Anda di halaman 1dari 29

BAB I PENDAHULUAN Katarak masih merupakan penyebab utama kebutaan di negara berkembang.

Prevalensi kebutaan di Indonesia tahun 1998 sebesar 1,62% dengan kebutaan karena katarak sebesar 1,88%.1 Katarak terjadi karena lensa mata berubah menjadi keruh
dengan berbagai penyebab terutama proses ketuaan atau katarak senilis. Dengan bertambahnya angka harapan hidup maka diperkirakan pada tahun 2010 prevalensinya akan meningkat menjadi dua kali.1 Selain proses penuaan katarak senilis juga dipengaruhi berbagai faktor antara lain: gangguan metabolisme, penyakit sistemik, paparan sinar ultra violet-B, kurangnya intake vitamin dan mineral, indeks masa badan, riwayat pemakaian obat jangka panjang, dan asap rokok.4,5,7

Katarak adalah perubahan lensa mata yang sebelumnya jernih dan tembus cahaya menjadi keruh. Katarak menyebabkan penderita tidak bisa melihat dengan jelas karena dengan lensa yang keruh cahaya sulit mencapai retina dan akan menghasilkan bayangan yang kabur pada retina. Jumlah dan bentuk kekeruhan pada setiap lensa mata dapat bervariasi.2 Seorang penderita katarak mungkin tidak menyadari telah mengalami gangguan katarak apabila kekeruhan tidak terletak di bagian tengah lensa matanya. Namun, katarak terjadi secara perlahan-perlahan sehingga penglihatan penderita terganggu secara berangsur. Katarak tidak disebabkan oleh pemakaian mata yang berlebihan dan tidak mengakibatkan kebutaan permanen apabila diatasi dengan pengobatan atau operasi. Gejala utama adalah penglihatan mata kabur, daya penglihatan berkurang secara progressif, adanya selaput tipis yang menghalangi pandangan, sangat silau jika berada di bawah sinar cahaya yang terang, mata tidak sakit dan tidak bewarna merah. Pada pekembangan selanjutnya penglihatan semakin memburuk, lensa akan tampak bewarna putih sehingga refleks cahaya masuk pada mata menjadi negatif.3 Penderita juga merasa silau pada siang hari atau jika terkena sinar lampu mobil.4 Penglihatan pada malam hari lebih baik. 4,5,8,10

Sebagian besar katarak terjadi karena proses degeneratif atau bertambahnya usia seseorang. Usia rata-rata terjadinya katarak adalah pada umur 60 tahun keatas. Akan tetapi, katarak dapat pula terjadi pada bayi karena sang ibu terinfeksi virus pada saat hamil muda. 4,5,10 Penyebab katarak lainnya meliputi: faktor keturunan, cacat bawaan sejak lahir, masalah kesehatan, misalnya diabetes, penggunaan obat tertentu, khususnya steroid, mata tanpa pelindung terkena sinar matahari dalam waktu yang cukup lama, operasi mata sebelumnya, trauma (kecelakaan) pada mata, faktor-faktor lainya yang belum diketahui.10 Melalui anamnesis dan pemeriksaan segmen anterior mata yang baik dan benar, seorang dokter umum saja dapat mendeteksi katarak atau penyebab lain kekeruhan pada lensa dan gangguan pada mata. Masalah lain pada mata, misalnya kornea, retina dan saraf penglihatan, mungkin akan tetap mengganggu penglihatan setelah operasi katarak. Apabila tidak memberikan hasil yang lebih baik pada penglihatan, operasi katarak mungkin tidak direkomendasikan. Dokter spesialis mata akan menjelaskan berapa banyak perbaikan penglihatan akan dicapai setelah operasi katarak. Kecepatan gangguan katarak pada seseorang tidak dapat diprediksi, karena katarak pada setiap individu berbeda, bahkan perkembangannyapun berbeda antara satu mata dengan mata sebelahnya. Gangguan penglihatan yang disebabkan oleh katarak akan lebih cepat dengan bertambahnya usia seseorang. Akan tetapi pada penderita diabetes, walaupun masih berusia muda, katarak akan mengganggu penglihatan lebih cepat. Katarak dapat disembuhkan, terlebih dengan kemajuan teknologi kedokteran saat ini. Upaya pengobatan katarak yang paling efektif adalah dengan pembedahan.3 Akan tetapi jika gejala katarak tidak mengganggu, tindakan operasi tidak diperlukan. Kadang kala cukup dengan mengganti kacamata. Hingga saat ini belum ada obat-obatan, makanan, atau kegiatan olah raga yang dapat menghindari atau menyembuhkan seseorang dari gangguan katarak. Akan

