Anda di halaman 1dari 45

Ramadhan Bulan Al Quran

Ramadhan & Yusuf Alaihissalam

Keluarga Muslim di Tiga Bulan Tarbiyah

Kalian Hanya Puasa di dari 45 Ramadhan...?

Relungan ...

12

Buka Puasa Ala Ibnu Umar radhiallahu anhu

Inspirasi ...

24

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

Ayyam Madudat

Mukaddimah
Ramadhan ibarat perjalanan panjang nan indah. Di sepanjang jalannya penuh dengan pemandangan menyejukkan pandangan mata, menenteramkan jiwa. Bertabur bunga, angin se-

... 9
Perintah Membangun Romantisme dari Langit

milir menyentuh setiap sendi. Perjalanannya tidak hanya dalam hitungan jam. Tidak pula hanya satu atau dua hari. Tetapi satu bulan penuh. Sebuah suntikan tenaga bagi perjalanan 11 bulan sisa dalam setahun. Tetapi sayangnya, semua keindahan dan kenikmatan itu hanya bisa dinikmati oleh satu jenis manusia; mukmin. Di sinilah pentingnya setiap muslim menyiapkan dirinya sebagai mukmin sebelum hilal Ramadhan terlihat. Agar saat gerbang Ramadhan telah dibuka dan perjalanan dimulai, semuanya bernilai kebaikan, kemuliaan dan kebahagiaan. Bukan perjalanan yang melelahkan, membosankan dan menyulitkan. Dengan semangat menyiapkan diri dan keluarga untuk menghadapi Ramadhan, Kuliah Online Parenting Nabawiyah edisi Syaban membahas secara khusus Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan. Semoga menjadi petunjuk dan inspirasi bagi setiap keluarga muslim dalam menyusun setiap rencana perjalanannya di Bulan Ramadhan. Ya Allah bimbing kami...

... 13
Ramadhan = Taqwa = Sucinya Harta

... 42
Penulis Edisi Juni : Ustadz Budi Ashari, Lc

Pengisi acara "Khalifah" Trans 7 setiap sabtu dan ahad jam 05.00 pagi. "Ketika hidup selalu terasa sial" dan "Inspirasi dari rumah cahaya", adalah dua buah buku yang di hasilkan dari kegemarannya menulis. Iapun menjadi salah satu inspirator, pendiri dan penulis rutin website cahayasiroh.com.

Ustadz Elvin Sasmita, S.Kom


Salah satu pendiri yayasan cahaya siroh ini adalah juga penulis tetap di website cahayasiroh.com. Belakangan mulai tertarik dengan bidang "parenting nabawiyah". Sebuah konsep pola asuh keluarga yang menggunakan konsep dan pendekatan Nubuwah. Aktivitas lain di dari 45 kerjasama Universitas Islam 45 Bekasi dengan Lachotia bidang IT 2 diantaranya Computer Centre dan APTECH India. Mendirikan HATCamp Training Open Source Corner dan Kuplug, organisasi yang mengembangkan dan memakai software komputer, berbasis open source.

Office : Busines Hall, Bazaar Madinah, Jalan Lafran Pane (RTM) no. 100, Tugu, Cimanggis - Depok Website :
http://kuliahonline.parentingnabawiyah.com

Email : info@parentingnabawiyah.com

Keluarga Muslim di Tiga Bulan Tarbiyah

3 dari 45

Ustadz Budi Ashari, Lc

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

Ramadhan sudah dekat. Alhamdulillah. Musim semi orang-orang beriman itu dinanti karena kebaikan dan kenikmatannya. Tentu hanya orang beriman yang menantinya. Karena jika tidak beriman, Ramadhan hanya beban yang memberatkan dan menghilangkan kenikmatan. Setiap keluarga mukmin ingin Ramadhannya bertenaga dan berkesan serta meningkat lebih baik. Hanya saja, sering kali kita baru merasakan bahwa Ramadhan kita dan keluarga kurang maksimal setelah berada di penghujungnya. Salah satu penyebabnya adalah persiapan yang tidak baik. Perjalanan Ramadhan menempuh taman hijau yang menanjak. Indah bagi yang tidak mempedulikan bentuk jalannya. Bagi yang sibuk menilai jalan yang melelahkan itu, maka taman hijau di kanan kirinya hampir tak berarti. Keindahannya. Tak hanya sehari atau dua hari. Juga tidak sekalikali. Tetapi satu bulan penuh. Perjalanan seperti itu, bagaimana tidak disiapkan sebaik mungkin perbekalannya. Pasti. Perjalanan panjang itu memerlukan persiapan yang baik. Gagal pada persiapan, bisa menimbulkan masalah pada perjalanan. Persiapan itu bukan sibuk mencari tiket jauh-jauh hari. Juga bukan sibuk menghitung budget sepanjang Ramadhan dan pulang kampung. Sehingga sibuk mencari tambahan untuk itu. Persiapan juga bukan memikirkan jenis menu sepanjang Ramadhan. Kalau demikian, persiapan apa yang diperlukan. Persiapan itu telah diajarkan Rasulullah pada dua bulan sebelumnya; Rajab dan Syaban. Sebagaimana dalam sabda beliau,

Dari Usamah bin Zaid berkata: aku bertanya: Ya Rasulullah aku belum pernah melihatmu berpuasa di bulan-bulan lain, seperti puasamu di bulan Syaban. Rasul menjawab: itu ada bulan yang dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan diangkatnya amal padanya kepada Robbul alamin. Maka aku ingin amalku diangkat dalam keadaan berpuasa. (HR. Nasai, dihasankan oleh Al Albani)
4 dari 45 Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

Di dalam hadits ini, Rasulullah mengingatkan kita tentang bulan yang dilupakan yaitu Syaban yang ada di antara Rajab dan Ramadhan. Itu artinya, Rajab dan Ramadhan merupakan bulan yang sangat diperhatikan oleh masyarakat Nabi Arab saat itu. Maka mari kita lihat apa yang ada di bulan Rajab, Syaban kemudian Ramadhan.

Rajab
Setelah dikaji oleh para ulama, seluruh riwayat hadits tentang keutamaan bulan Rajab, maka inilah dua kesimpulan dua ulama besar di bidang hadits, Ibnu Qoyyim, Setiap hadits tentang puasa Rajab dan shalat pada sebagian malamnya adalah dusta. (Al-Manarul Munif hal 96) Ibnu Hajar, Tidak ada dalil yang shahih tentang keutamaan Bulan Rajab baik keutamaan untuk puasa atau qiyam. (Tabyinul Ajab hal 11) Dengan demikian, tidak amal khusus di bulan Rajab. Sama sekali. Karena beribadah harus berlandaskan dalil yang shahih. Jika tidak, maka kita termasuk orang-orang yang beramal dengan tanpa ilmu. Sebagaimana yang disifati dalam Al Fatihah dengan kata ( / sesat). Tetapi Bulan Rajab mempunyai keistimewaan seperti yang disampaikan oleh Al Quran. Allah berfirman, Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. (Qs. atTaubah: 36) Dari Abu Bakrah radhiallahu anhu bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam saat khutbah Haji Wada bersabda, Sesungguhnya waktu berputar sebagaimana hari penciptaan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan di antaranya ada empat bulan haram, tiga bulan berturut-turut: Dzul Qodah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab mudhar yang ada di antara bulan Jumadi dan Syaban. (HR. Bukhari no. 1741 dan Muslim no 1679) Secara bahasa Rajab berarti keagungan, hal ini karena orang-orang Arab dahulu mengagungkan bulan ini sebagaimana syariat juga menjadikannya sebagai bulan haram (mulia). (Ibnu Faris dalam mujam maqayis lughah hal. 445) Kini kita berada di Bulan Rajab. Salah satu bulan haram (mulia). Apa yang harus kita lakukan pada bulan seperti ini?

5 dari 45

Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

Ada dua hal yang harus diperhatikan, 1. Jangan berbuat dosa padanya, karena akan dilipatgandakan Allah berfirman: maka janganlah kamu menganiaya diri. (Qs. At Taubah: 36) 2. Jangan menumpahkan darah padanya Allah berfirman: Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar. (Qs. Al Baqarah: 217) Poin pertama adalah melakukan kesalahan dan dosa pada diri kita sendiri. Sedangkan poin kedua adalah melakukan kesalahan dan dosa pada orang lain. Keduanya, harus sangat dihindari di bulan mulia ini. Berarti semangat Rajab adalah : menjaga diri dari dosa.

