Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM PENGANTAR EKONOMI PERIKANAN PENANGANAN USAHA PERIKANAN SEBAGAI ALTERNATIF MATA PENCARIAN DI HUNIAN SEMENTARA BENCANA

ERUPSI MERAPI

OLEH KELOMPOK 5 1. Prameidia Putra (11666 / THP09) 2. Benget R. Simanjuntak (11670/THP09) 3. Agus Indra Jatno (11806/BDP09) 4. Elisabeth Nova Ayu R. (11747 / THP09) 5. Ragil Puspita (11731 / MSP09) 6. Windi Amelia (11756 / BDP09) 7. Mike Gustyana L. (11858 / MSP09) 8. Riska Nilawati (11771 / MSP09) 9. Yunita Wulandari (11289/BDP08) ASISTEN FAISAL RAHMAN LABORATORIUM SOSIAL EKONOMI PERIKANAN JURUSAN PERIKANAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2011

KATA PENGANTAR Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan karunia-Nya yang melimpah kepada kita semua sehingga laporan praktikum pengantar ekonomi perikanan ini dapat diselesaikan penyusun dengan baik dan tepat waktu. Laporan ini disusun untuk pertanggungjawaban praktikan bahwa telah melaksanakan praktikum Pengantar Ekonomi Perikanan, pada semester empat di Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Penyusun juga ingin menyampaikan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung dan membantu dalam penyusunan laporan ini, yaitu : 1. Bapak Ir. Hery Saksono, M. A. selaku Dosen Pengasuh mata kuliah Pengantar Ekonomi Perikanan Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian UGM, 2. Bapak Suadi, S. Pi., M. Sc. selaku Dosen Pengasuh mata kuliah Pengantar Ekonomi Perikanan Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian UGM, 3. Bapak Ir. Sukardi, S. Pi., M. Sc. selaku Dosen Pengasuh mata kuliah Pengantar Ekonomi Perikanan Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian UGM, 4. Asisten Kelompok Mas Faisal yang telah berkenan mendampingi praktikan selama praktikum, 5. Teman-teman kelompok 5 (Putra, Benget, Agus, Yunita, Ragil, Elisabeth, Windi, Riska, Mike) yang telah bekerja sama menyusun laporan praktikum ini, 6. Orang Tua penyusun di rumah yang selalu mendoakan kami demi kelancaran proses belajar saya, 7. Teman-teman perikanan angkatan 2009 yang telah berkenan memberi semangat kepada kami, 8. Dan semua pihak yang turut membantu dalam penyusunan makalah ini yang tidak dapat penyusun sebutkan satu per satu. Penyusun menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kata sempurna karena tidak ada sesuatu yang sempurna di dunia ini kecuali Tuhan Sang Pencipta. Oleh karena itu, penyusun dengan senang hati menerima kritik dan saran yang membangun sehingga berguna untuk penyempurnaan laporan ini di hari esok. Akhir kata, semoga laporan praktikum Pengantar Ekonomi Perikanan ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membaca laporan ini. Terimakasih. Yogyakarta, 23 Juni 2011 Penyusun

