Anda di halaman 1dari 33

REFERAT CAMPAK

PEMBIMBING dr. H. Budi Risjadi,SpA,Mkes

PENYUSUN

Zerviani Oktavinda
FKM Ilmu Kesehatan Anak RSUD Soreang Bandung Periode (24 Januari 2012- 23 Maret 2012)

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan penyusunan referat ini yang berjudul Campak. Referat ini penulis susun untuk melengkapi tugas di Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak RSD Soreang. Penulis mengucapkan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dr. Budi Risjadi, Sp.A, Mkes yang telah membimbing dan membantu penulis dalam melaksanakan kepaniteraan dan dalam menyusun referat ini. Penulis menyadari masih banyak kekurangan baik pada isi maupun format referat ini. Oleh karena itu, segala kritik dan saran penulis terima dengan tangan terbuka. Akhir kata penulis berharap referat ini dapat berguna bagi rekan-rekan serta semua pihak yang ingin mengetahui sedikit banyak tentang Campak.

Soreang, Januari 2012

Penyusun
2

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.1 DAFTAR ISI2 BAB I. PENDAHULUAN...3 BAB II. CAMPAK......4 2.1 Definisi...4 2.2 Epidemiologi..5 2.3 Etiologi...6 2.4 Patogenesis.8 2.5 Patofisiologi...9 2.6 Kriteria Diagnosis....11 2.7 Diagnosis Banding...12 2.8 Pemeriksaan Penunjang...13 2.9 Komplikasi...14 2.10 Terapi.15 2.11 Pencegahan18 2.12 Prognosis21 BAB III. KESIMPULAN...22 DAFTAR PUSTAKA26

BAB I PENDAHULUAN Campak merupakan penyakit menular akut dari saluran pernafasan yang disebabkan oleh virus, dan ditandai dengan 3 stadium, yaitu : stadium prodromal, stadium erupsi, dan stadium konvalesens.2 Campak merupakan penyakit dengan insidensi yang tinggi pada anak dapat berakibat serius bahkan fatal, serta ditemukan endemis di sebagian besar dunia. Penyakit ini menular dengan cepat pada populasi yang belum memiliki imunitas terhadap campak. Pada tahun 1970, terjadi wabah campak di pulau Lombok (dilaporkan 330 kematian di antara 12.107 kasus) dan pulau Bangka (65 kematian di antara 407 kasus). 4 Menurut kelompok umur kasus campak yang rawat inap di rumah sakit selama kurun waktu 5 tahun (1984-1988) menunjukkan proporsi yang terbesar dalam golongan umur balita dengan perincian 17,6 % berumur < 1 tahun, 15,2 % berumur 1 tahun, 20,3 % berumur 2 tahun, 12,3 % berumur 3 tahun dan 8,2 % berumur 4 tahun.4 Hampir semua anak Indonesia yang mencapai usia 5 tahun pernah terserang penyakit campak, walaupun yang dilaporkan hanya sekitar 30.000 kasus pertahun. Kejadian luar biasa campak lebih sering terjadi di daerah pedesaan terutama di daerah yang sulit di jangkau oleh pelayanan kesehatan, khususnya dalam program imunisasi. Di daerah transmigrasi sering terjadi wabah dengan angka kematian yang tinggi. Di daerah perkotaan khusus, kasus campak tidak terlihat, kecuali dari laporan rumah sakit. Hal ini tidak berarti bahwa daerah urban terlepas dari campak. Daerah urban yang padat dan kumuh merupakan daerah rawan terhadap penyakit yang sangat menular seperti campak. Daerah semacam ini dapat merupakan sumber kejadian luar biasa penyakit campak.4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 DEFINISI Campak merupakan penyakit menular akut yang disebabkan oleh virus dan secara khas terdiri dari tiga stadium, yaitu stadium prodromal, erupsi, dan konvalesens.3 Penyakit ini umumnya menyerang anak dan sangat mudah menular. Seseorang yang menderita campak dapat menularkan pada 90% orang yang belum mendapat imunisasi apabila kontak dengannya3. Manusia merupakan satu-satunya reservoir untuk campak. Oleh karena itu penyakit ini sebenarnya dapat dieradikasi, sebagaimana smallpox4. Campak (measles, Ing.) disebut juga rubeola ( nama ilmiah ). Nama lainnya yaitu : hard measles, red measles, seven-day measles, eight-day measles, nine-day measles, 10day measles, dan morbili. Penyakit ini sering salah diartikan dengan rubella, yang merupakan nama ilmiah dari campak German, yang disebabkan oleh virus yang berbeda5.

