Anda di halaman 1dari 17

Presentasi Kasus Pediatri Sosial SEORANG ANAK PEREMPUAN UMUR 11 BULAN DENGAN TERSANGKA GLOBAL DELAY DEVELOPMENT

Oleh : Handayani Putri Calista Giovani Gunalan Krishnan G99122055 (E 14 2013) G99122027 (E 15 2013) G0007513

KEPANITERAAN KLINIK SMF ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR MOEWARDI SURAKARTA

2013

BAB I STATUS PENDERITA

I. IDENTITAS PENDERITA Nama Umur Jenis Kelamin Agama Alamat No. RM II. ANAMNESIS Anamnesis diperoleh dengan cara alloanamnesis terhadap orang tua pasien Keluhan Utama Belum bisa duduk Riwayat Penyakit Sekarang Pasien adalah konsulan dari SSD Cardio dengan keterlambatan perkembangan. Saat ini pasien sudah mulai latihan berjalan, belum bisa merangkak, sudah bisa tepuk tangan, sudah bisa angkat kepala. Pasien sudah mulai mengoceh ta ta ta. Selalu merespon saat dipanggil. Pasien mulai angkat kepala saat umur 4 bulan. Demam (-), batuk (-), pilek (-), sesak nafas (-), diare (-), muntah (-), buang air besar dan buang air kecil tidak ada kelainan, nafsu makan baik. : An. A : 11 bulan : Perempuan : Islam : Mojosongo : 01138933

Tanggal Pemeriksaan : 6 Mei 2013

Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat alergi obat/makanan : (-) Riwayat asma Riwayat kejang : (-) : (+), satu kali, umur 7 bulan, > 15 menit, kejang seluruh tubuh Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat perkembangan terlambat Riwayat kejang pada keluarga Riwayat alergi obat/makanan : (-) : (-) : (-)

Riwayat Penyakit yang Pernah Diderita Faringitis Bronkitis Morbili Pertusis Varicella Malaria Polio Diare Disentri Cacingan (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-)

Thypus abdominalis (-)

Riwayat Sosial Ekonomi dan Lingkungan Pasien adalah anak tunggal. Ayah pasien bekerja sebagai pegawai swasta yang rata-rata penghasilan perbulannya adalah 2.000.000 rupiah. Ibu pasien adalah ibu rumah tangga. Keluarga pasien menempati rumah permanen berukuran 15 x 10 m2. Dalam satu rumah terdapat pasien, ayah, ibu dan nenek pasien.

Pohon Keluarga Keterangan : laki-laki : perempuan : penderita

Riwayat Makan Minum Anak Usia 0-6 bulan : ASI, frekuensi minum susu tiap kali bayi menangis atau minta minum, sehari biasanya lebih dari 8 kali. Setelah usia 6 bulan mengkonsumsi ASI dan makanan tambahan.

Riwayat Pemeriksaan Kehamilan dan Prenatal Pemeriksaan kehamilan dilakukan ibu penderita di bidan desa setempat. Frekuensi pemeriksaan pada trimester I dan II 2 bulan sekali, dan pada trimester III 1 kali tiap bulan. Penyakit selama kehamilan (-). Riwayat minum jamu selama hamil (-), obat-obatan yang diminum adalah vitamin dan tablet penambah darah. Ibu pernah hamil sebanyak 3 kali, keguguran sebanyak 2 kali. Riwayat Kelahiran Pasien lahir ditolong bidan, usia kehamilan: 9 bulan, berat lahir: 2700 g, panjang badan: 49 cm. Pasien lahir spontan induksi dan tidak langsung menangis. Riwayat ketuban pecah dini (+), riwayat keputihan (+). Dirawat di KBRT sampai 1 bulan. Riwayat Pemeriksaan Post Natal Pemeriksaan bayi setelah lahir dilakukan di posyandu saat imunisasi.

