Anda di halaman 1dari 14

Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit

larutan adalah campuran homogen (serba sama) dari dua macam


zat atau lebih. Jumlah zat yang paling banyak dalam suatu larutan disebut
pelarut (solvent), sedangkan zat yang lainnya disebut zat terlarut (solute).

Teori Elektrolit

Pada tahun 1884, Svante Arrhenius, ahli kimia


terkenal dari Swedia mengemukakan teori elektrolit
yang sampai saat ini teori tersebut tetap bertahan
.Menurut Arrhenius, larutan elektrolit dalam air
terdisosiasi ke dalam partikel-partikel bermuatan listrik
positif dan negatif yang disebut ion (ion positif dan ion
negatif) Jumlah muatan ion positif akan sama dengan
jumlah muatan ion negatif, sehingga muatan ion-ion
dalam larutan netral. Ion-ion inilah yang bertugas
mengahantarkan arus listrik. Larutan yang dapat
menghantarkan arus listrik disebut larutan elektrolit.
Larutan ini memberikan gejala berupa menyalanya
lampu atau timbulnya gelembung gas dalam larutan.

Larutan elektrolit mengandung partikel-partikel yang bermuatan (kation


dan anion). Berdasarkan percobaan yang dilakukan oleh Michael Faraday,
diketahui bahwa jika arus listrik dialirkan ke dalam larutan elektrolit akan terjadi
proses elektrolisis yang menghasilkan gas. Gelembung gas ini terbentuk
karena ion positif mengalami reaksi reduksi dan ion negatif mengalami oksidasi.
Contoh, pada laruutan HCl terjadi reaksi elektrolisis yang menghasilkan gas
hidrogen sebagai berikut.

HCl(aq)→ H (aq) + Cl aq)


Reaksi reduksi : 2H (aq) + 2e→ H (g)
Reaksi oksidasi : 2Claq) → Cl (g) + 2e

Larutan elektrolit dapat bersumber dari senyawa ion (senyawa yang


mempunyai ikatan ion) atau senyawa kovalen polar (senyawa yang
mempunyai ikatan kovalen polar)

Elektrolit Kuat dan Elektrolit Lemah

Pada larutan elektrolit kuat, seluruh molekulnya terurai menjadi


ion-ion (terionisasi sempurna). Karena banyak ion yang dapat
menghantarkan arus listrik, maka daya hantarnya kuat. pada persamaan
reaksi, ionisasi elektrolit kuat ditandai dengan anak panah satu arah ke
kanan.

Contoh :
NaCl(s) → Na+ (aq) + Cl- (aq)

Contoh larutan elektrolit kuat :


Asam, contohnya asam sulfat (H2SO4), asam nitrat (HNO3), asam klorida
(HCl)

Basa, contohnya natrium hidroksida (NaOH), kalium hidroksida (KOH),


barium hidroksida (Ba(OH)2)

Garam, hampir semua senyawa kecuali garam merkuri

Larutan elektrolit lemah adalah larutan yang dapat memberikan


nyala redup ataupun tidak menyala, tetapi masih terdapat gelembung gas
pada elektrodanya. Hal ini disebabkan tidak semua terurai menjadi ion-ion
(ionisasi tidak sempurna) sehingga dalam larutan hanya ada sedikit ion-
ion yang dapat menghantarkan arus listrik. Dalam persamaan reaksi,
ionisasi elektrolit lemah ditandai dengan panah dua arah (bolak-balik).

Contoh :
CH3COOH(aq) ↔ CH3COO- (aq) + H+ (aq)

Contoh senyawa yang termasuk elektrolit lemah :

CH3COOH, HCOOH, HF, H2CO3, dan NH4OH

Larutan Non Elektrolit

Larutan non elektrolit


adalah larutan yang tidak
dapat menghantarkan arus
listrik dan tidak menimbulkan
gelembung gas. Pada larutan
non elektrolit, molekul-
molekulnya tidak terionisasi
dalam larutan, sehingga tidak
ada ion yang bermuatanyang
dapat menghantarkan arus
listrik. Contoh : larutan gula, urea
Teori asam dan basa Arrhenius

Di tahun 1886, Arrhenius mengusulkan teori disosiasi elektrolit,


dengan teori ini ia mendefinisikan asam basa sebagai berikut: Asam
adalah zat yang menghasilkan ion hidrogen dalam larutan. Basa adalah
zat yang menghasilkan ion hidroksida dalam larutan.

