Anda di halaman 1dari 10

DISTRIBUSI ODONATA BERAZASKAN KEARIFAN LOKAL DENGAN SISTEM MINA PADI DI DESA MANIK RAMBUNG, SUMATERA UTARA

Ameilia Zuliyanti Siregar Fakultas Agroekoteknologi Universitas Sumatera Utara dan Pelajar Pasca Sarjana Universiti Sains Malaysia zuliyanti@yahoo.com, azsyanti@gmail.com

ABSTRAK Budidaya minapadi, salah satu optimalisasi potensi lahan sawah irigasi dengan teknologi tepat guna dilakukan di Desa Manik Rambung-Simalungun, Sumatera Utara. Distribusi Odonata tertinggi dari jenis Agriocnemis femina, Orthetrum sabina dan Pantala flavescens, sedangkan yang terendah dicatat pada Ichtinogomphus decoratus, Acisoma panarpodes, dan Potamarcha congener. Adapun nilai keanekaragaman Shannon-Wiener, Simpson, nilai keragaman R dan E dari Odonata dengan empat kali minapadi diaplikasi dikaitkan dengan kedua musim (hujan dan kemarau) nilainya bervariasi. Pengukuran parameter fisik dan kimia (pH, suhu, kedalaman air, kandungan oksigen terlarut, BOD, kadar phosphate, nitrate, ammoniak, dan sedimen ferum) sangat mempengaruhi kehidupan ikan mas dengan sistem minapadi. Ikan mas yang dipelihara dengan sistem minapadi menghasilkan berat ikan antara 0.50 1.5 kg, bahkan ada beberapa ikan mencapai berat 3 kg. Semua ikan yang dipelihara dikonsumsi keluarga petani dan sebagian dijual sebagai pendapatan tambahan. Ketahanan pangan dengan sistem integrated farming melalui minapadi yang berkonsepkan perpaduan tiga pengelolaan, yaitu integrated crop management (pengelolaan tanaman terpadu), integrated pest mnagement (pengelolaan hama terpadu), dan integrated nutrient management (pengelolaan hara terpadu) berasakan kearifan lokal hendaknya ditumbuhkembangkan dan dilestarikan di Indonesia. Kata kunci: distribusi, Odonata, arif lokal, minapadi, Manik Rambung

