Anda di halaman 1dari 21

PENATALAKSANAAN ABSES SEPTUM NASI PADA ANAK

Diana Sari, Abla G Irwan


Bagian IKTHT- KL FK Unsri/ Departemen KTHT-KL RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Abstrak Abses septum nasi adalah kumpulan pus yang terdapat antara tulang rawan atau tulang pada septum nasi dengan mukoperikondrium atau mukoperiosteum. Abses septum jarang ditemui dan biasanya terjadi pada laki-laki. Sebanyak 74% mengenai umur dibawah 31 tahun dan 42% mengenai umur 3-14 tahun. Lokasi yang paling sering ditemukan adalah pada bagian anterior kartilago septum. Penyebab abses septum nasi tersering karena trauma. Khususnya pada anak biasanya karena trauma minor hidung. Penyebab lainnya akibat penyebaran infeksi sinus, komplikasi operasi hidung, infeksi gigi, vestibulitis, tuberkulosis dan gangguan sistem imun. Abses septum nasi merupakan kasus emergensi yang harus ditangani sesegera mungkin. Penatalaksanaan berupa insisi dan drainase abses disertai pemberian antibiotik spektrum luas. Dilaporkan satu kasus abses septum nasi pada anak yang telah dilakukan aspirasi, insisi dan drainase secara lokal anestesi juga diberikan antibiotik intravena. Kata kunci : abses septum nasi, etiologi, penatalaksanaan

Abstract A nasal septal abscess is defined as a collection of pus between the cartilage or bony septum and its normally applied mucoperichondrium or mucoperiostium. Nasal Septal abscess is rare and usually occurs in men. As many as 74% under the age of 31 years and 42% over the age of 3-14 years. The location is most often found in the anterior septum cartilage. A nasal septal abscess common cause of abscesses due to trauma. Especially in children is usually due to minor trauma to the nose. Other causes due to the spread of sinus infection, complications of nasal surgery, dental infections, vestibulitis, tuberculosis and immune system disorders. A nasal septal abscess is emergency cases should be handled as soon as possible. The management of abscess such as needle aspiration, incision and drainage with given antibiotics board spectrum. It was reported one case of nasal septal abscess in children who had performed needle aspiration, incision and drainage with local anesthetics and intravenous antibiotics. Keywords: nasal septal abscess, etiology, treatment

PENDAHULUAN Hidung merupakan organ penting yang seharusnya mendapat perhatian lebih dari biasanya, sebagai salah satu organ pelindung tubuh terpenting terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan.1 Abses septum dikenalkan pertama kali oleh Cloquet pada tahun 1810 yang berhasil menyembuhkannya dengan cara drainase. 2 Abses septum nasi merupakan suatu kumpulan pus yang terdapat di antara kartilago atau tulang septum dengan mukoperikondrium atau mukoperiosteum. 3-7 Kasus ini sangat jarang terjadi sehingga tidak banyak dibicarakan dalam berbagai kepustakaan.3,4,5 Ambrus dkk (1981) dan Tavares dkk (2002) menyatakan 75% abses septum nasi disebabkan oleh trauma6,8 Kebanyakan abses septum nasi disebabkan oleh trauma yang kadang tidak disadari oleh pasien. Selain trauma, abses septum nasi juga dapat terjadi sebagai komplikasi dari infeksi sinus, infeksi gigi, pasca operasi hidung (septoplasti), vestibulitis dan tuberkulosis.3-6,8,9 Beberapa laporan kasus menyatakan abses septum nasi disebabkan oleh jamur pada pasien-pasien dengan gangguan sistem imun.2,8,10 Gejala abses septum nasi adalah hidung tersumbat progresif yang ditandai dengan rasa nyeri pada hidung seperti berdenyut terutama terasa dipuncak hidung. juga terdapat keluhan demam, sakit kepala dan terasa lunak pada daerah sekitar hidung.3 Penatalaksanaan abses septum nasi harus dilakukan sesegera mungkin yaitu dengan aspirasi jarum dilanjutkan dengan insisi dan drainase abses serta pemberian antibiotik spektrum luas secara parenteral.3,11,12 Abses septum harus segera diobati sebagai kasus darurat karena komplikasinya dapat berat, yaitu dalam waktu yang tidak lama dapat menyebabkan nekrosis pada tulang rawan septum sehingga menimbulkan deformitas berupa hidung pelana, retraksi kolumela, dan pelebaran dasar hidung. Bila hilangnya tulang rawan septum terjadi pada anak, maka dapat menyebabkan gangguan perkembangan wajah.7

