Anda di halaman 1dari 109

FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KELELAHAN

PADA PEKERJA DI PROSES PRODUKSI KANTONG SEMEN PBD (Paper Bag Division)

PT. INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA TBK CITEUREUP-BOGOR TAHUN 2010

SKRIPSI OLEH:
SKRIPSI
OLEH:

MOCH NOVAL MAULUDI

(106101003694)

PEMINATAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1431 H/2010 M

52

53

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT PEMINATAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA Skripsi, 27 Agustus 2010

Moch. Noval Mauludi, NIM : 106101003694

Faktorfaktor yang Berhubungan Dengan Kelelahan Pada Pekerja Di Proses Produksi Kantong Semen PBD (Paper Bag Division) PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Citeureup-Bogor Tahun 2010

xx + 109 halaman, 28 tabel, 3 gambar, 6 lampiran.

Abstraksi

53 FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT PEMINATAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA Skripsi,

Kelelahan adalah suatu kondisi yang disertai penurunan efisiensi dan kebutuhan dalam bekerja. Kelelahan kerja akan menurunkan kinerja dan menambah tingkat kesalahan kerja. Kelelahan kerja ditandai dengan melemahnya tenaga kerja dalam melakukan pekerjaan atau kegiatan, sehingga akan meningkatkan kesalahan dalam melakukan pekerjaan dan akibat

fatalnya adalah terjadinya kecelakaan kerja

Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang

.. dilakukan pada 10 pekerja di proses produksi PBD (Paper Bag Division ) PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, diketahui 100% pekerja mengalami kelelahan kerja, artinya dari 10 sampel diketahui seluruh pekerja mengalami kelelahan kerja. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 88 orang dari total populasi sebesar 168 orang pekerja. Uji statistik menggunakan Chi Square untuk melihat adanya hubungan antara kedua variabel.Yaitu variabel tekanan panas, tingkat kebisingan, masa kerja, Shift kerja, usia, status perkawinan, kebiasaan merokok, dan status gizi dihubungkan dengan kelelahan kerja pada pekerja di proses produksi kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakarsa yang dilaksanakan pada bulan April- Agustus 2010.

Dari hasil uji statistik didapatkan gambaran tingkat kelelahan yang paling terbanyak adalah kelelahan kerja ringan (KKR) sebanyak 34 pekerja (38,6 %), tingkat kelelahan kerja sedang (KKS) sebanyak 33 orang (37,5%), sedangkan tingkat kelelahan yang paling sedikit adalah tingkat kelelahan kerja berat (KKB) sebanyak 21 pekerja (23,9%). Dari hasil uji statistik bivariat didapatkan nilai probabilitas sebesar 0,008. Artinya pada α 5 % terdapat hubungan antara tingkat kebisingan dengan kelelahan kerja. Dari hasil uji statistik didapatkan nilai probabilitas sebesar 0,014. Artinya pada α 5 % terdapat hubungan antara kelompok kerja dengan kelelahan kerja. Dari hasil uji statistik didapatkan nilai probabilitas sebesar 0,045. Artinya pada terdapat hubungan antara kelompok status perkawinan dengan kelelahan kerja.

Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara kebisingan dengan kelelahan kerja, shift kerja dengan kelelahan kerja, dan status perkawinan dengan kelelahan kerja. Hal ini dipengaruhi oleh lingkungan itu sendiri disamping faktor-faktor yang lain. Oleh karena itu saran yang dapat diberikan adalah mengurangi paparan

54

kebisingan yang diterima pekerja salah satunya dengan cara administrative control (memberikan pelatihan pada pekerja, menyediakan ruang kontrol sehingga pekerja bisa beristirahat), personal protective equipment (dengan menggunakan alat pelindung diri berupa safety ear plug atau ear muff), mengatur jam shift kerja sesuai dengan jam kerja normal yaitu dengan jam kerja 06-14-22, dan memberikan pendidikan atau pengarahan tentang cara pengaturan waktu istirahat antara pekerjaan dengan waktu untuk keluarga.

Daftar bacaan : (1965 - 2009)

54 kebisingan yang diterima pekerja salah satunya dengan cara a dministrative control (memberikan pelatihan pada pekerja,

55

FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCE PUBLIC HEALTH STUDY PROGRAM Specialisation HEALTH AND SAFETY Thesis, August 2010

Moch. Noval Mauludi, NIM: 106101003694

Factors Associated With Fatigue in Workers In PBD Cement Bag Production Process (Paper Bag Division) PT. Page Citeureup Indocement-Bogor Year 2010.

xx 109 pages, 28 tables, 3 images, 6 attachment.

Abstraction

Fatigue is a condition that is accompanied by a decrease in work efficiency and need.

Fatigue of work will reduce performance and increase the error rate of work. Fatigue is characterized
Fatigue of work will reduce performance and increase the error rate of work. Fatigue is
characterized by the weakening of labor in doing the work or activity, thereby increasing the
..
results of preliminary studies conducted on 10 workers in the production process PBD (Paper
Bag Division) PT. Indocement Tbk, are known to 100% of workers experiencing job burnout,
which means from 10 samples known to all workers experiencing job burnout.
error in doing the job and the result is the occurrence of fatal work accidents
Based on the
This research is a quantitative research with cross sectional design. The sample research
of 88 people from a total population of 168 people working. Statistical test using Chi Square to
see the relationship between these two variables, i.e. heat stress, noise level, years of work, Shift
work, age, marital status, smoking habits, and nutritional status associated with job burnout in
workers in the production process of cement bags PBD PT. Indocement conducted in April-
August 2010.

From the test results obtained statistical overview of the most highest level of fatigue is mild fatigue of 34 workers (38.6%), fatigue level of work being as many as 33 people (37.5%), whereas the level of fatigue that most bit is the level of heavy work fatigue as many as 21 workers (23.9%). From the results of bivariate statistical tests obtained probability value of 0.008. That means at α 5% there is a relationship between noise level of work fatigue. From the results of statistical tests obtained probability value of 0.014. That means at α 5% there is a

relationship between work groups with job burnout. From the results of statistical tests obtained probability value of 0.045. This means that the relationship exists between marital status groups with work fatigue.

Based on the research we can conclude there is significant correlation between the noise with the fatigue of work, shift work fatigue, and marital status with job burnout. This is influenced by the environment itself as well as other factors. Therefore, the advice that could be given is to reduce the noise exposure received by workers with the administrative control (providing training to workers, providing the control room so workers can rest), personal protective equipment (by using personal protective equipment in the form of safety ear plug or ear muff), set the hour work shift in accordance with normal working hours ie 06-14-22 working

56

hours, and provide education or guidance on how the timing of a break between work with time for family.

Reading list : (1965 - 2009).

56 hours, and provide education or guidance on how the timing of a break between work

57

1.1 Latar Belakang

BAB 1

PENDAHULUAN

Kelelahan adalah suatu kondisi yang ditandai dengan penurunan efisiensi dan

kebutuhan dalam bekerja (Budiono, 2003). Riyadina (2000) kelelahan mengandung 3

57 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN Kelelahan adalah suatu kondisi yang ditandai dengan penurunan efisiensi

pengertian yaitu terdapatnya penurunan hasil kerja sacara fisiologik, adanya perasaan

lelah dan merasa bosan bekerja. Tarwaka dkk (2004) mengatakan bahwa kelelahan

adalah suatu mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh terhindar dari kerusakan lebih

lanjut sehingga terjadi pemulihan setelah istirahat. Sedangkan pendapat lain mengatakan

kelelahan adalah aneka keadaan yang disertai penurunan efisiensi dan ketahanan dalam

bekerja, yang dapat disebabkan sumber utamanya adalah mata (kelelahan visual),

kelelahan fisik umum, kelelahan syaraf, kelelahan oleh lingkungan yang monoton dan

kelelahan oleh lingkungan kronis terus menerus sebagai faktor secara menetap

(Suma’mur, 1999).

Budiono (2003) menyatakan kelelahan kerja ditandai dengan melemahnya

tenaga kerja dalam melakukan pekerjaan atau kegiatan, sehingga akan meningkatkan

kesalahan dalam melakukan pekerjaan dan akibat fatalnya adalah terjadinya

kecelakaan kerja. Menurut Rizeddin (2000) kelelahan dapat menurunkan kapasitas kerja

dan ketahanan kerja yang ditandai oleh sensasi lelah, motivasi menurun dan aktivitas

58

menurun. Kelelahan kerja memperlambat waktu reaksi, merasa lelah ada penurunan

aktivitas dan kesulitan dalam mengambil keputusan yang menyebabkan menurunnya

kinerja dan menambahnya tingkat kesalahan kerja. Sehingga dengan meningkatnya

kesalahan kerja akan memberikan peluang terjadinya kecelakaan kerja dalam industri.

Apabila beban kerja lebih besar daripada kemampuan tubuh maka akan terjadi rasa tidak

nyaman, kelelahan, kecelakaan, cedera, rasa sakit, penyakit dan produktivitas menurun

(Santoso, 2004).

58 menurun. Kelelahan kerja memperlambat waktu reaksi, merasa lelah ada penurunan aktivitas dan kesulitan dalam mengambil

Hasil penelitian yang dilakukan oleh kementrian tenaga kerja Jepang terhadap

12.000 perusahaan yang melibatkan sekitar 16.000 pekerja di negara tersebut yang dipilih

secara acak telah menunjukkan hasil bahwa ditemukan 65 % pekerja mengeluhkan

kelelahan fisik akibat kerja rutin, 28 % mengeluhkan kelelahan mental dan sekitar 7%

pekerja mengeluh stress berat dan merasa tersisihkan. Miranti (2008) mengutarakan hasil

penelitian yang dilakukan pada salah satu perusahaan di Indonesia tahun 2008 khususnya

pada bagian produksi mengatakan rata-rata pekerja mengalami kelelahan dengan

mengalami gejala sakit di kepala, nyeri di punggung, pening dan kekakuan di bahu.

Akerstedt ed Alt (2002) memprediksi beberapa faktor utama yang signifikan

terhadap kelelahan, meliputi : jenis kelamin, usia, kondisi kesehatan, berlebihnya waktu

yang digunakan dalam bekerja, tempat kerja dan Physically. Grandjen (1988)

mengatakan bahwasanya faktor yang mempengaruhi kelelahan adalah intensitas lamanya

pembebanan fisik (masa kerja) dan mental. Menurut Siswanto (1999) bahwasanya faktor

penyebab kelelahan kerja adalah pengorganisasian kerja, faktor psikologis, lingkungan

kerja, status kesehatan dan status gizi. Sedangkan pendapat lain mengatakan bahwasanya

59

faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kelelahan adalah kesegaran jasmani,

kebiasaan merokok, masalah psikologis, status kesehatan, jenis kelamin, status gizi,

waktu kerja, beban kerja, usia, dan masalah lingkungan kerja (Tarwaka, 2004).

Beberapa hasil penelitian membuktikan bahwasanya ada beberapa faktor yang

beruhubugan dengan terjadinya kelelahan pada pekerja dibagian produksi. Silaban (1996)

mangatakan bahwa 63% pekerja menderita kelelahan yang dapat berakibat terjadinya

kecelakaan kerja. Kennedy (1987) mengatakan 24% orang dewasa yang datang ke

poliklinik menderita kelelahan. Hasil penelitian yang dilakukan Paulina (2008) pada

59 faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kelelahan adalah kesegaran jasmani, kebiasaan merokok, masalah psikologis, status kesehatan, jenis

bagian produksi menunjukkan adanya hubungan antara tekanan panas, umur dan masa

kerja dengan kelelahan kerja. Hasil penelitian yang dilakukan Muftia (2008) pada bagian

produksi menunjukkan adanya hubungan antara tingkat kebisingan dengan kelelahan

kerja. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Kimberly (2009) pada pekerja pabrik bagian

produksi menunjukkan adanya hubungan antara shift kerja dengan kelelahan. Hasil

penelitian yang dilakukan oleh Eraliesa (2008) menunjukkan adanya hubungan antara

status perkawinan dan status gizi dengan kelelahan kerja.

Dari beberapa faktor-faktor penyebab kelelahan kerja di atas dapat disimpulkan

bahwa rata-rata pekerja pada bagian produksi mengalami kelelahan. Kelelahan kerja

merupakan salah satu sumber masalah bagi kesehatan dan keselamatan pekerja. Tentu

saja hal ini tidak dapat dibiarkan begitu saja, karena tenaga kerja merupakan aset

perusahaan yang dapat dapat mempengaruhi produktivitas perusahaan.

PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, berdiri pertama kali pada tahun 1973, dan

memulai kegiatannya dalam usaha pembuatan semen pada tahun 1975. PT. Indocement

60

Tunggal Prakarsa Tbk memiliki 12 pabrik atau plant yang tersebar ditiga lokasi yaitu 9

pabrik (plant 1-plant 8 dan plant 11 ) dengan luas area 200 Ha yang berlokasi di

Citeureup-Bogor, 2 pabrik (plant 9-plant 10) dengan luas area 37 Ha yang berlokasi di

Palimanan Cirebon, serta 1 pabrik (plant 12) dengan luas area 71 Ha di Tarjun-

Kalimantan Selatan. PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk merupakan perusahaan yang

sudah modern, sehingga alat-alat yang digunakan dalam proses produksi semen sudah

dikendalikan oleh mesin, kecuali pada bagian proses tambang (maining), Engineering,

HED (Heavy Engineering Division) dan proses produksi kantong semen PBD (Paper Bag

60 Tunggal Prakarsa Tbk memiliki 12 pabrik atau plant yang tersebar ditiga lokasi yaitu 9 pabrik

Division) yang rata-rata memperkerjakan orang dengan jumlah pekerja yang cukup

banyak. Diantara keempat tempat tersebut PBD (Paper Bag Division) merupakan salah

satu pabrik yang menjalankan proses produksi secara terus menerus selama 24 jam

selama 5 hari dalam seminggu. Pada proses produksi pekerja bekerja 6 jam dengan

-

istirahat 2 jam (50%-75% kerja) dengan kondisi suhu lingkungan kerja berkisar 28 0

  • 30 0 C dan nilai tingkat kebisingannya berkisar antara 81-93 dB.

Adapun berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada 10 pekerja di

proses produksi PBD PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, diketahui rata-rata seluruh

pekerja mengalami kelelahan kerja ringan 80 % dengan nilai rata tingkat kelelahan 0.338

milidetik yang mendekati pada nilai kelalahan tingkat sedang, dan kelelahan kerja berat

  • 20 % dengan nilai rata-rata tingkat kelelahan 0.499 milidetik. Artinya, dari 10 sampel

diketahui seluruh pekerja mengalami kelelahan kerja. Berdasarkan studi pendahuluan

tersebut, maka peneliti ingin meneliti faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan

pada pekerja di proses produksi kantong semen PBD PT.Indocemen Tunggal Prakarsa

Tbk.

61

  • 1.2 Rumusan Masalah

PBD PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, merupakan suatu perusahaan yang

menjalankan proses produksi secara terus menerus selama 24 jam selama 5 hari dalam

seminggu. Pada proses produksi pekerja bekerja 6 jam dengan istirahat 2 jam (50%-75%

kerja) dengan kondisi suhu lingkungan kerja berkisar 28 0 -30 0 C dan nilai tingkat

kebisingannya berkisar antara 81-93 dB. Berdasarkan standar TLV (Threshold Limit

Values/nilai ambang batas) tahun 2007 bahwasanya beban kerja dengan suhu 28 0 C

termasuk pada kategori beban kerja sedang. Sedangkan berdasarkan standar nilai ambang

61 1.2 Rumusan Masalah PBD PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, merupakan suatu perusahaan yang menjalankan proses

batas tingkat kebisingan, nilai tingkat kebisingan sudah melebihi nilai ambang batas

tingkat kebisingan.

Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada 10 pekerja di proses

produksi PBD PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, diketahui rata-rata seluruh pekerja

mengalami kelelahan kerja ringan 80 % dengan nilai rata tingkat kelelahan 0.338

milidetik yang mendekati pada nilai kelalahan tingkat sedang, dan kelelahan kerja berat

20 % dengan nilai rata-rata tingkat kelelahan 0.499 milidetik. Artinya, dari 10 sampel

diketahui seluruh pekerja mengalami kelelahan kerja. Berdasarkan hal tersebut maka

peneliti ingin meneliti tentang faktor-faktor penyebab kelelahan.