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Letusan Merapi 2010 adalah rangkaian peristiwa gunung berapi yang terjadi di Merapi di Indonesia. Aktivitas seismik dimulai pada akhir September 2010, dan menyebabkan letusan gunung berapi pada hari Selasa tanggal 26 Oktober 2011, mengakibatkan sedikitnya 165 orang tewas. Dampak erupsi Gunung Merapi tersebut telah menimbulkan kerusakan diberbagai sektor di Yogyakarta seperti pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan, serta pariwisata. Di sektor perikanan sendiri, menurut Ketua Badan Pelaksana Wilayah Serikat Petani Indonesia (BPW SPI) Yogyakarta, Lujianto, kerugian akibat bencana Merapi mencapai Rp. 11,3 miliar. Kerugian terjadi akibat matinya ikan dari sektor Unit Pembenihan Rakyat (UPR), Pembudidayaan Ikan Konsumsi di radius 20 Km puncak Merapi dan beberapa pembudidayaan ikan konsumsi di luar radius tersebut di Kecamatan Turi, Pakem, Cangkringan dan Ngemplak. Sektor perikanan menjadi mata pencaharian primer bagi banyak masyarakat di beberapa kecamatan di Sleman meliputi Kecamatan Bokesan, Sindumartani, Ngemplak dengan luas lahan mencapai 26 hektar untuk perikanan. Beberapa jenis ikan budidaya yang berada di kecamatan tersebut antara lain, lele, nila, gurame, dan bawal. Untuk memulihkan kegiatan ekonomi di sekitar bencana, pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta membangun shelter-shelter atau hunian sementara berupa rumah-rumah gedhek (anyaman bambu) berukuran 6 x 6 m2 bagi warga lengkap dengan kolam terpal untuk budidaya lele. Mengingat tiga kecamatan di daerah kawasan bencana merupakan kawasan pertanian produktif termasuk perikanan, yang memberikan kontribusi ekonomi yang tidak sedikit termasuk kecamatan Cangkringan yang berada di sebelah Timur Laut dari Ibukota Kabupaten Sleman. Bupati Sleman H Sri Purnomo dalam Trobos (2011) menyatakan paket bantuan budidaya lele dari Pemerintah Provinsi DIY ini sangat sesuai dengan program tanggap bencana pemulihan ekonomi Merapi melalui penumbuhan UKM (Usaha Kecil Menengah) baru yang ia canangkan. Kegiatan ini diharapkan dapat memotivasi warga agar bangkit dari keterpurukan, dan nantinya dapat merangsang warga untuk mencoba membudidayakan dan mengembangkan kembali dimasing-masing pekarangan mereka. Kegiatan shelter adalah salah satu kegiatan atau program dari pemerintah untuk membantu masyarakat dalam meningkatkan perekonomian. Dalam pengelolaanya, kegiatan ini dapat dikelola secara individu maupun secara kelompok. Dalam kegiatan ini

biasanya bantuan bisa berasal dari sektor perikanan, peternakan, dan atau pertanian. Dari sektor perikanan biasanya berupa bibit ikan yang siap ditebar. Dari sektor peternakan biasanya berupa sapi, kambing, itik atau pun ayam. Sedangkan dari sektor pertanian biasanya berupa tanaman hias, sayur-sayuran, atau pun buah-buahan tergantung kondisi lingkungan shelter. Di daerah Cangkringan tepatnya daerah Gondang 2 telah didirikan shelter perikanan. Shelter ini didirikan untuk membantu korban akibat letusan Gunung Merapi. Pemilihan perikanan sebagai solusi karena perikanan memiliki potensi yang sangat besar dan prospek yang masih panjang. Selain itu pengelolaannya juga lebih mudah dibanding sektor lain dan tidak membutuhkan lahan yang luas. Gondang 2 memiliki potensi yang mendukung untuk kegiatan budidaya ikan. Selain lingkungannya yang masih alami dan bebas polusi, juga karena sumber daya air yang melimpah sehingga tidak perlu khawatir kekurangan air. Penelitian ini dilakukan di shelter gondang 2 karena shelter tersebut masih baru. Selain itu jumlah kolam dalam shelter tersebut cukup banyak sehingga pengambilan data informasi akan lebih akurat dan bervariasi. Walaupun kondisi lingkungan di sekitar shelter sangat mendukung tetapi dalam pengelolaannya tidak berjalan mulus. Banyak permasalahan yang timbul dalam pengelolaan budidaya shelter ini.

1.2. Tujuan 1. Mengetahui keadaan di shelter gondang II 2. Mengetahui sejarah berdirinya shelter dan budidaya ikan dishelter 3. Mengetahui kendala yang dihadapi oleh pembudidaya ikan di shalter

1.3. Manfaat Praktikum Pengantar Ekonomi Perikanan dapat menambah pengetahuan mahasiswa untuk dapat lebih mengenal suatu daerah yang menjadi lokasi praktikum yaitu desa ngeblok shelter gondang II, dan dapat lebih mengetahui bagaimana budidaya ikan diselter pasca erupsi merapi. Manfaat yang lebih utama adalah melatih mahasiswa untuk dapat berinteraksi dengan masyarakat. Hubungan yang baik dapat terwujud dengan adanya interaksi secara nyata sehingga mahasiswa dapat melakukan pendekatan lebih baik dan dapat membantu memecahkan masalah yang dialami oleh masyarakat, walaupun hanya dengan pengetahuan teori yang didapat pada kuliah dan pengetahuan umum mahasiswa. Selain itu juga memberikan pengetahuan lapangan kepada mahasiswa terutama mengenai berbagai aspek budidaya ikan baik aspek teknis, ekonomi, sosial, maupun pengelolaannya. 4. Waktu dan Tempat Hari : Jumat

