Anda di halaman 1dari 9

BUDIDAYA UBI JALAR

PENDAHULUAN
Tanaman ubi jalar (Ipomoea batatas. Poir) di Indonesia merupakan salah satu tanaman yang cukup penting, baik sebagai makanan pokok alternatif di musim paceklik maupun makanan tambahan dalam rangka diversifikasi makanan. Ubi jalar mengandung air 64,6079,59%, abu 0,92-0,98%., pati 17,06-28,19%, Protein 1,19-2,07%, gula 0,38-0,43%, serat kasar 2,16-5,24% dan beta karoten 17,42-51,20%. Oleh karena itu ubi jalar memegang peranan penting dalam ketahanan pangan masyarakat. Hampir seluruh bagian ubi jalar dapat dimanfaatkan yaitu a) Daun: sayuran, pakan ternak, b) Batang: bahan tanam, pakan ternak, c) Kulit ubi: pakan ternak, d) Ubi segar: bahan makanan, e) Tepung ubi jalar: makanan, f) Pati ubi jalar : fermentasi, pakan ternak, asam sitrat. Di Jepang, ubi jalar dimanfaatkan sebagai bahan pangan tradisional dan dipromosikan setara hamburger dan pizza. Di negara tersebut berbagai makanan berbahan baku ubi jalar banyak dijumpai di toko-toko dan restoran bertarap internasional. Ubi Jalar Cilembu ST 1, sejak lama menembus pasar Singapura, Malaysia, Korea, dan Jepang. Ubi Cilembu ST 1, merupakan salah satu komoditi palawija unggulan di Kabupaten Sumedang, varietas tersebut telah dirilis oleh menteri pertanian pada Tahun 2001. Nama cilembu diambil dari nama daerah asal ubi tersebut diproduksi yaitu Desa Cilembu Kecamatan Pamulihan, ST merupkan singkatan dari Sumedang Tandang, sedangkan angka 1 menunjukan bahwa di Kabupaten Sumedang memiliki varietas lokal ubi jalar lain yang memiliki keunggulan tidak jauh berbeda dengan Cilembu ST 1, namun belum di rilis oleh menteri pertanian. Ubi ini hanya memiliki rasa dan aroma yang khas apabila di tanam di daerah Cilembu dan sekitarnya. Tanaman ubi jalar yang tumbuhnya baik dan tidak mendapat serangan hama penyakit yang berarti (berat) di Kecamatan Pamulihan dapat menghasilkan umbi basah 15-20 ton sedangkan di Kecamatan Rancakalong dapat menghasilkan 20- 25 ton ubi basah per hektar. Keunggulan ubi jalar ini adalah apabila ubi yang telah disimpan lebih dari 10 hari , dimasak dengan cara dioven selama 30-90 menit (bergantung ukuran), bagian tengah umbi akan menghasilkan cairan sangat manis seperti madu. Lebih manisnya ubi jalar cilembu disebabkan kadar gula ubi cilembu lebih tinggi dari ubi jalar lain yaitu ubi mentah mencapai 11-13% dan ubi masak 19-23%, sehingga sangat digemari oleh konsumen Kulit ubi cilembu berwarna putih kekuningan (gading) dengan bentuk umbi bulat memanjang , berbentuk panjang. Ubi ini memiliki keunikan lain yaitu tidak mengakibatkan gangguan perut meskipun dimakan sebelum sarapan.

MANFAAT TANAMAN
Di beberapa daerah tertentu, ubi jalar merupakan salah satu komoditi bahan makanan pokok. Ubi jalar merupakan komoditi pangan penting di Indonesia dan diusahakan penduduk mulai dari daerah dataran rendah sampai dataran tinggi. Tanaman ini mampu beradaptasi di daerah yang kurang subur dan kering. Dengan demikian tanaman ini dapat diusahakan orang sepanjang tahun.