Abses septum nasi dapat juga menyebabkan komplikasi seperti infeksi ke intrakranial dan trombosis sinus kavernosus, sehingga setiap kasus septum nasi dianggap sebagai kasus darurat yang memerlukan penaganan yang tepat dan segera. Diagnosis yang terlambat dan penatalaksanaan yang tidak tepat dapat menimbulkan komplikasi.4,5

KEKERAPAN Abses septum nasi jarang ditemui dan biasanya terjadi pada laki-laki.5,6,13 Sebanyak 74% mengenai umur dibawah 31 tahun dan 42% mengenai umur diantara 3-14 tahun. Lokasi yang paling sering ditemukan adalah pada bagian anterior kartilago septum.5 Suatu penelitian di Massachuesetts Eye and Ear Infirmy (1981) hanya menemukan 16 kasus dalam 10 tahun.5,14 Studi kasus seri di Royal Childrenss Hospital Melbourne Australia (1996) melaporkan sebanyak 20 pasien abses septum selama 18 tahun.5,15 Penelitian pada 57 anak usia kurang dari 10 tahun dengan fraktur nasal tidak ditemukan hematom ataupun abses septum.5 Blahova melaporkan sebanyak 241 anak dengan fraktur nasal, hanya 2 orang mengalami abses septum. Chukuezi mengidentifikasi sebanyak 46 anak Nigeria dengan hematom septum yang menderita abses septum.5 Abses septum nasi di RSMH berdasarkan data rawat inap pasien THT, didapatkan 1 kasus abses septum nasi dalam 2 tahun. Abses septum dapat terjadi unilateral atau bilateral tetapi belum ada laporan mengenai angka pastinya.

ANATOMI Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke belakang dipisahkan dibagian tengahnya oleh septum menjadi kavum nasi kanan dan kiri.16 Tebal septum nasi secara normal 2-4mm yang sekaligus menjadi dinding medial dari kavum nasi.5 Septum nasi dibentuk oleh tulang dan tulang rawan. Bagian tulang yang membentuk septum adalah lamina perpendikularis os etmoid, os vomer, krista nasalis os maksila dan krista nasalis os palatina. Bagian tulang rawan adalah

kartilago septum (lamina kuadrangularis) dan kolumela. Septum nasi dilapisi oleh perikondrium pada bagian tulang rawan dan periosteum pada bagian tulang, sedangkan diluarnya dilapisi oleh mukosa hidung. Bagian terbesar dari septum nasi dibentuk oleh lamina perpendikularis os etmoid posterior dan kartilago septum anterior.13,16,17, Lamina perpendikularis os etmoid membentuk sepertiga atas atau lebih septum nasi, berhubungan dengan bagian horizontal os etmoid yang bagian bawahnya bertumpu pada os vomer. Di bagian anterior dan superior berhubungan dengan os frontal dan os nasal, di posterior berhubungan dengan tonjolan os sfenoid, di postero-inferior dengan os vomer dan antero-inferior dengan kartilago septum. Vomer terletak di septum nasi bagian posterior dan inferior. Dibagian superior membentuk sendi os sfenoid dan lamina perpendikularis os etmoid, dan di bagian inferior dengan krista nasalis os maksila dan os palatina. Krus medial dari kartilago alar mayor dan prosesus nasal bawah (krista) maksila membentuk bagian anterior septum.1,16,17 Kartilago septum nasi merupakan sekeping tulang rawan tunggal yang berbentuk quadrilateral sebagai bagian anterior inferior septum nasi. Dibelakang bersatu dengan bagian tulang septum dan lamina perpendikularis os etmoid, bagian bawahnya bertumpu pada lekukan os vomer, krista maksila dan spina maksila. Periosteum dan perikondrium dari tulang rawan septum dihubungkan oleh jaringan konektif yang dibentuk oleh ligamentum yang memungkinkan terjadinya gerakan dari tulang tersebut.1

Gambar 1. Anatomi septum nasi. 1. Kartilago kuadrangularis. 2. Os nasal. 3. Lamina perpendikularis os etmoid. 4. Vomer. 5. Krista nasalis os palatina 6. Krista nasalis os maksila. 7. Kolumela (Dikutip dari Bailey Head and Neck Surgery Otolaryngology 2006)