Syaban
Bulan ini disebut Nabi sebagai : a. Bulan yang dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan b. Bulan diangkatnya amal padanya kepada Robbul alamin Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan tentang amal di waktu lalainya manusia, Ibadah di waktu-waktu lalai mempunyai keutamaan di bandingkan waktu yang lain. Jadi, Bulan Syaban ini mempunyai dua keistimewaan : bulan dilalaikan dan bulan diangkatnya amal. Pada kedua hal tersebut, beramal mempunyai nilai baik. Nabi juga menyampaikan bahwa beliau ingin dicatat seorang yang berpuasa saat pengangkatan amal. Adapun tindakan Rasulullah dan shahabat di bulan ini adalah : a. Banyak Puasa Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu anha berkata, Dan aku tidak melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyempurnakan puasa satu bulan kecuali Ramadhan. Dan aku tidak melihat beliau puasa paling banyak dalam satu bulan kecuali pada bulan Syaban. (HR. Bukhari dan Muslim)

6 dari 45

Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

Begitu banyaknya hari-hari di Syaban yang dipuasai Nabi dengan puasa-puasa sunnah, hingga dalam riwayat lain Aisyah mengatakan bahwa Nabi puasa satu bulan penuh. Yang dimaksud oleh Aisyah adalah puasa hampir satu bulan penuh. b. Jika tidak, jangan lewatkan puasa pertengahan Syaban (Al Ayyam Al Bidh) Dari Imron bin Hushain radhiallahu anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya atau kepada yang lainnya: Apakah kamu puasa Surar Syaban? Dia menjawab: Tidak Nabi bersabda: Jika kamu berbuka, maka puasalah dua hari. (HR. Bukhari dan Muslim) Kata Surar/Sarar Syaban, para ulama berbeda pendapat apakah awal, pertengahan atau akhir bulan tersebut. An Nawawi menjelaskan hal ini dalam Al Minhaj. Pendapat yang kuat adalah : pertengahan dan akhir bulan. Jika maksudnya adalah pertengahan, maka yang dimaksud adalah puasa al ayyam al bidh. Dan jika yang dimaksud adalah akhir bulan, maka yang dimaksud adalah bagi mereka yang biasa berpuasa sunnah, diizinkan untuk puasa di akhir Syaban. Syaban adalah bulan Nabi menganjurkan untuk kita isi dengan banyak berpuasa. Jika tidak mampu berpuasa banyak, maka puasalah pada pertengahannya (13, 14, 15) Syaban. c. Bersihkan kemusyrikan & saling memaafkan Dari Abu Musa, dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, Sesungguhnya Allah memeriksa (hamba) di malam pertengahan Syaban. Dia mengampuni seluruh makhluknya kecuali orang yang musyrik atau bertikai. (HR. Ibnu Majah, dihasankan oleh Al Albani) Ini satu-satunya hadits yang bisa dijadikan landasan untuk keutamaan malam nisfu Syaban. Allah menurunkan ampunan bagi seluruh orang hamba beriman. Tidak ada amal tertentu yang diperintahkan untuk dilakukan pada malam tersebut. Ini adalah ampunan yang diturunkan Allah begitu saja, sebagai bukti Maha Pengampunnya Allah. Hanya saja, kita harus membersihkan dari dua hal : Kemusyrikan dan Pertengkaran. Jika

7 dari 45

Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

salah satunya atau keduanya masih ada dalam diri kita, maka ampunan itu akan terlewatkan. Jadi, budaya meminta maaf menjelang Ramadhan, lebih bagus jika dilaksanakan sebelum pertengahan Syaban. d. Batas akhir membayar hutang Ramadhan yang lalu Bagi yang mempunyai hutang di Ramadhan sebelumnya, diberi keluangan waktu untuk membayarnya hingga bulan Syaban tahun berikutnya. Hal ini dilakukan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu anha, Aisyah radhiallahu anha berkata, Saya mempunyai hutang puasa Ramadhan. Saya tidak mampu menggantinya kecuali pada Bulan Syaban dikarenakan kesibukanku (melayani) Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. (HR. Bukhari dan Muslim) Maka, semboyan orang beriman di Bulan Syaban : Berlatih dan Memperbanyak amal. Jika dua bulan; Rajab dan Syaban kita siapkan sebaik mungkin, maka Ramadhan akan menjadi sangat istimewa. Karena Ramadhan adalah gabungan antara meninggalkan dosa dan hal-hal yang membatalkan Ramadhan dan melakukan amal sebanyak-banyaknya. Rajab mengajarkan separo yang pertama, sementara Syaban mengajarkan separo yang kedua. Kesimpulan : Apa yang harus dilakukan bagi kita dan keluarga kita untuk menyiapkan diri menghadapi Ramadhan? 1. Persiapkan ilmu 2. Rajab : Bulan menahan diri dari dosa 3. Syaban : Bulan melatih diri untuk beramal sebanyak mungkin 4. Banyak berpuasa di Bulan Syaban 5. Jika tidak mampu berpuasa banyak di Syaban, maka puasalah pada al ayyam al bidh (13, 14, 15) Bulan Syaban 6. Sebelum pertengahan Syaban pastikan kemusyrikan telah bersih 7. Sebelum pertengahan Syaban pastikan telah terlerai pertengkaran 8. Segera bayar hutang Ramadhan Ya Allah bimbing kami...
8 dari 45 Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012

Ayyam Madudat
Ustadz Budi Ashari, Lc

9 dari 45

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

Allah berfirman setelah ayat wajibnya Ramadhan, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. (Qs. Al Baqarah: 184) Mari kita tadabburi lebih dalam tentang kalimat ini, semoga menjadi semangat Ramadhan bagi kita dan keluarga kita. Kata Ayyam berarti beberapa hari. Adapun kata Madudat disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya dari Al Hasan al Bashri, As Suddy dan yang lainnya: ( : bilangan tertentu yang telah diketahui). Az Zamahsyari dalam Mafatih al Ghoib menjelaskan lebih detail, Pada firman Nya: Madudat, ada dua arti. Yang pertama : terukur dengan hitungan tertentu. Kedua : sedikit, seperti firman Allah taala ( : yaitu beberapa dirham yang terbatas / sedikit. Qs. Yusuf: 20). Asalnya adalah : jika harta itu sedikit, maka dihitung dengan bilangan dan berhati-hati dalam menghitungnya. Adapun jika banyak, maka ia dituangkan dan disebarkan. Dari penjelasan para ulama tersebut, ternyata kata ayyam madudat memiliki 3 sentuhan : 1. Sentuhan Hukum Yaitu, menjelaskan bahwa puasa yang wajib adalah hari-hari tertentu yang telah diketahui dengan wahyu. Yaitu Bulan Ramadhan selama satu bulan penuh. Hanya bulan Ramadhan saja yang diwajibkan kepada muslimin, sementara hari-hari lainnya adalah sunnah. Hingga puasa Asyuro dan al Ayyam al Bidh yang disebutkan dalam riwayat-riwayat bahwa di awal wajib bagi muslimin, pun menjadi sunnah dengan adanya hari-hari berbilang yang telah ditentukan itu; Ramadhan. 2. Sentuhan Rahmat Rahmat atau kasih sayang Allah muncul pada kata ayyam madudat. Allah ingin menunjukkan betapa Maha penyayangnya Allah dengan kata yang berarti : hari-hari terbatas yang sedikit. Seperti penjelasan Az Zamahsyari setelah menyampaikan bahwa kata tersebut bisa berarti hari-hari yang sedikit, Maksud dari penjelasan ini adalah : seakan Allah subhanahu wataala berfirman : Aku merahmati kalian dan meringankan dari kalian dengan tidak aku wajibkan kepada kalian puasa setahun penuh atau sebagian besarnya. Kalau Aku mau, aku bisa mewajibkannya, tetapi aku menyayangi kalian. Dan Aku tidak mewajibkan puasa kepada kalian kecuali pada hari-hari yang sedikit.
10 dari 45 Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

Karenanya Ibnu Arafah dalam tafsirnya bahwa kata ayyam madudat berarti, Sebagai tambahan untuk menghibur dan meringankan; yaitu pada hari-hari yang sedikit saja dalam hitungan tertentu. Berpuasa sebulan penuh jelas sebuah amal besar penuh dengan kebesaran tekad. Tidak mudah melaksanakannya kecuali bagi orang-orang beriman. Suasana rasa berat sangat terasa dengan diwajibkannya Ramadhan. Apalagi yang wajib sebelumnya hanya Asyuro, satu hari. Dan Al Ayyam Al Bidh, hanya tiga hari. Kemudian berubah menjadi satu bulan. Jelas lompatan jumlah beban kewajiban yang tidak sederhana. Untuk itulah Allah ingin mengajari orang beriman untuk memandang dengan sudut pandang yang lain. Yaitu, melihat dari keseluruhan jumlah bulan dalam satu tahun. Tidak membandingkannya dengan kewajiban sebelumnya yang hanya sedikit. Dengan begitu, Ramadhan terasa betapa ringannya. Rahmat Allah muncul besar dengan diwajibkannya puasa hanya 1 bulan dari 12 bulan yang ada. Karena Allah yang telah mewajibkan puasa Asyuro dan Al Ayyam Al Bidh, Dia pula yang mewajibkan Ramadhan, tentu Dia juga mampu mewajibkan setahun penuh puasa jika Dia Kehendaki. Tetapi tidak, Allah hanya mewajibkan Ramadhan saja. Begitulah, orang beriman harus selalu mampu memandang sesuatu dari sudut yang berbeda agar selalu terasa sentuhan Rahmat Allah bagi kita semua. Dan kita harus mampu mengajarkan kepada diri kita juga keluarga kita bahwa Ramadhan bukan beban, tetapi kasih sayang dan kenikmatan. 3. Sentuhan motivasi Bayangkan. Jika ada sebuah iklan tentang hal yang menyenangkan dan menarik perhatian. Tetapi tertulis di sana: Waktu Terbatas! Kata tersebut mempunyai beberapa fungsi. Fungsi pemberitahuan bahwa ada batas akhir berlakunya iklan tersebut. Dan secara langsung, meniupkan fungsi kedua yaitu motivasi bagi yang membacanya. Bahwa hal yang luar biasa itu, hanya dalam waktu terbatas dan kemudian akan berlalu. Lalai dalam memanfaatkannya sebaik mungkin selama masih berlangsung, artinya sebuah kerugian besar. Maka bagi kita, Ramadhan yang merupakan hari terbatas merupakan kumpulan hari yang setiap detiknya begitu mahal. Jika satu detik berlalu tanpa ada keuntungan yang kita dapat. Kerugian dan kerugian.
11 dari 45 Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

Inilah satu dari tiga hal yang diaminkan oleh Rasulullah dari doa Jibril, Kerugian! Seseorang yang ditemui Ramadhan kemudian ia pergi, tetapi tidak mendapatkan ampunan. (HR. Tirmidzi) Amin, kata Nabi Untuk Keluarga Muslim: 1. Buatlah program untuk keluarga, yang membuat Ramadhan bukanlah beban. Tetapi bisa dirasakan sebagai ungkapan kasih sayang Allah untuk kita. 2. Dan terus tiupkan sikap hati-hati dalam memanfaatkan setiap hari yang dilalui di Ramadhan. Karena waktunya terbatas!

