Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN KUNJUNGAN DAERAH RESOSIALISASI SUNAN KUNING BAGIAN PMTCT

Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM) Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang

Disusun Oleh: Petrus Okky Bertadi Audria Graciela Huseikha Velayazulfahd Silminati Nur Saadah 030.07.202 030.08.047 030.08.122 030.08.227

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS DIPONEGORO FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI PERIODE 10 JUNI 2013 3 AGUSTUS 2013

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan penyusunan laporan yang berjudul Laporan Kunjungan Daerah Lokalisasi Sunan Kuning Bagian PMTCT. Laporan ini dibuat guna memenuhi salah satu syarat tugas kepaniteraan klinik di bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Tentunya kami berharap pembuatan laporan ini tidak hanya berfungsi sebagai apa yang telah disebutkan diatas. Namun, besar harapan kami agar laporan ini juga dapat dimanfaatkan oleh semua pihak yang berhubungan dengan masalah ini. Dalam usaha penyelesaian tugas laporan ini, kami banyak memperoleh bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak. Untuk itu, dalam kesempatan ini kami ingin menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan ini. Kami menyadari bahwa di dalam penulisan ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu dengan segala kerendahan hati kami menerima semua saran dan kritikan yang membangun guna penyempurnaan tugas laporan ini.

Semarang, Juli 2013

DAFTAR ISI

Kata Pengantar............................................................................................... i Daftar Isi ....................................................................................................... ii Daftar Gambar................................................................................................ iii BAB I. PENDAHULUAN.............................................................................. 1 A. Latar belakang....................................................................................... 1 B. Tujuan................................................................................................... 3 BAB II. PEMBAHASAN................................................................................ 4 II.1. Prevention of Mother to Children for HIV Transmission (PMTCT)... 4 II.2. Profil..................................................................................................... 12 II.3. Sasaran.................................................................................................. 13 II.4. Target.................................................................................................... 13 II.5. Strategi.................................................................................................. 13 II.6. Program Kegiatan................................................................................. 13 II.7. Aktivitas................................................................................................ 14 II.8. Intervensi dan Kebijakan...................................................................... 16 II.9. Kesimpulan dan Saran.......................................................................... 16 BAB III. LAPORAN KASUS PMTCT ........................................................ 17 A. Laporan Kasus 1................................................................................... 17 B. Laporan Kasus 2................................................................................... 20 C. Laporan Kasus 3.23 Daftar Pustaka................................................................................................ 27

ii

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Alur Upaya PMTCT Komprehensif............................................... 10 Gambar 2. Alur Proses Ibu Hamil Menjalani Kegiatan Prong 3 dalam Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Bayi................................ 11

iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang Di Indonesia sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1987, epidemi HIV dianggap cukup lamban berkembang. Selalu dikategorikan prevalensi rendah. Statistik yang rendah (di bawah 1.000 orang selama 11 tahun pertama hingga 1999) menyebabkan AIDS tidak dibicarakan secara gencar dan terbuka, baik oleh masyarakat maupun pembuat kebijakan. Upaya pencegahan menjadi fokus utama dengan penekanan pada isu moral saja, sehingga timbul stigma dan diskriminasi terhadap terhadap Orang dengan HIV dan AIDS (ODHA).(1) Menurut data Kemenkes RI, pada akhir Juni 2011 dilaporkan sebanyak 26.483 kasus AIDS, sebanyak 78% diantaranya berusia reproduksi aktif (20-39 tahun). Pada tahun 2009 diperkirakan jumlah orang yang terinfeksi HIV sudah mencapai 298.000 orang dengan 25% diantaranya adalah perempuan. Dari hasil proyeksi HIV yang dibuat KPAN (Komisi Penanggulangan AIDS Nasional), diperkirakan pada waktu mendatang akan terdapat peningkatan prevalensi HIV pada populasi usia 15 - 49 tahun dari 0,22% pada tahun 2008 menjadi 0,37% di tahun 2014; serta peningkatan jumlah infeksi baru HIV pada perempuan, sehingga akan berdampak meningkatnya jumlah infeksi HIV pada anak. Peningkatan penularan juga terjadi pada ibu rumah tangga dibandingkan dengan WPS pada tahun 1999 - 2010. Menurut estimasi Depkes, pada tahun 2009 terdapat 3.045 kasus baru HIV pada anak dengan kasus kumulatif 7.546; sedangkan pada tahun 2014 diperkirakan terdapat 5.775 kasus baru dengan 34.287 kasus kumulatif anak HIV di seluruh Indonesia.(1) Di tahun 2008 diperkirakan terdapat 430 000 anak yang baru terinfeksi HIV dan hampir semuanya lewat ibunya. Data yang diperoleh dari Depkes mengenai transmisi HIV secara vertikal dari ibu ke bayi masih sangat sedikit. Pada tahun 2006 diperkirakan terdapat sekitar 4.360 bayi yang HIV-positif, sedangkan angka kumulaif pada tahun 2015 diperkirakan dapat mencapai sekitar 38.500 kasus.(2)

