Anda di halaman 1dari 31

BAB I PENDAHULUAN Ileus obstruktif merupakan kegawatan di bidang bedah digestive yang sering dilaporkan.

Gangguan saluran cerna ini menduduki 60-70% dari seluruh kasus akut abdomen yang tidak tergolong appendicitis akuta. Sekitar 50% penyebab obstruksi ileus disebabkan oleh adhesi yang terjadi pasca operasi regio abdominal dan operasi di bidang obstetri ginekologik.1 Gangguan yang terjadi pada ileus obstruktif bisa meliputi sumbatan sebagian (partial) atau keseluruhan (complete) dari lumen usus, sehingga mengakibatkan isi usus tak dapat melewati lumen itu sendiri. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai macam kondisi, paling sering dikarenakan oleh adhesi, hernia, bahkan tumor.1,2 Ileus obstruktif tidak hanya dapat menghasilkan perasaan yang tidak nyaman, seperti: keram perut, nyeri perut, kembung, mual, dan muntah, bila tidak diobati dengan benar, ileus obstruktif dapat menyebabkan sumbatan dan menyebabkan kematian jaringan usus. Kematian jaringan ini dapat ditunjukkan dengan perforasi usus, infeksi ringan, hingga kondisi shock.3 Adhesi merupakan suatu jaringan parut yang sering menyebabkan organ dalam atau jaringan tetap melekat setelah pembedahan. Adhesi dapat membelit dan menarik organ dari tempatnya dan merupakan penyebab utama dari obstruksi usus, infertilitas (bidang ginekologik), dan nyeri kronis pelvis.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Ileus obstruktif adalah kerusakan atau hilangnya pasase isi usus yang disebabkan oleh sumbatan mekanik. Rintangan pada jalan isi usus akan menyebabkan isi usus terhalang dan tertimbun di bagian proksimal dari sumbatan, sehingga pada daerah proksimal tersebut akan terjadi distensi atau dilatasi usus.1,2 Obstruksi usus juga disebut obstruksi mekanik misalnya oleh strangulasi, invaginasi, atau sumbatan di dalam lumen usus. Pada obstruksi harus dibedakan lagi obstruksi sederhana dari obstruksi strangulasi. Obstruksi sederhana ialah obstruksi yang tidak disertai terjepitnya pembuluh darah. Pada strangulasi ada pembuluh darah yang terjepit sehingga terjadi iskemia yang akan berakhir dengan nekrosis atau gangren yang ditandai dengan gejala umum berat, yang disebabkan oleh toksin dari jaringan gangren. Jadi strangulasi memperlihatkan kombinasi gejala obstruksi dengan gejala sistemik akibat adanya toksin dan sepsis. Obstruksi usus yang disebabkan oleh hernia, invaginasi, adhesi, dan volvulus mungkin sekali disertai strangulasi. Sedangkan obstruksi oleh tumor atau obstruksi oleh cacing askaris adalah obstruksi sederhana yang jarang menyebabkan strangulasi.3 2.2 Anatomi Usus Usus halus merupakan tabung yang kompleks, berlipat-lipat yang membentang dari pilorus sampai katup ileosekal. Pada orang hidup panjang usus halus sekitar 12 kaki (22 kaki pada kadaver akibat relaksasi). Usus ini mengisi bagian tengah dan bawah abdomen. Ujung proksimalnya bergaris tengah sekitar 3,8 cm, tetapi semakin ke bawah lambat laun garis tengahnya berkurang sampai menjadi sekitar 2,5 cm.2 Usus halus dibagi menjadi duodenum, jejenum, dan ileum. Pembagian ini agak tidak tepat dan didasarkan pada sedikit perubahan struktur, dan yang relatif lebih penting berdasarkan perbedaan fungsi. Duodenum panjangnya sekitar 25 cm, mulai dari pilorus sampai kepada jejenum. Pemisahan duodenum dan jejenum ditandai oleh ligamentum treitz, suatu pita muskulofibrosa yang berorigo pada krus dekstra diafragma dekat hiatus esofagus dan berinsersio pada perbatasan duodenum dan jejenum. Ligamentum ini berperan sebagai ligamentum suspensorium (penggantung). Kira-kira duaperlima dari sisa usus halus adalah jejenum, dan tiga perlima terminalnya adalah
2

ileum. Jejenum terletak di regio abdominalis media sebelah kiri, sedangkan ileum cenderung terletak di region abdominalis bawah kanan. Jejunum mulai pada juncture denojejunalis dan ileum berakhir pada junctura ileocaecalis.2,3 Lekukan-lekukan jejenum dan ileum melekat pada dinding posterior abdomen dengan perantaraan lipatan peritoneum yang berbentuk kipas yang dikenal sebagai messenterium usus halus. Pangkal lipatan yang pendek melanjutkan diri sebagai peritoneum parietal pada dinding posterior abdomen sepanjang garis berjalan ke bawah dan ke kanan dari kiri vertebra lumbalis kedua ke daerah articulatio sacroiliaca kanan. Akar mesenterium memungkinkan keluar dan masuknya cabang-cabang arteri vena mesenterica superior antara kedua lapisan peritoneum yang membentuk messenterium.2,4 Usus besar merupakan tabung muskular berongga dengan panjang sekitar 5 kaki (sekitar 1,5 m) yang terbentang dari sekum sampai kanalis ani. Diameter usus besar sudah pasti lebih besar daripada usus kecil. Rata-rata sekitar 2,5 inci (sekitar 6,5 cm), tetapi makin dekat anus semakin kecil. 3,4

Gambar 1. Sistem saluran pencernaan manusia.5 Usus besar dibagi menjadi sekum, kolon dan rektum. Pada sekum terdapat katup ileocaecaal dan apendiks yang melekat pada ujung sekum. Sekum menempati dekitar dua atau tiga inci pertama dari usus besar. Katup ileocaecaal mengontrol aliran kimus dari ileum ke sekum. Kolon dibagi lagi menjadi kolon asendens, transversum, desendens dan sigmoid. Kolon ascendens berjalan ke atas dari sekum ke permukaan
3