tetapi melindungi mata terhadap sinar matahari yang berlebihan dapat memperlambat terjadinya gangguan katarak. Kacamata gelap atau kacamata reguler yang dapat menghalangi sinar ultraviolet sebaiknya digunakan ketika berada diruang terbuka pada siang hari. Radiasi Ultraviolet (UV B) dari matahari berperan dalam mempengaruhi kimia lensa yang selanjutnya menjadi katarak.6 Tindakan operasi perlu dilakukan apabila katarak telah menyebabkan hilangnya penglihatan atau mengganggu kegiatan rutin sehari-hari. Pencegahan utama adalah mengontrol penyakit yang berhubungan dengan katarak dan menghindari faktor-faktor yang mempercepat terbentuknya katarak. Menggunakan kaca mata hitam ketika berada di luar ruangan pada siang hari bisa mengurangi jumlah sinar violet yang masuk ke dalam mata. Berhenti merokok juga bisa mengurangi resiko terjadinya katarak.7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Definisi Katarak adalah keadaan dimana terjadi kekeruhan pada serabut atau bahan lensa di dalam kapsul lensa atau juga suatu keadaan patologis lensa dimana lensa menjadi keruh akibat hidrasi cairan lensa atau denaturasi protein
lensa. Katarak menyebabkan penderita tidak bisa melihat dengan jelas karena dengan lensa yang keruh cahaya sulit mencapai retina dan akan menghasilkan bayangan yang kabur pada retina. 2,8,10

Katarak disebabkan hidrasi (penambahan cairan lensa), denaturasi protein


lensa, proses penuaan (degenaratif). Katarak tidak jarang ditemui pada orang muda, bayi baru lahir sebagai cacat bawaan, infeksi virus (rubella) di masa pertumbuhan janin, genetik dengan pertumbuhan penyakit mata, cedera pada lensa mata, peregangan pada retina mata dan pemaparan sinar ultra violet berlebihan. Kerusakan oksidatif oleh radikal bebas, diabetes melitus, rokok, alkohol dan obatobatan steroid serta glaukoma (tekanan bola mata yang tinggi), dapat menyebabkan resiko terjadinya katarak. 3

2.2.

Klasifikasi katarak Katarak dapat diklasifikasikan dalam golongan berikut:8,9 a. katarak perkembangan (developmental) b. katarak kongenital: katarak juvenil, katarak senil c. katarak komplikata d. katarak traumatika

Penyebab terjadinya kekeruhan lensa ini dapat:8,9 1. primer, berdasarkan gangguan perkembangan dan metabolisme dasar lensa. 2. sekunder, akibat tindakan pembedahan lensa. 3. komplikasi penyakit lokal ataupun umum

Berdasarkan usia pasien, katarak dapat dibagi dalam:8,9 1. Katarak kongenital, katarak yang terlihat pada usia dibawah setahun 2. Katarak juvenil, katarak yang terlihat pada usia diatas setahun dan di bawah 40 tahun 3. Katarak pre senil, yaitu katarak sesudah usia 30 40 tahun 4. Katarak senil, yaitu katarak yang terjadi pada usia lebih dari 40 tahun Dalam perkembangannya, katarak primer dibagi menjadi: 9 1. Stadium insipien 2. Stadium imatur 3. Stadium matur 4. Stadium hipermatur (katarak Morgagni) 1. Stadium insipien Dimana mulai timbul katarak akibat proses degenerasi lensa. Kekeruhan lensa berbentuk bercak-bercak kekeruhan yang tidak teratur. Pasien mengeluh gangguan penglihatan seperti melihat ganda dengan satu matanya. Pada stadium ini proses degenerasi belum menyerap cairan mata ke dalam lensa sehingga akan terlihat bilik mata depan dengan kedalaman yang normal, iris dalam posisi biasa disertai dengan kekeruhan ringan pada lensa. penglihatan pasien belum terganggu.4 2. Stadium imatur Dimana pada stadium ini lensa yang degeneratif mulai menyerap cairan mata ke dalam lensa sehingga lensa menjadi cembung. Pada stadium ini terjadi pembengkakan lensa yang disebut sebagai katarak intumesen. Pada stadium ini terdapat miopisasi akibat lensa yang cembung, sehingga pasien menyatakan tidak perluka Tajam

camata sewaktu membaca dekat. Akibat lensa yang bengkak, iris terdorong ke depan, bilik mata dangkal dan sudut bilik mata akan sempit atau tertutup. Pada katarak imatur maka penglihatan mulai berangsur-angsur menjadi kurang, hali ini diakibatkan media penglihatan tertutup oleh kekeruhan lensa yang menebal. Pada stadium ini dapat terjadi glaukoma sekunder. Pada pemeriksaan uji bayangan iris atau Shadow test akan terlihat bayangan iris pada lensa. Uji bayangan iris positif.4 3. Stadium matur Merupakan proses degenerasi lanjut lensa. Pada stadium ini terjadi kekeruhan seluruh lensa. Tekanan cairan di dalam lensa sudah keadaan seimbang dengan cairan mata sehingga ukuran lensa akan menjadi normal kembali. Pada pemeriksaan terlihat iris dalam posisi normal, bilik mata depan normal, sudut bilik mata depan terbuka normal,dan uji bayangan iris negatif. Tajam penglihatan sangat menurun dan dapat hanya tinggal proyeksi sinar positif.4 4. Stadium hipermatur Pada stadium ini terjadi proses degenerasi lanjut lensa dan korteks lensa dapat mencair sehingga nukleus lensa tenggelam di dalam korteks lensa (katarak Morgagni). Pada stadium ini juga terjadi degenerasi kapsul lensa sehingga bahan lensa ataupun korteks lensa yang mencair keluar dan masuk ke bilik mata depan. Pada stadium hipermatur akan terlihat lensa yang lebih kecil daripada normal, yang akan mengakibatkan iris trimulans, dan bilik mata depan terbuka. Pada uji bayangan iris terlihat positif walaupun seluruh lensa telah keruh sehingga pada stadium ini disebut uji bayangan iris pseudopositif. Bayangan iris terbentuk pada kapsul lensa anterior yang telah keruh dengan lensa yang telah mengecil.