PENDAHULUAN Tujuan Pembangunan Nasional diantaranya adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia melalui peningkatan pendapatan petani. Salah satu optimalisasi potensi lahan sawah irigasi dan peningkatan pendapatan petani adalah dengan merekayasa lahan menggunakan teknologi tepat guna. Cara yang dapat dilakukan yaitu mengubah sistem monokultur ke sistem diversifikasi pertanian, melalui budidaya minapadi. Dengan adanya pemeliharaan ikan di persawahan, selain dapat meningkatkan keragaman hasil pertanian, bertambahnya pendapatan petani, meningkatkan kesuburan tanah dan air, juga dapat mengurangi hama penyakit pada tanaman padi. Budidaya mina padi juga merupakan solusi terbaik dalam menghadapi perubahan iklim yang ekstrim saat sekarang ini. Teknik budidaya minapadi terdiri dari dua pola yang bisa dilakukan sekaligus dalam satu musim tanam, yaitu pola penyelang dan pola tumpang sari. Metode penyelang pemeliharaan ikan di sawah menjelang penanaman padi sambil menunggu hasil semaian padi untuk dapat ditanam seperti yang dilakukan petani di Desa Manik Rambung, Kabupaten Simalungun. Sedangkan pola tanam tumpang sari adalah pemeliharaan ikan/udang bersama padi pada satu hamparan sawah seperti yang banyak dilakukan petani di Kabupaten Serdang Bedagai dan Kabupaten Langkat. Sistem usaha tani minapadi telah dikembangkan di Indonesia sejak satu abad yang lalu (Ardiwinata, 1987; Afrianto dan Evi, 1998). Pada awalnya sistem budidaya minapadi dikenal di China lebih dari 1700 tahun yang lalu. Minapadi mulai diterapkan di Thailand lebih dari 200 tahun yang lalu (Fedoruk and Leela Patra, 1992). Di Indonesia, praktek minapadi mulai dikenal sebelum tahun 1860 di Ciamis, Jawa Barat (Koesoemadinata and Costa-Pierce, 1992). Pengembangan minapadi kedaerah Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera Utara, dan Sumatera Selatan, Sulawesi Utara, Bali, dan Lombok dibawa oleh pelajar (santri), pedagang, dan pegawai pemerintahan (Fagi, et. al., 1992). Pengembangan minapadi saat ini memungkinkan seiring dengan pengembangan sistem irigasi persawahan didorong oleh peran dan kebijakan pemerintah. Pada tahun 1934, pengembangan minapadi banyak diarahkan ke daerah-daerah di luar Pulau Jawa. Pada tahun 1950-an, budidaya minapadi telah menyebar di Pulau-Pulau di Indonesia. Pada masa ini luas pertanaman mina padi mencapai 50.000 ha dengan rata-rata produksi 100 kg/ha/thn. Luas pertanaman padi meningkat pesat pada tahun 1960-1969, dan menurun pada tahun 1974-1979 seiring dengan diterapkannya program intensifikasi pertanian oleh pemerintah yang dikenal dengan program Panca Usaha Tani dalam program BIMAS oleh Departemen Pertanian. Namun pada tahun 1980-1984, areal pertanaman padi meingkat pesat mencapai 137.384 ha pada tahun 1982. Hampir semua daerah pengembangan minapadi berloaksi di Jawa. Pada tahun 1985, luas pertanaman padi di Jawa mencapai 69% dan Sumatera 15% dari total pertanaman padi di Indonesia. Produksi perikanan dari minapadi pada tahun 1975-1985 mencapai peningkatan sekitar 200% pada hampir seluruh wilayah di Indonesia. Selain menyediakan pangan sumber karbohidrat, sistem ini juga menyediakan protein sehingga cukup baik untuk meningkatkan mutu makanan penduduk di pedesaan (Syamsiah et.al . ,1988). Dengan teknologi yang tepat, minapadi dapat memberi pendapatan yang cukup tinggi dan sumber protein tambahan keluarga bagi para petani. Keuntungan yang didapat dari usaha tani mina padi berupa peningkatan produksi padi dan ikan, mengurangi penggunaan pestisida, pupuk anorganik, penyiangan dan pengolahan tanah (Suriapermana dan Syamsiah,1995). Mina padi merupakan suatu kegiatan pemeliharaan ikan di sawah dimana bentuk sawah dibuat sedemikian rupa sehingga membuat ikan layak hidup. Pada lahan sawah, untuk pemeliharaan ikan dibuatkan sebuah kamalir di sisi kolam ataupun dibuat ditengah kolam yang fungsinya untuk tempat pemeliharaan ikan.Ikan yang dipelihara di sawah untuk ukuran benih sangat bagus karena pada sawah banyak makanan alami yang dihasilkan yang secara langsung dapat membantu pertumbuhan ikan. Selain pakan alami ikan perlu juga diberi pakan buatan berupa dedak ubi kayu, sayuran, atau pellet agar dicapai pertumbuhan yang optimum. Bagaimana sebenarnya perkembangan budidaya minapadi di Indonesia sehingga menjadi salah satu strategi budidaya perikanan dalam meningkatkan produksi budidaya perikanan secara nasional? Berdasarkan data statistik budidaya perikanan Indonesia yang dipublikasi oleh Direktorat Jenderal Budidaya Perikanan, sebagian besar daerah Indonesia sudah mengambangkan budidaya minapadi. Sebagian besar ikan yang dibudidayakan
2

