Anda di halaman 1dari 17

BAGIAN ILMU KESEHATAN JIWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

Referat
Juli 2013

MANIA
LAPSUS : GANGGUAN ANXIETAS YTT (F41.9)

OLEH:

Raissa Safitry
C 111 09 346

ResidenPembimbing: dr. Izak Yesaya Samay

Supervisor Pembimbing: dr. Agus Japari, M.Kes, SpKJ

BAGIAN ILMU KESEHATAN JIWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN 2013

HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa Nama NIM Universitas : Raissa Safitry : C 111 09 346 : Universitas Hasanuddin

Judul Referat : Mania Judul Lapsus : Gangguan Anxietas YTT Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada Bagian Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Makassar, Juli 2013

Mengetahui, Supervisor Pembimbing

dr. Agus Japari, M.Kes, SpKJ

dr. Izak Yesaya Samay

BAB I PENDAHULUAN

Gangguan mood meliputi sekelompok besar gangguan, dengan mood patologis serta gangguan yang terkait mood yang mendominasi gambaran klinisnya. Istilah gangguan mood yang dalam edisi Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders( DSM) sebelumnya dikenal sebagai gangguan afektif, saat ini lebih disukai karena istilah ini mengacu pada keadaan emosi yang menetap, bukan hanya ekspresi eksternal (afektif) pada keadaan emosional sementara. Gangguan mood paling baik dianggap sebagai sindrom (bukannya penyakit terpisah), yang terdiri atas sekelompok tanda dan gejala yang bertahan selama berminggu-minggu dan berbulan-bulan, yang menunjukkan penyimpangan nyata fungsi habitual seseorang serta kecenderungan untuk kambuh, sering dalam bentuk periodik atau siklik. Mood dapat normal, meningkat, atau menurun. Orang normal dapat mengalami berbagai variasi mood yang luas dan memiliki berbagai ekspresi afektif yang sama besarnya; mereka kurang lebih merasa dibawah kendali mood dan afek. Pada gangguan mood, pengendalian hilang dan terdapat pengalaman subjektif akan adanya penderitaan yang berat.[1] Gangguan suasana perasaan (gangguan mood afektif) merupakan sekelompok penyakit yang biasanya mengarah ke depresi atau elasi (suasana perasaan yang meningkat). Afek yang meningkat dengan peningkatan aktivitas fisik dan mental yang berlebihan serta perasaan gembira luar biasa yang secara keseluruhan tidak sebanding dengan peristiwa yang terjadi merupakan karakteristik dari mania.Pasien dengan mood yang meninggi menunjukkan sikap meluap-luap, gagasan yang meloncatloncat, penurunan kebutuhan tidur, peninggian harga diri dan gagasan kebesaran. Bentuk mania yang lebih ringan disebut hipomania. Mania dan hipomania agak sulit ditemukan karena kegembiraan jarang mendorong seseorang untuk berobat ke dokter. Pada penderita mania sebagian besar tidak menyadari adanya sesuatu yang salah dengan kondisi mental maupun perilakunya. [2]

BAB II PEMBAHASAN I. DEFINISI Mania merupakan suatu episode meningkatnya afek seseorang yang jelas, abnormal, menetap, ekspansif, atau iritabel. Afek yang abnormal ini membuat fungsi harian pasien menjadi terganggu karena gangguan pada daya pertimbangan lingkungan Menurut PPDGJ III, episode mania merupakan suatu kesamaan karakteristik dalam afek meningkat, disertai peningkatan dalam jumlah dan kecepatan aktivitas fisik dan mental dalam berbagai derajat keparahan. [3,] [4]

II.

EPIDEMIOLOGI. Mania merupakan suatu gangguan afektif dengan persentasi 12 % dari seluruh gangguan afektif. Onset rata-rata umur pada pasien dewasa dengan mania adalah 55 tahun dengan perbandingan jumlah pria dan wanita 2 : 1. Prevalensi timbulnya mania sekitar 0,1% pertahun.[4] Biasanya gangguan mania lebih sering pada pasangan yang sudah bercerai atau belum menikah dibandingkan dengan pasien yang menikah. Gangguan mania juga dikatakan dialami oleh golongan sosioekonomi yang tinggi dan pada pasien yang kurang taraf pendidikannya, sebagai contoh mahasiswa lebih jarang mengalami gangguan ini dibanding dengan orang yang rendah pendidikannya.[5]

III.