Penetralan terjadi karena ion hidrogen dan ion hidroksida bereaksi untuk
menghasilkan air.

Pembatasan Teori

Asam hidroklorida (asam klorida) dinetralkan oleh kedua larutan


natrium hidroksida dan larutan amonia. Pada kedua kasus tersebut, kita
akan memperoleh larutan tak berwarna yang dapat kita kristalisasi untuk
mendapatkan garam berwarna putih - baik itu natrium klorida maupun
amonium klorida. Keduanya jelas merupakan reaksi yang sangat mirip.
Persamaan lengkapnya adalah:

Pada kasus natrium hidroksida, ion hidrogen dari asam bereaksi


dengan ion hidroksida dari natrium hidroksida - sejalan dengan teori
Arrhenius. Akan tetapi, pada kasus amonia, tidak muncul ion hidroksida
sedikit pun! kita bisa memahami hal ini dengan mengatakan bahwa
amonia bereaksi dengan air yang melarutkan amonia tersebut untuk
menghasilkan ion amonium dan ion hidroksida:
Reaksi ini merupakan reaksi reversibel, dan pada larutan amonia
encer yang khas, sekitar 99% sisa amonia ada dalam bentuk molekul
amonia. Meskipun demikian, pada reaksi tersebut terdapat ion hidroksida,
dan kita dapat menyelipkan ion hidroksida ini ke dalam teori Arrhenius.

Akan tetapi, reaksi yang sama juga terjadi antara gas amonia dan gas
hidrogen klorida.

Pada kasus ini, tidak terdapat ion hidrogen atau ion hidroksida
dalam larutan - karena bukan merupakan suatu larutan. Teori Arrhenius
tidak menghitung reaksi ini sebagai reaksi asam-basa, meskipun pada
faktanya reaksi tersebut menghasilkan produk yang sama seperti ketika
dua zat tersebut berada dalam larutan. Ini adalah sesuatu hal yang lucu!

Teori Asam dan Basa Bronsted-Lowry

• Asam adalah donor proton (ion hidrogen).


• Basa adalah akseptor proton (ion hidrogen).

Di tahun 1923, kimiawan Denmark Johannes Nicolaus Bronsted


(1879-1947) dan kimiawan Inggris Thomas Martin Lowry (1874-1936)
secara independen mengusulkan teori asam basa baru, yang ternyata
lebih umum. Asam : zat yang menghasilkan dan mendonorkan proton
(H+) pada zat lain. Basa : zat yang dapat menerima proton (H+) dari zat
lain.

Berdasarkan teori ini, reaksi antara gas HCl dan NH3 dapat dijelaskan
sebagai reaksi asam basa, yakni

• HCl(g) + NH3(g) –>NH4Cl(s) … (9.11)

simbol (g) dan (s) menyatakan zat berwujud gas dan padat. Hidrogen
khlorida mendonorkan proton pada amonia dan berperan sebagai asam.

Menurut teori Bronsted dan Lowry, zat dapat berperan baik sebagai
asam maupun basa. Bila zat tertentu lebih mudah melepas proton, zat ini
akan berperan sebagai asam dan lawannya sebagai basa. Sebaliknya, bila
zuatu zat lebih mudah menerima proton, zat ini akan berperan sebagai
basa. Dalam suatu larutan asam dalam air, air berperan sebagai basa.

HCl + H2O –> Cl- + H3O+ … (9.1


2)
a b basa asam
sam asa konjuga konjuga
1 2 t1 t2

Dalam reaksi di atas, perbedaan antara HCl dan Cl- adalah sebuah
proton, dan perubahan antar keduanya adalah reversibel. Hubungan
seperti ini disebut hubungan konjugat, dan pasangan HCl dan Cl - juga
disebut sebagai pasangan asam-basa konjugat. Larutan dalam air ion
CO32- bersifat basa. Dalam reaksi antara ion CO32- dan H2O, yang pertama
berperan sebagai basa dan yang kedua sebagai asam dan keduanya
membentuk pasangan asam basa konjugat.

