Anda di halaman 1dari 51

BAB I PENDAHULUAN Ginjal adalah sepasang organ berbentuk kacang yang terletak di belakang rongga abdomen, satu di setiap

sisi kolumna vertebralis sedikit di atas garis pinggang. Ginjal mengolah plasma yang mengalir masuk ke dalamnya untuk menghasilkan urin, menahan bahan bahan tertentu dan mengeliminasi bahan bahan yang tidak diperlukan ke dalam urin. Setiap ginjal terdiri dari sekitar satu juta satuan fungsional berukuran mikroskopik yang dikenal sebagai neuron, yang disatukan satu sama lain oleh jaringan ikat. Setiap nefron terdiri dari komponen vaskuler dan komponen tubulus, yang keduanya secara struktural dan fungsional berkaitan erat. Bagian dominan pada komponen vaskuler adalah glomerulus, suatu berkas kapiler berbentuk bola tempat filtrasi sebagian air dan zat terlarut dari darah yang melewatinya. Sedangkan komponen tubulus dari setiap neuron adalah suatu saluran berongga berisi cairan yang terbentuk oleh satu lapisan sel epitel. Cairan yang sudah terfiltrasi di glomerulus, yang komposisinya nyaris identik dengan plasma, kemudian mengalir ke komponen tubulus nefron, tempat cairan tersebut dimodifikasi oleh berbagai sistem transportasi yang mengubahnya menjadi urin. Keadaan dimana ginjal kehilangan kemampuannya untuk mempertahankan volume dan komposisi cairan tubuh yang berlangsung progresif, lambat, samar dan bersifat irreversible (biasanya berlangsung beberapa tahun) di sebut dengan gagal ginjal kronik. Gagal ginjal kronik bersifat samar karena hampir 75% jaringan ginjal dapat dihancurkan sebelum gangguan fungsi ginjal terdeteksi. Karena besarnya cadangan fungsi ginjal, 25% dari jaringan ginjal sudah cukup untuk menjalankan semua fungsi regulatorik dan eksretorik ginjal. Namun dengan kurang dari 25% jaringan fungsional ginjal yang tersisa, insufisiensi ginjal akan tampak. (1)

STATUS PASIEN 2.1. ANAMNESIS A. Identitas Pasien Nama Umur Jenis kelamin Alamat Agama Suku Status perkawinan Pekerjaan Tanggal masuk Tanggal pemeriksaan B. Keluhan Utama Sesak napas C. Riwayat Penyakit Sekarang Sejak 2 bulan sebelum masuk RS pasien mengeluh lemas. Lemas dirasakan terus-menerus. Lemas terutama dirasakan bila berubah posisi dari duduk ke berdiri. Lemas tidak berkurang dengan minuman manis. Lemas disertai nggliyer, mata berkunang-kunang, nyeri kepala yang terus-menerus, dan leher terasa kenceng. Sesak napas juga dirasakan pasien. Sesak napas dirasakan hilang timbul. Sesak napas muncul jika pasien terlalu banyak beraktivitas, dan membaik dengan beristirahat. Sesak tidak berhubungan dengan cuaca ataupun emosi. Mengi maupun batuk tidak didapatkan. Bengkak pada kedua kaki mulai dikeluhkan pasien. Sejak 2 hari sebelum masuk RS pasien mengeluh sesak napas. Sesak napas dirasakan terus menerus bahkan pada saat pasien beristirahat. Pasien mengeluh jika melakukan aktivitas ringan, pasien merasa sesak napas bertambah berat. Sesak sedikit berkurang dengan istirahat. Pasien sering 2 : Tn. U : 56 tahun : laki-laki : Jln. PMD KM 12 : Islam : Melayu : kawin : Satpam : 13 Juli 2013 : 16 Juli 2013

terbangun saat tertidur di tengah malam karena sesak. Sesak tidak berhubungan dengan cuaca ataupun emosi. Mengi maupun batuk tidak didapatkan. Pasien lebih nyaman tidur dengan menggunakan 3 bantal. Selain keluhan tersebut pasien juga mengeluh timbul bengkak pada kedua kaki. Bengkak dirasakan hilang timbul. Pasien tidak mengeluh demam, pasien mengeluh mual tetapi tidak muntah, tidak pusing, BAK sedikit dan terasa tidak tuntas, tidak terasa nyeri, bewarna kuning, BAB sedikit, pasien tidak pernah terbentur atau terpukul di daerah pinggang sebelumnya. Sehari sebelumnya pasien baru saja jadwal hemodialisa. Sejak 1 hari sebelum masuk RS pasien mengeluh sesak napas makin bertambah hebat. Sesak napas dirasakan terus menerus bahkan pada saat pasien beristirahat. Tidur tidak bisa, nafsu makan menurun, badan makin kurus. Nyeri dada tidak ada dan jantung berdebar-debar tidak ada. Sebelumnya pasien mengaku minum obat furosemid namun keluhan tidak berkurang, akhirnya keluarga memutuskan untuk dibawa berobat ke IGD RS Muhammadiyah Palembang. D. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat sakit serupa : Pasien sudah pernah dirawat dengan keluhan yang sama satu tahun yang lalu, setelah itu pasien mulai menjalani hemodialisa dua kali satu minggu sejak 1 tahun yang lalu di RS Moh. Hoesin Palembang. Pasien satu tahun yang lalu, selain melakukan hemodialisa, juga melakukan transfusi darah 1 kantong satu bulan. Riwayat tekanan darah tinggi : Pasien diketahui memiliki riwayat hipertensi sejak 10 tahun yang lalu pada saat pasien memeriksakan tensinya di Puskesmas setempat ( 150/80), sudah diberi 2 macam obat (pasien tidak tahu nama obatnya), diminum 3 x sehari, tapi setelah obat habis, pasien kemudian tidak kontrol lagi.

Riwayat sakit gula

: sejak 5

Pasien diketahui memiliki riwayat Diabetes Melitus

tahun yang lalu pada saat pasien pernah mengalami luka di jari jempol kaki kanan dan tidak sembuh-sembuh, ketika dideteksi gula darahnya tinggi, sehingga pasien dirawat di RS setempat dan mendapat injeksi Insulin. Namun sekarang putus obat antidiabetes. Riwayat sakit jantung : Pasien pernah mengalami nyeri dada serta rasa jantung berdebar dan hilang ketika pasien diberi obat di bawah lidah. Riwayat alergi : Pasien memiliki riwayat alergi bila makan udang, seluruh badannya timbul bentol-bentol merah, bibir dan mata membengkak. E. Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat sakit serupa Riwayat tekanan darah tinggi Riwayat sakit gula Riwayat sakit jantung F. Riwayat Kebiasaan Riwayat minum obat-obatan bebas Riwayat minum suplemen Riwayat minum jamu Riwayat minum minuman keras alkohol, 2 botol setiap minggu Riwayat merokok jenis rokok filter. G. Riwayat Sosial Ekonomi Pasien seorang pria bekerja sebagai penjaga ruko, tinggal bersama istri dan dua orang anak. : Pasien baru berhenti merokok 5 tahun yang lalu, sebelumnya pasien sering merokok 3 bungkus sehari, : disangkal : disangkal : Pernah tapi tidak sering : Disaat muda, pasien sering minum : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal

H. Riwayat Gizi Pasien sehari makan 3 kali sehari porsi sedang dengan lauk tempe, tahu, sayur, jarang makan buah, minum sehari 3-4 kali lebih kurang 1 gelas belimbing. I. Anamnesis Sistem Keluhan utama Kepala timbul(+) Mata berlebihan. Hidung Telinga Mulut : pilek (-), mimisan (-), hidung tersumbat (-) : pendengaran berkurang (-), pendengaran berdenging (-), keluar cairan (-), darah (-) : gusi berdarah (-), sariawan (-), mulut kering (-), luka pada sudut bibir (-), gigi goyah (-) sulit berbicara (-), gigi caries (-), papil lidah atrofi (-) Tenggorokan Sistem Respirasi (-), dahak (-), mengi (-) Sistem Cardiovaskuler Sistem Gastrointestinal : nyeri dada (-), berdebar-debar (+), sesak nafas saat istirahat (+) : nafsu makan turun (+), mual (-),muntah (-), kembung (-), muntah darah (-), nyeri ulu hati (-), perut sebah (-), BAB sulit (-), BAB warna hitam (-), BAB darah lendir (-) Sistem Muskuloskeletal : nyeri otot (-), nyeri sendi (-), kaku sendi (-), bengkak sendi (-), badan lemas (+), 5 : sakit menelan (-), gatal tenggorokan (-) : sesak napas (+), batuk (+), batuk darah : pandangan kabur (+), penglihatan ganda(-),mata kuning (-), berkunang-kunang (-), sering keluar air mata : sesak napas : sakit kepala (+), pusing (-), hilang

kejang (-) Sistem Genitourinaria : BAK warna seperti teh (-), BAK warna merah (-), nyeri ketika buang air kecil (-), panas saat BAK (-), BAK jarang BAK 12 kali sehari, tiap BAK 1/4 gelas belimbing, BAK kadang tidak lampias dan terputus-putus. Ekstremitas: Atas : luka (-/-), kesemutan (-/-), tremor (-/-), ujung jari terasa dingin (-/-), bengkak (-/-), lemah (-/-) Bawah : luka (-/-), kesemutan (-/-), tremor (-/-), ujung jari terasa dingin (-/-), bengkak (-/-), lemah (-/-) Sistem Neuropsikiatri : kejang (-), emosi tidak stabil (-), kesemutan (-), gelisah (-), mengigau (-) 2.2. PEMERIKSAAN FISIK Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 15 Juli 2013: A. Keadaan umum: sakit berat, compos mentis, status gizi kesan cukup B. Tanda vital: Tensi Respirasi Nadi Suhu Status gizi: Berat Badan BMI Kesan C. Kulit D. Kepala : 180/100 mmHg : 30 x/menit : 72 x/menit : 36,7C (axiller) : 55 kg : 21,48 kg/m2 : normoweight