Ubi jalar dapat diolah menjadi berbagai bentuk atau macam produk olahan. Beberapa peluang penganeka-ragaman jenis penggunaan ubi jalar dapat dilihat berikut ini: a) Daun: sayuran, pakan ternak b) Batang: bahan tanam,pakan ternak c) Kulit ubi: pakan ternak d) Ubi segar: bahan makanan e) Tepung: makanan f) Pati: fermentasi, pakan ternak, asam sitrat

BUDIDAYA TANAMAN A. Pembibitan


Tanaman ubi jalar dapat diperbanyak secara generatif dengan biji dan secara vegetatif berupa stek batang atau stek pucuk. Perbanyakan tanaman secara generatif hanya dilakukan pada skala penelitian untuk menghasilkan varietas baru. 1. Persyaratan Bibit Bahan tanaman (bibit) berupa stek pucuk atau stek batang harus memenuhi syarat sebagai berikut:

Bibit berasal dari varietas Cilembu ST Bahan tanaman berumur 2 bulan atau lebih. Bahan tanaman (stek) dapat berasal dari tanaman produksi dan dari tunas-tunas ubi yang secara khusus disemai atau melalui proses penunasan. Perbanyakan tanaman dengan stek batang atau stek pucuk secara terus-menerus cenderung menurunkan hasil pada generasi-generasi berikutnya. Oleh karena itu, setelah 3-5 generasi perbanyakan harus diperbaharui dengan cara menanam atau menunaskan umbi untuk bahan perbanyakan.

2. Penyiapan Bibit

Pilih tanaman ubi jalar yang sudah berumur 2 bulan atau lebih, pertumbuhannya sehat dan normal tidak terlalu subur. Stek dipotong sepanjang 25-30 cm atau 3-4 ruas, diambil dari ujung batang atau cabang dan maksimal 3 stek untuk setiap cabang atau batang bagian tanaman bibit, pemotongan menggunakan pisau yang tajam, dan dilakukan pada pagi Setelah dipotong, bibit direndam dalam larutan fungisida dengan konsentrasi 2 g/L larutan selama 5 menit

Pengolahan Tanah a) Penyiapan Lahan Tegalan


Bersihkan lahan dari rumput-rumput liar (gulma) Olahan tanah dengan cangkul atau bajak hingga gembur sambil membenamkan rumput-rumput liar Biarkan tanah kering selama minimal 1 minggu Buat guludan-guludan dengan ukuran lebar bawah 60 cm, tinggi 30-40 cm, jarak antar guludan 70-100 cm, dan panjang guludan disesuaikan dengan keadaan lahan Rapikan guludan sambil memperbaiki saluran air.

b) Penyiapan Lahan Sawah Bekas Tanaman Padi


Babat jerami sebatas permukaan tanah Tumpuk jerami secara teratur menjadi tumpukan kecil memanjang berjarak 1 meter antar tumpukan Olah tanah di luar bidang tumpukan jerami dengan cangkul atau bajak, kemudian tanahnya ditimbunkan pada tumpukan jerami sambil membentuk guludan. Ukuran guludan adalah lebar bawah 60 cm, tinggi 40 cm, lebar atas 40 cm ( untuk ukuran

guludan dengan jarak antara gulud 100 cm ) sedangkan untuk jarak antar guludan 80 cm digunakan ukuran lebar bawah 50 cm, lebar atas 30 cm, tinggi guludan 30 cm Rapikan guludan sambil memperbaiki saluran air antar guludan. Pembuatan guludan di atas tumpukan jerami atau sisa-sisa tanaman dapat menambah bahan organik tanah yang berpengaruh baik terhadap struktur dan kesuburan tanah sehingga ubi dapat berkembang dengan baik dan permukaan kulit ubi rata. Kelemahan penggunaan jerami adalah pertumbuhan tanaman ubi jalar pada bulan pertama sedikit menguning, namun segera sembuh dan tumbuh normal pada bulan berikutnya.

Bila jerami tidak digunakan sebagai tumpukan guludan, tata laksana penyiapan lahan sebagai berikut :

Babat jerami sebatas permukaan tanah Singkirkan jerami ke tempat lain untuk dijadikan bahan kompos Olah tanah dengan cangkul atau bajak hingga gembur Biarkan tanah kering selama minimal satu minggu Buat guludan-gululudan berukuran lebar bawah 60 cm, tinggi 35 cm dan jarak antar guludan 80-100 cm. Rapikan guludan sambil memperbaiki saluran air antar guludan.