ETIOLOGI

1. FAKTOR BIOLOGIS a. Neurotransmitter

Teori biologik untuk gangguan mania memfokuskan pada abnormalitas norepinefrin (NE) dan serotonin (5-HT). Hipotesis katekolamin menyatakan peningkatan NE di otak menyebabkan mania. Hipotesis indolamin pula menyatakan bahwa peningkatan neurotransmiter serotonin (5-HT) pada otak menyebabkan juga dapat menyebabkan mania. Hipotesis lain menyatakan bahwa peningkatan NE menyebabkan mania, hanya bila kadar serotonin 5-HT rendah. [5] Selain itu, penelitian-penelitian juga menunjukksan adanya kelompok

neurotransmiter lain yang berperan penting pada timbulnya mania, yaitu golongan neuropeptida, termasuk endorfin, somatostatin, vasopresin dan oksitosin. Diketahui bahwa neurotransmiter-neurotransmiter ini, dalam beberapa cara, tidak seimbang (unbalanced) pada otak individu mania dibanding otak individu

normal.Misalnya, GABA diketahui menurun kadarnya dalam darah dan cairan spinal pada pasien mania. Dopamin juga meningkat kadarnya pada celah sinaptik, menimbulkan hiperaktivitas dan agresivitas mania, seperti juga pada skizofrenia. Antidepresan trisiklik dan MAO inhibitor yang meningkatkan epinefrin bisa merangsang timbulnya mania, dan antipsikotik yang mem-blok reseptor dopamin yang menurunkan kadar dopamin bisa memperbaiki mania, seperti juga pada skizofrenia.[6]
b. Genetik

Data genetik dengan kuat menyatakan bahawa suatu faktor yang penting di dalam perkembangan gangguan mood adalah genetika, tetapi pola penurunan genetika adalah jelas melalui mekanisme yang kompleks, bukan saja tidak mungkin untuk menyingkirkan efek psikososial, tetapi faktor non genetik kemungkinan memainkan peranan kausatif dalam perkembangan gangguan mood pada sekurangnya beberapa orang. [6] Data keluarga menunjukkan bahwa jika satu orang tua memiliki gangguan mood, anak akan memiliki risiko antara 10 - 25 % untuk gangguan mood. Jika kedua orang tua yang terkena, risiko ini berlipat ganda. Lebih banyak anggota keluarga yang terpengaruh, semakin besar risikonya untuk anak. Risikonya juga lebih besar jika anggota keluarga dekat terkena dibanding kerabat jauh.[5] Data kembar pula memberikan bukti yang kuat bahwa gen hanya menjelaskan 50 sampai 70 persen dari etiologi gangguan mood. Satu studi menemukan tingkat kesesuaian untuk gangguan mood dalam (MZ) kembar monozigot adalah 70 hingga 90 persen dibandingkan dengan dizigotik sesama jenis (DZ) kembar yang hanya 16 hingga 35 persen.[5]

2. FAKTOR PSIKOSOSIAL

Faktor psikososial terdiri dari 3 faktor yang utama yaitu faktor lingkungan, faktor kepribadian, dan faktor psikodinamik mania. [5]
a. Faktor Lingkungan

Pengamatan klinis menunjukkan bahwa peristiwa kehidupan yang penuh stres lebih sering mendahului episode gangguan mood seperti gangguan mania [5]
b. Faktor Kepribadian

Tidak ada ciri kepribadian tunggal atau khusus untuk seseorang yang mengalami gangguan mania; semua manusia, apapun pola kepribadian, bisa menjadi tertekan dan dalam keadaan yang sesuai mengalami gangguan yang sama. Orang dengan kepribadian tertentu seperti kepribadian antisosial atau menurut PPDGJ III gangguan kepribadian dissosial mungkin menghadapi risiko lebih besar untuk mengalami gangguan mania dibandingkan orang dengan gangguan kepribadian paranoid atau cemas.[5]
c. Faktor Psikodinamika