Tinggi Badan : 160 cm

: keriput (-), warna sawo matang, ikterik (-), turgor baik, hiperpigmentasi (+) : bentuk mesocephal, rambut hitam, uban (+), lurus, mudah 6

rontok (-), mudah dicabut (-), bengkak pada wajah (-), kulit muka tampak hiperpigmentasi E. Mata : konjungtiva palpebra pucat (+/+), sklera ikterik (-/-), katarak (-/-), perdarahan palpebra (-/-), pupil isokor dengan diameter (3mm/3mm), reflek cahaya (+/+), edema palpebra (+/+), VODS 1/300, Shadow test +/+ F. Telinga G. Hidung H. Mulut : sekret (-), darah (-), nyeri tekan mastoideus (-) : nafas cuping hidung (-), sekret (-), epistaksis (-), fungsi pembau baik : sianosis (-), gusi berdarah (-), kering (-), pucat (-), lidah tiphoid (-), papil lidah atrofi (-), stomatitis (-), luka pada sudut bibir (-) I. Leher J. Limfonodi K. Thorax : JVP 5-1 cm, trachea di tengah, simetris, pembesaran tiroid (-), pembesaran limfonodi cervical (-) : kelenjar limfe retroaurikuler, submandibuler, servikalis, supraklavikularis, aksilaris, dan inguinalis tidak membesar : bentuk simetris, retraksi intercostal (-), spider nevi (-), pernafasan torachoabdominal, sela iga melebar (-), muskulus pektoralis atrofi (-), ginekomasti (-), pembesaran KGB axilla (-/-) Jantung: Inspeksi Palpasi Perkusi : ictus cordis tidak tampak, pulsasi precardial, epigastrium, dan parasternal tidak tampak : ictus cordis tidak kuat angkat, teraba di SIC V 2 cm lateral LMCS : batas jantung kiri atas: SIC II, linea parasternalis sinistra batas jantung kiri bawah: SIC VI 1 cm lateral linea medioclavicularis sinistra batas jantung kanan atas: SIC II, linea parasternalis dextra 7

batas jantung kanan bawah: SIC V, linea parasternalis dextra Auskultasi Pulmo: Depan Inspeksi : statis: normochest, simetris, sela iga tidak melebar dinamis: pengembangan dada simetris kanan = kiri, sela iga tidak melebar, retraksi intercostal (-) Palpasi : statis: simetris dinamis: pergerakan kanan = kiri, fremitus raba kanan = kiri Perkusi : kanan: sonor, batas relatif paru-hepar di SIC IV linea medioclavicularis dextra, batas absolut paruhepar di SIC V linea medioclavicularis dextra kiri: sonor, batas paru-lambung setinggi SIC VI linea medioclavicularis sinistra Auskultasi : kanan: suara dasar vesikuler normal, suara tambahan ronchi basah kasar (-), ronchi basah halus (-) di daerah basal, wheezing (-) kiri: suara dasar vesikuler normal, suara tambahan ronchi basah kasar (-), ronchi basah halus (-) di daerah basal, wheezing (-) Belakang Inspeksi : statis: normochest, simetris, sela iga tidak melebar dinamis: pengembangan dada simetris kanan = kiri, sela iga tidak melebar, retraksi intercostal (-) Palpasi : statis: simetris dinamis: pergerakan kanan = kiri, fremitus raba kanan = kiri Perkusi : kanan: sonor 8 : Heart Rate 72 x/menit, reguler, bunyi jantung III murni, intensitas normal, reguler, bising (-),

kiri: sonor Auskultasi : kanan: suara dasar vesikuler normal, suara tambahan ronchi basah kasar (-), ronchi basah halus (-) di daerah basal, wheezing (-) kiri: suara dasar vesikuler normal, suara tambahan ronchi basah kasar (-), ronchi basah halus (-) di daerah basal, wheezing (-) L. Abdomen: Inspeksi Auskultasi Perkusi (+) Palpasi : dinding perut supel, nyeri tekan (-), hepar teraba 2 jari dibawah arcus costar M. Genitourinaria : ulkus (-), sekret (-), tanda-tanda radang (-) N. Ekstremitas : : dinding perut sejajar dari dinding dada, distended (-), venectasi (-), cicatrix (-), striae (-) : peristaltik (+) normal, nyeri ketok costovertebral (+) : timpani, pekak alih (+), pekak sisi (-), undulasi

Bengkak Sianosis Pucat Akral dingin Luka Deformitas Ikterik Petekie Flat nail Spoon nail Clubing finger Kaku Fungsi motorik Fungsi sensorik Reflek fisiologis Reflek patologis

Extremitas superior Dextra Sinistra 5 Normal +2 5 Normal +2 -

Extremitas inferior Dextra Sinistra + 5 Normal +2 _ 5 Normal +2 -

2.3. PEMERIKSAAN PENUNJANG A. Laboratorium


10/07/2013 HEMATOLOGI Rutin Hb Leukosit Satuan Nilai Rujukan

8,2 18.100

g/dl %

13,5-17,5 33-45

10

LED Diff. Count Ht Trombosit Indeks Eritrosit MCV MCH MCHC Kimia Klinik GDS GDP GD2PP SGOT SGPT Protein Total Albumin Globulin Kreatinin Ureum Asam urat Kolesterol Total LDL Kolesterol HDL Kolesterol Trigliserida Besi (SI) TIBC Saturasi transferin Elektrolit Na K Cl Ca SEROLOGI HbsAg LAIN-LAIN Ferritin SEKRESI Makroskopis Warna Kejernihan Kimia Urin Berat Jenis pH Leukosit Nitrit Protein Glukosa Keton Urobilinogen Bilirubin Eritrosit Mikroskopis Eritrosit Eritrosit Leukosit Leukosit

108 2/0/0/86/7/5 23 122.000

103/ul 103/ul 106/ul

4,5-11,0 150-450 4,50-5,90

/m pg g/dl 149 mg/dl mg/dl mg/dl u/l u/l g/dl g/dl g/dl mg/dl mg/dl mg/dl mg/dl mg/dl mg/dl mg/dl ug/dl ug/dl % 137 3,6 mmol/L mmol/L mmol/L mmol/L

80,0-96,0 28,0-33,0 33,0-36,0 60-140 70-110 80-140 0-35 0-45 6,4-8,3 3,5-5,2 0,9-1,3 <50 2,4-6,1 50-200 88-203 28-71 <150 27-138 228-428 15-45 136-145 3,3-5,1 98-106 1,17-1,29 -

9,2 55 9,5 131

ng/ml

20,00200,00

Kuning Agak keruh 1,016 6,0 Negatif Negatif ++ Normal Negatif Positif Negatif 1,015-1,025 4,5-8,0 negatif Negatif Negatif normal negatif normal negatif negatif 0-6,4 0-5 0-5,8 0-12

/ul mg/dl mg/dl mg/dl mg/dl mg/dl /ul /ul /LPB /uL /LPB

Penuh 8-10

11

Epitel Epitel Squamous Epitel Transisional Epitel Bulat Silinder Lain-lain

Bakteri (-)

/LPB /LPB /LPB

negatif negatif negatif

CCT

: ((140 - umur) x BB) : (72 x Kreatinin plasma) ml/menit/1,73 m2 : ((140 567) x 55) : (72 x 9,2) ml/menit/1,73 m2 : 6, 975 mL/mnt/1,73 m2

B. EKG (8 Juli 2013)

Kesan : Sinus Rhytm, HR 74 x/m VES di lead V1 V3 V4 RBBB di setiap lead T-inverted di V6, LVH 2.4. RESUME 12

Datang seorang laki-laki usia 56 tahun dengan keluhan utama sesak napas. Sejak 2 bulan sebelum masuk RS pasien mengeluh lemas. Lemas dirasakan terus-menerus. Lemas terutama dirasakan bila berubah posisi dari duduk ke berdiri. Lemas tidak berkurang dengan minuman manis. Lemas disertai nggliyer, mata berkunang-kunang, nyeri kepala yang terus-menerus, dan leher terasa kenceng. Sesak napas juga dirasakan pasien. Sesak napas dirasakan hilang timbul. Sesak napas muncul jika pasien terlalu banyak beraktivitas, dan membaik dengan beristirahat. Sesak tidak berhubungan dengan cuaca ataupun emosi. Mengi maupun batuk tidak didapatkan. Bengkak pada kedua kaki mulai dikeluhkan pasien. Sejak 2 hari sebelum masuk RS pasien mengeluh sesak napas. Sesak napas dirasakan terus menerus bahkan pada saat pasien beristirahat. Pasien mengeluh jika melakukan aktivitas ringan, pasien merasa sesak napas bertambah berat. Sesak sedikit berkurang dengan istirahat. Pasien sering terbangun saat tertidur di tengah malam karena sesak. Sesak tidak berhubungan dengan cuaca ataupun emosi. Mengi maupun batuk tidak didapatkan. Pasien lebih nyaman tidur dengan menggunakan 3 bantal. Selain keluhan tersebut pasien juga mengeluh timbul bengkak pada kedua kaki. Bengkak dirasakan hilang timbul. Pasien tidak mengeluh demam, pasien mengeluh mual tetapi tidak muntah, tidak pusing, BAK sedikit dan terasa tidak tuntas, tidak terasa nyeri, bewarna kuning, BAB sedikit, pasien tidak pernah terbentur atau terpukul di daerah pinggang sebelumnya. Sehari sebelumnya pasien baru saja jadwal hemodialisa. Sejak 1 hari sebelum masuk RS pasien mengeluh sesak napas makin bertambah hebat. Sesak napas dirasakan terus menerus bahkan pada saat pasien beristirahat. Tidur tidak bisa, nafsu makan menurun, badan makin kurus. Nyeri dada tidak ada dan berkurang, Pasien mempunyai riwayat hipertensi sejak 10 tahun yang lalu namun tidak rutin kontrol. Riwayat kencing manis dan hemodialisa. 13 jantung berdebar-debar tidak ada. Sebelumnya pasien mengaku minum obat furosemid namun keluhan tidak

