Anda di halaman 1dari 28

1

BAB 2 LANDASAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS

A. Landasan Teori Pada landasan teori akan diterangkan teori-teori yang berhubungan dengan judul penulisan ini.

1. Integrasi multi stek Dalam prakteknya, beberapa instansi di Pemerintah memiliki sistem sendiri-sendiri yang disediakan oleh masing-masing provider yang berbeda. Hal ini sering menimbulkan kesulitan apabila antar aplikasi dan sistem harus bertukar data, sehingga terkadang operator masing-masing instansi harus melakukan input ulang terhadap data yang sama, Selain lama. Proses input secara manual dapat menyebabkan adanya kesalahan data. Konsep utama dari integrasi multi stek adalah menggabungkan sebuah sistem sebagai jembatan antar sistem lain yang dimiliki agar data-data yang sama dapat digunakan secara langsung dan meminimalisir proses input ulang.

Gambar 2.1 Integrasi Multi stek 2. Pengertian Geospatial Istilah geospatial data dapat juga diganti dengan spatial data atau data GIS (geospatial information system data) adalah data tentang aspek fisik dan administratif dari sebuah objek geografis. Aspek fisik di sini mencakup pula bentuk anthropogenic dan bentuk alam baik yang terdapat di permukaan maupun di bawah permukaan bumi. Bentuk anthropogenic mengandung di dalamnya fenomena budaya seperti jalan, rel kereta api, bangunan, jembatan, dan sebagainya. Bentuk alam tentu saja adalah sungai, danau, pantai, daratan tinggi, dan sebagainya. Sedangkan aspek administratif adalah pembagian atau pembatasan sosio-kultural yang dibuat oleh suatu organisasi atau badan untuk keperluan pengaturan dan pemakaian sumberdaya alam. Termasuk dalam aspek administratif ini adalah batas negara, pembagian wilayah administrasi, zona, kode pos, batas kepemilikan tanah, dan sebagainya. Secara umum terdapat dua metode untuk menampilkan fitur geografis ke dalam GIS atau Sistem Informasi Geospasial. Pertama, dengan struktur data vektor (vector data structure) yang terdiri dari sebuah gambaran titik geografis, baik yang berupa tanda titik, garis, maupun poligon. Model grafik vektor ini menampilkan secara terpisah fitur geografis seperti batas administratif, jalan,

bangunan, dan sungai. Sebuah objek grafis biasanya dikaitkan dengan informasi yang mengandung penjelasan tentang atribut objek itu, dan informasi ini bisa saja disimpan di dalam berkas spreadsheets atau pangkalan data terpisah. Kedua, dengan struktur data raster (raster data structure), terdiri dari serangkaian sel atau pixels yang biasa dipakai untuk menggambarkan data gambar sebagai data yang berkesinambungan. Dalam struktur data yang demikian, ada unsur resolusi sebagai ukuran dari dimensi fitur geografis yang terwakili dalam bentuk pixel. Biasanya data raster ini dipakai untuk citra satelit, ortografi digital, model elevasi digital (digital elevation models, DEM), peta digital, dan sebagainya.

Gambar 2.2 Geospatial - Data Data GIS berbentuk digital seperti di atas bukan semata-mata hasil konversi dari bentuk peta tercetak lewat sebuah proses pemayaran (scanning), melainkan merupakan kumpulan informasi khas yang dapat diolah lebih lanjut oleh komputer. Sebuah peta atau data geografi tercetak pada dasarnya bersifat statis. Pengguna data membaca informasi di dalamnya, kemudian mengolah informasi itu dengan pikirannya. Sebaliknya, data digital yang berbentuk nilai-

nilai vektor maupun nilai resolusi di kedua jenis data GIS di atas memungkinkan pengguna memanfaatkan komputer untuk membanding- bandingkan, mengaitkan, dan memanipulasi informasi. Seringkali pula satu jenis data dikonversikan ke jenis data lainnya untuk berbagai keperluan. Perlu juga kiranya diingat, bahwa data GIS sesungguhnya adalah sebuah model (bukan keadaan sesungguh-sungguhnya) yang mengandung skala ukuran (scaled model). Dapat juga dikatakan bahwa data GIS adalah sebuah abstraksi (penggambaran secara lebih sederhana) dari keadaan yang sebenarnya. Sebab itu, pengguna dan pengelola data GIS harus memahami makna dan kegunaan sistem skala agar dapat memastikan ketepatan data spasial. Kita tahu bahwa skala biasanya disajikan dalam bentuk perbandingan, seperti 1:100.000. Perbandingan itu menyatakan sebuah rasio dari ukuran unit yang ada di peta dengan ukuran sebenarnya di permukaan bumi. Semakin kecil rasionya, semakin besarlah skalanya. Data GIS dengan skalanya lebih besar tentu saja mengandung informasi yang lebih rinci daripada data dengan skala lebih kecil. Dalam konteks perpustakaan digital, salah satu isu terpenting yang menyangkut data GIS adalah isu kebijakan pengembangan koleksi. Sebagaimana semua jenis koleksi lainnya, tentu ada hal umum yang juga berlaku bagi pengembangan koleksi data GIS, misalnya bahwa kebijakan pengembangan harus sesuai dengan visi misi lembaga induk. Juga ada keniscayaan bagi semua jenis perpustakaan untuk memperhatikan kebutuhan dan karakteristik penggunaan data di masyarakat yang akan menjadi pengguna data. Di luar hal yang umum ini, harus juga dicermati kenyataan bahwa pengguna data GIS pada umumnya