Kebanyakan teori-teori episode manik mania dipandang sebagai pertahanan terhadap depresi yang mendasarinya. Abraham, misalnya, percaya bahwa episode manik mungkin mencerminkan ketidakmampuan untuk mentolerir tragedi perkembangan, seperti kehilangan orangtua. Keadaan manik juga mungkin akibat dari superego tirani, yang menghasilkan kritik-diri yang kemudian digantikan oleh euforia kepuasan diri. Bertram Lewin dianggap ego pasien manik sebagai kewalahan oleh impuls menyenangkan, seperti seks, atau dengan impuls ditakuti, seperti agresi. Klein juga melihat mania sebagai reaksi defensif terhadap depresi,dengan menggunakan pertahanan manik seperti kemahakuasaan, di mana seseorang mengembangkan delusion of grandeur[5] IV . GAMBARAN KLINIS [2]

Deskripksi umum

Pasien manik adalah tereksitasi, banyak bicara, kadang-kadang mengelikan dan sering hiperaktif.

Mood, afek dan perasaan

Pasien manik biasanya euforik dan lekas marah. Mereka memiliki toleransi yang rendah dan mudah frustasi yang dapat menyebabkan perasaan marah dan permusuhan. Secara emosional mereka sangat labil, mudah beralih dari tertawa menjadi marah kemudian menjadi depresi dalam hitungan menit atau jam.

Bicara:

Pasien manik tidak dapat disela saat mereka bicara dan sering kali rewel dan menjadi pengganggu bagi orang-orang disekitarnya. Saat keadaan teraktifitas, pembicaraan penuh dengan gurauan, kelucuan, sajak, permainan kata-kata dan hal-hal yang tidak relevan. Saat tingkat aktifitas meningkat lagi, asosiasi menjadi longgar kemampuan konsentrasi menghilang menyebabkan gagasan yang meloncat-loncat (flight of idea), gado-gado kata

dan neologisme. Pada keadaan manik akut pembicaraan mungkin sama sekali inkoheren dan tidak dapat dibedakan dari pembicaraan skizofrenik.

Gangguan persepsi :

Waham ditemukan pada 75% pasien manik.Waham sesuai mood seringkali melibatkan kesehatan, kemampuan atau kekuatan yang luar biasa. Dapat juga ditemukan waham dan halusinasi aneh yang tidak sesuai mood.

Pikiran:

Isi pikirannya termasuk tema kepercayaan dan kebesaran diri, sering kali perhatiannya mudah dialihkan. Fungsi kognitif ditandai oleh aliran gagasan yang tidak terkendali.

Sensorium dan kognisi:

Secara umum, orientasi dan daya ingat masih intak walaupun beberapa pasien manik mungkin sangat euforik sehingga mereka menjawab secara tidak tepat. Gejala tersebut disebut mania delirium (delirious mania) oleh Emil Kraepelin.

Pengendalian impuls: Perimbangan dan tilikan:

Kira-kira 75% pasien manik senang menyerang atau mengancam.

Gangguan pertimbangan merupakan tanda dari pasien manik. Mereka mungkin dapat melanggar peraturan.

Reliabilitas:

Pasien manik sulit untuk dipercaya. Kebohongan dan penipuan sering ditemukan pada pasien mania

V. DIAGNOSIS

PPDGJ III Menurut PPDGJ III, gangguan suasana perasaan (gangguan mania) dibagi menjadi: [3] F30 EPISODE MANIK Kesamaan karakteristik dalam afek yang meningkat, disertai peningkatan dalam jumlah dan kecepatan aktivitas fisik dan mental, dalam berbagai derajat keparahan. Kategori ini hanya untuk satu episode manik tunggal (yang pertama), termasuk gangguan afektif bipolar, episode manik tunggal. Jika ada episode afektif (depresi, manik atau hipomanik) sebelumnya atau sesudahnya, termasuk gangguan afektif bipolar. (F31).