Gambar: pasien campak13

2.2 EPIDEMIOLOGI Di Indonesia, menurut survey kesehatan rumah tangga (SKRT) campak menduduki tempat ke-5 dalam urutan 10 macam penyakit utama pada bayi (0,7 %) dan tempat ke-5 dalam urutan 10 macam penyakit utama pada anak usia 1-4 tahun (0,77%). Pengalaman menunjukkan bahwa epidemic campak di Indonesia timbul secara tidak teratur. Di daerah perkotaan epidemic campak terjadi setiap 2-4 tahun. Wabah terjadi pada kelompok anak yang rentan terhadap campak, yaitu di daerah dengan populasi balita banyak mengidap gizi buruk dan daya tahan tubuh yang lemah. Telah diketahui bahwa campak menyebabkan penurunan daya tahan tubuh secara umum, sehingga mudah terjadi infeksi sekunder atau penyulit. Penyulit yang sering dijumpai ialah bronkopneumonia (75,2 %), gastroenteritis (7,1%), ensefalitis (6,7%) dan lain-lain (7,9%).4 Campak adalah endemik pada sebagian besar dunia. Dahulu, epidemik cenderung terjadi secara ireguler, tampak pada musim semi, di kota-kota besar dengan interval 2 sampai 4 tahun ketika kelompok anak yang rentan terpajan. Campak sangat menular, sekitar 90 % kontak keluarga yang rentan mendapat penyakit. Sebelum penggunaan vaksin campak, puncak insiden pada umur 5-10 tahun. Sekarang di Amerika Serikat, campak terjadi paling sering pada anak umur sekolah yang belum diimunisasi dan pada remaja dan orang dewasa muda yang telah diimunisasi.1 Bayi mendapat imunitas transplaenta dari ibu yang telah menderita campak atau imunisasi campak. Imunitas ini biasanya sempurna selama umur 4-6 bulan pertama dan menghilang pada frekuensi yang bervariasi. Walaupun kadar antibodi ibu secara umum tidak dapat dideteksi pada bayi dengan uji yang biasa dilakukan sesudah umur 9 bulan, beberapa proteksi menetap yang mengganggu pemberian imunisasi sebelum umur 15 bulan. Kebanyakan wanita usia subur di Amerika Serikat sekarang mempunyai imunitas campak dengan cara imunisasi bukannya karena sakit.

Beberapa penelitian sekarang memberi kesan bahwa bayi dari ibu dengan imunitas karena vaksin campak kehilangan antibody pasifnya pada umur yang lebih muda daripada bayi dari ibu yang telah menderita infeksi campak. Bayi dari ibu yang rentan terhadap campak tidak mempunyai imunitas campak dan dapat ketularan penyakit ini bersama ibu sebelum atau sesudah melahirkan.1

2.3 ETIOLOGI Morbilivirus, salah satu virus RNA dari family Paramyxovirus. Hanya satu tipe antigen yang diketahui. Selama masa prodormal dan selama waktu singkat sesudah ruam tampak, virus ditemukan dalam sekresi nasofaring, darah dan urin. Virus dapat tetap aktif selama sekurang-kurangnya 34 jam dalam suhu kamar. Virus campak dapat diisolasi dalam biakan embrio manusia atau jaringan ginjal kera rhesus. Perubahan sitopatik, tampak dalam 5-10 hari, terdiri dari sel raksasa multinukleus dengan inklusi intranuklear. Antibodi dalam sirkulasi dapat dideteksi bila ruam muncul.1