CO 2 (9.1
H2O + - 3 –> OH- + HCO3- …
2)
a b basa asam
sam asa konjuga konjuga
1 2 t1 t2

Zat disebut sebagai amfoter bila zat ini dapat berperan sebagai
asam atau basa. Air adalah zat amfoter yang khas. Reaksi antara dua
molekul air menghasilkan ion hidronium dan ion hidroksida adalah contoh
khas reaksi zat amfoter

(9.1
H2O + H2O –> OH- + H3O+ …
2)
a b basa Asam
sam asa konjuga konjuga
1 2 t1 t2

Hubungan Antara Teori Bronsted-Lowry dan Teori Arrhenius

Teori Bronsted-Lowry tidak berlawanan dengan teori Arrhenius -


Teori Bronsted-Lowry merupakan perluasan teori Arrhenius. Ion hidroksida
tetap berlaku sebagai basa karena ion hidroksida menerima ion hidrogen
dari asam dan membentuk air. Asam menghasilkan ion hidrogen dalam
larutan karena asam bereaksi dengan molekul air melalui pemberian
sebuah proton pada molekul air. Ketika gas hidrogen klorida dilarutkan
dalam air untuk menghasilkan asam hidroklorida, molekul hidrogen klorida
memberikan sebuah proton (sebuah ion hidrogen) ke molekul air. Ikatan
koordinasi (kovalen dativ) terbentuk antara satu pasangan mandiri pada
oksigen dan hidrogen dari HCl. Menghasilkan ion hidroksonium, H3O+.

• Ketika asam yang terdapat dalam larutan bereaksi dengan basa,
yang berfungsi sebagai asam sebenarnya adalah ion hidroksonium.
Sebagai contoh, proton ditransferkan dari ion hidroksonium ke ion
hidroksida untuk mendapatkan air.

Tampilan elektron terluar, tetapi mengabaikan elektron pada bagian yang


lebih dalam:

Adalah sesuatu hal yang penting untuk mengatakan bahwa meskipun kita
berbicara tentang ion hidrogen dalam suatu larutan, H+(aq), sebenarnya
kita sedang membicarakan ion hidroksonium.

Permasalahan Hidrogen Klorida / Amonia

Hal ini bukanlah suatu masalah yang berlarut-larut dengan


menggunakan teori Bronsted-Lowry. Apakah anda sedang membicarakan
mengenai reaksi pada keadaan larutan ataupun pada keadaan gas,
amonia adalah basa karena amonia menerima sebuah proton (sebuah ion
hidrogen). Hidrogen menjadi tertarik ke pasangan mandiri pada nitrogen
yang terdapat pada amonia melalui sebuah ikatan koordinasi.
Jika amonia berada dalam larutan, amonia menerima sebuah proton dari
ion hidroksonium:

Jika reaksi terjadi pada keadaan gas, amonia menerima sebuah proton
secara langsung dari hidrogen klorida:

Cara yang lain, amonia berlaku sebagai basa melalui penerimaan sebuah
ion hidrogen dari asam.

Teori Asam dan Basa Lewis

• Asam adalah akseptor pasangan elektron.


• Basa adalah donor pasangan elektron.

Hubungan Antara Teori Lewis dan Teori Bronsted-Lowry

Basa Lewis

Hal yang paling mudah untuk


melihat hubungan tersebut adalah
dengan meninjau dengan tepat
mengenai basa Bronsted-Lowry
ketika basa Bronsted-Lowry
menerima ion hidrogen. Tiga basa
Bronsted-Lowry dapat kita lihat
pada ion hidroksida, amonia dan
air, dan ketianya bersifat khas.

Teori Bronsted-Lowry
mengatakan bahwa ketiganya
berperilaku sebagai basa karena
ketiganya bergabung dengan ion
hidrogen. Alasan ketiganya
bergabung dengan ion hidrigen
adalah karena ketiganya memiliki
pasangan elektron mandiri - seperti
yang dikatakan oleh Teori Lewis.
Keduanya konsisten. Jadi bagaimana Teori Lewis merupakan suatu
tambahan pada konsep basa? Saat ini belum - hal ini akan terlihat ketika
kita meninjaunya dalam sudut pandang yang berbeda. Tetapi bagaimana
dengan reaksi yang sama mengenai amonia dan air, sebagai contohnya?
Pada teori Lewis, tiap reaksi yang menggunakan amonia dan air
menggunakan pasangan elektron mandiri-nya untuk membentuk ikatan
koordinasi yang akan terhitung selama keduanya berperilaku sebagai
basa. Berikut ini reaksi yang akan anda temukan pada halaman yang
berhubungan dengan ikatan koordinasi. Amonia bereaksi dengan BF3
melalui penggunaan pasangan elektron mandiri yang dimilikinya untuk
membentuk ikatan koordinasi dengan orbital kosong pada boron.