Kalian Hanya Puasa di Ramadhan...?

Relungan ...

" : - - " : " " : " (. " ) / Salah seorang dari salafus shaleh menjual budak wanitanya kepada seseorang. Ketika Ramadhan tiba, tuannya yang baru menyiapkan berbagai macam makanan dan minuman untuk menyambut Ramadhan sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan orang hari iniKetika budak wanita itu melihat hal tersebut, dia bertanya : Mengapa kalian lakukan hal itu? Mereka menjawab : Untuk menyambut Bulan Ramadhan Budak wanita itu menegur : Dan kalian ini tidak pernah puasa kecuali di Ramadhan? Demi Allah, aku hadir dari sebuah keluarga (tuan yang lama) yang seakan keseluruhan tahun bagi mereka adalah Ramadhan. Aku tidak perlu dengan kalian. Kembalikan aku kepada mereka. Dan dia pun kembali kepada tuannya yang pertama. (Baina Yadaiy Ramadhan, tulisan: Syekh DR. Muhammad Ahmad bin Ismail al Muqoddam)

12 dari 45

Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012

Perintah Membangun Romantisme dari Langit

13 dari 45

Ustadz Elvin Sasmita, S.Kom

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

Judul di atas sama sekali tidak ada hubungannya dengan ngababurit, JJS (Jalan-Jalan Sore), asmara subuh atau hal-hal yang sia-sia lainnya, yang sering muncul di bulan Ramadhan. Ada hal yang luar biasa dari rentetan ayat-ayat tentang Ramadhan, khususnya di surat Al Baqorah ayat 187. Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf, dalam mesjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. (2:187) Fokus puasa Ramadhan adalah menahan diri dari makan dan minum serta berhubungan suami isteri dari terbit fajar shiddiq hingga terbenamnya matahari. Begitu khususnya perintah untuk mendekatkan diri kepada Allah itu, hingga Allah melarang dan membatasi diri kita melakukan sesuatu yang hukum asalnya adalah halal. Makan, minum dan berhubungan suami isteri, hukum asalnya adalah halal. Tapi di bulan Ramadhan hal tersebut Allah haramkan dengan batasan waktu. Inilah cara Allah membangun kecintaan hamba terhadap diriNya. Allah, pencemburu ketika hambanya bermaksiat dengan melakukan hal-hal yang di haramkan oleh Allah. Tetapi Allah ingin agar hamba-hambanya terlatih menghidari hal-hal yang di haramkan dengan cara mengharamkan apa yang hukum asalnya adalah halal. Romantisme Taqwa Di malam hari bulan puasa, kembali Allah membuat pernyataan di halalkannya untuk bercampur antara suami dan isteri. Allah paham tentang keterbatasan kita, Allah maafkan dan ampuni kita dengan keterbatasan itu. Perintah rafats di sini adalah : alJima' (berhubungan suami isteri), (seperti) yang dikatakan Ibnu 'Abbas, 'Atha', Mujahid,

14 dari 45

Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

Sa'id bin Jubair, Thawus, Salim bin Abdillah, Amru bin Dinar, al-Hasan, Qatadah, al-Zuhri, alDhahak, Ibrahim al-Nakha'I, al-Sudi, Atha' al-Khurasani, dan Muqatil bin Hayyan. . ." Dan Allah pun menyebutkan hakikat hubungan yang kita lakukan itu, mereka adalah pakaian bagimu dan kamu pun pakaian bagi mereka. Para ahli ilmu juga menafsirkannya dengan , bahwa setiap pasangan suami isteri berfungsi sebagai penutup yang dapat melindungi dirinya dari perilaku fujur dan hal-hal yang haram. Atau dapat pula , satu sama lain saling memberikan ketenangan sebagaimana yang Allah sampaikan di dalam surat al Araf : 189 Dia menciptakan isterinya, agar Dia merasa senang kepadanya. Atau seperti halnya dalam surat Ar Rum ayat 21 Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri -isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Allah memberikan perumpamaan pakaian untuk hubungan suami isteri. Apa yang kita rasakan dengan pakaian ? Sesuatu yang lembut menutupi tubuh kita. Kenyamanan pada saat memakainya. Menutupi bagian-bagian tubuh yang di amanahkan Allah untuk menutupnya. Perasaan senang pada saat memakainya. Kadang terkena noda yang harus kita bersihkan, terkadang kusut harus kita rapikan dan segala sesuatu yang harus kita lakukan agar pakaian yang kita miliki dapat memberikan rasa nyaman pada saat kita memakainya. Bukankah ini sebuah perintah membangun romantisme rumah tangga ? Apakah engkau sudah menjadi pakaian taqwa baginya ? Kalau kita seorang isteri sebagai pakaian yang di pakai sang suami, apa yang akan kita lakukan agar memberikan ketenangan, kesenangan, kecintaan dan kasih sayang pada saat ia memakainya ? Begitu pula sebaliknya seorang suami yang menjadi pakaian isterinya, apa yang akan ia lakukan agar sang isteri bisa merasakan ketenangan, kesenagan, kecintaan dan kasih sayang pada saat ia memakainya. Bukankah ini sebuah perintah yang luar biasa ? Di malam-malam bulan Ramadhan, Allah memberikan pemakluman kepada kita dalam sebuah perintah untuk memperhatikan kondisi perkawinan kita, kondisi rumah tangga kita, mengingatkan ulang tentang fungsi utama dari pasangan hidup kita dengan sebuah perumpamaan yang indah, pakaian. Mari perhatikan ulang pakaian yang kita pakai, bukan sekedar pakaian indah yang menutupi tubuh kita dan memberikan kesenangan kepada kita

15 dari 45

Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

pada saat kita memakainya. Tapi sejauh apa ia menjadi pakaian taqwa yang memberikan efek ketaqwaan pula pada yang memakainya. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. (Q.S. Al-Araf: 26) Dengan kata lain, kalaulah di buat pertanyaan, Wahai para isteri, kalaulah engkau menjadi pakaian suamimu, apakah engkau sudah menjadi pakaian takwa baginya ?. Atau begitu pula sebaliknya,Wahai para suami, kalaulah engkau pakaian bagi isterimu, apakah engkau sudah menjadi pakaian taqwa bagi dirinya ?. Menjadi semakin jelas ketika Allah Subhanawataala mempertegas perintahnya Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu. Dari Imam At Thabari dan Ibnu Abi Hatim dengan sanad hasan, dari Ali bin Abi Thalhah dan Ibnu Abbas bahwa yang di maksud dengan adalah Jima (Berhubungan Suami isteri). Dan yang di maksud dengan adalah anak, sebagaimana yang di keluarkan oleh At Thabari dari Qatadah dan Mujahid dengan sanad Shahih. Allah memerintahkah pasangan suami isteri untuk berhubungan di malam bulan Ramadhan agar Allah memberikan keturunan yang Allah telah tentukan untuk mereka. Inilah perintah Allah untuk berhubungan suami isteri dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah, dengan upaya mewujudkan tujuan-tujuan pernikahan. Dan dalam ayat tersebut, Allah secara jelas menyebutkan satu tujuan pernikahan yakni memiliki keturunan. Dengan seizin Allah, hubungan suami isteri, saling meminta dengan nama Allah dalam bingkai ketaatan kepada Allah Azza Wajalla akan menghasilkan keturunan yang baik, yang juga mudah untuk di didik dalam ketakwaan. Itu artinya pula, siapa pun di antara kita yang ingin memiliki anak, silahkan memamfaatkan bulan Ramadhan untuk mencari apa yang sudah Allah tentukan bagi kita. Semoga Allah menganugerahi kita anak yang sholih dalam balutan romantisme ketakwaan di bulan Ramadhan.

16 dari 45

Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012

Ramadhan Bulan Al Quran (?)