Perdarahan Perdarahan hidung sebagian besar berasal dari arteri karotis eksterna dan interna. Arteri sfenopalatina (cabang dari arteri maksilaris dan arteri karotis eksterna) dan arteri palatina desendens memperdarahi bagian posteroinferior septum sedangkan bagian anterosuperior septum dan dinding lateral memperoleh perdarahan dari arteri etmoidalis anterior dan posterior. Arteri palatina mayor (juga cabang arteri maksilaris) melalui kanalis insisivus menyuplai darah ke bagian anteroinferior. Cabang arteri labialis superior (cabang arteri fasialis) menyuplai bagian anterior tuberkel septum. Pada bagian kaudal septum yatiu tepat di belakang vestibulum terdapat pleksus Kiesselbach yang merupakan anstomosis dari arteri sfenopalatina, arteri etmoidalis anterior dan arteri palatina mayor. Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan dengan arteri. Vena pada vestibulum dan struktur luar hidung mempunyai hubungan dengan sinus kavernosus melalui vena oftalmika superior. 13,16,18,19

Gambar. 2 Perdarahan septum nasi (Dikutip dari Anatomy of The Nose and Paranasal Sinuses. Scott and BrownsOtolaryngology 1997 )

Persarafan Bagian anterior dan superior rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari nervus etmoidalis anterior yang merupakan cabang dari nervus nasosiliaris yang berasal dari nervus oftalmikus (n.V-1). Rongga hidung lainnya, sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari nervus maksila melalui ganglion sfenopalatinum.1,16,20 Ganglion sfenopalatinum selain memberikan persarafan sensoris, juga memberikan persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa hidung. Ganglion ini menerima serabut sensoris dari nervus maksila (n.V-2), serabut

parasimpatis dari nervus petrosus profundus. Disamping mempersarafi hidung, ganglion sfenopalatina mempersarafi kelenjar lakrimalis dan palatum.18,21
6

Gambar 3. Persarafan septum nasi ((Dikutip dari Anatomy of The Nose and Paranasal Sinuses. Scott and Browns Otolaryngology 1997)

ETIOLOGI Menurut Ambrus dkk (1981) terjadinya abses septum nasi paling sering ditemukan akibat trauma pada hidung (75%).14 Keadaan ini dapat terjadi akibat kecelakaan, perkelahian maupun olahraga. Trauma dapat mengakibatkan luka pada mukosa septum sehingga dapat menyebabkan hematom septum nasi. Tiga sampai lima hari setelah terjadi hematom septum nasi, hematom mengalami infeksi sekunder sehingga terjadi abses septum nasi.11 Hematom septum nasi pada dewasa terjadi akibat trauma wajah yang bermakna dan fraktur hidung. Pada anak, hematom septum nasi ditemukan pada trauma minor hidung seperti berkelahi, jatuh dari sepeda, benturan bola ke muka atau benturan dengan objek keras. Hematom septum nasi dengan atau tanpa trauma harus tetap dicurigai akibat kekerasan pada anak (child abuse) terutama bayi dan anak kecil.2,11,14

Penyebab lain adalah akibat penyebaran dari sinusitis etmoid dan sinusitis sfenoid. Beck (1945) melaporkan suatu kasus abses septum nasi sebagai komplikasi dari sinus etmoid.5,8 Collins (1985) juga melaporkan kasus abses septum nasi yang disebabkan oleh sinusitis sfenoid akut.5,8 Abses septum nasi juga dapat terjadi akibat komplikasi dari operasi hidung. Lo (2004) menemukan 7% abses septum disebabkan trauma akibat tindakan septomeatoplasti.22 Disamping itu dapat juga akibat penyebaran dari infeksi gigi.5,8 Da Silva (1982) melaporkan 2 kasus abses septum nasi akibat infeksi gigi.5 Ozan, Polat dan Heler (2006) juga melaporkan 1 kasus yang disebabkan infeksi gigi.4 Penyebab lain abses septum nasi adalah vestibulitis (13,4%) dan yang tidak diketahui penyebabnya (6,7%).6 Menurut Singh dkk (2004) abses septum nasi dapat disebabkan oleh tuberkulosis hidung.23 Penelitian Walker dkk (2007) melaporkan 1 abses septum nasi yang disebabkan oleh jamur pada pasien dengan ganguan sistem imun.2

PATOFISIOLOGI Patofisiologi abses septum nasi biasanya tergantung dari penyebabnya. Beberapa mekanisme untuk terjadinya abses septum nasi yaitu hematom septum yang terinfeksi, penyebaran langsung infeksi sepanjang permukaan jaringan, infeksi gigi, penyebaran melalui pembuluh darah vena ke orbita dan sinus kavernosus.5 Trauma pada hidung menyebabkan pembuluh darah di sekitar tulang rawan robek, sehingga darah akan berkumpul diantara tulang rawan dan mukoperikondrium yang melapisinya menyebabkan tulang rawan mengalami penekanan, nekrosis sehingga tulang rawan jadi destruksi. Hematom ini merupakan media yang sangat mudah terinfeksi dan menimbulkan proses supurasi yang berkembang menjadi abses. Abses septum nasi dapat mengakibatkan nekrosis tulang rawan septum oleh karena menghalangi suplai darah ke tulang rawan septum nasi. jika sudah terjadi nekrosis akan menyebabkan terjadinya perforasi, sehingga proses supurasi yang semula unilateral menjadi bilateral.