F30.0 Hipomania Derajat gangguan yang lebih ringan dari mania (F30.1), afek yang meninggi atau berubah disertai peningkatan aktivitas,nbmenetap selama sekurang-kurangnya beberapa hari berturut- turut,pada suatu derajat intensitas dan yang bertahan melebihi apa yang digambarkan bagi siklotimia (F34.0), dan tidak disertai halusinasi atau waham. Pengaruh nyata atas kelancaran pekerjaan dan aktivitas sosial memang sesuai dengan diagnosis hipomania, akan tetapi bila kakacauan itu berat atau menyeluruh, maka diagnosis mania (F30.1 atau F30.2) harus ditegakkan. F30.1 Mania Tanpa Gejala Psikotik Episode harus berlangsung sekurang-kurangnya 1 minggu, dan cukup berat sampai mengacaukan seluruh atau hamper seluruh pekerjaan dan aktivitas sosial yang biasa dilakukan. Perubahan afek harus disertai dengan energi yang bertambah sehingga terjadi aktivitas berlebihan, percepatan dan kebanyakan bicara, kebutuhan tidur yang berkurang, ide-ide perihal kebesaran/ grandiose ideas dan terlalu optimistik. F30.2 Mania Dengan Gejala Psikotik Gambaran klinis merupakan bentuk mania yang lebih berat dari F30.1 (mania tanpa gejala psikotik). Harga diri yang membumbung dan gagasan kebesaran dapat berkembang menjadi waham kebesaran (delusion of grandeur), irritabilitas dan kecurigaan menjadi waham kejar (delusion of persecution). Waham dan halusinasi sesuai dengan keadaan afek tersebut (mood congruent). F30.8 Episode Manik Lainnya F30.9 Episode Manik YTT DSM-III-R [4] Berdasarkan tabel Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder DSM-IV-TR , Episode Manik A. Periode terpisah yang secara abnormal dan persisten meningkat, ekspansif, atau iritabel yang berlangsung setidaknya 1 minggu (atau berapapun lama waktunya jika memerlukan rawat inap) B. Selama periode gangguan mood , tiga atau lebih gejala berikut telah ada (empat gejala jika mood hanya iritabel dan signifikan ;

Harga diri yang membumbung atau rasa kebesaran Berkurangnya kebutuhan tidur ( cth, merasa lelah beristirahat setelah tidur hanya

3 jam )
Lebih banyak berbicara daripada biasanya atau ada tekanan untuk terus berbicara Flight of ideas atau pengalaman subjektif bahwa pikirannya saling berlomba Perhatian mudah teralih Meningkatnya aktivitas yang berorientasi tujuan (baik secara social, ditempat

kerja atau sekolah, maupun secara seksual) atau agitasi psikomotor


Keterlibatan yang berlebihan didalam aktivitas yang menyenangkan dan

berpotensi tinggi memiliki akibat menyakitkan (cth. Terlibat dalam kegiatan berbelanja yang tidak bias ditahan, tindakan seksual yang tidak bijaksana dan investasi bisnis yang bodoh C. Gejala tidak memenuhi criteria episode campuran. D. Gangguan mood cukup berat hingga menyebabkan hendaya nyata fungsi pekerjaan maupun aktivitas atau hubungan social yang biasa dengan orang lain, atau memerlukan rawat inap untuk mencegah mencelakakan diri sendiri dan orang lain, atau terdapat cirri psikotik E. Gejala tidak disebabkan pengaruh fisiologis langsung suatu zat (cth. Obat yang disalahgunakan, obat, atau terapi lain atau kondisi medis umum Catatan : Episode menyerupai manik yang secara nyata disebabkan terapi antidepresan somatic (cth. Obat, terapi elektrokonvulsif, terapi cahaya) sebaiknya tidak dimasukkan kedalam diagnosis Bipolar I. Berdasarkan tabel Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder DSM-IV-TR , Episode Hipomanik A. Periode terpisah yang secara abnormal dan persisten meningkat, ekspansif, atau iritabel yang berlangsung setidaknya 1 minggu (atau berapapun lama waktunya jika memerlukan rawat inap) B. Selama periode gangguan mood , tiga atau lebih gejala berikut telah ada (empat gejala jika mood hanya iritabel dan signifikan ;
Harga diri yang membumbung atau rasa kebesaran Berkurangnya kebutuhan tidur ( cth, merasa lelah beristirahat setelah tidur hanya

3 jam )
Lebih banyak berbicara daripada biasanya atau ada tekanan untuk terus berbicara

