Anda di halaman 1dari 30

Fisiologi Pengunyahan, Penelanan, dan Bicara

I. Mekanisme Mastikasi
Pergerakan yg terkontrol dari mandibula dipergunakan dalam
mengigit, mengunyah, dan menelan makanan dan cairan, serta dalam
berbicara. Aktivitas yang terintegrasi dari otot rahang dalam merespon
aktivitas dari neuron eferen pada saraf motorik di pergerakan mandibular
yang mengontrol hubungan antara gigi rahang atas dan bawah.
Pergerakan rahang adalah suatu pergerakan yang terintegrasi dari lidah
dan otot lain yang mengontrol area perioral, faring, dan laring.
Pergerakan otot rahang, terhubung pada midline. Pengontrolan otot
rahang bukan secara resiprokal seperti pergerakan limb, tapi terorganisir
secara bilateral. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pembukaan dan
penutupan rahang selama penguyahan yang secara relatif merupakan
pergerakan sederhana dengan pengaturan pada limb sebagai penggerak.
Bagaimanapun, pergerakan dalam mastikasi adalah suatu yang kompleks
dan tidak hanya berupa mekanisme pergerakan menggerinda simple yang
mana merupakan pengurangan ukuran makanan. Selama mastikasi,
makanan dikurangi ukurannya dan dicampur dengan saliva sebagai tahap
awal dari proses digesti.

I.1 Pergerakan Pengunyahan


Pemahaman mengenai pola pergerakan rahang telah menjadi topic
yang menarik dalam hal klinis di kedokteran gigi, terutama dalam bidang
orthodonti dan prostodonti. Salah satu tujuan memugar bentuk oklusal
adalah untuk memastikan kontak gigi terintegrasi dengan pola pergerakan
rahang. Oleh karena itu, beberapa penelitian dimaksudkan untuk
menjelaskan bagian mandibula selama pengunyahan dan untuk
mengidentifikasikan posisi mandibula setelahnya. Dokter gigi mencari
posisi stabil mandibula untuk menfasilitasi penelitian tentang rahang pada
alat yang bernama simulator atau artikulator.

1
Seluruh otot rahang bekerja bersamaan menutup mulut dengan
kekuatan di gigi incidor sebesar 55 pounds dan gigi molar sebesar 200
pounds. Gigi dirancang untuk mengunyah, gigi anterior (incisors) berperan
untuk memotong dan gigi posterior ( molar) berperan untuk menggiling
makanan.
Sebagian besar otot mastikasi diinervasi oleh cabang nerevus cranial
ke lima dan proses pengunyahan dikontrol saraf di batang otak. Stimulasi
dari area spesifik retikular di batang otak pusat rasa akan menyebabkan
pergerakan pengunyahan secara ritmik, juga stimulasi area di
hipotalamus, amyglada dan di korteks cerebral dekat dengan area dengan
area sensori untuk pengecapan dan penciuman dapat menyebabkan
pengunyahan.
Kebanyakan proses mengunyah dikarenakan oleh refleks mengunyah,
yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. kehadiran bolus dari makanan di mulut pertama kali menginsiasi
refleks penghambat dari otot mastikasi yang membuat rahang
bawah turun.
2. penurunan rahang ini selanjutnya menginisiasi reflaks
melonggarkan otot rahang memimpin untuk mengembalikan
kontraksi.
3. secara otomatis mengangkat rahang untuk menutup gigi, tetapi
juga menekan bolus lagi, melawan lining mulut, yang menghambat
otot rahang sekali lagi, membuat rahang turun dan mengganjal
(rebound) di lain waktu. Hal ini berulang terus menerus.
4. pengunyahan merupakan hal yang penting untuk mencerna semua
makanan, khususnya untuk kebanyakan buah dan sayuran
berserat karena mereka memiliki membrane selulosa yang tidak
tercerna di sekeliling porsi nutrisi mereka yang harus dihancurkan
sebelum makanan dapat dicerna.

2
Pengunyahan juga membantu proses pencernaan makanan dengan
alasan sebagai berikut:
- enzim pencernaan bekerja hanya di permukaan partikel makanan,
sehingga tingkat pencernaan bergantung pada area permukaan
keseluruhan yang dibongkar oleh sekresi pencernaan.
- Penghalusan makanan dalam konsistensi yang baik mencegah
penolakan dari gastrointestinal tract dan meningkatkan kemudahan
untuk mengosongkan makanan dari lambung ke usus kecil,
kemudian berturut-turut ke dalam semua segmen usus.

I.1.1 Pergerakan
Selama pengunyahan rahang akan bergerak berirama, membuka
dan menutup. Tingkat dan pola pergerakan rahang dan aktivitas otot
rahang telah diteliti pada hewan dan juga manusia. Pola pergerakan
rahang pada beberapa hewan berbeda tergantung jenisnya. Pengulangan
pergerakan pengunyahan berisikan jumlah kunyahan dan penelanan.
Selama mastikasi karakteristik pengunyahan seseorang sangat
bergantung pada tingkatan penghancuran makanan. Urutan kunyah dapat
dibagi menjadi tiga periode. Pada tahap awal, makanan ditransportasikan
ke bagian posterior gigi dimana ini merupakan penghancuran dalam
periode reduksi. Selanjutnya bolus akan dibentuk selama final periode
yaitu sebelum penelanan. Pergerakan rahang pada ketiga periode ini
dapat berbeda tergantung pada bentuk makanan dan spesiesnya. Selama
periode reduksi terdapat fase opening, fast-opening dan slow-opening.
Pada periode sebelum penelanan terdapat tiga fase selama rahang
membuka dan dua fase selama rahang menutup.
Selama penelanan lidah memainkan peran yang penting di dalam
mengontrol pergerakan makanan dan pembentukan menjadi bolus. Untuk
makanan yang dihancurkan, diposisikan oleh lidah pada konjugasi dengan
otot buccinators pada pipi diantara oklusal permukaan gigi. Makanan yang
padat dan cair ditransportasikan di dalam rongga mulut oleh lidah. Selama

3
fase slow-opening pada pengunyahan, lidah bergerak ke depan dan
memperluas permukaan makanan. Tulang hyoid dan badan lidah kembali
tertarik selama fase fast-opening dan fase-closing, membuat gelombang
yang dapat memindahkan makanan ke bagian posterior pada rongga
mulut. Ketika makanan sudah mencapai bagian posterior rongga mulut,
akan berpindah ke belakang di bawah soft palate oleh aksi menekan dari
lidah. Lidah amat penting dalam pengumpulan dan penyortiran makanan
yang bias ditelan, sementara mengembalikan lagi makanan yang masih
dalam potongan besar ke bagian oklusal untuk pereduksian lebih lanjut.
Sedikit yang mengetahui mengenai mekanisme mendasar mengenai
pengontrolan lidah selama terjadinya aktivitas ini.