Akibat bahan lensa keluar dari kapsul, maka akan timbul reaksi jaringan uvea berupa uveitis.4,9 2.3 Katarak senil Katarak senil biasanya mulai pada usia 50 tahun. Kedua mata dapat terlihat dengan derajat kekeruhan yang sama atau berbeda. Patogenesis katarak senil sangat multifaktorial dan belum sepenuhnya dipahami. Seketika lensa menua, lensa akan bertambah berat dan ketebalannya dan menurun daya akomodasinya. Seketika lapisan serabut kortikal terbentuk secara konsentris, nukleus lensa mengalami kompresi dan pengerasan (sklerosis nuklear). Lensa protein diubah oleh modifikasi dan agregasi protein menjadi protein dengan berat molekul yang lebih tinggi. Akibat protein beragregasi menyebabkan fluktuasi tiba tiba pada indeks refraktif lensa, hamburan sinar, dan mengurangi transparansi. Modifikasi kimia dari protein lensa nuklear menyebabkan pigmentasi progressif. Lensa akan semakin menguning atau menjadi coklat seiring dengan penuaan. Perubahan lainnya pada lensa adalah menurunnya konsentrasi gluthation dan kalium, meningkatnya konsentrasi natrium dan kalsium dan meningkatnya hidrasi. Ketiga jenis katarak senil ini terbagi menjadi katarak nuklear, kortikal, subkapsuler. 4,10 Katarak Nuklear Sklerosis pada inti lensa yang menyebabkan kapasitas sentral pada lensa. Berjalan lambat, bilateral/unilateral. Inti homogen tanpa lapisan selular. Gejalanya penglihatan lebih terang bila melihat pagi hari/malam hari. Katarak Kortikal

Perubahan

komposisi

ionik

pada

korteks

lensa

yang

menyebabkan opasitas korteks. Biasanya asimetris. Gejalanya penglihatan berasap dan diplopia monoculer. Katarak Subkapsular Posterior Opasitas granular seperti plak pada korteks. Etiologi: Trauma, kortikosteroid sistemik dan topikal, inflamasi, radiasi. Gejala: Pandangan silau, visus menurun ditempat terang, diplopia monokuler.

2.4. Gambaran Klinis Gambaran klinis yang dapat ditemui antara lain adalah: 1. Penurunan ketajaman visus Katarak secara klinis relevan jika menyebabkan penurunan signifikan pada ketajaman visual, baik itu dekat maupun jauh. Biasanya akan ditemui penurunan tajam penglihatan dekat signifikan dibanding penglihatan jauh, mungkin disebabkan oleh miosis akomodatif. Jenis katarak yang berbeda memiliki tajam penglihatan yang berbeda pula. Pada katarak subkapsuler posterior dapat sangat mengurangi ketajaman penglihatan dekat menurun daripada penglihatan jauh. Sebaliknya katarak nuklear dikaitkan dengan tajam penglihatan dekat yang tetap baik dan tajam penglihatan jauh yang buruk. Penderita dengan katarak kortikal cenderung memperoleh tajam penglihatan yang baik.4,10 2. Silau Seringkali penderita mengeluhkan silau ketika dihadapkan dengan sinar langsung. Biasanya keluhan ini ditemukan pada katarak subkapsuler posterior dan juga katarak kortikal. Jarang pada katarak nuklearis.4,10 3. Sensitivitas kontras Sensitivitas kontras dapat memberikan petunjuk mengenai kehilangan signifikan dari fungsi penglihatan lebih baik dibanding menggunakan

pemeriksaan Snellen. Pada pasien katarak akan sulit membedakan ketajaman gambar, kecerahan, dan jarak ruang sehingga menunjukkan adanya gangguan penglihatan. 4,10 4. Pergeseran miopia Pasien katarak yang sebelumnya menggunakan kacamata jarak dekat akan mengatakan bahwa ia sudah tidak mengalami gangguan refraksi lagi dan tidak membutuhkan kacamatanya. Sebaliknya pada pasien yang tidak menggunakan kacamata, ia akan mengeluhkan bahwa penglihatan jauhnya kabur sehingga ia akan meminta dibuatkan kacamata. Fenomena ini disebut pergeseran miopia atau penglihatan sekunder, namun keadaan ini bersifat sementara dan terkait dengan stadium katarak yang sedang dialaminya.4,10 5. Diplopia monokuler. Pada pasien akan dikeluhkan adanya perbedaan gambar objek yang ia lihat, ini dikarenakan perubahan pada nukleus lensa yang memiliki indeks refraksi berbeda akibat perubahan pada stadium katarak. Selain itu, dengan menggunakan retinoskopi atau oftalmoskopi langsung, akan ditemui perbedaan area refleks merah yang jelas terlihat dan tidak terlalu jelas.10 2.5. Penatalaksanaan10 - Medikasi (temporer) a. Penggunaan kacamata bantu dengan koreksi akurat b. Meningkatkan cahaya pada saat membaca c. Dilatasi pupil dengan pengobatan midriasis d. Pengobatan katarak dengan penyebab DM dengan aldolase reduktase inhibitor - Alat Bantu Lihat Kekuatan Rendah a. Alat bantu lihat monokuler genggam dengan kekuatan 2,5x, 2,8x, dan 4x dapat memperjelas objek jarak jauh. Sedangkan untuk objek jarak dekat