merupakan pengguna lanjutan (advance) yang tidak sama karakternya dengan pengguna data peta tercetak. Contohnya adalah para ahli ekonomi yang menggunakan data geografis untuk kajian ekonometri (kajian ekonomi yang mencakupkan pula perhitungan tentang kondisi geografis). Para ahli yang menggunakan data digital biasanya menggunakan data GIS sebagai bagian dari perhitungan yang rumit, melibatkan berbagai kombinasi data jarak geografis, kepadatan penduduk, dan bahkan juga fitur tanah serta posisi sebuah kota di antara kota-kota lainnya. Mereka menggunakan perangkat lunak untuk melakukan perhitungan ini, sementara para ahli yang terbiasa menggunakan peta tercetak mungkin akan menggunakan cara hitung serta analisis yang berbeda sekali dari rekan-rekannya yang terbiasa memakai data digital. Mereka mungkin lebih mengandalkan data survei, sementara informasi dari peta hanyalah pelengkap. Upaya pengembangan koleksi dalam sebuah GIS juga sangat memerlukan pemahaman tentang karakter data geospasial digital yang cenderung besar. Memang, untuk jenis data vektor, mungkin ukurannya masih cukup kecil, dan masih dapat dikirim lewat Internet. Sebaliknya, data raster cenderung amat besar dan seringkali terdiri dari beberapa bagian yang dipadatkan (compressed). Dalam proses pembelian atau akuisisi, pihak pembuat atau penjaja biasanya menawarkan bentuk data di dalam satu kumpulan berkas yang dipadatkan maupun yang sudah diurai (uncompressed) di dalam beberapa compact disk. Sudah barang tentu, dalam kondisi seperti ini, pengelola perpustakaan digital harus menyediakan sarana pembaca CD.

Selain dalam keadaan yang terpisah-pisah itu, data raster juga ditawarkan dalam bentuk satu citra mosaik dengan berkas jenis JPEG2000, MrSID, atau CEW. Format-format ini biasanya mengandung resolusi lebih rendah dari data aslinya, sehingga lebih kecil dari segi ukuran, menjadikannya mudah dikelola, baik oleh penyedia jasa perpustakaan digital maupun oleh pengguna. Dalam konteks ini, kita mudah melihat bahwa pertimbangan kemampuan dan ketersediaan sarana, selain juga kebiasaan pengguna dalam memanfaatkan data GIS, akan sangat menentukan kebijakan pengembangan koleksi data GIS. Di banyak institusi, para pengguna mungkin memerlukan bentuk tercetak (print out) dari data raster. Sebuah berkas data GIS yang sangat besar akan sangat menyulitkan pencetakan, kecuali jika perpustakaan digital yang bersangkutan menyediakan mesin cetak digital yang sangat besar, seperti yang biasa digunakan di percetakan. Namun, tentu saja ini akan menjadi sangat mahal. Sebab itu, banyak perpustakaan hanya mengembangkan koleksi data GIS yang resolusinya sudah direduksi. UU No. 4 Tahun 2011 Tentang Informasi Geospasial Pasal 1-4 menerangkan, spasial adalah aspek keruangan suatu objek atau kejadian yang mencakup lokasi, letak, dan posisinya. Geospasial atau ruang kebumian adalah aspek keruangan yang menunjukkan lokasi, letak, dan posisi suatu objek atau kejadian yang berada di bawah, pada, atau di atas permukaan bumi yang dinyatakan dalam sistem koordinat tertentu. Data Geospasial yang selanjutnya disingkat DG, adalah data tentang lokasi geografis, dimensi atau ukuran, dan/atau karakteristik objek alam dan/atau buatan manusia yang berada di bawah,

pada, atau diatas permukaan bumi. Informasi Geospasial yang disingkat IG adalah DG yang sudah diolah sehingga dapat digunakan sebagai alat bantu dalam perumusan kebijakan, pengambilan keputusan dan pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan ruang kebumian.

