Anda di halaman 1dari 2

Muhamad dengan Juwariyah

Sumber:

Faith Freedom Indonesia (http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=31)

JUWAIRIYAH / JUWAYRIYYAH

oleh Ali Sina

Dalam sejarah bangsa Arab masa pra-Islam, belum pernah ada pergolakan dan perang yang seluas dan sedahsyat yang dilancarkan Muhamad, sang
pendiri Islam. Pertempuran sebelumnya hanya merupakan pertempuran lokal yang terbatas pada percekcokan antar suku. Dengan lahirnya Islam,
tidak hanya perang tetapi GENOCIDE dan TEROR tidak habis2nya menjadi komponen integral dalam sejarah ekspansionisme Islam.

Pada awal karir Muhamad sebagai nabi, kota asalnya (Mekah) adalah kota yang damai. Dalam 13 tahun ia berkotbah, hanya sekitar 70/80 orang
mengikuti ajarannya. Tidak semuanya jago perang. Ini menjelaskan sejarah awal penyebaran Islam yang damai. Muslim belum mempunyai kekuatan
untuk menyerang. Namun setelah Muhamad bermigrasi ke Medinah dan penduduknya menerima ajarannya, ia memulai perampokan karavan
pedagang dan penyerbuan kampung-kampung penduduk untuk bertahan hidup, selain menghidupi pengikutnya yang sulit mencari pekerjaan di
Medinah.

Tahun ke 5 hijrah di Medinah merupakan tahun menentukan. Ini tahun dimana Muslim berperang melawan penduduk Mekah dan mengepung
perkampungan Yahudi, Bani Qaynuqa, yang terkenal dengan penduduknya yang kaya, yang pengrajin emas dan besi. Setelah merebut rumah dan
ladang anggur mereka, mereka diusir dari kediaman mereka. Setelah itu ia menyerang kantung Yahudi lainnya, Bani Nadir. Hal yang sama terjadi
pada mereka. Muhamad membunuh pemimpin suku dan banyak pemudanya, merampas harta mereka dan kemudian mengusir mereka dari Medinah.
Dalam dua penyerbuan tersebut, suku Yahudi tidak memberikan sedikitpun perlawanan. Mereka diserbu secara tiba-tiba, dan mau tidak mau harus
menyerah kepada pasukan Muhamad yang lebih kuat.

Mabuk kemenangan atas orang-orang tak berdaya, Muhamad berniat mengulanginya dengan suku Yahudi lain diluar Medina, kali ini giliran Bani
al-Mustaliq.

BUKHARI, biografer Muhamad, mengisahkan penyerbuan tersebut dalam hadis dibawah ini. Diriwayahkan Ibn Aun:

"Saya menulis surat pada Nafi dan Nafi menceritakan bahwa nabi secara tiba-tiba menyerbu Bani Mustaliq ketika mereka lengah, ketika mereka
sedang memberi minum ternak mereka. Mereka yang melawan dibunuh. Nabi mendapatkan Juwairiya pada hari itu."

Hadis ini dicatat kembali dalam Sahih Muslim Buku 019, Nomor 4292, yang memperkuat otentisitas hadis dan peristiwa tersebut.

Muhamad mengirim salah satu pengikutnya, Bareeda bin Haseeb, untuk mematai-matai Bani al-Mustaliq dan memberitahukannya jika keadaan
menguntungkan.

Petikan dari salah satu situs Islam:

Kedatangan pasukan Muslim membuat panik Haris, ia dan pengikutnya melarikan diri. Meskipun begitu penduduk Muraisa mencoba mati-matian
mempertahankan diri. Muslim menyerang secara tiba2. Banyak korban jiwa melayang dan lebih dari 600 orang ditawan. Hasil rampasan
mencakup 2000 onta dan 5000 kambing.

Diantara tawanan perang, terdapat Barra, anak dari Haris, yang kemudian dinamai nabi Hazrat Juwairiyah, atau istri nabi yang mulia.

Dalam prakteknya, harta rampasan dan tawanan dibagikan antara pasukan muslim. Hazrat Juwairiyah dimiliki oleh Thabit bin Qais. Karena wanita
ini adalah anak pemimpin suku dan terlalu hina untuk menjadi budak seorang prajurit muslim, maka ia meminta untuk dibebaskan dengan tembusan
uang.

Thabit menyetujuinya jika ia memunyai 9 keping emas, namun karena Hazrat Juwairiyah tidak punya apa2 (hartanya telah dirampok), ia pergi
menghadap Muhamad untuk meminta bantuan agar diselamatkan dari penghinaan ini. "Saya memohon anda agar melakukan satu tindakan
berdasarkan belas kasihan dan menyelamatkan saya dari hinaan ini."

HATI NABI MENJADI TERGERAK dan berkata apakah ia ingin hal yang lebih baik. Juwariyah bertanya apa maksudnya. Nabi berkata bahwa ia
akan membayar uang tersebut pada Thabit dan meminta Juwairiah menjadi istrinya. Hazrat Juwairiyah kemudian menyetujuinya."

Kisah tersebut menceritakan pernikahan nabi dengan Juwariah. Yang menarik, Muhamad membuat Allah berkata bahwa ia "mempunyai budi
pekerti agung " (Q 68:4)." dan "suri teladan yang baik" (Q 33:21).

Pertanyaannya adalah, benarkah ini?

Pertama, ia menyerang penduduk tanpa peringatan karena mereka sasaran yang mudah dan kaya. Seperti biasa, ia membunuh semua pemuda yang
sehat yang tak bersenjata, merampas harta benda dan memperbudak sisanya. Apakah ini perbuatan Nabi Tuhan?