Riwayat Imunisasi Jenis I II BCG 1 bulan DPT 2 bulan 4 bulan POLIO 1 bulan 2 bulan Hepatitis B 1 bulan 2 bulan Campak 9 bulan Kesimpulan : imunisasi sesuai jadwal III 6 bulan 3 bulan 5 bulan IV 6 bulan -

Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan (Berdasarkan Denver II) Motorik Kasar Setara dengan umur Bahasa Setara dengan umur Motorik halus Setara dengan umur Personal sosial Setara dengan umur Keluarga Berencana Keluarga tidak mengikuti program KB. 7 bulan 7 bulan 4 bulan 7 bulan

III. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum : baik Derajat Kesadaran: komposmentis Status gizi : kesan gizi baik

Vital Sign: t : 36,7oC

N : 88 x/menit, RR : 24 x/menit BB : 9.2 kg TB : 80 cm Status gizi secara antropometri: BB = 9,2 x 100 % = 104,54 % 0 SD < BB < 2 SD U 8,8 U

TB = 80 x 100 % = 108,84 % 2 SD < TB < 3 SD U 73,5 U

BB = 9,2 x 100 % = 91,09% -2SD < BB < -1 SD TB 10,1 TB Status gizi secara antropometri : gizi baik Kepala Mata Hidung Telinga Mulut Leher Thorax Cor Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Pulmo Inspeksi : Pengembangan dada kanan = kiri : Ictus cordis tidak tampak : Ictus cordis tidak kuat angkat : Batas jantung kesan tidak membesar : BJ I-II intensitas normal, reguler, bising (-) : bentuk mesocephal, LK 44 cm : conjunctiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-) : napas cuping hidung(-) : sekret (-) : mukosa basah (+), sianosis (-), faring hiperemis (-) : kelenjar getah bening tidak membesar : bentuk normochest, retraksi (-), gerakan simetris kanan = kiri

Palpasi Perkusi Auskultasi Abdomen Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Ekstremitas: akral dingin -

: Fremitus raba kanan = kiri : Sonor / Sonor di semua lapang paru : SD vesikuler (+/+), RBK (-/-), RBH (-/-) : dinding dada setinggi dinding perut : bising usus (+) normal : tympani : nyeri tekan (-), hepar tidak teraba, lien tidak teraba sianosis oedem

ADP teraba kuat CRT < 2 IV. DIAGNOSIS BANDING 1. Global Delayed Development 2. Gizi baik V. DIAGNOSIS Global Delayed Development V. PENATALAKSANAAN 1. Konsultasi rehabilitasi medik untuk fisioterapi dan terapi wicara VI. PROGNOSIS Ad vitam Ad sanam Ad fungsionam : bonam : dubia ad bonam : dubia ad malam BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Global Delayed Development 1. Latar Belakang Bayi lahir dalam tahap perkembangannya akan mempelajari beberapa kemampuan penting (misalnya berbicara, bergaul dengan lingkungannya, serta berjalan) menurut tahap berkelanjutan yang dapat diperkirakan dengan peranan motivasi, pengajaran dan dukungan selama pertumbuhannya. Kemampuankemampuan tersebut dikenal sebagai tahapan perkembangan. Perkembangan yang terlambat (developmental delay) adalah ketertinggalan secara signifikan pada fisik, kemampuan kognitif, perilaku, emosi, atau perkembangan sosial seorang anak bila dibandingkan dengan anak normal seusianya. Seorang anak dengan developmental delay akan tertunda dalam mencapai satu atau lebih perkembangan kemampuannya. Seorang anak dengan Global Delay Development (GDD) adalah anak yang tertunda dalam mencapai sebagian besar hingga semua tahapan perkembangan pada usianya. Prevalensi GDD diperkirakan 5-10 persen dari populasi anak di dunia dan sebagian besar anak dengan GDD memiliki kelemahan pada semua tahapan kemampuannya. Global Delay Development merupakan keadaan yang terjadi pada masa perkembangan dalam kehidupan anak (lahir hingga usia 18 bulan). Ciri khas GDD biasanya adalah fungsi intelektual yang lebih rendah daripada anak seusianya disertai hambatan dalam berkomunikasi yang cukup berarti, keterbatasan kepedulian terhadap diri sendiri, keterbatasan kemampuan dalam pekerjaan, akademik, kesehatan dan keamanan dirinya.