Gambar: virus campak14

Virus campak berbentuk bulat dengan tepi yang kasar dan bergaris tengah 140 nm, dibungkus oleh selubung luar yang terdiri dari lemak dan protein. Di dalamnya terdapat nukleokapsid yang berbentuk bulat lonjong, terdiri dari bagian protein yang mengelilingi asam nukleat (RNA) yang merupakan struktur heliks nucleoprotein dari myxovirus. Pada selubung luar seringkali terdapat tonjolan pendek. Salah satu protein yang berada di selubung luar berfungsi sebagai hemaglutinin.4 Virus campak adalah organisme yang tidak memiliki daya tahan tinggi. Apabilla berada di luar tubuh manusia, keberadaanya tidak kekal. Pada temperatrur kamar ia akan kehilangan 60 % sifat inefektivitasnya setelah 3-5 hari, pada suhu 37 C waktu paruh usianya 2 jam, sedangkan pada suhu 56 C hanya satu jam. Sebaliknya virus ini mampu bertahan dalam keadaan dingin. Pada suhu -70% dengan media protein ia dapat hidup selama 5,5 tahun, sedangkan dalam lemari pendingin dengan suhu 4-6 C, dapat hidup selama 5 bulan. Tetapi bila tanpa media protein, virus ini hanya mampu bertahan bertahan selama 2 minggu, dan dapat dengan mudah dihancurkan oleh sinar ultraviolet.4 Oleh karena selubungnya terdiri dari lemak maka virus campak termasuk mikroorganisme yang bersifat ether labile. Pada suhu kamar, virus ini akan mati dalam 20 % ether setelah 10 menit dan dalam 50 % aseton setelah 30 menit. Virus campak juga sensitive terhadap 0,01 % betapropiacetone pada suhu 37 % dalam 2 jam, ia akan kehilangan sifat inefektivitasnya namun tetap memiliki antigenitas penuh. Sedangkan dalam formalin 1/4000, virus ini menjadi tidak efektif setelah 5 hari, tetapi tetap tidak kehilangan antigenitasnya. Penambahan tripsin akan mempercepat hilangnya potensi antigenic.4 Orang yang menghadapi risiko campak termasuk: Orang yang lahir pada atau sejak tahun 1966 yang belum pernah menderita campak dan belum pernah menerima dua dosis vaksin Campak-Gondong-Rubela (MMR) dari usia 12 bulan

Orang yang mempunyai sistem kekebalan yang lemah (mis. orang yang sedang menerima kemoterapi atau radioterapi untuk kanker atau orang yang sedang menerima dosis besar obat steroid) meskipun telah diimunisasi sepenuhnya atau menderita infeksi campak sebelumnya

Orang yang tidak mempunyai kekebalan dan melakukan perjalanan ke luar negeri.10

2.4 PATOGENESIS Manusia adalah satu-satunya inang asli untuk virus campak4. Penularan campak terjadi secara droplet melalui udara, terjadi antara 1-2 hari sebelum timbul gejala klinis sampai 4 hari setelah timbul ruam. Infeksi dimulai di mukosa hidung/faring. Di tempat awal infeksi, penggandaan virus sangat minimal dan jarang dapat ditemukan virusnya. Virus masuk ke dalam limfatik lokal, bebas maupun berhubungan dengan sel mononuklear mencapai kelenjar getah bening lokal. Virus kemudian bermultiplikasi dengan sangat perlahan dan disitu mulailah penyebaran ke sel jaringan limforetikular (RES) seperti limpa, dimana virus menyerang limfosit. Virus campak dapat bereplikasi dalam limfosit tertentu yang membantu penyebaran ke seluruh tubuh4. 5-6 hari sesudah infeksi awal, fokus infeksi terbentuk yaitu ketika ketika virus masuk ke dalam pembuluh darah (viremia primer) dan menyebar ke permukaan epitel orofaring, konjungtiva, saluran napas, kulit, kandung kemih, dan usus. Pada hari 9-10 fokus infeksi yang berada di epitel saluran napas dan konjungtiva, mengalami nekrosis pada satu sampai dua lapisan. Pada saat itu virus dalam jumlah banyak masuk kembali ke dalam pembuluh darah (viremia sekunder) dan menimbulkan manifestasi klinis dari sistem pernafasan diawali dengan keluhan batuk pilek disertai selaput konjungtiva yang tampak merah.

2.5 PATOFISIOLOGI Pada stadium prodromal terdapat hiperplasia jaringan limfe. Distribusi yang luas dari giant cell multinuklear (sel retikuloendotel Warthin-Finkeldey) akibat fusi-fusi sel dan inklusi intranuklear terlihat dalam jaringan limfoid di seluruh tubuh (limfoid, tonsil, terutama appendix). Keadaan tersebut terjadi selama masa inkubasi, biasanya 9-11 hari 4. Sebagai reaksi terhadap virus, terjadi proses peradangan epitel saluran pernafasan, konjungtiva dan kulit yang mana terbentuk eksudat yang serous dan proliferasi sel mononukleus dan beberapa sel polimorfonukleus di sekitar kapiler. Respon imun ini diikuti dengan manifestasi klinis berupa demam tinggi, anak tampak sakit berat dan ruam yang menyebar ke seluruh tubuh, tampak suatu ulsera kecil pada mukosa pipi yang disebut bercak Koplik, merupakan tanda pasti untuk menegakkan diagnosis1. Ruam pada kulit terjadi sebagai akibat respon delayed hypersensitivity terhadap antigen virus, sebagai hasil interaksi sel T imun dan sel yang terinfeksi virus dalam pembuluh darah kecil dan berlangsung sekitar 1 minggu. Kejadian ini tidak tampak pada kasus yang mengalami defisit sel T 4. Pada kulit, reaksi terutama terjadi di sekitar kelenjar sebacea dan folikel-folikel rambut 7.