Praktek tawanan perang, perbudakan dan pembagian harta perang antara pasukan Muslim ini adalah pola prilaku para Mujahidin selama sejarah
berdarah Islam. Pertanyaan saya tetap sama, INIKAH PRILAKU SEORANG NABI TUHAN ? Allah malah mengatakan bahwa ia adalah "rahmatul
alamin", alias rahmat bagi alam semesta". Pemimpin otoriter dan penjahat biadab namun RAHMAT BAGI ALAM SEMESTA ????

Kalau ini memang praktek umum kaum jahiliyah, apakah Nabi Rahmatul Alamin ini tidak dapat mengubahnya? Kenapa ia terlibat dengan peristiwa
MAHA BIADAB ini? Apakah ia hanya mengikuti kebiasaan saat itu atau IA-LAH YANG MEMBERI CONTOH BURUK INI KEPADA
PENGIKUTNYA ?

Sangatlah jelas bahwa HATI MUHAMAD TIDAK TERGERAK oleh belas kasihan, namun oleh nafsu birahi. Ia tidak membebaskan Juwariah
karena kasihan. Ia menginginkan Juwariah untuk dirinya. Ini adalah contoh seorang pria yang harus diikuti 1,2 milyar pengikutnya.
Sangatlah jelas bahwa HATI MUHAMAD TIDAK TERGERAK oleh belas kasihan, namun oleh nafsu birahi. Ia tidak membebaskan Juwariah
karena kasihan. Ia menginginkan Juwariah untuk dirinya. Ini adalah contoh seorang pria yang harus diikuti 1,2 milyar pengikutnya.

Cerita selanjutnya tentang Juwairiyah penuh dengan isapan jempol dan cerita yang dilebih-lebihkan yang banyak mewarnai Hadis.

Diceritakan bahwa nabi setelah peristiwa penyerbuan itu, bertolak kembali ke Medinah dan menyerahkan Juwairiah dalam pengawasan
pengikutnya. Ayahnya menyadari bahwa anaknya ditawan, bergegas membawa tebusan, namun di tengah jalan menyembunyikan 2 untanya di
jalan dekat al-Aqia. Ia datang kepada nabi lalu berkata, "anakku terlalu terhormat untuk dijadikan tawanan, bebaskanlah dia dengan tebusan ini"
Nabi berkata, "Bagaimana jika ia kita suruh pilih sendiri?" lalu ia datang menemui anaknya lalu berkata, "Ia menyuruhmu memilih, jangan
jatuhkan kehormatan kita", lalu anaknya menjawab dengan tenang, "Aku memilih nabi". al-Harith dengan marah berkata, "Ini suatu
penghinaan!."

Lalu nabi berkata,"dimanakah unta yang kau sembunyikan di jalan ini sebelah ini di dekat al-Aqia?" al-Harith terkejut dan berkata, "Saya
menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah nabi Allah, tidak ada yang lain yang dapat mengetahui hal ini selain Allah"

Ibn-i-S'ad dalam 'Tabaqat', menceritakan bahwa setelah ayah Juwariyah memberikan tebusan dan membebaskannya, nabi menikahinya, dan semua
tawanan dibebaskan oleh prajurit muslim, karena mereka tidak suka melihat anggota keluarga orang dari istri nabi, dijadikan budak.

Sulit menilai kebenaran cerita ini. Di satu sisi diceritakan bahwa Muhamad membayar tebusannya pada Thabit, sedangkan yang lain menceritakan
bahwa ayahnyalah yang membayar tebusannya. Juga diceritakan tentang kemampuan Muhamad untuk menebak masa depan, seperti yang terjadi
dengan unta yang disembunyikan. Ini membuat sulit dipercaya, karena pada banyak kesempatan lain, Muhamad sering menunjukkan hal sebaliknya.
Misalnya, sering ia harus menyiksa seseorang sampai hampir mati dahulu untuk mengetahui dimana harta kota disembunyikan.

Dalam cerita ini pun masyarakat Arab menunjukkan tingkatan moral yang lebih tinggi dari sang nabi dengan secara sukarela membebaskan tawanan
mereka setelah mendengar Muhamad menikahi putri kepala sukunya. Muslimpun menyatakan bahwa Juwairiyah menjadi penganut yang taat dan
seringkali menghabiskan waktu seharian untuk bersholat. Penulis dalam Usud-ul-Ghaba menyatakan bahwa ketika nabi mendatangi Juwairiyah
sering ia mendapatinya sedang bersholat dan ketika ia kembali pun Juwairiyah masih bersholat, sampai akhirnya nabi pun berkata, "Kamu lebih
banyak bersholat sehingga membuat timbangan menjadi lebih berat ke satu sisi."

Mari kita melihat kisah ini secara lebih realistis. Bayangkan anda dalam posisi Juwairiyah, wanita muda yang jatuh ke tangan pembunuh suami yang
juga sepupunya, dan pembunuh massal rakyat sukunya. Tanpa pegangan hidup lain dan tak ada jalan untuk melarikan diri, opsinya hanya menyerah
dan menjadi budak seks seseorang yang menjadi pemimpin penyerang sukunya. Juwairiyah terpaksa memilih opsi ini dan mencoba bertahan. Tak
heran ia selalu didapati Muhamad dalam keadaan sibuk bersholat dengan harapan ia akan meninggalkannya sendiri dan mendapat kesenangan dari
istrinya yang lain.

Diperoleh dari "http://faithfreedom.frihost.net/wiki/Muhamad_dengan_Juwariyah"


Kategori: Muhammad

Halaman ini terakhir diubah pada 21:40, 17 Juli 2008.