Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN PT SMART Tbk Unit Belawan memiliki CBS (Cocoa Butter Substitute) Plant yang digunakan untuk

pengolahan Crude Palm Kernel Oil (CPKO) menjadi I-SOC CBS, I-SOC CF dan I-SOC PCF. Di dalam CBS Plant terdapat tiga proses utama, yakni fraksinasi CPKO, refining crude oil dan hydrogenated oil, serta hidrogenasi. Proses refining crude oil disebut juga Semi Continous Deodorizing (SCD). Proses ini merupakan proses pemurnian crude oil atau hydrogenated oil untuk menghilangkan salah satunya pengganggu dalam proses hidrogenasi. Proses SCD terdiri dari beberapa tahap, yaitu degumming, bleaching, filtrasi dan deodorisasi. Masing-masing tahap SCD memiliki tujuan yang berbeda-beda, diantaranya: 1. Degumming, bertujuan untuk memisahkan getah-getah yang larut dalam minyak seperti fosfatida, protein, residu, karbohidrat, air, resin tanpa mengurangi Free Fatty Acid (FFA) dan warna minyak. 2. Bleaching, bertujuan untuk menyerap gumpalan-gumpalan getah dan mengurangi warna serta logam-logam lainnya atau pengotor-pengotor lain yang terdapat dalam minyak. 3. Filtrasi, bertujuan untuk menyaring minyak dari Bleaching Earth (BE) 4. Deodorisasi, bertujuan untuk menghilangkan bau, menurunkan FFA, moisture dan warna pada kondisi vakum dan suhu tertentu. Key performance yang menentukan keberhasilan proses SCD adalah sebagai berikut : 1. Materials (bahan-bahan) a. Bahan Baku Bahan baku dalam proses SCD terdiri dari crude oil dan hydrogenated oil. Crude oil meliputi Crude Palm Kernel Stearin (CPKST), Crude Palm Kernel Olein (CPKOL) dan Crude Palm Kernel Oil (CPKO) sedangkan hydrogenated oil meliputi Hydrogenated Palm Kernel Stearin (HPKST), Hydrogenated Palm Kernel Olein (HPKOL) dan Hydrogenated Palm Kernel Oil (HPKO). b. Bahan Pembantu Proses (Chemical) Bahan pembantu proses (BPP) merupakan bahan yang ditambahkan untuk membantu proses produksi. Bahan pembantu proses yang digunakan, yakni phosporic acid, citric acid dan bleaching earth. Hal yang perlu diperhatikan dalam penambahan BPP adalah konsentrasi yang ditambahkan harus sesuai dengan standar yang telah ditentukan.

2. Methods (metode-metode) Hal lain yang perlu diperhatikan dalam proses SCD adalah pelaksanaan proses kerja yang dilakukan sesuai dengan Working Instruction (WI) atau sesuai dengan Standard Operational Procedure (SOP) dan sesuai dengan Good Manufacturing Practice (GMP). Pelaksanaan proses kerja yang dilakukan sesuai dengan standar diharapkan akan menghasilkan produk yang sesuai dengan spesifikasi. 3. Man (sumber daya manusia) Peranan sumber daya manusia sangat mempengaruhi keberhasilan proses SCD. Penempatan sumber daya manusia dalam proses SCD harus disesuaikan dengan pengetahuan dan keterampilan masing-masing sumber daya manusia.

BAB II ISI

A. SUPPLIERS Supplier adalah orang atau bagian yang menyediakan input (dalam bentuk material, informasi atau sumber daya lain) yang diperlukan untuk menjalankan proses. Supplier dapat dibedakan menjadi dua yaitu internal (dari dalam perusahaan) dan eksternal (dari luar perusahaan). Beberapa supplier untuk mendukung proses di Semi Continuous Deodorizing (SCD) adalah sebagai berikut : 1. Tank farm yang menyediakan crude oil (CPKO, CPKST dan CPKOL) dan hydrogenated oil (HPKO, HPKOL dan HPKST) 2. PKO Fraksinasi yang menyediakan CPKST dan CPKOL 3. Gudang chemical yang menyediakan phosphoric acid, citric acid dan bleaching earth (BE). 4. Unit utility yang menyediakan steam, solar, gas dan listrik.

