Anda di halaman 1dari 37

Robekan Selaput Dara pada Anak Dibawah Umur

Winda Anastesya Nim : 10.2009.246 Alamat Email: Anastesya13@ymail.com Universitas Kristen Krida Wacana Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta 11510 @2013

Skenario Pbl 3 Seorang ibu muda bersama dengan seorang anak perempuannya yang berusia 11 tahun datang ke poliklinik anak di sebuah rumah sakit. Setelah berada di dalam ruang periksa, si ibu menjelaskan bahwa anaknya mengeluh sakit bila inginkencing sejak dua hari yang lalu. Dalam wawancara berikutnya dokter tidak memperoleh keterangan lain, maka dokter pun memulai melakukan pemeriksaaan fisik si anak. Pada pemeriksaan fisik dokter menemukan robekan lama selaput dara disertai dengan erosi dan peradangan jaringan vulva sisi kanan. Dokter berkesimpulan bahwa sangat besar kemungkinan terjadi persetubuhan beberapa hari sebelumnya. Dokter pun lebih intensif

mengorek keterangan dari si anak dan si ibu. Akhirnya terungkaplah fakta bahwa si anak telah di setubuhi oleh seorang laki laki yang telah lama dikenal sebagai pacar si ibu. Si ibu telah bercerai 3 tahun dengan suaminya ( ayah si anak) dan saat ini sedang menjalin hubungan dengan laki laki lain sebagai pacarnya. Si ibu meminta kepada dokter agar jangan membawa kasus ini ke polisi karena ia akan malu dibuatnya. Ia berjanji untuk memutuskan hubungan dengan si laki laki tersebut agar kejadian serupa tidak terulang lagi. Dokter menilai bahwa pasien perlu dikonsultasikan kepada ahlinya.

I. ASPEK HUKUM Undang-Undang Tentang Kejahatan Seksual Persetubuhan yang merupakan kejahatan seperti yang dimaksudkan oleh undangundang, dapat dilihat pada pasal-pasal yang tertera pada bab XIV KUHP, yaitu bab tentang
1|EMERGENCY MEDICINE II

kejahatan terhadap kesusilaan; yang meliputi baik persetubuhan di dalam perkawinan maupun persetubuhan di luar perkawinan.

KUHP pasal 284 (1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan: 1a. Seorang pria telah kawin yang melakukan gendak (overspel), padahal diketahui, bahwa pasal 27 BW (Burgerlyk Wetboek) berlaku baginya. b. Seorang wanita telah kawin yang melakukan gendak, padahal diketahui, bahwa pasal 27 BW (Burgelyk Wetboek) berlaku baginya. 2a. Seorang pria yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal diketahui, bahwa yang turut bersalah telah kawin. b. Seorang wanita tidak kawin yang turut serta melakukan perbuatan itu padal diketahui olehnya, bahwa yang turut bersalah telah kawin dan pasal 27 BW (Burgerly Wetboek) berlaku baginya. (2) Tidak dilakukan penuntutan melainkan atas pengaduan suami/istri yang tercemar, dan bilamana bagi mereka berlaku pasal 27 BW, dalam tempo tiga bulan diikuti dengan permintaan bercerai atau pisah meja dan tempat tidur, karena alasan itu juga. (3) Terhadap pengaduan ini tidak berlaku pasal 72, 73, dan 75. (4) Pengaduan dapat ditarik kembali selama pemeriksaan dalam sidang pengadilan belum dimulai. (5) Jika bagi suami istri berlaku pasal 27 BW, pengaduan ini tidak diindahkan selama perkawinan belum diputuskan karena perceraian atau sebelum keputusan yang menyatakan pisah meja dan tempat tidur menjadi tetap.

BW pasal 27 Dalam waktu yang sama seorang laki hanya diperbolehkan mempunyai satu orang perempuan sebagai istrinya, seorang perempuan hanya satu orang laki sebagai suaminya.
2|EMERGENCY MEDICINE II

KUHP pasal 285 Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan, dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.

KUHP pasal 286 Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, padahal diketahui bahwa wanita itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.

KUHP pasal 287 (1) Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, padahal diketahui atau sepatutnya harus diduga, bahwa umurnya belum lima belas tahun, atau kalau umurnya tidak ternyata, bahwa belum mampu dikawin, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. (2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan, kecuali jika umurnya wanita belum sampai dua belas tahun atau jika ada salah suatu hal tersebut pasal 291 dan pasal 294.

KUHP pasal 288 (1) Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di dalam perkawinan, yang diketahui atau sepatutnya harus diduga bahwa belum mampu dikawin, diancam, apabila perbuatan mengakibatkan luka-luka dengan pidana penjara paling lama empat tahun. (2) Jika perbuatan mengakibatkan luka berat, dijatuhkan pidana penjara paling lama delapan tahun. (3) Jika mengakibatkan mati, dijatuhkan pidana penjara paling lama dua belas tahun.

3|EMERGENCY MEDICINE II

KUHP pasal 289 Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan, dengan pidana pejara paling lama sembilan tahun.

KUHP pasal 290 Diancam dengan pidana paling lama tujuh tahun: 1: barang siapa melakukan perbuatan cabul, dengan seorang padahal diketahui, bahwa orang itu pingsan atau tidak berdaya; 2: barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seorang padahal diketahui atau sepatutnya harus diduga, bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalu umurnya tidak ternyata, bahwa belum mampu dikawin. 3: barang siapa membujuk seorang yang diketahui atau sepatutnya harus diduga, bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalu umurnya tidak ternyata, bahwa belum mampu dikawin, untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, atau bersetubuh di luar perkawinan dengan orang lain.

KUHP pasal 291 (1) Jika salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 286, 287, 289, dan 290 mengakibatkan luka-luka berat, dijatuhkan pidana penjara paling lama 12 tahun. (2) Jika salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 285, 286, 287, dan 290 itu mengakibatkan mati, dijatuhkan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

KUHP pasal 292 Orang yang cukup umur, yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain sama kelamin, yang diketahui atau sepatutnya harus diduga, bahwa belum cukup umur, deancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun.

4|EMERGENCY MEDICINE II

KUHP pasal 293 (1) Barang siapa dengan memberi atau menjanjikan uang atau barang, menyalahgunakan perbawa yang timbul dari hubungan keadaan, atau dengan menyesatkan sengaja menggerakkan seorang belum cukup umur dan baik tingkahlakunya, untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul dengan dia, padahal tentang belum cukup umurnya itudiketahui atau selayaknya harus diduga, diancam dengan pidana penjara lima tahun. (2) Penuntutan hanya dilakuan atas pngaduan orang yang terhadap dirinya dilakukan kejahatan itu. (3) Tenggang tersebut dalam pasal 74, bagi pengaduan ini adalah masing-masing 9 bulan dan 12 bulan.

KUHP pasal 294 Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya, anak tirinya, anak angkatnya, anak di bawah pengawasannya, yang belum cukup umur, atau dengan orang yang belum cukup umur pemeliharaannya, pendidikan atau penjagaannya diserahkan kepadanya, diancam dengan pidana penjarapaling lama tujuh tahun: 1: pejabat yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang karena jabatan adalah bawahannya, atau dengan orang yang penjagaannya dipercayakan atau diserahkan kepadanya: 2: seorang pengurus, dokter, guru, pegawai, pengawas atau pesuruh dalam penjara, tempat pekerjaan negara, tempat pemudikan, rumah piatu, rumah sakit, rumah sakit ingatan atau lembaga sosial, yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang dimasukkan ke dalamnya.

KUHP pasal 295 (1) Diancam: 1: dengan pidana penjara paling lama 5 tahun, barang siapa dengan sengaja menghubungkan atau memudahkan dilakukannya perbuatan cabul oleh anaknya, anak tirinya, anak angkatnya, atau anak di bawah pengawasannya yang belum cukup umur,
5|EMERGENCY MEDICINE II

atau oleh orang yang belum cukup umur yang pemeliharaannya, pendidikan, atau penjagaannya diserahkan kepadanya, atau pun oleh bujangnya atau bawahannya yang belum cukup umur, dengan orang lain; 2: dengan pidana penjara paling lama empat tahun, barang siapa dengan sengaja menghubungkan atau memudahkan perbuatan cabul kecuali tersebut ke-1 di atas yang dilakukan oleh orang yang diketahui belum cukup umurnya atau yang sepatutnya harus diduga demikian, dengan orang lain. (2) Jika yang bersalah, melakukan keahatan itu sebagai pencaharian atau kebiasaan, maka pidana dapat ditambah sepertiga.