17 dari 45

Ustadz Budi Ashari, Lc

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

Tulisan ini sudah sangat sering dibahas, terutama di setiap Ramadhan. Dan memang harus dibahas. Karena jelas Al Quran disebut secara khusus dalam rangkaian ayat-ayat Ramadhan, (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasanpenjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (Qs. Al Baqarah: 185) Ibnu Katsir rahimahullah- menjelaskan, Allah taala memuji Bulan Puasa di antara bulanbulan lainnya dengan menjadikan bulan tersebut sebagai bulan diturunkannya Al Quran yang agung. (Tafsir Ibnu Katsir) Sayyid Quthub memberi sentuhan dalam dan lembut, Malam (diturunkannya Al Quran) benar-benar berkah. Yaitu malam dibukanya kebaikan bagi manusia. Yang dimulai padanya, teguhnya manhaj Allah dalam kehidupan manusia. Yang bersambungnya kehidupan manusia dengan alam besar ini yang diterjemahkan dalam Al Quran yang sedikit. Diterima oleh fitrah dan disambut dalam ketenangan. Malam yang dengan pondasinya menegakkan dunia manusia di atas kaidah-kaidah fitrah. Selaras dengan alam tempat hunian manusia. Suci, bersih dan mulia. Manusia hidup di muka bumi bersambung dengan langit setiap saat. Sungguh mereka yang mendapatkan pertama kali Al Quran hidup pada masa ajaib dalam dekapan langit, bersambung langsung dengan Allah. (Fi Dzilal Al Quran) Ini artinya, Ramadhan tidak bisa dipisahkan dari Al Quran dan Al Quran tidak terpisahkan dari Ramadhan. Keberkahan Ramadhan semakin istimewa dengan diturunkannya Al Quran padanya. Dan kemuliaan Al Quran semakin berkah karena diturunkan pada malam Ramadhan yang diberkahi. Ramadhan tanpa al Quran... Jika ada seseorang yang melaksanakan ibadah puasa Ramadhan sebulan penuh tanpa membaca satu ayat pun, apakah puasanya sah? Jawaban fikih jelas : Sah.

18 dari 45

Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

Tetapi, jelas bukan begitu caranya Nabi, para shahabat dan salafus shaleh melaksanakan Ramadhan. Al Quran menempati ruang yang sangat luas dalam detik-detik Ramadhan orang -orang mulia itu. Kita semua pasti sering mendengar bagaimana mereka mengakrabkan diri dengan Al Quran di Bulan Ramadhan. Yang paling kita dengar Imam Syafii yang mengkhatamkan Al Quran sebanyak 60 kali selama Ramadhan. Imam Bukhari mengkhatamkan sebanyak 30 kali. Sementara Qotadah mengkhatamkan Al Quran setiap 7 malam sekali di luar Ramadhan. Jika memasuki tanggal 1-20 Ramadhan, khatam pada setiap 3 malam sekali. Dan pada 10 tahun terakhir, setiap malam khatam sekali. Adapun Ibrahim An Nakhai menyelesaikan bacaan Al Quran setiap 3 malam sekali dan pada sepuluh malam terakhir setiap 2 malam sekali. Ini sebagian data biografi orang-orang besar dalam sejarah Islam. Mereka ahli fikih, tetapi tidak berkutat hanya pada wilayah fikih untuk keputusan hidup mereka. Walau secara fikih, puasa Ramadhan tetap sah tanpa Al Quran sama sekali. Tetapi interaksi dengan Al Quran di Bulan Ramadhan adalah amanah ayat-ayat Ramadhan. Sehingga mereka tidak membiarkan Ramadhan berlalu kecuali telah mengisi dengan lantunan ayat-ayat Al Quran sebanyakbanyaknya. Al Quran dalam Keluarga Muslim di Ramadhan Lupakan data orang-orang besar yang begitu akrab dengan Al Quran. Umat ini persis seperti keluhan Rasulullah yang diabadikan dalam Al Furqon: 30, Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang ditinggalkan." Untuk itu, biarlah data puluhan kali khatam Al Quran berikut pemahaman itu berada dalam rak sejarah. Setidaknya pada sementara waktu generasi ini. Kini kita mulai dari yang paling standar, Dari Ibnu Abbas berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah orang paling dermawan dalam kebaikan. Dan lebih dermawan lagi di Bulan Ramadhan. Sesungguhnya Jibril alaihissalam menjumpainya

19 dari 45

Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

di setiap tahunnya di Bulan Ramadhan hingga berakhirnya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membaca Al Quran di hadapannya. Jika Jibril menemuinya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah orang yang lebih dermawan dalam kebaikan dari pada angin yang bertiup. (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam riwayat Ibnu Asakir, Ibnu Abbas berkata: - - Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membaca Al Quran di hadapannya (Jibril) setiap Ramadhan. Kecuali pada tahun beliau wafat, beliau membaca Al Quran di hadapannya sebanyak dua kali. Nah, bacalah Al Quran dengan tajwid yang baik dari awal sampai akhir 1 kali saja. Atau paling banyak, 2 kali. Seperti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Tetapi.... Rata-rata kita tidak bisa Bahasa Al Quran. Di sinilah bedanya. Dan disinilah masalahnya.... Yang dilakukan Rasul dengan Jibril adalah ( ) atau ( ) Kata ( ) berarti saling menunjukkan. Sedangkan kata ( ) berarti saling belajar. Dalam An Nihayah fi Gharib al Hadits, Abus Saadat al Jazri menjelaskan kata tersebut, Yaitu saling belajar semua yang diturunkan Al Quran dengan cara Al Muaradhoh, yaitu Al Muqobalah (saling mencocokkan). Adapun Ibnu Allan ash Shiddiqy dalam Dalil Al Falihin menambahkan penjelasan, Yang mungkin dimaksud dengan dalam hadits tersebut adalah segala hal yang mencakup kebiasaan membacanya seorang pembaca. Dari penjelasan tersebut, bisa kita ambil kesimpulan bahwa Jibril dan Rasulullah duduk bersama dalam majlis Al Quran di Bulan Ramadhan. Dalam satu bulan Ramadhan itu, selesai satu kali kecuali pada akhir Ramadhan Nabi selesai sebanyak dua kali. Yang dilakukan wallahu alam- adalah saling mencocokkan dan saling belajar Al Quran. Saling membaca, saling mencocokkan hapalan, saling memperbaiki bacaan. Dan selayaknya dua orang yang membaca sesuatu, akan mencoba memahami bacaan yang sedang dibaca. Saling bertukar pemahaman dan ilmu. Untuk lebih memahami tuntutan ayat-ayat Ramadhan tentang Al Quran, mari kita kembali ke ayat,
20 dari 45 Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasanpenjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (Qs. Al Baqarah: 185) Dalam ayat ini jelas disebut fungsi Al Quran. Kita diminta untuk menjadikan Al Quran yang kita akrabi di Bulan Ramadhan agar bisa menjadi Petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Ada 3 fungsi Al Quran yang harus bisa kita raih selama interaksi kita di Bulan Ramadhan: 1. Petunjuk 2. Penjelasan untuk petunjuk 3. Pembeda antara yang benar dan salah Pertanyaannya: apakah dengan hanya membaca Al Quran tanpa dipahami artinya bisa membuktikan ketiga hal tersebut? Tentu tidak! Untuk itulah, selain melantunkan ayat-ayat Al Quran, harus juga dibaca terjemahannya, tafsir dan berbagai macam ilmu mengenai Al Quran. Dengan semua upaya itu, diharapkan Al Quran mampu menjadi petunjuk dalam hidup kita, juga menjadi penjelas dari berbagai petunjuk Allah di muka bumi ini dan dengannya kita bisa membedakan segala pertarungan di muka bumi ini antara yang benar dan yang salah. Semua itu harus bisa kita raih dengan Al Quran di Bulan Ramadhan. Antara Al Quran dan Kesia-siaan Al Quran adalah petunjuk. Petunjuk sangat diperlukan bagi siapapun yang sedang melakukan perjalanan. Maka, petunjuk bukanlah kesia-siaan. Bahkan Al Quran sendiri yang memerintahkan agar seorang mukmin menjauhi kesia-siaan dan kemubadziran dalam hidupnya. Islam mendorong seorang muslim untuk hidup efektif dan produktif. Sehingga usia yang tidak panjang ini menghasilkan karya-karya besar peradaban. Dan tidaklah jatuh peradaban Islam kecuali ketika muslimin telah sibuk dengan hal-hal yang remeh, sia-sia dan mubadzir. Karena jiwa dan otak yang telah dilatih untuk menikmatinya, pasti tidak mau diajak naik mengurusi hal-hal yang besar dan pasti terasa berat.