  • 1.3 Pertanyaan Penelitian

    • 1. Bagaimana gambaran kelelahan kerja pada pekerja di proses produksi kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakasa Tbk. tahun 2010?

62

2.

Bagaimana gambaran faktor tekanan panas dan tingkat kebisingan pada

pekerja di proses produksi kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal

Prakasa Tbk. tahun 2010?

3.

Bagaimana gambaran faktor shift kerja pada pekerja di proses produksi

kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakasa Tbk. tahun 2010?

4.

Bagaimana gambaran faktor masa kerja, usia, status perkawinan, kebiasaan

merokok, dan status gizi pada pekerja di proses produksi kantong semen PBD

PT. Indocement Tunggal Prakasa Tbk. tahun 2010? 5. Apakah ada hubungan antara tekanan panas dengan kelelahan
PT. Indocement Tunggal Prakasa Tbk. tahun 2010?
5.
Apakah ada hubungan antara tekanan panas dengan kelelahan pada pekerja
dip roses produksi kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakasa Tbk.
Tahun 2010?
6.
Apakah ada hubungan antara tingkat kebisingan dengan kelelahan pada
pekerja di proses produksi kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal
Prakasa Tbk. tahun 2010?
7.
Apakah ada hubungan antara shift kerja dengan kelelahan pada pekerja di
proses produksi kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakasa Tbk.

tahun 2010?

8.

Apakah ada hubungan antara masa kerja dengan kelelahan pada pekerja di

proses produksi kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakasa Tbk.

tahun 2010?

9.

Apakah ada hubungan antara usia dengan kelelahan pada pekerja di proses

produksi kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakasa Tbk. tahun

2010?

63

10. Apakah ada hubungan antara status perkawinan dengan kelelahan pada

pekerja di proses produksi kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal

Prakasa Tbk. tahun 2010?

11. Apakah ada hubungan antara kebiasaan merokok dengan kelelahan pada

pekerja di proses produksi kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal

Prakasa Tbk. tahun 2010?

12. Apakah ada hubungan antara status gizi dengan kelelahan pada pekerja di

proses produksi kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakasa Tbk.

tahun 2010? 1.4 Tujuan 1.4.1 Tujuan Umum Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan pada pekerja di
tahun 2010?
1.4 Tujuan
1.4.1
Tujuan Umum
Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan pada pekerja di
proses produksi kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakasa Tbk. tahun 2010.
1.4.2
Tujuan Khusus
  • 1 Diketahuinya gambaran kelelahan kerja pada pekerja di proses produksi kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakasa Tbk. tahun 2010?

  • 2 Diketahuinya gambaran faktor tekanan panas dan tingkat kebisingan pada pekerja di proses produksi kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakasa Tbk. tahun 2010?

  • 3 Diketahuinya gambaran faktor shift kerja pada pekerja di proses produksi kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakasa Tbk. tahun 2010?

64

4

Diketahuinya gambaran faktor masa kerja, usia, status perkawinan, kebiasaan

merokok, dan status gizi pada pekerja di proses produksi kantong semen PBD

PT. Indocement Tunggal Prakasa Tbk. tahun 2010?

5

Diketahuinya hubungan antara tekanan panas dengan kelelahan pada pekerja

dip roses produksi kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakasa Tbk.

Tahun 2010?

6

Diketahuinya hubungan antara tingkat kebisingan dengan kelelahan pada

pekerja di proses produksi kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakasa Tbk. tahun 2010? 7 Diketahuinya
pekerja di proses produksi kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal
Prakasa Tbk. tahun 2010?
7
Diketahuinya hubungan antara shift kerja dengan kelelahan pada pekerja di
proses produksi kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakasa Tbk.
tahun 2010?
8
Diketahuinya hubungan antara masa kerja dengan kelelahan pada pekerja di
proses produksi kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakasa Tbk.
tahun 2010?
9
Diketahuinya hubungan antara usia dengan kelelahan pada pekerja di proses

produksi kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakasa Tbk. tahun

2010?

10 Diketahuinya hubungan antara status perkawinan dengan kelelahan pada

pekerja di proses produksi kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal

Prakasa Tbk. tahun 2010?

65

11 Diketahuinya hubungan antara kebiasaan merokok dengan kelelahan pada

pekerja di proses produksi kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal

Prakasa Tbk. tahun 2010?

12 Diketahuinya hubungan antara status gizi dengan kelelahan pada pekerja di

proses produksi kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakasa Tbk.

tahun 2010?

  • 12.1 Manfaat Penelitian

12.1.1 Manfaat Bagi Perusahaan Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi bagi perusahaan mengenai kondisi lingkungan kerja
12.1.1
Manfaat Bagi Perusahaan
Hasil
penelitian
diharapkan
dapat
memberikan
informasi
bagi
perusahaan
mengenai kondisi lingkungan kerja yang berdampak terhadap kelelahan kerja
karyawannya, sehingga kesehatan dan keselamatan pekerja dapat menjadi lebih baik.
12.1.2
Manfaat Bagi Peneliti
Melatih pola pikir sistematis dalam menghadapi masalah-masalah khusunya
dalam bidang Kesehatan dan Keselamatan Kerja.
  • 12.2 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juli 2010. Adapun lokasinya

pada bagian proses produksi kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakasa Tbk.

Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan

pada pekerja di psoses produksi kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakasa

Tbk. Citeureup Bogor. Penelitian ini bersifat kuantitaif dengan desain cross sectional.

66

Sasaran penelitian adalah pekerja yang ada diarea produksi kantong semen dengan

jumlah sampel 88 orang.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor faktor yang berhubungan dengan

kelelahan kerja pada bagian produksi kanting semen PBD PT. Indocement Tunggal

Prakarsa Tbk. Tahun 2010. Hal tersebut dilakukan karena berdasarkan hasil studi

pendahuluan yang dilakukan pada 10 pekerja di proses produksi PBD PT. Indocement

Tunggal Prakarsa Tbk, diketahui rata-rata seluruh pekerja mengalami kelelahan kerja.

Data-data yang diperoleh berasal dari data primer dan data sekunder. Data primer

66 Sasaran penelitian adalah pekerja yang ada diarea produksi kantong semen dengan jumlah sampel 88 orang.

diperoleh dan dikumpulkan dari objek penelitian ataupun responden selama penelitian.

Sedangkan data sekunder diperoleh dari perusahaan dengan cara telaah dokumen. Data

tersebut disajikan dalam tabel distribusi frekuensi, kemudian dilakukan uji statistik

dengan rumus chisquare untuk melihat hubungan antara variabel independen dengan

variabel dependen.

67

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Kelelahan Kerja

2.2.Pengertian Kelelahan Kerja

67 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Kelelahan Kerja 2.2.Pengertian Kelelahan Kerja Kelelahan mengandung 3 pengertian yaitu terdapatnya

Kelelahan mengandung 3 pengertian yaitu terdapatnya penurunan hasil kerja

secara fisiologik, adanya perasaan lelah dan merasa bosan bekerja. Pada susunan saraf

pusat terdapat sistem aktivasi dan inhibisi. Keduanya harus saling berimbang dan berda

dalam kondisi stabil dalam tubuh. Jika yang beroperasi adalah sistemm inhibisi, maka

akan datang rasa ngantuk atau bahkan tertidur yang berarti timbulnya rasa lelah

(Riyadina, 2000). Lelah adalah keadaan yang disertai penurunan efisiensi dan ketahanan

dalam bekerja. Kelelahan merupakan mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh

menghindari kerusakan lebih lanjut, sehingga dengan demikian terjadilah pemulihan

(Suma’mur, 1996). Kelelahan menunjukkan kondisi yang berbeda-beda dari setiap

individu, tetapi semuanya bermuara pada kehilangan efisiensi dan penurunan kapasitas

kerja serta ketahanan tubuh (Tarwaka, 2004).

Menurut Cameron (1973) yang dikutip oleh Rahmawati (1998) kelelahan kerja

merupakan kriteria yang kompleks yang tidak hanya menyangkut kelelahan fisiologis

dan psikologis tetapi dominan hubungannya dengan penurunan kinerja fisik, adanya

68

perasaan lelah, penurunan motivasi dan penurunan produktivitas kerja. Gambaran

mengenai gejala kelelahan (fatigue symptoms) secara subyektif dan obyektif antara lain;

  • 1. Perasaan lesu, ngantuk dan pusing

  • 2. Kurang mampu berkonsentrasi

  • 3. Berkurangnya tingkat kewaspadaan

  • 4. Persepsi yang buruk dan lambat

  • 5. Berkurangnya gairah untuk bekerja

6. Menurunnya kinerja jasmani dan rohani (Budiono, 2000). 1. Kelelahan sumber utamanya adalah mata (kelelahan visual).
6.
Menurunnya kinerja jasmani dan rohani (Budiono, 2000).
1.
Kelelahan sumber utamanya adalah mata (kelelahan visual).

Beberapa gejala tersebut dapat menyebabkan penurunan efisiensi dan efektivitas

kerja fisik dan mental. Sejumlah gejala tersebut manifestasinya timbul berupa keluhan

oleh tenaga kerja dan seringnya tenaga kerja tidak masuk kerja (Budiono, dkk.2000).

Kelelahan adalah aneka keadaan yang disertai penurunan efisiensi dan ketahan

dalam bekerja, yang dapat dosebabkan oleh :

  • 2. Kelelahan fisik umum.

  • 3. Kelelahan syaraf.

  • 4. Kelelahan oleh lingkungan yang monoton.

  • 5. Kelelahan oleh lingkungan kronis terus menerus sebagai faktor secara menetap (Suma’mur, 1999).

69

Kelelahan kerja akan menurunkan kinerja dan menambah tingkat kesalahan kerja

(Nurmianto, 2003). Meningkatnya kesalahan kerja akan memberikan peluang terjadinya

kecelakaan kerja dalam industri. Pembebanan otot secara statispun (Static Muscular

Loading) jika dipertahankan dalam waktu yang cukup lama akan mengakibatkan

RSI (Repetition Strain Injuries), yaitu nyeri otot, tulang, tendon, dan lain-lain yang

diakibatkan oleh jenis pekerjaan yang bersifat berulang (repetitive).

Menurut Tarwaka (2004) kelelahan merupakan suatu mekanisme

perlindungan agar terhindar dari kerusakan lebih lanjut, sehingga dengan demikian

69 Kelelahan kerja akan menurunkan kinerja dan menambah tingkat kesalahan kerja ( Nurmianto , 2003 ).

terjadilah pemulihan setelah istirahat. Kelelahan (fatigue) merupakan suatu perasan

yang subyektif. Kelelahan adalah suatu kondisi yang disertai penurunan efisiensi

dan kebutuhan dalam bekerja (Budiono, 2003). Kelelahan kerja akan menurunkan

kinerja dan menambah tingkat kesalahan kerja. Meningkatnya kesalahan kerja akan

memberikan peluang terjadinya kecelakaan kerja dalam industri. Selain itu karakteristik

kelelahan akan meningkat dengan semakin lamanya pekerjaan yang dilakukan. Pendapat

lain mengatakan bahwasanya kelelahan dapat menurunkan kapasitas kerja dan ketahanan

kerja yang ditandai oleh sensasi lelah, motivasi menurun, aktivitas menurun. Rizeddin

(2000)

  • 2.2.2. Jenis Kelelahan Jenis kelelahan meliputi atas dua bagian: 1) Kelelahan Otot (Muscular Fatigue)

70

Kelelahan otot menurut Suma’mur (1999) adalah tremor pada otot atau

perasaan nyeri yang terdapat pada otot. Hasil percobaan yang dilakukan para

peneliti pada otot mamalia, menunjukkan kinerja otot berkurang dengan

meningkatnya ketegangan otot sehingga stimulasi tidak lagi menghasilkan

respon tertentu. Fenomena berkurangnya kinerja otot setelah terjadinya

tekanan melalui fisik untuk suatu waktu tertentu disebut kelelahan otot secara

fisiologis, dan gejala yang ditunjukkan tidak hanya berupa berkurangnya

tekanan fisik namun juga pada makin rendahnya gerakan.

2) Kelelahan Umum
2)
Kelelahan Umum

Pendapat Grandjean (1993) yang dikutip oleh Tarwaka, dkk (2004), biasanya

kelelahan umum ditandai dengan berkurangnya kemauan untuk bekerja,yang

sebabnya adalah pekerjaan yang monoton, intensitas dan lamanya kerja fisik,

keadaan lingkungan, Sebab-sebab mental, status kesehatan dan keadaan gizi.

Secara umum gejala kelelahan dapat dimulai dari yang sangat ringan sampai

perasaan yang sangat melelahkan. Kelelahan subyektif biasanya terjadi pada

akhir jam kerja, apabila beban kerja melebihi 30-40% dari tenaga aerobik.

Pengaruhpengaruh ini seperti berkumpul didalam tubuh dan mengakibatkan

perasaan lelah (Suma’mur, 1996). Menurut Budiono (2003), gejala umum

kelelahan adalah suatu perasaan letih yang luar biasa dan terasa aneh. Semua

aktivitas menjadi terganggu dan terhambat karena munculnya gejala kelelahan

terebut. Tidak adanya gairah untuk bekerja baik secara fisik maupun psikis,

segalanya terasa berat dan merasa mengantuk.

71

2.2.3.

Tanda kelelahan

Pada umumnya orang lelah menunjukkan tanda-tanda sebagai berikut ;

  • a. Penurunan perhatian

  • b. Perlambatan dan hambatan persepsi

  • c. Lamban dan sukar berfikir

  • d. Penurunan kemampuan atau dorongan untuk bekerja

  • e. Kurangnya efisiensi kegiatan-kegiatan fisik dan mental

Pengukuran Kelelahan
Pengukuran Kelelahan

Jika menderita lelah berat secara terus menerus maka akan mengakibatkan

kelelahan kronis dengangejala lelah sebelum bekerja. Jika terus berlanjut dan

menimbulkan sakit kepala, pusing, mual dan sebagainya maka kelelahan itu dinamakan

lelah klinis yang akan mengakibatkan malas bekerja (Sedarmayanti 1996).

2.2.4.

Sampai saat ini belum ada metode pengukuran kelelahan yang baku karena

kelelahan merupakan suatu perasaan subyektif yang sulit diukur dan diperlukan

pendekatan secara multidisiplin (Grandjean, 1993) yang dikutip oleh Tarwaka (2004).

Namun demikian diantara sejumlah metode pengukuran terhadap kelelahan yang ada,

umumnya terbagi kedalam 5 kelompok yang berbeda, yaitu:

1) Kualitas dan kuantitas kerja yang dilakukan

Pada metode ini, kualitas output digambarkan sebagai jumlah proses kerja

(waktu yang digunakan setiap item) atau proses operasi yang dilakukan setiap

72

unit waktu. Namun demikian banyak faktor yang harus dipertimbangkan

seperti; target produksi; faktor sosial; dan perilaku psikologis dalam kerja.

Sedangkan kualitas output (kerusakan produk, penolakan produk) atau

frekuensi kecelakaan dapat menggambarkan terjadinya kelelahan, tetapi faktor

tersebut bukanlah merupakan causal faktor (Tarwaka, 2004).

2)

Pengujian Psikomotorik

adanya perlambatan pada proses faal syaraf dan otot.
adanya perlambatan pada proses faal syaraf dan otot.

Pada metode ini melibatkan fungsi persepsi, interpretasi dan reaksi motor.

Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan pengukuran waktu

reaksi. Waktu reaksi adalah jangka waktu dari pemberian suatu rangsang

sampai kepada suatu saat kesadaran atau dilaksanakan kegiatan. Dalam uji

waktu reaksi dapat digunakan nyala lampu, denting suara, sentuhan kulit atau

goyangan badan. Terjadinya pemanjangan waktu reaksi merupakan petunjuk

Sanders dan Cormick (1987) yang dikutip oleh Tarwaka (2004) mengatakan

bahwa waktu reaksi adalah waktu untuk membuat suatu respon yang spesifik

saat suatu stimulasi terjadi. Waktu reaksi terpendek biasanya berkisar antara

150 s/d 200 milidetik. Waktu reaksi tergantung dari stimuli yang dibuat;

intensitas dan lamanya perangsangan; umur subjek; dan perbedaan-perbedaan

individu lainnya. Setyawati (1996) yang dikutip oleh Tarwaka (2004)

melaporkan bahwa dalam uji waktu reaksi, ternyata stimuli terhadap cahaya

73

lebih signifikan daripada stimuli suara. Hal tersebut disebabkan karena stimuli

suara lebih cepat diterima oleh reseptor daripada stimuli cahaya. Alat ukur

waktu reaksi telah dikembangkan di Indonesia biasanya menggunakan nyala

lampu dan denting suara sebagai stimuli.