2. Pengertian Free and Open Source Software

Free Open source software adalah istilah yang digunakan untuk software yang membuka/membebaskan source codenya untuk di lihat oleh orang lain dan membiarkan orang lain mengetahui cara kerja software tersebut dan sekaligus memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada pada software tersebut. Dan yang menarik dan salah satu keunggulannya adalah bahwa Open source software dapat di peroleh dan digunakan secara gratis tanpa perlu membayar lisensi. Biasanya orang mendapatkan software ini dari internet. Salah satu open source software yang terkenal yaitu Linux.

Keberadaan open source software ini sangat di tunjang oleh internet. Mula-mula Open source software di ambil dari internet kemudian digunakan oleh orang dan diperbaiki apabila ada kesalahan. Hasil perbaikan dari open source ini kemudian dipublikasikan kembali melalui internet yang memungkinkan orang lain menggunakan dan memperbaikinya. Dan begitulah seterusnya. Saat ini sangat mudah mendapatkan open source software di internet.

Pengembangan open source software melibatkan banyak orang dari berbagai penjuru dunia yang berinteraksi melalui internet. Maka bermunculanlah

berbagai macam software yang di buat berbasis open source ini yang dipublikasikan melalui internet. Pola open source ini telah melahirkan developerdeveloper handal dari berbagai penjuru dunia.

Dengan pola open source orang dapat membuat dan mengembangkan apa yang di sebut dengan free software. Software ini dapat digunakan tanpa perlu membayar lisensi atau hak cipta karena memang dikembangkan dengan pola open source. Jadi, dengan pola open source orang dapat mengembangkan software dan mempublikasikannya dengan bebas melalui internet. Maka tidak heran apabila kita akan banyak menemukan free software ini di internet dan bisa secara bebas mendownloadnya tanpa perlu membayar uang sepeser pun kepada pengembang software tersebut.

Free software disini juga bukan program kacangan. Anggapan bahwa barang yang gratis jelek kualitasnya tidak berlaku buat free software. Karena sudah terbukti kehandalannya. Dan karena free software berbasis open source maka software tersebut sudah melalui proses perbaikan yang terus menerus. Jadi tidak ada alasan tidak mau menggunakan free software ini dengan alasan kualitasnya yang tidak baik.

Dengan karakteristik yang telah disebutkan di atas maka tidak salah apabila kita menaruh harapan pada open source ini sebagai platform alternatif yang bisa kita gunakan dalam komputer kita. Penerapan pola open source di Indonesia juga dapat menghilangkan pemakaian software komersial secara ilegal

dan memungkinkan bangsa Indonesia di kenal karya ciptanya dengan ikut mengembangkan open source software.

Surat Edaran MENPAN Pemanfaatan Open Source Software

Dengan hormat diberitahukan, bahwa Menteri Komunikasi dan Informatika telah menerbitkan Surat Edaran Nomor :

05/SE/M.KOMINFO/10/2005 tentang Pemakaian dan Pemanfataan Penggunaan Piranti Lunak Legal di Lingkungan Instansi Pemerintah. Dalam rangka mendukung surat edaran tersebut, dimohon perhatian Pimpinan Instansi Pemerintah Pusat dan Daerah beberapa hal sebagai berikut : 1. Melakukan pengecekan penggunaan perangkat lunak di lingkungannya dan menghapus semua perangkat lunak tidak legal, dan selanjutnya menggunakan Free Open Source Software (FOSS) yang berlisensi bebas dan legal sebagai pengganti perangkat lunak tidak legal. Hal tersebut perlu dilakukan guna menghindari terganggunya pelayanan publik akibat pelanggaran Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta. 2. Dalam rangka mempercepat diwajibkan penggunaan perangkat kepada Instansi lunak legal di

Indonesia,

maka

Pemerintah

untuk

menggunakan perangkat lunak open source, guna menghemat anggaran pemerintah.