21 dari 45

Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

Kesia-siaan itulah yang harus kita singkirkan di Bulan Ramadhan. Cukuplah 11 bulan kita bermain-main dengan usia kita dan potensi yang Allah berikan. Kini sebulan Ramadhan melatih kita untuk hidup produktif dan manfaat, jauh dari sia-sia. Ibnu Qoyyim menyampaikan dalam bukunya an Nuniyyah : ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... Bersihkan pendengaranmu dari lagu-lagu ini, jika kau ingin mendengarkan lagu (surgawi) itu Jangan memilih yang lebih rendah dibanding yang lebih tinggi hingga kau terhalang dari ini dan itu, duhai hinanya keterhalangan ini Sesungguhnya pilihanmu mendengarkan yang rendah dibanding yang mulia adalah kekurangan
22 dari 45 Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

Demi Allah, mendengarkannya dalam hati dan iman seperti racun bagi badan Demi Allah, hal ini tidak bisa dilepaskan dari orang yang kebiasaannya kemusyrikan kepada Ar Rahman Hati adalah rumah Robb jalla jalaluh untuk cinta, keikhlasan bersama ihsan Jika telah kecanduan mendengarkan musik, akan menjadikan budak bagi fulanah dan fulan Cinta Al Kitab dan cinta lagu pada hati hamba tak mungkin bersatu Terasa berat al Kitab bagi mereka, ketika mereka melihat ikatannya dengan syariat iman Dan hal melalaikan terasa ringan bagi mereka, ketika mereka melihat dansa dan dendang Makanan jiwa. Al Quran adalah makanan hati. Maka, bagaimana bisa disamakan antara kedua makanan itu Itulah, kamu bisa melihat hasil pelaku kekurangan seperti orang bodoh dan anak-anak. Yang paling menikmatinya, paling sedikit akal sehatnya. Maka tanyalah, saudaraku yang baik Hai kenikmatan orang-orang fasik. Tak akan sama dengan kenikmatan orang-orang baik, pada akal dan Al Quran. Yang dijelaskan oleh Ibnu Qoyyim dalam syairnya ini adalah salah satu bentuk kesia-siaan. Ya, Musik dan lagu. Kita tidak sedang berdiskusi tentang hukum musik. Tetapi tentang keputusan hidup kita dalam mengisi Ramadhan. Musik seperti dalam penjelasan Ibnu Qoyyim seperti itu, jelas harus dijauhi di Bulan Ramadhan. Bagaimana dengan musik religius? Sudahlah, tidak ada musik religius yang menjamin taubat seseorang. Tidak ada musik religius yang memberi ampunan dan syafaat. Apalagi, pelantun lagu religi itu adalah yang melantunkan lagu porno lengkap dengan pakaian seronoknya di luar Ramadhan. Astaghfirulloh... Tentu tidak hanya musik dan lagu. Apa saja kesia-siaan harus dijauhi. Permainanpermainan, acara-acara, media-media, kegiatan-kegiatan yang hanya menghadirkan kata fun atau joke sudah harus kita hentikan. kongkow-kongkow dan sebagainya.... Semua ini kita hindari agar Al Quran tidak menghindar dari rumah kita. Semua kesia-siaan ini kita jauhi agar Al Quran tidak menjauh dari rumah kita.
23 dari 45 Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012

Play station, games, televisi, media sosial,

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

Untuk keluarga muslim : 1. Buatlah list tentang kesia-siaan yang selama ini masih ada di rumah kita, agar kita mengetahui apa saja yang harus kita jauhi 2. Buatlah aturan dan kesepakatan dalam keluarga untuk menghentikan hal-hal tersebut selama Bulan Ramadhan 3. Buatlah target menyelesaikan bacaan Al Quran 1 kali saja selama Ramadhan. Paling banyak 2 kali 4. Buatkan program memahami Al Quran dalam rumah dan bersama masyarakat. Bisa dengan membaca terjemahan setiap hari, membaca salah satu buku tafsir dengan berbagai coraknya, berbagai penjelasan ilmu tentang ayat-ayat Al Quran. Bagi yang belum bisa membaca, membuat target selama Ramadhan harus sudah bisa membaca dengan tajwid yang baik. Tadabbur Al Quran, diskusi Al Quran dan segala ilmu yang bisa menggali Al Quran sebagai petunjuk bagi kita semua.

Buka Puasa Ala Ibnu Umar radhiallahu anhu

Inspirasi ...
:

: - 13080

Ath thabrani berkata dalam al Mujam al Kabir (13080): Telah meriwayatkan kepada kami al Haitsam bin Khalaf al Dury, dia berkata: meriwayatkan kepada kami Muammil bin Hisyam, dia berkata: meriwayatkan kepada kami Yahya bin Hammad dari al Surry dari Muhammad bin Sirin berkata: Ibnu Umar berbuka puasa dengan jima (bersetubuh dengan istrinya)

24 dari 45

Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012

Ramadhan dan Yusuf Alaihissalam

25 dari 45

Ustadz Elvin Sasmita, S.Kom

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

- : Berkata Ibnu Jauzi : Bulan yang 12 itu seperti anak-anak Yakub Alahi wa alaihimussalam. Dan bulan Ramadhan di antara bulan-bulan yang lain seperti nabi Yusuf dengan saudarasaudaranya. Seperti halnya Yusuf yang merupakan anak kesayangan Yakub begitu pula Ramadhan adalah bulan kecintaan Allah Subhanawataala. (Bustan al-Wa'idhin wa Riyad as-Sami'in, hal 213-214) Memaafkan seperti Bulan Ampunan
Dia (Yusuf) berkata: "Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang" .(Yusuf : 92)

Tidak sedikit di antara kita yang mengungkapkan rasa maaf kepada orang lain dengan terlebih dahulu mengingatkan tentang dosa atau kesalahan-kesahalan yang telah ia lakukan. Padahal ketika ia meminta maaf dan kita mengungkapkan rasa maaf kita kepadanya, kita sudah sama-sama mengetahui kesalahan apa yang telah ia lakukan. Itulah yang di lakukan oleh Nabiyullah Yusuf Alaihissalam. Tidak sedikit pun Yusuf mengingatkan kepada saudarasaudaranya tentang kesalahan yang mereka perbuat kepada dirinya. Bahkan ketika Yusuf merunut kejadian yang dialaminya : Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf: "Wahai ayahku inilah tabir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
26 dari 45 Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

Tidak ada ungkapan Yusuf sedikit pun tentang kejahatan yang pernah di lakukan saudarasaudaranya terhadap dirinya. Bahkan Yusuf menyebutkan penisbatan kesalahan itu kepada syaithan ( setelah syaithan merusak hubunganku dan saudarasaudaraku). Bukankah itu pula yang sudah di ingatkan Yakub dari awal kepada Yusuf ? Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudarasaudaramu, Maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia." (Yusuf : 5) Bandingkan dengan kita pada saat memaafkan orang lain, Ya..aku maafkan kamu tapi janji ya kamu gak berbuat seperti itu lagi kepadaku. Atau Biarpun kamu udah ngejahatin aku, udah nyakitin hati aku, tapi hari ini aku maafin kamu. Inspirasi Rasa Maaf Yusuf hingga Futuh Makkah Tepat di bulan Ramadhan, ketika Rasulullah Shalallahualaihi wasallam memasuki kota Mekkah dengan 10.000 pasukannya. Semua orang menduga-duga apa yang akan di lakukan oleh Rasulullah terhadap orang-orang kafir dan musyrik yang selama ini sangat memusuhi Beliau dan shahabat-shahabatnya. Balas dendam seperti apa yang akan di lakukan oleh Muhammad terhadap kekejian mereka semua. Dan pada saat ribuan orang kafir Quraisy itu di kumpulkan di hadapan Rasulullah, Beliau pun mulai berbicara, }: : : .[92 : { ] Apa kira-kira yang akan aku lakukan terhadap kalian ? Mereka berkata, Kebaikan, engkau adalah saudara kami yang mulia, anak dari saudara kami yang mulia. Kemudian Rasulullah berkata, Sesungguhnya aku akan mengatakan perkataan sebagaimana yang di katakan Yusuf kepada saudara-saudaranya, Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang, pergilah kalian bebas merdeka . Setelah semua kesalahan yang mereka lakukan, mengintimidasi Rasulullah bahkan puncaknya adalah perencanaan pembunuhan terhadap diri Beliau Shalallahualaihi wasallam. Begitu pula yang terjadi terhadap Yusuf Alaihissalam, setelah semua makar dan rencana keji terhadap dirinya yang masih kecil dan tidak melakukan kesalahan apa pun terhadapa saudara-saudaranya. Sampai ia di buang dalam gelapnya sumur dan di singkirkan

27 dari 45

Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

dari kedua orang yang di cintainya. Hingga semuanya berakhir, di saat dua nabi Allah itu berada dalam puncak kekuasaannya. Dengan seluruh kekuatan yang di millikinya. Dengan seluruh kemampuan yang ia miliki untuk dapat meluluhlantakkan setiap mereka yang telah menyakiti dirinya. Di saat itulah Allah Subhanawataala meletakkan rasa kasih sayang dan ampunan dalam jiwa mereka. Sungguh dalam kisah mereka berdua terdapat pelajaran besar tentang keluasan ampunan Allah Subhanawataala. Dan ketika itu hadir dalam diri manusia, dalam rasa maafnya. Maka Allah akan memberikan petunjuk kepada setiap manusia yang di kehendakinya. Rasa maaf itu membuat mereka yang selama ini memusuhi Rasulullah berbondong-bondong menyatakan ke-Islamannya. Inilah Bulan Perbaikan Diri Di saat saudara-saudara Yusuf Alaihissalam mendatangi dirinya, dengan tujuan untuk memperbaiki seluruh kesalahan yang mereka lakukan. Yusuf pun dengan seluruh kebaikannnya membantu dan menolong mereka. Seperti halnya Ramadhan, di saat kita begitu banyak melakukan kesalahan dan dosa di 11 bulan lainnya. Ramadhan menghampiri kita dengan seluruh kebaikannya. Ia datang untuk memberikan kesempatan kepada kita guna memperbaiki diri ini. Karena di bulan inilah Allah mencurahkan seluruh ampunannya. Seperti halnya Yakub yang menjadi bertambah kuat dan matanya kembali bisa melihat setelah mencium aroma baju Yusuf Alaihissalam. Begitu pula Ramadhan, setiap kita yang berdosa mendapatkan angin segar kasih sayang dan ampunan Allah Subhanawataala. Membuat diri kita bertambah kuat untuk dapat duduk lama membaca Al Quran, berdiri di tengah malam melakukan sholat tarawih atau qiyamullail, membuat kita semakin murah hati untuk bersedekah dan seluruh pintu kebaikan yang bisa kita mamfaatkan untuk mendapatkan seluruh ampunan Allah Subhanawataala. Dan semoga Ramadhan ini membuat pandangan kita semakin jelas tentang yang hak dan bathil, halal dan haram serta benar dan salah. Semoga Allah memberikan kita kesempatan untuk dapat memasuki bulan Ramadhan.