Hal yang penting diperhatikan dalam pembuatan guludan adalah ukuran tinggi tidak melebihi 40 cm. Guludan yang terlalu tinggi cenderung menyebabkan terbentuknya ubi berukuran panjang dan dalam sehingga menyulitkan pada saat panen. Sebaliknya, guludan yang terlalu dangkal dapat menyebabkan terganggunya pertumbuhan atau perkembangan ubi, dan memudahkan serangan hama boleng Cylas sp.

Teknik Penanaman

Penanaman ubi jalar di lahan kering dilakukan pada awal musim hujan (Oktober), atau awal musim kemarau (Maret) bila keadaan cuaca normal. Dilahan sawah, waktu tanam yang paling tepat adalah segera setelah padi rendengan atau padi gadu, yakni pada awal musim kemarau Penanaman stek dilakukan pagi hari, setelah direndam dalam larutan fungisida, stek sebaiknya searah ( menghadap ke timur ) agar pertumbuhan tanaman menjadi searah Stek ditanam miring pada guludan, dengan 1/2-2/3 bagian masuk ke dalam tanah. Jarak tanam 30-40 cm Pada tiap bedengan ditanam 2 deretan dengan jarak kira-kira 30-40 cm.

Pemeliharaan Tanaman
1. Penyulaman Selama 3 (tiga) minggu setelah ditanam, penanaman ubi jalar harus diamati kontinu, terutama bibit yang mati atau tumbuh secara abnormal. Bibit yang mati harus segera disulam. Cara menyulam adalah dengan mencabut bibit yang mati, kemudian diganti dengan bibit yang baru. Penyulaman sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari, pada saat sinar matahari tidak terlalu terik dan suhu tidak terlalu panas. Bibit (setek) untuk penyulaman sebelumnya dipersiapkan atau ditanam ditempat yang teduh. 2. Penyiangan Pada sistem tanam tanpa mulsa jerami, lahan biasanya mudah ditumbuhi rumput liar (gulma) yang merupakan pesaing dalam pemenuhan kebutuhan akan air, unsur hara, dan sinar matahari. Oleh karena itu, gulma harus segera disiangi. Bersamaan dengan penyiangan dilakukan pembumbunan, yaitu menggemburkan tanah guludan, kemudian ditimbunkan pada guludan tersebut.

Pengendalian gulma dilakukan secara manual menggunakan kored dan cangkul pada umur 2 minggu setelah tanam (MST), 5 MST, dan 8 MST atau dilakukan tergantung dari keadaan rumput Tata cara penyiangan dan pembumbunan sebagai berikut:

Bersihkan rumput liar (gulma) dengan kored atau cangkul secara hati-hati agar tidak merusak akar. Gemburkan tanah disekitar guludan dengan cara memotong lereng guludan, kemudian tanahnya diturunkan ke dalam saluran antar guludan. Timbunkan kembali tanah ke guludan semula, kemudian lakukan pengairan hingga tanah cukup basah

3. Pemupukan Pemupukan bertujuan menggantikan unsur hara yang terangkut saat panen, menambah kesuburan tanah, dan menyediakan unsur hara bagi tanaman. Sebaiknya lahan dipupuk dengan pupuk organik baik pepuk kandang maupun kompos dengan dosis 10.000 - 20.000 ton/ha. Dosis pupuk yang tepat harus berdasarkan hasil analisis tanah atau tanaman di daerah setempat. Sebagai acuan dosis pupuk/ha yang dianjurkan adalah : - 100 kg N ( 200-250 kg Urea) - 50 Kg P2O5 ( 100-150 kg TSP/SP-36) - 200 kg K2O ( 300-350 kg KCL) Pemberian pupuk dilakukan dalam larikan dengan jarak garitan 10 cm dari lubang setek sedalam 5 cm. Waktu pemupukan sebagai berikut: - Saat tanam : Urea diberikan 1/3 takaran, SP-36, KCL diberikan seluruhnya pada saat tanam. - Umur 6 minggu setelah tanam ; Urea 1/3 dari takaran - Umur 12 minggu setelah tanam ; Urea 1/3 dari takaran 4. Pembalikan batang dan pucuk Pembalikan batang dan pucuk bertujuan untuk meningkatkan hasil umbi, pembalikan dan pengangkatan batang dilakukan tiap 3 minggu sekali, sebab pada tanaman yang pertumbuhannya subur dalam waktu satu bulan akan menjalar sepanjang 1-1,5 m. Bila batang terus dibiarkan menjalar di atas tanah dengan segera akan tumbuh akar di ketiak-ketiak daun. Akar akan membentuk umbi-umbi kecil yang mengurangi cadangan makanan bagi umbi di batang utama. Pembalikan batang dimaksudkan untuk mematikan akar yang tumbuh pada ketiak daun.