10

3. Untuk mendorong penggunaan Free Open Source Software (FOSS), Pemerintah telah mendeklarasikan gerakan Indonesia Go Open

Source atau IGOS-I pada tanggal 30 Juni 2004 yang ditanda tangani 5 (lima) Menteri, yaitu Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara, Menteri Negara Riset dan Teknologi, Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Hukum dan HAM dan Menteri Komunikasi dan Informatika. Selanjutnya pada tanggal 27 mei 2008, dilakukan deklarasi IGOS-II yang penggunaannya diperluas meliputi 18 (delapan belas) kementerian dan Lembaga pemerintah Non Departemen (LPND). 4. Untuk memudahkan instansi pemerintah melakukan pemanfataan FOSS, diharapkan pimpiman instansi atau pejabat yang ditunjuk diminta menghubungi Kementerian Negara Riset dan Teknologi c.q Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan IPTEK dan Departemen Komunikasi dan Informasika c.q Direktorat Jenderal Aplikasi dan Telematika. 5. Diharapkan paling lambat tanggal 31 Desember 2011 seluruh instansi pemerintah sudah menerapkan penggunaan perangkat lunak legal. Untuk itu diharapkan instansi masing-masing mengatur agenda pentahapan untuk mencapai target selesai tahun 2011. Anggaran yang berkaitan dengan kegiatan dimaksud dibebankan kepada anggaran instansi masing-masing. 6. Pimpinan instansi agar melakukan pengaturan dan pemantauan terhadap pemanfataan perangkak lunak legal di lingkungan masing-masing.

Demikian mohon menjadi maklum, dan atas perhatiannya disampaikan terima kasih.

11

4. Pengertian Geoportal Geoportal GIS adalah suatu gerbang (gateway) menuju service informasi dan service geospasial berbasiskan web. Ini membuat Anda mampu untuk menemukan, melihat dan mengakses informasi dan service geospasial yang sudah disediakan oleh sumbernya. Sama halnya jika Anda seorang penyedia layanan dan informasi tersebut, informasi geospasial Anda akan bisa dilihat, ditemukan dan diakses oleh yang lain. Geoportal GIS berisi kumpulan metadata data geospasial atau service yang akan ditemukan / tersedia. Tiap tiap kumpulan metadata mendefinisikan sifat dan cakupan dari item data atau service, dan menyediakan informasi yang bisa membuat Anda mencari dan melihat item data itu dalam Geoportal GIS. Deskripsi metadata juga menyediakan informasi yang diperlukan untuk mengakses servis dan item untuk digunakan oleh Map Viewer di dalam portal atau digunakan dalam system Anda sendiri dengan cara mengunduhnya (download) atau dengan cara lain yang telah disediakan. Geoportal GIS mengimplementasikan situs one stop untuk penemuan, transmisi dan penggunaan data geografis dan service pemetaan yang tersedia di situs internet. Dengan Geoportal GIS Anda dapat : a. Menemukan, mengambil dan menggunakan data geografis dan service pemetaan yang sudah di-katalogkan oleh portalnya. Melihat detil dari

12

sumber yang sudah ditemukan, termasuk bagaimana cara penggunaannya untuk digunakan sendiri b. Melihat data dan peta dengan langsung setelah ditemukan c. Membuat, meng-unggah (upload) dan mengatur metadata yang

mereferensi data dan service geospasial yang telah dibuat d. Mengatur dan meng-update informasi akun pengguna e. Mengatur dan menyimpan peta dan query yang telah dibuat Meregistrasi untuk penggunaan bersama data geografis dan service pemetaan dengan yang lainnya melalui portal.

B. Penelitian yang Relevan Indonesia adalah negara kepulauan dengan sepuluh negara tetangga, yaitu (searah jarum jam dari arah barat laut), India, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, Palau, Papua Nugini, Australia dan Timur Timor. Indonesia menghadapi tantangan yang cukup untuk menyelesaikan dan kemudian mempertahankan maritimnya batas dengan negara-negara tetangga. Mencapai tujuan ini memiliki potensi untuk memberikan manfaat yang signifikan untuk kedua Indonesia sendiri dan tetangga maritim. Secara khusus, maritim penetapan batas-batas kedaulatan memberikan kepastian tentang dan hak berdaulat antara negara. Dalam istilah ekonomi, kejelasan yurisdiksi kemungkinan untuk membantu dalam pengelolaan laut ditingkatkan dan alami sumber daya eksplorasi dan eksploitasi. Selain itu, definisi batas-batas membantu untuk meminimalkan atau menghilangkan sumber stres antara negara. Memang, telah terbukti bahwa