Flight of ideas atau pengalaman subjektif bahwa pikirannya saling berlomba Perhatian mudah teralih Meningkatnya aktivitas yang berorientasi tujuan (baik secara social, ditempat

kerja atau sekolah, maupun secara seksual) atau agitasi psikomotor


Keterlibatan yang berlebihan didalam aktivitas yang menyenangkan dan

berpotensi tinggi memiliki akibat menyakitkan (cth. Terlibat dalam kegiatan berbelanja yang tidak bias ditahan, tindakan seksual yang tidak bijaksana dan investasi bisnis yang bodoh C. Episode ini disertai perubahan jelas fungsi yang tidak khas pada orang tersebut ketika tidak bergejala D. Gangguan mood dan perubahan fungsi dapat diamati orang lain E. Episode ini tidak cukup berat untuk menimbulkan hendaya nyata fungsi pekerjaan maupun aktivitas atau hubungan social yang biasa dengan orang lain, atau memerlukan rawat inap dan tanpa ciri psikotik F. Gejala tidak disebabkan pengaruh fisiologis langsung suatu zat (cth. Obat yang disalahgunakan, obat, atau terapi lain atau kondisi medis umum Catatan : Episode menyerupai hipomanik yang secara nyata disebabkan terapi antidepresan somatic (cth. Obat, terapi elektrokonvulsif, terapi cahaya) sebaiknya tidak dimasukkan kedalam diagnosis Bipolar II.

VI.

PENATALAKSANAAN
[2]

1. PSIKOFARMAKA

Antimania yang juga disebut sebagai mood modulator atau mood stabilizer merupakan obat yang digunakan untuk mengatasi gejala sindrom mania dan mencegah berubah-ubahnya suasana hati pasien. Episode berubahnya mood pada umumnya tidak berhubungan dengan peristiwa peristiwa kehidupan. Gangguan biologis yang pasti belum diidentifikasi tapi diperkirakan berhubungan dengan peningkatan aktivitas katekolamin. Berdasarkan hipotesis, sindrom mania disebabkan oleh tingginya kadar serotonin dalam celah sinaps neuron khususnya pada sistem limbik.
1) Lithium
[2]

Lithium adalah kation monovalen yang kecil. Telah lama dikenal bahwa lithium merupakan pengobatan yang paling disukai pada gangguan manik. Angka

keberhasilannya pada remisi pasien dengan fase manik dilaporkan mencapai 6080%. Sampai saat ini lithium karbonat dikenal sebagai obat gangguan bipolar terutama pada fase manik. Pengobatan jangka panjang menunjukkan penurunan resiko bunuh diri. Bila mania masih tergolong ringan, lithium sendiri merupakan obat yang efektif. pada kasus berat, hampir selalu perlu ditambah clonazepam atau lorazepam dan kadang ditambah antipsikosis juga. Setelah mania dapat teratasi, antipsikosis boleh dihentikan dan lithium digunakan bersamaan dengan benzodiazepine untuk pemeliharaan. Efek Samping
Efek neurologis: tremor, koreoatetosis, hiperaktivitas motorik, ataksia, disartria

dan afasia.
Efek pada fungsi tiroid: dapat menurunkan fungsi kelenjar tiroid tapi efeknya

reversibel dan nonprogresif. Beberapa pasien mengalami pembesaran kelenjar gondok dan gejala-gejala hipotiroidisme. Oleh sebab itu perlu dilakukan pengukuran kadar TSH serum setiap 6-12 bulan.
Efek pada ginjal: polidipsi dan poliuri sering ditemukan namun bersifat reversibel.

Beberapa literatur menerangkan bahwa terapi lithium jangka panjang dapat menyebabkan disfungsi ginjal termasuk nefritis interstitial kronis dan

glomerulopati perubahan minimal dengan sindrom nefrotik. Penurunan laju filtrasi glomerulus telah ditemukan tapi tidak ada contoh mengenai azotemia maupun gagal ginjal. Tes fungsi ginjal harus dilakukan secara periodik untuk mendeteksi perubahan-perubahan pada ginjal.
Edema: Hal ini mungkin terkait dengan efek lithium pada retensi natrium.