inferior lobus kanan hati, menduduki regio iliaca dan lumbalis kanan. Setelah mencapai hati, kolon ascendens membelok ke kiri membentuk fleksura koli dekstra (fleksura hepatik). Kolon transversum menyilang abdomen pada regio umbilikalis dari fleksura koli dekstra sampai fleksura koli sinistra. Kolon transversum, waktu mencapai daerah limpa, membengkok ke bawah, membentuk fleksura kolisinistra (fleksura lienalis) untuk kemudian menjadi kolon descendens. Kolon sigmoid mulai pada pintu atas panggul. Kolon sigmoid merupakan lanjutan kolon descendens. Ia tergantung kebawah dalam rongga pelvis dalam bentuk lengkungan. Kolon sigmoid bersatu dengan rektum di depan sakrum. Rektum menduduki bagian posterior rongga pelvis. Rektum ke atas dilanjutkan oleh kolon sigmoid dan berjalan turun di depan sekum, meninggalkan pelvis dengan menembus dasar pelvis. Disisni rektum melanjutkan diri sebagai anus dalam perineum.2,3,4 2.3 Fisiologi Usus Usus halus mempunyai dua fungsi utama : pencernaan dan absorpsi bahan- bahan nutrisi dan air. Proses pencernaan dimulai dalam mulut dan lambung oleh kerja ptialin, asam klorida, dan pepsin terhadap makanan masuk. Proses dilanjutkan di dalam duodenum terutama oleh kerja enzim-enzim pankreas yang menghidrolisis karbohidrat, lemak, dan protein menjad izat-zat yang lebih sederhana. Adanya bikarbonat dalam sekret pankreas membantu menetralkan asam dan memberikan pH optimal untuk kerja enzim-enzim. Sekresi empedu dari hati membantu proses pencernaan dengan mengemulsikan lemak sehingga memberikan permukaan lebih luas bagi kerja lipase pankreas. Proses pencernaan disempurnakan oleh sejumlah enzim dalam getah usus (sukus enterikus). Banyak di antara enzim-enzim ini terdapat pada brush border vili dan mencernakan zat-zat makanan sambil diabsorpsi. Isi usus digerakkan oleh peristalsis yang terdiri atas dua jenis gerakan, yaitu segmental dan peristaltik yang diatur oleh sistem saraf autonom dan hormon. Pergerakan segmental usus halus mencampur zat-zat yang dimakan dengan sekret pankreas, hepatobiliar, dan sekresi usus,dan pergerakan peristaltik mendorong isi dari salah satu ujung ke ujung lain dengan kecepatan yang sesuai untuk absorpsi optimal dan suplai kontinu isi lambung.2 Usus besar mempunyai berbagai fungsi yang semuanya berkaitan dengan proses akhir isi usus. Fungsi usus besar yang paling penting adalah mengabsorpsi air dan elektrolit, yang sudah hampir lengkap pada kolon bagian kanan. Kolon sigmoid
4

berfungsi sebagai reservoir yang menampung massa feses yang sudah dehidrasi sampai defekasi berlangsung.2,5 Kolon mengabsorpsi air, natrium, khlorida, dan asam lemak rantai pendek serta mengeluarkan kalium dan bikarbonat. Hal tersebut membantu menjaga keseimbangan air dan elektrolit dan mencegah dehidrasi. Menerima 900-1500 ml/hari, semua, kecuali 100-200 ml diabsorpsi, paling banyak di proksimal. Kapasitas sekitar 5 l/hari.2 Gerakan retrograd dari kolon memper lambat transit materi dari kolon kanan, meningkatkan absorpsi. Kontraksi segmental merupakan pola yang paling umum, mengisolasi segmen pendek dari kolon, kontraksi ini menurun oleh antikolinergik, meningkat oleh makanan, kolinergik. Gerakan massa merupakan pola yang kurang umum, pendorong antegrad melibatkan segmen panjang 0,5-1,0 cm/detik, 20-30 detik panjang, tekanan 100-200 mmHg, tiga sampai empat.2,3 2.4 Epidemiologi Hernia strangulata adalah salah satu keadaan darurat yang sering dijumpai oleh dokter bedah dan merupakan penyebab obstruksi usus terbanyak. Sekitar 44% dari obstruksi mekanik usus disebabkan oleh hernia eksterna yang mengalami strangulasi. Penyebab tersering obstruksi usus di Indonesia, adalah hernia, baik sebagai penyebab obstruksi sederhana (51%) maupun obstruksi usus strangulasi (63%).3,4 Adhesi pasca operasi timbul setelah terjadi cedera pada permukaan jaringan, sebagai akibat insisi, kauterisasi, jahitan atau mekanisme trauma lainnya. Dari laporan terakhir pasien yang telah menjalani sedikitnya sekali operasi intra abdomen, akan berkembang adhesi satu hingga lebih dari sepuluh kali. Obstruksi usus merupakan salah satu konsekuensi klinik yang penting. Di negara maju, adhesi intraabdomen merupakan penyebab terbanyak terjadinya obstruksi usus. Pada pasien digestif yang memerlukan tindakan reoperasi, 30-41% disebabkan obstruksi usus akibat adhesi. Untuk obstruksi usus halus, proporsi ini meningkat hingga 65-75%.3.4

2.5 Etiologi Penyebab terjadinya ileus obstruksi pada usus halus antara lain3,4,5 : 1) Hernia inkarserata
5

Usus masuk dan ter jepit di dalam pintu hernia. Pada anak dapat dikelola secara konservatif dengan posisi tidur Trendelenburg. Namun, jika percobaan reduksi gaya berat ini tidak berhasil dalam waktu 8 jam, harus diadakan herniotomi segera. 2) Non hernia inkarserata, antara lain : a. Adhesi atau perlekatan usus Di mana pita fibrosis dari jaringan ikat menjepit usus. Dapat berupa perlengketanmungkin dalam bentuk tunggal maupun multiple, bisa setempat atau luas. Umunya berasal dari rangsangan peritoneum akibat peritonitis setempat atau umum. Ileus karena adhesi biasanya tidak disertai strangulasi. b. Invaginasi Disebut juga intususepsi, sering ditemukan pada anak dan agak jarang pada orang muda dan dewasa. Invaginasi pada anak sering bersifat idiopatik karena tidak diketahui penyebabnya. Invaginasi umumnya berupa intususepsi ileosekal yang masuk naik kekolon ascendens dan mungkin terus sampai keluar dari rektum. Hal ini dapat mengakibatkan nekrosis iskemik pada bagian usus yang masuk dengan komplikasi perforasi dan peritonitis. Diagnosis invaginasi dapat diduga atas pemeriksaan fisik, dan dipastikan dengan pemeriksaan Rontgen dengan pemberian enema barium. c. Askariasis Cacing askaris hidup di usus halus bagian yeyunum, biasanya jumlahnya puluhan hingga ratusan ekor. Obstruksi bisa terjadi di mana-mana di usus halus, tetapi biasanya di ileum terminal yang merupakan tempat lumen paling sempit. Obstruksi umumnya disebabkan oleh suatu gumpalan padat terdiri atas sisa makanan dan puluhan ekor cacing yang mati atau hampir mati akibat pemberian obat cacing. Segmen usus yang penuh dengan cacing berisiko tinggi untuk mengalami volvulus, strangulasi, dan perforasi d. Volvulus Merupakan suatu keadaan di mana terjadi pemuntiran usus yang abnormal dari segmen usus sepanjang aksis longitudinal usus sendiri, maupun pemuntiran terhadap aksis radiimesenterii sehingga pasase makanan terganggu. Pada usus halus agak jarang ditemukan kasusnya. Kebanyakan volvulus didapat di bagian ileum dan mudah mengalami strangulasi.
6

