Anda di halaman 1dari 8

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penyakit menular seksual, atau PMS adalah berbagai infeksi yang dapat menular dari satu orang ke orang yang lain melalui kontak seksual. Menurut the Centers for Disease Control (CDC) terdapat lebih dari 15 juta kasus PMS dilaporkan per tahun. Kelompok remaja dan dewasa muda (15-24 tahun) adalah kelompok umur yang memiliki risiko paling tinggi untuk tertular PMS, 3 juta kasus baru tiap tahun adalah dari kelompok ini. Contohnya saja gonore. Gonore adalah penyakit menular seksual (PMS) yang disebabkan oleh Bakteri Neisseria gonorrhoeae. Masa inkubasinya adalah 2-10 hari setelah kuman masuk kedalam tubuh melalui hubungan seksual. Penyakit ini mempunyai insidens yang tinggi dibanding penyakit menular seksual lainnya. Infeksi ini ditularkan melalui hubungan seksual, dapat juga ditularkan kepada janin pada saat proses kelahiran berlangsung. Walaupun semua golongan rentan terinfeksi penyakit ini, tetapi insidens tertingginya berkisar pada usia 15-35 tahun. Di antara populasi wanita pada tahun 2000, insidens tertinggi terjadi pada usia 15 -19 tahun (715,6 per 100.000) sebaliknya pada laki-laki insidens rata-rata tertinggi terjadi pada usia 20-24 tahun (589,7 per 100.000). Epidemiologi N. gonorrhoeae berbeda pada tiap tiap negara berkembang. Beberapa PMS dapat berlanjut pada berbagai kondisi seperti Penyakit Radang Panggul (PRP), kanker serviks dan berbagai komplikasi

kehamilan. Sehingga, pendidikan mengenai penyakit ini dan upaya-upaya pencegahan penting untuk dilakukan

B. Tujuan Tujuan dari penyusunan makah ini adalah untuk : 1. 2. 3. Memperoleh gambaran tentang gonore Mengetahui penyebab terjadinya gonore Mengetahui cara pengobatan gonore

BAB II PEMBAHASAN

A. Definisi Gonore adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae yang menginfeksi lapisan dalam uretra, leher rahim, rektum dan tenggorokan atau bagian putih mata (konjungtiva) dan bagian tubuh yang lain.

B. Epidemiologi Infeksi ini ditularkan melalui hubungan seksual, dapat juga ditularkan kepada janin pada saat proses kelahiran berlangsung. Walaupun semua golongan rentan terinfeksi penyakit ini, tetapi insidens tertingginya berkisar pada usia 15-35 tahun. Di antara populasi wanita pada tahun 2000, insidens tertinggi terjadi pada usia 15 -19 tahun (715,6 per 100.000) sebaliknya pada laki-laki insidens rata-rata tertinggi terjadi pada usia 20-24 tahun (589,7 per 100.000). Epidemiologi N. gonorrhoeae berbeda pada tiap tiap negara berkembang. Di dunia diperkirakan terdapat 200 juta kasus baru setiap tahunnya.

C. Etiologi Gonore disebabkan oleh gonokok yang dimasukkan ke dalam kelompok Neisseria, sebagai Neisseria Gonorrhoeae. Gonokok termasuk golongan diplokok berbentuk biji kopi dengan lebar 0,8 u, panjang 1,6 u, dan bersifat tahan asam. Kuman ini juga bersifat negatif-Gram, tampak di luar dan di dalam leukosit, tidak tahan lama di udara bebas, cepat mati pada keadaan kering, tidak tahan suhu di atas 39 derajat C, dan tidak tahan zat desinfektan. Daerah yang paling mudah terinfeksi adalah dengan mukosa epitel kuboid atau lapis gepeng yang belum berkembang (imatur), yakni pada vagina wanita sebelum pubertas.

D. Gambaran klinik 1. Masa tunas sulit untuk ditemukan karena pada umumnya asimtomatik, gejala awal bisa timbul pada waktu 7-21 hari setelah terinfeksi 2. Pada wanita, penyakit akut atau kronik jarang ditemukan gejala subjektif dan objektifnya. 3. 4. Infeksi pada wanita, pada mulanya henya mengenai serviks uteri Keluhan: kadang-kadang menimbulkan rasa nyeri pada panggul bawah, demam, keluarnya cairan dari vagina, nyeri ketika berkemih dan desakan untuk berkemih. 5. Pada pemeriksaan serviks tampak merah dengan erosi dan sekret mukopurulen, duh tubuh akan terlihat lebih banyak, bila terjadi servitis akut.