13

kegagalan dalam menyelesaikan maritim batas dapat menyebabkan sengketa internasional yang menghancurkan. Oleh karena itu, penelitian dan kegiatan mengenai penyelesaian batas maritim dan manajemen sangatlah penting bagi Indonesia. Penelitian ini akan menggabungkan studi literatur ekstensif dan percobaan teknis menggunakan data geospasial (Peta, citra satelit, dan data lapangan) untuk menghasilkan tesis yang komprehensif tentang hukum dan teknis / aspek geodetik delimitasi batas maritim. Analisis akan dicapai dengan studi banding antara kasus Indonesia terhadap praktek negara yang relevan dan internasional yurisprudensi. Penelitian lapangan akan dilakukan untuk melakukan wawancara mendalam dan investigasi yang melibatkan lembaga pemerintah terkait dengan isu batas maritim di Indonesia seperti Bakosurtanal, Departemen Luar Negeri,Departemen Dalam Negeri, Departemen Kelautan dan Perikanan, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, indonesian Naval HydroOceanographic Office,dan lembaga pendidikan, National Geographics. Penelitian yang relevan bersangkutan batas batas maritim antara Indonesia dan Timor Timur, Batas Provinsi, dan wilayah Samudra Indonesia, Signifikansi peneliti ke Indonesia hanya beberapa daerah di Indonesia dengan keahlian dalam aspek teknis hukum laut, dan bahkan kurang di daerah tertentu dari delimitasi batas maritim. Dengan menyelesaikan penelitian ini dan menyebarluaskan hasil-hasil yang timbul dari itu,diharapkan bahwa studi ini akan mengisi kekosongan keahlian dalam daerah ini. Penelitian saya mengusulkan memiliki potensi yang cukup penting bagi Indonesia.

14

C. Kerangka Berpikir Arsitektur Sistem untuk Visualisasi Peta Penggunaan data spasial dirasakan semakin diperlukan untuk berbagai keperluan seperti penelitian, pengembangan dan perencanaan wilayah, dan manajamen sumber daya alam. Pengguna data spasial merasakan minimnya informasi mengenai keberadaan dan ketersediaan data spasial yang dibutuhkan. Penyebaran (diseminasi) data spasial yang selama ini dilakukan dengan mengggunakan media yang telah ada yang meliputi media cetak (peta), cd-rom, dan media penyimpanan lainnya dirasakan kurang mencukupi kebutuhan pengguna. Pengguna diharuskan datang dan melihat langsung data tersebut pada tempatnya (data provider). Hal ini mengurangi mobilitas dan kecepatan dalam memperoleh informasi mengenai data tersebut. Perkembangan media internet yang semakin pesat memungkinkan penyedia jasa informasi data spasial. Dengan menggunakan media internet (website) pengguna dapat langsung mencari dan melihat informasi mengenai data spasial yang dibutuhkan tanpa harus mendatangi tempat penyedia jasa tersebut. Pengguna dapat melakukan pencarian data spasial berdasarkan informasi metadata yaitu informasi mengenai data tersebut yang meliputi akurasi, sejarah data, kelengkapan data, kualitas data dan lain sebagainya. Dengan informasi tersebut pengguna dapat lengsung menentukan apakah data tersebut sesuai dengan kebutuhan dan kriteria yang di inginkan.

15

Sistem Visualisasi Peta memiliki arsitektur 3 tier (three tier architecture) yang terdiri dari: 1. Datastores yaitu penyimpanan basis data geo-spatial. Aplikasi manajemen basisdata yang dapat digunakan adalah Oracle atau PostGIS. 2. GeoServer, merupakan layanan web sesuai standar OGC yaitu WMS dan WFS. Aplikasi layanan web yang dapat di gunakan adalah GeoServer. 3. WebServer, merupakan layanan web dan tampilan antar muka sistem visualisasi peta RBI. Aplikasi yang digunakan adalah Apache Web Server yang mendukung PHP dan MapServer/MapScript

16

Gambar 2.3 Arsitektur 3 tier (three tier architecture)

17

Gambar 2.4 Arsitektur Sistem Visualisasi Peta

18

Gambar 2.5 Arsitektur Sistem Data Management Application Presentation

D. Hipotesis Penelitian Infrastruktur Data Spasial Nasional Infrastruktur data spasial nasional (IDSN) merupakan suatu terobosan baru untuk memudahkan setiap orang mengakses data spasial. Sasaran IDSN adalah untuk memudahkan pengguna data spasial menggunakan data set secara konsisten sesuai dengan kebutuhan, meskipun data dikumpulkan oleh berbagai

pihak/instansi yang berbeda. Implementasi IDSN memerlukan insfrastruktur yang solid berdasarkan kebijakan dan manajemen, sumber daya manusia dan teknologi, dan berbagai hal yang memungkinkan data spasial dapat di akses dengan mudah oleh masyarakat. Infrastruktur ini dapat dibandingkan dengan pelayanan fasilitas umum seperti, jalan, kereta api, jaringan listrik (ASDI, 2003). Konsep IDSN tidak untuk membangun pusat database tetapi untuk membangun jaringan distribusi database yang di kelola oleh pemerintah dan industri kustodian. Data spasial di kenal sebagai data geospasial atau informasi geografi. IDSN berperan dalam perolehan dan penyebarluasan informasi spasial (Bakosurtanal, 2004). Dalam penerapan infrastruktur data spasial nasional memerlukan sebuah infrastruktur yang berperan dalam interkoneksi basis data

