You are on page 1of 188

DJOHAN SJAHROEZAH

,
MERAJUT JEJARING PERJUANGAN
IrwansyahNuzar,RezzaAjiPratama,AdieMarzuki





















ii

DJOHAN SJAHROEZAH,
MERAJUT JEJARING PERJUANGAN
IrwansyahNuzar,RezzaAjiPratama,AdieMarzuki

©PusatInovasi&KemandirianIndonesiaRaya,Jakarta
CetakanPertama2012

Hakciptadilindungiolehundang-undang
Allrightsreserved

Pengantar:
Agustanzil(Ibong)Sjahroezah,RushdyHoesein

EditorKonten:
RushdyHusein,ImamYudotomo

Desainsampul
PIKIRInstitute

Penerbit:

PIKIRINSTITUTE

PusatInovasi&KemandirianIndonesiaRaya
Jl.Batu1No.A6PejatenTimur
PasarMinggu–JakartaSelatan
www.pikir.org
Edisi Pertama buku ini diterbitkan dalam rangka Peringatan
HariLahirDjohanSjahroezahke-100

iii

DaftarIsi
DariPenerbit vi
KataPengantar
OlehAgustanzilSjahroezah vii
OlehRushdyHoesein X

Pendahuluan
LahirnyaNasionalisme 1
OrganisasiKlandestin 5
TerbentuknyaIdeologi 11

BABI
AnginPerubahandariTimur 14
PolitikEtis 15
SarekatIslamdanISDV 17
TransformasiSIMerah 22

BABII
MembangunGerakanBawahTanah 27
MengorganisirKaumBuruh 33
JejaringRevolusioner 35
MarxisyangBukanKomunis 39

BABIII
MetamorfosisWadahPerjuangan 42
KursusalaMarxHouse 44
MembangunPartaiRakyatSosialis 47
BergabungUntukBercerai 49
PeletakDasarIdeologiPSI 52

iv

BABIV
ProklamasidanInisiatifKaumMuda 57
UpayaPropagandaJepang 61
Hari-hariGentingProklamasi 64
PeranDjohandiSurabaya 66

BABV
JatuhBangunRepublik 72
DariLinggarjatiHinggaRenville 77
PemberontakanMadiun 81

BABVI
PorosRevolusiYogyakarta 85
Pathuk,KelompokRevolusioner 87
GodfatherPathuk 94

BABVII
KonsistensiKerakyatan 96
SosialismeKerakyatandanKomunisme 99
PartaiKaderdanPartaiMassa 102
KaderTakPernahPadam 106

BABVIII
MerintisDemokrasi 108
PemiluBersih1955 109
PSIdalamPemilu1955 112
FaseDemokrasiTerpimpin 117

BABIX
PRRI/PERMESTA,DalihPembubaranPSI 121
v

SumateraMemanas 123
RapatRahasiaSungaiDareh 125
PSIdanPRRI 127
PSIDibubarkan 130

BABX
MentorHinggaUjungUsia 136
DinamikaInternalPSI 139
KematianDjohanSjahroezah 143

DaftarPustaka

ProfilPenulis

Tulisan-TulisanDjohanSjahroezah
SosialismeKerakyatandanKomunisme
Sosialis—Komunis–SosialisDemokrat
NegaradanPartaiPolitik

FotoDokumentasi

vi

DariPenerbit

Pusat Inovasi dan Kemandirian Indonesia Raya (PIKIR) dalam
kapasitasnya sebagai lembaga kemasyarakatan yang
independen, mencanangkan program-program yang
substansinya adalah membangun masyarakat yangKolektif,
Mandiri dan Humanis. Pembangunan ini difokuskan pada
komunitas-komunitas dari berbagai bidang dan berbagai
daerah, yang meliputi program pengayaan wawasan,
peningkatan kualitas paham kerakyatan, acuan kemandirian
dalam bersikap, serta ekonomi dengan sustainabilitas tinggi,
danolehkarenanyahumanis.

Namun yang utama dalam implementasi program-program
tersebut adalah kesiapan mental serta pola pikir yang
berlandaskan nafas kebangsaan serta menjunjung nilai-nilai
kemanusiaan yang adil dan beradab. Untuk itu, instrumen
yang dipersiapkan untuk keperluan pembangunan
suprastruktur program mencakup: pendidikan kebangsaan,
pemahaman ideologi dan pemahaman yang mendalam akan
akar kearifan berdasar pengetahuan kesejarahan sebagai
bangsa.

Dalam konteks pemikiran tersebut, Divisi Inovasi PIKIR yang
disebut PIKIR Institute, menginisiasi penerbitan sebuah buku
yangdimaksudkanuntukmembangunkesadaransejarahdan
kebangsaan, yang diperlukan dalam mengimplementasikan
konsep-konsep kerakyatan yang oleh Penerbit dianggap
sebagaisuatukeniscayaan.

Jakarta,November2012
TedyTricahyono,
KetuaUmumPIKIR
vii

KataPengantar
Oleh:AgustanzilSjahroezah

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, saya
mengantarkan penerbitan buku perdana tentang Djohan
Sjahroezah: "Merajut Jejaring Perjuangan". Penerbitan buku
inidalamrangkamemperingati100TahunDjohanSjahroezah
(26 November 1912—2 Agustus 1968), bukan untuk
mengkultuskandirinya,tapimerupakanupayauntukmenarik
pelajaran dari perjuangannya bagi bangsa ini untuk berjuang
dengan ikhlas, totalitas dan rela berkorban demi harkat dan
martabatBangsa.

Djohan Sjahroezah sudah memasuki gerakan politik sejak
duduk dibangku AMS pada 1930, dengan mengikuti kursus-
kursus politik yang diadakan Golongan Merdeka—orang-
orang yang tidak menyetujui pembubaran PNI—kemudian
masuk menjadi anggota PNI - Pendidikan (Pendidikan
NasionalIndonesia).

Sebagai mahasiswa RHS (Rechts Hoge School) , beliau masuk
sebagai anggota PPPI (Perhimpunan Pelajar-Pelajar
Indonesia) dan aktif menulis dalam majalah resmi PPPI
Indonesia Raya. Karena tulisannya dalam Indonesia Raya
beliau terkena ‘pers delict’ yang kemudian dikenai hukuman
penjara satu hingga satu setengah tahun di Penjara
Sukamiskin Bandung. Dengan dipenjarakannya, justru
menjadi blessing in disguise, sehingga beliau tidak termasuk
yang'dibuang'keDigul.

Saat dipenjara, Bung Djohan sempat diuji oleh Professor
Scheffer dari RHS dan lulus. Beliau tidak sempat
menyelesaikan studinya di RHS karena tidak mau
viii

menandatangani perjanjian untuk tidak aktif berpolitik
sebagaisyaratuntukmelanjutkanstudinyadiRHS.

Setelah lebih dari setengah abad Indonesia merdeka,
feodalisme masih merajalela di negeri ini, bahkan kini
kapitalisme dan neo-liberalisme sedang menguasai
perikehidupan kita. Maka sangatlah tepat usaha penerbitan
buku tentang Bung Djohan ini. Dalam perjuangannya beliau
selalu membangun solidaritas kemanusian di antara sesama
pejuang. Beliau dikenal sebagai mata rantai dari setiap
gerakan dalam revolusi Indonesia. Perjuangan yang
dilakukannya dengan membangun kesadaran rakyat untuk
melepaskandiridariketerjajahannyadilakukandenganhidup
bersamakelompok-kelompokpejuangitu.

Sudah saatnya—kalau tidak boleh dikatakan terlambat—bagi
kita untuk menarik pelajaran berharga dari corak pergerakan
perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia yang dilakukan
oleh para pejuang kemerdekaan di masa itu, yang menjalani
perannyadenganpenuhkeikhlasandanrelaberkorban.Pada
buku ini ditunjukkan totalitas perjuangannya Bung Djohan,
yang dengan tekun dan rapi merajut jaringan perjuangan ke
arahIndonesiamerdeka.

Bung Djohan adalah sosok pemimpin yang demokratis,
humanisdantekundalammembinakaderperjuangan,untuk
menggalang persamaan cita-cita dan dukungan masyarakat
untuk membangun suatu gerakan revolusioner mencapai
kemerdekaanIndonesia.

Dalamkehidupannya,iatetaprendahhatisehinggasulitbagi
kita untuk mendapatkan cerita tentang perannya dalam
perjuangan kemerdekaan, kecuali melalui kawan-kawan
ix

seperjuangannya.Pada1980-anBapakDarsyafRahmantelah
memulai menulis biografi Djohan Sjahroezah, dengan
melakukan wawancara dengan berbagai tokoh seperti Adam
Malik,SriSultanHamengkubuwonoIX,CakRuslanAbdulgani,
Mr. Wilopo, Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Soebadio
Sastrosatomo, dan lain lain. Tapi sebelum buku tersebut
selesai Bapak Darsyaf Rahman sudah dipanggil sang Khalik.
Hingga kini naskah tersebut tidak diketahui keberadaannya,
sedang semua narasumber tersebut sudah berpulang ke
rahmatullah. Oleh karenanya penerbitan buku ini sangat
dihargai. Dengan melakukan berbagai kajian dengan
menggunakan buku-buku sejarah dan buku-buku yang ada,
memuat tentang Djohan Sjahroezah sebagai referensi selain
melakukan wawancara dengan orang-orang, yang masih
sempatbertemudanberhubungandenganBungDjohanbuku
dapatditerbitkan.

Penghargaan yang tinggi patut diberikan kepada ketiga
penulis: Irwansyah Nuzar, Rezza Aji Pratama dan Adie
Marzuki yang mengambil inisiatif untuk menulis dan
menerbitkanbukupertamatentangDjohanSjahroezah.

Semoga buku yang diterbitkan dalam rangka peringatan 100
tahun Djohan Sjahroezah ini akan menginspirasi munculnya
sosok pemimpin dan pejuang yang berani, ikhlas dan rela
berkorbandemikemajuanbangsanya.Amin.

Jakarta,26November2012

x

KataPengantar
Oleh:Dr.dr.RushdyHoesein,M.Hum

Buku Djohan Sjahroezah, dengan judul “Merajut Jejaring
Perjuangan” ini merupakan buku yang cukup lengkap
menuturkan tentang riwayat hidup Bung Djohan Sjahroezah.
Siapakah Bung Djohan Sjahroezah? Mungkin banyak yang
belum mengenalnya. Beliau adalah salah seorang dari
Pejuang Nasional Indonesia yang amat aktif dalam perintisan
kemerdekaan Indonesia dan perjuangan Revolusi
Kemerdekaan. Selain itu beliau juga tidak pernah absen
dalampembangunanBangsasetelah1950-an.

Sejak muda beliau aktif dalam organisasi kepemudaan yang
terkait bidang sosial politik. Selain sebagai anggota PPPI
(Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia) kemudian
melanjutkan diri sebagai aktifis Pendidikan Nasional
Indonesia (dikenal juga sebagai PNI baru), Bung Djohan
adalah anggota Partai Sosialis bahkan menjadi Sekretaris
Jenderal PSI (Partai Sosialis Indonesia) sampai PSI bubar.
Dalam perjuangan Revolusi Kemerdekaan Indonesia 1945-
1949 Bung Djohan adalah anggota Lasjkar Minyak yang aktif
dalam pengorganisasian para pejuang Jawa Timur dan juga
dalam gejolak medan pertempuran. Sampai saat ini banyak
masih yang bersaksi kalau beliau merupakan salah satu
konseptor dan mobilisator dari pertempuran antara pasukan
Indonesia dan Inggris selama Oktober—November 1945 di
Surabaya yang akhirnya salah satu harinya dikenang sebagai
HariPahlawan10November1945.

Dalam teori ilmu sejarah, maka masalah kesejarahan lebih
dilihat sebagai struktur bukan semata-mata hanya pada
peristiwa. Banyak sudah kita mengenal epos revolusi yang
xi

menggambarkan sebuah peristiwa, maka dengan
pemahaman struktur sejarah, satu peristiwa revolusi dengan
lainnya lebih mudah dimengerti dan dikaitkan. Bung Djohan
adalah orang penting dari perubahan yang terjadi saat itu
yang disebut dengan istilah ‘agent of change’. Nampaknya
Bung kita ini sangat mengeri tentang Marxisme dibanding
dari teman-teman dari Partai Sosialis lainnya. Keilmuan ini
dimanfaatkannya dan diaplikasikannya dalam perjuangan
melawan penjajahan di Indonesia. Pengamalan ilmu politik
disampaikannya pada banyak orang yang kemudian tumbuh
dan berkembang serta aktif di perjuangan politik lain. Salah
satunya, antara lain, munculnya kader-kader baru yang
mengaku adalah anak didik Bung Djohan seperti adanya. Ini
diakui dan disampaikan oleh berbagai penulis sejarah seperti
William H. Fredeerick
1
, Harry A. Poeze
2
maupun Rudolf
Mrazek
3
. Demikian pula penulis Indonesia seperti Rosihan
Anwar dan Djoeir Moehamad, secara jujur memaparkan
dengan sangat objektif peran dan kegiatan Bung Djohan
dalampergerakandanpembangunanBangsa.

SungguhbukuiniyangditulisolehIrwansyahNuzar,RezzaAji
Pratama, Adie Marzuki dan diterbitkan oleh Pusat Inovasi &
Kemandirian Indonesia Raya (PIKIR) serta diluncurkan pada
peringatan 100 tahun kelahiran Djohan Sjahroezah pada 26
November 1912, pantas dibaca, dipahami dan dimanfaatkan
olehgenerasimudasekarangmaupundimasadepan.

Jakarta,26November2012

1
H.Frederick,William.PandangandanGejolak.hal207.
2
A.Poeze,Harry.GerakanKiridanRevolusiIndonesia,hal352.
3
Mrázek,Rudolf.Sjahrir:PolitikdanPengasingandiIndonesia,hal429.

PENDAHULUAN
LahirnyaNasionalisme
Sampai dengan saat ini, arus besar perspektif sejarah
mengenaiterbentuknyanasionalismediIndonesia,umumnya
didasari atau mengacu kepada pemahaman sejarah
pertumbuhannasionalismenegara-bangsadiBarat.Keunikan
proses historis yang berlangsung di Indonesia belum
mendapat porsi fokus yang cukup, dan nasionalisme yang
terlihatpadaeraseputarProklamasiKemerdekaanpada1945
dianggap sebagai suatu kewajaran proses dalam sejarah.
Faktanya, proklamator kemerdekaan kita, Bung Karno dan
Bung Hatta merasakan keraguan besar ketika diminta
mendeklarasikan terbentuknya Republik Indonesia. Mereka
meragukandukungantujuhpuluhjutalebihrakyatNusantara
pada saat itu, terhadap ide kemerdekaan sebagai Republik
Indonesia, dan meragukan legitimasi proklamasi yang akan
dilakukan.
Pemerintahan Belanda yang merubah struktur dasar
organisasi sosial orang Jawa dan beberapa daerah di luar
Jawa, membuat organisasi ekonomi dalam masyarakat
Nusantara yang memiliki sosiodiversifikasi beragam ini lebih
komunalistis. Komunitas-komunitas di masyarakat
berkembang dengan kesadaran ekonomi dan kedaulatan
yang begitu rendah. Perpecahan kerajaan-kerajaan besar di
Jawa maupun di daerah lain yang diinisiasi pemerintah
Belanda,semakinmempertegasdinding-dindingetnisitasdan
tribalisme di dalam masyarakat Indonesia. Pemilahan-
pemilahan masyarakat ke dalam komunitas-komunitas kecil
yang dilakukan pemerintahan Belanda, membuat rakyat
Nusantara tumbuh sebagai kelompok-kelompok kecil yang
miskin wawasan, miskin ilmu dan terperangkap dalam pola
pikirpasifsertaapatis.Konsepnegara-bangsadenganteritori
1
2

mencakup seluruh kepulauan Nusantara, hanya dipahami
secarasamarolehmayoritaspenduduksaatitu.
Kondisi bangsa pada saat itu, dimana dari total 73,3 juta
populasi rakyat hanya tujuh persen yang mampu baca tulis,
ide bernegarapun masih sulit diterima oleh rakyat umum.
Mayoritas masyarakat belum benar-benar paham akan
makna negara dari Sabang sampai Merauke yang berdaulat
dan merdeka. Bukan hanya kendala wawasan, bahkan
golongan terpelajar pun seperti menjauhi ide kemerdekaan
dan pembentukan negara bangsa yang baru. Terlihat pada
kasus organisasi Insulinde yang didirikan oleh Ernest Douwes
Dekker, Dr. Cipto Mangoenkoesoemo dan Ki Hadjar
Dewantara. Insulinde adalah perkembangan dari Indische
Partij yang visinya adalah menyadarkan masyarakat dengan
menghidupkan kembali harga diri, rasa mampu, dan rasa
kebangsaan atau nasionalisme. Walaupun belum menembus
seluruhlapisanmasyarakatyangada,idetersebutmengalami
prosesbolasaljusejalandenganwaktu.
Pada 1919, Insulinde yang memiliki 40 ribu orang anggota,
mencoba menunjukkan identitas kebangsaan dengan
merubah bentuk organisasi menjadi Nationaal-Indische Partij
atau NIP, tetapi aksi tersebut malah membuat organisasi
ditinggalsebagianbesaranggotanya.NIPberpendapatbahwa
orang Hindia itu tidak hanya bumiputera saja, tetapi Indo-
Belanda, Indo-Cina, Indo-Arab dan orang-orang yang
dilahirkan di Hindia atau yang menganggap Hindia sebagai
tanah airnya. NIP merupakan partai pelopor yang berpikir
dalam kerangka nasionalisme yang berbeda dari organisasi
sejenisyangsejaman.Walaupunmembawakerangkaberpikir
yang ditabukan pada masanya, dan walaupun merupakan
jawaban bagi rasa ketidakpuasan bangsa yang tertindas, ide
3

tersebut tidak mudah dicerna oleh setiap kelompok
masyarakatsebagaisuatukeniscayaan.
Penyerahan Belanda yang tanpa syarat kepada Jepang di
Kalijati, kabupaten Subang pada 8 Maret 1942, dari
JenderalTerpoontendi pihak Belanda kepada Jenderal
Imamuradari pihak Jepang, meresmikan babak baru
kolonialisme di Nusantara. Pemerintahan Jepang di
Nusantarawalaupunsingkat,tetapimampumembuatkondisi
mental masyarakat bahkan lebih buruk lagi. Janji-janji Asia
Timur Raya sempat membuai pola pikir pasif di masyarakat
dan bahkan di segelintir elit yang sebelumnya menyuarakan
perubahan dan perlawanan. Bahkan pemerintahan Jepang
yang eksploitatif dan tidak berperikemanusiaan membuat
kebanyakanrakyatmenjadisibukbertahanhidup,danhampir
tidakmampuuntukmemikirkanselainhidupnyasendiriserta
keluarganya. Jepang yang semakin lama semakin berat
mengimbangi serangan Sekutu, memang menjanjikan
kemerdekaan kepada bangsa Indonesia, yang walaupun hal
tersebutlebihterdorongolehmotifpenggalangandukungan,
agar rakyat bersedia membantunya melawan Sekutu, namun
hal tersebut sempat meredam gerak perlawanan di
masyarakatyangsedikititu.
Periode ini hampir dapat dikatakan menghilangkan lapisan
kelas menengah pribumi, yang sebelumnya cukup baik
memimpin pergerakan sosial di masyarakat. Pemerintah
Jepang membangun struktur masyarakat yang terdiri atas
golongantimurasing,sepertiChina,IndiadanArab.Golongan
yang dipersamakan, terdiri dari orang Belanda dan
keturunannya,orangEropalainnya,orangyangbukanbangsa
Eropa tetapi telah masuk menjadi golongan Eropa. Dan
terakhir adalah golongan Bumiputera, yaitu orang pribumi
yang paling keras menerima dampak kolonialisme dalam
4

wujud terburuknya. Dalam konteks ini, argumen Bung Karno
ketika menunda proklamasi dengan alasan kemerdekaan
pasti diberikan oleh Jepang, dapat dianggap sebagai suatu
sikap yang timbul akibat keraguan pada kesiapan serta
antisipasi rakyat dalam menyikapi kemerdekaan. Karena
pernyataan Bung Karno kepada Sjahrir di awal pendudukan
Jepang,bahwa“Jepangadalahfasismurniyangharusdilawan
dengan metode yang paling halus,” menunjukkan bahwa
Bung Karno tidak berniat menerima janji kemerdekaan dari
Jepang.
Oleh karena hal-hal tersebut, Bung Karno sangat terkejut
ketika proklamasi dapat disambut baik oleh mayoritas
masyarakat, dan lebih terkejut lagi ketika organisasi-
organisasi di dalam masyarakat ternyata mampu
menindaklanjuti proklamasi dengan aksi-aksi yang sistemik
dan nasionalis secara menggebu. Kesiapan dalam
mengantisipasiproklamasikemerdekaanitumemangterlihat
kematangannya. Dalam tempo yang singkat pemerintahan
tersusun, dan masyarakat segera larut dalam euforia
kemerdekaan, serta dengan mudah beradaptasi dengan
negara-bangsa yang baru terbentuk. Mayoritas rakyat secara
serentak menyikapi kemerdekaan dengan positif dan
bersedia melakukan segala yang perlu, demi
mempertahankannya. Perlu dicermati bahwa peralihan dari
masyarakat yang pasif menjadi progresif ini bukan terjadi
sekonyong-konyong. Adalah gerakan organisasi-organisasi
bawah tanah yang tumbuh menjelang dan selama
pemerintah Jepang, yang mengkondisikan sikap tersebut.
Gerakan bawah tanah yang selama pendudukan Jepang
secara aktif mengelaborasi perubahan sikap dan pemikiran
dalammasyarakat,berhasilmengkondisikankesiapanmental
masyarakatyangtelahterjajahselamabeberapagenerasi.
5

OrganisasiKlandestin
Gerakan organisasi bawah tanah mulai marak menggantikan
perlawanan terbuka pada awal abad ke-20. Seiring dengan
munculnya kaum intelektual pasca diterapkannya Politik Etis,
gerakan bawah tanah bawah muncul secara sporadis dan
konsisten. Walaupun gerakan bawah tanah tersebut lebih
banyak berwujud kerangka berpikir yang revolusioner
ketimbang gerilya bersenjata, namun militansi yang
terbentuk atas dasar idealisme tersebut mampu
menginspirasi kelahiran banyak pejuang-pejuang intelektual
dari kalangan masyarakat menengah di Nusantara. Selama
pemerintahanJepang,adaempatgerakanbawahtanahyang
berpengaruh besar terhadap berkembangnya rasa
ketidakpuasanterhadappemerintahan,jugapenyebaranide-
ide mengenai nasionalisme dan kedaulatan di dalam
masyarakat.
Ironinya, salah satu gerakan yang dipimpin oleh Amir
Sjarifuddin dengan memanfaatkan jaringan Partai Komunis
Indonesia bawah tanahnya, diinisiasi oleh pemerintah
Belanda melalui Dr. Charles van der Plas. Organisasi ini
meredup ketika Amir Sjarifuddin dan beberapa pimpinan
lainnya tertangkap. Gerakan bawah tanah lainnya adalah
Persatoean Mahasiswa, yang dengan aksi menentang serta
mengkritik pemerintah Jepang secara terbuka mampu
membakar semangat anti Jepang. Kekuatan gerakan bawah
tanah berikutnya walaupun tidak terlalu luas jejaringnya,
namun pengaruhnya cukup kuat karena beranggotakan
orang-orangyangmilitansepertiSukarni,PanduKartawiguna,
Chaerul Saleh, Maroeto Nitimihardjo, dan didukung
intelektualveteranpadasaatitu,TanMalaka.
Kelompok-kelompok ini semuanya terkait secara khusus
kepada gerakan bawah tanah yang lebih besar pimpinan
6

SutanSjahrir.Organisasiinimampumengembangkancabang-
cabangnya secara luas di kota-kota besar di Jawa, Bali, dan
Sumatera. Gerakan bawah tanah ini mengorganisir jejaring
pemuda terpelajar, golongan buruh, sampai kaum tani yang
berorientasi progresif revolusioner. Terdapat juga gerakan-
gerakan yang terlihat sporadis dari sekelompok pemuda
terpelajar seperti yang dipimpin oleh Mohammad Natsir dan
Sjafruddin Prawiranegara, yang turut menyebarkan ide-ide
kedaulatan dan mengumpulkan informasi intelejen untuk
dipergunakan oleh organisasi yang lebih besar. Para
revolusioner ini umumnya berangkat dari kesadaran akan
dominasi asing atas bangsanya, yang mendorong tumbuhnya
keinginanyangsemakinmenguatakankemerdekaan.
Gerakan-gerakan bawah tanah ini walaupun secara jumlah
sangat kecil prosentasenya dibanding total jumlah
masyarakat Nusantara, namun mereka mampu menggalang
dukungan dan menggugah kesadaran dalam masyarakat.
Kegiatan bawah tanah ini mampu merasuk kedalam
pemikiran masyarakat secara luas, menanamkan ide
kedaulatan, membangkitkan dan menebar rasa
ketidakpuasan terhadap pemerintahan kolonial, serta
mendidik rakyat dalam mempersiapkan diri menghadapi
kemerdekaan sebagai sebuah negara-bangsa. Inisiator
gerakan ini umumnya kelas menengah yang sempat
mendapatkan pendidikan formal di sekolah-sekolah Belanda.
Gerakan mereka tidak menjurus perlawanan bersenjata,
tetapi lebih bertujuan menggalang solidaritas dan
memperteguhcita-citaperjuangan.
Walaupun gerakan-gerakan tersebut terlihat berdiri sendiri-
sendiri,namunhasilbesaryangmerekaperolehadalahakibat
adanya sinergi yang didasari oleh keterikatan emosi dan visi
yang kuat, antara satu kelompok dengan yang lain. Sinergi
7

yang diatur secara sistematis dan terkordinasi. Organisasi-
organisasi tersebut menginfiltrasi ke dalam PETA–organisasi
Pembela Tanah Air–yang terdiri dari tentara Indonesia yang
dipimpin oleh orang Indonesia dan mendapat pendidikan
militer dari orang Jepang, dan organisasi-organisasi pemuda
binaan Jepang dengan tujuan untuk memegang kendali di
setiap unit-unit kunci melalui anggota-anggota yang dapat
dipercaya, dan menggiring anggota-anggota lainnya justru ke
arahantiJepang.
Mereka melakukan indoktrinasi ke dalam setiap unsur yang
mungkindimasuki.Tokoh-tokohmilitandariorganisasibawah
tanah tersebut masuk ke dalam organisasi-organisasi semi
militer seperti barisan pembantu polisi Keibodan, barisan
pemuda Seinendan, organisasi perhimpunan wanita Fujinkai,
organisasi siswa sekolah dasar dan menengah Seinentai dan
Gakutotai, sampai ke Syuisintai, barisan pelopor yang
dibimbing langsung oleh tokoh-tokoh nasionalis Indonesia
seperti Bung Karno, Otto Iskandardinata, R.P. Suroso, dan
lainnya. Hambatan besar bagi gerakan ini justru datang dari
pribumi yang terbuai dengan kenaikan pangkat dan kenaikan
status sosial ekonomi yang diberikan Jepang bagi mereka
yang mengisi kekosongan administratif dan teknis level
menengah.
Infiltrasi juga masuk ke dalam organisasi-organisasi politik
sepertigerakanpropagandaJepangdalamPerangAsiaTimur
RayapimpinanMr.SamsudindanShimizu,organisasiPUTERA
(Pusat Tenaga Rakyat) dengan tokoh pemimpinnya “empat
serangkai”yangterdiriatasBungKarno,BungHatta,KH.Mas
Mansyur dan Ki Hajar Dewantara. Mereka berhasil
membelokkan orientasi organisasi tersebut secara signifikan
dan justru memanfaatkan infrastruktur organisasi tersebut
untuk membangun kekuatan daya tawar sebagai entitas
8

negara, ketika pasukan Sekutu yang diprediksi akan mampu
mengalahkan Jepang datang ke tanah air. Mayoritas
pimpinan organisasi pada saat itu tidak menghendaki
kemerdekaan sebagai hadiah dari Jepang, selain dari aspek
harga diri, juga meragukan legitimasi kemerdekaan tersebut.
Karena Jepang semakin nampak sebagai pihak yang akan
kalahperang.
Pada saat itu, umumnya pimpinan gerakan bawah tanah
sepakat mengenai prediksi Sjahrir tentang kekalahan Jepang
dan datangnya invasi tentara Sekutu. Mereka sepakat untuk
mengambil momentum datangnya tentara Sekutu pada saat
vacuum of power dalam mengambil alih pemerintahan dari
tangan Jepang dan memproklamasikan suatu negara baru.
Dengan maksud tersebut, kelompok Sjahrir secara rutin dan
kontinyu memonitor setiap peristiwa terkait peperangan
Jepang melawan Sekutu melalui siaran radio luar negeri.
Walaupun pada saat itu mendengarkan radio dilarang keras
olehpemerintahJepang,Sjahrirsecarakonsistenmenganalisa
berita-berita dari radio Sekutu untuk mendapatkan peluang
bergerak.
Setiap informasi penting yang didapat biasanya diserahkan
kepada Bung Hatta untuk disebarkan ke setiap lini gerakan.
Pada masa ini, sifat gerakan adalah kombinasi dari kerangka
pemikiran elit pimpinan dalam organisasi-organisasi bawah
tanah dan laskar-laskar rakyat bersenjata yang bersifat lokal.
Mereka tersebar di setiap tempat strategis dan memiliki
ketua serta karakternya sendiri yang berbeda satu sama
lainnya. Namun setiap jajaran dalam organisasi-organisasi
atau kelompok-kelompok harus bersiap untuk merespon
informasi dengan suatu aksi yang tepat. Untuk itu, sangat
penting dilakukan koordinasi antar organisasi dan kelompok
denganbaikdancepat.
9

Konsolidasi antar organisasi tersebut diatur oleh seorang
tokoh kunci bernama Djohan Sjahroezah. Dengan segala
keterbatasan fasilitas komunikasi, Djohan Sjahroezah yang
kerap dipanggil Bung John atau Bung Djohan oleh rekan-
rekan dekatnya, mengambil peran sebagai perantara utama
dalam hubungan antarorganisasi bawah tanah tersebut.
Kegiataninimenjadikrusialkarenakolaborasidankomunikasi
antar organisasi tersebut harus menghadapi Jepang sebagai
penguasa dan sekaligus intelejen Sekutu yang masuk melalui
pribumi yang termasuk binaan Belanda. Namun peran
tersebut dapat dimainkan Bung Djohan dengan baik, karena
sejak usia belasan di awal tahun 1930-an Djohan telah aktif
bergerak secara klandestin dan menjalin jejaring dengan
setiapkelompokdalampergerakan.
Aktivitas seperti penyebaran paham dan cita-cita
kemerdekaan, baik dengan cara menyusun sel di berbagai
tempat, maupun penyebaran siaran serta bacaan yang
berguna bagi perjuangan menuju kemerdekaan, telah
dilakukannyasejakmendirikanPendidikanNasionalIndonesia
atau yang dikenal sebagai PNI Baru, yang diketuai Soekemi.
Padasaatitu,BungDjohanyangbaruberusia19tahunadalah
sekretaris PNI Baru cabang Jakarta yang diketuai Sjahrir. PNI
Baru yang kemudian berpindah pimpinan dari Soekemi ke
Sjahrir adalah suatu organisasi yang mendasari aksi serta
kegiatannya pada suatu pemahaman yang menganalisis
kapitalisme,imperialismedanmunculnyafasismeyangsaling
melengkapi, serta berusaha untuk menempatkan rakyat
Nusantara dalam suatu gambaran global sebagai penduduk
dunia.
Ketika Bung Hatta kembali dari Belanda dan mengambil alih
kepemimpinan PNI Baru, Djohan bersama Maroeto
Nitimihardjo dan Bung Hatta melakukan pengkaderan secara
10

rutin dan mendidik pemuda-pemuda mengenai politik dan
kebangsaan. Kegiatan ini banyak mempertemukan Djohan
denganpemuda-pemudaprogresifrevolusioneryangmenjadi
kadernya. Mereka kemudian mendirikan atau bergabung
dalam kelompok atau organisasi yang tersebar di penjuru
Jawa dan Bali. Karena aktivitas inilah maka Djohan memiliki
kaderhampirdisetiapkelompok,yangmembuatnyamenjadi
simpul dari organisasi-organisasi bawah tanah.
Pemahamannya yang mendalam akan Marxisme dan
kedekatannya dengan tokoh-tokoh Islam dari Masyumi,
membuatDjohanadalahsatudarisegelintirorangyangdapat
diterimaolehsemuagolongan.
Sifat gerakan bawah tanah yang bekerja secara rahasia dan
tertutup ini memiliki musuh utama berupa pengkhianatan
daridalamdirigerakanitusendiri,sertaorganisasi-organisasi
atau badan-badan kontra gerakan bawah tanah yang
dibentuk oleh penguasa dimana gerakan bawah tanah
tersebutberoperasi.Olehsebabitu,gerakanbawahtanahini
sangat tertutup, dan akibatnya, narasi sejarahnya sulit
ditemukan dalam literatur sejarah resmi, terutama yang
ditulis dalam bentuk historiografi untuk kepentingan
akademis. Keanggotaan gerakan bawah tanah ini bersifat
sukarela dengan dasar militansinya adalah idealisme. Dalam
hal ini, idealisme tersebut dapat berupa kecintaannya yang
besar terhadap negaranya atau nasionalisme, maupun
terhadap paham atau ideologinya, serta terhadap kebenaran
tujuangerakanatauorganisasinya.
Maka dari itu, kegiatan dari setiap anggota gerakan bawah
tanah ini jarang bisa diungkap oleh siapapun, termasuk oleh
rekan seperjuangan. Tertutupnya aktivitas bawah tanah
tersebut dapat terilustrasikan dari kisah keluarga Bung
Djohan yang mengeluhkan bahwa cerita yang dibawa ke
11

rumah hanyalah peristiwa-peristiwa kecil berkaitan tentang
sifat rekan-rekannya. Bahkan yang sangat mengganggu bagi
keluarga dekatnya adalah, Bung Djohan selalu memakai
kalung dengan liontin berisi racun sianida, yang akan
mencegahdirinyamembukainformasigerakannyajikadirinya
sampaitertangkapmusuh.

TerbentuknyaIdeologi
Idealisme bagi Djohan adalah suatu pemikiran akan nilai
kebenaran yang dipegang teguh. Seperti umumnya kelas
menengah yang beruntung mendapatkan pendidikan sampai
universitas, Djohan sempat mengenyam pendidikan tinggi di
Recht Hoge School (RHS) Batavia, walaupun kemudian keluar
tanpa sempat menyelesaikan pendidikannya karena
ditangkapakibatkasuspenulisanartikeldimajalahIndonesia
Rayayang mengkritisi pemerintah Belanda. Djohan juga
mengikuti kursus-kursus mandiri yang diselenggarakan oleh
Golongan Merdeka di berbagai kota. Ia memanfaatkan
momentum perubahanakibat Politik Etis yang dilangsungkan
pemerintahBelanda.
Aspek pendidikan dalam Politik Etis membuka sebuah pintu
tanpa bisa dibendung: informasi. Dalam era tersebut, terjadi
peristiwa-peristiwa di dunia yang memicu zeitgeist atau
semangat zaman yang baru, termasuk di Hindia Belanda.
Kejayaan Turki yang goncang merangsang pembaruan dalam
pemikiran Islam, reformasi Kwang-zu di China yang
dampaknya terbawa oleh organisasi Tiong Hwa Hwe Koan
memicu tumbuhnya semangat anti penjajahan, perang Boer
di Afrika Selatan yang menginspirasi pemikiran bahwa
penjajahan itu dapat dan harus dilawan, serta kemenangan
Jepang atas Rusia yang memperlihatkan anggapan bahwa
12

bangsa Eropa tak terkalahkan itu salah. Dalam semangat
jamansepertiitulahDjohandibesarkan.
Pada masa tersebut, dunia pers yang menyuarakan masalah
politik semakin marak, seperti Retnodhoemilah yang diambil
alih Wahidin Soedirohoesodo dari F.L. Winter di Surakarta,
Medan Prijaji yang dipimpin R.M. Tirto Adhi Soerjo, harian
OetoesanHindiadariTjokroaminoto,KoranApi,Halilintardan
Nyala dari Semaoen, koran GunturBergerakdan Hindia
Bergerakdari Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar Dewantara,
Benih Merdeka dan Sinar Merdeka dari Parada Harahap, dan
seterusnya.SedikitpergeserankonstelasipolitikInternasional
dan terbukanya akses informasi tersebut memicu lahirnya
pemikir-pemikir patriotik yang menginginkan perubahan dan
kemakmuran. Pada era tersebut, gema revolusi Rusia,
berkembangnya pemikiran seperti Leninisme, Trotskysme
dan sosialis Eropa Barat seperti Eduard Bernstein serta Neo
Marxist seperti Georg Lukács, Karl Korsch dan Antonio
Gramsci, berkembang di kalangan intelektual progresif
sebagaisuatukeniscayaan.
Pemikiran-pemikiran progresif dan revolusioner ini
mengendap dalam benak Djohan muda, dan mengkristal
sebagaisuatupahamideologis.Pemahamanakanperjuangan
melawan kapitalisme, imperialisme dan fasisme melalui
kegiatan intelektual dan pergerakan tersebut, menjadi dasar
pemikiranketikaanggota-anggotaPNIBaruyangmasihhidup
pada 1948, bersama-sama dengan orang yang sependirian
keluar dari Partai Sosialis untuk mendirikan Partai Sosialis
Indonesia. Bersama dengan Soegondo, Djohan merangkai
ideologi partai tersebut dan mengembangkan suatu isme
yang disebut dengan Sosialisme Kerakyatan. Pemikiran yang
didasari pemahaman Marxisme murni yang disesuaikan
dengan karakter serta kondisi demografis dan geografis
13

Indonesia, yang secara konsisten dan militan diterapkan
dalamgerakperjuangan.
Dalam Partai Sosialis Indonesia, Djohan terus membangun
usaha ideologis dalam rangka membangun integritas bangsa,
pendidikandan penempatan posisi Indonesia di dalam
konstelasi politik global. Walaupun ide-ide Sjahrir memiliki
arti yang penting bagi perkembangan ideologi dan program
partai, namun Partai Sosialis Indonesia senantiasa
mengandalkan pemikir bebas yang banyak mempengaruhi
pemikiran sosial di dalam maupun diluar partai, seperti
Djohan.MenurutDjohan,sosialismeyangdikembangkanoleh
Partai Sosialis Indonesia telah secara seksama disesuaikan
dengan kondisi-kondisi yang ada serta tumbuh di Indonesia.
Interaksinya dengan para kader dari berbagai daerah, dan
pada akhirnya, tersebar di berbagai wadah organisasi,
membuatposisisentralDjohandikalanganaktivistidakdapat
dipungkiri.
Buku ini membahas peran-peran dan faktor-faktor dalam
tahun-tahun seputar kelahiran Republik Indonesia yang
terlewatkan arus besar historiografi. Tim Penulis berusaha
melukiskan konteks semangat jaman yang unik, dinamika
isme-isme, dan pemikiran-pemikiran yang sejatinya
mendominasi warna percaturan politik di Indonesia. Buku ini
berusahamenutuplubang-lubangdalamcatatansejarahyang
selama ini mengarahkan asumsi dan membentuk stigma atas
suatu pemikiran, peristiwa, tokoh atau aktivitas, dengan
pemanfaatanjejaringtuauntukrisetnya.

14

BABI
ANGINPERUBAHANDARITIMUR
Sebuah peristiwa besar terjadi di Eropa, revolusi yang
dipimpin oleh golongan Bolshevik telah menghapus
kepemilikan borjuis atas alat-alat produksi, mengambil alih
pabrik-pabrik, tanah, jawatan kereta api dan bank-bank
menjadi milik seluruh rakyat dalam bentuk kepemilikan
publik. Revolusi ini telah berhasil menancapkan kediktatoran
proletariat dan menyerahkan pemerintahan kepada kelas
pekerja untuk menjadi kelas penguasa. Dunia melihat
bagaimanaPartaiBolsheviktelahmengantarkansejarahumat
manusia ke dalam suatu era baru yang revolusioner—yakni
eraproletar.
Dunia mengamati dialektika sejarah bahwa Partai Bolshevik
munculdarikelompok-kelompokkecilberhaluanMarxisyang
berkembang di Rusia pada 1880-an. Kaum Bolshevik
mendapatkan pengikut dari kalangan pekerja. Mereka
membangun hubungan yang intens dengan gerakan kelas
pekerja dan menanamkan kesadaran sosialis pada gerakan
tersebut.Merekamengkampanyekansertamenyebarluaskan
ajaran-ajaran Marxisme pada kalangan pekerja yang saat itu
hidupdalamkemiskinan.
Ketika pemerintah Rusia mengumumkan kebijakan
memberhentikansekitar30ribupekerjadiPetrogradpada22
februari 1917, kalangan pekerja menyambutnya dengan
pemogokan besar-besaran yang dipimpin oleh Aleksander
FyodorovichKerensky—yang juga dikenal sebagai pemimpin
kalangan Manshevik—menghasilkan mundurnya Tsar Nikolai
IIdaritahtaKerajaanRusiapada15Maret1917.Kemunduran
Nikolai menyebabkan kekosongan kekuasaan, sehingga
dibentuklah pemerintahan sementara oleh Duma sebagai
15

lembaga legislatif di era Tsar. Eksistensi pemerintahan
sementara ini tidak diakui oleh kalangan kiri dewan pekerja
dan prajurit Petrogad yang masih menginginkan bergulirnya
revolusi.
Kalangan kiri Rusia akhirnya kembali mengadakan aksi
demonstrasi pada tanggal 3—4 Juni 1917, sehingga
pemerintahan sementara rontok dan dibentuk pemerintahan
koalisi kedua, dibawah pimpinan Kerensky. Tidak puas
dengan perkembangan yang ada, atas prakarsa Lenin,
dimulailahapayangdisebutRevolusiOktober,yangsejatinya
terjadi di bulan November menurut penanggalan Gregorian.
Setelah mendapatkan kemenangan yang gemilang, kaum
Bolshevik meresmikan berdirinya Republik Soviet Rusia pada
25 Januari 1918, yang kemudian berubah nama menjadi
RussianSocialistFederativeSovietRepublicpada10Juli1918.
Bolshevik menyusun beberapa kebijakan politik maupun
ekonomi untuk memperbaiki keadaan negara akibat dari
revolusidanperang.
Pemerintahan baru Bolshevik, mengumumkan program-
program yang akan mereka lakukan seperti
menasionalisasikan seluruh bank swasta dengan bank milik
pemerintah,nasionalisasiindustri-industribesar,nasionalisasi
tanah, serta pembentukan dewan pekerja yang mengontrol
produksi dan pembagian pekerjaan yang akan menjalankan
industriyangtelahdinasionalisasi.