Walaupun prevalensi HIV pada perempuan di Indonesia hanya 16%, tetapi karena mayoritas (92,54%) ODHA berusia reproduksi aktif (15-49 tahun), maka diperkirakan jumlah kehamilan dengan HIV positif akan meningkat. Infeksi HIV dapat berdampak kepada ibu dan bayi. Dampak infeksi HIV terhadap ibu antara lain: timbulnya stigma sosial, diskriminasi, morbiditas dan mortalitas maternal. Besarnya stigma sosial menyebabkan ODHA semakin menutup diri tentang keberadaannya, yang pada akhirnya akan mempersulit proses pencegahan dan pengendalian infeksi. Diskriminasi dalam kehidupan sosial menyebabkan ODHA kehilangan kesempatan untuk ikut berkarya dan memberikan penghidupan yang layak pada keluarganya. Karena terjadi penurunan daya tahan tubuh secara bermakna, maka morbiditas dan mortalitas maternal akan meningkat pula. Sedangkan dampak infeksi HIV terhadap bayi antara lain: gangguan tumbuh kembang karena rentan terhadap penyakit, peningkatan mortalitas, stigma sosial, yatim piatu lebih dini akibat orang tua meninggal karena AIDS, dan permasalahan ketaatan minum obat pada penyakit menahun seumur hidup. Dampak buruk dari penularan HIV dari ibu ke bayi dapat dicegah apabila: (1) Terdeteksi dini, (2) Terkendali (Ibu melakukan perilaku hidup sehat, Ibu mendapatkan ARV profilaksis secara teratur, Ibu melakukan ANC secara teratur, Petugas kesehatan menerapkan pencegahan infeksi sesuai Kewaspadaan Standar), (3) Pemilihan rute persalinan yang aman (seksio sesarea), (4) Pemberian PASI (susu formula) yang memenuhi persyaratan, (5) Pemantauan ketat tumbuhkembang bayi dan balita dari ibu dengan HIV positif, dan (6) Adanya dukungan yang tulus, dan perhatian yang berkesinambungan kepada ibu, bayi dan keluarganya.(3) Diseluruh dunia saat ini, wanita mewakili 50% dari seluruh orang dewasa yang hidup dengan HIV dan AIDS, jumlah ini akan meningkat di masa mendatang. Kondisi di atas menunjukkan pentingnya implementasi program prevention of mother to child transmission of HIV (PMTCT) yang bertujuan untuk menyelamatkan ibu dan bayi dari infeksi HIV. Program PMTCT komprehensif berupaya meningkatkan kepedulian dan pengetahuan perempuan pada usia reproduktif tentang HIV dan AIDS; meningkatkan akses perempuan hamil untuk mendapatkan layanan konseling dan testing HIV (VCT),

meningkatkan akses perempuan hamil HIV positif untuk mendapatkan layanan pengurangan risiko penularan HIV ke bayinya (dari semula 25 45 persen menjadi sekitar 2 persen), serta meningkatkan akses perempuan HIV positif dan keluarganya untuk mendapatkan layanan psikologis dan sosial agar kualitas hidupnya terjaga. Sering ada kesan bahwa sebagian besar anak yang dilahirkan oleh ibu yang HIV-positif akan terinfeksi. Namun sebenarnya 60 75% anak tersebut tidak terinfeksi, walaupun tidak ada intervensi apa pun. Rata-rata 30% terinfeksi, dengan 5% dalam kandungan, 15% waktu lahir dan 10% dari ASI. Dari angka ini, kita dapat mulai lihat intervensi yang mungkin dapat mengurangi jumlah anak yang tertular intervensi yang disebut sebagai pencegahan penularan HIV dari ibu-ke-bayi. atau sering ada yang memakai singkatan PMTCT (prevention of mother-to-child transmission). Adalah penting kita dan masyarakat umum mengetahui bahwa dalam keadaan terburuk, paling 40% bayi terinfeksi.(3)

B. TUJUAN a. Tujuan Umum Mencegah penularan HIV dari ibu ke bayi b. Tujuan Khusus Setiap ibu hamil yang HIV positif mengikuti program PMTCT Setiap bayi yang lahir dari ibu dengan HIV positif memiliki status HIV negatif.

BAB II PEMBAHASAN
II.1 Prevention of Mother to Children for HIV Transmission (PMTCT)(3) Saat ini, ada sejumlah target internasional yang berhubungan dengan PMTCT. Pada program Millenium Development Goals (MDGs) yang diadopsi oleh UN General Assembly pada tahun 2000 berkomitmen untuk menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, dan memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit lain pada tahun 2015. Pada UN General Assembly Special Session (UNGASS) pada tahun 2001, pemerintah menetapkan untuk mengurangi 50% dari bayi penderita HIV pada tahun 2010 dengan cara mewajibkan semua ibu hamil yang melakukan pemeriksaan kehamilan mendapatkan pelayanan PMTCT.

Indicators HIV prevalence among pregnant woman aged 15-24 years Condom use rate of the contraceptive prevalence rate Condom use at last high-risk sex Percentage of population aged 15-24 years with comprehensive correct knowledge of HIV/AIDS Contraceptive prevalence rate Untuk mencegah penularan pada bayi, yang paling penting adalah mencegah penularan pada ibunya dulu. Harus ditekankan bahwa si bayi hanya dapat tertular

oleh ibunya. Jadi bila ibunya HIV-negatif, PASTI si bayi juga tidak terinfeksi HIV. Status HIV si ayah TIDAK mempengaruhi status HIV si bayi.