Dari pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 180/100 mmHg, respirasi 30 x/menit, nadi 80 x/menit, bengkak pada wajah, edema palbebra, konjungtiva palbebra pucat, wajah tampah hiperpigmentasi, penglihatan VODS 1/300 , ictus cordis teraba di SIC V 2 cm lateral LMCS,batas jantung melebar, murmur (+), bengkak diperut unduliasi (+). Dari pemeriksaan penunjang laboratorium darah didapatkan Hb 6,6 g/dl; kreatinin 9,2mg/dl; ureum 55 mg/dl; asam urat 9,5 mg/dl; BSS 149 gr/dl Dari pemeriksaan kimia urine didapatkan protein ++; eritrosit 50 mg/dl. Dari pemeriksaan CCT didapatkan hasil dibawah < 15. Hasil EKG Sinus Rhytm, HR 74 x/m, VES di lead V1 V3 V4, RBBB di setiap lead, T-inverted di V6, LVH. 2.5. Diagnosis Kerja Gagal Ginjal Kronik stage V on Hemodialisa + DM Tipe II Uncontrolled + HHD+ Hipertensi Grade II + Susp. Katarak Senilis Hipermatur ODS /DD Retinopati Hipertensi 2.6. Tatalaksana - Posisi setengah duduk - IVFD RL gtt XX/menit (mikro) - Inj. Ceftriaxone 2 x 1 gr I.V - Inj. Furosemid 1 x 1 amp I.V - Amlodipin tab 1 x 5 mg - vit. B komplex 3x1 HD - Transfusi PRC 2 kolf on HD jika Hb dibawah 8 - O2 2-4 l/m - Rencana konsul dokter Sp. Mata - KIE 2.7. Prognosis - Quo ad vitam - Quo ad functionam : dubia ad malam : dubia ad malam

14

2.8. Pemeriksaan Anjuran - Cek BSS, BSN, profil lipid - Echocardiografi - USG Abdomen Foto thorax PA

2.9. Follow Up Tanggal 16 Juli 2013 S O : : Sesak nafas berkurang, batuk kering KU : tampak sakit sedang TD N RR Temperatu r Kepala Leher Thorax - Paru I Pal Per A - Cor I Pal Per A : : : : : : : iktus kordis tidak tampak trill tidak teraba batas atas jantung ICS II linea parasternalis dextra et sinistra, batas kanan jantung linea parasternalis : dextra, batas kiri jantung ICS VI midclavicula sinistra S1/S2, murmur (-), gallop (-) 15 simetris, retraksi (-)/(-) vokal fremitus dextra = sinistra sonor (+)/(+) vesikuler (+)/(+) : : : : : : 180/110 mmHg 88 x/mnt, reguler, isi tegangan cukup 21 x/mnt 36,80C conj. palpebra anemis (-)/(-), sklera ikterik (-)/(-) JVP (5-2) cmH2O, pemb. KGB (-), pemb. tiroid (-)

Abdomen - I - Pal - Per - A Ekstremitas - Superior - Inferior

: : : : : :

datar lemas, nyeri tekan epigastrium (+), turgor < 2, heparlien tidak teraba Timpani BU (+) N Edema (-)/(-), sianosis (-)/(-) Pitting edema (-)/(-), sianosis (-)/(-),

Gagal Ginjal Kronik stage V on Hemodialisa + DM Tipe II A : Uncontrolled + Hipertensi Grade II + Susp. Katarak Senilis Hipermatur ODS + susp. Benign Prostat Hipertrofi - Posisi setengah duduk - IVFD RL gtt XX/menit (mikro) - Inj. Ceftriaxone 2 x 1 gr I.V - Inj. Furosemid 1 x 1 amp I.V P : - Clonidin tab - Amlodipin tab 1 x 5 mg - O2 2-4 l/m - HD - Rencana konsul dokter Sp. Mata dan dokter Sp. Bedah Tanggal 17 Juli 2013 S O : : Nyeri dada hingga ke ulu hati dan belikat, jantung berdebar, sesak berkurang KU TD N RR Temperatu : : : : tampak sakit sedang 160/100 mmHg 71 x/mnt, irreguler, isi tegangan cukup 26 x/mnt 36,80C 16

r Kepala Leher Thorax - Paru I Pal Per A - Cor I Pal Per A

: : :

conj. palpebra anemis (-)/(-), sklera ikterik (-)/(-) JVP (5+2) cmH2O, pemb. KGB (-), pemb. tiroid (-) simetris, retraksi (-)/(-)

: : : : : : :

vokal fremitus dextra = sinistra sonor (+)/(+) vesikuler (+)/(+) iktus kordis tidak tampak trill tidak teraba batas atas jantung ICS II linea parasternalis dextra et sinistra, batas kanan jantung linea parasternalis dextra, batas kiri jantung ICS VI midclavicula sinistra

S1/S2, murmur (+), gallop (-)

Abdomen - I - Pal - Per - A Ekstremitas - Superior - Inferior

: : : : : :

datar lemas, nyeri tekan epigastrium (+), turgor < 2, hepar teraba 2 jari dibawah arcus costae Timpani BU (+) N Edema (-)/(-), sianosis (-)/(-) Pitting edema (-)/(-), sianosis (-)/(-),

Gagal Ginjal Kronik stage V on Hemodialisa + DM Tipe II A P : : Uncontrolled + Hipertensi Grade II + Susp. Katarak Senilis Hipermatur ODS + HHD-ASHD NYHA III-4 - Posisi setengah duduk - IVFD RL gtt XX/menit (mikro) - Inj. Ceftriaxone 2 x 1 gr I.V 17

- Inj. Furosemid 1 x 1 amp I.V - Amlodipin tab 1 x 5 mg - Rencana konsul dokter Sp. Mata dan dokter Sp. Bedah - Digoxin 1 x 0,25 mg tab - ISDN 2x 10 mg tab - EKG ulang

Tanggal 22 Juli 2013 S O : : KU TD N RR Temperatu r Kepala Leher Thorax - Paru I Pal Per A - Cor I Pal Per A : : : : : : : iktus kordis tidak tampak trill tidak teraba batas atas jantung ICS II linea parasternalis dextra et sinistra, batas kanan jantung linea parasternalis : dextra, batas kiri jantung ICS VI midclavicula sinistra S1/S2, murmur (-), gallop (-) Abdomen 18 simetris, retraksi (-)/(-) vokal fremitus dextra = sinistra sonor (+)/(+) vesikuler (+)/(+) : : : : : : 180/110 mmHg 88 x/mnt, reguler, isi tegangan cukup 21 x/mnt 36,80C conj. palpebra anemis (-)/(-), sklera ikterik (-)/(-) JVP (5-2) cmH2O, pemb. KGB (-), pemb. tiroid (-) : tampak sakit sedang

- I - Pal - Per - A Ekstremitas - Superior - Inferior

: : : : : :

datar lemas, nyeri tekan epigastrium (+), turgor < 2, heparlien tidak teraba Timpani BU (+) N Edema (-)/(-), sianosis (-)/(-) Pitting edema (-)/(-), sianosis (-)/(-),

Gagal Ginjal Kronik stage V on Hemodialisa + DM Tipe II A : Uncontrolled + Hipertensi Grade II + Susp. Katarak Senilis Hipermatur ODS + susp. Benign Prostat Hipertrofi - IVFD RL gtt XX/menit (mikro) - Inj. Ceftriaxone 2 x 1 gr I.V - Inj. Furosemid 1 x 1 amp I.V - Amlodipin tab 1 x 5 mg P : - Rencana konsul dokter Sp. Mata dan dokter Sp. Bedah - Digoxin 1 x 0,25 mg tab - ISDN 2x 10 mg tab - EKG ulang

19

BAB III TINJAUAN PUSTAKA A. DEFINISI Penyakit ginjal kronik adalah suatu proses patofisiologis dengan etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif, dan umumnya berakhir dengan gagal ginjal. Selanjutnya, gagal ginjal adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang ireversibel, pada suatu derajat yang memerlukan terapi pengganti ginjal yang tetap, berupa dialisis atau transplantasi ginjal. Dan ditandai dengan adanya uremia ( retensi urea dan sampah nitrogen lainnya dalam darah). (2) B. KRITERIA (2) Kriteria Penyakit Ginjal Kronik (NKF-KDOQI, 2002) 1. Kerusakan ginjal yang terjadi lebih dari 3 bulan, berupa kelainan struktural atau fungsional, dengan atau tanpa penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG), dengan manifestasi: Kelainan patologis Terdapat tanda kelainan ginjal, termasuk kelainan dalam komposisi darah atau urin, atau kelainan dalam tes pencitraan (imaging tests) 2. Laju filtrasi glomerulus kurang dari 60 ml/menit/1,73m 2 selama 3 bulan, dengan atau tanpa kerusakan ginjal. 20