KUHP pasal 296 Barang siapa dengan sengaja menghubungkan atau memudahkan perbuatan cabul oleh orang lain dengan orang lain, dan menjadikannya sebagai pencaharian atau kebiasaan, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan, atau denda paling banyak seribu rupiah.1-3

HUKUM PERLINDUNGAN ANAK Dengan dasar Lex specialis derogat legi generalis, yaitu hukum yang lebih spesifik dapat menggantikan hukum yang lebih umum, maka kasus kejahatan seksual pada anak dibawah 12 tahun tersebut dapat tetap dilaporkan kepada polisi tanpa aduan dari korban maupun walinya. KUHP pasal 287 di atas dapat digantikan oleh Undang Undang RI No. 23 tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Hal ini dapat kita lihat pada Pasal 17 yang berbunyi : (1) Setiap anak yang dirampas kebebasannya berhak untuk : a. mendapatkan perlakuan secara manusiawi dan penempatannya dipisahkan dari orang dewasa; b. memperoleh bantuan hukum atau bantuan lainnya secara efektif dalam setiap tahapan upaya hukum yang berlaku; dan
6|EMERGENCY MEDICINE II

c. membela diri dan memperoleh keadilan di depan pengadilan anak yang objektif dan tidak memihak dalam sidang tertutup untuk umum. (2) Setiap anak yang menjadi korban atau pelaku kekerasan seksual atau yang berhadapan dengan hukum berhak dirahasiakan.

Dan Pasal 18 yang berbunyi : Setiap anak yang menjadi korban atau pelaku tindak pidana berhak mendapatkan bantuan hukum dan bantuan lainnya.

Selain itu Pasal 78 juga menerangkan mengenai kewajiban setiap orang untuk melapor ke polisi. Setiap orang yang mengetahui dan sengaja membiarkan anak dalam situasi darurat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60, anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari kelompok minoritas dan terisolasi, anak yang tereksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual, anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza), anak korban penculikan, anak korban perdagangan, atau anak korban kekerasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59, padahal anak tersebut memerlukan pertolongan dan harus dibantu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Jadi dokter harus menjelaskan kepada ibunya bahwa menurut hukum ia wajib membantu anaknya dengan melaporkan kasus ini kepada polisi. Selain itu pasal pasal yang memuat ketentuan lebih rinci mengenai perlindungan anak ini adalah : Pasal 1 Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan :

7|EMERGENCY MEDICINE II

1. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. 2. Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hakhaknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. 3. Perlindungan khusus adalah perlindungan yang diberikan kepada anak dalam situasi darurat, anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari kelompok minoritas dan terisolasi, anak yang dieksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual, anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza), anak korban penculikan, penjualan, perdagangan, anak korban kekerasan baik fisik dan/atau mental, anak yang menyandang cacat, dan anak korban perlakuan salah dan penelantaran.

Pasal 3 Perlindungan anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia, dan sejahtera.

Pasal 4 Setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Pasal 13 (1) Setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali, atau pihak lain mana pun yang bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapat perlindungan dari perlakuan:
8|EMERGENCY MEDICINE II

a. diskriminasi; b. eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual; c. penelantaran; d. kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan; e. ketidakadilan; dan f. perlakuan salah lainnya. (2) Dalam hal orang tua, wali atau pengasuh anak melakukan segala bentuk perlakuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), maka pelaku dikenakan pemberatan hukuman.

Penjelasan Pasal 13 (1)f. Perlakuan salah lainnya, misalnya tindakan pelecehan atau perbuatan tidak senonoh kepada anak.

Pasal 81 (1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah). (2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku pula bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.

Pasal 82 Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan
9|EMERGENCY MEDICINE II

atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).1,4

A. PROSEDUR HUKUM 1. Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Pemeriksaan 1.1. Memiliki permintaan tertulis dari penyidik Untuk dapat melakukan pemeriksaan yang berguna untuk peradilan, dokter harus melakukannya berdasarkan permintaan tertulis dari penyidik yang berwenang. Korban harus diantar oleh polisi karena tubuh korban merupakan benda bukti. Apabila korban datang sendiri dengan membawa surat permintaan dari polisi, korban jangan diperiksa dahulu tetapi diminta untuk kembali kepada polisi dan datang bersama polisi.5-8 Visum et Repertum dibuat hanya berdasarkan atas keadaan yang didapatkan pada tubuh korban pada saat permintaan Visum et Repertum diterima oleh dokter. Jika dokter telah memeriksa korban yang datang di rumah sakit, atau di tempat praktek atas inisiatif korban sendiri tanpa permintaan polisi, lalu beberapa waktu kemudian polisi mengajukan permintaan untuk dibuatkan Visum et Repertum, maka hasil pemeriksaan sebelumnya tidak boleh dicantumkan dalam Visum et Repertum karena segala sesuatu yang diketahui dokter tentang diri korban sebelum ada pemintaan untuk dibuatkan Visum et Repertum merupakan rahasia kedokteran yang wajib disimpannya (KUHP pasal 322).5-8 Dalam hal demikian, korban harus dibawa kembali untuk diperiksa dan Visum et Repertum dibuat berdasarkan keadaan yang ditemukan pada waktu permintaan diajukan. Hasil pemeriksaan yang lalu tidak dicantumkan dalam bentuk Visum et Repertum, tetapi dalam bentuk surat keterangan.5-8 1.2. Informed Consent Sebelum memeriksa, dokter harus mendapatkan surat ijin terlebih dahulu dari pihak korban, karena meskipun sudah ada surat permintaan dari polisi, belum tentu korban
10 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I

menyetujui dilakukannya pemeriksaan atas dirinya. Selain itu, bagian yang akan diperiksa meliputi daerah yang bersifat pribadi. Jika korban sudah dewasa dan tidak ada gangguan jiwa, maka dia berhak memberi persetujuan, saudaranya atau pihak keluarga tidak berhak memberikan persetujuan. Sedangkan jika korban anak kecil dan jiwanya terganggu, maka persetujuan diberikan oleh orang tuanya atau saudara terdekatnya, atau walinya.1-3 Dalam melakukan pemeriksaan, tempat yang digunakan sebaiknya tenang dan dapat memberikan rasa nyaman bagi korban. Oleh karena itu, perlu dibatasi jumlah orang yang berada dalam kamar pemeriksaan, hanya dokter, perawat, korban, dan keluarga atau teman korban apabila korban menghendakinya. Pada saat memeriksa, dokter harus didampingi oleh seorang perawat atau bidan.1-3 1.3. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan secepat mungkin Korban sebaiknya tidak dibiarkan menunggu dengan perasaan was-was dan cemas di kamar periksa. Pemeriksa harus menjelaskan terlebih dahulu tindakan-tindakan yang akan dilakukan pada korban dan hasil pemeriksaan akan disampaikan ke pengadilan.Visum et Repertum diselesaikan secepat mungkin agar perkara dapat cepat diselesaikan.3

II.

PROSEDUR MEDIKOLEGAL Prosedur medikolegal adalah tata cara atau prosedur penatalaksanaan dan berbagai

aspek yang berkaitan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum. Secara garis besar prosedur medikolegal mengacu kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, dan pada beberapa bidang juga mengacu kepada sumpah dokter dan etika kedokteran.8 Setiap pemeriksaan untuk pengadilan harus berdasarkan permintaan tertulis dari penyidik yang berwenang. Korban harus dihantar oleh polisi karena tubuh korban merupakan bahan bukti.1-8 Jika korban dibawa ke dokter untuk mendapatkan pertolongan medis, maka dokter punya kewajiban untuk melaporkan kasus tersebut ke polisi atau menyuruh keluarga korban untuk melapor ke polisi. Korban yang melapor terlebih dahulu ke polisi pada akhirnya juga

11 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I

akan dibawa ke dokter untuk mendapatkan pertolongan medis sekaligus pemeriksaan forensik untuk dibuatkan visum et repertumnya.1-8 III.1. Kewajiban Dokter Membantu Peradilan a. Pasal 133 KUHAP (1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.4 (2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan bedah mayat.4 (3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilakukan dengan diberi cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.4

b. Pasal 179 KUHAP (1) Setiap orang yang dimana pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.4 (2) Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya.4

III.2. Hak Menolak Menjadi Saksi/Ahli a. Pasal 120 KUHAP (1) Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat minta pendapat orang ahli atau orang yang memiliki keahlian khusus.4 (2) Ahli tersebut mengangkat sumpah atau mengucapkan janji di muka penyidik bahwa ia akan memberi keterangan menurut pengetahuannya yang sebaikbaiknya kecuali bila disebabkan karena harkat serta martabat, pekerjaan atau