Tingginya

kecenderungan

infeksi HIV

pada perempuan dan anak

mengakibatkan perlunya berbagai upaya untuk mencegah penularan HIV dari ibu hamil ke bayi secara serius. WHO melalui MDGs (Millenium Development Goal) tahun 2015 yang salah satunya adalah menurunkan prevalensi HIV ibu hamil usia 15-24 tahun. Strategi Penanggulangan AIDS Nasional 20032007 menegaskan bahwa pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi merupakan sebuah program prioritas. PMTCT (Prevention Mother to Child Transmittion) adalah layanan pencegahan penularan HIV dari ibu hamil yang positif HIV ke bayi yang dikandungnya. PMTCT ini menjangkau ibu-ibu hamil (bumil) terutama yang berisiko tinggi tertular HIV. Deteksi dini kasus HIV dalam keluarga melalui pemeriksaan ibu hamil risiko tinggi, yaitu bumil dengan sindrom IMS, bumil dengan suami kelompok potensial, melalui pemeriksaan Infeksi Menular Seksual (IMS) dan Voluntary, Counseling, and Testing (VCT).(3,4) Sampai 10% bayi dari ibu HIV-positif tertular melalui menyusui, tetapi jauh lebih sedikit bila disusui secara eksklusif. Sebaliknya lebih dari 3% bayi di Indonesia meninggal akibat infeksi bakteri, yang sering disebabkan oleh makanan

atau botol yang tidak bersih. Karena risiko yang lebih besar dari air yang tidak bersih untuk penyediaan susu formula dan nutrisi yang kurang di negara terbatas sumber daya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan organisasi kesehatan masyarakat lainnya merekomendasikan bahwa perempuan dengan HIV harus menyusui secara eksklusif selama enam bulan jika susu formula tidak aman, dapat diterima, terjangkau, terjamin, berkesinambungan, dan tidak mampu dibeli oleh keluarga. Dapat pula bayi diberi ASI eksklusif untuk enam bulan pertama, kemudian disapih mendadak, kecuali bila dapat dipastikan bahwa PASI secara eksklusif dapat diberi dengan cara AFASS:(4) A = Affordable (terjangkau) F = Feasible (praktis) A = Acceptable (diterima oleh lingkungan) S = Safe (aman) S = Sustainable (kesinambungan)

Pada pertengahan 2011, paling tidak, ada delapan studi yang menunjukkan bahwa penggunaan ART secara dini dan tepat dan dikombinasikan dengan menyusui secara eksklusif sampai enam bulan mengurangi risiko penularan dari ibu ke bayi sampai ke 0% - 1,2%, Morrison dan rekan mencatat. Di studi besar baru-baru ini dengan tindak lanjut yang ekstensif, tidak ada kasus penularan pasca kelahiran yang terjadi pada perempuan yang patuh terhadap ART.

Penelitian di Botswana menunjukkan bahwa ibu HIV-positif yang menerima kombinasi ART selama kehamilan dan sementara menyusui memiliki hanya sekitar 1% risiko untuk menularkan virus kepada bayinya, dan tidak ada penularan selama menyusui di antara perempuan yang menggunakan rejimen dari beberapa kelas antiretroviral.(4) Perempuan HIV positif yang hamil di negara maju lebih mungkin dibandingkan dengan mereka di negara terbatas sumber daya untuk menerima pengobatan yang terus menekan viral load di bawah batas yang terdeteksi. Dalam keadaan ini, penularan HIV selama kehamilan sangat jarang terjadi.(3) Program PMTCT di Kota Semarang mulai dirintis pada tahun 2006. Pada tahun 2007 program setempat berhenti karena berhentinya dana dari Global Fund Foundation dan dimulai kembali pada Mei 2008 hingga saat ini. Pendanaan kegiatan PMTCT ini diperoleh dari Global Fund yang sebelum sampai ke Griya Asa disalurkan ke Dinas Kesehatan Kota dan Yayasan Pelita Ilmu terlebih dahulu. Jawa Tengah merupakan daerah yang dipercaya untuk mengolah dana tersebut dari total 6 propinsi di seluruh Indonesia. Saat ini kegiatan PMTCT masih berjalan dan berusaha mendapatkan dukungan dana dari propinsi. Dengan adanya keterbatasan dana ini, maka program PMTCT dilakukan tanpa ada periode yang pasti. Kegiatan PMTCT hanya dapat dilakukan jika ada dana yang diturunkan oleh Global Fund.(2) Program PMTCT secara komprehensif menggunakan 4 prong, yang menjadi pilar pelaksanaan kegiatan, yaitu:(1,2) 1. Mencegah penularan HIV pada perempuan usia produktif Untuk menghindari penularan HIV digunakan konsep ABCD yang terdiri dari: A (Abstinence): Absen seks atau tidak melakukan hubungan seksual bagi orang yang belum menikah. B (Be faithful): Bersikap saling setia kepada satu pasangan seks (tidak bergantiganti) C (Condom): Cegah dengan kondom. Kondom harus dipakai oleh pasangan apabila salah satu atau keduanya diketahui terinfeksi HIV

D (Drug No): Dilarang menggunakan napza, terutama napza suntik dengan jarum bekas secara bergantian. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan dalam upaya pencegahan primer antara lain: Menyebar luaskan informasi mengenai HIV/AIDS Meningkatkan kesadaran perempuan tentang bagaimana cara menghindari penularan HIV dan IMS Menjelaskan manfaat dari konseling dan tes HIV secara sukarela Mengadakan penyuluhan HIV/AIDS secara berkelompok Mempelajari tentang pengurangan risiko penularan HIV dan IMS (termasuk penggunaan kondom) Bagaimana bernegosiasi seks aman (penggunaan kondom) dengan pasangan Mobilisasi masyarakat untuk membantu masyarakat mendapatkan akses terhadap informasi tentang HIV/AIDS Melibatkan petugas lapangan (kader PKK, bidan, dan lainnya ) untuk memberikan informasi pencegahan HIV dan IMS kepada masyarakat dan untuk membantu klien mendapatkan akses layanan kesehatan.