C. KLASIFIKASI (2) Klasifikasi Penyakit Ginjal Kronik atas Dasar Derajat Penyakit Derajat Penjelasan LFG (ml/mn/1,73m2) 1 Kerusakan ginjal dengan LFG normal 90 2 3 atau Kerusakan ringan Kerusakan ginjal ginjal dengan dengan LFG LFG 60 89 30 59

sedang 4 Kerusakan ginjal dengan LFG berat 15 29 5 Gagal ginjal < 15 atau dialisis Klasifikasi atas dasar penyakit, dibuat atas dasar LFG, yang dihitung dengan mempergunakan rumus Kockcroft Gault sebagai berikut : LFG (ml/mnt/1,73m2) = (140 umur) X berat badan *) 72 X kreatinin plasma (mg/dl) *) pada perempuan dikalikan 0,85 Klasifikasi Penyakit Ginjal Kronik atas Dasar Diagnosis Etiologi Penyakit Tipe mayor ( contoh ) Penyakit ginjal Diabetes tipe 1 dan 2 diabetes Penyakit ginjal non Penyakit glomerular (penyakit autoimun, infeksi diabetes sistemik, obat, neoplasma) Penyakit vaskular ( penyakit pembuluh darah besar, hipertensi, mikroangiopathi) Penyakit tubulointerstitial (pielonefritis kronik, batu, obstruksi, keracunan obat) Penyakit transplantasi Penyakit kistik (ginjal polikistik) pada Rejeksi kronik Keracunan obat (siklosporin / takrolimus) Penyakit recurrent (glomerular) Transplant glomerulopathy D. ETIOLOGI (3) Dua penyebab utama penyakit gagal ginjal kronis adalah diabetes melitus tipe 1 dan tipe 2 (44%) dan hipertensi (27%). Diabetes melitus 21

adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan kadar glukosa dalam darah sehingga menyebabkan kerusakan pada organ-organ vital tubuh seperti ginjal dan jantung serta pembuluh darah, saraf dan mata. Sedangkan hipertensi merupakan keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah yang jika tidak terkontrol akan menyebabkan serangan jantung, stroke, dan penyakit ginjal kronik. Gagal ginjal kronik juga dapat menyebabkan hipertensi. Kondisi lain yang dapat menyebabkan gangguan pada ginjal antara lain : Penyakit peradangan seperti glomerulonefritis (10%), dapat menyebabkan inflamasi dan kerusakan pada unit filtrasi ginjal. Merupakan penyakit ketiga tersering penyebab gagal ginjal kronik Penyakit keturunan seperti penyakit ginjal polikistik (3%) menyebabkan pembesaran kista di ginjal dan merusak jaringan sekitar, dan asidosis tubulus. Malformasi yang didapatkan oleh bayi pada saat berada di dalam rahim si ibu. Contohnya, penyempitan aliran urin normal sehingga terjadi aliran balik urin ke ginjal. Hal ini menyebabkan infeksi dan kerusakan pada ginjal. Lupus dan penyakit lain yang memiliki efek pada sistem imun (2%) Penyakit ginjal obstruktif seperti batu saluran kemih, tumor, pembesaran glandula prostat pada pria danrefluks ureter. Infeksi traktus urinarius berulang kali seperti pielonefritis kronik.

Penggunaan analgesik seperti acetaminophen (Tylenol) dan ibuprofen (Motrin, Advil) untuk waktu yang lama dapat menyebabkan neuropati analgesik sehingga berakibat pada kerusakan ginjal. Penyakit vaskuler hipertensif misalnya nefrosklerosis dan stenosis arteri renalis. 22

Penyebab lainnya adalah infeksi HIV, penyakit sickle cell, penyalahgunaan heroin, amyloidosis, gout, hiperparatiroidisme dan kanker.

E. FAKTOR RESIKO Faktor resiko gagal ginjal kronik diantara lain : pasien dengan diabetes melitus atau hipertensi, obesitas atau perokok, berusia lebih dari 50 tahun, individu dengan riwayat diabetes melitus, hipertensi dan penyakit ginjal dalam keluarga serta kumpulan populasi yang memiliki angka tinggi diabetes atau hipertensi seperti African Americans, Hispanic Americans, Asian, Pacific Islanders, dan American Indians. (4) F. EPIDEMIOLOGI (2) Di Amerika Serikat, data tahun 1995 1999 menyatakan insiden penyakit ginjal kronik diperkirakan 100 kasus perjuta penduduk pertahun, dan angka ini meningkat sekitar 8% setiap tahunnya. Di Malaysia, dengan populasi 18 juta, diperkirakan terdapat 1800 kasus baru gagal ginjal pertahunnya. Di negara negara berkembang lainnya, insiden ini diperkirakan sekitar 40 60 kasus perjuta penduduk pertahun. G. ANATOMI GINJAL(1) Ginjal adalah sepasang organ berbentuk kacang yang terletak di belakang rongga abdomen, satu di setiap sisi kolumna vertebralis sedikit diatas garis pinggang. Setiap ginjal diperdarahi oleh arteri renalis dan vena renalis, yang masing masing masuk dan keluar ginjal dilekukan medial yang menyebabkan organ ini berbentuk seperti buncis. Ginjal mengolah plasma yang mengalir masuk ke dalamnya untuk menghasilkan urin yang kemudian mengalir ke sebuah rongga pengumpul sentral (pelvis renalis) yang terletak pada bagian dalam sisi medial di pusat (inti) kedua ginjal. Lalu dari situ urin disalurkan ke dalam ureter, sebuah duktus berdinding otot polos yang keluar dari batas medial dekat dengan pangkal (bagian proksimal) arteri dan vena renalis. Terdapat dua ureter, yang menyalurkan urin dari setiap ginjal ke sebuah kandung kemih. Kandung kemih ( buli 23

buli) yang menyimpan urin secara temporer, adalah sebuah kantung berongga yang dapat diregangkan dan volumenya disesuaikan dengan mengubah ubah status kontraktil otot polos di dindingnya. Secara berkala, urin dikosongkan dari kandung kemih keluar tubuh melalui sebuah saluran, uretra. Bagian bagian sistem kemih diluar ginjal memiliki fungsi hanya sebagai saluran untuk memindahkan urin keluar tubuh. Setelah terbentuk di ginjal, komposisi dan volume urin tidak berubah pada saat urin mengalir ke hilir melintasi sisi sistem kemih. Setiap ginjal terdiri dari sekitar satu juta satuan fungsional berukuran mikroskopik yang dikenal sebagai nefron, yang disatukan satu sama lain oleh jaringan ikat. Susunan nefron di dalam ginjal membentuk dua daerah khusus : daerah sebelah luar yang tampak granuler ( korteks ginjal) dan daerah bagian dalam yang berupa segitiga segitiga bergaris garis, piramida ginjal, yang secara kolektif disebut medula ginjal. Setiap nefron terdiri dari komponen vaskuler dan komponen tubulus, yang keduanya secara struktural dan fungsional berkaitan erat. Komponen vaskuler dari nefron diantara lain : Arteriol aferen merupakan bagian dari arteri renalis yang sudah terbagi bagi menjadi pembuluh pembuluh halus dan berfungsi menyalurkan darah ke kapiler glomerulus Glomerulus suatu berkas kapiler berbentuk bola tempat filtrasi sebagian air dan zat terlarut dari darah yang melewatinya Arteriol eferen Tempat keluarnya darah yang tidak difiltrasi ke dalam komponen tubulus meninggalkan glomerulus dan merupakan satu satunya arteriol di dalam tubuh yang mendapat darah dari kapiler Kapiler peritubulus Merupakan arteriol eferen yang terbagi bagi menjadi serangkaian kapiler yang kemudian membentuk jalinan mengelilingi sistem 24

tubulus untuk memperdarahi jaringan ginjal dan berperan dalam pertukaran cairan di lumen tubulus. Kapiler kapiler peritubulus menyatu membentuk venula yang akhirnya mengalir ke vena renalis, temoat darah meninggalkan ginjal Komponen tubulus dari setiap nefron adalah saluran berrongga berisis cairan yang terbentuk oleh satu lapisan sel epitel, di antara lain : Kapsula Bowman Suatu invaginasi berdinding rapat yang melingkupi glomerulus untuk mengumpulkan cairan yang difiltrasi oleh kapiler glomerulus Tubulus proksimal Seluruhnya terletak di dalam korteks dan sangat bergelung (berliku liku) atau berbelit si sepanjang perjalanannya. Tubulus proksimal menerima cairan yang difiltrasi dari kapsula bowman Lengkung henle Lengkung tajam atau berbentuk U atau yang terbenam ke dalam medula. Pars desendens lengkung henle terbenam dari korteks ke dalam medula, pars assendens berjalan kembali ke atas ke dalam korteks. Pars assendens kembali ke daerah glomerulus dari nefronnya sendiri, tempat saluran tersebut melewati garpu yang dibentuk oleh arteriol aferen dan arteriol eferen. Dititk ini sel sel tubulus dan sel sel vaskuler mengalami spesialisasi membentuk aparatus jukstaglomerulus yang merupakan suatu struktur yang berperan penting dalam mengatur fungsi ginjal. Tubulus distal Seluruhnya terletak di korteks. Tubulus distal menerima cairan dari lengkung henle dan mengalirkan ke dalam duktus atau tubulus pengumpul Duktus atau tubulus pengumpul Suatu duktus pengumpul yang menerima cairan dari beberapa nefron yang berlainan. Setiap duktus pengumpul terbenam ke

25

dalam medula untuk mengosongkan cairan yang kini telah berubah menjadi urin ke dalam pelvis ginjal Terdapat 2 jenis nefron yaitu nefron korteks dan nefron jukstamedula yang dibedakan berdasarkan lokasi dan panjang sebagian strukturnya. Nefron korteks merupakan jenis nefron yang paling banyak dijumpai dan lengkung tajam dari nefron korteks hanya sedikit terbenam ke dalam medula. Sebaliknya, nefron jukstamedula terletak di lapisan dalam korteks di dekat medula dan lengkungnya terbenam jauh ke dalam medula. Selain itu, kapiler peritubulus nefron jukstamedula membentuk lengkung vaskuler tajam yang dikenal sebagai vasa rekta, yang berjalan berdampingan erat dengan lengkung henle. Susuna paralel dan karakteristik permeabilitas dan transportasi lengkung henle dan vasa rekta berperan penting dalam kemampuan ginjal menghasilkan urin dalam berbagai konsentrasi tergantung kebutuhan tubuh.