I.1.2 Aktivitas Otot


Kontraksi otot yang mengontrol rahang selama proses mastikasi
terdiri dari aktivitas pola asynchronous dengan variabilitas yang luas pada
waktu permulaan, waktu puncak, tingkat dimana mencapai puncak, dan
tingkat penurunan aktivitas. Pola aktivitas ditentukan oleh factor-faktor
seperti spesies, tipe makanan, tingkat penghancuran makanan, dan faktor
individu. Otot penutupan biasanya tidak aktif selama rahang terbuka,
ketika otot pembuka rahang sangat aktif. Aktivitas pada penutupan rahang
dimulai pada awal rahang menutup. Aktivitas dari otot penutup rahang
meningkat secara lambat seiring dengan bertemunya makanan di antara
gigi. Otot penutupan pada sebelah sisi dimana makanan akan
dihancurkan, lebih aktif daripada otot penutupan rahang kontralateral.

I.2 Struktur batang otak dalam control mastikasi


Pergerakan-pergerakan yang terlibat dalam mastikasi
membutuhkan gabungan aktivitas beberapa otot, yaitu trigeminal,
hypoglossal, fasial, dan nuclei motorik lain yang memungkinkan dari
batang otak. Struktur batang otak lain seperti formasi reticular juga terlibat.

4
I.2.1 Nukleus Trigeminal Sensorik
Nukleus trigeminal sensorik merupakan kolom neuron yang berada
di sepanjang batas lateral batang otak, dari pons sampai spinal cord. Porsi
rostral paling banyak dari nucleus ini disebut nucleus sensorik principal
(kadang lebih sering sering disebut nucleus sensorik utama) dan sisanya
adalah nucleus spinal trigeminal. Nukleus spinal dibagi lagi dari rostral ke
kaudal menjadi subnukleus oralis, interpolaris, dan kaudalis.
Inervasi perifer dari kolom sel ini muncul dari nervus trigeminus.
Cabang utama akan bercabang menjadi limb ascending dan descending,
atau secara sederhana turun memasuki batang otak untuk membentuk
traktus trigeminal menutupi sekeliling aspek lateral dari nucleus sensori
utama, sementara secara kaudal limb descending membentuk traktus
spinal trigeminal di sepanjang aspek lateral nucleus spinal. Cabang akson
kolateral meninggalkan traktus trigeminal dan memasuki nucleus sensori
untuk membentuk sumbu terminal pada beberapa nucleus dengan tingkat
yang berbeda. Akson yang menginervasi rostral mulut dan wajah berakhir
di medial dan akson yang menyuplai wajah kaudal berakhir lebih lateral.
Nukleus terdiri dari kelas-kelas neuron yang berbeda. Sirkuit
neuron local mempunyai akson yang dibatasi area batang otak; proyeksi
neuron akan mengirimkan akson ke rostral nuclei batang otak yang lain;
dan interneuron termasuk ke interkoneksi dalam nucleus sensorik.
Berdasarkan pada perbedaan morfologi neuron dan pola proyeksi,
subnukleus oralis terdiri dari 3 subdivisi utama: ventrolateral, dorsomedial,
dan garis batas. Divisi ventrolateral terdiri dari interneuron dan 2 populasi
neuron proyeksi (satu yang memproyeksi spinal cord, dan satu lagi yang
mengirimkan akson ke tanduk dorsal medular). Di dalam subdivisi
dorsomedial, terdapat seri neuron proyeksi korteks cerebral. Sedangkan
grup neuron pada garis batas memproyeksi cerebellum dan tanduk dorsal
medullar.
Nukleus sensori utama berada pada tingkat nucleus trigeminal
motorik, dan dikelilingi oleh akar trigeminal motorik di medial, serta oleh

5
akar trigeminal sensorik di lateral. Nukleus sensori utama dapat dibedakan
dengan nukleus spinal dari kepadatan neuronnya yang lebih rendah, dan
rendahnya populasi neuron besar dengan dendrit primer yang tebal,
panjang, dan lurus. Perbedaan lain antara nucleus spinal dan nucleus
utama adalah adanya sejumlah gelondong akson bermyelin pada nucleus
spinal. Pemeriksaan dengan mikroskop cahaya dan electron menunjukkan
adanya neuron berbentuk fusiform, triangular, dan multipolar pada nucleus
sensori utama. Pada cabang dendritnya pun relative sederhana. Dendrit
primer berasal dari sedikit perpanjangan badan sel atau secara langsung
dari badan sel. Dendrit sekunder lebih panjang, tapi terlihat tidak melebihi
batas nucleus.

I.2.2 Nukleus Trigeminal Mesencefalic


Badan sel dari serabut aferen yang menginervasi gelondong otot penutup
rahang dan badan sel dari ligament periodontal, gingival, dan
mekanoreseptor palatal berlokasi di dalam nucleus mesencefalic.
Penyusunannya unik di dalam sistem saraf pusat. Nukleus neuron
mesencefalic berupa unipolar; akson tunggal yang bercabang 2 menjadi
cabang perifer dan sentral. Cabang sentral mengeluarkan sejumlah
cabang kolateral yang berakhir di nucleus motorik, spinal cord, dan area
lain dari batang otak. Badan sel neuron yang menginervasi gelondong
otot, ditemukan di sepanjang nucleus, dan badan sel yang berasal dari
reseptor ligament periodontal dibatasi setengah kaudalnya.

I.2.3 Nukleus Tigeminal Motorik


Motoneuron yang mengatur otot-otot mastikasi terdapat pada
nucleus trigeminal motorik. Analisis distribusi ukuran soma motoneuron
menandakan bahwa nucleus trigeminal motorik terdiri dari motoneuron
gamma dan alfa. Sejumlah studi pembuktian neural mendemostrasikan
bahwa motoneuron gamma yang menginervasi otot-otot mastikasi
dipisahkan secara anatomi di dalam nucleus; Motoneuron penutup rahang

6
berlokasi di dorsolateral, sedangkan motoneuron pembuka rahang
berlokasi di divisi ventromedial nucleus. Pengamatan intraselular dan
ekstraselular terhadap motoneuron mastikasi menunjukkan bahwa input
sinaps untuk motoneuron pembuka dan penutup rahang berbeda.
Contohnya adalah aktivitas yang memulai gelondong otot untuk menutup
rahang tidak mempengaruhi motoneuron pembuka rahang, tapi aktivitas
neural yang memulai mekanoreseptor pada regio oral dan fasial akan
menghambat otot penutup rahang dan meningkatkan aktivitas otot
pembuka rahang.
Dendrit dari motoneuron trigeminal ekstensif dan kompleks. Dendrit
dari semua grup motoneuron yang berbeda, memperpanjang di luar batas
nucleus motorik, tapi di sini terdapat sedikit tumpang tindih antara dendrite
motoneuron di region dorsolateral dan ventromedial nucleus motorik.
Teknik ini menghasilkan gambaran yang lebih rinci dari struktur mikro
nucleus trigeminal motorik, dan penting untuk memahami mekanisme
reflek mastikasi.