Konseling untuk perempuan HIV negatif Ibu hamil yang hasilnya tesnya HIV negatif perlu didukung agar status dirinya tetap HIV negatif Menganjurkan agar pasangannya menjalani tes HIV Layanan yang bersahabat untuk pria Membuat layanan kesehatan ibu dan anak yang bersahabat untuk pria sehingga mudah diakses oleh suami / pasangan ibu hamil Mengadakan kegiatan kunjungan pasangan pada kunjungan ke layanan kesehatan ibu dan anak 2. Mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu HIV-positif Pemberian alat kontrasepsi yang aman dan efektif serta konseling yang berkualitas akan membantu ODHA dalam melakukan seks yang aman, mempertimbangkan jumlah anak yang dilahirkannya, serta menghindari lahirnya anak yang terinfeksi HIV.

Untuk mencegah kehamilan alat kontrasepsi yang dianjurkan adalah kondom, karena bersifat proteksi ganda. Kontrasepsi oral dan kontrasepsi hormon jangka panjang (suntik dan implan) bukan kontraindikasi pada ODHA. Pemakaian AKDR tidak dianjurkan karena bisa menyebabkan infeksi asenderen. Spons dan diafragma kurang efektif untuk mencegah terjadinya kehamilan maupun penularan HIV. Jika ibu HIV positif tetap ingin memiliki anak, WHO menganjurkan jarak antar kelahiran minimal 2 tahun. 3. Mencegah terjadinya penularan HIV dari ibu hamil HIV positif ke bayi yang dikandungnya. Merupakan inti dari intervensi PMTCT. Bentuk intervensi berupa: Pelayanan kesehatan ibu dan anak yang komprehensif Layanan konseling dan tes HIV secara sukarela (VCT) Pemberian obat antiretrovirus (ARV) Konseling tentang HIV dan makanan bayi, serta pemberian makanan bayi Persalinan yang aman beserta bayi dan keluarganya. Upaya PMTCT tidak terhenti setelah ibu melahirkan. Karena ibu tersebut terus menjalani hidup dengan HIV di tubuhnya, maka membutuhkan dukungan psikologis, sosial dan perawatan sepanjang waktu. Jika bayi dari ibu tersebut tidak terinfeksi HIV, tetap perlu dipikirkan tentang masa depannya, karena kemungkinan tidak lama lagi akan menjadi yatim dan piatu. Sedangkan bila bayi terinfeksi HIV, perlu mendapatkan pengobatan ARV seperti ODHA lainnya.5 Dengan dukungan psikososial yang baik, ibu HIV positif akan bersikap optimis dan bersemangat mengisi kehidupannya. Diharapkan ia akan bertindak bijak dan positif untuk senantiasa menjaga kesehatan diri dan anaknya, dan berperilaku sehat agar tidak terjadi penularan HIV dari dirinya ke orang lain. Informasi tentang adanya layanan dukungan psikososial untuk ODHA ini perlu diketahui masyarakat luas. Diharapkan informasi ini bisa meningkatkan

4. Memberikan dukungan psikologis, sosial dan perawatan kepada ibu HIV-positif

minat mereka yang merasa berisiko tertular HIV untuk mengikuti konseling dan tes HIV agar mengetahui status HIV mereka sedini mungkin.