2. Epidemiologi

Sekitar 8 persen dari seluruh anak usia lahir hingga 6 tahun di dunia memiliki masalah perkembangan dan keterlambatan pada satu atau lebih area perkembangan. Sekitar 1-3 % anak usia 0-5 tahun di dunia mengalami GDD. Sementara di Indonesia khususnya di Jakarta, telah dilakukan Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak (SDIDTK). Hasilnya, dari 476 anak yang diberi pelayanan SDIDTK, ditemukan 57 (11,9%) anak dengan kelainan tumbuh kembang. Adapun lima jenis kelainan tumbuh kembang yang paling banyak dijumpai adalah, Delayed Development (tumbuh kembang yang terlambat) sebanyak 22 anak, Global Delayed Development sebanyak 4 anak, gizi kurang sebayak 10 anak, Mikrocephali sebanyak 7 anak dan anak yang tidak mengalami kenaikan berat badan dalam beberapa bulan terakhir sebanyak 7 anak. 3. Etiologi Penyebab kelainan pertumbuhan dan perkembangan anak dibagi menjadi 3 masa : 1. Masa prenatal (sebelum lahir) Masa prenatal (sebelum lahir) terdiri dari atas faktor genetik dan faktor lingkungan. Kehidupan intrauterine juga dibagi menjadi dua masa, yaitu masa embrional (triwulan I) dan masa fetal (minggu 12 sampai bayi lahir). Pengaruh lingkungan selama masa embrio dapat menghentikan pertumbuhan dan menyebabkan kelainan tumbuh kembang anak. Faktor lingkungan yang dapat menyebabkan kelainan tumbuh kembang tersebut adalah : a) Obat-obatan : thalidomide, aminopterin, insulin, sitoksan b) Penyakit : rubella, toksoplasmosis, lues congenital c) Makanan : kekurangan protein hewani selama masa kehamilan dapat menyebabkan abortus, prematuritas, retardasi mental, terutama pada kehamilan trimester II dan III d) Radiasi dan trauma mekanik

10

2. Masa natal (sewaktu lahir) Sewaktu lahir, bayi dapat mengalami trauma lahir, yang nantinya berakibat pada munculnya kelainan pertumbuhan dan perkembangannya. 3. Masa pasca natal (setelah lahir) Penyakit infeksi bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan, misalnya gastroenteritis, bronkopneumonia, tetanus, kejang, serta defisiensi gizi. Selain tersebut di atas, kelainan perkembangan juga bisa disebabkan oleh kurangnya stimulasi dalam perkembangan anak, di mana lingkungan terutama orang tua kurang mengajari anak dalam proses perkembangannya. Selain itu, untuk perkembangan kemampuan bicara, penggunaan bahasa campuran dalam mengajari anak dapat menyebabkan bingung bahasa pada anak, sehingga perkembangan kemampuan bahasa anak terlambat. 4. Patogenesis Terdapat beberapa penyebab yang mungkin menyebabkan Global Delayed Development dan beberapa penyebab dapat diterapi. Oleh karena itu, pengenalan dini dan diagnosis dini merupakan hal yang penting. Beberapa etiologi yang lain diturunkan secara genetik. Penyebab yang paling sering adalah abnormalitas kromosom dan malformasi otak. Hal lain yang dapat berhubungan dengan penyebab GDD adalah keadaan ketika perkembangan janin dalam kandungan. Beberapa penyebab lain adalah infeksi dan kelahiran prematur. 5. Perkembangan Anak dengan GDD Komponen perkembangan yang diperiksa pada anak dengan GDD: a) Komponen motorik (kemampuan motorik kasar seperti bangkit berdiri, berguling, dan motorik halus seperti memilih benda kecil). b) Kemampuan berbicara dan bahasa (berbisik, meniru kata, menebak suara yang didengar, berkomunikasi non verbal misalnya gesture, ekspresi wajah, kontak mata).