Gambaran klinisnya berupa gambaran ileus obstruksi tinggi dengan atau tanpa gejala dan tanda strangulasi. e. Tumor Tumor usus halus agak jarang menyebabkan obstruksi usus, kecuali jika ia menimbulkan invaginasi. Proses keganasan, terutama karsinoma ovarium dan karsinoma kolon, dapat menyebabkan obstruksi usus. Hal ini terutama disebabkan oleh kumpulan metastasis di peritoneum atau di mesenterium yang menekan usus. f. Batu empedu yang masuk ke ileus. Inflamasi yang berat dari kantong empedu menyebabkan fistul dari saluran empedu keduodenum atau usus halus yang menyeb abkan batu empedu masuk ke traktus gastrointestinal. Batu empedu yang besar dapat terjepit di usus halus, umumnya pada bagian ileum terminal atau katup ileocaecal yang menyebabkan obstruksi. Penyebab obstruksi kolon yang paling sering ialah karsinoma, terutama pada daerahrektosigmoid dan kolon kiri distal. Obstruksi Usus 2.6 Patogenesis Obstruksi ileus merupakan penyumbatan intestinal mekanik yang terjadi karena adanya Akumulasi gas dan cairan intralumen di daya mekanik yang bekerja atau mempengaruhi dinding usus sehingga menyebabkan sebelah proximal dari letak obstruksi penyempitan/penyumbatan lumen usus. Hal tersebut menyebabkan pasase lumen usus terganggu. Akibat gangguan pasase tersebut terjadi pengumpulan isi lumen usus Kehilangan H2O dan yang Distensi Elektrolit berupa gas dan cairan pada bagian proximal tempat penyumbatan. Hal ini menyebabkan pelebaran dinding usus (distensi) di bagian proximal dari sumbatan. Sumbatan usus dan distensi usus menyebabkan kelenjar ECF pencernaan. Proliferasi Bakteri yang rangsangan terjadinya hipersekresiVolume berlangsung Dengan demikian cepat akumulasi cairan dan gas makin bertambah yang menyebabkan distensi usus tidak hanya pada tempat sumbatan tetapi juga dapat mengenai seluruh usus Tekanan Intralumen di bagian proximal sumbatan. Sumbatan ini menyebabkan gerakan usus yang meningkat dipertahankan (hiperperistaltik) sebagai usaha alamiah. Sebaliknya juga terjadi gerakan antiperistaltik. Hal ini menyebabkan terjadi serangan kolik abdomen dan muntah-muntah. Pada Iskemia dinding usus obstruksi usus yang lanjut, peristaltik sudah hilang oleh karena dinding usus kehilangan daya kontraksinya.6,7 Kehilangan cairan menuju ruang peritoneum Pelepasan bakteri dan toksin dari usus yang nekrotik ke dalam peritoneum dan sirkulasi sistemik Peritonitis Septikemia Syok Hipovolemik

Bagan 1. Patofisiologi Obstruksi Usus.6

2.7 Klasifikasi Berdasarkan lokasi obstruksinya, ileus obstrukif atau ileus mekanik dibedakan menjadi,antara lain3,4,5 : 1) Ileus obstruktif letak tinggi : obstruksi mengenai usus halus (dari gaster sampai ileum terminal). 2) Ileus obstruktif letak rendah : obstruksi mengenai usus besar (dari ileum terminal sampai rektum). Selain itu, ileus obstruktif dapat dibedakan menjadi 3 berdasarkan stadiumnya, antara lain : 1) Obstruksi sebagian (partial obstruction): obstruksi terjadi sebagian sehingga makanan masih bisa sedikit lewat, dapat flatus dan defekasi sedikit.
8

2) Obst ruksi sederhana (simple obstruction): obstruksi/sumbatan yang tidak disertai terjepitnya pembuluh darah (tidak disertai gangguan aliran darah). 3) Obstruksi strangulasi (strangulated obstruction): obstruksi disertai dengan terjepitnya pembuluh darah sehingga terjadi iskemia yang akan berakhir dengan nekrosis atau gangren. 2.8 Gambaran Klinik 1) Obstruksi sederhana Obstruksi usus halus merupakan obstruksi saluran cerna tinggi, artinya disertai dengan pengeluaran banyak cairan dan elektrolit baik di dalam lumen usus bagian oral dari obstruksi,maupun oleh muntah. Gejala penyumbatan usus meliputi nyeri kram pada perut, disertai kembung. Pada obstruksi usus halus proksimal akan timbul gejala muntah yang banyak, yang jarang menjadi muntah fekal walaupun obstruksi berlangsung lama. Nyeri bisa berat dan menetap. Nyeri abdomen sering dirasakan sebagai perasaan tidak enak di perut bagian atas. Semakin distal sumbatan, maka muntah yang dihasilkan semakin fekulen.5,6 Tanda vital normal pada tahap awal, namun akan berlanjut dengan dehidrasi akibat kehilangan cairan dan elektrolit. Suhu tubuh bisa normal sampai demam. Distensi abdomendapat dapat minimal atau tidak ada pada obstruksi proksimal dan semakin jelas pada sumbatan di daerah distal. Bising usus yang meningkat dan metallic sound dapat didengar sesuai dengan timbulnya nyeri pada obstruksi di daerah distal.5,6 2) Obstruksi disertai proses strangulasi Gejalanya seperti obstruksi sederhana tetapi lebih nyata dan disertai dengan nyeri hebat. Hal yang perlu diperhatikan adalah adanya skar bekas operasi atau hernia. Bila dijumpai tanda-tanda strangulasi berupa nyeri iskemik dimana nyeri yang sangat hebat, menetap dan tidak menyurut, maka dilakukan tindakan operasi segera untuk mencegah terjadinya nekrosis usus.5,6 3) Obstruksi mekanis di kolon Obstruksi mekanis di kolon timbul perlahan-lahan dengan nyeri akibat sumbatan biasanya terasa di epigastrium. Nyeri yang hebat dan terus menerus menunjukkan adanya iskemia atau peritonitis. Borborygmus dapat keras dan timbul sesuai dengan nyeri. Konstipasi atau obstipasi adalah gambaran umum obstruksi komplit. Muntah lebih sering terjadi pada penyumbatan usus besar.
9

Muntah timbul kemudian dan tidak terjadi bila katup ileosekal mampu mencegah refluks. Bila akibat refluks isi kolon terdorong ke dalam usus halus, akan tampak gangguan pada usus halus. Muntah feka lakan terjadi kemudian. Pada keadaan valvula Bauchini yang paten, terjadi distensi hebat dan sering mengakibatkan perforasi sekum karena tekanannya paling tinggi dan dindingnya yang lebih tipis. Pada pemeriksaan fisis akan menunjukkan distensi abdomen dan timpani, gerakan usus akan tampak pada pasien yang kurus, dan akan terdengar metallic sound pada auskultasi. Nyeri yang terlokasi, dan terabanya massa menunjukkan adanya strangulasi.5,6,7