Destruktif tulang membentuk kavitas yang akan diisi oleh jaringan ikat. Hilangnya sebagian besar jaringan penyokong bagian bawah hidung dan adanya retraksi jaringan parut akan menyebabkan terjadinya deformitas hidung berupa hidung pelana dan retraksi kolumela.5 Penyebaran langsung sepanjang permukaan jaringan yang berasal dari infeksi sinus. Lamina perpendikularis os etmoid merupakan jalan masuk langsung bila terdapat infeksi dari sinus frontal dan sphenoid ke etmoid kemudian septum hidung.8 Huang dkk (2006) menduga abses septum nasi yang disebabkan oleh infeksi sekunder dari sinus terjadi karena tidak adanya katup pada sistem vena pada sinus-sinus yang menyebabkan hubungan bebas dengan bakteriemia atau tromboflebitis sepsis.3,5,6 Infeksi gigi dapat menyebabkan abses septum nasi melalui penyebaran langsung. Gigi taring bagian atas secara anatomi dekat dengan dasar hidung yang menjelaskan fakta bahwa abses gigi taring dapat menonjol ke dasar hidung.4,5 Abses septum nasi yang disebabkan oleh tuberkulosis dapat terjadi sebagai infeksi lokal atau manifestasi sekunder dari tempat lain.24 Pada fase awal infeksi, organisme ini melalui aliran darah akan mencari sistem limfe dan organ lain, meninggalkan fokus yang akan menimbulkan gejala klinis dalam waktu lama.23

DIAGNOSIS Anamnesis Hidung tersumbat yang progresif merupakan gejala yang paling sering ditemukan pada abses septum nasi. Gejala lainnya adalah nyeri pada hidung seperti berdenyut terutama di puncak hidung, lesu, demam, sakit kepala dan terasa lunak pada daerah sekitar hidung.3,4,5,12 Gejala yang timbul tergantung penyebab abses septum nasi. Oleh karena itu perlu ditanyakan kemungkinan-kemungkinan penyebab abses septum nasi seperti riwayat trauma, adanya gejala-gejala sinusitis, operasi hidung, riwayat sakit gigi, riwayat mencabut bulu hidung, riwayat batuk lama juga riwayat penyakit atau tindakan sebelumnya.3,4,5,12

Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik didapatkan tampak hidung bagian luar (apeks nasi) hiperemi, oedem, dan kulit mengkilat. Didapatkan nyeri pada sentuhan. Rinoskopi anterior tampak pembengkakan septum nasi baik unilateral maupun bilateral terutama pada bagian anterior dengan warna yang bervariasi dari abu-abu sampai ungu kemerahan, pada sentuhan terasa lunak, perabaan menggunakan benda tumpul pembengkakan terasa fluktuatif. Pemberian kapas yang dibasahi dengan solutio tetrakain efedrin 1% tidak mengempis.3,4,5,11,12,14 Selain itu juga diperiksa nyeri tekan pada sinus, keadaan gigi-geligi dan pemeriksaan lain yang berhubungan dengan kemungkinan penyebab abses septum nasi.3,4,5,12 Tindakan pungsi dan aspirasi berguna untuk membantu menegakkan diagnosis dan pemeriksaan kultur, selain itu juga dapat mengurangi tekanan dalam abses dan mencegah terjadinya infeksi intrakranial.3 Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang dilakukan untuk mencari penyebab abses septum nasi yang akan berkaitan dengan terapi, juga untuk melihat sejauh mana terjadinya komplikasi. Pemeriksaan yang rutin dilakukan adalah laboratorium, foto toraks, foto sinus paranasal dan kultur resistensi pus. Selain itu dapat dilakukan pemeriksaan tomografi komputer.3,4,5,12

MIKROBIOLOGI Stafilokokus aureus adalah organisme yang paling sering didapat dari hasil kultur pada abses septum.3 Kadang-kadang ditemukan Streptkokus pneumonia, Streptokokus mileri, Streptokokus viridian, Stafilokokus epidermidis, Streptockcus hemolitikus, Haemofilus influenzae dan organisme anaerob.3,4,5,11 Penelitian Tavares dkk (2002) melaporkan sebanyak 42,9% dari hasil kultur adalah Stafilokokus aureus, selain itu juga ditemukan bakteri Streptokokus viridan (21,4%), Enterokokus fekalis (7,1%) dan Streptokokus piogens (7,1%).6,26