10

11

2.6 KRITERIA DIAGNOSIS Anamnesis Campak umumnya diawali dengan demam tinggi yang terus menerus > 38,5 C disertai batuk, pilek, nyeri menelan, mata merah dan silau bila kena cahaya, seringkali diikuti diare. Pada hari ke 4-5 demam, timbul ruam kulit, didahului oleh suhu yang meningkat lebih tinggi dari semula. Pada saat ini anak dapat mengalami kejang demam. Saat ruam timbul, batuk dan diare dapat bertambah parah sehingga anak mengalami sesak napas atau dehidrasi. Kulit kehitaman dan bersisik merupakan tanda penyembuhan.5 Pemeriksaan Fisik Gejala klinis terjadi setelah masa tunas 10-12 hari, terdiri dari 3 Stadium, yaitu : Stadium prodormal Berlangsung 4-5 hari dengan gejala menyerupai influenza, yaitu : demam, malaise, batuk, fotofobia, konjungtivitis dan koriza. Gejala khas (patognomonik) adalah timbulnya bercak Koplik menjelang akhir stadium kataral dan 24 jam sebelum timbul enantem. Bercak Koplik berwarna putih kelabu, sebesar ujung jarum, dikelilingi oleh eritema dan berlokalisasi di mukosa bukalis berhadapan dengan molar bawah.2

12

Gambar: Bercak Koplik12

Stadium erupsi Gejala pada stadium kataral bertambah dan timbul enantem di palatum durum dan palatum mole. Kemudian terjadi Ruam makulopapular, biasanya dimulai dari leher/belakang telinga kemudian ke daerah muka, badan, anggota badan disertai panas tinggi. Dapat terjadi perdarahan ringan, rasa gatal dan muka bengkak. Ruam mencapai anggota bawah pada hari ketiga dan menghilang sesuai urutan terjadinya. Dapat terjadi pembesaran kelenjar getah bening mandibula dan leher bagian belakang, splenomegali, diare dan muntah. Variasi lain adalah black measles, yaitu morbili yang disertai perdarahan pada kulit, mulut, hidung dan traktus digestivus.2

Stadium konvalesensi Gejala-gejala pada stadium kataral mulai menghilang, erupsi kulit berkurang dan meninggalkan bekas dikulit berupa hiperpigmentasi dan kadang-kadang deskuamasi.2

Labolatorium Jumlah leukosit biasanya rendah dan limfositosis relative.3

2.7 DIAGNOSIS BANDING Rubella Tidak diawali suatu masa prodromal yang spesifik. Remaja dan dewa muda dapat menunjukkan gejala demam ringan serta lemas dalam 1-4 hari sebelum timbulnya kemerahan. Pembesaran kelenjar getah bening khususnya pada daerah belakang telinga dan oksipital sangat menunjang diagnosis rubella. Eksantema Subitum

13

Gejala demam tinggi selama 3-4 hari disertai iritabilitas biasanya terjadi sebelum timbulnya kemerahan pada kulit dan diikuti dengan penurunan demam secara drastis menjadi normal. Skarlatina Demam Skarlatina Kelainan kulit pada demam skarlatina biasanya timbul dalam 12 jam pertama sesudah demam, batuk dan muntah. Gejala prodromal ini dapat berlangsung selama 2 hari. Lidah berwarna merah stroberi serta tonsilitis eksudativa atau membranosa. Ruam karena alergi Penyakit Kawasaki Demam tidak spesifik disertai nyeri tenggorokan sering mendahului kemerahan pada penyakit ini selama 2-5 hari. Sering juga ditemui konjungtivitis bilateral. Ruam karena infeksi virus lain Demam biasanya tidak tinggi, menghilang saat timbulnya kemerahan. Pada infeksi Coxsackie kadang-kadang terjadi bersamaan dengan kemerahan. Mononucleosis infeksiosa Toksoplasmosis Penyakit rikets Erupsi papulovesikular secara menyeluruh, biasanya tidak mengenai wajah, sering didahului oleh adanya gejala seperti influenza. Sakit kepala lebih menonjol. Steven-Johnson, drug eruption Tidak memiliki gejala prodromal Meningococcemia

14

Kemerahan pada kulit 24 jam pertama. Gejala : demam, muntah, kelemahan umum, gelisah, dan kemungkinan adanya kaku kuduk. Staphylococcal toxic shock syn. Demam tinggi, nyeri kepala, batuk, muntah serta diare, dan renjatan sering mendahului atau juga bersamaan dengan keluarnya kelainan kulit.