Perempuan Usia Reproduktif

Cegah Penularan HIV

HIV Positif Perempuan HIV Positif

HIV Negatif

Cegah Kehamilan tak Direncanakan

Hamil

Tidak Hamil

Perempuan Hamil HIV Positif

Cegah Penularan HIV ke Bayi

Bayi HIV Positif

Bayi HIV negatif

Dukungan Psikologis & Sosial

Gambar 1. Alur Upaya PMTCT Komprehensif

10

Partisipasi Pria

IBU HAMIL

Mobilisasi Masyarakat

Pelayanan KIA untuk Ibu Hamil di Klinik KIA, Puskesmas

Penyuluhan Kesehatan dan PMTCT

Informasi Konseling dan Tes HIV Sukarela/VCT

Tak Bersedia dikonseling Pra Tes

Bersedia dikonseling Pra Tes

Tidak bersedia dites HIV

Bersedia dites HIV

Konseling untuk tetap HIV negatif dan evaluasi berkala

Pemeriksaan Laboratorium

Konseling Pasca Tes

Hasil Tes HIV Negatif

Hasil Tes HIV positif Konseling dan Pemberian antiretroviral

Konseling dan Pemberian Makanan Bayi

Persalinan yang Aman

Dukungan Psikososial dan Perawatan bagi Ibu HIV positif dan bayinya

11

Gambar 2. Alur Proses Ibu Hamil Menjalani Kegiatan Prong 3 dalam Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Bayi 2,5 II.2 Profil (2) 1. Griya PMTCT PKBI Kota Semarang Griya PMTCT Kota Semarang didirikan pada tanggal 10 Juli 2006. Program ini bertujuan menjangkau ibu hamil terutama bumil risiko tinggi (suami potensial risiko tinggi). Griya PMTCT merupakan kerjasama PKBI Kota Semarang dengan Global Fund (GF ATM). Menjalin kerjasama dengan Dinas Kesehatan Kota Semarang dan Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah. Menjalin kerjasama dengan Ikatan Bidan Indonesia (IBI). Menjalin kerjasama dengan Klinik VCT di Semarang (RSUP dr. Karyadi, RSUD Kota Semarang, RS Panti Wilasa, RSU Tugurejo). Griya PMTCT ini juga bekerjasama dengan Lembagalembaga yang bersama-sama menangani permasalahan HIV-AIDS, diantaranya GF ATM, YPI Jakarta, LSM peduli AIDS 2. Susunan pengurus dan SDM Griya PMTCT Ketua PKBI Kota Semarang dr. Dwi Yoga Yulianto

Manager Program PMTCT dr. Adi Khuntoro, M.Kes

Koordinator Lapangan Roni Wijayanto, SE

Finance&Administrative Staff Rahayu Sulistyowati, S.Si

Team asistensi (manager kasus dan konselor) Rulia Ifadalina

12

II.3 Sasaran Semua ibu hamil di resosialisasi Gambilangu. II.4 Target Semua ibu hamil yang pernah menderita IMS harus menjalani VCT Semua ibu hamil dengan suami yang menderita IMS harus menjalani VCT II.5 Strategi Pelaksanaan kegiatan sesuai dengan prosedur PMTCT Kerjasama dengan PKBI Kota Semarang, Global Fund, Dinas Kesehatan Kota Semarang, Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah, Ikatan Bidan Indonesia (IBI). Menjalin kerjasama dengan Klinik VCT di Semarang (RSUP dr. Karyadi, RSUD Kota Semarang, RS Panti Wilasa, RSU Tugurejo). Pelayanan VCT menjadi one day service Merujuk penderita ke MK, KDS, layanan kesehatan II.6 Program kegiatan Penjangkauan Ibu hamil pada Bidan Praktik Swasta Penjangkauan Ibu hamil melalui kader PKK dan kader Kesehatan VCT (Voluntary, Counseling and Testing) Pendampingan dan pemberian dukungan psikologis pada ibu hamil HIV positif Pemberian Nutrisi pada ibu hamil HIV-positif Pencegahan transmisi dari ibu positif (persalinan caesar dan pemberian Susu Formula pada bayi) Penyuluhan PMTCT pada masyarakat (bumil, remaja usia produktif, kader kesehatan desa) VCT (Voluntary, Counseling and Testing) dilakukan bekerjasama dengan RS di Kota Semarang yang memiliki Klinik VCT.

13

Penjangkauan dan pendampingan dilakukan pada ibu hamil yang memeriksakan dirinya ke Bidan Praktik Swasta untuk diberikan pengetahuan tentang PMTCT (Prevention of Mother to Child HIV Transsmission), layanan pemeriksaan IMS (Infeksi Menular Seksual) di Klinik Satelit Griya ASA PKBI Kota Semarang serta tes VCT.

Pemberian dukungan psikologis pada ibu hamil berupa kunjungan ke rumah (Home Visit) ibu hamil yang berstatus HIV positif untuk diberikan nutrisi ibu hamil, mengetahui permasalahan yang dihadapi ibu hamil dan diberikan solusinya.

Pemberian susu formula pada bayi berupa pemberian susu formula pada bayi yang dilahirkan oleh ibu HIV positif agar tidak diberi ASI oleh ibunya, sehingga akan memperkecil penularan virus HIV dari ibu ke bayi. II.7 Aktivitas Kegiatan PMTCT dilaksanakan dengan metode statis VCT dan mobile VCT. Statis VCT adalah pusat konseling dan testing HIV/AIDS sukarela terintegrasi dalam sarana kesehatan dan sarana kesehatan lainnya, artinya bertempat dan menjadi bagian dari layanan kesehatan yang telah ada. Sedangkan mobile VCT adalah layanan konseling dan testing HIV/AIDS sukarela model penjangkauan dan keliling yang dilaksanakan oleh LSM atau layanan kesehatan yang langsung mengunjungi sasaran kelompok masyarakat yang memiliki perilaku berisiko atau berisiko tertular HIV/AIDS di wilayah tertentu. Dari hasil kegiatan, apabila terdapat ibu hamil dengan HIV-positif, akan diberikan ARV selama kehamilan dan persalinan, serta bantuan nutrisi sampai umur kehamilan cukup bulan kemudian dirujuk ke spesialis Obstetri dan Ginekologi untuk dilakukan persalinan secara sectio caesaria. Program dikatakan berhasil bila ibu hamil dengan HIV-positif melahirkan bayi dengan HIV-negatif. Setelah itu akan diberikan bantuan susu formula sampai usia 11 bulan. Pemeriksaan untuk bayi berupa pemeriksaan PCR, yang dilakukan sesegera mungkin untuk mengetahui status infeksi HIV.