10

Brook (1998) dalam penelitiannya melaporkan Peptostreptokokus magnus, Pretovella intermedia dan Peptostreptokokus anarobius sebagai bakteri penyebab abses septum nasi.25 Spesies Aktinomises, Aspergillius flavus dan mungkin Kandida,

Kriptokokus, Trikosporan, Kokidiodes imitis, Blastomises dermatidis dan Histoplasma kapsulatum dapat ditemukan pada hasil kultur.9,27

KOMPLIKASI Komplikasi berhubungan dengan perkembangan wajah pada anak, karena kartilago berguna untuk menunjang hidung dan perkembangan wajah.4,5 Komplikasi dari abses septum nasi dapat berupa estetik maupun intrakranial. Komplikasi estetis berupa deformitas hidung (saddle nose) yang disebabkan oleh nekrosis kartilago sehingga terjadi kerusakan sebagian besar jaringan penyokong bagian bawah hidung.4,5 Perforasi septum nasi yang disebabkan oleh karena abses dapat menyebabkan terjadinya kavitas yang kemudian diisi jaringan ikat menyebabkan terjadinya retraksi, jaringan parut, kemudian menyebabkan terjadinya retraksi kolumela. Ada laporan bahwa hidung ras kulit hitam lebih resisten untuk terjadinya deformitas kosmetik dibandingkan hidung ras Kaukasia.26 Penyebaran infeksi dari septum dapat terjadi ke mata, meningen, sinus kavernosus dan otak. Berdasarkan literatur didapatkan beberapa infeksi intrakranial yang berhubungan dengan abses septum nasi. Komplikasi termasuk meningitis bakteri, abses otak dan empiema subaraknoid dan trombosis sinus kavernosus.11

PENATALAKSANAAN Abses septum nasi merupakan kasus emergensi yang harus ditangani sesegera mungkin. Pertama kali disarankan untuk melakukan aspirasi jarum sebelum melakukan insisi dan drainase abses, kemudian dikirim untuk pewarnaan, kultur dan resistensi tes.3,5,6,7

11

Langkah selanjutnya adalah insisi dan drainase. Beberapa peneliti menyarankan pemasangan drain untuk mencegah reakumulasi pus dan peneliti lain menyarankan pemasangan tampon hidung.5 Insisi dapat dilakukan dengan anestasi lokal atau anestasi umum. Insisi di buat vertikal pada daerah yang paling berfluktuasi, diusahakan sedekat mungkin dengan dasar hidung agar pus dapat keluar semua. Insisi abses dapat unilateral atau bilateral, kemudian dilakukan evakuasi pus, bekuan darah, jaringan nekrotik dan jaringan granulasi sampai bersih, kemudian dilanjutkan dengan pemasangan drain. Drain yang dipasang dapat berupa pipa (penrose drain) yang dijahit pada tempat insisi atau drain dari karet. Drain dipertahankan sampai 2-3 hari, jika drain masih diperlukan dapat dipertahankan.13 Pada kedua rongga hidung dipasang tampon anterior setelah dilakukan insisi dan pemasangan drain, tampon anterior tiap hari diganti dan dipertahankan selama 2 sampai 3 hari. Bila pus masih ada luka dibuka lagi.3,5 Pemberian antibiotik spektrum luas untuk gram positip dan gram negatip serta kuman anaerob dapat diberikan secara parenteral. Sebelum diperoleh hasil kultur dan tes resistensi dianjurkan untuk pemberian preparat penisilin intravena dan terapi terhadap kuman anaerob. Pada kasus tanpa komplikasi, terapi antibiotik parenteral diberikan selama 3-5 hari dan dilanjutkan dengan pemberian oral selama 7-10 hari.3,5 Bila terjadi destruksi kartilago septum nasi maka rekonstruksi harus segera dilakukan untuk mempertahankan punggung septum nasi dan mukosa septum, menghindari perforasi dan mencegah kelainan perkembangan muka. Selain itu sumber infeksi abses septum nasi juga harus diobati.13

LAPORAN KASUS Seorang anak perempuan usia 10 tahun berasal dari luar kota datang ke poliklinik THT RSMH Palembang dengan keluhan utama benjolan kemerahan di bagian tengah hidung kanan dan kiri disertai keluhan tambahan nyeri seperti berdenyut di puncak hidung. Anamnesis didapatkan lebih kurang tiga minggu sebelum masuk rumah sakit pasien mengalami pilek tanpa disertai batuk dan