12 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I

jabatannya yang mewajibkan ia menyimpan rahasia dapat menolak untuk memberikan keterangan yang diminta.4

b. Pasal 168 KUHAP Kecuali ditentukan lain dalam undang-undang ini, maka tidak dapat didengar keterangannya dan dapat mengundurkan diri sebagai saksi: (1) Keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai derajat ketiga dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa.4 (2) Saudara dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa, saudara ibu atau saudara bapak, juga mereka yang mempunyai hubungan karena perkawinan dan anak-anak saudara terdakwa sampai derajat ketiga.4 (3) Suami atau istri terdakwa meskipun sudah bercerai atau yang bersama-sama sebagai terdakwa.4

c. Pasal 170 KUHAP (1) Mereka yang karena pekerjaan, harkat martabat atau jabatannya diwajibkan menyimpan rahasia, dapat minta dibebaskan dari kewajiban untuk memberi keterangan sebagai saksi, yaitu tentang hal yang dipercayakan kepada mereka.4 (2) Hakim menentukan sah atau tidaknya segala alasan untuk permintaan tersebut.4

III.3. Sangsi Bagi Pelanggar Kewajiban Dokter a. Pasal 216 KUHP Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasanya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan, (1) Diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah.4 (2) Disamakan dengan pejabat tersebut di atas, setiap orang yang menurut undangundang terus meneruus atau untuk sementara waktu diserahi tugas menjalankan jabatan umum.4
13 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I

(3) Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya pemidanaan yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka pidananya dapat ditambah sepertiga.4 b. Pasal 222 KUHP Barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.4

III.4. Rahasia Jabatan dan Pembuatan SKA/VetR III.4.1. Peraturan Pemerintah no 10 tahun 1966 Tentang Wajib Simpan Rahasia Kedokteran Pasal 3 PP No 10/1966 Yang diwajibkan menyimpan rahasia yang dimaksud dalam pasal 1 ialah: (1) Tenaga kesehatan menurut pasal 2 UU tentang tenaga kesehatan.4 (2) Mahasiswa kedokteran, murid yang bertugas dalam lapangan pemeriksaan, pengobatan dan atau perawatan, dan orang lain yang ditetapkan oleh menteri kesehatan.4 III.4.2. Pasal 322 KUHP (1) Barang siapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib disimpannya karena jabatan atau pencariannya baik yang sekarang maupun yang dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama sembulan bulan atau pidana denda paling banyak sembilan ribu rupiah.4 (2) Jika kejahatan dilakukan terhadap seseorang tertentu, maka perbuatan itu hanya dapat dituntut atas pengaduan orang lain.4 III.4.3. Pasal 49 KUHP (1) Tidak dipidana, barang siapa melakukan perbuatan pembelaan terpaksa untuk diri sendiri maupun untuk orang lain, kehormatan kesusilaan atau harta benda sendiri maupun orang lain, karena ada serangan atau ancaman serangan yang sangat dekat pada saat itu yang melawan hokum.4 (2) Pembelaan terpaksa yang melampaui batas, yang langsing disebabkan keguncangan jiwa yang hebat karena serangan atau ancaman serangan itu, tidak dipidana.4

14 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I

III.5. Keterangan Palsu a. Pasal 267 KUHP (1) Seorang dokter yang dengan sengaja memberi surat keterangan palsu tentang ada atau tidaknya penyakit, kelemahan atau cacat, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan.4 (2) Jika keterangan diberikan dengan maksud untuk memasukkan seorang ke dalam rumah sakit gila atau untuk menahannya di situ, dijatuhkan pidana penjara paling lama delapan tahun enam bulan.4 (3) Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa dengan sengaja memakai surat keterangan palsu itu seolah-olah isinya sesuai dengan kebenaran.4 b. Pasal 7 KODEKI Seorang dokter hanya memberikan keterangan atau pendapat yang dapat dibuktikan kebenarannya.4

PEMERIKSAAN MEDIS
Pemeriksaan kasus kasus yang merupakan persetubuhan yang merupakan tindak pidana hendaknya dilakukan dengan teiti dan waspada. Pemeriksa harus yakin akan semua bukti bukti yang ditemukannya karena berbeda dengan di klinik, ia tidak lagi mempunyai kesempatan untuk melakukan pemeriksaan ulang guna memperoleh lebih banyak bukti. Tetapi dalam melaksanakan kewajibannya, dokter jangan sampai meletakkan kepentingan si korban di bawah kepentingan pemeriksaan, terutama bila si korban adalah anak anak. Hendaknya pemeriksaan tidak sampai menambah trauma psikis yang sudah di deritanya.4 Visum et Repertum yang dihasilkan mungkin menjadi dasar untuk membebaskan terdakwa dari penuntutan atau sebaliknya untuk menjatuhkan hukuman. Di Indonesia pemeriksaan korban persetubuhan yang diduga merupakan tindak kejahatan seksual umumnya dilakukan oleh dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan, kecuali di tempat yang tak ada dokter ahli demikian, dokter umumlah yang harus melakukan pemeriksaan tersebut.1 Sebagai ahli klinis yang perhatian utamanya tertuju pada kepentingan pengobatan penderita, memang agak sukar untuk melaukan pemeriksaan yang berhubungan dengan kejahatan. Sebaiknya korban kejahatan seksual dianggap sebagai orang yang telah mengalami cedera

15 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I

fisik dan atau mental sehingga sebaiknya pemeriksaan ditangani oleh dokter klinik. Penundaan pemeriksaan dapat memberikan hasil yang kurang memuaskan.1 Pada tindak pidana di atas perlu dibuktikan telah terjadi persetubuhan dan telah terjadi paksaan dengan kekerasan atau dengan ancaman kekerasan. Dokter dapat menentukan apakah persetubuhan telah terjadi atau tidak, dan apakah terdapat tanda tanda kekerasan. Tetapi ia tidak dapat menentukan apakah terdapat unsur paksaan dalam pidana ini. Ditemukannya tanda kekerasan pada tubuh korban tidak selalu merupakan akibat paksaan, mungkin juga disebabkan oleh hal lain yang tidak ada hubungannya dengan paksaan. Demikian pula jika dokter tidak menemukan tanda kekerasan, maka hal itu belum merupakan bukti tidak terjadi paksaan.1 Pada hakekatnya dokter tak dapat menentukan unsur paksaan yang terdapat pada tindak pidana perkosaan, sehingga ia juga tidak mungkin menentukan apakah perkosaan telah terjadi. Yang berwenang untuk menentukan hal tersebut adalah hakim, karena perkosaan adalah pengertian hukum, bukan istilah medis, sehingga dokter jangan menggunakan istilah perkosaan dalam Visum et Repertum.5 Jika terbukti bahwa si terdakwa telah sengaja membuat wanita itu pingsan atau tidak berdaya ia dapat dituntut telah melakukan tindak pidana perkosaan karena dengan membuat wanita itu pingsan atau tidak berdaya ia telah melakukan kekerasan. Jika umur korban belum cukup 15 tahun tetapi sudah diatas 12 tahun, penuntutan baru dilakukan bila ada pengaduan dari yang bersangkutan. Jadi dengan keadaan itu persetubuhan tersebut merupakan delik aduan, bila tidak ada pengaduan, tidak ada penuntutan. Tetapi akan berbeda jika : a. Umur korban belum cukup 12 tahun. b. Korban yang belum cukup 15 tahun itu menderita luka berat atau mati akibat perbuatan itu ( KUHP pasal 291 ), atau c. Korban yang belum cukup 15 tahun itu adalah anaknya, anak tirinya, muridnya, anak yang berada di bawah pengawasannya, bujangnya atau bawahannya ( pasal 294 ). Dalam keadaan di atas, penuntutan dapat dilakukan walaupun tidak ada pengaduan karena bukan lagi merupakan delik aduan.1

16 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I

Anamnesis Pada umumnya anamnesis yang diberikan oleh orang sakit dapat dipercaya, sebaliknya anamnesis yang diperoleh dari korban tidak selalu benar. Untuk orangtua korban dan tersangka hanya dilakukan penanyaan berkaitan dengan informed consent. Untuk lebih lanjutnya, penyidik yang akan menanyai tersangka dan orangtua yang mengantar. Terdorong oleh berbagai maksud atau perasaan, misalnya maksud untuk memeras, rasa dendam, menyesal atau karena takut pada ayah atau ibu, korban mungkin mengemukakan hal-hal yang tidak benar. Anamnesis merupakan suatu yang tidak dapat dilihat atau ditemukan oleh dokter sehingga bukan merupakan pemeriksaan yang obyektif, sehingga seharusnya tidak dimasukkan dalam Visum et Repertum. Anamnesis dibuat terpisah dan dilampirkan pada Visum et Repertum dengan judul keterangan yang diperoleh dari korban. Dalam mengambil anamnesis, dokter meminta pada korban untuk menceritakan segala sesuatu tentang kejadian yang dialaminya dan sebaiknya terarah. Anamnesis terdiri dari bagian yang bersifat umum dan khusus.1

a. Anamnesis umum Pengumpulan data tentang umur, tanggal dan tempat lahir, status perkawinan, siklus haid, penggunaan obat-obatan, penyakit kelamin dan penyakit kandungan serta adanya penyakit lain : epilepsy, katalepsi, syncope. Cari tahu pula apakah pernah bersetubuh? Persetubuhan yang terakhir? Apakah menggunakan kondom? Keluhan saat pemeriksaan?1