3)

Mengukur frekuensi subjektif kelipan mata (Flicker Fusion Eyes)

Dalam kondisi yang lelah, kemampuan tenaga kerja untuk melihat kelipan

akan berkurang. Semakin lelah akan semakin panjang waktu yang diperlukan untuk jarak antara dua kelipan. Uji
akan berkurang. Semakin lelah akan semakin panjang waktu yang diperlukan
untuk jarak antara dua kelipan. Uji kelipan, disamping untuk mengukur
kelelahan juga menunjukkan keadaan kewaspadaan tenaga kerja (Tarwaka,
2004).
4)
Perasaan kelelahan secara subjektif (Subjektive feelings of fatigue)
Subjective Self Rating Tes dari Industrial Fatigue Research Committee
(IFRC) Jepang, merupakan salah satu kuesioner yang dapat untuk mengukur
tingkat kelelahan subjektif. Kuesioner tersebut berisi 30 daftar pertanyaan.

5)

Pengujian Mental

Pada metode ini konsentrasi merupakan salah satu pendekatan yang dapat

digunakan untuk menguji ketelitian dan kecepatan menyelesaikan pekerjaan.

Baurdon Wiersma test, merupakan salah satu alat yang dapat digunakan untuk

menguji kecepatan, ketelitian dan konsentrasi. Hasil test akan menunjukkan

bahwa semakin lelah seseorang maka tingkat kecepatan, ketelitian dan

74

konsentrasi akan semakin rendah atau sebaliknya. Namun demikian Bourdon

Wiersma tes lebih tepat untuk mengukur kelelahan akibat aktivitas atau

pekerjaan yang lebih bersifat mental.

Menurut Grandjean (1985) yang dikutip oleh Setiarto (2002), proses

penerimaan rangsangan terjadi karena setiap rangsangan yang datang dari luar

tubuh akan melewati sistem aktivitas, yang kemudian secara aktif menyiagakan

korteks bereaksi. Dalam hal ini sistem aktivasi retrikulasi befungsi sebagai distributor

dan amplifier sinyal-sinyal tersebut. Pada keadaan lelah secara neurofisiologis, korteks cerebri mengalami penurunan aktivasi, terjadi perubahan
dan amplifier sinyal-sinyal tersebut. Pada keadaan lelah secara neurofisiologis, korteks
cerebri mengalami penurunan aktivasi, terjadi perubahan pengarahan sehingga tubuh
tidak secara cepat menjawab sinyal-sinyal dari luar . Salah satu alat guna mengetahui
tingkat kelelahan adalah dengan Reaction Timer Test, yaitu alat untuk mengukur tingkat
kelelahan berdasarkan kecepatan waktu reaksi seseorang terhadap rangsang cahaya dan
rangsang suara. Pada keadaan yang sehat, tenaga kerja akan lebih cepat merespon
rangsang yang diberi dan seseorang yang telah mengalami kelelahan akan lebih lama
merespon rangsang yang diberi (Koesyanto dan Tunggul, 2005).
Menurut Koesyanto dan Tunggul (2005), tingkat kelelahan kerja dapat

diklasifikasikan berdasarkan waktu reaksi yang diukur dengan reactiontimer yaitu:

1)

Normal (N)

: waktu reaksi 150.0-240.0 milidetik

2)

Kelelahan Kerja Ringan (KKR)

: waktu reaksi >240.0-<410.0 milidetik

75

4) Kelelahan Kerja Berat (KKB) : waktu reaksi >580.0 milidetik

  • 2.2.5. Dampak Kelelahan Perubahan fisiologis akibat kelelahan merupakan kerja Mekanisme prinsip tubuh

mencakup sistem sirkulasi, sistem pencemaan, sistem otot, sistem saraf dan sistem

pemafasan. Kerja fisik yang terus menerus mempengaruhi mekanisme tersebut baik

sebagian maupun secara keseluruhan (Setyawati, 1994). Gejala kelelahan kerja menurut

Gilmer (1966) dan Cameron (1973) yaitu menurun kesiagaan dan perhatian, penurunan

75 4) Kelelahan Kerja Berat (KKB) : waktu reaksi > 580.0 milidetik 2.2.5. Dampak Kelelahan Perubahan

dan hambatan persepsi, cara berpikir atau perbuatan anti sosial, tidak cocok dengan

lingkungan, (depresi, kurang tenaga, kehilangan inisiatif), dan gejala umum (sakit kepala,

vertigo, gangguan fungsi paru dan jantung, kehilangan nafsu makan, gangguan

pencemaan, kecemasan, pembahan tingkah laku, kegelisahan, dan kesukaran tidur).

Kelelahan Kerja dapat menyebabkan prestasi kerja yang menurun, fungsi fisiologis

motorik dan neural yang menurun, badan terasa tidak enak, Semangat kerja yang

menurun (Bartley dan Chute, 1982).

Beberapa penelitian mendapatkan hasil, bahwasanya kelelahan kerja berhubungan

dengan faktor fisik, faktor pekerjaan dan faktor individu. Hasil penelitian yang dilakukan

oleh Atik Muftia pada bagian produksi diperoleh ada hubungan antara penerangan

dengan kelelahan dengan nilai pvaluenya 0,032. Hasil penelitian yang dilakukan Paulina

(2008) pada proses produksi menunjukkan adanya hubungan tekanan panas dengan

kelelahan kerja dengan nilai pvaluenya 0,001, ada hubungan antara umur dengan

kelelahan kerja dengan nilai valuenya 0,0001 dan ada hubungan antara masa kerja

76

2.3. Faktor-faktor Penyebab Kelelahan Kerja

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Tenaga Kerja Menurut, Depkes

(1990) Agar seorang tenaga kerja dapat terjamin keadaan, kesehatan dan produktivitas

kerja setinggi tingginya maka perlu ada keseimbangan yang menguntungkan dari faktor

faktor penyebab kelalahan pekerja.

  • 2.3.1. Tekanan Panas

76 2.3. Faktor-faktor Penyebab Kelelahan Kerja Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Tenaga Kerja Menurut, Depkes ( 1990

Tekanan panas adalah total panas tubuh seseorang yang berasal dari kombinasi

panas metabolik (internal) dan panas lingkungan (eksternal). Yang dimaksud dengan

panas metabolic adalah hasil sampingan (by-product) dari proses kimia yang terjadi pada

sel, jaringan dan organ (Fundamentals of industrial Hygiene, 4 th edition, Thermal stress).

Panas yang dihasilkan dari proses metabolisme tersebut berasal dari aktivitas manusia.

Suhu nikmat bekerja sekitar 24 - 26°C bagi orang- orang Indonesia, suhu dingin

mengurangi efisiensi dengan keluhan kaku atau kurangnya koordinasi otot. Suhu panas

terutama berakibat menurunnya prestasi kerja pikir. Penurunan sangat hebat sesudah

32°C. Suhu panas mengurangi kelincahan, memperpanjang waktu reaksi dan waktu

pengambilan keputusan, mengganggu kecermatan kerja otak, mengganggu koordinasi

syaraf perasa dan motoris (Suma’mur, 1996).

NAB (Nilai Ambang Batas) adalah standar faktor tempat kerja yang dapat

diterima tenaga kerja tanpa mengakibatakan penyakit atau gangguan kesehatan dalam

pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak melebihi 8 jam sehari atau 40 jam seminggu.

Biasanya ahli hygiene industry menggunakan parameter yang disebut Wet Bulb Globe

77

Thermometer (WBGT) Index atai Indeks Suhu Basah Bola dan suhu globe/radiasi.

Seseuai dengan Undang-undang nomor 1 tahun 1970 tentang ditetapkannya syarat-syarat

keeslamatan dan kesehatan kerja, salah satu sumber bahaya yang ditemukan di tempat

kerja adalah bahaya kondisi fisik berupa iklim kerja panas.

Lingkungan kerja yang panas umumnya lebih banyak menimbulkan permasalahan

dibandingkan lingkungan kerja dingin. Hal ini terjadi karena pada umumnya manusia

lebih mudah melindungi dirinya dari pengaruh suhu udara yang rendah dari pada suhu

udara yang tinggi (Ardyanto, 2005). Lingkungan kerja yang panas dan lembab akan

77 Thermometer (WBGT) Index atai Indeks Suhu Basah Bola dan suhu globe/ radiasi. Seseuai dengan Undang-undang

menurunkan produktifitas kerja yang juga akan membawa dampak negatif terhadap

keselamatan dan kesehatan kerja (Santoso, 2004).

Beban kerja fisik yang berat yang berhubungan dengan waktu kerja yang lebih

dari 8 jam, maka dapat menurunkan produktivitas kerja serta meningkatnya angka

kecelakaan kerja dan sakit (Budiono dkk., 2000). Setiap pekerjaan merupakan beban bagi

pelakunya. Seorang tenaga kerja memiliki kemampuan tersendiri dalam hubungannya

dengan beban kerja. Diantara mereka ada yang lebih cocok untuk beban fisik, mental

ataupun sosial (Suma’mur, 1996). Akibat beban kerja yang terlalu berat dapat

mengakibatkan pekerja menderita gangguan atau penyakit akibat kerja (Depkes dan

Kessos RI, 2000). Bahkan banyak juga dijumpai kasus kelelahan kerja dimana hal itu

adalah sebagai akibat dari pembebanan kerja yang berlebihan ( Sugeng Budiono dkk.,

2000).

Pekerjaan fisik yang berat jika diperpanjang akan mengakibatkan perubahan

fisiologis dan dapat diukur. Misalnya saja, detak jantung, penggunaan oksigen dan

78

ketegangan otot (Anies, 2002). Setiap beban kerja harus disesuaikan dengan kemampuan

tubuh seseorang. Apabila beban kerja lebih besar dari kemampuan tubuh maka akan

terjadi rasa tidak nyaman (paling awal), kelelahan (overstress), kecelakaan, cedera, rasa

sakit, penyakit dan produktivitas menurun (paling akhir). Sebaliknya, apabila beban kerja

lebih kecil dari kemampuan tubuh maka akan terjadi understress, kejenuhan, kebosanan,

kelesuan, kurang produktif dan sakit (Santoso, 2004). Hasil penelitian yang dilakukan

Paulina (2008) pada bagian produksi PT. X menunjukkan adanya hubungan yang

bermakna antara tekanan panas dengan kelelahan kerja, dengan nilai pvaluenya 0,001.

78 ketegangan otot ( Anies, 2002 ). Setiap beban kerja harus disesuaikan dengan kemampuan tubuh seseorang.

2.3.1.1.Dampak Kesehatan yang Ditimbulkan Oleh Panas

Mungkin panas tidak dipersoalkan bila tidk ada dampak yang timbul bagi

manusia, karena pada dasarnya panas itu sangat diperlukan keberadaannya hal

tersebut erat kaitannya dengan energi. Namun demikian kenyataannya terdapat

energi panas yang belebihan yang kotak dengan manusia. Berkaitan dengan

adanya energi panas yang kontak dengan manusia, berikut ini merupakan dampak

kesehatan yang diakibatkan oleh panas yang berlebihan berdasarkan OSHA

(Ocupational Safey and Health Administration) adalah sengatan panas (Heat

stroke), Kelelahan karena panas (Heat exhaustion), Heat Collapse, kejang panas

(Heat Cramp), Heat rash, dan Heat Fatigue.

2.3.1.2.Pengukuran Panas

Berikut ini merupakan hal-hal yang harus diperhatikan daam pengukuran panas :

79

  • 1. Penentuan titik sampling Titik sampling sangat mempengaruhi data mengenai keberadaan atau kondisi panas yang mewakili area panas berlebih. Oleh karena itu lokasi titik sampling yang akan dijadikan lokasii pengukuran harus tepat dengan memperhatikan beberapa cara. Pertama, pada area tersebut terdapat sumber panas, baik peralatan maupun prosesnya. Kedua, secara subjektif pada area tersebut

tersebut terdapat pekerja yang melakukan pekerjaan. 2. Persiapan alat ukur
tersebut terdapat pekerja yang melakukan pekerjaan.
2.
Persiapan alat ukur

terdapat perbedaan temperatur dengan suhu lingkungan. Ketiga, pada area

Alat ukur yang digunakan tergantung dari sampling yang akan kita ukur.

Untuk mengukur ssampling lingkungan alat yang kita gunakan adalah

Thermal Environmental Monitor atau yang biasa disebut WBGT (Wet Bulb

Globe Temperature). Sedangkan untuk pengukuran panas personal

menggunakan alat Personal Heat Monitoring.

Berikut ini merupakan persiapan yang dilakukan terhadap alat ukur sebelum

alat tersebut digunakan :

  • a. Pastikan bahwa alat ukur dalam kondisi yang baik (berfungsi).

  • b. Lakukan kalibrasi internal dengan lat kalibrasi yang terseia.

80

c.

Tutup thermometer suhu basah dengan aquades tunggu selama _+ 10-15

menit.

d.

Pasang WBGT pada alat penyannga (tripod).

e.

Pelaksanaan pengukuran

Berikut ini merupakan langkah-langkah pengukuran :

a.

Letakan alt pada lokasi sampling 2 feet (-+60 cm) dari permukaan tanah,

untuk pekerja yang dominan duduk dalam bekerja. b. Aktifkan alat (tanpa logging) selama -+ 15 menit
untuk pekerja yang dominan duduk dalam bekerja.
b.
Aktifkan alat (tanpa logging) selama -+ 15 menit untuk adaptasi alat.
c.
Aktifkan logging data sesuai dengan waktu pengukuran yang diinginkan.
d.
Matikan logging data jika selesai dan data siap untuk diproses atau
dicetak.
2.3.1.3.Evaluasi Jumlah Panas Metabolik (Beban Kerja)
Evaluasi jumlah panas metabolik tubuh dapat diperoleh dengan menggunakan
estimasi pengukuran panas metabolik menurut NIOSH 1986 yang dapat dilihat

pada tabel 2.1.

Tabel 2.1

Estimasi Pengukuran Panas Metabolik

A

Body position and movement

Kcal/min*

81

 

Sitting

0.3

Standing

0.6

Walking

2.0 -3.0

Walking uphill

Add 0.8 per meter rise

 

Average

B

Type of work

Kcal/min

Range kcal/min

Hand work Light Heavy Work one arm Light Heavy Work both arms Light Heavy Work whole
Hand work
Light
Heavy
Work one arm
Light
Heavy
Work both arms
Light
Heavy
Work whole body
Light
Moderate
Heavy
Very Heavy
0.4
0.2
– 1.2
0.9
1.0
0.7
– 2.5
1.8
1.5
1.0
– 3.5
2.5
3.5
5.0
2.5
– 9.0
7.0
9.0
C
Basal metabolism
1.0
D
Sample calculation**
Average Kcal/min
Assembling work with heavy hand
tools
Standing
Two arm work
Basal metabolism
Total
0.6
3.5
1.0
5.1
kcal/min
*
For standard worker of 70 kg body weight (154 lbs) and 1.8 m 2 body
surface (19.4 ft 2 )
** Example of measuring metabolic heat production of worker when
performing initial screening

Sumber: NIOSH Occupational Exposure to Hot Environments, 1986

Selain estimasi pengukuran panas metabolik menurut NIOSH 1986, panas

metabolisme dapat diukur melalui perhitungan beban kerja berdasarkan tingkat

kebutuhan kalori menurut pengeluaran energi (lampiran 1). Menurut Palupi (2005) beban

kerja merupakan beban yang dialami oleh tenaga kerja sebagai akibat pekerjaan yang

dilakukannya. Penilaian beban kerja dilakukan dengan pengukuran berat badan tenaga

kerja, pengamatan aktifitas tenaga kerja dan kebutuhan kalori berdasarkan pengeluaran

82

energi sesuai tabel perhitungan beban kerja. Pengamatan aktifitas kerja dilakukan dengan

cara pengamatan pada kategori jenis pekerjaan dan posisi badan pekerja setiap jam,

kemudian posisi dan lama gerakan tersebut dicatat dan dihitung.

