Anda di halaman 1dari 42

LAPORAN PENELITIAN (Program Riset Poltekkes Semarang Tahun 2006)

PENGARUH ISOLASI DAN STABILISASI LIMBAH B3 (BAHAN BERACUN DAN BERBAHAYA ) MENGGUNAKAN SAMPAH PLASTIK

(BAHAN BERACUN DAN BERBAHAYA ) MENGGUNAKAN SAMPAH PLASTIK Oleh : Sugeng Abdullah Nur Hilal Teguh Widiyanto

Oleh :

Sugeng Abdullah Nur Hilal Teguh Widiyanto

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN SEMARANG JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN

PURWOKERT0

2006

PENGARUH ISOLASI DAN STABILISASI LIMBAH B3 (BAHAN BERACUN DAN BERBAHAYA ) MENGGUNAKAN SAMPAH PLASTIK

Oleh : Sugeng Abdullah 1) , Nur Hilal 2) , Teguh Widiyanto 3)

INTISARI

Dewasa ini limbah B3 ( bahan beracun dan berbahaya) dan sampah plastik merupakan permasalah yang belum dapat dipecahkan secara paripurna. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya penanggulangganya melalui penelitian ini.

Peneltian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan sampah plastik untuk mengisolasi – stabilisasi limbah B3. Juga untuk mengetahui jumlah dan ratio B3 dengan sampah plastik yang diperlukan dalam pembuatan bata plastik isolasi-stabilisasi B3.

Metode penelitian yang dipakai adalah percobaan semu (quasi experiment) dalam bentuk pembuatan bata ukuran 3 x 15 x 30 cm dari sampah plastik yang berisi baterai bekas (limbah B3). Selanjutnya bata plastik direndam dalam aquades selama 60 hari. Air rendaman bata pada hari ke1 dan ke 60 diperiksa kadar kekeruhan, warna, padatan terlarut, pH, ammonia, zink, mangan dioksida dan acetylene black.

Hasil penelitian menunjukan bahwa volume sampah yang diperlukan untuk membuat bata plastik ukuran 5 x 15 x 30 cm adalah 88,7 – 94,8 liter. Ratio B3 dengan sampah plastik 0,004 – 0,008 (volume) dan 0,21 – 0,45 (berat). Isolasi-stabilisasi B3 menggunakan sampah plastik mampu menghambat terjadinya pencemaran kekeruhan, warna, padatan terlarut, pH, ammonia, zink, mangan dioksida dan acetylene black.

Kata kunci : sampah plastik, B3, isolasi-stabilisasi.

1) , 2) , 3)

Dosen pada Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto Politeknik Kesehatan Semarang

PENGARUH ISOLASI DAN STABILISASI LIMBAH B3 (BAHAN BERACUN DAN BERBAHAYA ) MENGGUNAKAN SAMPAH PLASTIK

Oleh : Sugeng Abdullah 1) , Nur Hilal 2) , Teguh Widiyanto 3)

Abstract

For this time hazard waste and plastic waste problems there are not solution exactly. So, research about isolation-stabilization hazard waste with plastic waste is needed.

The research objective to find out plastic waste abality to cover (isolation) hazard waste.

Neither

to find amount

(used battery waste).

and

hazard waste with plastic waste ratio that cover hazard waste

A quasy experimental is undertaken with producing 5 x 15 x 30 cm plastic block from plastic waste that content hazard waste (used battery waste). Plastic block taken into aquades for 60 days. On first dan 60 th day taken with polluted level analyzed for several parameters i.e. colour, turbidity, acidity, ammonium, zink, mangan dioxide and acetylene black.

Research findings show that amount (volume) is 88,7 – 94,8 liters plastic waste needed for

make 5 x 15 x 30 cm plastic block. Hhazard waste with plastic waste ratio that cover hazard waste is 0,004 – 0,008 (volume) dan 0,21 – 0,45 (weight). Isolation hazard waste with

plastic waste can prevet or inhibit pollutant (colour, turbidity, acidity, mangan dioxide and acetylene black) release to environment.

Key words : hazard, plastic waste, isolation

ammonium, zink,

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Salah satu upaya untuk menanggulangi

permasalahan

sampah adalah melakukan

kegiatan pemanfatan kembali dan daur ulang sampah plastik. Dewasa ini kegiatan tersebut

telah dilakukan para Pemulung, namun masih terbatas pada sampah plastik yang menurutnya

memiliki nilai ekonomi. Sampah plastik yang berupa kantong bekas kemasan produk belum

banyak dimanfaatkan. Justru sampah plastik seperti ini yang menjadi persoalan

di TPA,

karena tidak dapat

terurai secara alami oleh

mikroorganisme. Pelapukan

sampah plastik

secara alami

diperkirakan membutuhkan waktu

15 - 90 tahun. Sampah plastik yang belum

dimanfaatkan oleh para Pemulung ini

memiliki potensi untuk digunakan sebagai bahan

isolasi B3.

Manusia

akan

selalu

membuang

sampah

dari

segala

dilakukannya. Di samping membuang sampah umum (refuse),

bentuk

kegiatan

yang

manusia juga membuang

sampah

beracun

dan

berbahaya

(B3).

Sampah

penanganan

dengan persyaratan yang lebih ketat.

B3

membutuhkan

pengelolaan

dan

Sampah B3 harus dikelola sedemikian

rupa sehingga tidak mencemari lingkungan dan tidak membahayakan manusia dan mahluk

hidup lainnya. Upaya final terhadap pengelolaan sampah B3 adalah

pembuangan akhir

(dispossal) dalam bentuk

bahan yang sudah stabil. Agar sampah B3 menjadi stabil dapat

dilakukan dengan cara isolasi, sementasi / solidifikasi, glasifikasi dan sejenisnya.

Andreas Krisbayu R.

(2001) menuturkan bahwa bahan berbahaya dan beracun, yang

lebih akrab dengan singkatan B3, keberadaannya di Indonesia

makin

hari

makin

mengkhawatirkan.

Lebih

dari

75%

bahan

berbahaya

dan beracun (B3) merupakan

sumbangan dari sektor industri melalui limbahnya, sedangkan sisanya berasal dari sektor lain

termasuk rumah tangga yang menyumbang 5-10% dari total limbah B3 yang ada. Peningkatan

jumlah limbah bahan berbahaya dan beracun di Indonesia antara kurun waktu 1990 – 1998

saja mencapai 100 % ( tahun 1990 sekitar 4.322.862 ton dan pada tahun 1998 mencapai

8.722.696 ton ). Jumlah ini akan naik drastis seiring

dengan

perkembangan

industrialisasi

yang cukup pesat di negara berkembang seperti Indonesia. Dari hasil proyeksi jumlah limbah

B3 yang dilakukan oleh Direktorat Pengelolaan Limbah dan B3 BAPEDAL, sampai tahun

2020 akan terdapat 60 juta ton total limbah B3.

Menyadari bahwa

problem B3 telah sampai pada tingkatan rumah tangga, maka

upaya pengelolaanya melibatkan seluruh komponen masyarakat. Upaya yang dapat dilakukan

melalui beberapa pendekatan diantaranya

adalah dengan pendekatan

teknologi isolasi /

stabilisasi B3. Yulinah (1998) menyatakan bahwa beberapa teknik stabilisasi dan solidifikasi

yang

digunakan diataranya adalah : (1) solidifikasi dengan semen, (2)

solidifikasi dengan

kabur dan bahan potzolana, (3) “membungkus” limbah dengan

bahan termoplast seperti

bitumen, parafin dan polyetilen, (4) kapsulasi dengan bahan termoset atau polymerisasi,

misalnya dengan urea formaldehide, polyester, polybutadine, (5) kapsulasi makro dengan

bahan inert, (6) glasifikasi dengan silika, (7) sementasi dengan bahan lain.