B. INPUT Input adalah informasi, material atau sumber daya lain yang digunakan di dalam proses untuk menghasilkan output meliputi spesifikasi atau parameter kualitas. Parameter-parameter yang digunakan sebagai input di dalam proses SCD antara lain: 1. Crude oil Crude oil merupakan jenis minyak yang belum mengalami proses hidrogenasi. Crude oil yang digunakan dalam proses SCD meliputi CPKO, CPKOL dan CPKST. CPKO diperoleh dari hasil pengepresan kernel (inti) kelapa sawit. CPKO yang digunakan berasal dari KCP plant, sedangkan CPKOL dan CPKST yang digunakan merupakan hasil dari proses fraksinasi CPKO di fraksinasi CPKO plant. Kualitas crude oil yang digunakan adalah sebagai berikut: Tabel 1. Standar Kualitas Crude Oil Parameter CPKO CPKOL CPKST IV (wijs) 18,5 max 22-25 max 7,2 max FFA (%) 3 max 5 max 5 max M&I (%) 0,5 max 0,5 max 0,5 max Sumber: Work Instruction in Laboratory PT SMART Tbk, Unit Belawan Medan

2. Hydrogenated oil Hydrogenated oil diperoleh dari proses hidrogenasi Refined Bleached Deodorized (RBD) oil. Hydrogenated oil yang digunakan dalam proses SCD terdiri dari HPKO, HPKOL dan HPKST. HPKO merupakan hasil hidrogenasi RBDPKO sedangkan HPKOL merupakan hasil hidrogenasi RBDPKOL dan HPKST merupakan hasil hidrogenasi RBDPKST. Kualitas hydrogenated oil yang digunakan adalah sebagai berikut:

Tabel 2. Standar Kualitas Hydrogenated Oil Parameter HPKO40 HPKOL40 HPKST IV 3 max 3 max 1 max % FFA 0,1 max 0,1 max 0,1 max %M 0,1 max 0,1 max 0,1 max Color (R/Y/B) 1,0 R max 1,0 R max 1,0 R max Sumber: Work Instruction in Laboratory PT SMART Tbk, Unit Belawan Medan

3. Bahan pembantu proses Bahan pembantu proses merupakan bahan yang ditambahkan ke dalam suatu proses untuk menghasilkan produk. Bahan pembantu proses yang digunakan dalam SCD meliputi phosphoric acid, citric acid dan bleaching earth.

a. Phosporic acid Phosporic acid atau asam fosfat merupakan senyawa kimia dengan

rumus kimia H3PO4 yang digunakan pada proses degumming yang berfungsi untuk menggumpalkan getah ( gum) yang terdapat di dalam raw material. Asam fosfat yang digunakan dalam proses SCD merupakan asam fosfat konsentrasi 85% dengan dosis 0,03-0,06% tiap tonase minyak yang diolah.

b. Citric acid

Citric acid atau asam sitrat (C6H8O7) digunakan dalam proses degumming yang berfungsi untuk mengikat logam dari hydrogenated oil (logam nikel yang berupa katalis dari proses hidrogenasi) . Asam sitrat yang ditambahkan dalam proses SCD berkonsentrasi 33,33% dengan dosis antara 0,001-0,05% tiap tonase minyak yang diolah.

c. Bleaching earth Bleaching earth merupakan bahan pembantu proses yang dikenal dengan nama dagang bentonit, berbentuk seperti tanah liat berpori yang berfungsi untuk menyerap warna yang tidak diinginkan, menyerap getahgetah dan pengotor-pengotor lain. Bleaching earth yang digunakan dalam proses SCD dengan dosis antara 0,2-2,0%. 4. Steam Steam yang digunakan dalam proses SCD meliputi steam yang berasal dari High Pressure Boiler (HPB) dan steam yang berasal dari unit utility. Steam yang berasal dari HPB memiliki tekanan yang lebih tinggi yakni dapat mencapai 100 bar dan lebih kering dibandingkan dengan steam yang berasal dari unit utility yang bertekanan 9-12 bar. Steam yang berasal dari HPB digunakan dalam proses pemanasan minyak pada tray 821 HP deodorizer sedangkan steam yang berasal dari unit utility digunakan untuk heating, sparging, blowing dan system vakum. 5. Air Air yang digunakan dalam proses SCD terdiri dari RO water dan cooling water. RO water digunakan pada thermosyphon coil, make up ke tangki HWA dan dalam pembuatan larutan asam sitrat. Sementara itu cooling water digunakan untuk clean dan dirty pada cooling tower. C. PROSES Proses pengolahan di SCD plant melalui beberapa tahapan yakni pretreatment, degumming, bleaching, filtration dan deodorizing yang didukung oleh sistem vakum serta sistem sirkulasi air. Diagram alir proses SCD dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Diagram alir proses SCD