12

demam serta terasa gatal pada hidung. Karena gatal pasien sering mengorekngorek hidungnya. Dua hari kemudian pasien mengeluh bengkak di bagian tengah kedua hidungnya dan nafas agak tersumbat disertai hidung terasa membengkak. Saat itu pasien mengeluh demam yang tidak terlalu tinggi. Lalu pasien berobat ke bidan, dinyatakan infeksi saluran nafas atas dan diberi empat macam obat yang tidak bermerk. Dua minggu sebelum masuk rumah sakit pasien merasa bengkak ditengah hidungnya semakin hari semakin merah, nyeri, hidung semakin terasa tersumbat disertai demam tinggi kemudian pasien berobat ke dokter dan diberi obat tiga macam. Satu minggu sebelum masuk rumah sakit pasien merasa demam dan nyeri berkurang, bengkak di bagian tengah hidung masih merah dan hidung terasa lebih tersumbat lalu pasien berobat ke RSMH. Pasien tidak mengeluh terlalu sering bersin-bersin di pagi hari, riwayat trauma, sering nyeri di daerah bawah mata, pangkal hidung dan dahi, terasa ada ingus mengalir ke tenggorok, hidung bau, operasi hidung, infeksi gigi, batukbatuk lama disangkal. Pada pemeriksaan fisik hidung luar terdapat deformitas pada hidung berupa pembengkakan pada apeks nasi dan dorsum nasi. Rinoskopi anterior tampak kavum nasi dekstra dan sinistra sempit, sekret mukopurulen, konka inferior eutropi, bengkak berwarna merah sebelah kanan lebih besar dari kiri pada anterior septum nasi dan terasa nyeri. Pada waktu perabaan terdapat fluktuasi pada daerah yang bengkak. Pemeriksaan fisik lainnya tidak ditemukan kelainan. Tidak ditemukan infeksi gigi dan infeksi sinus.

13

Gambar 4. Abses septum nasi sebelum penatalaksanaan.

Untuk diagnostik dilakukan aspirasi jarum pada daerah fluktuatif di kavum nasi dekstra dan didapatkan pus 3cc. Pus lalu dikirim ke laboratorium untuk pemeriksaan kultur dan resistensi tes. Pasien didiagnosis dengan abses septum nasi dan di rawat inap di bangsal THT RSMH Palembang. Satu hari setelah dirawat dilakukan insisi abses dengan anestesi lokal. Dilakukan aspirasi jarum pada abses septum nasi sinistra di daerah yang paling fluktuatif didapatkan pus bercampur darah sebanyak 3cc, kemudian dilakukan insisi secara Killian. Insisi diperdalam dengan klem. Dilakukan evakuasi pus dan bekuan darah didapatkan 10cc. Jaringan nekrotik dan jaringan granulasi dikeluarkan sampai bersih. Dilakukan penekanan abses septum kanan kearah kiri. Kemudian kartilago septum dievaluasi dan tidak ditemukan adanya nekrosis, lalu dipasang drain karet dan tampon hidung anterior kearah septum pada kedua kavum nasi.

14

Gambar 5. Abses septum nasi intra-operatif

Hasil foto toraks tidak ditemukan kelainan, hasil foto sinus paranasal tampak massa berdensitas jaringan lunak yang mengisi kavum nasi kanan dan kiri. Tidak tampak tanda-tanda sinusitis. Hasil laboratorium lekosit 10.400/ul. Pasien diberikan antibiotik sefotaksim 2x250mg intravena. metronidazole 3x250mg intravena dan analgetik parasetamol 3x250mg peroral. Tiga hari setelah insisi dan drainase abses septum nasi, drain dilepas. Tampak septum nasi hiperemis, bengkak minimal dan tidak fluktuatif, luka insisi kering. Tampon anterior dipasang kembali pada kedua kavum nasi, obat-obat sebelumnya dilanjutkan. Hari keenam pasca insisi dan drainase abses, tampon anterior dilepas. Tampak kavum nasi dekstra dan sinistra lapang, konka inferior eutropi, septum nasi hiperemis minimal, tidak dijumpai pembengkakan dan perforasi.

15

Gambar 6. Hari keenam pasca insisi dan drainage abses.

Hasil kultur resistensi didapatkan Stafilokokus aureus yang sensitif dengan sefotaksim. Setelah dirawat selama tujuh hari pasien dipulangkan dengan diberikan antibiotik oral amoksisilin 3x250mg selama tujuh hari. Satu bulan setelah dirawat, pasien kontrol ulang ke poliklinik THT RSMH Palembang, tidak ada lagi keluhan hidung tersumbat, tidak ada kemerahan pada septum dan tidak ditemukan komplikasi berupa perforasi septum nasi dan hidung pelana.