Sampah plastik yang berupa kantong bekas kemasan produk sebagian besar memiliki

sifat termoplast dan sebagian kecil bersifat termoset. Termoplast berarti bersifat lembek bila

dipanaskan dan akan keras bila didinginkan. Termoset

berarti bersifat lembek ketika

dipanaskan (dibuat) dan keras bila didingan, serta tetap keras bila dipaskan kembali. Dengan

demikian sampah plastik dapat digunakan sebagai bahan untuk isolasi atau stabilisasi limbah

B3.

Potensi sampah plastik sebagai bahan isolasi B3 perlu diketahui

secara

rinci

melalui

kegiatan penelitian / percobaan. Oleh karena itu penelitian / percobaan isolasi dan stabilisasi

limbah b3 (bahan beracun dan berbahaya) menggunakan

untuk dilakukan.

2. Permasalahan

sampah plastik

menjadi relevan

a.

Umum

Bagaimanakah kemampuan sampah plastik untuk mengisolasi dan stabilisasi limbah B3

b.

Khusus

1)

Berapa jumlah sampah plastik

yang diperlukan untuk isolasi dan stabilisasi limbah B3

dengan ukuran setara batu bata dengan dimensi 5 x 15 x 30Cm.

2)

Berapa rasio sampah plastik yang mampu ”membungkus” dengan jumlah limbah B3 yang

bisa diisolasi .

3)

Apakah adan perbedaan tingkat pencemaran pada limbah B3 yang diisolasi dengan yang

tidak diisolasi, apabila di rendam dalam air.

3. Tujuan

a. Tujuan umum

Mengetahui kemampuan sampah plastik untuk mengisolasi dan stabilisasi limbah B3

b. Tujuan Khusus

1. Mengetahui jumlah sampah plastik

yang diperlukan untuk isolasi dan stabilisasi limbah

B3 dengan ukuran setara batu bata dengan dimensi 5 x 15 x 30Cm.

2. Mengetahui rasio sampah plastik yang mampu ”membungkus” dengan jumlah limbah B3

yang bisa diisolasi .

3. Mengetahui adanya perbedaan tingkat pencemaran pada limbah B3 yang diisolasi dengan

yang tidak diisolasi, apabila di rendam dalam air.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Karakteristik Limbah B3

B3 merupakan singkatan dari

bahan berbahaya dan beracun, yang merupakan

terjemahan dari hazard atau hazard waste. RCRA (Yulinah, 1998) mendefinisikan B3 sebagai

limbah (padat) atau gabungan dari limbah (padat) yang karena jumlah dan konsentrasinya

atau karena sifat fisik-kimia mengakibatkan timbulnya atau menyebabkan semakin parahnya

penyakit yang tidak dapat disembuhkan atau penyakit yang melumpuhkan.

Dalam PP No 19 tahun 1994 disebutkan bahwa B3 adalah setiap limbah yang karena

sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya secara langsung atau tidak langsung

dapat

merusak dan/atau mencemari lingkungan hidup dan/atau membahaykan kesehatan manusia.

Senada dengan dengan hal tersebut, definisi tentang B3 yang terdapat pada PP 74 tahun 2001

berbunyi : Bahan Berbahaya dan Beracun yang selanjutnya disingkat dengan B3 adalah

bahan

yang

karena

sifat

dan

atau

konsentrasinya

dan

atau Karakteristik dan Sumber

jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan atau

merusak lingkungan hidup, dan atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan,

kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya.

Untuk menetapkan apakah suatu bahan dapat dikategorikan sebagai B3, lazimnya

dilakukan identifikasi. Identifikasi diawali pemeriksaan secara fisik – kimia dilaboratorium.

Selanjutnya

di cocokkan dengan

daftar jenis

B3 yang ada. Apabila tidak cocok, biasanya

ditentukan berdasarkan sifat atau karakteristinya. Menurut pasal 5 PP No 74 Tahun 2001, B3

dapat diklasifikasikan sebagai berikut : a. mudah meledak (explosive);

b. pengoksidasi

(oxidizing); c. sangat mudah sekali menyala (extremely flammable);

d. sangat mudah

menyala (highly flammable);

e. mudah menyala (flammable);

f. amat sangat beracun

(extremely toxic);

g. sangat beracun (highly toxic);

h. beracun (moderately toxic);

i.

berbahaya (harmful);

j. korosif (corrosive);

k. bersifat iritasi (irritant);

l. berbahaya bagi

lingkungan (dangerous to the environment); m. karsinogenik (carcinogenic);

(teratogenic); o. mutagenik (mutagenic).

n. teratogenik

Yulinah

(1998)

mengemukakan

bahwa

beberapa

sifat

dan

karakteristik

B3

diantaranya adalah mudah menyala, korosif,

reaktif, toksis, radioaktif, infeksius, fitotoksik,

teratogenik dan mutagenik.

a) Mudah menyala dicirikan dengan

bahan tersebut memiliki

titik nyala < 60 o C,

dalam

bentuk padat akan segera menyala bila terkena gesekan / tekanan, dalam bentuk gas akan

mudah terbakar bila hadir bahan oksidan, bahan tersebut mudah mengalami perubahan

kimia secara spontan.

b) Korosif ditandai dengan adanya keasaman (pH) < 2 atau 12,5 dan menyebabkan karat

pada baja sebesar 0,625 cm/th dalam temperatur 55 o C.

c) Reaktif berarti bereaksi spontan,

bereaksi hebat dengan air dengan membentuk kabut,

dapat membentuk gas beracun bila terkena air atau asam/basa, dapat meledak pada suhu

normal.

d) Toksik dicirikan dengan bahan tersebut memiliki LD50 (oral) terhadap tikus < 50 mg/kg

atau LC50 (inhalasi) terhadap tikus < 2mg/L atau LD50 (dermal) terhadap kelinci < 200

mg/kg atau dapat menyebabkan penyakit yang tidak tersembuhkan.

e) Radioaktif lebih diartikan sebagai radiasi pengion.

f) Infektius berarti mengandung bibit penyakit yang dapat/sangat menular.

g) Fitotoksik berarti dapat menyebabkan kerusakan pada tumbuhan

h) Teratogenik berarti dapat mengakibatkan kelainan (cacat) pada janin.

i) Mutagenik berarti dapat mengakibatkan mutasi sel, dengan akibat lebih jauh berupa

kanker atau munculnya sifat-sifat baru yang merugikan.

Sifat dan karakteristik seperti yang sebutkan diatas, dalam beberapa kasus penetapan

B3 kemudian disederhanakan

merupakan

kependekan dari

menjadi

4 kriteria yang dikenal dengan ICRT. ICRT

I=Ignitable (menyala), C=Corosive (berkarat), R=Reactive

(mudah bereaksi), T=Toxic (beracun). Peraturan perundang-undangan yang ada di Indonesia

tampaknya

juga

mengadopsi

mendeskripsikan B3.

sifat,

karakteristik

dan

kriteria

dimaksud

untuk

Sumber pencemaran (limbah) B3 adalah industri manufaktur baik yang berskala besar

maupun kecil, kecelakaan

dan rumah

tangga.

B3 dari industri manufaktur berupa bahan

yang tidak dipakai (spent material), produk sampingan, lumpur dari UPL, IPAL dan gas. Juga

produk industri yang terkontaminasi, tidak memenuhi spesifikasi, tumpahan, tersisa dalam

kontainer dan kedaluwarsa. B3 dari sumber kecelakaan misalnya tumpahan minyak dari

tanker atau instalasi nuklir yang meledak.

B3 yang bersumber dari rumah tangga umumnya

berupa eks kemasan pestisida, cairan pencuci, baterai, lampu lisrik, dll. Sumber B3 bisa juga

dikelompokkan dalam sumber spesifik (dari industri atau kegiatan tertentu) dan sumber non

spesifik (dari kegiatan yang bukan proses utama, misalnya dari pemeliharaan alat, inhibitor

korosi, pelarutan kerak, dll). Jenis

lampiran PP 18 Tahun 1999

B3 untuk masing-masing sumber dapat diperiksa pada

Andreas Krisbayu R.