2.3.1.4.Evaluasi Tingkat Beban Kerja

Evaluasi tingkat beban kerja diperoleh dengan mengkategorikan hasil estimasi

pengukuran panas metabolisme menurut NIOSH 1986 sesuai dengan kategori OSHA

pada tabel 2.2. Tabel 2.2 Tingkat Beban Kerja No Pengukuran Panas Metabolik Tingkat Beban Kerja 1
pada tabel 2.2.
Tabel 2.2
Tingkat Beban Kerja
No
Pengukuran Panas
Metabolik
Tingkat Beban
Kerja
1
< 200 kcal/jam
Ringan
2
200 - 350 kcal/jam
Sedang
3
350 - 500 kcal/jam
Berat
4
> 500 kcal/jam
Sangat Berat
Sumber : OSHA
2.3.1.5.Standar Tekanan Panas

ACGIH menetapkan nilai ambang batas paparan panas yang diperbolehkan TLV

dalam satuan °C WBGT sesuai dengan tabel 2.3 berikut.

Tabel 2.3

Batas Pajanan Tekanan Panas untuk Pekerja

Yang Teraklimatisasi

Allocation of work in a cycle of work and recovery

TLV (WBGT values in °C) Very

Moderate

Heavy

Heavy

Light

83

75% to 100% 50% to 75% 25% to 50% 0% to 25% 31.0 28.0 31.0 29.0
75% to 100%
50% to 75%
25% to 50%
0% to 25%
31.0
28.0
31.0
29.0
27.5
32.0
30.0
29.0
28.0
32.5
31.5
30.5
30.0
Sumber : ACGIH TLV and Biological Exposure Indices, 2007
Tabel 2.4
Allocation of
work in a cycle
of work and
recovery
Action Limit (WBGT values in °C)e
Very
Light Moderate Heavy
Heavy
75% to 100%
50% to 75%
25% to 50%
0% to 25%
28.0
25.0
28.5
26.0
24.0
29.5
27.0
25.5
24.5
30.0
29.0
28.0
27.0
Sumber : ACGIH TLV and Biological Exposure Indices, 2007
Tingkat Kebisingan

Batas Pajanan Tekanan Panas untuk Pekerja yang tidak teraklimataisasi

2.3.2.

Kebisingan merupakan bunyi yang didengar sebagai rangsangan-rangsangan pada

telinga oleh getaran-getaran melalui media elastis dan bunyi-bunyi tersebut tidak

dikehendaki (Suma’mur, 1996). Bunyi dinilai sebagai bising sangatlah relatif sekali,

suatu contoh misalnya musik di diskotik, bagi orang yang biasa mengunjungi tempat itu

tidak merasa suatu kebisingan, tetapi bagi orangorang yang tidak pernah berkunjung di

diskotik akan merasa suatu kebisingan yang mengganggu (Gabriel, 1997). Setiap tenaga

kerja memiliki kepekaan sendiri-sendiri terhadap kebisingan, terutama nada yang tinggi,

karena dimungkinkan adanya reaksi psikologis seperti stres, kelelahan, hilang efisiensi

dan ketidaktenangan (Sutaryono, 2002).

84

Menurut Suma’mur (1996) bunyi didengar sebagai rangsangan pada telinga oleh

getaran- getaran melalui media elastis, dan manakala bunyi- bunyi tersebut tidak

dikehendaki, maka dinyatakan sebagai kebisingan. Terdapat dua hal yang menentukan

kualitas suatu bunyi, yaitu frekuensi dan intensitasnya. Frekuensi dinyatakan dalam

jumlah getaran per detik atau disebut hertz (Hz) dan intensitas atau arus energi persatuan

luas biasanya dinyatakan dalam desibel (db). Telinga manusia mampu mendengar

frekuensi- frekuensi diantara 16- 20.000 Hz.

84 Menurut Suma’mur ( 1996 ) bunyi didengar sebagai rangsangan pada telinga oleh getaran- getaran melalui

Pengukuran kebisingan biasanya dilakukan dengan tujuan memperoleh data

kebisingan di perusahaan atau dimana saja sehingga dapat dianalisis dan dicari

pengendaliannya. Alat yang digunakan untuk mengukur intensitas kebisingan adalah

dengan menggunakan sound level meter dengan satuan intensitas kebisingan sebagai

hasil pengukuran adalah desibel (dBA). Alat ini mampu mengukur kebisingan diantara 30

-130 dBA dan dari frekuensi 20-20000 Hz. Alat kebisingan yang lain adalah yang

dilengkapi dengan octave band analyzer dan noise dose meter (Depnaker, 2004).

2.3.2.1. Nilai Tingkat Baku Kebisingan

Adalah angka dB yang dianggap aman untuk sebagian besar tenaga kerja bila

bekerja 8 jam/hari atau 40 jam/minggu. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No 51

tahun 1999, Nilai Ambang Batas untuk kebisingan di tempat kerja adalah

intensitas tertinggi dan merupakan nilai rata-rata yang masih dapat diterima

tenaga kerja tanpa mengakibatkan hilangnya daya dengar yang tetap untuk waktu

terus menerus tidak lebih dari 8 jam sehari atau 40 jam seminggunya. Hasil

penelitian yang dilakuka oleh Muftia (2005) menunjukkan adanya hubungan

85

antara tingkat kebisingan dengan kelelahan. Dengan nilai pvaluenya 0,000. Waktu

maksimum bekerja adalah sebagai berikut:

Tabel 2.5. NAB Kebisingan Menurut KepMenNaker NO. 51 TAHUN 1999

Waktu Pemajanan per Hari Intensitas Kebisingan dalam dBA 8 Jam 85 4 88 2 91 1
Waktu Pemajanan per
Hari
Intensitas Kebisingan
dalam dBA
8
Jam
85
4
88
2
91
1
94
30
Menit
97
15
100
7,5
103
3,75
106
1,88
109
0,94
112
28,12
Detik
115
14,06
118
7,03
121
3,52
124
1,76
127
0,88
130
0,44
133
0,22
136
0,11
139

Sumber : KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA NOMOR KEP.51/MEN/1999

2.3.2.2.Pengukuran Kebisingan

86

Pengukuran adalah kunci dalam meminimalkan risiko yang ditimbulkan oleh

kebisingan. Pengukuran kebisingan tidak jauh berbeda dengan survey bising.

Untuk lebih memadai, pengukuran kebisingan harus dapat mengidentifikasi

pekerja yang terekspos pada tingkatan yang berbahaya (tidak standar) dan

menghasilkan informasi yang selanjutnya akan dijadikan dasar dalam menentukan

peraturan perusahaan terkait dengan kebisingan. Contoh dari peraturan

perusahaan terkait dengan kebisingan adalah penurunan pajanan kebisingan;

pelindung telinga; tanda zona wajib memakai pelindung telinga; pembekalan

/pelatihan terhadap karyawan. 1. Alat Pengukur Kebisingan
/pelatihan terhadap karyawan.
1.
Alat Pengukur Kebisingan

Untuk mengetahui intensitas bising di lingkungan kerja, digunakan Sound

Level meter. Untuk mengukur nilai ambang pendengaran digunakan

Audiometer. Untuk menilai tingkat pajanan pekerja lebih tepat digunakan

Noise Dose Meter karena pekerja umumnya tidak menetap pada suatu tempat

kerja selama 8 jam ia bekerja. Nilai ambang batas (NAB) intensitas bising

adalah 85 dB dan waktu bekerja maksimum adalah 8 jam per hari.

Sound Level Meter adalah alat pengukur suara. Mekanisme kerja SLM

apabila ada benda bergetar, maka akan menyebabkan terjadinya perubahan

tekanan udara yang dapat ditangkap oleh alat ini, selanjutnya akan

menggerakan meter penunjuk. Audiometer adalah alat untuk mengukur nilai

ambang pendengaran. Audiogram adalah chart hasil pemeriksaan audiometri.

87

Nilai ambang pendengaran adalah suara yang paling lemah yang masih dapat

didengar telinga.

Adapun operasional pengkuran dapat dilakukan sebagaimana Lampiran II

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.: Kep-48/MENLH/11/1996

sebgai berikut :

a.

Langkah pertama yang harus diperhatikan adalah penentuan standar yang

akan diacu dalam survei. b. Pemeriksaan instrumen. Hal ini meliputi pemeriksaan batere sound level meter (SLM)
akan diacu dalam survei.
b.
Pemeriksaan instrumen. Hal ini meliputi pemeriksaan batere sound level
meter (SLM) dan kalibrator, serta aksesories misalnya windscreen, rain
cover, dan lain-lain.
c.
Kalibrasi instrumen. Hal ini harus selalu dilakukan sebelum dan sesudah
pengukuran berlangsung.
d.
Pembuatan denah lokasi dan titik dimana pengukuran dilakukan.
e.
Bila pengukuran dilakukan dengan free-field microphone (standar
IEC) maka SLM diarahkan lurus ke sumber. Sedangkan jika

mikropon yang digunakan merupakan random incidence microphone

(ANSI), maka SLM harus diorientasikan sekitar 70 o - 80 o terhadap

sumber bising.

f.

Dalam keadaan kebisingan berasal dari lebih dari satu arah, maka

sangat penting untuk memilih mikropon dan mounting yang tepat

yang memungkinkan untuk mencapai karakteristik omnidirectional

terbaik.

88

g.

Pemilihan weighting network yang sesuai.

h.

Pemilihan respons detektor yang sesuai, F atau S untuk

mendapatkan pembacaan yang akurat.

i.

Hindarkan refleksi baik dari tubuh operator maupun blocking suara dari

arah tertentu.

j.

Saat pengukuran berlangsung, selalu perhtikan haal-hal berikut: (a)

Hindari pengukuran dekan bidang pemantul; (b). Lakukan pengukuran

pada jarak yang tepat, sesuai dengan standar atau baku mutu yang diacu;

(windscreen), dan (f). Tolak pembacaan overloud. k.
(windscreen), dan (f). Tolak pembacaan overloud.
k.

(c). Cek bising latar; (d). Pastikan 77 tidak terdapat perintang terhadap

sumber bising yang diukur; (e). Selalu gunakan windshield

Laporan harus terdokumentasi dengan baik. Laporan ini sedikitnya harus

terdiri dari: (a). Sket pengukuran (meliputi orientasi dan kedudukan

SLM, luas ruangan atau tempat pengukuran dilakukan serta

kedudukan sumber bising); (b). Standar yang diacu; (c). Identitas

instrumen; jenis dan nomor seri; (d). Metode kalibrasi; (e).

Weighting network dan respons detektor yang digunakan; (f).

Deskripsi jenis suara (impulsif, kontinyu, atau tone); (g). Data bising

latar; termasuk chart yang digunakan untuk perhitungan; (h). Kondisi

lingkungan; tekanan atmosfir; (i). Data obyek yang diukur (jenis

mesin, beban, kecepatan, dll); (j). Tanggal pengukuran dan nama

operator.

89

Menurut peraturan pemerintah (1999), penerangan ditempat kerja adalah jumlah

penyinaran pada suatu bidang kerja yang diperlukan untuk melaksakan kegiatan secara

efektif. Penerangan dapat berasal dai cahaya alami dan buatan. Penerangan adalah

penting sebagai suatu faktor keselamatan dalam lingkungan fisik pekerja. Beberapa

penyelidikaan mengenai hubungan antara produktivitas dengan penerangan telah

memperlihatkan, bahwa penerangan yang cukup dan diatur sesuai dengan jenis pekerjaan

dapat menghasilkan produksi maksimal dan penekanan biaya (Sutaryono, 2002).

89 Menurut peraturan pemerintah (1999), penerangan ditempat kerja adalah jumlah penyinaran pada suatu bidang kerja yang

Penerangan di tempat kerja adalah salah satu sumber cahaya yang menerangi

benda- benda di tempat kerja. Banyak obyek kerja beserta benda atau alat dan kondisi di

sekitar yang perlu dilihat oleh tenaga kerja. Hal ini penting untuk menghindari

kecelakaan yang mungkin terjadi. Selain itu penerangan yang memadai memberikan

kesan pemandangan yang lebih baik dan keadaan lingkungan yang menyegarkan

(Suma’mur, 1996). Penerangan di tempat kerja merupakan salah satu faktor yang perlu

diupayakan penyempurnaannya. Penerangan yang baik mendukung kesehatan kerja dan

memungkinkan tenaga kerja bekerja dengan lebih aman dan nyaman, yang antara lain

disebabkan karena mereka dapat melihat obyek yang dikerjakan dengan jelas, cepat dan

tanpa upaya tambahan, serta membantu menciptakan lingkungan kerja yang nikmat dan

menyenangkan.

Akibat- akibat penerangan yang buruk adalah:

  • 1. Kelelahan mata dengan berkurangnya daya dan efisiensi kerja.

  • 2. Kelelahan mental.

90

  • 4. Kerusakan alat penglihatan.

  • 5. Meningkatnya kecelakaan (Budiono, 2003).

  • 2.3.4. Getaran Getaran adalah beresonansinya tubuh manusia akibat adanya sumber getaran yang

dapat menimbulkan gangguan berupa ganguan kesehatan. (Depnaker, 1993) Getaran

adalah gerakan yang teratur dari benda atau media dengan arah bolak- balik dari

kedudukan kesetimbangannya. Getaran terjadi saat mesin atau alat dijalankan dengan

1. Gangguan kenikmatan dalam bekerja. 2. Mempercepat terjadinya kelelahan. 3. Gangguan kesehatan
1.
Gangguan kenikmatan dalam bekerja.
2.
Mempercepat terjadinya kelelahan.
3.
Gangguan kesehatan

motor, sehingga pengaruhnya bersifat mekanis. Menurut Budiono (2003) pengaruh

getaran pada tenaga kerja dapat dibedakan:

Getaran suatu benda dapat dihindari dengan meletakkan bahan peredam di bawah

benda yang bergetar. Bahan peredam harus jauh lebih rendah frekuensinya dari frekuensi

getaran benda. Frekuensi dari bahan peredam sebaiknya sekitar 1 Hz (Gabriel, 1997).

  • 2.3.5. Ventilasi Ventilasi di dalam suatu industri atau pertukaran udara di dalam industri

merupakan suatu metode yang digunakan untuk memelihara dan menciptakan udara suatu

ruangan yang sesuai dengan kebutuhan proses produksi atau kenyamanan pekerja. Di

samping itu juga digunakan untuk menurunkan kadar suatu kontaminan di udara tempat

91

kerja sampai batas yang tidak membahayakan bagi kesehatan dan keselamatan pekerja

(Depnaker, 1993).

2.3.6.

Shift Kerja

Perbedaan waktu kerja di pagi, siang dan malam hari juga mempengaruhi

kelelahan tenaga kerja. Tingkat kelelahan tenaga kerja yang bekerja di malam hari akan

lebih besar jika dibanding kerja di pagi atau siang hari. Hal itu dikarenakan jumlah jam

kerja yang dipakai tidur bagi pekerja malam pada siang harinya relatif jauh lebih kecil dari seharusnya,
kerja yang dipakai tidur bagi pekerja malam pada siang harinya relatif jauh lebih kecil
dari seharusnya, dikarenakan gangguan suasana siang hari seperti kebisingan, suhu,
keadaan terang, beban yang harus diselesaikan pada siang hari seperti pekerjaan rumah
dan mengurus anak dan oleh karena kebutuhan badan yang tidak dapat diubah seluruhnya
menurut kebutuhan, yaitu terbangun oleh dorongan lapar atau buang air kecil yang relatif
lebih banyak pada siang hari (Suma’mur, 1996). Berdasarkan hasil peneltian yang
dilakukan oleh Febriana, (2009) menunujukan adanya hubungan antara shift kerja
dengan kelelahan, dengan nilai pvaluenya 0,000.
2.3.7. Psikologis

Pekerjaan apapun akan menimbulkan reaksi psikologis bagi yang melakukan

pekerjaan itu. Reaksi tersebut dapat bersifat positif misalnya, senang, bergairah, dan

merasa sejahtera atau reaksi yang bersifat negatif misalnya, bosan, acuh, tidak serius,

stres dan sebagainya (Notoatmodjo, 1997). Tenaga kerja yang mempunyai masalah

psikologis amatlah mudah mengidap suatu bentuk kelelahan kronis (Budiono dkk., 2000).

