat orang lain marah dengan penolakan mereka untuk mematuhi aturan-aturan konvensional perilaku. Mereka tidak dapat menunjukkan empati, dan mereka berpura-pura simpati hanya untuk mencapai tujuan egois mereka sendiri. Karena harga diri mereka rapuh, mereka rentan terhadap depresi. Kesulitan interpersonal, masalah pekerjaan, penolakan, dan kehilangan adalah hasil dari perilaku narsistik mereka. Diagnosis Banding Gangguan kepribadian emosional tidak stabil, gangguan kepribadian histrionik, dan antisosial sering menyertai gangguan kepribadian narsistik, sehingga diagnosis diferensial sulit. Pasien dengan gangguan kepribadian narsistik memiliki kecemasan kurang dari mereka dengan gangguan kepribadian emosional tidak stabil; kehidupan mereka cenderung kurang kacau, dan mereka cenderung untuk mencoba bunuh diri. Pasien dengan gangguan kepribadian antisosial memiliki riwayat perilaku impulsif, sering dikaitkan dengan alkohol atau penyalahgunaan zat lainnya, yang sering membuat mereka menjadi bermasalah dengan hukum. Pasien dengan gangguan kepribadian histrionik menunjukkan fitur eksibisionisme dan manipulatif interpersonal yang mirip dengan pasien dengan gangguan kepribadian narsisistik. Pengobatan A. Psikoterapi Karena pasien harus meninggalkan narsisme mereka untuk membuat kemajuan, pengobatan gangguan kepribadian narsisistik adalah sulit. Psikiater seperti Kernberg dan Heinz Kohut menganjurkan menggunakan pendekatan psikoanalitik untuk efek berubah, tetapi banyak penelitian diperlukan untuk membuktikan diagnosis dan untuk menentukan pengobatan terbaik. Beberapa dokter menganjurkan terapi kelompok bagi pasien mereka sehingga mereka dapat belajar bagaimana berbagi dengan orang lain dan, dalam keadaan yang ideal, dapat mengembangkan respon empatik kepada orang lain. B. Farmakoterapi Lithium (Eskalith) telah digunakan dengan pasien yang gambaran klinis mencakup perubahan suasana hati. Karena pasien dengan gangguan kepribadian narsistik mentoleransi penolakan secara buruk dan rentan terhadap depresi, antidepresan, obat-obatan terutama serotonergik, juga dapat digunakan.
30

Perjalanan gangguan dan prognosis Gangguan kepribadian narsisistik adalah kronis dan sulit untuk diobati. Pasien dengan gangguan terus-menerus harus berurusan dengan pukulan narsisme mereka yang

dihasilkan dari perilaku mereka sendiri atau dari pengalaman hidup. Penuaan ditangani buruk; pasien menilai keindahan, kekuatan, dan atribut muda, yang mereka pegang teguh tidaklah tepat. Mereka mungkin lebih rentan mengalami krisis setengah baya (midlife crises) daripada kelompok lain.

3.8 GANGGUAN KEPRIBADIAN MENGHINDAR


Definisi : adanya pola perasaan tidak nyaman serta keengganan untuk bergaul secara sosial, rasa rendah diri, hipersensitif terhadap evaluasi negatif. Bersifat pervasif, awitan sejak dewasa muda, nyata dalam pelbagai konteks. Epidemiologi Gangguan kepribadian menghindar adalah umum. Prevalensi gangguan adalah 1 sampai 10 % dari populasi umum. Tidak ada informasi mengenai rasio berdasarkan gender atau pola keluarga. Bayi diklasifikasikan sebagai memiliki temperamen pemalu mungkin lebih rentan terhadap gangguan dibandingkan mereka yang mendapat skor tinggi pada skala pendekatan aktivitas. Fitur klinis Hipersensitif terhadap penolakan oleh orang lain adalah fitur klinis utama dari gangguan kepribadian menghindar, dan sifat kepribadian yang utama pasien adalah timidity. Orang-orang keinginan kehangatan dan keamanan persahabatan manusia, tetapi membenarkan mereka menghindari hubungan karena takut diduga mereka penolakan. Ketika berbicara dengan seseorang, mereka mengungkapkan ketidakpastian, menunjukkan kurangnya kepercayaan diri, dan dapat berbicara dengan cara merendahkan diri. Karena mereka waspada tentang penolakan, mereka takut untuk berbicara di depan umum atau untuk membuat permintaan orang lain. Mereka cenderung salah menafsirkan komentar orang lain 'sebagai merendahkan atau mengejek. Penolakan dari permintaan apapun membuat mereka menarik diri dari orang lain dan merasa terluka.