(2001) menuturkan bahwa bahan berbahaya dan beracun, yang

lebih akrab dengan singkatan B3, keberadaannya di Indonesia

makin

hari

makin

mengkhawatirkan.

Lebih

dari

75%

bahan

berbahaya

dan beracun (B3) merupakan

sumbangan dari sektor industri melalui limbahnya, sedangkan sisanya berasal dari sektor lain

termasuk rumah tangga yang menyumbang 5-10% dari total limbah B3 yang ada. Peningkatan

jumlah limbah bahan berbahaya dan beracun di Indonesia antara kurun waktu 1990 – 1998

saja mencapai 100 % ( tahun 1990 sekitar 4.322.862 ton dan pada tahun 1998 mencapai

8.722.696 ton ). Jumlah ini akan naik drastis seiring

dengan

perkembangan

industrialisasi

yang cukup pesat di negara berkembang seperti Indonesia. Dari hasil proyeksi jumlah limbah

B3 yang dilakukan oleh Direktorat Pengelolaan Limbah dan B3 BAPEDAL, sampai tahun

2020 akan terdapat 60 juta ton total limbah B3.

B. Sampah Baterai Sebagai B3

Sampah baterai atau baterai bekas (zwak) mengandung bahan beracun dan berbahaya

(B3) yang komposisinya tergantung dari masing-masing jenis baterai. Terdapat beragam jenis

baterai yang digunakan masyarakat. Secara umum beberapa jenis baterai yang ada di pasaran

adalah : jenis Carbon-Zinc, Alkaline Manganese Dioxide-Zinc, Alkaline Zinc-Air (Mercury) ,

Mercuric oxide, Nickel-Cadmium, Silver Oxide-Zinc, Lithium-Manganese Dioxide. Menurut

USEPA (2002) semua jenis baterai tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua yakni baterai

non reachargeable ( setelah dipakai tidak bisa diisi lagi dan langsung dibuang)

dan baterai

rechargeable (setelah dipakai bisa diisi kembali dan dibuang setelah rusak).

Menurut

Keenan, dkk (1980)

semua jenis baterai pada dasar merupakan jenis sel

primer dan sel sekunder. Sel primer adalah baterai yang

selnya dibentuk dengan anoda dan

katode yang dihabiskan secara kimia ketika sel itu manghasilkan arus. Sel primer inilah yang

dikenal dengan baterai sekali pakai. Sebaliknya, sel skunder adalah

sel yang elektrodenya

dapat dikembalikan

seperti pada kondisi awal. Sel

sekunder dikenal sebagai baterai yang

dapat di cas (charge) ulang. Menurut Keenan, dkk (1980) janis baterai yang termasuk dalam

kategori sel primer dan sel sekunder yang ada di masyarakat dan terus dikembangkan adalah

seperti yang disajikan dalam tabel 2.1.

TABEL 2.1.

NAMA BATERAI YANG TERDAPAT DI PASARAN YANG TERUS DIKEMBANGKAN

No.

Nama

 

Sistem baterai

Tipe sel

1.

Sel Leclanche (sel kering)

Zn

| NH 4 Cl (aq) | MnO 2

Sel primer

2.

Sel Zink Oksigen

Zn

| KOH(aq) | O 2

Sel primer

3.

Sel Lithium Chlor

Li

| LiCl (l) |Cl 2

Sel Primer

4.

Sel Timbal Asam

Pb

| H 2 SO 4 (aq) | PbO 2

Sel sekunder

5.

Se Nikel Cadmium

Cd

| KOH (aq) | NiOH2

Sel sekunder

6.

Sel Perak - Zink

Zn

| KOH (aq) | Ag2O

Sel sekunder

7.

Sel Zink -udara

Zn

| KOH (aq) | air

Sel sekunder

8.

Sel lithium tembaga flourida

Li

|KPF 6 (non aq) | CuF 2

Sel sekunder

Sumber : Keenan, dkk (1980)

Pada dasarnya baterai terdiri dari anoda dan katoda yang didalamnya terdapat bahan

kimia elektrolit dengan komposisi sesuai jenis sel .

Keenan (1980) menyatakan bahwa

konstruksi baterai merupakan perpaduan antara ilmu dan seni, sehingga

dihasilkan

baterai

dengan

beragam bentuk, ukuran, disain, tenaga, sifat rechargeable, dan lainnya.

Secara

umum anatomi baterai adalah seperti ditunjukkkan pada gambar 2.1.

(a) (b) Gambar 2.1. : Anatomi baterai (a) se l kering (b) sel perak-zink oksida

(a)

(a) (b) Gambar 2.1. : Anatomi baterai (a) se l kering (b) sel perak-zink oksida baterai

(b)

Gambar 2.1. : Anatomi baterai (a) sel kering

(b) sel perak-zink oksida

baterai

Sampah baterai pada akhirnya

akan

mencemari

air tanah, karena

73 % sampah

dibuang dalam

tanah (land fill). Di dalam tanah, kandungan bahan beracun dan

berbahaya (B3) yang ada dalam sampah baterai akan terlarut dalam air. Tingkat pelarutan

bahan kimia yang

ada dalam baterai Zink- Carbon

mencapai

35 –43%. Kondisi demikian

mengakibatkan perubahan keasaman air menjadi pH 4,7 – 6. Logam berat yang ada dalam

baterai rechargeable seperti Nikel, Cadmium, Mercurt,

Plumbum, Silver dan lainnya akan

ikut terlindi yang dapat mengakibatkan pencemaran air tanah. Pencemaran air tanah oleh

sampah baterai sudah

sangat menghawatirkan. Sebagai gambaran,

penggunaan baterai

rechargeable

di

USA medio 1996 saja

skala rumah tangga (USEPA, 2002).

mencapai 350 juta buah untuk penggunaan

pada

Di Indonesia

penggunaan baterai rechargeble belum ada data angka yang pasti.

Demikian juga penggunaan baterai non rechargeable. Namun demikian panggunaan baterai

oleh masyarakat masih didominasi oleh baterai non rechargeable.

Baterai

non rechargeable

yang

banyak dipakai masyarakat diantaranya adalah jenis carbon zink. Sesuai dengan yang

tercantum dalam Produk Safety Data Sheet (Energizer, 2006) komposisi baterai carbon-zink

yang merupakan salah satu baterai non rechargeable adalah

acetylene black, ammonium

chloride, mangan diokside, zink dan Zink oxide

Lebih lanjut dikemukakan

oleh Energizer (2006) bahwa Acetelene black yang

merupakan serbuk hitam dan tidak berbau dapat menyebabkan

iritasi pada kulit, mata dan

saluran pernafasan. Dalam jangka panjang bahkan dapat menyebabkan kerusakan fatal pada

organ paru-paru. Demikian halnya

dengan mangan, dalam jangka panjang menghirup udara

tercemar debu mangan dapat mengakibatkan inflamasi pada jaringan paru-paru seperti

pnemonia dan kerusakan jaringan saraf. Keracunan mangan dapat terjadi terutama pada orang

yang mengalami defisiensi besi atau kurang darah.

baterai

Bedasarkan data

RTECS (Eveready, 2006) beberapa bahan kimia yang ada dalam

carbon-zink

dapat

mengakibatkan

gangguan

sistem reproduksi

yakni

Mangan

dioksiada, Zink Cloride, Zink Okside. Robert Lauwerys, dkk (1985) mengemukakan bahwa

kontak dengan

debu mangan dapat mengakibatkan

penurunan tingkat fertililas pada kaum

pria. Bahan lain yang bersigat

dan zink chloride.

bersifat mutagenik dan

karsinogenik yaitu

acetylene black

Tingkat bahaya

pada bahan kimia penyusun

baterai carbon zink dapat dilihat dari

Kadar Ambang Batas di lingkungan (TLV = Threshould Limited Value) yang dapat dilihat

pada tabel berikut :

TABEL 2.2.