adalah ikan mas dan ikan nila, walaupun sebenarnya tidak terbatas hanya dari kedua komoditas tersebut. Komoditas ikan lain yang dapat dibudidayakan dengan metode ini, antara lain: nilem, tawes, lele, mujaer, gurame, dan udang galah. Jika dillihat berdasarkan data tahun 2009, produksi total budidaya mina padi terbesar adalah provinsi Jawa Barat sebesar 31.784 ton, diikuti dengan Provinsi Jawa Timur sebesar 11.879 dan Sumatera Selatan sebesar 10.660 ton. Budidaya minapadi sangat berkembang di pulau Jawa dan Sumatera, didukung pulau-pulau lainnya. Namun masa sekarang ini pola pertanaman minapadi terbatas hanya beberapa kawasan di Sumatera Utara, termasuk yang masih sering dijumpai di Simalungun, Serdang Bedagai, Deli Serdang dan Langkat. Teknik budidaya mina padi ini sebenarnya tidak sulit. Yang perlu diperhatikan dalam pembudidayaan ikan dengan teknik budidaya mina padi ini adalah jenis padi dari varietas unggul dan jenis ikan yang mempunyai daya serap dan nilai ekonomis tinggi. Pemilihan jenis ikan juga perlu memperhatikan ketersedian air, benih, pakan dan pangsa pasar dari ikan yang dipelihara dan akan dijual nantinya. Potensi pengembangan budidaya mina padi masih sangat luas. Data potensi yang dirilis oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, secara nasional pemanfaatan lahan untuk budidaya mina padi hanya sebesar 127.944 hektare dari luas lahan potensial sebesar 1.538.379 hektare. Jadi tingkat pemanfaatan lahan untuk budidaya sawah baru sekitar 8,3 persen. Oleh karenanya, Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Ditjen Budidaya Perikanan menggalakkan program budidaya mina padi untuk menunjang target produksi budidaya perikanan pada tahun 2014. Tujuan sistim mina padi dilakukan di Desa Manik Rambung, sumatera Utara adalah untuk: 1) Mendukung peningkatan produksivitas lahan. 2) Meningkatan pendapatan petani. 3) Meningkatan kualitas makanan bagi masyarakat. Banyak keuntungan yang didapat menggunakan teknik budidaya mina padi ini, antara lain yaitu: 1. Lahan sawah menjadi subur dengan adanya kotoran ikan yang mengandung berbagai unsur hara. 2. Mengurangi penggunaan pupuk. 3. Ikan dapat juga membatasi tumbuhnya tanaman lain yang bersifat kompetitor dengan padi dalam pemanfaatan unsur hara. 4. Mengurangi biaya penyiangan tanaman liar. 5. Meningkat produktivitas padi sebesar 10%. Dalam kajian ilmiah yang dilakukan oleh Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar Bogor menunjukan bahwa penerapan budidaya mina padi dapat meningkatkan pendapatan sebesar 20%.

PERSYARATAN MEMBUAT MINA PADI Adapun persyaratan utama yang dibutuhkan dalam membuat mina padi adalah: 1) Petakan sawah mempunyai pematang keliling yang kuat, dapat menahan air dan tidak bocor. Lebar pematang 30-50 cm dan tingginya 40-50 cm. 2) Saluran pemasukan dan pengeluaran dilengkapi dengan saringan (kawat, bambu dan lainnya). 3) Bentuk parit atau kemalir dan lebarnya disesuaikan dengan luas petakan sawah, yaitu2-3 %. Dalam kemalir adalah 20-30 cm. Berbagai bentuk kemalir dilihat pada gambar 1 dan gambar 2 berikut ini.

Gambar 1. Contoh desain caren (kemilir) dan pematang

Gambar 2. Desain dan kostruksi parit di minapadi (Koesoemadinata and Costa-Pierce, 1992) 4) Penanaman padi aturannya disesuaikan dengan ketentuan 10 (sepuluh) unsur paket teknologi, yaitu:

a. Pengelolaan tanah meliputi: pembabatan jerami, pembajakan, pencangkulan, pemerataan permukaan tanah. penggenangan, dan perbaikan pematang, b. Tataguna air yang sesuai dengan jumlah dan waktu kebutuhan tanaman dan diatur secara bergiliran. c. Menggunakan benih padi berlabel biru dan memilih yang tahan terhadap genangan air. d. Pemupukan berimbang, dimana dosis per hektar adalah UREA (200 kg), TSP (100 kg),KCL (75 kg), dan ZA(100 kg). e. Pengendalian hama secara terpadu tanpa membahayakan kehidupan ikan. f. Pengaturan jarak tanam, pada musim hujan adalah 30 x 15 cm dan 22 x 22 cm untuk musim kemarau. Tiap rumpun padi terdiri dari 3 batang. g. Pengaturan pola tanam bertujuan untuk memotong siklus hidup hama.h. Pergiliran varietas padi yang ditanam.
4

i. Penen dan pascapanen yang meliputi waktu panen, cara panen, perontokan, pembersihan, pengeringan dan penyimpanan. j. Penggunaan pupuk pelengkap cair atau zat pengatur tumbuh. 5) Penanaman ikan. a. Jenis ikan yang paling umum dipelihara adalah ikan mas. b. Penebaran ikan dilakukan lebih kurang 4 hari setelah penanaman padi. c. Padat penebaran ikan : * ukuran (2-3) cm sebanyak 2-3 ekor/m2, *ukuran (3-5) cm sebanyak 1-2 ekor/m2. d. Pemberian makanan tambahan dapat berupa dedak sebanyak 2-4 kg/ha/hari.