I.2.4 Nukleus Hipoglosal Motorik


Nukleus hipoglosal motorik yang mengatur otot lidah lebih
homogen daripada nucleus trigeminal motorik. Ia terbentuk dari
motoneuron yang besar dan multipolar dan sebuah populasi dari
interneuron-interneuron kecil. Dendrit-dendrit motoneuron besar melintasi
garis tengah ke nucleus hipoglosal kontralateral atau berseberangan
dalam formasi reticular. Interneuron-interneuron kecil memiliki hanya satu
atau dua dendrite yang terdiri oleh nucleus secara total.

I.2.5 Nukleus Fasial Motorik


Nukleus fasial motorik terdiri atas tiga kolom longitudinal
motoneuron. Kolom-kolom medial dan lateral yang lebih besar terpisah
oleh kolom intermediet yang lebih kecil. Studi pembuktan neural
menunjukkan bahwa otot fasial direpresentasikan secara topografi di

7
dalam nucleus. Otot yang mengontrol bibir atas dan nares mempunyai
motoneuron sendiri pada bagian ventral dan dorsal kolom sel lateral. Otot
bibir bawah disuplai oleh motoneuron pada kolom sel intermediet. Otot-
otot yang berhubungan dengan telinga dikontrol oleh motoneuron pada
kolom sel medial. Terdapat perbedaan utama pada pola dendrit antara
motoneuron di 3 kolom sel. Dendrit pada motoneuron fasial secara luas
berada di subdivisi yang sama yang mengandung soma, tapi terkadang
meluas di luar batas nucleus fasial motorik.

I.2.6 Kontrol Mastikasi


Nuclei sensori dan motorik yang terdapat pada brain stem memiliki
peranan yang yang sangat penting dalam proses pengontrolan mastikasi.
Pola dasar oscillatory pergerakan mastikasi berawal dari generator neural
yang terdapat di brain stem. Input sensori afferent yang terjadi pada nuclei
ini juga merupakan faktor yang tak kalah pentingnya dalam pembentukan
proses mastikasi. Dan faktor yang berpengaruh besar lagi adalah pusat
otak akan mempengaruhi system koordinasi brain stem mastikatori.
Setelah sekian banyak penelitian dilakukan, tiga hal inilah yang
merupakan faktor utama yang berpengaruh besar terhadap pengontrolan
proses mastikasi.

I.3 Aktivitas brain stem selama mastikasi


Gerakan dasar mastikasi dapat terjadi tanpa adanya input sensori
dalam kavitas oral, fakta menunjukkan bahwa gerakan mandibula ke atas
dan bawah berasal dari dalam brain stem. Hasil percobaan juga
membuktikan bahwa faktor-faktor pemicu gerakan mastikasi adalah
adanya hubungan dari sirkuit neural yang membentuk jaringan neural
oscillatory yang mampu merangsang terjadinya pola gerakan mastikasi.
Neural oscillator ini disebut sebagai generator pola mastikasi atau pusat
mastikasi. Selain mastikasi, brain stem juga bertanggung jawab dalam
proses respiratori dan proses penelanan. Selain adanya neural generator,

8
mastikasi juga terjadi karena aktivitas gerak reflex otot yang diinisiasi oleh
stimulasi dari strukur orofacial.
Gerak refleks yang timbul dari area orofacial bermacam-macam,
termasuk juga gerak lidah, facial, dan berbagai gerak rahang. Dalam
gerak refleks orofacial ini terdapat sekurang-kurangnya satu motor
nucleus dan beberapa sinaps, dan prosesnya termasuk sederhana bila
dibandingkan dengan refleks-refleks lain yang lebih kompleks (sebagai
contohnya proses penelanan).
Gerak refleks orofacial yang paling sering diteliti adalah gerak
refleks pada jaw-closing dan refleks jaw-jerk, yang dapat terjadi dengan
mengetuk ujung dagu. Saat mengetuk ujung dagu ini, muscle spindle
pada otot-otot jaw-closing tertarik dan menhasilkan input sensori yang
akan menginisiasi gerak refleks. Setelah waktu yang singkat (sekitar 6
detik) electromyography (EMG) menunjukkan adanya aktivitas yang terjadi
pada otot masseter dan temporalis. EMG juga menunjukkan output
berupa gerak motorik pada otot yang akan menutup rahang. Karena waktu
terjadinya yang sangat singkat, gerak refleks ini sama dengan gerak
knee-jerk refleks dimana hanya satu sinaps yang bekerja (refleks
monosynaptic). Input refleks jaw-closing selain muscle spindle adalah
stimulasi ligament periodontal, TMJ, dll dapat menimbulkan refleks jaw-
closing dalam waktu singkat. Hal ini dibuktikan dengan percobaan
anestesi yang diaplikasikan pada gigi dan rahang bawah menurunkan
input tapi tidak menghentikan refleks.
Proses jaw-opening diinisiasi oleh stimuli mekanik dari ligament
periodontal dan mekanoreseptor pada mukosa. Stimuli ini menghasilkan
eksitasi otot jaw-opening dan inhibisi pada otot jaw-closing. Proses ini
tidak termasuk refleks monosynaptic dan sekurang-kurangnya satu
interneuron bekerja.
Proses mastikasi diinisiasi oleh stimuli elektrik dari cortex yang
menyokong otot jaw-closing dan jaw-opening. Begitu kompleks proses
terjadinya gerak mastikasi, pada intinya ritme mastikasi dihasilkan dari

9
generator pada brain stem yang diaktivasi oleh pusat dibantu dengan
input peripheral yang pada akhirnya menghasilkan output ritmikal dengan
frekuensi yang sesuai dengan input yang terjadi.
Aktivitas motoneuron trigeminal saat proses pengunyahan diteliti
menggunakan aktivitas itrasel dari motoneuron α yang mengontrol otot
masseter (jaw-closing) dan digastrics (jaw-opening). Motoneuron
masseter depolarisasi saat fase closing dan hiperpolarisasi (inhibisi) saat
fase opening. Motoneuron digastrics depolarisasi saat opening, akan
tetapi tidak hiperpolarisasi saat closing.

II Penelanan
Menurut kamus deglutasi atau deglutition diterjemahkan sebagai
proses memasukkan makanan kedalam tubuh melalui mulut “the process
of taking food into the body through the mouth”.
Proses menelan merupakan suatu proses yang kompleks, yang
memerlukan setiap organ yang berperan harus bekerja secara terintegrasi
dan berkesinambungan. Dalam proses menelan ini diperlukan kerjasama
yang baik dari 6 syaraf cranial, 4 syaraf servikal dan lebih dari 30 pasang
otot menelan.
Pada proses menelan terjadi pemindahan bolus makanan dari
rongga mulut ke dalam lambung. Secara klinis terjadinya gangguan pada
deglutasi disebut disfagia yaitu terjadi kegagalan memindahkan bolus
makanan dari rongga mulut sampai ke lambung.

II.1 Neurofisiologi menelan


Proses menelan dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu fase oral, fase faringeal
dan fase esophageal.