31

Di bidang pekerjaan, pasien dengan gangguan kepribadian menghindar seringkali mengambil pekerjaan di sela-sela. Mereka jarang mencapai kemajuan pribadi banyak atau otoritas banyak, tapi kelihatan malu dan bersemangat untuk menyenangkan. Orang-orang umumnya tidak memasukkan hubungan kecuali mereka diberi jaminan luar biasa kuat penerimaan tidak kritis. Akibatnya, mereka sering tidak memiliki teman dekat atau kepercayaan. Diagnosa Dalam wawancara klinis, aspek pasien yang paling mencolok adalah kecemasan tentang berbicara dengan seorang pewawancara. Cara mereka gugup dan tegang muncul pasang surut dengan persepsi mereka apakah pewawancara menyukai mereka. Mereka tampaknya rentan terhadap komentar pewawancara dan saran dan mungkin menganggap klarifikasi atau interpretasi sebagai kritik. Kriteria diagnostik untuk gangguan kepribadian menghindar berdasarkan DSM-IV: Sebuah pola pervasif inhibisi sosial, perasaan tidak mampu, dan hipersensitivitas

terhadap evaluasi negatif, dimulai dengan awal masa dewasa dan hadir dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh empat (atau lebih) sebagai berikut: 1. menghindari kegiatan kerja yang melibatkan kontak interpersonal yang signifikan, karena takut kritik, ketidaksetujuan, atau penolakan 2. tidak mau untuk terlibat dengan orang-orang kecuali merasa yakin disukai 3. menunjukkan pengendalian diri dipermalukan atau ditertawakan 4. Kuatir dengan dikritik atau ditolak dalam situasi sosial 5. terhambat dalam interaksi antarpribadi baru karena perasaan tidak mampu 6. Memandang diri sendiri sebagai tidak layak secara sosial, secara pribadi tidak menarik, atau lebih rendah daripada orang lain 7. enggan untuk mengambil risiko pribadi atau untuk terlibat dalam kegiatan yang baru karena mereka mungkin terbukti memalukan dalam hubungan intim karena takut

Diagnosis Banding Pasien dengan gangguan kepribadian menghindar keinginan interaksi sosial, tidak seperti pasien dengan gangguan kepribadian skizofrenia, yang ingin sendirian. Pasien
32

dengan gangguan kepribadian menghindar tidak seperti menuntut, marah, atau tidak terduga seperti yang dengan gangguan kepribadian emosional tidak stabil dan histrionik. Gangguan kepribadian menghindar dan gangguan kepribadian dependen serupa. Pasien dengan gangguan kepribadian dependen yang dianggap lebih takut ditinggalkan atau dicintai dibandingkan dengan gangguan kepribadian menghindar, tetapi gambaran klinis tidak dapat dibedakan. Pengobatan A. Psikoterapi Pengobatan psikoterapi tergantung pada memperkuat aliansi dengan pasien. Sebagai kepercayaan berkembang, terapis harus menyampaikan sikap menerima terhadap ketakutan pasien, terutama takut ditolak. Terapis akhirnya mendorong pasien untuk pindah ke dunia untuk mengambil apa yang dianggap sebagai risiko besar penghinaan, penolakan, dan kegagalan. Tetapi terapis harus berhati-hati ketika memberikan tugas untuk latihan keterampilan sosial baru di luar terapi; kegagalan dapat memperkuat pasien sudah miskin harga diri. Terapi kelompok dapat membantu pasien memahami bagaimana kepekaan mereka terhadap penolakan mempengaruhi mereka dan lain-lain. Pelatihan ketegasan adalah bentuk terapi perilaku yang dapat mengajarkan pasien untuk mengekspresikan kebutuhan mereka secara terbuka dan untuk memperbesar harga diri mereka. B. Farmakoterapi Farmakoterapi telah digunakan untuk mengelola kecemasan dan depresi ketika mereka berhubungan dengan gangguan tersebut. Beberapa pasien yang dibantu oleh -adrenergik reseptor antagonis, seperti atenolol (Tenormin), untuk mengelola hiperaktivitas sistem saraf otonomik, yang cenderung tinggi pada pasien dengan gangguan kepribadian menghindar, terutama ketika mereka mendekati situasi takut. Agen serotonergik dapat membantu sensitivitas penolakan. Secara teoritis, obat dopaminergik bisa menimbulkan hal-hal baru-mencari perilaku pada pasien, namun pasien harus secara psikologis siap untuk setiap pengalaman baru yang mungkin timbul. Perjalanan gangguan dan prognosis Banyak orang dengan gangguan kepribadian menghindar mampu berfungsi di lingkungan yang terlindung. Beberapa menikah, memiliki anak, dan hidup mereka
33