5. Pemangkasan Tanaman yang terlalu subur perlu dipangkasan sebab tanaman yang daunya terlalu rimbun akan mengurangi hasil umbi. Pemangkasan dilakukan dengan menggunakan pisau tajam. Mengenai berapa daun yang harus dibuang tidak bisa ditentukan kapasitasnya karena sangat tergantung pada keadaan tanaman. Pemangkasan dilakukan pada sulur-sulur yang merayap dalam saluran di sela-sela bedengan. Hasil pemangkasan dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak. 6. Pengairan dan Penyiraman Meskipun ubi jalar tahan kekeringan, fase awal pertumbuhan memerlukan air tanah yang memadai.

Seusai tanam, guludan diairi selama 15-30 menit hingga tanah cukup basah, kemudian airnya dibuang. Pengairan berikutnya masih diperlukan secara kontinu hingga tanaman berumur 1-2 bulan.

Pada periode pembentukan dan perkembangan ubi, yaitu umur 2-3 minggu sebelum panen, pengairan dikurangi atau dihentikan. Waktu pengairan yang paling baik pagi atau sore hari. Di daerah yang sumber airnya memadai, pengairan dapat dilakukan kontinu seminggu sekali. Hal yang penting diperhatikan dalam pengairan adalah menghindari agar tanah tidak terlalu becek (air menggenang).

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT A. Hama a) Penggerek Batang Ubi Jalar Stadium hama yang merusak tanaman ubi jalar adalah larva (ulat). Cirinya adalah membuat lubang kecil memanjang (korek) pada batang hingga ke bagian ubi. Di dalam lubang tersebut dapat ditemukan larva (ulat). Gejala: terjadi pembengkakan batang, beberapa bagian batang mudah patah, daun-daun menjadi layu, dan akhirnya cabang-cabang tanaman akan mati. Pengendalian: (1) rotasi tanaman untuk memutus daur atau siklus hama; (2) pengamatan tanaman pada stadium umur muda terhadap gejala serangan hama: bila serangan hama >5%, perlu dilakukan pengendalian secara kimiawi; (3) pemotongan dan pemusnahan bagian tanaman yang terserang berat; (4) penyemprotan insektisida yang mangkus dan sangkil, seperti Curacron 500 EC atau Matador 25 dengan konsentrasi yang dianjurkan. b) Hama Boleng atau Lanas Serangga dewasa hama ini (Cylas formicarius Fabr.) berupa kumbang kecil yang bagian sayap dan moncongnya berwarna biru, namun toraknya berwarna merah. Kumbang betina dewasa hidup pada permukaan daun sambil meletakkan telur di tempat yang terlindung (ternaungi). Telur menetas menjadi larva (ulat), selanjutnya ulat akan membuat gerekan (lubang kecil) pada batang atau ubi yang terdapat di permukaan tanah terbuka. Gejala: terdapat lubang-lubang kecil bekas gerekan yang tertutup oleh kotoran berwarna hijau dan berbau menyengat. Hama ini biasanya menyerang tanaman ubi jalar yang sudah berubi. Bila hama terbawa oleh ubi ke gudang penyimpanan, sering merusak ubi hingga menurunkan kuantitas dan kualitas produksi secara nyata. Pengendalian: (1) pergiliran atau rotasi tanaman dengan jenis tanaman yang tidak sefamili dengan ubi jalar, misalnya padi-ubi jalar-padi; (2) pembumbunan atau penimbunan guludan untuk menutup ubi yang terbuka; (3) pengambilan dan pemusnahan ubi yang terserang hama cukup berat; (4) pengamatan/monitoring hama di pertanaman ubi jalar secara periodik: bila ditemukan tingkat serangan > 5 %, segera dilakukan tindakan pengendalian hama secara kimiawi; (5) penyemprotan insektisida yang mangkus dan sangkil, dengan konsentrasi yang dianjurkan; (6) penanaman jenis ubi jalar yang berkulit tebal dan bergetah banyak; (7) pemanenan tidak terlambat untuk mengurangi tingkat kerusakan yang lebih berat. c) Tikus (Rattus rattus sp) Hama tikus biasanya menyerang tanaman ubi jalar yang berumur cukup tua atau sudah pada stadium membentuk ubi. Hama Ini menyerang ubi dengan cara mengerat dan memakan daging ubi hingga menjadi rusak secara tidak beraturan. Bekas gigitan tikus menyebabkan infeksi pada ubi dan kadang-kadang diikuti dengan gejala pembusukan ubi. Pengendalian: (1) sistem gerepyokan untuk menangkap tikus dan langsung dibunuh; (2) penyiangan dilakukan sebaik mungkin agar tidak banyak sarang tikus disekitar ubi jalar; (3) pemasangan umpan beracun, seperti Ramortal atau Klerat. B. Penyakit a) Kudis atau Scab Penyebab: cendawan Elsinoe batatas. Gejala: adanya benjolan pada tangkai serta urat daun, dan daun-daun berkerut seperti kerupuk. Tingkat serangan yang berat menyebabkan daun tidak produktif dalam melakukan fotosintesis sehingga hasil ubi menurun bahkan tidak menghasilkan sama sekali. Pengendalian: (1) pergiliran/ rotasi tanaman untuk memutus siklus hidup penyakit; (2) penanaman ubi jalar bervarietas tahan penyakit kudis, seperti daya dan gedang; (3) kultur teknik budi daya secara intensif; (4) penggunaan bahan tanaman (bibit) yang sehat.