Gambar 1. Distensi abdomen pada pasien dengan Ileus Obstruksi.7

2.9 Diagnosis 2.9.1 Anamnesis Gejala utama dari ileus obstruksi antara lain nyeri kolik abdomen, mual, muntah, perut distensi dan tidak bisa buang airbesar (obstipasi). Mual muntah umumnya terjadi pada obstruksi letak tinggi. Bila lokasi obstruksi di bagian distal makagejala yang dominan adalah nyeri abdomen. Distensi abdomen terjadi bila obstruksi terus berlanjut dan bagian proksimalusus menjadi sangat dilatasi.5,7 Obstruksi pada usus halus menimbulkan gejala seperti nyeri perut sekitar umbilikus atau bagian epigastrium. Pasien dengan obstruksi partial bisa mengalami diare. Kadang-kadang dilatasi dari usus dapat diraba. Obstruksi pada kolon biasanya mempunyai gejala klinis yang lebih ringan dibanding obstruksi pada usus halus. Umumnya gejala berupa konstipasi yang berakhir pada obstipasi dan distensi abdomen. Muntah jarang terjadi. Pada obstruksi bagian proksimal usus halus biasanya muncul
10

gejala muntah. Nyeri perut bervariasi dan bersifat intermittent atau kolik dengan pola naik turun. Jika obstruksi terletak di bagian tengah atau letak tinggi dari usus halus (jejenum dan ileum bagian proksimal ) maka nyeri bersifat konstan/menetap. Pada tahap awal, tanda vital normal. Seiring dengan kehilangan cairan dan elektrolit,maka akan terjadi dehidrasi dengan manifestasi klinis takikardi dan hipotensi postural. Suhu tubuh biasanya normal tetapi kadang-kadang dapat meningkat. 2.9.2 Pemeriksaan fisik

Dari pemeriksaan fisik didapatkan adanya demam, takikardi, hipotensi dan gejala dehidrasi yang berat. Demam menunjukkan adanya obstruksi strangulate. Pada pemeriksaan abdomen didapatkan abdomen tampak distensi, terdapat darm contour (gambaran usus), dan darm steifung (gambaran gerakan usus), pada auskultasi terdapat hiperperistaltik berlanjut dengan Borborygmus (bunyi usus mengaum) menjadi bunyi metalik (klinken) / metallic sound . Pada tahap lanjut dimana obstruksi terus berlanjut, peristaltik akan melemah dan hilang. Pada ileus paralitik, keadaan umum pasien tampak lemah hingga dehidrasi, tidak dapat flatus maupun defekasi. Dapat disertai muntah dan perut terasa kembung. Pada pemeriksaan abdomen didapatkan meteorismus, suara usus (-), peristaltik menghilang. Pada palpasi tidak terdapat nyeri tekan, defans muscular (-), kecuali jika ada peritonitis. Perkusi timpani diseluruh lapang abdomen. 2.9.3 Pemeriksaan Penunjang Tes laboratorium mempunyai keterbatasan nilai dalam menegakkan diagnosis, tetapi sangat membantu memberikan penilaian berat ringannya dan membantu dalam resusitasi. Pada tahap awal, ditemukan hasil laboratorium yang normal. Selanjutnya ditemukan adanya hemokonsentrasi, leukositosis dan nilai elektrolit yang abnormal. Peningkatan serum amilase sering didapatkan. Leukositosis menunjukkan adanya iskemik atau strangulasi, tetapi hanya terjadi pada 38%50% obstruksi strangulasi (dibandingkan 27%-44% pada obstruksi non strangulata). Hematokrit yang meningkat dapat timbul pada dehidrasi. Selain itu dapat ditemukan adanya gangguan elektrolit. Analisa gas darah mungkin terganggu, dengan alkalosis metabolik bila muntah berat, dan metabolik asidosis bila ada tanda-tanda shock, dehidrasi dan ketosis.6,7
11

1) Laboratorium

2) Radiologi Pada foto polos pasien dengan obstruksi yang komplit akan tampak terjadi dilatasi dari usus bagian proksimal sampai ke tempat obstruksi dalam 35 jam Usus yang diameternya lebih dari 3 cm sering dikaitkan dengan obstruksi. Usus bagian proksimal yang terdistensi oleh gas dan cairan, akan tampak berdilatasi oleh timbunan udara intraluminer. Sebaliknya, pada usus bagian distal dari obstruksi tidak tampak bayangan gas, atau bila sumbatannya terjadi belum lama maka tampak bayangan gas yang sangat sedikit di bagian distal obstruksi. Pada daerah rektum tidak tampak bayangan gas atau udara.7 Pada foto posisi tegak akan tampak bayangan air fluid level yang banyak dibeberapa tempat (multiple fluid levels) yang tampak terdistribusi dalam susunan tangga (step ladder appearance), sedangkan usus sebelah distal dari obstruksi akan tampak kosong. Jumlah loop dari usus halus yang berdilatasi secara umum menunjukkan tingkat obstruksi. Bila jumlah loop sedikit berarti obstruksi usus halus letaknya tinggi, sedangkan bila jumlah loop lebih banyak maka obstruksi usus halus letaknya rendah. Semakin distal letak obstruksi, jumlah air fluid level akan semakin banyak, dengan tinggi yang berbeda-beda sehingga berbentuk step ladder appearane.7 Jarak valvula conniventes satu sama lain yang normal adalah 14 mm. Jarak ini akan melebar pada keadaan distensi usus halus. Akibat distensi usus halus, maka valvula conniventes agak teregang dan bersama-sama dengan valvula conniventes dari loop yang bertetangga, akan tampak di foto sebagai gambaran sirip ikan yang disebut herringbone appearance. Bayangan udara di dalam kolon biasanya terletak lebih ke perifer dan biasanya berbentuk huruf U terbalik. Obstruksi kolon ditandai dengan dilatasi proksimal kolon sampai ke tempat obstruksi, dengan dekompresi dari kolon bagian distal. Kolon bagian proksimal sampai letak obstruksi akan lebih banyak berisi cairan daripada feses. Usus halus bagian proksimal mungkin berdilatasi, mungkin juga tidak.

12

Gambar 2. Gambaran radiografi ileus obstruksi.7 Untuk mengetahui ada tidaknya strangulasi usus, beberapa gambaran klinik dapat membantu yaitu rasa nyeri abdomen yang hebat, bersifat menetap, makin lama makin hebat, pada pemeriksaan abdomen didapatkan ascites, terdapatnya abdominal tenderness, adanya tanda-tanda yang bersifat umum, demam, dehidrasi berat, takikardia, hipotensi atau shock.8 Namun dari semua gejala klinik di atas, kita mempunyai pedoman Essential of Diagnosis yaitu: 1. Complete Proximal Obstruction: Vomiting Abdominal discomfort Abnormal oral contrast x-rays

2. Complete Mid or Distal Obstruction: Nyeri kolik abdomen Vomiting Abdominal distention Constipation-obstipation
13

Peristaltic rushes Usus yang berdilatasi pada pemeriksaan rontgen.4,5

2.10 Diagnosis Banding Ileus obstruktif dapat dikacaukan dengan gangguan saluran cerna lain dengan gambaran klinis yang serupa seperti pseudo-obstruksi (Sindroma Ogilvie) dan ileus paralitik. Pada ileus paralitik nyeri yang timbul lebih ringan tetapi konstan dan difus, dan terjadi distensi abdomen. Ileus paralitik, bising usus tidak terdengar dan tidak terjadi ketegangan dinding perut. Bila ileus disebabkan oleh proses inflamasi akut, akan ada tanda dan gejala dari penyebab primer tersebut. Gastroenteritis akut, apendisitis akut, dan pankreatitis akut juga dapat menyerupai obstruksi usus sederhana.7,8 Tabel 1. Diagnosis Banding Ileus Obstruksi.8 Obstruksi Mekanis Sederhana (Ileus Obstruktif) Nyeri keram abdominal, konstipasi, obstipasi, mual, muntah, dan anoreksia Borborygmi, bunyi peristaltic meningkat dengan bising usus nada tinggi, distensi, nyeri terlokalisir Ileus Paralitik Nyeri abdominal ringan, perut kembung, mual, muntah, obstipasi, dan konstipasi Bising usus senyap, distensi, dan timpani Pseudo-obstruksi Nyeri keram abdominal, konstipasi, obstipasi, mual, muntah, dan anoreksia