2.8 PEMERIKSAAN PENUNJANG Jumlah leukosit dan hitung jenis sel Jumlah leukosit cenderung menurun disertai limfositosis relatif.3 Isolasi dan identifikasi virus Swab nasofaring dan sampel darah yang diambil dari pasien 2-3 hari sebelum onset gejala sampai 1 hari setelah timbulnya ruam kulit (terutama selama masa demam campak) merupakan sumber yang memadai untuk isolasi virus. Selama stadium prodromal, dapat terlihat sel raksasa berinti banyak pada hapusan mukosa hidung7.

Serologis Konfirmasi serologi campak berdasarkan pada kenaikan empat kali titer antibodi antara sera fase akut dan fase penyembuhan atau pada penampakkan antibodi IgM spesifik campak antara 1-2 minggu setelah onset ruam kulit. Bagian utama dari respon imun ditujukan langsung pada protein NP. Hanya pada kasus campak yang tidak khas, yang pasti bereaksi terhadap protein M yang ada4.

15

2.9 KOMPLIKASI Otitis media akut Invasi virus ke telinga tengah umumya terjadi pada campak. Gendang telinga biasanya hiperemia pada fase prodromal dan stadium erupsi. Jika terjadi invasi bakteri menjadi otitis media purulenta.4 Bronkopneumonia Bronkopneumonia adalah komplikasi campak yang sering dijumpai (75,2%). yang sering disebabkan invasi bakteri sekunder, terutama Pneumokokus, Stafilokokus, dan Hemophilus influenza7. Pneumonia terjadi pada sekitar 6% dari kasus campak dan merupakan penyebab kematian paling sering pada penyakit campak1. Laringotrakeobronkitis Laringitis timbul karena adanya edema hebat pada mukosa saluran nafas, bertambah parah pada saat demam mencapai puncaknya, ditandai dengan distres pernafasan, sesak, sianosis, dan stridor. Ketika demam menurun, keadaan akan membaik dan gejala akan menghilang.4 Ensefalitis Ensefalitis adalah penyulit neurologik yang paling sering terjadi, biasanya terjadi pada hari ke 4-7 setelah timbul ruam, dan sejumlah kecil pada periode pra-erupsi. Ensefalitis simptomatik timbul pada sekitar 1:1000. Diduga jika ensefalitis terjadi pada waktu awal penyakit maka invasi virus memainkan peranan besar, sedangkan ensefalitis yang timbul kemudian menggambarkan suatu reaksi imunologis.

16

Gejala ensefalitis dapat berupa kejang, letargi, koma, dan iritabel. Keluhan nyeri kepala, frekuensi nafas meningkat, twitching, disorientasi, juga dapat ditemukan. Pemeriksaan cairan serebrospinal menunjukkan pleositosis ringan, dengan predominan sel mononuklear, peningkatan protein ringan, sedangkan glukosa dalam batas normal.4 Subacute sclerosing panencephalitis SSPE (Dawsons disease) merupakan kelainan degeneratif susunan saraf pusat yang disebabkan oleh infeksi oleh virus campak yang persisten, suatu penyulit lambat yang jarang terjadi. Semenjak penggunaan vaksin meluas, kejadian SSPE menjadi sangat jarang. Kemungkinan untuk menderita SSPE pada anak yang sebelumnya pernah campak adalah 0,6-2,2 per 100.000. Masa inkubasi timbulnya SSPE rata-rata 7 tahun1. Sebagian besar antigen campak terdapat dalam badan inklusi dan sel otak yang terinfeksi, tetapi tidak ada partikel virus matur. Replikasi virus cacat karena kurangnya produksi satu atau lebih produk gen virus, seringkali adalah protein matrix. Keberadaan virus campak intraseluler laten dalam sel otak pasien dengan SSPE menandakan kegagalan sistem imun untuk membersihkan infeksi virus4. Gejala SSPE didahului dengan gangguan tingkah laku, iritabilitas dan penurunan intelektual yang progresif serta penurunan daya ingat, diikuti oleh inkoordinasi motorik, dan kejang yang umumnya bersifat mioklonik. Selanjutnya pasien menunjukkan gangguan mental yang lebih buruk, ketidakmampuan berjalan, kegagalan berbicara dengan komprehensi yang buruk, dysphagia, dapat juga terjadi kebutaan. Pada tahap akhir dari penyakit, pasien dapat tampak diam atau koma. Aktivitas elektrik di otak pada EEG menunjukkan perubahan yang progresif selama sakit yang khas untuk SSPE dan berhubungan dengan penurunan yang lambat dari fungsi sistem saraf pusat. Laboratorium: Peningkatan globulin dalam cairan serebrospinal, antibodi terhadap campak dalam serum meningkat 11. Diare persisten