1. Proses SCD

a. Pretreatment Proses pretreatment merupakan tahap awal dari proses SCD untuk mempersiapkan raw material sebelum masuk ke proses degumming. Pada proses ini, raw material dari tank farm dengan suhu 40-60oC dipompa menggunakan pompa PT501-1 ke buffering oil tank T501 yang memiliki kapasitas 10,3 m3 untuk penyimpanan sementara. Raw material tersebut dipompakan dengan pompa PT501 menuju ke Plate Heat Exchanger (PHE) T521A untuk dinaikkan suhunya menjadi 80-90 oC menggunakan hot water dari pendinginan tray 880WC proses deodorizing. Setelah itu, raw material dipanaskan kembali di PHE T521B menggunakan steam hingga suhunya mencapai 100oC.

b. Degumming Proses ini merupakan proses pemisahan getah yang terdiri dari fosfatida, protein, residu, karbohidrat, air dan resin tanpa mengurangi jumlah free fatty acid (FFA) serta warna raw material. Sebelum proses degumming, raw material yang telah dipanaskan dengan PHE T521B dicampurkan dengan asam phospat 85% (T534AC1) dengan dosis 0,03-0,06% untuk raw material crude oil atau citric acid (T534AC2) dengan dosis 0,001-0,05% untuk hydrogenated oil. Tujuan penambahan asam phospat adalah untuk memisahkan getah yang terdapat pada raw material. Penggunaan citric acid pada hydrogenated oil, untuk mengikat logam (nikel yang menjadi katalis pada proses hidrogenasi). Setelah itu, dilakukan proses mixing pada mixer T504 dengan tujuan agar raw material dengan chemical asam yang ditambahkan dapat bereaksi dengan sempurna. Hasil mixing selanjutnya dialirkan menuju degumming reactor T503 dengan kapasitas 4,76 m3 dimana proses pemisahan getah terjadi pada suhu proses 80-110 oC. c. Bleaching Proses bleaching berfungsi untuk mengurangi warna yang tidak diinginkan serta menangkap gumpalan getah-getah dan pengotor-pengotor lain yang terdapat dalam raw material. Minyak hasil proses degumming kemudian dialirkan menuju bleacher tank 622UB dengan kapasitas bleacher atas 3,75 m3 dan bleacher bawah 8,6 m3. Di dalam bleacher tank, minyak ditambahkan dengan chemical bleaching earth (BE) yang berasal dari BE tank 609A

dengan dosis 0,2-2,0%. BE berfungsi untuk menyerap warna yang tidak diinginkan serta menangkap getah-getah dan pengotor-pengotor lain. Proses bleaching pada bleacher dilakukan dengan suhu 90-110oC pada tekanan vakum (-800 s.d. -1000) mbar dan dilengkapi sparging steam 0,5-4,0 bar yang berfungsi sebagai agitasi minyak dengan BE. Proses pretreatment, degumming, dan bleaching dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Pretreatment, degumming dan bleaching pada SCD d. Filtration Filtration merupakan proses penyaringan BE yang telah berikatan dengan warna, getah dan pengotor lain. Bleached oil dari bleacher dipompa meggunakan pompa P622 1/2 menuju Niagara filter 616A1/2 yang berkapasitas 3 MT. Pada Niagara filter, bleached oil akan disaring menggunakan 13 buah hermetic leaf filter. Niagara filter dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Niagara filter