Keluhan

Hasil Pemeriksaan Fisik

Borborygmi, timpani, terdapat gelombang peristaltik dengan bising usus hipo atau hiperaktif, distensi dan nyeri terlokalisir

Lanjutan Tabel 1. Diagnosis Banding Ileus Obstruksi.8 Obstruksi Mekanis Sederhana (Ileus Obstruktif) Bow-shaped loops in ladder patern, terdapat gambaran gas kolon yang terperangkap di bagian distal dari lesi Ileus Paralitik Dilatasi usus kecil dan usus besar dengan peningkatan diafragma Pseudo-obstruksi Dilatasi usus besar terisolasi dengan peningkatan diafragma

Gambaran Foto Polos BOF

14

2.11 Penatalaksanaan Dasar pengobatan ileus obstruksi adalah koreksi keseimbangan elektrolit dan cairan, menghilangkan peregangan dan muntah dengan dekompresi, mengatasi peritonitis dan syok bila ada, dan menghilangkan obstruksi untuk memperbaiki kelangsungan dan fungsi usus kembali normal.7,9 1) Resusitasi Beberapa tindakan yang dilakukan pada pasien dengan ileus obstruksi adalah: Dekompressi usus dengan suction, menggunakan NGT yang dimasukkan dalam perut atau usus Pemasangan kateter untuk mengukur urine output Koreksi elektrolit dan keseimbangan asam basa Atasi dehidrasi Dalam resusitasi yang perlu diperhatikan adalah mengawasi tanda-tanda vital, dehidrasi dan syok. Pasien yang mengalami ileus obstruksi mengalami dehidrasi dan gangguan keseimbangan ektrolit sehingga perlu diberikan cairan intravena seperti ringer laktat. Respon terhadap terapi dapat dilihat dengan memonitor tanda tanda vital dan jumlah urin yang keluar. Selain pemberian cairan intravena, diperlukan juga pemasangan nasogastric tube (NGT). NGT digunakan untuk mengosongkan lambung, mencegah aspirasi pulmonum bila muntah dan mengurangi distensi abdomen. 2) Farmakologis Pemberian obat - obat antibiotik spektrum luas dapat diberikan sebagai profilaksis. Antiemetik dapat diberikan untuk mengurangi gejala mual muntah. 3) Operatif Tindakan operatif untuk membebaskan obstruksi dibutuhkan bila dekompresi dengan NGT tidak memberikan perbaikan atau diduga adanya kematian jaringan. Pada umumnya dikenal 4 macam (cara) tindakan bedah yang dikerjakan pada obstruksi ileus: 1. Koreksi sederhana (simple correction). Hal ini merupakan tindakan bedah sederhana untuk membebaskan usus dari jepitan, misalnya pada hernia incarcerata non-strangulasi, jepitan oleh streng/adhesi atau pada volvulus ringan.

15

2. Tindakan operatif by-pass. Membuat saluran usus baru yang "melewati" bagian usus yang tersumbat, misalnya pada tumor intralurninal, Crohn disease, dan sebagainya. 3. Membuat fistula entero-cutaneus pada bagian proximal dari tempat obstruksi, misalnya pada Ca stadium lanjut. 4. Melakukan reseksi usus yang tersumbat dan membuat anastomosis ujung-ujung usus untuk mempertahankan kontinuitas lumen usus, misalnya pada carcinomacolon, invaginasi, strangulata, dan sebagainya. Pada beberapa obstruksi ileus, kadang-kadang dilakukan tindakan operatif bertahap, baik oleh karena penyakitnya sendiri maupun karena keadaan penderitanya, misalnya pada Ca sigmoid obstruktif, mula-mula dilakukan kolostomi saja, kemudian hari dilakukan reseksi usus dan anastomosis. 4) Pasca Bedah Pengobatan pasca bedah sangat penting terutama dalam hal cairan dan elektrolit.Kita harus mencegah terjadinya gagal ginjal dan harus memberikan kalori yang cukup.Perlu diingat bahwa pasca bedah usus pasien masih dalam keadaan paralitik. 7,8 2.12 Komplikasi Komplikasi dari ileus antara lain terjadinya:9,10 Nekrosis usus, perforasi usus, Sepsis, Syok-dehidrasi, Abses Sindrom usus pendek dengan malabsorpsi dan malnutrisi, Pneumonia aspirasi dari proses muntah, Gangguan elektrolit, Meninggal

Pada obstruksi kolon dapat terjadi dilatasi progresif pada sekum yang berakhir dengan perforasi sekum sehingga terjadi pencemaran rongga perut dengan akibat peritonitis umum.7,8 2.13 Prognosis
16

Mortalitas obstruksi tanpa strangulata adalah 5% sampai 8% asalkan operasi dapat segera dilakukan. Keterlambatan dalam melakukan pembedahan atau jika terjadi strangulasi atau komplikasi lainnya akan meningkatkan mortalitas sampai sekitar 35% atau 40%.3 Prognosisnya baik bila diagnosis dan tindakan dilakukan dengan cepat.7

17

BAB III LAPORAN KASUS 3. 1. Identitas Pasien Nama Jenis kelamin Usia Alamat Suku Agama Pendidikan terakhir Pekerjaan Status Perkawinan : AM : Laki-laki : 45 tahun : Br Muncan, Kapal / Ds. Wonorejo, Kec Kecong, Kab Jember : Jawa : Islam : SD : Buruh : Sudah Menikah

Tanggal Pemeriksaan : 17 Juni 2013 3. 2. Anamnesis Keluhan Utama: Nyeri perut Perjalanan Penyakit Sekarang: Pasien rujukan dari RSUD dengan keluhan nyeri perut dan perut kembung sejak 3 hari sebelum MRS. Nyeri dikatakan seperti ditusuk-tusuk dan dirasakan terus menerus sepanjang hari. Awalnya pasien sedang mengangkat barang kemudian tiba-tiba dirasakan nyeri pada perut. Penderita juga mengeluhkan kalau perutnya semakin membesar sejak 1 minggu terakhir ini serta merasakan nyeri seperti melilit pada perutnya. Penderita susah kentut dan tidak buang air besar sejak 3 hari yang lalu. Buang air kecil dikatakan seperti biasa. Pasien juga mengeluh mual dan muntah. Muntah dikatakan lebih dari 5 kali dalam sehari berisi cairan dan tidak disertai darah. Makan dan minum dikatakan sedikit-sedikit. Demam disangkal oleh pasien. Adanya benjolan di paha atau bawah perut juga disangkal oleh pasien.