17

Beberapa anak yang menderita campak mengalami muntah dan mencret pada fase prodromal. Keadaan ini akibat invasi virus ke dalam sel mukosa usus. Diare persisten bersifat protein losing enteropathy sehingga dapat memperburuk status gizi1.

18

Reaktivasi atau memberatnya penyakit TB Miokarditis Trombositopenia Hemorrhagic measles Memperburuk status gizi

2.10 TERAPI Sampai saat ini belum ada terapi yang dianjurkan Simtomatik: Antipiretika parasetamol 7,5 10 mg/kgBB/kali, interval 6-8 jam.11 Ekspektoran gliseril guaiakolat anak 6-12 tahun : 50 100 mg tiap 2-6 jam, dosis maksimum 600 mg/hari.11 Antikonvulsi bila diperlukan Suportif Istirahat cukup Mempertahankan status nutrisi dan hidrasi Perawatan kulit dan mata

19

Perawatan lain sesuai penyulit yang terjadi

Antibiotic bila ada infeksi sekunder bakteri Vitamin A dosis tinggi Usia 6 bulan-1 tahun : 100.000 unit dosis tinggal p.o Usia > 1 tahun : 200.000 unit dosis tunggal p.o

Dosis tersebut diulangi pada hari ke 2 dan 4 minggu, kemudian bila telah didapat tanda defisiensi vitamin A.3 Antivirus Antivirus seperti ribavirin (dosis 20-35 mg/kgBB/hari i.v) telah dibuktikan secara in vitro terbukti bermanfaat untuk penatalaksanaan penderita campak berat dan penderita dewasa yang immunocompromissed. Namun penggunaan ribavirin ini masih dalam tahap penelitian dan belum digunakan untuk penderita anak.11 Apabila terdapat penyulit, maka dilakukan pengobatan untuk mengatasi penyulit yang timbul, yaitu: Bronkopneumonia Diberikan antibiotic ampisilin 100 mg/kgBB/hari dalam 4 dosis IV dikombinasikan dengan kloramfenikol 75 mg/kgBB/ hari IV dalam 4 dosis, sampai gejala sesak berkurang dan pasien dapat minum obat per oral. Antibiotic diberikan sampai tiga hari demam reda. Apabila di curigai infeksi spesifik, maka uji tuberculin dilakukan setelah anak sehat kembali (3-4 minggu kemudian) oleh karena uji tuberculin bisanya negative (anergi) pada saat anak menderita campak. Gangguan reaksi delayed hypersensitivity disebabkan oleh sel limfosit T yang terganggu fungsinya. Enteritis
20

Pada keadaan berat anak mudah jatuh dalam dehidrasi. Pemberian cairan IV dapat dipertimbangkan apabila terdapat enteritis + dehidrasi.

21

Otitis media Seringkali disebabkan oleh karena infeksi sekunder, sehingga perlu diberikan antibiotic kotrimoksazol-sulfametoksazol (TMP 4 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis)

Ensefalopati Perlu reduksi jumlah pemberian cairan hingga kebutuhan untuk mengurangi edema otak, disamping pemberian kortikosteroid. Perlu dilakukan koreksi elektrolit dan gangguan gas darah.4

Indikasi rawat inap : hiperpireksia (suhu > 39o C), dehidrasi, kejang, asupan oral sulit, atau adanya komplikasi.8 Anjuran : Bila campaknya ringan, anak cukup dirawat di rumah. Kalau campaknya berat atau sampai terjadi komplikasi maka harus dirawat di rumah sakit. Anak campak perlu dirawat di tempat tersendiri agar tidak menularkan penyakitnya kepada yang lain. Apalagi bila ada bayi di rumah yang belum mendapat imunisasi campak. Beri penderita asupan makanan bergizi seimbang dan cukup untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya. Makanannya harus mudah dicerna, karena anak campak rentan terjangkit infeksi lain, seperti radang tenggorokan, flu, atau lainnya. Masa rentan ini masih berlangsung sebulan setelah sembuh karena daya tahan tubuh penderita yang masih lemah. Lakukan pengobatan yang tepat dengan berkonsultasi pada dokter. Jaga kebersihan tubuh anak dengan tetap memandikannya. Anak perlu beristirahat yang cukup.11