Tahapan proses filtration terdiri dari: 1) Standby Proses standby merupakan selang waktu saat hermetic leaf filter tidak digunakan. 2) Filling Proses filling merupakan pengisian minyak dari bleacher ke dalam hermetic leaf filter sampai minyak mencapai high level. 3) Precoat Proses precoat merupakan sirkulasi minyak dari hermetic leaf filter ke bleacher hingga minyak terlihat benar-benar bersih dari sight glass. 4) Filtration Proses filtration penyaringan minyak dari BE. Bleached oil dari hermetic leaf filter melalui filtered oil tank dipompakan melalui bag filter (616B1/2) dan cartridge filter (616C1/2) yang memiliki kerapatan 5 mikron menuju deodorizing feed tank (801A/B). 5) Recirculation

Recirculation merupakan proses sirkulasi minyak dari hermetic leaf filter ke bleacher jika kondisi bleached oil di buffer tank atau bleacher high level. 6) Drain untuk change filter Pada proses ini, minyak ditransfer dari hermetic leaf filter yang akan diganti ke hermetic leaf filter yang akan dioperasikan dengan menggunakan steam 2-4 bar. 7) Drain ke slurry oil tank Pada proses ini, minyak ditransfer dari hermetic leaf filter ke slop oil tank dengan menggunakan steam 2-4 bar. Tahap ini bertujuan untuk change stock minyak jenis baru. 8) Drying Proses drying merupakan tahap pengeringan spent earth menggunakan steam bertekanan 2-4 bar dalam waktu tertentu. 9) Safety drain Proses ini bertujuan untuk memastikan tidak ada lagi sisa minyak yang tertinggal pada hermetic leaf filter sebelum pengeluaran spent earth. 10) Depressurize Proses depressurize merupakan tahap pengeluaran tekanan dalam hermetic leaf filter sebelum pengeluaran spent earth. 11) Discharge Proses ini merupakan pengeluaran spent earth dari hermetic leaf filter ke bak spent earth. Minyak hasil penyaringan akan dialirkan menuju filtered oil tank selanjutnya akan mengalami deodorizing. e. Deodorizing Proses deodorizing merupakan proses pengurangan FFA, penghilangan moisture dan penghilangan bau (odor) yang tidak diinginkan pada minyak dalam kodisi vakum dan suhu tertentu. Filtered oil dialirkan menuju oil feed tank 801A/B dengan kapasitas masing-masing 21,1 m3, kemudian dipompakan menggunakan pompa P801 menuju deodorizer 822MS. Deodorizer memiliki 10 tray dengan kapasitas masing-masing tray 3,5-4 ton dan dilengkapi dengan sistem close loop RO water-steam (thermosyphon coil) pada 821TS dan 880TS, sistem vakum dan sparging steam (pada setiap tray kecuali tray 808). Sistem deodorizing dapat dilihat pada Gambar 4. 682B dan

10

Gambar 4. Sistem Deodorizing

1) Minyak masuk melalui tray 802 yang berfungsi sebagai buffering tank. 2) Minyak turun ke tray 1 (822TS) dan dipanaskan hingga 150-170oC menggunakan sistem close loop RO water-steam yang terhubung dengan tray 5 (822TS). Tray 1 dilengkapi dengan sparging steam (sp1) dengan tekanan 0,2-2 bar yang berfungsi sebagai agitasi. 3) Minyak turun ke tray 2 (821TS) dan kemudian dipanaskan kembali hingga suhu 230-265oC untuk crude oil dan 190-255oC untuk hydrogenated oil menggunakan steam bertekanan tinggi yang berasal dari High Pressure Boiler (HPB). 4) Minyak turun ke tray 3 (822A1) dan tray 4 (822A2) dimana minyak mengalami deodorizing. Minyak diaduk menggunakan dua buah sparging steam, yakni sparging (sp2) dengan tekanan 0,6-0,8 bar dan sparging (sp3) dengan tekanan 1,0-1,5 bar. Sparging (sp3) berfungsi untuk deaerasi minyak dari bagian bawah tray, sedangkan sparging

11

(sp2) berfungsi untuk membuat sirkulasi minyak (atas-bawah).

Pada

proses ini terjadi penguapan FFA, bau (odor) dan moisture sehingga kadar FFA dari minyak menurun dan odor serta moisture sama sekali tidak ada lagi. 5) Minyak turun ke tray 5 (822TS) dan mengalami penurunan suhu akibat pertukaran panas antara minyak dan hasil kondensasi RO water dari tray 1 (822TS) dengan system close loop antara kedua tray. 6) Minyak turun ke tray 6 (880WB) dan mengalami penurunan suhu akibat pertukaran panas antara minyak dengan cooling water yang berasal dari tangki P878HWA. Selanjutnya minyak akan ditampung pada tray 880C sementara waktu sebelum final cooling dilakukan.

f.