11

c)

Kemampuan kognitif (kemampuan untuk mempelajari hal baru, menyaring dan mengolah informasi, mengingat dan menyebutkan kembali, serta memberikan alasan).

d) Kemampuan sosial dan emosi (interaksi dengan orang lain dan perkembangan sifat dan perasaan seseorang). 6. Gejala Klinis Sebagian terdapat biasanya: Keterlambatan perkembangan sesuai tahap perkembangan pada usianya: anak terlambat untuk bisa duduk, berdiri, berjalan. Keterlambatan kemampuan motorik halus/kasar Rendahnya kemampuan sosial Perilaku agresif Masalah dalam berkomunikasi besar pemeriksaan difokuskan pada keterlambatan perkembangan kemampuan kognitif, motorik, atau bahasa. Gejala yang

7. Diagnosis 1. Anamnesis Pasien belum bisa melakukan atau berbicara sesuai dengan kemampuan yang harus dicapainya berdasarkan umurnya. 2. Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik yang utama berdasarkan pada hasil pemeriksaan Denver II, untuk anak kurang dari 6 tahun, juga pemeriksaan lingkar kepala serta masih membuka atau menutupnya UUB sangat menentukan prognosis penatalaksanaan yang diberikan. 3. Pemeriksaan Penunjang Beberapa pedoman memberikan rekomendasi diagnosis: Pemeriksaan sitogenik

12

Pemeriksaan fragile X molecular genetic Pemeriksaan metabolik Pemeriksaan neurologis: EEG, MRI

8. Penatalaksanaan Tidak ada terapi khusus bagi penderita GDD, tetapi untuk beberapa keadaan dapat dilakukan penatalaksanaan. Jika ditemukan masalah dalam pendengaran atau penglihatan, dapat dilakukan koreksi. Perlu mengingat bahwa penyebab GDD dapat saja tidak diketahui. Kepekaan terhadap keadaankeadaan yang dapat membuat keterlambatan perkembangan menolong tenaga medis, orang tua, maupun guru penderita GDD. Prinsip penatalaksanaan delay development ialah dengan terapi rehabilitasi medik sesuai dengan keterlambatan yang terjadi. Pasien ini

13

mengalami keterlambatan dalam hal berbicara dan juga motorik kasar sehingga diperlukan speech therapy dan fisioterapi. Penanganan sebaiknya dilakukan sedini mungkin untuk membantu orang tua dan anak-anak sehingga menghindari atau memperkecil kelainan pada masa sekolah. Tabel 1. Penatalaksanaan kelainan bicara dan bahasa Masalah 1. Lingkungan a. Sosek rendah b. Tekanan keluarga c. Keluarga bisu d. Bahasa lingual Penatalaksanaan a.meningkatkan stimulasi b. mengurangi tekanan c.meningkatkan stimulasi d.menyederhanakan masukan bahasa 2. Emosi a.Ibu yang tertekan keluarga c. Gangguan serius 3. Masalah Pendengaran a. Kongenital a. memonitor dan obati a.Ahli THT kalau memungkinkan b. dapat 4. Perkembangan Lambat a.di bawah rata-rata b.perkembangan lambat c. retardasi mental Di b.memonitor dan obati b.Ahli THT kalau memungkinkan a.tingkatkan stimulasi b.tingkatkan stimulasi c. maksimalkan potensi a.ahli terapi wicara b.ahli terapi wicara c. program khusus a.meningkatkan stimulasi lingkungan emosi c. meningkatkan status c.Psikoterapi emosi anak a.konseling,kelompok BKB b.Psikoterapi b.Gangguan serius pada b.menstabilkan Rujukan a.Kelompok BKB b.Konseling keluarga c.Konseling BKB d. Ahli terapi wicara