Tanggal : 17 Juni 2011 Tempat : Desa geblok Sari, kecamatan Cangkirangan,kabupaten Sleman,Yogyakarta

BAB II METODE Metode berasal dari bahasa Yunani Methodos yang berarti jalan penelitian dan dapat dijabarkan sebagai cara bertindak yang pasti dan terarah untuk mencapai tujuan tertentu. Pengkajian dapat diartikan sebagai usaha memperoleh pengetahuan dengan jalan membaca, mengamati dengan tekun, mengadakan analisa laboratorium, membuat percobaan lapangan dan sebagainya (Tejoyuwono 1977). Praktikum ini menggunakan metode dasar deskriptif analisis, yaitu penelitian yang mendasarkan pada pembahasan masalah aktual pada masa sekarang. Data yang diperoleh mula-mula di kumpulkan , di susun, di analisa dan di interpretasikan (Surakhmad 1985). Salah satu jenis metode penelitian deskriptif adalah metode survey. Metode survey merupakan penyelidikan yang di lakukan untuk memperoleh fakta-fakta dari fenomenafenomena yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual, baik suatu kelompok atau daerah (Nazir 1988). Dari sudut ruang lingkup, secara kasar metode survey mencakup 4 aspek kajian yaitu : (1) Ciri-ciri demografis masyarakat, (2) Lingkungan sosial mereka, (3) Aktivitas mereka, dan (4) Pendapat dan sikap mereka (Moser dalam Singarimbun dan Effendi 1988). Metode survey merupakan penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuisioner (Singarimbun dalam Singarimbun dan Effendi 1988). Menurut Hadi (1975), ada beberapa anggapan yang harus dipegang oleh peneliti dalam metode survey dengan kuisioner yaitu : 1. 2. 3. Subyek (responden) adalah orang yang palin tahu tentang dirinya. Apa yang di nyatakan oleh subyek (responden) kepada penyelidik adalah benar dan dapat dipercaya. Interpretasi subyek (responden) tentang pertanyaan yang diajukan kepadanya adalah sama dengan apa yang di maksudkan penyelidik. Sampel merupakan bagian dari populasi yang diambil untuk menggambarkan keadaan sebenarnya dari populasi yang bersangkutan. Menurut Effendi (1997) secara umum ada dua macam teknik sampling yaitu : Ramdom samplin dan Purposive sampling. Beberapa teknik sampling dengan metode ramdom sampling adalah: 1. Simple Random Sampling Sampel di ambil sedemikian rupa sehingga setiap elemen pokok permasalahan mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel. Cara yang paling efektif adalah dengan menggunakan tabel random sampling.

2. Sistematic Sampling Merupakan sebuah metode panggambilan sampel dimana hanya unsur pertama saja dari sampel itu yang dipilih secara acak sedangkan unsur-unsur lainnya diambil secara sistematis dengan pola-pola tertentu. 3. Stratified Random Sampling Pengambilan sampel dilakukan berdasarkan penggolongan karena populasi tidak homogen (heterogen). Praktikum pengakajian sosial ekomoni perikanan kali ini menggunakan metode penggambilan sampel Cluster Random Sampling ( CRS) di mana sample di ambil/ dipilih berdasar pertimbangan tertentu. Metode ini di gunakan karena populasi adalah heterogen, di mana di dalamnya terdiri dari kelompok-kelompok/cluster yang di dalamnya masih mengandung unit populasi yang heterogen. Sampel diperoleh dari unit populasi yang dipilih secara random. Heterogenitas sampel di harapkan sama dengan heterogenitas populasinya. Cluster Random Sampling sering juga disebut sebagai area random sampling. Area dalam hal ini dapat merupakan suatu area administratif. Kelemahan metode ini adalah sulit menemukan cluster dengan heterogenitas yang benar-benar sama, sehingga sampel yang diperoleh merupakan estimator yang kasar untuk populasinya. Keuntungannya adalah penyebaran unit populasi dapat ditekan dan tidak diperlukan daftar unit populasi dengan cluster/ area yang terpilih (Sunggono 1996). Data merupakan fakta yang dapat ditarik menjadi kesimpulan. Fakta merupakan sejala pengalaman, kejadian atau kenyataan yang cukup mantap sehingga dapat dipercaya dalam suatu penyelidikan. Oleh karena fakta dapat mempunyai berbagai macam wujud, maka data tidak selalu berbentuk angka sebab fakta tidak selalu dapat di angka kan (Tejoyuwono 1997). Baik buruknya suatu hasil riset tergantung pada teknik pengumpulan datanya. Pengumpulan data pada riset ilmiah dimaksudkan untuk memperoleh bahan-bahan yang relevan, akurat, dan reliable. Untuk memperoleh data seperti itu maka kita harus menggunakan teknik-teknik, prosedur-prosedur, alat-alat, serta kegiatan yang dapat diandalkan. Jenis data yang dikumpulkan ada dua macam yaitu : 1. Data Primer a. b. c. Identitas Responden (Nama, Umur, Jenis Kelamin, Pendidikan, Sejarah Keluarga dan Pekerjaan, Tempat Tinggal ). Jenis ikan budidaya, sistem produksi dan permasalahan dalam pengelolaannya. Pemasaran hasil perikanan (jalur dan saluran pemasaran).