22

2.11 PENCEGAHAN Imunisasi aktif Biasanya diberikan pada usia 15 bulan, tetapi dapat diberikan lebih awal.3 Vaksin campak adalah preparat virus hidup yang dilemahkan dan berasal dari berbagai strain virus campak yang diisolasi pada tahun 1950. Vaksin campak harus didinginkan pada suhu yang sesuai (2-8 C) karena sinar matahari atau panas dapat membunuh virus vaksin campak.6 Dosis baku minimal pemberian vaksin campak yang dilemahkan adalah 0,5 ml, secara subkutan, namun dilaporkan bahwa pemberian secara intramuskular mempunyai efektivitas yang sama. Vaksin campak sering dipakai bersama-sama dengan vaksin rubela dan parotitis epidemika yang dilemahkan, vaksin polio oral, difteri-tetanus-polio vaksin dan lain-lain. Laporan beberapa peneliti menyatakan bahwa kombinasi tersebut pada umumnya aman dan tetap efektif 2.

Gambar: vaksin MMR7 Imunisasi pasif Dengan serum dewasa, serum konvalesens, globulin plasenta atau gama globulin efektif untuk pencegahan dan meringankan morbili. Immune serum globulin (gama

23

globulin), dosis 0,25 mL/kgBB IM maks 15 mL dalam waktu 5 hari sesudah terpapar tetapi lebih disukai sesegera mungkin.3 Proteksi sempurna terindikasi untuk bayi, untuk anak dengan sakit kronis dan untuk kontak di bangsal rumah sakit dan lembaga-lembaga anak.1 Indikasi : Anak usia > 12 bulan dengan immunocompromised belum mendapat imunisasi, kontak dengan pasien campak, dan vaksin MMR merupakan kontraindikasi. Bayi berusia < 12 bulan yang terpapar langsung dengan pasien campak mempunyai resiko yang tinggi untuk berkembangnya komplikasi penyakit ini, maka harus diberikan imunoglobulin sesegera mungkin dalam waktu 7 hari paparan. Setelah itu vaksin MMR diberikan sesegera mungkin sampai usia 12 bulan, dengan interval 3 bulan setelah pemberian imunoglobulin. Dosis anak : 0,2 ml/kgBB IM pada anak sehat 0,5 ml/kgBB untuk pasien dengan HIV maksimal 15 ml/dose IM.11 Efek Samping yang Umum: Diperhatikan 7 sampai 10 hari setelah vaksinasi Sedikit demam selama 2 sampai 3 hari Ruam kemerahan (tidak menular) Pilek dan/atau ingus Batuk dan/atau mata bengkak Mengantuk atau capai Pembengkakan kelenjar liur Bincul kecil sementara di tempat suntikan
24

Efek Samping yang Parah Ensefalitis (radang otak) dengan angka 1 dari tiap 1 juta Trombositopenia (lebam atau pendarahan) dengan angka 1 dari tiap 30.500 dosis

25

Efek Samping yang Amat Jarang: Reaksi alergi parah Jika reaksi ringan terjadi, mungkin selama 1 atau 2 hari. Efek sampingan dapat dikurangi dengan: Minum lebih banyak air Tidak berpakaian terlalu hangat Meletakkan kain dingin yang basah pada tempat suntikan yang sakit.7

Tahapan pemberantasan campak WHO mencanangkan beberapa tahapan dalam upaya pemberantasan campak, dengan tekanan strategi yang berbeda-beda pada setiap tahap yaitu : 1. Tahap Reduksi Tahap ini dibagi dalam 2 tahap : a. Tahap pengendalian campak Pada tahap ini ditandai dengan upaya peningkatan cakupan imunisasi campak rutin dan upaya imunisasi tambahan di daerah dengan morbiditas campak yang tinggi. Daerah-daerah ini masih merupakan daerah endemis campak, tetapi telah terjadi penurunan insiden dan kematian, dengan pola epidemiologi kasus campak menunjukkan 2 puncak setiap tahun. b. Tahap Pencegahan KLB Cakupan imunisasi dapat dipertahankan tinggi > 80% dan merata,terjadi penurunan tajam kasus dan kematian, insiden campak telah bergeser kepada umur yang lebih tua, dengan interval KLB antara 4-8 tahun.