Salah satu penyebab dari reaksi psikologis adalah pekerjaan yang monoton yaitu, suatu

92

kerja yang berhubungan dengan hal yang sama dalam periode atau waktu yang tertentu,

dan dalam jangka waktu yang lama dan biasanya dilakukan oleh suatu produksi yang

besar (Budiono dkk, 2000). Rasa bosan merupakan manifestasi dari reaksi suasana yang

monoton (Nurmianto, 2003). Dalam hal ini kebosanan merupakan ungkapan perasaan

tidak enak secara umum, yakni suatu perasaan resah, kurang menyenangkan dan lelah

(Anies, 2002). Rasa bosan dapat dirasakan oleh siapa saja. Kebosanan biasanya banyak

dialami oleh pekerja dalam bidang industry misalnya saja operator mesin tenun, mesin

cetak dan sejenisnya yang sifatnya monoton dan berulangulang (Budiono dkk, 2000).

Menurut Budiono dkk, (2000) bila kebosanan berlangsung terus dan tidak diatasi, maka akan timbul: 1) Timbulnya
Menurut Budiono dkk, (2000) bila kebosanan berlangsung terus dan tidak diatasi,
maka akan timbul:
1)
Timbulnya rasa kesal, lemas, dan lelah;
2)
Berkurangnya kewaspadaan;
3)
Perasaan tidak betah dan menghindar dari pekerjaan (absensi tinggi);
4) Terjadinya kerusakan atau kesalahan dalam bekerja akibat kurangnya
konsentrasi;
5)
Terjadinya kecelakaan kerja;
6)
Turunnya produktivitas kerja.

Menurut Anies (2002) upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi kebosanan

adalah; (1) Perlu dilakukan kesesuaian antara tenaga kerja dengan pekerjaannya; (2)

Melakukan perputaran pekerjaan (job rotation); (3) Mengubah kondisi lingkungan kerja.

2.3.8. Masa Kerja

93

Tekanan melalui fisik (beban kerja) pada suatu waktu tertentuk mengakibatkan

berkurangnya kinerja otot, gejala yang ditunjukkan juga berupa pada makin rendahnya

gerakan. Keadaaan ini tidak hanya disebabkan oleh suatu sebab tunggal seperti terlalu

kerasnya beban kerja, namun juga oleh tekanantekanan yang tera-kumulasi setiap

harinya pada suatu masa yang panjang. Keadaan seperti ini yang berlarutlarut

mengakibatkan memburuknya kesehatan, yang disebut juga kelelahan klinis atau kronis.

Perasaan lelah pada keadaan ini kerap muncul ketika bangun di pagi hari, justru sebelum

saatnya bekerja, misalnya berupa perasaan kebencian yang bersumber dari perasaan

93 Tekanan melalui fisik (beban kerja) pada suatu waktu tertentuk mengakibatkan berkurangnya kinerja otot, gejala yang

emosi (Budiono dkk, 2003). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Eraliesa

(2008) terdapat hubungan antara masa kerja dengan tingkat kelelahan, dengan nilai

pvaluenya 0,002.

2.3.9. Usia

Kebanyakan kinerja fisik mencapai puncak dalam usia pertengahan duapuluhan

dan kemudian menurun dengan bertambahnya usia (Lambert, 1996: 244). Departemen

Kesehatan RI menyebutkan bahwa usia produktif adalah antara 15-54 tahun

(www.Depkes-RI.go.id). Menurut Hidayat (2003) mandapatkan bukti di negara Jepang

menunujukan bahwa pekerja yang berusia 40-50 tahun akan lebih cepat menderita

kelelahan dibandingkan dengan pekerja relative lebih muda. Dengan menanjaknya umur

maka kemampuan jasmani dan rohanipun akan menurun secara perlahan-lahan. Aktivitas

hidup juga berkurang, yang mengakibatkan semakin bertambahnya ketidak mampuan

tubuh dalam berbagai hal (Margatan, 1996).

94

Pada usia lanjut jaringan otot akan mengerut dan digantikan oleh jaringan ikat.

Pengerutan otot menyebabkan daya elastisitas otot berkurang (Margatan, 1996). Proses

menjadi tua diserta kurangnya kemampuan kerja oleh karena perubahan-perubahan pada

alat tubuh, sistem kardiovaskular, hormonal (Suma’mur, 1996). Hasil penelitian yang

dilakukan Paulina (2008) pada bagian produksi PT. X menunjukkan adanya hubungan

yang bermakna antara umur responden dengan kelelahan kerja, dengan nilai

pvaluenya 0,0001.

2.3.10. Jenis Kelamin Laki laki dan wanita berbeda dalam hal kemampuan fisiknya, kekuatan kerja ototnya. Menurut
2.3.10.
Jenis Kelamin
Laki laki dan wanita berbeda dalam hal kemampuan fisiknya, kekuatan kerja
ototnya. Menurut pengalaman ternyata siklus biologi pada wanita tidak mempengaruhi
kemampuan fisik, melainkan lebih banyak bersifat sosial dan kultural. (Depnaker, 1993).
Pria dan wanita berbeda dalam kemampuan fisiknya, kekuatan kerja ototnya. Perbedaan
tersebut dapat dilihat melalui ukuran tubuh dan kekuatan otot dari wanita relatif kurang
jika dibandingkan pria. Kemudian pada saat wanita sedang haid yang tidak normal
(dysmenorrhoea), maka akan dirasakan sakit sehingga akan lebih cepat lelah (Suma’mur,
1996).
2.3.11.
Status Perkawinan

Kinsey (1965), membagi status pernikahan kedalam 3 kelompok yaitu single,

married, dan post married. Kelompok single adalah kelompok yang tidak menikah atau

belum menikah. Kelompok married adalah kelompok yang sedang berada dalam status

pernikahan yang sah secara hokum, sedangkan kelompok post married adalah kelompok

95

yang sudah pernah menikah tetapi kemudian berpisah karena perceraian atau kematian.

Pernikahan menyebabkan meningkatnya tanggung jawab yang dapat membuat pekerjaan

tetap lebih berharga dan penting. Tugas- tugas perkembangan yang dimiliki oleh orang

yang sudah menikah menurut sudirman (1987):

  • 1. Belajar hidup dengan paangan dalam perkawinan

  • 2. Mulai hidup berkeluarga

  • 3. Memelihara anak

  • 4. Mengatur rumah tangga

95 yang sudah pernah menikah tetapi kemudian berpisah karena perceraian atau kematian. Pernikahan menyebabkan meningkatnya tanggung
  • 5. Memulai dalam pekerjaan

Seseorang yang sudah menikah dan memiliki keluarga maka akan mengalami

kelelahan akibat kerja dan setelah dirumah harus melayani anak dan istrinya yang mana

waktu terebut digunakan untuk beristirahat (Irma, 2009). Berdasarkan hasil penelitian

yang dilakukan oleh Eraliesa (2008) terdapat hubungan antara status perkawinan

dengan tingkat kelelahan, dengan nilai pvaluenya 0,01.

2.3.12. Kebiasaan Merokok

Semakin lama dan tinggi frekuensi merokok, semakin tinggi pula tingkat keluhan

otot yang dirasakan. Hal ini sebenarnya terkait erat dengan kondisi kesegaran tubuh

seseorang. Kebiasaan merokok akan dapat menurunkan kapasitas paruparu, sehingga

kemampuan untuk mengkonsumsi oksigen menurun dan sebagai akibatnya tingkat

kesegaran juga menurun. Apabila yang bersangkutan harus melakukan tugas yang

menuntut pengerahan tenaga, maka akan mudah lelah karena kandungan oksigen dalam

96

darah rendah, pembakaran karbohidrat terhambat, terjadi tumpukan asam laktat dan

akhirnya timbul kelelahan (Tarwaka, 2004). Seseorang dapat diakatan perokok ringan

apabila merokok kurang dari 10 batang perhari, dikatakan perokok sedang apabila

merokok 10-20 batang perhari dan dikatakan perokok berat apabila merokok lebih dari 20

batang perhari (Bustan, 2000).

2.3.13. Status Kesehatan

Kesehatan fisik sangat penting untuk menduduki suatu pekerjaan. Tidak mungkin

96 darah rendah, pembakaran karbohidrat terhambat, terjadi tumpukan asam laktat dan akhirnya timbul kelelahan ( Tarwaka,

seseorang dapat menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik jika sering sakit. (Hasibuan,

2000). Riwayat alamiah penyakit yang pernah diderita oleh karyawan juga berhubungan

dengan tingkat kelelahan kerja. Beberapa penyakit yang berhubungan dengan kelelahan:

Pertama adalah penyakit jantung. Kerja fisik yang sangat berat merupakan kondisi yang

sangat menegangkan yang harus dihadapi oleh sistem sirkulasi normal. Hal ini karena

pada beberapa kondisi, aliran darah yang melalui otot dapat meningkat lebih dari 20 kali

lipat. Kenaikan dari aliran darah ini juga dapat meningkatkan aktivitas jantung lebih dari

normal. Kenaikan aliran darah ini salah satunya adalah dikarenakan berkurangnya O2

dalam jaringan otot (Guyton & Hall, 1997). Kekurangan O2 yang berkurang secara cepat

memungkinkan terjadi metabolisme anaerobik dimana akan menghasilkan asam laktat

yang mempercepat kelelahan (Santoso, 2004). Penempatan sebelum tenaga kerja bekerja

harus disesuaikan dengan keadaan kemampuan jantung seorang tenaga kerja (Suma’mur,

1996).

Kedua adalah hipertensi. Hipertensi adalah suatu penyakit dimana salah satu

penyebabnya adalah karena tekanan tinggi

pada arteri sehingga arteri kehilangan

97

kelenturannya untuk mengembang dan menyempit sehingga terjadi penyumbatan dan

mengganggu peredaran darah (Gunawan, 2001). Pada waktu bekerja fisik berkurangnya

aliran darah selama kontraksi otot adalah akibat tertekannya pembuluh darah oleh otot

yang berkontraksi (Guyton & Hall, 1997). Terbatasnya aliran darah pada otot (ketika

berkontraksi), otot menekan pembuluh darah dan membawa O2 memungkinkan

terjadinya kelelahan (Santoso, 2004). Kelelahan merupakan gejala dari hipertensi

(kenaikan tekanan darah) dan pada umumnya bersamaan dengan sakit kepala (gejala

utama) dan pada kasus-kasus berat dengan sesak nafas pada gerakan berlebihan dan

97 kelenturannya untuk mengembang dan menyempit sehingga terjadi penyumbatan dan mengganggu peredaran darah ( Gunawan, 2001

pusing (Gibson, 1985).

Ketiga adalah penyakit ginjal. Pengaruh kerja terhadap faal ginjal terutama

dihubungkan dengan pekerjaan yang perlu mengerahkan tenaga dan yang dilakukan

dalam cuaca kerja panas. Kedua-duanya mengurangi peredaran darah ke ginjal dengan

akibat gangguan penyediaan zatzat yang diperlukan oleh ginjal (Suma’mur 1996:).

Kelelahan merupakan suatu gejala dari gagal ginjal. Kelelahan timbul bersamaan

dengan muntahmuntah, sedu, lidah yang kering, pigmentasi yang kekuningkuningan

pada kulit, depresi dan kebingungan (Gibson, 1985).

2.3.14. Kesegaran Jasmani

Kepentingan kesegaran jasmani dalam pemeliharaan kesehatan tidak diragukan

lagi, semakin tinggi tingkat kesehatan, maka kesegaran jasmani akan semakin baik pula

(Yasrin, 1996). Manusia yang sehat dan memiliki tingkat kesegaran yang baik akan

mampu berprestasi dalam pekerjaan sehingga tingkat produktivitas akan meningkat

(Pradono, 1999). Kesegaran jasmani adalah kemampuan seseorang menyelesaikan tugas

98

sehari-hari dengan tanpa mengalami kelelahan yang berarti, dengan pengeluaran energi

yang cukup besar guna memenuhi kebutuhan geraknya dan menikmati waktu luang serta

untuk memenuhi keperluan darurat bila sewaktu-waktu dibutuhkan (Sajoto, 1988).

kesegaran jasmani adalah kemampuan dan kesanggupan tubuh dalam penyesuaian atau

adaptasi terhadap pembebanan fisik yang diberikan kepadanya tanpa menimbulkan

kelelahan berlebihan ( Dangsina,1984 ). Jadi apabila keadaan seseorang tidak dalam

keadaan segar jasmaninya maka berpotensi terjadinya kelelahan.

2.3.15. Status Gizi

98 sehari-hari dengan tanpa mengalami kelelahan yang berarti, dengan pengeluaran energi yang cukup besar guna memenuhi

Kesehatan dan daya kerja sangat erat kaitannya dengan tingkat gizi seseorang.

Tubuh memerlukan zat-zat dari makanan untuk pemeliharaan tubuh, perbaikan

kerusakan sel dan jaringan. Zat makanan tersebut diperlukan juga untuk bekerja dan

meningkat sepadan dengan lebih beratnya pekerjaan (Suma’mur, 1996). Tingkat gizi,

terutama bagi pekerja kasar dan berat adalah faktor penentu derajat produktivitas

kerjanya. Beban kerja yang terlalu berat sering disertai penurunan berat badan

(Suma’mur, 1996).

Status gizi ini bisa dihitung salah satunya adalah dengan menghitung IMT dengan

rumus:

98 sehari-hari dengan tanpa mengalami kelelahan yang berarti, dengan pengeluaran energi yang cukup besar guna memenuhi
Berat badan (kg) IMT = Tinggi badan (m) x Tinggi badan (m) Kategori berat badan menurut
Berat badan (kg)
IMT =
Tinggi badan (m) x Tinggi badan (m)
Kategori berat badan menurut IMT :
  • 1. Kekurangan berat badan tingkat berat

: <17,0

99

  • 3. Normal

: >18,5-25,0

  • 4. Kelebihan berat badan tingkat ringan

: >25,0-27,0

  • 5. Kelebihan berat badan tingkat berat

: >27,0

Tabel 2.6.

Kerugian Berat Badan yang Kurang Ideal

99 3. Normal : >18,5-25,0 4. Kelebihan berat badan tingkat ringan : >25,0-27,0 5. Kelebihan berat

Berat badan

Kerugian

(1)

(2)

Kurang (kurus) Penampilan cenderung kurang baik, mudah lelah, risiko penyakit tinggi, wanita kurus yang hamil mempunyai risiko tinggi melahirkan bayi dengan BBLR, kurang mampu bekerja keras. Kelebihan (gemuk) Penampilan kurang menarik, gerakan tidak gesit dan lamban, risiko penyakit jantung, pada wanita dapat menyebabkan gangguan haid.

Sumber: I Dewa Nyoman Supariasa, dkk., (2002:61).
Sumber: I Dewa Nyoman Supariasa, dkk., (2002:61).

Berat badan yang kurang ideal baik itu kurang ataupun kelebihan dapat

menimbulkan kerugian. Masalah kekurangan atau kelebihan gizi pada orang dewasa (usia

18 tahun ke atas) merupakan masalah penting, karena selain mempunyai resiko penyakit

tertentu, juga dapat mempengaruhi produktivitas kerja. Akibat kekurangan zat gizi, maka

simpanan zat gizi pada tubuh akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan. Bila hal ini

berlangsung lama, maka simpanan zat gizi akan habis dan terjadi kemerosotan jaringan,

dengan meningkatnya defisiensi zat gizi maka muncul perubahan biokimia dan rendahnya

zatzat gizi dalam darah, berupa rendahnya tingkat Hb, serum vitamin A dan karoten.

Dapat pula terjadi peningkatan beberapa hasil metabolisme seperti asam laktat dan piruvat

pada kekurangan tiamin. Bila keadaan ini berlangsung lama, akan mengakibatkan

100

terjadinya perubahan fungsi tubuh yang tanda-tandanya, yaitu kelemahan, pusing,

kelelahan, nafas pendek dan lain-lain (Supariasa dkk., 2002). Berdasarkan hasil penelitian

yang dilakukan oleh Eraliesa (2008) terdapat hubungan antara status gizi dengan tingkat

kelelahan, dengan nilai pvaluenya 0,002.