seperti membaca menggunakan kaca pembesar dan lup teleskop. Katarak mengurangi ketajaman cahaya dan menyebabkan silau, oleh karena itu dianjurkan juga menggunakan kacamata yang berwarna dengan harapan menyerap sinar dengan spektrum warna tertentu yang menyebabkan silau tersebut.10 - Operasi Indikasi operasi katarak : 2. 3. 4. 5. 6. Mengganggu pekerjaan Rehabilitasi visus (terapetik) Diagnostik segmen posterior Mencegah komputasi (glaucoma ambiliopia) Kosmetik a. Operasi dilakukan apabila pasien meminta agar diperbaiki ketajaman penglihatannya, terapi bedah untuk penyakit mata (glaukoma karena lensa, dislokasi lensa ke bilik mata depan, atau uveitis), membantu untuk mengobati penyakit mata segmen posterior (diabetes retinopati).10 b. Pasien dengan katarak stadium lebih lanjut lebih diutamakan untuk dioperasi bila ia memiliki katarak monookuler atau binokuler. Waktu jeda untuk operasi katarak mata sebelahnya harus berbeda dan tidak boleh bersamaan untuk menjamin keamanan dan keberhasilan operasi pertama sebelum operasi kedua direncanakan. Pada pasien dengan katarak monokuler, keputusan untuk dilakukan bedah lebih kompleks. Apabila ditemui mata yang sehat tidak menunjukkan gangguan penglihatan yang berat, maka operasi dapat ditangguhkan. 10

10

Sebelum operasi harus dilakukan beberapa pemeriksaan: 1. Fungsi retina harus baik, yang diperiksa dengan tes proyeksi sinar, dimana retina disinari dari semua arah, dan arahnya itu harus dapat ditentukan oleh penderita dengan baik. 2. Tidak boleh ada infeksi pada mata dan jaringan sekitarnya. Jangan lupa melakukan tes Anel. Bila tes Anel (-) tidak boleh dilakukan operasi karena kuman dapat masuk kedalam mata. 3. Tidak boleh ada glaukoma. Pada keadaaan glaukoma, pembuluh darah retina telah menyesuaikan dengan tekanan intraokuler yang tinggi. bila dilakukan operasi, saat kornea dipotong, sekonyong-konyong tekanan intraokuler turun, pembuluh darah pecah dan timbul perdarahan hebat, dapat juga terjadi prolaps isi bulbus okuli. 4. Visus, setelah dikoreksi batasnya pada orang buta huruf 5/50 dan pada orang terpelajar 5/20. 5. Keadaan umum harus baik. tidak boleh ada hipertensi, diabetes melitus, batuk menahun dan sakit jantung.

2.6. Jenis-jenis bedah katarak 1. Insisi Linier dilakukan pada katarak cair insisis pada limbus 2 6 mm kapsul anterior di insisi, masa lensa di aspirasi penyulit: sekunder. 2. Ekstraksi Katarak Ekstra Kapsuler dilakukan pada katarak lunak insisi pada limbus 10 12 mm uveitis fakoanafilaktik, glaukoma sekunder, katarak

11

kapsulotomi anterior ekspresi nukleus dan sisa masa lensa diaspirasi keuntungan: dapat dilakukan insersi lensa tanam, mencegah prolaps badan kaca, ablasi retina, distropi kornea dan mengurangi infeksi ke intraokular. 3. Ekstraksi Katarak Intra Kapsuler biasanya dilakukan pada katarak yang keras insisi pada limbus 14 15 mm lensa dijepit dengan cryoprobe atau cryopencil pada kapsul lensa kemudian diluksasi kekanan kekiri sehingga zonulla Zinii terlepas dan lensa dapat ditarik keluar resiko terjadi prolaps badan kaca dan infeksi intraokular 4. Fakoemulsifikasi merupakan cara pembedahan paling mutakhir yang dilakukan dengan menggunakan getaran ultrasonik insisi limbus 35 mm fakofragmentasi dengan vibrasi ultrasonik irigasi dan aspirasi kepingan-kepingan lensa

2.7. Ekstraksi katarak intrakapsuler (EKIK) Operasi katarak jenis ekstraksi katarak intrakapsuler (EKIK) merupakan teknik yang dahulu sering digunakan sebelum diperkenalkannya ekstraksi katarak ekstrakapsuler (EKEK). Sejak diperkenalkannya mikroskop, sistem aspirasi bedah yang terbaru, dan lensa intraokuler maka operasi EKEK menjadi terpopuler digunakan hampir di seluruh dunia.10 Keuntungan EKIK:

12

1. 2. 3.