Penentuan umur korban amat perlu ditentukan pada pemeriksaan medis, karena hal itu menentukan jenis delik (delik aduan atau bukan), jenis pasal yang dilanggar dan jumlah hukuman yang dapat dijatuhkan. Dalam hal korban mengetahui secara pasti tanggal lahirnya/umurnya, apalagi jika dikuatkan oleh bukti diri (KTP,SIM dsb) , maka umur dapat langsung disimpulkan dari hal tersebut. Akan tetapi jika korban tak mengetahui umurnya secara pasti maka perlu diperiksa erupsi gigi molar II dan molar III. Gigi molar II mengalami erupsi pada usia kurang lebih 12 tahun, sedang gigi molar III pada usia 17 sampai 21 tahun. Untuk wanita yang telah tumbuh molar IInya, perlu dilakukan foto rongent gigi. Jika setengah sampai seluruh mahkota molar III sudah mengalami mineralisasi (terbentuk) , tapi akarnya belum maka usianya kurang dari 15 tahun. Kriteria sudah tidaknya wanita mengalami haid pertama atau menarche tak dapat dipakai untuk menentukan umur karena usia menarch saat ini tidak lagi pada usia 15 tahun tetapi seringkali jauh lebih muda dari itu.6

17 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I

b. Anamnesis khusus. Hal khusus yang perlu diketahui adalah waktu kejadian; tanggal dan jam. Bila waktu antara kejadian dan pelaporan kepada yang berwajib berselang beberapa hari atau minggu, dapat diperkirakan bahwa peristiwa itu bukan peristiwa perkosaan, tetapi persetubuhan yang pada dasarnya tidak disetujui oleh wanita yang bersangkutan. Karena berbagai alasan, misalnya perempuan itu merasa tertipu, cemas akan menjadi hamil atau selang beberapa hari baru diketahui ayah atau ibu dan karena ketakutan mengaku bahwa ia telah disetubuhi dengan paksa. Jika korban benar telah diperkosa biasanya akan segera melapor. Tetapi saat pelaporan yang terlambat mungkin juga disebabkan karena korban diancam untuk tidak melapor kepada polisi. Dari data ini dokter dapat mengerti mengapa ia tidak dapat menemukan lagi spermatozoa, atau tanda-tanda lain dari persetubuhan. Tanyakan pula di mana tempat terjadinya. 1 Sebagai petunjuk dalam pencarian trace evidence yang berasal dari tempat kejadian, misalnya rumput, tanah, dan sebagainya yang mungkin melekat pada pakaian atau tubuh korban. Sebaliknya petugas pun dapat mengetahui di mana harus mencari trace evidence yang ditinggalkan oleh korban atau pelaku. Perlu diketahui apakah korban melawan. Jika korban melawan maka pakaian mungkin ditemukan robekan, pada tubuh korban mungkin ditemukan tanda-tanda bekas kekerasan dan pada alat kelamin mungkin terdapat bekas perlawanan. Kerokan kuku mungkin menunjukkan adanya sel-sel epitel kulit dan darah yang berasal dari pemerkosa atau penyerang. Cari tahu apakah korban pingsan. Ada kemungkinan korban menjadi pingsan karena ketakutan tetapi mungkin juga korban dibuat pingsan oleh laki-laki pelaku dengan pemberian obat tidur atau obat bius. Tanyakan apakah terjadi penetrasi dan ejakulasi, apakah setelah kejadian, korban mencuci, mandi dan mengganti pakaian. Tanyakan juga mengenai pelaku, apakah ia dikenal atau tidak? Berapa orang pelaku? Usia pelaku dan hubungan dengan korban?

PEMERIKSAAN FISIK KORBAN Pakaian Pakaian ditentukan helai demi helai dan dilihat apakah terdapat robekan lama atau baru sepanjang jahitan atau melintang pada pakaian, kancing terputus akibat tatikan, bercak darah, air mani, lumpur dan lain-lain yang mungkin berasal dari tempat kejadian.

18 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I

Dicatat juga apakah pakaian rapi atau tidak, benda yang melekat dan pakaian yang mengandung trace evidence dikirim ke laboratorium. Pemeriksaan Tubuh 1. Dijelaskan penampilan, keadaan emosional dan tanda-tanda bekas hilang kesedaran atau diberikan obat seperti needle marks. Pada kasus yang diduga terjadi kehilangan kesadaran hendaklah dilakukan pemeriksaan urin dan darah. 2. Dilihat adanya atau tidak tanda-tanda kekerasan, memer atau luka lecet pada daerah mulut, leher, pergelangan tangan, lengan, paha bagian dalam dan pinggang. 3. Dicatat perkembangan alat kelamin sekunder, pemeriksaan refleks cahaya pupil, tinggi dan berat badan, tekanan darah, keadaan jantung dan abdomen. 4. Dilihat juga apakah terdapat trace evidence yang melekat pada tubuh korban dan sekiranya ada, diambil dan diperlakukan seperti bahan bukti. Pemeriksaan Khusus (Bagian Genitalia) Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan speculum hanya apabila pemeriksaan mengijinkan dan sebaiknya dilakukan oleh dokter spesialis obstetrik dan ginekologi. 1. Rambut kemaluan Ada atau tidaknya rambut melekat karena air mani mengering Rambut digunting untuk pemeriksaan laboratorium dan untuk perbandingan dengan rambut kemaluan pria tersangka. 2. Cari bercak air mani sekitar alat kelamin, kerok dengan sisi tumpul skalpel atau swab dengan kapas lidi dibasahi garam fisiologis 3. Vulva Tanda-tanda kekerasan seperti hiperemi,edema, memar dan luka lecet akibat goresan kuku. Introitus vagina dilihat apakah ada tanda-tanda kekerasan. Bahan sampel dari vestibulum diambil untuk pemeriksaan sperma.

4. Selaput dara Apakah ruptur atau tidak, Tentukan apakah ruptur baru atau lama. Pada ruptur lama, robekan menjalar sampai insertion disertai adanya jaringan parut di bawahnya. Catat lokasi ruptur dan apakah sampai insertion atau tidak.

19 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I

Ukur lingkaran orifisium dengan cara memasukkan ujung kelingking atau telunjuk perlahan-lahan sehingga teraba selaput dara menjepit ujung jari. Ukur lingkaran ujung jari pada batas ini. Ukuran pada seorang perawan kira-kira 2,5cm dan lingkaran yang memungkinkan persetubuhan adalah 9cm.

Harus ingat bahwa persetubuhan tidak selalu terjadi deflorasi.

5. Frenulum labiorum pudenda dan commisura labiorum posterior diperiksa untuk melihat utuh atau tidak. 6. Perlu juga dilakukan pemeriksaan untuk melihat apakah ada atau tidak penyakit kelamin. PEMERIKSAAN PADA PRIA TERSANGKA Pemeriksaan yang dapat dilakukan meliputi: 1. Pakaian 2. Rambut kemaluan Diambil sebagai bahan pembanding sekiranya terdapat rambut yang ditemukan di kemaluan korban. 3. Bercak semen Dicatat apakah adanya bercak semen. Tidak mempunyai arti dalam pembuktian sehingga tidak perlu ditentukan

4. Darah Kemungkinan darah dari deflorasi. Dilakukan pemeriksaan golongan darah yang ditemukan.

5. Tanda bekas kekerasan Akibat perlawanan oleh korban

6. Pemeriksaan sel epitel vagina pada glans penis Untuk menentukan apakah pria baru melakukan persetubuhan. Dilakukan dengan menekan kaca objek pada glans penis, daerah corona atau frenulum. Kemudian diletakkan terbalik di atas cawan berisi lugol sehingga uap yodium mewarnai lapisan kaca objek tersebut. Sitoplasma sel epitel vgina akan berwarna coklat tua karena mengandungi glikogen. 7. Dilakukan pemeriksaan secret urethra untuk menetukan apakah ada atau tidak penyakit kelamin.
20 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Pemeriksaan cairan mani (semen) pada korban. Untuk membuktikan adanya cairan mani, perlu dideteksi dengan pemeriksaan laboratorium sebagai berikut : *. Reaksi fosfatase asam Prinsipnya adalah enzim Fosfatase asam menghidrolisis Na- naftil fosfat; -naftol yang telah dibebaskan akan bereaksi dengan brentamine menghasilkan zat warnaazo yang berwarna biru ungu. Cara pemeriksaan yaitu bahan yang dicurigai ditempelkan pada kertas saring yang telah terlebih dahulu di basahi dengan aquades beberapa menit. Kemudian kertas saring diangkat dan disemprot dengan reagens. Ditentukan waktu reaksi dari penyemprotan sampai timbul warna ungu.1, 7 *. Untuk membedakan fosfatase asam dari cairan semen dan fosfatase asam dari cairan lain menggunakan percobaan berikut : -. Inhibisi dengan I(-) tartrat ( Sivaram ) Untukmembedakan bercak mani dari bercak lain dari bercak lain digunakan I (-) tartat yang menghambat aktivitas enzim fosfatase asam dalam semen. 1, 7