TINGKAT BAHAYA (TOKSISITAS) BAHAN YANG TERKANDUNG DALAM BATERAI CARBON -ZINK

BAHAN YANG TERKANDUNG DALAM BATERAI CARBON -ZINK Sugeng Abdullah, Isolasi – Stabilisasi Limbah B3

Sugeng Abdullah, Isolasi – Stabilisasi Limbah B3 Menggunakan Sampah Plastik.

P. 14

C. Isolasi – Stabilisasi B3

Yulinah (1998) menyatakan bahwa beberapa teknik isolasi-stabilisasi dan solidifikasi

limbah B3 yang digunakan diataranya adalah : (1) solidifikasi dengan semen, (2) solidifikasi

dengan kabur dan bahan potzolana, (3) “membungkus” limbah dengan

bahan termoplast

seperti

bitumen,

parafin

dan

polyetilen,

(4)

kapsulasi

dengan

bahan

termoset

atau

polymerisasi, misalnya dengan urea formaldehide, polyester, polybutadine, (5) kapsulasi

makro dengan bahan inert, (6) glasifikasi dengan silika, (7) sementasi dengan bahan lain.

Solidifikasi

diartikan sebagai sebuah teknik

untuk mencampur limbah B3 dengan

bahan

lain,

Solidifikasi

sehingga

terjadi

ikatan

yang

dimaksudkan untuk mengkonversi

mampu

menjadi

limbah beracun

bahan

padat

yang

stabil.

menjadi massa yang secara

fisik stabil, innert, memiliki daya leaching (melarut) rendah,

serta memiliki kekuatan

mekanik yang cukup memadai. Karena memiliki kekuatan mekanik yang cukup, maka

selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan pengisi bangunan, reklamasi tanah atau landfill.

Isolasi merupakan tindakan untuk

menyekat limbah B3 agar tidak dapat kontak dengan

lingkungan luar, sehingga B3 akan menjadi bahan yang mati dan stabil bila digunakan sebagai

bahan pengisi bangunan, pengisi tanah atau land fill.

BAB III

METODE PENELITIAN

1. Tempat dan Waktu Penelitian

a. Waktu penelitian

Persiapan

:

Bulan Juli s/d Agustus 2006

Pelaksanaan

: Bulan September s/d Oktober 2006

Penyelesaian

b. Lokasi penelitian

: Bulan Nopember s/d Desember 2006

Penelitian dilakukan di laboratorium dan bengkel kerja Jurusan Kesehatan Lingkungan

(JKL) Purwokerto Poltekkes Semarang, di desa Karangmangu, kecamatan Baturraden,

Kabupaten Banyumas. Pembuatan bata plastik isolasi-stabilisasi B3 dilakukan

di bengkel

kerja, dan perendaman serta pemeriksaan kadar pencemar dilakukan di laboratorium.

2. Jenis Penelitian

Jenis penelitian adalah semi eksperimen

3. Disain Penelitian

Disain penelitian adalah quasi experiment non random. Bagan alir jalannya penelitian

pada lampiran.

4. Populasi dan Sampel

Sampel sampah plastik diambil dari salah satu TPS di Baturraden, Kabupaten Banyumas.

Sampel air diambil

pada air (aquades)

rendaman limbah B3 yang

diisolasi dengan

sampah plastik dan air (aquades)

rendaman limbah B3 yang tidak

sampah plastik pada hari ke 1 dan ke 60.

5. Variabel

diisolasi dengan

Variabel bebas adalah Limbah B3 diisolasi sampah plastik

Variabel terikat adalah Kadar pencemar dalam air

6. Cara Pengumpulan Data

a.

Bahan dan alat

sampah plastik

limbah B3 dari rumah tangga (berupa batu bateray bekas)

minyak tanah

tungku batu bara

aquades

reagent untuk pemeriksaan Ammonia, Zink, Mangan, Acetylene black.

boiler bubur plastik

cetakan batu bata dari plat besi

gayung logam

timbangan / penakar.

Spectrofometer jinjing merk Orbeco-Hellige model MP-975 berikut kelengkapannya

Komputer, printer berikut kelengkapannya.

b.

Cara kerja / langkah-langkah penelitian

1). Persiapan

Pengurusan surat-surat perijinan dan persiapan lokasi penelitian

Pembuatan instrument penelitian / alat percobaan

Uji coba instrument penelitian

Persiapan lokasi

2)

Pelaksanaan

 
 

Pemilahan sampah untuk mendapatkan sampah plastik jenis termoplast

 

Pengepresan

sampah

plastik

tersebut

untuk

mengurangi

kadar

air.

Tekanan

 

pengepresan

0,22 kg/cm 2 , menggunakan alat sederhana sebagaimana ditunjukan

pada lampiran.

 
 

Mengukur

volume

atau

menimbang

sampah

plastik

(tanpa

dicuci).

Volume

 

sampah setelah dipress diukur dengan menggunakan kotak kayu berukuran 25cm x

25cm x 50 Cm. Penimbangan dilakukan dengan neraca pegas

 
 

Mengukur

volume

atau

menimbang

limbah

B3.

Pengukuran

volume

B3

 

menggunakan prinsip hukum Archimides, yakni menggunakana gelas ukur berisi

air, selanjutnya B3 dimasukkan kedalammya. Selisih volume air sebelum dan

sesudah diisi B3 menunjukkan volume B3. Penimbangan dilakukan dengan neraca

pegas

 

Membuat bubur plastik

untuk

isolasi – stabilisasi limbah B3, dengan cara

 

dipanaskan dalam boiler bubur plastik. Pemanas menggunakan kompor minyak

tanah bertekanan.

 
 

Membuat

isolasi – stabilisasi limbah B3 dengan

bubur plastik, berupa

bata

plastik yang berisi limbah B3, menggunakan

cetakan pelat besi atau aluminium

yang berukuran 5 x 15 x 30 cm. Bata plastik dibuat 2 jenis yakni jenis I bata berisi

12 buah batu bateray dengan tebal pelapisan palstik 2 – 5 mm. Jenis II berupa bata

berisi 6 buah batu bateray dengan tebal pelapisan 10 – 25 mm

Menghitung ratio volume atau berat

rumus sbb:

sampah plastik dengan limbah B3, dengan

Volume B3 (Cm 3 ) Ratio volume : ---------------------------------------- Volume sampah plastik (Cm 3 )

Berat B3 (gram) Ratio berat : --------------------------- Berat sampah plastik (gram)

Perendaman

B3 yang diisolasi dan yang tidak diisolasi dalam aquades. Perendaman

dilakukan selama 60 hari. Air / aquades yang digunakan untuk merendam sebanyak 6

liter setiap bata plastik dimaksud. Pada hari ke 1 dan ke 60 dilakukan pemeriksaan

kadar pencemar dalam air.

Pengukuran kadar pencemar dalam

aquades rendaman bata plastik isolasi-stabilisasi

B3 meliputi parameter warna, tingkat warna, tingkat kekeruhan, pH, padatan terlarut,

ammonia, zink , Mangan dioksida dan acetylene black. Pemeriksaan dilakukan dengan

metode

potensiometri

dan

spektofotometri.

Pemeriksaan

dilakukan

dengan

spektrofotometer Orbeco-Hellige Model MP-975, pH tester dan TDS-meter. Prosedur

pemeriksaan adalah sebagaimana ditunjukkan pada lampiran.

 

3)

Penyelesaian

Pengolahan dan analisis data

Penyusunan laporan

Seminar

Revisi laporan

7.Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan data meliputi kegiatan editing, coding, klasifikasi dan tabulating. Analisis

deskriptif dilakukan terhadap komposisi/ ratio

jumlah sampah plastik dengan limbah B3

yang ideal.

Analisis tabel digunakan untuk mengetahui

perbedaan

adanya

pecemaran

limbah B3 yang diisolasi dan yang tidak diisolasi.

8 Definisi Operasional

Limbah B3 yang dimaksud adalah limbah yang memiliki salah satu sifat sesuai pasal

5 PP No 74 Tahun 2001, yang biasa terdapat pada rumah tangga. Dalam hal ini dipilih

batu bateray yang sudah tidak terpakai (zwack).