  • 2.4. Pengendalian Dan Penanggulangan Kelelahan

Kelelahan disebabkan oleh banyak faktor. Yang terpenting adalah bagaimana

menangani setiap kelelahan yang muncul agar tidak menjadi kronis. Agar dapat menangani kelelahan dengan tepat, maka
menangani setiap kelelahan yang muncul agar tidak menjadi kronis. Agar dapat
menangani kelelahan dengan tepat, maka harus diketahui apa penyebab dari kelelahan
tersebut (Tarwaka, 2004). Menurut Budiono (2000) Kelelahan dapat dikurangi dengan
berbagai cara:
1)
Pengaturan jam kerja.
2)
Pemberian kesempatan istirahat.
3)
Adanya masa–masa libur dan rekreasi.
4)
Penerapan ilmu ergonomi dalam bekerja.
5)
Penggunaan musik ditempat kerja.

6)

Memperkenalkan perubahan rancangan produk.

7)

Merubah metoda kerja menjadi lebih efisien dan efektif.

8)

Menciptakan suasana lingkungan kerja yang sehat, aman dan nyaman

  • 2.5. Kerangka Teori

Berdasarkan teori yang dikatakan oleh Grandjean (1988), Setyawati (1994)

Siswanto (1999), Akerstedt ed Alt (2002) dan Tarwaka (2004) mengenai beberapa faktor

101

utama yang signifikan yang menyebabkan terjadinya kelelahan, meliputi : jenis kelamin,

usia, kelebihan kerja (overtime work), tempat kerja, Physically, intensitas, durasi kerja

fisik, mental, penerangan, tingkat kebisingan, status kesehatan, nutrisi, lingkungan kerja,

dan penyebab yang berkaitan dengan tempat kerja (kerja shift, suhu ruang kerja,

penerangan, kebisingan, monotoni pekerjaan dan kebosanan). Berdasarkan teori yang

telah disebutkan bahwasanya ada beberapa faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya

kelelahan. Untuk lebih mudahnya dapat dilihat kerangka teori di bawah ini :

101 utama yang signifikan yang menyebabkan terjadinya kelelahan, meliputi : jenis kelamin, usia, kelebihan kerja (

102

   

Tekanan Panas

 
 

Tingkat Kebisingan

 

Penerangan

 
 
 

Getaran

   
 

Ventilasi

 
102 Tekanan Panas Tingkat Kebisingan Penerangan Getaran Ventilasi Shift Kerja Psikologis Kelelahan Massa Kerja Usia Jenis
102 Tekanan Panas Tingkat Kebisingan Penerangan Getaran Ventilasi Shift Kerja Psikologis Kelelahan Massa Kerja Usia Jenis
Shift Kerja Psikologis Kelelahan Massa Kerja Usia Jenis Kelamin Status Perkawinan Kebiasaan Merokok Status Kesehatan Kesegaran
Shift Kerja
Psikologis
Kelelahan
Massa Kerja
Usia
Jenis Kelamin
Status Perkawinan
Kebiasaan Merokok
Status Kesehatan
Kesegaran Jasmani
Status Gizi

Sumber : Grandjean (1988), Setyawati (1994) Siswanto (1999), Akerstedt ed Alt (2002) dan Tarwaka (2004).

Gambar 2.1.

Kerangka Teori

103

BAB III

KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1. Kerangka Konsep

Kerangka konsep ini mengacu pada faktor kondisi lingkungan yang

diteliti, fakta-fakta kejadian dan penelitian-penelitian yang sudah dilakukan

103 BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.1. Kerangka Konsep Kerangka konsep ini mengacu pada

sebelumnya yang menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara tekanan

panas, tingkat kebisingan, masa kerja, shift kerja, usia, status perkawinan,

kebiasaan merokok, dan status gizi dengan kelelahan pada pekerja. Adapun

variabel getaran dan penerangan tidak dilakukan karena tidak adanya alat untuk

mengukur dalam penelitian ini, sehingga hal ini menjadi salah satu kekurangan

dalam penelitian. Sedangkan untuk variabel ventilasi tidak diteliti karena area

produksi memilki ventilasi yang ada merupakan ventilasi terbuka. Faktor

psikologis merupakan faktor yang subyektif sehingga sulit didapatkannya hasil

yang pasti atau signifikan. Jenis kelamin tidak diteliti karena homogen yaitu laki-

laki. Tingkat keterampilan pekerja memiliki karakteristik yang sama karena

bekerja dengan menggunakan mesin. Faktor status kesehatan merupakan

persyaratan responden yang mengisi kuesioner berada dalam kondisi yang sehat.

Adapun faktor kesegaran jasmani tidak diteliti karena faktor tersebut sudah

tergambarkan dalam variabel status keehatan.

104

Kerangka konsep terdiri dari variabel terikat (dependen) dan variabel

bebas (independen) tekanan panas, tingkat kebisingan, masa kerja, Shift kerja,

usia, status perkawinan, kebiasaan merokok, dan status gizi dijadikan sebagai

varibel bebas, sedangkan kelalahan ditetapkan sebagai variabel terikat. Hubungan

antara beberapa varibel tersebut digambarkan dalam bagan di bawah ini:

Tekanan panas Tingkat Kebisingan Masa kerja Shift kerja Kelelahan Kerja Usia Status perkawinan Kebiasaan merokok Gambar
Tekanan panas
Tingkat Kebisingan
Masa kerja
Shift kerja
Kelelahan Kerja
Usia
Status perkawinan
Kebiasaan merokok
Gambar 3.1
Kerangka Konsep
Status gizi

54

3.2.Definisi Operasional

Tabel 3.1

Definisi Operasional

No Variabel Definisi Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala 1. Kelelahan Kerja Menurunnya kapasitas kerja
No
Variabel
Definisi
Alat Ukur
Cara Ukur
Hasil Ukur
Skala
1.
Kelelahan Kerja
Menurunnya kapasitas kerja dan ketahanan
kerja yang ditandai oleh sensasi lelah dan
reaksi motor
Reaction
Pengukuran
0)
Ordinal
timer test
lansung
1)
2)
3)
Kelelahan Kerja Berat
(KKB) : waktu reaksi >
580.0 milidetik
Kelelahan Kerja Sedang
(KKS) : waktu reaksi
410.0-<580.0 milidetik
Kelelahan Kerja Ringan
(KKR) : waktu reaksi
>240.0-<410.0 milidetik
Normal (N) : waktu
reaksi 150.0-240.0
milidetik. Koesyanto
(2005)
2.
Tekanan Panas
Hasil pengukuran indeks WBGT dan
tingkat beban kerja yang disesuaikan
dengan standar ACGIH 2007,yaitu nilai
ambang batas berdasarkan tekanan panas
lingkungan kerja.
1.
Heat
Pengukuran
0.
Terpapar tekanan panas
Ordinal
Stress
lansung
1.
Monitor
Tidak terpapar tekanan
panas
dengan merk
Quest Temp

34°

  • 2. Beban

kerja

  • 3. Waktu

55

kerja yang

dilewati

3 Tingkat Suara yang tidak diinginkan atau tidak nyaman untuk didengar. Sound Level Pengukuran 0. >
3
Tingkat
Suara yang tidak diinginkan atau tidak
nyaman untuk didengar.
Sound Level
Pengukuran
0.
> 85 dB
Ordinal
kebisingan
meter.
langsung
1.
< 85 dB
4
Masa Kerja
Waktu yang dilalui pekerja sejak bekerja di
bagian produksi PBD PT Indocement
Prakasa Tbk. Citeureup
Kuesioner
Wawancara
0.
> 10 tahun
Ordinal
1.
< 10 tahun
5
Shiftt Kerja
Kerja bergilir yang dilakukan di luar jam
kerja normal (Kuswadji, 1997)
Kuesioner
Wawancara
0.
Shiftt 3 (Pukul 22-7)
Ordinal
1.
Shiftt 2 (Pukul 15-22)
2.
Shift 1 (Pukul 07-15)
6
Usia
Masa yang pernah dilalui seseorang sejak
tahun kelahiran sampai waktu penelitian
(Afriani, 2002).
Kuesioner
Wawancara
0.
> 40 tahun
Ordinal
1.
< 40 tahun
7
Status
Keterangan yang menunjukkan riwayat
pernikahan tenaga kerja yang terdapat pada
kartu identitas pekerja, dan dikategorikan
atas kawin dan tidak kawin.
Kuesioner
Wawancara
0.
Kawin
Ordinal
perkawinan
1.
Belum kawin
8
Kebiasaan
Merokok
Kegiatan yang dilakukan berulang-ulang
dalam menghisap rokok mulai dari satu
batang ataupun lebih dalam satu hari.
Kuesioner
Wawancara
0.
Berat (> 20
batang/hari)
Ordinal
1.
Sedang (10-20)
Bustan, (2000)
batang/hari)
  • 2. Ringan (< 10 abtang /hari)

  • 3. Tidak merokok (0 batang/hari) Bustan, (2000)

56

56
56
56
56
56
56
  • 9 Status Gizi

Suatu kondisi yang menggambarkan keadaan gizi pada orang dewasa dengan memperhitungkan indeks masa tubuh (IMT)

Kuesioner,

Pengukuran

Kurus ( < 18.5)

  • 0. Ordinal

Timbangan,

lansung

  • 1. Gemuk ( > 25)

kalkulator

  • 2. Normal (18.5 - 25)

dan meteran

(Supariasa dkk.,2002 )

56 Status Gizi Suatu kondisi yang menggambarkan keadaan gizi pada orang dewasa dengan memperhitungkan indeks masa

57

3.3. Hipotesis

1.

Ada hubungan antara tekanan panas dengan kelelahan pada pekerja di proses

produksi kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. tahun

2010.

2.

Ada hubungan antara tingkat kebisingan dengan kelelahan pada pekerja di

proses produksi kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.

tahun 2010.

3. Ada hubungan antara shift kerja dengan kelelahan pada pekerja di proses produksi kantong semen PBD
3.
Ada hubungan antara shift kerja dengan kelelahan pada pekerja di proses
produksi kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. tahun
2010.
4.
Ada hubungan antara masa kerja dengan kelelahan pada pekerja di proses
produksi kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. tahun
2010.
5.
Ada hubungan antara usia dengan kelelahan pada pekerja di proses produksi
kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. tahun 2010.
6.
Ada hubungan antara status perkawinan dengan kelelahan pada pekerja di

proses produksi kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.

tahun 2010.

7.

Ada hubungan antara kebiasaan merokok dengan kelelahan pada pekerja di

proses produksi kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.

tahun 2010.

58

8. Ada hubungan antara status gizi dengan kelelahan pada pekerja di proses

produksi kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. tahun

2010.

58 8. Ada hubungan antara status gizi dengan kelelahan pada pekerja di proses produksi kantong semen

59

BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

  • 4.1 Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional

(potong lintang) karena pada penelitian ini variabel independen dan dependen akan

diamati pada waktu (periode) yang sama.

59 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross
  • 4.2 Tempat Dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada bulan April- Agustus 2010 di bagian produksi

kantong semen PBD (Paper Bag Division) PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.

Citeurup-Bogor.

  • 4.3 Populasi Dan Sampel Penelitian

Populasi penelitian ini adalah operator yang bekerja di produksi kantong semen PBD PT.

Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, yaitu sebesar 168 orang. Sedangkan sampel yang diambil

menggunakan simple random sampling dan mengambil sampel sebanyak 88 orang pekerja yang

mewakili populasi dengan menggunakan uji beda proporsi dengan rumus sebagai berikut:

n =

(z 1-α 2 (1- )+ z 1-ß α
(z 1-α 2 (1- )+ z 1-ß α
59 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross

) 2

P 1 (1- P 1 )+ P 2 (1- P 2 )

(P 1 - P 2 ) 2

60

Keterangan :

n : Besar sampel : P1 : Rata-rata proporsi pada populasi (Afriani, 2002) Proporsi status gizi
n
:
Besar sampel
:
P1
:
Rata-rata proporsi pada populasi (Afriani, 2002)
Proporsi status gizi buruk terhadap kelelahan kerja
P2
:
Proporsi status gizi baik terhadap kejadian
kelelahan kerja
:
Derajat kemaknaan α pada uji 2 sisi α = 95%
z 1-α
:
Kekuatan uji 80%
z 1-β
Berdasarkan rumus di atas maka besar sampel yang dibutuhkan dalam penelitian
ini sebesar:
(1,96 2x0,45(1- 0.45)+ 0.84 0.61(1- 0.61)+ 0.30(1- 0.30)) 2
n =
(0.61-0.30) 2
=
40
=
40 x 2
=
80
Untuk menghindari terjadinya drop out atau missing jawaban dari responden
maka perlu ditambahkan 10% dari jumlah sampel tersebut, sehingga jumlah sampel

keseluruhan sebesar 88 orang, dengan kriteria (Hendra, 2003):

  • 1. Tidak mempunyai riwayat penyakit jantung

  • 2. Tidak sedang menderita sakit/demam

  • 3. Tidak sedang mengalami kelainan fungsi ginjal

  • 4. Tidak sedang mengkonsumsi obat-obatan (obat-obatan yang dikonsumsi baik dari dokter ataupun tidak)

  • 5. Tidak sedang menderita flue, batuk, dan asma.

61

4.4 Pengumpulan Data

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Heat Stress Monitoring Questemp

“34 o , Sound Level Meter untuk mengukur kebisingan, Reaction Timer Test untuk mengukur

kelelahan, timbangan dan meteran untuk mengukur IMT sedangkan kuesioner digunakan untuk

mengukur variable independen yang lain.

  • 4.4.1 Kelelahan

Reaction Timer Test merupakan alat untuk mengukur tingkat kelelahan berdasarkan

Hasil pengukuran dibandingkan dengan standar pengukuran kelelahan yaitu : a. Normal : waktu reaksi 150,0 –
Hasil pengukuran dibandingkan dengan standar pengukuran kelelahan yaitu :
a.
Normal
: waktu reaksi 150,0 – 240,0 mili detik

kecepatan waktu reaksi terhadap rangsang cahaya. Prinsip kerja dari alat ini adalah

memberikan rangsang tunggal berupa signal cahaya atau lampu yang kemudian direspon

secepatnya oleh tenaga kerja, kemudian dapat dihitung waktu reaksi tenaga kerja yang

mencatat waktu yaang dibutuhkan untuk merespon signal tersebut. Pengukuran dilakukan

sebanyak 5 kali, setiap hasil pengukuran dijumlahkan, kemudian diambil nilai rata-ratanya.

  • b. Kelelahan Kerja Ringan (KKR) : waktu reaksi >240,0 - <410,0 mili detik

  • c. Kelelahan Kerja Sedang (KKS) : waktu reaksi 410,0<580,0 mili detik

  • d. Kelelahan Kerja Berat KKB)

: waktu reaksi 580,0 mili detik.

  • 4.4.2 Tekanan Panas

Tekanan panas diketahui dengan menentukan beban kerja yaitu dengan cara

pengukuran jumlah panas metabolik berdasarkan jenis pekerjaan masing-masing. Setelah itu

62

mengukur suhu dengan menggunakan HSM indeks WBGT untuk mengetahui kondisi lingkungan

suhu pekerja. Kemudian setelah itu tekanan panas dapat diketahui sesuai dengan lamanya jam

kerja.

4.4.2.1 Data Panas Lingkungan (Indeks WBGT)

Data mengenai panas lingkungan kerja diperoleh dengan cara pengukuran langsung

pada lokasi penelitian menggunakan Heat Stress Monitoring Quest temp “34 0

merupakan alat untuk mengukur iklim kerja, adapun cara yang dapat dilakukan adalah: 1. Persiapan pengukuran 1)
merupakan
alat
untuk
mengukur
iklim
kerja,
adapun
cara
yang
dapat dilakukan
adalah:
1.
Persiapan pengukuran
1)
Tentukan titik sampling/pengukuran
2)
Siapkan alat ukur
(1) Pastikan alat ukur dalam kondisi baik dan berfungsi
(2) Lakukan kalibrasi internal menggunakan alat kalibrasi yang tersedia
(3) Tutup termometer suhu basah dengan kain katun
(4) Lakukan set-up untuk mengatur beberapa indikator pengukuran yaitu:

bahasa, satuan, tanggal/bulan/tahun, jam/menit/detik, heat index,

humidity index, dan logging rate

(5) Basahi dengan aquades dan tunggu selama ± 10 - 15 menit

(6) Pasang WBGT pada alat penyangga (tripod).