dikelilingi hanya oleh anggota keluarga. Harus mendukung apabila mereka mengalami kegagalan, namun, mereka cenderung mudah mengalami depresi, kecemasan, dan kemarahan. Penghindaran fobia adalah umum, dan pasien dengan gangguan dapat memberikan sejarah fobia sosial atau fobia sosial dikenakan dalam perjalanan penyakit mereka.

3.9 GANGGUAN KEPRIBADIAN DEPENDEN


Definisi : suatu pola perilaku berupa kebutuhan berlebih agar dirinya dipelihara, yang menyebabkan seorang individu berperilaku submisif, bergantung kepada orang lain, dan ketakutan akan perpisahan dengan orang tempat ia bergantung, Besifat pervasif, berawal sejak usia dewasa muda, dan nyata dalam pelbagai situasi. Epidemiologi Gangguan kepribadian dependen lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pada pria. Satu studi didiagnosis 2,5% dari semua gangguan kepribadian jatuh ke dalam kategori ini. Hal ini lebih umum pada anak-anak daripada yang lebih tua. Orang dengan penyakit fisik kronis di masa kecil mungkin paling rentan terhadap gangguan ini. Fitur klinis Gangguan kepribadian dependen ditandai oleh pola perilaku meresap tergantung dan tunduk. Orang dengan gangguan tersebut tidak dapat membuat keputusan tanpa saran dan kepastian dari orang lain dengan jumlah berlebihan. Mereka menghindari posisi tanggung jawab dan menjadi cemas jika diminta untuk mengambil peran kepemimpinan. Mereka lebih suka untuk tunduk. Ketika mereka sendiri, mereka merasa sulit untuk bertahan pada tugas-tugas, tetapi mungkin merasa mudah untuk melakukan tugas-tugas untuk orang lain. Karena orang-orang dengan gangguan tersebut tidak suka sendirian, mereka mencari orang lain pada siapa mereka dapat bergantung; hubungan mereka, dengan demikian, terdistorsi oleh kebutuhan mereka harus terpasang ke orang lain. Dalam folie deux (gangguan psikotik bersama), salah satu anggota pasangan biasanya mengalami gangguan kepribadian dependen; pasangan yang taat mengambil sistem delusi dari mitra, lebih agresif tegas pada siapa dia bergantung.

34

Pesimisme, keraguan diri, pasif, dan ketakutan untuk mengekspresikan perasaan seksual dan agresif semua melambangkan perilaku orang-orang dengan gangguan kepribadian dependen. Pasangan yang kasar, tidak setia, atau alkohol dapat ditoleransi untuk waktu yang lama untuk menghindari mengganggu rasa keterikatan.