-. Elektroforesis ( Baxter ) Serum anti mani manusia selain spesifik untuk antigen manusia juga mengandung zat anti terhadap fosfatase asam. Pada fosfatase asam tampak pucat presipitin kea rah anoda sedangkan fosfatase vaginal puncak presipitin ke arah katoda. Cara ini adalah satu satunya cara untuk menentukan dengan pasti adanya mani manusia pada keadaan azoospermia. Dengan cara ini Baxter dapat menentukan adanya semen di dalam vagina sampai 4 hari pasca persetubuhan. 1, 7

-. Reaksi Florence Test ini tidak khas untuk cairan mani karena ekstrak jaringan berbagai organ, putih telur dan serangga akan memberikan Kristal serupa. Secret vagina kadang kadang memberikan hasil positif. Sebaliknya bila cairan mani belum cukup berdegradasi maka hasilnya mungkin negative. 1, 7 *. Reaksi ini dilakukan bila terdapat azoospermia dan cara lain untukmenentukan semen tidak dapat dilakukan. 1, 7 -. Reaksi Berberio
21 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I

Dasar reaksi adalah menentukanadanya spermin dalam semen. 1, 7

Pemeriksaan bercak cairan mani pada pakaian 1. Visual Bercak mani berbatas tegas dan lebih gelap dari sekitarnya. Bercak yang sudah agak tua berwarna kekuning kuningan. Pada bahan sutera/nylon batasnya sering tidak jelas tetapi selalu lebih gelap dari sekitarnya. Pada tekstil yang tidakmenyerap, bercak segar akan menunjukkan permukaan mengkilat dan translusen, kemudian akan mongering. Dalam waktu kira kira 1 bulan akan berwarna kuning sampai coklat. 1, 7 2. Sinar UV Di bawah sinar UV bercak semen menunjukkan fluoresensi putih. Hasil pemeriksaan ini kurang memuaskan untukbercak pada sutera buatan atau nylon karena tidakmemberi fluoresensi. Bahan makanan, urin, serbuk detergen dan secret vagina juga memberikan fuoresensi juga. 1, 7 3. Perabaan taktil Secara perabaan/taktil, bercak mani teraba member kesan kaku seperti kanji. Pada tekstil yang tidakmenyerap, bila tidak teraba kaku, kita masih dapat mengenalinya karena permukaan bercak akan teraba kasar. 1, 7

Pentuan Spermatozoa 1) Tanpa pewarnaan Pemeriksaan ini berguna untuk melihat apakah terdapat spermatozoa yang bergerak. motilitas spermatozoa ini palig bermakna memperkirakan saat terjadinya persetubuhan. Umumnya disepakati bahwa dalam 2 3 jam setelah persetubuhan masih dapat ditemukan spermatozoa yang bergerak di dalam vagina. Haid akan memperpanjang waktu ini menjadi 3 4 jam. Setelah itu spermatozoa tidak bergerak lagi dan akhirnya ekornya akan menghilang ( lisis ), sehingga harus dilakukan pemeriksaan dengan pewarnaan. 1, 7

Cara pemeriksaan : Satu tetes lender vagina diletakkan pada kaca obyek, dilihat dengan pembesaran 500 X serta kondensor diturunkan. Perhatikan pergerakan sperma. Menurut Voight, sperma masih bergerak kira kira 4 jam setelah persetubuhan. Menurut Gonzales, sperma masih bergerak 30 60 menit pasca persetubuhan, tetapi kadang kadang bila ovulasi atau terdapat secret service dapat bertahan sampai 20 jam. Menurut Nicols, sperma masih ditemukan 5 6 hari pasca persetubuhan, walaupun setelah 3 hari hanya tinggal
22 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I

beberapa saja. Pada orang yang mati setelah persetubuhan, sperma masih dapat ditemukan sampai 2 minggu pasca persetubuhan, bahkan mungkin lebih lama lagi. 1, 7

Berdasarkan data di atas maka dapat disimpulkan bahwa spermatozoa masih dapat ditemukan sampai 3 hari pasca persetubuhan, kadang kadang sampai 6 hari pasca persetubuhan. Bila sperma tidak ditemukan belum tentu di vagina tidak ada ejakulat mengingat kemungkinan azoospermia atau pasca vasektomi sehinga perlu penetuan cairan mani dalam cairan vagina. 1,
7

2) Dengan pewarnaan Dibuat sediaan apus dan difiksasi dengan melewatkan gelas sediaan apus pada nyala api. Pulas dengan HE, Methylene Blue atau Malachite Green. Cara pewarnaan yang paling mudah adalah malachite green. 1, 7 Cara pemeriksaan : warnai dengan larutan Malachite green 1% selama 10 15 menit, lalu cuci dengan air mengalir dan setelah itu lakukan counter stain dengan larutan Eosin yellowish 1% selama 1 menit, terakhir cuci lagi dengan air mengalir. 1, 7

Keuntungan pulasan ini adalah inti sel epitel dan leukosit tidak terdiferensiasi, sel epitel berwarna merah muda merata dan leukosit tidak terwarnai. Kepala sperma tampak merah dan lehernya tampak merah muda, ekornya berwarna hijau. 1, 7 Penentuan golongan darah Bila didapatkan sel darah merah dalam keadaan utuh, maka penentuan golongan darah dapat dilakukan secara langsung seperti pada penentuan golongan darah orang hidup, yaitu dengan meneteskan 1 tetes antiserum ke atas 1 tetes darah dan dilihat terjadinya aglutinasi. 1,7 Bila sel darah merah sudah rusak, maka penentuan darah golongan darah dapat dilakukan dengan cara menentukan jenis agglutinin dan antigen. Antigen mempunyai sifat yang jauh lebih stabil dibandingkan dengan aglutinin. Di antara sistem-sistem golongan darah, yang paling lama bertahan adalah antigen dari sistem golongan darah ABO. 1,7 Penentuan jenis antigen dapat dilakukan dengan cara absorbs inhibisi, absorbs elusi, atau aglutinasi campuran. Bila terjadi aglutinasi berarti darah mengandung antigen yang sesuai dengan antigen sel indikator. 1,7

23 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I

Pemeriksaan DNA DNA menggunakan konsep polimorfisme. Polimorfisme adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan adanya suatu bentuk yang berbeda dari suatu struktur dasar yang sama. Jika terdapat variasi pada suatu lokus yang spesifik dalam suatu populasi, maka lokus tersebut dikatakan bersifat polimorfik. Sifat polimorfik ini disamping menunjukkan variasi individu, juga memberikan keuntungan karena dapat digunakan untuk membedakan satu orang dengan orang lainnya. 1 Jenis pemeriksaan DNA : A. Pemeriksaan DNA tanpa amplifikasi Menggunakan metode Southern Blot dan memerlukan DNA yang relatif utuh. Pemeriksaan lebih lama. Pemeriksaan dapat berupa : -. Pelacak multilokus : banyak pita DNA. -. Pelacak single lokus : dua pita/orang. 1 B. Pemeriksaan DNA dengan amplifikasi Menggunakan metode PCR. Kemampuannya bisa memperbanyak DNA jutaan sampai milyaran kali memungkinkan dianalisisnya sampel forensic yang jumlahnya amat minim, hal ini penting karena banyak dari sampel forensic merupakan sampel postmortem yang tak segar lagi. Memerlukan DNA sedikit dan tidak perlu utuh. Pemeriksaannya cenderung cepat. Pemeriksaan terhadap N. gonorrhoea Pemeriksaan dari secret ureter (urut dengan jari) dan dipulas dengan pewarnaan Gram. Pemeriksaan dilakukan pada hari ke I, III, V dan VII. Jika pada pemeriksaan didapatkan N. gonorrhoea berarti terbukti adanya kontak seksual dengan seseorang penderita, bila pada pria tertuduh juga ditemukan N. gonorrhea, ini merupakan petunjuk yang cukup kuat. Jika terdapat ulkus, sekret perlu diambil untuk pemeriksaan serologik dan bakteriologik. -. Pemeriksaan kehamilan dan dilakukan bila ada indikasi.1 pemeriksaan toksikologik terhadap urin dan darah juga