Riwayat Pengobatan:
18

Sebelumnya penderita dirawat di RSUD dan mendapat pengobatan untuk mengurangi mual dan muntah, yaitu injeksi pantoprazole dan ondancentron. Riwayat Penyakit Dahulu: Riwayat penyakit sebelumnya seperti tekanan darah tinggi, kencing manis, asma, penyakit jantung, dan gangguan fungsi hati disangkal. Riwayat operasi pada bagian perut juga disangkal oleh pasien. Riwayat Keluarga: Tidak ada anggota keluarga yang pernah mengalami hal serupa seperti keluhan pasien. Riwayat penyakit sistemik lainnya dalam keluarga juga disangkal. Riwayat Sosial : Riwayat merokok dan minum alkohol disangkal. 3. 3. Pemeriksaan Fisik Status Present T N R tax : 120/80 mmHg : 94 kali/menit : 20 kali/menit : 36,2 oC

Sat O2 : 99% Status General Kepala Mata THT Thorax Abdomen Ekstremitas Status lokalis :
19

: Normocephali : Anemia -/-, Ikterus -/: Kesan tenang : Cor : S1S2 Tgl Reg Murmur Pulmo : Ves +/+, Whezing -/-, rhonki -/: Ditensi (+), Darm contour (+), Bising usus (+), Metalik sound (+) : Hangat + + + + , edema -

Regio Abdomen : Inspeksi

: Ditensi (+), Dam contour (+), Darm Steifung (-), jejas (-)

Auskultas : Bising usus (+) meningkat, metalic sound (+) Palpasi : Defans muskular (+), nyeri tekan (+) di seluruh region abdomen, finger test tidak teraba masa, hepar dan lien tidak teraba, ginjal tidak teraba. Perkusi 3.4. Pemeriksaan Penunjang 1) Laboratorium Darah lengkap (16/6/2013) Parameter WBC RBC HGB HCT PLT Nilai 23,3 5,24 16,7 47,6 150 Unit 103/L 103/L g/dl % 103/L Remarks High Normal Normal Normal Normal Normal 4,8-10,8 4,7 6,1 14 18 42 52 150 - 450 : Timpani (+) di seluruh kuadran abdomen

Kimia darah (16/6/2013) Parameter SGOT SGPT Creatinin Urea UV Glucose Nilai 17 11 2,02* 80* 110 Unit u/l u/l mg/dl mg/dl mg/dl Remarks Normal Normal High High Normal Normal 0 37 0 40 0,6 1,36 15 45 70 120

Elektrolit (16/6/2013) Parameter Natrium Kalium Chlorida Nilai 127* 4,4 95 Unit Mmol/L Mmol/L Mmol/L Remarks Low Normal Normal Normal 135 155 3,6 5,5 95 108

2) Foto polos abdomen (16-06-2013)

20

3. 4.

Diagnosis Diagnosis Utama : ILEUS OBSTRUKSI Diagnosis Banding : Ileus Paralitik

3. 5.

Penatalaksanaan 3.5.1 Non Farmakologi Pasien dipuasakan Dekompresi usus dengan memasang nasogastric tube (NGT) Pasang kateter urin untuk menghitung balance cairan

3.5.2 Farmakologi IVFD RL 28 tpm Antibiotik profilaksis : Cefotaxim 2 gram IV


21

3.5.3 Operatif

Laparotomi

Follow up Pasien di Ruangan Tgl 170613 S Nyeri perut (+), BAB (-), flatus (-), mual (+), muntah (+) O St present TD : 120/70 N : 78 x/mnt RR : 20 x/mnt Tax : 36,8C St general: Abdomen Distensi (+), BU (-), Nyeri tekan (+), defans muskular (+) St present TD : 130/80 N : 80 x/mnt RR : 20 x/mnt Tax : 36,5C Sat : 98% St general: Abdomen: Distensi (-), BU (-), Luka operasi terawat CM: 750 cc CK : 800 cc 180612 Flatus (-), BAB (-), mual (-), muntah (-) St present TD : 135/90 N : 77 x/mnt RR : 20 x/mnt Tax : 36C St general: Abdomen: Distensi (-), BU (-), Luka operasi terawat Post Laparotomi ec Perforasi ileus Hari I Tx: - D5% + analgetik 20 tpm - Asering balance Kaen Mg3 28 tpm - Cefotaxim 3 x 1 gram IV - Omeprazol 2 x 20mg - Metronidazol 3 x 1 fls - Rawat ruangan
22

A Peritonitis Generalisat a ec susp perforasi ileus

P Tx: - Infus RL Loading 500 cc selanjutnya RL 30 tpm - Cefotaxim 2 gram IV - Pre op

1706201 3

Nyeri luka operasi (+), BAB (-), flatus 17.0 (-), mual 0 (+), WIT muntah A (-)

Post Laparotomi ec Perforasi ileus

Tx: - Infus RL 28 tpm - Cefotaxim 3 x 1 gram IV - Omeprazol 2 x 20mg - Rawat Intensif Mx: Balance cairan, keluhan, tanda vital

- Cek PA Mx: - Balance cairan, keluhan, tanda vital - Mobilisasi miring kanan/kiri - Pertahankan NGT alirkan setiap 3 jam - Diet MSS 1906201 3 Nyeri (+), Flatus (+), BAB (-), mual (-), muntah (-) St present TD : 130/90 N : 78 x/mnt RR : 20 x/mnt Tax : 37,3C St general: Abdomen: Distensi (-), BU (+), Luka operasi terawat Cm : 900 cc Ck : 1200 cc Post Laparotomi ec Perforasi ileus Hari II Tx: - D5% + analgetik 20 tpm - Asering balance Kaen Mg3 28 tpm - Cefotaxim 3 x 1 gram IV - Omeprazol 2 x 20mg - Metronidazol 3 x 1 fls Mx: - Balance cairan, keluhan, tanda vital - Mobilisasi miring kanan/kiri 2006201 3 Nyeri perut (+) , Flatus (+), BAB (-), mual (-), muntah (-) St present TD : 130/80 N : 80 x/mnt RR : 20 x/mnt Tax : 36C St general: Abdomen: Distensi (-), BU (+)N, Luka operasi terawat, drain (+) jernih Post Laparotomi ec Perforasi ileus Hari III Tx: - Sucralfat 3 x CI - Cefotaxime 3 x 1 gram IV - Metronidazol 3 x1 - Omeprazol 2 x 20mg - Analgetik drip - Asering stop Kaen MG 3 28 tpm + D5% analgetik 20
23

Cm : 750 cc Ck : 1300 cc

tpm Mx: - Balance cairan, keluhan, tanda vital - Mobilisasi miring kanan/kiri

2106201 3

Nyeri perut (+) , Flatus (+), BAB (+) lembek, mual (-), muntah (-)

St present TD : 130/90 N : 80 x/mnt RR : 20 x/mnt Tax : 36C St general: Abdomen: Distensi (-), BU (+)N, Luka operasi terawat, drain (+)jernih Cm : 1500 cc Ck : 2500 cc DL WBC: 16,5 HGB : 13,7 HCT : 36,8 PLT : 226 Kimia darah Albumin: 2,7*

Post Laparotomi ec Perforasi ileus Hari IV

Tx: - Sucralfat 3 x CI - Cefotaxime 3 x 1 gr - Metronidazol 3 x1 - Omeprazol 2 x 20mg - Analgetik drip - Asering stop Kaen MG 3 + D5% analgetik Mx: - Balance cairan, keluhan, tanda vital - Mobilisasi miring kanan/kiri - Cek DL, BS, Albumin - Mobilisasi miring kanan/kiri