Sepanjang menyangkut
amonia, amonia menjadi sama
persis seperti ketika amonia
bereaksi dengan sebuah ion
hidrogen - amonia
menggunakan pasangan
elektron mandiri-nya untuk
membentuk ikatan koordinasi.
Jika anda memperlakukannya
sebagai basa pada suatu kasus,
hal ini akan berlaku juga pada kasus yang lain.

Asam Lewis

Asam Lewis adalah akseptor pasangan elektron. Pada contoh


sebelumnya, BF3 berperilaku sebagai asam Lewis melalui penerimaan
pasangan elektron mandiri milik nitrogen. Pada teori Bronsted-Lowry, BF3
tidak sedikitpun disinggung menganai keasamannya. Inilah tambahan
mengenai istilah asam dari pengertian yang sudah biasa digunakan.
Bagaimana dengan reaksi asam basa yang lebih pasti - seperti, sebagai
contoh, reaksi antara amonia dan gas hidrogen klorida?

Pastinya adalah penerimaan pasangan elektron mandiri pada


nitrogen. Buku teks sering kali menuliskan hal ini seperti jika amonia
mendonasikan pasangan elektron mandiri yang dimilikinya pada ion
hidrogen - proton sederhana dengan tidak adanya elektron
disekelilingnya. Ini adalah sesuatu hal yang menyesatkan! anda tidak
selalu memperoleh ion hidrogen yang bebas pada sistem kimia. Ion
hidogen sangat reaktif dan selalu tertarik pada yang lain. Tidak terdapat
ion hidrogen yang tidak bergabung dalam HCl. Tidak terdapat orbital
kosong pada HCl yang dapat menerima pasangan elektron. Mengapa,
kemudian, HCl adalah suatu asam Lewis? Klor lebih elektronegatif
dibandingkan dengan hidrogen, dan hal ini berarti bahwa hidrogen klorida
akan menjadi molekul polar. Elektron pada ikatan hidrogen-klor akan
tertarik ke sisi klor, menghasilkan hidrogen yang bersifat sedikit positif
dan klor sedikit negatif.
Pasangan elektron mandiri pada nitrogen yang terdapat pada
molekul amonia tertarik ke arah atom hidrogen yang sedikit positif pada
HCl. Setelah pasangan elektron mandiri milik nitrogen mendekat pada
atom hidrogen, elektron pada ikatan hidrogen-klor tetap akan menolak ke
arah klor. Akhirnya, ikatan koordinasi terbentuk antara nitrogen dan
hidrogen, dan klor terputus keluar sebagai ion klorida. Hal ini sangat baik
ditunjukkan dengan notasi "panah melengkung" seperti yang sering
digunakan dalam mekanisme reaksi organik.

Disosiasi Asam dan Basa

Interaksi yang membentuk kristal natrium khlorida sangat kuat


sebagaimana dapat disimpulkan dari titik lelehnya yang sangat tinggi
(>1400 °C). Hal ini berarti bahwa dibutuhkan energi yang cukup besar
untuk mendisosiasi kristal menjadi ion-ionnya. Namun natrium khlorida
melarut dalam air. Hal ini berarti bahwa didapatkan stabilisasi akibat
hidrasi ion, yakni interaksi antara ion dan molekul air polar.

NaCl –> Na+(aq) + Cl-(aq) (9.15)

Sistem akan mengeluarkan energi yang besar (energi hidrasi) dan


mendapatkan stabilisasi. Selain itu, dengan disosiasi, derajat keacakan
(atau entropi) sistem meningkat. Efek gabungannya, stabilisasi hidrasi
dan meningkatnya entropi, cukup besar sebab kristal terdisosiasi
sempurna. Tanpa stabilisqsi semacam ini, pelarutan natrium khlorida
dalam air merupakan proses yang sukar seperti proses penguapannya.
Disoasiasi elektrolit asam dan basa kuat adalah proses yang mirip.
Dengan adanya stabilisasi ion yang terdisosiasi oleh hidrasi, asam dan
basa kuat akan terdisosiasi sempurna. Dalam persamaan berikut, tanda
(aq) dihilangkan walaupun hidrasi jelas terjadi.