Tidak membutuhkan bedah tambahan karena hanya mencabut lensa Lebih sedikit dibutuhkan instrumen yang lebih canggih Perbaikan visus dapat segera dicapai setelah operasi dengan penggunaan lensa ekstraokuler sebesar 10 Dioptri

Kerugian EKIK berkaitan dengan insisi 160-180 pada limbus: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Luka yang lama sembuh Perbaikan visus yang lebih lama Astigmatisme dapat terjadi Inkarserasi iris Inkarserasi vitreous Luka kurang sempurna tertutup Edema kornea, terjadi karena endotel kornea yang terlipat selama pengangkatan lensa Edema makuler kistoid Terlepasnya retina (retinal detachment) Glaukoma sudut terbuka

Indikasi: Apabila ditemui kondisi seperti: 1. 2. 3. Kamar operasi dengan fasilitas bedah menggunakan mikroskop sangat minimal Katarak dengan stadium intumesen, hipermatur, dan katarak luksasi Apabila pada operasi EKEK ditemukan zonula Zini tidak utuh

Kontraindikasi: Operasi katarak intra kapsuler merupakan kontraindikasi absolut apabila ditemukan keadaan berikut: 1. Anak-anak dan remaja

13

2.

Ruptur kapsul traumatik

Sedangkan kontraindikasi relatif, seperti: 1. 2. 3. 4. Miopia tinggi Sindrom Marfan Katarak Morgagni Vitreous berada pada ruang anterior

2.8 Ekstraksi katarak ekstrakapsuler (EKEK) Indikasi Operasi ekstraksi katarak ekstrakapsuler dilakukan dengan pengeluaran nukleus lensa merupakan langkah besara kemajuan dalam bedah katarak modern. Pemilihan teknik ini tergantung dari ketersediaan alat, keterampilan yang dimiliki ahli bedah mata tersebut, dan ketebalan nukleus lensa tersebut.10 Operasi EKEK melibatkan pengangkatan nukleus lensa dan korteks melalui pembukaan kapsul anterior, meninggalkan kapsul posterior di tempatnya. Teknik ini memiliki beberapa keuntungan yang lebih banyak daripada operasi EKIK karena dilakukan melalui keuntungannya berupa: 1. Kurang traumatik pada endotel kornea 2. Lebih sedikit kejadian astigmatisme 3. Luka yang lebih stabil dan aman 4. Berkurangnya resiko kehilangan vitreous dari tempatnya intraoperatif 5. Mengizinkan fikasi lensa intra okuler lebih baik secara anatomis 6. Mengurangi insidensi edema makuler kistoid, terlepasnya retina, dan edema korna 7. Mengurangi mobilitas iris dan vitreous yang terjadi pada gerakan sakadik insisi yang kecil. Oleh karena itu,

14

8. Menyediakan penghalang yang mencegah terjadinya pertukaran cairan pada vitreous dengan cairan akuos 9. Mengurangi jalur bakteri melalui rongga vitreous 10. Mengurangi komplikasi jangka pendek dan jangka panjang akibat perlekatan vitreous kepada iris, kornea, dan insisi Akhirnya, akan lebih mudah dan aman dilakukannya operasi mata di kemudian hari untuk pemasangan lensa intraokuler sekunder, transplantasi kornea, perbaikan luka pada mata karena kapsul posterior yang masih dipertahankan. Kontraindikasi Operasi ekstraksi katarak ekstrakapsuler membutuhkan keutuhan zonula untuk pengangkatan nukleus dan materi korteks. Oleh karena itu, bila zonula tidak utuh maka perlu direncanakan operasi ekstraksi katarak intrakapsuler atau lensektomi pars plana.

2.9. Prosedur Preoperasi Dilatasi pupil merupakan penentu kesuksesan operasi EKEK. Obat-obatan sikloplegik atau midriasis, harus diberikan preoperasi sehingga memberikan dilatasi pupil yang efektif, sedangkan obat antiinflamasi nonsteroid dapat membantu mempertahankan dilatasi pupil selama pembedahan

2.10. Prosedur Paska Operasi Pengawasan paska operasi EKIK, afakia pada lensa dapat dikoreksi potensi visusnya dengan lensa +10D hingga +12D.

15

Sama seperti pada operasi EKIK, perlu diawasi paska operasi EKEK untuk mengevaluasi keadaan mata pasien apakah terjadi komplikasi atau mata pasien dalam keadaan tenang sesuai yang diharapkan. Hal-hal yang perlu diawasi berupa: 1. 2. 3. Ketajaman visus pada hari pertama harus konsisten dengan keadaan Kejernihan kornea dan media refraksi mata lainnya Potensi visus retina dan saraf optik refraksi awal mata pasien

Selain pengaruh visus, setelah operasi akan ditemui tanda-tanda peradangan yang merupakan keadaan yang pasti ditemui tapi dalam derajat yang minimal dan perubahan fisiologis mata. Pada hari pertama, hal-hal tersebut harus diperhatikan secara menyeluruh seperti: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Adanya edema dan eritema pada kelopak mata Flap pada konjungtiva akan mengalami injeksi dan sedikit bengkak Kornea jernih dan bebas dari striae dan edema Bilik mata depan tidak dangkal dan dalam, tidak masalah ditemui reaksi seluler ringan Kapsul posterior harus jernih dan utuh, selain itu lensa tanam harus terposisi baik dan tidak berubah posisinya Refleks merah harus kuat dan jernih Peningkatan tekanan intraokuler bisa disebabkan vitreoelastisitas yang tertahan Antibiotik topikal dan kortikosteroid dianjurkan diresepkan paska operasi Dalam 2 minggu, kenyamanan, perbaikan visus dan kenyamanan dari hari pertama seperti reaksi radang yang menurun. Pada paska operasi 6-8 minggu, refraksi menjadi stabil, selain itu kacamata dapat diresepkan bila ada perubahan.