II.1.1 Fase oral


Pada fase oral ini akan terjadi proses pembentukan bolus makanan yang
dilaksanakan oleh gigi geligi, lidah, palatum mole, otot-otot pipi dan saliva

10
untuk menggiling dan membentuk bolus dengan konsistensi dan ukuran
yang siap untuk ditelan. Proses ini berlangsung secara disadari. Proses ini
bertahan kira-kira 0.5 detik

Peranan saraf kranial pada pembentukan bolus fase oral.


ORGAN AFFEREN (sensorik) EFFEREN (motorik)
Mandibula n. V.2 (maksilaris) N.V : m. Temporalis, m. maseter,
m. pterigoid

Bibir n. V.2 (maksilaris) n. VII : m.orbikularis oris, m.


zigomatikum, m.levator labius
oris, m.depresor labius oris, m.
levator anguli oris, m. depressor
anguli oris

Mulut & pipi n.V.2 (maksilaris) n.VII: m. mentalis, m. risorius,


m.businator

Lidah n.V.3 (lingualis) n.XII : m. hioglosus, m. mioglosus

Pada fase oral ini perpindahan bolus dari rongga mulut ke faring
segera terjadi, setelah otot-otot bibir dan pipi berkontraksi meletekkan
bolus diatas lidah. Otot intrinsik lidah berkontraksi menyebabkan lidah
terangkat mulai dari bagian anterior ke posterior. Bagian anterior lidah
menekan palatum durum sehingga bolus terdorong ke faring.
Bolus menyentuh bagian arkus faring anterior, uvula dan dinding
posterior faring sehingga menimbulkan refleks faring. Arkus faring
terangkat ke atas akibat kontraksi m. palato faringeus (n. IX, n.X dan n.XII)

11
Peranan saraf kranial fase oral
ORGAN AFFEREN (sensorik) EFFEREN (motorik)
Bibir n. V.2 (mandibularis), n.V.3n. VII : m.orbikularis oris, m.levator
(lingualis) labius oris, m. depressor labius,
m.mentalis

Mulut & pipi n. V.2 (mandibularis) n.VII: m.zigomatikus,levator anguli


oris, m.depressor anguli oris,
m.risorius. m.businator

Lidah n.V.3 (lingualis) n.IX,X,XI : m.palatoglosus

Uvula n.V.2 (mandibularis) n.IX,X,XI : m.uvulae,m.palatofaring

Jadi pada fase oral ini secara garis besar bekerja saraf karanial n.V2 dan
nV.3 sebagai serabut afferen (sensorik) dan n.V, nVII, n.IX, n.X, n.XI, n.XII
sebagai serabut efferen (motorik).

II.1.2 Fase Faringeal


Fase ini dimulai ketika bolus makanan menyentuh arkus faring
anterior (arkus palatoglosus) dan refleks menelan segera timbul. Pada
fase faringeal ini terjadi :

1. m. Tensor veli palatini (n.V) dan m. Levator veli palatini (n.IX, n.X
dan n.XI) berkontraksi menyebabkan palatum mole terangkat,
kemudian uvula tertarik keatas dan ke posterior sehingga menutup
daerah nasofaring.
2. m.genioglosus (n.XII, servikal 1), m ariepiglotika (n.IX,nX)
m.krikoaritenoid lateralis (n.IX,n.X) berkontraksi menyebabkan
aduksi pita suara sehingga laring tertutup.

12
3. Laring dan tulang hioid terangkat keatas ke arah dasar lidah karena
kontraksi m.stilohioid, (n.VII), m. Geniohioid, m.tirohioid (n.XII dan
n.servikal I).
4. Kontraksi m.konstriktor faring superior (n.IX, n.X, n.XI), m.
Konstriktor faring inermedius (n.IX, n.X, n.XI) dan m.konstriktor
faring inferior (n.X, n.XI) menyebabkan faring tertekan kebawah
yang diikuti oleh relaksasi m. Kriko faring (n.X)
5. Pergerakan laring ke atas dan ke depan, relaksasi dari introitus
esofagus dan dorongan otot-otot faring ke inferior menyebabkan
bolus makanan turun ke bawah dan masuk ke dalam servikal
esofagus. Proses ini hanya berlangsung sekitar satu detik untuk
menelan cairan dan lebih lama bila menelan makanan padat.

Peranan saraf kranial pada fase faringeal


Organ Afferen Efferen
Lidah n.V.3 n.V :m.milohyoid, m.digastrikus
n.VII : m.stilohyoid
n.XII,nC1 :m.geniohyoid, m.tirohyoid
n.XII :m.stiloglosus

Palatum n.V.2, n.V.3 n.IX, n.X, n.XI :m.levator veli palatini


n.V :m.tensor veli palatini

n.Laringeus superiorn.V : m.milohyoid, m. Digastrikus


Hyoid cab internus (n.X) n.VII : m. Stilohioid
n.XII, n.C.1 :m.geniohioid, m.tirohioid
n.X
Nasofaring n.IX, n.X, n.XI : n.salfingofaringeus
n.X
Faring n.IX, n.X, n.XI : m. Palatofaring,

13
m.konstriktor faring sup, m.konstriktor
ffaring med.
n.X,n.XI : m.konstriktor faring inf.
n.rekuren (n.X)
Laring n.IX :m.stilofaring
n.X
Esofagus n.X : m.krikofaring

Pada fase faringeal ini saraf yang bekerja saraf karanial n.V.2, n.V.3 dan
n.X sebagai serabut afferen dan n.V, n.VII, n.IX, n.X, n.XI dan n.XII
sebagai serabut efferen.

Bolus dengan viskositas yang tinggi akan memperlambat fase


faringeal, meningkatkan waktu gelombang peristaltik dan memperpanjang
waktu pembukaan sfingter esofagus bagian atas. Bertambahnya volume
bolus menyebabkan lebih cepatnya waktu pergerakan pangkal lidah,
pergerakan palatum mole dan pergerakan laring serta pembukaan sfingter
esofagus bagian atas. Waktu Pharyngeal transit juga bertambah sesuai
dengan umur.

Kecepatan gelombang peristaltik faring rata-rata 12 cm/detik. Mc.Connel


dalam penelitiannya melihat adanya 2 sistem pompa yang bekerja yaitu :

1. Oropharyngeal propulsion pomp (OOP) adalah tekanan yang


ditimbulkan tenaga lidah 2/3 depan yang mendorong bolus ke
orofaring yang disertai tenaga kontraksi dari m.konstriktor faring.
2. Hypopharyngeal suction pomp (HSP) adalah merupakan tekanan
negatif akibat terangkatnya laring ke atas menjauhi dinding
posterior faring, sehingga bolus terisap ke arah sfingter esofagus
bagian atas. Sfingter esofagus bagian atas dibentuk oleh

14
m.konstriktor faring inferior, m.krikofaring dan serabut otot
longitudinal esofagus bagian superior.

II.1.3 Fase Esofageal


Pada fase esofageal proses menelan berlangsung tanpa disadari.
Bolus makanan turun lebih lambat dari fase faringeal yaitu 3-4 cm/ detik.