Diagnosa Dalam wawancara, pasien tampak penurut. Mereka mencoba untuk bekerja sama, menyambut pertanyaan spesifik, dan mencari bimbingan. Kriteria diagnostik gangguan kepribadian dependen berdasarkan DSM-IV: Sebuah kebutuhan yang luas dan berlebihan harus diambil untuk mengarah ke perilaku tunduk dan kelekatan dan ketakutan pemisahan, dimulai dengan awal masa dewasa dan hadir dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh lima (atau lebih) sebagai berikut: 1. memiliki kesulitan membuat keputusan sehari-hari tanpa saran dan jaminan dari orang lain dalam jumlah yang berlebihan 2. kebutuhan orang lain untuk bertanggung jawab atas bidang utama sebagian besar hidupnya 3. mengalami kesulitan mengekspresikan ketidaksetujuan dengan orang lain karena takut kehilangan dukungan atau persetujuan. 4. mengalami kesulitan memulai proyek-proyek atau melakukan hal-hal sendiri (karena kurangnya kepercayaan diri dalam penilaian atau kemampuan daripada kurangnya motivasi atau energi) 5. usaha berlebihan untuk memperoleh pengasuhan dan dukungan dari orang lain, ke titik sukarela untuk melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan 6. merasa tidak nyaman atau tak berdaya ketika sendirian karena takut yang berlebihan tidak mampu untuk merawat dirinya sendiri 7. segera mencari hubungan lain sebagai sumber perawatan dan dukungan ketika hubungan dekat berakhir 8. preokupasi yang tidak realistis dengan kekhawatiran ditinggal untuk mengurus dirinya sendiri

35

Diagnosis Banding Sifat-sifat ketergantungan ditemukan dalam gangguan kejiwaan banyak, sehingga diagnosis diferensial sulit. Ketergantungan merupakan faktor yang menonjol pada pasien dengan gangguan kepribadian histrionik dan emosional tidak stabil, tetapi mereka dengan gangguan kepribadian dependen biasanya memiliki hubungan jangka panjang dengan satu orang, bukan serangkaian orang pada siapa mereka bergantung, dan mereka tidak cenderung terang-terangan manipulatif. Pasien dengan gangguan kepribadian skizofrenia dan schizotypal dapat dibedakan dari orang-orang dengan gangguan kepribadian menghindar. Perilaku dependen dapat terjadi pada pasien dengan agoraphobia, tapi pasien ini cenderung memiliki tingkat kecemasan tinggi terangterangan atau bahkan panik. Pengobatan A. Psikoterapi Pengobatan gangguan kepribadian dependen sering berhasil. Terapi berdasarkan tilikan memungkinkan pasien untuk memahami anteseden perilaku mereka, dan dengan dukungan dari terapis, pasien dapat menjadi lebih mandiri, tegas, dan mandiri. Terapi perilaku, pelatihan ketegasan, terapi keluarga, dan terapi kelompok semuanya telah digunakan, dengan hasil yang sukses dalam banyak kasus. Sebuah kesulitan mungkin timbul dalam pengobatan ketika terapis mendorong pasien untuk mengubah dinamika hubungan patologis (misalnya, mendukung istri disiksa secara fisik dalam mencari bantuan dari polisi). Pada titik ini, pasien mungkin menjadi cemas dan tidak mampu bekerja sama dalam terapi, mereka mungkin merasa terpecah antara sesuai dengan terapis dan kehilangan hubungan eksternal patologis. Terapis harus menunjukkan rasa hormat besar bagi perasaan dependen pasien, tidak peduli seberapa patologis perasaan ini mungkin tampak. B. Farmakoterapi Farmakoterapi telah digunakan untuk menangani gejala-gejala spesifik, seperti kecemasan dan depresi, yang merupakan fitur yang berhubungan umum dari gangguan kepribadian dependen. Pasien yang mengalami serangan panik atau yang memiliki tingkat kecemasan perpisahan dapat dibantu dengan imipramine (Tofranil). Benzodiazepin dan agen serotonergik juga telah berguna. Jika depresi pasien atau gejala penarikan menanggapi psikostimulan, mereka dapat digunakan.
36

Perjalanan gangguan dan Prognosis Sedikit yang diketahui tentang perjalanan gangguan kepribadian dependen. Berfungsi kerja cenderung dirugikan, karena orang-orang dengan gangguan tersebut tidak dapat bertindak secara independen dan tanpa pengawasan ketat. Hubungan sosial terbatas pada orang-orang pada siapa mereka dapat bergantung, dan banyak menderita pelecehan fisik atau mental karena mereka tidak dapat menyatakan diri mereka sendiri. Mereka risiko gangguan depresi besar jika mereka kehilangan orang pada siapa mereka bergantung, tetapi dengan pengobatan, prognosis menguntungkan.