2206201 3

GDS : 221 mg/dl Nyeri St present perut (+) TD : 130/100 N : 80 x/mnt , BAB (+), BAK RR : 20 x/mnt Tax : 36,5C (+), mual (-), St general: muntah Abdomen: (-) Distensi (-), BU (+)N, Luka operasi terawat, drain (+) jernih

Post Laparotomi ec Perforasi ileus Hari V

Tx: - Sucralfat 3 x CI - Cefotaxime 3 x 1 gr - Metronidazol 3 x1 - Omeprazol 2 x 20mg - Analgetik drip - Kaen MG 3 + D5% analgetik Mx:
24

Cm : 2700 cc Ck : 2150 cc

- Balance cairan, keluhan, tanda vital - Mobilisasi miring kanan/kiri - Diet bubur saring - Mobilisasi miring kanan/kiri Post Laparotomi ec Perforasi ileus Hari VI Tx: - Metronidazol stop - Aff chateter - Infus RL 28 tpm - Ketorolac tromethamine 3 x 1 amp k/p - Sucralfat 3 x CI - Cefotaxime 3 x 1 gr - Omeprazol 2 x 20mg Mx: - Balance cairan, keluhan, tanda vital - Mobilisasi miring kanan/kiri - Diet bubur saring - Mobilisasi miring kanan/kiri Tx: - Infus RL 28 tpm - Ketorolac tromethamine 3 x 1 amp k/p - Sucralfat 3 x CI - Cefotaxime 3 x 1 gram IV - Omeprazol 2 x 20mg - Rawat Luka Mx:
25

2306201 3

Nyeri perut (+) , BAB (+), BAK (+), mual (-), muntah (-), ma/mi (+), panas badan (-)

St present TD : 130/90 N : 80 x/mnt RR : 20 x/mnt Tax : 37C St general: Abdomen: Distensi (+), BU (+), Luka operasi terawat Cm : 1100 cc Ck : 2000 cc GDS : 91 mg/dL

2406201 3

Nyeri perut (+) , Flatus (+), BAB (+) konsiste nsi lunak warna kecoklat an, BAK (+) N mual (-), muntah

St present TD : 140/80 N : 72 x/mnt RR : 20 x/mnt Tax : 37C St general: Abdomen: Rembesan luka post op: warna kuning kemerahan, Distensi (+), BU

Post Laparotomi ec Perforasi ileus Hari VII

(-), ma (+) bubur saring + telor, rembesa n pada luka post op 2506201 3 Nyeri perut (+) , Flatus (+), BAB (+) N, BAK (+) N mual (-), muntah (-), ma/mi (+)

(+)N, Luka post op: jahitan terbuka, tampak jaringan (+), darah (+), pus (-) Cm : 1200 cc Ck : 600 cc St present TD : 130/80 N : 80 x/mnt RR : 20 x/mnt Tax : 37C St general: Abdomen: Distensi (+), BU (+)N, Luka operasi sekitar umbilikus terbuka tampak jaringan, darah (+), pus (-), nyeri tekan (+) Cm : 1400 cc Ck : 800 cc Post Laparotomi ec Perforasi ileus Hari VIII

- Balance cairan, keluhan, tanda vital - Mobilisasi miring kanan/kiri - Mobilisasi miring kanan/kiri Tx: - Inful RL 28 tpm - Ketorolac tromethamine 3 x 1 amp k/p - Sucralfat 3 x CI - Cefotaxime 3 x 1 gr - Omeprazol 2 x 20mg - Rawat Luka Mx: - Balance cairan, keluhan, tanda vital - Mobilisasi miring kanan/kiri Post Laparotomi ec Perforasi ileus Hari IX Tx: Aff infus Tx pulang: - Ciprofloxacin 3 x 500 mg - Paracetamol 3 x 500 mg - Antasida 3 x 1 - Rawat luka

2606201 3

Pasien PP Nyeri perut (+) , Flatus (+), BAB (+) N, BAK (+) N, mual (-), muntah (-), ma/mi (+)

St present TD : 130/90 N : 92 x/mnt RR : 20 x/mnt Tax : 36,2C St general: Abdomen: Distensi (+), BU (+)N, Luka operasi terawat, Cm : 1000 cc Ck : 900 cc

26

BAB IV PEMBAHASAN Diagnosis ileus obstruktif dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Berikut adalah perbandingan antara teori dan temuantemuan klinis yang dijumpai pada pasien yang mendukung diagnosa ileus obstruksi pada pasien serta penanganannya. Dari anamnesa diketahui bahwa pasien laki-laki usia 45 tahun dengan keluhan nyeri perut dan perut kembung yang dirasakan sejak 3 hari sebelum MRS. Nyeri dikatakan seperti ditusuk-tusuk dan dirasakan terus menerus sepanjang hari. Penderita juga mengeluhkan kalau perutnya semakin membesar sejak 1 minggu terakhir ini serta merasakan nyeri seperti melilit pada perutnya. Penderita susah kentut dan tidak buang air besar sejak 3 hari yang lalu. Pasien muntah dikatakan lebih dari 5 kali dalam sehari berisi cairan dan tidak disertai darah. Nyeri perut kolik yang muncul pada pasien ini dapat menjadi petunjuk bahwa asal kelainan adalah dari organ yang berongga atau mempunyai saluran. Kita dapat memikirkan usus dan ureter sebagai penyebab nyeri perut kolik terbanyak. Adanya keluhan tambahan muntah dan keluhan terjadinya gangguan pada pasase usus atau disebut juga ileus. Dari pemeriksaan fisik ditemukan distensi abdomen, nyeri tekan lepas, defans muskular, dan bising usus meningkat. Hal ini sesuai dengan teori dimana pada pemeriksaan fisik ileus obstruktif ditemukan distensi abdomen, suara bising usus meningkat pada auskultasi, hipertimpani pada perkusi, dan nyeri tekan lepas pada palpasi. Dari pemeriksaan penunjang, nilai laboratorium pada pasien ini menunjukkan adanya leukositosis yaitu nilai WBC 23,3 103/L (Normal: 4,8 10,8) dan hiponatremi dimana nilai natrium mengalami penurunan yaitu 127 mmol/L (Normal: 135 155), sedangkan kalium dan klorida masih dalam batas normal. Dari foto polos abdomen tampak adanya dilatasi usus. Gangguan keseimbangan elektrolit dan gambaran dilatasi usus mendukung diagnosis ileus obstuktif. Onset keluhan yang berlangsung cepat dapat dicurigai sebagai ileus letak tinggi dan onset yang lambat dapat menjurus kepada ileus letak rendah. Namun lokasi dan penyebab sumbatan, dapat diketahui secara pasti melalui laparotomi. Pada pasien ini telah terjadi komplikasi yaitu perforasi ileus sehingga terjadi pencemaran rongga perut dengan akibat peritonitis umum. Hal ini didukung dari
27

gangguan

saluran cerna yaitu berupa tidak bisa buang air besar dan buang angin mengindikasikan