Fase ini terdiri dari beberapa tahapan :


1. Dimulai dengan terjadinya relaksasi m.kriko faring. Gelombang
peristaltik primer terjadi akibat kontraksi otot longitudinal dan otot
sirkuler dinding esofagus bagian proksimal. Gelombang peristaltik
pertama ini akan diikuti oleh gelombang peristaltik kedua yang
merupakan respons akibat regangan dinding esofagus.
2. Gerakan peristaltik tengah esofagus dipengaruhi oleh serabut saraf
pleksus mienterikus yang terletak diantara otot longitudinal dan otot
sirkuler dinding esofagus dan gelombang ini bergerak seterusnya
secara teratur menuju ke distal esofagus.

Cairan biasanya turun akibat gaya berat dan makanan padat turun
karena gerak peristaltik dan berlangsung selama 8-20 detik. Esophagal
transit time bertambah pada lansia akibat dari berkurangnya tonus otot-
otot rongga mulut untuk merangsang gelombang peristaltik primer.

II.1.4 Peranan sistem saraf dalam proses menelan


Proses menelan diatur oleh sistem saraf yang dibagi dalam 3 tahap :

15
1. Tahap afferen/sensoris dimana begitu ada makanan masuk ke
dalam orofaring langsung akan berespons dan menyampaikan
perintah.
2. Perintah diterima oleh pusat penelanan di Medula oblongata/batang
otak (kedua sisi) pada trunkus solitarius di bag. Dorsal (berfungsi
utuk mengatur fungsi motorik proses menelan) dan nukleus
ambigius yg berfungsi mengatur distribusi impuls motorik ke motor
neuron otot yg berhubungan dgn proses menelan.
3. Tahap efferen/motorik yang menjalankan perintah

II.2 Gangguan deglutasi/ menelan


Secara medis gangguan pada peristiwa deglutasi disebut disfagia
atau sulit menelan, yang merupakan masalah yang sering dikeluhkan baik
oleh pasien dewasa, lansia ataupun anak-anak.
Menurut catatan rata-rata manusia dalam sehari menelan sebanyak
kurang lebih 2000 kali, sehingga masalah disfagia merupakan masalah
yang sangat menggangu kualitas hidup seseorang.
Disfagia merupakan gejala kegagalan memindahkan bolus
makanan dari rongga mulut sampai ke lambung.
Kegagalan dapat terjedi pada kelainan neuromuskular, sumbatan mekanik
sepanjang saluran mulai dari rongga mulut sampai lambung serta
gangguan emosi. Disfagia dapat disertai dengan rasa nyeri yang disebut
odinofagia.
Berdasarkan difinisi menurut para pakar (Mettew, Scott Brown dan
Boeis) disfagia dibagi berdasarkan letak kelainannya yaitu di rongga
mulut, orofaring, esofagus atau berdasarkan mekanismenya yaitu dapat
menelan tetapi enggan, memang dapat menelan atau tidak dapat menelan
sama sekali, atau baru dapat menelan jika minum segelas air, atau
kelainannya hanya dilihat dari gangguan di esofagusnya.

16
III Berbicara
Percakapan digunakan untuk berkomunikasi antar individu Untuk
menyempurnakan proses percakapan ini, diperlukan aktivitas otot. Bagian
penting dalam percakapan dan bahasa adalah cerebral cortex yang
berkembang sejak lahir dan memperlihatkan perbedaan pada orang
dewasa. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa pengalaman phonetic
bukan hal yang perlu untuk perkembangan area pusat saraf dalam sistem
percakapan.

Otot-otot yang mengkomando organ bicara diatur oleh motor nuclei di


otak, dengan produksi suara diatur oleh control pusat di bagian rostral
otak.
Respirasi. Proses bicara diawali oleh sifat energi dalam aliran dari udara.
Pada bicara yang normal, aparatus pernapasan selama ekshalasi
menyediakan aliran berkesinambungan dari udara dengan volume yang

17
cukup dan tekanan (di bawah kontrol volunteer adekuat) untuk phonasi.
Aliran dari udara dimodifikasi dalam fungsinya dari paru-paru oleh fasial
dan struktur oral dan memberikan peningkatan terhadap simbol suara
yang dikenal sebagai bicara

III.1 Struktur fungsional organ pengucapan


III.1.1 Laring
Laring merupakan penghubung antara faring dan trakea, didisain untuk
memproduksi suara (fonasi). Laring ini terdiri dari 9 kartilago, 3 kartilago
yang berpasangan dan 3 yang tidak berpasangan. Organ ini terletak pada
midline didepan cervikal vertebra ke 3 sampai c 6.
Organ ini dibagi ke dalam 3 regio:
* Vestibule
* Ventricle
* Infraglotitic
Vocal fold (true cord) dan vestibular fold (false cord) terletak pada regio
ventricle.
Didalam faring ini terdapat pita suara yang dapat menghasilkan
gelombang suara yang nantinya akan di modifikasi oleh resonator dan
articulator yang kemudian dihasilkan suara yang seperti kita ucapkan
sehari-hari. Pergerakan pita suara (abduksi, adduksi dan tension)
dipengaruhi oleh otot-otot yang terdapat disekitar laring, dimana fungsi
otot-otot tersebut adalah:
• M. Cricothyroideu menegangkan pita suara
• M. Tyroarytenoideus (vocalis) relaksasi pita suara
• M. Cricoarytenoideus lateralis adduksi pita suara
• M. Cricoarytenoideus posterior abduksi pita suara
• M. Arytenoideus transversus menutup bagian posterior
rima glotidis

18
III.1.2 Vocal Tract
Vocal tract pada manusia merupakan acoustic tube dari cross section
dengan panjang sekitar 17 cm dari vocal fold hingga bibir. Area cross
section ini bervariasi dari 0-20 cm2 dengan penempatan bibir, rahang,
lidah, dan velum(soft palate). Perangkap (trap-door action) yang dibuat
sepasang velum pada vocal tract membuat secondary cavity yang
berpartisipasi dalam speech production- nasal tract. Nasal cavity memiliki
panjang sekitar 12 cm dan luas 60 cm3.
Untuk bunyi suara, sumber rangsang adalah velocity volume dari udara
yang melewati vocal cords. Vocal tract bertindak pada sumber ini sebagai
filter dengan frekuensi yang diinginkan, berkorespondensi dengan
resonansi akustik dari vocal tract

III.1.3 Voiced Sounds (Suara)


Suara, contohnya huruf vokal (a,i,u,e,o), diproduksi dengan meningkatkan
tekanan udara di paru-paru dan menekan udara untuk bergerak ke glottis
(lubang antara vocal cords), sehingga vocal cords bergetar.
Getaran tersebut mengganggu aliran udara dan menyebabkan getaran
broad spectrum quasi-periodic yang berada di vocal tract. Ligament yang
bergetar dari vocal cords memiliki panjang 18 mm dan glottal yang secara
khusus bervariasi dalam area dari 0-20 mm2. Otot laryngeal yang
mengatur vocal folds dibagi menjadi tensors, abductors, dan adductors.
Naik dan turunnya pitch dari suara dikontrol oleh aksi dari tensor – crico-
thyroid dan otot vocalis. Variasi dalam tekanan subglottal juga penting
untuk mengatur derajat getaran laryngeal.