28 dari 45

Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012

Si Miskin di Istana Ramadhan

29 dari 45

Ustadz Budi Ashari, Lc

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

Ibarat istana, Ramadhan adalah bangunan megah, menjulang, terlihat indah, terang. Setiap orang menengadahkan kepalanya dengan penuh kekaguman. Gemerlap dengan berbagai hiasan kebaikan, ketenangan dan pahala. Di antara yang menyaksikan kemegahannya ada si miskin. Kalau orang kaya saja terkagumkagum dengan keindahannya, maka apatah lagi dengan si miskin. Hanya bedanya adalah si miskin memandanginya dengan sambil bergumam dalam hati: adakah tempat bagi diriku yang miskin ini di istana itu? Istana Ramadhan melambaikan tangannya kepada si miskin. Agar tidak segan ia memasukinya. Dan sungguh, saat setapak demi setapak kaki keraguan mulai menaiki satu per satu tangganya. Hamparan karpet merah bertabur bunga semerbak menyambut si miskin. Para penjaga dengan pakaian indahnya pun mengurai senyum dengan lambaian tangan terbuka sembari menundukkan kepala untuk kehadiran si miskin. Semakin dalam si miskin memasuki istana, semakin ia nyaman. Perlahan tapi pasti, keraguan dan rasa sungkan itu berganti kebanggaan, kebahagiaan dan rasa syukur. Hingga si miskin benar-benar dimuliakan dan dipersilakan memilih ruang mana saja yang ia mau huni dengan nyaman. Banyak ruang-ruang yang bisa dipilihnya, untuk merebahkan punggung yang kelelahan karena deraan kemiskinan. Untuk meluruskan lutut yang gemetar karena berdiri panjang di antrean orang-orang kaya yang dzalim. Menghela nafas panjang dengan mata terpejam. Udara segarnya merasuk hingga merayapi setiap dinding hatinya yang selama ini terluka karena ketimpangan di masyarakatnya. Biarkan si miskin beristirahat nyaman. Di istana ini; istana Ramadhan. Menikmati setiap dindingnya. Sambut Ramadhan, Sambut Mereka Ramadhan benar-benar memuliakan orang miskin. Syariatnya memberi ruang luas bagi mereka. lihatlah beberapa hal berikut ini : 1. Al Baqarah: 184 Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya.

30 dari 45

Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

Pengganti untuk mereka yang meninggalkan Ramadhan karena tidak sanggup berpuasa adalah membayar fidyah (memberi makan orang miskin). Allah memerintahkan itu, walaupun jika Dia berkehendak penggantinya hal yang lain, sungguh Allah Maha Berkehendak. Tetapi ternyata syariat telah ditetapkan bahwa penggantinya adalah memberi makan orang miskin. Semakin banyak hari-hari Ramadhan yang ditinggalkan, semakin banyak orang-orang miskin yang mendapatkan jatahnya. Setelah penjelasan tersebut, ayat masih memberi anjuran lebih dalam lagi, Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. (Qs. Al Baqarah: 184) Dalam at Tafsir al Muyassar dijelaskan, Yaitu memberi makan orang miskin. Siapa yang menambahi jumlah fidyahnya sebagai bentuk tambahan kebaikan darinya, maka itu lebih baik. 2. Hadits riwayat Bukhari dan Muslim : Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata: seseorang datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dan berkata: Celakalah aku, ya Rasulullah. Rasul bertanya: Apa yang membuatmu celaka? Orang itu menjawab: Aku mencampuri istriku di (siang hari) Ramadhan Nabi bertanya: Apakah kamu mempunyai (kemampuan) untuk membebaskan budak? Orang itu menjawab: Tidak Nabi bertanya: Apakah kamu mampu puasa dua bulan berturut-turut? Orang itu menjawab: Tidak Nabi bertanya lagi: Apakah kamu mempunyai (kemampuan) memberi makan 60 orang miskin? Orang itu menjawab: Tidak

31 dari 45

Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

Kemudian orang itu duduk. Dan Rasulullah mendapatkan sekeranjang kurma. Rasul berkata kepada orang itu: Shadaqahkan ini! Orang itu bertanya: Apakah kepada orang yang lebih miskin dari kami? Tidak ada di daerah kami, rumah yang lebih memerlukan ini kecuali kami. Nabi pun tertawa hingga terlihat gigi taring beliau dan berkata : Pergilah, berikan kepada keluargamu. Hadits ini sangatlah agung. Menempatkan orang-orang miskin pada posisi yang sangat tinggi. Di Bulan Ramadhan yang dermawan. Tentu hadits ini bukan mendorong untuk melakukan kesalahan yang sama. Kesalahan tetaplah kesalahan. Tidak boleh seorang pun dari kita yang sembarangan menyikapinya. Harus berhati-hati. Tetapi hadits di atas memberi pelajaran tentang perlakuan mulia dan istimewa dari Nabi mulia yang dermawan terhadap si miskin di Bulan dermawan. Ada dua hal dalam hadits tersebut yang berhubungan dengan tempat lapang bagi orang miskin : a. Pelanggaran bercampur suami istri di siang Ramadhan, hukuman pada urutan ketiga adalah memberi makan 60 orang miskin. Jika ada satu orang saja yang melakukan pelanggaran tersebut, dia harus memberi makan 60 orang miskin. Selain ini merupakan balasan dari sebuah kesalahan, sekaligus sebagai pemuliaan bagi orang-orang miskin. b. Pelaku yang benar-benar miskin bahkan orang termiskin dari kampungnya, justru terbebas dari semua hukuman itu karena tidak sanggup melaksanakan satu di antara ketiganya. Ini adalah keringanan yang sangat lembut menyentuh orang-orang tidak mampu. Sungguh sebuah syariat yang memuliakan orang miskin. 3. Hadits riwayat Bukhari dan Muslim: Dari Ibnu Abbas berkata : Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah orang paling dermawan dan menjadi lebih dermawan lagi di Bulan Ramadhan. Sesungguhnya Jibril alaihis salam menemuinya pada setiap tahunnya dari awal Ramadhan sampai selesai.

32 dari 45

Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membaca Al Quran di hadapannya. Saat Jibril menemuinya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjadi orang yang lebih dermawan dalam kebaikan dari pada angin yang bertiup. Nabi sangat dermawan. Nabi tidak pernah berkata tidak punya saat diminta. Bahkan ketika beliau tidak memilikinya. Kalau beliau tidak sedang memiliki yang diperlukan orang yang meminta, beliau mencarikan solusinya dari shahabat yang lain dengan cara tidak menjatuhkan si miskin. Kedermawanan seperti ini berlangsung sepanjang tahun. Dan saat Ramadhan tiba, kedermawanan itu berlipat ganda. Hingga beliau disebut dalam ungkapan Abdullah bin Abbas : Lebih dermawan dari angin yang bertiup. Sungguh ungkapan penuh keagungan. Dan berikut ini penjelasan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari tentang ungkapan mulia tersebut, Kedermawanan beliau diibaratkan dengan angin yang bertiup. Bahkan lebih baik dari itu. Dikarenakan terkadang angin berhenti bertiup. Terkadang kita harus berhati-hati, karena ada angin yang membawa bahaya dan ada yang membawa kabar gembira. Maka disebut dengan: yang bertiup untuk menegaskan yang kedua (angin pembawa kabar gembira). Dan mengisyaratkan firman Allah: Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira (Qs. Al Araf: 57). Maka angin yang bertiup akan terus bertiup. Begitulah amal beliau shallallahu alaihi wasallam di Ramadhan, terus menerus dan tidak terputus. Subhanallah. 4. Zakat Fitrah Ini adalah zakat yang unik. Keunikannya terletak pada tidak adanya nishob pada zakat fitrah ini. Sementara rata-rata zakat (perdagangan, pertanian, emas, perak, binatang ternak, harta), kesemuanya memiliki nishob (batas minimal untuk wajib zakat). Karena semangat Zakat Fitrah adalah membahagiakan orang miskin di hari Id. Mereka harus bisa menikmati hari raya setelah sebulan berjuang bersama untuk melaksanakan Ramadhan. Jangan sampai mereka yang berlapar-lapar di Bulan Ramadhan, kembali merasakan kelaparan saat hari Id yang diharamkan puasa. Dikarenakan mereka kembali dalam pahitnya kepapaan. Hari bahagia itu, mereka harus bisa menikmatinya. Dengan semangat itulah, Zakat Fitrah diwajibkan. Penulis Al Mughni berkata, Hikmah disyariatkannya Zakat Fitrah: mengasihani orang-orang fakir agar mereka tidak