PolitikEtis
Sukses besar ini tentu saja memberikan angin segar bagi
kalangan pergerakan anti kapitalisme dan imperialisme di
seluruh dunia. Ini juga yang dirasakan oleh anak bangsa di
Nusantara yang sempat mengenyam pendidikan sebagai
16

dampak Politik Etis. Van Deventer yang menjabat sebagai
Gubernur Jenderal Hindia Belanda menerapkan Etische
Politiek pada 1899 dengan motto “de Eereschuld” atau
hutang kehormatan, dan dengan slogan “Educatie, Irigatie,
Emigratie”. Prinsip yang diterapkan dalam politik etis adalah
perlunya pendidikan dan pengetahuan Barat diterapkan
sebanyak mungkin bagi pribumi. Bahasa Belanda diupayakan
menjadibahasapengantarpendidikandanpendidikanrendah
bagipribumiyangdisesuaikandengankebutuhanmereka.
Kemudian Pemerintah Kolonial membuat sekolah-sekolah
yang bisa dimasuki oleh anak-anak pribumi seperti tingkat
pendidikan dasar yang meliputi jenis sekolah dengan
pengantar Bahasa Belanda, dan sekolah dengan pengantar
bahasa daerah. Di tingkat selanjutnya ada sekolah peralihan,
pendidikan lanjutan yang meliputi pendidikan umum, dan
pendidikankejuruan.Bagimerekayangmemilikiprestasidan
intelegensia tinggi diijinkan untuk mengenyam pendidikan
tingkat tinggi di Belanda, atau di perguruan tinggi seperti
Sekolah Tinggi Hukum, Sekolah Tinggi Kedokteran, serta
Sekolah Ilmu Pemerintahan yang kesemuanya berada di
Jakarta, dan Sekolah Tinggi Teknik khusus bidang ilmu
bangunan air di Bandung. Kaum terpelajar pribumi lulusan
sekolah tinggi saat itu jumlahnya tidak banyak, dan mereka
pada umumnya terdiri dari anak-anak priyayi dan golongan
menengahkeatas.
Kebijakanyangdianggapsebagaibalasbudiatas“kemurahan
hati” penduduk pribumi terhadap pemerintah ini, membuka
peluang bagi anak-anak pribumi—dari kalangan priyayi atau
kelas atas—untuk mengenyam pendidikan ala Belanda.
Namun dibalik niat balas budi itu, sesungguhnya pemerintah
Kolonialtengahmempersiapkantenagakerjaprofesionalsiap
pakai yang lebih murah ketimbang mereka mendatangkan
17

dari Eropa. Tapi harus diakui kebijakan politik etis di
kemudian hari justru memunculkan kesadaran baru di
kalangan pribumi, yang mengakibatkan lahirnya kalangan
terpelajar yang sadar bahwa mereka dijajah, dan pentingnya
berhimpununtukmelawanpenjajahantersebut.
Kelak, orang-orang yang paling keras melawan penjajahan
Belanda justru berasal dari kalangan yang merasakan
langsung dampak dari politik etis ini. Para pelajar Algemene
Middelbare School (AMS) A ataupun AMS B, mahasiswa dari
School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA),
Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA),
Technische Hogeschool (THS), dan Rechts Hogeschool (RHS)
inilah yang kemudian menjadi tokoh-tokoh pergerakan
kemerdekaanIndonesia.Segelintirorang-orangtersebutyang
memiliki kesadaran akan arti sebuah kemerdekaan yang
harusdiperjuangkan.

SarekatIslamdanISDV
Ketika kabar tentang Revolusi Kerensky sampai ke Hindia
Belanda, pada Maret 1917 Sneevliet menulis artikel berjudul
Zegepraal (kemenangan), yang menyanjung Revolusi
KerenskydiRusia:
“Telah berabad-abad disini hidup berjuta-juta rakyat yang
menderita dengan penuh kesabaran dan keprihatinan, dan
sesudah Diponegoro tiada seorang pemuka yang
menggerakkan massa ini untuk menguasai nasibnya sendiri.
Wahai rakyat di Jawa, revolusi Rusia juga merupakan
pelajaran bagimu. Juga rakyat Rusia berabad-abad
mengalami penindasan tanpa perlawanan, miskin dan buta
hurufsepertikau.BangsaRusiapunmemenangkankejayaan
hanya dengan perjuangan terus-menerus melawan
pemerintahan paksa yang menyesatkan.Apakah penabur
18

dari benih propaganda untuk politik radikal dan gerakan
ekonomi rakyat di Indonesia memperlipat kegiatannya?Dan
tetapbekerjadengantidakhenti-hentinya,meskipunbanyak
benih jatuh di atas batu karang dan hanya nampak sedikit
yang tumbuh?Dan tetap bekerja melawan segala usaha
penindasan dari gerakan kemerdekaan ini? Maka tidak bisa
lain bahwa rakyat di Jawa, di seluruh Indonesia akan
menemukan apa yang ditemukan oleh rakyat Rusia:
kemenanganyanggilang-gemilang.”

Snevlieet menaruh perhatian yang sangat besar terhadap
kemenangan Bolshevik, karena hal ini yang juga ia idam-
idamkan sejak masih di tanah airnya Belanda. Sebelum aktif
membinagolongankiridiIndonesia,Sneevlietadalahmantan
pimpinanSerikatBuruhKeretadanTremNasionalBelanda.Ia
memulai perjalanan politiknya ketika dia bekerja sebagai
buruh di sebuah pabrik di Belanda pada 1901. Snevlieet
berada di Indonesia setelah mundur dari jabatannya akibat
dari pergesekan dengan federasi buruh yang dikuasai oleh
PemerintahBelanda.
Kedatangan Snevlieet di Hindia Belanda pada 1913,
bertepatandenganmunculnyasemangatberserikatditengah
masyarakat intelektual Nusantara. Sempat aktif menjadi
sekretaris dari Handelsvereeniging (Asosiasi Buruh) di
Semarang, Snevlieet akhirnya mendirikan ISDV (Indische
Sociaal Democratische Vereniging) pada 1914. Kendati
menggunakan nama “Indhische”, perkumpulan ini awalnya
berisi orang-orang Belanda dan indo yang progresif.
Keberadaan ISDV dengan pandangannya yang kiri, semakin
tersiar berkat Koran Het Vrije Woord yang mereka terbitkan
secara rutin. Pengaruh ISDV semakin luas terutama di
kalangan buruh kereta api dan trem yang bernaung dibawah
organisasi Vereniging van Spoor Tramweg Personal (VSTP).
19

Sementaradikalanganpemudapribumi,ISDVmenarikminat
Semaoen,Alimin,danDarsono.
Darsono menulis di surat kabar Het Vrije Woord milik ISDV
mengajak seluruh elemen rakyat melakukan pemberontakan
danmengibarkanbenderamerah.Semangattersebutbahkan
mempengaruhipartai-partaiyangdianggapmoderatdanmau
bekerja sama dengan pemerintahan kolonial seperti Boedi
Oetomo,Insulinde,danSarekatIslam(SI)jugaterbawauntuk
ikut mendesak agar pemerintah Belanda menggantikan
Volksraad menjadi parlemen pilihan rakyat. Baru setelah
Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum menjanjikan akan
melakukan perubahan yang luas, tekanan dari kalangan
pergerakan baik koperatif, maupun non koperatif, agak
mereda.
SnevlieetdanISDVmenilaitakmungkinmewujudkancita-cita
mereka sendirian, untuk itu kemudian ISDV mendekati
organisasi-organisasi yang dianggap potensial untuk
menancapkan pengaruh mereka. Secara regular Snevlieet
sering bertemu dan berdiskusi dengan kalangan pergerakan
di Indonesia, termasuk dengan H.O.S. Tjokroaminoto. Dari
kunjungan-kunjungannyakerumahH.O.S.Tjoroaminotoyang
jugamenjaditempatindekosbeberapapelajaryangkelakjadi
tokoh pergerakan di generasi selanjutnya—seperti Sukarno,
Semaoen, Darsono, hingga SM Kartosoewirjo—membawa
Snevlieet dekat dengan beberapa diantara pelajar tersebut,
dan merekrutnya ke dalam ISDV. Keberhasilan mereka
merekrut Semaoen, Darsono dan Alimin, ketiganya adalah
pimpinan-pimpinan SI Semarang yang berhasil direkrut oleh
Snevlieet. Mereka punya kesamaan pandangan, prinsip-
prinsip ideologi radikal dengan ISDV—yang kebetulan VTSP
tempat dimana Semaoen bergabung telah menjadi bagian
dari ISDV. Pada akhirnya perpecahan di tubuh SI tak
20

terelakkan, perpecahan antar sayap moderat dan sayap
radikal.Efekdariperpecahaninilahkemudiandikenalsebagai
SI Putih yang dipimpin H.O.S. Tjokroaminoto, H. Agus Salim
danAbdulMuis,sertaSIMerahyangdikepalaiolehSemaoen
dantemantemannya.
Sementara Snevlieet sendiri kemudian terusir dari Indonesia
sebagai bagian dari resiko aktivitas politiknya yang dianggap
merongrong pemerintahan kolonial. Pada proses
pengadilannya, Snevlieet membacakan pidato pembelaannya
yang menjelaskan pokok-pokok pemikirannya tentang
sosialismesecarailmiahyangkemudianbanyakmenginspirasi
pemimpin-pemimpin Indonesia kelak. Seperti pidato Bung
Karno yang berjudul Indonesia Menggugat termasuk yang
terpengaruhjalanpemikiranSnevlieet.
Semaoen, Darsono dan Alimin membawa pengaruh ISDV ke
dalam tubuh SI yang juga memiliki visi perlawanan terhadap
pemerintahan kolonial. Lewat Semaoen, SI cabang Semarang
yang memiliki anggota 20 ribu orang mulai diwarnai oleh
ideologi Marxis. Bahkan bisa dikatakan dampak dari garis
perlawanan terhadap kapitalisme yang begitu kuat membuat
SISemarangmulaibersebrangandenganCSI(CentralSarekat
Islam). Mereka mengkritik dan menentang keterlibatan SI
dalam Volksraad. Tidak hanya di Semarang, pengaruh
Snevlieet via Semaoen bahkan juga mempengaruhi daerah
lainnya,seperticabangrahasiadariSISemarangdiJawaBarat
yang disebut sebagai Afedeeling B yang didirikan oleh
Sasrokardonopada1917.
Yang juga perlu dicatat adalah sepak terjang “Haji Merah” di
Surakarta yang bernama asli Misbach. Haji Misbach sendiri
pernah menerbitkan surat kabar Medan Moeslimin pada
1915 dan surat kabar Islam Bergerak di 1917 yang kemudian
menjadi media propaganda yang menentang pemerintah
21

kolonial. Dalam tulisan-tulisannya Misbach sangat terbuka
dan tidak peduli dengan siapapun. Melalui artikel di Medan
Moeslimin atau Islam Bergerak, Misbach menyerang siapa
saja yang berdamai dengan pemerintah kolonial, antipolitik
danantipemogokan,bahkanterhadapgolonganIslamsendiri.
Misbach pernah membuat kartun di Islam Bergerak edisi 20
April1919,yangtidakdisangsikanlagipenuhdengankritikan
terhadap pemerintah dan kalangan ningrat seperti Residen
Surakarta serta Paku Buwono X, yang dianggap lebih
membela Belanda ketimbang para kawula. Pemerintah
Kolonial yang merasa khawatir akhirnya menangkap Misbach
pada7Mei1919.Karikaturnyayangmemuattulisan“Jangan
takut, Jangan Khawatir”, dianggap dapat memprovokasi
timbulnyakesadarandankeberanianpetaniuntukmogok.
Dalam pandangannya, Komunisme ala Marxis sejalan dengan
Islam yang juga antipenindasan. Bagi Misbach sosok Marx
adalah pejuang yang membela rakyat miskin dari bahaya
kapitalisme yang bahkan telah merusak sendi-sendi agama,
sehingga kapitalisme harus dilawan dengan historis
materialismealaMarx.Sebagaiorangyangbelajaragamadan
aktif di pergerakan, Misbach melihat lembaga-lembaga Islam
yang ada tidak memperjuangkan kepentingan umat yang
rata-rata adalah golongan miskin. Sehingga ketika CSI
mengalamiperpecahan,MisbachberadadibarisanSImerah.
Semangat jaman yang penuh perlawanan tersebut juga
terlihatdikalanganpelajarNusantaradiEropa.Seusaiperang
dunia pertama 1918, pelajar dan mahasiswa Nusantara di
Belanda yang berhimpun di organisasi Indische Vereeniging
semakin banyak. Mereka datang dengan bayangan
kemenangan Bolshevik atas kekuasan Tsar, sehingga
perasaan nasionalisme, antikolonialisme, serta
antiimperialisme di kalangan mereka semakin menonjol.
22

Kemudian pada 1922, Indische Vereeniging lebih diperkuat
lagi dengan masuknya mahasiswa yang baru tiba dari
Nusantara, seperti Subarjo Djojoadisurjo, Iwa
Kusumasumantri, Muhammad Hatta, Ali Sastroamidjojo, dan
Sunaryo.
Mereka juga yang kemudian membuat Indische Veriniging
menjadi lebih progresif dan memiliki tujuan politik ke arah
Indonesia Merdeka, dan merubah nama menjadi
Indonensische Veriniging, yang kemudian kembali berubah
menjadi Perhimpunan Indonesia. Dengan demikian,
Perhimpunan Indonesia semakin tegas bergerak di bidang
politik. Asas perhimpunan Indonesia adalah “mengusahakan
suatu pemerintahan untuk Indonesia, yang bertanggung
jawab hanya kepada rakyat Indonesia, dan hal ini hanya
dapat dicapai oleh bangsa Indonesia, tidak dengan
pertolongan apapun”. Ide-ide perjuangan Perhimpunan
IndonesiatidakhanyaberhentisampaidiBelanda,melainkan
juga disebarluaskan di Nusantara melalui mereka yang
kembalisetelahmenyelesaikanstudinya.

TransformasiSIMerah
Melalui aktivitas Semaoen dan SI merah yang kemudian
menjadi Sjarekat Ra’jat ajaran-ajaran Marxisme meluas di
Indonesia, terutama di kalangan buruh. Aktivitas yang
terinspirasi pandangan Snevlieet ini, sejalan dengan
pemikiran dari Leon Trotsky. Seperti yang dituangkan dalam
karyanyaProgramTransisional,bahwarevolusisosialishanya
bisaberjalanjikamelibatkankaumburuhyangperjuangannya
dilakukan setiap saat, untuk memperbaiki nasib di bawah
tekanan kapitalisme. Pengalaman buruh berhimpun dan
berorganisasidalamperjuanganinilahyangdianggappenting
23

bagi perlawanan terhadap kapitalisme. Para pelopor
perjuangan tidak bisa hanya menjadi penceramah yang
berjarak dengan massa buruh, melainkan harus ikut terlibat
didalamnyadanberjuangbersama.
Dalam konteks inilah pada 1920, Semaoen dan Darsono
mempelopori berdirinya PKI (Partai Komunis Indonesia) di
Semarang sebagai lanjutan dari SI Merah. PKI juga meniru
langkah Revolusi Bolshevik dengan melakukan mogok massal
pada 1926. Mogok massal tersebut memicu perlawanan
terhadap pemerintahan kolonial yang dimulai pada 12
November 1926 di Jakarta dan Banten, kemudian disusul di
Priangan,Surakarta,Banyumas,Pekalongan,KedudanKediri.
Selanjutnya pada 1 Januari 1927 perlawanan berlanjut di
Sumatera Barat. Perlawanan ini diikuti oleh massa rakyat
Nusantara secara luas. Perlawanan ini seketika ditanggapi
Pemerintah Hindia Belanda dengan tindakan tegas untuk
menumpas. Akibatnya, mayoritas pimpinan PKI yang ada di
Nusantaraditangkapdandimasukkankekampkonsentrasidi
Digul, Papua bersama dengan 823 anggota PKI, sementara
sekitar 13 ribu anggota PKI lainnya diasingkan. Dan dengan
demikian satu babakan baru dari sejarah Indonesia juga
dimulai.
Kegagalan PKI membuat pergerakan nasional di Nusantara
semakin dibatasi, dan semua kegiatan yang menuju pada
perlawanan terhadap kekuasaan kolonial diberangus tanpa
ampun. Baru kemudian pada 4 Juli 1927 diadakan rapat
mengenai pendirian PNI (Perserikatan Nasional Indonesia)
yang dihadiri oleh Bung Karno, Tjipto Mangunkusumo,
Soedjadi,IskaqTjokrohadisurjo,BudiartodanSunario,karena
dianggap perlunya sebuah wadah baru bagi pergerakan
nasional Indonesia. Disepakati, PNI bekerja untuk
kemerdekaan Indonesia yang dapat dicapai dengan asas
24

percaya pada diri sendiri artinya memperbaiki keadaan
politik, ekonomi dan sosial. Hal ini dicapai dengan kekuatan
dan kebiasaan sendiri, antara lain dengan mendirikan
sekolah,poliklinik,banknasional,koperasidanlain-lain.
Kongres PNI pertama yang diadakan di Surabaya bertujuan
untuk mengesahkan anggaran dasar, asas dan rencana kerja,
serta menetapkan Bung Karno sebagai ketua dan Sartono
sebagai bendahara. Melihat perkembangannya yang sangat
cepat, pemerintah kolonial mulai merasa khawatir dengan
PNI.PropagandadariPNIsecaratidaklangsungtelahmenjadi
ancaman serius bagi pemerintah sehingga harus diambil
tindakantegas.Disaatyangsama,beredardesas-desusyang
kemungkinan dihembuskan oleh agen pemerintah sendiri
bahwa PNI akan melakukan perlawanan. Maka pemerintah
Belanda melakukan penangkapan atas Bung Karno, R. Gatot
Mangkoepraja, Maskoen Soemadiredja dan Soepriadinata,
ketika sedang menghadiri konferensi pembentukkan
IndonesiaMudadiYogyakartapada29Desember1929.
Berdasarkan keputusan Landraad Belanda di Bandung yang
diambil pada tanggal 18 Agustus 1930, empat orang
pemimpin PNI tersebut dimasukkan ke dalam penjara
Sukamiskin di Bandung. Keputusan ini kemudian diperkuat
oleh Raad van Justitie di Batavia yang mengukuhkan
keputusanLandraadBandungtersebut.Menyikapikeputusan
RaadVanJustitie,PNIkemudiandibubarkanolehanggotanya
dan didirikanlah Partai Indonesia atau Partindo. Sayangnya
keputusan ini tidak mendapat persetujuan dari semua tokoh
PNI, bahkan mengalami pertentangan yang berujung
perpecahan. Soedjadi Moerad, Bondan, Soekarto dan Teguh,
dengan tegas menolak pendirian Partindo dan menginisiasi
munculnya“GolonganMerdeka”.
25

Bung Hatta yang telah keluar dari Perhimpunan Indonesia
menyayangkan pembubaran PNI yang ia anggap sebagai
tindakan yang melemahkan pergerakan rakyat. Akhirnya
Bung Hatta meminta agar Sjahrir pulang ke tanah air untuk
membantu Golongan Merdeka. Bung Hatta meminta Sjahrir
pulangterlebihdahulu,karenamasapendidikanSjahrirmasih
panjang, sedangkan Bung Hatta sudah diakhir masa
pendidikannya. Hingga pada tanggal 25—27 Desember 1931
sebuah konferensi diadakan di Yogyakarta untuk
merampungkan penyatuan golongan-golongan Merdeka.
Kelompok tersebut kemudian diberi nama Pendidikan
Nasional Indonesia, atau yang dikenal sebagai PNI Baru,
dengan Soekemi sebagai ketuanya dan Sjahrir sebagai
pemimpincabangJakarta.
Pada masa inilah banyak kader-kader muda perjuangan yang
kemudian bergabung dengan PNI baru atau Partindo. Seperti
Djohan Sjahroezah. Ketika dunia pergerakan Nusantara
mengalami perpecahan dengan dibubarkannya PNI, Djohan
masih terdaftar sebagai pelajar di AMS A di Batavia. Djohan
muda kerap mengikuti kursus-kursus yang diadakan oleh
Golongan Merdeka. Selain itu Djohan muda juga dekat dan
belajar kepada H. Agus Salim yang kelak menjadi mertuanya.
Ketika Sjahrir diangkat sebagai pengurus PNI Baru cabang
Jakarta, Djohan diangkat sebagai sekretaris cabangnya.
Kedekatannya dengan kegiatan politik, membuat Djohan
berencanamenempuhstudihukumdiRHSBatavia.
Djohan tumbuh dalam semangat jaman yang khusus. Seperti
diceritakan sebelumnya, angin dari Eropa Timur berhembus
kencang sampai ke seluruh penjuru dunia dan Nusantara.
Setiap dari kaum intelektual yang berpikir progresif,
mengidamkan pemikiran-pemikiran Marxis dan turunannya,
yang membangkitkan semangat perlawanan dan membuka
26

kemungkinan-kemungkinan yang sebelumnya hanya dapat
diangankan. Setiap pemikiran “kiri” yang muncul di media
atau literatur lainnya, disantap oleh Djohan seperti layaknya
pikiran yang kelaparan akan ide-ide revolusioner. Dari mulai
Marx dan Engels, sampai pemikir Eropa Barat seperti Eduard
Bernstein dan Antonio Gramsci, atau yang kontroversial
seperti Trotsky, semua dicerna oleh Djohan dan menjadi
acuan berpikirnya dalam berjuang. Jiwa revolusionernya
sepertimendapatpenyaluranyangseluasnyadalamgagasan-
gagasan sosialisme yang mewarnai jaman tersebut dengan
pekatnya.

27

BABII
MembangunGerakanBawahTanah
Djohan Sjahroezah lahir di Muara Enim, Sumatera Selatan
pada 1912. Meskipun lahir di Sumatera Selatan, Djohan
sebenarnya memiliki darah Minangkabau. Dalam percaturan
perjuangan bangsa, banyak tokoh penting yang kemudian
terlahir dari “klik Minangkabau”. Dari golongan tua, nama H.
AgusSalimmunculmenjadimotorpergerakanpadaera1920-
an. Dalam perjalanan hidupnya, H. Agus Salim sempat
menjadi Menteri Luar Negeri pada masa kabinet Amir
Sjarifuddin. Minangkabau juga melahirkan tokoh radikal
seperti Tan Malaka. Sosoknya tidak hanya dikenal karena
kiprahnyadalammembangungolongankiriIndonesia—tentu
yang menarik adalah kisah pelariannya selama 20 tahun ke
berbagai negara—tapi juga tulisan-tulisannya yang banyak
menginspirasi golongan muda baik dari kalangan komunis
maupun nasionalis. Pada generasi yang lebih muda, Bung
Hatta yang merupakan tokoh proklamasi sekaligus tandem
ideal Bung Karno juga muncul dari “klik Minangkabau” ini.
Selain dua tokoh di atas, sosok Sutan Sjahrir tentu tak bisa
dipinggirkan. Pengaruhnya merentang jauh sejak menjadi
pengurus Perhimpunan Indonesia—organisasi mahasiswa
Indonesia di Belanda yang didirikan pada 1908—bersama
Bung Hatta, membangun jaringan bawah tanah pada masa
pendudukan Jepang, hingga mengambil posisi sebagai
Perdana Menteri pertama pasca Proklamasi. Dalam iklim
Minangkabauyangeratdenganperjuanganpergerakaninilah
Djohandilahirkan.
Meski hanya lebih muda tiga tahun dari Sjahrir, Djohan
merupakan keponakan Sjahrir. Ibu Djohan yang bernama
Radena adalah kakak tiri Sjahrir dari lain ibu. Ayah Djohan
sendiri merupakan seorang pegawai di perusahaan minyak
28

Nederlandsche Koloniale Petroleum Maatschappij (NKPM)
yang saat itu cukup besar di Palembang. Dengan kondisi
ekonomi yang cukup mapan, Djohan dapat menikmati dunia
pendidikan yang pada masa itu merupakan hal yang langka.
Djohan mengawali pendidikannya di Europe Lager School di
Medan yang merupakan sekolah dasar khusus untuk anak-
anak Eropa dan petinggi pribumi. Setelah itu, Djohan
meneruskan pendidikannya di Bandung untuk mengenyam
Sekolah Menengah Pertama di Meer UitgebreidLager
Onderwijs (MULO). Lulus dari MULO, Djohan meneruskan
sekolahnya di AMS A di Batavia. Saat bersekolah di AMS,
Djohan menyewa sebuah rumah di Kampung Kober, Tanah
Abang bersama Kwee Thiam Hong—seorang peranakan
Tionghoa nasionalis yang menghadiri Kongres Pemuda II
bersama Ong Kay Siang, John Liauw Tjoan Hok dan Tjio Jin
Kwie—dan seorang pemuda Indo bernama Jan Panhuyzen
yang bekerja di kantor telepon pusat di Koningsplein Noord,
WeltevredenyangsekarangLapanganGambir.
Sejakmuda,Djohansudahmenaruhperhatianlebihterhadap
perjuangan kemerdekaan. Persentuhan pertama Djohan
dengan dunia politik bisa dibilang dimulai pada 1927. Seperti
yang diceritakan oleh Kwee Thiam Hong dalam harian Sinar
Harapan edisi 13 Desember 1981, saat itu Perserikatan
Nasional Indonesia (PNI) pimpinan Bung Karno sedang
gencar-gencarnya melakukan propaganda-propaganda politik
disetiaptempat.DiBatavia,rapatdiadakandiGedungOrion
Glodok. Pembicara yang hadir saat itu adalah pemimpin-
pemimpin tua seperti H.O.S. Tjokroaminoto, H. Agus Salim
serta A.M. Sangadji. Pidato-pidato yang membangkitkan
semangat perjuangan itu dihadiri sekitar 1200 orang. Pada
saat itu diperlukan siasat untuk Djohan dapat ikut belajar.
Meskipunhanyapemudadenganusiaminimal17tahunyang
29

dapat mengikuti rapat, Djohan yang saat itu baru berusia 15
tahun menyamar dengan memakai celana panjang longgar
sehinggasuksesmengikutirapattersebut.
Sejak mengikuti kegiatan tersebut, minat Djohan untuk
mengikuti perkembangan perjuangan semakin besar. Djohan
sangatrajinmenghadiriberbagaiceramah,diskusi,kelompok
studi, debat dan tentu saja rajin membaca buku. Dengan
demikian, semangat perlawanan Djohan semakin terasah.
Pada pertengahan 1928, Djohan bersama Kwee Thiam Hong
sempat mendirikan Jong Asia. Peristiwa ini terjadi sebelum
Djohan pindah ke Palembang untuk meneruskan kelas tiga
MULO. Saat itu Djohan meminta Kwee Tiam Hong, Muhidin
dan Achmad Mochtar untuk memimpin Jong Asia cabang
Jakarta. Sementara ia sendiri akan mendirikan cabang
Palembang. Jong Asia memang tidak berumur panjang.
Namun organisasi ini sempat mengadakan Kongres Pemuda
AsiadiHotelMerdeka,Yogyakartapada6Oktober1946.
Pada masa-masa itu, tidak banyak tokoh-tokoh muda yang
memilih jalur nonkoperasi terhadap Belanda. Djohan adalah
salah satunya. Pasca dijatuhkannya vonis terhadap empat
pimpinan PNI, perpecahan muncul diantara kader-kadernya.
Sartono dan kawan-kawan memilih untuk mendirikan Partai
Indonesia (Partindo). Sementara golongan Soerjadi Moerad
memilih untuk mendirikan kelompok diskusi Golongan
Merdeka.
Selepas lulus dari AMS, Djohan Sjahroezah juga sempat
melanjutkan pendidikannya di RHS untuk mengambil gelar
meester yang merupakan gelar sarjana hukum saat itu. RHS
merupakansekolahhukumbergengsiyangdibukapada1912.
RHS telah berhasil menelurkan tokoh-tokoh penting seperti
Wilopo, Mohamad Roem, Sjafroeddin Prawiranegara, Anak
Agung Gede Agung dan lain-lain. Sayangnya, keterlibatannya
30

dalam pergerakan menentang Belanda saat itu memaksa
Djohan mengorbankan kuliahnya. Pada saat Djohan berusia
20-an itulah, ia mulai terjun pada aktivitas pergerakan
nasional. Selain aktif dalam kegiatan diskusi-diskusi bersama
Golongan Merdeka, Djohan juga terlibat pada saat Golongan
MerdekaberubahmenjadiPNIBaru.
DjohanmudabanyakbelajardariPNIBaruini.Sebagaipartai
kader yang mengedepankan pendidikan politis bagi para
kadernya, Djohan ditempa agar menjadi pemuda progresif
revolusioner. Meski turut aktif dalam dunia politik, Djohan
tidak melupakan pendidikannya. Pada masa itulah ia
menjalani aktivitasnya di PNI Baru sekaligus studi hukum di
RHS Batavia. Bibit-bibit sosialisme yang dibawa Hatta dan
Sjahrir dari negeri Belanda sangat kental terasa di PNI Baru.
Organisasi ini bersifat kritis terhadap pemerintah kolonial
sehingga pergerakannya sangat dipantau. Djohan Sjahroezah
saat itu merupakan salah satu kader PNI Baru yang cukup
militan. Bersama Bung Hatta dan Maroeto, Djohan secara
rutinmengadakankursus-kursuspolitikbagipemuda-pemuda
yang berusia dibawahnya. Peserta-peserta kursus tersebut
kemudiantersebardisegenappenjurubaikdalamorganisasi-
organisasi perlawanan, maupun dalam organisasi-organisasi
yang koperatif dengan kolonial. Dalam kursus-kursus
tersebut, Djohan membagikan apa yang telah dibacanya
mengenai ideologi atau ilmu-ilmu kenegaraan. Materi-materi
yang disiapkan dengan cara cetak stensil, disusunnya
berdasarkanapayangpernahdibacanya,maupundidapatnya
darikursus-kursusyangpernahdiikutinya.
Militansinya menemui ujian pada saat impian Djohan
Sjahroezah untuk meraih gelar meester harus pupus saat ia
dipenjara pada 1933. Sebagai kader PNI Baru, Djohan sering
menulis di Daulat Ra’jat yang merupakan media kampanye
31

PNI Baru. Sikap kritis dipadu dengan sisi intelektual yang
menonjol membuat tulisan-tulisan Djohan sering membuat
gerah pemerintah kolonial. Selain aktif di PNI Baru, Djohan
juga merupakan anggota dari Perhimpunan Pelajar-Pelajar
Indonesia (PPPI) yang saat itu dipimpin oleh Wilopo. Oleh
karenaitu,DjohanjugacukupaktifmenulisdiIndonesiaRaja
yangmemangmenjadicorongorganisasiPPPI.
Salah satu artikelnya yang cukup pedas adalah saat ia
mengecam keras setiap bentuk kerjasama dengan
pemerintah kolonial. Atas dasar artikelnya tersebut, Djohan
pun ditangkap oleh serdadu Belanda dari batalion 10. Saat
itu, Djohan dan beberapa kawannya baru saja pulang dari
rumah Bung Hatta di Jalan Oranje Boulevard yang saat ini
menjadi Jalan Diponegoro. Hakim yang menyidang Djohan,
pada awalnya adalah Mr. Dr. Koesoema Atmadja yang
kemudian digantikan oleh Mr. Kiveron. Hakim Belanda inilah
yang kemudian menjatuhkan vonis satu setengah tahun
penjara kepada Djohan Sjahroezah. Sebelum akhirnya
dipindahkan ke penjara Sukamiskin Bandung, Djohan sempat
ditahan di penjara Struyswijkstraat yang sekarang disebut
penjaraSalemba.
Penahananinisempatmembuatberangsangayah.Meskipun
dikenalsebagaipengamatpolitikdalamdanluarnegeri,sang
ayah menganggap dipenjarakannya Djohan Sjahroezah
sebagaiaibbagikeluarga.Reaksiyangberbedajustrutampak
pada sang ibu, Radena, yang terlihat semakin radikal dengan
dipenjarakannya Djohan. Atas campur tangan dari H. Agus
Salim,Djohanakhirnyabisadikeluarkandaripenjara.H.Agus
Salim saat itu meminta bantuan dari Abdulkadir
WidjojoatmodjoyangmerupakanorangkeduasetelahLetnan
GubernurJenderalH.J.vanMook.
32

Satu cerita unik saat Djohan berada dalam penjara, adalah
kedatangan Professor Scheffer, seorang guru besar dari RHS
ke penjara untuk menguji Djohan Sjahroezah. Meskipun
sebagai tahanan, Djohan berhasil melewati ujian ini dengan
sempurna. Sebenarnya Djohan masih diberikan kesempatan
untuk meneruskan studi hukumnya di RHS. Saat dibebaskan
padaawal1935,olehpihakkolonialDjohandisodorkansurat
perjanjian untuk tidak lagi terlibat dalam semua kegiatan
pergerakan. Tanpa memperdulikan nasib pendidikannya,
Djohan justru menolak menandatangani perjanjian tersebut
sehingga ia tidak diperkenankan untuk melanjutkan studinya
diRHS.
Satu setengah tahun di penjara Sukamiskin rupanya tidak
membuat Djohan Sjahroezah kapok berjuang. Setelah gagal
menyelesaikan studi hukum di RHS, Djohan memilih bergelut
pada ranah jurnalistik. Ranah yang pernah membuatnya
diciduk pemerintah kolonial. Saat itu, Djohan bekerja pada
Kantor Berita dan Biro Iklan Arta. Kantor berita ini dimiliki
oleh seorang Belanda bernama Samuel de Heer yang
mempersiapkan tulisan-tulisan feature untuk kemudian
dikirim ke Belanda. Kurang lebih setahun Djohan
berkecimpung membantu Samuel de Heer di Kantor Berita
ini.
Saat bekerja di kantor berita Arta, Djohan memainkan
perannya sebagai penghubung para pejuang di seluruh
Nusantara. Sebagai pegawai di kantor berita milik orang
Belanda, surat-surat atas nama Djohan Sjahroezah tidak
disensor oleh pemerintah kolonial. Oleh karena itu, banyak
tokoh-tokohgerakanbawahtanahyangmemanfaatkannama
Djohan Sjahroezah untuk saling berkorespondensi satu sama
lain.DenganmemakainamaDjohaninilahsurat-suratmereka
tidak disensor. Termasuk surat-surat dari kelompok-
33

kelompok pergerakan yang ditujukan kepada Bung Karno di
pembuangannyadiBengkulu.
Menurut catatan Rudolf Mrazek, pada pertengahan 1936
Djohan juga sempat menjadi editor jurnal baru Ilmoe dan
Masjarakat yang memuat tulisan dari Hatta, Sjahrir dan H.
Agus Salim. Jurnal ini pada dasarnya merupakan kelanjutan
dari jurnal Masjarakat yang dibangun oleh T.A. Moerad.
Uniknya tiga tahun kemudian jurnal Ilmoe dan Masjarakat
diambil alih penerbit Negara, yang menurut Adam Malik,
merupakan penerbitan milik Partai Republik Indonesia (PARI)
pimpinanTanMalaka.
BerbekalpengalamandiArtainilahDjohanmelakukansebuah
terobosan dalam dunia jurnalistik di Nusantara. Bersama
Adam Malik, Maroeto Nitimihardjo dan Pandu Kartawiguna,
DjohanmendirikanKantorBeritaANTARApada13Desember
1937 yang berkantor di Kebon Jahe Tanah Abang. Secara
konsisten, ANTARA saat itu menjadi corong pemberi
informasi bagi rakyat Hindia Belanda. Dengan demikian,
boleh dibilang Djohan Sjahroezah juga merupakan salah satu
peletakdasarpersIndonesia.

MengorganisirKaumBuruh
Perubahan hidup Djohan Sjahroezah terjadi saat ia menikahi
Violet Hanifah, anak ketiga dari H. Agus Salim pada 1937.
Sebagai kepala keluarga, Djohan dituntut untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari bagi rumah tangganya. Aktivitasnya di
bidang jurnalistik ditinggalkan untuk kemudian bekerja pada
perusahaan minyak Shell di Tarakan Kalimantan Timur. Di
perusahaan minyak inilah Djohan mulai terlibat dalam
aktivitas bawah tanah. Bersama buruh-buruh lainnya, ia
mencoba mendirikan serikat buruh. Konsekuensinya, Djohan
34

pun dipecat dari pekerjaannya tak lama setelah ia mulai
bekerja.
Peristiwa ini membuat Djohan lebih berhati-hati dalam
berjuang. Pengalamannya dipenjara akibat tulisannya pada
1933 serta pemecatannya saat berusaha menghimpun
kekuatan buruh membuat nama Djohan Sjahroezah cukup
burukdimatapemerintahkolonial.Halinilahyangkemudian
memaksaDjohanbergerakdibawahtanah.Untukmembiayai
kehidupanya, Djohan mengandalkan sokongan dana dari
adiknya, yang bekerja di Nieuw Guinea Petroleum
MaatschapijmilikBelanda.
Sementara itu, perubahan politik secara nasional terjadi di
Nusantara. Pasukan Jepang dari Asia Timur yang masuk
gelanggang Perang Dunia II turut mengincar Hindia Belanda.
Hanyadalamwaktusingkat,kolonialismeBelandayangsudah
ratusan tahun berkuasa di Nusantara tumbang oleh fasisme
Jepang. Perubahan ini tak ayal cukup berpengaruh bagi pola
gerakan kaum bawah tanah. Kantor berita ANTARA yang
dirintisolehDjohanSjahroezahdanAdamMalikpunakhirnya
dikuasai Jepang pada 1943. Begitu pula dengan perusahaan
minyakShellyangjugadikuasaiJepang.
Perubahan ini juga dimanfaatkan oleh Djohan Sjahroezah.
Saat itu, salah seorang anggota PNI Baru yang bernama
Soedjono bekerja sebagai kepala bagian personalia pada
cabang Shell di Surabaya yang bernama Bataafse Petroleum
Maatschappij (BPM). Atas campur tangan dari Hatta, Djohan
pun memasuki dunia kerja di Surabaya dengan misi utama
mendirikan kerangka organisasi bagi anggota-anggota PNI
Baru yang berdomisili sampai di Cirebon, Priangan dan
Yogyakarta. Di Surabaya ini, Djohan bergerak dengan sangat
hati-hati. Ia menyadari antisipasi Jepang terhadap kegiatan
yang dianggap sabotase dan aktivitas gerilya buruh bisa
35

berdampak buruk bagi pergerakan politik saat itu. Bermodal
eksperimennya di Tarakan, Djohan mulai dekat dengan
kalangan buruh minyak di Cepu dan Wonokromo, Jawa
Timur.
Salah satu keberhasilan Djohan dalam menginfiltrasi kaum
buruh minyak adalah saat ia berhasil mendistribusikan
minyak-minyak ke kalangan pribumi. Sebelumnya, minyak-
minyakiniselaludigunakanhanyauntukkepentinganJepang.
Tak hanya membangun jaringan di kalangan buruh, Djohan
juga dikenal dekat dengan Darmawan Mangunkusumo dan
Ruslan Abdul Gani dari Komite Angkatan Muda di Surabaya
sertaPKIbawahtanahyangdigerakkanolehAmirSjarifuddin.
Djohan juga mengadakan kontak dengan Sukarni dari
kelompok Menteng 31 di Jakarta. Di Surabaya, Djohan
Sjahroezah dan orang-orang di sekitarnya dikenal dengan
sebutanKelompokDjohanSjahroezah.

JejaringRevolusioner
Fenomena kemunculan kelompok studi Asrama Angkatan
Baru memang cukup menarik untuk dibahas. Di Batavia era
itu, asrama-asrama tidak hanya menjadi tempat menginap
para mahasiswa dari luar Jakarta, tapi sekaligus sebagai
pusat-pusat studi. Benedict Anderson mengindentifikasi tiga
asrama yang pada masa itu cukup progresif menggelar
kelompok-kelompok diskusi. Pertama, asrama mahasiswa
kedokteran di Prapatan 10. Kedua, Asrama Indonesia
Merdeka di Jalan Bungur Besar yang didirikan oleh
Laksamana Maeda. Ketiga, Asrama Angkatan Baru di
Menteng 31. Asrama-asrama ini menjadi ajang bagi para
intelektual muda untuk saling belajar dan memupuk
nasionalisme. Tokoh-tokoh muda seperti Soekarni, Wikana
36

maupun Chaerul Saleh lahir dari kelompok intelektual ini.
Dengan demikian, langkah Djohan Sjahroezah yang terus
menjalin hubungan dengan Asrama Angkatan Baru turut
berpengaruh terhadap proses perkembangan intelektual
pemudaprogresifrevolusioner.
Hubungan antara Djohan Sjahroezah dan para pemuda
revolusioner Jakarta ini digambarkan oleh Des Alwi dalam
bukunya “Pertempuran Surabaya November 1945” dengan
singkat namun jelas. Menurut Des Alwi, Soekarni sering
mengunjungi Asrama Maspati di Surabaya yang merupakan
tempat berkumpulnya kelompok Djohan Sjahroezah.
KedekatanSoekarnidenganSjahrirdanHattaturutmembuat
hubungannya dengan Djohan cukup intens. Selain Soekarni,
terdapatjugabeberapapemudadariberbagaidaerahseperti
M.L. Tobing dari Bandung, Dimjati dari Solo, Dayino dari
Yogyakartadanlain-lainnya.
Dalammembangunjaringannya,Djohantidakmengutamakan
taktis semata, seperti umumnya pergerakan pada saat itu. Ia
mengutamakan aspek politis jangka panjang untuk masa
depan.Dengandemikian,bisadikatakanDjohanmembangun
pondasi bagi organisasi-organisasi gerakan bawah tanah.
Karena aktivitasnya, Djohan Sjahroezah dikenal luas di
kalangan gerakan Nusantara kala itu. Kedekatannya dengan
berbagai kelompok membuat Djohan mendapat posisi
khusus, baik di kalangan komunis maupun kalangan
nasionalis. Peranan penting yang dimainkannya ini tak lepas
daripengetahuanyangluastentangteorirevolusi.
Djohan Sjahroezah dikenal sebagai salah satu dari sedikit
orang pada saat itu, yang menguasai konsep Marxis. Djohan
sering berfungsi sebagai doktriner, ideolog sekaligus ahli
strategidansiasatrevolusi,yangmembuatnyamenjadimitra
yang saling melengkapi bagi Sjahrir. Dalam pergerakannya,
37

Djohan Sjahroezah memilih jalur nonkoperasi, yang
menimbulkan konsekuensi bagi Djohan dan kawan-kawan
untuk bergerak di bawah tanah. Aktivitas-aktivitas yang
dibangun oleh kelompok Djohan Sjahroezah ini berdampak
secara tidak langsung terhadap munculnya semangat
perlawanan di kalangan pemuda saat itu. Saat tokoh-tokoh
pergerakannonkoperasidiasingkankePulauBuru,organisasi-
organisasi pergerakan banyak yang kemudian seperti ayam
kehilanganinduk.Dalamtekananyangsangatketatdaripihak
Jepang, kelompok Djohan Sjahroezah menjadi sokongan
penting bagi aktivitas pergerakan di dalam organisasi-
organisasipadamasa-masagentingtersebut.
Terdapattigakelompokpergerakanbawahtanahyangsecara
aktif menentang fasisme Jepang. Mereka adalah kelompok
Sjahrir,kelompokmahasiswadankelompokAmirSjarifuddin.
Meskipun menjadi bagian dari kelompok Sjahrir, kelompok
yang dibangun Djohan Sjahroezah sebenarnya memiliki
karakter tersendiri. Peranan yang dimainkan kelompok
DjohanSjahroezah,diilustrasikandengansingkatnamunjelas
oleh J.D. Legge dalam bukunya Kaum Intelektual dan
PerjuanganKemerdekaan-PerananKelompokSjahrir:
“Djohan Sjahroezah merupakan tokoh yang kurang sekali
mendapat perhatian dari para penelaah nasionalisme
Indonesia. Di dalam kelompok PNI (Merdeka) dan kelak di
masapendudukanJepangdanrevolusi,iamerupakantokoh
yang sama pentingnya dengan Sjahrir. Sebenarnya, orang
dapat berbicara tentang kelompok Djohan Sjahroezah yang
khas dan tersendiri, yang sedikit banyak dibentuk secara
mandiri olehnya, walaupun bersilangan dengan kelompok
yangmengitariSjahrirdiBataviadanbertumpangtindihdari
segi keanggotaannya. Anggota kelompok Sjahroezah
mungkin Iebih beragam dibandingkan dengan anggota-
anggotakelompokSjahrir,dandalambeberapahalkelompok
38

inidapatdipandangsebagaisebuahorganisasibawahtanah
yanglebihefektif.”