Sifat B3 dimaksud adalah seperti

ditunjukkan pada lampiran.

Isolasi – stabilisasi adalah kemampuan menyekat dan menahan pengaruh limbah B3

agar tidak dapat kontak dan bereaksi

dengan lingkungan luar dalam kurun waktu

tertentu, sehingga dapat menghindari terjadinya pencemaran lingkungan (air). Diukur

melalui pendekatan

jumlah / kadar pencemar (B3) yang dapat menerobos sekat atau

mencemari lingkungan (air).

Sampah plastik adalah semua sampah plastik jenis termoplast hasil pemilahan sampah

umum (refuse) yang diperoleh dari salah satu TPS di Baturraden.

Kadar pencemar adalah konsentrasi pencemar limbah B3 dalam air aquades yang telah

direndami bata isolasi – stabilisasi B3

yang

di representasikan

dalam parameter

temperatur, warna, tingkat warna, tingkat kekeruhan, pH, padatan terlarut, ammonia,

zink

,

Mangan

dioksida

dan

acetylene

black.

Pemeriksaan

dilakukan

dengan

spektrofotometer Orbeco-Hellige Model MP-975, pH tester dan TDS-meter

9. Kerangka Pikir

Aktivitas Manusia

9. Kerangka Pikir Aktivitas Manusia Produk berguna Produk tidak berguna Digunakan SAMPAH / manusia LIMBAH Pemilahan

Produk berguna

Produk berguna
9. Kerangka Pikir Aktivitas Manusia Produk berguna Produk tidak berguna Digunakan SAMPAH / manusia LIMBAH Pemilahan

Produk tidak

berguna

Aktivitas Manusia Produk berguna Produk tidak berguna Digunakan SAMPAH / manusia LIMBAH Pemilahan Refuse B3
Digunakan SAMPAH / manusia LIMBAH Pemilahan Refuse B3 TPS Sampah Plastik TPA Reuse & ISOLASI
Digunakan
SAMPAH /
manusia
LIMBAH
Pemilahan
Refuse
B3
TPS
Sampah Plastik
TPA
Reuse &
ISOLASI &
Recycling
Bahan Isolasi
STABILISASI

10. Susunan Tim Peneliti

1.

Penelti Utama

Nama

:

Sugeng Abdullah, SST, MSi

Tempat / Tgl Lahir : Kesugihan Cilacap, 16 Juli 1963

Jabatan

: Lektor

 

Pendidikan

: S2 Ilmu Lingkungan UGM Yogyakarta

2.

Peneliti I

Nama

: Nur Hilal, SKM, MKes

Tempat / Tgl Lahir : Luwung, 07 April 1962

Jabatan

: Lektor Kepala

 

Pendidikan

: S2 / Magister Kesehatan UGM Yogyakarta

3.

Peneliti II

Nama

: Teguh Widiyanto, S.Sos

Tempat / Tgl Lahir : Purbalingga, 01 Juni 1961

Jabatan

: Lektor

 

Pendidikan

:

Kandidat

Magister Kesehatan Lingkungan UNDIP Semarang.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil penelitian

1. Lokasi penelitian

Penelitian

dilakukan

di

bengkel

kerja

dan

laboratorium

Jurusan

Kesehatan

Lingkungan (JKL) Purwokerto Poltekkes Semarang. Pembuatan bata plastik isolasi-

stabilisasi B3 dilakukan di bengkel kerja, sedangkan perendaman dan pemeriksaan kadar

pencemar dilakukan di laboratorium. JKL Purwokerto terletak di Desa Karangmangu,

Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas. Daerah

dpl, sehingga memiliki udara sejuk.

ini memiliki

ketinggian

500 M

Desa Karangmangu termasuk daerah padat penduduk. Sebagaimana

penduduk di

daerah lainnya, sebagian diantaranya telah terbiasa dengan penggunaan barang-barang

elektronik yang bersumber energi dari batu bateray.

Demikian juga penggunaan plastik

sebagai bahan pembungkus atau kemasan produk, sehingga sampah yang dihasilkan dari

desa Karangmangu sebagian besar juga berupa sampah plastik.

2. Kondisi cuaca

Temperatur udara

Kelembaban udara

: 19 –24 o C

: 70 – 85 %

3.

Karakteristik bahan baku isolasi-stabilisasi B3

a. Sampah plastik

Sampah plastik yang dipakai memiliki karakteristik sbb. :

Sumber

Jenis & rupa

Densitas

: TPS ( dari rumah tangga)

: Termoplast berupa bekas kemasan beraneka produk

: 20,3 gram / L (tanpa pengepresan)

: 185,9 gram / L (dengan pengepresan ± 0,22 Kg/Cm 2 )

Kandungan air

Tingkat kebersihan

: < 10% (kering)

: Kotor, banyak debu/tanah menempel. Sampah plastik

tidak dilakukan pencucian.

b. Bahan Beracun dan Berbahaya (B3)

B3 yang digunakan berupa batu bateray bekas dengan spesifikasi sbb. :

Ukuran

Bentuk

Volume

Berat

Merk

Type

Kandungan B3

:

AA 1,5 Volt

: silinder

: 58 Cm 3

: 64 – 69 gram

: ABC dan Eveready

: Seng - Karbon ( Zink-Carbon)

: Acetylene Black, Ammonium Chloride,

Manganese Dioxide, Zinc, Zinc Chloride.

4.

Karakteristik bata plastik isolasi-stabilisasi B3

Bata plastik dibuat 2 jenis dengan spesifikasi masing-masing ditunjukkan pada tabel

berikut :

TABEL . 4 .1.

SPESIFIKASI BATA PLASTIK ISOLASI-STABILISASI B3

Karakteristik

Jenis I

Jenis II

Ukuran bata

5 x 15 x 30 Cm Balok

5 x 15 x 30 Cm Balok

Bentuk bata

Volume bata

2.250

Cm 3

2.250

Cm 3

Jumlah bateray

12 buah

6 buah

Volume baterai

696 cm 3 804 gram

348 cm 3 402 gram

Berat baterai

Jumlah sampah plastik

Volume sampah plastik

gram 88.670 cm 3

1.800

gram 94.828 cm 3

1.925

Berat bata

Tebal pelapisan plastik pada B3

2.650

gram 3 – 5 mm

gram 10 – 21 mm

2.284

Kondisi fisik bata

ada banyak retakan

ada retakan lembut

Ratio volume B3 terhadap sampah

696: 88.670 (0,008)

348 : 94.828 (0,004)

Ratio berat B3 terhadap sampah

804 : 1.800 (0,45)

402 : 1.925 (0,21)

Dalam percobaan pembuatan bata plastik isolasi-stabilisasi B3 ini digunakan

kompor minyak tanah untuk pemanasan / pencairan sampah plastik / pembuatan bubur

plastik. Untuk pembuatan

1 (satu) buah bata plastik ukuran 5 x 15 x 30 cm

mulai dari

pembuatan bubur plastik hingga menjadi bata membutuhkan waktu 60 –100 menit.

5.

Uji perendaman bata plastik isolasi-stabilisasi B3

Bata plastik (isolasi-stabilisasi B3) yang telah jadi, selanjutnya masing-masing jenis

direndam dalam aquades sebanyak 6 liter. Demikian juga batu bateray yang tidak

diperlakukan dengan isolasi-stabilisasi juga direndam dalam aquades

6 liter. Hasil

pemeriksaan terhadap kandungan

kimia pada air rendaman tersebut disajikan pada tabel

berikut ini :

TABEL 4.2

KADAR PENCEMAR AIR RENDAMAN BATA PLASTIK ISOLASI-STABILISASI B3 TANGGAL 17 OKTOBER 2006 (HARI KE 1)

No.

Parameter

Kadar pencemar pada air rendaman bata plastik

Tanpa isolasi (A)

Jenis I (B)

Jenis II (C)

1.