d. e. f.

Biaya meliputi ; biaya variabel (pakan, pupuk, obat, tenaga kerja dan lain-lain), biaya tetap dan biaya perawatan. Pendapatan meliputi hasil produksi dan harga ikan. Pendapatan diluar hasil perikanan.

2. Data Sekunder Data sekunder meliputi peta wilayah (kabupaten, kecamatan, desa ), data produksi tahunan perkembangan luasan kolam, perkembangan pembudidaya ikan. Data praktikum lapangan yang diperoleh dikumpulkan melalui beberpa teknik yaitu :

a. Wawancara Wawancara merupakan proses tanya jawab lisan oleh dua atau lebih orang yang saling berhadapan secara fisik, yang satu dapat melihat muka yang lain dan dapat mendengarkan dengan telinganya sendiri. Suara merupakan alat komunikasi yang langsung untuk mengungkapkan berbagai informasi (Hadi 1975). Teknik wawancara akan melibatkan proses interaksi dan komunikasi antara peneliti dengan sumber informasi (sampel) yang dipandu oleh daftar pertanyaan yang bersifat terstruktur. b. Observasi Observasi bisa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematis fenomena-fenomena yang diselidiki. Dalam arti luas observasi tidak terbatas pada pengamatan yang dilakukan baik secara logis maupun tidak logis (Hadi 1975). Menurut Tejoyuwono (1977), observasi merupakan suatu kegiatan untuk memperoleh fakta atau bukti dari gejala yang ada. Pengamatan ini bisa menjadi sebuah alat penguji terhadap kebenaran informasi atau data yang dikumpulkan melalui wawancara. Pencatatan yaitu mencatat data-data yang telah tersedia (data sekunder) dari instansi-instansi terkait dan sumber lainnya yang telah dipublikasikan serta berbagai informasi dan fenomenafenomena yang terekam selama observasi atau pengamatan. Proses analisis data meliputi pengeditan data yang diperoleh dari lapangan, pemindahan data dari daftar pertanyaan ke daftar tabulasi, penentuan sebaran data dan kecenderungannya, serta interpretasi data.

BAB III Keadaan Umum Shelter 3.1 Kewilayahan atau fisik 3.2 Kependudukan social ekonomi 3.3 Dampak Bencana Erupsi Merapi