26

2. Tahap Eliminasi Cakupan imunisasi sangat tinggi > 95% dan daerah-daerah dengan cakupan imunisasi rendah sudah sangat kecil jumlahnya. Kasus campak sudah jarang dan KLB hampir tidak pernah terjadi. Anak-anak yang dicurigai rentan (tidak terlindung) harus diselidiki dan diberikan imuniasi campak. 3. Tahap Eradikasi. Cakupan imunisasi sangat tinggi dan merata, serta kasus campak sudah tidak ditemukan. Transmisi virus campak sudah dapat diputuskan, dan negara-negara di dunia sudah memasuki tahap eliminasi.9 2.12 PROGNOSIS Biasanya sembuh dalam 7-10 hari setelah timbul ruam. Bila ada penyulit infeksi sekunder/malnutrisi berat maka bertambah berat. Kematian disebabkan karena penyulit (pneumonia dan ensefalitis).3

27

BAB III KESIMPULAN Penyakit campak merupakan salah satu penyakit menular dengan tingkat insidensi yang tinggi pada anak-anak. Penularan yang cepat, terutama pada kelompok dengan daya tahan imun rendah, kepadatan yang tinggi, serta kurangnya akses pelayanan kesehatan dan pelaksanaan vaksinasi, terutama di daerah pedesaaan. Kematian pada campak sering kali disebabkan oleh komplikasi-komplikasinya, seperti pneumonia dan ensefalitis. Penyakit ini dapat dicegah melalui vaksinasi, karena vaksin campak telah terbukti efektif menurunkan insidensi penyakit. Anamnesis Riwayat kontak dengan penderita morbili Demam tinggi yang terus menerus > 38,5 C Batuk Pilek Nyeri menelan Mata merah dan silau bila kena cahaya Diare5

Pemeriksaan Fisik Gejala klinis terjadi setelah masa tunas 10-12 hari, terdiri dari 3 Stadium, yaitu : Stadium prodormal

28

Berlangsung 4-5 hari dengan gejala menyerupai influenza, yaitu : demam, malaise, batuk, fotofobia, konjungtivitis dan koriza. Gejala khas (patognomonik) adalah timbulnya bercak Koplik menjelang akhir stadium kataral dan 24 jam sebelum timbul enantem.2 Stadium erupsi Gejala pada stadium kataral bertambah dan timbul enantem di palatum durum dan palatum mole.

29

Kemudian terjadi Ruam makulopapular, biasanya dimulai dari leher/belakang telinga kemudian ke daerah muka, badan, anggota badan disertai panas tinggi.2 Stadium konvalesensi Gejala-gejala pada stadium kataral mulai menghilang, erupsi kulit berkurang dan meninggalkan bekas dikulit berupa hiperpigmentasi dan kadang-kadang deskuamasi.2 Pemeriksaan Penunjang Terapi Simtomatik : Antipiretika parasetamol 7,5 10 mg/kgBB/kali, interval 6-8 jam.11 Ekspektoran gliseril guaiakolat anak 6-12 tahun : 50 100 mg tiap 2-6 jam, dosis maksimum 600 mg/hari.11 Antikonvulsi bila diperlukan Jumlah leukosit dan hitung jenis sel Isolasi dan identifikasi virus Serologis

Suportif Istirahat cukup Mempertahankan status nutrisi dan hidrasi Perawatan kulit dan mata

30

Perawatan lain sesuai penyulit yang terjadi

Antibiotik bila ada infeksi sekunder bakteri Vitamin A dosis tinggi Usia 6 bulan-1 tahun Usia > 1 tahun : 100.000 unit dosis tinggal p.o : 200.000 unit dosis tunggal p.o

31

Antivirus Antivirus seperti ribavirin (dosis 20-35 mg/kgBB/hari i.v) telah dibuktikan secara in vitro terbukti bermanfaat untuk penatalaksanaan penderita campak berat dan penderita dewasa yang immunocompromissed.

32

DAFTAR PUSTAKA 1. Behrman, dkk. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Vol 2 Edisi 15. Jakarta : EGC 2. Mansjoer, Arif dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi III Jilid 2 . Jakarta: Media Aesculapius FKUI. 3. Garna, Herry dkk. 2005. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak Edisi ke3. Bandung: FK UNPAD 4. Poowo Soedarmo, Sumarmo S. 2010. Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis Edisi Kedua. Jakarta: badan Penerbit IDAI 5. Pudjiadi, Antonius H dkk. 2010. Pedoman Pelayanan Medis Jilid 1. Jakarta: badan Penerbit IDAI 6. Wahab, A. Samik. 2002. Sistem Imun, Imunisasi dan Penyakit Imun. Jakarta: Widya Medika

33