16

Apabila ditemukan astigmatisme sepanjang sumbu insisi, maka jahitan dapat diangkat secara selektif setelah minggu keenam dengan dibantu melalui keratometri atau topografi kornea.

2.11 Anestesi untuk operasi katarak 1. Sejarah Pada awal dilakukannya bedah katarak, tidak dilakukan anestesi sama sekali. Karl Koller kemudian mempelopori anestesi kokain topikal yang diberikan pada daerah limbus di akhir tahun 1800. Anestesi retrobulber pertama kali diperkenalkan oleh Herman Knapp pada 1884 dengan cara menginjenksikan kokain 4% untuk anestesi okuler sebelum dilakukan bedah enukleasi. Teknik modern dari anestesi retrobulber diperkenalkan oleh Walter Atkinson pada 1945, yang sekarang digunakan untuk bedah intraokuler dengan anestesi lokal.10 2. Anestesi umum Anestesi umum dilakukan apabila ditemui: a. b. c. d. e. Pasien anak-anak atau remaja Pasien dengan demensia Retardasi mental Batuk yang tidak bisa dikontrol Tremor kepala

Oleh karena itu, sebelum teknik anestesi dipilih maka ahli bedah mata tersebut harus menilai intelektualitas dan status psikologis. 3. Anestesi lokal

17

Anestesi retrobulber digunakan bersama atau tanpa dilakukan anestesi regional pada saraf kranial VII (nervus fasialis). Anestesi ini akan memberikan akinesia okuler dan anestesi daerah tersebut. Anestesi retrobulber memberikan komplikasi walaupun jarang ditemukan seperti: a. b. c. d. e. f. g. Perdarahan retrobulber Penetrasi bola mata Trauma saraf optik Injeksi intravena sehingga menyebabkan aritmia jantung Injeksi intravena sehingga menyebabkan kejang Henti nafas Anestesi batang otak

Selain anestesi retrobulber, juga dikenal anestesi peribulber. Anestesi ini dilakukan melalui injeksi multipel atau tunggal. Teknik ini diketahui secara teoritis mengurangi angka kejadian cedera saraf optik dan efek samping pada SSP dari injeksi tidak sengaja pada intradural. Meskipun begitu, teknik ini tidak mengurangi kemungkinan terjadinya penetrasi bola mata dan teknik ini juga kurang efektif dibanding retrobulber untuk memberikan efek anestesi dan akinesia. Selain itu, mula kerja teknik anestesi ini juga lebih lambat. 3. Anestesi Topikal Anestesi topikal berkembang bersamaan dengan teknik insisi kornea dan implantasi lensa intraokuler untuk bedah katarak. Anestesi topikal diberikan bersamaan dengan atau tanpa sedasi intravena. Anestesi topikal juga sering dilakukan dengan lidokain bebas pengawet intrakamera. Beberapa jenis teknik termasuk penggunaan infiltrasi minimal dengan anestesi lokal. Keuntungan teknik anestesi ini adalah berkurangnya resiko perforasi okuler dan sedikitnya penggunaan sedasi intravena pada beberapa pasien. Diplopia dapat tidak

18

ditemui karena tidak ada akinesia otot okuler. Pasien dapat meninggalkan ruangan operasi tanpa harus dipandu karena tidak ada blokade kelopak mata. Karena anestesi topikal menyediakan anestesi tanpa akinesia, kerjasama pasien untuk tidak banyak bergerak sangat diperlukan. Kemudian, anestesi topikal tidak tepat digunakan pada pasien dengan situasi: a. b. c. d. e. f. g. Gangguan pendengaran Kesulitan menerjemahkan bahasa Penderita sulit mengontrol emosi selama operasi Blefarospasme Tremor kepala Nistagmus Apabila ditemui operasi akan lebih lama dari jadwal

Secara umum, hanya sedasi minimal dibutukan untuk penggunaan anestesi topikal. Ahli anestesi juga harus mengenal derajat sedasi yang dibutuhkan untuk bedah katarak dan menghindari terjadinya overdosis sedasi.