Gambar 7. Kavum nasi satu bulan setelah insisi dan drainase abses.

16

DISKUSI Dilaporkan satu kasus abses septum nasi pada seorang anak perempuan berusia 10 tahun. Berdasarkan kepustakaan kasus abses septum nasi merupakan kasus yang jarang. Biasanya pada laki-laki dan 74% mengenai umur di bawah 31 tahun. Kasus umur 3-14 tahun sebanyak 42%.5 Anamnesis didapatkan keluhan utama pasien adalah benjolan kemerahan di bagian tengah hidung kanan dan kiri disertai nyeri di puncak hidung, hidung tersumbat progresif, demam dan sakit kepala. Gejala tersering abses septum nasi adalah hidung tersumbat yang progresif disertai nyeri berdenyut di puncak hidung, lesu, demam, sakit kepala dan terasa lunak pada daerah sekitar hidung.3,4,5,12 Anamnesis juga didapatkan pada pasien riwayat penyakit sebelumnya pilek tanpa disertai batuk dan demam serta terasa gatal pada hidung sehingga pasien sering mengorek-ngorek hidungnya. Riwayat trauma, nyeri di daerah bawah mata, pangkal hidung dan dahi, terasa ada ingus mengalir ke tenggorok, hidung bau, operasi hidung, infeksi gigi, batuk-batuk lama disangkal oleh pasien. Menurut Ambrus dkk (1981) 75% abses septum nasi disebabkan oleh trauma.14 Pada pasien ini terjadi trauma pada hidung yaitu sering mengorek hidung mengakibatkan luka pada mukosa septum sehingga terjadi hematom yang mengalami infeksi sekunder sehingga terjadi abses septum nasi. Banyak penyebab lain terjadinya septum nasi tetapi pada pasien ini tidak ditemukan. Pemeriksaan fisik didapatkan hiperemi, oedema dan kulit mengkilat pada apeks dan dorsum nasi. Rinoskopi anterior tampak bengkak berwarna merah di sebelah kanan dan kiri pada anterior septum nasi. Perabaan terasa nyeri dan fluktuatif. Hal ini sesuai dengan kepustakaan bahwa tampak deformitas pada hidung luar disertai pembengkakan septum nasi baik unilateral maupun bilateral terutama pada bagian anterior dengan warna bervariasi dari abu-abu sampai ungu kemerahan pada sentuhan lunak dan fluktuatif. 3,4,5,11,12,14 Pada pasien ini dilakukan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan laboratorium darah rutin dan kimia darah, radiologi toraks dan sinus paranasal. Hal ini sesuai kepustakaan, pemeriksaan penujang bertujuan untuk mencari

17

penyebab

yang berhubungan dengan terapi juga untuk melihat kemungkinan

komplikasi. 3,4,5,12 Penatalaksanaan pada pasien ini berupa aspirasi jarum dilanjutkan insisi dan drainase dengan anestesi lokal kemudian dipasang drain dan tampon hidung anterior. Pemberian antibiotik sefotaksim dan metronidazole intravena dilanjutkan amoksisilin per oral. Sesuai dengan kepustakaan, abses septum nasi merupakan kasus emergensi yang harus ditangani sesegera mungkin berupa aspirasi jarum, insisi, drainase dan pemasangan tampon anterior hidung juga antibiotik gram positip dan gram negatip secara intravena selama 3-5 hari dilanjutkan pemberian antibiotik oral selama 10 hari.3,5 Hasil kultur resistensi pus didapatkan Stafilokokus aureus yang sensitif dengan sefotaksim. Menurut penelitian Tavares dkk (2002) sebanyak 42,5% hasil kultur adalah Stafilokokus aureus.6 Satu bulan setelah tindakan insisi dan drainase abses septum nasi, pada pasien ini tidak ditemukan lagi hidung tersumbat dan kemerahan pada septum juga komplikasi berupa perforasi dan hidung pelana. Jadi pada kasus ini tidak ditemukan komplikasi meskipun kasus ini terlihat salah dan telat didiagnosis karena awalnya dianggap infeksi saluran pernafasan atas lalu diobati. Penyakit terus berlanjut sehingga terjadi abses septum nasi. Dikarenakan penatalaksanaan yang cepat dan tepat maka tidak menimbulkan komplikasi.