  • 2. Pelaksanaan Pengukuran (Eksekusi)

1)

Pastikan WBGT diletakkan pada lokasi yang tepat

2)

Letak WBGT jangan sampai mengganggu proses kerja

63

3)

Letak WBGT jangan sampai membahayakan kondisi alat

4)

Operator harus memperhatikan aspek keselamatan dan kesehatan kerja

5)

Berkoordinasi dengan pekerja maupun petugas di lapangan.

6)

Letakkan alat pada lokasi sampling

  • - 2 feet (± 60 cm) dari permukaan tanah untuk pekerja yang dominan duduk

  • - 3.5 feet (± 100 - 110 cm) dari permukaan tanah untuk pekerja yang dominan berdiri

7) Aktifkan alat (tanpa logging) selama ± 15 menit (untuk adaptasi) 8) Aktifkan logging data sesuai
7)
Aktifkan alat (tanpa logging) selama ± 15 menit (untuk adaptasi)
8)
Aktifkan logging data sesuai dengan waktu pengukuran yang diinginkan
9)
Matikan logging data jika telah selesai dan data siap diproses atau dicetak.
4.4.2.2 Data Panas Metabolik
Evaluasi jumlah panas metabolik tubuh dapat diperoleh dengan menggunakan estimasi
pengukuran panas metabolik menurut NIOSH 1986 yang dapat dilihat pada tabel 4.1.
Tabel 4.1

Estimasi Pengukuran Panas Metabolik

A

Body position and movement

Kcal/min*

 

Sitting

0.3

Standing

0.6

Walking

2.0 -3.0

Walking uphill

Add 0.8 per meter rise

 

Average

B

Type of work

Kcal/min

Range kcal/min

 

Hand work

Light

0.4

0.2 1.2

Heavy

0.9

64

Work one arm Light

1.0

  • 0.7 2.5

Heavy Work both arms

1.8

Light

1.5

  • 1.0 3.5

Heavy

2.5

Work whole body Light

3.5

Moderate

5.0

  • 2.5 9.0

Heavy

7.0

Very Heavy

9.0

  • C Basal metabolism

1.0

 
  • D Sample calculation**

Average Kcal/min

Assembling work with heavy hand tools Standing Two arm work Basal metabolism Total

0.6 3.5 1.0 5.1 kcal/min 2 For standard worker of 70 kg body weight (154 lbs)
0.6
3.5
1.0
5.1
kcal/min
2
For standard worker of 70 kg body weight (154 lbs) and 1.8 m
body surface (19.4 ft 2 )
** Example of measuring metabolic heat production of worker when
performing initial screening
*
Sumber: NIOSH Occupational Exposure to Hot Environments, 1986

Hasil estimasi tersebut (lampiran 2) kemudian disesuaikan dengan kriteria beban

kerja menurut OSHA pada tabel 4.2.

Tabel 4.2 Tingkat Beban Kerja

No

Pengukuran Panas Metabolik

Tingkat Beban Kerja

  • 1 < 200 kcal/jam

Ringan

  • 2 200 - 350 kcal/jam

Sedang

  • 3 350 - 500 kcal/jam

Berat

  • 4 > 500 kcal/jam

Sangat Berat

Sumber : OSHA

65

Hasil estimasi atau perkiraan perhitungan beban kerja berdasarkan tingkat

kebutuhan kalori menurut pengeluaran energi yang selanjutnya disesuaikan

dengan kriteria beban kerja menurut OSHA kemudian dianalisis sesuai dengan

observasi alokasi waktu kerja dalam siklus kerja dan pemulihan kerja pada

operator untuk menetapkan standar indeks WBGTi yang diperbolehkan pada

lingkungan kerja tersebut sesuai dengan ACGIH 2007 yang dapat dilihat pada

tabel 4.2. Responden dikatakan terkena tekanan panas jika hasil pengukuran

indeks WBGTi lingkungan kerja melebihi standar nilai yang ditetapkan dari hasil

pengukuran tingkat beban kerja yang dialami oleh responden.
pengukuran tingkat beban kerja yang dialami oleh responden.

Tabel 4.3 Batas Pajanan Tekanan Panas untuk Pekerja yang Teraklimatisasi

analisis. Hasil berdasarkan pengukuran panas dijadikan sebagai indikator

Allocation of work in a cycle of work and recovery

TLV (WBGT values in °C) Very

Moderate

Heavy

Heavy

Light

75% to 100% 50% to 75% 25% to 50% 0% to 25%

31.0

31.0

32.0

32.5

28.0

29.0

30.0

31.5

27.5

29.0

30.5

28.0

30.0

Sumber : ACGIH TLV and Biological Exposure Indices, 2007

4.4.3 Tingkat Kebisingan

66

Nilai ambang batas (NAB) intensitas bising adalah 85 dB dan waktu bekerja maksimum

adalah 8 jam per hari. Adapun operasional pengukuran dapat dilakukan sebagaimana berikut :

l.

Penentuan standar yang akan diacu dalam survei.

m.

Pemeriksaan instrumen. Hal ini meliputi pemeriksaan batere sound level meter

(SLM) dan kalibrator, serta aksesories misalnya windscreen, rain cover, dan lain-

lain.

n.

Kalibrasi instrument dilakukan selama 1 menit sebelum dan sesudah pengukuran

berlangsung. o. Pembuatan denah lokasi dan titik dimana pengukuran dilakukan. p. Bila pengukuran dilakukan dengan free-field
berlangsung.
o.
Pembuatan denah lokasi dan titik dimana pengukuran dilakukan.
p.
Bila pengukuran dilakukan dengan free-field microphone (standar IEC) maka
SLM diarahkan lurus ke sumber. Sedangkan jika mikropon yang digunakan
merupakan random incidence microphone (ANSI), maka SLM harus
diorientasikan sekitar 70 o - 80 o terhadap sumber bising.
q.
Dalam keadaan kebisingan berasal dari lebih dari satu arah, maka sangat
penting untuk memilih mikropon dan mounting yang tepat yang memungkinkan
untuk mencapai karakteristik omnidirectional terbaik.

r.

Pemilihan weighting network yang sesuai.

s.

Pemilihan respons detektor yang sesuai, F atau S untuk mendapatkan

pembacaan yang akurat.

t.

Hindarkan refleksi baik dari tubuh operator maupun blocking suara dari arah

tertentu.

u.

Saat pengukuran berlangsung, selalu perhatikan haal-hal berikut: (a) Hindari

pengukuran dekat bidang pemantul; (b). Lakukan pengukuran pada jarak yang tepat,

sesuai dengan standar atau baku mutu yang diacu; (c). Cek bising latar; (d). Pastikan

67

tidak terdapat perintang terhadap sumber bising yang diukur; (e). Selalu

gunakan windshield (windscreen), dan (f). Tolak pembacaan overloud.

4.4.4 Data Umur Data umur diperoleh melalui wawancara kepada operator dengan menggunakan instrumen berupa kuesioner. 4.4.5
4.4.4
Data Umur
Data
umur
diperoleh
melalui
wawancara
kepada
operator
dengan
menggunakan
instrumen berupa kuesioner.
4.4.5
Perhitungan IMT
Status gizi ini bisa dihitung salah satunya adalah dengan menghitung IMT dengan rumus:
Berat badan (kg)
IMT =
Tinggi badan (m) x Tinggi badan (m)
Kategori berat badan menurut IMT :
  • 6. Kekurangan berat badan tingkat berat

: <17,0

  • 7. Kekurangan berat badan tingkat ringan

: 17,0-18,5

  • 8. Normal

: >18,5-25,0

  • 9. Kelebihan berat badan tingkat ringan

: >25,0-27,0

10. Kelebihan berat badan tingkat berat

: >27,0

  • 4.4.5.1 Data Berat Badan

68

Data mengenai berat badan diperolehnya dengan cara melakukan penimbangan berat

badan langsung menggunakan timbangan badan pada saat sebelum beraktifitas.

Langkah-langkah pengukuran tersebut adalah:

  • 1. Pastikan jarum pada displai ada pada posisi nol

  • 2. Lepaskan sepatu atau alas kaki lainnya

  • 3. Berdiri di atas timbangan

  • 4. Baca hasil pada display yang ditunjukkan oleh jarum metal

4.4.5.2 Data Tinggi Badan Data tinggi badan diperoleh melalui pengukuran tinggi badan langsung menggunakan meteran/alat pengukur
4.4.5.2
Data Tinggi Badan
Data tinggi
badan diperoleh melalui pengukuran tinggi badan langsung
menggunakan meteran/alat pengukur tubuh. Kemudian Catat hasil pengukuran
yang ada.
4.5 Pengolahan Data
Seluruh data yang terkumpul baik data primer maupun data sekunder akan diolah
melalui tahap-tahap sebagai berikut:
  • 1. Mengkode data (data coding) Proses pengklasifikasian data dan pemberian kode jawaban responden, dilakukan pada pembuatan kuesioner untuk mempermudah pengolahan data selanjutnya. Diamana coding dilakukan pada kuesioner, jika lelah tingkat berat pengkodean = 0, jika lelah sedang dengan pengkodean = 1. Dan jika lelah ringan dengan pengkodean = 2. Semua variabel independen pun dikodekan, Yaitu :

69

a)

Tekanan panas ; mengalami tekanan panas = 0, dan tidak mengalami tekanan

panas = 1.

b)

Kebisingan ; > 85 dB = 0, dan < 85 dB = 1.

c)

Shift kerja ; Shiftt 3 (Pukul 22-7) = 0, Shiftt 2 (Pukul 15-22) = 1, dan Shift 1

(Pukul 07-15)=2.

d)

Usia > 40 tahun = 0, usia < 40 tahun = 1.

e)

Status pernikahan; menikah = 0, belum menikah = 1.

f) Kebiasaan merokok; Berat (> 20 batang/hari) = 0, Sedang (10-20 batang/hari) =1, Ringan (< 10
f)
Kebiasaan merokok; Berat (> 20 batang/hari) = 0, Sedang (10-20 batang/hari)
=1, Ringan (< 10 abtang /hari) = 2, dan 3 = (0 batang/hari= tidak merokok).
g)
Status gizi ; Kurus ( < 18.5) = 0, Gemuk ( > 25) = 1, dan Normal (18.5 - 25) = 2
2.
Menyunting data (data editing)
Dilakukan untuk memeriksa kelengkapan dan kebenaran data seperti kelengkapan
pengisian, kesalahan pengisian, konsistensi pengisian setiap jawaban kuesioner. Data
ini merupakan data input utama untuk penelitian ini.
3.
Memasukkan data (data entry)

Memasukkan data dari hasil kuesioner yang sudah di berikan kode pada masing-

masing variabel, kemudian dilakukan analisis data dengan memasukan data-data

tersebut dengan program SPSS untuk dilakukan analisi univariat (untuk mengetahui

gambaran secara umum), dan bivariat (mengetahui variabel yang berhubungan).

  • 4. Membersihkan data (data cleaning)

70

Pengecekan kembali data yang telah dimasukkan kedalam program SPSS untuk

memastikan data tersebut tidak ada yang salah, sehingga dengan demikian data

tersebut telah siap diolah dan dianalisis.

4.6 Analisis Data

4.6.1

Analisis Univariat

Analisis yang dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi dan persentase dari

setiap variabel independen (tekanan panas, kebisingan, shift kerja, masa kerja, usia, pendidikan, stastus perkawinan, kebiasaan merokok
setiap variabel independen (tekanan panas, kebisingan, shift kerja, masa kerja, usia,
pendidikan, stastus perkawinan, kebiasaan merokok dan status gizi) dan variabel
dependen (kelelahan kerja) yang dikehendaki dari tabel distribusi.
4.6.2
Analisis Bivariat
Analisis yang dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel independen dan
dependen dengan melakukan uji Chi Square. Uji Chi Square untuk menghubungkan
variabel kategorik dan kategorik. Variabel yang termasuk ppada uji Chi Square yaitu
faktor tekanan panas, kebisingan, shift kerja, masa kerja, usia, pendidikan, status

perkawinan, kebiasaan merokok, dan status gizi yang akan dihubungkan dengan variabel

kelelahan.

Persamaan Chi Square:

(O - E) 2

X 2 =

E

Keterangan :

71

X 2

= Chi Square

O

= Efek yang diamati

E

= Efek yang diharapkan

71 X = Chi Square O = Efek yang diamati E = Efek yang diharapkan 71

72

BAB V

HASIL

7.1.Gambaran Umum Perusahaan

PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, berdiri pertama kali pada tahun 1973, dan

memulai kegiatannya dalam usaha pembuatan semen pada tahun 1975. PT. Indocement

Tunggal Prakarsa Tbk memiliki 12 pabrik atau plant yang tersebar ditoga lokasi yaitu 9

72 BAB V HASIL 7.1.Gambaran Umum Perusahaan PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, berdiri pertama kali pada

pabrik (plant 1-plant 8 dan plant 11 ) dengan luas area 200 Ha yang berlokasi di

Citeureup-Bogor, 2 pabrik (plant 9-plant 10) dengan luas area 37 Ha yang berlokasi di

Palimanan Cirebon, serta 1 pabrik (plant 12) dengan luas area 71 Ha di Tarjun-

Kalimantan Selatan. PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk merupakan perusahaan yang

sudah modern, sehingga alat-alat yang digunakan dalam proses produksi semen sudah

dikendalikan oleh mesin, kecuali pada bagian proses tambang (maining), Engineering,

HED (Heavy Engineering Division) dan proses produksi kantong semen PBD yang rata-

rata memperkerjakan orang dengan jumlah pekerja yang cukup banyak.

7.2.Visi, Misi dan dan Tujuan Unit K3

  • 7.2.1. Visi Unit K3 PT. Indocement Tunggal Prakasrsa, Tbk.

    • a. Terlaksananya keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja.

    • b. Terwujudnya produktivitas bagi karyawan dan perusahaan

    • c. Peningkatan kesejahteraan kerja.

73

7.2.2.

Misi Unit K3 PT. Indoceme n nt Tunggal Prakasrsa, Tbk.

a.

Menciptakan tenaga keselamatan dan kesehatan kerja yang handal dan

professional.

b.

Membudayakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam masyarakat

khususnya masyarakat khususnya masyarakat perusahaan.

c.

Mensosialisasikan program-program keselamatan dan kesehatan kerja kepada

pekerja.

d. Mendorong terciptanya zero accident di tempat kerja. 7.2.3. Tujuan Unit K3 PT. Indocement Tunggal Prakasrsa,
d.
Mendorong terciptanya zero accident di tempat kerja.
7.2.3.
Tujuan Unit K3 PT. Indocement Tunggal Prakasrsa, Tbk.
a.
Mengamankan tenaga kerja dan orang lain yang berada di sekitar tempat
kerja.
b.
Mengamankan sumber produksi dan dan fasilitas perlatan kerja.
c.
Memastikan bahwa proses dapat berjalan dengan lancer.
Target utama yang ingin dicapai oleh unit K3 tersebut adalah “bebas kecelakaan

dan hilangnya waktu kerja (zero accident and Loss Time Injury)” melalui penekanan pada

masalah perilaku tidak aman (unsafe action) dan kondisi tidak aman (unsafe condition).

Tujuan umum dalam usaha keselamatan dan kesehatan kerja di PT. Indocement

Tunggal Prakasrsa, Tbk. adalah :

74

  • a. Perlindungan terhadap tenaga kerja yang berada di wilayah tempat kerja agar selalu terjamin keselamatan dan kesehatannya sehingga dapat diwujudkan peningkatan produktivitas kerja.

  • b. Perlindungan terhadap setiap tamu (tamu, siswa dan mahasiswa magang atau penelitian, pelanggan) yang berada di tempat kerja agar selalu dalam selamat, aman dan sehat.

  • c. Perlindungan terhadap bahan dan peralatan produksi agar dapat digunakan

secara aman dan efesien. 7.2.4. Gambaran Umum PBD (Paper Bag Division) 7.2.4.1. Gambaran Umum Ketenagakerjaan di
secara aman dan efesien.
7.2.4.
Gambaran Umum PBD (Paper Bag Division)
7.2.4.1. Gambaran Umum Ketenagakerjaan di Proses Produksi Kantong Semen
PBD (Paper Bag Division)
Ketenagakerjaan pada bagian produksi kantone semen PBD dapat dilihat pada
table 5.1.
Tabel 5.1
Jumlah Tenaga Kerja Bagian Produksi Kantong Semen PBD
No
Tenaga Kerja
Total
1
Kontrak
Karyawan Indocement
128
2
40
Total
168

Dari data di atas diketahui bahwa dari 168 tenaga kerja pada bagian produksi

kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk tenaga kerja kontrak

sebanyak 128 pekerja yang terbagi atas 4 kelompok atau group dan tenaga kerja

tetap sebanyak 40 orang.