33 dari 45

Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

meminta-minta pada hari ied. Menyenangkan mereka pada hari di mana muslimin berbahagia dengan datangnya ied serta membersihkan mereka yang telah puasa selama sebulan dari kesia-siaan dan ucapan kotor. Abdullah bin Abbas radhiallahu anhu- berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mewajibkan Zakat Fitrah untuk membersihkan orang berpuasa dari kesia-siaan dan ucapan kotor serta untuk memberi makan orang-orang miskin. Siapa yang membayarnya sebelum shalat Ied, maka itu merupakan zakat yang diterima dan siapa yang membayarnya setelah shalat maka itu adalah shadaqah biasa. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah dengan sanad hasan) 5. Semangat Ramadhan adalah ikut merasakan kesulitan saudara kita yang miskin Lapar dan dahaga sepanjang hari adalah bagian dari ingin merasakan sulitnya rasa lapar dan dahaga orang-orang yang tidak mampu. Bagi yang mampu, lapar dan dahaga itu akan segera hilang di saat adzan Maghrib terdengar. Tetapi bagi yang tidak mampu, terkadang Maghrib hanyalah lantunan adzan yang beriring dengan doa berbuka puasa. Tetapi tak ada hidangan di hadapannya. Dari keempat poin di atas tentang posisi orang miskin di Ramadhan, jelas bahwa siapapun yang diberi kelapangan rizki harus melapangkan rizkinya bagi orang-orang miskin. Lapang sekali. Lebih lapang dan lebih dermawan lagi dibandingkan bulan-bulan lainnya. Maka, apapun yang tidak sejalan dengan semangat Ramadhan dan kebersamaan hati dengan orang tidak mampu harus dipupuskan. Makanan dan minuman berlebihan. Pemborosan di Bulan Ramadhan. Berlomba untuk berbelanja. Kesemuanya, hanya akan mengikis nilai Ramadhan. Sehingga Ramadhan hanya merupakan ajang pesta tahunan dan bukan bulan pelajaran memasuki relung rasa si miskin di sepanjang tahunnya. Budget Ramadhan yang meningkat berlipat-lipat juga harus dihati-hati. Jika budget itu untuk orang-orang miskin tersebut, tentu itulah yang diharapkan. Atau untuk Umroh Ramadhan bersama keluarga, jelas itu yang diinginkan. Atau untuk kebaikan-kebaikan lainnya. Tetapi jika hanya untuk pemborosan dan kesia-siaan, tidakkah kita ingat bahwa Ramadhan adalah bulan pendidikan jiwa untuk pandai merasa. Merasakan perihnya kepapaan.

34 dari 45

Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

Untuk keluarga muslim: 1. Bulan Ramadhan adalah bulan belajar merasa 2. Buatkan program yang jelas di rumah tangga kita bagi orang-orang yang tidak mampu 3. Jauhkan belanja berlebihan yang hanya merupakan bentuk pesta pora tahunan 4. Selipkan di antara budget Ramadhan, besaran jatah si miskin dari rumah kita 5. Berapapun jumlahnya, yang jelas harus lebih besar dari infak kita di bulan-bulan biasa

35 dari 45

Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012

Semerbak di Taman Ketaqwaan

36 dari 45

Ustadz Elvin Sasmita, S.Kom

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

Allah Subhanawataala menyebutkan tentang standar kemulian manusia di sisiNya. Bukan tampilan fisik, bukan kehebatan sebuah amal, bukan banyaknya ibadah tapi Allah Subhanawataala menjadikan Ketaqwaan sebagai sebuah standar nilai agar manusia di katakan mulia. Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (49:13) Taqwa dan Duri Dosa Taqwa, terdengar sederhana tetapi di perlukan upaya sungguh-sungguh untuk meraihnya. Seorang sahabat Rasulullah Shalallahualaihi wasallam, Ubay bin Kaab pernah memberikan gambaran yang jelas tentang hakikat taqwa. Pada waktu itu, Umar bin Khaththab bertanya kepada Ubay tentang apa itu taqwa. Ubay balik bertanya : Pernahkah anda berjalan di tempat yang penuh duri? Umar menjawab : Ya. Ubay bertanya lagi : Lalu apa yang engkau perbuat ? Umar menjawab: Saya sangat hati-hati dan bersungguh-sungguh menyelamatkan diri dari duri itu. Ubay menimpali : Itulah taqwa. Sebagian besar ulama mengungkap definisi taqwa dengan upaya untuk memelihara diri dari siksa Allah dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Berasal dari kata waqa-yaqi-wiqayah yang artinya memelihara, "memelihara diri dalam menjalani hidup sesuai tuntunan / petunjuk Allah". Al-Hasan Al-Bashri menyatakan bahwa taqwa adalah takut dan menghindari apa yang diharamkan Allah, dan menunaikan apa-apa yang diwajibkan oleh Allah. Takwa, Wasiat Setiap Generasi Kenabian 131. dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. tetapi jika kamu kafir Maka (ketahuilah), Sesungguhnya

37 dari 45

Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah [360] dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji. (4 : 131) 10. dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa (dengan firman-Nya): "Datangilah kaum yang zalim itu, 11. (yaitu) kaum Fir'aun. mengapa mereka tidak bertakwa?" (26 : 10-11). 123. kaum 'Aad telah mendustakan Para rasul. 124. ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka : " Mengapa kamu tidak bertakwa? (26 : 123-124) 141. kaum Tsamud telah mendustakan rasul-rasul. 142. ketika saudara mereka, shaleh, berkata kepada mereka : " Mengapa kamu tidak bertakwa? 160. kaum Luth telah mendustakan rasul-rasul, 161. ketika saudara mereka, Luth, berkata kepada mereka : mengapa kamu tidak bertakwa?" 176. penduduk Aikah[1088] telah mendustakan rasul-rasul; 177. ketika Syu'aib berkata kepada mereka : "Mengapa kamu tidak bertakwa? Mengapa kamu tidak bertakwa ? Inilah pertanyaan yang menjadi ukuran para Nabi setelah misi kenabiannya tersampaikan. Bukankah tujuan utama dari di ciptakannya manusia adalah untuk beribadah kepada Allah ? 56. dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.(51 : 56)

38 dari 45

Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

21. Hai manusia, sembahlah Tuhanmu (beribadah) yang telah menciptakanmu dan orangorang yang sebelummu, agar kamu bertakwa (2 : 21)
Manusia Iman kepada Allah, Malaikat, Kitab-kitabNya, Para Nabi, Hari Kiamat 2:177; 21:48-49 Ibadah Berinfak Mendirikan Sholat Membayar Zakat Menepati Janji Sabar di setiap kondisi Puasa, dll 2:177; 2:183 Takwa Surga Penerangan dan Pengajaran Solusi, rizki tak terduga Kemudahan, diampuni, melipat gandakan pahala 3:15-17; 65:2-5

Gambar di atas adalah skema bagan sederhana keterkaitan antara manusia, ibadah dan takwa. Skema ini sekedar sebuah upaya untuk memudahkan kita memahami bahwa Allah Subhanawataala memberikan misi ibadah kepada setiap manusia yang mengaku dirinya beriman. Ibadah yang akan mengantarkan manusia pada derajat ketakwaan. Mereka yang Allah masukkan dalam kategori orang-orang bertakwa akan mendapat begitu banyak fasilitas baik di dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Ramadhan dan Ketakwaan Ketika Allah Subhanawataala mewajibkan kepada orang-orang yang beriman untuk melakukan shiyam (puasa) di bulan Ramadhan, Allah pun menyebutkan harapanNya agar mereka-mereka yang berpuasa itu menjadi orang-orang yang bertakwa. [:] 183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (2 : 183) Bagaimana Ramadhan Membentuk Ketakwaan ? Mari kita rasakan bagaimana kehati-hatian kita di dalam bulan Ramadhan pada saat kita menjalankan ibadah puasa. Kehati-hatian dan kekhawatiran agar puasa kita tidak batal, menjadi rusak atau bahkan sia-sia tidak mendapatkan apa pun selain rasa haus dan lapar. Fenomena kehati-hatian dan kekhawatiran ini bisa kita dapati muncul di antara kita, seperti : Fenomena takut menelan ludah, masih banyak orang yang sampai hari ini ketika berpuasa