HCl –> H+ + Cl- … (9.16)

HNO3 –> H+ + NO3- … (9.17)

H2SO4 –> H+ + HSO4- … (9.18)

Demikian juga dalam hal basa kuat.

NaOH –> Na+ + OH- (9.19)


KOH –> K+ + OH- (9.20)

Contoh soal Konsentrasi proton dalam asam kuat dan basa kuat.

Hitung [H+] dan pH larutan NaOH 1,00 x 10-3 mol dm-3, asumsikan NaOH
mengalami disosiasi sempurna.

Jawab

[OH-] = 10-3 ∴ [H+] = 10-14/10-3 = 10-11pH = -log10-11 = 11 Asam dan basa


lemah berperilaku berbeda. Dalam larutan dalam air, disosiasi elektrolit
tidak lengkap, dan sebagian atau hampir semua asam atau basa tadi
tetap sebagai spesi netral. Jadi, dalam kasus asam asetat,

CH3COOH H+ + CH3COO- (9.21)

Konstanta kesetimbangan disosiasi ini, Ka, disebut dengan konstanta


disosiasi elektrolit atau konstanta disosiasi asam. Mengambil analogi
dengan pH, pKa, didefinisikan sebagai:

pKa = -logKa (9.22)

Ka = ([H+][CH3COO-])/[CH3COOH] = 1,75 x 10-5 mol dm-3,


pKa = 4,56 (25°C) (9.23)

Dengan menggunakan pKa, nilai Ka yang sangat kecil diubah


menjadi nilai yang mudah ditangani.

Jadi, menggunakan pKa sama dengan menggunakan pH. Kekuatan


asam didefinisikan oleh konstanta disosiasi asamnya. Semakin besar
konstanta disosiasi asamnya atau semakin kecil pKa-nya semakin kuat
asam tersebut. Di Tabel 9.1 diberikan nilai konstanta disosiasi asam
beberapa asam lemah.

Tabel Konstanta disosiasi asam dan pKa beberapa asam lemah

Asam Ka pKa

Asam format HCOOH 1,77 x 10-4 3,55

Asam asetat CH3COOH 1,75 x 10-5 4,56

Asam khloroasetat 1,40 x 10-3 2,68

ClCH2COOH

Asam benzoat 6,30 x 10-5 4,20


C6H5COOH
Asam karbonat H2CO3 K1= 4,3 x 10-7 6,35

K2=5,6 x 10-11 10,33

hidrogen sulfida H2S K1= 5,7 x 10-8 7,02


K2= 1,2 x 10-15 13,9

Asam fosfat H3PO4 K1= 7,5 x 10-3 2,15

K2= 6,2 x 10-8 7,20

K3= 4,8 x 10-13 12,35

Derajat Keasaman (pH)

Indikator Tingkat Keasaman

Suatu zat asam yang di masukkan ke dalam air akan


mengakibatkan bertambahnya ion hidrogen (H+) dalam air dan
berkurangnya ion hidroksida (OH-). Sedangkan pada basa, akan terjadi
sebaliknya. Zat basa yang dimasukkan ke dalam air akan mengakibatkan
bertambahnya ion hidroksida (OH-) dan berkurangnya ion hidrogen (H+).
Jumlah ion H+ dan OH- di dalam air dapat di gunakan untuk menentukan
derajat keasaman atau kebasaan suatu zat. Semakin asam suatu zat,
semakin banyak ion H+ dan semakin sedikit jumlah ion OH- di dalam air.
Sebaliknya semakin basa suatu zat, semakin sedikit jumlah ion H+ dan
semakin banyak ion OH- di dalam air.

Aplikasi

Gas-gas sisa, baik yang berasal dari kendaraan bermotor atau


pabrik, mengandung gas belerang dioksida dan nitrogen oksida. Gas-gas
ini dilepas ke udara sehingga menimbulkan polusi. Gas-gas tersebut juga
larut dalam titik-titik air di awan sehingga membentuk larutan asam sulfat
dan asam nitrat. Ketika terjadi hujan, larutan-larutan ini bercampur dan
turun bersama hujan. Inilah yang dinamakan dengan hujan asam.