19

BAB III LAPORAN KASUS 3.1. IDENTIFIKASI Nama Umur Alamat Agama Bangsa Med. Rec : Ny. Muminah : 54 tahun : Jl. Karya I no. 260 rt 25 rw 07, Lebong Gajah , Kecamatan Sako Palembang : Islam : Indonesia :105113

Jenis Kelamin : perempuan

3.2. ANAMNESIS (autoanamnesis pada tanggal 27 desember 2007) Keluhan Utama: Kedua mata kabur sejak 2 tahun yang lalu Riwayat Perjalanan Penyakit: Sejak kurang lebih dua tahun yang lalu, penderita mengeluh mata kirinya semakin kabur. Penderita merasa pandangannya seperti melihat asap dan berkabut, penglihatan terasa silau pada siang hari (+), penglihatan lebih terang pada malam hari daripada siang hari, penglihatan kembar (-), mata merah tidak ada, kotoran mata tidak ada, mata berair-air tidak ada, nyeri kepala hebat disertai mual dan muntah tidak ada, dan nyeri pada mata kiri tidak ada. Sejak kurang lebih sepuluh bulan yang lalu, penderita masih mengalami keluhan yang sama pada mata kirinya. Mata kanan penderita juga mulai kabur, semakin lama semakin kabur, penderita merasa pandangannya seperti melihat asap dan berkabut, penglihatan terasa silau pada siang hari (+), penglihatan lebih terang pada pagi hari daripada siang hari, penglihatan kembar

20

(-), mata merah tidak ada, kotoran mata tidak ada, mata berair-air tidak ada, nyeri kepala hebat disertai mual dan muntah tidak ada, dan nyeri pada mata kiri tidak ada. Sejak kurang lebih tiga bulan yang lalu, penderita mengeluh mata kirinya hanya bisa melihat sinar, sedang mata kanannya masih bisa melihat bayangan pada jarak satu meter. Kemudian penderita berobat ke RSMH. Riwayat Penyakit Dahulu: Riwayat memakai kacamata disangkal Riwayat penyakit DM disangkal Riwayat darah tinggi disangkal Riwayat trauma pada mata disangkal 3.3. PEMERIKSAAN FISIK Status Generalis Keadaan Umum : baik Kesadaran Tekanan darah Nadi Pernafasan Temperatur : Kompos Mentis : 110/80 mmHg : 84 x/menit, reguler, isi dan tegangan cukup : 20 x/menit : 36,40C

Status Oftalmologikus OD OS

21

Visus TIO KBM GBM Segmen Anterior - Alis mata - Kelopak atas - Kelopak bawah - Bulu mata - Konjungtiva atas - Konjungtiva bawah - Konjungtiva bulbi - Kornea - BMD - Iris - Pupil - Lensa Segmen Posterior - Refleks fundus - Papil - Makula - Retina tarsal tarsal

1/300 15,6 mm Hg Ortoforia

1/ PSB 18,5 mm Hg

Tenang Tenang Tenang Tenang Tenang Tenang Tenang Jernih Sedang, jernih Gambaran baik Bulat, sentral, refleks cahaya (+), 3 mm Keruh, ST (-) (-) Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai

Tenang Tenang Tenang Tenang Tenang Tenang Tenang Jernih Sedang, jernih Gambaran baik Bulat, sentral, refleks cahaya (+), 3 mm Keruh, ST (+) (-) Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai

22

3.4. DIAGNOSIS KERJA Katarak Senilis matur OD + katarak senilis hipermatur OS. 3.5. PENATALAKSANAAN Pro EKEK + pemasangan LIO (lensa intra okuler) OS dengan anestesi topikal 3.6. RENCANA PEMERIKSAAN Keratometri Biometri Periksa Lab: Darah rutin (hemoglobin, trombosit, leukosit, waktu bekuan, waktu perdarahan), kimia klinik (gula darah sewaktu/BSS). Konsul PDLs

3.7. PROGNOSIS

Quo ad vitam
Quo ad functionam : bonam

: bonam

23

24

BAB IV ANALISIS KASUS Seorang perempuan berusia 54 tahun datang dengan keluhan kedua mata kabur sejak 2 tahun yang lalu. Penderita katarak biasanya akan didapatkan gejala klinis yaitu pandangan seperti berasap/berkabut, penurunan visus makin lama makin berat, peka terhadap sinar atau cahaya, dapat melihat dobel pada satu mata, memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca, tampak kekeruhan lensa dalam bermacam-macam bentuk, tingkat dan lokasi. Dari anamnesis didapatkan keluhan mata kirinya mulai kabur, penderita merasa pandangannya seperti melihat asap berkabut dan silau pada penglihatan di siang hari. Hal ini sesuai dengan teori bahwa pada pemeriksaan subjektif katarak, seperti: pe nurunan visus, silau, sensitivitas kontras, pergeseran miopia, sedangkan penglihatan ganda atau diplopia monokuler tidak didapatkan yang berarti keluhan ini tidak semua orang memiliki persepsi sama dan pasien ini sudah tidak menangkap objek secara detail.10 Dari pemeriksaan objektif diperoleh visus mata kanan 1/300 sedangkan visus mata kirinya 1/ PSB. RAPD pada kedua mata negatif. Secara teori, penderita katarak akan mengeluh pandangan kabur untuk melihat jauh atau dekat dan uji pinhole akan positif, sementara pada pasien ini untuk melihat jauh dan dekat mengalami kesulitan yang berarti kekeruhan pada lensa yang sulit untuk membedakan jarak dekat dan jauh dan sulit untuk dilakukan uji pinhole. Pada pasien ini ditemui Relative Afferent Pupil Defect (RAPD) negatif pada kedua pupil mata sehingga dikatakan bahwa tidak ditemukan kelainan pada jalur saraf afferen penglihatan.11 Pada pemeriksaan segmen anterior mata pada lensa ditemukan kekeruhan dengan shadow test yang negatif pada mata kanan dan shadow test positif pada mata kiri. Ini menunjukkan tanda katarak matur pada mata kanan dan hipermatur