14

Skrining yang dilakukan oleh Mahasiswa IKM FK Trisakti di resosialisasi Gambilangu, pada tanggal 18 Juli 2013: No. 1. Nama Bumil Ny. A Nama Suami Tn. J Alamat Status Risiko HIV Rekomendasi VCT bagi ibu dan suami

Resosisalisasi Pekerjaan Suami Gambilangu, kelurahan sumberejo, kecamatan kaliwungu. pasien sebagai perawat dan pulang ke rumah 5 bulan sekali. Tinggal di daerah dengan kasus HIV/AIDS tinggi

2.

Ny. H

Tn. B

Resosisalisasi Pekerjaan Suami Gambilangu, kelurahan sumberejo, kecamatan kaliwungu. pasien bekerja sebagai pegawai swasta yang pulang ke rumah setiap 8 bulan sekali. Tinggal di daerah dengan kasus HIV/AIDS tinggi

VCT bagi ibu dan suami

3.

Ny. G

Tn. A

Resosisalisasi Tinggal di daerah Gambilangu, kelurahan sumberejo, kecamatan kaliwungu. dengan kasus HIV/AIDS tinggi

VCT bagi ibu

15

II.8 Intervensi dan Kebijakan Melakukan kegiatan PMTCT di resosialisasi Gambilangu. Apabila didapatkan ibu hamil risiko tinggi segera disarankan untuk melakukan VCT.

II.9 Kesimpulan dan Saran

1. Kesimpulan Kegiatan PMTCT terlaksana dengan menjangkau sasaran 3 ibu hamil yang memiliki resiko tertular HIV.

2. Saran a. PMTCT mencari sumber dana lain agar kegiatan PMTCT dapat terlaksana terus menerus dan berkesinambungan. b. Dilakukan PMTCT pada setiap ibu hamil dan dilakukan pemeriksaan VCT pada ibu hamil risiko tinggi sebagai bagian dari ANC rutin. c. Menyebarluaskan informasi mengenai HIV dan AIDS. d. Mempromosikan kegiatan PMTCT ke masyarakat luas melalui media massa sehingga meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai kegiatan dan fungsi dari PMTCT.

16

BAB III LAMPIRAN


LAPORAN KASUS PMTCT DI RESOSISALISASI GAMBILANGU TANGGAL 18 JULI 2013

A. LAPORAN KASUS 1 Identitas Pasien Nama Usia Alamat : Ny. A : 20 tahun : Resosisalisasi Gambilangu, kelurahan sumberejo, kecamatan kaliwungu. Pekerjaan Agama Pendidikan Status obstetri : Swasta (Wanita Pekerja Seks) : Islam : SD : G1P0A0

Identitas Suami

17

Nama Usia Alamat Pekerjaan

: Tn. J : 22 tahun : Yogyakarta : Perawat

Status pernikahan : Menikah Pendidikan Keluhan Utama : Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien hamil G1P0A0 dengan usia kehamilan saat ini 25 minggu 3 hari. ANC 2x di Bidan. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat hipertensi sebelum dan saat kehamilan disangkal Riwayat infeksi selama kehamilan disangkal Riwayat asma disangkal Riwayat penyakit jantung disangkal Riwayat transfusi disangka Riwayat keputihan patologis (+) : SMK

Riwayat Obstetri G1P0A0. Hamil saat ini 25 minggu 3 hari, ANC 2x di bidan. USG (-) Riwayat Ginekologi Usia pasien saat pertama kali haid adalah 12 tahun. Menstruasi teratur. Pasien pernah mengalami keputihan, terutama saat sebelum dan sesudah haid. Menurut pasien, keputihannya dahulu warnanya putih, tidak gatal, tidak berbau dan tidak mengganggu aktifitas sehari-hari. Rasa nyeri saat berkemih maupun

18

riwayat nyeri di daerah pinggang disangkal, pasien tidak pernah merasa nyeri saat berkemih maupun rasa gatal di kemaluan. Sebelumnya pasien pernah menggunakan KB suntik tetapi tidak cocok dan berhenti.

Riwayat Kebiasaan dan Pekerjaan Pasien merokok, minum-minuman beralkohol, Namun tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan terlarang yang di minum maupun disuntik. Pasien bekerja sebagai wanita pekerja seks. Pasien belum pernah menerima transfusi darah. Menurut pasien, suami pasien merokok, minum minuman beralkohol namun tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan terlarang yang diminum maupun disuntik. Suami pasien juga belum pernah menerima transfusi darah selama hidupnya. Suami pasien bekerja sebagai perawat dan pulang ke rumah 5 bulan sekali. Riwayat pernikahan Pasien baru menikah sekali. Pernikahan saat pasien berusia 18 tahun, pernikahan telah berlangsung selama 2 tahun. Sebelum menikah pasien dan suami tidak menjalani konseling pra-nikah termasuk pemeriksaan kesehatan. Hubungan intim dilakukan pertama kali setelah menikah dengan frekuensi 3-4x/ minggu tanpa menggunakan kondom. Pengetahuan Pasien mengetahui penularan HIV/AIDS melalui hubungan seks dan narkoba suntik, tentang penyebabnya dan cara pencegahannya, namun pasien tidak mengetahui gejala dari HIV/AIDS dan penularannya ke bayi. Penilaian Risiko Individu Pengetahuan yang kurang tentang gejala HIV/AIDS dan penularannya ke bayi

19

Saat ini pasien hamil 25 minggu 3 hari Kelompok Risti Pasien bekerja sebagai wanita pekerja seks Suami bekerja sebagai perawat yang pulang ke rumah setiap 5 bulan sekali.