Hujan asam merugikan manusia dan lingkungan. Berikut adalah


dampak yang ditimbulkan oleh hujan asam:

1. Hujan asam dapat menyebabkan matinya tumbuhan dan ikan. Asam


yang terdapat dalam air hujan dapat bereaksi dengan mineral
dalam tanah. Tumbuhan menjadi kekurangan mineral sehingga mati
atau tidak tumbuh dengan baik. Hujan asam juga dapat melarutkan
alumunium dari mineral dalam tanah dan bebatuan, kemudian
menghanyutkannya ke sungai sehingga dapat meracuni ikan dan
mahluk air lainnya.
2. Hujan asam yang bereaksi dengan logam dapat merusak jembatan,
mobil, kapal laut, dan rangka bangunan. Hujan asam dapat merusak
bangunan (gedung/ rumah) yang terbuat dari batu kapur

TITRASI ASAM-BASA

Titrasi merupakan suatu metoda untuk menentukan kadar suatu zat


dengan menggunakan zat lain yang sudah dikethaui konsentrasinya.
Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam
proses titrasi, sebagai contoh bila melibatan reaksi asam basa maka
disebut sebagai titrasi asam basa, titrasi redox untuk titrasi yang
melibatkan reaksi reduksi oksidasi, titrasi kompleksometri untuk titrasi
yang melibatan pembentukan reaksi kompleks dan lain sebagainya. (disini
hanya dibahas tentang titrasi asam basa). Zat yang akan ditentukan
kadarnya disebut sebagai “titrant” dan biasanya diletakan di dalam
Erlenmeyer, sedangkan zat yang telah diketahui konsentrasinya disebut
sebagai “titer” dan biasanya diletakkan di dalam “buret”. Baik titer
maupun titrant biasanya berupa larutan.

Prinsip Titrasi Asam-Basa

Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer


ataupun titrant. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Kadar
larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan
sebaliknya. Titrant ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai
mencapai keadaan ekuivalen ( artinya secara stoikiometri titrant dan titer
tepat habis bereaksi). Keadaan ini disebut sebagai “titik ekuivalen”. Pada
saat titik ekuivalent ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian kita
mencatat volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut.
Dengan menggunakan data volume titrant, volume dan konsentrasi titer
maka kita bisa menghitung kadar titrant.

Cara Mengetahui Titik Ekuivalen

Ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam
basa.

1. Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi


dilakukan, kemudian membuat plot antara pH dengan volume titrant
untuk memperoleh kurva titrasi. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut
adalah “titik ekuivalent”.

2. Memakai indicator asam basa. Indikator ditambahkan pada titrant


sebelum proses titrasi dilakukan. Indikator ini akan berubah warna ketika
titik ekuivalen terjadi, pada saat inilah titrasi kita hentikan.

Pada umumnya cara kedua dipilih disebabkan kemudahan


pengamatan, tidak diperlukan alat tambahan, dan sangat praktis.
Indikator yang dipakai dalam titrasi asam basa adalah indicator yang
perbahan warnanya dipengaruhi oleh pH. Penambahan indicator
diusahakan sesedikit mungkin dan umumnya adalah dua hingga tiga
tetes. Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi maka titik akhir titrasi
dipilih sedekat mungkin dengan titik equivalent, hal ini dapat dilakukan
dengan memilih indicator yang tepat dan sesuai dengan titrasi yang akan
dilakukan. Keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat
perubahan warna indicator disebut sebagai “titik akhir titrasi”.

Rumus Umum Titrasi

Pada saat titik ekuivalen maka mol-ekuivalent asam akan sama


dengan mol-ekuivalent basa, maka hal ini dapat kita tulis sebagai berikut:

mol-ekuivalen asam = mol-ekuivalen basa

Mol-ekuivalen diperoleh dari hasil perkalian antara Normalitas


dengan volume maka rumus diatas dapat kita tulis sebagai:

NxV asam = NxV basa

Normalitas diperoleh dari hasil perkalian antara molaritas (M)


dengan jumlah ion H+ pada asam atau jumlah ion OH pada basa,
sehingga rumus diatas menjadi:

nxMxV asam = nxVxM basa

keterangan :
N = Normalitas
V = Volume
M = Molaritas
n = jumlah ion H+ (pada asam) atau OH – (pada basa)