b) Layu fusarium Penyebab: jamur Fusarium oxysporum, F. batatas. Gejala: tanaman tampak lemas, urat daun menguning, layu, dan akhirnya mati. Cendawan fusarium dapat bertahan selama beberapa tahun dalam tanah. Penularan penyakit dapat terjadi melalui tanah, udara, air, dan terbawa oleh bibit. Pengendalian: (1) penggunaan bibit yang sehat (bebas penyakit); (2) pergiliran /rotasi tanaman yang serasi di suatu daerah dengan tanaman yang bukan famili; (3) penanaman jenis atau varietas ubi jalar yang tahan terhadap penyakit Fusarium. c) Virus Beberapa jenis virus yang menyerang tanaman ubi jalar adalah Internal Cork, Chlorotic Leaf Spot, Yellow Dwarf. Gejala: pertumbuhan batang dan daun tidak normal, ukuran tanaman kecil dengan tata letak daun bergerombol di bagian puncak, dan warna daun klorosis atau hijau kekuning-kuningan. Pada tingkat serangan yang berat, tanaman ubi jalar tidak menghasilkan. Pengendalian: (1) penggunaan bibit yang sehat dan bebas virus; (2) pergiliran/rotasi tanaman selama beberapa tahun, terutama di daerah basis (endemis) virus; (3) pembongkaran/eradikasi tanaman untuk dimusnahkan. d) Penyakit Lain-lain Penyakit-penyakit yang lain adalah, misalnya, bercak daun cercospora oleh jamur Cercospora batatas Zimmermann, busuk basah akar dan ubi oleh jamur Rhizopus nigricans Ehrenberg, dan klorosis daun oleh jamur Albugo ipomeae pandurata Schweinitz. Pengendalian: dilakukan secara terpadu, meliputi perbaikan kultur teknik budi daya, penggunaan bibit yang sehat, sortasi dan seleksi ubi di gudang, dan penggunaan pestisida selektif.