Meski memegang peranan yang cukup menonjol terutama
pada era kekuasaan Jepang, nama Djohan Sjahroezah kurang
familiar dalam sejarah kebangsaan Indonesia. Gerakannya
yang bersifat klandestin membuat aktivitas Djohan tidak
cukup banyak disinggung dalam narasi sejarah. Namun, tak
dapat dipungkiri saat tokoh-tokoh nasionalis semisal Bung
Karno dan Bung Hatta dianggap sebagai kolaborator Jepang,
aktivis bawah tanah seperti Djohan lah yang menjadi aktor
utamapergerakannasionaleraJepangberkuasa.
Kedekatannya dengan berbagai kalangan membuat Djohan
berperan sebagai simpul organisasi-organisasi dari berbagai
daerah. Penting untuk dicatat, pada masa itu janji-janji
Jepang yang mengaku Saudara Tua cukup untuk membuat
rakyat Indonesia terbuai. Orang-orang seperti Djohan lah
yang mempertahankan kesadaran rakyat untuk terus
memperjuangkan kemerdekaan. Peran Djohan sebagai
pengaturgerakan-gerakanbawahtanahyangterpecah-pecah
ini disebut oleh George McTurnan Kahin dari Cornell
University dalam bukunya Nasionalisme dan Revolusi di
Indonesia:
“Di samping itu, perlu disebutkan juga pribadi yang
mengagumkan, Djohan Sjahroezah, seorang Minangkabau
yangberlatarbelakangpendidikancukupdanberusiasekitar
30 tahun. Sambil bekerja sebagai sekretaris Hatta, pada
tahun 1942-1943 ia mengatur hubungan dengan keempat
organisasibawahtanahlainyadanmenjadiperantarautama
dalam hubungan mereka. Djohan punya hubungan yang
istimewadengangerakanbawahtanahSjahrir,danmenurut
Adam Malik, pernah bersama-sama Sukarni memegang
kelompoktersebut.”
39

Untuk memantapkan jaringannya guna mendukung gerakan
pemuda di luar Jakarta, Djohan banyak mendelegasikan dan
berkolaborasi dengan tokoh-tokoh muda. Di Makasar
misalnya, ia menugaskan Andi Zainal Abidin untuk
membangun gerakan pemuda di sana. Sementara di
Semarang,iapercayakanpadaM.L.Tobinguntukmemonitor
jawatanTelekomunikasi.Jugadidaerah-daerahlainsepertidi
Garut, Cirebon, Malang, Dampit, Denpasar, dan daerah
lainnya.DjohanjugadekatdengansosokTanMalaka,seperti
terlihat ketika pada hari-hari awal November 1945, Tan
Malaka berada di Surabaya atas ajakan dari Djohan
Sjahroezah.WalaupunkemudianDjohanmenugaskankepada
Des Alwi untuk memindahkan Tan Malaka ke tempat yang
lebihamansaatSurabayaberkobar.

MarxisyangBukanKomunis
Djohan dekat dengan kalangan komunis, sosialis dan
nasionalis sekaligus. Meskipun di kemudian hari ia identik
dengan kalangan sosialis, Djohan merupakan pribadi unik
karena secara pemikiran ia menguasai teori-teori Marxis,
sehingga banyak bersinggungan dengan gerakan buruh dan
kaum komunis. Dalam konteks acuan berpikir dan analisa,
Djohan Sjahroezah adalah seorang Marxis. Namun ia tidak
terjebak pada komunisme yang selama ini dianggap sebagai
anak tunggal dari Marxisme itu sendiri, walau menurut
pandangannya, Marxis memang pisau analisis yang tajam
untukmembedahborokkapitalisme.
Dalam tulisannya yang berjudul Sosialisme Kerakyatan dan
Komunisme, Djohan membedakan antara sosialisme dan
komunisme meski terlahir dari rahim yang sama, ajaran Karl
Marx dan Engels. Ia percaya sepenuhnya pada ajaran Marx
40

dan Engels bahwa sosialisme bertujuan untuk mencapai
tatanan masyarakat baru dimana tidak terdapat lagi
penindasan dan penghisapan satu sama lain. Sehingga
manusia bisa hidup dengan sejahtera demi kemajuan
masyarakat. Hanya saja, Djohan tergolong orang yang
menganggap jalan untuk menuju cita-cita sosialisme bisa
ditempuh dengan berbagai cara. Dan ia memilih jalan
sosialisme kerakyatan yang diyakininya sebagai solusi atas
penghisapandanpenindasanmasyarakatIndonesia.
Diakhirtulisannya,DjohanSjahroezahmenyatakan:
Kalau kita kembali pada cita-cita Marx Engels dimana
manusia, persamaan dan hubungan antara manusia,
penghapus penindasan dan segala kekuasaan golongan
menjadiintidaripadaajarannya,makasegalasesuatunyaitu
tidak bertemu di dalam pemerintahan diktaktor kaum
proletar yang hampir 2 angkatan (generasi ) manusia
menguasaisegalahidupdankehidupanmanusiaSovietRusia
itu. Menurut ajaran Marx Engels sendiri, tidak cuma satu
jalan yang menuju sosialisme dan pasti tidak cuma kaum
bolsjevik itu, yang juga sudah di akui oleh pemimpin-
pemimpinMoskowbaru-baruini.

Dalammembangunideologisosialismekerakyatan,pemikiran
Djohan banyak dipengaruhi oleh pemikiran revisionisme
Eduard Bernstein, tokoh penting yang merevisi ajaran-ajaran
Karl Marx pada saat Internasional II. Pada perkembangan
selanjutnya, kaum Marxis terpecah menjadi golongan
Komunis dibawah komando Partai Komunis Rusia, serta
golongan Sosial-Demokrat Eduard Berstein yang banyak
berkembang di Eropa Barat. Kemenangan kaum Sosial
Demokrat pada pemilu di Eropa semakin meneguhkan
keyakinan bahwa sosialisme bisa ditempuh dengan jalan
demokratis dan parlementer. Meskipun hampir di semua
41

tempat di dunia, kaum sosial-demokrat selalu bertentangan
dengankaumkomunis,Djohanjustrutidakdemikian.Dengan
pemahaman Marxisme-nya, Djohan dapat memahami arah
pergerakan kaum komunis. Meskipun secara pribadi ia
mengecampolainternasionalismealaMoskow,Djohantetap
berkolaborasi baik secara perjuangan maupun secara
personaldengankelompokkomunis.
Selain terpengaruh pada pemikiran Bernstein, Djohan juga
terinspirasi dari sosok Leon Trotsky, yang merupakan lawan
politik dari Stalin. Trotsky mengkritik habis birokrasi Uni
Soviet ala Stalin yang dianggap sangat bobrok. Trotsky
dengan teori “Revolusi Permanen” berpendapat bahwa
revolusi sosial harus dijalankan untuk menghancurkan
kapitalisme. Ia juga menyatakan untuk mencapai tahap
sosialisme,UniSovietjugaharusmemastikanbahwarevolusi
sosial tidak terisolasi di Uni Soviet semata, tapi juga harus
menyebar ke berbagai negara. Atas pemikirannya inilah
Trotsky justru dianggap mengkhianati Marxisme untuk
kemudian diasingkan oleh Stalin. Menurut cerita keluarga,
Djohan bahkan sempat menamai anak pertamanya dengan
namaTrotskysebelumkemudiandiganti.

42

BABIII
MetamorfosisWadahPerjuangan
Sama seperti tokoh perintis kemerdekaan yang lain, Djohan
Sjahroezah juga bergerak di segala lini perjuangan. Sebagai
seorang milisi, Djohan juga ikut mengangkat senjata di
lorong-lorong sempit di Surabaya bersama kelompoknya.
Menurut sejarawan Rushdy Husein, Djohan bukanlah tipikal
orangyangberpangkutangan.“Djohanjugaikutberperangdi
Surabaya, kelompoknya memiliki peranan yang penting
dalam peristiwa perobekan bendera Belanda.” Seperti yang
telah disinggung pada bab sebelumnya, Kelompok Djohan
SjahroezahdiSurabayaberintikanbarisanburuhminyakyang
tergabungdalamSerikatBuruhMinyakyangtelahdiorganisir
olehDjohan,yangberkoordinasidenganBungHatta.Dimulai
dari buruh di pabrik minyak Bataafse Petroleum Matschappij
yang merupakan cabang dari Shell di Surabaya, hingga
mereka yang bertugas di sumur minyak di Krakah, Lidah,
Wonokromo, Nglobo dan Wonosari, serta di kilang minyak
Cepu.
Untuk melancarkan tugasnya membangun kesadaran para
buruh, Djohan menggunakan kedekatannya dengan para
personalia pabrik minyak untuk menempatkan sejumlah
pemuda rekrutannya, yang dianggap sudah memiliki
kesadaran revolusi sebagai pengawas di sumur-sumur
minyak—tentu saja sekaligus menjadi sel utama gerakannya.
Kelak, Serikat Buruh Minyak yang didirikannya merupakan
organisasi serikat buruh minyak pertama dalam sejarah
Republik Indonesia dan menjadi inti dari Sentral Organisasi
Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI). William Frederick dalam
bukunya “Pandangan dan gejolak : Masyarakat Kota dan
LahirnyaRevolusiIndonesia”menulis:
43

Di bekas Perusahaan Minyak Batavia dan sejumlah
perusahaan lain yang berkaitan dengan minyak di Surabaya,
tokoh pergerakan yang terkenal, Djohan Sjahroeza mulai
berkeliling secara diam-diam untuk membicarakan tujuan
politik aktivis pra perang, dan secara berhati-hati membagi
rasa tidak puas terhadap Pemerintahan jepang. Sjahroezah
yang punya hubungan dekat dengan Sutan Sjahrir, salah
seorang pendiri apa yang disebut ‘PNI Baru” pada tahun
1931, dan yang pada masa awal pendudukan menjadi
sekretarisMohammadHatta,berusahamencariorang-orang
dengan usia pertengahan dua puluhan ke atas dengan latar
belakang pendidikan setingkat MULO ke atas, serta
mengenal kegiatan politik apapun bentuknya. Tidak ada
organisasi formal yang dibentuk, terutama mungkin karena
hal ini cenderung menarik perhatian Jepang yang tak
diinginkan. Dan kelompok ini tetap hidup berdasarkan pada
apa yang bisa dilukiskan sebagai persahabatan emosional
danintelektualsecaralonggar.

Memang kader-kader utamanya saat itu adalah buruh
minyak, tapi Djohan selalu memberikan kesadaran bahwa
tujuan mereka tidak berhenti hanya pada persoalan buruh
dan kesejahteraan mereka saja. Perjuangan mereka lebih
diarahkan pada perlawanan terhadap penjajahan untuk
mencapaisebuahkemerdekaansejatibagiIndonesia.Tangan
dingin Djohan dalam melakukan pembinaan nantinya akan
menghasilkan banyak kader yang militan. Lewat kursus-
kursus politik yang diadakannya, para buruh minyak menjadi
sadar bahwa lepas dari cengkraman kolonialisme dan
kapitalismeuntukmencapaikehidupanyanglebihbaikadalah
tujuanutamadariperjuanganitusendiri.

44

KursusalaMarxHouse
Seperti yang diungkapkan oleh Des Alwi “Sejumlah tokoh
perjuangan selalu datang berkunjung, semisal Soekarni,
Soemarsono, dan Soejono. Mereka memberikan ceramah
politik. Seperti yang aku lihat, banyak dokter dan petugas
kesehatan yang ikut dalam organisasi bawah tanah pimpinan
BangDjohan,terutamayangkebetulanbekerjadirumahsakit
untukmerawatkaryawanperminyakanWonokromo.“Djohan
memang tidak membatasi dirinya hanya pada golongan
buruh, di rumah Sidik dilorong dekat Jalan Embongmalang,
Djohan kerap mengumpulkan kader-kadernya untuk
berdiskusi. Djohan juga dikenal dekat dengan Darmawan
MangunkusumodanRuslanAbdulGanidariKomiteAngkatan
Muda di Surabaya serta PKI bawah tanah yang digerakkan
olehAmirSjarifuddin.
Dalam memberikan kesadaran bagi para kadernya, Djohan
kerap mengumpulkan mereka dalam kelompok diskusi
terbatas yang membahas ekonomi-politik, sejarah evolusi
masyarakat—sosiologi yang berdasar materialisme-historis—
dan filsafat yang berakar pada dialektika materialisme,
sejarah gerakan buruh sedunia, sejarah gerakan Komunis
Internasional, nasionalisme dan anti-imperialisme di negara-
negara jajahan, dan masalah manajemen organisasi. Materi-
materi diskusi seperti ini dianggap penting untuk mendidik
para kader perjuangan agar tidak menjadi orang pergerakan
yangmembabibutatapiminimpemahamanideologis.
Memang dalam periode-periode ini Marxisme dianggap
sebuah pandangan yang wajib dimiliki oleh siapa saja yang
aktif dalam ruang pergerakan. Maka tak aneh jika kemudian
banyak bertumbuhan kelompok-kelompok diskusi yang
membahas dan membedah Marxisme sebagai sebuah jalan
menuju masyarakat tanpa penindasan dan penjajahan. Dan
45

lazimnya kelompok-kelompok diskusi ini disebut sebagai
“Marx house” atau tempat belajar pandangan dan pemikiran
Marx bagi para pejuang pergerakan. Bukan hanya golongan
kiri, Marxisme juga menjadi bahasan wajib bagi semua
kalangan yang berpikiran progresif, bahkan beberapa orang
berlatar belakang organisasi keagamaan juga mengikuti
diskusi-diskusibertemakanMarxisme.
Tidak hanya itu, sepertinya Jepang pun melihat betapa
signifikannya peranan kelompok-kelompok diskusi atau Marx
House ini. Bagaimanapun juga, bagi Jepang tentu lebih baik
membiarkan atau bahkan mendorong tumbuhnya Marx
HouseyangmembahasMarxissebagaisebuahtesismelawan
kapitalisme—yangdiidentikkandenganEropa.Karenadengan
demikian pemikiran Marxis pada masyarakat bisa
dimanfaatkan dalam kerangka Perang Asia Raya melawan
sekutu. Lagipula, dengan membiarkan dan bahkan
memfasilitasi Marx House, Jepang lebih mudah mengontrol
atau sekedar mengawasi kelompok-kelompok yang dianggap
potensialmenjadipenentangpemerintahanDaiNippon.
Hingga masa awal kemerdekaan, dari sekian banyak Marx
House yang muncul di Republik Indonesia, yang paling besar
danmenonjoladalahMarxHouseyangdiadakandiPadokan,
Yogyakarta.KursusMarxismeyangdiadakandibekasgedung
administrator Pabrik Gula Madukismo, Padokan, sebelah
selatan Yogyakarta ini menjadi rujukan bagi semua golongan
kiri di seluruh wilayah Republik. Marx House ini
diselenggarakan oleh aliansi organ gerakan, partai politik,
organisasi pemuda, wanita, buruh dan tani yang berhaluan
sosialisme. Peserta kursus di Marx House ini dibagi dalam
angkatan-angkatan yang akan belajar dalam asrama tertutup
selama dua bulan. Untuk menjadi peserta, para perwakilan
organisasi buruh, pemuda, partai politik, tani, dan wanita ini
46

tidak dipungut biaya sama sekali. Justru selama masa
pendidikanmerekadiberikanmakandantempattinggalyang
memadai untuk mendukung proses belajar yang berlangsung
selamatujuhharidalamseminggudanempatjamdipagihari
dan empat jam di sore hari, dengan waktu-waktu tertentu
untukstudibersamadandiskusibahanpelajaran.
Banyak nama-nama tokoh yang disebutkan terlibat dalam
Marx House Padokan ini, karena penyelenggaraannya yang
bersifat kolektif lintas organisasi. Semua golongan kiri, baik
dari PKI Ilegal, Kelompok Amir Sjarifuddin dan yang pasti
Kelompok Sjahrir, dimana Djohan Sjahroezah termasuk di
dalamnya. Sebagai pengajar dan pembimbing, dalam
berbagaicatatanmunculnamaAlimin,Sardjono,Sjahrir,Amir
Sjarifuddin, Setiadjit, Maruto Darusman, L.M. Sitorus, Tan
Ling Djie, dan Djohan Sjahroezah yang memang kerap
mendidik kader perjuangan pergerakan bawah tanah dengan
pemikiran-pemikiran sosialis sejak era PNI Baru di masa
kolonialBelanda.
Dari Marx House Padokan inilah banyak muncul kader
golongan kiri yang nantinya terfragmentasi dalam berbagai
kelompok sesuai dengan kedekatannya masing-masing.
Ketika kelak Djohan memilih untuk bersama Sjahrir
membentuk Partai Sosialis Indonesia (PSI) berpisah dengan
kalangan komunis, banyak kadernya—baik era bawah tanah
maupun Marx House—yang justru bergabung dengan
kelompok Amir Sjarifuddin dan kemudian menjadi PKI.
Dengan demikian gesekan yang terjadi antara barisan PSI
dengan golongan Amir dan PKI sebenarnya tidak begitu
banyak mempengaruhi hubungan Djohan dengan kader-
kadernya. Banyak dari kalangan Komunis muda yang masih
tetap rajin berkunjung ke kediaman Djohan untuk sekedar
berbincang-bincang.
47

MembangunPartaiRakyatSosialis
Ketika Bung Hatta mengeluarkan Maklumat Wakil Presiden
no. X pasca revolusi kemerdekaan berdasarkan usulan dari
Badan Pekerja KNIP, yang berbunyi supaya rakyat diberikan
hak seluas-luasnya untuk mendirikan partai-partai politik,
dengan ketentuan partai-partai politik tersebut memperkuat
perjuangan Republik Indonesia dalam mempertahankan
kemerdekaan dan memperjuangkan keselamatan rakyat,
kalangan pergerakan segera menyambutnya dengan
mendirikan partai-partai politik sesuai dengan kelompok dan
ideologinyamasing-masing.
KelompokSjahrirpuntakluputdariniatanmendirikanpartai,
pada 19 November 1945 di Cirebon, Djohan bersama Sjahrir
mendirikan Partai Rakyat Sosialis atau Paras. Sebagai modal
awal, mereka memanfaatkan kader-kader dan program PNI
Baru yang pernah ia dirikan bersama Bung Hatta untuk
menjalankan roda Partai rakyat Sosialis. Di Cirebon sendiri
PARAS didukung oleh kader-kader PNI Baru seperti
Sudarsono, Soegra, dan Sukanda yang masih aktif dengan
organisasi-organisasi baru bentukan mereka yang memiliki
pengaruh yang cukup kuat untuk tingkatan lokal. J.D. Legge
juga menyebutkan nama Koperasi Rakyat Indonesia yang
didirikan oleh Soegra dan digunakan sebagai alat untuk
kegiatanpolitik.
Sementara di Tegal, Soebagio Mangoenrahardjo ikut serta
dalam pembentukan sebuah kelompok pemuda yang diberi
nama "Sembilan Bersaudara", yang terdiri dari putra para
pejabat rendahan. Di Brebes, Soenarto, seorang kawan kerja
Soegra dan bersama-sama dia merupakan pendiri Koperasi
Rakyat Indonesia, mendirikan cabang-cabang koperasi itu
yang menjadi sebuah jaringan kelompok-kelompok informal
yang mempersiapkan diri untuk perjuangan di masa
48

mendatang.DengandemikianmudahbagiDjohandanSjahrir
untuk membentuk partai tanpa harus melakukan konsolidasi
yangmemakanwaktulama.
Bisa dikatakan Paras adalah hasil dari usaha
mempertahankan eksistensi PNI Baru yang bergerak secara
ilegal selama akhir dasawarsa 1930 dan masa pendudukan
Jepang.TentusajaselainDjohanSjahroezah,pimpinanpartai
ini diisi oleh kader-kader PNI Baru seperti, Sukemi, Soegra,
WangsaWidjaja,danSoegondoDjojopuspito,tetapipartaiini
juga menerima masukan "tenaga baru" yaitu para pemuda
yang telah dihimpun Sjahrir di sekitar dirinya pada masa
pendudukanJepangsepertiSoebadio,Sitorus, dan yang agak
lebihtua,Dr.Sudarsono.
Disebutkan bahwa tujuan Partai Rakyat Sosialis adalah
“Menentang mentalitas kapitalistik, ninggrat dan feodal,
melenyapkan otokrasi dan birokratisme; berjuang ke arah
masyarakat sama rasa sama rata; memperkaya semangat
rakyat Indonesia dengan pandangan demokratik, dan
mendesak pemerintah untuk bekerjasama dengan semua
organisasi di dalam dan luar negeri untuk menggulingkan
kapitalisme. Sebenarnya dalam pembentukkan Paras, Bung
Hatta sedikit banyak juga memiliki keterlibatannya sendiri.
Bahkan ia menganjurkan jika nama partai tersebut adalah
Partai Daulat Rakyat (PDR), tapi dalam pengambilan
keputusan nama yang diusulkan oleh Bung Hatta tidak
terpilih.DiperjalanannyaBungHattamemilihuntuktidakikut
memimpin partai dengan alasan, “Saya sendiri sebagai wakil
presiden tidak boleh masuk partai, rakyat mengharapkan
presiden dan wakil presiden mestilah berdiri di atas segala
partai.”
Sementara di tempat yang berbeda Amir Sjarifuddin juga
mendirikan partai berhaluan sosialis yang diberi nama Parsi
49

atauPartaiSosialisIndonesia.JikaParasmengandalkankader
PNI Baru, Parsi memiliki Gerindo, yang dibentuk pada 1937
sebagai modal. Selain itu ada juga kader Partindo lama, dan
sebagianorangyangmempunyaihubungandenganPKIIlegal.
Parsi juga memperlihatkan keragaman. Tetapi untuk
sementarawaktu,persamaandasarideologiantaraParasdan
Parsi adalah lebih nyata daripada perbedaan di dalam
masing-masingpartaimaupundiantarakeduapimpinannya.
Kedua partai ini sama-sama menganut prinsip-prinsip
Marxisme,sehinggatidaklahmengherankanbilaKelakkedua
partai ini mengeluarkan satu pernyataan bersama yang
mendesak setiap orang supaya mendukung pemerintahan
Sjahrir-Amir,atasnamaperjuangannyayangantikapitalisdan
anti imperialis. Keduanya memutuskan untuk bergabung
menjadi sebuah partai sosialis baru yang disepakati bernama
Partai Sosialis yang mendukung Sjahrir dalam KNIP.
Pernyataan ini keluar bersamaan dengan pengumuman
diangkatnya Sjahrir sebagai Perdana Menteri pertama
Republik Indonesia dan Amir Sjarifuddin terpilih sebagai
Menteri Keamanan dan Penerangan. Djohan sendiri sebagai
anggota BP KNIP terus melakukan kerja sama dengan
kelompok-kelompok sayap kiri seraya membantu PM Sjahrir
danWakilPresidenBungHatta.

BergabungUntukBercerai
Sejalan dengan posisi keduanya di kabinet, Pada 16—17
Desember 1945, Paras dan Parsi melakukan suatu “Kongres
Fusi” yang dilangsungkan di Cirebon, dimana masing-masing
partai mengirimkan 57 utusannya. Hasilnya adalah
penggabungankeduapartaitersebutdengannamabaruyaitu
Partai Sosialis. Struktur baru partai juga telah dibentuk
50

diumumkan dengan suatu pengabungan yang cukup rumit
dan dengan tawar-menawar yang alot. Secara umum dalam
struktur partai kelompok Amir menguasai Dewan Pimpinan,
Sekretariat dan Badan Komunikasi, sedangkan kelompok
Sjahrir menguasai Badan Penerangan yang dipegang oleh
Djohan Sjahroezah dan Wangsawidjaja, Badan Politik di
bawah Subadio Sastroastomo, dan Badan Pendidikan yang
dikontrolSoegradanDjawoto.
Dalam kerja-kerja pemerintahan, peran Djohan di Partai
Sosialis memang tidak terlalu banyak. Djohan lebih fokus
untuk mengurus persoalan bagaimana membesarkan partai
serta manajemen kader-kader, dimana partai banyak
mengandalkan jejaring dan pengalaman Djohan dalam
merajut jaringan pergerakan. Ketika fungsionaris partai
lainnyaberkonsentrasipadaprogram-programpemerintahan
kabinet Sjahrir, Djohan menjalankan fungsi-fungsi internal
kepartaian. Ia tetap berkonsentrasi pada pengembangan
jaringan dan pendidikan kader-kader sosialis sehingga
hubungan antara pengurus Partai Sosialis dengan rakyat dan
golongan pergerakan tetap terjaga. Sebenarnya Djohan telah
memainkan peran-peran seperti ini semenjak mendirikan
Paras, Djohanlah yang menghubungi semua kader PNI Baru
untuk kemudian bergabung bersama dalam wadah partai
RakyatSosialis.SelainsebagaianggotaBPKNIP,posisiDjohan
sebagai Sekjen Partai Sosialis membuatnya banyak
beraktivitas di Sekretariat Partai Sosialis di daerah Kotabaru,
Yogyakarta. Di tempat inilah Djohan kerap kedatangan tamu
dariberbagaidaerahyanginginmengetahuiseputarprogram
PartaiSosialisatauyanghanyasekedarberkunjung.
Bulan madu sosialisme kedua partai ini akhirnya selesai,
seiringkritikkerasdariPartaiSosialisterhadaplangkahSjahrir
menandatanganiPersetujuanLinggarjatipada25Maret1947.
51

Langkah Sjahrir ini dinilai oleh partainya sendiri yaitu Partai
Sosialis, terutama oleh mereka yang berlatar belakang
komunis seperti Setiadjit, Abdul Madjid dan Tan Ling Djie
telah memberikan banyak konsensi oleh pihak Belanda
sehingga partai menarik dukungannya. Tentangan yang
dikeluarkan oleh sejawat dalam partainya tersebut membuat
Sjahrir mengembalikan mandatnya kepada Presiden Sukarno
27Juni1947.
Sikaporang-orangkomunisdidalamPartaiSosialisyangtidak
terduga tersebut digambarkan oleh Kahin dalam Nationalism
andRevolutioninIndonesiasebagaiberikut:
“Bahwa 19 jam setelah Sjahrir mengundurkan diri, para
pimpinan sayap kiri yang menentang konsensi Sjahrir lantas
meralat sikap mereka dengan menyetujui konsensi-konsensi
ituserayamemintaSjahrirkembalimenjadiPerdanaMenteri.
Tetapi Bung Sjahrir menolak tawaran tersebut karena tidak
menerima gaya politik ‘machiavelistis’ tak terduga dari
rekan-rekannyasendiri.”

Mengenai orang-orang komunis di Partai Sosialis, Sjahrir
pernah menulis, “Orang-orang komunis di dalam Partai
Sosialis perlahan-lahan menempatkan diri mereka sebagai
sel-sel komunis. Hal ini menimbulkan friksi-friksi, perbedaan-
perbedaanpendapatdidalamPartaiSosialisdanketegangan-
keteganganberkembangkarenanya”.
Dan seperti yang telah disinggung di awal, orang-orang
komunis ini masuk Partai Sosialis melalui jalur Amir
Sjarifuddin dengan Parsi. Namun harus diakui, Linggarjati
bukanlah satu-satunya penyebab pisahnya kedua unsur
dalam Partai Sosialis. Bagaimanapun juga, Sjahrir dan Paras
dianggaptidaksejalandenganAmirSjarifuddinyangmemiliki
kecenderungankomunis.
52

Kejatuhan Sjahrir kemudian digantikan oleh Amir Sjarifuddin
sebagaiPerdanaMenteri.TapisekalilagiPartaiSosialisharus
menelan pil pahit perpecahan, karena setelah Amir
Sjarifuddin menandatangani perjanjian Renville pada 17
Januari 1948, yang menyebabkan secara “de facto” wilayah
yangdiakuihanyatinggalJawaTengahdanJawaTimur,Partai
Sosialis pun terpecah dua yaitu golongan pro-Renville dan
golongan anti-Renville. Dan sama seperti Sjahrir, pada 23
Januari 1948, Amir yang dalam kondisi dikecam berbagai
pihak terpaksa menyerahkan mandatnya ketika diminta oleh
BungKarno.
Semakin meruncingnya perbedaan pandangan kedua faksi
dalam Partai Sosialis akhirnya membawa partai ini pada
perpecahannyata.KetikaBungHattamengumumkankabinet
pengganti Amir Sjarifuddin, seluruh kelompok Sjahrir
menyatakan dukungan penuh—sebagai kawan seiring
seperjuangan, tentu saja Sjahrir mengambil sikap ini.
Sementara Kelompok Amir yang tak berhasil mendapatkan
posisi strategis dalam kabinet memilih sikap menjadi oposisi
bagikabinetHatta.
Sejarah mencatat, pada 12 Februari 1948 Sjahrir dan
kelompoknya menyatakan diri keluar dari Partai Sosialis dan
mendeklarasikan berdirinya Partai Sosialis Indonesia (PSI). Di
pihak yang ditinggalkan, Amir dan kelompoknya
menggabungkan Partai Sosialis dengan FDR (Front
demokratik Rakyat) pada 26 Februari 1948 bersama-sama
dengan Partai Buruh Indonesia (PBI), Pesindo dan SOBSI.
Kemudian pada tanggal 30 Agustus 1948, seluruh basis FDR
akhirnyamenyatukandirikedalamPartaiKomunisIndonesia
(PKI)pimpinanMusso.

53

PeletakDasarIdeologiPSI
Djohan yang bisa diterima oleh semua golongan, yang dekat
dengan seluruh kelompok perjuangan—termasuk kelompok
Amir dan PKI Ilegal—tetap memilih untuk bersama Sjahrir. Ia
pula yang diminta untuk memberikan penjelasan mengapa
kelompok Sjahrir harus memisahkan diri dengan Partai
Sosialis dalam kongres di Madiun pada Februari 1948. Selain
karena kedekatannya dengan berbagai kelompok, Djohan
juga dianggap sangat memahami sosialisme, dan tentu juga
tentang Marxisme. Dalam pidatonya Djohan menjelaskan
sikap kelompok Sjahrir terhadap perundingan dengan
Belanda dan konsistensi kalangan mereka—yang kemudian
mengidentifikasi diri sebagai kaum Sosialisme Kerakyatan—
terhadap cita-cita sosialisme dan perlawanan terhadap
kapitalisme namun menolak segala bentuk kediktatoran dan
absolutismeyangsedangdijalankanolehkalangankomunis.
PSI didirikan dengan dukungan dua generasi dengan latar
belakang yang berbeda. Satu pihak adalah golongan Sjahrir
danrekan-rekannyayangtelahberjuangbersamasejak1930-
an, dan golongan muda yang rata-rata direkrut oleh Djohan
Sjahroezah pada masa pendudukan Jepang dan sesudahnya.
Namun antara kedua generasi tidak nampak adanya
perpecahan, hal ini bisa jadi disebabkan oleh faktor Djohan
yang menjadi penghubung dua generasi tersebut yang
memangmemilikipengaruhkuatbagisemuanya.Keberadaan
PSI yang dianggap sebagai episode baru dari PNI Baru dan
ParasmewarisitradisiintelektualalaSjahrirdanBungHatta.
PSI kembali mengalami pematangan setelah kongres pleno
pertama pada Februari 1952 di Bandung. Kongres ini
menawarkan sebuah Peraturan Dasar yang baru dengan
komposisiantarakewenanganpimpinandankedemokratisan
partaimenjadilebihberimbang.Soalunit-unityangberadadi
54

daerah, kongres dan rapat-rapat, serta politbiro. Serta
disepakati juga ketentuan bahwa dewan partai dipilih oleh
kongres. Kongres juga menetapkan istilah Marxisme ada
dalam Penjelasan dan di dalam Anggaran Dasar. Dan secara
resmi juga ditegaskan bahwa partai menganut "paham
sosialisme yang disandarkan pada ajaran ilmu pengetahuan
MarxdanEngels."
Banyak pihak yang meyakini bahwa dimasukkannya
pandangan Marx dan Engels dalam Peraturan Dasar PSI
adalah berkat usaha yang dilakukan oleh Djohan Sjahroezah,
karenaselamainiDjohanlahyangdianggappalingmemahami
konsepsi dari Marx dan Engels baik kelebihan maupun
kekurangannya. Dengan demikian, Sosialisme Kerakyatan
yang dijadikan sebagai asas partai tidak bisa tidak, harus
diakui sebagai bagian dari rumpun sosialisme ala Marx dan
Engels—walau dikemudian hari Sosialisme PSI diberi julukan
SoskaatauSosialisKanan.
Dalam Peraturan Dasar PSI tertulis bahwa Dasar-Dasar dan
pandanganPolitikPSIadalah:
“Partai Sosialis Indonesia memahamkan sosialisme yang
diajarkannya dengan pengertian seperti diterangkan di atas.
Iaakanberikhtiarmengusahakankemajuansertaperubahan
masyarakat. Ia hendak merubah tingkat dan hidup rendah
serta pertanian di Indonesia ini, menjadi masyarakat yang
dapat mencarikan kehidupan rakyatnya yang berpuluh juta
jumlah jiwanya dengan menggunakan kekayaan ilmu serta
tehnikyangtersediauntukkemanusiaan.

Untuk segala itu ia menggunakan pula cara-cara mengupas
serta menyusun pengertian yang digunakan oleh sosialisme
modern terhadap dunia kapitalis. Ia menggunakan
pengupasan seperti dilakukan oleh Marx-Engels terhadap
perkembangansertasusunanmasyarakatkapitalis.”
55

Sementara pada pasal 1, Asas dan Tujuan, tertulis “Partai
Sosialis Indonesia berdasarkan faham sosialisme yang
disandarkan pada ajaran ilmu pengetahuan Marx-Engels
menujumasyarakatsosialisberdasarkankerakyatan.”
Sejak awal, Djohan telah memandang bahwa Marxisme
sebagai landasan bagi PSI adalah hal yang sangat penting,
sementaraSjahrircenderunglebihberhati-hatidanpragmatis
menghindari pendirian teoritis yang dogmatis. Sjahrir yang
sejak awal kurang suka jika kata-kata ini masuk dalam
Anggaran dasar, menerima keputusan ini walau menganggap
bahwa yang dimaksud bukanlah kaum Marxis ortodoks,
melainkan hanya wujud pengakuan atas peran historis Marx
dan Engels dalam perjuangan untuk sosialisme serta
pentingnyagagasan-gagasanMarxsebagaialatanalisissosial.
Djohan meletakkan Marxisme sebagai teori dasar yang
menjadi antitesis dari kapitalisme. Kuatnya kesadaran
mengenai soal-soal seperti itu terlihat selama proses
pemantapan organisasi PSI dan penetapan tujuan-tujuannya.
Akhirnya pada Februari 1950 sidang pertama dewan
pimpinan partai PSI diselenggarakan di Yogyakarta yang
membahas keorganisasian pendirian cabang-cabang,
persyaratan untuk menjadi anggota dan perumusan
kebijakan-kebijakan dasar. Dalam sidang ini beberapa nama
angkatan 1930-an seperti Hamdani, Soegra, Sukemi, dan
Wiyono duduk dalam Dewan Partai. Sementara Djohan
Sjahroezah bersama Sjahrir, Subadio Sastrosatomo, L. M.
Sitorus,SugondoDjojopuspitodanT.A.Muradselainmenjadi
AnggotaDewanPartai,jugamenjabatsebagaiPolitbiroPartai
SosialisIndonesia.
Dalamkongrespertamapada1952,PSIhanyamemiliki3.049
anggota tetap dan 14.480 calon anggota. Sementara ketika
kongres kedua pada Juni 1955, anggota PSI bertambah
56

menjadi 50 ribu orang. Pada pemilihan 1955, PSI hanya
meraih lima kursi. John D. Legge, dalam bukunya Kaum
Intelektual dan Perjuangan Kemerdekaan, mengatakan
kegiatan politik massa bukan satu-satunya tolok ukur
keberhasilan partai. Pemikiran PSI bertahan hingga sekarang.
”Fakta bahwa partai ini mewakili aliran moral dan politik di
Indonesia,” kata Legge. Hingga saat ini mereka yang
menganut dan mereka yang “merasa” mengikuti pandangan
politik dan ideologi Sosialisme Kerakyatan ala PSI yang
terserak dalam berbagai kelompok masih menjalankan
eksistensinya.

57

BABIV
ProklamasidanInisiatifKaumMuda
Pada Juni 1942, konstelasi politik dunia mulai berubah.
Jepang yang awalnya begitu gagah perkasa saat turun
gelanggang Perang Dunia II pada 1937 mulai terdesak oleh
pasukan sekutu. Kekalahan telak dalam pertempuran laut di
Pulau Midway menjadi awal kejatuhan Jepang. Dalam
pertempuranselamaempathariitu,Kaigunharuskehilangan
empat kapal induk, satu kapal penjelajah berat, 291 pesawat
serta 4800 personel. Setelah itu, Jepang juga harus
kehilangan Pulau Guada lcanal dan Pulau Saipan yang sangat
strategis. Kekalahan ini begitu luar biasa hingga Jepang
berusaha menutup rapat-rapat kekalahan ini. Termasuk juga
didaerah-daerahjajahanJepang.
DiNusantarasendiri,kabarkekalahanJepangtidaklepasdari
perhatian kelompok Sjahrir. Pada masa itu, Sjahrir dan
kelompoknya termasuk juga Djohan Sjahroezah
mengoperasikan radio gelap. Dari situlah kabar mengenai
kejatuhan Jepang mulai berhembus. Di Surabaya, Des Alwi,
anak angkat Sjahrir yang merupakan kader dari Djohan
Sjahroezah,adalahorangyangditugaskanuntukmempelajari
segalasesuatumengenaipengoperasianradio.DesAlwiyang
ikutDjohansejakpertengahanJanuari1943belajardisekolah
teknik radio di Genteng Kali. Melalui radio yang dioperasikan
diam-diam oleh Des Alwi dan Rambe, berita-berita sekutu
dari luar negeri bisa didapatkan oleh lingkaran Djohan
Sjahroezah. Hal ini merupakan langkah yang sangat beresiko.
Jepang saat itu memang menyegel semua pesawat radio.
Hukuman berat menanti bagi siapa saja mempergunakan
radiountukmendengarkanberita-beritadariluarnegeri.
58

Untuk memantau perkembangan berita-berita dari luar
negeri, Djohan kemudian memerintahkan Des Alwi untuk
bekerja di kantor Djakarta Hosyo Kioko (Kantor Siaran Radio
Jepang). Peran yang dimainkan kader Djohan ini tidak main-
main. Sebagai operator siaran luar negeri, Des Alwi bertugas
menguping siaran radio BBC dan Radio Australia yang biasa
diputarkanselepaspukulsatudinihari.Dariinformasiseputar
perang pasifik inilah kemudian berita tentang kekalahan
Jepang disebarkan kepada pejuang bawah tanah. Dengan
menaruhkader-kadernyadisektorstrategissepertiradiodan
telegraf, peranan Djohan Sjahroezah menjadi sangat
signifikanmenjelangdetik-detikproklamasi.
Selain harus menghadapi pasukan sekutu, Jepang juga cukup
direpotkan dengan pemberontakan-pemberontakan yang
terjadi. Pada 25 februari 1944 meletus pemberontakan di
Singaparna.PadaMeidanAgustusditahunyangsamagiliran
Indramayu yang mengangkat senjata. Tak hanya itu, pada
Februari 1945 kesatuan Pembela Tanah Air (PETA) di Blitar
juga turut memberontak terhadap Jepang. Guna meredakan
pemberontakan inilah Jepang menjanjikan kemerdekaan
kepada Nusantara. Perdana Menteri Jepang Jenderal Koiso
Kuniaki di hadapan parlemen Jepang kemudian menjanjikan
kemerdekaanNusantarapada7September1944.Janjimanis
hadiah kemerdekaan ini sebenarnya merupakan reaksi atas
kekalahan-kekalahan yang dialami Jepang pada Perang
Pasifik. Selain itu, Jepang juga membutuhkan dukungan dari
daerah jajahannya untuk menghadapi serangan pasukan
sekutu. Untuk itu Jepang kemudian membentuk organisasi
militerdansemimilitersepertiPETAdanPusatTenagaRakyat
(Putera). Tujuannya tentu saja untuk mendapatkan pasokan
personel untuk mempertahankan dominasi Jepang di Asia
Pasifik. Sementara itu, kalangan pejuang saat itu terbelah
59

dalam menyikapi penjajahan Jepang. Kalangan nasionalis
seperti Bung Karno dan Hatta memilih merapat kepada
Jepang dan meyakini kemerdekaan Nusantara tinggal
menungguwaktu.
Di kalangan rakyat bawah, penjajahan Jepang justru semakin
menjadi. Sensor atas organisasi politik dan mahasiswa
dilakukandenganketat.Pengerahanromushajustrusemakin
masif. Sementara jumlah padi yang disetorkan kepada
pemerintah Jepang juga terus meningkat. Kondisi ini tentu
saja memicu ketidakpuasan atas pemerintah Jepang. Dengan
demikian janji-janji Jepang untuk memerdekakan Nusantara
justru ditanggapi dengan perlawanan yang semakin keras.
Kaum anti-Jepang semakin gencar berdiskusi dan
membicarakancita-citakemerdekaan.
Dalam lingkup yang lebih luas, anak-anak muda ini
sebenarnya merupakan bagian dari golongan muda yang
dipimpin oleh kelompok Sjahrir. Golongan ini memiliki
jaringan yang sangat luas. Kader-kadernya berasal dari
berbagai daerah, terutama yang dulu aktif di PNI Baru, dan
tentunya juga dikenal dekat dengan golongan dari Gerakan
Indonesia Raya (Gerindo) seperti Amir Sjarifuddin, Sukarni,
AdamMalik,MarutodanPanduKartawiguna.
Gerakan bawah tanah di masa pendudukan Jepang ini
memang kurang terekspos dalam sejarah kebangsaan.
Namun peranan yang dimainkan kelompok anti-Jepang ini
sesungguhnya sangat signifikan. Pada prinsipnya, gerakan
bawah tanah ini dimaksudkan untuk mempersiapkan diri
menyambut kemerdekaan. Secara intensif kelompok ini
memantau jalannya peperangan di Pasifik dan meyakini
Jepangakansegerakalah.Isidiskusimerekamemangbanyak
berkutat pada perkembangan keadaan politik baik di dalam
maupunluarnegeri.AktivitasinitidakhanyaterjadidiJakarta
60

semata. Di Bandung, Semarang, Cirebon, Yogyakarta serta di
Surabayajugamelakukanaktivitasserupa.DjohanSjahroezah
adalah sosok pemimpin gerakan ini di Surabaya. Selain
membicarakan perkembangan politik dalam dan luar negeri,
kelompok bawah tanah ini juga membicarakan tentang
kemiliteran. Militer sangat penting untuk menyokong
kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu, banyak dari anak-
anak muda ini yang kemudian menjadi anggota PETA untuk
menerimalatihanmiliter.
Berita-berita perkembangan perang dari luar negeri sendiri
taklepasdariperananSutanSjahrir.Saatitu,Sjahrirlahyang
menyuplai berita-berita perang dari radio gelap yang
dimilikinya.Sepettidiketahui,halinimerupakanlangkahyang
sangat beresiko, karena Jepang saat itu memang menyegel
semuapesawatradio,danhukumanberatmenantibagisiapa
saja mempergunakan radio untuk mendengarkan berita-
berita dari luar negeri. Selain membicarakan perkembangan
politikdalamdanluarnegeri,kelompokbawahtanahinijuga
membicarakan tentang kemiliteran. Militer sangat penting
untuk menyokong kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu,
banyak dari anak-anak muda ini yang kemudian menjadi
anggotaPETAuntukmenerimalatihanmiliter.
Hari-hari setelah pernyataan Perdana Menteri Koiso tentang
memerdekakan Indonesia justru malah membuat kondisi
semakin memburuk. Jepang semakin masif menindas rakyat.
Sementaratidakadalangkah-langkahyangterlihatdaripihak
Jepanguntukmerealisasikanjanjinyatersebut.Kelaparandan
kesengsaraan sudah sampai pada tingkat yang
mengkhawatirkan. Keadaan seperti ini rupanya juga menjadi
perhatian dari petinggi Jepang di Nusantara. Pada Oktober
1944, Laksamana Maeda yang merupakan Kepala Kaigun
Bukanfudanterkenalkarenasimpatinyaterhadapperjuangan
61

kemerdekaan Indonesia, mendirikan Asrama Indonesia
Merdeka di Jalan Defensie Lyn Van den Bosch yang sekarang
menjadiJalanBungurRaya.
Asrama ini merupakan tempat berkumpulnya anak-anak
mudayangdulunyaaktifdiAsramaMenteng31danPrapatan
10. Di tempat ini mereka membicarakan detil-detil
kemerdekaan tanpa tahu kapan kemerdekaan itu akan
datang. Dibawah pimpinan Wikana yang pernah aktif di
Gerindo, mereka membicarakan pendidikan politik dan
ekonomi. Selain membicarakan soal perkembangan perang
dan latihan militer bagi kalangan pemuda, gerakan bawah
tanah ini juga mendiskusikan bentuk Indonesia merdeka.
Walaupun secara jumlah sangat sedikit bila dibandingkan
dengan total populasi Nusantara, pengaruh pemuda
intelektual ini sangat signifikan dalam membentuk opini di
masyarakat.
Golongan pemuda menginginkan bentuk negara kesatuan.
Sementara Hatta lebih cenderung pada bentuk negara
serikat. Perbedaan ini dapat diselesaikan saat para pemuda
mendatangi rumah Hatta pada tengah malam. Rombongan
yang dipimpin oleh Moh. Kamal ini diterima oleh Hatta
dengan tangan terbuka. Tak hanya itu, Hatta juga kemudian
terkesan dengan kesungguhan kaum muda, yang walaupun
minoritas, menginginkan Indonesia merdeka sebagai negara
kesatuan.