75

Jadwal Shift kerja pada bagian produksi kantong semen PBD PT. Indocement

Tunggal Prakarsa Tbk

1. Shift 1 (pagi) a. Senin-kamis : pukul 07.00 – 15.00 b. Jumat : pukul 07.00
1.
Shift 1 (pagi)
a.
Senin-kamis
: pukul 07.00 – 15.00
b.
Jumat
: pukul 07.00 – 16.00
2.
Shift 2 (sore)
a.
Senin – kamis : pukul 15.00 – 23.00
b.
Jumat
: pukul 16.00 - 24.00
3.
Shift 3 (malam)
:
a.
Senin – kamis : pukul 23.00 – 07.00
b.
Jumat
: pukul 24.00 – 08.00

Sistem rotasi shift kerja pada bagian produksi kantong semen PBD PT.

Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, dapat dilihat pada gambar berikut:

 

Monday

Group A

Tuesday

Group A

76

 

Wednesday

Group B

Week

Thursday

Group B

Friday

Group C

Saturday

Group C

Sunday

Group D

 

Gambar 5.1

Sitem rotasi Shift Kerja 7.2.4.2.Gambaran Umum Proses Produksi Kantong Semen PBD (Paper Bag Division) Tahapan pembuatan
Sitem rotasi Shift Kerja
7.2.4.2.Gambaran
Umum
Proses
Produksi
Kantong
Semen
PBD
(Paper
Bag
Division)
Tahapan pembuatan kantong semen dimulai dari lembar kertas roll, kemudian
masuk kedalam mesin, masuk ketahap printing (pemmberian logo pada kertas)
dan setelah itu kantong semen menjadi bahan setengah jadi. Masuk kedalam
mesin bottomer untuk proses penakan, pelipatan. Phasing dan sewing merupakan
tahap akhir, phasing untuk kantong semen yang di lem, sedang sewing untuk
kantong semen yang di jahit. Adapun tahapannya dapat dilihat pada gambar 5.1.
Tubing
Printing
Bottomer
Sewing&

a.

Tubing

Gambar 5.2

Proses Produksi PBD

77

Tubing merupakan mesin yang memproses untuk kertas semen yang awalnya

berupa gulungan-gulungan kertas diubah menjadi lipatan-lipatan kertas.

  • b. Printing Merupakan proses pencetakan logo atau gambar pada cover kantong semen yang kemudian dilakukan pemotongan.

  • c. Bottomer

Merupakan proses melipat kertas pada bagian bawah kanton semen. d. Sewing dan Phasing menggunakan pelekat atau
Merupakan proses melipat kertas pada bagian bawah kanton semen.
d.
Sewing dan Phasing
menggunakan pelekat atau lem.

Sewing dan Phasing merupakan tahapan akhir, sewing untuk kantong semen

dengan cara dijahit, sedangkan phasing untuk kantong semen dengan

7.3.Gambaran Kelelahan pada Pekerja di Proses Produksi Kantong Semen PBD

(Paper Bag Division)

Hasil penelitian mengenai gambaran tingkat kelelahan pada tenaga kerja bagian

produksi kantong semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. tahun 2010 dapat

dilihat pada tabel 5.2.

Tabel 5.2

78

Distribusi Frekuensi Kelelahan Pada bagian Produksi Kantong Semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. tahun 2010

NO

Tingkat Kelelahan

Frekuensi

Persentase (%)

  • 1 KKB

21

23,9 %

  • 2 KKS

33

37,5%

  • 3 KKR

34

38,6

 

Jumlah

88

100

Data di atas memperlihatkan gambaran tingkat kelelahan pekerja pada bagian

produksi yang cukup bervariasi. Tingkat kelelahan yang paling terbanyak adalah

kelelahan kerja ringan (KKR) sebanyak 34 pekerja (38,6 %), tingkat kelelahan kerja

78 Distribusi Frekuensi Kelelahan Pada bagian Produksi Kantong Semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. tahun

sedang (KKS) sebanyak 33 orang (37,5%), sedangkan tingkat kelelahan yang paling

sedikit adalah tingkat kelelahan kerja berat (KKB) sebanyak 21 pekerja (23,9%).

7.4.Gambaran Tekanan Panas Pada bagian Produksi Kantong Semen

Tekanan panas diukur pada 36 titik yang merupakan area dimana pekerja

terpapar. Kemudian hasil pengukuran dibandingkan dengan menghitung beban kerja yang

dialami oleh pekerja. Beban kerja diukur dengan melihat keadaan dan posisi pada

masing-masing pekerja, metabolisme basal dan dikalikan waktu. Kemudian hasilnya

dibandingkan dengan standar nilai ambang batas tekanan panas berdasarkan lamanya

kerja. Hasil penelitian ini menggambarkan pekerja yang terpapar tekanan panas dan yang

tidak terpapar tekanan panas. Untuk mudahnya dapat dilihat pada tabel 5.3.

Tabel 5.3

Distribusi Frekuensi Tekanan Panas Pada Pekerja di Proses Produksi Kantong Semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. tahun 2010

79

NO

Tekanan Panas

Frekuensi

Persentase (%)

  • 1 Ya

1

1,1 %

  • 2 Tidak

87

98,8 %

 

Jumlah

88

100

Dari data di atas memperlihatkan bahwasanya pekerja yang terpapar tekanan

panas hanya berjumlah satu pekerja (1,1%), sedangkan pekerja yang tidak terpapar

tekanan panas sebanyak 87 orang (98,8%).

7.5.Gambaran Tingkat Kebisingan pada Pekerja di Proses Produksi Kantong

Semen PBD (Paper Bag Division) Tingkat kebisingan diperoleh dari hasil pengukuran pada 36 titik yang merupakan
Semen PBD (Paper Bag Division)
Tingkat kebisingan diperoleh dari hasil pengukuran pada 36 titik yang merupakan
area dimana pekerja terpapar mesin yang berputar selama 24 jam. Kemudian hasilnya
dibandingkan dengan standar nilai ambang batas kebisingan yang diizinkan pada pekerja
yang bekerja semala 8 jam dalam sehari. Hasil penelitian ini menggambarkan pekerja
yang terpapar kebisingan > 85 dB dan < 85 dB. Untuk mudahnya dapat dilihat pada tabel
5.4.
Tabel 5.4

Distibusi Frekuensi Tingkat Kebisingan Pada bagian Produksi Kantong Semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. tahun 2010

NO

Tingkat kebisingan

Frekuensi

Persentase (%)

  • 1 > 85 dB

15

17 %

  • 2 < 85 dB

73

83 %

 

Jumlah

88

100

80

Dari data di atas memperlihatkan bahwasanya pekerja terpapar kebisingan > 85

dB sebanyak 15 orang (17%), sedangkan pekerja yang tidak terpapar kebisingan < 85 dB

sebanyak 73 orang (83%).

7.6.Gambaran Masa Kerja pada Pekerja di Proses Produksi Kantong Semen PBD

(Paper Bag Division)

Data masa kerja diperoleh dengan cara menyebarkan kuesioner pada sampel. Hasil

penelitian ini menggambarkan jumlah pekerja berdasarkan masa yang telah dilalui oleh pekerja. Pada penelitian ini masa
penelitian ini menggambarkan jumlah pekerja berdasarkan masa yang telah dilalui oleh
pekerja. Pada penelitian ini masa kerja dikategorikan dengan cara uji normalitas,
berdasarkan uji normalitas diperoleh nilai pvalue sebesar 0,000. Karena data tidak
berdistribusi normal maka nilai yang digunakan adalah nilai median yaitu 10. Variable
masa kerja dikategorikan menajadi > 10 dan < 10. Untuk mudahnya dapat dilihat pada
tabel 5.5.
Tabel 5.5
Distribusi Frekuensi Masa Kerja Pada bagian Produksi Kantong Semen PBD PT.
Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. tahun 2010
NO
Masa Kerja
Frekuensi
Persentase (%)
1
> 10 tahun
42
47,7 %
2
< 10 tahun
46
52,3 %
Jumlah
88
100

Dari data di atas memperlihatkan bahwasanya pekerja yang melewati masa kerja

> 10 tahun sebanyak 42 orang (47,7%) sedangkan pekerja yang melewati masa kerja < 10

tahun sebanyak 46 orang (52,3%).

81

7.7.Gambaran Shift Kerja Pada bagian Produksi Kantong Semen

Data Shift kerja diperoleh dengan cara menyebarkan kuesioner pada sampel

dengan waktu yang berbeda-beda. Yaitu dengan membagi jumlah kuesioner berdasarkan

jumlah populasi pada masing-masing shift. Hasil penelitian ini menggambarkan pekerja

yang bekerja pada shift yang berbeda-beda. Untuk mudahnya dapat dilihat pada tabel 5.6.

Tabel 5.6

Distribusi Frekuensi Shift Kerja Pada Pekerja di proses Produksi Kantong Semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. tahun 2010

NO Shift Kerja Frekuensi Persentase (%) 1 Shift 3 29 33,0 % 2 Shift 2 29
NO
Shift Kerja
Frekuensi
Persentase (%)
1
Shift 3
29
33,0 %
2
Shift 2
29
33,0 %
3
Shift 1
30
34,1 %
Jumlah
88
100
pekerja yang mengalami shift 1 sebanyak 30 orang (34,1%).

Dari data di atas memperlihatkan bahwasanya pekerja yang mengalami shift 3

sebanyak 29 orang (33,0%), yang mengalami shift 2 29 orang (33,0%), sedangkan

7.8.Gambaran Usia pada Pekerja di Proses Produksi Kantong Semen PBD (Paper

Bag Division)

Data usia diperoleh dengan cara menyebarkan kuesioner pada sampel. Hasil

penelitian ini menggambarkan jumlah pekerja berdasarkan usia individu masing-masing.

Pada penelitian ini usia dikategorikan berdasarkan teori. Untuk mudahnya dapat dilihat

pada tabel 5.7.

Tabel 5.7

82

Distribusi Frekuensi Usia Pada Pekerja di proses Produksi Kantong Semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. tahun 2010

NO

Usia

Frekuensi

Persentase (%)

  • 1 > 40 tahun

25

28,4 %

  • 2 < 40 tahun

63

71,6 %

 

Jumlah

88

100

Dari data di atas memperlihatkan bahwasanya pekerja yang usia > 40

tahun

sebanyak 25 orang (28,4%) sedangkan pekerja yang melewati masa kerja < 40 tahun

sebanyak 63 orang (71,6%).

82 Distribusi Frekuensi Usia Pada Pekerja di proses Produksi Kantong Semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakarsa

Tabel 5.8

7.9.Gambaran Status Perkawinan Pada bagian Produksi Kantong Semen

Data status perkawinan diperoleh dengan cara menyebarkan kuesioner pada

sampel. Hasil penelitian ini menggambarkan jumlah pekerja berdasarkan status

perkawinan. Untuk mudahnya dapat dilihat pada tabel 5.8.

Distribusi Frekuensi Status Perkawinan Pada Pekerja di proses Produksi Kantong Semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. tahun 2010

NO Status Perkawinan Frekuensi Persentase (%)
NO
Status Perkawinan
Frekuensi
Persentase (%)
  • 1 Kawin

75

85,2 %

  • 2 Tidak Kawin

13

14,8 %

Jumlah

88

100

83

Dari data di atas memperlihatkan bahwasanya pekerja yang sudah kawin banyak

75 orang (85,2%) sedangkan pekerja yang tidak kawin sebanyak 13 orang (14,8%).

7.10. Gambaran Kebiasaan Merokok pada Pekerja di Proses Produksi Kantong

Semen PBD (Paper Bag Division)

Data kebiasaan merokok diperoleh dengan cara menyebarkan kuesioner pada

sampel. Hasil penelitian ini menggambarkan jumlah pekerja berdasarkan kebiasaan

merokok. Untuk mudahnya dapat dilihat pada tabel 5.9.

Tabel 5.9 NO Kebiasaan Merokok Frekuensi Persentase (%) 1 Sedang 11 12,5 % 2 Ringan 36
Tabel 5.9
NO
Kebiasaan Merokok
Frekuensi
Persentase (%)
1
Sedang
11
12,5 %
2
Ringan
36
40,9 %
3
Tidak merokok
41
46,6 %
Jumlah
88
100

Distribusi Frekuensi Kebiasaan Merokok Pada Pekerja di proses Produksi Kantong Semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. tahun 2010

Dari data di atas memperlihatkan bahwasanya pekerja yang kebiasaan

merokoknya kategori sedang sebanyak 11 orang (12,5%) sedangkan pekerja yang

merokok dengan kategori ringan sebanyak 36 orang (40,9%) dan pekerja yang tidak

merokok sebanyak 41 orang (46,6%).

7.11. Gambaran Status Gizi Pada Pekerja di Produksi Kantong Semen

84

Data status gizi diperoleh dengan cara menghitung indeks masa tubuh. Kemudian

hasilnya dikategorikan menjadi 3 kategorik, yaitu gemuk, normal dan kurus. Hasil

penelitian ini menggambarkan jumlah pekerja berdasarkan status gizi. Untuk mudahnya

dapat dilihat pada tabel 5.10.

Tabel 5.10

Distribusi Frekuensi Status Gizi Pada Pekerja di proses Produksi Kantong Semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. tahun 2010

NO Status Gizi Frekuensi Persentase (%) 1 Kurus 13 14,8 % 2 Gemuk 12 13,6 %
NO
Status Gizi
Frekuensi
Persentase (%)
1
Kurus
13
14,8 %
2
Gemuk
12
13,6 %
3
Normal
63
71,6 %
Jumlah
88
100
Dari data di atas memperlihatkan bahwasanya pekerja status gizi dengan
kategorik kurus sebanyak 13 (14,8%), pekerja yang memiliki status gizi dengan kategorik
gemuk sebanyak 12 orang (13,6%), sedangkan pekerja yang status gizi normal sebanyak
63 orang(71,6%).
7.12.
Hubungan Antara Tekanan Panas dengan Kelelahan pada Pekerja di Proses

Produksi Kantong Semen PBD (Paper Bag Division)

Tabel 5.11

Tabulasi silang Antara Tekanan Panas dengan Kelelahan Pada Pekerja di proses Produksi Kantong Semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. tahun 2010

Tekanan

 

Kelelahan

 

Total

 

panas

KKB

KKS

KKR

   

Pvalue

N

%

N

%

n

%

N

%

Terpapar

0

0

1

100

0

0

1

100

 

85

Tidak terpapar

 
  • 21 24,1

 
  • 32 36,8

 
  • 34 39,1

 
  • 87 100

 

Total

 
  • 21 23,9

 
  • 33 37,5

 
  • 23 38,6

 
  • 88 100

Berdasarkan tabel di atas pekerja yang mengalami tekanan panas hanya ada pada

kelompok kelelahan kerja sedang (KKS) yaitu sebanyak 1 orang (100%), sedangkan

pekerja yang tidak terpapar tekanan panas yang mengalami tekanan KKB sebesar 24,1,

yang mengalami KKS sebesar 36,8%, dan yang mengalami KKR sebesar 39,1%. Dari

hasil uji statistik didapatkan nilai probabilitas sebesar 0,430. Artinya pada α 5 % tidak

ada hubungan antara tekanan panas dengan kelelahan kerja.

7.13. Hubungan Antara Kebisingan dengan Kelelahan Pada Pekerja di Proses Produksi Kantong Semen Tabel 5.12 Tabulasi
7.13. Hubungan Antara
Kebisingan dengan Kelelahan Pada Pekerja di Proses
Produksi Kantong Semen
Tabel 5.12
Tabulasi silang Antara Tingkat Kebisingan dengan Kelelahan Pada Pekerja di proses
Produksi Kantong Semen PBD PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. tahun 2010
Kelelahan
Tingkat
Total
Pvalue
Kebisingan
KKB
KKS
KKR
N
%
N
%
N
%
N
%
> 85 dB
< 85 dB
8 53,3
5 33,3
2
13,3
15
100
13
17,8
28
38,4
32
43,8