Temperatur

 

22 o C

22 o C

22 o C

2.

Warna

Tak berwarna

Tak berwarna

Tak berwarna

3.

Tingkat warna

12 TCU

12 TCU

12 TCU

4.

Tingkat Kekeruhan

0

FTU

0

FTU

0

FTU

5.

Padatan terlarut

4

mg/l

4

mg/l

4

mg/l

6.

Keasaman (pH)

 

7

 

7

 

7

7.

Ammonia

0

mg/l

0

mg/l

0

mg/l

8.

Zink

0

mg/l

0

mg/l

0

mg/l

9.

Mangan Dioksida

0

mg/l

0

mg/l

0

mg/l

10.

Acetylene black

0

mg/l

0

mg/l

0

mg/l

TABEL 4.3.

KADAR PENCEMAR AIR RENDAMAN BATA PLASTIK ISOLASI-STABILISASI B3 TANGGAL 16 DESEMBER 2006 (HARI KE 60)

No.

Parameter

Kadar pencemar pada air rendaman bata plastik

Tanpa isolasi (A)

Jenis I (B)

Jenis II (C)

11.

Temperatur

 

21 o C

21 o C

21 o C

12.

Warna

Coklat kehitaman

Tak berwarna

Tak berwarna

13.

Tingkat warna

442.3

TCU

75,3 TCU

50,5 TCU

14.

Tingkat Kekeruhan

113,3 FTU

29,7 FTU

16,3 FTU

15.

Padatan terlarut

2.180

mg/l

564,7 mg/l

228,3 mg/l

16.

Keasaaman (pH)

 

4

 

5

 

7

17.

Ammonia

14,7 mg/l

15,5 mg/l

2,6 mg/l

18.

Zink

90 mg/l

76,7 mg/l

50,3 mg/l

19.

Mangan Dioksida

0

mg/l

0

mg/l

0

mg/l

20.

Acetylene black

0

mg/l

0

mg/l

0

mg/l

B. Pembahasan

1. Kondisi Tempat Penelitian

Laboratorium JKL Purwokerto yang berada di desa Karangmangu, kecamatan

Baturraden, kabupaten Banyumas dengan ketinggian 500 mdpl merupakan tempat yang

cocok untuk penelitian semacam ini. Beberapa alasan yang mendukung kesesuaian

lokasi ini untuk penelitian di laboratorium JKL Purwokerto telah tersedia sarana dan

peralatan yang mendukung terlaksananya penelitian dimaksud diantaranya

spektrofotometer, TDS meter, pHmeter, Termometer.

Ketinggian tempat

500 mdpl memberikan pengaruh secara fisiko-kimia terhadap

kondisi lingkungan sekitar. Udara terasa sejuk karena kisaran temperatur udara 19 –24 o C

dengan kelembaban

70 – 85 % memungkinkan berlangsungnya

transfer gas dari

udara

kedalam air atau sebaliknya pelepasan gas dari dalam air berjalan secara normal. Kondisi

demikian

perlu memperoleh perhatian berkaitan dengan

mekanisme pelarutan suatu zat

di dalam air sebagaimana yang terjadi dalam penelitian ini. Sebagai contoh dapat

dikemukakan

tentang

kemampuan pelarutan gas oksigen (O 2 ) kedalam air yang

berhubungan dengan temperatur udara dikemukakan oleh

Linsley & Franszini (1995)

sebagaimana disajikan dalam tabel 4.4.

Temperatur udara di lokasi penelitian

adalah 19 –24 o C, sehingga

kemampuan

oksigen melarut dalam air maksimal

9,2 mg/l. Hal ini tentu

dapat difahami bahwa

oksidasi yang terjadi di dalam air percobaan dapat berlangsung secara alamiah normal

tanpa ada intervensi manusia. Artinya pengaruh udara terhadap berlangsungnya penelitian

ini adalah dapat disamakan dengan tempat lain yang memiliki keadaan yang setara.

TABEL 4.4.

KONSENTRASI KESEIMBANGAN OKSIGEN TERLARUT DALAM AIR

No

Temperatur udara

Konsentrasi Oksigen

(

o C)

Terlarut dalam air (mg/l)

1.

 

0

14,5

2.

 

5

12,7

3.

 

10

11,3

4.

 

15

10,1

5.

 

20

9,2

6.

 

25

8,4

7.

 

30

7,7

8.

 

40

6,8

Sumber : Linsley dan Franzini (1995)

2. Karakteristik bahan baku isolasi-stabilisasi B3 (sampah plastik)

Sampah plastik yang digunakan untuk membuat bubur plastik memiliki karateristis

sebagaimana dipaparkan diatas,

memungkinkan terjadinya pengikatan

bahan lain selain

B3 (batu baterai). Kondisi

sampah plastik yang kotor tentu memiliki zat lain yang

meninempel

bersama

kotoran

tersebut.

Debu

dan

kotoran

pada

plastik

akan

mempengaruhi kekuatan ikatan antar partikel bubur plastik ketika membeku menjadi bata

plastik. Akibatnya, pada saat pendinginan akan terjadi perbedaan temperatur diantara

partikel bubur plastik. Perbedaan temperatur antar pertikel bubur plastik ketika proses

pendinginan, mengakibatkan tingkat penyusutan

berupa terjadi retak pada permukaan bata plastik.

zat akan berbeda pula. Akibat lanjut

Perbedaan temperatur ketika proses pendinginan bata plastik, diduga tidak terjadi

hanya karena plastik kotor, tetapi juga oleh bahan pengisi bata plastik berupa batu baterai.

Seng yang merupakan bahan pembungkus baterai merupakan konduktor dan penyimpan

panas yang baik. Sangat mungkin terjadi akumulasi panas pada seng tersebut. Sementara

didalam baterai terdapat serbuk

ammonium chlorida dan bahan lain yang bukan

merupakan konduktor panas. Ringkasnya, perbedaan panas pada

serbuk amonium

chlorida, seng pembungkus dan partikel bubur plastik dapat memicu terjadinya

retak-

retak di permukaan bata plastik.

Plastik

dan seng

bukanlah zat yang dapat menempel

secara alamiah. Keduanya

memiliki daya adesi yang sangat lemah terhadap satu sama lain. Keduanya diperlukan

bahan lain atau katalis agar dapat menempel satu sama lainnya. Lem merupakan

bahan

yang lazim digunakan untuk menempelkan

dua bahan yang berbeda. Katalis yang bisa

digunakan untuk menempelkan plastik pada seng diantaranya adalah panas / pemanasan.

Plastik dapat menempel pada seng pembungkus baterai melalui pemanasan

menjadi

bubur plastik, tetapi ikatan keduanya tidaklah

kuat. Agar diperoleh ikatan yang kuat

diperlukan katalis kimia atau bahan kimia lainnya.

3. Karakteristik bata plastik isolasi-stabilisasi B3

Kedaan bata plastik yang retak-retak dapat dimaklumi sebagaimana dijelaskan

dimuka. Besar retakan yang berbeda pada kedua jenis bata plastik tersebut, diduga akibat

tebal pelapisan yang berbeda.

Kekuatan ikatan kohesi

suatu bahan

juga

dipengaruhi

oleh ketebalan bahan. Hal ini dapat diilustrasikan dengan kertas yang tipis

dan kertas

yang tebal. Kertas yang tipis tentu akan muda dirobek. Tebal pelapisan plastik (bubur

plastik)

ketika

digunakan untuk membungkus B3 (batu baterai) akan berpengaruh

terhadap ikatan kohesi

plastik tersebut. Hal itu juga terlihat dari hasil pembuatan bata

plastik sebagaimana disajikan pada tabel

4.1. Plastik jenis II yang memiliki ketebalan

pelapisan lebih besar memiliki retakan yang lebih lembut.