Peningkatan berat badan pada pasien diduga karena edema namun pada 30% pasien tidak mengalami peningkatan berat badan.
Efek pada jantung: Ion lithium dapat menekan pada nodus sinus sehingga sindrom

bradikardi dan takikardi merupakan kontraindikasi penggunaan lithium.


Efek pada kehamilan dan menyusui: Laporan terdahulu menyatakan peningkatan

frekuensi kelainan jantung pada bayi dengan ibu yang mengkonsumsi lithium terutama anomali Ebstein. Namun data terbaru menyebutkan resiko efek teratogenik relatif rendah.Lithium didapatkan pada air susu dengan kadar sepertiga sampai setengah dari kadar serum. Toksisitas pada bayi dimanifestasikan dengan letargi, sianosis, reflek moro dan reflek hisap berkurang dan hepatomegali.

Efek lainnya: Telah dilaporkan efek erupsi jerawat dan folikulitis pada

penggunaan lithium. Leukositosis selama pengobatan dengan lithium selalu ada yang merefleksikan efek langsung pada leukopoiesis. Preparat yang Tersedia Lithium carbonate (generik, Eskalith) Oral: 150; 300; 600 mg kapsul, 300 mg tablet, 8 meq/5 mL sirup, 300; 450 mg tablet sustained release Dosis: 250-500 mg/hari
2) Asam Valproat (valproic acid; valproate)
[2]

Obat ini merupakan suatu agen untuk epilepsi dan telah terbukti memiliki efek antimania. Valproate manjur untuk pasien-pasien yang gagal memberikan respon terhadap lithium. Secara keseluruhan, valroate menunjukkan keberhasilan yang setara dengan lithium pada awal minggu pengobatan. Kombinasi valproate dengan obatobatan psikotropik lainnya mungkin dapat digunakan dalam pengelolaan fase kedua pada penyakit bipolar yang umumnya dapat ditoleransi dengan baik. Valproate telah diakui sebagai pengobatan lini pertama untuk mania. Preparat yang Tersedia Valproic acid (generik, Depakene) Oral: 250 mg kapsul, 250 mg/5 mL sirup Dosis: 3 x 250 mg/hari
3) Carbamazepine
[2]

Carbamazepine telah dianggap sebagai alternatif yang pantas untuk lithium jika lithium kurang optimal. Obat ini dapat digunakan untuk mengobati mania akut dan juga untuk terapi profilaksis. Efek samping carbamazepine pada umumnya tidak lebih besar dari lithium dan kadang bahkan lebih rendah. Carbamazepine dapat digunakan sendiri atau pada pasien yang refrakter dapat dikombinasi dengan lithium. Cara kerja carbamazepine tidak jelas, tetapi dapat mengurangi sensitisasi otak terhadap perubahan mood. Mekanisme tersebut mungkin serupa dengan efek antikonvulsinya. Meskipun efek diskrasia darah menonjol pada penggunaannya

sebagai antikonvulsi, namun tidak menjadi masalah besar pada penggunaanya sebagai penstabil mood . Preparat yang Tersedia Carbamazepine (generic, Tegretol) Oral: 200 mg tablet; 100 mg tablet kunyah, 100 mg/5 mL suspensi, 100; 200; 400 mg tablet extended-release, 200; 300 mg kapsul. Dosis: 400-600 mg/hari
4) Chloropromazine [7]

Cara kerja chloropromazine tidak jelas, tetapi dikatakan dapat menghalang reseptor D2 pada chemoreceptor trigger zone di otak. Efek sampingnya adalah sedasi ,hipotensi postural,peningkatan prolaktin di tubuh dsb
5) Neuroleptik atipikal dan tipikal yang lain [7]

Atipikal: Olanzapine, Risperidone, Quetiapine, Ziprasidone, and Aripiprazole Tipikal: Haloperidol Dibandingkan dengan agen yang tipikal, seperti Haloperidol (Haldol) dan Chlorpromazin (Thorazine), antipsikotik atipikal memiliki peluang yang lebih rendah untuk tardive dyskinesia perangsangan postsynaptic, dan banyak obat atipikal tidak meningkatkan kadar prolaktin. Tetapi obat-obat jenis ini akan menyebabkan risiko tinggi dalam penaikan berat badan, sakit kepala,gangguan jantung dan sebagainya