24 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I

INTEPRETASI HASIL
PEMBUKTIAN ADANYA PERSETUBUHAN Persetubuhan adalah suatu peristiwa dimana terjadi penetrasi penis ke dalam vagina, penetrasi tersebut dapat lengkap atau tidak lengkap dan dengan atau tanpa disertai ejakulasi. Dengan demikian hasil dari upaya pembuktian persetubuhan dipengaruhi berbagai faktor, diantaranya: a. besarnya penis dan derajat penetrasinya b. bentuk dan elastisitas hymen c. ada tidaknya ejakulasi dan keadaan ejakulat itu sndiri d. posisi persetubuhan e. keaslian barang bukti serta waktu pemeriksaan Dengan demikian, tidak terdapatnya robekan pada hymen, tidak dapat dipastikan bahwa pada wanita tidak terjadi penetrasi; sebaliknya adanya robekan pada hymen hanya merupakan adanya suatu benda (penis atau benda lain), yang masuk ke dalam vagina Apabila pada persetubuhan tersebut disertai dengan ejakulasi dan ejakulat tersebut mengandung sperma, maka adanya sperma di dalam liang vagina merupakan tanda pasti adanya persetubuhan. Apabila ejakulat tidak mengandung sperma maka pembuktian adanya persetubuhan dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan terhadap ejakulat tersebut. Komponen yang terdapat di dalam ejakulat dan dapat diperiksa adalah enzim asam fosfatase, kholin, dan spermin. Apabila pada kejahatan seksual yang disertai dengan persetubuhan itu tidak sampai berakhir dengan ejakulasi, dengan sendirinya pembuktian adanya persetubuhan secara kedokteran forensik tidak mungkin dapat dilakukan secara pasti. Maksimal dokter dapat mengatakan bahwa pada diri wanita yang diperiksanya tidak ditemukan tanda-tanda persetubuhan, yang mencakup dua kemungkinan: 1. Memang tidak ada persetubuhan 2. Persetubuhan ada tetapi tanda-tandanya tidak dapat ditemukan. Apabila persetubuhan telah dapat dibuktikan secara pasti, maka perkiraan saat terjadinya persetubuhan, harus ditentukan; hal ini menyangkut masalah alibi yang sangat penting di dalam proses penyidikan. Sperma di dalam vagina masih dapat bergerak dalam waktu 4-5
25 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I

jam post-coital, sperma masih dapat ditemukan tidak bergerak sampai 24-36 jam post-coital, dan bila wanitanya masih akan dapat ditemukan sampai 7-8 hari. Perkiraan saat terjadinya persetubuhan juga dapat ditentukan dari proses penyembuhan dari selaput dara yang robek. Pada umumnya penyembuhan tersebut akan tercapai dalam waktu 7-10 hari post-coital. Hal lain yang dapat diperiksa untuk menentukan terjadinya persetubuhan adalah pemeriksaan adanya kehamilan dan adanya penyakit kelamin. Terjadinya kehamilan jelas merupakan tanda adanya persetubuhan, akan tetapi oleh karena waktu yang dibutuhkan untuk itu cukup lama, dengan demikian nilai bukti ini menjadi kurang. Terjangkitnya penyakit kelamin pada wanita hanya merupakan petunjuk bahwa wanita itu telah mengalami persetubuhan dengan laki-laki yang menderita penyakit kelamin sejenis. Penyakit kelamin yang masa inkubasinya singkat lebih bermakna di dalam upaya pembuktian bila dibandingkan dengan penyakit kelamin yang masa inkubasinya lama. Tanda-tanda persetubuhan dengan berlangsungnya waktu akan menghilang dengan sendirinya, luka-luka akan sembuh dan mayat akan menjadi hancur. Dengan demikian pemeriksaan sedini mungkin merupakan keharusan, bila dari pemeriksaan diharapkan hasil yang maksimal. Pakaian korban yang telah diganti, tubuh wanita yang telah dibersihkan akan menyulitkan pemeriksaan oleh karena keadaannya sudah tidak asli. 8

PEMBUKTIAN ADANYA KEKERASAN Seorang dokter dapat menentukan apakah tanda-tanda kekerasan. Tetapi ia tidak dapat menentukan apakah terdapat unsur paksaan pada tindakan ini. Ditemukannya tanda kekerasan pada tubuh korban tidak selalu merupakan akibat paksaan, mungkin juga disebabkan oleh hal-hal lain yang tidak ada hubungannya dengan paksaan. Demikian pula jika dokter tidak menemukan tanda kekerasan, maka hal itu belum merupakan bukti bahwa paksaan tidak terjadi. Oleh karena hal ini pada bagian kesimpulan suatu visum et repertum hanya dituliskan ada tidaknya tanda-tanda kekerasan serta jenis kekerasan yang menyebabkan. Pada pemeriksaan perlu diperhatikan apakah korban menunjukkan tanda-tanda bekas kehilangan kesadaran, atau tanda-tanda telah berada di bawah pengaruh alkohol, hipnotik,

26 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I

narkotik. Apabila ada petunjuk bahwa alkonol, hipnotik, atau narkotik telah dipergunakan, maka dokter perlu mengambil urin dan darah untuk pemeriksaan toksikologi.9

Gambar 1. Contoh tanda kekerasan pada kasus kejahatan seksual4

PERKIRAAN UMUR Dokter perlu menyimpulkan apakah wajah dan bentuk badan korban sesuai dengan umur yang dikatakannya. Keadaan perkembangan payudara dan pertumbuhan rambut kemaluan perlu dikemukakan. Ditentukan apakah gigi geraham belakang ke-2 sudah tumbuh atau belum;yang terjadi pada usia kira-kira 12 tahun, sedangkan gigi geraham ke- 3 akan muncul pada usia 17-21 tahun atau lebih. Untuk wanita yang telah tumbuh gigi geraham 2-nya, perlu dilakukan foto ronsen gigi. Jika setengah sampai seluruh mahkota geraham 3 sudah mengalami mineralisasi (terbentuk), tapi akarnya belum maka usianya kurang dari 15 tahun. Kriteria sudah tidaknya wanita mengalami haid pertama atau menarche tak dapat dipakai untuk menentukan umur karena usia menarch saat ini tidak lagi pada usia 15 tahun tetapi seringkali jauh lebih muda.

27 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I

PENENTUAN SUDAH ATAU BELUM WAKTUNYA DIKAWIN Bila pada wanita itu telah mengalami menstruasi, maka sudah waktunya untuk dikawin. Bila seorang wanita menyatakan belum pernah menstruasi, maka penentuaan ada atau tidaknya ovulasi masih diperlukan. Muller menganjurkan agar dilakukan observasi selama 8 minggu di rumah sakit untuk menentukan adakah selama itu wanita tadi mendapatkan menstruasi. Untuk menentukan apakah seorang wanita sudah pernah mengalami ovulasi atau belum, dapat dilakukan pemeriksaan vaginal smear.

VISUM et REPERTUM
Visum et Repertum adalah keterangan yang dibuat dokter atas permintaan penyidik yang berwenang mengenai hasil pemeriksaan medis terhadap manusia atau bagian dari tubuh manusia, baik hidup maupun mati, atas permintaan tertulis (resmi) dan penyidik yang berwenang (atau hakim untuk visum et repertum psikiatrik) yang dibuat atas sumpah atau dikuatkan dengan sumpah, untuk kepentingan peradilan. Ada beberapa jenis Visum et Repertum, yaitu: Visum et Repertum Perlukaan atau Keracunan Visum et Repertum Kejahatan Susila Visum et Repertum Psikiatrik Visum et Repertum Jenazah

Visum et repertum adalah salah satu alat bukti yang sah sebagaimana tertulis dalam pasal 184 KUHP. Visum et Repertum turut berperan dalam proses pembuktian suatu perkara pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia, dimana ia menguraikan segala sesuatu tentang hasil pemeriksaan medik yang tertuang di dalam bagian pemberitaan, yang karenanya dapat dianggap sebagai pengganti barang bukti. Visum et repertum juga memuat keterangan atau pendapat dokter mengenai hasil pemeriksaan medik tersebut yang tertuang di dalam bagian kesimpulan. Dengan demikian visum et repertum secara utuh telah menjembatani ilmu kedokteran dengan ilmu hukum sehingga dengan membaca visum et repertum, dapat diketahui dengan jelas apa yang telah terjadi pada seseorang, dan para praktisi hukum dapat menerapkan norma-norma hukum pada perkara pidana yang menyangkut tubuh dan jiwa manusia.7
28 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I