Retakan yang terjadi pada bata plastik merupakan kondisi yang merugikan dalam

hal

mengisolasi B3 yang ada didalamnya. B3 yang ada dalam bata plastik dapat

menerobos

keluar lepas di lingkungan, sehingga masih memungkinkan terjadinya

pencemaran. Sebaliknya, adanya retak pada permukaan bata plastik juga dapat

bersifat

menguntungkan

bila

bata

plastik

tersebut

akan

direkatkan

satu

sama

lainnya

menggunakan lem, dalam rangka pemanfaatan untuk bahan bangunan. Retakan

tersebut

akan memberikan

efek penguatan terhadap

ikatan

perekatan lem. Perekatan ikatan lem

akan semakin kuat bila kedua permukaan yang dilem kondisinya kasar (banyak retak).

Ukuran, berat, volume dan bentuk bata plastik yang dibuat sebenarnya sangat

mungkin untuk bisa digunakan sebagai bahan bangunan.

Sayang sekali dalam penelitian

ini tidak memungkinkan untuk dilakukan uji kekuatan bahan terhadap tekanan, daya

lentur, daya tarik dan daya awet. Oleh karena itu perlu dilakukan uji kekuatan kekuatan

bahan tersebut, sehingga dapat diperoleh informasi yang akurat. Lebih lanjut, diharapkan

akan

di

temukan

material

baru

untuk

bahan

bangunan

dari

sampah

plastik.

Penanggulangan problem sampah plastik dapat sedikit terkurangi.

Penanggulangan sampah plastik dengan memanfaatkannya untuk pembuatan bata

sebagai bahan bangunan

sangat prospektif. Hal itu ditunjukkan dalam hasil penelitian

dalam pembuatan bata plastik sebagaimana disajikan pada tabel 4.1. diatas. Untuk

membuat bata plastik

ukuran 5 x 15 x 30 Cm dengan bahan pengisi batu baterai

dibutuhkan sampah plastik sebanyak 88.670 - 94.828 cm3 (88,7 – 94,8 liter). Kira – kira

satu drum sampah plastik dapat dibuat dua buah bata. Apabila bata tersebut semuanya

dibuat

dari sampah

plastik tanpa

diberi bahan pengisi,

dipastikan jumlah sampah

plastik yang dibutuhkan semakin banyak. Berdasarkan perhitungan, untuk membuat bata

dengan ukuran yang sama tanpa adanya bahan pengisi diperlukan sampah sebanyak

112.513 -130.542 liter. Ini berarti

dapat mereduksi volume sampah plastik hingga

5.801.900 % (volume sampah plastik dikurang hingga 58.019

kali). Sebuah upaya

pengurangan timbunan sampah yang sangat signifikan.

Batu baterai sebagai B3 yang dapat diisolasi dengan bata plastik sebanyak 6 – 12

buah. Apabila dalam satu keluarga menggunakan baterai sebanyak 2 –4 buah tiap bulan,

maka

terdapat 3 - 6 keluarga yang limbah B3 nya dapat diolah. Potensi pencemaran B3

oleh batu baterai dari rumah tangga dapat dikurangi.

4. Uji perendaman bata plastik

Untuk

mengetahui

kemampuan

bata plastik dapat mengisolasi bahan pencemar

B3 dari batu baterai, dilakukan uji perendaman dalam aquades. Bila dibandingkan antara

perendaman hari ke 1 dan hari ke 60 hasilnya tampak berbeda pada beberapa

parameter

seperti yang disajikan pada

tabel

4.2 dan 4.3. baterai yang tidak diisolasi dan direndam

dalam aquades selama 60 hari ternyata dapat menyebabkan pencemaran. Bahan kimia

berbahaya dapat lepas dan melarut kedalam air.

Ini menjadi sangat logis, karena tingkat

pelarutan bahan kimia yang ada dalam baterai Zink- Carbon

mencapai

35 –43%. Hal

ini terbukti

dengan kondisi air aquades yang digunakan untuk baterai tanpa diisolasi

sampah plastik. Kekeruhan, warna, padatan terlarut, pH, Ammonia

dan

zink

pada air

tersebuk memiliki kadar yang sangat berbeda pada hari ke 1 dan hari ke 60.

Berbeda halnya pada air yang digunakan untuk merendam bata plastik

isolasi

stabilisasi B3 (baterai) baik pada jenis I dan jenis II. Isolasi sampah plastik terhadap B3

ternyata mempu menghambat pelarutan B3 yang ada dalam baterai. Ternyata bata plastik

dengan ketebalan

pelapisan (isolasi) terhadap B3 sebesar

3 – 21 mm tidak mampu

mengisolasi secara total terhadap

terjadinya

pencemaran B3.

Ketebalan isolasi 3 –21

mm masih memungkinkan terjadinya retakan yang mengakibatkan lepasnya sebagian

pencemar B3. Oleh karena itu perlu adanya kajian lebih lanjut tentang pengaruh ketebalan

isolasi sampah plastik terhadap kemampuan lepasnya bahan pencemar B3 ke lingkungan.

Ada kecenderungan semakin tebal pelapisan / isolasi sampah plastik, pencemar B3 yang

dapat lolos semakin kecil (cermati kembali tabel 4.2. dan tabel 4.3.).

Retak

yang

ada

pada

bata

plastik

isolasi

stabilisasi

B3,

ternyata

mampu

menghambat

bahan-bahan padat terlarut dan bahan padat tersuspensi. Hal ini terbukti

pada kadar kekeruhan dan padatan terlarut pada air rendaman bata plastik jenis I dan jenis

II pada hari ke 1 dan ke 60, yang tampak berbeda. Apalagi bila dibandingkan dengan air

rendaman baterai tanpa diisolasi, kondisinya sangat berbeda.

Menarik untuk dikaji lebih mendalam adalah

kadar

mangan

dioksida

dan

acetylene black pada

hasil pemeriksaan air rendaman baterai tanpa isolasi dan baterai

yang disiolasi sampah plastik, hasilnya menunjukkan

tidak adanya perbedaan dan

perubahan baik pada hari ke 1 dan ke 60. Ada beberapa kemungkinan, diantaranya bahan-

bahan tersebut tidak larut dalam air atau justru membentuk senyawa baru bersama bubur

plastik sehingga menjadi bahan yang inert dan stabil. Kemungkinan lainnya adalah

instrumen (spektrofometer jinjing merk Orbeco-Hellige Model MP-975) yang dipakai

untuk mengukur kadar bahan dimaksud tidak sensitif.

Apabila

bahan tersebut mampu membentuk senyawa baru yang inert dan stabil

bila bereaksi dengan bubur plastik, maka dapat dinyatakan bahwa

isolasi-stabilisasi B3

menggunakan sampah plastik layak untuk direkomendasikan

dipakai

sebagai sebuah

alternatif penanggulangan limbah B3 (baterai) dan sampah plastik. Beberapa catatan yang

perlu disampaikan diantaranya adalah ketebalan pelapisan

dalam bata plastik

perlu

ditambah hingga benar-benar tidak timbul retak-retak pada bata plastik. Perlu adanya studi

komparatif tentang biaya pembuatan bata isolasi

lainnya yang lebih prospektif.

dengan sampah plastik dan bahan

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A.

Kesimpulan

 

4.

Jumlah sampah plastik

yang diperlukan untuk isolasi dan stabilisasi limbah B3 dengan

ukuran setara batu bata dengan dimensi 5 x 15 x 30 Cm adalah 88.670 - 94.828 cm3 (88,7

94,8 liter).

5.

Rasio sampah plastik yang mampu ”membungkus” dengan jumlah limbah B3 yang bisa

diisolasi adalah 0,004 – 0,008 (untuk ratio volume B3 terhadap sampah plastik) dan 0,21

0,45

(untuk ratio berat B3 terhadap sampah plastik).

 

6.

Melalui analisis tabel diketahui ada perbedaan tingkat pencemaran air oleh limbah B3

yang diisolasi

sampah plastik dengan yang tidak diisolasi

pada parameter kekeruhan,

warna, padatan terlarut, pH, ammonia

dan

zink. Akan tetapi tidak ada perbedaan pada

parameter

mangan dioksida dan acetylene black.