25

pada mata kiri. Secara teori, katarak matur ditemukan shadow test yang negatif, sedangkan pada katarak hipermatur ditemukan shadow test yang positif. Pada mata kiri pasien ini dikatakan hipermatur karena didapatkan pula gambaran kerutan pada lensa selain kekeruhan dan bayangan iris yang utuh sehingga membedakannya dengan katarak imatur.4,9 Berdasarkan anamnesis dan pemeriksan fisik diatas, penderita ini didiagnosis dengan katarak senilis matur OD dan katarak senilis hipermatur OS. Untuk terapi katarak tidak ada pilihan lain selain dengan pembedahan. Pertimbangan pemilihan EKEK adalah karena ukuran insisi yang diperlukan lebih kecil sehingga timbulnya trauma pada pada endotel kornea lebih sedikit; kapsul posterior yang intak dapat menempatkan pemasangan LIO pada posisi anatomis yang lebih baik, mengurangi mobilitas iris dan vitreus, serta mengurangi insiden edema makular kistoid, ablasi retina, dan edema kornea. Kapsul posterior yang utuh juga mencegah masuknya bakteri dan mikroorganisme, yang mungkin terdapat pada bilik mata depan saat operasi, ke dalam badan vitreus dan menyebabkan endoftalmitis. Pemasangan LIO dilakukan karena dianggap lebih praktis jika dibandingkan dengan lensa kontak atau kacamata afakia yang suatu saat harus diangkat, dibersihkan atau dipasang kembali oleh pasien dan berhubungan dengan pekerjaan pasien. Selain itu, pemasangan LIO tidak ada kontraindikasi kecuali yang
orang

menderita uveitis. Pada penderita dengan uveitis, akan terjadi reaksi

proliferatif atau adhesi pada lensa tanam yang akan membentuk lapisan pupiler atau siklitik bahkan glaukoma.10 Keratometri dan biometri dilakukan persiapannya sebelum operasi untuk mengukur kekuatan kornea dan kekuatan lensa introkuler. Keduanya dilakukan agar refraksi paska operasi diharapkan mendekati atau sama dengan refraksi penglihatan orang normal.10 Prognosis pasien katarak umumnya baik karena katarak tidak mengancam struktur anatomis mata, sehingga quo ad vitam bonam.

26

Fungsi mata penderita dapat kembali normal tergantung pembedahan dan penatalaksanaan yang tepat, sehingga pada penderita ini prognosis quo ad functionam normal.10 Direncanakan EKEK + pemasangan LIO mata kiri bertujuan agar katarak dalam stadium yang lebih lanjut untuk didahulukan terlebih dahulu dengan harapan perbaikan fungsi tajam penglihatan yang sudah banyak berkurang pada mata kiri dibanding mata kanan dan pencegahan komplikasi katarak pada mata kiri berupa glaukoma fakolitik.9,10 bonam. Secara teori, apabila tidak ditemui penyulit lain seperti kontraindikasi relatif, maka fungsi penglihatan dapat dikembalikan ke penglihatan

27

DAFTAR PUSTAKA 1. Gunawan, W.S. Kadar Asam Urat Serum pada Penderita Katarak penelitian kasuskontrol. Cermin Dunia Kedokteran No. 132, 2001.

2. Anonym. http://www.erfilts.multiply.com.journalitem43-19k. American


Academy of opthamology.

3. Ana Indrayati. Mata Sehat, Bebas Katarak. http://www.pikiranrakyat.com/cetak/09042/cakrawala/utama/01.htm. diakses tanggal 3 januari 2008 4. Langston, Pavan D. Manual of Ocular Diagnosis and Therapy 5th edition (July 2002). USA.Lippincott, Williams & Wilkins 5. Yong, M.H.M. Masalah Katarak. http://www.infosihat.gov.my/Risalah/Penyakit %20Mata/Ris_Mata_Katarak_BM/katarak_BM.pdf. Diakses pada : 3 Januari 2008 6. Anonymous. Katarak. http://www.medika.blockspot.com/2007/04/katarak.html. diakses tanggal 3 januari 2008 7. Anonymous. Katarak. http://www.medicastore.com/cybermed/detail_pyk.php?iddtl=65&idktg=16. Diakses pada : 3 Januari 2008 8. James, Bruce, et al. 2006. Lecture Notes Ophtalmology, 9th eds. Jakarta: Erlangga. 9. Ilyas SD. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Edisi ke 3. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2005. 10. Daniel J, Garrett M, Straus H, et al. Lens and Cataract: Section 11. Basic and Clinical Science Course: American Academy of Ophtalmology. USA. 20012002 11. Daniel J, Garrett M, Straus H, et al. Neuroophtalmology. Basic and Clinical Science Course: American Academy of Ophtalmology. USA. 2001-2002

28

Presentasi Kasus KATARAK SENILIS

Oleh: Ary Rachmanto, S.Ked Ermalinda, S.Ked Julius Parlin, S.Ked Pembimbing: dr. Alie Solahudin, Sp.M

DEPARTEMEN MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA RUMAH SAKIT MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG 2007

29