PRODUKSI IKAN Produksi ikan yang dapat dicapai setelah 30-40 hari pada masa pemeliharaan adalah: 1) Benih (2-3) cm dengan derajat kelangsungan hidup (RS) 50-65 % ukuran yang dicapai(3-5) cm. 2) Benih (3-5) cm, SR nya 60-70 % dan ukuran yang dicapai (5-8) cm. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan mina padi adalah sebagai berikut: 1. Pemilihan Benih a. Benih padi (Varietas : Ciherang sesuai dengan kebutuhan benih (25 kg/ha), Umur bibit 15-21 hari dan sistem tanam jajar Legowo 2:1). b. Benih ikan Kriteria: ikan yang memiliki pertumbuhan cepat, disukai konsumen, nilai ekonominya tinggi, tahan terhadap perubahan lingkungan dan diutamakan yang tidak berwarna cerah untuk menghindari serangan hama terutama hama burung. Jenis ikan : nila, mas, gurame (ukuran 5-8 cm) dan bawal (ukuran 2 inchi). 2. Persemaian a. Persemaian seluas 5% luas lahan yang akan ditanami. b. Tanah diolah sempurna, diratakan, bersih dari rumput. c. Dibuat bedengan-bedengan selebar 2-4 m. d. Pemeliharaan persemaian seperti pada cara tanam padi biasa. e. Umur persemaian 15-21 hari. 3. Persiapan Lahan a. Pembersihan lahan dari gulma dan sisa-sisa tanaman b. Pengolahan tanah Tanah diolah sempurna (2 kali bajak dan 2 kali garu), dengan kedalaman olah 15-20 cm. Bersamaan dengan pengolahan tanah dilaksanakan perbaikan pintu pemasukan/pengeluaran dan perbaikan pematang, jangan sampai bocor. c. Pembuatan caren Caren berfungsi sebagai tempat pelindungan ikan pada saat aplikasi pupuk ataupengendalian hama penyakit. Pembuatan caren palang dan melintang pada saat pengolahan tanah terakhir, lebar 1m dengan kedalaman 30 cm. Pada titik persilangan dibuat kolam pengungsian ukuran 1x1 m dengan kedalaman 30cm.Pada setiap pintu pemasukan dan pengeluaran air pada setiap petakan dipasangsaringan kawat dan slat pengatur tinggi permukaan air menggunakan bambu.