UpayaPropagandaJepang
Dalam kondisi terdesak oleh pasukan sekutu, Jepang
berusaha mengambil hati rakyat jajahannya untuk
mendukungperangAsiaPasifik.Semakinterdesak,janjiKoiso
untukmemerdekakanIndonesiamulaiterlihatarahnyameski
62

belum juga memuaskan rakyat. Pada 1 Maret 1945, Jepang
membentukBadanPenyelidikUsahaPersiapanKemerdekaan
Indonesia (BPUPKI). Badan yang diketuai oleh Radjiman
Widiodiningrat ini beranggotakan 63 orang yang terdiri atas
orang-orangJepangdantokoh-tokohIndonesia.Tugasutama
badan ini berkutat pada pengumpulan bahan-bahan penting
dari aspek ekonomi, politik maupun sosial yang akan
mendukung kemerdekaan Indonesia. Pada masanya, BPUPKI
hanya pernah bersidang dua kali untuk membahas dasar
negara. Meski demikian, taktik Jepang untuk mengambil hati
rakyat ini tidak juga membuat kaum muda mengendurkan
semangatnya untuk menuntut kemerdekaan Indonesia
sesegeramungkin.
Salah satu usaha Jepang meraih dukungan rakyat dalam
perang di Asia Pasifik ini terjadi pada 12 Mei 1945. Saat itu,
pihak Jepang berinisiatif mengadakan rapat pemuda di
gedung bioskop Decca Park di Jalan Medan Merdeka Utara
sekarang. Rapat ini sebenarnya merupakan usaha
propaganda Jepang untuk menggalang dukungan. Seperti
yang diceritakan oleh Abu Bakar Loebis, saat itu sudah
disiapkan kamera dan segala peralatannya untuk membuat
film yang menunjukkan antusiasme pemuda Indonesia pada
usahaperangJepangdiAsiaPasifik.
Chaerul Saleh yang melihat rapat ini sebagai kesempatan
untuk menunjukkan sikap pemuda, akhirnya menunjuk
Nasrun Iskandar dari Asrama Prapatan 10 untuk berpidato.
Dalam pidatonya, Nasrun dengan tegas menyatakan bahwa
pemuda menginginkan kemerdekaan Indonesia sekarang
juga, bukan di kemudian hari. Atas pidatonya itu, rapat yang
direncanakan Jepang sebagai propaganda justru berbalik
menjadiajanguntukmenunjukkansikapparapemuda.
63

Kegagalan rapat pemuda di bioskop Decca Park rupanya tak
membuat Jepang menyerah. Pasca jatuhnya Tarakan dan
Filipina ke tangan sekutu, pihak Jepang kembali berusaha
melakukan propaganda. Mereka menyiapkan konferensi
pemuda seluruh Jawa di villa Isola Bandung. Jamal Ali,
seorang pemuda nasionalis dari Bandung dipercaya oleh
Jepang untuk memimpin konferensi. Di bawah pengawasan
Shimizu dari sendenbu, angkatan muda Bandung justru
berhasilmengundangaktivispemudadariseluruhJawa.Pada
saat itu, Soekarni juga sempat mengunjungi Djohan
SjahroezahkeSurabayauntukmengundangnyakepertemuan
di Bandung ini. Dengan demikian, villa Isola justru menjadi
tempat konsolidasi para aktivis seperti Soepeno, Chaerul
Saleh,Soekarni,Wikanadanlain-lain.
SelamatigatahunmasapendudukanJepang,kaummudatak
pernahberhentimempertahankansemangatmerdeka.Lewat
diskusi-diskusi di kantung-kantung pemuda, cita-cita untuk
merdekatakpernahpadam.Salahsatuusahaunjukkekuatan
kaum muda terjadi pada 7 Juni 1945 di Kebun Binatang
(sekarang TIM). Atas inisiatif dari Ika Daigaku, Yaku gaku dan
Kenkoku Gakuin, mereka mengadakan rapat pemuda pelajar
dariseluruhJakarta.RapatyangdipimpinolehSyarifThayyeb
ini begitu membludak. Mereka menuntut kemerdekaan
Indonesiasaatitujugasertalatihanmiliterbagiparapelajar.
Para peserta rapat kemudian mengadakan pawai untuk
menemui Hatta dan Soekarno. Kepada kedua tokoh tersebut
kaum muda menyatakan tekad dan komitmennya untuk
mengawal kemerdekaan Indonesia. Hatta dan Bung Karno
terlihat agak terkejut dengan semangat kaum muda ini.
Melalui Soekarno pula permintaan kaum muda untuk
mendapatkanlatihanmiliterterkabul.Padabulanyangsama,
paramahasiswadariIkaDaigakumendapatkanlatihanmiliter
64

penuh di Daidan 1 Jakarta, Jagamonyet yang dipimpin oleh
Mr. Kasman Singodimedjo. Sementara mentor latihannya
adalahLatiefHendradiningratdanMufreniMukmin.

Hari-HariGentingProklamasi
Keyakinan kaum muda atas kekalahan Jepang semakin
terlihat.Dariberitayangdidapatkandariradiosekutu,Jepang
sudah berada di ambang penyerahan. Hancurnya Hiroshima
olehbomatomsekutupada6Agustus1945memaksaJepang
membentukPanitiaPersiapanKemerdekaanIndonesia(PPKI).
PPKI yang dibentuk di seluruh wilayah Nusantara ini akan
menggantikanperandariBPUPKIyangtidakberjalanoptimal.
Sebagai bagian dari rencana kemerdekaan hadiah Jepang,
Bung Karno, Hatta dan Dr. Radjiman pergi ke Saigon untuk
menemui Jenderal Terauchi pada 9 Agustus. Sementara
ketiga tokoh ini meninggalkan Jakarta, para pemuda terus
memantauperkembanganperangAsiaPasifik.Kaummudaini
mengadakan rapat serta membentuk regu-regu semimiliter
untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Puncaknya, pada
15 Agustus dini hari kabar penyerahan Jepang diumumkan
oleh sekutu. Sontak hal ini membuat kaum muda bergerak
cepat untuk merespon kabar ini. Mereka segera mendatangi
Sjahrir untuk memintanya memprokamirkan kemerdekaan
Indonesia. Sebelum sekutu mengambil sikap atas status quo
bekasjajahanJepangini,kaummudaberpendapatlebihbaik
mengambilkesempatanmerdekaatasusahasendiri.
Sjahrir yang pada awalnya diminta oleh kaum muda untuk
menjadi proklamator menolak. Ia menyatakan bahwa Bung
Karno dan Hatta adalah orang yang paling tepat untuk tugas
berat ini. Harus diakui, meski dianggap sebagai kolaborator
Jepangpopularitaskeduatokohinitidakperludiragukanlagi.
65

Tentu dibutuhkan sosok dengan tingkat popularitas tinggi
untuk mendapatkan legitimasi seluruh rakyat Indonesia.
Namun usaha kaum muda untuk mendesak Soekarno agar
segera melakukan proklamasi ini membentur jalan buntu.
Soekarno yang belum yakin atas kejatuhan Jepang memilih
untuk menemui petinggi Jepang dan menanyakan kabar
kejatuhan Jepang. Merasa tidak mendapat kepastian atas
kabar tersebut, Bung Karno memilih mundur dan menunggu
kepastiandariJepang.Selainitu,BungKarnojugameragukan
kesiapanorganisasi-organisasipemudauntukmengambilalih
jalannya pemerintahan. Seperti diketahui, kalangan kelas
menengah yang selama ini mendapatkan fasilitas dan status
daripemerintahJepangjugabanyakyangmeniupkankeragu-
raguan untuk merdeka karena enggan melepas zona
kenyamanannya.
Mendengar kabar ketidaksediaan Bung Karno, kaum muda
kemudian mengutus Wikana, Darwis dan Soebadio untuk
membujuk Bung Karno. Sekitar pukul 22.00 para utusan ini
kembali dan mengabarkan bahwa Bung Karno tetap tidak
setuju proklamasi hari itu. Sebaliknya sempat terjadi adu
mulut antara Bung Karno dan kaum muda. Peristiwa inilah
yang memicu kisah penculikan Bung Karno dan Hatta ke
Rengasdengklok. Pada pagi hari 16 Agustus 1945, para
pemuda yang diwakili oleh Sukarni membawa Bung Karno,
Hatta, Ibu Fatmawati dan Guntur ke asrama PETA di
Rengasdengklok.
Situasi saat itu menunjukkan semangat kemerdekaan sudah
sangat terasa. Camat Rengasdengklok yang juga anggota
Baperpi (Badan Perwakilan Pelajar-Pelajar Indonesia)
mendahului dengan memproklamasikan kemerdekaan
Indonesia pada 16 Agustus, menurunkan bendera Hinomaru
dan menggantinya dengan bendera Merah Putih. Sementara
66

di Cirebon, proklamasi juga sudah dibacakan oleh Dr.
Soedarsono yang merupakan jaringan dari DJohan
Sjahroezah. Di kemudian hari, Dr. Soedarsono ini kemudian
menjadianggotadariParaspimpinanSjahrirdanDjohan.
Sementara Bung Karno dan Hatta dipindahkan ke
Rengasdengklok, kondisi di Jakarta mulai memanas. Di setiap
sudut terlihat para pemuda berjaga-jaga dengan
menggunakan bambu runcing ataupun golok. Usaha kaum
muda untuk mempersiapkan proklamasi rupanya direspon
denganberapi-apiolehmasyarakat.Mr.Subardjoyangdiutus
oleh Laksamana Maeda untuk menjemput Bung Karno dan
Hatta berhasil membawa pulang kedua tokoh tersebut.
Setibanya di Jakarta pada pukul 21.00, mereka langsung
melanjutkan rapat di rumah Laksamana Maeda. Golongan
mudayanghadirsaatituadalahChaerulSalehdanSukarni.
Pada awalnya, proklamasi akan dilakukan di lapangan Ikatan
Atletik Indonesia (IKADA), Gambir. Namun, karena khawatir
akan terjadi bentrokan dengan pasukan Jepang, akhirnya
diputuskan proklamasi akan di lakukan di rumah Bung Karno
di Pegangsaan Timur 56. Dengan penjagaan ketat dari para
mahasiswa, polisi istimewa dan barisan pelopor, proklamasi
atas kemerdekaan Indonesia akhirnya berkumandang pada
17 Agustus 1945. Siangnya, berita proklamasi ini diteruskan
oleh Des Alwi dengan bantuan dari Adam Malik melalui
pemancarKantorBeritaDomeikeseluruhpenjurudunia.

PeranDjohandiSurabaya
Seperti yang diceritakan dalam bab II tulisan ini, Djohan
Sjahroezah pada akhirnya menetap di Surabaya sejak 1943
untuk bekerja dan membangun kader di kalangan buruh
minyak. Djohan sangat meyakini bahwa kekalahan Jepang
67

tinggal menunggu waktu. Oleh karena itu, Djohan berusaha
mempersiapkan saat-saat kemerdekan dengan membangun
jaringan, mendidik kader serta menempa anak-anak muda
dengan mental baja. Surabaya yang sampai saat ini menjadi
simbol pahlawan Indonesia sesungguhnya tidak lepas dari
peranDjohanSjahroezah.
Pada Maret 1945, Chaerul Saleh dan Soekarni mengunjungi
Surabaya.KeduapemimpinpemudadariJakartainimenemui
Angkatan Muda pimpinan Ruslan Abdulgani di Surabaya
untuk membicarakan perkembangan terakhir. Pada
pertemuan tersebut, ketiga kelompok pemuda di Surabaya
hadir untuk mendengarkan Chaerul Saleh dan Soekarni yang
memaparkan proyeksi kekalahan Jepang, serta mengundang
para pemuda ini untuk menghadiri konfersensi pemuda se-
Jawa di villa Isola Bandung. Menurut William H. Frederick,
tokoh-tokoh yang hadir dalam pertemuan tersebut termasuk
juga Djohan Sjahroezah, Soemarsono, Ruslan Widjajasastra,
Kusnadi, Margono, Susiswo, Bambang Kaslan, Asmanu dan
Krissubanu.ParapemudadiSurabayainikemudianmenunjuk
Ruslan Abdulgani sebagai pemimpin kelompok bawah tanah
yang bertugas menyebarkan propaganda ke seluruh pelosok
Surabaya.
Keterlibatan kelompok Djohan Sjahroezah di Surabaya dalam
mengantarkan Indonesia pada gerbang proklamasi juga
disebut oleh Soemarsono dalam bukunya tentang Surabaya.
Mantan Gubernur Jenderal Madiun 1948 ini menyatakan
sekitar 30 orang pemuda anggota kelompok Djohan
Sjahroezah juga turut berperan aktif dalam mengkondisikan
situasirevolusikemerdekaanIndonesiadenganmenyusupke
setiap sendi-sendi masyarakat di Jakarta. Namun pasca
proklamasi, Surabaya menjadi kawasan yang paling bergolak.
Rapat umum pertama pasca proklamasi terjadi pada tanggal
68

17 September 1945 di lapangan sepakbola Pasar Turi. Saat
itu, Djohan berhasil mengumpulkan kader-kadernya dari
serikat buruh minyak dan kaum muda sebagai bagian dari
unjukkekuatanbangsaIndonesia.
Salah satu insiden yang cukup menyita perhatian adalah apa
yangterjadidiHotelOranyeyangsebelumnyabernamaHotel
Yamato. Pada 31 Agustus 1945 Bung Karno mengeluarkan
maklumat untuk mengibarkan bendera merah putih di
seluruh Indonesia. Pada 19 September 1945, pihak Belanda
yang menyusup melalui Palang Merah Internasional dan di
tempatkan oleh Jepang di Hotel Yamato, mengibarkan
bendera Merah-Putih-Biru di atas hotel yang difungsikan
sebagai Bantuan Rehabilitasi untuk Tawanan Perang dan
Interniran. Pengibaran bendera Belanda ini memicu
kemarahankaummuda.Padamulanya,sekitar15orangyang
tergabung dalam Angkatan Muda Minyak Indonesia
mendatangi hotel Oranye. Massa yang awalnya hanya
belasan itu semakin bertambah hingga mencapai ratusan.
Insiden tidak dapat dihindari saat pihak Belanda tidak
berkenan menurunkan bendera tersebut. Massa berinisiatif
merobekbenderabirudanmeninggalkanwarnamerahputih
di atas hotel. Insiden bendera ini juga berujung pada
tewasnya W.V.Ch. Ploegman yang merupakan pimpinan dari
rombongan Belanda yang menyusup melalui Palang Merah
Internasionaltersebut.
Tidakberhentisampaidisitu,aksiunjukkekuatankaummuda
di Surabaya juga terjadi pada saat rapat raksasa di Lapangan
TambakSaripada21September1945.Hanyaduaharisetelah
kaum muda Jakarta mengadakan rapat raksasa di lapangan
Ikada, para pemimpin kaum muda di Surabaya juga turut
ambil bagian menunjukkan kekuatannya. Saat itu tak kurang
dari 150 ribu orang berkumpul demi mendengarkan pidato
69

darikaummuda.Dalamhalini,sepertibanyakdiungkapoleh
para pelaku gerakan saat itu, setiap peristiwa pasca
proklamasi di Surabaya baik insiden bendera maupun rapat
raksasa Tambak Sari tidak luput dari keterlibatan Djohan
sebagai organisator pemuda. Karena bagi golongan kaum
mudadiSurabaya,Djohanyangmemangkerapkeluarmasuk
kampung secara diam-diam untuk menyebarkan bibit
sosialisme,dianggapsebagaimentor.
Rapat di Tambaksari tidak hanya menjadi ajang unjuk
kekuatan, tapi juga kelahiran baru dari organisasi yang
menggabungkan unsur pemuda di Surabaya. Di bawah
pimpinan Soemarsono, yang menurut pengakuannya sendiri
adalah kader dari Djohan, secara resmi berdirilah Pemuda
Republik Indonesia (PRI), yang kemudian mewadahi
organisasi-organisasi pemuda di Surabaya seperti AMI yang
dibentuk oleh Jepang pada 1944. Tepat pada 23 September
1945, secara resmi AMI membubarkan diri untuk kemudian
melebur ke dalam PRI. Banyak dari anggota-anggota PRI ini
yang merupakan kader dari Djohan Sjahroezah. Kader-
kadernya memang sangat militan. Hal ini terbukti hanya
beberapa minggu pasca terbentuknya PRI, mereka dengan
gagahberanimempertahankansetiapjengkaltanahSurabaya
dari tangan Inggris. Serangkaian pertempuran demi
pertempuran di Surabaya ini menjadi ujian berat bagi kader-
kader muda didikan Djohan Sjahroezah. Djohan dan
kelompoknya juga bertanggungjawab atas pelucutan senjata
Jepangyangdigunakandalampertempuran.
Pada 27 Oktober 1945 menjadi awal dari serangkaian
pertempuranantararakyatSurabayadantentaraInggrisyang
sudah berpengalaman dalam Perang Dunia II. Faktanya,
pasukan Inggris kewalahan sebelum akhirnya Jenderal D.C.
HawthornmemintabantuanBungKarnountukmenghentikan
70

pertempuran. Meski sudah diambang kemenangan, para
pejuang di Surabaya tetap menuruti perintah Bung Karno
untuk mengadakan gencatan senjata. Hal ini penting untuk
menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki
pemimpinyangmendapatlegitimasidarimasyarakat.
Episode Surabaya memang akhirnya tidak berhenti sampai
disitu. Peristiwa tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby, yang
merupakan pemimpin tentara Inggris untuk wilayah Jawa
Timur pada 30 Oktober 1945, digunakan sebagai alasan oleh
tentara Inggris untuk kembali menggempur Surabaya.
Hasilnya pada 10 November 1945, pertempuran dahsyat pun
terjadi. Djohan bersama dengan kader-kadernya kembali
harusmengangkatsenjatauntukmempertahankanSurabaya.
Selain merupakan pemimpin politik, saat itu Djohan juga
pemimpin militer di Surabaya, yang mengatur penempatan
posisi dan strategi penempatan setiap kader secara tepat
sesuaidenganpotensisertakapasitasnya.
Pada awal November, Djohan sempat mengajak Tan Malaka
untuk berkunjung ke Surabaya. Antara mereka terjadi
kesepakatan bahwa Tan Malaka akan membantu Djohan
untukmendidikkader-kadernya,danolehkarenanya,Djohan
meminta Tan Malaka untuk tidak dulu muncul dalam arena
politiksebelummenyelesaikanpendidikankaderdiSurabaya.
Dengan demikian Tan Malaka sempat menyaksikan langsung
betapa heroiknya pemuda dan segala lapisan masyarakat
Surabayadalampeperangan,sebelumakhirnyadievakuasike
tempatyanglebihaman.
Pada saat Surabaya memanas, seorang kader muda Djohan
SjahroezahdiYogyakartayangbernamaDimjatiyangsaatitu
baru berumur 17 tahun, memimpin 10 ribu pasukan
melakukan long march dari Yogyakarta pasca kongres
pemuda 10 November 1945, menuju Surabaya. Aksi itu
71

dilakukan Dimjati atas perintah Djohan guna menyokong
perjuangandiSurabaya.
Keterlibatan Djohan di Surabaya bukan hanya dalam
pertempuran fisik semata. Lebih dari itu, Djohan lah yang
menyiapkanotot-ototrevolusidanmensinergikannyadengan
kondisisosialpolitiksaatitu.Djohantidakterburu-buruuntuk
meraih hasil dalam proses pengkaderan ini. Djohan
mematangkan kader-kadernya agar siap menyongsong
kemerdekaan. Pada pertempuran Surabaya yang begitu
mengesankan di mata dunia, Djohan telah memetik hasil
kerja kerasnya. Jika sebelumnya Djohan tidak menempa
kader-kadernya di Surabaya, belum tentu saat ini kita akan
mengenalSurabayasebagaikotapahlawan.

72

BABV
JatuhBangunRepublik
Walaupun dipandang belum sesuai dengan keinginan
kalangan revolusioner di Indonesia, namun proklamasi
kemerdekaan yang dibacakan oleh Bung Karno dan Bung
Hatta ternyata mendapat sambutan yang luar biasa dari
rakyat.KelompokSjahrirsendiri,kembalikeaktivitassebelum
proklamasi yaitu mengkonsolidasikan barisan mereka untuk
mempersiapkan diri terhadap setiap kemungkinan yang
terjadi. Djohan Sjahroezah memilih untuk beraktivitas di
Jakarta untuk terlibat dalam pembentukkan serikat pekerja
yang nantinya menjadi serikat buruh yang sangat populer
dengan nama SOBSI. Sementara kawan-kawannya yang lain
juga kembali pada kerja-kerja sejenis sebelum kemerdekaan.
Rudolf Mrazek dalam bukunya Sjahrir, Politik dan
pengasingan di Indonesia menulis “Teman abadi dan rekan
Sjahrir yang lain, Soedarsono, Soegra, Hamdani dan
Soegondo, berkeliling melalui daerah Jakarta-Cirebon-
Bandung untuk mempertahankan organisasi. Seorang
pemuda terkemuka di antara pengikut Sjahrir yang direkrut
selama perang, Subadio Sastrosatomo, meninggalkan Jakarta
menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur pada awal September
demikian diingatnya untuk memeriksa eksistensi dan bentuk
kelompokSjahrirdisana.”
Di kalangan pemuda dan mahasiswa, digelar sebuah
pertemuan di asrama Prapatan 10 yang dihadiri oleh Bung
Karno, Bung Hatta, dan juga Sjahrir. Para pemuda merasa
kecewa dengan sikap diam dan menunggu dari kedua
pimpinan Republik Indonesia. Suasana menjadi memanas
antara kalangan pemuda dengan para pemimpin sehingga
mereka dikurung oleh para pemuda. Setelah pertemuan itu,
73

Sjahrir ditawari untuk menjadi ketua KNIP yang kemudian
ditolakolehnya.
KNIP yang awalnya hanya sebagai lembaga pembantu
presiden yang berisi orang-orang dari berbagai golongan,
menuntut status yang lebih tinggi. Lewat petisi yang
ditandatangani oleh 40 anggotanya, KNIP menuntut pada
BungKarnoagarlembagatersebutharusdiposisikansebagai
lembaga legislatif dan para menteri kabinet harus terus
bertanggung jawab pada dewan legislatif bukan lagi pada
presiden. Petisi ini kemudian ditanggapi oleh Bung Hatta
sebagai wakil presiden dengan mengeluarkan Maklumat X
pada 16 Oktober 1945. Pindahnya kekuasaan Presiden
Soekarno ke tangan Sjahrir ini membuat sejumlah kalangan
beranggapan Maklumat Nomor X tak ubahnya usaha kudeta
yang halus. Tidak berdarah dan tidak bersuara. “The silent
coup," begitu tulis B.M. Diah dalam bukunya, “Butir-butir
Padi”. Diah adalah tokoh pemuda yang ketika itu
berseberangandenganSjahrir.
Dengan adanya Maklumat X pada 3 November 1945 yang
mendorong agar rakyat segera belajar berdemokrasi dan
membentuk partai menjadi pintu masuk bagi kerja sama
Sjahrir dan Amir untuk menjadi lebih erat. Seperti yang telah
disinggung sebelumnya, Amir mendirikan Partai Sosialis
Indonesia (Parsi) sementara Sjahrir bersama Djohan
Sjahroezah mendirikan Partai Rakyat Sosialis yang kemudian
bergabung menjadi Partai Sosialis, dengan Sjahrir sebagai
ketua umum. Selain menganggap ada kesamaan pandang,
sepertinya Sjahrir juga merasakan bahwa Amir sangat
membantunya dalam upaya merebut pemerintahan dari
golongantua.
Sebelumnya Sjahrir sempat menulis sebuah brosur berjudul
Perdjoeangan Kita yang berisi tentang pandangannya
74

terhadap kondisi Indonesia saat itu. Dalam tulisannya
tersebut, Sjahrir menuntut agar dilakukan mobilisasi semua
kekuatan revolusioner yang sadar politik, menjadi struktur
partai yang berdisiplin. Sjahrir juga menulis tentang peran
buruh pada revolusi yang akan datang. Tak pelak karya ini
dianggapsebagaipandanganyangmewakilikelompokSjahrir
yang akhirnya berkuasa di pemerintahan. Benedict Anderson
menulisbahwa“Perdjoeangankitaadalahsatu-satunyausaha
yang dilakukan selama tahun-tahun pascaperang untuk
menganalisis secara sistematis kekuatan domestik dan
internasional yang mempengaruhi Indonesia dan
memberikan perspektif yang masuk akal bagi gerakan
kemerdekaandimasadepan.”
Sementara Djohan Sjahroezah sendiri menurut Hazil Tanzil
adiknyaberkomentar:
“Ketika Perdjoeangan Kita dilihat oleh wartawan asing,
merekabertanyaapakahsebelumnyaiamembacabrosurMao
yang berjudul On New Democracy. Ia menganalisis revolusi
Indonesia dengan cara yang sama dan ia mencapai
kesimpulan yang sama tentang masalah revolusi nasional
dalam bekas negeri yang dijajah, seperti yang dilakukan
Presiden Partai Komunis di Yen An ketika ia menulis tentang
revolusi Cina dari tahun 1911 dan tentang gerakan tersebut
menurutperkembangannyakemudian.”

Kabinet Sjahrir bukannya tak memiliki hambatan, pada 1
Januari 1946, Atas prakarsa Tan Malaka, di Demak Idjo
Yogyakarta, diadakan rapat persiapan untuk membentuk
federasiyangkemudiandiberinama"PersatuanPerjuangan".
Federasi ini kemudian menggelar kongres pertamanya yang
diadakan 3—5 Januari 1946 di Purwokerto dan dihadiri oleh
138 organisasi rakyat. Dalam kongres ini Tan Malaka
berpidato yang intinya menekankan pentingnya persatuan
75

dan kemerdekaan 100 persen. Bagian terpenting dari
pidatonya itu ialah apa yang dikenal sebagai "Minimum
Program" yang terdiri dari tujuh pasal, yang terdiri dari
Berunding atas pengakuan kemerdekaan 100 persen;
Pemerintah Rakyat yang sesuai dengan dengan kemauan
rakyat; Tentara rakyat yang sesuai dengan kemauan rakyat ;
MelucutitentaraJepang;MengurusitawananbangsaJepang;
Menyita dan menyelenggarakan pertanian milik musuh;
Menyita dan menyelenggarakan perindustrian musuh
termasuk pabrik, bengkel, tambang dan lain-lain’. Program
minimum inilah yang kemudian dipaksakan untuk dijalankan
olehpemerintahanKabinetSjahrir.
Oleh Sjahrir tuntutan ini ditolak karena dianggap provokatif
yang bisa memancing agresi militer Belanda. Dan sejak
diserahitampukpemerintahansebagaiperdanamenteripada
14 November 1945 Sjahrir mengambil garis diplomasi.
Menurut dia, untuk mempertahankan kemerdekaan, yang
harus dilakukan Indonesia adalah menggelar perjanjian
denganBelandaagarmengakuiberdirinyaIndonesia.
Selain itu, bagi Sjahrir berjuang di meja perundingan punya
keuntungan politis memperoleh pengakuan kekuasaan de
facto.Sjahrirsangatpercayadirimenghadapioposisi,terlebih
dengan dukungan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden
Hatta berdiri di belakangnya. Sjahrir juga percaya diri karena
mendapatkan dukungan penuh dari Partai Sosialis, Partai
Buruh, PKI, dan Pesindo. Di luar KNIP Sjahrir tentu saja
mendapat dukungan tanpa reserve dari SOBSI yang lahir dari
SerikatBuruhMinyakyangdibentukolehDjohanSjahroezah.
DalampandanganSjahrir,gunamelawanBelandadanSekutu,
tidak lagi harus dengan bertumpu pada perjuangan
bersenjata, tapi harus melalui perjuangan diplomasi. Dengan
bertempur di meja perundingan, Sjahrir hendak menujukkan
76

kepada dunia internasional bahwa Indonesia adalah sebuah
negara. Sejarawan Rushdy Husein menilai langkah Sjahrir ini
sebagai sesuatu yang tepat, karena dengan demikian
eksistensi Indonesia sebagai sebuah negara telah diakui.
“Dengan kesediaan Belanda berunding dengan Indonesia,
maka secara tak langsung hal itu berarti mengakui eksistensi
Indonesiasebagaisebuahnegara.”
Sjahrir memang sukses membuat Pemerintah Indonesia
diakui dunia internasional. Dengan politik beras ke India,
misalnya, Sjahrir berhasil menunjukkan kepada dunia bahwa
Pemerintah Indonesia ada dan berjalan dengan baik,
sekaligus sebagai sebuah cara untuk membuka blokade
Belanda terhadap Jawa dan Madura. Begitu pula dengan
perjanjianLinggarjati,yangbagiSjahrirdankawan-kawannya,
merupakan proses likuidasi terhadap Hindia Belanda dan
kemungkinan hubungan internasional lebih lanjut untuk
menembus politik blokade dan isolasi Belanda terhadap
Republik Indonesia. Salah satu klausul penting yang
dimasukkan Sjahrir dalam perjanjian Linggarjati yang
ditandatangani pada 15 November 1946 adalah pasal
arbitrase, yang memungkinkan Indonesia mendatangkan
intervensi dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), ketika
agresiBelandayangdiprediksiakantibabenar-benarterjadi.
Pada Maret 1946, Persatuan Perjuangan (PP) hendak
mengadakanrapatakbardiMadiun.Denganmembawasurat
dari Amir, sejumlah utusan berangkat ke kota itu untuk
menangkap Tan Malaka yang kemudian dikenakan status
tahanan rumah. Tapi penangkapan Tan Malaka tak
menyurutkan langkah PP dalam pertentangannya terhadap
pemerintah. Mereka selalu memantau perundingan
Indonesia-Belanda yang diadakan di Linggarjati dan merasa
tidak puas dengan langkah Sjahrir yang menerima
77

perundingan tersebut. Ketidakpuasan ini kemudian berujung
pada penculikan Sjahrir yang saat itu tengah kembali dari
perjalananyameninjaurencanabantuanberasbagiIndiadan
bermalamdiSurakarta.
Menurut Rushdy Husein bisa jadi penculikan ini adalah
dampak dari ceramah Bung Hatta pada 26 Juni di Yogyakarta
saat merayakan Isra Mi’raj. Dalam pidato itu, Bung Hatta
sempat mengatakan perundingan sudah hampir final dengan
kesepakatanIndonesiasecaradefactodiakuisebagainegara.
Namun Belanda hanya mengakui secara de facto Sumatera,
Jawa,danMadurasebagaiwilayahRepublikIndonesia.Status
kenegaraan Indonesia juga berubah menjadi Republik
Indonesia Serikat dengan Republik Indonesia dan negara-
negara boneka buatan Belanda sebagai negara bagiannya.
Inilah langkah yang menurut PP sebagai perbuatan Sjahrir
yang keterlaluan karena telah menjual negara. Namun atas
dasar desakan Bung Karno sebagai presiden, akhirnya Sjahrir
dilepaskan. Ketika Sjahrir diculik, Pemerintah yang berkuasa
adalah kabinet presidensil karena Bung Karno menerbitkan
maklumat pemerintah No. 1 Tahun 1946 yang isinya
mengambil alih kekuasaan Pemerintah. Ketika maklumat ini
dicabut melalui maklumat Pemerintah No.2 Tahun 1946,
dibentuklah kabinet Sjahrir ke III (2 Oktober 1946 – 27 Juni
1947)

DariLinggarjatiHinggaRenville
Krisis yang berlanjut hingga ke Kabinet Sjahrir III ini semakin
menjadi-jadi.PartaibesarsepertiPNI,Masyumibahkansayap
kiri sendiri yang merupakan partai Sjahrir bersama Pesindo
menentangnya dengan keras. Orang yang menjadi kawan
seperjuangansejaklama,yaituAmirSjarifuddinikutmenolak
78

tindakan Sjahrir tersebut. Sjahrir tidak dapat berbuat lain.
Sesuai dengan asas dan etika demokrasi yang berlaku, pada
27 Juni 1947, Perdana menteri Sjahrir meletakkan jabatan
dan mengembalikan mandatnya kepada Presiden. Dengan
begitu, posisinya sebagai Perdana Menteri digantikan oleh
Amir Sjarifuddin dan anehnya, perundingan dengan Belanda
yangselamainidikritikjustrudilakukansendiriolehAmir.
Atas usulan Komisi Tiga Negara(KTN),atau Committee of
Good Offices for Indonesia, yang terdiri dariAmerika
Serikat,Australia, danBelgia, pada tanggal 8 Desember
1947—17 Januari 1948 dilaksanakan perundingan antara
Indonesia dan Belanda di atas kapal Renville yang sedang
berlabuh di Jakarta. Delegasi Indonesia terdiri atas perdana
menteriAmirSyarifuddin,AliSastroamijoyo,Dr.TjoaSikLen,
Moh. Roem, Haji Agus Salim, Narsun dan Ir. Juanda. Delegasi
Belanda terdiri dari Abdulkadir Widjojoatmojo, Jhr. Van
Vredeburgh, Dr. Soumukil, Pangeran Kartanagara dan
Zulkarnain. Ternyata wakil-wakil Belanda hampir semua
berasal dari bangsa Indonesia sendiri yang pro Belanda yang
nantinya menjadi penyokong Bijeenkomst voor Federaal
Overleg (BFO) sebagai wakil Belanda untuk RIS. Kesepakatan
ini disaksikan juga oleh United Nations Commission for
Indonesia(UNCI)sebagaiperwakilanPBB.
Konferensi Renville ini menghasilkan keputusan: Belanda
tetap berdaulat atas seluruh wilayah Indonesia sampai
kedaulatan Indonesia diserahkan kepada Republik Indonesia
Serikat yang segera terbentuk; Republik Indonesia Serikat
mempunyai kedudukan yang sejajar dengan negara Belanda
dalam uni Indonesia-Belanda; Republik Indonesia akan
menjadi negara bagian dari RIS; Sebelum RIS terbentuk,
Belanda dapat menyerahkan sebagian kekuasaannya kepada
79

pemerintahan federal sementara; Pasukan Republik
Indonesia yang berada di derah kantong harus ditarik ke
daerah Republik Indonesia. Daerah kantong adalah daerah
yangberadadibelakangGarisVanMook,yaknigarisimajiner
yang menghubungkan dua daerah terdepan yang diduduki
Belanda.
Apa yang disepakati pada Perjanjian Renville ini ternyata
justru lebih merugikan posisi Republik Indonesia jika
dibandingkan dengan Linggarjati. Amir Sjarifuddin
mendapatkan kritikan keras dari berbagai arah—dengan
militeryangpalingkerasbersuarakarenaharusmeninggalkan
kantong gerilya—yang membuat mayoritas menteri pada
kabinetnya mengundurkan diri sebagai bentuk protes. Apa
yang sebelumnya dirasakan oleh Sjahrir kini berbalik dialami
olehAmir,dihujatkarenamenandatanganiperjanjiandengan
Belanda.
Akhirnya Amir mundur dari posisinya sebagai perdana
menteri dan berharap Bung Karno sebagai presiden akan
kembali memberikan kesempatan bagi golongan kiri untuk
membentuk kabinet. Tapi sungguh jauh panggang dari api,
Bung Karno ternyata malah menunjuk wakilnya Bung Hatta
untuk membentuk kabinet baru yang diharapkan bisa
menjadikabinetpersatuan.BungHattaberusahamembentuk
kabinetkoalisidenganmerangkulsemuapartai.Golongankiri
menuntut empat kursi, termasuk jabatan Menteri
Pertahanan. Hatta tak mengabulkannya karena mendapat
tentangan dari Masyumi. Namun sebagai siasat, Bung Hatta
menawarkan satu pos menteri tidak strategis bagi golongan
kiri yang langsung ditolak oleh mereka. Akhirnya pada 31
Januari 1948, kabinet Hatta diumumkan. Dengan Bung Hatta
sendiri sebagai Perdana Menteri merangkap Menteri
Pertahanan. Kabinet ini didukung oleh Masyumi, PNI, Partai
80

Katolik, dan Parkindo. Satu-satunya anggota sayap kiri yang
duduk di kabinet adalah Supeno atas nama perseorangan
yang bukan mewakili golongan kiri. Dia menjabat Menteri
PembangunandanPemuda.
Tentu saja ini menyakitkan bagi golongan kiri yang berada di
Partai Sosialis yang didominasi oleh kelompok Amir. Mereka
mulai mengorganisir diri dan menetapkan akan menjadi
oposisi bagi Kabinet Bung Hatta. Namun barisan Sjahrir yang
masih berada di Partai Sosialis menyatakan mendukung
penuhpembentukanpemerintaholehBungHatta.Perbedaan
pandangan ini semakin meruncing sehingga mengakibatkan
perpecahan ditubuh Partai Sosialis. Sejak awal bersatunya
PartaiRakyatSosialisbentukanSjahrirdanDjohanSjahroezah
dengan Partai Sosialis Indonesia atau Parsi yang dibentuk
oleh Amir memang rentan perpecahan karena perbedaan
penafsiranakansosialisme.
RosihanAnwardalambukunyaPerjalananTerakhirPahlawan
Nasional Sutan Sjahrir, yang ditulis pada 1966, menyebutkan
bahwa Amir ingin Partai Sosialis menempuh garis Marxis-
Leninis-Stalinis dan meminta Indonesia memihak Moskow
(Soviet). Tapi Sjahrir berpendirian, Partai Sosialis harus
menempuh sosialis kerakyatan yang demokratis dan politik
luar negeri yang bebas aktif. Sjahrir dan segenap formatur
Paras kemudian menyatakan diri keluar dari Partai Sosialis
dan membentuk Partai Sosialis Indonesia, yang pernyataan
sikapnyadibacakanolehDjohanSjahroezahdalamkongresdi
Madiun pada bulan Februari 1948. Sementara Amir dengan
para pendukungnya belakangan malah bergabung dalam
Front Demokrasi Rakyat (FDR). FDR merupakan gabungan
partai dan organisasi sayap kiri: Partai Sosialis (PS), PKI,
Pesindo, Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI)
yangberhasildikooptasigolongankomunis,danBTI.
81

PemberontakanMadiun
Sebuah pidato yang berapi-api membangunkan Madiun yang
masihsetengahterlelap.SuaraKetuaBadanKongresPemuda
Republik Indonesia, Soemarsono terdengar jelas menyatakan
lewat Stasiun Pemancar Radio Gelora Pemuda dan Radio
Republik Indonesia bahwa Madiun telah bangkit dan revolusi
sudah dikobarkan, kaum buruh telah melucuti polisi dan
tentara Republik, pemerintahan buruh dan tani yang baru
sudah dibentuk. Pidato yang digambarkan oleh media massa
nasional ini menjadi semacam pengumuman pada dunia
bahwa di Madiun telah terjadi pengambil alihan kekuasaan
dari Pemerintah Pusat oleh apa yang disebut Front Nasional
DaerahMadiun.
Namun Soemarsono dalam bukunya Revolusi Agustus
menolak jika dikatakan Peristiwa madiun adalah sebuah
pemberontakan.“Tidakadakitamembentukpemerintah,lalu
apalagi merebut kekuasaan. Sama sekali tidak! Kita
menangkis saja. Pelucutan itu dilakukan terbatas pada yang
menculik. Karena yang menculik bersenjata, mesti dilucuti
senjatanyasupayayangdiculikbisadibebaskan.”
Soemarsono juga mengakui bahwa perintah pelucutan
senjata adalah perintah Musso dan Amir Sjarifuddin yang
mendapat laporan tentang aksi penculikan yang terjadi di
Madiun. Namun setelah aksi tersebut tak ada satupun
pejabat Madiun yang berani melaporkannya ke Yogyakarta.
Antara petinggi militer PKI yang berkedudukan di Madiun
dengan pejabat daerah saling melempar siapa yang harus
melaporkannya ke Pemerintah Pusat. Yang militer merasa
tidak berkewajiban karena bukan orang pemerintahan,
sementaraparapejabatsipilsemuaberhalangan,baikkarena
sakitmaupuntidakadaditempat.
82

Baru kemudian Supardi, wakil wali kota yang baru saja
diangkat menyatakan kesanggupannya melaporkan apa yang
terjadi lewat telegram. Supardi memberitahukan pemerintah
bahwaBrigade29Madiuntelahmelakukanpelucutansenjata
atas Batalion Siliwangi dan Mobrig. Selain itu Supardi juga
menyampaikan bahwa untuk sementara pimpinan
pemerintahan daerah di bawah kendalinya, karena kepala
daerah sedang tidak ada di tempat. Yogyakarta menjawab
telegramyangdikirimkanolehSupardidenganmenggunakan
corong Radio Republik Indonesia. Dengan gayanya yang
bersemangat dan berapi-api, Bung Karno mengabarkan pada
rakyat Indonesia bahwa telah terjadi upaya kup oleh PKI di
Madiun. Dia memberikan dua pilihan kepada rakyat: ikut
MussodenganPKIatauikutSukarno-Hatta.
Tak lama berselang pidato Bung Karno dibalas oleh Musso
dengan pidato di Radio Gelora Pemuda yang menyatakan
Sukarno-Hatta hendak menjual Indonesia kepada imperialis
Amerika. "Oleh karena itu, rakyat Madiun dan juga daerah-
daerahlainakanmelepaskandiridaribudak-budakimperialis
itu,"katanya.Mussomencurigaiadanyakesepakatanpada21
Juli 1948, dalam pertemuan rahasia antara pihak Indonesia
yang diwakili oleh Bung Hatta, Natsir, Mohammad Roem,
Soekiman,danSoekantodenganpihakAmerikayangdiwakili
oleh Merle Cochran dan Gerald Hopkins di Sarangan Jawa
Timur. Menurut Musso, pemerintah Indonesia menghendaki
tersingkirnya golongan komunis dari republik yang ikut
didirikanolehgolongantersebut.
Lewat gelombang radio yang sama Musso mengumumkan
terbentuknya Front Nasional Daerah Madiun. Para pejabat
pemerintah, dari bupati sampai lurah yang pro pemerintah,
digantikan kader PKI. Pimpinan PKI yang baru kembali dari
Moskow ini melantik Soemarsono sebagai gubernur militer
83

danKolonelDjokoSoedjonomenjadikomandanpasukanPKI.
Alasannya, pemerintahan baru ini dibentuk untuk melawan
kekuatanmiliter.
Beberapa kalangan menduga bahwa Peristiwa madiun ini
terkait dengan dilikuidasinya pemerintahan Amir Sjarifuddin
karenamenandatanganiperjanjianRenville.Amirsendirisaat
menjabat sebagai Menteri Pertahanan kerap melakukan
kebijakan yang pilih kasih terhadap pasukan tentara dan
kelasykaranyangada.BahkanmenurutMaroetoNitimihardjo
“Amir bahkan semakin lama semakin kuat. Dia dapat
mengkordinir kekuatan militernya karena terus menerus
dipersenjatainya secara langsung. Senjata yang diperoleh
hanya dibagikan pada kelompoknya saja, sementara
kelompok lain harus bersusah payah mencari senjatanya
sendiri,” seperti yang ditulis oleh anaknya Hadidjojo pada
bukuAyahkuMaroetoNitimihardjo.
Bung Hatta mengecam tindakan Musso. Dalam pidatonya di
depan Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat pada
20 September 1949, dia mengatakan gerakan PKI itu sebagai
upayamerobohkanpemerintahanRepublikIndonesiadengan
kudeta. Kendati akhirnya PKI meminta perdamaian dengan
PemerintahPusatdiYogyakartadanmenyatakanbahwatidak
pernah ada pemberontakan oleh PKI di Madiun. Sayangnya
langkah ini terlambat, Bung Karno telah meminta Panglima
Besar Jenderal Sudirman merebut kembali Madiun dan
menumpaspergerakanPKIyangadadisana.
NamunPKItakpernahmaumengakuijikamerekamelakukan
perebutan kekuasaan. Alih-alih mengaku, PKI justru
menuding Bung Hatta memprovokasi dengan tujuan
timbulnya reaksi keras PKI akibat kesepakatan dengan
Amerika Serikat yang menghasilkan apa yang kemudian
disebut-sebutsebagaiRedDriveProposalyangberisiskenario
84

penyingkiran kaum merah. Tapi yang pasti, entah
diperhitungkan atau tidak, langkah tarik mundur pendukung
Sjahrir yang dimotori oleh Djohan Sjahroezah dari Partai
Sosialis menghindarkan kelompok Sjahrir dari kancah
PeristiwaMadiun,yangmempertaruhkankepentinganrakyat,
bangsadannegara.