18

DAFTAR PUSTAKA

1. Hilger PA. Hidung : Anatomi dan Fisiologi Terapan. Boies Buku Ajar Ilmu Penyakit THT. Edisi 6, Philadelphia, Saunders 1996:173-189 2. Walker R, Gardner L, Sindwani R. Fungal Nasal Septal Abscess in The Immunocompromised Patient. Otolaryngology-Head and Neck Surgery 2007;136:506-507. 3. Huang PH, Chiang YC, Yang TH dkk. Clinical Photograph Nasal Septal Abscess. Otolaryngology-Head and Neck Surgery 2006;135:335-336. 4. Ozan F, Polat S, Yeler H. Nasal Septal Abscess Caused by Dental Infection: A Case Report. The Internet Journal of Otorhinolaryngology 2006;4:2. 5. Santiago R, Villalonga P, Maggioni A. Nasal Septal Abscess: A Case Report International Pediatrics 1999;14:229-231. 6. Tavares RA, Neves MC, Angelico FV dkk. Septal Haematoma and

Abscess: Study of 30 Cases. Brazilian Journal of Otorhinilaryngology 2002;66:800-803. 7. Debnam JM, Gillenwater AM, Ginsbuerg LE. Nasal Septal Abscess In Patients with Immunosuppresion. Dept of Radiology and Head and Neck Surgery 2007;28:1878-1879. 8. Brain D. The Nasal Septum. In: Scott and Browns Otolaryngology. 6th ed. Great Britain: Butterworth-Heinemann 1997;4:11:p1-2. 9. Jafek BW, Dodson BT. Nasal Obstruction. In: Bailey BJ ed. Head and Neck Surgery Otolaryngology. 3rd ed. Philadelpia: Lippincit-Raven 2001:p306. 10. Atherino CCT, Mirelles RC, Moreira LAS. Nasal Septal Abscess Due to Dental Prothesis. Head and Neck Surgery Otolaryngology 1996;121:235. 11. Savage RR, Valvich C. Hematoma of The Nasal Septum. Pediatrics in Review 2006;27:478-479.

19

12. Huizing EHG, de Groot JAM. Septal Hematoma and Abscess. In: Functional Reconstructive Nasal Surgery. 1st ed. New York: Thieme, 2003:p177-178. 13. Lee KJ. The Nose and Paranasal Sinuses. Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery 9th ed. 2008;402-412. 14. Ambrus PS, Eavey MD, Baker AS et al. Management of Nasal Septal Abscess. The Laryngoscope 1981;91:575-582. 15. Canty PA, Berkowitz RG. Haematoma and Abscess of The Nasal Septum in Children. Head and Neck Surgery Otolaryngology 1996;122:13731376. 16. Soetjipto D, Wardani RS. Sumbatan Hidung. Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT-KL. Edisi ke-6. Balai Penerbit FKUI, Jakarta 2007; 118-125 17. Walsh WE, Kern RC. Sinonasal Anatomy, Function, and Evaluation.In : Bailey Head and Neck Surgery Otolaringology. 4th ed. Philadelphia: Lippincot-Raven, 2006 :p:315 18. Lund VJ. Anatomy of The Nose and Paranasal Sinuses. In: Scott and Browns Otolaryngology. 6th ed. Great Britain: Butterworth-Heinemann, 1997;1;5:p11-14. 19. Becker W, NaumannHH, Pfaltz CR. Nose, Nasal Sinuses, and Face. In: Ear, Nose and Throat disease, A Pocket Reference. 3rd ed. New York: Thieme, 1989:p170-180. 20. Ballenger JJ. Hidung dan Sinus Paranasal. Edisi 13. Philadephia : Lea dan Febiger, 1994; 1-25. 21. Probst R, Grevers G, Iro H. Basic Anatomy of The Nose, Paranasal Sinuses, and Face. In: Basic Otorhinolaryngology. 1st ed. New York: Thieme, 2006:p2-7. 22. Lo SH, Wang PA. Nasal Septal Abscess as a Complication of Laser Inferior Turbinectomy. Original Article. Chang Gung Med Journal 2004;27:5:390-392. 23. Singh M, Singh R, Sonsale AP. Tubercular Septal Abscess. BHJ Journal 2004;4602:243.

20

24. Gray H. Nasal Anatomy and Function. Rhinoplasty 4 You 2005 (cited 2010 December 22) Available from www.newimage.com. 25. Brook I. Recovery of Anaerobic Bacteria from A Post Traumatic Nasal Septal Abscess-A Report of Two cases. Ann Otol Rhinol Laryngol 1998;959-960. 26. Mcdonald TJ. Manifestasions of Systemic Diseases of The Nose. In: Cummings CW ed. Otolaryngology-Head and Neck Surgery. 3rd ed. America: Mosby-Year, 1999:p848-849. 27. Kingdom TT, Tami TA. Actinomycosis of The Nasal Septum in A Patient Infected with The Human Immunodeficiency Virus. Otolaryngology-Head and Neck Surgery 1994;111:130-133.

21