3.10 GANGGUAN KEPRIBADIAN OBSESIF-KOMPULSIF


Definisi: pola perilaku kontrol berupa mental preokupasi dan dengan keteraturan, interpersonal, peraturan, dengan perfeksionisme, hubungan

mengenyampingkan: fleksibilitas, keterbukaan, efisiensi, bersifat pervasif, awitan sejak dewasa muda nyata dalam pelbagai konteks. Epidemiologi Prevalensi obsesif-kompulsif gangguan kepribadian tidak diketahui. Hal ini lebih sering terjadi pada pria dibandingkan pada wanita dan didiagnosis paling sering pada anak tertua. Gangguan juga terjadi lebih sering pada tingkat pertama keluarga biologis dari orang-orang dengan gangguan daripada populasi umum. Pasien sering memiliki latar belakang disiplin yang keras. Fitur klinis Orang dengan gangguan obsesif-kompulsif kepribadian disibukkan dengan aturan, peraturan, ketertiban, kerapian, rincian, dan pencapaian kesempurnaan. Mereka bersikeras bahwa aturan harus diikuti secara kaku dan tidak bisa mentolerir apa yang mereka anggap pelanggaran. Oleh karena itu, mereka kekurangan fleksibilitas dan tidak toleran. Mereka mampu bekerja lama, asalkan rutin dan tidak memerlukan perubahan yang mereka tidak dapat beradaptasi. Orang dengan gangguan obsesif-kompulsif kepribadian memiliki keterampilan interpersonal yang terbatas. Mereka bersikap formal dan serius dan sering kurang rasa humor. Mereka mengasingkan orang, tidak mampu untuk berkompromi, dan bersikeras
37

bahwa orang lain tunduk kepada kebutuhan mereka. Mereka ingin menyenangkan orang yang mereka lihat sebagai lebih kuat dari mereka, bagaimanapun, dan mereka melaksanakan keinginan orang-orang ini secara otoriter. Karena mereka takut membuat kesalahan, mereka ragu-ragu dan memikirkan tentang membuat keputusan. Meskipun pernikahan yang stabil dan kecukupan pekerjaan umum, orang dengan kepribadian obsesif-kompulsif memiliki beberapa teman. Apa pun yang mengancam untuk mengganggu stabilitas atau rutinitas kehidupan mereka dirasakan dapat memicu kecemasan yang dinyatakan terikat dalam ritual yang mereka paksakan pada kehidupan mereka dan mencoba untuk memaksakannya pada orang lain. Diagnosa Dalam wawancara, pasien dengan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif mungkin memiliki sikap kaku. Afek mereka tidak tumpul atau datar, tetapi dapat digambarkan sebagai yang terbatas. Mereka kekurangan spontanitas, dan suasana hati mereka biasanya serius. Pasien tersebut mungkin cemas tentang tidak terkendali dalam wawancara. Jawaban mereka untuk pertanyaan luar biasa rinci. Mekanisme pertahanan yang mereka gunakan adalah rasionalisasi, isolasi, intelektualisasi, pembentukan reaksi, dan kehancuran. Kriteria diagnostik untuk gangguan kepribadian obsesif-kompulsif : Sebuah pola meresap keasyikan dengan keteraturan, perfeksionisme, dan kontrol mental dan interpersonal dengan mengorbankan fleksibilitas, keterbukaan, dan efisiensi, dimulai dengan awal masa dewasa dan hadir dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh empat (atau lebih) berikut : 1. terpaku terhadap rincian, aturan, daftar, urutan, organisasi, atau jadwal 2. menunjukkan perfeksionisme yang mengganggu penyelesaian tugas 3. teliti, berhati-hati berlebihan dan lebih mengutamakan produktivitas sehingga mengeyampingkan kesenangan dan hubungan interpersonal 4. teliti dan tidak fleksibel tentang hal-hal moral, etika, atau nilai (tidak diperhitungkan dengan identifikasi budaya atau agama) 5. tidak mampu untuk membuang benda-benda usang atau tidak berharga bahkan ketika mereka tidak memiliki nilai 6. enggan untuk mendelegasikan tugas atau bekerja dengan orang lain kecuali mereka tunduk dengan tepatnya atau cara dia melakukan sesuatu