4. Penanaman padi Cara tanam adalah jajar legowo 2:1. (setiap dua barisan tanam terdapat lorong selebar 40 cm, jarak antar barisan 20 cm, tetapi jarak dalam barisan lebih rapat yaitu10 cm). Untuk mengatur jarak tanam, digunakan caplak ukuran mata 20 cm. Pada jajar legowo 2:1 dicaplak kearah memanjang saja. Penanaman padi dilaksanakan pada saat bibit berumur 17 hari. Setiap rumpun terdiri dari 2-3 batang. 5. Penebaran benih ikan Waktu : tanaman padi berumur 10-15 HST (setelah penyiangan pertama danpemupukan dasar) pada sore atau pagi hari. Jumlah benih ikan mas: 1000 ekor. 6. Pengaturan air a. Pengaturan air macak-macak dilakukan pada saat tanam sampai 3-4 HST. b. Tinggi air cukup 3-5 cm dari permukaan tanah. c. Pengaturan air macak-macak juga dilakukan pada saat aplikasi pupuk dasar dansusulan. Pintu pemasukan dan pengeluaran air pada saat aplikasi pupuk supayaditutup agar pupuk tidak hanyut terbawa air. d. Setelah 10-15 HST (sesudah penyiangan dan pemupukan susulan pertama) air dimasukkan mengikuti pertumbuhan tanaman. e. Pada pintu pemasukan dan pengeluaran air dipasang saringan dari kawat atauanyaman bambu untuk mencegah keluarnya ikan yang dipelihara dan mencegah ikanliar masuk ke dalam petakan. f. Pada pintu pengeluaran air perlu dipasang pelimpasan air untuk menahan air sesuaidengan kebutuhan dan membuang air yang berlebihan pada saat terjadi hujan 7. Pemupukan a. Pemupukan Dasar Pupuk kandang/kotoran ayam : 1-2 t/ha sebagai pupuk dasar diberikan sesudah pengolahan tanah. Pemupukan N (Urea) dengan bagan warna daun (BWD). Takaran pupuk :berdasarkan rekomendasi pupuk setempat. Takaran pupuk P dan K : berdasarkan kadar atau status hara P dan K tanah. Untuktanah dengan kandungan P rendah, takaran pupuk : 125 kg SP-36/ha. Untuk tanahdengan status P tinggi takaran pupuk : 50 kg/ha. Pupuk P diberikan pada saat tanamatau paling lambat pada umur 3 minggu. Pupuk K hanya diperlukan pada tanah yang mengandung hara K rendah yangdiberikan sekaligus pada saat tanam bersamaan dengan pemberian pupuk Urea danSP-36 sebagai pupuk dasar atau paling lambat pada umur 40 hari atau menjelangfase primordia.b) Pemupukan SusulanPupuk susulan berupa 50 kg/ha Urea, diberikan 2 minggu kemudian dengan cara ditebar. b. Penyiangan gulma Penyiangan dilakukan pada umur 10-15 HST dan selanjutnya tergantung keadaan gulma. 8. Pemeliharaan ikan (pemberian pakan, pengelolaan air dan pengawasan hama) Pemberian pakan : setelah 3 hari ikan di petakan sawah. Jenis pakan : pakan apung dengan kadar protein 28-32%. Cara pemberian pakan : ad libitum (pemberian pakan dihentikan setelah ikanberkurang nafsu makannya). Periode pemberian pakan : 2 kali sehari (pagi dan sore hari). Setelah ikan berumur 2-3 minggu, pupuk kandang kembali diberikan dengan caraditebar. Dosis 0,25 kg/m2). Pakan komersial yang digunakan sebanyak 500 kg Sistem pemeliharaan mina padi adalah ikan dipelihara bersama 30 hari dan benihikan mencapai ukuran 30-40 ekor/kg dari waktu tanaman hingga penyiangan pertama atau kedua.
6

9. Pengendalian hama dan penyakit Pengendalian hama penyakit dilakukan dengan sistem periodik. Pestisida digunakan seminimal mungkin. Ikan yang dipelihara merupakan predator bagi serangga hama padi, sehinggaserangan hama dapat terkendali dengan baik. 10. Panen Saat panen yang paling tepat adalah ketika 90% gabah menguning. Panen ikan dilakukan 10 hari sebelum panen padi dengan cara mengeringkanpetakan sawah terlebih dahulu kemudian ikan ditangkap secara perlahan-lahan. Manakala sistem minapadi yang digunakan di Desa Manik Rambung adalah pola penyelang, dimana menunggu benih padi dibudidayakan, petani mengairi sawahnya dan memelihara ikan sebagai salah satu cara menambah pendapatan keluarga petani.

HASIL DAN PEMBAHASAN Data yang dikumpulkan pada empat kali sistem minapadi di Desa Manik Rambung diaplikasi menunjukkan bahwa distribusi Odonata tertinggi dari jenis Agriocnemis femina, Orthetrum sabina dan Pantala flavescens, sedangkan yang terendah dicatat pada Ichtinogomphus decoratus, Acisoma panarpodes, dan Potamarcha congener seperti tabel 1 berikut ini:
Tabel 1. Distribusi Odonata Dengan Sistem Minapadi di Desa Manik Rambung, Sumatera Utara

Suborder/familes/species
Zygoptera/Coenagrionidae Argiocnemis rubescens Agriocnemis femina A. pygmaea Ischnura senegalensis
Pseudagrion microcephalum

Sampling 1
1.53 29.45 12.88 7.06 1.53 0.92 0.00 0.00 0.00 1.54 1.54 0.61 0.92 27.30 0.31 13.80 0.00 0.00 0.61 53.37 46.63