E. Komplikasi 1. Infeksi pada serviks (servisitis gonore) 2. Salpingitis (penyakit radang panggul) 3. Infertilitas 4. Infeksi pada uretra dapat terjadi para uretritis 5. Pada kelenjar Bartholin (bartholinitis) 6. Adanya kemungkinan lahir prematur, infeksi neonatal dan keguguran akibat infeksi gonokokkus pada wanita hamil 7. Adanya sepsis pada bayi baru lahir karena gonore pada ibu

Pada janin dan bayi baru lahir 1. Kebutaan, untuk mencegah kebutaan, semua bayi yang lahir di rumah sakit biasanya diberi tetesan mata untuk pengobatan gonore 2. Pembengkakan pada kedua kelopak matanya dan dari matanya keluar nanah 3. Penyakit sistemik seperti meningitis dan arthritis sepsis pada bayi yang terinfeksi pada proses persalinan.

Komplikasi diseminata pada pria dan wanita dapat berupa artritis, miokarditis,endokarditis, perikarditis, meningitis dan dermatitis. Wanita dan pria homoseksual yang melakukan hubungan seksual melalui anus (lubang dubur) bisa menderita gonore pada rektumnya. Penderita merasakan tidak nyaman di sekitar anusnya dan dari rektumnya keluar cairan. Daerah di sekitar anus tampak merah dan kasar, tinjanya terbungkus oleh lendir dan nanah. Pada pemeriksaan dengan anaskop akan tampak lendir dan cairan di dinding rektum penderita. Melakukan hubungan seksual melalui mulut (oral sex) dengan seorang penderita gonore bias menyebabakn gonore pada tenggorokan (faringitis gonokokal). Biasanya infeksi ini tidak menimbulkan gejala, tetapi kadang menyebabkan nyeri tenggorokan dan gangguan menelan. Jika cairan yang terinfeksi mengenai mata maka bisa terjadi infeksi mata luar (konjungtivitis gonore).

F. Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis dan pemeriksaan pembantu. Serta biakan atau pemerikasaan gen hasilnya positif. Pemeriksaan Khusus 1. Eksudat untuk diplokok intraselular gram-negatif 2. Biakan pada media khusus 3. Pemeriksaan antibodi fluoresensi 4. Biakan dan kanalis ani pada pria homoseksual 5. Biakan dan serviks pada wanita 6. Biakan dan faring pada kasus-kasus yang dicurigai terjadi kontak orogenital 7. Tes serologik untuk sifilis

G. Pengobatan Pada wanita hamil tidak dapat diberikan obat golongan kuinolon dan tetrasiklin. Yang direkomendasikan adalah pemberian obat golongan sefalosporin (Seftriakson 250 mg IM sebagai dosis tunggal). Jika wanita hamil alergi terhadap penisilin atau sefalosporin tidak dapat ditoleransi

sebaiknya diberikan Spektinomisin 2 gr IM sebagai dosis tunggal. Pada wanita hamil juga dapat diberikan Amoksisilin 2 gr atau 3 gr oral dengan tambahan probenesid 1 gr oral sebagai dosis tunggal yang diberikan saat isolasi N. gonorrhoeae yang sensitive terhadap penisilin. Amoksisilin direkomendasikan unutk pengobatan jika disertai infeksi C. trachomatis.

H. Pencegahan 1. Tidak melakukan hubungan seksual baik vaginal, anal dan oral dengan orang yang terinfeksi 2. Pemakaian Kondom dapat mengurangi tetapi tidak dapat menghilangkan sama sekali risiko penularan penyakit ini 3. Hindari hubungan seksual sampai pengobatan antibiotik selesai. 4. Sarankan juga pasangan seksual kita untuk diperiksa guna mencegah infeksi lebih jauh dan mencegah penularan 5. Pengendalian penyakit menular seksual ini adalah dengan meningkatkan keamanan kontak seks dengan menggunakan upaya pencegahan.

I.

Gonorre dalam kehamilan Gonorea tidak mempengaruhi kehamilan, baru pada persalinan dan nifas dapat menimbulkan penyulit. Gonorea dalam kehamilan biasanya dijumpai dalam bentuk menahun, dan 60-80% kasus adalah asimptomatik sehingga ia tidak mengetahui bahwa menderita penyakit; ada kalanya terjadi peningkatan dalam kehamilan yang dapat disertai kolpitis dan vulvitis; atau infeksi laten menjadi nyata. Sering pula oftalmia neonatorum menjadi petunjuk pertama bahwa ibu menderita gonorea. Adanya poliartitis dalam kehamilan trimester kedua atau ketiga harus dipikirkan adanya kemungkinan arthritis gonoroika. Apabila terjadi infeksi dalam kehamilan lebih dari 4 minggu, jalannya penyakit tidak berbeda dari infeksi di luar kehamilan. Dalam hal ini maupun pada penyakit menahun, penjalaran ke atas dapat terjadi setelah abortus dan partus, yang dapat menyebabkan endometritis, endosalpingitis, dan