38

7. mengadopsi gaya belanja kikir baik terhadap diri dan orang lain, uang dipandang sebagai sesuatu yang harus ditimbun bagi bencana di masa depan 8. menunjukkan kekakuan dan keras kepala Diagnosa Banding Ketika obsesi berulang atau dorongan yang hadir, obsesif-kompulsif harus dicatat pada Axis I. Mungkin perbedaan yang paling sulit adalah antara pasien rawat jalan dengan beberapa sifat obsesif-kompulsif dan mereka dengan gangguan kepribadian obsesifkompulsif. Diagnosis gangguan kepribadian diperuntukkan bagi mereka dengan gangguan signifikan dalam efektivitas mereka pekerjaan atau sosial. Dalam beberapa kasus, gangguan delusi berdampingan dengan gangguan kepribadian dan harus dicatat. Pengobatan A. Psikoterapi Berbeda pasien dengan gangguan kepribadian lainnya, orang-orang dengan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif sering menyadari penderitaan mereka, dan mereka mencari pengobatan sendiri. Pengobatan sering berlangsung panjang dan rumit. Terapi kelompok dan terapi perilaku kadang-kadang menawarkan keuntungan tertentu. Dalam kedua konteks, mudah untuk menginterupsi pasien di tengah-tengah interaksi atau penjelasan maladaptif mereka. Mencegah penyelesaian perilaku kebiasaan mereka menimbulkan kecemasan pasien dan membuat mereka rentan terhadap strategi belajar mengatasi yang baru. Pasien juga dapat menerima hadiah langsung untuk perubahan dalam terapi kelompok, sesuatu yang kurang sering mungkin dalam psikoterapi individu. B. Farmakoterapi Clonazepam (Klonopin), benzodiazepin dengan penggunaan antikonvulsan, telah mengurangi gejala pada pasien dengan obsesif-kompulsif berat. Clomipramine (Anafranil) dan agen serotonergik seperti fluoxetine, biasanya pada dosis 60 sampai 80 mg sehari, mungkin berguna jika tanda dan gejala obsesif-kompulsif muncul. Nefazodone (Serzone) mungkin mendapat manfaat beberapa pasien.

39

Perjalanan gangguan dan prognosis Perjalanan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif adalah bervariasi dan tak terduga. Dari waktu ke waktu, orang dapat mengembangkan obsesi atau dorongan dalam perjalanan gangguan mereka. Beberapa remaja dengan gangguan kepribadian obsesifkompulsif berkembang menjadi orang dewasa yang hangat, terbuka, dan penuh kasih; pada orang lain, gangguan dapat berupa pertanda skizofrenia pada dekade kemudian dan diperburuk oleh proses penuaan atau gangguan depresi mayor. Orang dengan gangguan obsesif-kompulsif kepribadian dapat berkembang dalam posisi menuntut kerja metodis, deduktif, atau rinci, namun mereka rentan terhadap perubahan yang tak terduga, dan kehidupan pribadi mereka mungkin tetap tidak bertumbuh. Gangguan depresi, terutama onset terlambat, umum terjadi.