PANEN
1. Ciri dan Umur Panen Tanaman ubi jalar dapat dipanen bila ubi-ubinya sudah tua (matang fisiologis). Ciri fisik ubi jalar matang, antara lain: bila kandungan tepungnya sudah maksimum, ditandai dengan kadar serat yang rendah dan bila direbus (dikukus) rasanya enak serta tidak berair. Penentuan waktu panen ubi jalar didasarkan atas umur tanaman. Jenis atau varietas ubi jalar berumur pendek (genjah) dipanen pada umur 3-3,5 bulan, sedangkan varietas berumur panjang (dalam) sewaktu berumur 4,5-5 bulan. Panen ubi jalar yang ideal dimulai pada umur 3 bulan, dengan penundaan paling lambat sampai umur 4 bulan. Panen pada umur lebih dari 4 bulan, selain resiko serangan hama boleng cukup tinggi, juga tidak akan memberikan kenaikan hasil ubi. 2. Cara Panen Tata cara panen ubi jalar melalui tahapan sebagai berikut:

Tentukan pertanaman ubi jalar yang telah siap dipanen. Potong (pangkas) batang ubi jalar dengan menggunakan parang atau sabit, kemudian batang-batangnya disingkirkan ke luar petakan sambil dikumpulkan. Galilah guludan dengan cangkul hingga terkuak ubi-ubinya. Ambil dan kumpulkan ubi jalar di suatu tempat pengumpulan hasil. Bersihkan ubi dari tanah atau kotoran dan akar yang masih menempel. Lakukan seleksi dan sortasi ubi berdasarkan ukuran besar dan kecil ubi secara terpisah dan warna kulit ubi yang seragam. Pisahkan ubi utuh dari ubi terluka ataupun terserang oleh hama atau penyakit. Masukkan ke dalam wadah atau karung goni, lalu angkut ke tempat penampungan (pengumpulan) hasil.

PASCAPANEN
1. Pengumpulan Hasil panen dikumpulkan di lokasi yang cukup strategis, aman dan mudah dijangkau oleh angkutan. Pemilihan atau penyortiran ubi jalar dapat dilakukan pada saat pencabutan berlangsung atau setelah semua pohon dicabut dan ditampung dalam suatu tempat. Penyortiran dilakukan untuk memilih umbi berdasarkan warna kulit umbi kecacatan, ukuran umbi, bentuk serta bercak hitam/garis- garis pada daging umbi.

2. Penyimpanan Penyimpanan ubi jalar cilembu selain ditujukan untuk mempertahankan daya simpan, juga bertujuan agar umbi lebih manis. Penyimpanan ubi yang paling baik dilakukan dalam pasir atau abu dengan cara sebagai berikut:

Angin-anginkan ubi yang baru dipanen di tempat yang berlantai kering selama 2-3 hari. Siapkan tempat penyimpanan berupa ruangan khusus atau gudang yang kering, sejuk, dan peredaran udaranya baik. Tumpukkan ubi di lantai gudang, kemudian timbun dengan pasir kering atau abu setebal 20-30 cm hingga semua permukaan ubi tertutup. Cara penyimpanan ini dapat mempertahankan daya simpan ubi sampai 5 bulan. Ubi jalar yang mengalami proses penyimpanan dengan baik biasanya akan menghasilkan rasa ubi yang manis dan enak bila dibandingkan dengan ubi yang baru dipanen. Hal yang penting dilakukan dalam penyimpanan ubi jalar adalah melakukan pemilihan ubi yang baik, tidak ada yang rusak atau terluka, dan tempat (ruang) penyimpanan bersuhu rendah antara 27-300C (suhu kamar) dengan kelembapan udara antara 85-90%. Penyimpanan juga dapat dilakukan pada rak-rak atau menghindari penyimpanan umbi di lantai secara langsung atau dalam keranjang bambu dengan alas berupa abu atau pasir kering dan Penyimpanan ubi pada para-para ( rak bambu ) yang diletakan dekat dapur