19

terdistribusi dengan pemanfaatan informasi, komputer dan teknologi. Data spasial dapat menunjang sistem sebagai upaya dalam menghasilkan informasi tertentu sesuai dengan kebutuhannya. Berdasarkan perspektif pengguna, pengadaan data merupakan salah satu kegiatan yang memerlukan biaya tinggi dan alokasi waktu yang cukup lama. Oleh karena itu konsep berbagi data dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas (FGDC, 2004).

Banyak organisasi dan pemerintahan telah melakukan investasi besar dalam pengumpulan data spasial. Data ini adalah asset nasional yang penting untuk pengambilan keputusan. Pengelolaan informasi ini telah menjadi perhatian utama bagi negara maju. Di USA tahun 1994, presiden menandatangani perintah khusus untuk koordinasi akuisisi dan akses data geografi National Spatial Data Infrastructure (OMB, 2005), Canada telah mengembangkan Canadian Geospatial Data Infrastructure, dan Australia mengembangkan Australian Spatial Data Infrastructure. Data spasial digunakan dalam berbagai hal yang luas seperti aplikasi ekonomi, sosial, dan lingkungan seperti: penilaian dan pengelolaan lingkungan, pengelolaan sumber daya pertanian, pertambangan, energi, kehutanan dan kelautan, eksplorasi dan pengambilan keputusan, cepat tanggap pelayanan darurat, manajemen bencana berupa pelayanan darurat menggunakan data spasial dalam manajemen bencana seperti kebakaran, banjir dan untuk membantu mereka memprediksi dampak kejadian (ANZLIC, 2003) Tingkat kerentanan kebakaran hutan dan lahan merupakan informasi untuk

20

pencegahan dan analisis terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Salah satu upaya yang penting untuk dilakukan adalah mengetahui secara dini keadaan lapangan (hutan dan lahan) sebelum terjadi kebakaran hutan dan lahan. Pemanfaatan data penginderaan jauh adalah fase yang terkait dengan manajemen kebakaran ini sendiri seperti: deteksi, pemadaman dan pemetaan areal terbakar. Semakin berkembangnya pemanfaatan SIG di ikuti pula dengan meningkatnya kegiatan pengadaan data. Kemajuan teknologi komputer, komunikasi dan perangkat lunak SIG telah banyak membantu pengelola hutan untuk mengelola data hot spot yang di terima dari stasiun penerima (Masser, 2005) Salah satu persoalan lingkungan yang muncul hampir setiap tahun di Indonesia terutama pasca tahun 2000 adalah kebakaran hutan, termasuk di wilayah pulau Kalimantan. Kebakaran hutan dan lahan merupakan salah satu bentuk bencana yang makin sering terjadi, dan dampak yang ditimbulkan sangat merugikan bila di lihat dari aspek fisik-kimia, biologi, sosial ekonomi maupun aspek ekologi (Syumanda, 2003). Kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan menyebabkan menurunnya keanekaragaman hayati, merosotnya nilai ekonomi hutan dan produktivitas tanah, perubahan iklim mikro maupun global, dan asapnya mengganggu kesehatan masyarakat serta mengganggu transportasi baik darat, sungai, danau, laut dan udara (Sahardjo, 2003). Untuk menangani permasalahan tersebut telah di bentuk kelembagaan di tingkat pusat dan daerah dalam bentuk satuan koordinasi. Namun hingga saat ini belum efektif menyelesaikan permasalahan kebakaran hutan dan lahan. Informasi mengenai tingkat kerentanan kebakaran hutan dan lahan di tingkat Kabupaten

21

Sanggau belum dapat dimanfaatkan untuk deteksi dini. Demikian pula dengan data spasial mengenai kondisi lahan dan hutan belum dimanfaatkan sebagai sistem deteksi dini dalam upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan serta dampak yang ditimbulkannya. Dengan demikian diperlukan suatu kajian mengenai strategi pemanfaatan IDSN dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan dengan memanfaatkan informasi tentang tingkat kerentanan kebakaran dan data spasial.