3.11 GANGGUAN KEPRIBADIAN YANG TIDAK DITENTUKAN (Not otherwise specified)


Dalam DSM-IV, gangguan kepribadian yang tidak ditentukan dibentuk apabila ada gangguan yang tidak masuk ke salah satu kategori ganguan kepribadian yang telah dijelaskan di atas. Gangguan kepribadian pasif-agresif dan gangguan kepribadian depresif sekarang terdaftar sebagai contoh dari gangguan kepribadian tidak ditentukan. Sebuah spektrum sempit perilaku atau sikap tertentu "seperti oppositionalism, sadisme, atau masochism" juga dapat diklasifikasikan dalam kategori ini. Seorang pasien dengan fitur lebih dari satu gangguan kepribadian tetapi tanpa kriteria lengkap dari setiap gangguan yang dapat diberikan klasifikasi ini. Kategori ini untuk gangguan fungsi kepribadian yang tidak memenuhi kriteria untuk gangguan kepribadian tertentu. Sebuah contoh adalah adanya fitur lebih dari satu gangguan kepribadian tertentu yang tidak memenuhi kriteria penuh untuk gangguan kepribadian seseorang (mixed personality). Tetapi bersama-sama menyebabkan distress klinis signifikan atau gangguan dalam satu atau lebih penting area fungsi (misalnya, sosial atau pekerjaan). Kategori ini juga dapat digunakan ketika hakim dokter bahwa gangguan kepribadian tertentu yang tidak termasuk dalam klasifikasi yang sesuai.

40

3.11.1 GANGGUAN KEPRIBADIAN PASIF-AGRESIF A. Sebuah pola pervasif sikap negatif dan perlawanan pasif terhadap tuntutan untuk kinerja yang memadai, dimulai dengan awal masa dewasa dan hadir dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh empat (atau lebih) sebagai berikut: 1. pasif menolak memenuhi tugas sosial dan pekerjaan rutin 2. mengeluh salah mengerti dan tidak dihargai oleh orang lain 3. cemberut dan argumentatif 4. masuk akal dan scorns mengkritik otoritas 5. mengungkapkan kecemburuan dan kebencian terhadap orang-orang tampaknya lebih beruntung 6. suara berlebihan dan terus-menerus keluhan kemalangan pribadi 7. bergantian antara pembangkangan bermusuhan dan penyesalan

B. Tidak terjadi secara eksklusif selama episode depresi dan tidak lebih baik dicatat oleh gangguan dysthymic.

3.11.2 GANGGUAN KEPRIBADIAN DEPRESIF A. Sebuah pola pervasif kognisi dan perilaku depresif pada awal masa dewasa dan hadir dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh lima (atau lebih) sebagai berikut: 1. suasana hati yang biasa didominasi oleh kepatahan, kelam kabut, murung, ketidakbahagiaan 2. konsep diri pusat sekitar keyakinan tidak mampu, tidak berharga, dan rendah diri 3. sangat penting, menyalahkan, dan menghina terhadap diri sendiri 4. yang merenung dan diberikan kepada khawatir 5. negatif, kritis, dan menghakimi terhadap orang lain 6. pesimis 7. rentan terhadap perasaan bersalah atau menyesal B. Tidak terjadi secara eksklusif selama episode depresi dan tidak lebih baik dicatat oleh gangguan dysthymic.

41

3.11.3 GANGGUAN KEPRIBADIAN SADOMASOKIS Beberapa jenis kepribadian yang ditandai oleh unsur-unsur dari sadisme atau masokisme atau kombinasi keduanya. Gangguan kepribadian sadomasokis yang tercantum di sini karena kepentingan klinis dan sejarah besar dalam psikiatri. Ini bukan kategori diagnostik resmi dalam DSM-IV-TR atau lampirannya, tetapi dapat didiagnosis sebagai gangguan kepribadian ini tidak lain diklasifikasikan.

Sadisme adalah keinginan untuk menyebabkan rasa sakit orang lain dengan menjadi baik seksual melecehkan atau umumnya secara fisik atau psikologis kasar. Ini adalah nama untuk Marquis de Sade, seorang penulis akhir abad ke-18 orang yang mengalami erotika menggambarkan kenikmatan seksual saat menyakiti orang lain. Freud percaya bahwa sadis menangkal kecemasan kastrasi dan mampu untuk mencapai kenikmatan seksual hanya ketika mereka bisa lakukan untuk orang lain apa yang mereka takuti akan dilakukan untuk mereka. Masokisme, nama untuk Leopold von Sacher-Masoch, seorang novelis abad ke19 Jerman, adalah pencapaian kepuasan seksual dengan menimbulkan rasa sakit pada diri. Jadi yang disebut masokis moral yang umumnya mencari penghinaan dan kegagalan daripada sakit fisik. Freud percaya bahwa kemampuan masokis untuk mencapai orgasme terganggu oleh kecemasan dan perasaan bersalah tentang seks, yang dikurangi dengan penderitaan dan hukuman. Pengamatan klinis menunjukkan bahwa unsur-unsur perilaku sadis dan masokis baik biasanya hadir dalam orang yang sama. Pengobatan dengan psikoterapi berorientasi wawasan, termasuk psikoanalisis, telah efektif dalam beberapa kasus. Sebagai hasil dari terapi, pasien menjadi menyadari kebutuhan untuk menghukum diri sendiri sekunder untuk rasa bersalah yang berlebihan sadar dan juga datang untuk mengenali impuls agresif mereka yang direpresi, yang berasal dari anak usia dini.