Rekomendasi Memberikan informasi tentang IMS, HIV beserta penyebab, gejala, cara penularan, cara penularan ke bayi, pencegahan, dan komplikasi, serta cara menjaga higiene alat reproduksi dengan cara direct education oleh petugas kesehatan. Memotivasi ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya pada pelayanan kesehatan terdekat (bidan atau puskesmas) dengan frekuensi sesuai dengan masa kehamilannya ulang Memotivasi ibu hamil untuk menganjurkan pasangannya untuk melakukan skrining IMS dan VCT Praktik persalinan aman dengan menggunakan operasi caesar di tempat pelayanan kesehatan yang memadai jika hasil VCT pada saat kehamilan positif Memotivasi ibu hamil untuk melakukan skrining IMS dan VCT

B. LAPORAN KASUS 2 Identitas Pasien Nama Usia Alamat : Ny. H : 27 tahun : Resosisalisasi Gambilangu, kelurahan sumberejo, kecamatan kaliwungu.

20

Pekerjaan Agama Pendidikan Status obstetri Identitas Suami Nama Usia Alamat Pekerjaan

: Swasta (Wanita Pekerja Seks) : Islam : SD : G3P2A0

: Tn.B : 35 tahun : Bandung : Swasta

Status perkawinan : Menikah Pendidikan : SMA

Keluhan Utama

:-

Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien G3P2A0, Hamil saat ini 32 minggu 2 hari, ANC 3x di bidan. USG (-)

Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat hipertensi sebelum dan saat kehamilan disangkal Riwayat infeksi selama kehamilan disangkal Riwayat asma disangkal Riwayat penyakit jantung disangkal Riwayat transfusi disangkal Riwayat keputihan patologis (+)

21

Riwayat Obstetri G3P2A0 Anak pertama : Laki-laki, usia 8 tahun, lahir normal, ditolong oleh bidan, berat lahir 3200 gram. Anak kedua : Laki-laki, usia 18 bulan, lahir normal, ditolong oleh bidan,

berat badan lahir 3300 gram. Pasien mengatakan bahwa selama hamil kondisi pasien dan anak yang dikandungnya dalam kondisi baik. Riwayat Ginekologi Usia pasien saat pertama kali haid adalah 13 tahun. Haid teratur, tidak ada nyeri saat haid. Pasien mengatakan sebelum hamil pasien pernah memiliki keluhan keputihan, terutama saat sebelum dan sesudah haid. Menurut pasien, keputihannya dahulu warnanya jernih, tidak gatal, tidak berbau dan tidak mengganggu aktifitas sehari-hari. Rasa nyeri saat berkemih maupun riwayat nyeri di daerah pinggang disangkal. Riwayat Kebiasaan dan Pekerjaan Pasien merokok, minum minuman beralkohol namun tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan terlarang yang di minum maupun disuntik. Pasien bekerja sebagai wanita pekerja seks. Pasien belum pernah menerima transfusi darah. Menurut pasien, suami pasien merokok, minum minuman beralkohol namun tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan terlarang yang di minum maupun disuntik. Suami pasien juga belum pernah menerima transfusi darah selama hidupnya. Suami pasien bekerja sebagai pegawai swasta yang pulang ke rumah setiap 8 bulan sekali. Riwayat pernikahan

22

Pasien baru menikah sekali. Pernikahan saat pasien berusia 25 tahun, pernikahan telah berlangsung selama 2 tahun. Sebelum menikah pasien dan suami tidak menjalani konseling pra-nikah termasuk pemeriksaan kesehatan. Hubungan intim dilakukan pertama kali setelah menikah dengan frekuensi 3-4x/ minggu tanpa menggunakan pengaman (kondom). Pengetahuan Pasien mengetahui adanya penyakit HIV/AIDS namun pasien tidak mengetahui tentang penularan HIV/AIDS, bagaimana gejalanya, cara pencegahan, dan komplikasi dari HIV/AIDS serta pasien tidak mengetahui adanya resiko penularan HIV/AIDS ke bayi yang dikandungnya. Penilaian Risiko Individu Kurangnya pengetahuan tentang HIV/AIDS dan penularannya ke bayi. Saat ini pasien hamil 32 minggu.

Kelompok Risti Pasien bekerja sebagai wanita pekerja seks Suami bekerja sebagai pegawai swasta yang pulang ke rumah setiap 8 bulan sekali. Rekomendasi Memberikan informasi tentang IMS, HIV beserta penyebab, gejala, cara penularan, cara penularan ke bayi, pencegahan, dan komplikasi, serta cara menjaga higiene alat reproduksi dengan cara direct education oleh petugas kesehatan. Memotivasi ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya pada pelayanan kesehatan terdekat (bidan atau puskesmas) dengan frekuensi sesuai dengan masa kehamilannya. ulang Memotivasi ibu hamil untuk melakukan skrining IMS dan VCT

23

Memotivasi ibu hamil untuk menganjurkan pasangannya untuk melakukan skrining IMS dan VCT. Praktik persalinan aman dengan menggunakan operasi caesar di tempat pelayanan kesehatan yang memadai jika hasil VCT pada saat kehamilan positif.