85

BABVI
PorosRevolusiYogyakarta
Pada masa pendudukan Jepang, kaum muda menjadi
katalisator atas golongan tua yang dianggap terlalu lembek.
Bermula dari kelompok kecil golongan terpelajar, mereka
mengorganisir diri, menyemai ideologi, mengatur strategi
serta mencari mentor untuk mempersiapkan kemerdekaan
Indonesia. Kantung-kantung intelektual kaum muda ini tidak
hanya terdapat di Batavia saja. Dalam kelompok yang besar,
mereka saling terhubung dengan para pemuda lain dari
berbagai daerah. Djohan Sjahroezah memegang peranan
pentingdalammenghubungkankaummudaini.
Di Surabaya, Djohan yang dikenal akibat aktivitasnya di
serikat buruh di Cepu dan Wonokromo, cukup mempunyai
nama. Pada masa pendudukan Jepang, Djohan yang saat itu
berusia 30 tahun-an bergerilya mencari orang-orang dengan
usia 20 tahun-an dari kalangan terpelajar. Mereka memang
tidak membentuk organisasi secara formal. Mereka
menyadari pukulan Jepang akan sangat telak jika mereka
tidak bergerak secara hati-hati. Sebaliknya, kelompok Djohan
Sjahroezah ini bergerak klandestin untuk mendidik kader
serta membangun jaringan dengan kaum muda dari
kelompok lain. Di Semarang, Djohan memiliki seorang kader
yangbernamaM.L.TobingyangberasaldariBandung.Tobing
di Semarang bertugas untuk memonitor dan memanfaatkan
jawatan Telekomunikasi Jepang. Lewat tangan Tobing inilah
Djohan merawat kelompok-kelompok diskusi di kawasan
JawaTengahdanYogyakarta.
Dalam proses kebangsaan Indonesia, Yogyakarta memainkan
peranan yang sangat krusial. Sebelum kemerdekaan
Indonesia, Yogyakarta sebenarnya merupakan negara
86

merdeka. Pada masa kolonial Belanda, Yogyakarta terutama
keraton menjadi daerah yang aman. Kedekatan Sri Sultan
Hamengkubuwono IX dengan Ratu Belanda membuat
Yogyakarta menjadi kawasan netral. Kisah kedekatan mereka
mulaiterjalinsaatSultanIXmenempuhpendidikandiLeiden,
Belanda. Konon, hubungan antara Sultan IX dan Ratu Juliana
inilahyangmembuatBelandaengganmengutak-atikkeraton.
Kondisi ini menumbuhkan iklim yang memungkinkan
tumbuhnyagerakan-gerakanperjuangan.
Proklamasi Indonesia pada 17 Agustus 1945 langsung
disambutolehKeratonYogyakarta.PernyataanSultanIXpada
5 September 1945 bahwa Yogyakarta memilih untuk
menggabungkan diri ke dalam pemerintahan Republik
Indonesia, disambut dengan antusias oleh masyarakat.
Pernyataan ini kemudian juga diikuti oleh Sri Paku Alam VII.
Integrasi kedaulatan Yogyakarta di bawah pemerintahan
Republik Indonesia tidak hanya sebatas ucapan semata. Sri
SultanIXsebagaiseorangnegarawanmemilikijasayangtidak
sedikit terhadap perkembangan Indonesia. Tak heran jika di
kemudian Yogyakarta dipilih sebagai ibukota republik pada
periode 4 Januari 1946—27 Desember 1949. Kontribusi
Sultan IX yang paling nyata adalah saat Sultan menjadi
sutradara serangan umum 1 Maret 1949. Tak hanya itu,
SultanIXjugakemudianmenjadiwakilpresidenIndonesia.
Sebagaiibukotarepublik,Yogyakartamenjadimercusuarbagi
para pemuda di seluruh Indonesia untuk turut membangun
negeri yang baru merdeka. Dengan demikan, Yogyakarta
menjadisangatterbukabagisetiapkalangan,terutamakaum
republiken. Sultan bahkan menyediakan tempat khusus di
Sagansebagaitempatbagikaumrepubliken.Atasdasaritulah
Djohan Sjahroezah kemudian juga memindahkan gerak
87

juangnya ke wilayah Yogyakarta pada Januari 1946, dan
tinggaldikawasanSagan.

Pathuk,KelompokRevolusioner
Salah satu kelompok pemuda yang cukup progresif di luar
lingkaran Batavia adalah apa yang terbangun di Yogyakarta.
Kelompok kecil yang muncul dari lingkaran asrama
pemondokan di kawasan Pathuk Yogyakarta ini pada
perkembangan selanjutnya memainkan peran yang cukup
signifikan.KelompokPathukdigerakkanolehtigaorangtokoh
meskipun dalam perjalanannya orang bisa keluar masuk
dengan bebas. Ketiga orang itu adalah M.L. Tobing, Dayino
dan Roesli si pelukis. Selain itu ada nama-nama seperti
Koesoemo Soendjojo, Dimjati, Muhamad Tauchid, Umar Joy
dan Soemartojo. Djohan Sjahroezah yang mengkader dan
menjadimentorbagiparapemudatersebut.
Hubungan antara kelompok Pathuk dengan Djohan sudah
dimulai sejak Djohan masih berada di Surabaya. Pada masa-
masa sebelum proklamasi, murid-murid SMA Taman Siswa
Yogyakarta yang merupakan embrio dari kelompok Pathuk,
seringberkunjungkeSurabayauntukbertukarpikirandengan
kelompok Djohan di Maspati. Nama-nama seperti Dimjati,
Dayino, Moenir dan Moersiam sering muncul dan menjadi
kader dari Djohan. Mereka biasanya berkumpul di rumah
Sidik di Kebangsren Gang III. Sidik sendiri merupakan bagian
dari kelompok Djohan yang sangat loyal terhadap Sjahrir.
Sidik lah yang menyuplai perbekalan bagi para pejuang
Surabaya serta pelarian PETA pasca pemberontakan di Blitar.
Sidik tewas di Hotel Yamato setelah berhasil mencekik mati
W.V.ChPloegman,padainsidenbenderaSeptember1945.
88

Orang-orang yang berkecimpung dalam lingkaran kelompok
Pathuk adalah orang-orang yang istimewa. Koesoemo
Soendjojo—pemilikrumahpemondokanyangdigunakanoleh
kelompokPathuk,dikenaldekatdenganSoeharto.Padamasa
tuanya, Soendjojo menjadi penasehat spiritual Soeharto.
Orang yang dekat dengan Soeharto bukan hanya Soendjojo.
Roesli si pelukis juga salah satu orang yang dihormati oleh
Soeharto. Pada masa orde baru, Roesli mendapatkan akses
khusus ke Cendana sehingga bisa menemui Soeharto dengan
mudah melalui pintu belakang. Museum Roesli di Yogyakarta
yangdibangunolehSoehartomenjadibuktitakterbantahkan
soal kedekatannya dengan Soeharto. Meskipun dekat secara
personal, Roesli tidak mendukung pemerintahan orde baru.
Sikap politiknya terbukti saat ia memilih untuk tidur di
emperan toko meskipun diberikan fasilitas museum oleh
Soeharto. Sementara itu, Muhamad Tauchid dikenal sebagai
tokohpendiriBarisanTaniIndonesia(BTI).
Menurut Dayino, kelompok Pathuk mulai aktif beraktivitas
padatahun1943diJalanPurwangganYogyakarta.
“Jaringan ini dimaksudkan untuk mendidik kesadaran
nasional dan memberi pengertian bahwa kita harus merebut
kemerdekaan.Karenaitu,dibutuhkananak-anakmudauntuk
melakukannya. Ya, dalam rangka itulah Kelompok Pathuk
terbentuk. Kegiatannya adalah diskusi-diskusi untuk
melakukan penyadaran-penyadaran serta membentuk
jaringan di semua sektor. Makanya, Kelompok Pathuk punya
jaringan sampai ke Telkom, PLN, para sopir dan montir yang
bekerja pada Jepang. Bahkan punya jaringan khusus dengan
pasukanPeta(PembelaTanahAir)”,ujarDayino.
Dengankomposisiorang-orangberkualitassepertidiatas,tak
heran jika kelompok Pathuk ini menjadi tempat orang
mencari informasi dan berkumpul dalam rangka perjuangan.
89

Sebenarnya kelompok Pathuk bisa dirunut menjadi dua fase.
Pertama adalah fase gerilya. Fase ini berlangsung sejak masa
pendudukan Jepang hingga masa-masa revolusi fisik sampai
KMB pada 1949. Pada fase ini, kelompok Pathuk memainkan
peran yang sangat signifikan. Tidak hanya karena ikut terjun
langsung dalam perang fisik, kelompok Pathuk juga
mengambil peran dalam mendukung militer
mempertahankan republik. Salah satu kontribusi utama
kelompok ini dari segi persenjataan. Banyak dari anggota
kelompokPathukyangmerupakanpelajardiInstitutTeknikdi
Yogyakarta. Para pelajar teknik ini dikenal dengan
kemampuannya merakit dan mereparasi senjata. Dengan
demikian, kelompok Pathuk-lah yang menyuplai senjata-
senjata kepada tentara. Institut teknik ini sendiri dibentuk
oleh Belanda dalam rangka menyuplai kebutuhan teknisi
keretaapi.Tidakhanyamenyuplaisenjata,SultanIXyangsaat
itu sangat dekat dengan Djohan Sjahroezah—hingga bisa
dibilang sahabat karib, memberikan akses khusus ke Istana.
Halinimenjadisangatpentingsebabkeratonsaatitumenjadi
satu-satunya zona aman tempat berlindungnya para
gerilyawan.
Sebagai bagian dari aksi untuk menyambut kemerdekaan,
kelompok Pathuk berencana untuk melucuti senjata Jepang.
Meskipun sudah kalah perang, tentara masih melakukan
aktivitasnya. Pada 5 Oktober 1945, kelompok Pathuk
mengadakan rapat untuk merencanakan aksi pelucutan
senjata. Jika perundingan untuk melucuti senjata tidak bisa
berlangsung secara damai, mereka akan merampas senjata-
senjata tersebut dengan paksa. Perundingan memang
akhirnya gagal, yang membuat kelompok Pathuk bersama
para pemuda Yogyakarta melakukan penyerbuan ke markas
JepangdiKotabarupada7Oktober1945.
90

Untuk mendukung rencana tersebut, kelompok Pathuk
melakukan sabotase dengan memutus aliran listrik dan
teleponKotabaru.Merekajugamengawasiperjalanankereta
api dan bila perlu menghentikannya di luar kota, untuk
mencegah datangnya bantuan Jepang. Penyerbuan ini
menghasilkan kemenangan gilang gemilang. Ratusan senjata
dapat diambil alih oleh kelompok pemuda yang selanjutnya
digunakanuntukmenyokongrevolusi.
Tentang peranan penting kelompok Pathuk ini, Abu Bakar
Loebisdalammemoarnyamencatat,
Selama tinggal di Pathuk, dapat saya saksikan dengan mata
kepala sendiri, betapa luasnya hubungan yang telah dijalin
oleh Soendjojo dan kawan-kawannya di daerah Yogya
khususnya dan Jawa Tengah umumnya. Boleh dikatakan
hampir semua tokoh perjuangan di Yogya mempunyai
hubungan dengan Pathuk, dan boleh dikatakan tidak ada
tokoh pemuda dari luar Yogya yang datang kesana untuk
tugas perjuangan kemerdekaan yang tidak singgah di
Pathuk, untuk diskusi mengenai masalah perjuangan yang
dihadapi langsung sehari-hari, atau mengenai strategi
perjuangan jangka panjang, atau meminta petunjuk untuk
menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi dan juga
untukmemintaperbekalan
.
Di bawah asuhan Djohan Sjahroezah, kelompok Pathuk
banyak membangun jaringan dengan kaum muda dari
berbagai daerah dan jawatan. Di Yogya misalnya, kelompok
ini menginfiltrasi jawatan telekomunikasi dan telegraf
dibawah pimpinan Sayogyo. Begitu pula di Semarang, Tobing
menjalin hubungan erat dengan Haji Abdulkadir, yang
merupakan kepala kantor telepon dan telekomunikasi.
Dengan turut menguasai jalur-jalur penting telekomunikasi,
91

kelompok Pathuk bisa mengatur informasi dari Sjahrir ke
DjohanSjahroezahatausebaliknya.
SatulagikontribusipentingkelompokPathukadalahperanan
yangdimainkanOemiyah—istriDayinoyangdinikahinyapada
1950—sebagai ahli telegraf dan steno. Sebuah kemampuan
yang sangat langka saat itu. Oemiyah, yang merupakan
keturunan Arab pedagang, mendapatkan fasilitas pendidikan
yang cukup. Ia juga fasih berbahasa Belanda. Pada saat
pendudukan Jepang, Oemiyah memilih bekerja di kantor Pos
Telepon dan Telegram (PTT), sekaligus menjadi pemimpin
serikat buruh perempuan di Yogyakarta. Keahliannya dalam
stenografi dan telegraf membuat Oemiyah mendapatkan
tugas berat untuk menyadap berita-berita penting yang di
kirimJepangataupunBelanda.
Kisah perjuangan Oemiyah terekam pada satu peristiwa
pascaproklamasi. Pada 1946, dua orang wanita muda,
Ngasiah dan Oemiyah naik ke atap Gedung Negara di
Yogyakarta untuk menurunkan Hinomaru Jepang dan
menggantinya dengan bendera merah putih. Sementara itu,
di seberang jalan sudah bersiap pasukan Jepang lengkap
dengan senjata mereka. Menurut cerita Ita Fatia Nadia yang
merupakan anak dari Dayino dan Oemiyah, ibunya juga
pernahhampirtertangkapBelandaketikamenjalankantugas
menyadap berita-berita penting. Saat itu, Yogyakarta yang
menjadi Ibukota Indonesia diduduki oleh pasukan Belanda.
Oemiyahdanseorangkaderlainnyadalamperjalananpulang
dari Imogiri untuk menyampaikan pesan-pesan rahasia.
Meskipun akhirnya berhasil lolos, kawan Oemiyah justru
gugur di tembak Belanda di Jalan Wirogunan yang sekarang
menjadijalanTamanSiswa.
Pada fase gerilya, banyak petinggi militer yang lahir dari
Pathuk ataupun sering berhubungan dengan Pathuk. Mereka
92

diantaranya Cokropranolo dan Soeharto. Yang disebut
terakhirsebenarnyatidakmemilikihubunganintensifdengan
kelompok Pathuk. Seringnya Soeharto berkunjung ke Pathuk
bukankarenahubunganideologis.Menurutberbagaisumber,
selain karena ingin mengetahui informasi-informasi terbaru
dariparagerilyawanPathuk,motifSoehartosebenarnyajuga
karena persoalan asmara. Saat itu, Soeharto diketahui
menaruh hati kepada kakak Oemiyah yang bernama Ainul.
Dengan demikian dapat dipahami jika di kemudian hari
SoehartodikenalsangatdekatdengankelompokPathuk.
Pasca kemerdekaan Indonesia, Pathuk menjadi kelompok
pertama yang mengibarkan bendera Merah Putih di
Yogyakarta serta menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kegiatan
seperti ini di Yogya saat itu masih sangat berbahaya.
Meskipun sudah kalah perang, Kempetai masih tetap
berpatroli. Pengibaran bendera Merah Putih sekaligus
berkumandangnya lagu Indonesia Raya bisa memicu
perselisihandenganpolisiJepang.Meskipunbegitu,upayaini
tetapdilakukankarenaSoehartosebagaikomandanbatalyon
saat itu, sudah berjanji untuk melindungi upacara itu dari
gangguanpolisiJepang.
Pada masa-masa revolusi fisik pasca perjanjian Linggarjati,
Pathuk juga mengambil peran penting. Saat itu Tobing yang
memang sering bergerilya di sekitar Jawa Tengah dan Yogya,
ditugaskan menjadi navigator pasukan Siliwangi yang hendak
memasuki Yogyakarta lewat utara. Dengan pengalamannya
keliling daerah, Tobing sangat mahir dalam mencari jalan
yang aman untuk memasuki Yogyakarta. Dengan demikian,
dapat dipahami kemudian kelompok Pathuk ini menjadi
simpulpergerakankaummudadiYogyadanJawaTengah.
Fase kedua adalah fase ideologis. Pada fase ini, kegiatan
gerilya dan militer mulai berkurang. Yang banyak dihelat
93

adalah diskusi-diskusi seputar ideologi dan perkembangan
terkini. Fase inilah yang memunculkan tokoh-tokoh seperti
Aidit dan Sjam Kamaruzaman. Sjam yang tercatat sebagai
anggota pertama dalam pendidikan kader PSI, dikemudian
hari menjadi tokoh kontroversial dalam gerakan 30
September1965,sertamenjadianggotaBiroChususPKIyang
tidakkalahkontroversialnya.
Mulai awal 1950-an, kelompok Pathuk mulai bertransformasi
menjadi bagian dari PSI. Jika sebelumnya kelompok Pathuk
lebih bersifat cair sehingga orang bisa keluar masuk dengan
mudah, Pathuk mulai tercatat sebagai kantung PSI yang
cukup progresif. Rumah yang dulunya dijadikan markas
kelompok Pathuk mulai digunakan sebagai markas PSI. Di
Pathukini,peranDjohanSjahroezahadalahsebagaipengatur
strategi dan pemberi muatan ideologis bagi aktivitas
kelompok tersebut. Walaupun Djohan hampir tidak pernah
berada di Pathuk, namun Djohan berada di belakang setipa
program kelompok tersebut. Dayino yang kemudian menjadi
pemimpin kelompok ini merupakan kader sekaligus kawan
karibdariDjohanSjahroezah.
Di kemudian hari, anggota kelompok Pathuk memang
berdiaspora dan bergabung di PSI ataupun PKI. Kelompok
Pathuk juga menjadi simpul terkuat dari jaringan bawah
tanah Djohan. Mereka banyak mengkaji buku-buku Marx,
Adam Smith, Machievieli, Gandhi, Lenin dan sebagainya—
yang membuat mereka juga sering disebut dengan nama
Marx House. Dalam pergerakannya, kelompok Pathuk ini
sangatmilitandalamberjuang.Paraanggotanyasadarbahwa
mereka memiliki resiko yang tidak kecil. Oleh karena itu,
mereka selalu membawa racun sianida kemana pun mereka
pergi. Racun ini akan diminum jika suatu saat mereka
ditangkapolehpihakberwenang.
94

GodfatherPathuk
Seperti halnya saat di Surabaya, Djohan Sjahroezah juga
menjadi poros para pejuang ketika menetap di Yogyakarta.
Rumahnya di Jalan Sagan sering dikunjungi oleh orang-orang
baikdariYogya,maupundariluardaerah.Sebagaibagiandari
kaum republiken, Djohan banyak membina kader-kader
muda. Kegiatan ini membuatnya dekat dengan Sultan IX.
KisahkedekatanSultanIXdengankeluargaDjohanSjahroezah
initercermindarifaktabahwakeluargaDjohanmenjadisatu-
satunya orang di luar lingkungan keraton yang memiliki
sertifikat hak milih tanah di Sagan. Sagan yang merupakan
kawasan istana sesungguhnya hanya diperuntukkan bagi
kalanganistana.Saatitu,pascakematianDjohan,Yoyetdiajak
oleh Dayino untuk menemui Sultan. Dalam pertemuan yang
lebih bersifat kekeluargaan tersebut Yoyet berujar dengan
nadabercanda:
“Ketika kalian pergi bergerilya meninggalkan Yogya, akulah
yang menjaga Yogya. Sementara aku sendiri tidak punya
tanahdiYogya”
Mendengar hal itu, secara spontan Sultan langsung
mengambil kertas kecil dan memberikan catatan bahwa
rumah di jalan Sagan boleh dimiliki oleh keluarga Djohan
Sjahroezah. Saat itulah untuk pertama kalinya dalam sejarah
keraton Yogyakarta, Sultan Hamengkubuwono IX
mengadakan transaksi jual beli tanah di Sagan dengan orang
diluarlingkungankeraton.
Di Yogyakarta, tokoh-tokoh Pathuk seperti Dayino, Roesli,
DimjatimaupunTobing-lahsecararutinberkunjungkerumah
Djohan di Sagan. Strategi dan taktis yang dibahas di Sagan
itulahyangkemudiandiimplementasiolehKelompokPathuk.
Diantara kader-kader pemuda Pathuk, nama Dayino di
95

kemudianharimenjadisangatlegendaris.Iadianggapsebagai
godfather kelompok ini. Dayino pada akhirnya memang
menjadi politbiro PSI. Setelah menikah dengan Oemiyah,
mereka justru semakin aktif berjuang. Di bawah arahan
Djohan Sjahroezah, pasangan ini bahu-membahu mendidik
rakyat dengan menjadi mentor bagi anak-anak muda yang
berminatpadasosialisme.
AktivitasDayinoinidirekamolehItaFathiayangmenulis:
Ketikalibursekolah,akuikutbapakkeBrebes,sebuahkotadi
Pantai Utara Jawa Tengah. Di Brebes setiap hari bapak
“rapat”(istilahku)denganbanyakorang.Akutidaktahudari
mana saja mereka itu berasal. Tapi aku masih ingat, bapak
akan bicara tentang Marx, tentang kaum tani, nelayan dan
tentang persatuan rakyat. Dua hari di Brebes, kami
berpindahkeGarut,JawaBarat.
Pada awal 1950-an, kelompok Pathuk sebagai sebuah entitas
memangsudahbubar.Sifatnyayangcairberhentibegitusaja
ketika orang-orang tidak lagi keluar masuk dalam kelompok
ini. Namun, secara personal orang-orang yang aktif dalam
kelompok Pathuk masih terus berjuang. Dayino, Dimjati,
Tobing, Roesli, Tauhid dan tokoh-tokoh lainnya yang pernah
mengeyam “pendidikan” di Pathuk tidak kehilangan
militansinya untuk melawan segala penindasan. Dengan
peranannya yang sangat penting pada era Jepang hingga
pasca kemerdekaan, Pathuk sebagai sebuah entitas layak
mendapat sorotan. Kelompok Pathuk menjadi katalisatator
perjuangan serta penyemai ideologi dalam menghasilkan
kader-kader berkualitas. Pathuk menjadi bagian yang setara
dengan pusat-pusat studi yang berperan aktif dalam mencari
bentukkebangsaanIndonesia.

96

BABVII
KonsistensiKerakyatan
Berbicara tentang konsepsi Sosialisme Kerakyatan yang
menjadi ideologi dari PSI, tentu tak lepas dari dialektika
sejarah dari mereka yang terlibat dalam Pendidikan Nasional
Indonesia yang kemudian juga menjadi pendiri Paras, dan
mendirikan PSI setelah pecah kongsi dengan golongan Amir
Sjarifuddin. Bulan madu kedua Partai Sosialis ini berjalan
cukuppanjangselamamasakepemimpinanSjahrirdikabinet
hingga jatuhnya kabinet Sjahrir yang ke III sebagai efek dari
penandatanganan Perjanjian Linggarjati. Ketika Sjahrir
mengambil pilihan untuk berunding dengan Belanda sebagai
strategi melawan penjajahan dengan cara dialogis, ternyata
kritik terbesar dan terpedas justru muncul dari rekan-rekan
separtainyadiPartaiSosialis.
Kritik ini berasal dari anggota Partai Sosialis yang memiliki
latar belakang komunis seperti Setiadjit, Abdul Madjid dan
Tan Ling Djie yang menganggap Sjahrir telah memberikan
banyak konsensi oleh pihak Belanda sehingga partai menarik
dukungannya. Ketiga rekan separtai ini sesungguhnya
berhaluan komunis dan mengambil manfaat dari nama
sosialis karena dalam perjalannya, golongan komunis sering
mengalami penindasan. Abu Hanifah menulis dalam
artikelnya Revolusi Memakan Anak Sendiri: Tragedi Amir
SjarifuddinyangdimuatdiMajalahPrismaJuli1977.
“Setiadjit, Abdul Madjid dan Tan Ling Djie dari Sosialis
mengakui, bahwa mereka memang telah lama menjadi
komunis. Setiadjit dan Abdul Madjid sejak tahun 1936 ketika
mereka masih memimpin PI di negeri Belanda, sedangkan
Tan Ling Djie adalah mahasiswa Institute Lenin dan anggota
PKIIlegalMusso.Jadikartu-kartupunmulaiterbuka.”
97

Setiadjit dan Abdul Madjid sendiri telah tercatat sebagai
anggota rahasia dari Partai Komunis Belanda. Mereka
kemudianmemunculkancitrabahwasejatinyamerekaadalah
NasionalisModerat.Kepulangankeduaoranginiketanahair
mendapat bantuan dari Belanda dengan harapan membawa
pengaruhyangmoderatdikalangantokohpolitikIndonesia.
Menurut Abu Hanifah, Amir sendiri mengakui bahwa dirinya
adalahseorangStalinis,bahkanpada9September1948,Amir
mengumumkan kritik diri yang berisi pengakuan salah atas
langkahnya yang bekerja sama dengan kalangan kolonial.
“Sebagaikomunissayaakuikesalahansaya,dansayaberjanji
tidak akan membikin kesalahan lagi. Saya menerima 25 ribu
gulden dari Belanda sebelum pendudukan Jepang, buat
menjalankan gerakan-gerakan bawah tanah. Tetapi saya
terima uang itu karena Comintern (Communist-
internationale)mengusulkansupayakitabekerjasamadengan
kekuatankolonialdalamsatufrontmelawanFasisme.”
Amir juga menyatakan bahwa setelah perang dunia kedua
berakhir, tidak ada alasan lagi buat bekerja sama dengan
kaum kolonialis. Kaum komunis sekarang tidak memerlukan
lagi kerjasama dengan kaum kapitalis. Jelas ini sebuah
pandangan yang berbeda dengan apa yang diyakini oleh
Sjahrir dan lingkarannya yang kemudian menjadi PSI. Amir
secara dogmatis memahami bahwa untuk mencapai
kemenangan maka revolusi Indonesia harus melewati fase
perang kelas. Sementara Sjahrir berpendapat, bahwa perang
kelas tidak dapat diterapkan di Indonesia, sebab Indonesia
belummemilikikelasborjuis.BorjuisdiIndonesiasebelumnya
hanyalah orang-orang Belanda dan China. Sjahrir juga tidak
bersedia berpihak kepada salah satu negara besar, Amerika
atauSoviet.
98

PerbedaanantaraSjahrirdanAmirsemakinmeruncingketika
Partai Sosialis harus bersikap atas pembentukan
pemerintahanolehBungHatta.Amirdankelompoknya,yaitu
PKI, Partai Buruh dan Pesindo, menentang kabinet Hatta,
sedangkan kelompok Sjahrir mendukung penuh kabinet yang
dibentuk oleh commerade in arm-nya. Hingga puncaknya
pada 13 Februari 1948 terjadi perpecahan. Sjahrir dan
barisannya membentuk Partai Sosialis Indonesia. Sementara
Amir Sjarifuddin, Tan Ling Djie dan Abdul Madjid membuka
topengnya selama ini dengan membentuk Front Demokrasi
RakyatatauFDRyangberhaluankomunis.
Dalam pidato penjelasan sikap berpisahnya barisan Paras
dengan Partai Sosialis pada kongres Madiun pada Februari
1948, Djohan Sjahroezah yang sebenarnya juga bukan orang
barubagikalangankomunis,menjelaskantentangkonsistensi
terhadap cita-cita sosialisme dan perlawanan terhadap
kapitalisme, namun menolak segala bentuk kediktatoran dan
absolutisme yang sedang dijalankan oleh kalangan komunis.
Dan inilah yang membuat Sjahrir dan barisannya yang lebih
berpegang pada sosialisme kerakyatan tak mungkin lagi bisa
sejalan dengan kelompok Amir Sjarifuddin, Tan Ling Djie dan
Abdul Madjid yang sejatinya adalah Stalinis. Sebagai seorang
komunis, ketiga tokoh ini mendapat kritikan yang sangat
pedasdariMussoyangbarusajakembalidariMoskowlewat
pidatonya yang disebut Pidato Jalan Baru Untuk Republik
Indonesia. Mereka dituding telah memperkecil PKI sehingga
harus hadir dalam bentuk illegal dan dalam wujud yang
berbeda. Ditambah lagi dengan keputusan mereka
menggabungkan partai yang mereka dirikan dengan Partai
Rakyat Sosialis untuk membentuk Partai Sosialis. Musso
menganggap langkah Amir menyatukan Parsi dengan Paras
memberi kesempatan bagi Sjahrir dan kawan-kawannya
99

untuk “memperkuda Partai Sosialis”. Dan menurut Musso ini
disebabkan karena kurangnya kesadaran serta kewaspadaan
PKI illegal dalam mengendalikan Partai Sosialis, terlebih lagi
dengan jabatan di BP KNIP yang semakin melenakan kader
PKI ilegal. “Kemudian tidak sedikit jumlah kader-kader illegal
kita yang diperlukan baik di dalam Pemerintahan maupun di
dalamBadanPekerjaKNIP.Sehinggadengansendirinyatidak
mungkin lagi bagi kawan-kawan ini mencurahkan segenap
tenaganya kepada pekerjaan dalam ketiga Partai tersebut
diatas (PKI legal, PBI, Partai Sosialis). Hal ini lebih
melemahkanorganisasi.”

SosialismeKerakyatandanKomunisme
PerbedaanpandanganantarakelompokSjahrirdanKelompok
Amir selain seperti yang telah disampaikan oleh Djohan
Sjahroezah dalam pidato perpisahan dengan Partai Sosialis.
Bahwa kelompok Sjahrir tetap konsisten pada cita-cita
sosialisme dan perlawanan terhadap kapitalisme. Namun
dalam pelaksanaannya mereka menolak segala bentuk
kediktatoran dan absolutisme yang justru dicita-citakan oleh
kalangankomunisdaalambentukDiktatorProletariat.Sjahrir
melihatadanyakemungkinanmunculnyasifattotaliterdalam
nasionalisme dan revolusi, dalam pandangannya, peranan
non pemerintah atau swasta tetaplah penting. Sjahrir
menghendaki sebuah sistem perekonomian campuran yang
tidakmenafikkanperananpemerintahmaupunswasta.
Sjahrirtidakkhawatirjikaperananswastaakanmemunculkan
kelas kapitalis dalam masyarakat, karena justru dengan
begitu pada saatnya nanti akan muncul tenaga-tenaga
professional dengan keahlian administratif yang sangat
diperlukan oleh negara dalam menjalankan sektor
100

perekonomian publik. Karena tanpa tenaga yang
profesional—yang sulit diharapkan muncul dari dalam
sistem—akan menghambat negara dalam menjalankan
program-programperubahansosial.
Pandangan-pandangan PSI yang menunjukkan perbedaan
secaraideologisdengankelompokAmir—komunis—jugabisa
dilihat dalam tulisan yang dibuat oleh Djohan Sjahroezah
yangkerapmunculdengannamasamaran“Suparman”dalam
mingguan politik Sikap. Salah satu tulisannya yang paling
gamblang menggambarkan perbedaan tersebut adalah yang
berjudul Sosialisme Kerakyatan dan Komunisme. Djohan
menulis bahwa dalam pandangan kaum sosialis kerakyatan,
untukmencapaimasyarakatsosialistidaklahharusmengikuti
apa yang diputuskan oleh Moskow sebagaimana pandangan
kalangan PKI. Justru karena menempatkan ajaran Marx dan
Engelssebagaiacuanberpikir,makakaumSosialisKerakyatan
di Indonesia menjalankan politik luar negeri yang yang
bersifatdamaidandemokratis.
Tanpa perlu mengacu pada keputusan Moskow, Djohan
percaya kondisi masyarakat serta negara saat itu
memungkinkan diterima dan berkembangnya konsep
sosialisme kerakyatan sebagai pedoman untuk menyusun
perikehidupan dan masyarakat baru yang adil, makmur dan
sejahtera. Sementara jika melihat pada apa yang dicita-
citakanolehMarxdanEngelsakanpersamaanantarmanusia,
hilangnya penindasan dan kekuasaan golongan manapun
sepertinya tidak mungkin ditemukan pada pemerintahan
diktator proletariat komunis Soviet Rusia yang menguasai
segalasendikehidupanmasyarakatnya.
Oleh sebab itu kaum sosialis kerakyatan menurut Djohan
berbeda, dan tak sejalan dengan PKI yang tunduk kepada
pimpinan Moskow. PSI sebagai pengejawantahan kaum
101

Sosialis Kerakyatan tetap konsisten dengan apa yang sudah
menjadi garis politiknya bahwa Sosialisme Kerakyatan adalah
jalan untuk menuju cita-cita manusia bebas luput dari
penghisapandanpenindasandanhidupdidalammasyarakat
yang sejahtera, adil dan makmur bagi rakyat Indonesia. Ini
sesuai dengan ajaran Marx dan Engels yang menyatakan
bahwabanyakjalanmenujumasyarakatsosialis.
Selain itu pandangan ini sejalan dengan Eduard Bernstein
yang tampil dan mengusulkan agar kaum sosialis Jerman
melepaskan diri dari Moskow dan mendirikan partai politik
sendiri. Bernstein menolak sifat internasional gerakan buruh,
karena menurut Bernstein dan pengikutnya, buruh tetap
mempunyai tanah air, dan tentu saja berbeda dengan
pemikiran Moskow yang berpegang pada Internasionalisme.
Ajaran Marx direvisi secara besar-besaran oleh Bernstein
sehingga gerakan ini dinamakan revisionisme di kalangan
Marxis. Pemisahan kaum sosialis Jerman dari Marxisme
ortodoks ditandai oleh terbitnya buku Bernstein berjudul
Voraussetzungen des Sozialismus und die Aufgaben der
Sozialdemokratie (Syarat-syarat Sosialisme dan Tugas-tugas
Sosial-Demokrasi)pada1899.
Selain tulisan-tulisannya di Sikap, artikel-artikel yang ditulis
oleh Djohan Sjahroezah di media massa PSI, Suara Sosialis
juga banyak mengungkapkan pandangan sosialisme
kerakyatan yang dianutnya. Dalam tulisannya yang berjudul
Sosialis-Komunis Sosialis-Demokrat yang dimuat pada
majalah Suara Sosialis yang terbit pada 15 februari 1951.
Djohan menulis “Sambil mempertahankan kemerdekaan dan
kedaulatan bangsa dan negara, maka harus diletakkan dasar
bagi perekonomian rakjat. Perobahan dan perbaikan hidup
dan peri kehidupan rakjat harus disertai oleh rakjat itu
sendiri. Kekuasaan politik alias negara harus mendjamin
102

kemungkinandankesempatanbagiperkembanganusahadan
organisasi rakjat.” Lebih lanjut Djohan yang menggunakan
nama penulis Sjahroezah menegaskan, “Tegasnja, politik luar
negeri harus berputar disekitar usaha menjelamatkan dan
mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa dan
negara.Usahadidalamnegeri,jaitumenjusundanmengatur
kekuatan dan kesanggupan rakjat sambil merobah dan
memperbaiki hidup dan peri kehidupanja. Inilah jang
mendjadi pedoman bagi kaum sosialis dalam sikap dan
langkahnjadalamtingkatedarankemadjuandewasaini.”