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN Shelter Gondang 2 yang terletak di desa Geblok, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, memiliki 80 kolam budidaya lele yang semuanya dikelola oleh warga setempat yang bekerjasama dengan pemilik kolam yang menurut warga setempat berada di Magelang. Dari wawancara dengan tiga responden, dengan latar belakang yang berbeda Ruminah (46) SD asal Dongkel Sari, Parwa (70) SD asal Merapi Kulon, Agung (29) SMP asal Geblok Sari, masing-masing memberi keterangan yang sama tentang luasan kolam yang dikelola, yaitu golongan pemuda 2 kolam, dan golongan tua 1 kolam. Padat tebar 2000 ekor, dan pemberian makan dilakukan sedikit demi sedikit sampai kenyang (ad libitum), namun keterangan sedikit berbeda pada aktivitas pemberian pakan setiap hari, hanya Parwa yang menyatakan pemberian pakan 2 kali sehari, pagi dan sore. Sedangkan Agung dan Ruminah yang merupakan ibu dari ketua RT menyatakan pemberian pakan dilakukan 3 kali sehari, pagi, sore, dan malam yang khusus dijadwalkan untuk pemuda. Kolam di daerah ini belum pernah panen karena baru ditebar sekitar satu setengah bulan, bahkan ada beberapa kolam yang terlihat belum siap untuk diisi yang menunjukkan bahwa kolam yang ada masih baru. Ketiga responden pesimis dengan keberhasilan panen nantinya, karena sebagian kolam banyak ikan yang mati. Beberapa permasalahan yang dihadapi adalah penyakit jamur, ikan kedinginan, lompatnya ikan lele dari kolam saat hujan turun, dan karung berisi pakan yang sering hilang. Penyakit jamur diatasi dengan penaburan garam kasar di kolam, dengan obat tetes mata, ataupun dengan cara tradisional seperti pelepah pisang yang diiris halus dan ditaburkan ke kolam. Untuk permasalahan lompatnya ikan lele, dan ikan yang kedinginan, belum ada cara penanggulangan sampai saat ini. Sedangkan untuk masalah hilangnya pakan, telah diatasi dengan membuat rumah khusus pakan yang digembok dan lokasinya dekat rumah kepala pemuda. Pak sidik 41 tahun alamat shelter gondang II.Asal ngeblok,,pendidikan terakhir IAIN. Pak sidik belum pernah mendapatkan pendidikan formal atau informal mengenai budidaya

ikan,namun pak sidik sudah memiliki pengalaman dalam budidaya ikan, beliau sudah pernah membudidayakan ikan nila. Pak sidik di gondang II ini tidak memiliki shelter namun dia adalah pengelola shelter dengan kata lain dia yang jadi coordinator semua kelompok. Menurut beliau shelter di gondang II terdiri dari 80 kolam seharusnya,namun 3 kolam sudah mengalami kerusakan,jadi kolam yang tersisa tinggal 77,20 dari dinas dan 57 dari PU. Komoditas yang dibudidayakan di shelter ini yaitu ikan lele.Pakan yang diberikan perharinya 3 karung,namun demikian kolam masih banyak yang kosong. Kolam yang kosong kurang lebih 8 kolam dengan alasan kolamnya mau dibenahi terlebih dahulu. Padat tebar perkolam 2000 dengan luas kolam 4x6, di shelter ini ad 4 kelompok 1 kelompok terdiri dari 20 orang. Pak Sidik optimis budidaya ikan di kolam terpal dengan system shelter akan berhasil. Namun demikian masalah yang dihadapi adalah benih kurang bagus. Yetri 34 tahun, alamat shelter gongang II ,asal Palembang, pendidikan terakhir SLTA. Ibu Yetri mengakui pengalamannya nol dibidang budidaya ikan, bu yetri belum pernah pendapatkan pelatihan tentang budidaya ikan baik itu formal maupun non formal, beliau juga mengakui belum pernah melakukan kegiatan budidaya sebelum di shelter. Ukuran kolam 4x6, ikan yang dibudidayakan ikan lele,padat tebar 2000, pakan 3 karung per hari, kolam dikelola dengan system kelompok. Belum pernah panen. Ibu Yetri pesimis akan budidaya system shelter ini hal ini karena setiap hari pasti ada ikan yang mati daria awal ditebar. Ibu Yetri juga mengakui sebelumnya tidak ada sosialisasi sama sekali tentang budidaya ikan di kolam terpal tersebut, beliau berharap jika system budidaya shelter ini berlanjut sebelumnya harus ada sosialisasi mengenai cara bagaimana budidaya ikan yang baik. Pak tukijo 42 tahun, jabatanya sebagai ketua kelompok di shelter dongker sari, alamat di dongkel sari, riwayat pendidikan mualimin muhammadiyah. Pak tukijo belum pernah mendapatkan peletihan mengenai budidya ikan baik itu formal maupun informal, beliau juga mengakui senelumnya belum memiliki pengalaman apa-apa mengenai budidaya ikan. Luas kolam yang dimiliki pak tukijo adalah 4x6. Ikan yang dibudidayan adalah ikan lele.Padat tebar 2000/kolam. Kelompok pak Tukijo mendapatkan 18 kolam, setiap harinya menghabiskan pakan 1 sak untuk 18 kolam tersebut. Pengelolaan dilakukan dengan system kelompok. Budidaya ikan di shelter dongkel sari ini baru berjalan 3 minggu,belum pernah panen. Sistem budidaya ikan di shelter menurut pak Tukijo bagus, dengan catatan bisa dikelola dengan baik, dalam arti koordinasi anggota kelompok. Namun demikisn masalah yang dihadapi oleh pak Tukijo adalah ikan penyakitan(jamur), anggota kelompok kurang kompak, kurang terbuka antara coordinator kepada kelompok.