ANALISIS USAHATANI UBI JALAR


Analisis Biaya Biaya tetap adalah biaya yang besar kecilnya tidak dipengaruhi oleh besar kecilnya produksi dan sifatnya tidak habis dalam satu kali proses produksi, sedangkan biaya variabel adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh besar kecilnya produksi dan sifatnya habis dalam satu kali proses produksi. Rata-rata biaya produksi usahatani ubi jalar per hektar per satu kali musim tanam untuk lebih jelasnya disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Rata-rata Biaya Produksi pada Usahatani Ubi Jalar per Hektar per Satu Kali Musim Tanam Tahun 2010 Jumlah Biaya No Komponen Biaya (Rupiah) 1 Biaya Tetap : -PBB 150.000 -Penyusutan Alat 96.250 -Bunga Modal (8%) 19.700 Biaya Tetap Total 265.950 2 Biaya Variabel : Sarana Produksi - Benih 500.000 - Urea 440.000 - TSP 117.500 - KCL 260.000 - Pupuk Kandang 100.000 - Pestisida 100.000 - Karung 160.000 Jumlah Biaya Sarana Produksi 1.677.500 - Tenaga Kerja 5.060.000 - Bunga Modal 8% 539.000 Biaya Variabel Total 7.276.500 Biaya Total 7.542.450 Biaya tetap yang dihitung dalam usahatani ubi jalar meliputi PBB ( Pajak Bumi Bangunan), penyusutan alat dan bunga modal. Rata-rata besarnya biaya tetap adalah Rp. 265.950 per hektar per satu kali musim tanam. Sedangkan biaya variabel yang dihitung meliputi biaya sarana produksi, tenaga kerja, dan bunga modal besarnya biaya variabel yang

dikeluarkan oleh petani ubi jalar adalah Rp. 7.276.500 dan biaya total adalah penjumlahan biaya variabel dengan biaya tetap sehingga biaya totalnya adalah Rp. 7.542.450. Penerimaan Usahatani Ubi Jalar Penerimaan diperoleh dari jumlah seluruh produk ubi jalar yang dihasilkan dikalikan dengan harga satuan, hasil penelitian penerimaan yang diperoleh oleh petani dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Rata-rata Produksi, Harga Jual dan Penerimaan pada Usahatani Ubi Jalar per Satu kali Proses Produksi per Hektar per Satu Kali Musim Tanam Tahun 2010 No Uraian Satuan Jumlah 1 Produksi Kg 11.000 2 Harga Jual Rp/Kg 1.850 3 Penerimaan Rp 20.350.000 Tabel 4 menunjukkan bahwa rata-rata produksi ubi jalar per hektar per satu kali musim tanam adalah 11.000 kg dengan harga jual ubi jalar adalah Rp. 1.850 per kilogram, maka penerimaan usahatani ubi jalar adalah Rp. 20.350.000 Pendapatan Usahatani Ubi Jalar Pendapatan adalah selisih antara penerimaan dengan biaya produksi total. Pendapatan ushatani ubi jalar dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Rata-rata Produksi Harga Jual dan Penerimaan pada Usahatani ubi jalar per Satu kali Proses Produksi per Hektar per Satu Kali Musim Tahun 2010 Jumalah No Uraian (Rp) 1 Penerimaan 20.350.000 2 Biaya Total 7.542.450 3 Pendapatan 12.807.550 Berdasarkan Tabel 5 besarnya biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 7.542.450 dan diperoleh penerimaan sebesar Rp. 20.350.000 sehingga pendapatan petani dari usahatani ubi jalar adalah sebesar Rp. 12.807.550. Saluran Pemasaran Ubi Jalar Saluran pemasaran merupakan jembatan antara petani dengan konsumen akhir yang melalui berbagai tingkatan lembaga pemasaran. Saluran pemasaran yang dilalui sangat berpengaruh terhadap keuntungan yang diterima oleh masing-masing lembaga pemasaran yang terlibat dalam penyaluran produksi ubi jalar. Lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran ubi jalar dari petani sampai ke tangan konsumen akhir adalah pedagang pengumpul, pedagang besar, serta pedagang pengecer. Berdasarkan hasil penelitian pemasaran ubi jalar di Kabupaten Ciamis rata-rata terdiri dari tiga saluran pemasaran seperti yang terlihat pada Gambar 1 berikut ini : saluran pemasaran 1, ubi jalar sebelum sampai kepada konsumen terlebih dahulu melalui pedagang pengumpul, kemudian melalui pedagang besar dan pedagang eceran. Pada saluran pemasaran 2 ubi jalar dijual kepada konsumen melalui pedagang pengumpul kemudian kepada pedagang besar. Dan pada saluran 3, ubi jalar yang dijual petani kepada konsumen terlebih dahulu melalui pedagang pengumpul. Pengolahan Ubi Jalar Produksi ubi jalar sangat melimpah saat musim panen raya. Berdasarkan hukum ekonomi nilai jual komoditas ini akan menurun, karena supply akan lebih besar daripada demand. Untuk itu perlu dilakukan terobosan agar nilai jual komoitas ini tetap stabil sepanjang tahun. Sampai saat ini pemanfaatan ubi jalar masih terbatas sebagai bahan pangan yang dikonsumsi secara langsung, Melalui diversifikasi produk menjadi produk olahan pangan seperti kue basah, kue kering, keripik dan lain-lain, pemasaran ubi jalar dapat sedikit