39 dari 45

Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

di bulan Ramadhan mengalami peningkatan meludah. Sebentar-bentar meludah. Ini tentunya terjadi karena minimnya pemahaman tentang Fiqh puasa, terutama tentang hukum menelan ludah, jelas tidak membatalkan puasa, meskipun banyak atau sering dilakukan. Akan tetapi, jika berupa dahak yang kental maka sebaiknya tidak ditelan, tetapi diludahkan. (Fatwa Lajnah Daimah, volume 10, hlm. 270). Ludah sendiri adalah sebuah reaksi kimia dan biologis alamiah yang terjadi pada mulut kita. Ludah terus mengeluarkan (mensekresi) cairannya setiap hari (sekitar 1-1,5 liter) untuk mengatur kandungan air, menyesuaikan dengan kebutuhan tubuh. Dapat dibayangkan jika mulut kita kekurangan ludah, maka kita pasti akan merasa kering dan cepat merasa haus. Fenomena takut berkumur-kumur ketika wudhu, padahal ini bagian dari sunnah yang harus di ikuti, berkumur-kumur atau beristinsyaq (memasukkan air ke hidung) dalam berwudlu itu adalah perkara sunnah sebagaimana madzhab 3 orang imam, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Syafii. Ada pun Imam Ahmad menganggap fardhu karena merupakan bagian dari membasuh muka. Bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq (memasukkan air dalam hidung) kecuali jika engkau berpuasa. (HR. Abu Daud no. 142, Tirmidzi no. 788, An Nasai no. 87, Ibnu Majah no. 407, dari Laqith bin Shobroh. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits tersebut hasan shahih). Ibnu Taimiyah menjelaskan, Adapun berkumur-kumur dan beristinsyaq (memasukkan air dalam hidung) dibolehkan bagi orang yang berpuasa berdasarkan kesepakatan para ulama. Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat juga berkumur-kumur dan beristinsyaq ketika berpuasa. ... Akan tetapi, dilarang untuk berlebih-lebihan ketika itu. (Majmu Al Fatawa, 25/266) Fenomena berbuka mendengar azan di televisi, seringkali sudah melihat masuk waktu berbuka pada jadwal imsakiyah dan terdengar juga sesayup azan di tempat lain tapi kita masih butuh menyalakan televisi untuk meyakinkan kalau benar sudah masuk waktu berbuka. Bahkan terkadang tidak cukup satu channel televisi untuk meyakinkannya. Berjalan dengan sangat hati-hati agar tidak tertusuk duri Hal-hal tersebut di atas hanya sedikit fenomena dari bentuk kekhawatiran dan kehatihatian untuk menjaga ibadah puasa kita. Walau pun terkadang tanpa dasar ilmu. Tapi dari

40 dari 45

Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

situlah kita bisa menyadari makna kuat yang terkandung dalam dialog antara Umar bin Khattab dengan Ubay bin Kaab dalam tulisan awal ini. Bahwa taqwa sesungguhnya adalah upaya manusia dengan sangat hati-hati agar ibadahnya kepada Allah Subhanawataala tidak rusak. Sebulan penuh kita di kondisikan dengan perasaan seperti itu. Perasaan terus di awasi oleh Allah, perasaan agar ibadah yang kita lakukan tidak tercederai dan terkurangi nilainya. Bayangkan kalau setiap orang beriman, terus membawa perasaan seperti itu di dalam kehidupannya di sepanjang 11 bulan berikutnya sampai bertemu Ramadhan kembali, pastilah di setiap bulan Ramadhan akan lahir orang-orang yang bertakwa. Semoga Allah menyampaikan kita di bulan Ramadhan. Menikmati semerbak harumnya taman ketakwaan.

41 dari 45

Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012

Ramadhan = Taqwa = Sucinya Harta

Ustadz Budi Ashari, Lc


42 dari 45

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

Rumus yang tertuang dalam judul adalah merupakan kajian dalam ilmu munasabah (ilmu kesesuaian dan hubungan antara ayat dengan ayat). Di mana ayat-ayat tentang Ramadhan tertuang dalam Surat Al Baqarah: 183 -187. Di sanalah rangkaian perintah dan petunjuk seputar Ramadhan disampaikan. Kemudian ketika kita mencoba melihat tema ayat-ayat sebelum ayat-ayat Ramadhan kita jumpai berjudul perintah membuat wasiat bagi yang merasa sudah dekat ajalnya dan masih meninggalkan harta, (180) (181) (182) 180. Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma'ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa. 181. Maka barangsiapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. 182. (Akan tetapi) barangsiapa khawatir terhadap orang yang berwasiat itu, berlaku berat sebelah atau berbuat dosa, lalu ia mendamaikan antara mereka, maka tidaklah ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sedangkan tema ayat setelah ayat-ayat Ramadhan adalah tentang larangan mengambil harta dengan jalan haram. Allah berfirman, 188. Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. Subhanalloh, ternyata ayat-ayat Ramadhan diapit oleh ayat-ayat tentang harta. Dalam ilmu Munasabah, para ulama mencoba mencari kesesuaian dan hubungan antara ayat dengan ayat.

43 dari 45

Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

Ada beberapa catatan pelajaran bagi amaliyah Ramadhan kita berhubungan dengan harta : 1. Ayat tentang harta yang mengapit Ramadhan ada dua jenis: Perintah dan Larangan. Perintah agar muslimin mengatur hartanya sesuai dengan syariat Islam. Di antaranya adalah aturan membuat wasiat dan berhubungan dengan pembayaran denda Qishash (ayat sebelum wasiat). Larangan muslimin mengambil harta dengan cara yang haram. Agar muslimin memiliki harta yang bersih; dengannya mereka hidup mulia di dunia hingga akhirat. Perintah dan larangan adalah merupakan pusaran besar syariat Islam. Itu artinya, orang beriman harus mau diatur hartanya oleh Islam sebagaimana ia mau diatur secara fisik oleh puasa Ramadhan. Seseorang yang sukses berpuasa Ramadhan dituntut pula untuk mau memasukkan hartanya pada pusaran syariat. Tak hanya berpuasa sesuai syariat, tetapi berharta juga sesuai syariat. 2. Kutiba (Diwajibkan), kata yang digunakan untuk mewajibkan Ramadhan sekaligus Qishash dan Wasiat. Pewajiban sebuah syariat dengan kata kutiba merupakan hal yang jarang. Dalam Al Quran hanya terdapat 4 syariat yang diperintahkan dengan menggunakan kata kutiba. Tiga perintah diurutkan: Qishash, Wasiat dan Puasa Ramadhan. Dan satu terpisah: perang. Jadi, hal ini semakin menjelaskan keterkaitan erat antara ketiganya. Di mana Qishash adalah hukuman mati bagi yang terbukti membunuh dengan sengaja, kecuali jika dimaafkan oleh ahli waris yang terbunuh maka harus membayar diyat (denda harta). Sementara wasiat adalah perintah bagi orang-orang beriman yang merasa ajalnya telah dekat dan masih meninggalkan harta agar membuat wasiat sebagai amal kebaikan dari hartanya sebelum ia meninggal. 3. Al Biqoi dalam Nadzmud Duror, menjelaskan hubungan antara ayat Qishash, Wasiat dan Ramadhan, Qishash itu menghukum mati seseorang secara fisik, sementara puasa membunuh syahwat. Pada hukum Qishash ada kehidupan fisik dan pada puasa kehidupan ruh dengan sucinya hati, kekuatan konsentrasi untuk tafakkur dan penyiapannya untuk menerima hikmah dan ketundukan yang menghadirkan taqwa, mematikan syahwat, menebalkan sabar yang membantu untuk bisa bersyukur.

44 dari 45

Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012

Keluarga Muslim Sepanjang Ramadhan

Ini adalah kesesuaian yang paling pas dengan ayat wasiat yang diperintahkan kepada orang-orang bertaqwa agar membersihkan diri dari dunia ketika mendekati majlisnya para malaikat. Ditutup dengan ampunan dan rahmat yang merupakan dua hal yang paling dekat dengan orang-orang yang sedang berpuasa. Menarik sekali penjelasan di atas. Bacalah ulang dan resapi maknanya. Adapun hubungan antara ayat-ayat Ramadhan dengan ayat larangan mengambil harta dengan cara yang bathil sebagaimana penjelasan Al Biqoi-, Ahli Kitab mengkhianati kitab mereka dan menjualnya dengan harga yang sedikit. Terutama pengharaman suap menyuap. Mereka menyembunyikannya dan melanggarnya hingga menjadi sebuah jalan hidup yang dimaklumi. Padahal sebelumnya, makanan mereka halal dan dianjurkan untuk mengambil yang halal saja. Terutama dalam syariat puasa. Maka dilaranglah cara mendapatkan harta dengan cara haram. Al Biqoi ingin menyampaikan bahwa jangan meniru ahli kitab yang berani menghalalkan harta haram hingga menjadi sebuah sistim dalam kehidupan yang lazim. Padahal saat berpuasa, mereka mampu menahan diri hanya mengambil harta yang halal saja. Itu artinya, jika Ramadhan diwajibkan pada umat ini dan pada saat bulan tersebut muslimin mampu menahan diri dari yang sebenarnya halal seperti makan makanan yang halal, maka sungguh mengherankan ketika mereka berbuka justru dengan harta yang haram. Ditambah lagi, kedermawanan yang merupakan ruh besar Ramadhan seharusnya menjadi semangat untuk membersihkan harta. Karena, orang yang dermawan adalah orang yang selalu memberikan ruang bagi orang lain dari hartanya yang halal. Dia siap berbagi dengan yang dimilikinya, maka seharusnya mustahil dia mau mengambil harta milik orang lain. Bukankah hartanya saja dia bagi-bagikan... Jadi : 1. Salah satu yang harus disiapkan oleh keluarga muslim sebelum memasuki sucinya Ramadhan adalah kesucian harta. Sehingga kita bersahur, berbuka dan berderma dengan harta halal kita 2. Hasil Ramadhan adalah saat kita bertekad untuk membersihkan harta kita. Jika ada yang bertanya tanda-tanda Ramadhan yang sukses, maka ini adalah salah satu jawaban besarnya: Sucinya harta!

45 dari 45

Kuliah Online Parenting Nabawiyah | Edisi Bulan Juni 2012