C. LAPORAN KASUS 3 Identitas Pasien Nama Usia Alamat : Ny. G : 21 tahun : Resosisalisasi Gambilangu, kelurahan sumberejo, kecamatan kaliwungu. Pekerjaan Agama Pendidikan Status obstetri Identitas Suami Nama Usia Alamat Pekerjaan : Tn. A : 25 tahun : Semarang : Nelayan : Swasta (Wanita Pekerja Seks) : Islam : SMP : G2P1A0

Status perkawinan : Menikah Pendidikan Keluhan Utama : SD :-

24

Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien G2P1A0, Hamil saat ini 16 minggu 4 hari, ANC 1x di bidan. USG (-) Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat hipertensi sebelum dan saat kehamilan disangkal Riwayat infeksi selama kehamilan disangkal Riwayat asma disangkal Riwayat penyakit jantung disangkal Riwayat transfusi disangkal Riwayat keputihan patologis (+)

Riwayat Obstetri G2P1A0 Anak pertama : perempuan, sudah meninggal karena sakit saat usia 2 tahun , lahir normal, ditolong oleh bidan, berat lahir 2900 gram. Pasien mengatakan bahwa selama hamil kondisi pasien dan anak yang dikandungnya dalam kondisi baik. Riwayat Ginekologi Usia pasien saat pertama kali haid adalah 12 tahun. Haid teratur, tidak ada nyeri saat haid. Pasien mengatakan sebelum hamil pasien pernah memiliki keluhan keputihan, terutama saat sebelum dan sesudah haid. Menurut pasien, keputihannya dahulu warnanya putih, gatal, tidak berbau dan tidak mengganggu aktifitas sehari-hari. Rasa nyeri saat berkemih maupun riwayat nyeri di daerah pinggang disangkal. Riwayat Kebiasaan dan Pekerjaan Pasien tidak merokok, tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan terlarang yang di minum maupun disuntik namun minum minuman beralkohol. Pasien

25

bekerja sebagai wanita pekerja seks. Pasien belum pernah menerima transfusi darah. Menurut pasien, suami pasien merokok, minum minuman beralkohol namun tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan terlarang yang di minum maupun disuntik. Suami pasien juga belum pernah menerima transfusi darah selama hidupnya. Pasien dan suaminya sudah berpisah selama 2 tahun Riwayat pernikahan Pasien baru menikah sekali. Pernikahan saat pasien berusia 17 tahun, pernikahan telah berlangsung selama 4 tahun, namun suami pasien tidak pernah pulang lagi sejak 2 tahun ini. Sebelum menikah pasien dan suami tidak menjalani konseling pra-nikah termasuk pemeriksaan kesehatan. Hubungan intim dilakukan pertama kali setelah menikah dengan frekuensi 4-5x/ minggu tanpa menggunakan pengaman (kondom). Pengetahuan Pasien mengetahui adanya penyakit HIV/AIDS, pasien mengetahui tentang penularan HIV/AIDS, namun pasien tidak mengetahui bagaimana gejalanya, cara pencegahan, komplikasi, dan resiko penularan HIV/AIDS ke bayi yang dikandungnya. Penilaian Risiko Individu Kurangnya pengetahuan tentang HIV/AIDS dan penularannya ke bayi. Saat ini pasien hamil 16 minggu.

Kelompok Risti Pasien bekerja sebagai wanita pekerja seks

Rekomendasi Memberikan informasi tentang IMS, HIV beserta penyebab, gejala, cara penularan, cara penularan ke bayi, pencegahan, dan komplikasi, serta

26

cara menjaga higiene alat reproduksi dengan cara direct education oleh petugas kesehatan. Memotivasi ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya pada pelayanan kesehatan terdekat (bidan atau puskesmas) dengan frekuensi sesuai dengan masa kehamilannya ulang Memotivasi ibu hamil untuk menganjurkan pasangannya untuk melakukan skrining IMS dan VCT Praktik persalinan aman dengan menggunakan operasi caesar di tempat pelayanan kesehatan yang memadai jika hasil VCT pada saat kehamilan positif Memotivasi ibu hamil untuk melakukan skrining IMS dan VCT

DAFTAR PUSTAKA

1.

Program Pencegahan Penularan HIV dari ibu ke Bayi (PMTCT). Diunduh dari http://www.ypi.or.id/informasi/berita/51-program-pencegahan-penularan-hiv-dariibu-ke-bayi-pmtct-pengalaman-yayasan-pelita-ilmu. Diakses tanggal April 2013. 23 Juli

2.

Griya PMTCT PKBI Kota Semarang. Griya PMTCT. Ditemukan di http://griyapmtct.blogspot.com. Diakses tanggal 23 Juli 2013.

3.

PMTCT. Diunduh dari http://spiritia.or.id/cst/bacacst.php?artno=1075. Diakses tanggal 23 Juli 2013.

4.

WHO. Background. PMTCT Strategic Vision 2010-2015. Ditemukan di http://www.who.int/hiv/pub/mtct/strategic_vision.pdf. Diakses tanggal 23 Juli 2013.

5.

Kuntoro A. Handout Pencegahan Penularan HIV Pada Perempuan Bayi dan Anak. Semarang 2012.
27

28