Final Cooling Proses pendinginan minyak yang berasal dari tray 880C dilakukan dengan mengalirkannya melalui PHE 881B sehingga terjadi pertukaran panas antara minyak dengan cooling water yang berasal dari clean cooling tower hingga suhunya mencapai 30-55oC.

g. Polishing filtration Setelah final cooling, minyak dialirkan menuju storage tank melalui cartridge filter 816C1/2 yang memiliki kerapatan 5 mikron. 2. Sistem vakum Kegunaan sistem vakum di SCD Plant antara lain 1. Membuat tekanan operasional pada bleacher dan deodorizer sesuai dengan SOP 2. Menghisap uap-uap yang terbentuk (FFA, odor, moisture, dan warna) atau uap-uap dari steam selama proses berlangsung 3. Mencegah minyak agar tidak teroksidasi selama proses Sistem vakum di SCD plant digunakan pada: 1. Bleacher, Niagara filter dan oil feed tank (801A/B) tekanan operasional (-800 s/d -1000 mbar). Sistem vakum di bleacher, Niagara filter dan oil feed tank digunakan untuk menghisap uap-uap air yang terbentuk selama proses berlangsung. 2. Deodorizer Tekanan operasional untuk deodorizer 6 torr. System vakum di deodorizer digunakan untuk menghisap uap-uap FFA yang

12

terbentuk dari tiap-tiap tray kemudian dikondensasi pada tray 8104 dan untuk menghisap odor, moisture diinginkan. Sistem vakum di SCD plant : 1. Peralatan yang digunakan yaitu booster ejector, ejector dan kondensor. 2. Media yang dipakai yaitu steam bertekanan 9-12 bar, air dengan suhu 34oC dan warna yang tidak

Cara kerja sistem vakum yaitu steam bertekanan 9-12 bar masuk ke sistem vakum melalui sebuah nozzle dan akan bertemu dengan aliran dirty water bertekanan 2,5-3 bar kemudian uap-uap steam, sedikit FFA, odor, dan warna dari proses deodorizer. Uap FFA dikondensasi di tray 814 sedangkan uap steam, odor, moisture dan warna dihisap menuju ke hot well pond. proses SCD dapat dilihat pada Gambar 5 Sistem vakum

13

Gambar 5. Sistem vakum pada proses SCD 3. Sistem sirkulasi air Sistem sirkulasi air pada SCD terdiri dari: a. Sistem thermosyphon Sistem ini berupa pipa berisi RO water dengan pH 9,5-10,5 dan konduktivitas 150-250 s yang mehubungkan tray 1 (822TS) dengan tray 5 (822TS) pada deodorizer. Mekanisme sistem thermosyphon terjadi saat panas pada minyak di tray 5 (822TS) ditransfer ke RO water sehingga terjadi penurunan suhu minyak dan penguapan RO water. Panas dari uap RO water digunakan untuk memanaskan minyak yang terdapat pada tray 1 (822TS). Setelah transfer panas pada tray 1 (822TS), uap RO water akan mengalami kondensasi dan akan digunakan kembali di tray 5 (822TS). Sistem thermosyphon dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Siklus air thermosypon b. Sistem sirkulasi RO water HWA dan HWB Sistem sirkulasi ini berasal dari dua tangki hot water, yakni tangki 878HWA dan tangki 878HWB. Air dari tangki 878HWA digunakan untuk menurunkan suhu minyak pada tray 6 (880WC) deodorizer, kemudian air panas yang

14

dihasilkan dialirkan ke tangki 878HWB. Selanjutnya air dari tangki 878HWB dialirkan menuju PHE T521A untuk memanaskan suhu raw material. Air yang telah digunakan untuk memanaskan minyak tersebut dialirkan kembali ke tangki 878HWA. Sebelum masuk tangki 878HWA, air panas dari tangki 878HWB didinginkan melalui PHE T521A dengan menggunakan air dari Air dari tangki 878HWB, selain digunakan untuk menaikkan suhu minyak raw material, juga dimanfaatkan pada proses fraksinasi CPKO untuk memanaskan CPKST yang terdapat pada melting tank. Sistem sirkulasi RO water HWA dan HWB dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7. Sistem sirkulasi RO water HWA dan HWB

c.