26

H. FISIOLOGI GINJAL(1) Ginjal melaksanakan tiga proses dasar dalam menjalankan fungsi regulatorik dan ekskretorik yaitu : (1) filtrasi glomerulus Terjadi filtrasi plasma bebas protein menembus kapiler glomerulus ke dalam kapsula Bowman melalui tiga lapisan yang membentuk membran glomerulus yaitu dinding kapiler glomerulus, lapisan gelatinosa aseluler yang dikenal sebagai membran basal dan lapisan dalam kapsula bowman. Dinding kapiler glomerulus, yang terdiri dari selapis sel endotel gepeng, memiliki lubang lubang dengan banyak pori pori besar 27

atau fenestra, yang membuatnya seratus kali lebih permeabel terhadap H2O dan zat terlarut dibandingkan kapiler di tempat lain. Membran basal terdiri dari glikoprotein dan kolagen dan terselip di antara glomerulus dan kapsula bowman. Kolagen menghasilkan kekuatan struktural, sedangkan glikoprotein menghambat filtrasi protein plasma kecil. Walaupun protein plasma yang lebih besar tidak dapat difiltrasi karena tidak dapat melewati pori pori diatas, pori pori tersebut sebenarnya cukup besar untuk melewatkan albumin dan protein plasma terkecil. Namun, glikoprotein karena bermuatan sangat negatif akan menolak albumin dan pritein plasma lain, karena yang terakhir juga bermuatan negatif. Dengan demikian, protein plasma hampir seluruhnya tidak dapat di filtrasi dan kurang dari 1% molekul albumin yang berhasil lolos untuk masuk ke kapsula bowman. Lapisan dalam kapsula bowman terdiri dari podosit, sel mirip gurita yang mengelilingi berkas glomerulus. Setiap podosit memiliki banyak tonjolan memanjang seperti kaki yang saling menjalin dengan tonjolan podosit di dekatnya. Celah sempit antara tonjolan yang berdekatan dikenal sebagai celah filtrasi, membentuk jalan bagi cairan untuk keluar dari kapiler glomerulus dan masuk ke dalam lumen kapsula bowman. Tekanan yang berperan dalam proses laju filtrasi glomerulus adalah tekanan darah kapiler glomerulus, tekanan onkotik koloid plasma, dan tekanan hidrostatik kapsula bowman. Tekanan kapiler glomerulus adalah tekanan cairan yang ditimbulkan oleh darah di dalam kapiler glomerulus. Tekana darah glomerulus yang meningkat ini mendorong cairan keluar dari glomerulus untuk masuk ke kapsula bowman di sepanjang kapiler glomerulus dan merupakan gaya utama yang menghasilkan filtrasi glomerulus. GFR dapat dipengaruhi oleh jumlah tekanan hidrostatik osmotik koloid yang melintasi membran glomerulus. Tekanan onkotil plasma melawan filtrasi, penurunan konsentrasi protein plasma, sehingga 28

menyebabkan peningkatan GFR. Sedangkan tekanan hidrostatik dapat meningkat secara tidak terkontrol dan dapat mengurangi laju filtrasi. Untuk mempertahankan GFR tetap konstan, maka dapat dikontrol oleh otoregulasi dan kontrol simpatis ekstrinsik. Mekanisme otoregulasi ini berhubungan dengan tekanan darah arteri, karena tekanan tersebut adalah gaya yang mendorong darah ke dalam kapiler glomerulus. Jika tekanan darah arteri meningkat, maka akan diikuti oleh peningkatan GFR. Untuk menyesuaikan aliran darah glomerulus agar tetap konstan, maka ginjal melakukannya dengan mengubah kaliber arterial aferen, sehingga resistensi terhadap aliran darah dapat disesuaikan. Apabila GFR meningkat akibat peningkatan tekanan darah arteri, maka GFR akan kembali menjadi normal oleh konstriksi arteriol aferen yang akan menurunkan aliran darah ke dalam glomerulus. Selain mekanisme otoregulasi, untuk menjaga GFR agar tetap konstan adalah dengan kontrol simpatis ekstrinsik GFR. Diperantarai oleh masukan sistem saraf simpatis ke arteriol aferen untuk mengatur tekanan darah arteri sehingga terjadi perubahan GFR akibat refleks baroreseptor terhadap perubahan tekanan darah. Dalam keadaan normal, sekitar 20% plasma yang masuk ke glomerulus difiltrasi dengan tekanan filtrasi 10 mmHg dan menghasilkan 180 L filtrat glomerulus setiap hari untuk GFR rata rata 125 ml/menit pada pria dan 160 liter filtrat per hari dengan GFR 115 ml/menit untuk wanita. (2) reabsorpsi tubulus Merupakan proses perpindahan selektif zat zat dari bagian dalam tubulus (lumen tubulus) ke kapiler peritubulus agar dapat diangkut ke sistem vena kemudian ke jantung untuk kembali diedarkan. Proses ini meupakan transport aktif dan pasif karena sel sel tubulus yang berdekatan dihubungkan oleh tight junction. Glukosa dan asam amino dereabsorpsi seluruhnya disepanjang tubulus proksimal melalui 29

transport aktif. Kalium dan asam urat hampir seluruhnya direabsorpsi secara aktif dan di sekresi ke dalam tubulus distal. Reabsorpsi natrium terjadi secara aktif di sepanjang tubulus kecuali pada ansa henle pars descendens. H2O, Cl-, dan urea direabsorpsi ke dalam tubulus proksimal melalui transpor pasif. Berikut ini merupakan zat zat yang direabsorpsi di ginjal : a. Reabsorpsi Glukosa Glukosa direabsorpsi secara transpor altif di tubulus proksimal. Proses reabsorpsi glukosa ini bergantung pada pompa Na ATP-ase, karena molekul Na tersebut berfungsi untuk mengangkut glukosa menembus membran kapiler tubulus dengan menggunakan energi. b. Reabsorpsi Natrium Natrium yang difiltrasi seluruhnya di glomerulus, 98 99% akan direabsorpsi secara aktif ditubulus. Sebagian natrium 67% direabsorpsi di tubulus proksimal, 25% dereabsorpsi di lengkung henle dan 8% di tubulus distal dan tubulus pengumpul. Natrium yang direabsorpsi sebagian ada yang kembali ke sirkulasi kapiler dan dapat juga berperan penting untuk reabsorpsi glukosa, asam amino, air dan urea. c. Reabsorpsi Air Air secar apasif direabsorpsi melalui osmosis di sepanjang tubulus. Dari H2O yang difiltrasi, 80% akan direabsorpsi di tubulus proksimal dan ansa henle. Kemudian sisa H2O sebanyak 20% akan direabsorpsi di tubulus distal dan duktus pengumpul dengan kontrol vasopressin. d. Reabsorpsi Klorida Ion klorida yang bermuatan negatif akan direabsorpsi secara pasif mengikuti penurunan gradien reabsorpsi aktif dan natrium yang bermuatan positif. Jumlah Klorida yang direabsorpsikan ditentukan oleh kecepatan reabsorpsi Na 30

e. Reabsorpsi Kalium Kalium difiltrasi seluruhnya di glomerulus, kemudian akan direabsorpsi secara difusi pasif di tubulus proksimal sebanyak 50%, 40% kalium akan dirabsorpsi di ansa henle pars assendens tebal, dan sisanya direabsorpsi di duktus pengumpul f. Reabsorpsi Urea Urea merupakan produk akhir dari metabolisme protein. Ureum akan difiltrasi seluruhnya di glomerulus, kemudian akan direabsorpsi sebagian di kapiler peritubulus, dan urea tidak mengalami proses sekresi. Sebagian ureum akan direabsorpsi di ujung tubulus proksimal karena tubulus kontortus proksimal tidak permeabel terhadap urea. Saat mencapai duktus pengumpul urea akan mulai direabsorpsi kembali. g. Reabsorpsi Fosfat dan Kalsium Ginjal secara langsung berperan mengatur kadar kedua ion fosfat dan kalsium dalam plasma. Kalsium difiltrasi seluruhnya di glomerulus, 40% direabsorpsi di tubulus kontortus proksimal dan 50% direabsorpsi di ansa henle pars assendens. Dalam reabsorpsi kalsium dikendalikan oleh homon paratiroid. Ion fosfat ayng difiltrasi, akan direabsorpsi sebanyak 80% di tubulus kontortus proksimal kemudian sisanya akan dieksresikan ke dalam urin. (3) sekresi tubulus Proses perpindahan selektif zat zat dari darah kapiler peritubulus ke dalam lumen tubulus. Proses sekresi terpenting adalah sekresi H +, K+ dan ion ion organik. Proses sekresi ini melibatkan transportasi transepitel. Di sepanjang tubulus, ion H+ akan disekresi ke dalam cairan tubulus sehingga dapat tercapai keseimbangan asam basa. Asam urat dan K+ disekresi ke dalam tubulus distal. Sekitar 5% dari kalium 31

yang terfiltrasi akan dieksresikan ke dalam urin dan kontrol sekresi ion K+ tersebut diatur oleh hormon antidiuretik. Kemudian hasil dari ketiga proses tersebut adalah terjadinya eksresi urin, dimana semua konstituen plasma yang mencapai tubulus, yaitu yang difiltrasi atau disekresi tetapi tidak direabsorpsi, akan tetap berada di dalam tubulus dan mengalir ke pelvis ginjal untuk eksresikan sebagai urin.