III.1.4 Artikulasi dan Resonansi

19
Ketika suara dasar dihasilkan oleh vocal tract, suara tersebut
dimodifikasi untuk menghasilkan suara yang jelas dengan proses
resonansi dan artikulasi
Dengan kegunaan sifat-sifat resonant dari vocal tract, bunyi suara
dasar disaring. Kualitas akhir dari suara tergantung dari ukuran dan
bentuk berbagai cavitas yang berhubungan dengan mulut dan hidung.
Bentuk dari beberapa cavitas ini bisa diubah oleh berbagai macam
aktivitas bagian yang dapat bergerak dari pharynx dan cavitas oral.
Cavitas yang berhubungan dengan dengan hidung adalah cavitas nasal,
sinus, dan nasopharynx. Nasopharynx dengan cepat berubah-ubah dan
variasi ini dihasilkan oleh kontraksi otot-otot pharyngeal dan gerakan dari
palatum lunak.
Cavitas yang berhubungan dengan mulut adalah cavitas oral dan
oropharynx. Kedua cavitas ini bisa diubah-ubah oleh kontraksi dari otot-
otot. Semua cavitas ini mengambil dan memperkuat suara fundamental
yang dihasilkan oleh getaran dari vocal cords. Fungsi ini dikenal dengan
sebutan resonansi. Pergerakan dari palatum lunak, laring, dan pharynx
membuat manusia dapat mencapai keseimbangan yang baik antara
resonansi oral dan nasal yang akhirnya menjadi karakteristik dari suara
tiap-tiap individu.
Artikulasi adalah proses penghasilan suara dalam berbicara oleh
pergerakan bibir, mandibula, lidah, dan mekanisme palatopharyngeal
dalam kordinasi dengan respirasi dan phonasi
Fungsi dari mekanisme pengucapan adalah untuk mengubah
bentuk dari tonsil laryngeal dan untuk membuat suara dalam rongga
mulut. Suara yang penting terbentuk adalah pengucapan konsonan, yang
ditekankan sebagai iringan suara oleh gesekan bunyi. Konsonan dibentuk
dari gelombang udara yang berkontak dari arah yang berlawanan.
Misalnya pada kontak antara dua bibir saat pengucapan huruf “p” dan “b”.
Contoh lainnya juga pada lidah yang menyentuh gigi dan palatum saat
pengucapan huruf “t” dan “d”.

20
Tanpa kemampuan (kapasitas) pengucapan, suara yang dihasilkan
hanya berupa faktor kekuatan, volume, dan kekuatan, seperti suara yang
hanya dihasilkan oleh huruf vocal. Hal ini terbukti secara klinis ketika
kemampuan berbicara seseorang hilang pada penderita paralytic stroke.
Kemampuan berbicaranya hanya seperti pengucapan huruf vocal saja
dengan sedikit konsonan.
Disamping menyuarakan suara-suara, sistem vokal dapat
menghasilkan dua macam suara-suara yang tak terdengar: fricative
sounds dan plosive sounds.
Fricative sounds dicontohkan oleh konsonan s,sh, f, dan th, yang
dihasilkan ketika traktus vokal setengah tertutup pada beberapa titik dan
udara tertekan melewati konstriksi pada kecepatan yang cukup tinggi
untuk menghasilkan turbulensi. Konsonan fricative membutuhkan
sangat sedikit penyesuaian pada artikulator, dan sering terdengar tidak
sempurna pada kasus maloklusi atau penggunaan denture.
Plosive sounds, konsonan p, t, dan k, diproduksi ketika traktus
vokal tertutup seluruhnya ( biasanya dengan bibir atau lidah), membiarkan
tekanan udara meningkat saat menutup, dan kemudian membuka dengan
tiba-tiba. Untuk beberapa suara, seperti fricative consonant v dan z yang
terdengar, adanya kombinasi dari dua sumber suara.
Pembentukan pada pergerakan untuk kemampuan bicara berkaitan
dengan fungsi kontinyu dari sensorik informasi dari reseptor otot dan
mechanoreceptor cutaneous yang didistribusikan sepanjang respiratosy,
laringeal, dan sistem orofacial.

III.2 Vokalisasi

21
Laring khususnya berperan sebagai penggetar (vibrator). Elemen yang
bergetar adalah pita suara. Pita suara menonjol dari dinding lateral laring
ke arah tengah dari glotis. pita suara ini diregangkan dan diatur posisinya
oleh beberapa otot spesifik pada laring itu sendiri.
Gambar 37-10B menggambarkan pita suara. Selama pernapasan
normal, pita akan terbuka lebar agar aliran udara mudah lewat. Selama
fonasi, pita menutup bersama-sama sehingga aliran udara diantara
mereka akan menghasilkan getaran (vibrasi). Kuatnya getaran terutama
ditentukan oleh derajat peregangan pita, juga oleh bagaimana kerapatan
pita satu sama lain dan oleh massa pada tepinya.
Gambar 37-10A memperlihatkan irisan pita suara setelah
mengangkat tepi mukosanya. Tepat di sebelah dalam setiap pita terdapat
ligamen elastik yang kuat dan disebut ligamen vokalis. Ligamen ini
melekat pada anterior dari kartilago tiroid yang besar, yaitu kartilago yang
menonjol dari permukaan anterior leher dan (Adam’s Apple”). Di posterior,
ligamen vokalis terlekat pada prosessus vokalis dari kedua kartilago
aritenoid. Kartilago tiroid dan kartilago aritenoid ini kemudian berartikulasi
pada bagian bawah dengan kartilago lain, yaitu kartilago krikoid.
Pita suara dapat diregangkan oleh rotasi kartilago tiroid ke depan
atau oleh rotasi posterior dari kartilago aritenoid, yang diaktivasi oleh otot-

22
otot dari kartilago tiroid dan kartilago aritenoid menuju kartilago krikoid.
Otot-otot yang terletak di dalam pita suara di sebelah lateral ligamen
vokalis, yaitu otot tiroaritenoid, dapat mendorong kartilago aritenoid ke
arah kartilago tiroid dan, oleh karena itu, melonggarkan pita suara.
Pemisahan otot-otot ini juga dapat mengubah bentuk dan massa pada tepi
pita suara, menajamkannya untuk menghasilkan bunyi dengan nada tinggi
dan menumpulkannya untuk suara yang lebih rendah (bass).
Akhirnya, masih terdapat beberapa rangkaian lain dari otot laringeal
kecil yang terletak di antara kartilago aritenoid dan kartilago krikoid, yang
dapat merotasikan kartilago ini ke arah dalam atau ke arah luar atau
mendorong dasarnya bersama-sama atau memisahkannya, untuk
menghasilkan berbagai konfigurasi pita suara.