Sistem sirkulasi dirty water Sistem sirkulasi dirty water digunakan pada sistem vakum. Dirty water yang bersuhu <34oC, dialirkan menggunakan pompa P5613D1/D2 ke dalam

15

sistem vakum untuk mengkondensasi steam yang bercampur dengan bau, warna dan uap air. Kondensat yang dihasilkan ditampung pada hot well pond dengan suhu 35-45oC. Kemudian, air dari hot well pond dipompakan menggunakan pompa P832A1 menuju ke cooling tower. Pada cooling tower, air tersebut mengalami pembagian dan penurunan suhu hingga < 34 oC akibat penghisapan hawa panas oleh blower. Air dari cooling tower kemudian akan digunakan kembali untuk sirkulasi ke kondensor vakum. Sistem sirkulasi dirty water dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8. Sistem Sirkulasi dirty water D. OUTPUT (KELUARAN DARI DALAM PROSES) Output yang dihasilkan dari proses Semi Continoous Deodorizing dapat dibedakan menjadi dua jenis, untuk proses SCD dengan raw material dari crude oil, output yang dihasilkan adalah RBDPKO, RBDPKOL dan RBDPKST. Kualitas output yang berasal dari crude oil adalah sebagai berikut:

Tabel 3. Standar Kualitas Output yang berasal dari crude oil Parameter RBDPKO RBDPKOL RBDPKST IV 19 max 21 max 7,2 max % FFA 0,10 max 0,1 max 0,1 max % Moi 0,1 max 0,1 max 0,1 max SFC 30oC 30 min Sumber: Work Instruction in Laboratory PT SMART Tbk, Unit Belawan Medan

16

Output yang dihasilkan dari proses SCD dengan raw material hydrogenated oil adalah RBDHPKO, RBDHPKOL dan RBDHPKST. Kualitas output yang berasal dari hydrogenated oil adalah sebagai berikut:

Tabel 4. Standar Kualitas Output yang berasal dari Hydrogenated Oil RBDHPKO40 RBDHPKOL40 RBDHPKST

(I-SOC Premium 40) (I-SOC CF 40) (I-SOC CBS) IV 3 max 3 max 1,0 max % FFA 0,1 max 0,1 max 0,1 max % Moi 0,1 max 0,1 max 0,1 max Color (R/Y/B) 1,0R max 1,0R max 1,0R max SFC 30oC 30 40 30 40 45 min SMP 40 42 40 - 42 33,5 35,5 Sumber: Work Instruction in Laboratory PT SMART Tbk, Unit Belawan Medan

Parameter

E. CUSTOMERS Produk yang dihasilkan pada proses SCD akan diproses lebih lanjut oleh hydrogenation plant dan filling plant. Hydrogenation plant akan mengolah hasil proses SCD berupa RBDPKO,RBDPKOL dan RBDPKST untuk dijadikan HPKO, HPKOL dan HPKST. Sementara itu Filling Plant akan mengemas hasil proses SCD berupa RBDHPKO menjadi I-SOC PCF, RBDHPKOL menjadi I-SOC CF dan RBDHPKST menjadi I-SOC CBS.

17

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan on the job training yang dilakukan di CBS plant dapat disimpulkan bahwa proses Semi Continuous Deodorizing (SCD) antara lain: 1. Proses SCD merupakan salah satu proses pemurnian minyak lauric dengan kapasitas 200 MT/hari. 2. Proses SCD merupakan proses pemurnian pada pengolahan raw material crude oil (CPKO, CPKST, dan CPKOL) dan hydrogenated oil (HPKO, HPKOL, dan HPKST). 3. SCD plant dirancang untuk memproses crude oil (CPKO, CPKST, dan CPKOL) dengan hydrogenated oil (HPKO, HPKST, dan HPKOL) dengan kondisi operasi yang berbeda. 4. Degumming pada proses SCD crude oil menggunakan phosphoric acid dan suhu di deodorizer 230-265oC. 5. Pada proses SCD hydrogenated oil, chelating agent yang digunakan adalah citric acid dan suhu di deodorizer 190-255oC.

18