Fungsi spesifik yang dilakukan oleh ginjal, yang sebagian besar ditujukan untuk mempertahankan kestabilan lingkungan cairan eksternal : 1. Mempertahankan keseimbangan H2O dalam tubuh 2. Mengatur jumlah dan konsentrasi sebagian besar ion CES termasuk Na+, Cl-, K+, HCO3-, Ca++, Mg++, SO4=, PO4= dan H+ 3. Memelihara volume plasma yang sesuai, sehingga sangat berperan dalam pengaturan jangka panjang tekanan darah arteri. Fungsi ini dilaksanakan melalui peran ginjal sebagai pengatur keseimbangan garam dan H2O 4. Membantu memelihara keseimbangan asam basa tubuh, dengan menyesuaikan pengeluaran H+ dan HCO3- melalui urin 5. Memelihara osmolaritas (konsentrasi zat terlarut) berbagai cairan tubuh, terutama melalui pengaturan keseimbangan H2O 6. Mengeksresikan (eliminasi) produk produk sisa (buangan) dari metabolisme tubuh. Misalnya urea, asam urat, dan kreatinin. Jika 32

dibiarkan menumpuk, zat zat sisa tersebut bersifat toksik, terutama bagi otak 7. Mengeksresikan banyak senyawa asing. Misalnya obat, zat penambah pada makanan, pestisida, dan bahan bahan eksogen non-nutrisi lainnya yang berhasil masuk ke dalam tubuh 8. Mensekresikan eritropoietin, suatu hormon yang dapat merangsang pembentukan sel darah merah 9. Mensekresikan renin, suatu hormon enzimatik yang memicu reaksi berantai yang penting dalam proses konservasi garam oleh ginjal 10. Mengubah vitamin D menjadi bentuk aktifnya I. PATOFISIOLOGI Patofisiologi penyakit ginjal kronik pada awalnya tergantung pada penyakit yang mendasari, tetapi dalam perkembangan selanjutnya proses yang terjadi kurang lebih sama. Pada gagal ginjal kronik terjadi pengurangan massa ginjal mengakibatkan hipertrofi struktural dan fungsional nefron yang masih tersisa. Hal ini mengakibatkan terjadinya hiperfiltrasi, yang diikuti oleh peningkatan tekanan kapiler dan aliran darah glomerulus. Proses adaptasi ini berlangsung singkat, akhirnya diikuti oleh proses maladaptasi berupa sklerosis nefron yang masih tersisa. Proses ini akhirnya diikuti dengan penurunan fungsi nefron yang progresif. Perubahan fungsi neuron yang tersisa setelah kerusakan ginjal menyebabkan pembentukan jaringan ikat, sedangkan nefron yang masih utuh akan mengalami peningkatan beban eksresi sehingga terjadi lingkaran setan hiperfiltrasi dan peningkatan aliran darah glomerulus. Demikian seterusnya, keadaan ini berlanjut menyerupai suatu siklus yang berakhir dengan Gagal Ginjal Terminal (GGT) atau End Stage Renal Disease (ESRD). Adanya peningkatan aktivitas aksis renin-angiotensin-aldosteron intrarenal, hipertensi sistemik, nefrotoksin dan hipoperfusi ginjal, proteinuria, hiperlipidemia ikut memberikan kontribusi terhadap terjadinya hiperfiltrasi, sklerosis, dan progresifitas tersebut. (2) 33

Dengan adanya penurunan LFG maka akan terjadi : (5) Anemia Gangguan pembentukan eritropoietin di ginjal menyebabkan penurunan produksi eritropoietin sehingga tidak terjadi proses pembentukan eritrosit menimbulkan anemia ditandai dengan penurunan jumlah eritrosit, penurunan kadar Hb dan diikuti dengan penurunan kadar hematokrit darah. Selain itu GGK dapat menyebabkan gangguan mukosa lambung (gastripati uremikum) yang sering menyebabkan perdarahan saluran cerna. Adanya toksik uremik pada GGK akan mempengaruhi masa paruh dari sel darah merah menjadi pendek, pada keadaan normal 120 hari menjadi 70 80 hari dan toksik uremik ini dapat mempunya efek inhibisi eritropoiesis Sesak nafas Karena ada kerusakan pada unit filtrasi ginjal sehingga menyebabkan penurunan perfusi ginjal akhirnya menjadi iskemik ginjal. Hal tersebut menyebabkan terjadinya pelepasan renin yang terdapat di aparatus juxtaglomerulus sehingga mengubah angiotensinogen menjadi angitensin I. Lalu oleh converting enzyme, angiotensin I diubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II merangsang pelepasan aldosteron dan ADH ssehingga menyebabkan retensi NaCl dan air volume ekstrasel meningkat (hipervolemia) volume cairan berlebihan ventrikel kiri gagal memompa darah ke perifer LVH peningkatan tekanan

atrium kiri peningkatan tekanan vena pulmonalis peningkatan tekanan di kapiler paru edema paru sesak nafas Asidosis Pada gagal ginjal kronik, asidosis metabolik dapat terjadi akibat penurunan kemampuan ginjal untuk mengeksresikan ion H + disertai dengan penurunan kadar bikarbonat (HCO3) dan pH 34

plasma. Patogenesis asidosis metabolik pada gagal ginjal kronik meliputi penurunan eksresi amonia karena kehilangan sejumlah nefron, penurunan eksresi fosfat, kehilangan sejumlah bikarbonat melalui urin. Derajat asidosis ditentukan oleh penurunan pH darah. Apabila penurunan pH darah kurang dari 7,35 dapat dikatakan asidosis metabolik. Asidosis metabolik dpaat menyebabkan gejala saluran cerna seperti mual, muntah, anoreksia dan lelah. Salah satu gejala khas akibat asidosis metabolik adalah pernapasan kussmaul yang timbul karena kebutuhan untuk meningkatkan eksresi karbon dioksida untuk mengurangi keparahan asidosis Hipertensi Disebabkan karena ada kerusakan pada unit filtrasi ginjal sehingga menyebabkan penurunan perfusi ginjal akhirnya menjadi iskemik ginjal. Hal tersebut menyebabkan terjadinya pelepasan renin yang terdapat di aparatus juxtaglomerulus sehingga mengubah angiotensinogen menjadi angitensin I. Lalu oleh converting enzyme, angiotensin I diubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II memiliki efek vasokonstriksi kuat sehingga meningkatkan tekanan darah. Hiperlipidemia Penurunan GFR menyebabkan penurunan pemecahan asam lemak bebas oleh ginjal sehingga menyebabkan hiperlipidemia. Hiperurikemia Terjadi gangguan eksresi ginjal sehingga asam urat terakumulasi di dalam darah (hiperurikemia). Kadar asam urat yang tinggi akan menyebabkan pengendapan kristal urat dalam sendi, sehingga sendi akan terlihat membengkak, meradang dan nyeri Hiponatremia Peningkatan eksresi natrium dapat disebabkan oleh pengeluaran hormon peptida natriuretik yang dapat menghambat reabsorpsi 35

natrium pada tubulus ginjal. Bila fungsi ginjal terus memburuk disertai dengan penurunan jumlah nefron, natriuresis akan meningkat. Hiponatremia yang disertai dengan retensi air yang berlebihan akan menyebabkan dilusi natrium di cairan ekstraseluler. Keadaan hiponetremia ditandai dengan gangguan saluran pencernaan berupa kram, diare dan muntah. Hiperfosfatemia Penurunan fungsi ginjal mengakibatkan penurunan eksresi fosfat sehingga fosfat banyak yang berada dalam sirkulasi darah. Jika kelarutannya terlampaui, fosfat akan bergabung deng Ca2+ untuk membentuk kalsium fosfat yang sukar larut. Kalsium fosfat yang terpresipitasi akan mengendap di sendi dan kulit ( berturut-turut menyebabkan nyeri sendi dan pruritus) Hipokalsemia Disebabkan karena Ca2+ membentuk kompleks dengan fosfat. Keadaan hipokalsemia merangsang pelepasan PTH dari kelenjar paratiroid sehingga memobilisasi kalsium fosfat dari tulang. Akibatnya terjadi demineralisasi tulang (osteomalasia). Biasanya PTH mampu membuat konsentrasi fosfat di dalam plasma tetap rendah dengan menghambat reabsorbsinya diginjal. Jadi meskipun terjadi mobilisasi kalsium fosfat dari tulang, produksinya di plasma tidak berlebihan dan konsentrasi Ca2+ dapat meningkat. Namun pada insufisiensi ginjal, eksresinya melalui ginjal tidak dapat ditingkatkan sehingga konsentrasi fosfat di plasma meningkat. Selanjutnya konsentrasi CaHPO4 terpresipitasi dan konsentrasi Ca2+ di plasma tetap rendah. Oleh karena itu, rangsangan untuk pelepasan PTH tetap berlangsung. Dalam keadaan perangsangan yang terus-menerus ini, kelenjar paratiroid mengalami hipertrofi bahkan semakin melepaskan lebih banyak PTH. Kelaina yang berkaitan dengan hipokalsemia adalah hiperfosfatemia, osteodistrofi 36 renal dan hiperparatiroidisme

sekunder. Karena reseptor PTH selain terdapat di ginjal dan tulang, juga terdapat di banyak organ lain ( sistem saraf, lambung, sel darah dan gonad), diduga PTH berperan dalam terjadinya berbagai kelainan di organ tersebut. Pembentukan kalsitriol berkurang pada gahal ginjal juga berperan dalam menyebabkan gangguan metabolisme mineral. Biasanya hormon ini merangsang absorpsi kalsium dan fosfat di usus. Namun karena terjadi penurunan kalsitriol, maka menyebabkan menurunnya absorpsi fosfat di usus, hal ini memperberat keadaan hipokalsemia Hiperkalemia Pada keadaan asidosis metabolik dimana konsentrasi ion H+ plasma meningkat, maka ion hidrogen tersebut akan berdifusi ke dalam sel sel ginjal sehingga mengakibatkan kebocoran ion K + ke dalam plasma. Peningkatan konsentrasi ion H+ dalam sel ginjal akan menyebabkan peningkatan sekresi hidrogen, sedangkan sekresi kalium di ginjal akan berkurang sehingga menyebabkan hiperkalemia. Gambaran klinis dari kelainan kalium ini berkaitan dengan sistem saraf dan otot jantung, rangka dan polos sehingga dapat menyebabkan kelemahan otot dan hilangnya refleks tendon dalam, gangguan motilitas saluran cerna dan kelainan mental. Proteinuria Proteinuria merupakan penanda untuk mengetahui penyebab dari kerusakan ginjal pada GGK seperti DM, glomerulonefritis dan hipertensi. Proteinuria glomerular berkaitan dengan sejumlah penyakit ginjal yang melibatkan glomerulus. Beberapa molekul mekanisme protein menyebabkan besar kenaikan seperti permeabilitas albumin dan glomerulus dan memicu terjadinya glomerulosklerosis. Sehingga berukuran immunoglobulin akan bebas melewati membran filtrasi. Pada