IV Basis neural bahasa


Salah satu perbedaan terpenting antara manusia dan binatang rendah
adalah adanya fasilitas pada manusia untuk berkomunikasi dengan
sesamanya. Selanjutnya, karena tes neurologic dapat dengan mudah
menaksir seberapa besar kemampuan seseorang untuk berkomunikasi
satu sama lain, maka kita dapat mengetahui lebih banyak tentang sistem
sensorik dan motorik yang berkaitan dengan proses komunikasi daripada
mengenai fungsi segmen kortikal lainnya.
Terdapat dua aspek untuk dapat berkomunikasi, yaitu: aspek
sensorik (input bahasa), melibatkan telinga dan mata, dan kedua, aspek
motorik (output bahasa) yang melibatkan vokalisasi dan pengaturannya.\

IV.1 Aspek Sensorik pada Komunikasi


Pada korteks bagian area asosiasi auditorik dan area asosiasi
visual, bila mengalami kerusakan, maka dapat menimbulkan
ketidakmampuan untuk mengerti kata-kata yang diucapkan dan kata-kata
yang tertulis. Efek ini secara berturut-turut disebut sebagai afasia reseptif
auditorik dan afasia reseptif visual atau lebih umum, tuli kata-kata dan

23
buta kata-kata (disleksia). Studi dari afasia ini mempunyai peran penting
pada pemahaman neural basis dari bahasa. Penyebab paling sering ialah
trauma kepala (head trauma). Penyebab selanjutnya ialah stroke: 40%
major vascular events pada hemisfer cerebral yang mengakibatkan
language disorders.
Afasia anomik (Anomic aphasia)
Pada afasia ini, satu-satunya gangguan ialah pada
kemampuan untuk menemukan kata-kata yang benar. Ini
merupakan bentuk afasia yang tidak biasa. Akan tetapi, biasanya
merupakan lesi pada aspek posterior dari lobus temporal inferior
kiri, dekat dengan garis temporal-occipital.
Afasia Wernicke dan Afasia Global
Beberapa orang mampu mengerti kata-kata yang diucapkan
ataupun kata-kata yang dituliskan namun tak mampu
menginterpretasikan pikiran yang diekspresikan walaupun saat
mendengar music atau suara nonverbal akan normal. Biasanya
pasien berbicara sangat cepat baik ritme, grammar, dan artikulasi.
Apabila tidak benar-benar didengarkan, akan terdengar hampir
normal. Keadaan ini sering terjadi bila area Wernicke yang
terdapat di bagian posterior hemisfer dominan girus temporalis
superior mengalami kerusakan. Oleh karena itu, tipe afasia ini
disebut afasia Wernicke.
Bila lesi pada are Wernicke ini meluas dan menyebar (1) ke
belakang ke region girus angular, (2) ke inferior ke area bawah
lobus temporalis, (3) ke superior ke tepi superior fisura sylvian dari
hemisfer kiri, maka penderita tampak seperti benar-benar
terbelakang secara total (totally demented) untuk mengerti bahasa
atau berkomunikasi, dan karena itu dikatakan menderita afasia
global.
Transcortical sensory aphasia

24
Merupakan pemutusan area Wernicke dari posterior parietal
temporal association area. Hal ini menyebabkan fluent aphasia
dengan kurangnya pemahaman dan juga kecacatan saat berpikir
ataupun mengingat arti dari suatu tanda atau kata-kata. Pasien
tidak dapat membaca, menulis dan juga ditandai dengan
kesusahannya mendapat kata-kata, tetapi dapat mengulang apa
yang telah dibicarakan dengan mudah dan fasih.

IV.2 Aspek Motorik Komunikasi


Proses bicara melibatkan dua stadium utama aktivitas mental:
1. Membentuk buah pikiran untuk diekspresikan dan memilih
kata-kata yang akan digunakan, kemudian

2. mengatur motorik vokalisasi dan kerja yang nyata dari


vokalisasi itu sendiri.

Pembentukan buah pikiran dan bahkan pemilihan kata-kata


merupakan fungsi area asosiasi sensorik otak. Sekali lagi, area Wernicke
pada bagian posterior girus temporalis superior merupakan hal yang
penting untuk kemampuan ini. Oleh karena itu, penderita yang mengalami
afasia Wernicke atau afasia global tak mampu memformulasikan
pikirannya untuk dikomunikasikan. Atau bila lesinya tak begitu parah,
maka penderita masih mampu memformulasikan pikirannya namun tak
mampu menyusun kata-kata yang sesuai secara berurutan dan bersama-
sama untuk mengekspresikan pikirannya. Seringkali, penderita fasih
berkata-kata namun kata-kata yang dikeluarkannya tidak berurutan.
Afasia Motorik akibat Hilangnya Area Broca.
Kadang-kadang, penderita mampu menentukan apa yang
ingin dikatakannya, dan mampu bervokalisasi, namun tak dapat
mengatur sistem vokalnya untuk menghasilkan kata-kata selain
suara ribut. Efek ini, disebut afasia motorik, disebabkan oleh
kerusakan pada area bicara Broca, terletak di regio prefrontal dan

25
fasial premotorik korteks (kira-kira 95% kelainannya di hemisfer
kiri). Oleh karena itu, pola keterampilan motorik yang dipakai untuk
mengatur laring, bibir, mulut, sistem respirasi, dan otot-otot lainnya
yang dipakai untuk bicara dimulai dari daerah ini.

Artikulasi
Berarti gerakan otot-otot mulut, lidah, laring, pita suara, dan
sebagainya, yang bertanggung jawab untuk intonasi, waktu, dan
perubahan intensitas yang cepat dari urutan suara. Regio fasial dan
laryngeal korteks motorik mengaktifkan otot-otot ini, dan serebelum,
ganglia basalis, dan korteks sensorik semuanya membantu
mengatur urutan dan intensitas kontraksi otot, dengan mekanisme
umpan balik serebelar dan fungsi ganglia basalis. Kerusakan setiap
regio ini dapat menyebabkan ketidakmampuan parsial atatu total
untuk berbicara dengan jelas.
Lesi yang tidak mempengaruhi cerebral cortex, khususnya lesi
vascular pada basal ganglia dan thalamus, dapat juga menyebabkan
afasia yang disebut afasia subcortical.
Lesi kecil pada otak dapat merusak kemampuan untuk membaca
dan/atau menulis, tanpa menganggu bicara ataupun fungsi kognitif
lainnya. Alexia (ketidakmampuan untuk membaca) dengan agraphia
(ketidakmampuan menulis) berhubungan dengan lesi kortex pada lobus
parietal kiri, dibelakang cortex area auditorik. Alexia tanpa agraphia
berhubungan dengan lobus occipital kiri.