Ketentuan umum pembuatan visum et repertum adalah: Diketik di atas kertas berkepala surat instansi pemeriksa. Bernomor, bertanggal dan bagian kiri atasnya dicantumkan kata Pro Justitia. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tanpa singkatan dan tidak menggunakan istilah asing. Ditandatangani dan diberi nama jelas pembuatannya serta dibubuhi stempel instansi tersebut.1 Susunan Visum et Repertum Ada 5 bagian visum et repertum, yaitu: Pembukaan Ditulis pro justicia yang berarti demi keadilan dan ditulis di kiri atas sebagai pengganti materai. Pendahuluan Bagian pendahuluan berisi: Identitas tempat pembuatan visum berdasarkan surat permohonan mengenai jam, tanggal, dan tempat Pernyataan dokter, identitas dokter Identitas peminta visum Wilayah Identitas korban Identitas tempat perkara

Pemberitaan Bagian Pemberitaan: Bagian ini memuat semua hasil pemeriksaan terhadap barang bukti yang dituliskan secara sistematik, jelas dan dapat dimengerti oleh orang yang tidak berlatar belakang pendidikan kedokteran. Dan terbagi tiga bagian, yaitu Pemeriksaan luar, Pemeriksaan dalam (bedah jenazah) dan Pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan pendukung lainnya. Kesimpulan
29 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I

Bagian kesimpulan memuat pendapat pribadi dokter tentang hubungan sebab akibat antara apa yang dilihat dan ditemukan dokter dengan penyebabnya. Misalnya jenis luka, kualifikasi luka, atau bila korban mati maka dokter menulis sebab kematiannya. Penutup Bagian penutup memuat sumpah atau janji, tanda tangan, dan nama terang dokter yang membuat. Sumpah atau janji dokter dibuat sesuai dengan sumpah jabatan atau pekerjaan dokter.7

CONTOH VISUM ET REPERTUM

DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK&MEDIKOLEGAL RUMAH SAKIT Dr. CIPTO MANGUNKUSUMO Jl. Salemba Raya No.6, Jakarta 10430, telp:021-3106976

PROJUSTITIA VISUM ET REPERTUM No. : 11/FKU/I/2011.

Jakarta, 17 Januari 2011

Yang bertanda tangan dibawah ini: Winda, Dokter pada Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, atas permintaan dari RESORT JAKARTA BARAT dengan Nomor 11/VeR/1/2011/Res tertanggal: 7 Januari tahun 2013,dengan ini menerangkan bahwa: pada tanggal 7 Januari tahun 2013 pukul 13.00 WIB, bertempat di RSUP Nasional Dr.Cipto Mangunkusumo, telah melakukan pemeriksaan terhadap korban dengan nomor registrasi 09907668 yang menurut surat tersebut adalah.-------------------------------------------------------------Nama Umur Jenis kelamin : Indah Purnama Sari-------------------------------------------------------------------------: 11 Tahun-------------------------------------------------------------------------------------: Perempuan------------------------------------------------------------------------------------

30 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I

Warga Negara : Indonesia------------------------------------------------------------------------------------Pekerjaan Agama Alamat : Pelajar----------------------------------------------------------------------------------------: islam.-----------------------------------------------------------------------------------------: Tanjung Duren Raya No.12, Jakarta Barat---------------------------------------------HASIL PEMERIKSAAN 1. Korban datang dalam keadaan sadar, dengan keadaan umum tampak sakit ringan.-------Korban mengaku: dua hari sebelum pemeriksaan sekitar pukul 10.00 WIB, mengeluh sakit bila ingin kencing -------------------------Saat ini korban merasa pusing dan didaerah kemaluannya terasa nyeri.--------2. Pada korban ditemukan : ------------------------------------------------------------------------------a. Pada dahi kanan terdapat lima sentimeter dari garis pertengahan depan, tiga sentimeter diatas sudut mata, terdapat mamar warna ungu kebiruan dengan ukuran lima sentimeter kali tiga sentimeter.----------------------------------------------------------------------------------

b. Pada pipi kanan terdapat lima sentimeter dari sudut hidung kanan, memar warna ungu kebiruan dengan ukuran lima sentimeter kali 2 sentimeter-------------------------------------

c. Pada kemaluan terjadinya robekan selaput dara sampai ke dasar pada lokasi pukul lima sampai tujuh.-----------------------------------------------------------------------------------------d. Pada daerah liang vagina terdapat luka lecet dua sentimeter kali dua sentimeter, pada bibir kemaluan terdapat memar berwarna biru kehitaman dengan ukuran dua sentimeter kali tiga sentimeter.---------------------------------------------------------------------------------3. Terhadap korban dilakukan: membersihkan dan mengobati luka, memberikan propilaksis tetanus dan vaksinasi. Pemberian obat pencegah Infeksi Menular Seksual, pemberian obat pencegah kehamilan.------------------------------------------------------------------------------------4. Korban dirujuk pada pelayanan tingkat yang lebih tinggi.-----------------------------------------

31 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I

KESIMPULAN Pada pemeriksaan korban perempuan berusia sebelas tahun ini, ditemukan memar pada dahi kanan dan pada daerah pipi kanan memar. Pada kemaluan terjadinya robekan selaput dara. Pada daerah liang vagina terdapat luka lecet. Pada bibir kemaluan terdapat memar akibat kekerasan tumpul yang dapat menimbulkan penyakit/halangan dalam melaksanakan pekerjaan atau jabatan atau pencarian sementara----------------------------------------------------------------------Demikianlah visum et repertum ini dibuat dengan sebenarnya dengan menggunakan keilmuan sebaik-baiknya, mengingat sumpah sesuai dengan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana.-----------------------------------------------------------------------------------------------------------Mengetahui, Dokter pemeriksa

ASPEK PSIKOSOSIAL
Penelitian menunjukkan bahwa kejadian kejahatan susila lebih sering dilakukan oleh pihak yang sebelumnya saling mengenal, misalnya antara tetangga, paman dengan keponakan, atau dengan teman yang umurnya tidak berbeda jauh. Kita tidak dapat mengatakan telah terjadi suatu kejahatan seksual jika pelaku dan korban sama-sama berusia diatas 15 tahun, apalagi jika dilakukan suka sama suka. Tetapi, kebanyakan pelaku dari tindakan asusila biasanya adalah orang yang usianya lebih tua. Tindakan ini dilakukan dapat dengan berbagai cara, misalnya pelaku langsung mempertontonkan organ genitalnya kepada korban, atau mungkin mengajak korban menonton video porno bersama, atau bahkan langsung menyetubuhi korban. Sedangkan korban, biasanya mengenal pelaku dengan baik, dan pelaku sering mengiming-imingi korban dengan sesuatu, semisal permen untuk anak yang masih kecil, atau makanan, atau minuman, atau bahkan ancaman. Apapun tindakan itu, korban harus mendapatkan perlindungan dan segera diterapi secara intensif yang dikenal sebagai terapi psikososial.10 Sayangnya, anak yang menjadi korban sering kali diam dan tidak ingin menceritakan kejadian yang dialaminya. Jika korban melakukannya berdasarkan rasa suka, maka sudah pasti korban tidak akan melaporkan kegiatan itu kepada siapapun. Tetapi lain halnya jika korban merasa sangat menderita atas kegiatan tersebut. Korban tersebut diam bukan karena
32 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I

menikmati, tetapi karena takut akan ancaman dari pelaku, dan juga rasa malu yang kelak harus dihadapi korban seandainya ia menceritakan masalah ini kepada orang lain, termasuk kepada orang tua. Di saat seperti ini, peran orang tua sangat dibutuhkan untuk membangun kembali mental anak yang terpuruk. Jika anak tidak menginginkan aktivitas seksual tersebut, maka perilaku anak dapat berubah total, misalnya menjadi lebih pendiam, sering melamun, takut untuk bertemu dengan orang dewasa, dan sering bermimpi buruk pada malam hari. Orang tua harus membujuk sang anak, dan dapat mengatakan bahwa tekanan yang diberikan oleh pelaku bukanlah sebuah hal yang buruk, sehingga anak mau menceritakan masalahnya. Hal yang terbaik untuk menghindarkan anak dari pelaku kejahatan susila adalah dengan memberikan nasihat yang pas dan mudah dimengerti oleh anak tersebut sesuai dengan usianya. Untuk anak seperti pada kasus diatas, karena usianya membuat sang anak sudah mulai dapat diajak berdiskusi, orang tua tidak perlu menutupi apa itu hubungan seksual, dan sudah dapat memberitahu akibat dari perkosaan, penyakit akibat hubungan kelamin, dan kehamilan yang tidak diinginkan karena mencoba-coba melakukan hubungan seksual dengan pasangan. Nasihat tersebut tidak dapat melindungi anak-anak 100% terbebas dari tindakan kejahatan susila, karena sampai kapanpun tindakan kejahatan tersebut tidak akan pernah hilang. Tetapi, dengan membekali anak dengan nasihat-nasihat tersebut, para orang tua berharap agar anakanak mereka dapat terbebas dari bahaya tersebut, karena sekali saja kejahatan tersebut menimpa sang anak, maka trauma psikologis yang dihasilkan dapat menghantuinya terus menerus hingga dewasa dan dapat mempengaruhi kehidupannya. 8,9
Aspek Psikososial Tatalaksana