diperluas. Akan tetapi, potensi ubi jalar dapat lebih dikembangkan lagi apabila produk ini dapat diolah menjadi bahan setengah jadi atau bahan baku bagi industri lain. Produk-produk ini lebih memiliki nilai ekonomis karena dapat memiliki umur simpan yang relative lebih baik dari ubijalar segar atau produk olahan pangan. Selain itu juga dapat memiliki pangsa pasar yang jauh lebih besar karena dapat diperdagangkan antar propinsi bahkan sebagai komoditas ekspor. Akan tetapi untuk dapat mengolah ubijalar menjadi produkproduk ini diperlukan teknologi pengolahan dan alat pengolah yang tepat. Beberapa industri di daerah sentra penghasil ubijalar telah mulai mengolah ubi jalar menjadi tepung. Tepung ubijalar dapat dimanfaaatkan sebagai bahan baku bagi pembuatan kue kering, kue basah, mi, bahan aditif dan lain-lain. Pembuatan tepung ubijalar ini sangat prospektif, mengingat tepung ubijalar dapat dijadikan sebagai bahan substitusi tepung terigu yang masih merupakan produk impor. Tepung Ubi Beberapa industri di daerah sentra penghasil ubi jalar telah mulai mengolah ubi jalar menjadi tepung. Tepung ubijalar dapat dimanfaaatkan sebagai bahan baku bagi pembuatan kue kering, kue basah, mie, bahan aditif dan lain-lain. Pembuatan tepung ubijalar ini sangat prospektif, mengingat tepung ubijalar dapat dijadikan sebagai bahan substitusi tepung terigu yang masih merupakan produk impor. Proses Pembuatan Tepung Ubi Proses pembuatan tepung ubi meliputi: Pengupasan dan dipotong-potong seperti keripik (penyawutan) Di rendam dengan larutan sodium bisulfit Pengepresan Pengeringan kadar air sampai 12-14%, dapat dilakukan dengan dijemur dibawah sinar matahari atau menggunakan mesin pengering Sawut yang sudah kering dihaluskn menjadi tepung menggunakan mesin tepung, kemudian diayak. Strategi dan Kebijakan Produksi Ubi Jalar Strategi pengembangan produksi ubi jalar mencakup strategi pada subsistem hulu, subsistem produksi, subsistem hilir, dan subsistem penunjang. Pengembangan uubi jalar dapat berhasil apabila didukung dengan kebijakan. Dengan adanya kebijakan diharapkan dapat mencapai sasaran pembangunan produksi ubi jalar. Pembangunan tanaman pangan merupakan tugas yang menantang karena sangat dinamis. Adanya perubahan iklim dan cuaca akan memicu masyarakat tani bergerak mencari benih, pupuk dan sarana penunjang lainnya, meskipun itu diluar rencana dan pola tanam. Dukungan kebijakan yang diperlukan antara lain adalah: Pembinaan organisasi petani dan keterampilan SDM petani. Memberikan penyuluhan teknologi inovasi dan kelembagaan yang berkaitan dengan budidaya, peningkatan produktivitas, optimalisasi lahan dan pengolahan hasil industri. Membantu petani ubi jalar dalam mengakses permodalan, dengan adanya kelembagaan jasa permodalan, seperti koperasi atau kemitraan yang memberi pinjaman modal kepada petani dengan bunga rendah tanpa agunan. Kelembagaan untuk menjamin ketersediaan dan kualitas benih, perlu dibangun Dibangunya infrastruktur pertanian secara umum, seperti pembukaan lahan, pembuatan jalan dan fasilitas lainnya.

1. 2. 3. 4. 5.

1. 2. 3.

4. 5.