PartaiKaderdanPartaiMassa
Sebagai kelanjutan dari Paras yang artinya juga melanjutkan
tradisi intelektualitas PNI Baru, PSI juga berpegang teguh
padapentingnyakualitaskader.KetikamembangunPNIBaru,
Bung Hatta menyatakan tugas utama partai adalah mendidik
rakyat. Bung Hatta dalam tulisannya di Daulat Rakjat, 20
September 1932, mengatakan, “Dengan agitasi mudah
membangkitkan kegembiraan orang banyak, tetapi tidak
membentuk fikiran orang.” Belum lagi, kegembiraan massa
itu bisa hilang dalam sekejap. Bung Hatta merasa agitasi itu
hanya pembuka jalan, sedangkan “didikan/kaderisasi”
merupakan pembimbing rakyat untuk menyelami lebih
banyak seluk beluk berorganisasi. Dengan kaderisasi, partai
akan menjadi kuat. Selain Djohan Sjahroezah, sepertinya
hanya sedikit kader PSI yang dekat dengan massa khususnya
buruhdanpemuda.SepertiDayinoyangdekatdenganmassa
pemuda, kemudian Siauw Giok Tjhan yang jelas-jelas dekat
dengan kalangan peranakan tionghoa dan dikenal dengan
gayahidupnyayangamatsederhana.
103

Sjahrir sendiri lebih suka dengan kader yang kendati hanya
segelitir, namun berkualitas ketimbang massa yang diikat
oleh fanatisme. Sebagai partai kader, PSI memandang sangat
penting pendidikan bagi kader yang dilakukan secara intensif
dan tertutup. Pola seperti ini membuat PSI memiliki kader-
kader partai yang berkualitas, memiliki kapasitas, loyalitas
dankompetensiyangtinggiterhadappartainya.
Selainitudalampolakaderakanterbangunsebuahhubungan
rapat-erat antara pemimpin dengan kader-kadernya karena
berhubungan langsung dalam proses kaderisasi. Ini bisa kita
lihat pada pengalaman Sjahrir dan Djohan Sjaroezah saat
mendirikan Partai Rakyat Sosialis yang memanfaatkan kader
PNIBaruyangmasihberjuangsecaraperoranganataudalam
kelompok kecil. Sjahrir sendiri ketika masih era PNI Baru,
kerap melakukan perjalanan ke daerah-daerah untuk
bertemu dan memberikan pengarahan ideologis bagi para
kaderdisanaatausekedarberdiskusitentangperkembangan
terakhir.
Pola partai kader memang menguntungkan bagi PSI, dengan
begitu pimpinan partai sangat mengenali setiap kadernya
hingga hal-hal yang terkecil. Sehingga dengan mudah
memutuskan pembagian kerja siapa memegang apa. Filter
kader dapat mencegah penyimpangan-penyimpangan—yang
bisa saja terjadi—yang kelak merugikan partai. Inilah yang
membuat PSI bisa mengetahui dan segera melakukan
pencegahan, walaupun terlambat, ketika Soemitro
Djojohadikusumo hijrah ke Sumatera dan bergabung dengan
PemberontakanPRRI/Permesta.
Sebagai partai kader, PSI sangat ketat dalam proses
perekrutan kader. Untuk menjadi kader PSI, calon anggota
harus menjalani pendidikan kader selama kurang lebih enam
bulan. Tak hanya itu, calon anggota juga harus
104

direkomendasikan oleh dua orang anggota sebelum diangkat
menjadianggotapartai.Denganprosesperekrutanyangtidak
mudah tersebut, bisa dipahami jika PSI kemudian
berkembang menjadi partai kader, bukan partai massa. Tak
heran jika kader-kader PSI tumbuh menjadi kader-kader
potensial yang banyak berperan dalam menginfiltrasi
intelektualismeIndonesia.
Sayangnya,Indonesiawaktuitubahkanhinggasaatinimasih
dijangkiti politik massa, dimana hampir semua partai politik
mengandalkan kekuatan massa dalam agenda-agenda
politiknya. Ketika mayoritas anggota menghendaki PSI untuk
berpartisipasidalamPemilihanUmumLegislatifyangpertama
direpublikinipada1955,hampirterjadiperpecahandidalam
tubuh PSI. Akhirnya PSI pun turut serta kedalam Pemilu,
walaupun kemudian, pada masa kampanye PSI tampak tak
terbiasa dengan pola-pola rapat umum yang lazim dilakukan
oleh partai-partai lain. Tentu saja sebagai partai kader yang
terbiasa tertutup dalam setiap aktivitasnya, PSI tak nyaman
dengan kegiatan terbuka seperti itu. Alhasil, PSI sebagai
kekuatan yang banyak berpengaruh terhadap dialektika
politik Indonesia pada dekade awal, yang beberapa kali
memimpin pemerintahan, ternyata tidak mendapat suara
yangcukuppadapemilihanumum1955.
Menurut Mrazek "Partai Sosialis Indonesia menderita
kekalahan yang menghancurkan, yakni kekalahan dalam
politik massa.” Para pemenang Pemilu 1955, PNI, Masjumi,
NU dan PKI—yang kerap dikritik PSI—justru mengandalkan
kekuatan basis massa yang mereka miliki di daerah-daerah.
Setiap rapat umum yang diadakan saat kampanye selalu
terlihat membludak, meriah, dan gilang gemilang. Faktor
patronasedankekuatanmassatampakdominanpadapartai-
partaipemenangpemilu.
105

PNI yang mengandalkan para pejabat tingkat lokal seperti
lurah dan mandor untuk bisa mengerahkan massa selain
tentunyafaktorpopularitasBungKarnojugacukupdominan.
Sementara Masjumi kendati sebagai partai Islam moderat
juga mengandalkan peran guru-guru agama dan kiai yang
secara tradisional tentu memiliki ikatan yang kuat dengan
jama’ahnya. Begitu pula dengan Nahdlatul Ulama yang yang
didukung jaringan pondok pesantren tradisional yang
terserak di hampir seluruh bagian Pulau Jawa dan sebagian
Kalimantan. PKI sendiri sebagaimana diketahui memiliki
jaringanorganisasimassaunderbouwdenganjumlahanggota
yangtidaksedikit.
Sjahrir sendiri dengan nada kecewa menilai hal ini bukan hal
yang baik dalam perkembangan demokrasi di Indonesia.
SjahrirmenuliskaninidalamartikelberjudulPemilihanUmum
untuk Konstituante di harian Sikap, 5 Desember 1955, ia
menulis:"Rakyatmemberikansuarabukanberdasarkanmotif
agung. Melainkan karena mengikuti pemimpin yang mereka
hormati dalam kehidupan sehari-hari. Bukan pahlawan,
bukan pemuda revolusi, melainkan kiai, guru mengaji, lurah,
danmandor."
Menyikapi kekalahan ini Sjahrir sebagai Pemimpin Umum PSI
pada 6 Januari 1956 mengeluarkan apa yang disebut
“Pedoman Organisasi No.1” yang berisi arahan agar PSI
sedapat mungkin harus lebih dekat dengan rakyat dan
membuka diri pada rakyat. Tampak betul kekalahan pada
Pemilu 1955 membawa kegetiran bagi PSI. Kegagalan dalam
pemilu ini diarahkan sebagai tanggung jawab Djohan
Sjahroezah yang menjadi sekretaris jenderal partai sejak
Kongres II di akhir Maret dan awal April 1956. Padahal,
menurut beberapa catatan, PSI memang bisa dianggap
setengahhatidalammengikutiPemilu1955,karenatidakada
106

persiapan dan pembicaraan sejak awal soal kesertaan dalam
pemilu. Namun karena desakan dari anggota dan beberapa
fungsionaris partai yang menghendaki PSI untuk ikut pemilu,
akhirnya PSI menyatakan ikut pemilu dan melakukan
persiapan-persiapan yang jelas jauh tertinggal dengan
persiapanpartai-partaiyanglain.
TampaknyabanyakyangmelupakanperanDjohanSjahroezah
selama ini yang justru lebih dekat dengan kader-kader muda
yang menjadi darah segar bagi partai. Bahkan ketika PSI
dibubarkan, terlebih selepas meninggalnya Sjahrir, Djohan
menjadi muara tempat bertanya dan berdiskusi bagi kader-
kader partai yang masih terus bekerja untuk sosialisme
kerakyatan.
Jika di kemudian hari atau pada era setelah dibubarkan,
mediamassayangbanyakdipengaruhiolehPKImenyebutkan
bahwa kader-kader PSI adalah orang-orang sosialis kanan
yang gemar pesta dan “dansa-dansi”, seharusnya patah
dengan gaya hidup yang dijalani oleh Djohan dan kawan-
kawannya seperti Dayino dan M.L. Tobing yang hingga akhir
hayatnyamasihmenjalanihidupsecarasederhana.

KaderTakPernahPadam
Tapikemenanganpemilusesungguhnyatidakmelulumenjadi
tolok ukur bagi kesuksesan sebuah partai politik. Kendati
telah dibubarkan lewat Keputusan Presiden No. 201 Tahun
1960 yang diumumkan oleh Presiden Soekarno pada 17
Agustus 1960, kader-kader PSI masih terlibat aktif dalam
perpolitikan di tanah air. Malah ada sedikit harapan bahwa
dengan jatuhnya kekuasaan Bung Karno maka ada
kemungkinanbagiPSIuntukbangkitkembalikarenasejatinya
partai ini memang belum pernah bubar. Banyak kader dan
107

orang-orang yang dekat dengan PSI termasuk kalangan
militeryangkemudianmenyokongordebaru.
DalamkelompokmahasiswayangtergabungdalamKesatuan
Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), banyak kader Gerakan
Mahasiswa Sosialis (Gemsos) yang kemudian menjadi tokoh-
tokoh pergerakan mahasiswa yang berhasil menumbangkan
kekuasaan Bung Karno dan membuka jalan bagi Suharto
untuk memerintah. Sementara di kalangan militer banyak
juga pendukung Suharto yang dikenal dekat dengan PSI
seperti Panglima Kodam Siliwangi Letjen H.R. Dharsono dan
Pangdam Tanjung Pura, Brigjen A.J. Witono. Dalam buku
Pengemban Misi Politik, Soebadio menyatakan PSI
merupakan suatu state of mind, keadaan pemikiran yang
tidak dapat dideteksi. Jaringannya berlandaskan kesamaan
ide, spiritual, bukan semata organisasi. Sarbini Sumawinata
pernah menyebutkan yang paling kuat dan tidak berubah di
dalam PSI adalah semangat sosialisme, semangat membela
rakyat, serta memperjuangkan keadilan dan pemerataan.
Meski partai itu bubar, semangatnya tak pernah padam.
Benar apa yang ditulis Legge bahwa kegiatan politik massa
bukansatu-satunyatolokukurkeberhasilanpartai.Pemikiran
PSI bertahan hingga sekarang. "Fakta bahwa partai ini
mewakili aliran moral dan politik diIndonesia," kata Legge.
Kenyataanya, pemikiran PSI terus bergulir lewat orang-orang
yang berada di habitat PSI atau melalui pandangan berbagai
organisasi yang baik sadar maupun tidak telah mengadopsi
pandangan-pandangan sosialisme kerakyatan oleh PSI.
Orang-orang yang disebut sebagai habitat PSI ini adalah
golongan yang tumbuh pasca pemblokiran PSI oleh Bung
Karno. Mereka besar dalam pendidikan kader-kader PSI,
namun tidak memiliki keanggotaan karena sebagai partai
terlarang,praktisPSItidakdapatmerekrutanggotabaru.
108

BABVIII
MerintisDemokrasi
Pasca proklamasi 1945, gejolak politik tak henti-hentinya
terjadi.Masa-masaawalrepublikiniberdirimasihdisibukkan
dengan kedatangan Belanda yang membonceng pasukan
sekutu untuk kembali menguasai Indonesia. Terhitung sejak
1945—1949 sampai KMB diselenggarakan, Indonesia yang
masih bayi harus jatuh bangun mempertahankan prinsip
kemerdekaan yang sudah dikumandangkan. Setidaknya dua
agresi militer Belanda yang harus dihadapi pasukan republik.
Pertempuran demi pertempuran terjadi di berbagai wilayah.
Surabaya membara. Bandung menjadi lautan api. Sementara
Ambarawa dan daerah lainnya tak luput dari pertempuran
mempertahankan Indonesia. Tidak hanya harus menghadapi
tentara Belanda, gangguan demi gangguan bagi
pemerintahan yang sah juga terus terjadi. Proklamasi negara
pasundan, DI/TII Kartosoewirjo sampai proklamasi Negara
SovietdiMadiunpada1948.
Kondisi keamanan yang belum stabil tak ayal juga
berpengaruh bagi iklim politik di Indonesia. Kabinet demi
kabinet berguguran hanya dalam waktu singkat. Dua
perjanjianyaituLinggarjatidanRenvillemenjadimomokyang
menakutkan baik bagi kabinet Sjahrir maupun Amir
Sjarifuddin. Kabinet kiri di Indonesia mulai tersisihkan saat
Hatta menjadi Perdana Menteri menggantikan kabinet Amir.
Amir Sjarifudin sendiri kemudian berakhir tragis. Karena
dianggapterlibatdalamperistiwaMadiun1948,iapundiburu
olehpasukanrepublikuntukkemudiandieksekusi.
Periode 1950—1959 merupakan periode demokrasi
parlementer atau demokrasi liberal. Anggota DPR saat itu
berjumlah232orangyangterdiridariMasyumi(49kursi),PNI
109

(36 kursi), PSI (17 kursi), PKI (13 kursi), Partai Katholik (9
kursi),PartaiKristen(5kursi),danMurba(4kursi),sedangkan
sisa kursi dibagikan kepada partai-partai atau perseorangan.
Dari PSI salah satunya adalah Djohan Sjahroezah yang
menjabat menjadi anggota DPR periode Agustus 1950-Maret
1956.
Struktur seperti ini rupanya tidak kuat untuk menopang
pemerintahan republik. Parlemen sangat mudah
mengeluarkan mosi tidak percaya sehingga koalisi dalam
pemerintahan goyah yang menyebabkan kabinet jatuh. Pada
masa itu, koalisi antar partai yang diharapkan dapat
menjembatani antar kepentingan justru semakin panas
bertikai. Sementara Bung Karno sebagai presiden tidak
memiliki kekuasaan penuh selain menunjuk formatur untuk
membentuk kabinet. Jatuh bangun republik ini menjadi
hambatan untuk membangun iklim politik yang bebas dan
demokratis. Meskipun sudah sejak 1945 Hatta sudah
mengeluarkanMaklumatXyangmempersilahkanmasyarakat
mendirikan partai secara bebas, partai-partai ini baru bisa
bertarung secara adil dalam Pemilihan Umum 10 tahun
kemudian.

PemiluBersih1955
Pada 1955 menjadi tahun penting bagi perjalanan republik
Indonesia. Setelah 10 tahun menghadapi gejolak politik yang
takpernahberhenti,Indonesiamenghadapibabakbarupada
tahunini,Pemilu.Sejarahmencatat,pemilu1955merupakan
pemilu paling bersih yang pernah diselenggarakan.
Dipersiapkan di bawah pemerintahan kabinet Ali
Sastroamidjojo, pemilu ini justru diselenggarakan pada masa
kabinetBurhanudinHarahap.
110

Pada dasarnya, keinginan untuk menyelenggarakan pemilu
sudah muncul sejak kelahiran Indonesia. Maklumat X atau
Maklumat Wakil Presiden Mohammad Hatta 3 November
1945 yang berisi anjuran tentang pembentukan partai-partai
politik, juga menyebutkan bahwa pemilu untuk memilih
anggota DPR dan MPR akan diselenggarakan Januari 1946.
Sayangnyasaatitupemerintahbelumsiapmenyelenggarakan
pemilu. Ketidaksiapan ini bisa dilihat dari belum selesainya
penyusunan Undang-Undang (UU) Pemilu serta berbagai
regulasi pendukungnya. Selain itu, kondisi keamanan yang
belum stabil akibat konflik internal serta serbuan tentara
sekutumemaksapemerintahsaatitumenundapemilu.
Regulasi-regulasi terkait pelaksanaan Pemilu baru dibuat
pada 1948. UU Pemilu pertama yang dikeluarkan adalah UU
No. 27 Tahun 1948 tentang Pemilu yang kemudian diubah
dengan UU. No. 12 Tahun 1949 tentang Pemilu. Dalam UU
No.12/1949diamanatkanbahwapemilihanumumyangakan
dilakukan adalah bertingkat atau tidak langsung. Sifat
pemilihan tidak langsung ini didasarkan pada alasan bahwa
mayoritaswarganegaraIndonesiapadawaktuitumasihbuta
huruf, sehingga kalau pemilihannya langsung dikhawatirkan
akanbanyakterjadidistorsi.
SaatMohammadNatsirmenjabatsebagaiPerdanaMenteri
pada 1950-an, pemilu dijadikan program kabinetnya. Sejak
itulah pembahasan UU Pemilu mulai digencarkan kembali.
Padaawalnyauntukkepentinganinidibentuktimkecilyang
bernamaPanitiaSahardjosebelumkemudiandilanjutkanke
parlemen. Saat kabinet Natsir jatuh pada 21 Maret 1951,
pembahasan UU Pemilu belum juga mencapai final.
Sakiman Wirjosandjojo yang merupakan pengganti Natsir
kemudian berusaha melanjutkan pembahasan UU Pemilu.
HalinididasarkanpadaUUDSementara(UUDS)1950pasal
111

57yangmenyatakanbahwaanggotaDPRdipiliholehrakyat
melaluipemilihanumum.Sayangnyapemerintahankabinet
Sakiman juga belum berhasil menyelesaikan UU Pemilu ini.
Baru pada masa kabinet Wilopo dari PNI, UU No. 7 Tahun
1953 berhasil dikeluarkan. UU inilah yang kemudian
menjadi payung hukum penyelenggaraan Pemilu 1955.
Dengan demikian UU No. 27 Tahun 1948 yang diubah
dengan UU No. 12 Tahun 1949 yang menyatakan bahwa
pemilihan anggota DPR dilakukan secara tidak langsung
tidakberlakulagi.
Pelaksanaanpemilu1955sendiridilakukansecaralangsung,
bersih dan jujur. Meskipun beberapa daerah masih
bergejolak akibat konflik dengan pasukan DI/TII, secara
umum pemilu pertama itu berjalan lancar tanpa kendala
yangberarti.PemiluinisendiridilaksanakandenganPPNo.
9Tahun1954.Berbedadenganapayangdiamanatkanoleh
Maklumat X, pemilu 1955 dilakukan dalam dua tahap.
Tahap pertama dilakukan pada 29 September 1955 untuk
memilih anggota DPR. Tahap kedua dilakukan pada 15
Desember 1955 untuk memilih anggota-anggota Dewan
Konstituante.
PemiluanggotaDPRdiikutioleh118pesertayangterdiridari
36 partai politik, 34 organisasi kemasyarakatan, dan 48
perorangan. Sedangkan untuk Pemilu anggota Konstituante
diikuti 91 peserta yang terdiri dari 39 partai politik, 23
organisasi kemasyarakatan, dan 29 perorangan. Masyarakat
sendiri sangat antusias dalam menghadapi pemilu. Tidak
kurang dari 30 partai berkompetisi secara sehat untuk
memperebutkan 257 kursi anggota DPR serta 514 kursi
Konstituante. Antusiasme masyarakat Jakarta dalam
menyambut pemilu 1955 sendiri tergambar dalam laporan
harianPemandangansaatitu:
112

Rakyat di kampung-kampung banyak yang berbondong-
bondong menyaksikan mobil kampanye dari Kementerian
Penerangan. Pada masa kampanye para pemimpin partai
politik lebih sering turun ke kampong-kampung untuk
bicara langsung dengan simpatisannya. Seperti Ketua
UmumMuhamadNatsir,Sukarni(Murba)danSutanSjahrir
(PSI) pernah datang ke Kampung Kwitang Jakarta Pusat.
Mereka berbincang dan bersalaman dengan orang
kampung.Bahkanbersalamandengantukangbecak.
Peserta pemilu mencapai lebih dari 30-an partai politik
serta lebih dari seratus daftar kumpulan dan calon
perorangan. Pemilu diikuti oleh lebih dari 37,8 juta warga,
daritotal85,4jutapopulasipadasaatitu.MenurutGeorge
McTurnanKahin,pemilu1955begitupentingsebabdengan
itu kekuatan partai-partai politik terukur lebih cermat, dan
parlemen yang dihasilkan lebih bermutu sebagai lembaga
perwakilan.
Hasilnya, lima besar pemenang dalam Pemilu iniadalah
Partai Nasional Indonesia (PNI) mendapatkan 57 kursi DPR
dan119kursiKonstituante(22,3persen),Masyumi57kursi
DPR dan 112 kursi Konstituante (20,9 persen), Nahdlatul
Ulama45kursiDPRdan91kursiKonstituante(18,4persen),
Partai Komunis Indonesia (PKI) 39 kursi DPR dan 80 kursi
Konstituante (16,4 persen), dan Partai Syarikat Islam
Indonesia(2,89persen).

PSIdalamPemilu1955
Diantara 30 partai yang terlibat pemilu 1955, PSI menjadi
salah satu kandidat yang diunggulkan. Tokoh-tokoh yang
menghuni PSI saat itu adalah tokoh-tokoh intelektual yang
sudah dikenal publik. Tak heran jika pada awalnya PSI
113

digadang-gadang akan menjadi salah satu partai dari lima
besar pemenang pemilu. Sayangnya apa yang terjadi di
lapangan justru sebaliknya. Dalam pemilihan legislatif, PSI
yang saat itu dipimpin oleh Sjahrir hanya meraih 5 kursi
atau hanya sekitar dua persen dari total 257 kursi yang
diperebutkan.Dari37jutasuara,PSIhanyamampumeraup
sekitar 750 ribu suara untuk mendukung mereka di DPR.
Padahal sebelumnya PSI berhasil menempatkan 17
kadernyadiDPR.
Hal serupa juga terjadi pada pemilihan konstituante. Dari
total 514 kursi yang diperebutkan, PSI hanya mampu
menempatkan sepuluh wakilnya. Hal ini tentu agak
mengherankan. PKI yang namanya cacat dalam berbagai
peristiwa, terutama setelah peristiwa Madiun 1948 justru
menjelma menjadi partai yang cukup besar dan disegani.
KegagalanPSIdalammerebuthatirakyatpadapemilu1955
juga tercermin dari apa yang diceritakan oleh Alwi Shihab.
Meskipun didukung oleh 3 koran yang memiliki tiras
terbesardiIndonesiadalamkurunwaktu1950—1960yaitu:
Pedoman, Keng Po dan Indonesia Raja, gaung PSI tidak
begitukentaratermasukpadamasa-masakampanye.
Saat itu, Alwi Shihab muda turut menghadiri kampanye PSI
di lapangan Gambir. Alwi yang merupakan pembaca koran
Pedoman milik Rosihan Anwar itu menggambarkan apa
yang terjadi dalam kampanye publik tersebut sebagai
berikut:
JumlahmassayangmengikutikampanyePSIternyatatidak
begitu banyak. Sekalipun hanya bagian kecil lapangan
Gambir yang digunakan, masih tampak ruang-ruang
kosong. Padahal, hadir Sutan Sjahrir, ketua umum PSI,
Sumitro Djojohadikusumo, Subadio Sastrosatomo, dan
114

sejumlah tokoh PSI lainnya. Jauh lebih sepi dibanding
kampanyeMasyumi,PNI,NUdanPKI.
PadadasarnyaPSImemangmerupakanpartaikader.Meski
ditopang oleh kalangan intelektual semacam Soemitro
Djojohadikusumo, Djohan Sjahroezah, Soebadio
Sastrosatomo maupun L.M. Sitorus, PSI rupanya agak
berjarak dengan massa. Di kalangan intelektual, nama PSI
memang cukup populer. Namun fakta bahwa hanya dua
persen suara yang mampu diraup PSI membuktikan basis
massa PSI tidak begitu solid. Padahal dalam kurun waktu
1945—1957, PSI sudah menempatkan kader-kadernya
untukmemimpindi34kementerian.Tentusebuahprestasi
yang membanggakan jika dibandingkan dengan partai
lainya. PSI memang tak pernah diproyeksikan menjadi
partai massa. Saat Majelis Syuro Muslimin Indonesia
(Masyumi) memiliki enam juta orang anggota, pun begitu
dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), PSI hanya memiliki
3.049 anggota tetap dan 14.480 orang calon anggota pada
tahun 1952. Tahun 1955, jumlah anggota bertambah
namuntakbanyak,hanya50ribuorang.
Atas kekalahan ini, koran berbahasa Belanda di Jakarta De
Nieuwgiermenulisdalamtajukrencananya:
“PSI memiliki banyak perwira, tapi sedikit sekali pasukan
infanteri,”.
Sebagaimana partai lainya, PSI sebenarnya memiliki corong
organisasiberupasuratkabar.Yangpalingmenonjoladalah
surat kabar milik Rosihan Anwar yang bernama Pedoman.
Kedekatannya dengan kalangan sosialis dari kelompok
SjahrirmembuatRosihanturutterjunlangsungpadapemilu
1955. Pedoman yang pertama kali terbit pada November
1948 tersebut bahkan menyediakan halaman khusus tajuk
rencana “Pilihan Kita: PSI”. Saat itu, Pedoman merupakan
115

salah satu surat kabar dengan tiras terbesar di Indonesia.
Pada 1961, surat kabar ini memiliki tiras hingga 53 ribu
eksemplar.Jumlahyangluarbiasapadamasaitu.Padasaat
kejatuhan PSI terkait peritiwa PRRI, Pedoman juga turut
dibredelpada7Januari1961.
Banyak kalangan yang berpendapat bahwasanya kekalahan
PSI disebabkan karena gagasan-gagasan yang dilontarkan
Sjahrir terlalu elitis, sementara kesadaran politik
masyarakat belum terbangun dengan baik. Namun harus
diakui Sjahrir bersama Djohan Sjahroezah dan Soegondo
Djojopuspito telah merumuskan “Sosialisme Kerakyatan”
yang menjadi landasan gerak juang PSI. Ideologi sosialisme
kerakyatan telah diterima sebagai pandangan politik partai
dalam kongres pertama di Bandung pada 12—17 Februari
1952:
Sosialisme yang kita maksudkan adalah sosialisme yang
berdasarkan atas kerakyatan, yaitu sosialisme yang
menjunjung tinggi asas derajat kemanusiaan, dengan
mengakui dan menjunjung persamaan derajat tiap manusia
orangseorang.
Sebagaiideologdandoktriner,peranDjohansangatkrusial.Ia
berperan sebagai penyeimbang Sjahrir yang dianggap terlalu
elitis. Berbeda dengan Sjahrir yang dianggap sulit bergaul
dengan rakyat kebanyakan, Djohan justru dekat dengan
semua kalangan. Hal ini disebabkan karena sejak muda
Djohan sudah bergelut dengan kaum buruh dan masyarakat
miskin lainnya. Sebenarnya, pada era pemilu 1955 Djohan
banyak memiliki kader-kader muda potensial. Serikat Buruh
Minyak(SBM)diJawaTimuryangdirintisnyamerupakancikal
bakaldariSerikatOrganisasiBuruhSeluruhIndonesia(SOBSI).
Sayangnya, banyak dari kader-kader Djohan yang kemudian
116

berganti haluan menjadi komunis dan bergabung dengan PKI
ataupunMurba.
Menurut J.D. Legge, kegagalan PSI untuk meraup suara yang
signifikan merupakan bagian integral dari watak partai ini.
DalambukunyaLeggemenulis:
Berbedadenganpartai-partaibesarpadadasawarsa1950–
PNI, Masyumi, Nahdhatul Ulama dan PKI – PSI itdak
mempunyai basis budaya, agama ataupun kelas untuk
mendukungnya. Ia tidak mempunyai simbol-simbol yang
dapat menghimpun kaum abangan guna melawan kaum
santri, menghimpun orang Jawa guna melawan orang
Sumatera, serta menghimpun petani guna melawan
birokrat. Tidak banyak orang yang akan tertarik kepada
program-programnyayangcanggih.
Menurut pengakuan Djoeir Mohamad yang merupakan
anggota politbiro PSI, pada dasarnya PSI memang tidak
berniat untuk berpartisipasi dalam pemilu 1955. Hal ini
tercermin dari hasil kongres pertama PSI pada 1952 di
Bandung yang sama sekali tidak membahas strategi
menghadapi pemilu. Djohan Sjahroezah juga termasuk
golongan yang tidak menghendaki keikutsertaan dalam
pemilu. PSI yang saat itu merupakan partai kader memang
tidak terlalu antusias menempatkan kadernya pada anggota
DPR dan Dewan Konstituante. PSI memilih untuk
menempatkan kader-kadernya pada posisi-posisi strategis di
pemerintahan. Banyak dari politbiro PSI yang menjadi tulang
punggungpemerintahan.
Soemitro Djojohadikusumo yang dikenal sebagai begawan
ekonomi misalnya pernah menjabat sebagai Menteri
Perdagangan dan Perindustrian pada masa kabinet Natsir.
Anggota politbiro PSI ini juga sempat menjadi Menteri
Keuangan pada era kabinet Wilopo, hingga kabinet
117

Burhanudin Harahap. Selain itu ada nama Sutan Rasyid yang
sangat berperan dalam Pemerintahan Darurat Republik
Indonesia (PDRI) pimpinan Sjafrudin Prawiranegara dengan
menjadi Menteri Pertahanan. Saat pemilu 1955, ia juga
menjadi anggota Konstituante dari PSI. Soegondo
Djojopuspito yang pernah menjabat sebagi wakil ketua PSI
juga sempat menjabat sebagai Menteri Pembangunan
Masyarakat pada masa kabinet Halim. Dengan demikian, PSI
pada dasarnya memang bertujuan untuk mendidik kader-
kaderyangakanmenempatiposisistrategisdipemerintahan.
Artinya, politik PSI adalah politik pedagogis yang
menitikberatkan pada pendidikan kader. Hal ini diperkuat
dengan fakta bahwa kader-kader PSI yang kemudian aktif di
dunia pendidikan seperti Soemitro, Sutan Takdir Alisjahbana,
Siaw Giok Tjhan— pendiri Unreka yang kemudian menjadi
Universitas Trisakti, Prof. Sarbini, Profesor Miriam Budiardjo
danlainsebagainya.

FaseDemokrasiTerpimpin
Gilanggemilangpelaksanaanpemilu1955yangjujur,adildan
demokratis ternyata bukan tanpa masalah. Kesuksesan
menyelenggarakan pesta demokrasi pertama adalah sebuah
prestasi yang cukup membanggakan. Namun, hasil dari
pemilihan umum inilah yang ternyata cukup menyita
perhatian. Pada pemilu 1955, masa persiapan dan kampanye
dilakukan dalam kurun waktu 2,5 tahun. Waktu yang cukup
lama untuk menyemai ideologi dan fanatisme partai.
Akibatnya, hasil pemilu 1955 tidak mampu menciptakan
stabilitaspolitiksepertiyangdiharapkan.Konflikdemikonflik
terus saja naik ke permukaan. Mulai dari konflik ideologis,
konflik antar partai, hingga konflik kepentingan antara pusat
dandaerah.
118

Takhanyakonflikdemikonflikyangterusterjadi,514anggota
dewanKonstituanteyangbertugasmenyusunUUDjugatidak
mampu melaksanakan tugasnya dengan baik. Dalam masa-
masa sidangnya, Dewan Konstituante tidak juga mencapai
kuorumuntukmenggantikanUUDS1950yangdianggaptidak
sesuai dengan iklim politik di Indonesia. Pada masa itu, Bung
Karno dikenal dekat dengan golongan militer di bawah
pimpinan Jenderal Nasution. Pada 14 Maret 1957, Nasution
berhasil mendesak Bung Karno untuk memberlakukan SOB
(Staat Van Oorlog en Beleg), yaitu pernyataan bahwa negara
dalam keadaan darurat dengan memberlakukan jam malam,
pembatasan kegiatan-kegiatan masyarakat serta bahkan
membatasisidangDewanKonstituante.
Puncaknya, iklim demokrasi yang sudah terbangun melalui
pemilu 1955 harus kandas saat Bung Karno mengeluarkan
Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Tidak hanya membubarkan
konstituante yang dianggap gagal menjalankan tugasnya,
dekrit ini sekaligus mengembalikan landasan bernegara
kepada UUD 1945 sekaligus membentuk MPRS (Majelis
Permusyarawatan Rakyat Sementara) dan DPAS (Dewan
PertimbanganAgungSementara).Tidakberhentisampaisitu,
pada 4 Juni 1960 presiden Soekarno juga kemudian
membubarkan DPR hasil pemilu 1955 setelah sebelumnya
dewan legislatif itu menolak RAPBN yang diajukan
pemerintah.
Pada periode ini, Bung Karno menunjukkan otoriterisme
lewatapayangdisebutnyasebagaiDemokrasiTerpimpin.Hal
ini diperkuat dengan pidato politik yang mencakup kembali
dipergunakannyaUUD1945,sosialismeIndonesia,demokrasi
terpimpin, ekonomi terpimpin dan kepribadian Indonesia
atauyangseringdisebutsebagaiManipolUsdek.Padamasa-
masa awal demokrasi terpimpin, Bung Karno memang
119

berhasilmeredamkonflik-konflikyangseringterjadidiantara
partai.Namun,sepertiistilahkeluardarimulutmacanmasuk
ke dalam mulut buaya, gaya otoriter Bung Karno justru
meniupkanbarakonflikyangbaru.
Militer,presidendanlembaga-lembaganegarayangmemiliki
kekuasaan absolut justru menimbulkan kecemburuan
terutama di daerah-daerah. Tak hanya memicu timbulnya
konflik baru, demokrasi terpimpin juga menimbulkan
masalah-masalah baru di sektor ekonomi seperti tingginya
inflasi, kekurangan infrastruktur, rendahnya investasi, defisit
anggaran hingga melonjaknya hutang negara. Pelaksanaan
demokrasi terpimpin pada hakekatnya memberikan
kekuasaansepenuhnyakepadapresidenyangdisebutsebagai
Pemimpin Besar Revolusi. Menurut UUD 1945, presiden
memang tidak bertanggungjawab kepada DPR sementara
presiden dan DPR berada di bawah MPR. Dalam
pelaksanaanya presidenlah yang kemudian mengatur MPRS.
Jika menurut UUD 1945 pengangkatan MPRS harus melalui
pemilu, presiden justru membentu MPRS berdasarkan
Penetapan Presiden No. 2 Tahun 1959. Dengan demikian
unsur-unsurdemokrasiyangingindibangunsejakawaljustru
melencengmenjadisentralismepadasosokBungKarno.
Pada masa-masa ini, Djohan Sjahroezah yang menjabat
sebagai Sekretaris Jenderal PSI lebih banyak bekerja untuk
mendidikkader.SebagaisalahsatuanggotaDPRhasilpemilu
1955, Djohan menetap di Jakarta dan meninggalkan istri
anak-anaknya untuk tetap bersekolah di Yogyakarta.
Meskipun menjabat sebagai anggota DPR, Djohan hidup
secara sederhana. Djohan tinggal di paviliun milik mertuanya
H. Agus Salim, dan memilih naik becak untuk menunaikan
tugasnya di parlemen. Kesahajaan Djohan tetap menjadi
bagian dari kehidupannya yang terus ia pertahankan, dan
120

jauh dari citra yang beredar di masyarakat akan kader PSI
yangglamordangemerlap.

121

BABIX
PRRI/PERMESTA,DalihPembubaranPSI
Kondisi Indonesia pasca pemilu 1955 masih diwarnai dengan
kekisruhan poltik yang bahkan juga mengakibatkan retaknya
kepemimpinan Bung Karno dan Bung Hatta. Seperti yang
diketahui sejak awal, Bung Hatta tak menyukai
kepemimpinan sentralistik yang dilakukan Presiden Sukarno.
Hatta juga menilai Sukarno feodal dan otoriter. Sebaliknya,
Bung Karno sejak awal tak menyukai sistem multipartai yang
menurut pandangannya menimbulkan banyak pertentangan
politik di dalamnya. Seperti diketahui, Bung Hatta lah yang
menandatangani Dekrit Wakil Presiden No. X Tahun 1945
yangmenganjurkanpembentukanpartaipolitik.
Keretakan ini berujung dengan mundurnya Bung Hatta dari
jabatannya sebagai wakil presiden pada 1 Desember 1956.
Hatta memilih untuk mundur dari posisinya sebagai wakil
presidendenganpertimbangansudahtakadalagikecocokan
pandangan antara mereka berdua. Banyak pihak yang
menyayangkan kemunduran Bung Hatta dari posisinya
tersebut. Karena dengan demikian tak ada kekuatan yang
mengimbangidanmenjadikontrolbagiBungKarnotermasuk
DjohanSjahroezah.IamenilaidenganmundurnyaBungHatta
dari posisi wakil presiden justru memberi kesempatan yang
lebih luas bagi PKI untuk mempengaruhi Bung Karno. Selama
iniPKImasihmemperhitungkankeberadaanBungHattayang
“lurus” dan sulit dipengaruhi. Bung Karno sendiri walaupun
banyak mengambil keputusan sendiri tapi dalam banyak hal
tentusajamasihberdiskusidenganBungHatta.
Benar saja, akhir 1956, Bung Karno telah sering
mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap sistem
parlementeryangadadanberencanamemperbaharuisistem
122

pemerintahan menjadi sistem pemerintahan demokrasi
terpimpin, demokrasi yang dianggap oleh Soekarno sebagai
demokrasi yang lebih didasarkan atas mufakat daripada
demokrasi secara barat yang memecah belah berdasar
keputusan suara mayoritas. Demokrasi terpimpin dijalankan
dengan Dasar ”Kabinet Gotong Royong” yang merangkul
semuapartaipolitikyangada,termasukPKI.BungKarnojuga
ingin menyampaikan ”konsepsi”-nya mengenai fraksi politik
diIndonesia.
Konsepsi presidensil merupakan cerminan kekecewaan Bung
Karno terhadap sistem parlementer. Namun konsepsi ini
justru mendapat pertentangan dari banyak pihak—mayoritas
adalah musuh tradisional PKI. Sementara kondisi ekonomi
Indonesia tengah menghadapi tuntutan dari daerah-daerah
yang merasa memiliki potensi sumber daya alam yang kaya
akan tetapi tidak mendapatkan pembagian yang adil dari
pusat.
Sejak awal daerah tetap menjadi produsen ekspor, namun
hasilnya lebih dimanfaatkan oleh pusat. Kondisi ini membuat
perasaantidakpuasdidaerah-daerahdikarenakanperbedaan
pendapat antara daerah dengan pusat. Daerah menganggap
bahwa kebijakan pemerintah tidak sesuai dengan daerah.
Sedangkan pemerintah pusat menganggap bahwa daerah
kurang mampu dalam melaksanakan tugasnya. Daerah luar
Jawa merasa tidak puas dengan keadaan yang ada, karena
mereka menganggap bahwa dana alokasi untuk daerah
dirasakan sangat kurang dan tidak mencukupi untuk
melaksanakan pembangunan. Hal ini mengundang kritik dan
tuntutan agar segera diadakan perubahan konsep
perekonomian dan politik yang kemudian berujung pada aksi
PRRIdiSumateradanPermestadiSulawesi.
123

Kondisi perekonomian yang memburuk mau tidak mau
berdampak juga pada kesejahteraan para prajurit tentara,
karena alokasi anggaran yang tidak jelas bagi kesejahteraan
prajurit dan operasi-operasi militer. Untuk mencukupi
kebutuhannya, banyak pimpinan pasukan militer yang
melakukanperdaganganlangsung—tanpamelewatiprosedur
standar—dengan pola barter dengan berbagai pihak
termasuk luar negeri. Tindakan ekspor “barter” dilakukan
tanpa sepengetahuan Jakarta ini berlangsung di Sulawesi
Utara dan Sumatera Utara, serta panglima pasukan dari
wilayahlainnya.
Selain terlibat langsung dengan kegiatan perdagangan illegal,
para pimpinan militer juga terlibat dalam memberikan
perlindungan kepada pengusaha-pengusaha yang melakukan
ekspor–ekspor yang dianggap merugikan negara. Setelah
kegiatan ini diketahui oleh Jakarta, segera diambil tindakan
terhadap para perwira yang terlibat. Seperti Kolonel
SimbolonyangdiberhentikansementaraolehKASADJendral
A.H.Nasution.

SumateraMemanas
Kesulitan-kesulitan hidup yang dialami oleh para prajurit ini
membuat sejumlah Perwira Aktif dan Perwira Pensiunan
bekas Divisi IX Banteng di Sumatera Tengah dulu pada 21
September 1956 menggagas dibentuknya Dewan Banteng
guna mencari jalan keluar bagi persoalan yang tengah
dihadapi. Pertemuan ini kemudian ditindak lanjuti dengan
sebuah reuni besar-besaran yang diadakan di Padang yang
dihadiri oleh perwira-perwira aktif dan pensiunan Divisi
Banteng pada tanggal 20–24 November 1956 yang
membahaskondisipolitikdansosial-ekonomidiIndonesia.
124

Pertemuan yang dihadiri oleh 600 orang peserta ini
merekomendasikan beberapa tuntutan yang akan
dilaksanakan oleh sebuah badan yang dinamakan sebagai
“Dewan Banteng”. Pembentukan Dewan banteng ini
kemudian diikuti dengan pembentukan lembaga sejenis di
beberapa daerah, antara lain Dewan Gajah yang dipimpin
oleh Kol. Simbolon di sumatera Utara; Dewan Garuda di
SumateraselatandipimpinolehDahlanDjambek;danDewan
Manguni di Sulawesi yang dipimpin oleh Kol. Ventje Sumual.
Dewan-dewan tersebut menuntut adanya perimbangan
keuangan antara pusat dan daerah, terutama dalam
melaksanakaneksploitasihasilbumi.
Tuntutan telah disampaikan pada pemerintahan Djuanda di
Jakarta, sayangnya pemerintah pusat sama sekali tidak
merespon apa yang menjadi tuntutan dari Dewan Banteng.
Menanggapi minimnya respon pemerintah pusat atas usulan
alokasi dana yang mereka tuntut, Dewan Banteng
memutuskan untuk berhenti mengirimkan penghasilan
Sumatera Tengah ke Pusat. Penghasilan daerah ini ditahan
dan kemudian digunakan untuk pembangunan daerah
Sumatera Tengah sendiri. Sementara kegiatan ekspor dalam
bentuk barter terus dilakukan oleh Dewan Banteng dengan
mengacuhkan segala prosedur standar yang ditetapkan oleh
pemerintahpusat.
Komoditas yang diekspor adalah hasil bumi yang banyak
dihasilkan oleh daerah Sumatera Tengah seperti teh, karet,
dan hasil bumi lainnya. Hasil perdagangan ini digunakan
untuk membeli alat-alat berat untuk pembangunan jalan
serta sebagian digunakan untuk membeli senjata. Selain
melakukan pembangunan fisik seperti jalan dan jembatan,
Dewan Banteng juga menyalurkan dana keuntungan
125

perdagangan ke setiap kabupaten atau kota di Sumatera
Tengahsebagaidanapembangunan.
Apa yang terjadi di Sumatera Tengah mendapat respon dari
kalangan PKI dalam bentuk pelemparan dan penyerbuan
kepadabeberapapejabatmiliteratautokohsipilyangtelibat
dalam Dewan Banteng. Di rumah tinggal Kol. Dahlan Jambak
di granat oleh orang tak dikenal pada Agustus 1957 sehingga
Dahlan dan keluarga memutuskan untuk pindah ke Padang.
Di kota itu Dahlan bersama dengan Yazid Abidin malah
semakingiatmengkampanyekangerakanAntiKomunis.

RapatRahasiaSungaiDareh
Gerakan antikomunis semakin menguat dan nekat, hingga
pada 30 Nopember 1957 mobil Bung Karno dilempar granat
olehsekelompokorangyangdidugasebagaianggotaGerakan
Anti komunis. Bung Karno dan anak-anaknya yang sedang
menghadiri pesta ulang tahun sekolah Perguruan Cikini lolos
dari upaya pembunuhan, justru korban jatuh dari anak-anak
sekolah yang juga ramai malam itu. Peristiwa Cikini ini
akhirnya menutup kesempatan perundingan antara
pemerintahan Djuanda dengan Dewan Banteng—padahal
sebelumnya sudah ada pembicaraan untuk diadakan
perundingan—sebagaimana yang diusulkan oleh Ahmad
Husein untuk menyelesaikan konflik. Oleh media massa
berhaluan komunis, Peristiwa Cikini ini selalu diberitakan
secara bombastis dengan analisa yang mengaitkan nama
tokoh-tokohMasyumi.
Provokasi kalangan komunis terus berlanjut dengan terror
dan desas-desus bahwa tokoh-tokoh Masyumi akan
ditangkap karena terlibat pemberontakan dan korupsi. Salah
satu korban teror adalah Moh Roem yang kemudian segera
126

hijrah ke Padang. Langkah ini juga diikuti oleh para tokoh
Masyumi lainnya yang tak lagi merasa nyaman tinggal di
Jakarta. Akhirnya orang-orang yang anti komunis yang
berasaldariMasyumi,militerdanSoemitroDjojohadikusumo
berkumpul di Padang dan mengadakan rapat rahasia di
Sungai Dareh, yang membicarakan rencana pemberian
ultimatum kepada pemerintah pusat yang harus dipenuhi
dalam waktu 5 x 24 jam. Ultimatum itu berisi tuntutan akan
otonomi yang lebih luas, perbaikan di segala bidang, dan
dibuatKomandanUtamaMiliterdiwilayahSumateraUtara.
Tentu saja ultimatum ini ditolak oleh Djuanda dan seluruh
perwira yang terlibat di dalamnya justru dipecat oleh
Pemerintah Pusat. Dewan Banteng menolak keputusan
Kabinet Djuanda dengan membentuk Pemerintahan
Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang dibacakan oleh
Kolonel Ahmad Husein pada 15 Februari 1958, dengan
ibukota di Bukittinggi. Sedangkan Sjafruddin Prawiranegara
diangkat sebagai Perdana Menteri. Ultimatum inilah yang
membuat Bung Karno segera memerintahkan penggelaran
Operasi 17 Agustus yang dipimpin oleh Jenderal Abdul Haris
NasutionuntukmemberantasPRRI.
Di Sulawesi, proklamasi PRRI mendapat dukungan dari para
pimpinan Permesta. Komandan Deputi Wilayah Militer
Sulawesi Utara dan Tengah, Kolonel Somba mengumumkan
bahwa sejak 17 Februari 1958, Permesta mendukung PRRI
dan menyatakan memisahkan diri dari pusat. Para pemimpin
Permesta mencari dukungan dari pihak manapun untuk
mencapai tujuannya mengingat keyakinan akan adanya
tindakan tegas dari pemerintah pusat. Berkaitan dengan
pengeboman Manado oleh pasukan RI, maka perwakilan
PermestamencaribantuankeFilipina,Taiwan,KoreaSelatan,
dantentusajaCIA.
127

Sebenarnya sekitar 16 Januari 1958 Bung Hatta dan Sjahrir
merasa perlu untuk meredam suasana dengan mengirimkan
seorangutusankedaerah-daerahbergolak.Utusanituadalah
Djoeir Moehamad, salah seorang anggota Dewan Pimpinan
Partai Sosialis Indonesia (PSI). Bung Hatta dan Sjahrir
mengingatkan bahwa pergolakan yang dilakukan saat kondisi
dunia dalam keadaan terpecah dalam blok barat dan blok
timur seperti ini akan sangat rentan dimanfaatkan oleh
Amerika karena mereka melihat kecenderungan Soekarno
yang akrab dengan Uni Soviet. Dan apa yang dikhawatirkan
oleh kedua tokoh ini belakangan terbukti, PRRI ternyata
sudahdimanfaatkanolehAmerika.
Djoeir Moehamad juga menyampaikan pesan kepada Letkol
Barlian dan Ahmad Husein. Ia mengingatkan bahwa suatu
pemberontakan untuk membentuk Pemerintahan yang lain
akan menimbulkan korban yang tidak sedikit, setidak-
tidaknya akan mengakibatkan perkembangan daerah yang
bersangkutan tertinggal selama satu generasi. Letkol Barlian
mengikuti saran Djoeir, sementara Ahmad Husein berada
dalam kondisi yang sulit ditengah himpitan kawan-kawan
militernya yang lain. Selain Djoeir, Djohan Sjahroezah juga
pernah menemui para pemimpin PRRI di Sungai Dareh agar
mengurungkan niatnya menggelorakan pemberontakan
namun nasihat Djohan tampaknya dianggap angin lalu oleh
parapemimpinPRRItersebut.