IV.3 Lokalisasi pusat kontrol bahasa


Vokalisasi mamalia membutuhkan koordinasi pergerakan
pernapasan, laryngeal artikulatori (supralaryngeal). Moto neuron
bertanggung jawab untuk pergerakan respiratori yang berada dalam corda
spinalis lumbar atas, toraxic dan servikal. Kontrol – kontrol ditemukan

26
dalam nucleus ambiguus. Neuron yang bertanggung jawab untuk kontrol
pergerakan artikulator terlokalisasi dalam nukleus motorik trigeminal,
nukleus facial, rostal nucleus ambiguus, nucleus hipoglosal, dan corda
spinalis servical atas. Demikian, bahkan pada tingkat kontrol efferen
kontrksi otot (jalur final) yang umum, vokalisasi melibatkan suatu satuan
ekstensive pada motoneuron yang bersambung dari pons ke corda
spinalis.
Transeksi pusat otak diatas nucleus motorik trigeminal pada hewan
mengakibatkan hewan” ini bisu. Karena itu, pertukaran informasi sraf
antara nuclei motor cranial, motoneuron respiratorius spinalis, dan
informasi somato sensorik yang memasuki batang otak bawah dan corda
spinalis tidak cukup u8ntuk menginisiai vokalisasi. Input koordinasi dari
pusat cerebral yang lebih tinggi diperlukan. Dengan beberapa penelitian
behavioral yang hati” pada produksi bahasa, para neurologis telah
mendeskripsikan beberapa aphasia yang biasanya terlibat dalam area
berbeda di hemisver otak. Salah satu aphasia yang paling awal,
wernicke’s aphasia, yang mana pasien dapat berbicara sangat cepat,
tanpa peduli irama, pola kalimat, dan artikulasi. Kata”, jika tidak
didengarkan secara baik”, dapat terdenga hampir normal. Pasien gagal
menggunakan kata” yang benar dan justur menggunakan frase
circumlacutory. Karakteristik lain parafrasia, yang mana satu kata atau
frase disubsitusi untuk yang lain, terkadang pada makasud yang terkait,
ataupun tidak terkait. Pasien ini dapat memiliki kehilangan percakapan
yang parah walaupun pendengaran suara non verbal dan musik bisa jadi
sepenuhnya normal. Lesi saraf ini berhubungan dengan gangguan
linguistik asosiasi seperti ketidak mampuan membaca (aleksia) dan
ketidak mampuan menulis (agrafia).
Pada Broca’s apasia , kata-kata terjadi secara perlahan, artikulasi
tidak rapi, dan kata” gramatikal kecil dan akhiran huruf mati dan kata kerja
bersambung jadi kata-kata diucapkan memiliki gaya telegrafik. Lesi ini
terlokalisasi dalam zona bahasa anterior, dan bukan lesi kombinasi.

27
Conduction aphasia, menyerupai Wernicke’s aphasia pada
keberadaan kata” yang kebanyakan normal dan lancar tapi repetisi yang
buruk, juga kompensasi auditori yang baik. Lesi ini mengkompromisasi
struktur yang cecara normal mentransfer informasi auditori ke sistem
motor, langkah fisiologis diperlukan untuk tindakan mengulangi kalimat.
Pasien dengan global aphasia tidak dapat berbicara atau
memahami bahasa. Mereka tidak dapat membaca, menulis, mengulangi,
atau menyebutkan nama barang-barang. Lesi ini ektensive dan yang
secara esensial di suplai oleh cabang cortical pada arteri tengah otak
mengarahnkan semua perisylvian territory pada hemisver kiri.
Pada anomic aphasia, satu-satunya gangguan adalah dalam
menemukan kata” yang tepat. Ini adalah bentuk aphasia yang tidak biasa
yang secara khas mengikuti lesi di aspek posterior lobus temporalis
inferior kiri, dekat border temporal-occipital.
Transcortical motor aphasia dihasilkan dari lesi yang memutuskan
hubungan area broca’s dari cortex motori suplementer. Pasien akan
melakukan percakapan tapi hanya dapat mengucapkan sedikit syllables.
Transcortical sensory mengikuti diskoneksi dari Wernicke’s area
pada area asosiasi temporal parietal posterior. Ini menyebabkan aphasia
lancar dengan pemahaman yang defektif, dan defek dalam berfikir atau
mengingat maksud sinyal dan tanda-tanda.
Pasien tidak bisa membaca dan menulis dan juga memiliki
kesulitan dalam menemukan kata-kata tapi dapat mengulangi kata-kata
verbal secara mudah dan lancar.
Lesi yang tidak mempengaruhi cortex cerebral, biasanya lesi
vaskuler dalam ganglia basalis dan talamus, dapat juga dihasilkan dalam
aphasia yang biasanya disebut subcortical aphasia.

IV.4 Dominasi Cerebral

28
Kerusakan di area korespondensi di sisi lain otak meninggalkan
kemampuan berbahasa yang utuh. Hanya sedikit keruskan di hemisfer
kanan otak menyebabkan kerusakan bahasa. 97% dari mereka memiliki
kerusakan di hemisver kiri otaknya. Kontrol unilateral pada fungsi tertentu
disebut dominasi cerebral.
Tanda bahasa juga menyediakan pengertian untuk produksi
bahasa. Tidak seperti kata-kata, penandaan terdiri atas serangkaian
bahasa tubuh yang di interpretasikan oleh sistem visual daripada sistem
auditorial. Pengertian tanda juga dilokalisasi dihemisver kiri. Lesi pada
otak kiri menyebabkan individu tuli menjadi aphasic pada bahasa tanda.

IV.5 Teori pemrosesan bahasa


Berdasarkan pembelajaran ekstensive pada kelainan berbahasa
dan lesi anatomis terasosiasi, dibuatlah model aktivitas otak selama
produksi bahasa. Teori para connectionist menjelaskan bahwa ketika
sebuah kata terdengar, output dari area auditorial primer pada cortex
diterima oleh Wernicke’s area. Jika kata-kata tersebut adalah untuk
diucapkan, polanya ditranmisikan dari Wernicke’s area ke Broca’s area
dimana bentuk artikulatori dibangun dan dikirim ke area motorik yang
mengontrol pergerakan otot-otot berbicara. Jika kata-kata yang digunakan
dieja, pola auditorial dikirim ke cortex agranular, dimana ia mendapatkan
pola visualnya. Saat sebuah kata dieja, output dari area visual primer
melewati gyrus anguler, yang pada gilirannya membangkitkan bentuk
auditori korespondensi pada kata dalam Wernick’s area.
Bahasa mengandung banyak tipe informasi linguistik termasuk
informasi yang mengenali struktur suara dari ungkapan (fonologi),
informasi tentang bentuk tata kalimat (sintaksis), dan informasi yang
mengenali maksud ungkapan (semantik). Bukti-bukti tekah menujukkan
bahwa area cortical yang terlibat dengan bahasa tidaklah bekerja sendiri,
tapi kemungkinan dibagi-bagi menjadi area terpisah untuk menangani
bahasa yang berbeda, karena ada lesi-lesi pada orang-orang multilingual

29
yang meninggalkan hanya satu keutuhan. Area-area terpisah ini juga
dijelaskan sebagai yang memegang taspek-aspek tata bahasa berbeda.
Berdasarkan penelitian ini yang lainnya, teori para connectionist telah
digantikan oleh teori moduler dimana bahasa diproses secara paralel
dengan banyak area berbeda yang bertanggung jawab untuk tugas-tugas
kognitif yang berbeda.

30