pelvioperitonitis pasca asbortus, dan dalam nifas. Karena itu, tidak jarang

dijumpai kemandulan dengan satu anak (one child sterility) pada penderita atau bekas penderita gonorea. Diagnosis gonorea akut dalam kehamilan tidak sulit bila dijumpai : 1. Gejala-gejala klinik, seperti disuria, uretritis, servisitis, fluor albus berupa nanah encer agak kuning atau kuning-hijau, dan kadang-kadang bartholinitis akut atau vulvokolpitis. 2. Pemeriksaan laboraturium dengan sedian apus getah uretra dan getah kanalis servikalis yang dipulas dengan Methylene blue atau menurut gram : terdapat banyak sel nanah dan banyak diplokokus intra dan ekstraseluler. Apabila hasilnya negative atau meragukan, maka sebaiknya dilakukan pembiakan. Juga pada gonorea kronik pemeriksaan apus saja tidak mempunyai arti banyak; pembiakan merupakan cara pemeriksaan yang paling baik. Tidak boleh dilupakan bahwa suami juga diperiksa, dan koitus dilarang selama suami istri belum sembuh benar. Konjungtivitis gonoroika neonatorum (blenorrhoea neonatorum), bukan penyakit congenital, melainkan infeksi terjadi dalam persalinan waktu kepala melewati jalan lahir, dan mata bayi bersentuhan dengan bagian-bagian yang mengandung gonokokkus. Pengobatan dengan penicillin biasanya memberi hasil yang

memuaskan, kecuali dalam kasus-kasus yang resisten. Yang dianjurkan adalah Procain penicillin G dalam larutan air sekali suntik sebanyak 4,8 juta satuan, kanan dan kiri separuh-separuh. Johnson, dkk (1970) melaporkanhasil yang baik dengan pemberian Amphisilin per oral dalam dosis tunggal sebanyak 3,5 kg. Apabila penderita tidak tahan penicillin, dapat diberikan eritromisin 4 kali sehari 0,5 gr selama 5-10 hari, atau suntikan kanamisin dalam dosis tunggal (1g kanan dan 1 g kiri), seperti dilaporkan oleh Shapiro dan Lorentz (1970). Pemeriksaan klinik dan laboraturium perlu diulang 3 hari atau lebih setelah pengobatan selesai. Apabila penyakitnya kambuh, maka penderita harus diobati lagi, dengan dosisi 2 kali lipat. Untuk mencegah kemumgkinan blenorrhea neonatorum semua neonatus kedua matanya harus diberi salep Erythrimycin atau Chloromycetin. Seorang ibu yang menderita gonorrhea dapat tetap menyusui bayinya.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Gonore adalah salah satu PMS yang sering dilaporkan. 40% penderita akan mengalami Penyakit Radang Panggul (PRP) jika tidak diobati, dan hal tersebut dapat menyebabkan kemandulan. Gonore adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae. Gonore mempengaruhi baik laki-laki maupun perempuan yang ditularkan melalui hubungan seksual vaginal, oral maupun anal dan dapat masuk ke dalam uretra, anus, tenggorokan, cerviks (leher rahim) atau rahim. Orang bisa juga mendapatkan infeksi dari mata. Pada lakilaki gejala yang timbul berupa terjadi uretritis, keluar cairan seperti nanah dari penis, uretra meradang, perih saat buang air kecil, terjadi epididimitis. Sedangkan pada perempuan akan timbul gejala berupa terjadi cervicitis, keluar cairan seperti nanah dari vagina, nyeri saat buang air kecil, susah buang air kecil, menstruasi pendarahan. Pemeriksaan untuk gonore dilakukan dengan mengambil sampel dari cervix atau penis bila melakukan hubungan seksual oral diambil sampel dari tenggorokan dan mengambil contoh urine. Pencegahan untuk penyakit gonore yaitu melakukan seks yang aman dengan menggunakan kondom. Mengobati gonore dengan menggunakan antibiotik. Rehabilitasi yang dilakukan dengan sikap kepatuhan penderita terhadap pengobatan, konsultasi ke klinik kesehatan seksual, serta dukungan dan simpati dari mitra seksual. Gonore jika didiagnosis dini dan pengobatan tepat dan segera menghasilkan prognosis baik, tetapi bila telah sampai pada tahap lanjut memberikan prognosis buruk. B. Saran Sebagai seorang tenaga medis khususnya bidan harus mampu membentuk suatu manajemen yang baik agar permasalahan permasalahan kesehatan pada pasien yang terkhusus pada ibu hamil dapat diatasi dengan baik. Sehingga menciptakan kenyamanan dan memberikan kesejahteraan bagi pasien atau klien.

DAFTAR PUSTAKA

Farrer, Helen. 1999. Perawatan Maternitas Edisi ke 2. EGC : Jakarta

Wiknjosastro, Hanifa.Prop.dr.SpOg. 2007. Ilmu Kebidanan Edisi ke 2. YAYASAN BINA PUSTAKA SARWONO PRAWIROHARDJO : Jakarta Wiknjosastro, Hanifa.Prop.dr.SpOg. 2007. Ilmu Kebidanan Edisi ke 3. YAYASAN BINA PUSTAKA SARWONO PRAWIROHARDJO : Jakarta