Pak Zamzuri 39 tahun, alamat shelter dongkel sari,daerah asal dongker sari. Latar belakang pendidikan SLTP. Belum pernah mengikuti pendidikan formal dan informal dibidang perikanan. Pengalaman dibidang perikanan pernah yaitu pembesaran nila. Luas kolam 4x6 berkelompok, 1 kelompok 20 orang.Padat tebar 2000/kolam total punya kelompok ada 17 kolam.Pakan 1 sak/hari. Sistem kelompok ada jadwal piket 1-3 orang/hari, pagi jam 6, sore jam 4. Belum pernah panen, sudah berjalan 1 bulan. Pesimis karena ikannnya banyak mati,harga ikan murah. Masalah lahan menyewa,bau mengangu kenyamanan warga sekitar Bapak Agung, 25 tahun. Alamat shelter : Gondang 2. Daerah asal : Desa Geblok, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Latar belakang pendidikan : SMA. Pendidikan informal dan non-formal yang berhubungan dengan pembesaran ikan :Belum pernah ada pelatihan. Namun Pernah membudidayakan ikan nila sebelumnya, pernah ikut kakaknya untuk memelihara ikan, tetapi dari program sendiri belum pernah. Luas kolam dishelter 6x4 meter. Jenis ikan yang dibudidayakan adalah ikan lele.jumlah padat tebar tiap kolam kurang lebih 2000 ekor. Pakan diberikan tiga kali sehari, biasanya lebih dari 1 kg per hari. Pengelolaannya (pengelolaan kolam) satu kelompok bersama, biasanya satu orang mendapat jatah dua kolam. Jika gagal menjadi tanggungan bersama (sama-sama mencari solusi). Belum pernah panen. Pak Agung Optimis berhasil, karena ikan yang hidup lumyan banyak disbanding yang mati. Permasalahan yang dihadapi antara lain :Ikan banyak yang terserang penyakit.Ukuran bibit tebar terlalu kecil. Setiap kolam jumlah bibit tebar berbeda. Banyak hama terutama burung bangau, Pemberian metylen blue tidak diberikan ke semua kolam. Tidak pernah ganti air. Pemecahan : Dikoordinir oleh ketua kelompok. Bapak Herwanto, 50 tahun.Alamat shelter : Gondang 2. Daerah asal : geblok, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Latar belakang pendidikan : SD. Pendidikan informal dan non-formal yang berhubungan dengan pembesaran ikan : Belum pernah ada pelatihan atau sosialisasi tentang budidaya ikan. Belum punya pengalaman di bidang perikanan . Luas kolam 6x4 meter. Jenis ikan yang dibudidayakan yaitu ikan lele. Jumlah padat tebar tiap kolam kurang lebih 50 kg. Banyak pakan yang diberikan di tiap kolam tiap hari kurang lebih 1 kg tiap hari. pengelolaan kolam budidaya ikan di shelter ini dikelola bersama, setiap orang biasanya mengelola dua kolam. Belum pernah panen. Menurut bapak Herwanto dia Kurang yakin kalau budidaya ikan lele ini berhasil, karena kurang menguntungkan. Selain itu kolam juga tidak memenuhi syarat kolam yang baik (tinggi air kurang dari satu meter). Permasalahan yang dihadapi antara lain : Banyak ikan yang mati. Tidak ada monitoring lingkungan. Benih tidak bagus. Kurang ada koordinasi antara pemilik dengan pengelola.