PSIdanPRRI
Walautidakterlibat,PSIharusmerasakangetahdarigerakan
PRRIdiSumateradanPermestadiManado.Sebenarnyatidak
ada bukti bahwa PSI sebagai partai terlibat dalam aksi-aksi
PRRIdanPermesta.Tapitakdapatdiingkaribahwasalahsatu
128

kader PSI terlibat aktif bahkan menjadi menteri dalam
Kabinet PRRI. Dalam daftar nama Kabinet PRRI yang
diumumkan pada 15 Februari 1958 itu terdapat nama Dr.
Sumitro Djojohadikusumo sebagai Menteri Perhubungan /
Pelayaran.
Keterlibatan Soemitro di PRRI sebenarnya bukan sesuatu
yang telah direncanakan dalam waktu yang lama. Sebelum
terlibat dengan PRRI, pada akhir Maret 1957, Soemitro
dipanggil Corps Polisi Militer (CPM) Bandung—menurut
seorang sumber karena terkait kasus penggelapan uang.
Namun pada pemeriksaan tersebut tidak ditemukan bukti
yangkuatdantidakadaalasanuntukmenahanSoemitrodan
ia dibolehkan pulang. Namun CPM kembali memanggil
Soemitro untuk kedua kalinya pada tanggal 6—7 Mei 1957.
Dan panggilan selanjutnya pada 8 Mei 1957. Djohan
Sjahroezah yang diberi tahu bahwa Soemitro diduga terlibat
tindak korupsi yang dilakukannya untuk kepentingan partai
hanya berkata “Kalau dia korupsi, begitu pula saya” seperti
yang diceritakan kembali oleh Subadio saat diwawancara
RudolfMrazek.RentetanpemanggilaninimembuatSoemitro
merasa dalam kondisi tertekan, terlebih lagi media massa
komunis terus menurunkan berita tentang kemungkinan
Soemitro ditangkap. Merasa tidak ada pilihan, Soemitro
akhirnya menyingkir ke Sumatera untuk bergabung dengan
Letkol Barlian dan Mayor Nawawi di Palembang. Ia sempat
menyamarsebagaiLetnanDuaRasyidin.Pada13Mei1957,ia
tiba di Padang, bertemu Panglima Divisi Banteng, Letkol
AhmadHusein.
Mendengar kepergian Soemitro, Sjahrir menugaskan Djoeir
Moehamad dan Djohan Sjahruzah menjalin kontak dengan
dewan-dewan militer di Sumatera dan menghubungi
Soemitro. Kedua petinggi PSI ini mencari jejak Soemitro
129

hingga ke Padang, sayangnya yang dicari telah berangkat ke
PekanbaruuntukselanjutnyakeBengkalisdanmenyamarjadi
kelasi untuk sampai di Singapura. Dalam “Memoar Seorang
Sosialis” Djoeir menulis "Ia ternyata menempuh jalan sendiri
dan diumumkan menjadi salah seorang menteri PRRI."
SoemitrolalukeSaigonjugadenganmenyamarsebagaikelasi
kapal sebelum ke Manila dan melakukan kontak dengan
Permesta. Soemitro diketahui bertanggung jawab atas
pengadaan logistik bersama Kolonel Simbolon dan Husein.
Soemitro keluar masuk Thailand dan Taiwan untuk membeli
senjata lalu kembali ke Minahasa dengan pesawat yang
penuhdenganamunisi.
Selain Soemitro, “orang PSI” lainnya yang memihak PRRI
adalahDutaBesarRIdiRoma,Mr.St.MohdRasjid.Kemudian
yang juga dianggap dekat dengan PSI dan Sjahrir adalah Des
Alwi. Anak angkat Sjahrir ini menyatakan diri bergabung
dengan PRRI/Permesta dan menjadi juru bicara
PRRI/Permesta di luar negeri termasuk menyelundupkan
wartawan-wartawan Filipina ke Manado untuk
mewawancarai dan melihat langsung kondisi Permesta. “Aku
menghubungiKolonelVenceSumualyangsedangmemimpin
aksipembangkangdariManado,SulawesiUtara.Duaminggu
kemudian aku mengajak Benigno Aquino wartawan koran
ManilaTimesdantigaorangwartawanasingkeManadoagar
mereka bisa melakukan wawancara Iangsung dengan
pimpinan Permesta. Dalam pelayaran pulang melalui
Zamboanga, kapal kami disergap pesawat mustang. Aku
beruntung tembakannya meleset sehingga kami semua
selamatkembalidiManila….
…Aku menganut prinsip the rights to rebel Aku tidak mau
menyerah kepada semua praktek ketidakadilan dan
pengingkarandemokrasi.Bersamakeluargaku,sejak1962aku
130

menetap di Kuala Lumpur, Malaysia. Anna istriku, meniadi
penyiar radio Malaysia, pemancar resmi milik Pemerintah
Malaysia. Sedangkan diriku, sebagaimana profesi lama
mengelola pemancar geiap, waktu itu dengan tujuan untuk
menggoyang rezim Soekarno” Tulis Des Alwi pada bukunya
PertempuranSurabaya,November1945.

PSIDibubarkan
Keterlibatan Soemitro di PRRI/Permesta akhirnya dikaitkan
dengan Partai Sosialis Indonesia. Kalangan media massa
menyebut Soemitro sebagai “milyuner kerakyatan” yang
tentu saja merupakan sindiran terhadap konsepsi Sosialisme
Kerakyatan ala PSI. Selain itu beberapa media yang dianggap
dekat dengan PSI beberapa kali menurunkan tulisan yang
bernada menyanjung apa yang terjadi di daerah-daerah.
Tentu saja ini semakin membuat posisi PSI semakin terjepit
dansulit.
Akhirnya pada 21 Juli 1960, Presiden Soekarno secara resmi
memanggil Pimpinan Pusat Partai Sosialis Indonesia (PSI)
yaitu: Sjahrir, Djohan Sjahroezah, Soebadio Sastroastomo,
T.A. Moerad dan Djoeir Moehamad. Kepada mereka
ditanyakan apakah PSI terkena pasal 9 ayat (1) berupa
Penetapan Presiden RI No. 7 Tahun 1959 tentang Syarat-
syarat dan Penyederhanaan Kepartaian atau tidak. Setelah
memberikan jawaban lisan, Pimpinan Pusat PSI berjanji akan
memberikanjawabansecaratulisan.
Jawaban resmi PSI secara tertulis dikirimkan oleh Sjahrir
kepada Presiden Soekarno pada 27 Juli 1960, yang pada
intinyaadalahsebagaiberikut:
131

(1) PSI menganjurkan serta menyetujui disertai dengan
harapan kembali ke UUD 1945 berarti pernyataan
niat untuk meninggalkan segala keburukan
kekhilafan yang telah timbul dan merajalela selama
hidup dengan UUD 1950 yaitu terutama perpecahan
dankorupsi.
(2) Sesuai dengan garis politik dan perjuangan partai,
maka partai tidak pernah menyatakan
persetujuannyaterhadapapayangdisebutPRRIyang
diproklamasikan pada tanggal 15 Februari 1958.
Bahkan Pimpinan Pusat Partai telah mengirim Djoeir
Moehamad dan Imam Slamet ke Sumatra untuk
mencegahterjadinyapemberontakan.
(3) Saudara Dr. Soemitro Djojohadikusumo yang ikut
dalam PRRI sebagai menteri keuangannya adalah di
luar pengetahuan partai, apalagi dia tidak pernah
diberikan kuasa untuk bertindak atas nama partai.
Sejak semula pendirian kita tegas dan tidak ragu-
ragu; semua anggota partai kita dilarang mengikuti
gerakanpemberontakanitu.
Setelah jawaban tertulis dari Pimpinan Pusat PSI, sekali lagi
PimpinanPusatPSIdipanggilolehBungKarnoyangkemudian
menyampaikan bahwa PSI akan dibubarkan karena kondisi
Negara yang dalam keadaan “Staat van Orlog en Beleg”
(SOB). Kemudian pembubaran resmi Partai Sosialis Indonesia
tertuangdalamkeputusanPresidenNo.201Tahun1960yang
diumumkan oleh Presiden Soekarno pada 17 Agustus 1960
dengan alasan sebagai berikut, “Oleh karena organisasi
(partai) itu melakukan pemberontakan, karena pemimpin-
pemimpinnya turut dalam pemberontakan apa yang disebut
‘Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI)’ atau
‘Republik Persatuan Indonesia (RPI)’ atau telah jelas
132

memberikan bantuan terhadap pemberontakan, sedangkan
anggota organisasi (partai) itu tidak resmi menyalahkan
perbuatananggota-anggotapimpinantersebut”.
Setelah pengumuman pembubaran PSI keluar, Sekretariat
Dewan Pimpinan Pusat PSI melalui Soebadio Sastroastomo
mengajukan kepada Peperti (Penguasa Perang Tertinggi)
untuk mengadakan Kongres Luar Biasa pada 25—27
September 1960 di Jakarta. Karena tidak diberikan izin oleh
Peperti, maka Dewan Pimpinan Pusat PSI menginstruksikan
kepada seluruh cabangnya di Indonesia untuk membubarkan
diri.DengandemikiansesungguhnyaPartaiSosialisIndonesia
belum pernah bubar, karena untuk membubarkan partai
haruslah melalui keputusan yang diambil dalam kongres
sesuai dengan ketentuan Peraturan Dasar partai, atau yang
lazimdisebutAD/ARTpadamasakini.
Tidak berhenti sampai di situ, PSI kembali mengalami ujian
denganditangkapnyaSjahrirdanSubadioSastrosatomoserta
beberapa kadernya. Penangkapan ini didasarkan pada
laporan-laporan intelejen hasil olahan Soebandrio, yang saat
itumenjabatsebagaiKepalaPusatIntelijensekaligusMenteri
Luar Negeri. Soebandrio melaporkan adanya pertemuan
rahasiapada18Agustus1961diBaliyangdiikutiolehtokoh-
tokoh politik yang kebetulan bersebrangan dengan Soekarno
seperti Moh. Hatta, Sjahrir, Moh. Roem, Sultan Hamid II dan
Soebadio Sastrosatomo untuk membicarakan sebuah
konspirasipersekongkolansubversif.
Selain itu ada peristiwa lainnya yang dikaitkan dengan
“Pertemuan Bali” dan menjadi bahan pertimbangan bagi
Subandrio untuk memperkuat tuduhannya terhadap mereka
yang hadir di Bali. Pada 7 Januari 1962, iring-iringan mobil
presiden yang hendak berpidato di Makasar di lempari
granat. Granat yang jatuh sekitar 150 meter di belakang
133

mobil terakhir rombongan presiden itu menewaskan tiga
orang dan melukai 28 penonton. Dari rombongan presiden
sendiri tidak ada yang terluka. Sekitar seminggu pasca
peristiwa tersebut, dua orang Belanda ditangkap. Dari
mereka inilah kemudian beredar desas-desus tentang
keberadaan Verenidge Ondergrondse Corps (VOC), sebuah
organisasi bawah tanah yang disinyalir akan melakukan
makar terhadap presiden. Organisasi ini merujuk kepada
“komplotanBali”Mendapatkanlaporantersebut,BungKarno
memerintahkan aparat keamanan untuk menangkap Sjahrir
pada 16 Januari 1962, yang kemudian diikuti dengan
penangkapan Agung Gde Agung, Soebadio Sastosatomo dan
Sultan Hamid II. Tokoh-tokoh Masyumi seperti Moh. Roem
danPrawotoMangkusasmito.
Kenyataannya, pertemuan yang diadakan di Bali tersebut
bukanlah pertemuan politik—bahkan bukan juga sebuah
pertemuan—karenaberkumpulnyatokoh-tokohtersebutatas
dasar undangan dari Anak Agung Gede Agung untuk
menghadiri upacara ngabenan ayahnya. Namun ada sebuah
anekdot yang menyatakan bahwa ditangkapnya orang-orang
tersebut karena tersinggungnya perwakilan pemerintah yang
sama-samadiundangnamuntidakditempatkanpadaderetan
kursi yang sama dengan Sjahrir, Subadio dan orang-orang
Masjumi. Perwakilan pemerintah “panas kuping” melihat
para undangan VIP itu tertawa dan tampak bersenda gurau
tanpa melibatkan mereka. Kekanakan memang, tapi bisa jadi
anekdotinibenar.
Menurut cerita Djoeir Mohamad, sebenarnya ada cerita
tersendiri di balik penangkapan tersebut. Beberapa minggu
sebelum penangkapan atas tokoh-tokoh PSI terjadi,
SoebandriosempatmendatangiSjahrirbersamakepalapolisi
saat itu. Sebelum Soebandrio tiba, Sjahrir memerintahkan
134

Djoeir untuk menguping dibalik kamar. Saat itu, Soebandrio
yangmemangsudahdekatdengankalangansosialismeminta
kepada Sjahrir untuk mendukung demokrasi terpimpin ala
Soekarno. Oleh Sjahrir, permintaan itu ditolak. Hanya
beberapa minggu setelah peristiwa itulah Sjahrir dan
Soebadioditangkap.
Mengenai Djohan Sjahroezah sendiri, tak banyak kegiatan
yang dilakukannya di era-era ini, Djoeir Moehamad dalam
bukunya Memoar Seorang Sosialis menuliskan: “Setelah
pemberontakan PRRI usai, Masyumi dan PSI dibubarkan,
Djohan Sjahroezah berkata bahwa Ia melihat kecenderungan
perkembangan totaliterisme dan militerisme di Indonesia,
sernentara ‘kerakyatan terjepit dan dikesampingkan jauh.’
Memang, sejak Partai Sosialis Indonesia dibubarkan apalagi
setelah Bung Sjahrir meninggal, Djohan Sjahroezah tetap
menjadi salah satu titik sentral bagi orang-orang yang
kehilangan partainya. Ia setia mengikuti dan mempelajari
perkembangan situasi, mendiskusikannya dengan tenang,
mantap dan sabar. Tapi Ia juga tetap terbuka pada semua
lapisan dan golongan politik, tak pilih dari kelompok politik
manapun. Djoeir mengatakan bahwa “Bertemu dengan Bung
Djohan di saat situasi politik yang pengap, senantiasa
membukakan hati, pikiran dan semangat kepada perjuangan
untukkepentinganrakyatbanyak.”
Dalam kapasitasnya sebagai rakyat biasa, Djohan tak dapat
melakukan banyak hal, begitu pula dengan teman-temannya
yang tersisa. Ia hanya memposisikan diri sebagai penonton
yangmelihatadegankaumtotalitermenghabiskantenaganya
sendiri. Bagi Djohan arus totaliterisme belum habis, belum
terkikis, sedangkan arus demokrasi dalam ujian. “Djohan
menyadari kesulitan perjuangan ini, menyadari kesulitan
teman dan kawannya, apalagi anak-anak didiknya. Namun Ia
135

percaya bahwa tingkah langkah totaliterisme itu sendiri
melahirkan syarat-syaratnya bagi perjuangan rakyat itu
sendiri,”demikianmenurutDjoeirdalampidato10November
1968 yang dilakukan dalam rangka untuk memperingati
kematian Bung Diohan Sjahroezah 2 Agustus 1968. Hingga
akhir hayatnya, Djohan masih berhubungan dengan para
kader PSI atau mereka yang meyakini jalan Sosialisme
Kerakyatan. Sebagai “orang biasa” Djohan tak bisa berbuat
banyak untuk membangkitkan kembali partainya. Hanya saja
begitu pentingnya PSI bagi Djohan tergambar dari
kebiasaannyamelintingtembakaukesukaannyamenjadilebih
besar pada saat hari ulang tahun Partai Sosialis Indonesia.
Sebuah perayaan yang jauh dari dansa-dansi dan glamour
yangdiberikanolehabdiSosialismeKerakyatan.

136

BABX
MentorHinggaUjungUsia
Peristiwa PRRI/Permesta menjadi titik balik kejatuhan PSI
secara organisasi. Meski para pimpinan partai sudah
berusaha keras menyelamatkan PSI dari pembubaran partai,
Bung Karno yang saat itu menjadi kekuatan tunggal akhirnya
menutup usia PSI secara resmi pada 17 Agustus 1960.
Keterlibatan Soemitro Djojohadikusumo yang merupakan
anggota politbiro PSI, dianggap cukup mewakili keterlibatan
PSI dalam peristiwa PRRI/Permesta. Meskipun partai sendiri
sebenarnya sudah berusaha keras untuk menghentikan
pemberontakan tersebut, Bung Karno tetap menganggap PSI
secara organisasi harus bertanggungjawab terhadap
keterlibatansalahsatukadernyatersebut.
Jika mengacu pada Peraturan Dasar organisasi, PSI
sebenarnya hanya bisa dibubarkan melalui mekanisme
kongres. Oleh karena itu, saat permohonan Soebadio
Sastrosatomo untuk mengadakan Kongres Luar Biasa (KLB)
pada pada 25—27 September 1960 di Jakarta ditolak oleh
Bung Karno, PSI sebenarnya belum bubar secara organisasi.
Secara de jure, izin PSI memang sudah dicabut secara resmi
olehpemerintah.TapisecaradefactoPSIsesungguhnyatidak
resmi bubar. Dengan demikian kegiatan-kegiatan
pengkaderan pascapembubaran 1960 masih berlangsung.
Djohan Sjahroezah tetap konsisten menjalankan pendidikan-
pendidikan kader yang memang sejak awal sudah menjadi
kegiatannyasehari-hari.
Pendidikan kader tetap dilakukan seperti biasa. Sejak awal
Djohan yang memang pejuang bawah tanah tetap menjadi
mentor sekaligus tempat bertukar pikiran bagi semua
kalangan. Sebagai pribadi, Djohan tetap dihormati baik oleh
137

kalangan komunis angkatan baru seperti Aidit maupun oleh
golonganMasyumi.KedekatannyadengankalanganMasyumi
bisa dipahami sebab saat itu Djohan yang merupakan
menantu dari H. Agus Salim memang tinggal di rumah milik
tokohIslamlegendaristersebut.
Salahsatukadernyadarikalangankomunisyangmasihsering
mengunjungi Djohan adalah Oloan Hutapea—sebelum
meletus peristiwa 30 September 1965. Saat itu, Oloan
Hutapea sempat berujar kepada Yoyet, panggilan bagi istri
Djohan,denganbercanda:
“Kamisudahmenemukancarabagaimanamenghukumbung
Djohan. Dia harus dihukum karena dia ikut PSI. Bung Djohan
akankamihukummatidanakankamigantungtinggi-tinggi.
Paling tinggi di antara yang lain-lainnya. Tetapi jangan
khawatir, kami akan tanggung semua biaya pendidikan dan
kehidupananak-anaknya!”
Humor ini tidak hanya menggambarkan betapa dekatnya
Djohan dengan kader-kadernya dari golongan komunis,
sekaligus menggambarkan bagaimana runcingnya perbedaan
ideologis antara PSI dan PKI saat itu. Selain golongan Islam
dankomunis,DjohanjugadihormatiolehBungHatta.Seperti
yang diceritakan oleh Djoeir Moehamad, pada awal-awal
orde baru terdengar kabar bahwa Bung Hatta hendak
mendirikan sebuah partai yang bernama Partai Demokrasi
Sosial Islam. Boleh dibilang, partai ini sudah pasti akan lahir.
Anggaran dasarnya bahkan sudah dikonsep oleh Tamimi
Oesman di Sumatera Barat. Mendengar hal ini Djohan
kemudian mendatangi langsung Bung Hatta di rumahnya.
Saatbertemu,DjohanmelontarkankritiknyaatasniatanBung
Hattatersebut.
“KatanyaBungmauberdiridiatassemuagolongan.Sayarasa
itulah yang benar untuk Bung. Citra diri Bung akan lain bila
138

Bung mengecilkan diri dalam suatu kelompok. Lagipula
apakah Bung sudah benar-benar mempelajari dulu situasi,
apaiklimnyamendukungatautidak,”
Dengan kaget Bung Hatta menjawab “Menurut Bung
bagaimana?”
“Bung sudah dengar pendapat saya. Pada akhirnya itu kan
terserahBungsekarang,”jawabDjohan.
Setelah kritik yang dilontarkan Djohan tersebut, Bung Hatta
kemudian mengurungkan niatnya untuk mendirikan partai.
Meskitidakmengatakanalasannyasecaralangsung,masukan
dari Djohan Sjahroezah tentu cukup menjadi pertimbangan
bagi Bung Hatta untuk tidak mendirikan partai. Dengan
demikian dapat dipahami bahwa meskipun Djohan
Sjahroezah tidak lagi aktif terlibat dalam politik akibat
pembubaran PSI, pemikiran dan analisisnya tetap dihormati
bahkan oleh tokoh sekelas Bung Hatta. Bagi Djohan, dengan
dibubarkannyaPSIbukanberartiiaberhentiberjuang.Djohan
terus menjadi poros tempat para pejuang mengadu dan
bertukarpikiran.
Meskipun tetap melakukan pendidikan-pendidikan kader, PSI
tetap mematuhi keputusan pemerintah saat itu. Sebagai
partai yang sudah dibubarkan PSI menyadari dengan tidak
melakukan perekrutan kader. Djohan dan kawan-kawan
hanya melakukan pendidikan politik tanpa berniat
menambahanggota.Padamasa-masainibanyaktokoh-tokoh
yang lahir dalam lingkaran diskusi PSI. Meskipun namanya
sudah tidak lagi diakui pemerintah, namun pengaruh PSI
tetap merentang jauh hingga beberapa tahun ke depan.
Kegiatan-kegiatan pendidikan dan pengkaderan ini kemudian
melahirkan golongan yang disebut sebagai “habitat PSI”.
Mereka adalah tokoh-tokoh intelektual yang aktif bergaul
139

dalam lingkaran diskusi PSI, dan menjalin kedekatan dengan
tokoh-tokoh PSI termasuk Djohan Sjahroezah. Tokoh-tokoh
inilahyangkemudiandianggapsebagaikader-kaderPSImeski
secararesmibukantermasukanggota.

DinamikaInternalPSI
Pascapenangkapan Sjahrir dan Soebadio, praktis peranan
Djohan dalam tubuh PSI semakin besar. Djohan menjadi
mentor yang banyak berdiskusi dengan orang-orang yang
memiliki kecenderungan sosialis. Pendidikan-pendidikan
politikterusberlangsungmeskipunduatokohPSI,Sjahrirdan
Soebadio mendekam di penjara. Pada 23 November 1962,
Sjahrir dipindahkan dari Madiun ke Jakarta seiring dengan
kesehatannya yang makin memburuk. Selama delapan bulan
SjahrirdirawatdiRumahSakitPusatAngkatanDarat(RSPAD)
dibawah pengawasan T.B. Simatupang. Di rumah sakit inilah
Djohan sering menjenguk pamannya dengan mengajak
anggotaPSIlainnya.
Seiring dengan kesehatannya yang terus merosot, Sjahrir
kemudian diijinkan berobat ke luar negeri—selain Belanda.
Pada21Juli1965SjahrirdankeluargabertolakkeSwissuntuk
menjalani pengobatan dengan status tetap sebagai
interniran. Hanya setahun di Zurich, Sjahrir akhirnya
menghembuskannafasterakhirnyapada9April1966,setelah
sebelumnya koma selama tujuh hari. Enam hari setelahnya,
Soekarno mengeluarkan dekrit presiden yang mengangkat
Sjahrir sebagai pahlawan nasional. Dengan demikian Sjahrir
pun dimakamkan secara kenegaraan dengan penuh
penghormatan. Menurut Rosihan Anwar, tidak kurang dari
250ribuorangmenghadiripemakamantersebut.
140

Kematian Sjahrir yang selama ini dianggap sebagai ikon PSI,
semakin menahbiskan Djohan sebagai tokoh sentral PSI.
Sebagai Sekretaris Jenderal PSI, Djohan justru lebih banyak
terlibat pada pendidikan kader. Jika para petinggi PSI selama
ini dianggap elitis dan kurang merakyat, Djohan adalah
antitesis dari semua itu. Sejak masa pendudukan Jepang,
Djohan dikenal dekat dengan rakyat. Pun pascakematian
Sjahrir, Djohan masih tetap melakukan pendidikan-
pendidikankaderbersamaDayino.
Sementara itu, perubahan arus politik dengan tumbangnya
Bung Karno memiliki kisah tersendiri dalam tubuh PSI.
Soeharto yang kemudian mengambil tampuk kepemimpinan
banyak bersinggungan dengan tokoh-tokoh PSI ataupun
tokoh-tokohyanglahirdari“habitatPSI”.
Pada masa-masa awal Soeharto menjabat, ia sempat
menemuiDayinoyangmemangpernahdekatdengannyasaat
di kelompok Pathuk. Saat itu Soeharto meminta kepada
Dayino untuk menempatkan kader-kader PSI di
pemerintahan. Padahal saat PSI mengajukan permohonan
untukkembaliberaktivitassecaralegalditolakolehSoeharto.
Permintaan ini bukan tanpa alasan. Soeharto saat itu
memang dikenal dekat dengan Amerika. Untuk memperoleh
bantuan pinjaman, Amerika mensyaratkan kepada Soeharto
untuk menempatkan kader-kader sosialis di jajaran
pemerintahannya. Sebab Amerika saat itu masih
menyangsikan bahwa Indonesia belum sepenuhnya terbebas
dari unsur-unsur komunis. Sebelumnya, Soeharto memang
dikenal dekat dengan kalangan Murba yang merupakan
komunisdarigarisTanMalaka.
Keberadaan kader-kader sosialis yang memang dikenal
sebagai musuh bebuyutan kaum komunis akan melegitimasi
pemerintahan Soeharto di mata Amerika. Oleh karena itu,
141

untuk membersihkan stigma Indonesia dari nuansa komunis,
Soeharto berkepentingan untuk menemui Dayino, kader
sekaligus kawan karib Djohan Sjahroezah yang saat itu
sempat menjabat sebagai anggota politbiro partai. Sebelum
memberikan jawaban kepada Soeharto, Dayino sempat
berkonsultasi kepada Djohan Sjahroezah. Oleh Djohan,
Dayino diminta menyampaikan kepada Soeharto bahwa
mereka bersedia membantu Soeharto dengan dua syarat.
Pertama, Soeharto diminta mengembalikan demokrasi yang
sudah direnggut dari rakyat. Kedua, Soeharto diminta untuk
mengembalikan posisi PSI sebagai partai yang resmi diakui
pemerintah.
Jawaban yang dilontarkan Soeharto justru membuat
menimbulkan polemik dalam tubuh eks-PSI. Pasalnya, bukan
hanya menolak membangun demokrasi, Soeharto juga
berencana menyederhanakan partai-partai menjadi tiga
golongan saja. Partai golongan nasionalis, partai Islam serta
partai Golongan Karya (Golkar) yang didirikannya. Kebijakan
ini oleh Djohan Sjahroezah dianggap mengkhianati spirit
demokrasi.DjohanjugamenganggappemerintahanSoeharto
cenderungfasissehinggatidakbolehdidukung,bahkanharus
dilawan.
Pendapat Djohan Sjahroezah ini kemudian menimbulkan
perbedaan pendapat yang cukup tajam di kalangan PSI.
Soebadio yang sempat dipenjara oleh Bung Karno pada
1962—1965 justru berpendapat berbeda dengan Djohan
dalam menyikapi pemerintahan Soeharto. Jika Djohan
menganggap Soeharto sebagai fasis dan harus dilawan, kubu
Soebadio justru menganggap Soeharto sebagai kesempatan
untuk menempatkan kembali kader-kader PSI di
pemerintahan.
142

Perbedaan semakin meruncing dengan tajam. Kader-kader
PSI terpisah kedalam garis Djohan Sjahroezah dan garis
Soebadio. Pada akhirnya, sebagai Sekretaris Jenderal Djohan
Sjahroezah hanya bisa membiarkan kader-kadernya untuk
turut berkecimpung dalam pemerintahan Soeharto. Hal ini
terpaksadilakukanuntukmenghindariperpecahanyangakan
membahayakan PSI itu sendiri. Pada akhirnya, kita mengenal
nama-nama tokoh PSI yang kemudian ikut membantu
pemerintahan Soeharto. Sudjatmoko kemudian diangkat
menjadi duta besar Indonesia untuk Amerika. Rahman
Tolleng ikut terjun membangun Golkar. Sementara Profesor
Sarbini Sumawinata pada akhirnya diangkat menjadi ketua
Tim Ahli Politik Soeharto pada 1966. Di kalangan tentara,
Komando Daerah Militer (Kodam) Siliwangi Letnan Jenderal
H.R. Dharsono juga dikenal dekat dengan kalangan PSI,
sehinggadigolongkansebagaimiliterprogresif.
Masa-masa awal orde baru, orang-orang yang secara
pemikiran dekat dengan PSI banyak memberikan sumbangan
pemikiran yang signifikan. Pemikiran-pemikiran sosialis
banyak yang kemudian merembes ke kalangan anak-anak
muda. Lewat barisan KAMI dan Gemsos, orang-orang
eksponen PSI banyak bereksperimen dengan sosialisme.
DengantertutupnyakesempatanbagiPSIuntukdirehabilitasi,
orang-orangPSIpadamasaordebarubanyakbereksperimen
untuk tidak bergerak berdasarkan ideologi, tapi lebih kepada
program yang disebut Independen Group. Ajang aktualisasi
eksponen PSI ini memang tidak bertahan lama. Kelompok ini
dicapsebagaineo-PSIsehinggadibubarkanolehSoeharto.
Meski hanya diikuti oleh sebagian kecil kader PSI, analisis
Djohan Sjahroezah terhadap pemerintahan Soeharto
memang pada akhirnya terbukti. Soeharto cenderung
menjadi fasis dan bertindak otoriter. Tak hanya itu, setelah
143

masuknya dana dari Amerika, Soeharto mulai menyingkirkan
orang-orang sosialis dari lingkaran pemerintahannya. Hal ini
terbuktisaatmeletusnyaperistiwaMalaritahun1974.Tanpa
penyelidikan yang jelas, tokoh-tokoh PSI banyak yang
dipenjarakan dengan dalih turut terlibat dalam huru-hara
tersebut.
Saat itu, pemerintah orde baru melalui Operasi Khusus yang
dipimpin oleh Ali Murtopo menuding orang-orang dalam
habitat PSI menjadi dalang atas kerusuhan tersebut. Nama-
namasepertiSubadioSastrosatomo,SarbiniSumawinata,Dr.
Sjahrir, Hariman Siregar dan Rahman Tolleng ditangkap dan
dijebloskankedalampenjaratanpaprosespengadilan.Pasca
peristiwa Malari inilah kelompok PSI menjadi pihak oposan
terhadappemerintahanordebaru.

KematianDjohanSjahroezah
Denganmerapatnyasebagianbesarkader-kaderPSIkedalam
lingkaran pemerintahan Soeharto, bukan berarti Djohan
Sjahroezah kehabisan kader-kader militan. Justru kelompok
kecil dalam lingkaran Djohan lah yang kemudian banyak
berafiliasi dengan masyarakat dan membangun gerakan akar
rumput. Nama-nama seperti Dayino, Tobing dan Nurullah
merupakan kader-kader didikan Djohan Sjahroezah yang
terus konsisten mendidik kader-kader sosialis muda. Dayino
sering berkeliling di sekitar Jawa Tengah untuk memberikan
pendidikan politik. Sementara Tobing beredar di Jawa Barat.
DanNurullahlebihbanyakbermaindiJawaTimur.
Di antara sekian banyak kader-kader Djohan Sjahroezah,
memang tidak sedikit yang kemudian bersebrangan secara
politik dengan menjadi PKI. Roeslan Widjajasastra misalnya,
kader Djohan saat membangun gerakan buruh minyak di
144

Surabaya ini kemudian menjadi Ketua Umum Dewan
Pimpinan Pusat Pesindo, dan sesudah 1950-an menjadi salah
seorang Sekretaris Jenderal SOBSI selain juga salah seorang
anggota pimpinan tertinggi PKI. Selain itu ada nama
Mohammad Munir, Ketua Dewan Nasional SOBSI dan salah
seorang anggota pimpinan tertinggi PKI. Belum lagi Sjam
Kamaruzaman. Wakil Ketua Biro Khusus CC PKI ini pernah
menjadi bagian dari kelompok Pathuk didikan Djohan.
Termasuk juga Hartoyo, salah seorang Wakil Ketua BTI
(BarisanTaniIndonesia).SertaM.H.Lukmanyangmerupakan
anggota politbiro PKI. Ada juga nama Oloan Hutapea yang di
kemudianharimeneruskanperjuanganPKIdiBlitarSelatan.
MeskipunsecaraidelogisgarisyangdianutDjohandankader-
kadernya yang kemudian memilih PKI sangat bertentangan
dan cenderung saling memusuhi, sampai akhir hayatnya
Djohan masih sering dikunjungi petinggi-petinggi PKI
tersebut. Djohan oleh kader-kadernya dianggap bisa di
jadikan tempat bertukar pikiran meskipun berbeda dalam
menempuh jalan perjuangan. Menurut Imam Yudotomo,
DjohanmemangagakberbedadengantokohPSIlainnya.Jika
tokoh lainnya sangat bersebrangan baik secara pribadi
maupun politik dengan kaum komunis, Djohan sepertinya
berprinsip “We’re not communist, but we’re not anti-
communist”.
Dengan demikian, sampai akhir hayatnya Djohan tetap
konsisten bergerak pada tataran kader. Djohan sendiri
menghembuskan nafas terakhirnya pada 2 Agustus 1968
dalam usia 56 tahun. Djohan yang semasa hidupnya tidak
berhenti berjuang, akhirnya harus menyerah terhadap
penyakit kanker paru-paru. Pada masa sakitnya, Imam
Yudotomo yang saat itu hendak pamit untuk mengikuti
agenda sosialis di Eropa memiliki pengalaman berkesan. Saat
145

itu, Djohan yang di rawat di Rumah Sakit Persahabatan
terlihat cerah, meskipun sesekali terlihat menahan sakit.
Ketika hendak pulang, Imam dipanggil oleh Yoyet yang
kemudian memberikan uang, “Jangan ditolak, nanti Om
Djohanmarah,”ujarYoyet.
Cerita ini membuktikan bahwa Djohan memiliki perhatian
yangbesarterhadapkader-kadernya.Pertanyaan-pertanyaan
ringan seperti “sudah makan belum?” atau “punya ongkos?”
yangseringialontarkanwalaupunsepelenamuntertinggaldi
benak kader-kadernya yang memang sulit makan dan sering
kehabisan ongkos. Bagi kader-kadernya, bentuk perhatian
Djohan yang meskipun terlihat dilontarkan secara ringan,
memperlihatkan pengertian akan kehidupan kalangan rakyat
bawah.Sebagaiorangyangtelahkenyangmakanasamgaram
perjuangan, Djohan menyadari sepenuhnya kesulitan-
kesulitanyangdialamiolehparakadernya.
Sampai akhir hayatnya, Djohan tidak pernah bisa berdamai
dengan penindasan dan ketidakadilan. Kepada pemerintah
orde baru yang dianggapnya fasis, Djohan juga terus
mengumandangkan semangat perlawanan. Hanya beberapa
jam sebelum meninggal, Djohan sempat berkata “Masih
banyak yang harus dirombak dan dikerjakan”. Perkataan ini
menunjukkan bahwa Djohan mengamini masih banyak
pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Oleh karena itu,
sebelum berpulang Djohan juga sempat berpesan kepada
Dayino dan Tobing untuk menata kembali gerakan rakyat
yang tercerai-berai pasca peristiwa 1965, serta meneruskan
perlawananterhadaprezimotoriterordebaru.
Dalam upacara pemakanan Djohan Sjahroezah, Menteri Luar
NegeriAdamMalikberkata:
146

“Walaupun di masyarakat luas nama Djohan Sjahroezah
tidak begitu dikenal, tetapi di antara kita semua yang turut
berjuang menentang penjajahan, dan yang mengerjakan
suatu Indonesia yang merdeka dan berdaulat, dan yang
mencita-citakan suatu masyarakat yang adil dan makmur,
namaDjohanSjahroezahmempunyaiartiyangbesar.”
Padatahun1968itulahIndonesiakehilangansalahsatukader
sosialis terbaiknya. Orang yang selalu konsisten di jalan
rakyat.Seorangideologsekaliguspendidikyangbisaditerima
semuagolongan,danpercayabahwapendidikankader-kader
militan adalah jalan untuk bisa membebaskan Indonesia dari
cengkramankapitalisme.DialahDjohanSjahroezah.

DaftarPustaka
Anwar, Rosihan. 2002. In Memoriam: Mengenang Yang
Wafat.Kompas:Jakarta
____________. 1995. Soebadio Sastrosatomo: Pengemban
MisiPolitik.Grafiti:Jakarta
Alwi, Des. 2011. Pertempuran Surabaya November 1945. BIP:
Jakarta
Caldwell, Malcom & Ernest Utrecht. Sejarah Alternatif
Indonesia.2011.DjamanBaroe:Yogyakarta
Djarot, Eross dkk. 2006. Siapa Sebenarnya Soeharto: Fakta
dan Kesaksian Para Pelaku Sejarah G-30-S/PKI. Mediakita:
Jakarta
Frederick, William H. 1988. Pandangan dan Gejolak:
Masyarakat Kota dan Lahirnya Revolusi Indonesia/Surabaya
1926-1946.Gramedia:Jakarta
Gie,SoeHok.1997.Orang-OrangdiPersimpanganKiriJalan.
YayasanBentangBudaya:Jakarta
Ingleson, John. 2004. Tangan dan Kaki Terikat : Dinamika
Buruh, Sarekat Kerja dan Perkotaan Masa Kolonial.
KomunitasBambu:Jakarta.
Kahin, George McTurnan. 1995. Nasionalisme dan Revolusi di
Indonesia..UNSPress:Jakarta
Legge, J.D. 1993. Kaum Intelektual dan Perjuangan
Kemerdekaan: Peranan Kelompok Sjahrir. PT Pustaka Utama
Grafiti:Jakarta
Loebis, Aboe Bakar. 1995. Kilas Balik Revolusi: Kenangan,
PelakudanSaksi.UIPress:Jakarta

Moehamad, Djoeir. 1997. Memoar Seorang Sosialis. Yayasan
OborIndonesia:Jakarta
Mrazek, Rudolf. 1996. Sjahrir : Politik dan Pengasingan di
Indonesia.YayasanOborIndonesia:Jakarta
Nasution, A.H. 1982. Memenuhi Panggilan Tugas. Penerbit
GunungAgung:Jakarta
Nitimiharjo, Hadidjojo. Ayahku Maruto Nitimihardjo. 2009.
KataPenerbit:Jakarta
PartaiSosialisIndonesia.1950.PeraturanDasar.Departemen
InformasiPSI:Yogyakarta
Poeze, Harry A. 2008. Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi
IndonesiaI.YayasanOborIndonesia:Jakarta
____________. 2008. Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi
IndonesiaII.YayasanOborIndonesia:Jakarta
Soebagijo. Lima Windu Antara. 1978. Percetakan Negara:
Jakarta
Soemarsono. 2008. Revolusi Agustus: Kesaksian Seorang
PelakuSejarah.HastaMitra:Jakarta
Tantri,K’tut.2006.RevolusidiNusaDamai.GramediaPustaka
Utama:Jakarta

Tempo. 2010. Sjam : Lelaki Dengan Lima Alias. Kepustakaan
PopulerGramedia:Jakarta
______. 2010. Sjahrir : Peran Besar Bung Kecil. Kepustakaan
PopulerGramedia:Jakarta
Trotsky, Leon. 2009. Revolusi Permanen. Resist Book:
Yogyakarta
Wardaya,T Baskara Ed. 2011. Berkah Kehidupan: 32 Kisah
Inspiratif Tentang Orang Tua. Gramedia Pustaka Utama:
Jakarta
Yudotomo, Imam. 2000. Quo Vadis Golongan Kiri Indonesia.
CSRS:Yogyakarta

SuratKabar
SuaraSosialisedisi15Februari1951
SinarHarapanedisi13Desember1981

Interview

Soemarsono,mantanGubernurMiliterMadiun1948
HadidjojoNitimihardjo,putradariMarutoNitimihardjo
ImamYudotomo,politisiSeniorSosialis
IlyaArslaan,putrapertamaDjohanSjahroezah
Wageono,keluargaDayino
Dayino(Alm),kaderdankawankaribDjohanSjahroezah
VioletSjahroezah(Almh),IstriDjohanSjahroezah

ProfilPenulis
IrwansyahNuzar
Lulus dari Fakultas Komunikasi, Universitas Budi Luhur pada
2005. Selama berstatus mahasiswa Irwansyah aktif di
berbagaikegiatansepertiPersMahasiswa,SenatMahasiswa,
Kelompok Seni Teater, Kelompok Diskusi, dan Relawan
Mahasiswa Jakarta. Sebagai relawan, bungsu dari tujuh
bersaudara ini pernah turun sebagai relawan menangani
pengungsikorbankonflikSampitdiSampang,Madura.Ketika
terjadi bencana Tsunami di Nangroe Aceh Darussalam. Irwan
juga kembali turun sebagai tim evakuasi jenazah, distribusi
logistik, dan trauma center. Setelah menyelesaikan studi,
kemudian ia memilih berprofesi sebagai jurnalis dan sempat
berpindahdibeberapamediamassa.
RezzaAjiPratama
Mengeyam pendidikan Jurnalistik di Universitas Islam Negeri
Jakarta.Semasakuliah,RezzaaktifdansempatmenjadiWakil
Sekjend Lingkar Studi-Aksi Untuk Demokrasi Indonesia (LS-
ADI)—sebuah organisasi pergerakan mahasiswa. Rezza
sempat life in bersama para petani di Ogan Ilir Sumatera
Selatan selama 6 bulan sebagai bagian dari upaya
penyelesaian sengketa agraria. Saat ini berprofesi sebagai
jurnalis.
AdieMarzuki
Wirausahawan di bidang bisnis media massa (Teknopreneur
Magazine dan Orbit Digital) dan aktif di organisasi politik
sejak muda, belakangan ini selain fokus dalam penelitian
serta riset sosial politik, juga aktif menulis dan
mengembangkanmanajemenpengetahuan.