-. Problem perilaku dan emosi pada anak Pendampingan psikologis sesuai usia anak, (ketakutan, agresif, depresi) bisa juga dirujuk ke Psikiater,

Problem keluarga (Orang tua yang terlalu Intervensi keluarga, amankan anak, rujuk ke menekan dan mengintimidasi) Problem sosial (malu, tidak LPA. mau Pendampingan psikologis sesuai usia anak, bisa juga dirujuk ke Psikiater,

bersosialisasi)

Tabel 2. Aspek psikososial yang dapat timbul dan penatalaksanaannya8


33 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I

PERANAN LSM
Lembaga Swadaya Masyarakat (disingkat LSM) adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh perorangan ataupun sekelompok orang yang secara sukarela yang memberikan pelayanan kepada masyarakat umum tanpa bertujuan untuk memperoleh keuntungan dari kegiatannya. Organisasi ini dalam terjemahan harfiahnya dari Bahasa Inggris dikenal juga sebagai Organisasi non pemerintah (disingkat ornop atau ONP). Organisasi tersebut bukan menjadi bagian dari pemerintah, birokrasi ataupun negara.Maka secara garis besar organisasi non pemerintah dapat di lihat dengan ciri sbb : 9

Organisasi ini bukan bagian dari pemerintah, birokrasi ataupun negara Dalam melakukan kegiatan tidak bertujuan untuk memperoleh keuntungan (nirlaba) Kegiatan dilakukan untuk kepentingan masyarakat umum, tidak hanya untuk kepentingan para anggota seperti yang di lakukan koperasi ataupun organisasi profesi

Berdasarkan Undang-undang No.16 tahun 2001 tentang Yayasan, maka secara umum organisasi non pemerintah di indonesia berbentuk yayasan. PERAN LSM DALAM PENANGAN MASALAH KEJAHATAN SEKSUAL KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) Peran (Pasal 76) :Melakukan sosialisasi Perundangan, mengumpulkan data dan informasi, menerima pengaduan masyarakat, melakukan penelaahan, pemantauan, evaluasi dan pengawasan terhadap penyelenggaraan perlindungan anak.Memberikan laporan, saran, masukan dan pertimbangan kepada presiden dalam rangka perlindungan anak. KOMNAS ( Komisi Nasional Perlindungan Anak) Prinsip organisasi :Memiliki prinsip sebagai organisasi yang independen dan memegang teguh prinsip pertanggungjawaban publik serta mengedepankan peluang dan kesempatan pada anak dan partisipasi anak serta menghargai dan memihak pada prinsip dasar anak. Menjamin hak anak untuk menyatakan pendapatnya secara bebas dalam semua hal yang menyangkut dirinya dan pandangan anak selalu dipertimbangkan sesuai kematangan anak. Secara khusus akan mengupayakan dan membela hak untuk berpartisipasi dan didengar pendapatnya dalam setiap kegiatan, proses peradilan dan administrasi yang mempengaruhi hidup anak.
34 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I

Komisi Nasional Perlindungan Anak memiliki peran : 1. Pemantauan dan Pengembangan Perlindungan Anak 2. Advokasi dan Pendampingan pelaksanaan Hak-Hak Anak 3. Kajian strategis terhadap berbagai kebijakan yang menyangkut Kepentingan Terbaik Anak 4. Kordinasi antar Lembaga, baik tingkat Regional, Nasional maupun Internasional Komisi Nasional Perlindungan Anak memiliki fungsi : 1. Melakukan pengumpulan data, informasi dan investigasi terhadap pelanggaran hakhak anak di Indonesia. 2. Melakukan kajian hukum dan Kebijakan Regional dan Nasional yang tidak memihak pada kepentingan terbaik anak. 3. Memberikan penilaian dan pendapat kepada pemerintah dalam rangka

mengintegrasikan hak-hak anak dalam setiap kebijakan. 4. Memberikan pendapat dan laporan independen tentang hukum dan kebijakan berkaitan dengan anak. 5. Menyebarluaskan, publikasi dan sosialisasi informasi tentang hak-hak anak dan situasi anak di Indonesia. 6. Menyampaikan pendapat dan usulan tentang pemantauan, (pemajuan atau kemajuan), dan perlindungan hak-hak anak kepada parlemen, pemerintah dan lembaga terkait. 7. Mempunyai mandat untuk membuat laporan alternative kemajuan perlindungan anak di tingkat nasional. 8. Melakukan perlindungan khusus.

35 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I

PENUTUP
KESIMPULAN Persetubuhan adalah suatu peristiwa di mana alat kelamin laki-laki masuk ke dalam alat kelamin perempuan, sebagian atau seluruhnya dan dengan atau tanpa terjadinya pancaran air mani. Dengan demikian, besarnya zakar dengan ketegangannya, sampai seberapa jauh zakar masuk, ke dalam selaput dara serta posisi persetubuhan mempengaruhi hasil pemeriksaan. Jika zakar masuk seluruhnya dan keadaan selaput dara masih cukup baik, maka pada pemeriksaan dapat diharapkan adanya robekan pada selaput dara. Jika selaput daranya elastic tentu tidak aka nada robekan. Adanya robekan pada selaput dara hanya akan menunjukkan adanya benda (padat/kenyal) yang masuk, dengan demikian bukan merupakan tanda pasti dari adanya persetubuhan. Adanya pancaran air mani (ejakulasi), pada pemeriksaan diharapkan dapat ditemukan sel mani/sperma. Adanya sperma di dalam liang senggama (vagina) merupakan tanda pasti akan adanya persetubuhan. Pemeriksaan ditujukan pada penentuan adanya zat-zat tertentu dalam air mani, seperti asam fosfatase, spermin dan kholin; yang tentunya nilai pembuktian adanya persetubuhan lebih rendah oleh karena tidak mempunyai nilai deskriptif yang mutlak atau tidak khas. Bila ditemukan sperma dalam vagina korban berarti terbukti telah terjadi persetubuhan, dan jika ada pengaduan dari pihak korban, maka laki-laki yang membawa telah membawa lari anak perempuan tersebut, maka ia dapat dikenakan tindak pidana persetubuhan dengan perempuan yang belum cukup umur.

36 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I

DAFTAR PUSTAKA
1. Wibisana W, Munim TWA, dkk. Pemeriksaan Medik pada Kasus Kejahatan Seksual. Ilmu Kedokteran Forensik. Ed 1, Cetakan ke-2. Bagian Kedokteran Forensik FKUI. 1997:147-58. 2. Idries, A.M., Tjiptomartono, A.L. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik Dalam Proses Penyidikan. Jakarta : Sagung Seto; 2008: h. 113-32. 3. Atmadja S, Djaja. Pemeriksaan Forensik pada Kasus Perkosaan dan Delik Aduan Lainnya. Diunduh dari http://reproduksiumj.blogspot.com 2009 4. Staf pengajar bagian kedokteran forensik. Prosedur medikolegal. Peraturan Perundang-undangan Bidang Kedokteran. Cetakan ke-2. Penerbit Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1994:11-25. 5. Sampurna, B, Syamsu Z, Siswaja TD. Bioetik dan Hukum Kedokteran. Cetakan kedua. Jakarta. 2007. 6. Staf pengajar bagian kedokteran forensik FKUI. Visum et Repertum. Teknik Autopsi Forensik. Cetakan ke-4. Penerbit Bagian Kedokteran Forensik FKUI. 2000:72-81. 7. Mansjoer, Arief [et al.]. Ilmu Kedokteran Forensik - Visum et Repertum. Kapita Selekta Kedokteran. Ed 3, Vol 2, cetakan ke-8. Media Aesculapius FKUI. 2009:17181. 8. Medikolegal. Diunduh dari http://www.scribd.com/doc/17330455/MEDIKOLEGAL, 07 januari 2013. 9. Pelecehan Seksual pada Anak. Diunduh dari www.scribd.com, pada tanggal 07 Januari 2013. 10. Psikososial. Di unduh dari www.library.usu.co.id . 8 Januari 2010.

37 | E M E R G E N C Y M E D I C I N E I I