Sampling 2
0.97 23.19 10.63 6.76 0.00 0.48 0.97 0.97 1.93 2.41 0.97 2.90 0.48 29.95 2.90 11.11 0.48 0.97 1.93 43.00 57.00

Sampling 3
1.82 16.36 9.09 8.18 2.73 0.91 0.91 0.00 0.00 5.44 0.91 3.64 0.91 21.82 0.91 21.82 0.00 0.91 3.64 40.00 60.00

Sampling 4
2.39 12.35 3.98 8.37 1.20 0.40 1.59 0.00 0.00 6.37 0.80 7.57 1.99 19.52 0.40 25.90 0.00 0.40 6.77 30.28 69.72
7

P. pruinosum P. rubriceps Anisoptera/Gomphidae Ichtinogomphus decoratus Libellulidae Acisoma panarpoides Crocothemis servilia Diplocoides trivialis Neurothemis ramburii N.terminata Orthetrum sabina O.testaceum Pantala flavescens Potamarcha congener Trithemis aurora Tholymis tillarga Zygoptera Anisoptera

Adapun nilai keanekaragaman Odonata dari keempat kali masa tanam dengan minapadi yang dikaitkan dengan kedua musim (hujan dan kemarau) ditunjukkan pada gambar 3 berikut ini.
H' D R2 E

3.5 3 2.5 Scores of Indices 2 1.5 1 0.5 0 Wet 1 Dry 1 Site A Wet 2 Dry 2

Gambar 3. Nilai indeks keanekaragaman Shannon-Wiener and Simpson and nilai indeks keragaman R dan E di Desa Manik Rambung, Sumatera Utara.

Sedangkan nilai parameter kualitas air (fisik dan kimia) seperti tertera pada tabel 2 berikut ini:
Tabel 2. Parameter Fisik-Kimia (Rerata Standard Error) Minapadi di Desa Manik Rambung Parameter Kawasan Peyampelan Lokasi N25352.4 dan E 970226.3 Posisi diatas permukaan laut (m) 612 Kedalaman air (m) 24.39 0.069 pH 7.25 0.235 Suhu air (C) 26.70 0.245 Kandungan Oksigen Terlarut (mg/l) 6.12 0.125 Kandungan BOD (mg/l) 2.50 0.051 Nitrate (mg/l) 11.11 0.227 Phosphate (mg/l) 6.69 0.137 Ammonia-N (mg/l) 0.09 0.002 Sedimen Fe (mg/l) 0.84 0.017

Adapun jenis ikan yang dipelihara dengan sistem minapadi di Desa Manik Rambung adalah ikan mas Cyprinus carpio yang dipelihara selama dua bulan sambil menunggu benih padi dikembangkan dan diberi pakan ikan yaitu cacahan ubi dan sayuran. Ikan mas yang dipelihara dengan sistem minapadi menghasilkan berat ikan antara 0.50 1.5 kg, bahkan ada beberapa ikan mencapai berat 3 kg. Semua ikan yang dipelihara dikonsumsi keluarga petani dan sebagian dijual sebagai pendapatan tambahan bagi petani di Desa Manik Rambung.
8

Sistem pertanian minapadi merupakan salah satu kearifan lokal yang harus ditumbuhkembangkan dan dilestarikan di Indonesia. Ketahanan pangan dengan sistem integrated farming melalui minapadi yang berkonsepkan ketiga perpaduan, yaitu integrated crop management (pengelolaan tanaman terpadu), integrated pest mnagement (pengelolaan hama terpadu), dan integrated nutrient management (pengelolaan hara terpadu) sangat menguntungkan bagi petani dalam meningkatkan taraf kehidupan mereka. Kearifan lokal yang jadi budaya bangsa kitasalah satunya dengan sistem mina padi yang ramah lingkungan merupakan strategi dalam pengelolaan pertanian berkelanjutan.