3.11.4 GANGGUAN KEPRIBADIAN SADISTIK Gangguan kepribadian sadis tidak termasuk dalam DSM-IV-TR, tetapi masih muncul dalam literatur dan mungkin digunakan deskriptif. Dimulai pada awal masa dewasa, orang dengan gangguan kepribadian sadistik menunjukkan pola meresap perilaku kejam, merendahkan, dan agresif yang diarahkan terhadap orang lain. Kekejaman fisik atau kekerasan digunakan untuk menyakiti orang lain, bukan untuk mencapai tujuan
42

lain, seperti perampokan seseorang untuk mencuri. Orang dengan gangguan seperti untuk mempermalukan atau merendahkan orang di depan orang lain dan biasanya diobati atau disiplin orang jarang kasar, terutama anak-anak. Secara umum, orang dengan gangguan kepribadian sadis yang terpesona oleh kekerasan, senjata, cedera, atau penyiksaan. Untuk dimasukkan dalam kategori ini, orang tersebut tidak dapat sematamata didorong oleh keinginan untuk mendapatkan rangsangan seksual dari perilaku mereka, jika mereka begitu termotivasi, paraphilia dari sadisme seksual harus didiagnosis.

4. KESIMPULAN
Gangguan kepribadian digambarkan sebagai gangguan berat kepribadian dan perilaku yang dinilai sebagai suatu bentuk penyimpangan dari pola budaya yang normal. Pedoman diagnostik gangguan kepribadian termasuk gangguan dengan durasi yang lama pada beberapa fungsi, bersifat pervasif dan maladaptif, onset pada masa kecil atau remaja; kelanjutan menjadi dewasa; kepribadian distres yang cukup besar (meskipun kadang-kadang hanya terlihat pada akhir kursus gangguan itu); dan biasanya , tetapi tidak selalu, masalah yang signifikan dalam pekerjaan dan dalam perilaku sosial. Pada seorang individu dengan gangguan kepribadian, terjadi disfungsi dalam hubungan keluarga, pekerjaan, fungsi sosial. Dapat pula berkaitan dengan tindak kriminal, penyalahgunaan zat, pembunuhan, bunuh diri, kecelakaan, perceraian, dan lain-lain. Tatalaksana biasanya sulit karena gangguan ini bersifat pervasif, egosintonik, awitannya sejak dewasa muda (di atas 17 tahun) dan seringkali individu bangga dengan ciri kepribadiannya. Tatalaksana terdiri dari 2 jenis, yaitu psikoterapi (terapi dengan prinsip menyadarkan pasien mengenai dampak gangguan kepribadian yang ia derita) dan psikofarmaka (penggunaan psikotropika yang bersifat pengobatan simptomatis).

43

5. KEPUSTAKAAN
Mangindaan, Lukas. Ed: Elvira, S. D., & Hadisukanto, G. (2010). Buku Ajar Psikiatri: Gangguan Kepribadian. Jakarta: Badan Penerbit FKUI. Hal 329-334. Nevid, Jeffrey S., Rathus, Spencer A., Grenne Beverly. (2003). Psikologi Abnormal. Edisi ke-v. Jakarta: Penerbit Erlangga. Departemen Kesehatan R.I. (1993). Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III. Jakarta: Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. Sadock, B. J., & Sadock, V. A. (2007). Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition. New York: Lippincott William&Wilkins.

44

Anda mungkin juga menyukai