IDSN di bangun dan di kelola melalui usaha kerjasama seluruh partisipan: lokal, regional, propinsi, dan pusat, perusahaan, institusi pendidikan, LSM, organisasi nirlaba, dan lainnya. Pengorganisasan dari kerangka kerja ini didefinisikan sebagai jaringan bukan hirarki. Kerangka kerja menggunakan keunggulan data geografik yang di buat dan digunakan secara internal oleh berbagai organisasi yang berbeda. Keterpaduan dari sumbe rdaya yang berbeda ini memerlukan distribusi fungsi yang berbeda di antara berbagai organisasi. Berbagai fungsi yang berhubungan diperlukan untuk membangun dan mengoperasikan kerangka kerja. Secara umum terdapat tujuh fungsi utama yaitu: pengembangan data, pemeliharaan, dan integrasi; akses data; manajemen data; koordinasi; petunjuk kerja; menajemen sumberdaya; monitoring dan evaluasi. Setiap fungsi tersebut mempunyai berbagai kegiatan yang berhubungan beserta tanggung jawab dan masing-masing mempunyai masalah sendiri dan tantangan. Kegiatan pengembangan dan pemeliharaan data menghasilkan dan memperbaharui kerangka kerja data. Fungsi ini terdiri atas menghasilkan data asli

22

dan data revisi, penggabungan spasial dan data atributnya dari sumber yang berbeda, dokumentasi data termasuk membuat metadata, evaluasi dan integrasi data. Infrastruktur data dapat di bangun melalui berbagai teknik dan sumber daya termasuk studi lapang, kompilasi fotogrametrik, digitasi peta, dan konversi dari rekaman lain ke data digital. Para pembuat data yaitu pemerintah lokal, kabupaten, propinsi dan nasional; perusahaan-perusahaan sektor privat; universitas; lembaga swadaya masyarakat; dan yang lainnya. Pemerintah lokal membuat data yang lebih detail atau data beresolusi tinggi untuk semua materi dan materi-materi ini umumnya dikoordinasikan dengan sebuah aplikasi GIS. Akses data memungkinkan partisipan memperoleh data dari infrastruktur. Aktivitas yang banyak dilakukan termasuk menyediakan akses kepada data dan metadata, memproses permintaan data, menetapkan dan membentuk penyebaran data yang di inginkan, dan melaporkan dan memperhatikan yang menjadi perhatian pengguna. Fungsi ini juga menghubungkan pengguna dengan berbagai sumber daya. Infrastruktur ini harus bisa merespon kondisi pasar dan permintaan, seperti data yang umumnya di inginkan, dan mendisain kumpulan data dan produk. Akses data berfungsi menunjukkan semua yang diperlukan, juga mengumpulkan informasi yang berguna untuk mendeteksi kebutuhan dari pengguna. Manajemen data memastikan keberlanjutan infrastruktur data secara terus menerus. Kegiatannya termasuk pemeliharaan data, memastikan data terintegrasi dan aman, pengembangan dan penyusunan definisi data, desain dan modelnya,

23

pengembangan dan penyusunan spesifikasi teknis lainnya, dan penyediaan untuk arsip data, penggandaan data, perbaikan data jika terjadi kerusakan. Tujuan utama dari manajemen data adalah untuk memastikan bagaimana framework dapat di susun dari berbagai bagian-bagian ini. Kegiatan manajemen data dapat terjadi di banyak tempat dan banyak organisasi, dan fungsi manajemen framework harus berlandaskan pada kegiatan ini secara bersama-sama. Koordinasi memastikan bahwa semua kontribusi; mulai dari data, pendanaan, teknologi dan SDM, dapat bekerja secara harmonis dan bernilai positif terhadap hubungan antara semua partisipan. Fungsi ini memerlukan kerjasama dan hubungan yang kondusif antar organisasi, melaksanakan proses dan insentif untuk mendorong partisipasi yang menyebar secara luas. Kegiatan yang spesifik termasuk membuat rencana bisnis untuk pengembangan framework, membuat prioritas, membuat berbagai perjanjian dan praktek bisnis untuk mendorong partisipasi, mengkoordinasikan metode pengaksesan data, pengembangan konsensus untuk berbagai standardisasi, penyediaan luaran dan pendidikan. Petunjuk teknis disediakan untuk melihat dan mengatur pengembangan kerangka kerja, dan memiliki tanggung jawab terhadap suksesnya framework. Kegiatan ini termasuk pengembangan pembagian visi antara stakeholder; pengembangan rencana srategis untuk perusahaan, menentukan struktur organisasi, lingkungan operasional, metode pembagian komunikasi, pembuatan keputusan dan berbagai proses kebijakan publik; kebijakan pengembangan dan pemeliharaan serta dukungan dana untuk usaha antara eksekutif senior dan bagian yang berpengaruh; dan penyediaan dana legal untuk kontrak, pertanggungjawaban