6) Clonazepam and lorazepam

[7]

Keduanya berasal dari golongan benzodiazepine dan sangat berguna untuk mengobati gangguan mania akut.Cara kerja antipsikotik ini adalah dengan menghalang inhibitory action GABA dengan mengikat dirinya dengan reseptor GABA di sistem saraf pusat 2.PSIKOTERAPI [5] Selain pengobatan, psikoterapi, atau "terapi berbicara" , dapat menjadi pengobatan yang efektif untuk gangguan mood afektif seperti mania. Hal ini dapat memberikan dukungan, pendidikan, dan bimbingan untuk orang dengan gangguan mania dan

keluarga mereka. Beberapa perawatan psikoterapi digunakan untuk mengobati gangguan mania meliputi:

1) Terapi perilaku kognitif (CBT) membantu orang dengan gangguan mania belajar

untuk mengubah pola pikir berbahaya atau negatif dan perilaku.

2) Keluarga yang berfokus pada terapi termasuk anggota keluarga. Ini membantu

meningkatkan strategi koping keluarga, seperti mengenali episode baru awal dan membantu mereka cintai. Terapi ini juga meningkatkan komunikasi dan pemecahan masalah.

3) Terapi irama interpersonal dan sosial membantu orang dengan gangguan bipolar

meningkatkan hubungan mereka dengan orang lain dan mengelola rutinitas seharihari. Rutinitas sehari-hari yang teratur dan jadwal tidur dapat membantu melindungi terhadap episode manik.

4) Psychoeducation mengajarkan orang dengan gangguan mania tentang penyakit dan

pengobatannya. Perawatan ini membantu orang mengenali tanda-tanda kambuh sehingga mereka dapat mencari pengobatan awal, sebelum episode-besaran terjadi. Biasanya dilakukan dalam kelompok, psychoeducation juga dapat membantu untuk anggota keluarga dan pengasuh.

VII.

PROGNOSIS

Emil Kraepelin,yang mendeskripsikan sifat episodik mania-depresi,menyatakan bahwa kondisi episodik manik tunggal biasanya akan sembuh sendiri seiring waktu dengan atau tanpa pengobatan, akan tetapi kejadian episodik tunggal sangatlah jarang. Oleh karena itu digunakan istilah bipolar untuk menggambarkan individu yang mengalami gabungan episode manik dan juga depresi. Studi menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan berdasarkan usia dan jenis kelamin saat ini. Namun, angka morbiditas pada masa kecil atau remaja lebih tinggi pada usia lanjut. Pasien yang mengalami langsung dari satu kutub (mania atau depresi) yang lain

juga cenderung membutuhkan waktu lebih lama dan serangan lebih sering daripada pasien yang mengalami episode diskrit mania atau depresi.[8]

DAFTAR PUSTAKA

1. Sadock BJ, Sadock Virginia Alcott. Kaplan&Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis. Edisi 2. New York.2012. hal 189 2. Yulia Sari Risnawati. Tesis: Psikatrik Gangguan Afektif. [online] 13. August. 2010 [cited 10 Juli 2013 ], Available from: http://www.scribd.com/Makalah-Psikiatri-Gangguan-Afektif 3. Rusdi M. Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III.Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya. 2001 hal 58-61 4. Ahmad Yusron Alfi Wakhianto Anggara Hadinata, dll. : Mania [online] Mei, 2009 [cited 10 Juli 2013], Available from: www.scribd.com/-GangguanAfektifMania 5. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Kaplan dan Sadock Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry. Edisi 10. New York: Lippincott Williams. 1997. hal 529-34, 552-3 6. Inu Wicaksana. Aspek Neuropsikologi Gangguan Mood : Depresi dan Mania [online] Oktober 2011 [cited 10 Juli 2013] ,Available from: http://www.inuwicaksana.com/ 7. Sukhdev Chatu. The Hands on Guide to Clinical Pharmacology.Edisi 3.United Kingdom. Wiley-Blackwell. 2010. hal 98-107 8. Judd LL, Akiskal HS, Schettler PJ, et al. The Recognition and Management of Mania : Prognosis [online] [cited 10 Juli 2013 ], Available from:

http://www.medscape.org/viewarticle/487928_2