 

B.

Saran

 

1.

Bagi para pengelola limbah B3 atau pengelola pembuangan sampah dapat menerapkan

Isolasi – stabilisiasi

limbah B3 (baterai) menggunakan sampah plastik sebagai satu

alternatif penanggulangan

limbah B3 dan sampah plastik.

Hal ini bermanfaat untuk

menghambat terjadinya pencemaran

lingkungan dan mengurangi timbunan sampah

plastik.

2.

Bagi para mahasiswa, dosen dan peneliti perlu melakukan penelitian lebih lanjut tentang

biaya pembuatan bata plastik isolasi stabilisasi B3 dan ketebalan isolasi sampah plastik

terhadap B3 yang mampu megisolir pencemar secara total.

DAFTAR PUSTAKA

Andreas Krisbayu R., 2001, Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), Bom waktu yang terlupakan, ITS Surabaya

Departemen Kesehatan RI, tt, PerMenkes Nomor 472/MENKES/PER/VI/1996 TENTANG Pengamanan Bahan Berbahaya Bagi Kesehatan

Energizer (2006), Material Safety Data Sheet : Carbon – Zink Cathode Mix, Energizer Battery Manufacturing, Inc.

Eveready (2006), Product Safety Data Sheet : Carbon Zinc Batteries, Eveready Battery Company, Inc. 25225 Detroit Road Westlake, OH 44145

http://www.menlh.go.id/publik/peraturan/Keputusan_Kepala/bapedal. KepKa Bapedal Nomor 03/BAPEDAL/09/1995/tentang Persyaratan Teknis Pengelolaan Limbah B3

Juli Soemirat Slamet. 1996. Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta : Gajah Mada University Press Keenan, Kleinfelter dan Wood, 1980, Kimia Untuk Universitas - Terjemahan A Hadyana Pudjaatmaka, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Linsley, RK dan Franzini, JB. 1995. Teknik Sumber Daya Air. Jilid 2 edisi III, terjemahan Djoko Sasongko. Jakarta : Penerbit Erlangga.

Nazir, Moh., 1985, Metode Penelitian, Jakarta : Ghalia Indonesia.

Nur Hilal, 2003, Identifikasi

Mikroorganisme dalam Tahap Pengomposan Sampah Kota

Purwokerto, JKL Purwokerto.

Robert Lauwerys, Harry Roels, Pierre Genet, Guy Toussaint, Andre Boukaert, dan Serge DeCooman, 1985, “Fertility of Male Workers Exposed to Mercury Vapor or to Manganese Dust: A Questionaire Study,” Westlake, Ohio.

USEPA (2002), Protection Agency

The Batteray Act,

Enforement Allert, United State Environmental

Yulinah (1998), Hand Out Ekotoksikologi, tidak dipublikasikan, ITS Surabaya.

Lampiran :

Refuse

(sampah

umum)

Pemilahan plastik termoplast Pengukuran volume & penimbangan Pencetakan bata plastik, diisi limbah B3 (bateray
Pemilahan plastik
termoplast
Pengukuran volume
& penimbangan
Pencetakan bata
plastik, diisi limbah
B3 (bateray bekas)
Pemanasan plastik
(pembuatan bubur
plastik)
bekas) Pemanasan plastik (pembuatan bubur plastik) Bateray bekas (limbah B3) Direndam dalam aquades Bata
Bateray bekas (limbah B3)
Bateray bekas (limbah B3)
Bateray bekas

Bateray bekas

(limbah B3)

(limbah B3)
Bateray bekas (limbah B3)
Bateray bekas (limbah B3)
(pembuatan bubur plastik) Bateray bekas (limbah B3) Direndam dalam aquades Bata plastik (Isolasi –

Direndam

dalam aquades

Bateray bekas (limbah B3) Direndam dalam aquades Bata plastik (Isolasi – stabilisasi B3) Direndam
Bateray bekas (limbah B3) Direndam dalam aquades Bata plastik (Isolasi – stabilisasi B3) Direndam

Bata plastik

(Isolasi –

stabilisasi B3)

dalam aquades Bata plastik (Isolasi – stabilisasi B3) Direndam dalam Aquades Pengukuran / pemeriksaan kadar

Direndam

dalam Aquades

(Isolasi – stabilisasi B3) Direndam dalam Aquades Pengukuran / pemeriksaan kadar pencemar : warna,

Pengukuran / pemeriksaan kadar pencemar : warna, kekeruhan, keasaman, padatan terlarut, mangan dioksida, zink, ammonia, acetylene black (sesuai bahan penyusun baterai)

HARI KE 1

HARI KE 1

HARI KE 1
HARI KE 1
acetylene black (sesuai bahan penyusun baterai) HARI KE 1 HARI KE 60 Gambar : Ba g

HARI KE 60

Gambar : Bagan alir penelitian isolasi- stabilisasi limbah B3

Lampiran :

Beban berupa batu atau pasir

100 Kg
100 Kg

Kotak kayu

Lampiran : Beban berupa batu atau pasir 100 Kg Kotak kayu Tinggi Sampah plastik yg dipress
Lampiran : Beban berupa batu atau pasir 100 Kg Kotak kayu Tinggi Sampah plastik yg dipress
Lampiran : Beban berupa batu atau pasir 100 Kg Kotak kayu Tinggi Sampah plastik yg dipress

Tinggi

Sampah plastik yg dipress

20 Cm

20 Cm

Gambar : Model alat pengepresan sampah plastik sederhana

Lampiran :

SIFAT B3 (BAHAN BERACUN DAN BERBAHAYA)

Sesuai Bab II Pasal 5 PP No 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan B3, yang dimaksud dengan B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya) adalah bahan yang memiliki salah satu sifat sebagai berikut :

a. mudah meledak (explosive);

b. pengoksidasi (oxidizing);

c. sangat mudah sekali menyala (extremely flammable);

d. sangat mudah menyala (highly flammable);

e. mudah menyala (flammable);

f. amat sangat beracun (extremely toxic);

g. sangat beracun (highly toxic);

h. beracun (moderately toxic);

i. berbahaya (harmful);

j. korosif (corrosive);

k. bersifat iritasi (irritant);

l. berbahaya bagi lingkungan (dangerous to the environment);

m. karsinogenik (carcinogenic);

n. teratogenik (teratogenic);

o. mutagenik (mutagenic).

A. Pemeriksaan Keasaman

Bahan : Air contoh uji

Alat :

Digital pH tester

Lampiran :

Cara kerja :

a) pasang bateray pada tempatnya

b) Lakukan kalibrasi dengan cara : sklar dalam posisi ON, kemudian eletroda dicelupkan pada larutan dengan nilai pH standar. Atur angka pH yang ada pada layar display pH digital

c) sesuai dengan pH larutan tersebut.

d) Cuci elektroda, kemudian celupkan pada air contoh uji. Baca nilai pH yang ada pada layar display pH digital

Lampiran :

Selimut isolasi dari plastik termoplast, terbuat dari bubur sampah plastik (plastik yang dipanaskan).

Limbah B3 berupa bateray bekas, dibenamkan dalam bata plastik

30 Cm
30 Cm

15 Cm

5 Cm

Gambar : Skema bata isolalsi-stabilisasi B3

Lampiran :

FOTO PENELITIAN

Lampiran : FOTO PENELITIAN Foto : Perendaman bata plastik Isolasi –Stabilisasi B3 Foto : Air rendaman

Foto : Perendaman bata plastik Isolasi –Stabilisasi B3

Foto : Perendaman bata plastik Isolasi –Stabilisasi B3 Foto : Air rendaman bata plastik ha ri
Foto : Perendaman bata plastik Isolasi –Stabilisasi B3 Foto : Air rendaman bata plastik ha ri

Foto : Air rendaman bata plastik hari ke1 (kiri) dan hari ke 60 (kanan) A : tanpa isolasi, B: isolasi tebal 3-5 mm, C: isolasi tebal 10-21mm