SIMPULAN Minapadi dapat dibudidayakan dan dikembangkan di pertanian agraris di Indonesia, termasuk di pertanian padi dataran rendah dan dataran tinggi di Sumatera Utara. Komposisi kesembilan belas spesies bervariasi dengan distribusi tertinggi adalah Agriocnemis femina, Orthetrum sabina dan Pantala flavescens, sedangkan yang terendah dicatat dari jenis Ichtinogomphus decoratus, Acisoma panarpodes, dan Potamarcha congener. Adapun nilai keanekaragaman Shannon-Wiener, Simpson, nilai keragaman R dan E dari Odonata dengan empat kali minapadi diaplikasi dikaitkan dengan kedua musim (hujan dan kemarau) nilainya bervariasi. Pengukuran parameter fisik dan kimia (pH, suhu, kedalaman air, kandungan oksigen terlarut, BOD, kadar phosphate, nitrate, ammoniak, dan sedimen ferum) sangat mempengaruhi kehidupan ikan mas dengan sistem minapadi. Keuntungan yang dapat diperoleh dari budidaya ikan sistem minapadi adalah diperoleh dua macam hasil produksi yaitu padi dan ikan. Dengan sistem minapadi dapat meningkatkan pendapatan keluarga; petani menjadi lebih rajin mengawasi sawahnya; kotoran ikan merupakan pupuk bagi tanaman padi; memperbaiki struktur tanah karena ikan dalam mencari makan selalu membolak-balikan lumpur dalam membantu sirkulasi tanah pertanian; ikan akan membantu memakan binatang-binatang kecil yang merupakan hama tanaman padi, serta diperolehnya sumber protein tambahan bagi masyarakat dari ikan yang memiliki nilai ekonomis. Mudah-mudahan budidaya minapadi yang menjadi kearifan lokal petani suku Batak, Jawa, Dayak, Banjar, Madura dan suku-suku lainnya dapat ditumbuhkembangkan dan dilestarikan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia melalui peningkatan pendapatan petani.

UCAPAN TERIMA KASIH Terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Direktorat Jenderal Departemen Pendidikan Nasional atas memberikan biaya penelitian dalam program Hibah Strategis Nasional 2008/2009. Kepada Pak Silalahi, Pak Nainggolan, dan Pak Hutapea dan petani lainnya yang membantu meminjamkan lahan dalam penelitian dan berbagi pengalaman, terimakasih atas budi baik yang dikenang sepanjang zaman.

DAFTAR PUSTAKA Afrianto, Eddy dan Evi Liviawaty. 1998. Beberapa metode budidaya ikan. Kanisius, Yogyakarta. 86-94. Ardiwinata, R.D. 1987. Rice-fish culture on paddy fields in Indonesia. Proceedings of Indo Facific Fish Council. 7 (II-III): 11-154. Fagi, A.M., S. Suriapermana, dan I. Syamsiah. 1992. Rice-fish farming research in lowland area: the West Java case. In C.R. Dela Cruz, C. Lihtfoot, B.A. Costa Pierce, V.R. Carangal, and M.P. Bimbo (Eds.). Proceeding of Rice-Fish Research and Development in Asia. ICLARM Conf. Proc. p. 273-286. Fedoruk, A and W. Leela Patra,. 1992. Ricefield fisheries in Thailand. In C.R. Dela Cruz, C. Lightfoot, B.A. Costa Pierce, V.R. Carangal, and M.P. Bimbo (Eds.). Proceeding of Rice-Fish Research and Development in Asia. ICLARM Conf. Proc 12 , 261p. Hickling, C.P. 1971. Fish Culture. Faber and Faber. London. p. 253.Fedoruk dan Leelapatra, 1992. Koesoemadinata and Costa-Pierce, 1992. Status of rice-fish culture in Indonesia. in: C.R. de la Cruz, C. Lightfoot, B.A.Costa-Pierce, V.R. Carangall and M.P. Bimbao (Eds.). Rice fish research and developmet in Asia (pp.45-62). ICLARM, .Manila, Phillipines. Liptan No. 06/KAN/INF/BIP-SB/89-90. Syamsiah, I., S. Suriapermana, and A.M. Fagi. 1988. Research on Rice Fish Culture: Past experiences and future research programs. Paper Presented at The Workshop on Rice-Fish Farming Research and Development. Ubon, Thailand, 21-25 March 1988. Suriapermana, S. dan I. Syamsiah. 1995. Tanam jajar legowo pada sistem usaha tani minapadi-azolla di lahan sawah irigasi. Hlm 74-83. Dalam Z. Zaini dan M. Syam (Ed.). Risalah Seminar Hasil Penelitian Sistem Usaha Tani dan Sosial Ekonomi. Bogor 4-5 Oktober 1994. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor.

10