24

dan permasalahan lainnya Pengaruh pengembangan framework pada berbagai kegiatan dapat meningkatkan ketersediaan sumber daya. Manajemen sumber daya termasuk pertanggung jawaban terhadap pendugaan penerimaan dan biaya identifikasi penghasilan dan alokasi sumber daya, termasuk penyediaan dukungan logistik untuk pengembangan framework. Sumber daya yang di maksud adalah dana, data, teknologi dan SDM. Sumber dana termasuk hibah, pinjaman, kontrak pelayanan, perjanjian kerjasama, dan biaya serta berbagai sumber pendapatan sejenis. Fungsinya adalah untuk mengukur kepuasan pengguna terhadap keberadaan framework, selain itu juga berfungsi untuk menganalisis pasar. Konsistensi sepanjang wilayah studi dan data sangat penting. Analisis pasar menggunakan informasi ini untuk memastikan bahwa framework dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Kegiatan ini adalah identifikasi target pasar, potensi konsumer, pasar sekarang dan luasan potensinya kemudian kecenderungan pasar serta peramalan. Model organisasi untuk pengembangan framework ada dua yaitu pendekatan sentralisasi dan desentralisasi. Pendekatan secara sentralisasi yaitu satu kinerja organisasi dengan banyak fungsi. Kegiatan utama adalah pengintegrasian data, dimana peran ini disebut area integrator. Fungsi ini membawa tugas-tugas teknis lainnya seperti standar implementasi, prosedur jaminan kualitas, aktivitas koordinasi dan pemeliharaan data di antara organisasi yang memproduksi data untuk wilayah geografis dan menghubungkan data tersebut ke sentral data. Pendekatan desentralisasi menggambarkan banyak organisasi dalam satu wilayah geografi mengambil berbagai peran dengan

25

koordinasi yang erat, dalam suatu struktur jaringan. Infrastruktur data di bangun dari bawah. Mekanisme koordinasi di bagi kedalam 3 kategori: (1) Koordinasi berbasis propinsi. Pemerintah propinsi memimpin koordinasi antara dinas-dinas propinsi, pemerintah kabupaten dan yang lainnya; (2) Konsorsium regional. Organisasi yang mempunyai kepentingan yang saling menunjang dalam satu wilayah (dalam atau luar batas propinsi). Membentuk sebuah konsorsium untuk mengembangkan pola pembagian data. Konsorsium ini terdiri dari berbagai dinas pemerintah lokal dan regional, dinasdinas propinsi dan wakil pemerintah pusat di daerah dan yang lainnya; dan (3) Proyek khusus. Dalam kasus yang memiliki kepentingan yang sama dalam satu wilayah, organisasi membentuk kerja sama untuk mengembangkan pembagian data dalam memecahkan masalah tertentu. Sebagai penyedia sarana transportasi data dan informasi spasial digital, pembangunan IDSN diharapkan dapat mewujudkan suatu pola komunikasi baru dalam penyebarluasan data dan informasi spasial yang dapat dengan cepat menjangkau semua lapisan masyarakat. Arah pembangunan IDSN mencakup 5 pilar utama, yaitu : a) Kelembagaan (Institutional Aspect) b) Peraturan Perundang-Undangan (Legal Aspect) c) Data Utama (Geospatial Data) d) IPTEK (Research & Development) e) SDM (Human Resource Development) Kelima pilar utama penyangga tegaknya IDSN tidak dapat dipisahkan

26

satu pilar dengan pilar yang lainnya, oleh karena itu kelima pilar tersebut saling terkait. Masing-masing pilar membutuhkan dukungan dari pilar yang lainnya. Salah satu pilar pendukung IDSN yang disebut dengan Data Utama adalah suatu pilar yang membangun dan mengkoordinasi pembangunan data utama (fundamental data sets) dengan menitik beratkan pada kegiatan antara lain: a. Penyusunan standar produk data utama dan basis data b. Penyusunan standar prosedur perolehan data dan jaringan kerja c. Penyusunan standar protokol sistem akses dan distribusi data utama

Hal pokok yang akan di bangun dalam pilar data utama adalah mengelola data agar dapat dengan mudah di akses dan di distribusikan sesuai dengan tujuan yang spesifik maupun umum oleh siapa saja yang memerlukan. Sistem yang akan di bangun adalah merujuk pada sistem yang di kenal dengan nama sistem Geoportal.

27

28

Gambar 2.6 Infrastruktur Data Spasial Nasional