37

keadaan proteinuria berat akan terjadi pengeluaran 3,5 g protein atau lebih yang disebu dengan sindrom nefrotik. Uremia Kadar urea yang tinggi dalam darah disebut uremia. Penyebab dari uremia pada GGK adalah akibat gangguan fungsi filtrasi pada ginjal sehingga dapat terjadi akumulasi ureum dalam darah. Urea dalam urin dapat berdifusi ke aliran darah dan menyebabkan toksisitas yang mempengaruhi glomerulus dan mikrovaskularisasi ginjal atau tubulus ginjal. Bila filtrasi glomerulus kurang dari 10% dari normal, maka gejala klinis uremia mulai terlihat. Pasien akan menunjukkan gejala iritasi traktus gastrointestinal, gangguan neurologis, nafas seperti amonia (fetor uremikum), perikarditis uremia dan pneumonitis uremik. Gangguan pada serebral adapat terjadi pada keadaan ureum yang sangat tinggi dan menyebabkan koma uremikum. J. DIAGNOSIS GEJALA KLINIS Pada gagal ginjal kronik, gejala gejalanya berkembang secara perlahan. Pada awalnya tidak ada gejala sama sekali, kelainan fungsi ginjal hanya dapat diketahui dari pemeriksaan laboratorium. Sejalan dengan berkembangnya penyakit, maka lama kelamaan akan terjadi peningkatan kadar ureum darah semakin tinggi (uremia). Pada stadium ini, penderita menunjukkan gejala gejala fisik yang melibatkan kelainan berbagai organ seperti : Kelainan saluran cerna : nafsu makan menurun, mual, muntah dan fetor uremik Kelainan kulit : urea frost dan gatal di kulit Kelainan neuromuskular : tungkai lemah, parastesi, kram otot, daya konsentrasi menurun, insomnia, gelisah

38

Kelainan kardiovaskular : hipertensi, sesak nafas, nyeri dada, edema Gangguan kelamin : libido menurun, nokturia, oligouria

Pada stadium yang paling dini penyakit ginjal kronik, terjadi kehilangan daya cadang ginjal, pada keadaan mana basal LFG masih normal atau malah meningkat. Kemudian secara perlahan tapi pasti, akan terjadi penurunan fungsi nefron yang progresif, yang ditandai dengan peningkatan kadar urea dan kreatinin serum. Sampai pada LFG sebesar 60 % pasien masih belum merasakan keluhan (asimptomatik), tapi sudah terjadi peningkatan kadar urea dan kreatinin serum. Sampai pada LFG sebesar 30 % mulai terjadi keluhan pada seperti nokturia, badan lemah, mual, nafsu makan kurang dan penurunan berat badan. Sampai pada LFG kurang 30 % pasien memperlihatkan gejala dan tanda uremia yang nyata seperti anemia, peningkatan tekanan darah, gangguan metabolisme fosfor dan kalsium, pruritus, mual, muntah dan lain sebagainya. Pasien juga mudah terkena infeksi seperti infeksi saluran kemih, infeksi saluran nafas, maupun infeksi saluran cerna. Juga akan terjadi gangguan keseimbangan air seperti hipo atau hipervolumia, gangguan keseimbangan elektrolit antara lain natrium dan kalium. Pada LFG di bawah 15 % akan terjadi gejala dan komplikasi yang lebih serius dan pasien sudah memerlukan terapi pengganti ginjal (renal replacement therapy) antara lain dialisis atau transplantasi ginjal. Pada keadaan ini pasien dikatakan sampai pada stadium gagal ginjal. (2) GAMBARAN LABORATORIUM(2) Gambaran laboratorium penyakit ginjal kronik meliputi : a) Sesuai dengan penyakit yang mendasarinya b) Penurunan fungsi ginjal berupa peningakatan kadar ureum dan kreatinin serum, dan penurunan LFG c) Kelainan biokimiawi darah meliputi penurunan kadar hemoglobin, peningkatan kadar asam urat, hiper atau hipokalemia, hiponatremia,

39

hiper atau hipokloremia, hiperfosfatemia, hipokalsemia, asidosis metabolik d) Kelainan urinalisis meliputi proteinuria, hematuria, leukosuria, cast, isostenuria GAMBARAN RADIOLOGIS(2) Pemeriksaan radiologis penyakit ginjal kronik meliputi : a) Foto polos abdomen, bisa tampak batu radio opak b) Pielografi intravena jarang dikerjakan karena kontras sering tidak bisa melewati filter glomerulus, disamping kekhawatiran terjadinya pengaruh toksik oleh kontras terhadap ginjal yang sudah mengalami kerusakan c) Pielografi antegrad atau retrograd sesuai indikasi d) Ultrasonografi ginjal bisa memperlihatkan ukuran ginjal yang mengecil, korteks yang menipis, adanya hidronefrosis atau batu ginjal, kista, massa, kalsifikasi e) Pemeriksaan pemindaian ginjal atau renografi bila ada indikasi BIOPSI DAN PEMERIKSAAN HISTOPATOLOGI GINJAL(2) Dilakukan pada pasien dengan ukuran ginjal yang masih mendekati normal, dimana diagnosis secara noninvasif tidak bisa ditegakkan dan bertujuan untuk mengetahui etiologi, menetapkan terapi, prognosis dan mengev6laluasi hasil terapi yang sudah diberikan. Kontraindikasi pada ukuran ginjal yang mengecil, ginjal polikistik, hipertensi yang tidak terkendali, infeksi perinefrik, gangguan pembekuan darah, gagal nafas, dan obesitas. K. KOMPLIKASI(2) Gagal ginjal kronik dapat menyebabkan berbagai komplikasi sebagai berikut : Hiperkalemia Asidosis metabolik Komplikasi kardiovaskuler ( hipertensi dan CHF ) Kelainan hematologi (anemia) 40

Osteodistrofi renal Gangguan neurologi ( neuropati perifer dan ensefalopati) Tanpa pengobatan akan terjadi koma uremik

L. PENATALAKSANAAN(2) Penatalaksanaan penyakit ginjal kronik meliputi : 1) Terapi spesifik terhadap penyakit dasarnya Waktu yang tepat untuk terapi penyakit dasarnya adalah sebelum terjadinya penurunan LFG. Bila LFG sudah menurun sampai 2030% dari normal, terapi terhadap penyakit dasar sudah tidak banyak bermanfaat. 2) Pencegahan dan terapi terhadap kondisi komorbid Penting sekali untuk mengikuti dan mencatat kecepatan penurunan LFG untuk mngetahui kondisi komorbid yang dapat memperburuk keadaan pasien. 3) Memperlambat perburukan fungsi ginjal Faktor utama penyebab perburukan fungsi ginjal adalah terjadinya hiperfiltrasi glomerulus. Cara untuk mengurangi hiperfiltrasi glomerulus adalah : o Pembatasan asupan protein Karena kelebihan protein tidak dapat disimpan didalam tubuh tetapi di pecah menjadi urea dan substansi nitrogen lain, yang terutama dieksresikan melalui ginjal selain itu makanan tinggi protein yang mengandung ion hydrogen, posfat, sulfat, dan ion anorganik lainnya juga dieksresikan melalui ginjal. Oleh karena itu, pemberian diet tinggi protein pada penderita gagal ginjal kronik akan mengakibatkan penimbunan substansi nitrogen dan ion anorganik lainnya dan mengakibatkan sindrom uremia. Pembatasan asupan protein juga berkaitan dengan pembatasan asupan fosfat, karena protein dan fosfat selalu

41

berasal dari sumber yang sama dan untuk mencegah terjadinya hiperfosfatemia.

Pembatasan Asupan Protein dan Fosfat pada Penyakit LGF ml/menit >60 25 60 Ginjal Kronik Asupan protein Fosfat g/kg/hari

g/kg/hari Tidak dianjurkan Tidak dibatasi 0,6 0,8/kg/hari, < 10 g termasuk tinggi 0,6 termasuk > 0,35 gr/kg/hr nilai biologi

5 -25

0,8/kg/hari, < 10 g > 0,35

gr/kg/hr protein nilai biologi tinggi atau tambahan 0,3 g asam amino esensial <60(sind.nefrotik ) atau asam keton 0,8/kg/hari (+1 gr < 9 g protein/ g proteinuria atau 0,3 g/kg tambahan asam amino esensial atau asam keton o Terapi farmakologi Untuk mengurangi hipertensi intraglomerulus. Pemakaian obat antihipertensi (ACE inhibitor) disamping bermanfaat untuk memperkecil resiko kardiovaskular juga sangat penting untuk memperlambat perburukan kerusakan nefron

42

dengan

mengurangi

hipertensi

intraglomerular

dan

hipertrofi glomerulus 4) Pencegahan dan terapi terhadap penyakit kardiovaskular Dengan cara pengendalian dislipidemia, DM, pengendalian anemia, hipertensi, pengedalian pengedalian pengedalian

hiperfosfatemia dan terapi terhadap kelebihan cairan dan gangguan keseimbangan elektrolit. 5) Pencegahan dan terapi terhadap penyakit komplikasi Anemia Evaluasi terhadap anemia dimulai saaat kadar hemoglobin < 10 g% atau hematokrit < 30% meliputi evaluasi terhadap status besi ( kadar besi serum/serum iron, kapasitas ikat besi total/ total iron binding capacity, feritin serum), mencari (EPO) sumber merupakan perdarahan hal yang morfologi dianjurkan. eritrosit, Sasaran kemungkinan adanya hemolisis,dll. Pemberian eritropoitin hemoglobin adalah 11 12 g/dl. Osteodistrofi renal Penatalaksaan osteodistrofi renal dapat dilakukan melalui : i. Mengatasi hiperfosfatemia Pembatasan asupan fosfat 600 800 mg/hari Pemberian pengikat fosfat, seperti garam, kalsium, alluminium hidroksida, garam magnesium. Diberikan secara oral untuk menghambat absorpsi fosfat yang berasal dari makanan. Garam kalsium yang banyak dipakai adalah kalsium karbonat (CaCO3) dan calcium acetate Pemberian bahan kalsium memetik, yang dapat menghambta reseptor Ca pada kelenjar paratiroid, dengan nama sevelamer hidrokhlorida. 43

ii.