pemeriksaan fisik yaitu ditemukannya nyeri tekan pada seluruh area abdomen atau defans muskular. Sumbatan yang lama pada usus atau obstruksi usus dapat menimbulkan ileus karena adanya gangguan mekanik (sumbatan) sehingga terjadi peningkatan peristaltik usus sebagai usaha untuk mengatasi hambatan. Ileus ini dapat berupa ileus sederhana yaitu obstruksi usus yang tidak disertai terjepitnya pembuluh darah dan dapat bersifat total atau parsial, pada ileus stangulasi obstruksi disertai terjepitnya pembuluh darah sehingga terjadi iskemi yang akan berakhir dengan nekrosis atau ganggren dan akhirnya terjadi perforasi usus dan karena penyebaran bakteri pada rongga abdomen sehingga dapat terjadi peritonitis. Rangsangan peritonium dapat menimbulkan nyeri tekan yang menyebar ke seluruh area abdomen (defans muscular). Selain nyeri, pasien biasanya menunjukkan gejala dan tanda lain yaitu nausea, vomitus, syok (hipovolemik, septik, dan neurogenik), demam, distensi abdominal, nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal, difus atau umum, dan secara klasik bising usus melemah atau menghilang. Diagnosis banding pada pasien ini adalah ileus paralitik. Pada ileus paralitik nyeri yang timbul lebih ringan tetapi konstan dan difus, dan terjadi distensi abdomen. Ileus paralitik, bising usus tidak terdengar dan tidak terjadi ketegangan dinding perut. Pada ileus paralitik e.c. peritonitis dapat diketahui riwayat nyeri perut kanan bawah yang menetap. Dasar pengobatan ileus obstruksi adalah koreksi keseimbangan elektrolit dan cairan, menghilangkan peregangan dan muntah dengan dekompresi, mengatasi peritonitis dan syok bila ada, dan menghilangkan obstruksi untuk memperbaiki kelangsungan dan fungsi usus kembali normal. Dalam resusitasi yang perlu diperhatikan adalah mengawasi tanda-tanda vital, dehidrasi dan syok. Pasien yang mengalami ileus obstruksi mengalami dehidrasi dan gangguan keseimbangan ektrolit sehingga perlu diberikan cairan intravena seperti ringer laktat. Terapi cairan dibutuhkan pada pasien dengan ileus obstruktif karena tubuh tidak dapat memasukkan air, elektrolit serta zat-zat makanan ke dalam tubuh secara oral. Dengan terapi cairan kebutuhan akan air dan elektrolit akan terpenuhi. Respon terhadap terapi dapat dilihat dengan memonitor tandatanda vital dan jumlah urin yang keluar. Selain pemberian cairan intravena, diperlukan juga pemasangan nasogastric tube (NGT). NGT digunakan untuk mengosongkan lambung, mencegah aspirasi pulmonum bila muntah dan mengurangi distensi abdomen. Pada kasus ini dilakukan operasi laparotomi yang akan dilakukan setelah kondisi optimum pasien tercapai. Selama follow up preoperasi, pasien telah diberi tindakan
28

rehidrasi pemberian loading IVFD RL dan pemasangan NGT hingga tercapai balance cairan. Pemberian obat-obat antibiotik spektrum luas dapat diberikan sebagai profilaksis. Antiemetik juga dapat diberikan untuk mengurangi gejala mual muntah. Pasien ini menerima terapi obat-obatan berupa antibiotik cefotaxim 3 x 1 gram sebagai profilaksis. Operasi dilakukan setelah rehidrasi dan dekompresi nasogastrik, untuk mencegah sepsis sekunder.

29

BAB V RINGKASAN Obstruksi usus (mekanik) adalah keadaan dimana isi lumen saluran cerna tidak bisa disalurkan ke distal atau anus karena ada sumbatan/hambatan yang disebabkan kelainan dalam lumen usus, dinding usus atau luar usus yang menekan atau kelainan vaskularisasi pada suatusegmen usus yang menyebabkan nekrosis segmen usus tersebut. Obstruksi usus halus dapat disebabkan oleh adhesi, hernia inkarserata, neoplasma, intususepsi, volvulus, benda asing, kumpulan cacing askaris, sedangkan obstruksi usus besar penyebabnya adalah karsinoma, volvulus, divertikulum Meckel, penyakit Hirschsprung, inflamasi, tumor jinak, dan impaksi fekal. Gejala penyumbatan usus meliputi nyeri kram pada perut, disertai kembung. Bising usus yang meningkat dan metallic sound dapat didengar sesuai dengan timbulnya nyeri pada obstruksi di daerah distal. Gejala umum dapat berupa syok, oliguri dan gangguan elektrolit. Kolik dapat terlihat pada inspeksi perut sebagai gerakan usus atau kejang usus dan pada auskultasi sewaktu serangan kolik, hiperperistaltis kedengaran jelas sebagai bunyi nada tinggi. Usus di bagian distal kolaps, sementara bagian proksimal berdilatasi. Usus yang berdilatasi menyebabkan penumpukan cairan dan gas, distensi yang menyeluruh menyebabkan pembuluhdarah tertekan sehingga suplai darah berkurang (iskemik), dapat terjadi perforasi. Gambaran radiologi dari ileus berupa distensi usus dengan multiple air fluid level, distensi usus bagian proksimal, absen dari udara kolon pada obstruksi usus halus. Tujuan utama penatalaksanaan adalah dekompresi bagian yang mengalami obstruksi untuk mencegah perforasi. Tindakan operasi biasanya diperlukan.

30

DAFTAR PUSTAKA 1. Beauchamp, Evers, Mattox, Sabiston, Textbook of Surgery, 16th edition, W.B.Saunders, Philadelphia, 2001, hal 887-888 2. Brunicardi, F.C., et all, Schwartzs Principles of Surgery, volume II, 8th edition, McGraw-Hill, New York, 2005, hal 1031-1032 3. Mukherjee S. Ileus. [Online] 2007 January 2 [cited 2013 June 21] [7 screen]. Available from: URL:http://www.emedicine.com/med/topic1154.htm. 4. Guyton A.C., Hall J.E. 2005a. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran . Edisi ke-9. Jakarta : EGC 5. Nobie BA. Obstruction, small bowel. [Online] 2007 Sept 17 [cited 20013 June 2];[6 screens]. Available from: URL:http://www.emedicine.com 6. Manif Niko, Kartadinata. 2008. Obstruksi Ileus . Cermin Dunia Kedokteran p.29. Available from: URL:http://www.portalkalbe.com/files/obstruksiileus.pdf 7. Sjamsuhidajat, R. dan De Jong, Wim. 2003. Buku Ajar Ilmu Bedah . Edisi 2. Jakarta : EGC. Hal: 623. 8. Sutton, David. 2003. Textbook of Radiology and Imaging Volume 1. Edisi 7. London :Churchill Livingstone. 9. Markogiannakis H, Messaris E, Dardamanis D, Pararas N, Tzertzemelis D, Giannopoulos P,et al. Acute mechanical bowel obstruction:clinical presentation, etiology, management and outcome. World Journal of gastroenterology. 2007 January 21;13(3):432-437. Available from URL: http://www.wjgnet.com 10. Ansari P. Intestinal obstruction. [Online]. 2007 September [cited 2013 June 21]; [4 screens]. Available from: URL:http://www.merck.com/mmpe/sec02/choll.html.

31