Tulisan-Tulisan
DjohanSjahroezah

SOSIALISMEKERAKYATANDANKOMUNISME

Dalam dunia sosialis pada waktu ini kita bertemu dengan
kata-katadanpengertiansepertisosialdemokrasi,sosialisme
kerakyatan (Demokratis – Sosialisme), dan Komunisme, yang
masing-masing berpokok pangkal kepada ajaran Marx –
Engels, baik yang sudah ditinjau kembali oleh Bernstein
maupun yang sudah dilanjutkan oleh Lenin dan Stalin. Tiap-
tiapnyayangtidakataukurangmengikutiperkembangandan
kemnajuandaripadagerakansosialisdiduniamudahhanyut
dalam pengertian-pengertian itu, dan kurang dapat
membedakansatusamalain.

PergerakanSosialisDunia
Pergerakan sosialis di Eropa Barat timbul sebagai kelanjutan
dan lawannya daripada kapitalisme, yang menimbulkan
kemelaratan dan kesengsaraan disatu pihak, dan menimbun-
nimbun kekayaan dan kekuasaan dilain pihak, dengan jalan
eksploitasi kaum buruh dan akumulasi dan sentralisasi
daripada meerwaarde. Menurut ajaran Marx–Engels, maka
tujuan daripada sosialisme, yaitu suatu masyarakat dan
peradaban baru, dimana tidak terdapat lagi penindasan dan
penghisapan satu sama lain, manusia hidup dalam penuh
penghargaan dan sejahtera, segala penghasilan dan
kemajuanuntukmemenuhikeperluanmasyarakat.

Cara berlakunya perobahan dari masyarakat kapitalis ke
masyarakatsosialis,menjadipersoalandiantarakaumsosialis
sendiri.

Didalam pidatonya waktu mendirikan Internasional I (di
London, pada 28 September 1864), Marx memusatkan
perhatiannya kepada aksi-aksi politik. ”Merebut kekuasaan

politik merupakan kewajiban yang berat bagi golongan kaum
buruh”.

Di dalam mukaddimah daripada Peraturan sementara dari
InternasionalIitudikatakan:
”bahwa pembebasan golongan kaum buruh itu mesti direbut
olehgolonganburuhitusendiri”.
”bahwaperjuanganuntukpembebasangolongankaumburuh
itubukanperjuanganuntukprivileges(keuntungan)golongan
dan monopoli, melainkan untuk hak dan kewajiban yang
samadanuntukmenghapuskansegalakekuasaangolongan”
”bahwa tunduknya kaum buruh dilapang ekonomi kepada
kaum monopoli yang menguasai alat-alat perburuhan, yaitu
sumber-sumber penghidupan, adalah dasar daripada
penindasandalamsegalabentukdaripadakemelaratansosial,
kerendahanjiwadanterikatnyadalampolitik”
”bahwa pembebasan dilapang ekonomi daripada golongan
buruh merupakan tujuan yang penting yang membawakan
segalagerakanpolitiksebagaialatnya”
”bahwa segala usaha yang ditujukan kepada tujuan yang
penting itu sampai sekarang ini kandas karena ketiadaan
solidariteit (rasa persatuan) antara berbagai cabang
perburuhan di tiap negeri dan ketiadaan rasa persaudaraan
antaragolongan-golongankaumburuhdiberbagainegeri”
”bahwa pembebasan golongan kaum buruh bukan persoalan
lokal atau nasional, melainkan soal sosial yang meliputi
semua negeri yang berdasarkan masyarakat modern dan
penyelesaiannyatergantungdaripadakerjasamayangpraktis
danteoritisdaripadanegeri-negeriyangjauhmaju”
”bahwa pembaharuan daripada pergerakan kaum buruh
dinegeri-negeri industri di Eropa, semnetara menghidupkan
harapan baru, mengingatkan sekali kepada jatuhnya kembali
dalam kesalahan-kesalahan yang lama dan mendesakkan

persatuan yang segera pada pergerakan-pergerakan yang
terpisah-pisahitu”.

Pihakyangsatu,yangkemudianterkenalsebagaikaumsosial
demokrat, menafsirkan perebutan kekuasaan politik itu
dengan jalan melalui pemilihan parlemen. Pihak yang lain
yang kemudian menamakan dirinya Komunis melihat
perebutan kekuasaan itu di dalam suatu jaman revolusioner
dimana sistem kapitalisme mengalami krisis umum yang
hebat.

Bukan ini saja perbedaan antara kaum sosial-demokrat dan
kaum komunis, melainkan juga dalam pengertian serta
penghargaanfungsinegara.Leninmengatakan,bahwanegara
itu alat kekuasaan daripada golongan yang berkuasa. Engels
menggambarkanhubungankekuasaandengannegaraseperti
berikut; Kekuasaan itu adalah pertumbuhan daripada
masyarakat, akan tetapi jika ia menguasai masyarakat itu
serta lebih lama lebih terpisah daripadanya, maka ia disebut
negara.

Memangtidakselaludapatditunjukandengannyata,bahwa
sesuatu negara semata–mata menjadi alat kekuasaan
sesuatu golongan yang tertentu, kata Engels; “Kadang–
kadang mungkin terjadi bahwa kelas–kelas yang
bertentangan merupakan perbandingan kekuasaan yang
hampir seimbang, sehingga negara memperoleh kedudukan
yangbolehdikatakanmerdekasertadapatmenjadiperantara
antara mereka dengan begitu seolah–olah mendapat
kedudukandiluarsertadiatasmasyarakat”.

Kaum sosial–demokrat lebih condong kepada pandangan
yang dikemukakan Engels itu. Negara demokrasi di eropa

barat itu adalah negara yang tidak dapat dikatakan sebagai
alat kekuasaan daripada golongan yang berkuasa. Kaum
komunis menamakanya negara diktatur kaum burdjuis,
karena kaum burdjuis dan kapitalis yang berkuasa di Eropa
Barat itu. Menurut kaum komunis perubahan daripada
masyarakat kapitalis kemasyarakat sosialis itu harus melalui
masadiktatorkaumproletar,begitucaranyadiSovietRussia.

SosialismeBaratdanSosialismeIndonesia.
Kalaukitaperhatikanbangkitdanpertumbuhansosialismedi
Barat dan sosialisme di Asia umumnya dan Indonesia
khususnya , maka tak dapat di sangkal , bahwa masing–
masing mempunyai asal-usulnya sendiri dan pembawaan
yang di pengaruhi oleh lingkungan tradisi dan sejarah nya
masing–masing.

Di dalam penjelasan Asas dan Garis Politik daripada Partai
Sosial Indonesia dengan ringkas dan jelas di gambarkan
sepertiberikut:
“Pertumbuhan gerakan serta cita–cita sosialis di Asia sangat
rapat hubunganya dengan perkembangan pergerakan serta
cita–cita kemerdekaan dan kerakyatan. Begitu pula di
Indonesia, pada umumnya jika di tinjau dari sudut
perkembangan masyarakat, maka masyarakat di Asia
merupakanmasyarakatyangpadasuatuketikatertahanatau
terhambatkemajuansertaperkembangannya.

Sedangkan didunia Barat masyarakat yang berdasarkan
ekonomi atau ekonomi memenuhi keperluan sendiri dengan
tiada menggunakan uang akhirnya menjadi masyarakat uang
sertakapitalistis,tidaklahdemikianpadaumumnyadiAsia”.

Gerakan serta cita–cita sosialis di dunia barat lahir serta
berkembang sebagai lanjutan serta lawan kapitalisme, ia
adalah pula lawan daripada gerakan pembebasan pribadi
serta individualisme, ia adalah pula lawan liberalisme yang
menjadi jiwa pendorong kemajuan masyarakat uang atau
masyarakatkapitalisitu.

Dilihatdarisudutperkembanganekonomi,makasosialismedi
Baratadalahkelanjutansertalawankapitalisme,sepertilebih
dahulu kapitalisme adalah lanjutan serta lawan feodalisme,
wujud perubahan serta perlawanan itu adalah supaya
peralatan masyarakat dapat memenuhi keperluanya untuk
menyambungkehidupanya.”

Kalau di dunia Barat masyarakat sosialis merupakan lanjutan
daripada masyarakat kapitalis, maka di Indonesia menjadi
tuntunan untuk menyusun masyarakat yang baru yang lain
daripada masyarakat kolonial dan agraris tadinya itu.
Sosialisme bukan saja suatu ajaran perjuangan, melainkan
juga suatu ajaran tentang penyusunan masyarakat dan
peradaban yang lain daripada yang di kenal dalam
masyarakat kapitalis. Inti dan pokok-soal daripada ajaran
sosialismeitu,yaituhubunganmasusiadanhubunganantara
manusia.Dariitusosialismetidakdapatdilepaskandarisifat
penghargaan dan perlakuan terhadap diri–seorang, dari sifat
perikemanusiaan dan persamaan manusia dan keadilan yang
termasukdidalamnya.

Sesungguhnya tak dapat di pikirkan sosialisme tanpa
demokrasi (kerakyatan), sekalipun begitu dalam logat politik
moderen dewasa ini kita menjumpai kata sosialisme–
kerakyatan. Sosialisme kerakyatan itu, yaitu untuk
membedakan diri daripada lain–lain macam “sosialisme”,

seperti Nasional–Sosialisme Hitler (Nazi), yang sama sekali
bukan sosialisme itu dan sosialisme Soviet–Russia, yang
masyarakat nya hampir dua angkatan (generasi) lamanya di
kuasai oleh diktatur kaum proletar. Kerakyatan dalam kata–
kata sosialisme–kerakyatan itu tidak lain melainkan untuk
menegaskan sifat sosialisme yang menghargai manusia dan
perikemanusiaanitu.

SosialismeKerakyatandanKomunisme
Di atas tadi telah digambarkan pecahnya sosialisme di Barat
menjadi dua aliran yang bertentangan satu sama lain, yaitu
aliran sosial demokrat dan aliran komunis. Dengan
berhasilnya Revolusi Oktober 1917 dan timbulnya negara
Soviet–Rusia, maka kaum Komunis mempunyai Ibu Negara
yang mesti di pertahankan hidupnya di tengah-tengah
Negara-negara borjuis – kapitalis. Berhubung dengan itu,
maka strategi dan taktik kaum komunis di seluruh dunia-
(kecuali Yugoslavia yang menentang dan keluar dari ikatan
Kominform pada tahun 1948)–diatur dari Moskow melalui
Komintern(InternasionalIIIyangdibubarkanpada1943)dan
Konminform(yangdidirikanpada1947).

Di mana dunia dalam pandangan kaum komunis terbagi
dalam dua blok-kapitalis-Imperialis dan blok Soviet, maka
bagi kaum komunis kepentingan negara nasionalnya mesti di
bawahnya kepada kepentingan politik dan Moskow.
Sebaliknyakaumsosial–demokratdalamstrategipolitikdunia
itu lebih rapat hubungannya dengan kaum borjuis
nasionalnya.

Lain dengan kaum sosialis Asia umumnya dan Indonesia
khususnya yang tidak melihat dunia itu terbagi dalam dua
blokpolitikitu,kaumsosialisdiAsiaumumnyadanIndonesia.

khususnya tidak melihat perang dunia itu sebagai jalan yang
mendekatkan kita kepada sosialisme dunia. Setia kepada
ajaran Marx-Engels maka kaum sosialis di Asia umumnya
Indonesia khususnya menjalankan politik luar negeri yang
bersifat politik damai dan demokratis untuk menghindarkan
malapetakabagiumatmanusiaitu.

Perkembangan sejarah dunia membuktikan bahwa ada
berbagai jalan untuk sampai pada masyarakat sosialitu.
Sampai baru-baru ini seolah-olah cara Bolsjevik di Soviet-
Rusia hanya satu-satunya jalan untuk mewujudkan jalan
dunia sosialis itu: pernyataan dan pengakuan Khusrchev
kepada Tito (Yugoslavia) manghapuskan monopoli jalan ke-
SosialismedariSovietRusia.

Perkembangan sejarah dunia itu juga membuktikan, bahwa
negara-negara yang terbelakang atau terlambat maju nya
tidak perlu terlebih dahulu menunggu–nunggu
perkembangan seperti di dunia barat untuk melangkah
menujusosialisme.Sepertidikatakanatadisosialismesendiri
merupakanajaranuntukmenyusunperadabandanpergaulan
hidup yang berdasarkan perikemanusiaan, persamaan
keadilan.

Ketika rakyat Indonesia berhasil dalam perjuangan merebut
kemerdekaan nasionalnya, maka timbul soal menyusun
perikehidupan bagi rakyat dan bangsa Indonesia.
Perikehidupan itu mesti lain dari pada di jaman penajahan
Bangsa asing yang menghambat dan melambatkan
perkembangan dan kemajuan rakyat Indonesia itu. Soal
menyusun perikehidupan baru itu menjadi usaha daripada
segenaprakyatdanlapisanbangsayangmestihidupdidalam
masyarakatbaruitu.

Kaum Sosialis Kerakyatan yakin, bahwa sifat dan keadaan
rakyatsertasusunanNegaradanmasyarakatnyamemberikan
cukup kemungkinan dan kesempatan untuk Sosialisme-
Kerakyatan, supaya berkembang dan diterima oleh
masyarakat, sebagai pedoman untuk menyusun peri-
kehidupan dan masyarakat baru yang adil, makmur dan
sejahtera.

Bagi kaum Sosialis Kerakyatan negara Indonesia merupakan
modalyangterpentinguntukdapatmewujudkanmasyarakat
sosialis itu, yaitu perikehidupan dan peradaban baru yang
disandarkankepadahargakemanusiaandanpersamaanserta
keadilan.

Disini perbedaan pandangan antara partai sosialis Indonesia
dan PKI yang tunduk mentah-mentah kepada pimpinan
Moskow.

Tindak hendak mempertaruhkan negara Indonesia itu dalam
peraturan politik dan persaingan kekuasaan antara kedua
blok dunia itu. PKI yang tunduk kepada pimpinan Moscow
tidakdapatmelepaskandiridaristrategipolitikduniayangdi
tentukanolehMoskowdipihakYugoslavia.

Satu waktu, soal ini boleh jadi sangat penting berhubung
denganperkembanganpolitikdunia,karenapolitikpeacefull
coexistence yang sekarang di lancarkan itu pada nyatanya
hanya merupakan breathing-spell untuk lebih siap
menghadapi ketentuan yang terakhir. Di jaman atom
sekarang ini memang segan-segan juga orang mengadu
kekuatan secara langsung tapi ini bukan halangan untuk
mengukur kekuatan masing-masing di daerah-daerah yang
menjadiperbuatankekuasaan.MenghindarkanIndonesiakita

ini menjadi gelanggang dari perlombaan kedua blok-politik
yang bersaingan untuk kekuasaan dunia, merupakan
persoalanyangpentingbagikaumSosialisKerakyatan.

Diktatur kaum proletar seperti yang dijalankan di Soviet–
Rusia itu sudah tidak memenuhi fungsinya lagi sebagai masa
peralihan kemasyarakatan sosialis. Diktatur kaum proletar di
Soviet-Rusia dengan segala alat kelengkapannya sudah
merosot menjadi alat untuk membasmi orang-orang yang
tidakdisukaigolonganyangmemimpin(yaituPartaiKomunis)
dan untuk memaksa dan menekan rakyat dan masyarakat.
Didalam masyarakat semacam itu manusia sudah tidak di
hargai sebagai manusia, nama-nama yang membuat sejarah
seperti Trotsky, Zinoviev, Kamenev, Radek, Rykov, Beria dan
Stalin dan Jenderal-Jenderal besar (Marshal) Tukhachevsky,
Bluekher, Eidemann, Yakir, Uborevichv dan ratusan lagi
pemimpin-pemimpin dan opsir-opsir tinggi lenyap sebagai
orang yang hina dan rendah. Kebanyakan dari pemimpin-
pemimpin dan opsir-opsir dituduh menghianati negerinya
dengan berhubuingan dengan negara asing (Jerman–Hitler)
tapi kemudian Stalin sendiri mengadakan non-agresi pact
dengan Jerman–Hitler pada 1939, Stalin yang dipuja-puja
setinggi langit pada masa hidupnya, setelah meninggal di
jatuhkan lagi sebagai pembunuh besar . Ukuran norma-
normasudahtidakadalagi.Kalausekarangdijunjungsebagai
Pahlawanbesokmungkinjatuhsebagaipenghianat.

Kalau kita kembali pada cita-cita Marx Engels dimana
manusia, persamaan dan hubungan antara manusia,
penghapus penindasan dan segala kekuasaan golongan
menjadiintidaripadaajarannya,makasegalasesuatunya itu
tidakbertemudidalampemerintahandiktaktorkaumproletar

yang hampir dua angkatan (generasi) manusia menguasai
segalahidupdankehidupanmanusiaSovietRusiaitu.

Menurut ajaran Max-Engels sendiri, tidak cuma satu jalan
yang menuju kesosialisme dan pasti tidak Cuma kaum
bolsjevik itu, yang juga sudah di akui oleh pemimpin-
pemimpinMoskowbaru-baruini.

Bertambah yakin Kaum Sosialis Kerakyatan dengan asas dan
garis politiknya, bahwa Sosialisme Kerakjatan merupakan
jawaban atas cita-cita dan tujuan perjuangan atas Indonesia:
manusia bebas luput dari penghisapan dan penindasan dan
hidupdidalammasyarakatyangsejahtera,adildanmakmur.

Sosialis–Komunis–SosialisDemokrat
Sering menjadi pertanyaan bagi orang dimana letaknya
perbedaan antara kaum sosialis dan komunis (yang
dimaksudkan disini yaitu sosialis dan komunis di Indonesia).
Dan pertanyaan yang lain lagi ialah perbedaan kaum sosialis
diIndonesiadankaumsosialisdemokratdibarat.
Memang kita bedakan kaum sosialis di Indonesia dengan
kaum sosialis-demokrat di Barat. Sebaliknya kita lihat lebih
banyakpersamaanantarakaumsosialisdiIndonesiadengan
kaum sosialis di benua Asia. Berhubung dengan itu tidak
salah kiranya kalau dibedakan kaum sosialis di Asia
umumnyadengankaumsosialisdemokratdiBarat.
Kalau kita perhatikan pertumbuhan sosialisme di Barat dan
sosialisme di Asia umumnya dan Indonesia khususnya, maka
mautakmaumestidiakuibahwamasing-masingmempunyai
pembawaannya sendiri-sendiri yang berpangkal pada asal
usulnya.Pembawaanitutentumempengaruhisifat,jiwadan
semangat dari sosialisme di Asia umumnya dan Indoneisa
khususnya dengan kaum sosialis di Barat (kaum sosialis-
demokrat)lebihnyata,jelasdantegasdilapangpolitik.
Seperti diketahui sosialisme di Barat timbul sebagai reaksi
terhadap kapitalisme-impearialsme yang bersendikan ajaran
liberasirme.
DalamedaransejarahkitalihatSosialismediBaratitupecah
menjadi dua aliran yang bertentangan satu sama lain, yaitu
aliransosial-demokratdanalirankomunisme.Komunismeini
melanjutkan perjuangan yang bersifat anti-kapitalisme-
imperialisme.

Di dalam negara-negara borjuis, perjuangan anti-kapitalisme
yang tidak kenal damai dari kaum komunis itu seolah-olah
berupa perjuangan anti nasional. Dengan perjuangan anti
imperialis dipandang sebagai Ibu Negara dari pada adanya
Negara Soviet yang di dalam komunisme, maka ini
menguatkan komunis dimasing-masing negara borjuis
sehingga mereka dipandang kurang lebih sebagai kolonne V
dari negara Soviet oleh kaum borjuis nasional. Juga kaum
sosial-demokrattidakbedadalampenglihatansepertiitu.
Di dalam perkembangan kemajuan sejarah maka kaum
sosialsidemokratdiBaratlebihrapatnasibnyadengankaum
borjuis nasional. Ini jelas dalam sikap kenasionalan nya! Ini
sungguhbertepatandenganajaranyangmengatakan,bahwa
kaumsosial-demokrasiitusuatuwaktudalamperkembangan
nyaberubahmenjadisosial-fasis!Keadaaniniternyatabenar
nya sejak perang dunia I. Dari itu dalam politik nasionalnya
kitalihatbahwatidakbedanyaantarakaumsosial-demokrat
dengankaumborjuis-kapitalisnasional.
Sebaliknya kaum sosialis di Asia umumnya dan di Indonesia
khusus nya timbul dari perjuangan kemerdekaan nasional.
Kaum sosialis itu menjadi bagian dari segenap bangsa yang
memperjuangkan kemerdekaan nasionalnya, yaitu usaha
membebaskandiridaritindasanbangsaasing.
Ketikaberhasilperjuangkankemerdekaannasionalitu,maka
timbul rasa menyusun peri kehidupan baru bagi rakyat dan
bangsayangbarumerdekadanberdaulatitu.Perikehidupan
baru itu mesti lain daripada dizaman penjajahan bangsa
asing.Soalmenyusunperikehidupanbaruinimenjadiusaha
dari pada segenap rakyat dan bangsa. Apa lagi di Indonesia
ini dimana kaum borjuis tidak merupakan suatu faktor yang
penting didalam perkembangan Negara itu. Hampir-hampir
negara kita itu tidak mengenal sosial-konflik, kecuali

pertikaian yang bersifat nasional, yaitu sebagai bangsa
mengahadapi kekuatan bangsa asing yang menduduki dan
menguasaijalannyaproduksidinegerikita!
Kaumsosialisyanghendakmerobahdanmemperbaikihidup
dan peri kehidupan rakyat pada nyatanya menghadapi
keadaan dimana kuncinya dilapang ekonomi masih dikuasai
olehbangsaasing.
Dengan kekuasaan politik memang banyak dapat dicapai,
tapi kekuasaan politik itu tidak sanggup dengan sekaligus
menyediakan tenaga dan aparat untuk menggantikan fungsi
ekonomi yang sekarang masih diselenggarakan oleh badan
asingitu.Sebaliknyakekuasaanpolitik(negara)itudapatdan
mesti memberi kesempatan dan mendorong usaha dan
kegiatan rakyat sendiri dilapang ekonomi supaya timbul
kesanggupannnyabertahan.
Tegasnya kekuasaan politik alias negara masih merupakan
alat yang terpenting untuk memungkinkan perkembanagan
dankemajuanusahadanorganisasirakyat.
Disiniperbedaanantarakaumsosialisdankomunis.
Seperti jelas dari uraian di atas tadi, maka kaum komunis
terutamaantiimperialis.Inijugaberlakubagikaumkomunis
di Indonesia. Tidak dapat lain! karena dalam pandangan
perjuangan dunia terbagi dalam dua blok, yaitu blok
kapitalis-imperialisdanbloksoviet.Sebagaikonsekuensidari
pada pandangan dan penglihatan perjuangan itu, maka
negara nasional menjadi sekunder. Pertama-tama
antiimperialis, baru lainnya! Dalam perjuangan sehari-hari,
maka sikap ini menyatakan dirinya dalam usaha merintangi
dan menggagalkan kegiatan modal asing di negeri kita ini.
Kalau-kalau modal asing itu pada suatu ketika merasa jemu,

menghentikan usaha nya dan meninggalkan lapangan
Indonesiaini.Demikianharapannya!
Sesungguhnya pandangan ini tidak memperhitungkan lain-
lain kemungkinan yang boleh terjadi sebagai reaksi daripada
modalasingitu!
Kalau kita perhatikan pentingnya kedudukan Indonesia
dalam perhubungan ekonomi dunia apalagi di masa perang.
Maka kiranya tidak begitu saja kaum modal asing itu bakal
meninggalkanlapanganIndonesiaini.
Didalam suasana internasional dimana kepentingan nasional
menjadipusatperhatiansegenapusahadaritiap-tiapnegara,
maka perwujudan sikap anti-imperialis di Indonesia ini
terdapat corak mengacaukan jalannya produksi, maka sikap
kaum komunis itu tidak saja merugikan negara melainkan
mengandung bahaya pula, karena membuka kesempatan
bagi kaum kapitalis-imperialis memperhitungkan
kemungkinan yang pasti menguntungkan mereka sendiri
dimana negara sebagai hasil daripada revolusi nasional
menjaditaruhan!
Lain dengan kaum sosialis, kaum sosialis pertama tama
mengusahan perubahan dan perbaikan hidup dan peri
kehidupanrakyat.
Dalam praktis politik ini berarti soal waktu! Berhubung
dengan itu, maka kelanjutan hidup negara nasional masih
dipentingkan untuk dapat menyusun kekuatan dan
kesanggupan rakyat guna dapat melaksanakan kemakmuran
dan kesejahteraan hidup rakyat. Dalam pada itu harus di
ikhtiarkan agar supaya bahaya dari luar tidak dapat
mempengaruhi atau membelokkan perkembangan di dalam
negeri. Pendirian ini dengan sendirinya mengandung sikap
antiimperialis.Sikapantiimperialisinimenjadisikapsegenap

rakyat dan bangsa Indonesia sejak Proklamasi kemerdekaan
pada17Agustus1945.
Kalau kaum komunis hanya bersikap negatif, sebaliknya
kaum sosialis hendak merubah dan memperbaiki hidup dan
perikehidupanrakyat.
Kesimpulan:
1. Sejak perang dunia I, lebih-lebih sesudah perang dunia II
maka kepentingan negara nasional lebih diutamakan
daripada ideologi. Segala ideologi berarti ideologi negara.
Rasa kebangsaan (nasionalisme dan cinta pada tamah air
(patriotism) menjadi pedoman dalam sikap dan langkah
Politik. Dalam sikap politik Negara nasional, kaum social
democrat seiring sejalan dengan kaum borjuis kapitalis
nasional.
2. Pandangan dan penglihatan, bahwa dunia hanya terbagi
dalam dua blok, yaitu blok kapitalis imperialis dan blok
soviet, membawa konsekuensi, bahwa sikap dari anti
imperialis dari kaum komunis mengutamakan kepentingan
Negara Soviet lebih lagi dari pada kepentingan negara
nasional. Dalam politik sehari hari sikap semacam ini selalu
berada dalam hubungan perjuangan, lepas dari perhitungan
kekuatan dan kesanggupan, sama sekali tidak diukur dalam
hubungan perjuangan segenapnya. Kesempatan menyusun
dan mengatur kekuatan terdesak dan terbengkalai karena
sistemrevolusiitpermanentieini!
3. Kaum sosialis masih melihat Negara sebagai alat yang
terpentinguntukmenyusundanmengaturkesanggupandan
kekuatan rakyat. Sambil mempertahan kan kemerdekaan
dan kedaulatan bangsa dan Negara, maka harus diletakkan
dasar bagi perekonomian rakyat. Perubahan dan perbaikan
hidupdanperikehidupanrakyatharusdisertaiolehrakyatitu

sendiri. Kekuasan politik alias Negara harus menjamin
kemungkinan dan kesempatan bagi perkembangan usaha
dan organisasi rakyat. Tegas nya, politik luar negeri harus
berputar disekitar usaha menyelamatkan dan mempertahan
kankemerdekaandankedaulatanbangsadannegara.Usaha
didalamnegeri,yaitumenyusundanmengaturkekuatandan
kesanggupanrakyatsambilmerubahdanmemperbaikihidup
dan peri kehidupan nya. Inilah yang menjadi pedoman bagi
kaum sosialis dalam sikap dan langkah nya dalam tingkat
edarankemajuandewasaini.

NegaradanPartaiPolitik
Sudah selajaknja di dalam negara demokrasi jang mengakui
danmenghormatipandangandankejakinanlainaliran-aliran
itu mendapatkan bentuk jang njata dalam kehidupan
berpartai. Pengaruh dan kekuatan partai masing-masing di
dalamsuatunegarajangberdasarkansistemparlementerini
biasanja tergambar dalam hasil pemilihan umum untuk
Dewan Perwakilan Rakjat Pusat. Dalam pada itu, sistem
pemilihan dan kesadaran politik rata-rata daripada rakjat-
pemilih besar pengaruhnja atas hasil keputusan daripada
pemilihanumumitu.
Biasanja kepada partai jang terbesar diserahkan
formateurschap untuk membentuk suatu pemerintah jang
bersifat parlementer. Si formateur menawarkan lain2 partai
untukturuthadirdidalampemerintahjangakandibentuknja
itu berdasarkan sesuatu program jang tertentu. Begitulah
lazimnja tjara jang berlaku di dalam suatu negara jang
berdasarkandemokrasiperlementer.
Djuga di negeri kita ini begitu tjaranja. Disini tidak kita
persoalkan buruk-baiknja atau benar tidaknja tjara
berdasarkan demokrasi perlementer itu, melainkan kita
hendakmenjatakankeadaandantjarajangberlakudinegeri
kita ini hingga sekarang, lepas dari penghargaan atau
perasaanterhadapsistemdemokrasiparlementeritu.
Ringkasnja: pemerintah negara kita bersendikan partai2.
Sudah tentu pemerintah jang sematjam itu lain sifatnja
daripada pemerintah suatu negara jang berdasarkan dan
bersistem satu partai. Pemerintah negara jang hanja
mengenal satu partai di dalam negerinja tentu menjalankan
politikdanprogramjangsama–setidaktidaknjatidakdjauh
bedanja–denganpolitikdanprogrampartaiitu.

Sebaliknja, pemerintah jang tersusun daripada beberapa
partai di dalam negeri, maka politik dan programnja pada
umumnja merupakan program minimum daripada partai2
jang bersama-sama membentuk pemerintah itu. Pada
umumnja, politik dan program pemerintah daripada negara
jangberdasarkandemokrasiparlementertidaksamadengan
politik dan program partai masing2 jang menjadi anggota
pemerintahitu.
Sebagai partai, program dan politiknja boleh radikal dan
revolusioner, tetapi sebagai pemerintah negara harus
diperhatikan dan diperhitungkan lain2 faktor dalam
menentukansikapdansiasatpolitiknegara.
Kedudukan kita sebagai negara dengan sendirinja sudah
membawa akibat2nja, karena antara negara-negara itu
berlaku hukum pergaulan jang tertentu. Tiap utjapan dan
tiap perbuatan jang dilakukan dalam kedudukan partai pada
umumnjatidakmengakibatkanapa-apakeluarnegeri.Tetapi
sebaliknja, tiap utjapan dan tiap perbuatan jang dilakukan
dalam kedudukan djabatan negara –apalagi kedudukan jang
bertanggung djawab – berpengaruh ke luar negeri dan
menimbulkan konsekwensi2nja. Misalnja, sebagai orang
partai, kalau menjiarkan tuduhan terhadap suatu negara
tidak begitu berat ukuran dan timbangannja kalau
dibandingkandengantuduhanjangdikeluarkanolehseorang
dalamdjabatanjangbertanggungdjawabdalamadministrasi
negara. Dalam perkara jang pertama mungkin tak ada apa-
apa akibatnja, tapi dalam perkara jang kedua pasti negara
jang merasa tertuduh itu menjatakan keberatannja dan
mungkin membawa konsekwensi lain terhadap negara jang
menjiarkantuduhanitu.

Djangan suatu tuduhan, utjapan apa sadja (jang bersifat
politik) jang dinjatakan pada umum mendapat warna, sifat
dan artilain, kalau diutjapkan oleh orang partai atau orang
pemerintah (dalam kedudukan dan djabatan yang
bertanggungdjawabdalampemerintahannegara).
Dari itu, orang jang penuh tanggung-djawab terhadap rakjat
dan negara dalam kedudukan dan djabatan bertanggung
djawab dalam pemerintahan negara tidak mudah dalam
menjatakan perasaan dan pendapatnja, kalau2 utjapannya
itu mengakibatkan konsekwensi bagi rakjat dan negaranja.
Mungkin seorang pemimpin itu ketika belum mendjabat
kedudukandalampemerintahnegaraterkenalsebagaiorang
partai jang revolusioner. Ini sama sekali tidak ada
hubungannja dengan mundur-tidaknja si pemimpin dalam
kerevolusineran atau semangat perdjoangannja. Ukuran
kerevolusioneran dan keteguhan hatinja itu tidak terletak
dalam kata2 jang bersemangat, melainkan dalam tudjuan
dan perbuatannja untuk mentjapai tjita2 jang revolusioner
itu.
Pada umumnja pemimpin2 di Indonesia kita ini sangat takut
kalau mendjadi impopulair di mata umum – dalam arti kata
menurut pengertian demokrasi barat, djadi bukan pendapat
rakjat djelata jang sebenarnja jang dalam sistem demokrasi
barat tidak mungkin timbul setjara ikhlas dan benar – dan
oleh sebab itu sering2 mengorbankan kejakinannja untuk
mengikutkan perasaan umum, sekalipum sesat dan salah.
Dengan tjara begitu, maka banjak diantara pemimpin2 itu
sesungguhnja dipimpin oleh pendapat umum, bukan
memimpinrakjatkedjalanjangbenar.Partaijangsematjam
ini tidak mungkin memimpin revolusi, karena tidak
mempunjai ukuran dan pedoman akan djalan jang benar.
Selama keadaan masih begitu dan pemimpin2 dipengaruhi

olehkeadaan,tidakolehkejakinandanpendirian(partai)nja,
maka tak boleh diharapkan suatu stabilisasi dalam keadaan
dan garis politik jang tertentu jang menundjukkan djalan
menudjukemenangan.
Berhubung dengan itu, kedudukan dan gensi pemerintah
negara dalam pandangan dunia banjak tergantung daripada
sifat dan watak orang perseorang daripada anggota2
pemerintah itu, selain daripada partai dan partai-politiknja
masing2.
Sekiandulu.

FotoDokumentasi

JajaranDewanPartai,PartaiSosialisIndonesia

MenujuPemilihanUmum1955

BersamaDjoeirMoehammaddanSoemartojo

DiatasTankShermanmilikSekutudiSurabaya

MenjengukMochtarLoebisdanSoebadiodiPenjaraMadiun,1963

BerziarahkeMakamSjahrirpada5Maret1967

PuisitentanPpu

PuisitentangDjohanyangditulistanganolehDayino
Pada2Agustus1991

SĂŵƉĂŝ ĚĞŶŐĂŶ ƐĂĂƚ ŝŶŝ͕ ĂƌƵƐ ďĞƐĂƌ ƉĞƌƐƉĞŬƟĨ ƐĞũĂƌĂŚ ŵĞŶŐĞŶĂŝ ƚĞƌďĞŶƚƵŬŶLJĂ
ŶĂƐŝŽŶĂůŝƐŵĞ Ěŝ lŶĚŽŶĞƐŝĂ͕ ƵŵƵŵŶLJĂ ĚŝĚĂƐĂƌŝ ĂƚĂƵ ŵĞŶŐĂĐƵ ŬĞƉĂĚĂ ƉĞŵĂŚĂŵĂŶ
ƐĞũĂƌĂŚ ƉĞƌƚƵŵďƵŚĂŶ ŶĂƐŝŽŶĂůŝƐŵĞ ŶĞŐĂƌĂͲďĂŶŐƐĂ Ěŝ 8ĂƌĂƚ͘ kĞƵŶŝŬĂŶ ƉƌŽƐĞƐ
ŚŝƐƚŽƌŝƐ LJĂŶŐ ďĞƌůĂŶŐƐƵŶŐ Ěŝ lŶĚŽŶĞƐŝĂ ďĞůƵŵ ŵĞŶĚĂƉĂƚ ƉŽƌƐŝ ĨŽŬƵƐ LJĂŶŐ ĐƵŬƵƉ͕
ĚĂŶ ŶĂƐŝŽŶĂůŝƐŵĞ LJĂŶŐ ƚĞƌůŝŚĂƚ ƉĂĚĂ ĞƌĂ ƐĞƉƵƚĂƌ ÞƌŽŬůĂŵĂƐŝ kĞŵĞƌĚĞŬĂĂŶ ƚĂŚƵŶ
ϭϵϰϱ ĚŝĂŶŐŐĂƉ ƐĞďĂŐĂŝ ƐƵĂƚƵ ŬĞǁĂũĂƌĂŶ ƉƌŽƐĞƐ ĚĂůĂŵ ƐĞũĂƌĂŚ͘
uĞŵŝŬŝĂŶ ƚƵůŝƐ CĞŽƌŐĞ MĐ1ƵƌŶĂŶ kĂŚŝŶ͕ ƐĞŽƌĂŶŐ lŶĚŽŶĞƐŝĂŶŝƐ ƚĞƌŬĞŵƵŬĂ ĂƐĂů
AŵĞƌŝŬĂ͘
8ĂŐŝ ƚĞůŝŶŐĂ ŬŝƚĂ͕ ŶĂŵĂ uũŽŚĂŶ SũĂŚƌŽĞnjĂŚ ŵƵŶŐŬŝŶ ŵĂƐŝŚ ƚĞƌĚĞŶŐĂƌ ĂƐŝŶŐ͘
SĞďĂŐĂŝ ƐŽƐŽŬ LJĂŶŐ ďĞƌƉĞƌĂŶ ĂŬƟĨ ŵĞŵƉĞƌũƵĂŶŐŬĂŶ ŬĞŵĞƌĚĞŬĂĂŶ ďĂŶŐƐĂ͕
ŶĂŵĂŶLJĂ ŬĂůĂŚ ƉĂŵŽƌ ĚŝďĂŶĚŝŶŐŬĂŶ ƚŽŬŽŚͲƚŽŬŽŚ ƐĞƉĞƌƟ SŽĞŬĂƌŶŽ͕ PĂƩĂ ŵĂƵƉƵŶ
SũĂŚƌŝƌ͘ ÞĂĚĂŚĂů͕ uũŽŚĂŶ ďĞƌŬŽŶƚƌŝďƵƐŝ ƉĞŶƵŚ ĚĂůĂŵ ƐĞƟĂƉ ĨĂƐĞ ƉĞƌũƵĂŶŐĂŶ ŵƵůĂŝ
ĚĂƌŝ ĞƌĂ ŬŽůŽŶŝĂůŝƐŵĞ 8ĞůĂŶĚĂ͕ ĨĂƐŝƐŵĞ !ĞƉĂŶŐ͕ ƉĞƌƚĞŵƉƵƌĂŶ SƵƌĂďĂLJĂ ŚŝŶŐŐĂ
ŵĂƐĂͲŵĂƐĂ ũĂƚƵŚ ďĂŶŐƵŶ ƌĞƉƵďůŝŬ͘
SĞŵƉĂƚ Ěŝ ƉĞŶũĂƌĂ ĂŬŝďĂƚ ƚƵůŝƐĂŶŶLJĂ Ěŝ lŶĚŽŶĞƐŝĂ 8ĂLJĂ ŽůĞŚ ƉĞŵĞƌŝŶƚĂŚ 8ĞůĂŶĚĂ͕
uũŽŚĂŶ ũƵƐƚƌƵ ƐĞŵĂŬŝŶ ĂŬƟĨ ŵĞŵďŝŶĂ ŐĞƌĂŬĂŶ ďĂǁĂŚ ƚĂŶĂŚ Ěŝ SƵƌĂďĂLJĂ͘ uũŽŚĂŶ
ĂĚĂůĂŚ ĚŽŬƚƌŝŶĞƌ͕ ŝĚĞŽůŽŐ͕ ŝŶƚĞůĞŬƚƵĂů ƐĞŬĂůŝŐƵƐ ƉĞŶĚŝĚŝŬ ŬĂĚĞƌ LJĂŶŐ ŵĞŶŐƵĂƐĂŝ
MĂƌdžŝƐŵĞ ĚĞŶŐĂŶ ďĞŐŝƚƵ ŵĞŶĚĂůĂŵ͘
ÞĂĚĂ ŵĂƐĂ ƉĞŶĚƵĚƵŬĂŶ !ĞƉĂŶŐ͕ uũŽŚĂŶ ŵĞŶũĂĚŝ ƐŝŵƉƵů ďĂŐŝ ŐĞƌĂŬĂŶ ŬĂƵŵ ŵƵĚĂ
Ěŝ ďĞƌďĂŐĂŝ ĚĂĞƌĂŚ͘ lĂ ŵĞŶŐŽƌŐĂŶŝƐŝƌ ƐĞƌŝŬĂƚ ďƵƌƵŚ ŵŝŶLJĂŬ ĚĂŶ ďĞƌŐĞƌŝůLJĂ
ŵĞŶĞŵƉĂ ŬĂĚĞƌͲŬĂĚĞƌ ŵƵĚĂ ƐĞďĂŐĂŝ ƚƵůĂŶŐ ƉƵŶŐŐƵŶŐ LJĂŶŐ ĂŬĂŶ ŵĞŶLJĂŵďƵƚ
ŬĞŵĞƌĚĞŬĂĂŶ ƌĞƉƵďůŝŬ͘ kĂĚĞƌͲŬĂĚĞƌ ĚŝĚŝŬĂŶ uũŽŚĂŶ ŝŶŝůĂŚ LJĂŶŐ Ěŝ ŬĞŵƵĚŝĂŶ ŚĂƌŝ
ŵĞŶƵŶũƵŬŬĂŶ ŬĞƉĂĚĂ ĚƵŶŝĂ ƐĞŵĂŶŐĂƚ ŵĞŶƚĂů ůƵĂƌ ďŝĂƐĂ ƉĂĚĂ ƉĞƌƚĞŵƉƵƌĂŶ
SƵƌĂďĂLJĂ͘
“Di samping itu, perlu disebutkan juga pribadi yang mengagumkan,
Djohan Sjahroezah, seorang Minangkabau yang berlatar belakang
pendidikan cukup dan berusia sekitar 30 tahun. Sambil bekerja sebagai
ƐĞŬƌĞƚĂƌŝƐ,ĂƩĂ͕ƉĂĚĂƚĂŚƵŶϭϵϰϮͲϭϵϰϯŝĂŵĞŶŐĂƚƵƌŚƵďƵŶŐĂŶĚĞŶŐĂŶ
keempat organisasi bawah tanah lainya dan menjadi perantara utama
ĚĂůĂŵŚƵďƵŶŐĂŶŵĞƌĞŬĂ͘ũŽŚĂŶƉƵŶLJĂŚƵďƵŶŐĂŶLJĂŶŐŝƐƟŵĞǁĂ
dengan gerakan bawah tanah Sjahrir, dan menurut Adam Malik,
ƉĞƌŶĂŚďĞƌƐĂŵĂͲƐĂŵĂ^ƵŬĂƌŶŝŵĞŵĞŐĂŶŐŬĞůŽŵƉŽŬƚĞƌƐĞďƵƚ͘͟
PI KI R
PUSAT INOVASI & KEMANDIRIAN INDONESIA RAYA
Djohan Sjahroezah
Merajut Jejaring Perjuangan
!ů͘ 8ĂƚƵ l nŽ͘ Aϲ
ÞĞũĂƚĞŶ 1ŝŵƵƌ Ͳ ÞĂƐĂƌ MŝŶŐŐƵ
!ĂŬĂƌƚĂ SĞůĂƚĂŶ