Pemberian kalsitriol Pemakaian dibatasi pada pasien dengan kadar fosfat darah normal dan kadar hormon paratiroid (PTH) > 2,5 kali normal karena dapat meningkatkan absorpsi fosfat dan kaliun di saluran cerna sehingga mengakibatkan penumpukan garam calcium carbonate di jaringan yang disebut kalsifikasi metastatik, disamping itu juga dapat mengakibatkan penekanan yang berlebihan terhadap kelenjar paratiroid.

iii.

Pembatasan cairan dan elektrolit Pembatasan asupan cairan untuk mencegah terjadinya edema dan kompikasi kardiovaskular sangat perlu dilakukan. Maka air yang masuk dianjurkan 500 800 ml ditambah jumlah urin. Elektrolit yang harus diawasi asuapannya adalah kalium dan natrium. Pembatasan kalium dilakukan karena hiperkalemia dapat mengakibatkan aritmia jantung yang fatal. Oleh karena itu, pemberian obat obat yang mengandung kalium dan makanan yang tinggi kalium (seperti buah dan sayuran) harus dibatasi. Kadar kalium darah dianjurkan 3,5 5,5 mEq/lt. Pembatasan natrium dimaksudkan untuk mengendalikan hipertensi dan edema. Jumlah garam natrium terjadi. yang diberikan, disesuaikan dengan tingginya tekanan darah dan derajat edema yang

6) Terapi pengganti ginjal berupa dialisis atau transplantasi ginjal Dilakukan pada penyakit ginjal kronik stadium 5, yaitu pada LFG < 15 ml/mnt. Berupa hemodialisis, peritoneal dialisis atau transplantasi ginjal. 44

M. PROGNOSIS Penyakit GGK tidak dapat disembuhkan sehingga prognosis jangka panjangnya buruk, kecuali dilakukan transplantasi ginjal. Penatalaksanaan yang dilakukan sekarang ini, bertujuan hanya untuk mencegah progresifitas dari GGK itu sendiri. Selain itu, biasanya GGK sering terjadi tanpa disadari sampai mencapai tingkat lanjut dan menimbulkan gejala sehingga penanganannya seringkali terlambat. (3)

45

BAB IV PEMBAHASAN Pada pasien ini, diagnosis Penyakit Ginjal Kronik dapat ditegakkan dari manifestasi klinik yang ada pada penderita yaitu sesak nafas , BAK sedikit, mual dan pusing yang merupakan tanda tanda uremia, tampak anemis dan pucat. Dari hasil pemeriksaan darah terbaru, ureum dan creatinin penderita meningkat sekali dengan hasil ureum 55 mg/dl dan Creatinin 9,2 mg/dl, asam urat 9,5 mg/dl; BSS 149 gr/dl. Dari pemeriksaan kimia urine didapatkan protein ++; eritrosit 50 mg/dl. Dari pemeriksaan CCT didapatkan hasil dibawah < 15. Sesak nafas dapat terjadi karena ada kerusakan pada unit filtrasi ginjal sehingga menyebabkan penurunan perfusi ginjal akhirnya menjadi iskemik ginjal. Hal tersebut menyebabkan terjadinya pelepasan renin yang terdapat di aparatus juxtaglomerulus sehingga mengubah angiotensinogen menjadi angitensin I. Lalu oleh converting enzyme, angiotensin I diubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II merangsang pelepasan aldosteron dan ADH ssehingga menyebabkan retensi NaCl dan air volume ekstrasel meningkat (hipervolemia) volume cairan berlebihan ventrikel kiri gagal memompa darah ke perifer LVH peningkatan tekanan atrium kiri peningkatan tekanan vena pulmonalis peningkatan tekanan di kapiler paru edema paru sesak nafas Dari anamnesis, kemungkinan penyebab gagal ginjal yang terjadi pada pasien disebabkan hipertensi tak terkontrol yang ada pada pasien. Hipertensi mengganggu aliran darah keginjal sehingga Laju Filtrasi Glomerulus menurun dan pada akhirnya menyebabkan gangguan ginjal yang irreversible. Seringnya mengkonsumsi obat obat pengurang rasa sakit mungkin mempercepat perburukan ginjal pada pasien. -Anemia ec. CKD stage V Dasar diagnosis: - Badan lemas, PF: konjunctiva pucat 46

- Laboratorium darah: Hb 8,2 g/dL - CKD Stage V ec. Hipertensi Dasar diagnosis: - Riwayat hipertensi dari 10 tahun yang lalu, riwayat bengkak kaki dan perut - TD : 160/100 mmHg - Laboratorium darah: Ureum : 297 mg/dL Kreatinin : 21,9 mg/dL Klasifikasi atas dasar derajat penyakit dibuat atas dasar LFG yang dihitung dengan mempergunakan rumus Kockcorft-Gault sebagai berikut: LFG (ml/menit/1,73m) = (140-umur)x berat badan / 72x kreatinin plasma (mg/dl)*)*) pada perempuan dikalikan 0,85. Berdasarkan rumus diatas dan dengan memasukkan data pemeriksaan yang ada pada pasien maka didapatkan hasil LFG penderita sebesar 6,95 ml/menit/1,73m. Hasil LFG penderita ini sudah masuk kedalam Penyakit Ginjal Kronik stadium 5. Treatment yang didapatkan penderita bersifat simtomatik untuk mengurangi gejala yang ada dan mengatasi beberapa komplikasi yang terjadi akibat Penyakit Gagal Ginjal Kronik itu sendiri seperti asam folat untuk anemia, Calcium Chanel blocker untuk mengontrol hipertensi. Jika dilihat dari hasil LFG pasien ini, terapi pangganti ginjal sudah merupakan indikasi. Terapi pengganti ginjal dilakukan pada Penyakit Ginjal Kronik stadium 5, yaitu pada LFG kurang dari 15 mL/menit. Terapi pengganti tersebut dapat berupa hemodialisis, peritoneal dialysis atau transplantasi ginjal. Diuretik Loop diberikan untuk mengatasi edema yang terjadi pada pasien. Digoxin dan ISDN diberikan untuk mengatasi aritmia dan nyeri dada yang dirasakan oleh pasien.

47

BAB V KESIMPULAN Gagal ginjal kronik adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang progresif dan ireversibel, pada suatu derajat yang memerlukan terapi pengganti ginjal yang tetap, berupa dialisis atau transplantasi ginjal. Dan ditandai dengan adanya uremia ( retensi urea dan sampah nitrogen lainnya dalam darah). Dua penyebab utama penyakit gagal ginjal kronis adalah diabetes melitus tipe 1 dan tipe 2 (44%) dan hipertensi (27%). Kondisi lain yang dapat menyebabkan gangguan pada ginjal antara lain penyakit peradangan seperti glomerulonefritis (10%) merupakan penyakit ketiga tersering penyebab gagal ginjal kronik. Pada gagal ginjal kronik, gejala gejalanya berkembang secara perlahan. Pada awalnya tidak ada gejala sama sekali, kelainan fungsi ginjal hanya dapat diketahui dari pemeriksaan laboratorium. Sejalan dengan berkembangnya penyakit, maka lama kelamaan akan terjadi peningkatan kadar ureum darah semakin tinggi (uremia). Pada stadium ini, penderita menunjukkan gejala gejala fisik yang melibatkan kelainan berbagai organ seperti kelainan saluran cerna (nafsu makan menurun, mual, muntah dan fetor uremik), kelainan kulit (urea frost dan gatal di kulit), kelainan neuromuskular (tungkai lemah, parastesi, kram otot, daya konsentrasi menurun, insomnia, gelisah), kelainan kardiovaskular (hipertensi, sesak nafas, nyeri dada, edema), kangguan kelamin (libido menurun, nokturia, oligouria). Diagnosis gagal ginjal kronik dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang diperoleh melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan radiologis, serta pemeriksaan biopsi dan histopatologi ginjal. Penatalaksanaan penyakit ginjal kronik meliputi terapi spesifik terhadap 48

penyakit dasarnya, pencegahan dan terapi terhadap kondisi komorbid, memperlambat perburukan fungsi ginjal, pencegahan dan terapi terhadap penyakit kardiovaskular, pencegahan dan terapi terhadap penyakit komplikasi, terapi pengganti ginjal berupa dialisis atau transplantasi ginjal.

49

DAFTAR PUSTAKA
1. Suwitra, K. 2006. Penyakit Ginjal Kronik. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Hlm 581-584. 2. Brenner, B.M., Lazarus, J.M. 2000. Gagal Ginjal Kronik. Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam Volume 3 Edisi 13. Jakarta : EGC. Hlm 1435-1443. 3. Mansjoer, A., Triyanti, K., Savitri,R., et al. 2002. Gagal ginjal Kronik. Kapita Selekta Kedokteran Jilid II Edisi 3. Jakarta : Media Aesculapius FKUI. Hlm 531-534. 4. Suhardjono, Lydia, A., Kapojos, E.J., et al. 2001. Gagal Ginjal Kronik. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi 3. Jakarta : FKUI. Hlm 427434. 5. Tierney LM, et al. 2003. Gagal Ginjal Kronik. Diagnosis dan Terapi Kedokteran Penyakit Dalam Buku 1. Jakarta: Salemba Medika.

50

51