Pemecahannya antara lain : Ikan yang mati diambil dan dibuang menggunakan alat seadanya. Paling-paling diganti atau ditambah air kalau sudah kotor. Pengelola hanya sebagai penyangga sehingga tidak mempunyai kewenangan. Bapak Wisnu, 40 tahun. Alamat shelter : gondang 2. Daerah asal : Geblok, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Latar belakang pendidikan : STM. Pendidikan informal dan non-formal yang berhubungan dengan pembesaran ikan :Belum pernah ada pelatihan. Luas tiap kolam budidaya 6x4 meter. Jenis ikan yang dibudidayakan adalah ikan lele. Jumlah padat tebar tiap kolam kurang lebih 2500 ekor atau 50 kg tiap kolam. Banyak pakan yang diberikan di tiap kolam tiap hari kurang lebih 5 kg tiap harinya. Pengelolaan kolam budidaya shelter ini dikelola secara berkelompok. Belum pernah panen. Menurut bapak bagaimana kecenderungan keberhasilan program budidaya shelter? Kurang berhasil, karena tidak ada sosialisasi sebelumnya. Selain itu, bibit ikan yang diberikan juga tidak bagus. Permasalahan yang dihadapi antara lain : Jumlah bibit ikan yang diberikan tidak pasti sehingga tidak efisien dalam pemberian pakan. Bibit ikan yang ditebar tiap kolam tidak rata atau seimbang sehingga kolam dengan bibit tebar padat biasanya banyak ikan yang mati. Waktu penebaran kurang tepat, kadang malam hari tetapi kadang juga siang hari. Berbagai pemasalahan banyak muncul dalam setiap usaha budidaya perikanan. Permasalahan dari segi teknis masih sangat kompleks terutama adalah masih langka dan sangat terbatasnya benih-benih ikan yang sudah mendapat predikat kualitas unggul, pakan ikan (pellet) yang tersedia di toko-toko perikanan belum menunjukkan kualitas yang baik dilihat dari kandungan protein, lemak, vitamin dan masalah yang sangat riskan adalah terjangkitnya penyakit-penyakit pada ikan dan belum ditemukan solusi pencegahan yang efektif. Alternatif pemecahan dari masalah tersebut belum terwujud secara nyata dan tuntas hal ini karena keterkaitan pada pihak-pihak yang berhubungan masih kurang.Masalah langkanya benih berkualitas unggul dapat diatasi dengan adanya usaha kerjasama dengan BBI, dimana BBI terdekat dalah BBIS Cangkringan. Penyediaan pakan berkualitas sangat sulit tetapi dapat dilakukan dengan pendekatan-pendekatan pada poultry-poultry terdekat untuk menyeleksi jenis pakan yang dijual atau dengan mengkoordinir petani ikan setempat untuk bekerjasama dengan suatu badan dan atau usaha pembuatan pakan untuk mensuplay pakan yang benar-benar berkualitas. Masih sering terjangkitnya penyakit pada ikan dapat dilaukan dengan mencegah gejala timbulnya penyakit dengan selalu menjaga kebersihan

kolam, memberikan pakan berkualitas dengan intensitas dan frekuensi memberikan obat sesuai dengan petunjuk.

yang tepat,

Usaha budidaya ikan merupakan usaha yang sustainable jika benar-benar dikelola dengan baik karena adanya daya dukung yang maksimal dari lingkungan, namun jika lingkungan sudah menurun daya dukungnya akan mengakibatkan menurunnya hasil produksi. Umumnya para petani ikan di desa Wukirsari,kec.Cangkringan shelter gondang II pesimis dengan usaha budidaya mereka karena dari hari pertama tebar sampai akhir ikan pada mati. Selain itu Kendala yang mereka hadapi adalah masalah klasik yaitu dana.

BAB V PENUTUP V. KESIMPULAN DAN SARAN 1. 2. Jenis ikan yang dibudidayakan di Desa Wukirsari,kec.Cangkringan shelter gondang II adalah ikan konsumsi yaitu ikan lele. Permasalahan yang ada pada petani ikan di Desa Wukirsari,kec.Cangkringan shelter gondang II adalah adanya serangan hama dan penyakit ikan, kurangnya modal, sulitnya untuk mendapatkan lahan budidaya, dan bargaining position yang masih lemah dari petani ikan. 3. Petani ikan pada di Desa Wukirsari,kec.Cangkringan shelter gondang II memiliki respek yang baik dan optimis bahwa usaha perikanan mereka akan berkembang di masa yang akan datang. 4. Untuk praktikum PEP dimasa depan lebih baik bersifat grounded research atau semi KKN alias menginap karena butuh pendekatan dengan para petani ikan sebelum wawancara agar mereka juga member informasi tidak setengah-setengah

DAFTAR PUSTAKA