14

5. Cacat Bawaan a. palatum sumbing b. sindrom down 6. Kerusakan Otak a.Kerusakan Neuromuskuler b.Sensorimeter

a.monitor dan dioperasi b. monitor dan stimulasi

a.ahli terapi setelah operasi b.rujuk terapi wicara

a.mengatasi makanan meningkatkan

masalah a.rujuk ke ahli terapi kerja, dan ahli gizi, ahli terapi wicara

kemampuan bicara anak b.mengatasi makanan meningkatkan kemampuan bicara anak c.mengoptimalkan c.Palsi serebral dan bicara anak d.mengatasi d.Masalah persepsi keterlambatan bicara d. rujuk ke ahli terapi kerja, ahli gizi, ahli terapi wicara c. rujuk ke ahli terapi kerja, kemampuan fisik kognitif ahli gizi, ahli terapi wicara masalah b. rujuk ke ahli terapi kerja, dan ahli gizi, ahli terapi wicara

Fisioterapi merupakan salah satu jenis layanan terapi fisik yang menitikberatkan untuk menstabilkan atau memperbaiki gangguan fungsi alat gerak/fungsi tubuh yang terganggu yang kemudian diikuti dengan proses/metode terapi gerak. Fisioterapi membantu anak mengembangkan kemampuan motorik kasar. Kemampuan motorik kasar meliputi otot-otot besar pada seluruh tubuh yang memungkinkan tubuh melakukan fungsi berjalan, melompat, jongkok, dan seterusnya.

15

Layanan fisioterapi juga bertujuan untuk membantu seseorang yang mengalami gangguan fisik untuk memperbaiki gerak sendi (LGS) dan kekuatan otot (KO) agar dapat berfungsi seperti semula. 9. Pemantauan Tumbuh kembang Kontrol kembali setelah 3 bulan dilakukan terapi rehabilitasi untuk melihat perkembangan kondisinya. 10. Pencegahan Pencegahan keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan anak dengan pemeriksaan bayi dan balita secara teratur dan diperhatikan betul mengenai perkembangan anak sesuai dengan yang seharusnya telah ia capai. Selain itu, stimulasi dan melatih anak dalam proses perkembangannya sangat diperlukan juga pemberian gizi yang seimbang. Begitu pula dari segi motivasi psikologis dan kasih sayang yang cukup untuk anak sangat diperlukan dalam perkembangannya. 11. Prognosis Global Development Delay memiliki kemungkinan penyebab yang beraneka ragam. Keterlambatan perkembangan dapat terjadi pada otak anak saat otak terbentuk pada masa gestasi. Penyebab yang mungkin antara lain: lahir prematur, kelainan genetik dan herediter, infeksi, tetapi seringkali penyebab GDD tidak dapat ditentukan. Secara umum, perjalanan penyakit GDD tidak memburuk seiring dengan waktu pertumbuhan anak. DAFTAR PUSTAKA Donna LW. Wongs essential 2001.p.100-103. of pediatric nursing. Ed 6. Mosby inc;

16

Gunarsa S. Dari Anak Sampai Usia Lanjut . Jakarta: PT. Gunung Mulia; 2006.p.25-28. Hasan R, Hussein A. Ilmu Kesehatan Anak Jilid II: Global Development Delay. Jakarta: FK UI Press; 1985.p.884-888. Jacoby D. Pustaka Kesehatan Populer (Psikologi). Jakarta: PT. Buana Ilmu Populer; 2009.p.120-125. Menkes JH. Textbook of Child Neurology. 4th. ed. Philadelphia: Lea & Febiger; 1990.p.306-311. Nefid J. Psikologi Abnormal Jilid 1 dan 2.Jakarta : Erlangga; 2002.p.101-103. Soetjiningsih. Tumbuh Kembang Anak; editor: IG.N. Gde Ranuh. Jakarta : Penerbit EGC; 1995.p.247.

17